Anda di halaman 1dari 35

BAB IV

HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN

Kerja praktek pada PT. Natarang Mining dilakukan pada site Talang
Santo pada bulan September dan Oktober 2014.

Laporan kerja praktek ini

membahas tentang kegiatan survey tambang bawah tanah dan geoteknik


tambang bawah tanah. Kegiatan geoteknik meliputi klasifikasi massa batuan
berdasarkan metode RMR dan Q system, pemetaan kekar dengan metode
scanline, pengolahan data geoteknik dan monitoring tambang bawah tanah.
Sedangkan kegiatan survey tambang bawah tanah meliputi pengukuran
kemajuan tambang, drill and blast survey, land subsidence surveying dan
perhitungan volume broken ore tertambang dan waste terbongkar dengan
software Surpac 6.2.
4.1. Geoteknik Tambang Bawah Tanah
Geoteknik adalah salah satu dari banyak alat dalam perencanaan atau
design tambang. Data geoteknik harus digunakan secara benar dengan
kewaspadaan dan dengan asumsi-asumsi serta batasan-batasan yang ada untuk
dapat mencapai hasil seperti yang diinginkan.
4.1.1. Peralatan Geoteknik
Adapun peralatan yang dibawa oleh tim geoteknik dalam pengambilan
data di lapangan yaitu kompas geologi, palu geologi, laser distance meter,
meteran, Schmidth Hammer dan geotechnical mapping form. Fungsi dari
peralatan tersebut akan dijelaskan dibawah ini dan gambar merupakan hasil
dokumentasi di lapangan.
1. Kompas Geologi, berfungsi untuk mengukur dip dan dip direction pada suatu
struktur batuan seperti perlapisan dan kekar serta arah heading. Kompas
yang dipakai oleh tim geoteknik PT. Natarang Mining yaitu Brunton 5008.

4-1

Gambar 4.1
Kompas Geologi Brunton 5008
2. Palu Geologi, digunakan sebagai alat untuk memeriksa kekerasan batuan
dan untuk memeriksa jenis dari batuan tersebut. Palu yang digunakan oleh
tim geoteknik yaitu

type pick point yang memiliki ujung runcing, biasa

digunakan untuk tipe batuan keras atau padat (masif) seperti batuan beku
dan batuan metamorf.

Gambar 4.2
Palu Geologi

3. Laser Distance Meter, merupakan alat ukur digital yang digunakan untuk
mengukur jarak suatu titik ke objek lain. Penggunaan laser distance meter
bertujuan untuk mempermudah tim geoteknik dalam pengukuran jarak dari
wall station menuju heading.

4-2

Gambar. 4.3
Leica Disto A5

4. Meteran, digunakan sebagai alat untuk mengukur struktur batuan dan lebar
lubang bukaan stope. Meteran juga digunakan dalam pengukuran jarak
antara kedua permukaan bidang kekar dan material pengisinya.

Gambar 4.4
Meteran

5. Schmidt Hammer, perangkat untuk mengukur kuat tekan kekuatan batuan di


lapangan terutama permukaan kekerasan dan ketahanan penetrasi. Metode
pengujian dengan Schmidt Hammer dilakukan dengan memberikan beban
intact (tumbukan) pada permukaan beton dengan menggunakan suatu
massa yang diaktifkan dengan menggunakan energi yang besarnya tertentu.
Jarak pantulan yang timbul dari massa tersebut pada saat terjadi tumbukan
dengan permukaan beton benda uji dapat memberikan indikasi kekerasan
4-3

batuan. Karena kesederhanaannya, pengujian dengan menggunakan alat ini


sangat cepat, sehingga dapat mencakup area pengujian yang luas dalam
waktu yang singkat.

Gambar 4.5
Schmidt Hammer

6. Geotechnical mapping form, digunakan untuk mencatat hasil dari klasifikasi


massa

batuan. Dalam form ini terdapat beberapa parameter klasifikasi

massa batuan seperti Q system yang meliputi Rock Quality Designation,


Joint number, Joint roughness, Joint alteration, Joint water reduction factor
dan Stress Reduction Factor. Pada metode RMR tedapat parameter IRS
(Intact Rock Strength), Rock Quality Designation, Joint

Spacing, Joint

Persistence, Joint Aperture, Joint Roughness, Infilling Material, Joint


Weathering,Ground Water dan Joint Orientation. Dalam form ini, disertakan
juga gambar heading yang bertujuan untuk mempermudah tim geoteknik
dalam membuat sketsa orientasi kekar yang paling dominan.

4-4

Gambar 4.6
Geotechnical Form Mapping
4-5

4.1.2. Pengambilan Data


Dalam pengamatan ini digunakan metode
pengambilan data.

Metode ini dapat

scanline sampling

untuk

digunakan untuk mengetahui orientasi

bidang diskontinuitas pada permukaan yang dianggap mewakili orientasi bidang


diskontinuitas batuan secara keseluruhan sekaligus klasifikasi massa batuan
pada lokasi pengamatan.
Secara sistematik, teknik pengambilan data dalam pegamatan ini meliputi :

Pengukuran jarak, dip dan dip direction bidang diskontinuitas

Penentuan Joint Condition.

Penentuan tingkat kekasaran dari bidang diskontinuitas

Penentuan material pengisi bidang diskontinuitas

Penentuan tipe joint, panjang joint dan kondisi umum kelembaban air pada
terowongan.
Pengambilan data struktur bidang lemah dilakukan di lokasi L3-2W- SPV-

W dengan panjang bentangan yaitu 6.3m, struktur bidang kekar yang diukur
berupa dip dan dip direction (lihat gambar 4.8 dan 4.9). Dip adalah derajat yang
dibentuk antara bidang planar dan bidang horizontal yang arahnya tegak lurus
dari garis strike. Bidang planar ialah bidang yang relatif lurus, contohnya ialah
bidang perlapisan, bidang kekar, bidang sesar, dll. Dip direction adalah arah
tegak lurus jurus yang sesuai dengan arah miringnya bidang yang bersangkutan
dan diukur dari arah utara.

