Anda di halaman 1dari 3

KOMPLIKASI VENTRICULOPERITONEAL SHUNT

Ventrikuloperitoneal shunt adalah prosedur pembedahan yang


dilakukan untuk membebaskan tekanan intrakranial yang
disebabkan oleh hidrosefalus. Cairan dialirkan dari ventrikel di otak
menuju rongga peritoneum.

Sejumlah
komplikasi
dapat
terjadi
setelah
pemasangan
ventrikuloperitoneal
shunt
untuk
manajemen
hidrosefalus.
Komplikasi ini termasuk undershunting, infeksi, overshunting,
kejang, masalah distal kateter, alergi dan perdarahan pada saat
memasukkan kateter ventrikel.
UNDERSHUNTING
Tingkat kerusakan shunt sebesar 17% pada tahun pertama pada
pasien anak. Yang mungkin bisa terjadi satu atau lebih sebagai
berikut :
1. Blokade (obstruksi)
a. Penyebab obstruksi :
1. Obstruksi pleksus koroid
2. Pertambahan protein
3. Darah
4. Sel (inflamasi atau tumor)
5. Infeksi sekunder
b. Tempat obstruksi:

1. Blockage sistem ventricular. Biasanya pada pleksus


koroid
meliputi
perlengketan
glial,
perdarahan
intraventrikuler.
2. Blockage of intermediate hardware. ( katup, konektor
dan selang kateter dapat obstruksi karena adanya
penekanan dari tumor atau tekanan dari jaringan
subkutaneus diatasnya.)
3. Blocked distal end. Sering disebabkan karena kateter
bagian distal oklusi di omentum atau adanya debris dari
shunt sistem.
Tanda dan gejala Undershunting
1. Gejala akut peningkatan tekanan intrakranial
- diplopia
- lemas
- ataxia
- infant : apnoe, bradikadi, iritabilitis
- kejang
2. Tanda akut peningkatan tekanan intrakranial
- Parinauds syndrome
- Abducens palsy
- Blindness
- Papiledema
- Infant : frontanela bulging
3. Pembengkakan sekeliling pipa shunt
4. Perubahan kronik (sebelum penutupan sutura)

INFEKSI
Infeksi shunt di definisikan sebagai isolasi organisme dari cairan
ventrikuler, selang shunt, reservoir dan atau kultur darah dengan
gejala dan tanda klinis menunjukkan adanya infeksi atau malfungsi
shunt seperti demam, peritonitis, meningitis, tanda tanda infeksi
disepanjang jalur selang shunt atau gejala spesifik seperti nyeri
kepala, muntah, perubahan status mental dan kejang. Resiko untuk
infeksi dini setelah operasi shunt dilaporkan sekitar 3-20%.
Banyak faktor yang diperkirakan dapat dijadikan
termasuk:
1. pasien muda dengan meningomyelocele.
2. operasi yang lama
3. defek neural terbuka

penyebab,

Infeksi merupakan komplikasi yang paling ditakutkan pada anak


kelompok usia muda. Sebagian besar infeksi terjadi setelah 6 bulan
setelah prosedur dilakukan. Infeksi yang terjadi biasanya
merupakan bakteri staphylococcus dan propionibacterial. Infeksi dini
terjadi lebih sering pada neonatus dan berhubungan dengan bakteri

yang lebih virulen seperti E.coli. Shunt yang terinfeksi harus


dikeluarkan, CSS harus disterilkan, dam dilakukan pemasangan
shunt yang baru.Terapi shunt yang terinfeksi hanya dengan
antibiotik tidak direkomendasikan karena bakteri dapan ditekan
dalam jangka waktu yang lama tapi dapat kembali saat antibiotik
dihentikan.
SUBDURAL HEMATOM
Subdural hematom biasanya terjadi pada orang dewasa dan anak
anak dengan perkembangan kepala yang sudah lengkap.
Penyebabnya biasanya adalah kolaps bridging veins dan penurunan
tekanan intrakranial secara drastis. Faktor resiko SDH tinggi pada
pasien hidrosefalus dengan kepala yang besar dan parenkim otak
kecil (craniocerebelar disproportion). Subdural hematom diterapi
dengan drainase dan membutuhkan oklusi sementara dari shunt.
OVERSHUNTING
Komplikasi yang mungkin terjadi pada overshunting meliputi
1. Ventrikel kolaps (sindroma kolaps ventrikel)
2. Hipotensi intrakranial
3. Subdural hematom
4. Kraniosinostosis dan mikrosefali
5. Penyempitan dan penyumbatan aquaduktus silvii

Anda mungkin juga menyukai