Anda di halaman 1dari 23

BAB I INFUS

A. DEFINISI
Teknik yang penusukan vena melalui transkut dengan stilet yang kaku, seperti
angiokateler atau dengan jarum yang di sambungkan.
B. CARA PEMASANGAN INFUS
a. peralatan yan digunakan :
1. Larutan IV yang tepat.
2. Jarum untuk fungsi vena yang sesuai.
3. Untuk infus cairan IV :
Perangkat pemberian ( pilihan tergantung pada tipe larutan dan kecepatan pemberian :bayi dan
anak kecil memerlukan selang mikrodrip,yang memberikan 60 tts / ml.
Filter 0,22 mm (bila di perlukan oleh kebijakan institusi atau bila bahan berpatikel / akan di
berikan ).
Tambahan selang digunakan bila jalur IV lebih panjang ).
4. Untuk heparin lock :
Look IV / selang pendek
Normal salin heparisinasi 1-3 ml (10 sampai 100 / ml )
Steker IV
5. Torniket.
6. Sarung tangan sekali pakai.
7. Papan tangan.
8. Kassa 22 cm dan salep poviden yodin untuk balutan transparan.
9. Plaster yang telah di potong dan siap di gunakan .
10. Handuk untuk diletakkan di bawah tangan klien bila perlu.
11. Tiang intravena .
12. Pakaian khusus dengan kanang di lapisi bahu / membuat pelepasan selang IV bila mudah,
bila tersedia.

b. Prosedur Kerja :
1. Cuci tangan.
2. Atur peralatan disamping yang bebas dari kusut atau diatas meja.
3. Buka kemasan steril dengan menggunakan teknik aseptic mencegah kontaminasi pada obyek
steril.
4. Untuk memberikan cairan IV :
Periksa larutan dengan menggunakan five right pemberian obat pastikan aditif yang
diresepkan seperti kalium dan vitamin, telah ditambahkan periksa larutan terhadap warna,
kejernihan dan tanggal kadaluarsa larutan IV adalah obat dan harus diperiksa dengan hati-hati
untuk mengurangi resiko kesalahan kandungan partikel atau yang telah kadaluarsa untuk tidak
digunakan.
Bila menggunakan larutan IV dalam botol, lepaskan penutup logam dan lempeng karet dan
logam dibawah penutup untuk kantung larutan IV plastic lepaskan lapisan plastic diatas port
selang IV.
Buka set infus, mempertahankan sterilitas pada kedua ujung mencegah bakteri masuk
keperalatan infus dan aliran darah.
Pasang klem rol sekitar 2-4 cm (1-2 inci) dibawah bilik drip dan pindahkan klem rol pada
posisi off.
Tusukkan set infus ke dalam kantung/botol cairan.
Lepaskan penutup pelindung kantung IV tanpa menyentuh lubangnya.
Lepaskan penutup pelindung dari paku penusuk selang jangan menyentuh paku penusuk dan
tusukan paku kedalam lubang kantung IV atau tusukkan penusuk penyumbat karet hitam dari
botol, bersihkan karet dengan antiseptik sebelum menusukan paku penusuk.
Isi selang infus
Tekan bilik drip dan lepaskan biarkan terisi 1/3 penuh menciptakan efek penghisap cairan
masuk keruang drip untuk mencegah udara masuk
Lepaskan pelindung jarum dan klem rol untuk memungkinkan cairan memenuhi bilik drip roll
selang ke adapter jarum kembalikan jarum ke posisi off.
Pastikan selang bersih dari udara dan gelembung udara gelembung udara yang besar dapat
bertindak sebagai umboli. Buang udara dengan membiarkan cairan mengalir melalui selang
sampai selang bebas udara.
2

Lepaskan pelindung jarum.