Gambar 4.7
Definisi Strike, Dip dan Dip Direction
(Support of Underground Excavations in Hard Rock, E. Hoek, P.K. Kaiser
and W.F. Bawden, 2000)

4-6

Gambar 4.8
Sketsa Pengukuran Bidang Diskontinuiti dengan Metode Scanline
(Kramadibrata, 1996)
Dari 2 lokasi pengamatan dan pengukuran, didapatkan data sebagai berikut:

Kode lokasi

: L3-2W- SPV-W

Arah garis pengukuran

: N150oE

Panjang scanline

: 6 meter

Pada lokasi L3-2W- SPV-W ditemukan joint dengan jumlah 36 dengan jarak
rentangan 6.5 meter.

Kode lokasi

: L3 SPV-2W-W50

Arah garis pengukuran

: N50oE

Panjang scanline

: 2 meter

Pada lokasi L3-2W- SPV-W ditemukan joint dengan jumlah 13 dengan jarak
rentangan 2 meter.
Diskontinuitas yang berupa rekahan dan beberapa dengan material pengisi
(gouge) yang melewati garis pengamatan yang akan diambil datanya, dan
setelah melakukan pengumpulan data diskontinuitas dengan metode scanline
sampling, maka langkah selanjutnya adalah melihat penyebaran orientasi bidang
diskontinuitas pada bidang stereonet. Tujuan pengeplotan orientasi bidang
diskontinuitas pada stereonet adalah untuk mendapatkan arah umum dari
orientasinya dengan menggunakan bantuan perangkat lunak Stereonet dan Dips.
Data hasil dari scanline berupa orientasi kekar dapat dilihat pada subbab 4.1.3.
Dalam menggunakan klasifikasi massa batuan, sangat disarankan untuk
menggunakan lebih satu metode klasifikasi, agar dapat digunakan sebagai
pembanding atas hasil yang diperoleh dari tiap metode. Sistem klasifikasi yang
4-7

paling banyak digunakan di tambang bawah tanah adalah Rock Mass Rating
(RMR) system, dan Rock Tunneling Quality Index (Q system).
1. Rock Mass Rating (RMR)
Metode Rock Mass Rating (RMR) dari Bieniawski (1989) merupakan
sistem klasifikasi massa batuan yang diaplikasikan baik pada perencanaan
tambang bawah tanah maupun perencanaan tambang terbuka serta
bangunan terowongan sipil. Ada enam parameter yang diperhitungkan dalam
sistem pengkelasan RMR, yaitu:
a. Kuat tekan batuan utuh (Strength of intact rock material/ IRS)
b. Rock Quality Designation (RQD).
c. Jarak antar spasi kekar (Spacing of discontinuities/ Js)
d. Kondisi kekar (Condition of discontinuities)
e. Kondisi air tanah (Groundwater conditions/ GW).
f.

Orientasi kekar (Joint orientation/ Jo)


Keenam

faktor

mendapatkan total

tersebut
nilai

memiliki

(Rating).

nilai

Gambar

yang
4.9

dijumlahkan

untuk

merupakan kegiatan

pengamatan kondisi batuan dan kondisi kekar dengan menggunakan


pembobotan massa batuan (RMR).

Gambar 4.9
Kegiatan Klasifikasi Massa Batuan
Pada penggunaan sistem RMR, massa batuan dibagi ke dalam jenis
batuan yang memiliki kesamaan sifat berdasarkan 6 parameter di atas. Batas
dari jenis batuan tersebut biasanya disesuaikan dengan kenampakan
perubahan struktur geologi seperti patahan, perubahan kerapatan kekar, dan
perubahan jenis batuan.
4-8

Adapun data hasil pengamatan parameter RMR di lapangan, yaitu:


a. Parameter kekuatan batuan
Pengamatan pada lokasi L3 SPV-2W-W50 dan L3-2W- SPV-W didapat
jenis batuan Vein Breccia Weak Clay, dengan uji Point Load Strength
Index pada laboratorium sebesar 1.23 Mpa.
b. Rock Quality Designation (RQD).

RQD pada lokasi L3-2W- SPV-W adalah


%

= 55%

RQD pada lokasi L3 SPV-2W-W50 adalah


%

= 15 %

c. Jarak antar spasi kekar (Joint Spacing /Js)

Lokasi L3-2W- SPV-W adalah 60-200 mm

Lokasi L3 SPV-2W-W50 adalah <20 mm

d. Kondisi Kekar
Joint Roughness (Jr)

Pada kedua lokasi permukaan bidang diskontinu terasa halus dan


rata.

Joint Separation (Aperture/ Jap)

Jarak rata-rata antar permukaan diskontinu pada pengamatan di


kedua lokasi adalah 1-5 mm

Discontinuity length (persistence)

Panjang rata-rata bidang dikontinu pada lokasi L3-2W- SPV-W adalah


1-4 m.

Panjang rata-rata bidang dikontinu pada lokasi L3 SPV-2W-W50


adalah 4 m.

Infilling (Gouge)

Pada kedua lokasi terlihat bahwa material pengisi pada bidang kekar
didominasi oleh clay dengan tebal 3 mm.

