Anda di halaman 1dari 18

LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOLOGI

ANTELMENTIK

DISUSUN UNTUK MEMENUHI LAPORAN


MATA KULIAH FARMAKOLOGI

Disusun oleh :
Bella Sakti Oktora

(12010012)

Darma Wijaya

(12010016)

Fuji Rahayu

(12010030)

S-1 FARMASI REGULER


DOSEN PENGAMPU
Siti Mariam, M.Farm, Apt

PROGRAM STUDI STRATA 1 FARMASI REGULER


SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI INDUSTRI DAN FARMASI BOGOR
NOVEMBER 2014

I.

Judul Praktikum
Antelmentik

II.

Tujuan Praktikum
Setelah menyelesaikan percobaan ini diharapkan mahasiswa:
1. Untuk mengetahui dan memahami efek yang ditimbulkan dari pemberian obat
antelmentik umum yaitu pirantel pamoat dan simplisia yang berkhasiat
membunuh cacing pada hewan coba cacing tanah.
2. Dapat merancang dan melakukan eksperimen sederhana untuk menguji
aktivitas antelmentik (anti cacing) suatu bahan uji secara in vitro.

III.

Dasar Teori
Antelmintik atau obat cacing adalah obat-obat yang dapat memusnahkan
cacing dalam tubuh manusia dan hewan. Yang tercakup dalam istilah ini adalah
semua zat yang bekerja lokal menghalau cacing dari saluran cerna maupun obatobat sistemis yang membasmi cacing maupun larvanya yang menghinggapi organ
dan jaringan tubuh.
Banyak antelmintik dalam dosis terapi hanya bersifat melumpuhkan
cacing, jadi tidak mematikannya. Guna mencegah jangan sampai parasit menjadi
aktif lagi atau sisasisa cacing mati dapat menimbulkan reaksi alergi, maka harus
dikeluarkan secepat mungkin (Tjay dan Rahardja, 2002:185).

Contoh zat aktif antelmintik yang lazim digunakan, diantaranya:


Pirantel Pamoat
Untuk cacing gelang, cacing kremi dan cacing tambang. Mekanisme
kerjanya menimbulkan depolarisasi pada otot cacing dan meningkatkan frekuensi
imfuls, menghambat enzim kolinesterase. Absorpsi melalui usus tidak baik,
ekskresi sebagian besar bersama tinja, <15% lewat urine. (Anonim.2010)
Pirantel pamoat sangat efektif terhadap Ascaris, Oxyuris dan Cacing
tambang, tetapi tidak efektif terhadap trichiuris. Mekanisme kerjanya berdasarkan
perintangan penerusan impuls neuromuskuler, hingga cacing dilumpuhkan untuk
kemudian dikeluarkan dari tubuh oleh gerak peristaltik usus. Cacing yang lumpuh
akan mudah terbawa keluar bersama tinja. Setelah keluar dari tubuh, cacing akan

segera mati. Di samping itu pirantel pamoat juga berkhasiat laksans lemah. . (Tjay
dan Rhardja, 2002:193)
Resorpsinya dari usus ringan kira kira 50% diekskresikan dalam keadaan
utuh bersamaan dengan tinja dan lebih kurang 7% dikeluarkan melalui urin. Efek
sampingnya cukup ringan yaitu berupa mual, muntah, gangguan saluran cerna dan
kadang sakit kepala. (Tjay dan Rhardja, 2002:193). Dosis terhadap cacing kremi
dan cacing gelang sekaligus 2-3 tablet dari 250 mg, anak-anak 2 tablet sesuai usia
(10mg/kg). (Tjay dan Rhardja, 2002:193). Dosis tunggal pirantel pamoat 10mg/kg
Bb (ISO, 2009 : 81).

