Anda di halaman 1dari 13

BAB I

PENDAHULUAN

Latar Belakang
Konflik yang terjadi di kawasan pertambangan selama ini merepresentasikan
ketidakadilan ekonomi dan akses sumber daya yang dialami oleh masyarakat sekitar.
Masyarakat menganggap bahwa daerah eksplorasi itu adalah wilayah adat atau kampung
halaman mereka. Di sisi lain, perusahaan menganggap bahwa otoritas yang diterimanya
melalui hal izin pertambangan, merasa mempunyai hak untuk melakukan eksplorasi
sebesar-besarnya untuk kepentingan ekonominya sendiri. Hal seperti ini hampir terjadi di
daerah pertambangan di negeri ini salah satunya di Papua, yaitu antara PT Freeport
dengan penduduk pribumi. Paper ini menganalisis masalah yang terjadi dan dikaitkan
dengan teori manajemen konflik.

Tujuan
Paper ini dibuat dengan tujuan agar:
1. Dapat mengetahui dan mengerti teori manajemen konflik
2. Dapat menganalisis kasus PT Freeport dengan penduduk pribumi yang dikaitkan dengan
teori manajemen konflik

BAB II
PEMBAHASAN
Teori Manajemen Konflik
Konflik pada dasarnya adalah hal yang bersifat alami, bahkan merupakan suatu komponen
yang dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari, sayangnya konflik jarang dianalisis, dipelajari
dan dipahami sebagai sebuah potensi.
Manajemen konflik merupakan suatu bidang keterampilan dalam menguraikan strategi yang
bermanfaat dan secara konstruktif menangani suatu konflik. Manajemen konflik dapat
digunakan pada kasus-kasus yang interpersonal maupun impersonal.
Pengertian ini membedakan istilah resolusi konflik dan manajemen konflik. Resolusi konflik
yang dimaksud yakni kemampuan dan strategi yang dimanfaatkan untuk menyelesaikan suatu
konflik, sementara istilah manajemen konflik mencakup pengertian yang lebih luas (broader
term). Tidak semua konflik dapat dipecahkan, malah konflik memiliki suatu potensi yang
positif.
Ada 8 prinsip dasar manajemen konflik, yakni:
1. Konflik adalah perselisihan paham atau gagasan antara dua orang atau lebih. Secara
khusus, konflik hadir karena adanya ketidak cocokan tujuan (goals), nilai, atau
kebutuhan.
2. Konflik penting bagi pengembangan dan pertumbuhan. Kemampuan seseorang
menangani sebuah konflik sangat penting bagi perkembangan kepribadiannya.
3. Self-Awareness dan self-understanding berperan untuk melaksanakan manajemen
konflik yang membangun. Sebagai contoh, para mahasiswa dengan karakter low selfesteem (rendah diri) sering menangani konflik di berbeda dibanding para siswa yang
selalu mengagumi diri sendiri. Tiap-tiap konflik mempunyai hal positif. Ya atau
tidaknya konflik dipecahkan, ada suatu dasar keinginan untuk saling mengenali dan
memahami.
4. Konflik tidak bisa dipecahkan secara konstruktif tanpa interaksi positif, hal tersebut
merupakan suatu format atau bentuk komunikasi.

5. Ketrampilan khusus diperlukan dalam konflik sebagai pengalaman dalam proses


pertumbuhan dan pengembangan seseorang.
6. Ketrampilan khusus tersebut dapat dipelajari maupun diajarkan.
7. Konflik dapat dipecahkan tanpa perlu melanggar hak azasi manusia.
8. Efektifitas strategi pengendalian atau manajemen konflik akan sempurna bilamana
seseorang dilembagakan (institutionalized) kedalam suatu kelompok interaksi sosial,
misalnya masyarakat luas, oraganisasi, keluarga ataupun lingkungan akademik.
Manajemen konflik yang efektif adalah sebuah proses terpadu (intergrated) menyeluruh
untuk menetapkan tujuan organisasi dalam penanganan konflik, menetapkan cara-cara
mencegahnya program-program dan tindakan sebagai tersebut maka dapat ditekankan
empat hal :
1. Manajemen konflik sangat terkait dengan visi, strategi dan sistem nilai/kultur
organisasi manajemen konflik yang diterapkan akan terkait erat dengan ketiga hal
tersebut
2. Menajemen konflik bersifat proaktif dan menekankan pada usaha pencegahan. Bila
fokus perhatian hanya ditujukan pada pencarian solusisolusi untuk setiap konflik yang
muncul, maka usaha itu adalah usaha penanganan konflik, bukan manajemen konflik.
3. Sistem manajemen konflik harus bersifat menyeluruh (corporate wide) dan mengingat
semua jajaran dalam organisasi. Misal: bila sistem manajemen konflik yang
diterapkan hanya untuk bidang Sumber Daya Manusia saja itu akan sia-sia.
4. Semua rencana tindakan dan program-program dalam sistem manajemen konflik juga
akan bersifat pencegahan dan bila perlu penanganan. Dengan demikian maka semua
program akan mencakup edukasi, pelatihan dan program sosialisasi lainnya.

