Anda di halaman 1dari 42

MAKALAH INTEGUMENTUM

ALOPECIA

OLEH:
1. Aldy Valentino Maehca Rendak (H1A007001)
2. Arzia Pramadi Rahman(H1A007003)
3. B. Karinda Eka Mardhani (H1A007005)
4. Bq. Fariani Zuhra (H1A007007)
5. D.D. Sangkuane (H1A007009)
6. Diah Citra Pravitasari (H1A007013)
7. Dyah Mayang Ramadhani (H1A007015)

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MATARAM
2010

KATA PENGANTAR

Puji syukur atas kehadiran Allah swt, karena atas berkat rahmat dan karunia-Nya-lah
kami dapat menyelesaikan Makalah Integumentum yang berjudul Alopecia ini.
Makalah ini kami susun guna melengkapi penugasan yang diberikan oleh tim Blok
Muskuloskeletal dan Integumantum untuk memperluas wawasan kami mengenai topik
muskuloskeletal. Kami harap, di masa mendatang makalah ini bisa berguna bagi banyak
orang dan dapat menjadi salah satu sumber belajar kami.
Ucapan sangat berterima kasih kami sampaikan kepada dosen-dosen yang telah
membantu kami, dan semua pihak terkait yang telah membantu kami. Tanpa bantuan,
kontribusi, dan toleransi mereka, makalah ini mungkin tidak akan pernah dapat terselesaikan.
Kami menyadari makalah ini masih sangat jauh dari sempurna, oleh karena itu kami
sangat mengharapkan kritik dan saran yang mendukung untuk makalah ini.
Akhir kata, semoga Allah swt selalu melimpahkan berkat rahmat-Nya kepada kita
semua dalam belajar, menuntut ilmu, dan dalam setiap kegiatan yang kita jalani, Amin.

Mataram, 23 Juli 2010.

Makalah Integumentum; Alopecia

DAFTAR ISI

Kata Pengantar. 1
Daftar Isi.. 2
A. Sistem Integumentum.. 3
1. Kulit 3
2. Kelenjar. 10
3. Rambut.. 13
4. Kuku. 21
5. Reseptor Sensorik Kulit 22
B. Alopecia. 26
1. Alopecia Areata 26
2. Alopecia Androgenika.. 30
3. Alopecia Prematur 34
4. Alopecia Androgenika pada Wanita. 34
5. Bentuk Alopecia yang Lain... 37
Daftar Pustaka. 41

Makalah Integumentum; Alopecia

A. SISTEM INTEGUMENTUM

Sistem integumentum terdiri atas kulit dan derivatnya (assesoris) yaitu rambut, kuku,
dan kelenjar-kelenjar kulit. Berikut ini akan dijabarkan secara rinci struktur-struktur
mikrosopik dari bagian tersebut.[1,2]

1. KULIT
Kulit merupakan organ terbesar pada tubuh manusia (16% dari berat badan) yang
terletak paling luar, membungkus otot-otot dan organ-organ dalam. Kulit terdiri dari lapisan
yaitu epidermis (paling luar), dermis, dan hipodermis yang berisi bantalan lemak.[1,3]

Lapisan Epidermis
Epidermis sebagian besar terdiri atas sel epitel berlapis gepeng (complex squamose
epitel) dengan lapisan tanduk. Tetapi juga mengandung sel-sel lainnya yang jumlahnya tidak
sebanyak jumlah sel epitel, melanosit, sel langerhansdan sel merkel.merupakan sel penghuni
kulit yang berperan penting bagi fungsi kulit. Epidermis terdiri atas 5 lapisan / stratum, dari
lapisan profunda (deep) ke superfisial yaitu: stratum basale, stratum spinosum, stratum
granulosum, stratum lucidum, dan stratum korneum.[1,2,4]

Gambar 1: Lapisan epidermis.[1]

Makalah Integumentum; Alopecia

Sel epidermis yang mengandung lapisan keratin disebut keratinosit. Kita dapat
membedakan kulit tebal (galbrosa) yang terdapat pada telapak tangan dan kaki dan kulit tipis
yang terdapat dihampir seluruh permukaan kulit berdasarkan ketebalan lapisan epidermis,
yang bervariasi antara 75-150 mikrometer untuk kulit tipis dan 400-600 mikrometer untuk
kulit tebal. Ketebalan total kulit (epidermis ditambah dermis) juga bervariasi menurut
tempatnya, misalnya pada punggung setebal 4 mm dan pada kulit kepala setebal 1,5
mm.[1,2,5,6]
Stratum Basale:
Terdiri atas epitel selapis kuboid atau silindris basofilik yang terletak diatas lapisan
lamina basalis pada perbatasan epidermis-dermis. sejumlah besar desmosom saling mengikat
sel-sel pada lapisan ini pada permukaan lateral dan atas. Hemidesmosom yang terdapat di
plasmalema basal, membantu mengikat sel-sel ini pada lapisan lamina basalis.[1,6] Terdapat 3
jenis sel pada stratum ini yaitu:
1. Sel Keratinosit
Merupakan sel yang berfungsi mensintesis keratin, yang akan terus menerus membelah
pada stratum ini. Keratinosit akan terus bermitosis sekitar 19 hari, atau hingga saat
keluar dari stratum malpighi.[1,2]
2. Melanosit
Menghasilkan Eumelanin atau pigmen coklat tua. Melanosit terletak dibawah atau
diantara sel-sel stratum basale dan folikel rambut. Melanosit berasal dari krista neural.
Melanosit memiliki badan sel bulat dan dari badan sel tersebut muncul tonjolantonjolan sitoplasma yang bentuknya tidak teratur dan panjang kedalam epidermis, yang
berjalan diantara sel-sel stratum basaledan stratum spinosum. Bagian akhir dari juluran
ini berakhir pada invaginasi sel yang berada dikedua lapisan ini.mikroskop elektron
menunjukkan melanosit berupa sel pucat yang mengandung banyak mitokondria kecil,
badan golgi yang berkembang baik dann dan sisterna pendek pada retikulum
endoplasma kasar (RER). Melanosit tidak terikat pada sel-sel keratinosi disekitarnya
namun sel ini terikat dengan lamina basalis dengan ikatan berupa Hemidesmosom.[1,2,6]
3. Sel Merkel
Biasanya terletak pada kulit tebal. Bentuknya agak menyerupai sel epitel epidermis
tetapi memiliki granula padat kecil didalam sitoplasma. Komposisi granula ini kurang
diketahui. Ujung saraf bebas yang membentuk perluasan diskus terminal terletak pada
basisi sel ini membentuk merkel disc yang berfungsi sebagai mekanoreseptor.[1,2]
Makalah Integumentum; Alopecia

Stratum basale, dengan sel-sel induk, ditandai dengan tingginya aktivitas mitosis dan,
bertanggung jawab bersama dengan bagian awal lapisan berikutnya, atas pembaruan sel-sel
epidermis secara berkesinambungan. Epidermis manusia diperbaharui 15-30 hari bergantung
pada usia, bagian tubuh dan faktor lainnya. Semua sel dalam stratum basale mengandung
filamen keratin intermediate berdiameter10 mm. Sewaktu selberpindah ke atas. Jumlah
filamen juga bertambah sehinggamencapai setengah jumlah proteintotal pada saat berada di
stratum korneum.[3,4,5]
Stratum Spinosum
Terdiri atas sel-sel kuboid atau agak gepeng dengan inti ditengah dan sitoplasma
dengan cabang-cabang yang terisi berkas filamen. Berkas ini berkonvergensi kedalam
sejumlah besar juluran sel kecil dan berakhir pada desmosom yang terletak pada ujung-ujung
juluran kecil ini.sel-sel spinosum saling terikat erat melalui spina sitoplasma yang berisi
filamen dan desmosum, sehingga memberikan corak berduri pada permukaan sel ini. Berkas
keratin tersebut.yang tampak dengan mikroskop cahaya disebut tonofilamen. Tonofilamen
berakhir dan tertanam pada sitoplasma didesmosum. Filamen ini berperan penting untik
mempertahankan kohesi antar sel dan melawan efek abrasi. Daerah epidermis yng terkena
gesekan dan tekanan terus menerus (seperti pada telapak kaki) memiliki stratum spinosum
yang lebih tebal dengan lebih banyak tenofilamen dan desmosum. Semua proses mitosis
terbatas pada lapisan yang disebut dengan stratum malpighi (stratum basale dan stratum
spinosum)yang mengandung sel-sel induk epidermis. Pada statum spinalis terdapat sel
Langerhans yang berbentuk seperti bintang dan mewakili sekitar 2-8% sel-sel epidermis.sel
ini merupakan makrofag turunan dari sumsum tulang yang mampu mengikat, mengolah, dan
memresentasikan antigen kepada limfosit Tdan berperan dalam perangsangan sel limfosit T.
sel Langerhans juga terdapat pada stratum granulosum. Ju7mlahnya sekitar 800 sel/mm2.[1,3,6]
Stratum Granulosum
Stratum ini terdiri atas 3-5 lapisan sel poligonal gepeng yang sitoplasmanya berisikan
granul basofilik kasar yang disebut keratohialin. Protein granul ini mengandung protein yang
kaya histidin berfosfor selain protein yang mengandung sistin. Banyak gugus fosfat
memberikan sifat basofilik pada granul kerato hyalin ii yang tidak dilapisi membran. Struktur
khas lainnya yang terlihat dengan mikroskop cahaya yaitu granul lamela berselubung
membran yakni suatu struktur lonjong yang mirip batang-batang kecil (0,1-0,3m),

