Anda di halaman 1dari 5

Hernia Inguinalis Lateralis pada Anak

Awal tahun 1522 S.M bangsa mesir telah menggambarkan terapi hernia inguinal
dengan eksternalpresure. Galen pada tahun 176 M mendeskripsikan prosesus vaginalis
peritonum yang merupakan faktor etiologi hernia inguinal, sedang operasi pertama
dilakukan oleh Susruta pada tahun 5 M, teknik operasi yang modern dilakukan Ambrois
pare (1540) pada anak. (1,6,14,15). Abad ke-9 Camper, Coper, Hesselbach, Gimbernat,
Richtedan Scarpa menerangkan secara akurat anatomi kanalis inguinalis. Pada akhir abad
ke- 19 operasi hernia mengalami kemajuan dengan ditemunya anestesi dan pengetahuan
asepsis.(2,4,5,7)
EMBRIOLOGI DAN PATOFISIOLOGI
Gonad berkembang sebagai migrasi sel germinativum primitf dari yolk sac ke
genital ridge pada minggu ke- 6 pada masa gestasi, diferensiasi menjadi testis dan ovarium
pada minggu ke-7 atau ke- 8 masa gestasi di bawah pengaruh hormon. Gubernakulum dari
kaudal dan berakhir pada mesonefrus melengket pada kutub bawah testis, bagian bawah
gubernakulum tipis sehingga dapat berfungsi sebagi penuntun kedalam scrotum. Pada
bulan ketiga masa gestasi gonad bergerak turun ke bawah dan peritenium tampak
menonjol ke dinding ventral abdomen sebagai prosessus vaginalis peritonei. Penonjolon
peritoneum melalui anulus inguinalis intenus dan testis yang bergerak ke bawah mengikuti
gubernakulum merupakan fase eksternal dari desensus gonad . Pada bulan ke-7 dan ke-8
testis turun melalui kanalis inguinalis internus dan keluar melalui angulus inguinlis
eksternus mengikuti serat gubernakulum dan pada bulan ke- 8, testis biasanya sudah
berada dalam scrotum, dan prosessus vaginalis biasanya masih terbuka. Pada bulan ke- 9
prossesus vaginalis peritonei akan mengalami regresi sehingga menutup sempurna setinggi
batas kanalis inguinalis dan hanya tinggal sebagai jaringan fibrotik.(1,3,7,16,17)
Kegagalan obliterasi dari prosesus vaginalis baik sebagian maupun keseluruhhan akan
mengakibatkan sakus vaginalas akan tetap terbuka dan merupakan faktor presdiposisi
terjadi hernia inguinalis latralis.(5,8,9,10)

ANATOMI KANALIS INGUINLIS(17)


Kanalis inguinalis pada anak dan bayi lebih pendek dari orang dewasa dan terletak
diantara muskulus obliqus abdominis internus dan muskulus oblingus abdominis
eksternus. Kanalis inguinalis dilewati funikulus spermatikus pada anak laki-laki dan
ligamentum teres uteri pada anak perempuan. Anulus inguinalis merupakan pintu masuk
hernia inguinalis ke dalam kanalis dan terletak pada fascia transversa. Anulus inguinalis
eksternu terletak subkutan dan tebentuk pada celah antara serabut muskulus obliqus
abdominis eksternus. Anulus ingualis eksternus terletak lebh medial dan kaudal dari pada
anulus ingualis internus.(8,13,15,16)
Sebagian serabut muskulus oblingus abdominis internus dan beberapa serabut
muskulus transversus abdominis mengelilingi anulus ingualis internus dan membentuk
dinding kanalis inguinalis. Pada tepi bawah muskulus oblinqus internus, beberapa
serabutnya

mengikuti

funikulus

spermatikus

membentuk

muskulus

kremaster.

Funikulus spermatikus terletak pada alur yang menjadi dasar kanalis inguinalis yang
dibentuk oleh serabut-serabut yang berasal dari ligamentum inguinalis, ligamentum
lakunare, danfascia transversa yang memberi serabut yang bersatu dengan funikulus
spermatikus dan disebut fascia spermatika interna. Diluar anulus inguinalis eksternus,
funikulus spermatikus mempunyai pembungkus yang berrasal dari aponeurosis muskulus
obliqus abdomnis eksternus yang disebut fascia spermatika eksterna. (15,16,17)
Funikulus spermatikus terdiri dari vas deferens yangg terletak dibagian osterior, yang
dikelilingi oleh pleksus pampinifomis. Kanalis inguinalis pada anak perempuan sangat
sempit dan terisi ligamentum teres uteri dan kalau prosessus vaginalis terbuka disebut
kanalis nucki.(1,6,9)
INSIDEN
Pada bayi dan anak puncak kejadiann hernia inguinalis pada tahun pertama
kehidupan. Morton W Molley melaporkan dari 1000 kasus yang ditemukan, 36% pada
anak berusia 6 bulan pertama kehidupan sedangkan 49% pada tahun pertama kehidupan.
Semua kelompok umur frekwensi terjadinya hernia pada lakki-laki lebih dari wanita
dengan rasio 8:1 (2,3,4,5,7) Sekitar 10% pada bayi dan anak yang mengalami hernia
inguinal pada satu sisi kemungkinan mempunyai kelainan yang sama pada sisi
kontralateral. Bayi prematur dan bayi berat lahir rendah beresiko tinggi terjadinya hernia

inguinal lateral, dilaporkan insiden pada laki-laki sekitar 30% dan 2% pada anak
perempuan. Sekitar 50%-60% hernia inguinal berada pada sisi kanan, 30% pada sisi kiri
dan 10%-20% bilateral. (2,3,5,7,8,9)
ETIOPATOGENESIS
Tidak semua faktor penyebab timbulnya hernia inguinalis pada bayi dan anak.
Sakus vaginali yang masih terbuka, prematuritas, umur, menangis, fimosis, dengan
kesukaran kencing, mengeja, batuk kronik, penyakit tertentu seperti fibrosis sistika
pankreas, sindrom hurler-hunter, sindrom Ehlers-Danlos, gangguan metabolisme yang lain,
hidrosefalus dengan ventriko-peritoneal shunt disebut sebagai faktor yang berperan
timbulnya

hernia

pada

bayi

dan

anak.(1,4,10)

