Anda di halaman 1dari 25

MIKROBA RUMEN

MAKALAH
untuk memenuhi tugas praktikum matakuliah
Ilmu Nutrisi Ternak Ruminansia

Oleh :
Tino Yazid Azmi
Ardan Legenda De Arham
Ari Prayudha
Alvina Dyah Arumsari
Mirsa Ita Dewi Adiana

135050100111068
135050100111093
135050100111098
135050100111187
135050100111189

UNIVERSITAS BRAWIJAYA
FAKULTAS PETERNAKAN
JURUSAN NON JURUSAN
November 2014

KATA PENGANTAR

Puji syukur atas kehadirat Allah SWT karena karunia dan hidayah-Nya,
kami dapat menyelesaikan makalah ini tepat pada waktunya. Makalah ini disusun
untuk memenuhi tugas praktikum mata kuliah Ilmu Nutrisi Ternak Ruminansia.
Makalah ini membahas tentang mikroorganisme rumen yang terdapat
dalam ternak ruminansia (sapi, kerbau dan kambing). Penulisan Makalah ini tidak
lepas dari bimbingan serta dukungan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, dalam
kesempatan ini kami ucapkan terima kasih kepada semua pihak atas dukungan,
bantuan, serta kerjasamanya hingga terselesaikannya makalah ini.
Penulis menyadari bahwa makalah ini masih perlu perbaikan untuk
menjadi lebih sempurna. Oleh karena itu, kami mengharap saran dan kritik yang
membangun. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua.

Malang, 25 November 2014

Penulis

ii

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL..................................................................................................i
KATA PENGANTAR ..............................................................................................ii
DAFTAR ISI ..............................................................................................................iii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah ........................................................................... 1
1.2 Tujuan....................................................................................................... 1
1.4 Manfaat ..................................................................................................... 1
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Mikroba Rumen........................................................................................ 2
2.2 Bakteri ..................................................................................................... 3
2.3 Protozoa ................................................................................................... 7
2.4 Fungi atau Jamur ...................................................................................... 9
2.5 Faktor yang Mempengaruhi Populasi Mikroba Rumen ........................... 10
BAB III PEMBAHASAN
3.1 Mikroba Rumen .......................................................................................11
3.2 Bakteri dalam Rumen ...............................................................................12
3.3 Protozoa dalam Rumen ............................................................................15
3.4 Jamur atau Fungi dalam Rumen ...............................................................19
BAB IV PENUTUP
4.1 Kesimpulan ..............................................................................................20
4.2 Saran ........................................................................................................20
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................21

iii

BAB I
PENDAHULUAN

1.1.Latar Belakang
Pada ternak ruminansia, baik ruminansia besar (sapi dan kerbau) maupun
ruminansia kecil (kambing dan domba), terdapat rumen dengan berbagai jenis
mikroba di dalamnya. Mikroba ini disebut mikroba rumen. Fungsi dari mikroba
rumen ini adalah untuk memfermentasi pakan dengan kandungan selulosa di
dalamnya atau pakan yang berserat tinggi. Kemampuan mikroba rumen dalam
pendegradasian pakan menjadi bentuk yang lebih sederhana sehingga mudah
dicerna dan dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan ternak dan juga
mikroba di dalamnya ini merupakan salah satu keuntungan adanya mikroba rumen
dalam sistem pencernaan ternak ruminansia.
Berdasarkan fungsi dan jenisnya masing-masing, mikroba yang paling
banyak terdapat dalam rumen diklasifikasikan menjadi 3 jenis, yaitu bakteri,
protozoa dan fungi/jamur. Dalam makalah ini akan dibahas secara lebih rinci
tentang mikroba rumen dan fungsi dari masing-masing jenisnya.

1.2.Tujuan
1. Untuk mengetahui lebih rinci tentang mikroba rumen dan faktor-faktor
yang mempengaruhi populasinya dalam rumen.
2. Untuk mengetahui jenis-jenis mikroba dalam rumen dan peranannya
dalam rumen.
3. Untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi jumlah populasi
mikroba rumen

1.3.Manfaat
Manfaat yang dapat diambil adalah mempelajari mikroba yang terdapat
pada lambung ruminansia, maka diperoleh pemahaman mengenai jenis bahan
makanan apa saja yang digunakan oleh bakteri untuk hidup, sehingga pakan yang
diberikan dicerna secara optimal oleh mikroba rumen.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Mikroba Rumen


Mikroba yang terdapat dalam rumen dibagi menjadi empat jenis
mikroorganisme anaerob, yaitu bakteri, protozoa, fungi dan mikroorganisme
lainnya seperti virus. Penghuni rumen yang fungsional paling penting adalah
bakteri, dalam 1 ml getah rumen terkandung 109 sampai 1010 sel dan merupakan 510% massa kering isi perut besar (Schlegel, 1994). Jumlah protozoa dalam rumen
lebih sedikit bila dibandingkan dengan jumlah bakteri yaitu sekitar 106sel/ml.
Ukuran tubuhnya lebih besar dengan panjang tubuh berkisar antara 20-200
mikron, oleh karena itu biomassa total dari protozoa hampir sama dengan
biomassa total bakteri (McDonald et al., 2002) .
Mikroba rumen memiliki peran yang sangat penting bagi ternak karena
mereka dapat memanfaatkan nutrisi tanaman secara efisien sebagai sumber energi
(Das dan Qin, 2012). Pakan hijauan dan bahan berserat sebagai pakan basal bagi
ruminansia akan difermentasi oleh mikroba rumen sehingga menghasilkan asam
lemak terbang sebagai sumber energi dan pasokan rantai karbon serta sebagian
mengandung substansi tanin kondensasi untuk proteksi protein terhadap
fermentasi rumen (Ali, 2012). Ternak ruminansia tidak dapat menghasilkan enzim
yang digunakan untuk mendegradasi polisakarida dalam dinding sel tanaman,
namun mereka memiliki organisme yang hidup di dalam rumen yaitu bakteri,
jamur dan protozoa yang akan muncul beberapa minggu setelah lahir (Jakober dan
McAllister, 2009).
Faktor utama yang mempengaruhi pertumbuhan dan aktifitas populasi
mikroba rumen adalah temperatur, pH, kapasitas buffer, tekanan osmitik,
kandungan bahan kering dan potensial oksidasi reduksi (Dehority, 2004). Pola
pertumbuhan bakteri dan protozoa rumen dipengaruhi oleh pola fermentasi yang
ditunjukkan oleh proporsi molar VFA dan pH rumen.