Makalah Integumentum; Alopecia

mengandung cakram-cakram berlamel yang dibentukoleh lapisan lipid ganda. Granula lamela
menyatu dengan membran sel dan mencurahkan isinya kedalam antar sel di stratum
granulosum, tempat isi granula tersebut ditimbun dalam bentuk lembaran-lembaran lapisan
yang mengandung lipid yang berfungsi seperti semen antar sel yang bekerja sebagai sawar
terhadapa masuknya materi asingdan menyediakan suatu efek perlindungan yang penting
pada kulit. Karena adanya lapisan lipid tersebut akan menghalangi suplai nutrisi kepada selsel epidermis yang ada di atasnya sehingga sel-sel tersebut akan mati dengan cepat dan
membentuk sel tanduk.[2,5,6]
Stratum Lucidum:
Berupa lapsan sel eosinofilik yang gepeng yang bersifat translusens. Inti sel dan
organelanya tidak tampak lagi dan sitoplasmanya terdiri dari keratin padat yang berhimpitan
dalam matrix padat elektron. Desmosum masih tampak di antara sel-sel yang
bersebelahan.[1,2]
Stratum Korneum
Stratum ini terdiri atas 15-20 lapis selgepeng berkeratin tanpa inti dengan sitoplasma
yang dipenuhi skleroprotein filamentosa birefrigen, yakni keratin yang mengandung
sekurang-kurangnya

macam polipeptida dengan berat antara 40-70 kda. Komposisi

tenofilamen berubah sewaktu sel epidermis berdiferensiasi. Sel basal mengandung


polipeptida dengan berat molekul lebih rendah, sedangkan sel yang lebih berkembang
membuat poli peptida yang berat molekulnya lebih tinggi. Tonofilamen berhimpitan dalam
matriks yang juga berisi granul keratohialin. Setelah mengalami keratinisasi, sel-sel ini hanya
terdir atas protein amorf dan fibrilar dan membran plasma yang menebal atau disebut sel
tanduk. Selama keratinisasi berlangsung, enzim hidrolitik lisosom berperan pada
penghancuran organel sitoplasma. Sel-sel secara terus-menerus berdesquamasi dari
permukaan kulit. Sel-sel yang terlepas itu disebut dengan dender yang terutama sebagai
penyusun debu rumah.[1,2,3]

Makalah Integumentum; Alopecia

Gambar 2: Dermis dan epidermis. (a) Tampakan mikrograf dari epidermis yang terletak
diatas dermis. (b) tampakan mikrograf dari epideris dan dermis dengan magnifikasi yang
lebih kuat.[1]

Lapisan Dermis
Lapisan dermis memiliki ketebalan berkisar antara 0,5 3 mm atau lebih. Terdiri atas
dua lapisan jaringan ikat yang terususn tidak teratur: (1) lapisan papilar permukaan dan (2)
lapisan retikular di bawahnya.[1,2]
1. Lapisan Papilar:[1,3]
a. Termasuk rabung dan papil yang menonjol ke dalam epidermis.
b. Beberapa papil mengandung ujung saraf khusus; yang lainnya mempunyai
pembuluh darah kapiler (papil vaskular).
c. Terdiri atas serat kolagen halus, elastin, dan retikulin yang terususn dalam jejaring
luas, jaringan ikat longgar.
2. Lapisan Retikular:[1,2,3]
a. Merupakan bagian utama dermis yang berserat.
b. berupa jaringan ikat padat tak teratur.

Makalah Integumentum; Alopecia

c. Terdiri atas jalinan serat-serat kolagen kasar, padat, dan bersulamkan sedikit serat
retikulin dan banyak serat elastin; jalannya serat sejajar dengan permukaan kulit
membentuk garis ketegangan kulit (garis-garis Langer).

Bahan dasar dermis merupakan matriks amorf yang membenam serat kolagen dan
elastin, juga turunan kulit. Glikosaminoglikan utama kulit adalah asam hyaluronat, dermatan
sulfat, dan sangat hidrofilik membentuk gel.[5,6]

Unsur Sel
Sel utama dermis adalah fibroblas dan makrofag; sel lemak yang berkelompok; dan
sel jaringan ikat yang bercabang dan berpigmen kromatofor (banyak terdapat pada
lingkungan yang epidermisnya mengandung pigmen (areola puting susu dan lengkung di
sekitar anus). Pada umumnya, lapis papilar mengandung lebih banyak sel dan serat-seratnya
lebih sedikit dan halus dibandingkan serat lapis retikular.[1,2]

Serat Otot
Membentuk berkas dihubungkan dengan folikel rambut ( m.arektor pili) dan bertebar
di seluruh dermis dalam jumlah yang cukup banyak pada kulit, puting susu, penis, skrotum,
dan sebagian di perineum. Kontraksinya menyebabkan kulit di sekitarnya mengkerut. Di
dalam kulit muka dan leher, sejumlah serat otot rangka berakhir pada jalinan serat elastin
halus dengan dermis.[1,2,6]

Lapisan Hypodermis
Lapisan dermis terdiri atas jaringan ikat longgar yang mengikat kulit pada organorgan dibawahnyta dan berguna sebagai bantalan kulit dari tekanan. Lapisan ini mengandung
jaringan lemak yang ketebalannya bervariasi,lapisan ini disebut fasia superficial dan jika
jaringan lemak tersebut cukup tebal dinamakan Paniculus Adiposus.[1,2]

Regenerasi Kulit (Proses Keratinisasi Pada Kulit / Regenerasi Pada Keadaan Normal)
Peristiwa kornifikasi:
Epidermis menghasilkan lapisan luar sel-sel mati berkeratin yang relatif lunak, tidak
terlalu melekat pada kulit dan terlepas secara terus menerus. Keratinisasi berlangsung secara
terus menerus dan meliputi seluruh permukaan. Diferensiasi semua sel dalam arah yang sama
akan menghasilkan keratin.[1,4,5,6]
Makalah Integumentum; Alopecia

Peristiwa kornifikasi pada lapisan-lapisan yang ada di epidermis:


Stratum Malphigi yang merupakan gabungan dari Stratum Korneum dan Stratum
Spinosum yang memiliki sel induk epidermis. Dari lapisan ini dimulai proses
keratinisasi.[1,2]
Pada Stratum Granulosum terdapat granul keratohialin. Proses keratinisasi diduga
melibatkan gabungan unsur tonofibril dan keratohialin untuk memebentuk kompleks
keratin matang. Keratinocytes pada lapisan ini memiliki lapisan yang bernama
keratinosom yang berhubungan dengan golgi dan bergerak ke tepian sel dan mencurahkan
isinya ke dalam celah antar sel, yang berfungsi sebagai sawar pencegah masuknya benda
asing.[1,2]
Pada Stratum Lucidum sitoplasmanya mengandung bahan setengah cair yaitu keratohialin
yang dianggap sebgai hasil ubahan granul keratohialin yang terlihat di lapisan di
bawahnya.[1,2]
Pada Stratum Korneum sitoplasmanya juga mengandung keratin yang dianggap terutama
berasal dari tonofibril lapis-lapis epidermis di bawahnya. Ini merupakan keratin lunak
yang berkadar sulfur rendah. Setelah mengalami keratinisasi, sel-sel hanya terdiri dari
protein amorf dan fibrilar dan membaran plasma yang menebal (sel tanduk). Selama
keratinisasi berlangsung, enzim hidrolitik lisosom berperan pada penghancuran organel
stoplasma. Sel-sel secara terus menerus dilepaskan pada Stratum Korneum.[1,2]

Fungsi Kulit:
Menutupi jaringan atau organ di bawahnya
Tempat penyimpanan darah: pembuluh darah kulit menyimpan sampai 5% dari volume
darah tubuh
Mekanisme pertahan tubuh:
o Sel Langerhans sebagai APC (Antigen Presenting Cell)
o Sekresi keringat yang menghasilkan pH yang tidak sesuai bagi beberapa perumbuhan
mikroba
o Keratin mencegah mikroba masuk ke dalam kulit
o Melanin mengabsorsi sinar UV dan melindungi struktur dibawahnya dari efek yang
membahayakan.
Proteksi terhadap kekeringan karena lapisan luar kulit relatif kedap air, yang mencegah
penguapan air secara berlebihan

Makalah Integumentum; Alopecia

Mengatur suhu tubuh:


o Dilatasi dan konstriksi pembuluh dermal
o Mendinginkan kulit melalui sekresi kelenjar keringat
o Mengisolasi lemak di hipodermis
Organ sensoris : reseptor terhadap rasa raba, nyeri, suhu
Organ sekretoris : kelenjar keringat yang menghasilkan keringat (terdiri dari air, beberapa
garam natrium, amonia, asam urat, dan urea) sehingga zat yang tidak berguna bagi tubuh
tersebut dapat diekskresikan melalui permukaan kulit.
Fungsi metabolik : mensintesis Vitamin D3
Prekursor Vitamin D yang

disintesis di dalam epidermis

kulit dalam bentuk 7-

dehidrololesterol bila terpapar sinar matahari prekursor ini akan membentuk kalsiterol
yang selanjutnya masuk ke pembuluh darah dan mengalami konversi di hati dan ginjal
menjadi vitamin D yang aktif dan dapat dipergunakan tubuh.
Karena kulit bersifat elastis, kulit dapat mengembang dan menutupi daerah yang luas pada
keadaan yang disertai pembengkakan seperti edema dan kehamilan.