Kunyit

Kunyit atau kunir, (Curcuma longa Linn. syn. Curcuma domestica Val.),
adalah termasuk salah satu tanaman rempah dan obat asli dari wilayah Asia
Tenggara. Tanaman ini kemudian mengalami penyebaran ke daerah Malaysia,
Indonesia, Australia bahkan Afrika. Hampir setiap orang Indonesia dan India serta
bangsa Asia umumnya pernah mengonsumsi tanaman rempah ini, baik sebagai

pelengkap bumbu masakan, jamu atau untuk menjaga kesehatan dan kecantikan.
Dalam bahasa Banjar kunyit atau kunir ini dinamakan Janar.
Kunyit tergolong dalam kelompok jahe-jahean, Zingiberaceae. Kunyit
dikenal
di
berbagai
daerah
dengan
beberapa
nama
lokal,
sepertiturmeric (Inggris), kurkuma (Belanda), kunyit (Indonesia dan
Malaysia), kunir (Jawa), koneng (Sunda), konyet (Madura).
Kunyit adalah rempah-rempah yang biasa digunakan dalam masakan di
negara-negara Asia. Kunyit sering digunakan sebagai bumbu dalam masakan
sejenis gulai, dan juga digunakan untuk memberi warna kuning pada masakan, atau
sebagai pengawet. Produk farmasi berbahan baku kunyit, mampu bersaing dengan
berbagai obat paten, misalnya untuk peradangan sendi (arthritis- rheumatoid) atau
osteo-arthritis berbahan aktif natrium deklofenak, piroksikam, dan fenil
butason dengan harga yang relatif mahal atau suplemen makanan (Vitamin-plus)
dalam bentuk kapsul. Dalam bahasa Banjar kunyit biasa pula disebut Janar.
Produk bahan jadi dari ekstrak kunyit berupa suplemen makanan dalam
bentuk kapsul (Vitamin-plus) pasar dan industrinya sudah berkembang. Suplemen
makanan dibuat dari bahan baku ekstrak kunyit dengan bahan tambahan Vitamin
B1, B2, B6, B12, Vitamin E,Lesitin, Amprotab, Mg-stearat, Nepagin dan Kolidon
90.
Umbi (rimpang) yang berumur lebih dari satu tahun dapat dipakai sebagai
obat, umbi (rimpang) kunyit berkhasiat untuk mendinginkan badan, membersihkan,
mempengaruhi bagian perut Khususnya pada lambung , merangsang, melepaskan
lebihan gas di usus, menghentikan pendarahan dan mencegah penggumpalan darah,
selain dari itu juga digunakan sebagai bahan dalam masakan.
Kunyit juga digunakan sebagai obat anti gatal, anti septik dan anti kejang
serta mengurangi pembengkakan selaput lendir mulut. Kunyit dikonsumsi dalam
bentuk perasan yang disebut filtrat, juga diminum sebagai ekstrak atau digunakan
sebagai salep untuk mengobati bengkak dan terkilir. Kunyit juga berkhasiat untuk
menyembuhkan hidung yang tersumbat, caranya dengan membakar kunyit dan
menghirupnya.
Kunyit mengandung senyawa yang berkhasiat obat, yang disebut
kurkuminoid yang terdiri dari kurkumin , desmetoksikumin sebanyak 10%
dan bisdesmetoksikurkumin sebanyak 1-5% dan zat- zat bermanfaat lainnya seperti
minyak atsiri yang terdiri dari Keton sesquiterpen, turmeron, tumeon 60%,
Zingiberen 25%, felandren , sabinen , borneol dan sineil. Kunyit juga
mengandung
Lemak
sebanyak
1
-3%,
Karbohidrat
sebanyak
3%, Protein 30%, Pati 8%, Vitamin C 45-55%, dan garam-garam mineral, yaitu zat
besi, fosfor, dan kalsium.