2.2. Bakteri
Bakteri merupakan biomassa terbesar di dalam rumen, terdapat sekitar
50% dari total bakteri hidup bebas dalam cairan rumen dan sekitar 30-40%
menempel pada partikel makanan. Beberapa jenis bakteri dari spesies
Micrococcus, Staphylococcus, Streptococcus, Corynebacterium, Lactobacillus,
Fusobacterium dan Propionibacteriun ditemukan menempel pada epitel dinding
rumen, disamping itu terdapat spesies bakteri methanogen yang hidup menempel
pada protozoa (Dehority, 2004).
Bakteri pada rumen dapat memproduksi enzim yang dapat memecah
hijauan sebagai sumber energi baru bagi ternak ruminansia (Das dan Qin, 2012).
Bakteri merupakan biomassa mikroba yang terbesar di dalam rumen, berdasarkan
letaknya dalam rumen, bakteri dapat dikelompokkan menjadi :
a. Bakteri yang bebas dalam cairan rumen (30% dari total bakteri)
b. Bakteri yang menempel pada partikel makanan (70% dari total bakteri)
c. Bakteri yang menempel pada epithel dinding rumen dan bakteri yang
menempel pada protozoa
sedangkan berdasarkan jenis bahan yang digunakan dan hasil fermentasinya,
bakteri dikelompokkan menjadi 8 jenis, yaitu bakteri selulolitik, bakteri
proteolitik, bakteri methanogenik, bakteri amilolitik, bakteri yang memfermentasi
gula, bakteri lipolitik, bakteri pemanfaat asam dan bakteri hemoselulolitik
(Suwandi, 1997).

2.2.1. Bakteri Selulolitik


Bakteri selulolitik menghasilkan ensim selulose dari hidrolisis
ikatan beta 1,4-glikosida (selulosa). Dapat menghidrolisis hemiselulosa
(sekitar 15% dari bakteri selulolitik). Terdapat dalam jumlah banyak di
rumen, jika pakan berserat kasar tinggi. Keuntungannya dari bakteri ini,
energi (ATP) yang dihasilkan cukup untuk digunakan oleh bakteri itu
sendiri sehingga tidak mengurangi pemakaian energi oleh ternak. Beberapa
contoh bakteri selulolitik adalah Bacteriodes succinogenes, Clostridium
acetobutylicum,

Ruminicoccus

flavefaciens,

Ruminicoccus

Cillobacterium cellulosolvens (Anja Meryandini dkk., 2009).

albus,

2.2.2. Bakteri Hemiselulolitik


Hemiselulosa berbeda dengan selulosa terutama dalam kandungan
pentosa gula heksosa serta biasanya asam uronat. Hemiselulosa merupakan
struktur

polisakarida

yang

penting

dalam

dinding

sel

tanaman.

Mikroorganisme yang dapat menghidrolisa selulosa biasanya juga dapat


menghidrolisa hemiselulosa. Meskipun demikian ada beberapa spesies yang
dapat menghidrolisa hemiselulosa tetapi tidak dapat menghidrolisa selulosa.
Beberapa contoh bakteri hemiselulolitik adalah Clostridium cellulovorans
dan Bacteriodes ruminicola (Caribu Hadi Prayitno dan Nur Hidayat, 2011).
2.2.3. Bakteri Amilolitik
Bakteri amilolitik merupakan mikroorganisme yang mampu
memecah pati menjadi senyawa yang lebih sederhana, terutama dalam
bentuk glukosa. Kebanyakan mikroorganisme Amilolitik tumbuh subur
pada bahan pangan yang banyak mengandung pati atau karbohidrat,
misalnya pada berbagai jenis tepung. Kebanyakan jenis mikroorganisme
amilolitik adalah kapang, tetapi beberapa jenis bakteri juga ada, jenis yang
mempunyai spesies bersifat Amilolitik misalnya Clostridium butyricium dan
Bacillus subtilis (I. G. L. O. Cakra dan N. W. Siti, 2008).
2.2.4. Bakteri Proteolitik
Bakteri proteolitik merupakan jenis bakteri yang paling banyak
terdapat pada saluran pencernaan makanan mamalia termasuk karnivora
(carnivora). Didalam rumen, beberapa spesies diketahui menggunakan asam
amino sebagai sumber utama enersi. Beberapa contoh bakteri proteolitik
antara lain:
Bacteroides amylophilus
Clostridium sporogenes
Bacillus licheniformis (Soetanto,1998).