2. KELENJAR
Secara umum terdapat dua macam kelenjar pada kulit, yaitu kelenjar minyak sebasea
dan kelenjar keringat. [1,2]
A. Kelenjar Minyak Sebasea[1,3,5]

Merupakan kelenjar halocrin karena produk rekresinya dilepaskan bersama sisa sel
mati.

Morfologinya : tubuloalveolar sederhana atau tubuloalveolar bercabang sederhana

Terletak di sudut antara muskulus arrector pili dengan folikel rambut

Berupa kelenjar asini, terdiri atas basal-sel epitel-epitel gepeng yang tak
berdiferensiasiyang terletak di lamina basalis. Sel-sel ini berproliferasi dan mengisis
asin dengan sel-sel bulat dengan banyakkandungna lipid didalam sitoplasmanya.
Intinya berangsur-angsur mengkerut dan sel-sel secara serentak terisi dengan tetes
lemak dan pecah menghasilkan sebum.

Makalah Integumentum; Alopecia

10

Produk kelenjar sebasea berupa Sebum yang terdiri dari campuran lipid yang
mencakup trigliserida, lilin, squalense, kolesterol. Fungsi sebum ialah untuk lubrikasi
dan mencegah kekeringan pada rambut.

Gambar 3: Kelenjar Minyak Sebasea.

Faktor pengaturan utama sekresi: testosteron pada pria; kombinasi androgen-ovarium


dan androgen-adrenal pada wanita.

Caleliflower-shaped glang ditemukan pada bagian yang berambut, tidak terdapat pada
soles (telapak kaki) dan palm (telapak tangan).

B. Kelenjar Keringat[1,3,5]
Terdapat dua tipe dari sweat glands (kelenjar keringat) yaitu merocrine dan apocrine
sweat glands.[1,3]
1. Merocrine sweat glands.
Terdapat dua tipe yaitu sel-sel gelap dan sel-sel bening. Sel-sel gelap merupakan sel
piramid yang melapisi sebagian besar permukaan luminal bagian kelenjar. granula
sekretorinya mengandung glikoprotein dalam jumlah yang banyak. Sedangkan selsel bening tidak mengandung granula sekretoris.
Sekretnya kelenjar merokrin berupa 99% air dengan beberapa gram garam.
Sel-sel merokrin berfungsi dalam proses absorbsi Na untuk mencegah kehilangan
ion-ion secara berlebihan.
Membuang beberapa zat yang tidak dibutuhkan organisme, seperti sisa metabolisme.
Banyak terdapat di palmar manus dan soles (telapak kaki).

Makalah Integumentum; Alopecia

11

Myoepithelial cell
Sweat duct

Sweat gland
Secretory cell

Gambar 4: Kelenjar keringat.

2. Apocrine sweats glands.


Bentuknya lebih besar dari merocrine.
Terletak pada dermis dan hypodermis, duktusnya bermuara ke folikel rambut.
Terletak pada areola, anus ketiak, rambut pubis.
Sekretnya kental, komponen-komponennya ditambah fatty substance dan protein.
Bentuk lain dari kelenjar keringat misalnya:[1,2,5,6]
Cerominous glands merupakan modifikasi dari kelenjar apokrin, terdapat pada lubang
telinga. mensekresikan serumen yang berfungsi menjaga kebersihan kanalis auditoris dan
mengurangi infeksi karena pH nya yang rendah.
Mamary glands, spesialisasi dari sweat glands yang mensekresikan air susu (lactat).
Moll glands, merupakan modifikasi dari apokrin.
Makalah Integumentum; Alopecia

12

3. RAMBUT
Rambut terdiri atas batang yang bebas dan akar yang tertanam di dalam kulit serta
dibungkus oleh folikel rambut.

Gambar 5: Rambut. (a) letak rambut dalam susunan dermis dan epidermis. (b) potongan
membujur dari rambut. (c) potongan melintang dari rambut.[1]

Struktur Rambut:
a. Medula
Membentuk bagian tengah rambut yang longgar dan terdiri atas 2-3 lapis sel kubis,
mengkerut, menanduk, satu sama lain dipisahkan oleh ruang berisi udara, sel-selnya
sering mengandung pigmen dan termasuk keratin lunak.[1,2]
b. Korteks
Bagian utama rambut terdiri atas beberapa lapis sel gepeng, panjang berbentuk
gelendong.[1,2]
c. Kutikula
Merupakan selapis sel yang tipis, jernih, dan letaknya lebih ke permukaan.[1]

Makalah Integumentum; Alopecia

13

Folikel Rambut
Folikel rambut berkembang dari epidermis dan menginvasi dermis dan hypodermis.
Folikel rambut, organ dimana rambut tumbuh, muncul dari invaginasi dari epidermis yang
menginvasi dermis, hypodermis, atau keduanya.[3]

Gambar 6: Potongan longitudinal dari folikel rambut dan akar rambut (hair root, HR) dan
papilla (P). Daerah yang gelap (ditunjukkan oleh panah) merupakan pigmen.[3]

Folikel rambut dikelilingi oleh akumulasi tebal dari jaringan ikat fibrosa yang berada
pada dermis. Membran basalis yang tebal, glassy membrane, memisahkan dermis dari
epitelium folikel rambut. Ekspansi terminal dari folikel rambut, akara rambut (hair root)
memiliki batas dan membentuk bentukan konkaf pada dermal papilla. Akar rambut dan
papilla dermal, bersama-sama membentuk struktur yang disebut bulbus rambut. Papilla

Makalah Integumentum; Alopecia

14

dermal mengandung suplai yang kaya akan kapiler yang menyediakan nutrisi dan oksigen
untuk sel-sel folikel rambut. Papilla dermal juga berperan sebagai gaya induktif pengontrol
aktivitas dari folikel rambut. Disamping itu terdapat muskulus arrector pilli yang dapat
menggerakkan (menegakkan) folikel rambut.[3]

Gambar 7: Potongan cross-sectional dari folikel rambut, tampak external root sheath (E),
internal root sheath (I), dan korteks (C).[3]

Isi dari sel-sel yang membentuk akar rambut disebut matrix. Proliferasi dari matriks
sel ini berperan dalam pertumbuhand ari rambut; matriks ini homolog dengan stratum basalis
dari epidermis. Lapisan terluar dari epitel folikel membentuk external root sheath (selubung
akar eksternal), yang mana memiliki satu lapisan sel pada bulbus rambut dan beberapa
lapisan sel lain dekat permukaan kulit.[3]

Makalah Integumentum; Alopecia

15

Gambar 8: Gambaran folikel rambut berdasarkan lokasi folikelnya.

Selubung akar eksternal melingkari lapisan dari sel derivat epidermal, internal root
sheath (selubung akar internal), yang dimana mengandung tiga komponen; (1) lapisan
terluar yang terdiri dari satu jajaran sel kuboidal, Henle's layer, yang melakukan kontak
dengan sel bagian lapisan terdalam dari selubung akar eksternal; (2) satu atau dua lapisan dari
sel yang datar yang membentuk Huxley's layer; dan (3) kutikula dari internal root sheath,
dibentuk oleh tumpang tindih antara sel seperti sisik yang merupakan ujung bebas dari
proyeksi ke arah basis dari folikel rambut. Internal root sheath berakhir ketika kelenjar
sebaseus melekat pada folikel rambut.[3]
Batang rambut merupakan filament tipis panjang yang terdapat pada epidermis dan
memanjang hingga keluar dari permukaan epidermis. Batang rambut ini memiliki tiga daerah:
medulla, korteks, dan kutikula rambut. Bersamaan dengan proliferasi dari sel matriks yang
berada diantara folikel rambut mengalami proliferasi dan berfirensiasi, maka sel matriks ini
akan bergerak keluar dari permukaan kulit, dan akan berkembang menuju bagian dalam dari
batang rambut. Sel pada bagian tengah dari matriks sangat dekat dengan bagian dermal pailla
yang berada di bawahnya dam matriks ini dipengaruhi oleh papilla dermal tersebut; sel yang

Makalah Integumentum; Alopecia

16

berada di atas lapisan matriks yang pertama ini dan pada lapisan-lapisan yang semakin ketepi
dari pusat matriks ini kurang dipengaruhi oleh papilla dermal. Lapisan-lapisan dari folikel ini
berkembang dari sel matriks yang berbeda seperti berikut:[3]

Sel matriks yang berada paling dalam (pada pusat matriks) membetuk sel vakuola
kecil hingga sel vakuola besar yang membentuk inti dari batang rambut (medulla).
Lapisan ini hanya ada pada rambut tebal.

Sel matriks yang berada diperiferal dari pusat matriks akan membentuk corteks dari
batang rambut.

Sel matriks yang lebih peripheral lagi akan menjadi Kutikula dari rambut.