Joint Weathering

Pada kedua lokasi terlihat pelapukan sedang yaitu dengan ciri ciri
adanya tanda kehitaman yang nampak pada permukaan batuan,
sebagian material batuan terdekomposisi dan terlihat tekstur

asli

batuan yang utuh namun mulai menujukkan butiran batuan mulai


terdekomposisi menjadi tanah.
4-9

e. Ground Water Condition


Pada pengamatan, terlihat bahwa air menetes dari atap dan kondisi
basah di sepanjang dinding terowongan.
f.

Joint Orientation
Pada kedua

lokasi , orientasi kekar menunjukkan bahwa jurus kekar

searah dengan sumbu terowongan dengan dip 45 o.-90o.


2. Rock Tunneling Quality Index (Q system).
Dalam klasifikasi massa batuan dengan Q System, tim geoteknik
melakukan pemeriksaan 6 parameter yang dipakai untuk mendapatkan nilai
Q, parameter tersebut adalah:
a. Rock Quality Designation (RQD).
b. Jumlah pasangan kekar (Joint set number/ Jn )
c. Tingkat Kekasaran Permukaan Kekar (Joint roughness number/ Jr)
d. Joint alteration number (Ja)
e. Kondisi Air Tanah (Joint water reduction factor/ Jw)
f.

Stress Reduction Factor (SRF)


Parameter Jn, Jr dan Ja memiliki peranan yang lebih penting

dibandingkan pengaruh orientasi bidang diskontinu. Oleh karena itu dalam Qsystem tidak terdapat parameter adjustment terhadap orientasi bidang
diskontinu.

Nilai

yang

didapat

dihubungkan

dengan

kebutuhan

penyanggaan terowongan dengan menetapkan dimensi ekivalen (equivalent


dimension) dari galian. Dimensi ekivalen merupakan fungsi dari ukuran dan
kegunaan dari galian, didapat dengan membagi span, diameter atau tinggi
dinding galian dengan harga yang disebut Excavation Support Ratio (ESR).
Gambar 4.10 menunjukkan kegiatan pengukuran lebar lubang bukaan
(span) yang bertujuan untuk mengetahui Dimensi equipvalent. Dimensi
equipvalent merupakan fungsi dari ukuran dan kegunaan dari galian, didapat
dengan membagi span, diameter atau tinggi dinding galian.

4-10

Gambar 4.10
Pengukuran Lebar Span
Gambar 4.11 merupakan kegiatan pengukuran dip dan dip direction pada
bidang diskontinu di lokasi L3-2W- SPV-W.

Gambar 4.11
Pengukuran Dip dan Dip Direction pada
Bidang diskontinu
Adapun data hasil pengamatan parameter Q System di lapangan, yaitu
a. Rock Quality Designation (RQD).

RQD pada lokasi L3-2W- SPV-W adalah


%

= 55%

RQD pada lokasi L3 SPV-2W-W50 adalah


%

= 15 %

4-11

b. Joint Set Number


Pada kedua lokasi ditemukan adanya lebih dari 4 pasang kekar dengan
struktur bidang yang berbeda.
c. Joint Roughness
Pada kedua lokasi permukaan bidang diskontinu terasa halus dan rata
dan kekar terisi dengan material weak clay dengan tebal rata-rata 3 mm.
d. Joint Alteration
Pada pengamatan di kedua lokasi, terdapat beberapa kekar yang telah
mengalami perubahan (ter-alterasi) dan tercampur dengan clay. Melihat
teksur batuan tersebut, mineral yang teralterasi kuat cenderung
kehilangan tekstur aslinya, misal sudah tidak granular lagi dsb, tetapi
pada

batuan

alterasi

sedang

hingga

lemah

masih

menyisakan

kenampakan tekstur asli batuan.


e. Stress Reduction Factor
Di dalam lokasi pengamatan, terdapat satu zona geser batuan yang terisi
oleh clay
3. Monitoring kondisi tambang bawah tanah
Pada kondisi ini ahli geotek berperan dalam pengawasan kondisi
tambang bawah tanah dan infrastruktur yang ada, sebagai contoh
pengawasan pergerakan lubang bukaan, zona-zona potensi ambruk di areal
tambang bawah tanah akibat proses penambangan, langkah apa saja yang
harus dilakukan untuk mengantisipasi ambrukan seperti mengevakuasi alat,
melakukan penambahan penyanggaan, melakukan penguatan. Disini ahli
geotek bekerjasama dengan tim

safety dalam pengawasan operasional

tambang dan bias merekomendasikan penghentian operasional tambang


bawah tanah jika membahayakan keselamatan manusia dan alat.
Monitoring tegangan pada terowongan merupakan masalah yang sangat
pentingnya dengan pemantauan hal-hal kecil seperti ventilasi atau drainase.
Dalam monitoring tegangan yang terjadi pada lubang bukaan ada tiga
pertimbangan yang perlu dipertimbangkan yaitu :

Pertimbangan besar geometri lubang bukaan, karena semakin besar


geometri lubang bukaan maka tegangan yang diterima akan semakin
besar juga.

Pertimbangan besar kecilnya pilar yaitu jenis penyangayang akan


diberikan sesuai dengan kelas dan jenis batuan.
4-12

Pertimbangan tehadap sistim penyanggaan yang akan digunakan yaitu


metode penerapan penyangga yang digunakan dilapangan ketika proses
pembuatan lubang bukaan dan setelah lubang bukaan terjadi sesuai dengan
kelas dan jenis batuan. Gambar 4.12 memperlihatkan salah satu lokasi
terjadinya ambrukan pada area kerja, hal ini dikarenakan weld mesh dan split
set pada dinding terowongan tidak cukup kuat menahan beban dari clay
yang terpengaruh oleh air.