Metode yang sering digunakan untuk menangani konflik adalah :


1.

Metode pengurangan konflik. Salah satu cara yang sering efektif adalah dengan
mendinginkan persoalan terlebih dahulu (cooling thing down). Meskipun demikian
cara semacam ini sebenarnya belum menyentuh persoalan yang sebenarnya. Cara lain
adalah dengan membuat musuh bersama, sehingga para anggota di dalam kelompok
tersebut bersatu untuk menghadapi musuh tersebut. Cara semacam ini sebenarnya
juga hanya mengalihkan perhatian para anggota kelompok yang sedang mengalami
konflik.
3

2.

Metode penyelesaian konflik. Cara yang ditempuh adalah dengan mendominasi atau
menekan, berkompromi dan penyelesaian masalah secara integratif.
a)

Dominasi (Penekanan)
Dominasi dan penekanan mempunyai persamaan makna, yaitu keduanya menekan
konflik, dan bukan memecahkannya, dengan memaksanya tenggelam ke bawah
permukaan dan mereka menciptakan situasi yang menang dan yang kalah. Pihak
yang kalah biasanya terpaksa memberikan jalan kepada yang lebih tinggi
kekuasaannya, menjadi kecewa dan dendam. Penekanan dan dominasi bisa
dinyatakan dalam bentuk pemaksaan sampai dengan pengambilan keputusan
dengan suara terbanyak (voting).

b)

Kompromi
Melalui kompromi mencoba menyelesaikan konflik dengan menemukan dasar
yang di tengah dari dua pihak yang berkonflik ( win-win solution ). Cara ini lebih
memperkecil kemungkinan untuk munculnya permusuhan yang terpendam dari
dua belah pihak yang berkonflik, karena tidak ada yang merasa menang maupun
kalah. Meskipun demikian, dipandang dari pertimbangan organisasi pemecahan
ini bukanlah cara yang terbaik, karena tidak membuat penyelesaian yang terbaik
pula bagi organisasi, hanya untuk menyenangkan kedua belah pihak yang saling
bertentangan atau berkonflik

c)

Penyelesaian secara integrative


Dengan menyelesaikan konflik secara integratif, konflik antar kelompok diubah
menjadi situasi pemecahan persoalan bersama yang bias dipecahkan dengan
bantuan teknik-teknik pemecahan masalah (problem solving). Pihak-pihak yang
bertentangan bersama-sama mencoba memecahkan masalahnya,dan bukan hanya
mencoba menekan konflik atau berkompromi. Meskipun hal ini merupakan cara
yang terbaik bagi organisasi, dalam prakteknya sering sulit tercapai secara
memuaskan karena kurang adanya kemauan yang sunguh-sungguh dan jujur untuk
memecahkan persoalan yang menimbulkan persoalan.

Tipe Konflik ada empat macam, yaitu:


a) Personality conflict yaitu konflik antar personal yang didorong oleh ketidak senangan
atau ketidak cocokan pribadi.
b) Value conflict adalah konflik karena perbedaan pandangan atas tata nilai tertentu.
c) Intergroup conflict merupakan pertentangan antar kelompok kerja, team dan departemen.
4

d) Cross-Cultural conflict merupakan pertentangan yang terjadi antar budaya yang berbeda.