2.2.5. Bakteri Methanogenik


Sekitar 25 persen dari gas yang diproduksi didalam rumen adalah
gas methan. Bakteri pembentuk gas methan lambat pertumbuhannya.
Contoh bakteri ini antara lain:
Methanobacterium ruminantium
Methanobacterium formicium (Khaedar,2010).
2.2.6. Bakteri Lipolitik
Beberapa spesies bakteri menggunakan glycerol dan sedit gula.
sementara itu beberapa spesies lainnya dapat menghidrolisa asam lemak tak
jenuh dan sebagian lagi dapat menetralisir asam lemak rantai panjang
menjadi keton. Enzim lipase bakteria dan protozoa sangat efektif dalam
menghidrolisa lemak dalam chloroplast. Contoh bakteri lipolitik antara lain:
Anaerovibrio lipolytica
Selemonas ruminantium var. lactilytica (Soetanto, 1998).
2.2.7. Bakteri Pemakai Asam (Acid Utilizer Bacteria)
Beberapa jenis bakteri dalam rumen dapat menggunakan asam
laktat meskipun jenis bakteri ini umumnya tidak terdapat dalam jumlah
yang berarti. Jenis lainnya dapat menggunakan asam suksinat, malat dan
fumarat yang merupakan hasil akhir fermentasi oleh bakteri jenis lainnya.
Asam format dan asetat juga digunakan oleh beberapa spesies, meskipun
mungkin bukan sebagai sumber enersi yang utama. Asam oksalat yang
bersifat racun pada mamalia akan dirombak oleh bakteri rumen, sehingga
menyebabkan ternak ruminansia mampu mengkonsumsi tanaman yang
beracun bagi ternak lainnya sebagai bahan makanan. Beberapa spesies
bakteri pemakai asam laktat yang dapat dijumpai dalam jumlah yang banyak
setelah ternak mendapatkan tambahan jumlah makanan butiran maupun pati
dengan tiba-tiba adalah :
Peptostreptococcus bacterium
Propioni bacterium
Selemonas lactilytica (Soetanto, 1998).

2.2.8. Bakteri Pemakai Gula (Sugar Utilizer Bacteria)


Hampir
memfermentasikan

semua

bakteri

disakarida

dan

pemakai

polisakarida

monosakarida.

Tanaman

dapat
muda

mengandung karbohidrat siap terfermentasi dalam konsentrasi yang tinggi


yang segera akan mengalami fermentasi begitu sampai di retikulo-rumen.
Kesemua ini merupakan salah satu kelemahan/kerugian dari sistem
pencernaan ruminansia. Sebenarnya gula akan lebih efisien apabila dapat
dicerna dan diserap langsung di usus halus (Soetanto, 1998).
2.2.9. Bakteri Ureolitik
Sejumlah spesies bakteri rumen menunjukkan aktivitas ureolitik
dengan jalan menghidrolisis urea menjadi CO2 dan amonia. Beberapa jenis
bakteri ureolitik menempel pada epithelium dan menghidrolisa urea yang
masuk ke dalam rumen melalui difusi dari pembuluh darah yang terdapat
pada dinding rumen. Oleh karena itu konsentrasi urea dalam cairan rumen
selalu rendah. Salah satu contoh bakteri ureolitik ini misalnya adalah
Streptococcus sp. Di dalam rumen yang normal biasanya jumlah bakteri ini
mencapai antara 15 80 x 109 isi rumen. Meskipun demikian jumlah ini
mngkin dapat menurun sampai hanya 4 x 109 permililiter pada ternak yang
diberi pakan wheat straw dan pada kondisi padang rumput yang bagus
jumlah ini dapat naik setinggi 88 x 109 permililiter pada domba (Soetanto,
1998).

2.3. Protozoa
Sebagian besar protozoa yang terdapat didalam rumen adalah cilliata
meskipun flagellata juga banyak dijumpai. Cilliata ini merupakan non pathogen
dan anaerobic michroorganism. Pada kondisi rumen yang normal dapat dijumpai
ciliata sebanyak 105 -106/ml isi rumen.
Meskipun telah lama dipelajari, ciliata masih merupakan organisme yang
rumit untuk diidentifikasikan secara tegas, karena organisme ini tidak mempunyai
hubungan sama sekali dengan hewan bersel tunggal lainnya.
Ciliata rumen dari famili Ophryoscolecidae mempunyai struktur yang
sama dengan metazoa seperti: mulut, oesophagus, lambung, rectum, anus dan
bahkan sedikit kerangka dan sistem syaraf. Seperti telah disebutkan dimuka,
taksonomi ciliata rumen masih tidak konsisten. Demikian pula terhadap flagellata,
hanya sedikit yang diketahui tentang taksonominay saat ini. Tidak seperti bakteri
rumen, ciliata dapat diklasifikasikan atas dasar morfologinya karena ukuran
selnya cukup besar yaitu antara 200 - 200 mm. Ciliata rumen dapat dibedakan
menjadi 3 ordo yaitu:
Ordo Prostomatida
Ordo Trichostomatida
Ordo Entodiniomorphida
dari ketiga ordoa tersebut di atas, Ordo Entodiniomorphida adalah yang terbanyak
dijumpai dalam rumen baik dari segi jumlah spesies maupun frekuensi
terdapatnya. Sementara itu dari ordo lainnya hanya terdiri dari beberapa spesies
saja meskipun frekuensi terdapatnya cukup tinggi.
Ordo Entoiniomorphida terbagi kedalam 6 famili, yaitu:
Ophryoscolecidea
Dixtiidae
Cyclophostiidae
Telanodiniidae
Polydiniellidae
Tryglodytellidae
dari keenam famili tersebut hanya Ophryoscolecidae yang ditemukan pada rumen,
sedangkan famili lainnya terdapat pada usus kuda, tapir, gajah, badak, kuda