Temulawak

Temu lawak (Curcuma xanthorrhiza) adalah tumbuhan obat yang tergolong


dalam suku temu-temuan (Zingiberaceae). Ia berasal dariIndonesia, khususnya
Pulau Jawa, kemudian menyebar ke beberapa tempat di kawasan
wilayah biogeografi Malesia. Saat ini, sebagian besar budidaya temu lawak berada
di Indonesia, Malaysia, Thailand, dan Filipina tanaman ini selain di Asia
Tenggara
dapat
ditemui
pula
di China, Indochina, Barbados, India, Jepang, Korea, Amerika Serikat dan beberapa
negara Eropa.
Nama daerah di Jawa yaitu temulawak, di Sunda disebut koneng gede,
sedangkan di Madura disebut temu labak. Tanaman ini dapat tumbuh dengan baik
pada dataran rendah sampai ketinggian 1500 meter di atas permukaan laut dan
berhabitat di hutan tropis. Rimpang temu lawak dapat tumbuh dan berkembang
dengan baik pada tanah yang gembur.
Terna berbatang semu dengan tinggi hingga lebih dari 1 m tetapi kurang dari
2 m. Batang semu merupakan bagian dari pelepah daunyang tegak dan saling
bertumpang tindih, warnanya hijau atau coklat gelap. Rimpang terbentuk dengan
sempurna dan bercabang kuat, berukuran besar, bercabang-cabang, dan berwarna
cokelat kemerahan, kuning tua atau berwarna hijau gelap. Tiap tunas dari rimpang
membentuk daun 2 9 helai dengan bentuk bundar memanjang sampai bangun
lanset, warna daun hijau atau coklat keunguan terang sampai gelap, panjang daun
31 cm 84 cm dan lebar 10 cm 18 cm, panjang tangkai daun termasuk helaian 43
cm 80 cm, pada setiap helaian dihubungkan dengan pelepah dan tangkai daun
agak panjang. Bunganya berwarna kuning tua, berbentuk unik dan bergerombol
yakni perbungaan lateral,. tangkai ramping dan sisik berbentuk garis, panjang
tangkai 9cm 23cm dan lebar 4cm 6cm, berdaun pelindung banyak yang
panjangnya melebihi atau sebanding dengan mahkota bunga. Kelopak bunga
berwarna putih berbulu, panjang 8mm 13mm, mahkota bunga berbentuk tabung

dengan panjang keseluruhan 4.5cm, helaian bunga berbentuk bundar memanjang


berwarna putih dengan ujung yang berwarna merah dadu atau merah, panjang
1.25cm 2cm dan lebar 1cm, sedangkan daging rimpangnya berwarna jingga tua
atau kecokelatan, beraroma tajam yang menyengat dan rasanya pahit.
Di Indonesia satu-satunya bagian yang dimanfaatkan adalah rimpang temu
lawak untuk dibuat jamu godog. Rimpang ini mengandung 48-59,64 % zat tepung,
1,6-2,2 % kurkumin dan 1,48-1,63 % minyak asiri dan dipercaya dapat
meningkatkan kerja ginjal serta anti inflamasi. Manfaat lain dari rimpang tanaman
ini adalah sebagai obat jerawat, meningkatkan nafsu makan, anti kolesterol,
antiinflamasi, anemia, antioksidan, pencegah kanker, dan antimikroba.
Cacing yang digunakan, yaitu:
1. Cacing Tanah

Kerajaan
Filum
Kelas
Ordo
Famili
Jenis

: Animalia
: Annelida
: Clitellata
: Haplotaxida
: Lumbricoides
: Lumbricoides terrestris

Annelida (dalam bahasa latin, annulus = cincin) atau cacing gelang


adalah kelompok cacing dengan tubuh bersegmen. Berbeda dengan
Platyhelminthes dan Nemathelminthes, Annelida merupakan hewan tripoblastik
yang sudah memiliki rongga tubuh sejati (hewan selomata). Namun Annelida
merupakan hewan yang struktur tubuhnya paling sederhana. (Anonim.B)
Annelida memiliki panjang tubuh sekitar 1 mm hingga 3 m.Contoh
annelida yang panjangnya 3 m adalah cacing tanah Australia. Bentuk tubuhnya
simetris bilateral dan bersegmen menyerupai cincin. (Anonim.B)
Annelida memiliki segmen di bagian luar dan dalam tubuhnya. Antara
satu segmen dengan segmen lainya terdapat sekat yang disebut septa. Pembuluh
darah, sistem ekskresi, dan sistem saraf di antara satu segmen dengan segmen
lainnya saling berhubungan menembus septa. Rongga tubuh Annelida berisi