Gambar 4.12
Ambrukan clay pada area kerja
Gambar 4.13 menunjukan contoh area kerja yang ditutup akibat adanya
ambrukan sepanjang terowongan pada area kerja di level 2. Pembukaan
garis larangan masuk area tersebut akan dilakukan saat kondisi area kerja
sudah aman setelah dilakukan pengamanan tambahan oleh tim safety dan
geoteknik.

Gambar 4.13
Penutupan area kerja
4-13

4.1.3. Pengolahan Data


Data- data yang di dapat dari klasifikasi massa batuan pada dinding
terowongan di lokasi L3-2W- SPV-W dan L3 SPV-2W-W50 meliputi Jenis
Batuan, RQD, Joint Number, Joint Roughness, Joint Alteration Number, Joint
Water Reduction, Stress Reduction Factor, Intact Rock Strength, Joint Spacing,
Joint Persistence, Joint Aperture, Infilling (gouge), Joint Weathering, Ground
Water dan Joint Orientation.
Dari data data yang di dapat, maka berikut adalah proses perhitungan
untuk mencari rekomendasi penyanggaan pada L3-2W- SPV-W dan L3 SPV-2WW50 berdasarkan RMR dan Q system:
1. Rock Mass Rating (RMR) system
Pada Tabel RMR rating yang lebih tinggi menunjukkan kondisi massa
batuan yang lebih baik. Kondisi massa batuan dievaluasi untuk setiap set
bidang diskontinu yang ada.
Tabel 4.1
Rock Mass Rating System
Lokasi

Parameter

Bobot

L3-2W- SPV-W

L3 SPV-2W-W50

L3-2W- SPV-W

L3 SPV-2W-W50

1.23 Mpa

1.23 Mpa

55%

15%

13

Strength of Rock Intact Rock


Material
(Point load index)
Rock Quality Designation
(RQD).
Spasi Kekar

Kekasaran

Kondisi
Kekar

Panjang Bidang
Diskontinu
Jarak Antar
Permukaan Bidang
Diskontinu

Material Pengisi

Tingkat
Pelapukan
Ground Water

Joint Orientation

60-200 mm

<60 mm

Permukaan bidang

Permukaan bidang

diskontinu terasa halus

diskontinu terasa

dan rata.

halus dan rata.

1-3 m

4m

1-5 mm

1-5 mm

material pengisi pada

material pengisi pada


2

bidang kekar

bidang kekar

didominasi oleh clay

didominasi oleh clay

dengan tebal 3 mm

dengan tebal 3 mm

Pelapukan sedang

Pelapukan sedang

Menetes

Menetes

jurus kekar searah

jurus kekar searah

-12

-12

28

13

dengan sumbu

dengan sumbu

terowongan dengan

terowongan dengan

dip 45 o.-90o

dip 45 o.-90o

(Very Unfavourable)

(Very Unfavourable)

Total Pembobotan RMR

4-14

Dari totalpembobotan dari kelima parameter tersebut, maka diketahui total


dari masing- masing pembobotan yaitu

L3-2W- SPV-W

= 28

L3 SPV-2W-W50

= 13

Tabel 4.2 menunjukkan beberapa jenis kelas massa batuan berdasarkan total
nlai pembobotan, berikut merupakan kelas massa batuan berdasarkan nilai
total pembobotan:

Tipe batuan pada lokasi L3-2W- SPV-W merupakan jenis batuan kelas 4
yang termasuk jenis buruk (poor rock), dengan waktu berdiri tanpa
penyanggaan yaitu 10 jam untuk setiap 2.5 m lubang bukaan.

Tipe batuan pada lokasi L3 SPV-2W-W50 merupakan batuan kelas 5


yang termasuk jenis batuan sangat buruk (Very poor Rock) dengan waktu
berdiri tanpa penyanggaan 30 menit untuk 1 meter lubang bukaan. (lihat
tabel 4.2)

Tabel 4.1
Penentuan Kelas Massa Batuan
Kelas Massa Batuan yang Ditentukan dari Bobot Total
Bobot

100 - 81

80 - 61

60 - 41

40 - 21

Kelas Batuan

II

III

IV

Batuan Sangat

Batuan

Bagus

Bagus

Deskripsi

Batuan Fair

Batuan Buruk

< 21
V
Batuan Sangat
Buruk

Arti dari Kelas Batuan


Kelas Batuan
Waktu Berdiri
tanpa Penyangga
Kohesi Massa
Batuan (kPa)

II

III

IV

20 thn untuk 15

1 thn untuk

1 minggu

10 jam untuk

m lubang

10 m lubang

untuk 5 m

2.5 m lubang

bukaan

bukaan

lubang bukaan

bukaan

> 400

300 - 400

200 - 300

100 - 200

< 100

> 45

35 - 45

25 - 35

15 - 25

< 15

30 min for 1 m
lubang bukaan

Sudut Gesean
dari Massa
Batuan (deg)

4-15

Stand up time dapat diperoleh dari hubungan antara RMR dan lebar span,
dapat dilihat pada grafik 4.1.