Macam-Macam Konflik
Dari segi fihak yang terlibat dalam konflik
a) Konflik individu dengan individu
Konflik semacam ini dapat terjadi antara individu pimpinan dengan individu
pimpinan dari berbagai tingkatan. Individu pimpinan dengan individu karyawan
maupun antara inbdividu karyawan dengan individu karyawan lainnya.
b) Konflik individu dengan kelompok
Konflik semacam ini dapat terjadi antara individu pimpinan dengan kelompok
ataupun antara individu karyawan dengan kempok pimpinan.
c) Konflik kelompok dengan kelompok
Ini bisa terjadi antara kelompok pimpinan dengan kelompok karyawan, kelompok
pimpinan dengan kelompok pimpinan yang lain dalam berbagai tingkatan maupun
antara kelompok karyawan dengan kelompok karyawan yang lain.
Dari segi dampak yang timbul
Dari segi dampak yang timbul, konflik dapat dibedakan menjadi dua, yaitu konflik fungsional
dan konflik infungsional. Konflik dikatakan fungsional apabila dampaknya dapat memberi
manfaat atau keuntungan bagi organisasi, sebaliknya disebut infungsional apabila dampaknya
justru merugikan organisasi. Konflik dapat menjadi fungsional apabila dikelola dan
dikendalikan dengan baik.
Setiap konflik, baik fungsional maupun infungsional akan menjadi sangat merusak apabila
berlangsung terlalu jauh. Apabila konflik menjadi di luar kendali karena mengalami eskalasi,
berbagai perilaku mungkin saja timbul. Pihak-pihak yang bertentangan akan saling
mencurigai dan bersikap sinis terhadap setiap tindakan pihak lain. Dengan timbulnya
kecurigaan, masing-masing pihak akan menuntut permintaan yang makin berlebihan dari
pihak lain. Setiap kegagalan untuk mencapai hal yang diinginkan akan dicari kambing hitam
dari pihak lain dan perilaku pihaknya sendiri akan selalu dibela dan dicarikan
pembenarannya, bahkan dengan cara yang emosional dan tidak rasional. Pada tahap seperti
iniinformasi akan ditahan dan diganggu, sehingga apa yang sebenarnya terjadi dan mengapa
terjadi menjadi tidak diketahui. Dan segera bisa muncul usaha untuk menggagalkan kegiatan
5

yang dilakukan oleh pihak lain. Kegiatan untuk menang menjadi lebih dominan dari pada
untuk mencapai tujuan organisasi. Menurut Heidjrachman dari berbagai penelitian dan
percobaan ternyata ditemukan hasil-hasil yang mirip antara yang satu dengan yang lain
situasi, yang timbul akibat adanya konflik, baik konflik yang fungsional maupun konflik yang
infungsional. Di antaranya yang penting adalah : (1) Timbulnya kekompakan diantara
anggota-anggota kelompok yang mempunyai konflik dengan kelompok yang lain; (2)
Munculnya para pimpinan dari kelompok yang mengalami konflik; (3) Ada gangguan
terhadap persepsi para anggota atau kelompok yang mengalami konflik; (4) Perbedaan antara
kelompok yang mengalami konflik nampak lebih besar dari pada yang sebenarnya,
sedangkan perbedaan pendapat antar individu dalam masing-masing kelompok tampak lebih
kecil dari pada yang sebenanya; (5) Terpilihnya wakil-wakil yang kuat dari pihak-pihak
yang mengalami konflik; (6) Timbulnya ketidakmampuan untuk berfikir dan menganalisa
permasalahan secara jernih.
Kasus PT Freeport dengan penduduk pribumi
Konflik masyarakat lokal dengan Freeport sudah berlangsung lama, yakni sejak perusahaan
tambang tembaga dan emas ini mulai diizinkan beroperasi pada tahun 1967. Bekilo-kilometer
hutan, lahan sagu dan lahan berburu musnah tercemari limbah. Sungai dan anakan sungai
tempat menangkap ikan dan udang, tak cuma tercemari, tapi tersumbat limbah tailing. (Saat
ini gundukan tailing buangan menjadi daratan luas yang tampak putih keabu-abuan dari
udara). Sementara itu, pihak perusahaan acuh-tak-acuh terhadap nasib penduduk lokal yang
telah dicerai-beraikan dan dirusak kehidupannya.
Namun, setiap kali keluh-kesah masyarakat lokal tidak digubris. Mereka malah dipersalahkan
dan kembali mendapat perlakuan semena-mena dari aparat keamanan Freeport. Pada 21
Februari 2006, para penambang tradisional di Tembagapura bentrok dengan aparat keamanan
yang melarang kegiatan mereka. Massa memblokir jalan dari Timika ke Tembagapura yang
sempat memacetkan operasi Freeport. Di bulan yang sama, berlangsung aksi simpati terhadap
penambang tinja emas yang diusir dari areal PT Freeport. Aksi ini berlangsung di Jayapura,
Wamena dan Jakarta.
Lokasi pertambangan PT Freeport berupa gunung biji tembaga (Ertsberg), pertama kali
ditemukan oleh seorang ahli geologi kebangsaan Belanda, Jean Jacqnes Dory pada 1936.
Kemudian ekspedisi Forbes Wilson tahun 1960 menemukan kembali Ertsberg. PT Freeport
pertama kali melakukan penambangan pada bulan Desember 1967 pasca ditandatangani
6