cairan yang berperan dalam pergerakkan annelida dan sekaligus melibatkan


kontraksi otot. (Anonim.B)
Ototnya terdiri dari otot melingkar (sirkuler) dan otot memanjang
(longitudinal). Sistem pencernaan annelida sudah lengkap, terdiri dari mulut,
faring, esofagus (kerongkongan), usus, dan anus. Cacing ini sudah memiliki
pembuluh darah sehingga memiliki sistem peredaran darah tertutup. Darahnya
mengandung hemoglobin, sehingga berwarna merah. Pembuluh darah yang
melingkari esofagus berfungsi memompa darah ke seluruh tubuh. (Anonim.B)
Sistem saraf annelida adalah sistem saraf tangga tali. Ganglia otak
terletak di depan faring pada anterior. Ekskresi dilakukan oleh organ ekskresi
yang terdiri dari nefridia, nefrostom, dan nefrotor. Nefridia (tunggalnefridium)
merupakan organ ekskresi yang terdiri dari saluran. Nefrostom merupakan
corong bersilia dalam tubuh. Nefrotor merupaka npori permukaan tubuh tempat
kotoran keluar. Terdapat sepasang organ ekskresi tiap segmen tubuhnya.
(Anonim.B)
Sebagian besar annelida hidup dengan bebas dan ada sebagian yang
parasit dengan menempel pada vertebrata, termasuk manusia. Habitat annelida
umumnya berada di dasar laut dan perairan tawar, dan juga ada yang segaian
hidup di tanah atau tempat-tempat lembap. Annelida hidup di berbagai tempat
dengan membuat liang sendiri. (Anonim.B)
Annelida umumnya bereproduksi secara seksual dengan pembantukan
gamet. Namun ada juga yang bereproduksi secara fregmentasi, yang kemudian
beregenerasi. Organ seksual annelida ada yang menjadi satu dengan individu
(hermafrodit) dan ada yang terpisah pada individu lain (gonokoris). (Anonim.B)
Annelida dibagi menjadi tiga kelas, yaitu Polychaeta (cacing berambut
banyak), Oligochaeta (cacing berambut sedikit), dan Hirudinea. (Anonim.B)

IV.

Alat dan Bahan


a. Alat
1. Botol semprot.
2. Beaker Glass.
3. Petridis 24 pasang.
4. Gelas Ukur.
5. Stopwatch.
b. Bahan
1. Cacing tanah.
2. Larutan obat cacing pirantel pamoat.
3. Larutan simplisia kunyit.
4. Larutan simplisia temulawak.
5. Larutan NaCl fisiologis.

V.

Cara Kerja
1. Dibuat larutan control + dari obat pirantel pamoat . Masing-masing kelompok
membuat larutan 5%, 10%, 15%, 20%, 25%, 30%.
2. Dibuat larutan dari simplisia temulawak dengan masing-masing konsentrasi
seperti pada pirantel pamoat. Begitu pula larutan dari simplisia kunyit.
3. Disiapkan 24 pasang Petridis.
4. Larutan dimasukkan masing-masing ke dalam Petridis. Larutan yang digunakan
adalah larutan obat pirantel pamoat, larutan simplisia temulawak, larutan
simplisia kunyit, dan NaCl fisiologis.
5. Lalu masing-masing Petridis yang berisi larutan yang berbeda-beda masingmasing dimasukkan cacing ke dalamnya. Ditutup dengan penutup etridis namun
dibuka sedikit untuk celah sirkulasi udara.
6. Diamati yang terjadi pada cacing.

VI.