L3 SPV-2W-W50

L3 SPVL3-2W- SPV-W

Grafik 4.1
Stand Up Time
Rock support
Ground
class
1.Very good
rock
RMR: 81-100
2. Good rock
RMR: 61-80

Excavation (drill and blast)

Full face:
3m advance
Full face:
1.0 - 1.5m advance;
Complete support 20 m from
face

3. Fair rock
RMR: 41-60

4. Poor rock
RMR: 21-40

5. Very poor
rock
RMR < 21

Top heading and bench:


1.5 - 3m advance in top
heading;
Commence support after
each blast;
Commence support 10 m
from face
Top heading and bench:
1.0 - 1.5m advance in top
heading;
Install support concurrently
with excavation - 10 m from
face

Rock bolts
(20 mm diam., fully
bonded)

Shotcrete

Steel sets

Generally no support required except for occasional spot bolting


Locally bolts in
crown, 3m long,
spaced 2.5m with
occasional wire
mesh

50mm in crown
where required

None

Systematic bolts 4m
long, spaced 1.5 2m in crown and
walls with wire mesh
in crown

50 - 100mm in
crown, and 30mm
in sides

None

Systematic bolts 4 5m long, spaced 1 1.5m in crown and


walls with wire mesh

100 - 150mm in
crown and 100mm
in sides

Light ribs spaced 1.5m


where required

Systematic bolts 5
- 6m long, spaced
1 - 1.5m in crown
and walls with wire
mesh. Bolt invert

150 - 200mm in
crown, 150mm in
sides, and 50mm
on face

Medium to heavy ribs


spaced 0.75m with
steel lagging and
forepoling if required.
Close invert

Multiple drifts:
0.5 - 1.5m advance in top
heading;
Install support concurrently
with excavation; shotcrete as
soon as possible after
blasting

Tabel 4.2
Rekomendasi Penyangga
4-16

Tabel 4.2 memperlihatkan tentang metode penggalian dengan cara drill and
blast yaitu pembuatan drift dilakukan secara multiple dengan kemajuan 0.5
sampai 1.5 m. Dalam panjang drift 10 meter, dibutuhkan wire mesh dan rock
bolt sepanjang 5 6 m dengan jarak 1 1.5 m pada atap dan dinding drift.
Pemberian shotcrete dapat diberikan pada atap dengan tebal 150-200 mm
dan pada dinding 150 mm.
2. Rock Tunneling Quality Index (Q system).
Q-system merupakan fungsi dari enam parameter yang dinyatakan dengan
persamaan berikut:

Q=

Berikut adalah hasil pengamatan berdasarkan parameter Q system di lokasi


L3 SPV-2W-W50:
a.

Pada perhitungan RQD didapatkan hasil sebagai berikut:


(Termasuk tipe Very Poor)
DESCRIPTION
A. Very poor
B. Poor

Value
0 - 25
25 - 50

C. Fair

50 - 75

D. Good

75 - 90

E. Excellent

90 - 100

b. Joint Set Number


Pada pengamatan ditemukan lebih dari empat pasang kekar dengan arah
penujaman yang sama.
A. Massive, no or few joints

0.5 - 1.0

B. One joint set

C. One joint set plus random

D. Two joint sets

E. Two joint sets plus random

F. Three joint sets

G. Three joint sets plus random

12

H. Four or more joint sets, random

15

4-17

c. Joint Roughness
Pada lokasi pengamatan , kekar terisi dengan material weak clay yang
cukup tebal.
a. Rock wall contact

Value

b. Rock wall contact before 10 cm shear


A. Discontinuous joints

B. Rough and irregular, undulating

C. Smooth undulating

D. Slickensided undulating

1.5

E. Rough or irregular, planar

1.5

F. Smooth, planar

G. Slickensided, planar

0.5

c. No rock wall contact when sheared


H. Zones containing clay minerals thick
1.0 (nominal)
J. Sandy, gravely or crushed zone thick

1.0 (nominal)

d. Joint Alterasi
Pada pengamatan, terdapat beberapa kekar yang telah mengalami
perubahan (ter-alterasi) dan tercampur dengan clay. Melihat teksur
batuan tersebut, mineral yang teralterasi kuat cenderung kehilangan
tekstur aslinya, misal sudah tidak granular lagi dsb, tetapi pada batuan
alterasi sedang hingga lemah masih menyisakan kenampakan tekstur asli
batuan.
Rock wall contact before 10 cm shear
F. Sandy particles, clay-free, disintegrating rock etc

G. Strongly over-consolidated, non-softening

clay

mineral fillings (continuous < 5 mm thick)


H. Medium or low over-consolidation, softening

clay mineral fillings (continuous < 5 mm thick)


J. Swelling clay fillings, i.e. montmorillonite
< 5 mm thick). Values of Ja

(continuous

8 12

depend on percent of

swelling clay-size

e. Joint Water Reduction


Adanya aliran air yang terlihat menetes pada roof, dan dinding
terowongan terlihat basah.
A. Dry excavation o7r minor inflow i.e. < 5 l/m locally

1.0

B. Medium inflow or pressure, occasional outwash

0.66

of joint fillings

4-18

C. Large inflow or high pressure in competent rock with

0.5

unfilled joints
D. Large inflow or high pressure

0.33
0.2 0.1

E. Exceptionally high inflow or pressure at blasting,


decaying with time
F. Exceptionally high inflow or pressure

f.

0.1 0.05

Stress Reduction Factor


Di dalam lokasi pengamatan, terdapat beberapa zona geser batuan yang
terisi oleh clay.
A. Multiple occurrences of weakness zones containing clay or

10.0

chemically disintegrated rock, very loose surrounding rock any


B. Single weakness zones containing clay, or chemically dis-

5.0

tegrated rock (excavation depth < 50 m)


C. Single weakness zones containing clay, or chemically

2.5

distegrated rock (excavation depth > 50 m)


D. Multiple shear zones in competent rock (clay free),

7.5

loose surrounding rock (any depth)


E. Single shear zone in competent rock (clay free). (depth

5.0

excavation < 50 m)
F. Single shear zone in competent rock (clay free). (depth of

2.5

excavation > 50 m)
G. Loose open joints, heavily jointed or 'sugar cube', (any

5.0

depth)

Berdasarkan data hasil pengamatan, berikut adalah hasil dari perhitungan


klasifikasi massa batuan berdasarkan Q system
Q=

.................................... .................................................... (4.2)

= 0.02

Nilai Q yang didapat dihubungkan dengan kebutuhan penyanggaan


terowongan dengan menetapkan dimensi ekivalen (equivalent dimension)
dari galian. Dimensi ekivalen merupakan fungsi dari ukuran dan kegunaan
dari galian, didapat dengan membagi span, diameter atau tinggi dinding
galian dengan harga yang disebut Excavation Support Ratio (ESR) lihat tab.