Sel matriks yang berada paling perifer akan berkembang menjadi internal root
sheath.[3]
Sebagaimana sel kortek akan digantikan pada bagian permukaan, maka sel ini akan

mensintesis kumpulan filamen keratin dangranula trichohyalin (mirip dranula keratohialin


pada epidermis). Granula ini akan bersatu, akan membentuk subsatnsi amorfik dimana
filamen keratin akan terdapat di dalamnya. Berserakan di sekitar sel dari mtraiks yang berda
berdekatan dengan papilla dermal adalah melanosit besar,dengan prosesus dendritik yang
panjang yang akan mentransfer melanosom menuju sel yang ada pada bagian korteks.
Melanosom ini akan tetap berada di dalam sel-sel ini, akan membentukl warna rambut sesuai
dengan jumlah dari melanin yang ada. Seiring dengan usia, melanosit akan kehilangan
kemampuannya untuk memproduksi tirosinase, yang sangat diperlukan dalam memproduksi
melanin, sehingga rambut akan menjadi berwarna keabuan.[1,3]

Musculus Arrector Pili


Otot yang dihubungkan dengan folikel rambut adah sel otot polos, arrector pili, yang
berasal dari selubung akar bagian dermal dari folikel rambut hingga ke bagian lapisan
papilaris dari dermis. Normalnya, folikel rambut dan rambut yang ada di daamnya berada
pada sudut yang oblique terhadap permukaan kulit. Ketika otot muskulus arrectorp pili
berkontraksi, otot-otot ini akan mendorong folikel ke posisi yang lebih tegak lurus terhadap
permukaan kulit, menyebabkan rambut akan mejadi terangkat atau berdiri. Pergerakan dari
folikel-folikel rambut akan membentuk area yang disebut gooseflesh, atau goose bumps.
Kontraksi dari muskulus arrector pili muncul sebagai respon terhadap rangsangan dingin atau
pada suasana yang menakutkan. Ketika respon yang muncul berasal dari rangsangan suhu
yang dingin, respon ini menjadi sangat penting karena rambut-rambut ini akan menjebak
lebih banyak udara dan udara ini akan menjadi insulator yang baik.[1,3]
Makalah Integumentum; Alopecia

17

Tipe dan Distribusi Rambut


Rambut merupakan filament, struktur berkeratinasi yang diproyeksikan dari
pemukaan epidermal kulit, tumbuh dari tuba oblique pada kulit yang disebut folikel.Rambut
tumbuh pada hampir semua permukaan tubuh kecuali pada zona vermillion tubuh, seperti
pada bibir, pada daerah palmar tangan, dan sisisamping palmar tangan, pada telapak kaki dan
sisi samping dari kaki, pada bagian dorsum dari distal phalang pada jari tangan dan kaki,
glans penis, glans klitoris, dan aspek vestibular dari labia mayor.[2,3]
Jumlah rambut pada manusia umumnya sama dengan jenis primata lainnya, namun
pada manusia lebih banyak terdapat rambut vellus, sedangkan pada primata lain rambut
terminal lebih banyak. Ekstremitas dan daerah trunkus memiliki sekitar 55 sampai 70 rambut
per sentimeter persegi, dan pada derah wajah terdapat 10 kali lebih banyak. Skapula memiliki
sekitar 100.000 rambut dan janggut pada pria sekitar 30.000 rambut. Jumlah rambut pada
daerah yang telah disebutkan tersebut tidak jauh berbeda antara tiap individu bahkan antar
jenis kelamin. Perbedaan penampakan rambut terutama disebabkan oleh perbedaan tekstur
dan pigmentasi rambut. Tidak semua rambut memiliki kesamaan, bahkan pada satu individu.
Selama masa kehidupan, manusia memiliki tiga macam model pertumbuhan rambut: lanugo,
vellus, danrambut terminal. Lanugo sangat tipis, seperti bulu, merupakan rambut tidak
berpigmen yang muncul pada fetus saat 3 bulan terakhir dari pertumbuhannya. Seiring
dengan masa kelahiran, rambut-rambut ini akan digantikan dengan rambut yang lembut,
halus, pendek, dan nampak berwarna pucat (misalnya rambut yang menutupi kelopak mata)
yang disebut vellus. Terkecuali pada alis mata, bulu mata, dan rambut pada kulit kepala,
semua rambut pada anak-anak, dua pertiga rambut pada wanita, dan sepersepuluh rambut
pria, rambut yang ada merupakan vellus. Rambut terminal adalah rambut yang keras, kasar,
besar, panjang, dan berwarna gelap. Rambut ini terdapat pada alis mata, bulu mata, dan kulit
kepala; pada masa pubertas rambut ini akan mengganti vellus pada daerah aksilaris dan
daerah pubis, pada wajah pria (membentuk janggut), dan hingga derajat yang bervariasi pada
ekstremitas dan trunkus.[2,3]

Warna Rambut
Melanin diproduksi oleh melanosit diantara matriks bulbus rambut dan masuk
keratinosit korteks dan medulla rambut. Sama seperti pada proses yang terjadi pada kulit,
variasi jumlah melanin dan variasi perbedaan jenis melanin akan mempengaruhi perbedaan
warna pada rambut.Rambut pirang memiliki sedikit melanin hitam-coklat, sedangkan rambut
hitam jet memiliki melanin tipe ini dalam jumlah yang paling banyak. Jumlah melanin hitamMakalah Integumentum; Alopecia

18

coklat dalam kadar sedang (intermediet) berperan pada perbedaan warna rambut coklat.
Rambut yang berwarna kemerahan disebabkan oleh jumlah melanin tipe merah yang
bervariasi. Kadang rambut memiliki dua tipe melanin sekaligus, tipe hitam-coklat dan tipe
merah. Seiring dengan usia, jumlah dari melanin pada rambut dapat berkurang, menyebabkan
warna rambut menjadi pucat/pudar atau bahkan putih (pada kondisi tidak ada melanin).
Rambut keabu-abuan merupakan kombinasi dari rambut yang mengalami pemudaran warna,
rambut yang tidak amengalami pemudaran warna, dan rambut yang berwarna putih. Warna
rambut dipengaruhi oleh beberapa gen, dan rambut hitam tidak selalu bersifat lebih dominan
dibandingkan rambut yang berwarna.[1]

Pertumbuhan Rambut dan Kematian Rambut


Rambut memiliki tiga stadium pertumbuhan rambut: anagen, catagen, dan telogen.
Pada stadium anagen,sel induk pada tonjolan dari folikel akan bermutiplikasi dan dan
berjalan ke arah bawah, mendorong papilla dermal lebih dalam ke kulit dan membentuk
selubung epitel akar rambut. Sel selubung kar rambut yang tepat berada di atas papilla dermal
membentuk matriks rambut. Disini, sel selubung mengalami transformasi menjadi sel
rambut, yang dimana mensintesis keratin dan kemudian mari seiring dengan pendorongan sel
ini ke atas dan sangat jauh dari papilla. Pada fase catagen, sel epitel selubung akar rambut
dibwaha dari tonjolan folikel akan mengalami apoptosis. Kemudian folikel akan mengecil,
papilla dermal akan menuju kea rah tonjolan folikel, dan kemudian rambut akan kehilangan
tambatannya. Ketika papilla mencapai tonjolan folikel, rambut akan memasuki stadium
istirahat yang disebut fase telogen. Rambut dapat rontok pada fase catagen atau telogen.
Sekitar 50 sampai 100 rambut pada kulit kepala hilang setiap harinya. Kemudian fase anagen
akan segera dimulai kembali, dan terjadi pengulangan fase pertumbuhan rambut. Pada
dewasa muda, folikel kulit kepala akan mengalami fase anagen selama sekitar 6 sampai 8
tahun, 2 hingga tiga minggu pada fase catagen, dan satu hingga 3 bulan pada fase telogen.
Sekitar 90% dari folikel yang ada di kulit kepala ketika diamati padawaktu kapanpun, berada
dalam fase anagen.Rambut kulit kepala tumbuh dengan rata-rata kecepatan pertumbuhan
sekitar 1 mm per tiga hari (1018 cm/tahun)selama fase anagen ini. Rambut tumbuh secara
optimal pada usia sekitar 16 sampai usia 46 tahun; setelah usia 50 tahun, pertumbuhan
rambut akan menjadi lebih sedikit. Akan terjadi peningkatan persentase folikel yang berada
pada fase atagen dan telogen dibandingkan dengan folikel yang berada pada fase anagen.
Folikel juga akan mengalai pengecilan dan mulai memproduksi rambut vellus dibandingkan
membentuk rambut terminal yang tebal. Rata-rata kecepatan pertumbuhan rambut sekitar 0,3
Makalah Integumentum; Alopecia

19

mm per hari, rambut tumbuh pada pada derajat yang berbeda meskipun berada di daerah yang
sama. Pemotongan rambut tidak mempengaruhi kecepatan pertumbuhan rambut atau
mempengaruhi karakter rambut. Panjang rambut maksimum ditentukan oleh derajat
pertumbuhan rambut dan panjang eaktu dari fase pertumbuhan rambut (anagen dan catagen).
Sebagai contoh, rambut pada kulit kepala dapat menjadi sangat panjang, namun rambut bulu
mata biasanya pendek.Ketika masa kehamilan, pertumbuhan rambut normal; setelah proses
partus, siklus dari pertumbuhan rambut akan menurun dan kerontokan rambut akan
meningkat sementara.[1,2,3]
Penipisan rambut, atau kebotakan, disebut alopecia. Kondisi ini muncul hingga
berbagai derajat pada kedua jenis kelamin dan dapat diperburuk oleh kondisi peyakit tertentu,
nutrisi yang buruk, demam, trauma emosi, radiasi, atau kemoterapi. Pada sebagian besar
kasus, umumnya merupakn proses normal dari penuaan. Kebotakan berpola (Pattern
Baldness) merupakan kondisi dimana rambut rontok dari daerah-daerah tertentu pada kulit
kepala dibandingkan mengalami kebotakan di seluruh daerah kulit kepala.Kondisi
inimerupakan hasil dari kombinasi pengaruh genetic dan hormonal. Gen yang terkait ini
memiliki dua allel, yang satu untuk pertumbuhan rambut dan allel yang satu untuk kebotakan
rambut. Allel kebotakan ini lebih dominan pada pria dan diekspresikan hanya pada kondisi
dimana testosterone berada dalam kadar yang tinggi yang merupakan karakteristik pria. Pada
laki-laki yang memiliki allel kebotakan heterozigot ataupun homozigot, testosteron akan
menyebabkan rambut terminal pada kulit kepala akan digantikan oleh rambut vellus yang
tipis, dimulai pada bagian tengah kepala dan kemudian menuju sisi lainnya. Pada wanita, allel
kebotakan bersifat resesif. Pada wanita dengan allel kebotakan homozigot dominan dan
heterozigot akan menunjukkan penyebaran rambut normal; hanya pada wanita dengan allel
kebotakan homozigot resesif yang memiliki resiko untuk mengalami kebotakan berpola
(pattern baldness). Kemudian, hal ini hanya akan terjadi jika level testosteron pada wanita
yang tinggi dan abnormal (misalnya pada wanita yang memiliki tumor kelenjar adrenalin).[2]