nil,babi rusa serta orang utan. Oligotrichia yang mempunyai ukuran sel lebih kecil
dan hanya memiliki cilia di sekitar prostoma (mulut) Holotricha yang mempunyai
ukuran sel lebih besar dengan cilia menutup seluruh tubuh. Bakteri selulolitik juga
diketahui hidup secara simbiosis dengan Oligotricha didalam selnya. Spesies
penting dari Oligotricha antara lain:
Diplodinium dentatum
Eudiplodinium bursa
Polypastron multivesiculatum
Entodinium caudatum
Ciri-ciri umum dari Holotricha adalah: pergerakannya yang cepat, bentuk
sel umumnya oval dan terdapat dalam konsentrasi yang tinggi bila makanan
utama. Holotricha dapat menggunakan glukosa, fruktosa, sukrosa dan pektin.
Karbohidrat akan disimpan dalam bentuk amilopektin (salah satu bentuk rantai
panjang pati). Jenis ciliata rumen ini mempunyai peranan penting dalam
metabolisme karbohidrat dengan jalan menelan gula segera setelah masuk ke
rumen dan menyimpannya dalam bentuk amilopektin, yang selanjutnya akan
melepaskan kembali senyawa ini kedalam cairan rumen pada saat populasi
Holotricha mengalami lisis atau pada fase pertumbuhannya. Beberapa spesies
Holotricha yang penting antara lain:
Isotricha intestinalis
Isotricha prostoma
Dasytricha rumiantium
Baik Holotricha maupun Oligotricha secara aktif memangsa bakteri,
bahkan beberapa Holotricha besar juga memangsa Oligotricha kecil. Selain
daripada itu diantara mereka dari suatu jenis/spesies juga terjadi kanibalisme.
Sebagian besar protozoa dengan cepat akan memangsa dan menghidrolisis
bermacam-macam protein dengan menghasilkan amoniak berasal dari kelompok
amida

dan

akan

melepaskan

asam-asam

amino

serta

peptida-peptida.

Dibandingkan dengan bakteri, populasi protozoa rumen sangat bervariasi


besarnya (jumlahnya) dari nol sampai 5 x 106 perml isi rumen. meskipun
demikian pada umumnya jumlah yang terdapat didalam rumen berkisar antara 0,2
- 2,0 x 106 per ml (Soetanto, 1998).

2.4. Fungi/Jamur
Jamur/fungi anaerob sangat berperan penting dalam komunitas mikroba
rumen. Fungi/jamur akan memecah bahan makanan yang sulit dicerna dalam
mikroba rumen, selain itu fungi/jamur sangat berperan dalam degradasi serat yang
terkandung dalam pakan (Kostyukovsky et al, 1995). Fungi/jamur memiliki
kemampuan memecah jaringan tanaman lebih baik daripada protozoa dan bakteri
(Nagpal et al, 2010).
Kebanyakan jamur mampu memfermentasi pati dan glikogen, selain
polisakarida pada dinding sel. Konsentrasi tertinggi jamur dalam rumen akan
menurun melalui abomasum ke usus kecil, namun meningkat dalam usus besar.
Fungi/jamur memiliki pengaruh yang besar pada aktivitas fibrolytic rumen,
berkurangnya jumlah populasi jamur menyebabkan penurunan degradasi serat
pakan, akibatnya konsumsi pakan mengalami penurunan, terutama ketika pakan
memiliki kualitas yang buruk (Mould et al, 2005).
Salah satu contoh fungi dalam rumen antara lain jamur Phycomycotes
anaerob yang pada umumnya terdapat pada sapid an domba yang diberi makanan
berserat tinggi. Jamur ini menempel dan membentuk koloni pada fragmenfragmen pakan dalam rumen. Jamur tersebut tidak terdapat dalam isi rumen
hewan yang diberi daun halus (Prayitno, 2010).
Salah satu ciri khas jamur rumen ini bila dibandingkan dengan jenis jamur
lainnya adalah kebutuhannya akan kondisi absolut anaerobik (strictly anaerobic)
untuk pertumbuhan dan terbentuknya senyawa hidrogen (H) dalam proses
fermentasi selulosa. Siklus kehidupan mikroorganis me ini dilaporkan
berlangsung antara 24 - 30 jam, menandakan bahwa jamur rumen sangat erat
kaitannya dengan material yang sukar dicerna. Sampai dengan saat ini telah
dikenal lebih dari 20 spesies yang berbeda, meskipun sebagian belum mempunyai
nama (Soetanto, 1998).

10

2.5. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Populasi Mikroba Rumen


KeberPadaan populasi mikroba dalam rumen tidak statis jumlahnya,
kadangkala akan meningkat atau menurun. Peningkatan atau penurunan jumlah
mikroba dalam rumen ini dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain :
Suhu normal (39-410C)
Keasaman (pH) normal yaitu 5,5-7,0 pada suhu normal
Komposisi gas dalam rumen (63-63,5% CO2; 26,76-27% CH4; 7% N2 dan
sedikit H2S, H2 dan O2)
Nutrisi pakan
Jenis pakan yang diberikan
Frekuensi pemberian pakan dan tingkat konsumsi ternak
Kompetisi pakan dalam rumen (Soetanto, 1998).