Dequipvalent =

.......................................... ......... (4.3)

= 1.43

4-19

Tabel 4.4
Excavation Support Ratio
Excavation category ESR
A Temporary mine openings

3-5

B Permanent mine openings, water tunnels for hydro power (excluding high
pressure penstocks), pilot tunnels, drifts and headings for large
excavations.

1.6

C Storage rooms, water treatment plants, minor road and railway tunnels,
surgechambers, access tunnels.

1.3

D Power stations, major road and railway tunnels, civil defence chambers,portal
intersections.

1.0

E Underground nuclear power stations, railway stations, sports and


publicfacilities, factories.

0.8

Barton et al. (1980) memberikan informasi tambahan terhadap


panjang rockbolt, span maksimum, dan tekanan penyangga atap untuk
melengkapi rekomendasi penyangga pada publikasi yang diterbitkan tahun
1974. Panjang L dari rockbolt ditentukan dari lebar penggalian (B) dan dari
nilai ESR melalui persamaan 4.5. Span maksimum yang tidak disangga
dapat dihitung dengan persamaan 4.4.
Span maksimum yang tidak disangga dapat dihitung dengan
persamaan:
Maximum Unsuported Span = 2 ESR Q0.4..................................................(4.4)
2 (1.6)0.02 0.4 = 0.66 m
Panjang L dari rockbolt ditentukan dari lebar penggalian (B) dan dari nilai
ESR melalui persamaan:
Panjang Rock Bolt =

2+

...................................................................(4.5)

= 2.21 m
Grimstad dan Barton (1993) memberikan hubungan antara nilai Q

dengan tekanan penyangga atap permanen Proof melalui persamaan:

Jika jumlah dari joint lebih dari 3, maka memakai persamaan :

4-20

.......................................................................................(4.6)
=7.2 kg/cm2
Berdasarkan grafik pada Q System, jika dimensi equivalent dan Q
system dimasukkan, didapat jenis batuan sangat buruk dengan rekomendasi
penguatan rock bolt dengan tebal shotcrete >15 cm.

Grafik 4.2
Rock Classes
(Engineering Rock Mass Clasification, ZT Bieniawski, 1989)

Perbandingan nilai Q system dengan klasifikasi RMR dapat diinterpretasikan


sebagai grafik seperti ditunjukkan pada gambar berikut

4-21

Grafik 4.3
Korelasi antara RMR dan Q system
(Engineering Rock Mass Clasification, ZT Bieniawski, 1989)
3. Orientasi Kekar
Pada lokasi L3-2W- SPV-W ditemukan joint dengan jumlah 36 dengan
jarak rentangan 6.3 meter. Karena hanya diskontinuitas yang berupa rekahan
dan beberapa dengan material pengisi (gouge) yang melewati garis
pengamatan, maka untuk pengeplotan set diskontinuitas hanya akan
digunakan data rekahan dan material pengisi (gouge). Dari proses
pengelompokan diskontinuitas yang berupa rekahan dengan menggunakan
bantuan perangkat lunak Stereonet dan Dips, didapatkan tiga set
diskontinuitas untuk scanline, yakni JS1, JS2 dan JS3

(Gambar 4.17).

Kedudukan umum untuk JS1 adalah N 169 E / 19, kedudukan umum JS2
adalah N 283 E / 24, sedangkan Kedudukan umum untuk JS3 adalah N
118 E / 17.

Sumber : Pengolahan Data, 2014

Gambar 4.14
Interpretasi set diskontinuitas pada scanline

4-22

4.2.

Survey Tambang Bawah Tanah


Survey merupakan pekerjaan pengukuran keadaan di lapangan dengan

menggunakan alat ukur berupa Total Station, untuk mendapatkan koordinat (X,
Y, Z) dari daerah yang diukur yang kemudian diolah dengan menggunakan
sistem komputerisasi, dan ditampilkan dalam bentuk informasi, baik peta maupun
data atribut.
4.2.1. Peralatan Survey
Dalam tambang bawah tanah, survey dilakukan pada lokasi yang gelap,
terbatas , dan basah serta membutuhkan peralatan khusus seperti bor tangan
dan pipa aluminium sebagai pengganti bench mark dalam terowongan. Berikut
adalah peralatan yang dipakai pada survey tambang bawah tanah, foto berasal
dari dokumentasi di lapangan.
1. Total Station Leica TS15
Total Station merupakan teknologi alat yang menggabungkan secara
elektornik antara teknologi theodolite dengan teknologi EDM (electronic
distance measurement). EDM merupakan alat ukur jarak elektronik yang
menggunakan gelombang elektromagnetik sebagai gelombang pembawa
sinyal pengukuran dan dibantu dengan sebuah reflektor berupa prisma
sebagai target (alat pemantul sinar infra merah agar kembali ke EDM)

Gambar 4.15
Total Station Leica TS15
4-23

2. Prisma
Berfungsi sebagai alat pemantul sinyal gelombang yang dipancarkan dari
Total Station sehingga alat tersebut dapat merekam dan mengolah data
tentang koordinat, jarak serta beda tinggi pada suatu wilayah yang diukur.

