Anda di halaman 1dari 26

Tugas Perpindahan Panas

HEAT EXCHANGER

Dosen : Ir. Suhariyanto, MT

Oleh :
Iwan Wahyudi W

(2111030033)

PROGAM STUDI DIPLOMA III


JURUSAN TEKNIK MESIN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER
SURABAYA
2014

KATA PENGANTAR

Dengan memanjatkan puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa penulis dapat
menyelesaikan tugas yang berjudul Heat Exchanger dengan lancar.
Dalam pembuatan makalah ini, penulis mendapat bantuan dari berbagai pihak, maka
pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada : Ir.
Suhariyanto, MT yang telah memberikan kesempatan dan memberi fasilitas sehingga tugas
ini dapat selesai dengan lancar. Semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu
yang membantu pembuatan tugas ini.
Dari sanalah semua kesuksesan ini berawal, semoga semua ini bisa memberikan
sedikit kebahagiaan dan menuntun pada langkah yang lebih baik lagi. Meskipun penulis
berharap isi dari tugas ini bebas dari kekurangan dan kesalahan, namun selalu ada yang
kurang.
Akhir kata semoga tugas ini bisa bermanfaat bagi pembaca pada umumnya dan
penulis pada khususnya, penulis menyadari bahwa dalam pembuatan tugas ini masih jauh
dari sempurna untuk itu penulis menerima saran dan kritik yang bersifat membangun demi
perbaikan kearah kesempurnaan. Akhir kata penulis sampaikan terimakasih.

Penulis

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Alat penukar kalor atau Heat Exchanger (HE)
Alat penukar kalor atau Heat Exchanger (HE) adalah alat yang digunakan untuk
memindahkan panas dari sistem ke sistem lain tanpa perpindahan massa dan bisa
berfungsi sebagai pemanas maupun sebagai pendingin. Biasanya, medium pemanas
dipakai adalah air yang dipanaskan sebagai fluida panas dan air biasa sebagai air
pendingin (cooling water). Penukar kalor dirancang sebisa mungkin agar perpindahan
panas antar fluida dapat berlangsung secara efisien. Pertukaran panas terjadi karena
adanya kontak, baik antara fluida terdapat dinding yang memisahkannya maupun
keduanya bercampur langsung (direct contact).
Terdapat 2 macam aliran pada Heat Exchanger yaitu aliran Laminar dan Turbulen.
Aliran laminar adalah aliran yang bergerak dalam lapisan-lapisan dengan gerakan yang
teratur. Aliran fluida yang bergerak dengan kondisi lapisan-lapisan membentuk garisgaris alir yang tidak berpotongan satu sama lain. Hal tersebut ditunjukkan oleh
percobaan Osborne Reynold. Pada laju aliran rendah, aliran laminer tergambar
sebagai filamen panjang yang mengalir sepanjang aliran. Aliran ini mempunyai bilangan
Reynold lebih kecil dari 2300 (Cengel, 2002 :422).
Sedangkan aliran turbulen adalah aliran dimana partikel-partikel fluida bergerak
secara acak dengan kecepatan yang berubah-ubah. Pada aliran ini lapisan-lapisan
fluida tidak terlihat lagi sehingga aliran fluida dibayangkan sebagai bongkahanbongkahan fluida. Pergerakan dari bongkahan-bongkahan fluida tersebut terjadi
secara acak, sehingga proses perpindahan momentum dan massa terjadi secara
makroskopis. Untuk aliran turbulen, nilai bilangan Reynold adalah : Re > 4000
(Cengel, 2002: 422). Sebelum terjadi aliran turbulen, aliran akan mengalami proses
transisi dari aliran laminer ke aliran turbulen.
Penukar kalor sangat luas dipakai dalam industri seperti kilang minyak, pabrik
kimia maupun petrokimia, industri gas alam, refrigerasi, pembangkit listrik. Selain itu
pemakaian spesifik alat tersebut dapat dilihat pada: mesin pendingin ruangan (evaporator
& kondensor), mesin refrigerasi (evaporator & kondensor), radiator mobil di mana cairan
pendingin memindahkan panas mesin ke udara sekitar, instalasi pembangkit daya (boiler,
condensor, economizer, deaerator, air preheater, superheater) dan lain-lain.