Hasil dan Pembahasan


a. Hasil Pengamatan

Bahan uji

Konsentrasi T0

Menit
ke-

Respon yang diamati Tmati

Kontrol +

(5%) 10 ml

00.00.00

00.04.30

Normal

Mulai

00.08.00

Lemas

00.11.45

Tubuh cacing lisis


berubah warna putih

00.30.00

Sudah mulai tidak


aktif

Pyranthel
pamoat

00.50.00
Tidak mati
(10%) 10 ml

10.26.00

10.37.00

Diam

Mulai

10.46.00

Diam dan berubah


warna / lisis
10.59.00
Tidak mati

(15%) 10 ml

00.01.00

00.03.00

Lemas

Mulai

00.08.00

Mulai diam

00.11.00

Pergerakan sedikit

00.38.00

Gerak kembali

00.42.00

Lemas
00.65.00
Tidak mati

(20 %) 10
ml

00.00.00
Mulai

00.05.00

Normal
00.38.25
Tidak mati

(25%) 10 ml

10.26.00

00.37.00

Lemas

Mulai

00.48.20

Sudah mulai tidak


aktif
00.48.21
Tidak mati

(30%) 10 ml

10.49.00

10.51.00

Menggeliat

Mulai

10.54.00

Berontak / kejang
10.57.00
Mati dalam
kondisi
tubuh keras

Kontrol

(5%) 10 ml

NaCl

00.00.00

00.04.30

Normal

Mulai

00.11.45

Kulit berubah waran


Tubuh cacing lisis
berubah warna
menjadi bening

00.30.00

Sudah mulai tidak


aktif

00.45.00

Lemas / hampir mati


00.50.00
Tidak mati

(10%) 10 ml

10.26.00

10.26.00

Normal

Mulai

10.37.00

Gerak

10.46.00

Perubahan warna/
tubuh menjadi lisis

10.59.00

Gerak gerak
10.59.00
Tidak mati

(15%) 10 ml

00.01.00

00.03.00

Tenang / diam

Mulai

00.38.00

Gerak kembali

00.65.00

Lemas
00.65.00
Tidak mati

(20%) 10 ml

00.00.00

00.35.00

Normal

Mulai

00.40.00
Tidak mati

(25%) 10 ml

10.26.00

00.00.00

Aktif

Mulai

00.40.00

Lemas / diam
00.40.00
Tidak mati

(30%) 10 ml

00.00.00

Sampai
selesai

Mulai

Tidak mati

Kunyit

(5%)

00.00.00

00.02.00

Berontak / menggeliat
sampai loncat

00.04.30

Lemas

00.08.00

Keluar lendir

00.09.10

Setengah badannya
kaku

00.10.10

Lembek

00.21.35

Hampir mati

Mulai

00.26.00
Mati
(10%)

10.26.00

10.26.00

Beraksi loncat

Mulai

10.37.00

Melingkar lingkar,
lemas

10.46.00

Lemas, struktur tidak


menentu

10.57.00

Lembek
10.57.00
Lalu mati

(15%)

00.00.00

00.00.00

Menggeliat / loncat

Mulai

00.03.00

Lemas

00.09.00

Mulai diam

00.14.00

Pergerakan sedikit

00.30.00

Volume badan
bertambah karena
menyerap kunyit

00.38.00

Tidak bergerak

00.42.00

Absorpsi / lisis
00.53.00
Mati dalam
keadaan
Lembek

(20%)

00.00.00

00.05.00

Lemas

Mulai

00.30.00

Lemas mulai Keras

00.35.00

Keras
00.38.46
Mati dalam
kondisi
keras

(25%)

10.26.00

00.35.20

Berlendir

Mulai

00.43.05

Lembek

00.45.00

Mulai tidak aktif


00.45.00

Tidak mati
(30%)

10.27.00

10.28.00

Lemas

Mulai

10.30.00

Menggeliat mulai
berkurang

10.37.00

Sangat lemas
10.53.00
Mati dalam
kondisi
lembek

Temulawak (5%)

00.00.00

00.04.30

Menggeliat / aktif
(obat beraksi)

00.13.00

Lemas / melemah

00.15.00

Tubuh keras

00.18.00

Temulawak
terabsorpsi banyak
sehingga tubuh lisis

00.21.35

Hampir mati

Mulai

00.35.20
Mati
(10%)

10.26.00

10.26.00

Loncat karena obat


telah beraksi

10.37.00

Lemas

10.46.00

Lembek dan lemas

Mulai

10.59.00
Lemas lalu
diam
mungkin
mati
(15%)

00.00.00

00.01.00

Menggeliat

Mulai

00.03.00

Lemas, pergerakan
pelan

00.14.00

Pergerakan sedikit

00.30.00

Pucat / lisis, lembek

00.38.00

Tidak bergerak lagi


00.39.00
Mati

(20%)

00.00.00

00.00.00

Normal

Mulai

00.05.00

Lemas

00.35.00

Lembek
00.39.49
Mati

(25%)

10.26.00

00.09.15

Lemas

Mulai

00.16.05

Lembek
00.42.30
Mati

(30%)