Kontrak Karya I (KK I). Ekspor pertama konsentrat tembaga dimulainya pada Desember
1972 dan beberapa bulan kemudian tepatnya Maret 1973 projek pertambangan dan Kota
Tembagapura ini diresmikan oleh Presiden Soeharto.
Freeport beroperasi di Indonesia berdasarkan Kontrak Karya yang ditandatangani pada tahun
1967 berdasarkan UU 11/1967 mengenai PMA. Berdasarkan KK ini, Freeport memperoleh
konsesi penambangan di wilayah seluas 24,700 acres (atau seluas +/- 1,000 hektar. 1 Acres =
0.4047 Ha). Masa berlaku KK pertama ini adalah 30 tahun.
Setelah sekian lama dilakukan ekplorasi (dan juga eksploitasi tentunya), kandungan tembaga
semakin berkurang dan pada 1986 ditemukan sumber penambangan baru di puncak gunung
rumput (Grasberg) yang kandungannya jauh lebih besar lagi. Kandungan bahan tambang
emas terbesar di dunia ini, diketahui sekitar 2,16 s.d. 2,5 miliar ton dan kandungan tembaga
sebesar 22 juta ton lebih. Diperkirakan dalam sehari diproduksi 185.000 s.d. 200.000 ton biji
emas/tembaga.
PT Freeport berhasrat lagi untuk memperpanjang KK I dan dibuatlah KK II pada Desember
1991. KK I dengan jangka 30 tahun semestinya berakhir pada tahun 1997 (KK I dibuat tahun
1967), KK II memberikan hak kepada PT FI selama 30 tahun dengan kemungkinkan
perpanjangan selama 2 X 10 tahun. Ini berarti KK II ini akan berakhir pada tahun 2021 dan
jika diperpanjang maka akan berakhir 2041. Jadi setelah 35 tahun lagi tepatnya 2041, barulah
PT FI kembali menjadi milik NKRI.
Berdasarkan kontrak karya ini, luas penambangan Freeport bertambah (disebut Blok B)
seluas 6,5 juta acres (atau seluas 2,6 juta ha). Dari Blok B ini yang sudah di lakukan kegiatan
eksplorasi seluas 500 ribu acres (atau sekitar 203 ribu ha).
Selain royalty yang besarnya sudah diatur dalam KK, Freeport memberikan royalty tambahan
(mulai 1998) yang besarnya sama dengan royalty yang diatur dalam KK (untuk tembaga) dan
dua kali untuk emas dan perak. Royalti tersebut diberikan untuk sebagai upaya dukungan
bagi pemerintah dan masyarakat local. Royalti tambahan ini diberikan apabila kapasitas
milling beroperasi diatas 200.000 metric ton/hari. Pada tahun 2009, kapasitas mill mencapai
235 ribu metric ton/hari. Menurut laporan penjualan Freeport McMoran tahun 2009, total
penjualan Freeport untuk tembaga yang berasal dari Indonesia adalah sebesar 1,4 miliar
pound atau sekitar 0,636 miliar kg, emas sebesar 2,5 juta ounces atau sekitar 71 ribu kg (1 kg

= 35,2 ounces) dan molibdenum sebesar 2,5 juta pounds atau sekitar 1,14 juta kg (1 kg = 2,2
pound).
Dengan kapasitas produksi yang sedemikian besar dengan produk bernilai tinggi, orang
berpikir bahwa uang yang masuk ke kas negara juga sangat besar.