Peralatan yang termasuk Heat Exchanger:

Radiator mobil

Economizer

Air preheater

BAB II
JENIS JENIS HEAT EXCHANGER

Pada dasarnya prinsip kerja dari alat penukar kalor yaitu memindahkan panas dari
dua fluida pada temperatur berbeda di mana transfer panas dapat dilakukan secara
langsung ataupun tidak langsung.
1. Secara kontak langsung
Panas yang dipindahkan antara fluida panas dan dingin melalui permukaan
kontak langsung berarti tidak ada dinding antara kedua fluida.Transfer panas yang
terjadi yaitu melalui interfase / penghubung antara kedua fluida. Contoh : aliran
steam pada kontak langsung yaitu 2 zat cair yang immiscible (tidak dapat
bercampur), gas-liquid, dan partikel padat-kombinasi fluida.
2. Secara kontak tak langsung
Perpindahan panas terjadi antara fluida panas dandingin melalui dinding
pemisah. Dalam sistem ini, kedua fluida akan mengalir.
2.1 Tipe Aliran Pada Heat Exchanger Berdasarkan Sirkulasi
1. Once Through System
Air pendingin mengalir melalui unit heat exchanger dan langsung dibuang.
Jumlah volume air yang dibutuhkan sangat besar sehingga kenaikan temperatur relatif
kecil sepanjang pipa unit heat exchanger dan kandungan mineral dalam air relatif
sama. Pada umumnya air pendingin untuk unit heat exchangerdiambil dari berbagai
sumber seperti sungai, danau, laut dan sumur.

Gambar 2.1 Once Through System


2. Closed Recirculating System
Air pendingin secara kontinyu disirkulasikan melalui unit heat exchanger. Panas
yang diabsorbsi dari unit

heat exchanger dimanfaatkan untuk proses pemanasan

lainnya, yang kemudian didinginkan melalui pendingin sekunder once through atau
open recirculating system. Volume makeup water yang ditambahkan relatif kecil,
karena kehilangan air akibat evaporasi relatif sedikit.

Kandungan mineral dalam air pendingin relatif konstan, akan tetapi produk
sampingan akibat korosi terakumulasi. Pada umumnya, closed recirculating
systemdigunakan pada sistem pendinginan mesin pembakar.

Gambar 2.2 Closed Recirculating System


3. Open Recirculating System
Air pendingin secara kontinyu disirkulasikan melalui unit heat exchanger dari
menara pendingin. Volume makeup water yang ditambahkan relatif banyak, untuk
menggantikan air yang hilang akibat evaporasi atau dibuang melalui blowdown untuk
menjaga level mineral dan padatan terlarut yang memenuhi persyaratan kualitas air
pendingin. Konsentrasi ion agresif dan padatan terlarut dalam air pendingin meningkat
diakibatkan penambahan makeup water secara kontinyu. Hal ini dapat mempercepat
korosi dan pembentukan kerak pada pipa unit heat exchanger.

Gambar 2.3 Open Recirculating System


2.2 Tipe Heat Exchanger berdasarkan alirannya
Ada beberapa tipe pesawat penukar kalor yang dikelompokkan berdasarkan
alirannya.
1. Counter and Paralel Flow
Tipe pipa dobel (concentric tube) kedua fluida dipisahkan oleh dinding pipa. Tipe
ini ada dua macam yaitu tipe aliran parallel (parallel flow) dan tipe aliran berlawanan
arah (counter flow).