10.25.00

10.26.00

Mulai mengeliat lalu


lemas

10.39.00

Terjadi lisis

10.43.00

Sediki bergerak

10.45.00

Tubuh lebih hancur

Mulai

10.55.00
Mati

b. Pembahasan
Pada praktikum kali ini, yang menjadi bahan amatan pengamat(penguji)
adalah aktivitas pirantel pamoat, kunyit, temulawak dan larutan fisiologis NaCL
0,9% sebagai obat antelmintik yang bekerja dalam mempengaruhi sistem saraf
dari cacing yang akan diamati efeknya.
Pada prosedur awal, cacing yang digunakannya haruslah berupa cacing
pita babi (Ascaris suum) jantan dan betina, namun karena keterbatasan sumber
daya, maka diganti oleh cacing tanah (Lumbricoides terrestris), hal ini dapat
dilakukan karena yang akan diamati oleh pengamat adalah aktivitas piperazin
sitrat dan pirantel pamoat terhadap aktivitas sistem saraf pusat, jadi dapat
digantikan oleh jenis cacing lain, dan yang lebih memudahkannya adalah bila
menggunakan cacing tanah tidak diperlukan dua jenis cacing dari jenis kelamin
yang berbeda, karena cacing tanah merupakan cacing berkelamin ganda
(hemaprodit).
Sebagai kontrol positif parirantel pamoat mekanisme kerjanya
menimbulkan depolarisasi pada otot cacing dan meningkatkan frekuensi imfuls,
menghambat enzim kolinesterase. Absorpsi melalui usus tidak baik, ekskresi
sebagian besar bersama tinja, <15% lewat urine. (Anonim.2010)
Pirantel pamoat sangat efektif terhadap Ascaris, Oxyuris dan Cacing
tambang, tetapi tidak efektif terhadap trichiuris. Mekanisme kerjanya
berdasarkan perintangan penerusan impuls neuromuskuler, hingga cacing
dilumpuhkan untuk kemudian dikeluarkan dari tubuh oleh gerak peristaltik
usus. Cacing yang lumpuh akan mudah terbawa keluar bersama tinja. Setelah
keluar dari tubuh, cacing akan segera mati. Di samping itu pirantel pamoat juga
berkhasiat laksans lemah. . (Tjay dan Rhardja, 2002:193) dan kontrol negatif
adalah NaCl fisiologis 0,9 %.
Kunyit dan Temulawak selaku sampel obat alam sebagai pembanding
obat sintetik pirantel pamoat dengan melihat beberapa literatur bahwa kunyit
dan temulawak bisa digunakan sebagai obat cacing, dan banyak mengandung
zat aktif yang banyak dan cukup sama, seperti mengandung kurkuminoid ,
mineral minyak atsiri serta minyak lemak tepung , temulawak juga mengandung
zat gizi antara lain karbohidrat, protein dan lemak serta serat kasar mineral
seperti kalium ( K ), natrium ( Na), magnesium (Mg ), zat besi (Fe), mangan
(Mn ) dan Kadmium ( Cd). Komponen utama kandungan zat yang terdapat

dalam rimpang temulawak adalah zat kuning yang disebut kurkumin dan juga
protein ,pati, serta zat zat minyak atsiri.Minyak atsiri temulawak mengandung
phelandren, kamfer, borneol, xanthorrizol, tumerol dan sineal.
Pada awal praktikum, setiap kelompok diberikan ketentuan dosis yang
berbeda-beda untuk tiap kelompoknya dan sebelum semua prosedur dilakukan
hal awal yang dilakukan pertama kali ialah pengambilan/pemilihan cacing
sebanyak 4 cacing Setelah itu, dilakukanlah penyiapkan sediaan uji, yaitu
berupa pirantel pamoat, larutan kunyit 5% , larutan temulawak 5% dan NaCl
masing-masing sebanyak 10 ml. Siapkan 4 cawan petri kemudian beri label
sesuai cairan sampel obat, tuangkan semua cairan pada masing-masing petrinya
masukan 1 cacing tanah dan amati apa yang terjadi pada cacing , pada cawan 1
(pirantel pamoat 5%) pada saat awal cacing aktif lewati menit ke 8 cacing
melemas, menit ke 10 warna cacing berubah dari merah menjadi bercak-bercak
putih yang berarti obat masuk kedalam tubuh cacing dan obat mengganggu
anatomi fisiologis cacing tersebut namun, sampai menit ke 50 cacing tidak mati.
Pada cawan 2 (NaCl fisiologis) saat cacing dimasukan ke cawan berisi NaCl
fisiologis cacing normal, saat menit ke 11 pada tubuh cacing terdapat perubahan
dibandingkan awal dimana warna caing terbagi dua dimana bagian pekat
berwarna merah terdapat dibagian kepala dan berwarna mwrah muda terdapat
pada buntut namun aktifitas masih normal, melewati menit ke30 cacing
melemas dan aktivitas berkurang namun sama dengan cawan1 cacing tidak mati
setelah menit ke 50 dan di hentikan lah percobaan pada cawan 1 dan 2 di menit
ke 50. Pada cawan 3 (kunyit) saat cacing dimasukan cacing diam saat dimenit
ke 2 cacing berontak, menggeliat sangat amat sering, setelah melewati menit ke
4 cacing melemas berhenti menggeliat, dan dapat dilihat di menit ke8 terdapat
lendir di sekitar cacing yang mungkin dikeluarkan untuk memberontak dan
mengakibatkan koagulasi(gumpalan) pada larutan kunyit , mendekati menit ke
10 setengah badannya kaku namun lembek dan akhirnya mati di menit ke 26.
Pada cawan ke 3 (temulawak) pada saat cacing dimasukan ke dalam cawan
berisi temulawak cacing langsung menggeliat selama 4 menit dimana berarti
obat (zat aktif temulawak) bereaksi lansung dengan cacing melewati 4 menit
pertama tadi caing melemas di menit ke 11 setelah menit awal
dimasukan,dimenit ke 15 tubuh cacing kaku, keras (kenyal) dan mati dimenit
ke 35.

