Anda di halaman 1dari 15

LABORATORIUM KOROSI

SEMESTER GANJIL TAHUN AJARAN 2013/2014


MODUL

= Penentuan Energi Aktivasi

PEMBIMBING = Ir. In Jumanda K, MT

Praktikum

= 17 Desember 2013

Penyerahan

= 7 Januari 2014

(Laporan)
Oleh

Kelompok

:4

Nama Anggota

1. Habibah Akmal
2. Ken Putri Kinanti K
3. Luthfiyah Sinatrya
Kelas

NIM 131424011
NIM 131424013
NIM 131424014

: 1A - TKPB

PROGRAM STUDI DIPLOMA IV TEKNIK KIMIA


JURUSAN TEKNIK KIMIA
POLITEKNIK NEGERI BANDUNG
2013

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA FISIK


Modul Praktikum

: Penentuan Energi Aktivasi

Nama Pembimbing

: In Jumanda K

Nama Mahasiswa

: Habibah Akmal
Ken Putri Kinanti
Luthfiyah Sinatrya

Tanggal Praktek

: 17 Desember 2013

Tanggal Penyerahan

: 7 Januari 2014

1. Tujuan Percobaan

Mengamati pengaruh suhu terhadap laju reaksi


Menentukan besarnya energi aktivasi berdasarkan persamaan Archenius

2. Landasan Teori
Suhu mempengaruhi laju reaksi, umumnya, semakin tinggi suhu maka energi kinetik
molekul meningkat sehingga frekuensi tumbukan semakin tinggi sehingga laju reaksi
meningkat. Suhu akan mempengaruhi pusat-pusat aktif sehingga suhu berbeda maka
energi aktivasinya pun berbeda seperti pada gambar berikut.
Pada suhu semakin meningkat, maka fraksi tumbukan antar molekul semakin efektif
untuk menghasilkan reaksi.
Energi aktivasi adalah ambang batas energy yang harus dicapai agar suatu reaksi
dapat terjadi. Penentuan energi aktivasi dapat dilakukan dengan menggunakan persamaan
arhenius.

k = A e-Ea/RT
k = konstanta laju reaksi
A = faktor pra eksponensial
Ea = energi aktivasi (kJ/mol)
R = tetapan gas ideal = 8,314 kJ/mol = 1,987 kal/mol.K
T = suhu mutlak (K)
Jika persamaan di atas, ditulis dalam bentuk logaritma, maka akan didapat

ln k =
Dengan membuat kurva ln k terhadap 1/T, maka nilai Ea/R akan didapat sebagai
gradient dari kurva tersebut. Karena nilai R diketahui, maka nilai energi aktivasi dapat
ditentukan.
ln A

ln k

slope = -Ea/R
..
1/T (K-1)
Grafik ln k terhadap 1/T

Besarnya energI aktivasi juga dapat ditentukan dengan menggunakan nilai-nilai k


pada suhu yang berbeda. Persamaan yang digunakan adalah :

atau
Untuk reaksi ion Iod dengan persulfat akan menghasilkan ion sulfat dan iod yang dengan
kanji atau amilum menjadi berwarna biru atau cokelat. Reaksinya :
2I- + S2O82I2 + amilum

2SO42- + I2
Biru atau cokelat

Atau reaksi natriumtiosulfat dengan larutan asam klorida akan menghasilkan belerang
S2O32- + 2HCl

H2O + 2Cl- + SO2 + S

Beberapa faktor yang mempengaruhi energi aktivasi adalah sebagai berikut :


1. Suhu
Fraksi molekul-molekul mampu untuk bereaksi dua kali lipat dengan peningkatan
suhu sebesar 10C. Hal ini menyebabkan laju reaksi berlipat ganda.
2. Faktor frekuensi
Dalam persamaan ini kurang lebih konstan untuk perubahan suhu yang kecil. Perlu
dilihat bagaimana perubahan energi dari fraksi moleku sama atau lebih dari energi
aktivasi

3. Katalis
Katalis akan menyediakan rute agar reaksi berlangsung dengan energi aktivasi yang
lebih rendah (Castellan, 1982).