Gambar 2.4 Pesawat penukar kalor tipe pipa dobel: a) Aliran parallel b). Aliran
berlawanan arah

2. Cross Flow
Tipe tipe aliran silang (cross flow), juga ada dua macam yaitu tipe kedua fluida
tidak bercampur (both fluid unmixed) dan tipe satu fluida bercampur sedang yang
satunya tidak bercampur (one fluid mixed and the other unmixed).

b
Gambar 2.5 Pesawat penukar kalor : a) Kedua fluida tidak bercampur b). Satu fluida
bercampur yang lain tidak bercampur

2.3 Tipe Heat Exchanger berdasarkan konstruksinya


1. Penukar panas pipa rangkap (Double Pipe Heat Exchanger)
Salah satu jenis penukar panas adalah susunan pipa ganda. Dalam jenis penukar
panas dapat digunakan berlawanan arah aliran atau arah aliran, baik dengan cairan
panas atau dingin cairan yang terkandung dalam ruangannular dan cairan lainnya
dalam pipa.
Alat penukar panas pipa rangkap terdiri dari dua pipa logam standart yang dikedua
ujungnya dilas menjadi satu atau dihubungkan dengan kotak penyekat. Fluida yang satu
mengalir di dalam pipa, sedangkan fluida kedua mengalir di dalam ruang anulus antara
pipa luar dengan pipa dalam. Alat penukar panas jenis ini dapat digunakan pada laju alir
fluida yang kecil dan tekanan operasi yang tinggi. Sedangkan untuk kapasitas yang lebih
besar menggunakan shell and tube heat exchanger

Gambar 2.6 Double pipe heat exchanger

2. Shell And Tube Heat Exchanger


Tipe tipe shell and tube, pada tipe ini satu fluida mengalir di dalam pipa-pipa
sedangkan yang lainnya mengalir pada shell dengan pola aliran menyerupai aliran
silang.

Gambar 2.7 Shell And Tube Heat Exchanger


Shell and tube ini ada beberapa konstruksi yaitu satu shell (case) dua laluan tube (pipe)
dan dua shell empat laluan tube.

Gambar 2.8 Pesawat penukar kalor tipe shell and tube: a). Satu shell dan dua laluan tube
b). Dua shell dan empat laluan tube

Kelebihan

Thermal performance lebih tinggi dari tipe penukar kalor jenis coil

Tekanan lebih tinggi dari penukar kalor jenis pelat

efisiensi yang tinggi,

memerlukan tempat yang minim

mudah dirawat mudah beradaptasi hampir semua tipe liquid chilling

Kekurangan :

Kinerja termal [thermal performance] lebih rendah dari tipe penukar kalor jenis
pelat

Tekanan lebih rendah dari penukar kalor jenis coil

Faktor yang mempengaruhi efektivitas alat penukar panas (Heat Exchanger) terutama
Heat exchanger tipe shell & tube:
1. Melakukan penelitian penggunaan baffle dapat meningkatkan efektifitas alat penukar
panas, hal ini sejalan dengan peningkatan koefisien perpindahan panas.
2. Melakukan penelitian pengaruh tebal isolasi pada bagian luar shell, efektifitas
meningkat hingga suatu harga maksimum dan kemudian berkurang.
3. Menyimpulkannya dengan menggunakan alat penukar panas tabung konsentris,
efektifitas berkurang, jika kecepatan udara masuk dingin meningkat dan efektifitas
meningkat, jika laju alir massa udara meningkat.
4. Menentukan jarak antar baffle minimum 0,2 dari diameter shell sedangkan jarak
maksimum ialah 1x diameter bagian dalam shell. Jarak baffle yang panjang akan
membuat aliran membujur dan kurang menyimpang dari aliran melintang.

3. Adiabatic Wheel Heat Exchanger


Jenis keempat penukar panas menggunakan intermediate cairan atau toko yang
solid untuk menahan panas, yang kemudian pindah ke sisi lain dari penukar panas akan
dirilis. Dua contoh ini adalah roda adiabatik, yang terdiri dari roda besar dengan benang
halus berputar melalui cairan panas dan dingin, dan penukar panas cairan.
4. Pillow Plate Heat Exchanger
Sebuah pelat penukar bantal umumnya digunakan dalam industri susu untuk susu
pendingin dalam jumlah besar langsung ekspansi tank massal stainless steel. Pelat bantal
memungkinkan untuk pendinginan di hampir daerah seluruh permukaan tangki, tanpa
sela yang akan terjadi antara pipa dilas ke bagian luar tangki. Pelat bantal dibangun
menggunakan lembaran tipis dari logam-spot dilas ke permukaan selembar tebal dari
logam.