Namun jika dilihat dari bedaan konsentrasi pada obat pirantel pamoat
cacing mati pada konsentrasi 30% saja di menit 10:57 dengan keadaan
mengeras. Pada kontrol negatif NaCl fisiologis di berbagai konsentrasi cacing
tidak mati namun mengalami beberapa keadaaan ada yang berubah manjadi
bening, lemas dan ada yang sampai lisis. Namun bedahalnya pada sampel obat
alam dimana yang digunakannya ialah kunyit dan temulawak. Pada obat alam
1 yaitu kunyit hanya pada konsentrasi 25% cacing tidak mati sedangkan selain
dari konsentrasi 25% cacing mati semua dengan berbagai perbedaan waktu dan
keadaannya dimana waktu tercepat saat cacing mati pada konsentrasi 30 yaitu
25 menit dengan keadaan lembek. Sedangkan pada obat alam 2 yaitu
(temulawak) semua cacing yang di ujikan di berbagai konsentrasi mati tentusaja
dengan perbadaan waktu dan keadan cacing itu sendiri dimana waktu tercepat
saat cacing mati ialah pada konsentrasi 10%.
VII.

Kesimpulan
Dari hasil dan data percobaan dapat di simpulkan bahwa obat terbaik ialah
obat alam yaitu temulawak karena semua cacing dengan berbagai perlakuan dan
konsentrasi cacing mati diikuti dengan kunyit dimana ada 1 perlakuan dengan
konsentrasi 25% cacing tidak mati. Sedangkan pada kontrol positif (pirantel
pamoat) caing yang mati hanya dengan perlakuan konsentrasi 30% pada konsentrsi
yang lain cacing tidak mati. Da berbeda lagi dengan NaCl dimana semua cacing
dengan berbagai konsentrasi tidak mati hanya mengalami peubahan yang cukcup
berarti ad yang lisis, lemas sedikit beraktifitas dan lain-lain.
Kesalahan pada percobaan kali ini mungkin disebabkan karena perbadaan
bobot cacing seperti halnya dengan cacing yang di gunakan pada konsentrasi 25%
sampel kunyit bahwa dapat dilihat di antara cacing lain, cacing pada sampel ini lah
yang paling besar, sehigga mungkin sebenarnya cacing akan mati namun dengan
waktu yang berbeda dan cukup lebih lama. Sehingga disimpulkan kembali bahwa
bobot cacing memepengaruhi untuk praktikum kali ini.

VIII. Daftar Pustaka


- Anonim.A.http://puputo.blogspot.com/2008/12/farkol-antelmintik.html
-

Anonim.B.http://gurungeblog.wordpress.com/2008/11/11/mengenal-selukbeluk-phylum-annelida/

Anonim.2010. http://farmakologi.files.wordpress.com/2010/02/antelmintik.pdf

Tjay, Tan Hoan, Rahardja, Kirana, 2002, Obat Obat Penting, PT. Elex Media
Komputindo, Jakarta

Kasim, Fauzi, dkk.,2009, ISO Indonesia, volume 44, Ikatan Sarjana Farmasi
Indonesia, Jakarta