Ponka (1980) membagi faktor etiologi pokok hernia inguinalis pada umumnya yaitu:(1)
1. Faktor congenital
2. Faktor konstribusi/ faktor ppresdiposisi
3. Faktor presipitasi/eksitasi
Tabel

faktor

etiologi

pokok

1.
1.1

hernia

inguinalis

pada

bayi

Faktor
sakus

dan

anak

kongenital

vaginalis

yang

terbuka

1.2

Kriptokismus

1.3

Gastroskisis

1.4
2.

Ekstrofia
faktor

kandung
konstribusi

2.1

kemih

atau

jenis

presdiposisi
kelamin

2.2

umur

2.3

prematuritas

2.4

fibrosis

sistika

pankreas

2.5

sindrom

hurler-Hunter

2.6

sindrom

ehlers-Danlos

2.7
2.8

infeksi

sitomegalivirus
batuk

dan

rubella

kongenital
kronik

2.9

fimosis

2.10

hidrosefalus

2.11
3.

dengan

kesukaran

dengan

ventrikuloperitoneal

gangguan
faktor

metabolisme
presipitasi

kencing
shunt
kolagen

atau

ekitasi

3.1 kenaikan tekanan intraabdominal yang mendadak


DIAGNOSIS
Gejala hernia inguinal lateralis adanya benjolan pada regio inguinal, benjolan keluar dari
anulus inguinalis eksternus dan kadang-kadang sampai scrotum dan labia mayora.
Benjolan dapat menetap atau hanya muncul jika tekanan intra abdominal meningkat seperti
jika anak menagis, batuk atau lagi beraktifitas, dan benjolan akan pada saat bayi atau anak
berbaring atau sedang santai. Pada saat pemeriksaan fisis sangat penting untuk memeriksa
apakah testis berada dalam scrotum, karena benjolan rektraksi testis pada kanalis
inguinalis sama benjolan hernia inguinal lateralis. Pemeriksaan funikulus spermatikus juga
dapat membantu menegakkan diagnosa yaitu adanya silk sign, pemeriksaan colok dubur
pada bayi

dan anak dapat mendiagnosa

adanya

inkar serata usus.(4,5,6,16)

Pemeriksaan foto perut dan daerah inguinal (pneumoperitoneum) dengan posisi terbalik
setelah memasukkan gas oksigen kedalam rongga pertoneum melalui jarum yang di
tusukkan ke dalam rongga abdomen, tetapi cara ini kurang cermat sehingga jarang
digunakan. Herniografi dengan kontras lipiodol lebih tepat menentukan ada tidaknya
kantong

hernia.(1,9,13)

Membedakan dengan diagnosa yang lain sangat penting terutama dengan hidrokel
komunikan,

caranya

dengan

melakukan

tes

iluminasi.(10)

Pada anak perempuan masa hernia biasanya sulit di reduksi, masa biasanya tidak teraba
dan tidak bergejala. Bila terjadi inkarserata maka organ yang terlibat adalah ovarium.
(3,10,14,5)
PENATALAKSANAAN
Terapi hernia inguinalis lateralis yang rasional pada bayi dan anak adalah segera di
lakukan koreksi operasi. Tehnik ligasi tinggi pada kantong hernia (herniotomi) merupakan
operasi pada hernia inguinal walaupun penggunaan laparoskopi pada pasien hernia
inguinal juga dapat dilakukan khususnya pada anak perempuan.pada pasien hernia inguinal
yang mengalami inkarserata maka harus dilakukan perawatan di rumah sakit. Anak
langsung dipuasakan dan diberi cairan intravena. Pemberian sonde lambung dan sedatif

juga harus dilakukan, anak dalam posisi Trendelenburg dan diberi kompres air es di atas
benjolan, biasanya reduksi spontan terjadi dalam 1 jam dan di persiapkan untuk operasi
elektif setelah edema turun, apabila reduksi tidak terjadi dalam 4-6 jam maka harus di
lakukan operasi emergensi.(2,3,15,16)
HERNIA

REKUREN

Rata-rata rekurensi herni inguinal tanpa komplikasi setelah herniotomi dilaporkan 0,5
1%, dengan rata-rata lebih 2% pada bayi yang prematur. Rata-rata rekurensi hernia
inkarserata setelah koreksi operasi dilaporkan 3-6%. Rekurensi terjadi ssekitar 50% dalam
1

tahun

setelah

operasi

dan

75%

dalam

tahun

setelah

operasi.(4,7,8,9)

Penyebab tidak langsung pada rekurensi pada hernia inguinalis adalah gagalnya
mendapatkan kantong hernia pada saat prosedur operasi dan gagal melakukan ligasi
kantong hernia pada anulus inguinalis internus. Penyebab langsung adalah rusaknya lantai
kanalis pada saat prosedur operasi.(2,14)