5. Untuk heparin lock
6. Pilih jarum IV yang tepat otot over the needle catheres (ONC)
7. Pilih tempat distal vena yang digunakan
8. bila terdapat banyak rambut pada tempat penusukan, guntinglah (mengurangi resiko
kontaminasi).
9. Bila mungkin letaknya ektremitas pada posisi dependen.
10. Letakkan torniket 10-12 cm (5-6 inci) diatas tempat penusukan.
11. Kenakan sarung tangan sekali pakai.
12. Letakkan ujung adaptor jarum perangkat infuse dekat dengan kassa steril/handuk.
13. Pilih vena yang terdilatasi baik :
Menggosok ekstremitas dari distal keluar proksimal di bawah vena yang dimaksud
meningkatkan volume darah dalam vena.
Menggenggam dan melepaskan genggaman
Menepuk perlahan diatas vena
Memasang kompres hangat
14. Bersihkan tempat intersi dengan gerakan sirkoler yang kuat menggunakan larutan pavidon
yodin, hindari menyentuh tempat yang telah dibersihkan, biarkan mongering 30 detik gunakan
alcohol 70% selama 60 detik.
Povidan yodin adalah anti efektif topical yang mengurangi bakteri permukaan kulit sentuhan
akan mengakibatkan perpindahan bakteri dari tangan perawat ke tempat fungsi. Povidon yodin
harus kering untuk hasil yang efektif.
15. Lakukan fungsi vena tahan vena dengan menggunakan ibu jari di atas vena dan dengan
meregangkan kulit berlawanan arah dengan penusukan 5-7 cm kearah distal penusukan jarum
kupu-kupu pegang jarum pada sudut 20-30 derajat.
16. Perhatikan keluarnya darah melalui selang jarum kupu-kupu yang menandakan jarum telah
memasuki vena.
17. tahan kateter dengan satu tangan, dengan cepat hubungkan adapter jarum.
18. lepaskan klem foler untuk memulai infus
19. Amankan kateter/jarum IV :
Pasang plester kecil (1,25 cm) dibawah kateter.
3

Bila digunakan balutan kassa oleskan salep povidon yodin.


Letakkan bantalan kassa 22
Letakkan loop selang infus padabalutan menggunakan plaster.
20. Untuk pemberian cairan IV, atas kecepatan aliran sampai tetesan yang tepat permenit.
21. Tuliskan tanggal dan waktu pemasangan.
22. Lepaskan sarung tangan, singkirkan alat-alat cuci tangan.
23. Catat pada catatan perawat.

BAB II INJEKSI
A. DEFINISI
Injeksi adalah sediaan steril berupa larutan, emulsi atau suspensi atau serbuk yang harus
dilarutkan atau disuspensikan terlebih dahulu sebelum digunakan yang disuntikkan dengan cara
merobek jaringan ke dalam kulit atau melalui kulit atau selaput lendir. Dimasukkan ke dalam
tubuh dengan menggunakan alat suntik.
Suatu sediaan parenteral harus steril karena sediaan ini unik yang diinjeksikan atau
disuntikkan melalui kulit atau membran mukosa ke dalam kompartemen tubuh yang paling
dalam. Sediaan parenteral memasuki pertahanan tubuh yang memiliki efesiensi tinggi yaitu kulit
dan membran mukosa sehingga sediaan parenteral harus bebas dari kontaminasi mikroba dan
bahan-bahan beracun dan juga harus memiliki kemurnian yang dapat diterima.

B. TUJUAN

Mempercepat reaksi obat dalam tubuh untuk mempercepat proses penyembuhan.

Melaksanakan uji coba obat

Melaksanakan tindakan diagnostik

Pemberian obat parenteral diberikan kepada :

Pasien yang memerlukan obat dengan reaksi cepat.

Klien yang tidak bisa diberikan obat melalui mulut

Klien dengan penyakit tertentu yang hanya bisa mendapatkan pengobatan secara suntikan
( misalnya insulin)

C. MENGENAL ALAT INJEKSI


Untuk memberikan obat secara parenteral perawat menggunakan vial atau ampul, spuit
dan jarum. Spuit mempunyai 3 bagian yaitu ujung yang berhubungan dengan jarum, bagian luar
atau barrel dimana skala tercetak biasanya dalam mililiter, yang terakhir adalah plunger yang pas
dengan bagian dalam barrel dan digunakan untuk mendorong obat dalam jarum. Ingat spuit
plastik harus dibuang setelah dipakai

Jarum, memiliki tiga bagian juga yaitu ; hub bagian yang dilepaskan dari spuit, batang
tipis yang dipasang pada hub, bevel yaitu bagian landai di ujung. Jarum dengan diameter terbesar
adalah gauge 14 dan yang terkecil adalah gauge 28.

D. MACAM CARA PEMBERIAN OBAT PARENTERAL


Penyuntikan dilakukan dengan cara :

Intra cutan

Subcutan

Intra muscular

Intravena

Perbolus ( prinsip sama dengan intravena )

E.

CARA PEMBERIAN INJEKSI


Injeksi merupakan kegiatan rutin yang dilakukan oleh hampir setiap perawat juga harus

dapat melakukannya. Namun pemberian obat ini juga harus mengetahui dimana tempat yang
seharusnya dilakukan. Berikut adalah cara pemberian injeksi sesuai SOP.