3. Alat dan Bahan


No
1
2
3
4
5
6
7
8

Alat
Bahan
Reaksi ion Iod dengan persulfat
Gelas kimia 250 ml
Larutan persulfat 0,04 M
Gelas kimia 600 ml
Larutan KI 0,1 M
Pipet volume 10 ml dan 5 ml
Larutan amilum 1%
Stopwatch
Es batu
Penangas
Larutan tiosulfat 0,001 M
Pengaduk magnet
Termometer
2 tabung reaksi

4. Langkah Kerja
1. Siapkan suatu sistem seperti pada table dengan tabung yang
terpisah

Volume tabung 1 (ml)


S2O82aquades
5
5

Volume tabung 2 (ml)


KI
TioS2O3210
1

Amilum
1

2. Dinginkan tabung 1 dan 2 ke dalam gelas kimia yang berisi


campuran air dan es sampai suhu kedua tabung sama dengan
yang ada dalam thermostat

3. Campurkan kedua isi tabung tersebut ke dalam gelas kimia yang telah
disiapkan di atas magnetic stirrer dan hidupkan stopwatch saat keduanya
dicampurkan

4. Matikan stopwatch dan catat waktunya ketika warna larutan berubah menjadi
biru
5. Ulangi percobaan mulai suhu 10oC sampai 50oC dengan beda suhu 10oC

5. Keselamatan Kerja
Kerjakan dengan hati-hati dan pergunakan alat keselamatan yang ada.
Setelah praktikum bersihkan tempat kerja seperti semula dan buanglah sampah atau
limbah pada tempatnya.
Perhatikan MSDS dari bahan yang akan digunakan.
Material Safety Data Sheet
Na2S2O3MSDS
Komposisi dan informasi pada bahan
Komposisi :
Nama
Na2S2O3

CAS#
7772987

% berat
98.5

Identifikasi Hazard
Mata efek kesehatan potensial: Mungkin menyebabkan mata iritasi.
Kulit: dapat menyebabkan kulit iritasi. mungkin berbahaya jika diserap melalui kulit.
Konsumsi: dapat menimbulkan iritasi pencernaan mungkin berbahaya jika tertelan.
Inhalasi: dapat menyebabkan saluran pernapasan iritasi. mungkin berbahaya jika dihirup.
Kronis: berkepanjangan atau kontak berulang kulit dapat menyebabkan infeksi kulit.
Sifat Fisik dan Kimia
Keadaan fisik : Bubuk kristal
Warna putih
Bau : tidak berbau
pH : 6.0 8.5 (5% aq. sol. 20 C)
Titik didih :100 deg C (212.00 F) pembekuan
Titik leleh : 48 deg C (118.40 F)
Kelarutan dalam air: 500 g/l (20 C)
Berat jenis padatan: 1.660
Rumus molekul: Na2O3S2
Berat molekul: 158.1
Tindakan Pertolongan Pertama
Kontak mata : Memeriksa dan menghapus setiap lensa kontak. Dalam kasus kontak, segera siram mata
dengan banyak air selama minimal 15 menit. Air dingin dapat digunakan. Mendapatkan perhatian medis.
Bersentuhan dengan kulit: Dalam kasus kontak, segera basuh kulit dengan banyak air. Menutup kulit
jengkel dengan yg melunakkan. Lepaskan pakaian yang terkontaminasi dan sepatu. Mencuci pakaian
sebelum digunakan kembali. Bersihkan sepatu sebelum digunakan kembali. Mendapatkan perhatian

medis. Serius bersentuhan dengan kulit: Cuci dengan sabun desinfektan dan menutupi kulit
terkontaminasi dengan krim anti-bakteri. Mencari perhatian medis segera. Inhalasi: Jika dihirup, Hapus
untuk udara segar. Jika tidak bernapas, memberikan pernafasan buatan. Jika sulit bernapas, memberikan
oksigen. Mendapatkan perhatian medis. Serius inhalasi: Mengevakuasi korban untuk daerah yang aman
sesegera mungkin. Melonggarkan pakaian ketat seperti kerah, dasi, sabuk atau pinggang. Jika sulit
bernapas, mengelola oksigen. Jika korban tidak bernapas, melakukan dinaikan. PERINGATAN: Ini
mungkin berbahaya untuk orang yang memberikan bantuan untuk memberikan dinaikan ketika dihirup
bahan beracun, infeksi atau korosif. Mencari perhatian medis.
Konsumsi: Tidak menginduksi muntah kecuali diarahkan untuk melakukannya oleh tenaga medis. Jangan
pernah memberikan apa-apa oleh mulut orang tidak sadar. Jika jumlah besar bahan ini ditelan, hubungi
dokter segera. Melonggarkan pakaian ketat seperti kerah, dasi, sabuk atau pinggang.