Gambar 4.16
Prisma
3. Statif/ Tripod
Berfungsi sebagai dudukan/ penopang dari alat ukur (Total Station) atau
prima saat melakukan kegiatan pengukuran agar alat-alat tersebut dapat
berdiri dengan tegak dan stabil.

Gambar 4.17
4-24

Statif / Tripod

4. Meteran
Digunakan untuk mengukur ketinggian alat ukur di titik basis (Patok) dari atas
patok sampai dengan lubang bidik saat melakukan pengukuran. Selain itu
juga digunakan untuk mengukur tinggi titik tembak (Prisma yang diletakkan
pada statif) saat peletakkan titik basis baru. Dalam Survey tambang bawah
tanah, meteran berfungsi untuk mengukur jarak antara gridlines dan floor
suatu terowongan.

Gambar 4.18
Meteran
5. Alat Bor
Dalam survey tambang bawah tanah, alat bor berfungsi sebagai pembuat
lubang dalam dinding terowongan yang akan digunakan sebagai wall station.

4-25

Gambar 4.19
Alat Bor BoschHammer

6. Pipa Alumunium dan Lem Beton


Pipa aluminium digunakan sebagai dudukan dari wall pin (Sebuah besi
dengan size, dan design tertentu merupakan pasangan dari prisma) yang
akan berguna sebagai wall station (titik acuan survey yang berada di dinding
bukaan tambang). Untuk memasang pipa aluminium dibutuhkan lem beton.

Gambar 4.20
Pipa Aluminium dan Lem Beton
7. Selang Waterpass
Selang waterpass digunakan saat pembuatan gridlines, gridlines merupakan
garis pada dinding kanan kiri bukaan tambang . yang berfungsing untuk
mengarahkan kemiringan bukaan tambang.

Gambar 4.21
4-26

Selang Waterpass

8. Spray Paint
Spray Paint berfungsi untuk membuat gridlines dan garis acuan untuk arah
kemajuan tambang. Dalam survey drill and blast, spray pait berfungsi sebagai
penanda lubang ledak yang akan di bor menurut desain planning.

Gambar 4.22
Spray Paint
4.2.2. Kegiatan dan Pengambilan Data Survey
Kegiatankegiatan yang dilakukan oleh Tim Survey yang penyusun ketahui
selama melakukan kerja praktek di PT. Natarang Mining yaitu sebagai berikut:
1. Drill and Blast Survey
Drill and blast survey merupakan suatu kegiatan survey untuk lokasi
rencana drilling dan blasting yang di tentukan oleh mine plan yang kemudian
akan dilakukan penandaan titik

pengeboran sebagai lubang ledak pada

heading lubang bukaan tambang bawah tanah. Penandaan titik pengeboran


bertujuan agar luasan area dari kegiatan peledakan dapat dikontrol sehingga
target ore yang terbongkar sesuai dengan desain yang diberikan oleh mine
plan. Kegiatan tim drill & blast survey meliputi :
a. Stake out lokasi rencana drill & blast
b. Penandaan titik lubang ledak

4-27

Gambar 4.23
Drill anf Blast Survey

2. Pengukuran Kemajuan Lubang Bukaan Tambang Bawah Tanah


Pengukuran ini bertujuan untuk mengetahui kemajuan lubang bukaan
bawah tanah pada setiap level. Dalam kegiatan ini, didapat hasil koordinat (X,
Y, Z) dan dibagi dalam 3 bagian, yaitu floor, gridlines dan roof .

Gambar 4.24
Penempatan Titik Kontrol Prisma pada
Dinding Terowongan
Wall station transversing merupakan metode survey tambang bawah
tanah dengan cara memasang minimal dua titik kontrol pada dinding
4-28

terowongan (Lihat gambar 4.28). Penempatan wall station pada survey


tambang bawah tanah terletak pada lokasi yang mudah terlihat oleh crew
surveyor.
Penempatan instrumen dan prisma dapat dilihat pada gambar 4.28.
Crew survey melubangi dinding dan menempatkan prisma yang digunakan
sebagai titik acuan pengukuran pada dinding dengan batuan yang masif, hal
ini bertujuan agar titik kontrol tidak bergeser karena pengaruh aktifitas
penambangan.

Gambar 4.25
Skema Penempatan Wall Station

3. Land Subsidence Monitoring


Land Subsidence adalah penurunan ketinggian permukaan tanah karena
perubahan yang terjadi di bawah tanah. Pada tambang bawah tanah, land
subsidence diakibatkan oleh penggalian dalam permukaan bumi. Land
Subsidence Monitoring dilakukan pada titik kontrol pada elevasi yang lebih
tinggi dan bukan diatas area kerja tambang bawah tanah.

4-29

Gambar 4.26
Penempatan Titik Monitoring
Beberapa titik kontrol yang berupa beton dengan prisma target ditempatkan
secara

permanen

pada

permukaan

tanah

yang

terdapat

aktifitas

penambangan di bawahnya.

Gambar 4.27
Kegiatan Monitoring land Subsidence
4. Pengukuran Stockpile Mingguan.
Pengukuran stockpile mingguan ore dilakukan untuk mengetahui volume
broken ore setiap minggunya. Pengukuran ini dilakukan dimulai dengan
mengukur batas tumpukan broken ore kemudian mengukur bagian atas
tumpukan, semakin detail pengukuran dilakukan maka hasil pengukuran
nantinya akan semakin akurat. Pengukuran ini biasanya harus diselesaikan
dalam waktu 1 hari karena kondisi stockpile selalu berubah setiap harinya
dikarenakan aktifitas crushing plan yang selalu beroperasi

4-30

Gambar 4.28
Pengukuran Stock Pile
5. Penentuan stakeout
Stakeout adalah penentuan posisi di lapangan yang datanya telah
diketahui dari desain. Stakeout dapat dibagi menjadi 2, yaitu:
a. Stakeout posisi, dimana elevasi dari titik yang ingin ditentukan dapat
diabaikan, dan
b. Stakeout pit limit, elevasi dari titik yang ingin ditentukan harus diketahui.
Stakeout dilakukan dalam keperluan eksplorasi, baik itu di dalam
pengeboran inti dalam permukaan bawah tanah ataupun di permukaan
serta pada saat rencana pembuatan vertical shaft.