Namun nyatanya

berdasarkan laporan keuangan Freport McMoran 2009, total royalty (royalty KK dan
additional royalty) sebesar US$ 147 juta (2009), US$ 113 juta (2008) dan US$ 133 juta
(2007).

Sementara dalam press releasenya, PTFI melaporkan bahwa pada tahun 2010

(sampai dengan Juni), PTFI telah membayarkan royalty sebesar US$ 105 juta. Total
kontribusi mereka ke pemerintah Indonesia selama 2010 sebesar US$ 899 juta atau Rp. 8,091
triliun (kurs 1 US$ = Rp 9000) terdiri dari Pajak (Pajak penghasilan badan, pajak karyawan,
pajak daerah dan pajak lainnya), Penghasilan, Deviden bagian pemerintah serta royalty. Dari
jumah itu berdasarkan LKPP 2009, PTFI penyumbang deviden ke pemerintah Indonesia
sebesar Rp. 2 triliun. Semua jumlah itu bisa dinilai sebagai jumlah yang sangat kecil.
Lalu siapa yang mendapat keuntungan lebih besar dari semua itu? Tentu saja yang mendapat
kue raksasa ini adalah pihak-pihak yang terlibat dalam pengeleolaan pertambangan ini.
Menurut kantor berita Reuters (PR, 18/3 2006) dinyatakan bahwa empat Big Boss PT FI
paling tidak menerima Rp 126,3 miliar/bulan. Misalnya Chairman of the Board, James R
Moffet menerima sekira Rp 87,5 miliar lebih perbulan dan President Director PT FI,
Andrianto Machribie menerima Rp. 15,1 miliar per bulan.
Sementara PTFI sendiri mendapat sepuluh kali lipat dari jumlah bagian deviden yang
diterima pemerintah RI. Jika sebagai pemegang saham 9,36% saja pemerintah mendapatkan
deviden Rp 2 Triliun, maka Freeport McMoran sebagai induk dari PTFI (pemegang 90,64%
saham PTFI) akan mendapat deviden +/- Rp 20 Triliun di tahun 2009.
Keberadaan PTFI ternyata tidak membawa berkah bagi masyarakat Papua, sebaliknya banyak
mendatangkan petaka. Sejak awal keberadaan PTFI, penguasaan tanah adat oleh masyarakat
Papua terancam. KK I Freeport, memberikan konsesi yang terletak di atas tanah adat. Dalam
satu klausul KK nya, Freeport diperkenankan untuk memindahkan penduduk yang berada
dalam area KK nya. Itu artinya, Freeport dibenarkan untuk menguasai tanah adat dan
memindahkan penduduk yang ada di area yang dikuasainya.

Padahal ketentuan itu

bertentangan dengan UU No 5/1960 tentang Ketentuan Pokok Agraria. Dalam UU tersebut,


Negara mengakui hak adat. Namun nyatanya ketentuan KK itu lah yang dilaksanakan.

Masalah berikutnya dalah masalah lingkungan. Diantaranya, tanah adat 7 suku, diantaranya
amungme, diambil dan dihancurkan pada saat awal beroperasi PTFI. Limbah tailing PT FI
telah menimbun sekitar 110 km2 wilayah estuari tercemar, sedangkan 20 - 40 km bentang
sungai Ajkwa beracun dan 133 km2 lahan subur terkubur. Saat periode banjir datang,
kawasan-kawasan suburpun tercemar Perubahan arah sungai Ajkwa menyebabkan banjir,
kehancuran hutan hujan tropis (21 km2), dan menyebabkan daerah yang semula kering
menjadi rawa. Para ibu tak lagi bisa mencari siput di sekitar sungai yang merupakan sumber
protein bagi keluarga. Gangguan kesehatan juga terjadi akibat masuknya orang luar ke Papua.
Timika, kota tambang PT FI , adalah kota dengan penderita HIV AIDS tertinggi di
Indonesia
Masalah lain adalah masalah HAM. Banyak kasus pelanggaran HAM yang terjadi di wilayah
kerja Freeport yang ditengarai dilakukan untuk menjamin keberlangsungan operasional
perusahaan.
Sejak Juli 1996 memang ada dana 1% dari laba kotor perusahaan untuk masyarakat Timika.
Layaknya dana bancakan, dana 1 % bagi pihak masyarakat adat menjadi sumber konflik
internal diantara mereka. Dana tersebut disinyalir sebagai media peredam seteleh adanya
kerusuhan Maret 1996.
Lembaga Masyarakat Adat Amungme (Lemasa) awalnya menolak menerima dana tersebut.
Masyarakat adat Amungme menolak semua bentuk perwakilan yang mengatasnamakan
masyarakat setempat selain Lemasa. Sementara masyarakat adat lain (Komoro dll) merasa
berhak juga atas dana tersebut. Terjadilah konflik-konflik internal sebagai babak baru
persoalan PT FI yang berkepanjangan. Walaupun kemudian dibentuk 7 yayasan yang
mengelola dana tersebut dengan melibatkan berbagai unsur pimpinan adat setempat melalui
SK Gubernur Irja, konflik-konflik diantara mereka tetap saja terjadi.