1. Injeksi Intracutan
Adalah pemberian obat atau cairan dengan cara dimasukan langsung ke kulit.
Tujuan :
Melaksanakan uji coba obat tertentu ( skin test )
Membantu menentukan diagnosa terhadap penyakit tertentu misalnya pada tuberculin test.

a. Peralatan :
Sarung tangan 1 pasang

Perlak dan pengalas

Spuit sesuai ukuran

Nampan

Jarum steril

Obat sesuai program

Kapas alkohol

Bengkok dan bolpoin

b. Prosedur Pelaksanaan
1) Tahap Pra Interaksi
6

Melakukan verifikasi data sebelumnya

Mencuci tangan

Menyiapkan obat sesuai prinsip ( mengambil 0,1 cc dan encerkan lagi dengan aquades
hingga menjadi 1cc. 0,1 cc sebelumnya diambil dari 5 cc obat yang sudah diencerkan).

2) Tahap Orientasi

Memberikan salam.

Menjelaskan tujuan dan prosedur tindakan.

Menanyakan kesiapan klien.

3) Tahap kerja

Mengatur posisi klien sesuai kebutuhan.

Memasang perlak dan alasnya.

Membebaskan daerah yang akan di injeksi.

Memakai handscoon.

Bersihkan kulit yang akan disuntik menggunakan kapas alkohol

Gunakan ibu jari dan telunjuk untuk meregangkan kulit

Tusukan spuit dengan kemiringan 15 20 , jarum masuk kurang lebih 0,5 cm

Masukan obat secara perlahan, pastikan ada benjolan kira kira satu biji kacang lalu Cabut
jarum dari tempat penusukan

Beri tanda lingkaran pada benjolan tadi.

Buang spuit kedalam bengkok.

c. Tahap Terminasi

Merapikan pasien.

Membaca tahmid, berpamitan dengan klien dan keluarganya.

Bereskan alat alat.

Cuci tangan.

Dokumentasi.

2. Injeksi Sub Cutan.


Pengertian :
Injeksi subcutan adalah memasukan obat ke dalam jaringan lemak tepat dibawah kulit.
Lokasi :
Area vaskular disekitar bagian lengan luar atas, abdomen dari batas bawah costa sampai
iliaca dan bagian anterior paha.
a. Peralatan :

Bak injeksi yang berisi spuit dan jarum no.26

Jarum steril

Kapas alkohol

Perlak

Obat sesuai program terapi

Bengkok

b. Prosedur Injeksi :
1). Tahap Pra Interaksi

Lakukan verifikasi data.

Mencuci tangan.

Menyiapkan obat sesuai aturan.

Membawa alat ke dekat klien.

2). Tahap Orientasi :

Memberikan salam.

Menjelaskan tujuan dan prosedur tindakan.

Menanyakan kesiapan klien.

3). Tahap Kerja :

Atur posisi klien sesuai kebutuhan.

Pasang perlak dan pengalas.

Bebaskan daerah yang akan di injeksi.

Pakailah handscoon.

Bersihkan kulit menggunakan kapas alkohol dari dalam ke luar.

Masukan jarum dengan sudut 45 90 derajat.

Lakukan aspirasi, pastikan tidak ada darah masuk ke spuit.

Masukan obat secara perlahan.

Cabut jarum.

Mendesinfeksi kalau perlu dilakukan massase.

Buang spuit dalam bengkok.

Melepas sarung tangan.

4). Tahap terminasi :

Rapikan klien

Lakukan evaluasi.

Berpamitan,

Bereskan alat.

Cuci tangan.

Dokumentasi.

3. Injeksi Intra Muscular


Definisi :
Adalah pemberian obat atau cairan dengan cara dimasukan langsung kedalam otot.
Lokasi :

Otot vastus lateralis

Otot ventrogluteal

Otot deltoid

Dorsa gluteus

Sepertiga sias atas

Kecepatan Obat :

Rute IM memungkinkan absorbsi obat yang lebih cepat daripada SC karena pembuluh darah
lebih banyakdi otot. Berlangsung sekitar antara 10 30 menit.

a. Peralatan :

Bak injeksi

Sarung tangan

Spuit dengan ukuran 3cc/5cc.