11

BAB III
PEMBAHASAN

3.1. Mikroba Rumen


Mikroba rumen adalah organisme yang hidup dalam rumen ternak
ruminansia (sapi, kerbau, kambing, domba dll) yang berperan penting dalam
pendegradasian polisakarida pada dinding sel tanaman serta serat kasar.
Berdasarkan pendapat Ali (2012), pakan hijauan akan difermentasi oleh mikroba
rumen sebagai sumber energi bagi ternak ruminansia tersebut. Hal senada
diungkapkan oleh Das dan Qin (2012), yang mengatakan bahwa mikroba rumen
dapat memanfaatkan nutrisi pakan secara lebih efisien sebagai sumber energi
ternak. Keberadaan mikroba rumen ini disebabkan karena pada rumen ternak
ruminansia tidak dapat dihasilkan enzim untuk mendegradasi polisakarida dalam
dinding sel tanaman, sehingga keberadaan mikroba rumen sangat berperan
penting di dalamnya. Hal ini merupakan pendapat dari Jakober dan McAllister
(2009), yang juga menyebutkan bahwa 3 jenis mikroba dalam rumen adalah
bakteri, protozoa dan fungi/jamur.
Berdasarkan pendapat Das dan Qin (2012), bakteri pada rumen dapat
memproduksi enzim yang dapat memecah hijauan sebagai sumber energy ternak
ruminansia. Hal ini menyebabkan jumlah bakteri sangat banyak dan merupakan
yang paling banyak dibandingkan dengan jumlah protozoa atau fungi/jamur.
Dalam rumen, bakteri yang hidup tidak hanya 1 jenis, melainkan terbagi menjadi
jenis-jenis berbeda yang diklasifikasikan berdasarkan letaknya dalam rumen dan
berdasarkan jenis bahan yang digunakan dan hasil fermentasinya.
Seperti yang diketahui bahwa aktivitas enzim dipengaruhi oleh pH, karena
sifat ionic gugus karboksil dan gugus amino mudah dipengaruhi oleh pH.
Perubahan pH atau pH yang tidak sesuai akan menyebabkan daerah katalitik dan
konformasi enzim berubah. Selain itu perubahan pH juga menyebabkan denaturasi
enzim dan mengakibatkan hilangnya aktivitas enzim. Isolat-isolat yang
dikarakterisasi menunjukkan keragaman pH optimum.

12

3.2. Bakteri yang Terkandung di dalam Rumen


Salah satu contoh bakteri selulolitik yang memiliki pH optimum ekstrem
asam ialah Clostridium acetobutylicum dengan pH optimum 4.6. Kisaran pH
untuk selulase tergolong luas, Bacillus sp. galur N-4 menghasilkan selulase yang
aktif pada rentang pH 5 10. Aviselase yang merupakan salah satu enzim dari
sistem enzim selulase memiliki pH optimum 4.5 dan 5 dengan rentang pH 4 9.
Cillobacterium cellulosolvens cenderung optimum pada pH asam yaitu pada
rentang 4 - 6.5.
Setiap bakteri selulolitik menghasilkan kompleks enzim selulase yang
berbeda-beda, tergantung dari gen yang dimiliki dan sumber karbon yang
digunakan. Jika media tumbuhnya pada glukosa telah habis, maka bakteri akan
memanfaatkan sumber karbon selulosa dengan mensintesis enzim selulase.
Aktivitas enzim selulase meningkat seiring dengan pertumbuhan selnya. Namun
ketika sel mencapai fase stasioner, aktivitas enzim selulase menurun. Pada fase
stasioner kecepatan pembelahan sel sama dengan kecepatan kematian sel dan lisis
sel sehingga pada fase ini selain enzim selulase, enzim protease juga dihasilkan.
Hal ini menyebabkan turunnya aktivitas enzim selulase. Waktu optimum produksi
enzim digunakan sebagai waktu panen enzim untuk mendegradasi substrat pakan
seperti jerami padi dan tongkol jagung.
Hemiselulosa maupun lignin akan mengganggu aktivitas enzim selulase
yang hanya spesifik memotong ikatan -1,4-glikosidik pada selulosa. Oleh sebab
itu untuk meningkatkan luas permukaan substrat maka jerami padi, tongkol
jagung dan kulit pisang diperkecil ukurannya sampai 65 mesh. Pengocokan pada
saat inkubasi substrat-enzim juga memperbesar kontak antara enzim selulase dan
komponen selulosa sehingga dapat meningkatkan aktivitas enzim selulase. Secara
umum aktivitas enzim selulase tiap isolat lebih tinggi pada substrat limbah
pertanian dibandingkan pada substrat selulosa murni. Kemungkinan hal ini
disebabkan oleh adanya enzim hemiselulolitik pada enzim ekstrak kasar yang
diproduksi oleh bakteri. Bakteri Clostridium cellulovorans mensintesis enzim
hemiselulolitik (xylA) saat tumbuh pada substrat selulosa seperti selobiosa (24).
(24) juga menyatakan ekspresi enzim selulase berhubungan dengan ekspresi
enzim hemiselulase.

13

Amilum adalah senyawa yang memiliki berat molekul tinggi, terdiri atas
polimer glukosa yang bercabang-cabang yang diikat dengan ikatan glikosidik.
Degradasi