Fungsi Rambut
Rambut manusia tidak membantu dalam insulasi panas, seperti pada hewan. Rambut
manusia berperan dalam sensasi taktil, stimulus apa saja yang mengenai ram but akan
ditranlasikan ke bagian batang rambut dan dibawa ke bagian saraf sensorik yang berada
disekitar folikel rambut.[3]
Hampir sebagian besar rambut pada trunkus dan ekstremitas memiliki fungsi yang
sangat sedikit.Stimulasi pada reseptor rambut, memberikan pertanda bahwa ada parasit yang
Makalah Integumentum; Alopecia

20

bergerak di kulit.Kulit kepala merupakan satu-satunya daerah dimana rambut sangat tebal dan
mampu menahan panas. Kehilangan panas pada orang berkepala botak dapat bersifat
substansial dan sangat mengganggu. Otak menerima suplai yang kaya darah hangat, dan
hampir keseluruhan dari kulit kepala memiliki lapisan lemak yang kurang.Panas sangat
mudah dikonduksimelalui tulang tengkorak dan hilang melalui udara di sekitar.Dan jika
kepala tidak memiliki rambut, maka sangat sulit untuk memecah angina dan mencegah udara
tersebut untuk membawa panas.Rambut juga memproteksi kulit kepala dari pancaran sinar
matahari. Vibrissae atau rambut pelindung, menjaga lubang hidung dan kanal telinga dan
menjaga partikel untuk dapat masuk secara mudah.Bulu mata dapat menjaga mata dari
debris-debris yang terbawa sapuan angina, dengan berkedip.Pada kondisi hujan atau berawan,
kita dapat mengkedipkan mat sehingga bulu mata dapat memproteksi mata tanpa
mengobstruksi secara lengkap penglihatan. Alis mata pada manusia berfungsi sebagai
aksesoris yang memperkuat ekspresi wajah, karena gerakan alis mata sangat berperan dalam
komunikasi nonverbal.Janggut, rambut pubis, dan rambut aksilaris merupakan tanda dari
maturitas seksual.Sebagai tambahan, rambut pubis dan aksilar juga dpat berfungsi sebagai
pusat pendispersian bau yang diproduksi dari skresi kelenjar terspesialisasi pada daerah pubis
dan aksilaris. Diduga juga bahwa rambut pubis menyediakan perlindungan untuk mencegah
abrasi kulit ketiak melakukan hubungan seksual, dan rambuta askilaris juga berfungsi
mereduksi gesekan yang timbulkan ketika tangan bergerak.[1,2]

4. KUKU
Kuku terletak di bagian distal phalanx pada setiap jari tangan dan kaki. Terbentuk dari
lempeng keratin yang tersusun rapat. Lapisan epitel yang berkeratin tebal membentuk nail
plate, terletak di atas lapis epidermis yang disebut sebagai nail bed. Kuku berkembang dari
sel-sel yang terdapat pada matriks kuku yang berproliferasi dan menjadi berkeratin. Matriks
kuku merupakan regio dari nail root, terletak di bawah proximal nail fold. Stratum cornum
dari proximal nail fold memebentuk eponychium (kutikula), memanjang dari ujung proximal
ke atas kira-kira 0,5-1 mm. Pada bagian lateral, kulit masuk ke bawah kuku sebagai lateral
nail fold yang membentuk lateral nail groove. Lapis epidermis kulit melajutkan diri ke
bawah nail plate sebagai nail bed, dan nail plate menggantikan posisi dan fungsi dari stratum
corneum.[1,2,4,6]
Tampilan seperti bulan sabit putih terlihat pada ujung proximal kuku yang disebut
sebagai lunula. Ujung distal nail plate tidak melekat pada nail bed, yang kemudian berlanjut
Makalah Integumentum; Alopecia

21

bersama kulit ujung jari. Di dekat pertemuan ini terdapat akumulasi stratum corneum yang
disebut hyponychium. Kuku tumbuh sekitar 0,5 mm perminggu, namun kuku kaki umumnya
tumbuh lebih lambat.[1,5]

Gambar 9: Kuku.[1]

5. RESEPTOR SENSORIK KULIT


Reseptor adalah struktur yang mampu menangkap suatu jenis rangsang tertentu dan
mengubahnya menjadi suatu potensial listrik yang dapat dihantarkan dan diterjemahkan
SSP.[1,2,3]
Tabel 1: Reseptor sensorik di kulit.[1]

Makalah Integumentum; Alopecia

22

Di kulit ada banyak reseptor yang berfungsi menangkap sinyal-sinyal tertentu, antara lain:
Ujung Saraf Bebas (free nerve endings) sebagai Reseptor Nyeri.
Reseptor nyeri pada kulit dan jaringan lain tersebar sebagai suatu
ujung saraf bebas. Reseptor nyeri ini dapat dikasfikasikan dalam
beberapa kelompok berdasarkan rangsang yang dapat mencetuskan
nyeri:[1,3]
o Reseptor nyeri mekanosensitif yang dirangsang oleh kersakan
mekanis pada jaringan kulit.
o Reseptor nyeri termosensitif yang dirangsang oleh panas atau dingin yang ekstrim.
o Reseptor nyeri kemosensitif yang dirangsang bahan-bahan kimiawi tertentu, seperti
bradikinin, serotonin, prostaglandin, asetilkolin, atau enzim prolitik.
Reseptor-reseptor nyeri ini dapat hanya sensitive pada satu jenis perangsangan dan
beberapa dapat sensitive pada lebih dari satu jenis rangsang. Bentuk reseptornya
bercabang-cabang dan tidak berkapsul.[1,2,3]
Merkel-disk adalah perluasan pipih dari axson yang diasosiasikan sebagai sel ephitel
khusus. Tersebar pada bagian basal epidermis sebagai suatu kumpulan sel ephitel di
bagian superficial stratum germinativum. Merkels disk berfungsi merasakan sensasi
sentuhan ringan dan sedikit tekanan. Reseptor ini mampu mendeteksi perubahan kulit
hanya 1mm.[1,5,6]
Hair Follicle Receptor (Hair End Organ). Reseptor ini terletak
melingkar pada folikel rambut. Merupakan percabangan dari
dendrite. Satu ujung dendrite dapat member cabang pada beberapa
folikel rambut dan dapat pula saling overlapping dengan ujung
dendrite neuron lain. Hal ini menyebabkan meski resetor ini sangat
sensitive terhadap rangsang berupa perubahan kecil pada arah dan
perubahan batang rambut, tetapi tidak cukup akurat dalam
menetukan lokasi rangsang. Karena dendrite yang overlapping tadi menghantarkan sinyal
yang sama dan pada CNS sinyal saling bertemu dan bertabrakan
sehingga lokasi sulit ditentukan.[1,2]
Pacinian corpuscle (lamellated corpuscle) adalah ujung saraf yang
cukup kompleks dan berbentuk seperti bawang (karena lapisan
lamella yang berlapis-lapis). Ujung saraf ini dapat ditemukan pada
bagian profunda dermis atau pada hypodermis (bertanggung jawab

Makalah Integumentum; Alopecia

23

pada teanan pada daerah subkutan). Reseptor ini bertanggung jawab merasakan tekanan.
Reseptor ini juga berhubungan dengan saraf proprioceptive pada sendi (merasakan posisi
dan persepsi) yang berguna memberikan informasi posisi sendi.[1,5,6]
Meissner (tactile corpuscle). Tersebar pada papila dermis dan
berfungsi merasakan dua buah tekanan pada lokasi berbeda dan saat
yang sama, sehingga lokasi dan kekuatan tekanan pada masingmasing tempat dapat dirasakan bersamaan. Fungsi ini berfungsi untuk
menentukan texsture suatu benda. Meissner banyak ditemukan pada
hampir seluruh permukaan tubuh, tapi lebih banyak ditemukan pada
ujung jari dan lidah.[1,3,5,6]
Ruffinis end organ dapat ditemukan pada dermis, khususnya pada bagian jari. Reseptor
ini terangsang oleh tekanan ringan yang langsung
mengenai kulit dan terhadap peregangan pada kulit.
Lebih berperan pada tekanan dan sentuhan yang terusmenerus. Selain itu, dikatakan juga bahwa reseptor ini
juga terangsang pada panas.[1,2]

Krauses corpuscle dapat ditemukan pada

dermis dan berperan untuk merasakan sensasi dingin.[1]

Gambar 10: Serabut saraf pada lapisan epidermis dan dermis.