Jarum steril no.23

Kapas alkohol

Perlak dan pengalas

Obat sesuai program terapi

Bengkok

b. Prosedur Injeksi :
1). Tahap Pra Interaksi

Lakukan verifikasi data

Mencuci tangan

Menyiapkan obat sesuai aturan

2). Tahap Orientasi :

Memberikan salam

Menjelaskan tujuan dan prosedur tindakan

Menanyakan kesiapan klien

3). Tahap Kerja :

Atur posisi klien

Pasanglah perlak

Bebaskan daerah yang akan di injeksi

Pakailah handscoon
10

Tentukan tempat penyuntikan

Bersihkan kulit dengan kapas alkohol

Regangkan kulik, masukan spuit dengan sudut 90 derajat, dengan kedalaman 2/3 jarum

Lakukan aspirasi, pastikan tidak ada darah masuk ke spuit

Masukan obat secara perlahan

Cabut jarum, tekan daerah tusukan menggunakan kapas alkohol.

Kemudian tempat penyuntikan di masase

Buang spuit dalam bengkok

4). Tahap terminasi :

Rapikan klien,

Lakukan evaluasi.

Berpamitan.

Bereskan alat.

Cuci tangan lalu dokumentasi.

4. Injeksi Intra Vena


Definisi :
Adalah pemberian obat dengan cara dimasukan langsung kedalam pembuluh darah vena.

Lokasi :
Pada vena yang nampak jelas, lurus, jauh dari tulang
Kecepatan Obat :
Menghasilkan efek tercepat sekitar 18 detik

a. Peralatan :

Sarung tangan.

Spuit.

Jarum steril no.26

Torniquet

11

Kapas alkohol

Perlak dan pengalas

Obat sesuai program terapi

Bengkok

Band aid/plaster,gunting.

b. Prosedur injeksi :
1). Tahap Pra Interaksi

Lakukan verifikasi data

Mencuci tangan

Menyiapkan obat sesuai aturan

Membawa alat ke dekat klien

2). Tahap Orientasi :

Memberikan salam

Menjelaskan tujuan dan prosedur tindakan

Menanyakan kesiapan klien

3). Tahap Kerja :

Mengatur posisi klien dan pilih vena dari arah distal

Memasang perlak dan alasnya

Bebaskan daerah yang akan di injeksi

Ikat dengan torniquet 5 cm proksimal yang akan di tusuk

Pakailah handscoon

Bersihkan kulit dengan kapas alkohol dari dalam ke luar

Pegang spuit dengan sudut 30 derajat.

Tusukan dengan kemiringan 30 derajat.

Lakukan aspirasi dan pastikan darah masuk ke spuit

Buka torniquet

Masukan obat secara perlahan

Cabut spuit dan tekan daerah tusukan dengan kapas alkohol


12

Buang spuit dalam bengkok.

4). Tahap terminasi :

Rapikan klien.

Lakukan evaluasi.

Berpamitan,

Bereskan alat,

Cuci tangan

Dokumentasi.

5. Injeksi Bolus Intra Vena


Adalah pemberian obat dengan cara dimasukan langsung kedalam pembuluh darah vena
yaitu melalui bolus. Prinsipnya sama dengan intra vena yaitu obat dimasukan ke dalam
pembuluh vena.
Untuk peralatan :
a. Peralatan :

Sarung tangan 1 pasang

Spuit dengan ukuran sesuai kebutuhan

Jarum steril no.26

Kapas alkohol

Perlak dan pengalas

Obat sesuai program terapi

Bengkok

b. Prosedur injeksi

1). Tahap Orientasi

Memberikan salam

Menjelaskan tujuan dan prosedur tindakan

Menanyakan kesiapan klien..

13

2). Tahap Kerjanya :

Bolus di desinfektan menggunakan kapas alkohol

Klem selang infus atau guyur disesuaikan kondisi

Masukan jarum dalam bolus, tarik plunger untuk aspirasi

Masukan obat secara perlahan

Atur kembali klien

Melepas sarung tangan.

6. Kesimpulan
Memasukan obat tertentu ke dalam jaringan tubuh dengan cara merobek jaringan ke
dalam kulit atau melalui kulit atau selaput lendir atau menembus suatu atau lebih lapisan kulit
atau membran mukosa menggunakan alat suntik.
Obat dimasukan ke dalam kulit, dibawah kulit, kedalam otot dan ke dalam vena dan
pemberian ini lebih cepat diserap daripada melalui oral. Jadi pemberian obat perenteral adalah
pemberian obat atau cairan dengan cara dimasukan langsung kedalam kulit, dibawah kulit,
kedalam otot ataupun ke dalam vena.