amilum

membutuhkanenzim

amilase

yang

akan

memecah/menghidrolisis menjadi polisakarida yang lebih pendek (dextrin), dan


selanjutnya menjadi maltosa. Hidrolisis akhir maltosa menghasilkan glukosa
terlarut yang dapat ditransport masuk ke dalam sel. Amilolitik merupakan
aktivitas bakteri dalam merombak pati dengan bantuan enzim amilase. Enzim
amilase adalah enzim yang mampu menghidrolisis pati menjadi senyawa lebih
sederhana seperti maltosa dan glukosa. Enzim ini banyak digunakan untuk
keperluan industri. Enzim ini dapat memecah atau menghidrolisa pati, glikogen
dan turunan polisakarida dengan cara memecah ikatan glikosidik pati. Enzim
amilase dibedakan menjadi 3 grup yaitu -amilase yang disebut juga endoamilase,
-amilase yang disebut juga eksoamilase, dan glukoaminase.
Seperti yang kita ketahui bahwa bakteri proteolitik mempunyai
kemampuan untuk memecah protein, asam amino dan peptida lain menjadi
amonia. Bakteri yang tergolong proteolitik adalah bakteri yang memproduksi
enzim proteinase ekstraseluler, yaitu enzim pemecah protein yang diproduksi di
dalam sel kemudian dilepaskan keluar dari sel. Semua bakteri mempunyai enzim
proteinase di dalam sel, tetapi tidak semua mempunyai enzim proteinase
ekstraseluler. Hal ini sesuai dengan Soetanto (2007) yang menyatakan bahwa
bakteri proteolitik merupakan jenis bakteri yang paling banyak terdapat pada
saluran pencernaan makanan mamalia termasuk karnivora (carnivora). Didalam
rumen, beberapa spesies diketahui menggunakan asam amino sebagai sumber
utama enersi. Beberapa contoh bakteri proteolitik antara lain: Bacteroides
amylophilus, Clostridium sporogenes, Bacillus licheniformis. Dari perbandinga
studi literature tersebut bakteri proteolitik merupakan bakteri yang dapat memecah
protein, asam amino, dan peptide lain menjadi amonia dan digunakan sebagai
sumber utama energy.
Bakteri lain yang terdapat pada rumen yaitu bakteri methanogenik, bakteri
ini dapat mengkatabolisasi alkohol dan asam organik menjadi methan dan
karbondioksida. Bakteri ini berguna karena seperti yang kita ketahui rumen juga
menghasilkan gas methan. Namun menurut Khaedar (2010) bakteri pembentuk

14

gas methan lambat pertumbuhannya, studi literature inijuga menambahkan bahwa


contoh dari bakteri methanogenik adalah Methanobacterium ruminantium dan
Methanobacterium formicium.
Sedangkan Kelompok lain dari bakteri yang terdapat pada rumen yaitu
bakteri lipolitik yang memproduksi lipase, yaitu enzim yang mengkatalis
hidrolisis lemak menjadi asam-asam lemak dan gliserol. Banyak bakteri yang
bersifat aerobik dan proteolitik aktif juga bersifat lipolitik. Hal ini sesuai dengan
Soetanto (2007) yang menyatakan bahwa Beberapa spesies bakteri menggunakan
glycerol dan sedit gula. sementara itu beberapa spesies lainnya dapat
menghidrolisa asam lemak tak jenuh dan sebagian lagi dapat menetralisir asam
lemak rantai panjang menjadi keton. Enzim lipase bakteria dan protozoa sangat
efektif dalam menghidrolisa lemak dalam chloroplast. Contoh bakteri lipolitik
antara lain: Anaerovibrio lipolytica dan Selemonas ruminantium var. lactilytica.
Acid Utilizer Bacteria, Sugar Utilizer Bacteria, dan Bakteri Ureolitik
termasuk bakteri yang terdapat dalam rumen. Acid Utilizer Bacteria atau disebut
juga dengan baktri pemakai asam ini dapat menggunakan asam asam organic
sebagai pakannya yaitu asam laktat,asam succinat, asam malat, asam fumarat dan
asam oxalat. Asam oxalat mempunyai sifat toxic, sehingga bakteri rumen
mempunyai tugas untuk merombak atau mendekomposisi. Contoh spesies bakteri
yang ternasuk dalam acid utilize bacteria ini adalah Selenomonas lactilytica,
Propioni bacterium dan Pepto stteptococcus. Hal ini sesuai literatur Hendrawan
(1998) yang menjelaskan bahwa beberapa jenis bakteri dalam rumen dapat
menggunakan asam laktat meskipun jenis bakteri ini umumnya tidak terdapat
dalam jumlah yang berarti. Jenis lainnya dapat menggunakan asam suksinat, malat
dan fumarat yang merupakan hasil akhir fermentasi oleh bakteri jenis lainnya.
Asam format dan asetat juga digunakan oleh beberapa spesies, meskipun mungkin
bukan sebagai sumber enersi yang utama. Asam oksalat yang bersifat racun pada
mamalia akan dirombak oleh bakteri rumen.
Sugar Utilizer Bacteria atau juga di kenal sebagai bakteri pemakai gula
merupakan bakteri pemecah polisakarida dan dapat memecah disakarida dan
monosakarida. Gula akan lebih efisien apabila dapat dicerna dan diserap langsung
di usus halus. Bakteri pemakai gula yang terdapat di dalam rumen antara

15

lain: Treponemma bryantii, Lactobacillus ruminus. Selain bakteri pemakai asam


dan bakteri pemakai gula, juga terdapat bakteri ureolitik. Bakteri ini berfungsi
menghidrolisis urea menjadi CO2 dan ammonia. Contoh spesies bakteri ini adalah
Streptococcus sp. Hal ini sesuai dengan literature Hendrawan (1998) yang
menyatakan bahwa sejumlah spesies bakteri rumen menunjukkan aktivitas
ureolitik dengan jalan menghidrolisis urea menjadi CO2 dan amonia. Salah satu
contoh bakteri ureolitik ini misalnya adalah Streptococcus sp. Di dalam rumen
yang normal biasanya jumlah bakteri ini mencapai antara 15 80 x 109 isi rumen.