Makalah Integumentum; Alopecia

24

Normalnya manusia mampu merasakan suhu dengan berbagai degradasi mulai dari
dingin, sejuk, hangat, hingga panas. Hal ini karena pada kulit ditemukan adanya reseptorreseptor suhu dingin dan reseptor-reseptor suhu panas yang berjajar pada kulit untuk
merasakan sensasi suhu pada berbagai tingkatan. Pada beberapa bagian tubuh yang luas
ditemkan reseptor panas lebih banyak disbanding reseptor dingin. Reseptor dingin diketahui
merupakan ujung saraf bermyelin jenis A delta, sedang reseptor panas belum diidentifikasi.
Selain reseptor pana-dingin. Pada suhu-suhu ekstrim reseptor nyeri yang termosensitif juga
dapat terstimulasi sehingga pada suhu-suhu ekstrim ini kita akan dapat merasakan nyeri.[1,2,5,6]
Pada Luka Bakar derajat satu dan dua (patial Tickness) pasien merasakan amat nyeri
karena adanya rangsang pada reseptor nyeri termosensitif. Nyeri ini muncul selama
perusakan jaringan yang ikut mengenai ujung-ujung reseptor nyeri sehingga kita dapat
merasakan nyeri selamam terjadi proses perusakan jaringan. Setelah panas dihilangkan dan
proses perusakan jaringan telah terhenti, nyeri akan menghilang. Pada luka bakar derajat satu
dan dua, nyeri yang menetap dapat dikarenakan bebagai zat-zat kimia pada proses inflamasi
jaringan yang dapat merangsang reseptor nyeri, yaitu bradikinin, histamine, prostaglandin,
ion Ca, serotonin, dan lain-lain.[3,5,6]

Makalah Integumentum; Alopecia

25

B. ALOPECIA

Alopecia (kebotakan) merupakan salah satu bentuk dari kelainan pada rambut. Bentuk
kelinan rambut lainnya adalah efluvium (kerontokan rambut, kehilangan rambut 120 helai
per hari) yang dapat berlanjut menjadi alopecia, kelainan pada bentuk dan warna rambut,
serta kelainan kelebatan rambut.[4]
Beberapa tipe dari alopecia antara lain adalah alopecia universalis (kebotakan yang
mengenai seluruh rambut yangada pada tubuh), alopecia totalis (kebotakan yang mengenai
seluruh rambut kepala).[4] Tipe-tipe alopecia yang lebih spesifik akan dibahas pada bagian
berikut:

1. ALOPECIA AREATA
Definisi
Alopecia Areata kelainan yang ditandai dengan bercak/daerah pada kulit, tempat
rambut menghilang secara komplit dan cepat.[7]

Gambar 11: Alopecia Areata.[8]


Etiologi
Penyebab belum diketahui. Hasil penelitian menunjukkan beberapa factor yang
berperan untuk terjadinya penyakit ini.[9]

Makalah Integumentum; Alopecia

26

a. Faktor Genentik
Adanya riwayat keluarga mengenai penyakit ini menunjukkan beberapa factor yang
berperan untuk terjadinya penyakit ini.[9]
b. Faktor Imunologik
Sering ditemukan bersama penyakit autoimun lain, seperti

limfositik tiroiditis

menahun (Penyakit Hashimoto), anemia pernisiosa, penyakit Addison, dan vitiligo.


Hal ini menimbulkan dugaan bahwa penyebab alopesia areata adalah suatu
mekanisme

autoimun.

Penelitian

menunjukkan

adanya

autoantibody

dan

kemungkinan dibentuknya antibody terhadap sel matriks.[9]


Penelitian lain menunjukkan berkurangnya limfosit-T yang beredar dan pada
pemeriksaan imunofluoresensi ditemukan endapan abnormal C3 dan kadang-kadang
IgG, dan IgM di bagian bawah folikel rambut. Dengan demikian kemungkinan
alopecia areata merupakan akibat terganggunya regulasi imunitas.[9]
c. Faktor Psiologik
Sebagian peneliti mengemukakan bahwa factor emosi kurang penting untuk
terjadinya alopesia areata. Pendapat lain menunjukkan bahwa alopesia areata bukan
kelainan psikosomatik secar primer, tetapi ketegangan jiwa dapat merupakan
pencetus dan kemungkinan ada peranan gangguan fungsi saraf pusat untuk
terjadinya alopesia areata.[9]
d. Faktor Endokrin
Peranan factor endokrin terhadap perjalan penyakit alopecia areata belum banyak
diketahui. Hasil observasi klinik menujukkan pertumbuhan rambut penderita waktu
hamil, sedangkan rambut akan rontok lagi pada waktu melahirkan.[9]
e. Faktor Lain
Keadaan atopic terbukti berhubungan dengan alopecia areata.[9]
Patogenesis
Pada alopesia areata masa fase telogen menjadi lebih pendek dan diganti dengan
pertumbuhan rambut anagen yang distrofik. Berbagai factor dianggap mempengaruhi
terjadinya kelainan ini antara lain:
a) Genetik. Alopesia areata ditemukan secara autosomal dominan pada 25%
penderita.[4]
b) Imunologi. Alopesia areata merupakan penyakit autoimun. Pengaruh imunitas
humoral ditunjukkan dengan pemeriksaan imunofluoresensi yang memperlihatkan

Makalah Integumentum; Alopecia

27

adanya endapan C3, kadang-kadang ada IgG dan IgM sepanjang membrane
basalis.[4]
c) Factor lain. Keadaan atipikal dibuktikan berhubungan dengan lopesia areata.[4]
Gejala Klinis
Gejala singkat penyakit
Keluhan utama berupa rambut rontok. Mula-mula timbul suatu daerah kecil yang
mengalami kerontokan rambut. Lama-kelamaan daerah tersebut meluas, dan rambut
rontok secara cepat.[4,9]
Pemeriksaan kulit
Lokalisasi: Alopecia areata ditandai dengan adanya bercak kerontokan rambut pada
kulit kepala, alis, janggut, dan bulu mata.[4,6,9]
Efloresensi / sifat-sifatnya: Bercak ini berbentuk bulat atau lonjong. Pada daerah
botak, ada rambut yang terputus. Bila rambut ini dicabut, terlihat bulbus yang atrofi.
Sisa rambut terlihat sebagai tanda seru. Rambut tanda seru (exclamation mak hair)
adalah batang rambut yang kea rah pangkal maikn halus, rambut sekitarnya tampak
normal, tetapi muah dicabut. Pada beberapa penderita, kelainan menjadi progresif
dengan terbentuknya bercak baru, sehingga terjadi alopesia totalis.[4,7,9]
Ikeda membaginya menjadi 4 tipe:[4]
1. Tipe umum: terjadi pada umur 20-40 tahun, 6% akan berkembang menjadi alopesia
totalis.[4]
2. Tipe atipik: dimulai pada masa kanak-kanak dan 75% akan berkembang menjadi
alopesia totalis.[4]
3. Tipe prehipertensif: dimulai pada usia dewasa muda, 39% akan menjadi alopesia
totalis.[4]
4. Tipe kombinasi: dimulai setelah usia 40 tahun dan 10% akan menjadi alopesia
totalis.[4]
Histopatologi
Rambut kebanyakan berada dalam fase anagen. Folikel rambut terdapat dalam berbagai
ukuran, tetapi lebih kecil dan tidak matang. Bulbus rambut berada di dalam dermis dan
dikelilingi oleh infiltrasi limfosit.[4,9]
Pemeriksaan Penunjang
Sebaiknya diperiksa kerokan kulit untuk melihat adakah infeksi jamur atau tidak.[7]
Pengobatan

Makalah Integumentum; Alopecia

28

Pengobatan alopesia areata pada umumnya kurang memuaskan. Pada sebagian kasus,
rambut dapat tumbuh lagi; pada kasus-kasus lain semua usaha pengobatan tidak
berhasil. Perlu diperiksa adanya penyakit lain dan mengobatinya, seperti defisiensi
vitamin, gangguan endokrin, infeksi fokal, dan sebagainya. Pada umumnya pengobatan
diberikan untuk menstimulir pertumbuhan rambut. Pada waktu belakangan ini ada
kecendrungan untuk mengadakan koreksi terhadap factor imunologik yang diduga
menjadi penyebab alopesia areata.[6,9]
Obat Yang Diberikan
Fenol, dalam bentuk solusio 90%, digunakan pada daerah botak; dinetralisasi
dengan alokohol setiap minggu; rambut dapat tumbuh setelah 3-5 minggu.[9]
Kortikosteroid dapat diberikan sebagai obat topical, intralesi, dan sistemik, aplikasi
topical dapat dilakukan, misalnya dengan solusio halsinonide 0,1% atau semprot
triamsinolon asetonid.[9]
Triamsenolon asetonid diberikan intralesi, setiap 4-6 minggu, tidak elebihi 20 mg
pada tiap suntikan, untuk mencegah supresi adrenal. Kerugiannya adalah perasaan
sakit dan dapat menimbulkan atrofi kulit pada suntikan berulang untuk alopecia
rekalsitran.[9]
Inosipleks digunakan sebagai pengobatan alopesia, merupakan obat sintetik, dan
bersifat imunomodulator. Pada laporan kasus, obat ini dapat menumbuhkan rambut
dalam 5 bulan, dengan dosis 50 mg/kgBB sehari secara oral.[9]
Dinitrochlorobenzene (DNCB) digunakan untuk menimbulkan dermatitis kontak
pada kepala dan dapat menumbuhkan rambut pada alopesia areata.kerugiannya,
gejala pada dermatitisnya kadang-kadang agak berat dan terjadi perubahan warna
rambut pada pemberian berturut-turut.[9]
PUVA (Psoralen dikuti penyinaran ultraviolet). Cara pengobtan ini dapat
menghilangkan infiltrasi sel peribulber pada alopesia areata yang diduga menjadi
penyebabnya. Pengobatan ini berhasil baik, tetapi kemudian rambut yang baru
tumbuh akan menutup kepala sehingga cahaya tidak mencapai kepala dan
selanjutnya pengobatan ini tidak bermanfaat.[9]
Pengobatan Lain
Minoksidil, suatu vasodilator perifer yang poten, telah dicoba secara topical dengan
hasil baik. Diperkirakan minoksidil meningkatkan pengaliran darah ke folikel
rambut; dengan demikian merangsang pertubuhan rambut.[9]