14

BAB III

RESUSITASI

A. DEFINISI
Resusitasi merupakan sebuah upaya menyediakan oksigen ke otak, jantung dan organorgan vital lainnya melalui sebuah tindakan yang meliputi pemijatan jantung dan menjamin
ventilasi yang adekwat. Tindakan ini merupakan tindakan kritis yang dilakukan pada saat terjadi
kegawatdaruratan terutama pada sistem pernafasan dan sistem kardiovaskuler. kegawatdaruratan
pada kedua sistem tubuh ini dapat menimbulkan kematian dalam waktu yang singkat (sekitar 4
6 menit).
Tindakan resusitasi merupakan tindakan yang harus dilakukan dengan segera sebagai
upaya untuk menyelamatkan hidup (Hudak dan Gallo, 1997). Resusitasi pada anak yang
mengalami gawat nafas merupakan tindakan kritis yang harus dilakukan oleh perawat yang
kompeten. Perawat harus dapat membuat keputusan yang tepat pada saat kritis. Kemampuan ini
memerlukan penguasaan pengetahuan dan keterampilan keperawatan yang unik pada situasi
kritis dan mampu menerapkannya untuk memenuhi kebutuhan pasien kritis.
B. ETIOLOGI/PENYEBAB
Penyebabnya karena terjadinya oksigenasi yang tidak efektif dan perfusi yang tidak
adekuat pada neonatus dapat berlangsung sejak saat sebelum persalinan hingga masa persalinan.
C. FISIOLOGI
Waktu

bayi

lahir

,napas

pertama

terjadi

karena

rangsangan

udara

dingin,

cahaya,perubahan biokomia darah dsb. Cairan yang ada pada paru-paru sebagian besar akan
dikeluarkan pada saat bayi dilahirkan karena tekanan jalan lahir pada dinding thorak ( squeeze)
dan sebagian kecil diserap oleh pembuluh darah kecil. Sirkulasi darah berubah dari sirkulasi
janin ke sirkulasi dewasa. Pada saat bayi dilahirkan dan terjadi pernapasan alveoli yang padea
saat belum lahir berisi air,akan berkembang dengan berisi udara. Aliran darah ke paru akan
bertambah karena oksigen yang didapat bayi akan menyebabkan dilatasi pembuluh darah paru
.aliran darah balik paru ( venous return ) akan meningkat. Sehingga akibatnya akan terjadi aliran
15

darah keluyar dari ventrikel kiri. Pada bayi baru lahir yang normal penutupan duktus arteriosus
dan penurunan tahanan pembuluh darah paru akan berakibat penurunan tekanan arteri
pulmonalis dan ventrikel kanan. Penurunan terendah terjadi 2 atau 3 hari post natal Kadangkadang sampai lebih dari 7 hari post natal.
D. PATOFISIOLOGI
a.

Masalah Pelayanan Perinatal


Sebagian besar kehamilan (65%) tidak mendapat pemeriksaan antenatal sedangkan

persalinan umumnya (90%) masih ditolong oleh dukun. Kualitas pelayanan antenatal sesuai
tingkat pelayanan masih belum memadai sehingga kehamilan risiko tinggi mungkin tidak
mendapat pelayanan yang tepat.
b. Pelayanan Intranatal
Kematian terbesar terjadi pada saat intranatal, dan saat ini memang sangat kritis
mengingat faktor yang berkaitan, yaitu penyakit ibu, plasenta dan janin. Penyakit ibu dapat lebih
mudah diketahui, tetapi keadaan dan fungsi plasenta serta keadaan janin sulit diketahui. Gerakan
janin mungkin dapat dipakai sebagai patokan kesejahteraan janin, walaupun mungkin sangat
kasar. Besar janin dapat disebagai pertanda nutrisi janin masih adekuat tetapi suplai oksigen
mungkin amat sukar untuk diketahui. Untuk itu maka pada pusat rujukan diperlukan alat bantu
pemantau elektronik. Pengenalan dan kesadaran akan adanya faktor risiko merupakan awal dari
proses rujukan. Rujukan yang tepat akan dapat mengurangi kematian perinatal.
c. Pelayanan Postnatal
Kehidupan dan kualitas bayi baru lahir amat ditentukan oleh pelayanan kebidanan. Sejak
saat lahir bayi dapat mengalami cedera seperti trauma lahir, trauma dingin, renjatan, resusitasi
yang tidak adekuat atau infeksi. Bayi dapat menderita renjatan, bradikardia yang tidak segera
diatasi dan baru disadari bahwa bayi tersebut sakit dan timbul gangguan pernafasan. Bayi
risiko tinggi memerlukan perawatan intensif, untuk itu pengenalan faktor risiko dan proses
rujukan merupakan kunci keberhasilan usaha menurunkan kematian perinatal. Pemberian ASI
telah terbukti dapat mengurangi angka kesakitan akibat infeksi.