3.3. Protozoa yang Terkandung di dalam Rumen


Sebagian besar protozoa yang terdapat didalam rumen adalah cilliata
meskipun flagellata juga banyak dijumpai. Cilliata ini merupakan non pathogen
dan anaerobic michroorganism. Pada kondisi rumen yang normal dapat dijumpai
ciliata sebanyak 105 -106 perml isi rumen. Sejak pertama kali ditemukan telah
banyak dilakukan penelitian tentang taksonomi, fisiologi dan nutrisi cilliata.
Seperti halnya bakteri, cilliata juga mampu memfermentasi hampir seluruh
komponen tanaman yang terdapat didalam rumen seperti: selulosa, hemiselulosa,
fruktosan, pektin, pati, gula terlarut dan lemak.
Ciliata diduga mempunyai peranan sebagai sumeber protein dengan
keseimbangan kandungan asam amino yang lebih baik dibandingkan dengan
bakteri sebagai makanan ternak ruminansia. Selain itu ciliata/protozoa juga
menelan partikel-partikel pati sehingga memperlambat terjadinya fermentasi.
Sepanjang hanya spesies tertentu dari ciliata ini yang mampu mencerna selulosa
dengan hasil akhir berupa asam lemak terbang (VFA).
Ciliata rumen dari famili Ophryoscolecidae mempunyai struktur yanga
sama dengan metazoa seperti: mulut, oesophagus, lambung, rectum, anus dan
bahkan sedikit kerangka dan sistem syaraf. Taksonomi ciliata rumen masih tidak
konsisten. Demikian pula terhadap flagellata, hanya sedikit yang diketahui tentang
taksonominay saat ini. Tidak seperti bakteri rumen, ciliata dapat diklasifikasikan
atas dasar morfolginya karena ukuran selnya cukup besar yaitu antara 200 - 200
mm.

16

Ciliata rumen dapat dibedakan menjadi 3 ordo yaitu:


Ordo Prostomatida
Ordo Trichostomatida
Ordo Entodiniomorphida
dari ketiga ordoa tersebut di atas, Ordo Entodiniomorphida adalah yang terbanyak
dijumpai dalam rumen baik dari segi jumlah spesies maupun frekuensi
terdapatnya. sementara itu dari ordo lainnya hanya terdiri dari beberapa spesies
saja meskipun frekuensi terdapatnya cukup tinggi.
Ordo Entoiniomorphida terbagi kedalam 6 famili, yaitu:
Ophryoscolecidea
Dixtiidae
Cyclophostiidae
Telanodiniidae
Polydiniellidae
Tryglodytellidae
dari keenam famili tersebut hanya Ophryoscolecidae yang ditemukan pada rumen,
sedangkan famili lainnya terdapat pada usus kuda, tapir, gajah, badak, kuda
nil,babi rusa serta orang utan. Oligotrichia yang mempunyai ukuran sel lebih kecil
dan hanya memiliki cilia di sekitar prostoma (mulut) Holotricha yang mempunyai
ukuran sel lebih besar dengan cilia menutup seluruh tubuh.
Jenis ini hanya sedikit sekali menggunakan gula terlarut sebagai
makananannya, akan tetapi butir-butir pati akan menjadi sasaran utama untuk
dimangsanya. Beberapa spesies juga memangsa amilopektin dari Holotricha
disamping ada pula yang secara aktif menelan serat kasar tanaman dan mencerna
selulosa. Akan tetapi hasil penelitian terakhir meragukan kemampuan protozoa
rumen untuk dapat mencerna selulosa. Pencernaan selulosa dapat dilakukan
karena protozoa memangsa bakteri dan bakteri inilah yang akan menghasilkan
enzim selulase didalam tubuh protozoa sehingga selulosa yang dimangsa dapat
dicerna. Bakteri selulolitik juga diketahui hidup secara simbiosis dengan
Oligotricha didalam selnya.

17

2Spesies penting dari Oligotricha antaralain:


Diplodinium dentatum
Eudiplodinium bursa
Polypastron multivesiculatum
Entodinium caudatum

Gambar 1. Ragam spesies Oligotricha

Ciri-ciri umum dari Holotricha adalah: pergerakannya yang cepat, bentuk


sel umumnya oval dan terdapat dalam konsentrasi yang tinggi bila makanan
utama. Holotricha dapat menggunakan glukosa, fruktosa, sukrosa dan pektin.
Karbohidrat akan disimpan dalam bentuk amilopektin (salah satu bentuk rantai
panjang pati). Jenis ciliata rumen ini mempunyai peranan penting dalam
metabolisme karbohidrat dengan jalan menelan gula segera setelah masuk ke
rumen dan menyimpannya dalam bentuk amilopektin, yang selanjutnya akan
melepaskan kembali senyawa ini kedalam cairan rumen pada saat populasi
Holotricha mengalami lisis atau pada fase pertumbuhannya.
Mekanisme ini mempunyai pengaruh positif terhadap tersedianya
karbohidrat dapat terfermentasi (fermentable carbohydrate) bagi bakteri rumen,
terutama apabila tidak terdapat lagi karbohidrat dalam makanan misalnya pada
saat ternak beristirahat. Meskipun demikian apabila didalam rumen terdapat
kandungan gula yang terlarut sangat tinggi, kelompok Holotricha akan terus

18

memangsa senyawa tersebut hingga pada saat sel ciliata pecah karena tidak
terdapatnya kontrol mekanisme pembatas konsumsi. Beberapa spesies Holotricha
yang penting antara lain:
Isotricha intestinalis
Isotricha prostoma
Dasytricha rumiantium

Gambar 2. Ragam Spesies Holotricha

Baik Holotricha maupun Oligotricha secara aktif memangsa bakteri,


bahkan beberapa Holotricha besar juga memangsa Oligotricha kecil. Selain
daripada itu diantara mereka dari suatu jenis/spesies juga terjadi kanibalisme.
Sebagian besar protozoa dengan cepat akan memangsa dan menghidrolisis
bermacam-macam protein dengan menghasilkan amoniak berasal dari kelompok
amida dan akan melepaskan asam-asam amino serta peptida-peptida.
Dibandingkan dengan bakteri, populasi protozoa rumen sangat bervariasi
besarnya (jumlahnya) dari nol sampai 5 x 106 perml isi rumen. meskipun
demikian pada umumnya jumlah yang terdapat didalam rumen berkisar antara 0,2
- 2,0 x 106 perml.