Intinya adalah

ketidakpuasan, ketidakadilan, dan pengelolaan yang tidak profesional.


Namun sesungguhnya konflik-konflik sekitar PT FI telah dimulai sejak perusahaan itu
berdiri. Pada saat persiapan awal projek PT FI sekira 1960-1973 telah terjadi konflik dengan
masyarakat adat setempat berkaitan dengan pengakuan identitas dan pandangan hidup yang
berhubungan dengan alam dan konsep tentang Hai (konsepsi nenek moyang mereka di alam
atas). Di samping itu konflik pertama terjadi manakala tim ekspedisi Forbes Wilson tahun
1960 meminta bantuan kepada masyarakat sekitar untuk membawa barang-barang keperluan
rombongan, tetapi pada akhirnya tidak dibayar.
9

Kekecewaan dan merasa ditipu merupakan awal dari konflik ini. Konflik berikutnya yang
dikenal dengan konflik January Agreement yang dibuat tahun 1974. Isinya menyangkut
kesepakatan antara PTFI dengan masyarakat suku Amungme dalam kaitan pematokan lahan
penambangan dan batas tanah milik PT FI dengan masyarakat adat setempat. Namun pada
kenyataannya, diduga PT FI telah mengambil tanah adat jauh di luar batas yang telah
disepakati. Masyarakat adat semakin tergerser dan menjadi kaum pinggiran (pheripheral
saja). Konflik-konflik berkaitan dengan January Agreement terus saja berlanjut sampai
pembentukan Lemasa tahun 1992.
Konflik lainnya dipicu oleh kerusakan lingkungan yang semakin parah. Lemasa yang
dikomandoi oleh Tom Beanal kemudian mengadakan musyawarah adat Lemasa (7-13
Desember 1998) yang menghasilkan 4 resolusi yang berisi tentang resolusi SDA, HAM,
gugatan terhadap PTFI dan meminta dialog nasional. Lemasa memang diyakini telah berubah
dari gerakan sosial menjadi gerakan politik.
Analisis Kasus
Konflik dapat terjadi di manapun dan menimpa siapapun yang memiliki kepentingan. Konflik
juga dapat terjadi antara perusahaan dengan masyarakat sekitar. Kasus antara PT Freeport
dan penduduk sekitar ini sudah lama terjadi, namun masih belum menemukan titik temu
penyelesaiannya. Penyelesaian konflik antara masyarakat adat dengan PT Freeport Indonesia
harus dilakukan secara adil dan bijaksana dengan mendegarkan aspirasi dan tuntutan
masyarakat di daerah itu. Masalah tersebut yaitu kecemburuan sosial antara masyarakat asli
dan non asli yang bekerja di PT Freeport itu. Kondisi itu tidak pernah disadari dan
diperhatikan secara baik oleh Pemerintah Pusat, Pemprov Papua maupun pihak perusahan,
akibatnya masalah yang timbul tidak dapat diredam, karena jumlah tenaga kerja orang Papua
sangat sedikit bila dibandingkan dengan non Papua.
Perlakuan yang tidak akomodatif dari pemerintah dan PT Freeport Indonesia terhadap
tuntutan masyarakat setempat mengakibatkan protes-protes yang terus-menerus baik
dilakukan secara terbuka maupun secara tidak. Oleh karena itu, perwujudan konflik melalui
protes-protes dan demonstrasi, seakan mengatakan kepada publik bahwa pertentangan
pemerintah dan PT Freeport Indonesia dengan masyarakat adat Papua ini adalah perseteruan
yang abadi. Indikasi ini diperkuat dengan adanya dominasi kekuasaan atas hak-hak sipil
maupun adat masyarakat setempat. Konflik ini merupakan fenomena gunung es (iceberg