16

E. MANIFESTASI KLINIK/TANDA DAN GEJALA


Gejala umum yang terjadi pada bayi baru lahir yang memerlukan tindakan resusitasi
adalah bayi yang baru lahir namun tidak mampu untuk menghirup oksigen dengan adekuat
dengan tanda dan gejala : Bayi tidak bernapas atau napas megap-megap, denyut jantung kurang
dari 100 x/menit, kulit sianosis, pucat, tonus otot menurun, tidak ada respon terhadap refleks
rangsangan.
F. PENATALAKSANAAN MEDIS
a. Kondisi yang memerlukan resusitasi neonatus misalnya :

sumbatan jalan napas : akibat lendir / darah / mekonium, atau akibat lidah yang jatuh ke
posterior.

kondisi depresi pernapasan akibat obat-obatan yang diberikan kepada ibu misalnya obat
anestetik, analgetik lokal, narkotik, diazepam, magnesium sulfat, dan sebagainya

3.kerusakan neurologis.

kelainan / kerusakan saluran napas atau kardiovaskular atau susunan saraf pusat, dan /
atau kelainan-kelainan kongenital yang dapat menyebabkan gangguan pernapasan /
sirkulasi.

syok hipovolemik misalnya akibat kompresi tali pusat atau perdarahan.

b. Penting untuk resusitasi yang efektif :

Tenaga yang terampil, tim kerja yang baik

Pemahaman tentang fisiologi dasar pernapasan, kardiovaskular, serta proses asfiksia yang
progresif

Kemampuan / alat pengaturan suhu, ventilasi, monitoring.

c. Pembatasan dalam penilaian Apgar ini, yaitu :

Resusitasi segera dimulai bila diperlukan, dan tidak menunggu sampai ada penilaian pada
menit pertama.

17

Keputusan perlu tidaknya resusitasi maupun penilaian respons resusitasi dapat cukup
dengan menggunakan evaluasi frekuensi jantung, aktifitas respirasi dan tonus
neuromuskular, daripada dengan nilai Apgar total. Hal ini untuk menghemat waktu.

d. Perencanaan berdasarkan perhitungan nilai Apgar:


1. Nilai Apgar menit pertama 7 10 :
Biasanya bayi hanya memerlukan tindakan pertolongan berupa penghisapan lendir /
cairan dari orofaring dengan menggunakan bulb syringe atau suction unit tekanan rendah. Hatihati, pengisapan yang terlalu kuat / traumatik dapat menyebabkan stimulasi vagal dan
bradikardia sampai henti jantung.
2. Nilai Apgar menit pertama 4 6 :
Hendaknya orofaring cepat diisap dan diberikan O2 100%. Dilakukan stimulasi sensorik
dengan tepokan atau sentilan pada telapak kaki dan gosokan selimut kering pada punggung.
Frekuensi jantung dan respirasi terus dipantau ketat. Bila frekuensi jantung menurun atau
ventilasi tidak adekuat, harus diberikan ventilasi tekanan positif dengan kantong resusitasi dan
sungkup muka. Jika tidak ada alat bantu ventilasi, gunakan teknik pernapasan buatan dari mulut
ke hidung-mulut.
3. Nilai Apgar menit pertama 3 atau kurang :
Bayi mengalami depresi pernapasan yang berat dan orofaring harus cepat diisap.
Ventilasi dengan tekanan positif dengan O2 100% sebanyak 40-50 kali per menit harus segera
dilakukan. Kecukupan ventilasi dinilai dengan memperhatikan gerakan dinding dada dan
auskultasi bunyi napas. Jika frekuensi jantung tidak meningkat sesudah 5-10 kali napas,
kompresi jantung harus dimulai. Frekuensi : 100 sampai 120 kali per menit, dengan 1 kali
ventilasi setiap 5 kali kompresi (5:1).
Jika frekuensi jantung tetap di bawah 100 kali per menit setelah 2-3 menit, usahakan
melakukan intubasi endotrakea. Gunakan laringoskop dengan daun lurus (Magill). Gunakan stilet
untuk menuntun jalan pipa. Stilet jangan sampai keluar dari ujung pipa. Posisi pipa diperiksa
18