19

3.4. Jamur (Fungi) yang Terkandung di dalam Rumen


Fungi/jamur adalah jenis mikroba rumen yang paling sedikit populasinya.
Namun, berdasarkan literatur kemampuan fungi mendegradasi polisakarida pada
dinding sel tanaman merupakan yang terbaik dibandingkan dengan bakteri dan
protozoa. Salah satu jenis jamur yang paling banyak ditemukan dalam mikroba
rumen adalah jamur Phycomycotes. Namun, jumlah fungi/jamur sangat
berbanding terbalik dengan bakteri karena menurut penelitian bahwa interaksi
antar-mikroba
mikroba dalam rumen dapat merugikan ternak inang. Hal ini karena semakin
banyak jumlah mikroba dalam rumen, maka semakin banyak pula kebutuhan
konsumsi pakan dan serat kasar yang harus dipenuhi.
Table 1. Jenis-jenis fungi dalam rumen

Keberadaan mikroba rumen ini dipengaruhi beberapa faktor, salah satunya


adalah suhu,, keasaman rumen, tingkat konsumsi pakan, nutrisi pakan, jumlah
pemberian pakan dll.

20

BAB IV
PENUTUP

4.1. Kesimpulan
Mikroba dalam rumen yang paling banyak jumlahnya diklasifikasikan
menjadi 3, yaitu : bakteri, protozoa dan fungi/jamur. Dengan jumlah bakteri
merupakan yang paling banyak dan fungi/jamur merupakan yang paling
sedikit.
Interaksi yang terjadi antar mikroba rumen dapat merugikan ternak inang
karena sangat berpengaruh dengan nutrisi pakan dan tingkat konsumsi pakan
pada ternak inang.
Faktor-faktor yang mempengaruhi keberadaan mikroba rumen adalah
suhu, keasaman rumen, tingkat konsumsi pakan, nutrisi pakan, jumlah
pemberian pakan dll.

4.2. Saran
Perlu adanya tinjauan atau penelitian lagi terhadap jenis mikroba rumen
yang mampu meningkatkan daya cerna dan memberikan good performance pada
ternak.

21

DAFTAR PUSTAKA

Ali, Usman. 2012. Pengaruh Penggunaan Onggok Dan Isi Rumen Sapi Dalam
Pakan Komplit Terhadap Penampilan Kambing Peranakan Etawah.
Fakultas Peternakan Universitas Islam Malang.
Cakra, I. G. L. O. dan Siti, N. W. 2008. Koefisien Cerna Bahan Kering dan
Nutrien Ransum Kambing Peranakan Etawah Yang Diberi Hijauan
Dengan Suplementasi Konsentrat Molamik. Majalah Ilmiah Peternakan
11(1): 12-17.
Das, Khrusna Chandra dan Wensheng Qin. 2012. Isolation and characterization
of superior rumen bacteria of cattle (Bos taurus) and potential application
in animal feedstuff. Open Journal of Animal Sciences Vol.2, No.4, 224228 (2012)
Dehority, B.A. 2004. Rumen Microbiology. Nottingham University Press,
Nottingham.
Jakober, M. Qi, K. D. dan T.A. McAllister. 2009. Rumen Microbiology. Animal
and Plant Productivity Lethbridge Research Centre Canada
Khaedar,
Rezaei.
2010.
Mikroba
Rumen
dan
Peranannya.
http://www.repository.ipb.ac.id
Kostyukovsky, Vladimir et al. 1995. Degradation of Hay by Rumen Fungi in
Artificial Rumen (RUSITEC). J. Gen. Appl. Microbial., 41, 83-86
McDonald, P., R. Edwards and J. Greenhalgh. 2002. Animal Nutrition. 6th
Edition. New York.
Meryandini, A., dkk. 2009. Isolasi Bakteri Selulolitik dan Karakteristik Enzimnya.
MAKARA SAINS 13(1):32-38.
Mould, F.L. et al. 2005. In Vitro Microbial Inoculum : A review of its function
and properties. Animal Feed Science and Technology 123-124 (2005) 3150
Nagpal, Ravinder et al. 2010. Influence of Bacteria and Protozoa from the rumen
of buffalo on in-vitro activities of anaerobic fungus Caecomyces sp.
isolated from the feces of elephant. Journal of Yeast and Fungal Research
Vol.1 (8), pp. 152-156
Prayitno, C. H. dan Hidayat, N. 2011. Aktivitas Selulolitik dan Produk Asam
Lemak Volatile dari Bakteri Rumen Sapi pada Substrat Jerami Padi. J.
Anim. Prod. 1(1): 1-9.
Soetanto, Hendrawan. 1998. Bahan
Kuliah
Nutrisi Ruminansia
http://images.hendrawansoetanto.multiply.multiplycontent.com. Diakses
tanggal 25 November 2012.

22

Suwandi. 1997. Peranan Mikroba Rumen Pada Ternak Ruminansia. Lokakarya


Fungsional Non-Peneliti 1997
Schlegel, H.G. 1994. Mikrobiologi Umum. Penerjemah: T. Baskoro. Gadjah
Mada University Press, Yogyakarta.