Gambar 4.29
Stakeout Titik Bor Eksplorasi

4-31

Gambar 4.30
Stakeout Titik Rencana Pembuatan
Vertical Shaft
Gambar 4.33 menunjukkan aktifitas stake out untuk kegiatan
pemboran eksplorasi pada level 3, pengontrolan titik pemboran selalu
dilakukan selama kegiatan ini berlangsung. Gambar 4.34 menunjukkan
aktifitas penentuan titik bor untuk pembuatan vertical shaft yang dilakukan
dari permukaan. Dalam penentuan titik pengeboran untuk pembuatan vertical
shaft haruslah seakurat mungkin baik itu dalam menentukan arah ataupun
sudut.
4.2.2. Pengolahan Data
Data-data yang diambil pada pengukuran survey tambang bawah tanah
pada PT. Natarang Mining adalah titik-titik lubang bukaan (stope) pada bulan
September dan Oktober 2014.
Perhitungan

volume

dilakukan

dengan

menjadikan

titik-titik

hasil

pengukuran stope sebagai dasar, Titik titik pengukuran original dikonversi ke


dalam bentuk .str.
Tahapan pengolahan data dengan software surpac 6.4, yaitu:
1. Men-download data dari Total Station ke dalam komputer

yang berupa

file*csv
2. Meng-import file*.csv pada software surpac
3. Memisahkan data survey lubang bukaan menjadi 3 segmen, yaitu Floor,
gridlines dan roof

Gambar 4.31
Hasil Survey Berupa Garis Floor, Gridlines dan Roof

4-32

4. Pembuatan triangulasi pada segmen floor dan roof


5. Penggabungan triangulasi floor, gridlines dan roof
6. Pembuatan solid

Gambar 4.32
Pembuatan Solid
7. Perhitungan volume broken ore tertambang
Berdasarkan perhitungan data hasil survey dengan software surpac
6.4, diketahui bahwa pada proses development, didapat volume ore pada
bulan September 2014 adalah sebesar 355,441 m3 dan waste sebesar
133,354 m3, sedangkan pada bulan Oktober 2014, volume ore pada saat
proses development adalah sebesar 362,970 m3 waste sebesar 208,806 m3.
Pada penambangan ore yang masuk dalam target produksi, didapatkan
2276.055 m3 pada bulan September 2014 dan 3283.023 m3 pada Oktober
2014.

400

ADVANCE TUNNELING DEVELOPTMENT SANTO


MINE

300
Waste
200

Ore

100
0
September

Oktober

Grafik 4.4
Developmet Flowchart

4-33

PRODUCTION MONTHLY REPORT SANTO MINE

4,000
3,000
Ore

2,000
1,000
0
September

Oktober

Grafik 4.5
Production Flowchart

4.1.

Pembahasan
Pengamatan yang dilakukan pada kegiatan geoteknik tambang
bawah tanah, yaitu klasifikasi massa batuan berdasarkan metode RMR
dan Q System, pemetaan orientasi kekar dengan metode scanline dan
monitoring terowongan. Dari klasifikasi massa batuan pada lokasi L3
SPV-2W-W50 berdasarkan metode Rock Mass Classification, dapat
diketahui bahwa kondisi batuan dalam terowongan adalah kelas V, yaitu
sangat buruk dengan waktu tanpa penyangga 30 menit untuk lubang
bukaan sebesar 1 m. Pembuatan drift dilakukan secara multiple dengan
kemajuan 0.5 sampai 1.5 m. Dalam panjang drift 10 meter, dibutuhkan
supporting wire mesh dan rock bolt sepanjang 5 6 m dengan jarak 1
1.5 m pada atap dan dinding drift. Pemberian shotcrete dapat diberikan
pada atap dengan tebal 150-200 mm dan pada dinding 150 mm.
Beberapa permasalahan yang terjadi pada saat pengambilan data
geoteknik di lapangan adalah pengambilan data yang kurang akurat,
dikarenakan ada aktifitas lain yang akan dilakukan oleh miners seperti
barring down, pemasangan penanganan awal seperti pemasangan
weldmesh dan splitset serta kegiatan bogging.
Pengamatan yang dilakukan pada kegiatan survey adalah drill and
blast survey, survey kemajuan tambang, land subsidence monitoring,
pengukuran stock pile dan penentuan stake out .

4-34

Beberapa permasalahan yang terjadi pada saat pengambilan data


di lapangan adalah pengambilan data yang tidak sesuai standar
operasionalnya seperti pada saat pengambilan titik detail posisi tongkat
prisma tidak berdiri tegak dan mengangkat tongkat saat prisma tertutup
oleh gundukan atau tumpukan tanah, tidak melakukan kontrol patok
sehingga patok bergeser dan pada saat akan memindahkan alat
melakukan backsight dari awal yang memerlukan waktu lebih lama,
pembuatan kembali wall station dikarenakan tertutup oleh pemasangan
timber set, pemindahan alat
Selain

faktor

diatas,

yang

menjadi

permasalahan

saat

pengamatan adalah faktor ground water. Pada saat pengamatan


beberapa kegiatan pengambilan data terganggu akibat derasnya tetesan
ataupun rembesan air pada lubang terowongan.

4-35