Makalah Integumentum; Alopecia

29

Krioterapi memakai es kering (dry ice) dan nitrogen cair teah pula dilakukan dengan
hasil baik, mekanisme krioterapi dalam hal ini belum jelas; diduga mempunyai efek
stimulasi.[9]
Prognosis
Kadang-kadang dapat sembuh sendiri dalam beberapa minggu tanpa pengobatan. Untuk
kehidupann penderitanya sendiri, prognosis umumnya baik.[7]

2. ALOPECIA ANDROGENIKA
Epidemiologi
Diperkirakan 30 % laki-laki berkembang menjadi alopecia androgenetik yang terjadi
pada usia 30 tahun dan 50% pada usia 50 tahun. Prevalensi kebotakan daerah vertex
meningkat seiring usia dari 31%(usia 40-55 tahun) sampai 53% (usia 65-69 tahun). Hal
ini berkaitan dengan beberapa factor yaitu berat dan BMI yang tinggi pada usia 21
tahun, pubertas precoks dan obesitas ditandai denga lebar pinggul > 4 quartile pada usia
21 tahu (>86 cm) dibandingkan denga pria denga ukuran quarile 1 (78 cm atau
kurang).[10]

Gambar 12: bentuk-bentuk hilangnya rambut pada alopecia androgenetik.


Patogenesis
Ada tiga hal utama yng berperan penting dalam proses terjadinya alopecia androgenetik
yaitu perubahan dinamika siklus rambut, pengecilan folikel, dan inflamasi.[10]
a. Dinamika siklus rambut
Pertumbuhan rambut merupakan suatu siklus. Ada tiga fase yaitu: fase pertumbuhan
anagen, fase katagen, dan fase telogen. Fase anagen beralngsung 3-5 tahun, fase
katagen selama 2 minggu, dan fase telogen selama 3 bulan. Jadi jumlah rambut fase

Makalah Integumentum; Alopecia

30

anagen hingga telogen yaitu 12:1. Rontoknya rambut muncul pada fase telogen dan
subfase telogen yang disebut fase laten[10]
Pada alopecia androgenetik, durasi fase anagen memendek dan fase telogen
durasinya tetap atau memanjang. Akibatnya rasio anagen dan telogen berkurang.
Kebotakan pada pasien sering digamberkan dengan rontoknya rambut yang
berlebihan pada pasien tersebut ketika menysir atau keramas. Hal ini karean terjadi
peningkatan jumlah folikel pada fase telogen.[10]
Pertumbuhan rambut terjadi secara konstan, durasi fase anagen menentukan
panjangnya rambut. Jadi setiap kali terjadi terjadi pemendekan siklus rambut, maka
akan tejadi pemendekan batang rambut. Akhirnya, durasi fase anagen menjadi lebih
pendek pertumbuhan rambut gagal untuk

mencapai panjang yang cukup untuk

mencapai permukan kulit, meninggalkan folikel yang kosong.[10]


Pada alopecia androgenetik fase laten juga memanjang, menurunkan jumlah
rambut,selanjut berkontribusi dalam pengurangan jumlah rambut.[10]
b. Pengecilan folikel rambut
Folikel rambtu tersusun atas kompoonen mesenkm dan ektodermal. Bagian
ektodermal tersusun atas invaginasi epidermis menuju ke dermis dan lemak
subkutan. Kantung rambut tersusun atas matrix rambut yang menghsilkan batang
rambut. Komponen mesenkim adalah papilla dermal, kumpulan fibroblast khusus
yang mengelilingi kantong rambut. Hubungannya dengan perubahan siklus dinamika
rambut, bersifat progresif, secara bertahap akan mengecilkan folikel rambut hingga
seluruhnya. Papilla dermal yang terletak di tengah berfungsi menjaga dan
mengontrol pertumbuhan rambut, ini muga mendai target androgen-mediated events
menyebabkan pengecilan dan perubahan siklus rambut.[10]
Penurunan jumlah sel sepuluh kali lipat sama dengan penurunan dari ukuran folikel.
Prosesnya masih tidak diketahui, dan akan menghasilkan apoptosis se mati,
penurunan proliferasi sel keratinosit, pergantian sel dengan hilangnya adhesi seluler
menyebabkan fibroblast papilla dermal terlepas ke dermis,atau m igrasi papilla
dermal ke lapisan dermal berkaitan dengan pelapis akar luar dari folikel rambut.
Folikel yang lebih kecil menghasilkan rambut yang lemah. Caliber batang rambut
menurun dari 0.08 mm menjadi 0.06 mm. Hal ini juga diikuti dengan penurunan
produksi pigment. Pada scalp yang mengalami kebotakan, rambut menjadi tidak
jelas, ada jarak antara yang ukuran besar ada yang ukuran kecil.[10]

Makalah Integumentum; Alopecia

31

Durasi efek androgen yang pendek juga menjelaskan keterlambatan antara respon
klinis dan terapi awal, sebagai mana banyak intervensi farmakilogi yang hanya
berpengaruh pada titk pengecilan folikel. Pengecilan folikel meninggalkan setellae,
seperti sisa dermal pada folikel dengan ukuran penuh. Stellae ini juga dikenal
sebagai traktus fibrosa atau streamer yang meluas dari jaringan subkutaneus diatas
traktus folikular tua ke rambut yang mengecil, dan melapisi folikel asalnya. AraoPerkisn Bodies di dalam stellae dapat terlihat dengan pengecatan elastic. Badan
Arao-Perkin terbentuk muli dari kluster kecil dari serabut elstik pada leher papilla
dermal. Ini menumpuk di katagen dan tertinggal di bagian terbawah dari asalnya
stellae folikel. Pemendekan yang progresif pada anagen dapat terlihat di alopecia
androgenetik, rumpunan stellae elastic dapat di temukan seperti anak tangga.[10]

Gambar 13: Siklus pertumbuhan rambut normal.[10]

Gambar 14: alopecia androgenetic yang progressive, pengecilan yang bertahap dari
keseluruhan folikel[10]

Makalah Integumentum; Alopecia

32

c. Inflamasi
Moderate perifollicular, lymphohistiocytic infiltrate, mungkin dengan lapisan
konsentrik dari deposisi kolagen pperfolikular, muncul pada 40% kasus a;opecia
androgenetik, tapi hanya 10 % control subjek yang normal. Terkadang sel mast dan
eosinofil juga dapat ditemukan. Perubahan inflamasi selular juga muncul di sekitar
folikel yang lebih bawah pada beberapa kasus dan terkadang meliputi stellae
folikular.[4]
Gejala Klinis
Tampakan klinis pasien alopecia androgenitik secara keseluruhan dan dengan cepat
dapat dikenali. Progresivitas hilangnya rambut dapat terlihat.[4]
Ada keterkaitan anata rambut untuk hubungan social. Rambut merupakan begian
terpenting bahkan depat menjadi identitas seseorang dan apabila terjadi alopecia
androgenitika akan mempengaruhi pskologi individu tersebut. Beberapa penelitian
menunjukkan persepsi negate pada kebotakan baik itu dari bangsa barat maupun asia.
Efek negative tersebut yaitu penolakan dari orang. Bagaimana pun persepsi negative
dari orang lain merupakan masalah psikologis dari orang yang mengalami kebotakan.[4]

Gambar 15: The Hamilton Norwood clinical grading scale for staging male
androgentic alopecia[10]

Makalah Integumentum; Alopecia

33

3. ALOPECIA PREMATUR
Epidemiologi
Sering terjadi pada pria berumur 20-an dan disertai dermatitis seboroika yang berat.
Umumnya prognosisnya buruk.[4,9]
Etiologi
Etiologi belum diketahui, umumnya penyakit ini dianggap merupakan penyakit
keturunan dan hormonal dan sering bergantung pada rangsangan hormone androgen.
Pada laki-laki yang dikebiri, tidak pernah timbul alopesia ini, bila kastrasi dilakukan
sebelum atau semasa remaja. Bila pada mereka diberikan pengobatan dengan
androgen,kebotakan akan timbul. Ada korelasi antara factor herediter, androgen dan
factor usia.[4,9]
Patogenesis
Pada alopesia premature, fase telogen bertambah panjang dan fase anagennya
memendek. Makin pendek fase anagen makin pendek pula pertumbuhan rambut..[4,9]
Tatalaksana
Belum ada pengobatan yang memuaskan,yaitu belum ada pengobatan yang
mempertahankan pertumbuhan rambut. Pengobatan umumnya ditujukan untuk
dermatitis seboroika yang menyertainya. Transplantasi rambut dari bagian oksipital ke
bagian garis rambut anterior pernah dilakukan dan memberikan penyembuhan
sementara.[4,9]

4. ALOPECIA ANDROGENIKA PADA WANITA


Etiologi
Belum diketahui, akan tetapi diduga sebagai akibat dari kelebihan androgen. Meskipun
demikian, umumnya kadar testosterone yang beredar tidak meninggi.[4,8]
Diduga bila kedua orang tua mempunyai alopesia androgenika, maka seluruh anak lakilaki dan sebagian anak perempuan akan mengalami nasib yang sama. Menurut SMITH
dan WELIS, alopesia androgenetik dapat terjadi pada wanita homozigot dan pria
heterozigot.[4]
Manifestasi Klinis
Perjalanan penyakit alopesia androgenetik adalah sama baik pada wanita maupun pria.
Hanya saja, kerontokan rambut temporal pada wanita lebih sedikit daripada pria dan
kerontokan lebih banyak pada vertex. Kerontokan rambut dapat juga terjadi secara
Makalah Integumentum; Alopecia

34

difus mulai dari puncak kepala. Rambutnya menjadi tipis dan suram. Sering disertai
rasa panas dan gatal. Keadaan ini berlangsung dalam jangka lama.[4,8]
Rambut vellus biasanya menonjol pada area yang mengalami kebotakan, rambut lebih
tipis dan lebih pendek.[4,11]

Gambar 16: Awal Alopecia Androgenika pada bagian Frontal.