Pelat tipis dilas dalam pola teratur dari titik-titik atau dengan pola serpentin garis
las. Setelah pengelasan ruang tertutup bertekanan dengan kekuatan yang cukup untuk
menyebabkan logam tipis untuk tonjolan di sekitar lasan, menyediakan ruang untuk
cairan penukar panas mengalir, dan menciptakan penampilan yang karakteristik bantal
membengkak terbentuk dari logam.
5. Dynamic Scraped Surface Heat Exchanger
Tipe lain dari penukar panas disebut "(dinamis) besot permukaan heat
exchanger". Ini terutama digunakan untuk pemanasan atau pendinginan dengan tinggi
viskositas produk, proses kristalisasi, penguapan tinggi dan fouling aplikasi. Kali berjalan
panjang yang dicapai karena terus menerus menggores permukaan, sehingga menghindari
pengotoran dan mencapai kecepatan transfer panas yang berkelanjutan selama proses
tersebut.
6. Phase-Change Heat Exchanger
Selain memanas atau pendinginan cairan hanya dalam satu fasa, penukar panas
dapat digunakan baik untuk memanaskan cairan menguap (atau mendidih) atau
digunakan sebagai kondensor untuk mendinginkan uap dan mengembun ke cairan. Pada
pabrik kimia dan kilang, reboilers digunakan untuk memanaskan umpan masuk untuk
menara distilasi sering penukar panas .
Distilasi set-up biasanya menggunakan kondensor untuk mengkondensasikan uap
distilasi kembali ke dalam cairan.Pembangkit tenaga listrik yang memiliki uap yang
digerakkan turbin biasanya menggunakan penukar panas untuk mendidihkan air menjadi
uap.
Heat exchanger atau unit serupa untuk memproduksi uap dari air yang sering
disebut boiler atau generator uap.Dalam pembangkit listrik tenaga nuklir yang disebut
reaktor air bertekanan, penukar panas khusus besar yang melewati panas dari sistem
(pabrik reaktor) primer ke sistem (pabrik uap) sekunder, uap memproduksi dari air dalam
proses, disebut generator uap.Semua pembangkit listrik berbahan bakar fosil dan nuklir
menggunakan uap yang digerakkan turbin memiliki kondensor permukaan untuk
mengubah uap gas buang dari turbin ke kondensat (air) untuk digunakan kembali.
Untuk menghemat energi dan kapasitas pendinginan dalam kimia dan tanaman
lainnya, penukar panas regeneratif dapat digunakan untuk mentransfer panas dari satu
aliran yang perlu didinginkan ke aliran yang perlu dipanaskan, seperti pendingin distilat
dan pakan reboiler pra-pemanasan.
Istilah ini juga dapat merujuk kepada penukar panas yang mengandung bahan dalam
struktur mereka yang memiliki perubahan fasa. Hal ini biasanya padat ke fase cair karena

perbedaan volume kecil antara negara-negara ini. Perubahan fase efektif bertindak
sebagai buffer karena terjadi pada suhu konstan tetapi masih memungkinkan untuk
penukar panas untuk menerima panas tambahan. Salah satu contoh di mana ini telah
diteliti untuk digunakan dalam elektronik pesawat daya tinggi.