Material Safety Data Sheet


KI MSDS
Komposisi dan informasi pada bahan
Komposisi :
Nama
KI

CAS#
7681-11-0

% berat
100

Toksikologi Data pada bahan: kalium iodida LD50. Terendah diterbitkan dosis mematikan: LDL [Tikus]
Dosis: 1862 mg/kg LDL [kelinci] Dosis: 916 mg/kg
Identifikasi Hazard
Potensi efek kesehatan akut: Sedikit berbahaya dalam kasus kontak kulit (iritasi), dari kontak mata
(iritasi), menelan, inhalasi.
Potensi efek kesehatan kronis: KARSINOGENIK efek: tidak tersedia.
Efek MUTAGENIK: Mutagenik untuk sel-sel somatik mamalia.
PERKEMBANGAN toksisitas: Diklasifikasikan reproduksi sistem/toksin/laki-laki, pengembangan racun
[mungkin]. Substansi mungkin beracun untuk tiroid. Diulang atau paparan substansi dapat menghasilkan
kerusakan organ-organ sasaran.
Tindakan Pertolongan Pertama
Kontak mata : Memeriksa dan menghapus setiap lensa kontak. Dalam kasus kontak, segera siram mata
dengan banyak air selama minimal 15 menit. Air dingin dapat digunakan. Mendapatkan perhatian medis.
Bersentuhan dengan kulit: Dalam kasus kontak, segera basuh kulit dengan banyak air. Menutup kulit
jengkel dengan yg melunakkan. Lepaskan pakaian yang terkontaminasi dan sepatu. Mencuci pakaian
sebelum digunakan kembali. Bersihkan sepatu sebelum digunakan kembali. Mendapatkan perhatian
medis. Serius bersentuhan dengan kulit: Cuci dengan sabun desinfektan dan menutupi kulit
terkontaminasi dengan krim anti-bakteri. Mencari perhatian medis segera. Inhalasi: Jika dihirup, Hapus
untuk udara segar. Jika tidak bernapas, memberikan pernafasan buatan. Jika sulit bernapas, memberikan

oksigen. Mendapatkan perhatian medis. Serius inhalasi: Mengevakuasi korban untuk daerah yang aman
sesegera mungkin. Melonggarkan pakaian ketat seperti kerah, dasi, sabuk atau pinggang. Jika sulit
bernapas, mengelola oksigen. Jika korban tidak bernapas, melakukan dinaikan. PERINGATAN: Ini
mungkin berbahaya untuk orang yang memberikan bantuan untuk memberikan dinaikan ketika dihirup
bahan beracun, infeksi atau korosif. Mencari perhatian medis.
Konsumsi: Tidak menginduksi muntah kecuali diarahkan untuk melakukannya oleh tenaga medis. Jangan
pernah memberikan apa-apa oleh mulut orang tidak sadar. Jika jumlah besar bahan ini ditelan, hubungi
dokter segera. Melonggarkan pakaian ketat seperti kerah, dasi, sabuk atau pinggang.
Sifat Fisik dan Kimia
Mudah terbakar Produk: tidak mudah terbakar.
Produk pembakaran: beberapa produk penguraian berbahaya: oksida kalium, hidrogen iodida, yodium
bahaya kebakaran di kehadiran substansi berbagai: tidak berlaku.
Bahaya ledakan di kehadiran berbagai zat: risiko ledakan produk dalam kehadiran impak mekanik: tidak
tersedia.
Material Safety Data Sheet
K2S2O8 MSDS
Komposisi dan informasi pada bahan
Komposisi :
Nama
K2S2O8