dengan auskultasi. Gunakan laringoskop dengan daun lurus (Magill). Gunakan stilet untuk
menuntun jalan pipa. Stilet jangan sampai keluar dari ujung pipa. Posisi pipa diperiksa dengan
auskultasi.
Kalau frekuensi jantung tetap kurang dari 100 setelah intubasi, berikan 0.5 1 ml
adrenalin (1:10.000). Dapat juga secara intrakardial atau intratrakeal, tapi lebih dianjurkan secara
intravena. Jika tidak ada ahli yang berpengalaman untuk memasang infus pada vena perifer bayi,
lakukan kateterisasi vena atau arteri umbilikalis pada tali pusat, dengan kateter umbilikalis.
Sebelum penyuntikan obat, harus dipastikan ada aliran darah yang bebas hambatan. Dengan
demikian pembuluh tali pusat dibuat menjadi drug/fluid transport line. Jangan memasukkan
larutan hipertonik seperti glukosa 50% atau natrium bikarbonat yang tidak diencerkan melalui
vena umbilikalis, karena dapat merusak parenkim hati.
G. PENYULIT YANG MUNGKIN TERJADI SELAMA RESUSITASI
a. Hipotermia
Dapat memperberat keadaan asidosis metabolik, sianosis, gawat napas, depresi susunan
saraf pusat, hipoglikemia.
b. Pneumotoraks
Ventilasi tekanan positif dengan inflasi yang terlalu cepat dan tekanan yang terlalu besar
dapat menyebabkan komplikasi ini.
Jika bayi mengalami kelainan membran hialin atau aspirasi mekonium, risiko
pneumotoraks lebih besar karena komplians jaringan paru lebih lemah.
c. Trombosis vena
Pemasangan infus / kateter intravena dapat menimbulkan lesi trauma pada dinding
pembuluh darah, potensial membentuk trombus. Selain itu, infus larutan hipertonik melalui
pembuluh darah tali pusat juga dapat mengakibatkan nekrosis hati dan trombosis vena.

19

BAB IV AMBULANSI

A. DEFINISI
Ambulansi dini adalah suatu pergerakan dan posisi untuk melakukan suatu aktivitas atau
kegiatan ketahap mobilisasi sebelumnya untuk mencegah komplikasi pasca bedah. Ambulasi dini
yang merupakan pengembalian secara berangsur angsur ke tahap mobilisasi sebelumnya untuk
mencegah komplikasi.
Ambulansi juga di artikan sebagai Peningkatan dari pemberian bantuan dengan cara berjalan
untuk mempertahankan fungsi tubuh selama pasien dirawat dan selama fase penyembuhan.

B. TUJUAN AMBULANSI
1. Memenuhi kebutuhan dasar manusia
2. Mencegah terjadinya trauma
3. Mempertahankan tingkat kesehatan
4. Mempertahankan interaksi sosial dan peran sehari hari
5. Mencgah hilangnya kemampuan fungsi tubuh..

C. PRINSIP AMBULANSI
Prinsip-Prinsip yang Harus diperhatikan oleh Perawat dalam Membantu Pasien
Ambulasi adalah Sebagai berikut:
1. Ketika merencanakan untuk memindahkan pasien, atur untuk bantuan yang adekuat.
Gunakan alat bantu mekanik jika bantuan tidak mencukupi
2. Dorong klien untuk membantu sebanyak mungkin sesuai kemampuan
3. Jaga punggung, leher, pelvis, dan kaki lurus. Cegah terpelintir
4. Fleksikan lutut, buat kakai tetap lebar
5. Dekatkan tubuh perawat dengan klien (objek yang diangkat)
6. Gunakan lengan atau tungkai (bukan punggung)
7. Tarik klien kearah penariknya menggunakan sprei.
8. Rapatkan otot abdomen dan gluteal untuk persiapan bergerak.

20

BAB V VITAL SIGN (TENSI)

A. DEFINISI
Pemeriksaan tanda vital (Vital Sign) merupakan suatu cara untuk mendeteksi adanya
perubahan sitem tubuh. Tanda vital meliputi suhu tubuh, denyut nadi, frekuensi pernafasan dan
tekanan darah. Tanda vital mempunyai nilai sangat penting pada fungsi tubuh. Adanya
perubahan tanda vital, misalnya suhu tubuh dapat menunjukkan keadaan metabolisme dalam
tubuh; Denyut nadi dapat menunjukkan perubahan pada sistem kardiovaskuler; Frekuensi
pernafasan dapat menunjukkan fungsi pernafasan; dan Tekanan darah dapat menilai kemampuan
sistem kardiovaskuler yang dapat dikaitkan dengan denyut nadi.