Gambar 2.3 Phase-change heat exchanger

7. Plate and Shell Heat Exchanger


Heat Exchanger jenis ini menggabungkan heat exchanger plate dan teknologi
heat exchanger shell & tube. Di tengah-tengah dari heat exchanger ada satu plate yang
dilas melingkar dibuat dengan menekan dan memotong pelat bulat dan di las secara
bersamaan.
Kelebihan

transfer panas tinggi,

penyumbatan yang rendah

tekanan tinggi,

suhu pendekatan dekat.

suhu operasi yang tinggi,

aman terhadap kebocoran pada tekanan

ukuran yang ringkas,

dan suhu tinggi

8. Penukar Panas Plate and Frame ( Plate And Frame Heat Exchanger )
Alat penukar panas pelat dan bingkai terdiri dari paket pelat pelat tegak lurus,
bergelombang, atau profil lain. Pemisah antara pelat tegak lurus dipasang penyekat lunak
(biasanya terbuat dari karet). Pelat pelat dan sekat disatukan oleh suatu perangkat
penekan yang pada setiap sudut pelat 10 (kebanyakan segi empat) terdapat lubang
pengalir fluida. Melalui dua dari lubang ini, fluida dialirkan masuk dan keluar pada sisi
yang lain, sedangkan fluida yang lain mengalir melalui lubang dan ruang pada sisi
sebelahnya karena ada sekat.

Kelebihan

Koefisien perpindahan panas tinggi

Area perpindahan panas luas

penurunan tekanan rendah

Efektivitas tinggi, mudah di bongkar pasang untuk kepentingan pembersihan, dan


inspeksi.

Kekurangan

Kemampuan tekanan rendah

Ada banyak jenis exchanger plate yang permanen atau tipe close

Gambar 2.4 Plate and Frame heat exchanger

3.

BAB
Tipe tipe shell and tube, pada tipe
ini III
satu fluida mengalir di dalam pipa-pipa
sedangkan
lainnya
mengalir pada shell
denganEXCHANGER
pola aliran menyerupai
RUMUSyang
DAN
PERHITUNGAN
HEAT
aliran silang.

3.1

EnergiTube
Kalor
Energiinlet
kalor

Shell
inlet

Buffle

merupakan energi yang menunjukkan tingkatan kecepatan gerak

acak dari suatu molekul atau suatu atom. Dalam hal ini, kalor berpindah dari permukaan
suatu sistem yang bersuhu tinggi ke sistem yang temperaturnya lebih rendah sehingga
tingkat energi kalor suatu benda diindikasikan dengan temperatur benda tersebut. Untuk
laju dari energi kalor sendiri dapat dinyatakan sebagai berikut:
Shell
outlet

Tube
outlet

Gambar 2.7: Pesawat penukar kalor tipe Shell and Tube

Dimana : Q = Laju energi kalor (W)

= Laju aliran massa (kg/s)


Shell and tube ini ada beberapa konstruksi yaitu satu shell (case) dua laluan tube
Cp = Kalor spesifik pada tekanan konstan (J/kg.K)
(pipe) dan dua shell empat laluan tube.
T = Beda temperatur (K)
3.2

Bilangan Reynold
Bilangan Reynold

perbandingan antara gaya

Shell
inlet

Tube
inlet
Shell
merupakan
bilangan tak berdimensi yang menunjukkan
Tube
inlet
inlet
inersia terhadap
gaya viskos dari suatu fluida. Secara

matematis besarnya angka Reynold dapat dirumuskan sebagai berikut


Shell
outlet

Tube
outlet

Nre =
Dimana v

Shell
outlet

Tube
outlet

= kecepatan (m/s)

D Pesawat
= Diameter
pipa tipe
dimana
fluida
mengalir
(m)dan dua laluan tube. b). Dua shell
Gambar 2.8:
penukar kalor
shell and
tube:
a). Satu shell
dan empat laluan tube

= massa jenis (kg/m3)


= viskositas (kg/m.s)

3.3

Koefisien Perpindahan Panas Keseluruhan


Koefisien perpindahan panas keseluruhan merupakan koefisien perpindahan

panas gabungan yang meliputi seluruh koefisien yang ada mulai dari fluida dingin
sampai ke fluida panas, termasuk juga adanya faktor kerak (fouling factor) yang
mungkin terjadi sesudah pesawat digunakan.