CAS#
7727-21-1
Identifikasi Hazard

% berat
100

Potensi efek kesehatan akut : Sangat berbahaya dalam kasus kontak kulit (iritasi), dari kontak
mata (iritasi), menelan, inhalasi. Sedikit berbahaya dalam kasus kontak kulit (korosif,
permeator). Pemaparan dapat mengakibatkan luka bakar kulit dan ulserasi. Over-eksposur oleh
inhalasi dapat menyebabkan iritasi pernapasan. Peradangan mata ditandai dengan kemerahan,
penyiraman, dan gatal-gatal. Radang kulit ditandai dengan gatal-gatal, scaling, kemerahan, atau,
kadang-kadang, terik. Substansi beracun untuk paru-paru, selaput lendir. Diulang atau paparan
substansi dapat menghasilkan kerusakan organ-organ sasaran.
Tindakan Pertolongan Pertama
Kontak mata : Memeriksa dan menghapus setiap lensa kontak. Dalam kasus kontak, segera siram mata
dengan banyak air selama minimal 15 menit. Air dingin dapat digunakan. Mendapatkan perhatian medis.
Bersentuhan dengan kulit: Dalam kasus kontak, segera basuh kulit dengan banyak air. Menutup kulit
jengkel dengan yg melunakkan. Lepaskan pakaian yang terkontaminasi dan sepatu. Mencuci pakaian
sebelum digunakan kembali. Bersihkan sepatu sebelum digunakan kembali. Mendapatkan perhatian
medis. Serius bersentuhan dengan kulit: Cuci dengan sabun desinfektan dan menutupi kulit
terkontaminasi dengan krim anti-bakteri. Mencari perhatian medis segera. Inhalasi: Jika dihirup, Hapus
untuk udara segar. Jika tidak bernapas, memberikan pernafasan buatan. Jika sulit bernapas, memberikan
oksigen. Mendapatkan perhatian medis. Serius inhalasi: Mengevakuasi korban untuk daerah yang aman

sesegera mungkin. Melonggarkan pakaian ketat seperti kerah, dasi, sabuk atau pinggang. Jika sulit
bernapas, mengelola oksigen. Jika korban tidak bernapas, melakukan dinaikan. PERINGATAN: Ini
mungkin berbahaya untuk orang yang memberikan bantuan untuk memberikan dinaikan ketika dihirup
bahan beracun, infeksi atau korosif. Mencari perhatian medis.
Konsumsi: Tidak menginduksi muntah kecuali diarahkan untuk melakukannya oleh tenaga medis. Jangan
pernah memberikan apa-apa oleh mulut orang tidak sadar. Jika jumlah besar bahan ini ditelan, hubungi
dokter segera. Melonggarkan pakaian ketat seperti kerah, dasi, sabuk atau pinggang.
Sifat Fisik dan Kimia

Keadaan fisik dan penampilan : solid.


Berat molekular : 270.33 g/mol
Titik lebur : terurai (100 C atau 212 F)
Berat jenis: 2.477 (air = 1)
Sifat dispersi : Lihat kelarutan dalam air.
Kelarutan : Sebagian larut dalam air dingin.
6. Data Pengamatan
No
Suhu Rata (T)
1
10oC
2
20oC
3
30oC
4
40oC
5
50oC
7. Analisis Data

Waktu Reaksi (t)


492 s
304 s
234 s
123 s
62 s

a. Kurva ln 1/t terhadap 1/T

T
10 C = 283 K
20oC = 293 K
30oC = 303 K
40oC = 313 K
50oC = 323 K
o

1/T
0,1
0,05
0,03
0,025
0,02

Ln (1/t)
-6,198
-5,717
-5,455
-4,812
-4,127

b. Penentuan energi aktivasi


Persamaan garis :

= mx + c

Ln k =

+ ln A

y = -22,845x 4,1338
slope = m =

-22,845 =

Ea = 189,933 J/mol
Ea= 0,189933 KJ/mol

c. Penentuan faktor frekuensi (A)


intersep = a = ln A = 4,1338
A = 0,016
d. Penentuan konstanta laju reaksi berdasarkan perhitungan harga A
1. T = 283 K
k = A e-Ea/RT
= 0,016. e-22,845/283
= 0,016 . e-0,081
= 0,016 . 0,9222
= 0,0147
2. T = 293 K
k = A e-Ea/RT
= 0,016 . e-22,845/293
= 0,016 . e-0,078
= 0,016 . 0,925
= 0,0148
3. T = 303 K
k = A e-Ea/RT
= 0,016 . e-22,845/303
= 0,016 . e-0,0754
= 0,016 . 0,9274
= 0,0148