B. TUJUAN

Untuk mengetahui adanya kelainan pada pasien

Mengetahui kondisi dan perkembangan vital sign pasien

Mengetahui frekuensi, irama pernafasan, frekuensi nadi, tekanan darah dan suhu tubuh
pasien

C. PELAKSANAAN

Handscoon

Thermometer air raksa

3 botol masing-masing berisi: Cairan sabun, cairan desinfektan, air bersih.

Tissue

Tensimeter : Spingomanometer/tensi air raksa

Stetoskop

Jam tangan/stopwatch

Baki beserta alasnya

Bengkok

Grafik perkembangan vital sign

Alat lulis

21

D. PROSEDUR KERJA

1. Tahap PraInteraksi

Menyiapkan alat dan pasien dengan benar

Melakukan verifikasi data sebelumnya bila ada

Menempatkan alat di dekat pasien dengan benar dan posisi pemeriksa dengan benar

2. Tahap Orientasi

Memberikan salam sebagai pendekatan terapeutik

Menjelaskan tujuan dan prosedur tindakan pada keluarga/pasien

Memberikan kesempatan pasien bertanya

Menanyakan kesiapan klien sebelum kegiatan dilakukan

3. Tahap Kerja

Mencuci tangan

Menjaga privasi pasien

Atur posisi yang nyaman : duduk atau berbaring dengan posisi tangan rileks

Memakai sarung tangan

Memposisikan perawat di sisi sebelah kanan pasien

Keringkan ujung thermometer. Kemudian turunkan air raksa sampai skala nol. Sebelum
meletakkan di aksila, bersihkan/keringkan aksila sebelah kiri pasien terlebih dahulu dengan
menggunakan tissue.

Letakkan thermometer diaksila sebelah kiri. Selanjutnya sambil menunggu naiknya air raksa
pada thermometer lakukan pemeriksaan nadi, pernafasan dan tekanan darah dengan cara:

Letakkan ujung tiga jari-jari tangan kecuali ibu jari pada arteri/nadi yang akan diukur, (mulai
dari radiialis, brakhialis, carotis, dan temporalis) tekan dengan lembut

Hitung frekuensi nadi mulai hitungan nol (0) selama 30 detik (kalikan 2x untuk memperoleh
frekuensi dalam satu menit). Jika ritme nadi tidak teratur, hitung selama satu menit.
Lanjutkan perhitungan pernafasan

22

Lalu sembari memegang arteri radialis (seolah-olah masih menghitung denyut nadi), hitung
jumlah pernafasan klien selama 1 menit (naik turunnya dada klien)

Selanjutnya siapkan pasien untuk pemeriksaan tekanan darah (persiapan tensi meter).

bebaskan area brakhialis dengan cara gulung lengan baju klien.

Palpasi arteri brakhialis. Letakkan manset 2,5 cm diatas nadi brakhialis (ruang antekubital).

Naikkan tekanan dalam manset sambil meraba arteri radialis sampai denyutnya hilang
kemudian tekanan dinaikkan lagi kurang lebih 30 mmhg.

Letakkan stetoskop pada arteri brakhialis pada fossa cubitti dengan cermat dan tentukan
tekanan sistolik

Mencatat bunyi korotkoff I dan V atau bunyi detak pertama (systole) dan terakhir (diastole)
pada manometer sebagai mana penurunan tekanan

Turunkan tekanan manset dengan kecepatan 4 mmhg/detik sambil mendengar hilangnya


pembuluh yang mengikuti 5 fase korotkof

Ulang pengukuran 1 kali lagi dengan air raksa dalam spignomanometer dikembalikan pada
angka 0. Lakukan tindakan seperti diatas.

Kemudian membuka manset, melepaskan manset dan merapikan kembali.

Melepaskan thermometer dari aksila membaca kenaikan suhu, kemudian mencuci


thermometer ke dalam air sabun kemudian air desinfektan terakhir ke air bersih

Keringkan thermometer dan turunkan kembali air raksanya

Merapikan kembali pasien dan alat-alat.

Melepaskan handscoon

Mencuci tangan

4. Tahap Terminasi

Melakukan evaluasi tindakan

Melakukan kontrak untuk kegiatan selanjutnya

Berpamitan dengan klien

Membereskan alat-alat

Mencatat kegiatan dalam lembar catatan keperawatan

23