10

phenomenon) karena apa yang terlihat dan teramati publik hanyalah konflik-konflik di
permukaan, sementara hakikat konflik yang lebih besar nyaris tidak mudah dideteksi.
Kalau konflik menjurus menjadi dysfunctional seperti yang terjadi pada kasus ini, cara penanganan
konflik yang tepat perlu dilakukan adalah para manajer dapat dilatih melalui pengalaman penanganan
konflik. Intervensi pihak ketiga dibutuhkan apabila pihak-pihak yang berselisih tidak mau atau tidak
mampu mengatasi konflik. Integrative atau value-added negotiation paling tepat untuk mengatasi
konflik antara masyarakat pribumi dengan PT Freeport. Perlunya ada pihak ketiga sebagai mediasi
untuk masalah ini yaitu Pemerintah Pusat, Pemprov Papua. Kedua lembaga tersebut perlu

memperhatikan masalah yang ada di Papua.

11

BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Jadi, kesimpulannya adalah:
a.

Berbagai jenis konflik tidak mungkin dihindarkan karena dipicu oleh berbagai variasi
penyebab.

b.

Terlalu sedikit konflik pertanda besarnya kondisi kontra -produktif dalam organisasi.

c.

Tidak ada satu jalan terbaik untuk mengatasi konflik.


Jika konflik menjurus menjadi dysfunctional, cara penanganan konflik yang tepat perlu

dilakukan adalah para manajer dapat dilatih melalui pengalaman penanganan konflik.
Intervensi pihak ketiga dibutuhkan apabila pihak-pihak yang berselisih tidak mau atau tidak
mampu mengatasi konflik. Negoisasi adalah salah satu metode untuk menyelesaikan konflik
antara PT Freeport Indonesia dengan masyarakat pribumi sehingga menghasilkan keputusan
yang menguntungkan antar satu dengan yang lain (win win solution).
Saran
Dengan adanya contoh kasus diatas membuktikan perusahaan harus bisa menganalisis
dampak apa yang akan terjadi jika konflik terjadi terus menerus. Perlu adanya simbiosis
mutualisme antara perusahaan dengan masyarakat sekitar agar tercipta hubungan yang selaras
yang saling menguntungkan dan tidak merugikan satu sama lain.

12

DAFTAR PUSTAKA
Manajemen

Konflik.

2012,

(http://www.orangbiasaji.com/2012/09/manajemen-konflik-

dalam-konteks.html, diakses tanggal 21 Desember 2011)


Analisis Kasus Konflik dan Solusinya. 2011, (http://zerosskaterock.blogspot.com/2011/10/
analisis-kasus-konflik-dan-solusinya.html, diakses tanggal 21 Desember 2011)
Metode Manajemen Konflik, (http://id.shvoong.com/social-sciences/education/2179198metode-manajemen-konflik/, diakses tanggal 21 Desember 2011)
Teori

Sistem

dan

Analisa

Kasus

Freeport.

2012,

(http://aliridho23.blogspot.com/2012/01/teori-sistem-dan-analisa-kasus-freeport.html, diakses
tanggal 21 Desember 2011)
Freeport Indonesia. 2012, (http://id.wikipedia.org/wiki/Freeport_Indonesia, diakses tanggal
21 Desember 2011)
Permasalahan

PT

Freeport

Indonesia.

2008,

http://daditzberpikir.blogspot.com/2008/10/permasalahan-pt-freeport-indonesia.html, diakses
tanggal 21 Desember 2011)
Konflik

Masyarakat

dengan

PT

Freeport,

2010,

(http://anthie-

beauty.blogspot.com/2010/12/konflik-masyarakat-dengan-ptfreeport.html, diakses tanggal 21


Desember 2011)
Mencari Keadilan di Bumi Emas Freeport, (http://diposcience.com/artikel/read/mencarikeadilan-di-bumi-emas-freeport/, diakses tanggal 21 Desember 2011)

13