Jika kedua fluida dipisahkan oleh dinding datar maka koefisien perpindahan panas
keseluruhan adalah:

hi

ho
k

1)

L
1
1
hi
k ho

Jika kedua fluida dipisahkan oleh dinding silinder (pipa) maka:


1
U o

ho

ro
k

ln

, berdasarkan luas permukaan luar pipa.

ro
ri

1
U i

hi

ri
k

ln

ro
ri

2)

ro 1
ri hi

berdasarkan luas permukaan dalam pipa.

3)

ri 1
ro ho

Dimana U i Ai U o Ao
ri
r

h
Jika memperhitungkan adanya fouling factor (kerak) persamaan menjadi:
1
U o

1
ho

ro

R f , o

ro
ri

ln

4)
R f , i

ro 1
ri hi

1
U i

1
hi

R f , i

ri
k

ln

ro
ri

5)
R f , o

ri 1
ro ho

Harga representasi fouling factor adalah:

Tabel 3.1: Harga representasi fouling factor (Incropera)


Fluid

Rf (m -K/W)

Seawater and treated boiler feedwater (below 50C)

0.0001

Seawater and treated boiler feedwater (above 50C)

0.0002

River water (below 50C)

0.0002 s/d 0.0001

Fuel oil

0.0009

Refrigerating liquids

0.0002

Steam (non oil bearing)

0.0009

Tabel 3.2: Harga representasi koefisien perpindahan panas keseluruhan (Incropera)


2

Kombinasi Fluida

U( W /m -K)

Air ke air

850 s/d 1700

Air ke minyak

110 s/d 350

Kondensor uap (air di dalam tube)

1000 s/d 6000

Kondensor amoniak (air di dalam tube)

800 s/d 1400

Kondensor alkohol (air di dalam tube)

250 s/d 700

Heat exchanger dengan sirip (air dalam tube, udara silang)

25 s/d 50

3.4 Analisis Pesawat Penukar Kalor (Lmtd)


Analisis pesawat penukar kalor didasarkan pada dua asumsi utama (disamping
beberapa asumsi tambahan) yaitu: semua kalor yang dilepaas fluida panas diterima
semuanya oleh fluida dingin dan perpindahan panas antara pesawat dengan lingkungan
diabaikan.
Kalor yang dilepas fluida panas:
*

q h m c p, h h,(Ti

h, o

6)

)T

Kalor yang diterima fluida dingin:


*

qc mp, cc c, o (Tc, i ) T
Th,i

73)

Th,o
A: luas permukaan
perindahan panas

q
Tc,i

Tc,o

Gambar 3.1: Balans energi pada pesawat penukar kalor

Persamaan lain yang diperlukan untuk analisis adalah:


q UATm ,

dimana:Tm T h T c

7)

Tm : beda temperatur rata-rata antara fluida panas dan fluida dingin.

1. Tipe Aliran Paralel


Distribusi temperatur yang terjadi pada pesawat penukar kalor aliran parallel
adalah sebagai berikut:

dA
Ch
Th+dTh

Th

Cc

Tc
T

A: luas permukaan
perindahan panas

Tc+dTc

dq

Th,i
dTh
Th,o

T1

T2

dq

Tc,o
dTc

Tc,i
2

Gambar 3.2: Pesawat penukar kalor aliran paralel

Asumsi :
1. Perpindahan panas antara pesawat dengan lingkungan diabaikan
2. Konduksi arah aksial pada tube diabaikan
3. Perubahan energi kinetik dan potensial diabaukan
4. Kapasitas panas jenis fluida konstan
5. Koefisien perpindahan panas keseluruhan konstan
Balans energi pada masing-masing elemen tersebut diatas:
dq mh*c p, h dTh C h dTh

dTh

dq
Ch

8)

*
c cdT
c cC cdT
dq mc p,

dTc

dq
Cc

9)

dq UdAT ,

dimana:
T T h T c (beda temperatur lokal), jika dideferensiasi:
1 1
d (T ) dT h d T c dq
C h c
C

diintegralkan menjadi:

1
1
d
(T
)
2
2
,

T U Ch c
dA , menjadi :
1
1
C
1 1
T2 UA Ch c

ln
C
T1

substitusi

dq UdAT dan

10)

Substitusi Ch dan Cc :
ln

Th,i Th,o
UA
q
T1

T2

Tc,o Tc,i UA

q
q

T2 T1
ln T2

q UA

(Th,i

Tc,i ) (Th,o Tc,o )

11)

atau q UATlm

T1
T2 T1
, disebut log mean temperature difference
2
T
ln
T1

Dimana:Tlm

12)

PERHATIAN: Untuk aliran paralel:


T1Th,i Tc,i

13)

T2Th,o Tc,o

14)

2. Tipe Aliran berlawanan arah


Dalam hal ini semua persamaaan sama dengan aliran parallel kecuali padaT1
danT2 yang berbeda. Perbedaan ini disebabkan arah aliran yang berlawanan.
dA
Ch
Th+dTh

Th

Cc

Tc+dTc dq
T

A: luas permukaan
perindahan panas

Tc

Th,i
dTh

T1
T
Tc,o

Th,o
dq

T2
Tc,i

dTc

Gambar 3.3: Pesawat penukar kalor aliran berlawanan

PERHATIAN: Untuk aliran berlawanan arah (berlawanan):


T1Th,i Tc,o

15)

T2Th,o Tc,i

16)

3. Tipe Aliran Multipass dan Aliran Silang


Meskipun pesawat penukar kalor untuk tipe multipass dan aliran silang sangat
kompleks tetapi persamaan-persaman tersebut diatas dapat digunakan untuk analisis
dengan hasil yang memuaskan. Satu-satunya yang harus dimodifikasi adalah log mean
temperature difference (LMTD), yaitu dalam bentuk:
TlmTlm,CF xF

17)

Tlm,CF adalah log mean temperature difference untuk aliran berlawanan arah dan F
adalah faktor koreksi yang dapat dilihat pada gambar berikut:
T1 Ti to
T2 To ti

Gambar 3.4 Faktor Koreksi LMTD Untuk Shell And Tube Dengan Satu Shell Dan Kelipatan 2 Laluan
Tube

T1 Ti to
T2 To ti

Gambar 3.5 Faktor Koreksi LMTD Untuk Shell And Tube Dengan Dua Shell Dan Kelipatan 2 Laluan
Tube

T1 Ti to
T2 To ti

Gambar 3.6 Faktor Koreksi LMTD Untuk HX Aliran Silang Dengan Kedua Fluida Tidak Bercampur

T1 Ti to
T2 To ti

Gambar 4.7 Faktor Koreksi LMTD Untuk HX Aliran Silang Dengan Satu Fluida Bercampur , yang Lain
Tidak Bercampur

3.5

The Effectivenes - NTU Method


Untuk mendefinisikan efektivitas pesawat penukar kalor terlebih dahulu harus

ditentutkan kemungkinan maksimum perpindahan panas (qmax):


Kalor yang dipindahkan:
q mC (T )

18)

Heat capasity:
Cc mc*C pc
*
Ch h phm C

Definisi qmax:

C min

19)

20)

21)
Dimana: HX effectiveness dapat dinyatakan sebagai berikut:

22)

Dari pembahasan LMTD didapat pers.:

Maka:

Substitusi nilai Tco dari pers.:

Tco C min

C max

(Thi Tho ) Tci

23)

Cr Cmin
Cmax

DAFTAR PUSTAKA

1. Theodore L Bergman, Adrienne S Lavine, Frank P Incropera, David P Dewitt:


Fundamental of Heat and Mass Transfer, 7nd edition, copyright John Wiley & Sons
Inc. U S A, 2011.
2. Theodore L Bergman, Adrienne S Lavine, Frank P Incropera, David P Dewitt:
Introduction to Heat Transfer, 6th edition, copyright John Wiley & Sons Inc. USA,
2011.