4. T = 313 K
k = A e-Ea/RT
= 0,016 . e-22,845/313
= 0.016 . e-0,07299
= 0,016 . 0,9296
= 0,01487
5. T = 323 K
k = A e-Ea/RT
= 0,016 . e-22,845/323
= 0,016 . e-0,07073
= 0,016 . 0,93171
= 0,0149

8. Pembahasan
Percobaan ini mengenai Persamaan Arhenius dan Energi aktivasi, tujuan dari
percobaan ini adalah untuk melihat bagaimana ketergantungan konstanta laju reaksi pada
suhu dan menghitung energy aktivasi dengan menggunakan persamaan Arhenius. Energi
aktivasi merupakan energi minimum yang digunakan untuk bereaksi.
Selain luas permukaan, keberadaan katalis dan tekanan, temperature juga merupakan
salah satu faktor yang mempengaruhi laju suatu reaksi.
Reaksi antara ion persulfat dengan ion iodide dalam penentuan energi aktivasi, yaitu:
S2O82- + 2I- I2 + 2SO42Pada tabung kedua dilakukan pencampuran antara ion persulfat dengan ion tiosianat:
S2O82- + 2S2O32- 2SO42- + S4O62Reaksi antara iodium dengan ion tiosulfat menghasilkan ion tetrationat :
2S2O32- + I2 2I- + S4O62-

Berlangsungnya reaksi dapat diamati dengan perubahan warna biru pada


larutan yang merupakan indikasi adanya senyawa iod dalam larutan . Warna biru terbentuk
akibat adanya adsorpsi iodine pada permukaan amilosa yang berasal dari larutan kanji
sedangkan iodine dihasilkan dari reaksi antara ion Iodida( I- ) dengan ion tiosulfat. Fungsi
kanji disini adalah sebagai larutan indikator yang menunjukkan apakah I 2sudah terbentuk atau
belum.
Dari data hasil percobaan ini menunjukan bahwa semakin tinggi suhu maka semakin
cepat waktu reaksi. Hal ini berkaitan dengan energi kinetik molekul dalam larutan dimana
energi kinetik akan semakin besar jika suhu meningkat sehingga tumbukan antar molekul
akan lebih sering terjadi. Suhu menyebabkan partikel bergerak lebih cepat sehingga
meningkatkan frekuensi tumbukan. Jika partikel-partikel bertumbukan dengan energi yang
lebih rendah dari energi aktivasi, tidak akan terjadi reaksi. Hanya tumbukan yang memiliki
energy sama atau lebih besar dari energi aktivasi yang dapat menghasilkan reaksi.

9. Kesimpulan
Berdasarkan hasil praktikum dapat disimpulkan bahwa :

Temperatur berpengaruh pada laju reaksi, jika suhu semakin tinggi maka laju reaksi
akan semakin cepat. Hal ini dibuktikan dengan dihasilkannya harga k yang lebih besar
pada suhu yang lebih tinggi.

Energi aktivasi dapat ditentukan dari persamaan Arrhenius dengan membuat kurva
hubungan ln 1/t vs 1/T

Reaksi antara ion persulfat dengan ion tiosulfat dalam menghasilkan suatu produk
menghasilkan energi aktivasi (Ea) sebesar 0,189933

KJ/mol, faktor frekuensi

tumbukan (A) yaitu 0,016.


Maka dari data di atas, didapatkan bahwa konstanta pada setiap suhu hampir sama
yaitu sekitar 0,0148.

10. Daftar Pustaka

Bird, Tony. 1993. Kimia Fisik Untuk Universitas. Jakarta : PT. Gramedia.
Chemistry.http://www.chem-is-try.org/materi_kimia/kimia-smk/kelas_x/faktor-faktor-

yang-mempengaruhi-kecepatan-reaksi-3/. 30 Desember 2013.


Riza.http://floweriza.blogspot.com/2012/05/persamaan-arrhenius-dan-energi-

aktivasi.html. 30 Desember 2013.

LAMPIRAN

Larutan K2S2O2
0,04 M

Larutan KI

Es Batu

Proses
memasukkan
aquades ke dalam
tabung 1

Larutan Amilum
1%

Proses
pendinginan pada
tabung 1 & 2
hingga mencapai
10 oC

Proses
pengenceran
amilum

Pencampuran 2
tabung dan
diaduk dengan
magnetic stirrer

Perubahan warna
menjadi biru