Gambar 17: Tipe Alopecia Androgenika pada Wanita.

Gambar 18: Alopecia Androgenika Berat pada Wanita.


Makalah Integumentum; Alopecia

35

Pendekatan Diagnosis
Biasanya diagnosis sangat jelas, tetapi pada pasien usia muda diagnosis bisa
meragukan. Pasien mengeluhkan rambut menjadi sangat lembut dan tumbuh lebih
lambat, sementara di bagian tubuh yang lain pertumbuhan rambut meningkat. Sering
seborrhea lebih menonjol dari sebelumnya. Hampir selalu terdapat riwayat keluarga
yang juga mengalami hal serupa. Banyak pasien pada awalnya mengatakan tidak
seorang pun keluarga yang mengalami hal serupa, karena mereka menganggap
pertanyaan hanya ditujukan untuk menanyakan ayah mereka yang kebanyakan
memiliki rambut yang penuh. Perlu ditanyakan adanya kerontokan rambut pada kakeknenek, paman, juga bibi.[11]
Jika pada pasien diagnosis klinis meragukan, bisa dilakukan fotograf yang sering sangat
membantu.

Trichogramor

phototrichogram

menunjukkan

penurunan

rasio

anagen/telogen, frontal> oksipital. Untuk pengukuran level hormonal diindikasikan jika


terdapat hirsutisme, virilization, maslah menstruasi, infertilitas, galaktorea, atau
keabnormalan endokrin lainnya. Pengukuran meliputi DHEAS, free testosterone,
SHBG, prolaktin, fungsi tiroid yang sebaiknya dilakukan hari 3-7 dari siklus,atau
idealnya setelah tidak mengkonsumsi kontrasepsi oral selama 3 bulan.[11]
Diagnosis Banding
Adapun diagnosis banding untuk alopesia androgenetik pada wanita yang perlu
dipertimbangkan adalah:[4]
Diffuse alopecia areata
Androgen-induced alopecia.
Tatalaksana
Pengobatan bersifat empirik. Pemberian konjugat estrogen (premarin) dalam bentuk
losio secara topical menurunkan jumlah rambut yang rontok. Pemberian sebaiknya
dalam jumlah sedikit untuk menghindari efek sistemik. Dapat diberikan 10 menit
perhari selama minimal 4 bulan. Kortikosteroid dalam bentuk losio kadang-kadang
bermanfaat, disamping pengobatan latar belakang penyakitnya, seperti gangguan
endokrin, anemia, dan sebagainya.[9]
Sebagai kombinasi efek antiandrogen dan antiinflamasi diberikan triamsinolon, 60 mg
intramuscular, setiap minggu. Terapi ini berhasil baik dalam menimbulkan
pertumbuhan rambut.[9] Sistemik antiandrogen dapat

bekerja, biasanya bersamaan

dengan kontrasepsi oral pada wanita premenopause dan biasanya dimonitoring oleh
ginekologist.[11]
Makalah Integumentum; Alopecia

36

Langkah terpenting adalah edukasi yang adekuat pada pasien. Menjelaskan prosesnya
adalah fisiologik, normalnya lamban, dengan kadang-kadang mendadak. Karena rambut
tidak hilang sama sekali tapi berubah menjadi rambut vellus, terdapat harapan bagus
bahwa dengan terapi yang efisien dapat mengubah kembali rambut tersebut.[4]
Transplantasi rambut biasanya tidak diindikasikan pada wanita karena pada wanita
kerontokan lebih difus dan mustahil untuk menentukan batas antara folikel rambut yang
sensitive angrogen dengan yang insesitif androgen.[11]
Terapi supportif seperti pada pria yang meliputi suplementasi besi, zinc dan biotin bisa
dipertimbangkan.[11]
Komplikasi
Kulit kepala yang tidak ditumbuhi rambut lebih mudah terbakar sinar matahari, dan
dapat berkembang menjadi multiple actinic keratoses.[11]

5. BENTUK ALOPECIA YANG LAIN


Kerontokan rambut yang sempurna maupun sebagian, dapat bervariasi dan disebabkan
oleh banyak faktor.
Alopecia Luminaris
Kerontokan rambut di sekeliling tepi kulit kepala yang berambut. Sering pada wanita
negro yang mengikat rambutnya erat-erat atau karena alat pengering rambut yang
merusak batang rambut.[4]
Trikotilomania
Merupakan alopesia neurosis. Rambut ditarik berulang kali sehingga putus. Sering
pada gadis yang mengalami depresi. Trikotilomania juga dijumpai pada anak-anak
berumur 4-10 tahun, yang memiliki kebiasaan menarik-narik atau mencabut rambutnya
hingga terbentuk bercak botak berbatas tegas kadang-kadang difus. Anak ini biasanya
dari golongan terbelakang dan menderita tekanan emosional. Rambut pada lesi tersebut
ada yang putus dan ada yang tidak, dengan ukuran bervariasi.[9]
Alopesia Karena Faktor Fisis
Kerana radiasi yang berlebihan (radiodermatitis kronik) atapun epilasi dengan
menggunakan sinar X pada pengobatan tinea kapitis; alopesia karena tekanan misalnya
pada bayi yang berbaring pada satu sikap.[4]
Alopesia Karena Sisir Panas
Pada wanita negro yang ingin meluruskan rambutnya.[4]
Makalah Integumentum; Alopecia

37

Alopecia Karena Tarikan (Alopesia Traksi)


Pada model rambut yang memerlukan tarikan atapun kebiasaan memilin-milin rambut
dengan jari. Alat pengeriting dan pita rambut dapat menimbulkan alopesia. Alopesia
karena traksi ini biasanya reversible pada keadaan dini, sedangkan jika berkepanjangan
terjadi kehilangan rambut permanen.[4,9]
Ofiasis
Bentuk alopecia areata yang berkonfluensi, kebotakan terjadi pada pelipis, oksipital dan
parietal.[4]
Alopecia Perinevi
Dinyatakan oleh QUIROGA dan PECORARO, alopesia areata di sekitar nervus
pigmentosus di kepala.[4]
Alopecia Sifilitika
Pada sifilis stadium II dapat terjadi kerontokan rambut. Disebut sebagai alopesia difusa,
bersifat difus dan tidak khas, terjadi pada sifilis stadium II dini. Bentuk yang lain ialah
alopecia areolaris yang terjadi pada sifilis stadium II lanjut. Kerontokan terjadi
setempat, tampak sebagai bercak-bercak yang ditumbuhi oleh rambut-rambut yang
tipis. Penyebabnya ialah adanya roseola atapun papul, akar rambut dirusak oleh
traponema, yang dapat juga terjadi pada alis mata lateral dan janggut. Guma dan ulkus
pada sifilis stadium III menimbulkan gejala alopesia sikatriks setempat, untuk itu kasus
yang mencurigakan perlu pemeriksaan serologi.[4,9]
Alopesia Seboroik
Terminology lama yang berarti kerontokan rambut disertai ketombe, kulit kepala yang
berminyak dan dermatitis seboroik. Pengobatan langsung terhadap dermatitis
seboroik.[4]
Alopesia Musinosa
Terdapat pada kulit kepala dan daerah dagu karena perubahan musin sel epitel folikel
sebasea. Sering disertai limfoma.[4]
Alopesia Akibat Radang
Sering terjadi pada liken simpleks kronik, lupus eritematosus discoid,liken planus, dan
kerion.[4]
Tine Kapitis
Sering terjadi pada anak-anak, berupa bercak alopesia yang multiple. Rambut putus
tepat diatas kulit kepala. Infeksi M.canis dan M.audouini menimbulkan fluresensi pada
lampu Wood, sedang indeksi dengan T.tonsutans tidak.[4]
Makalah Integumentum; Alopecia

38

Alopesia Karena Kelainan Endokrin


Folikel rambut sangat responsive terhadap bermacam hormone, karena itu alopesia
dapat terjadi pada penyakit endokrin.2Pada hipotiroid rambut menjadi kasar, kering dan
jarang. Pada hipertiroid rambut menjadi sangat halus dan jarang. Rambut rontok juga
terjadi pada hipoparatiroid dan DM. sering kerontokan rambut dihubungkan dengan
pemakaian pil KB, terdapat male pattern alopecia selama menggunakan pil dan
effluvium tolagen setelah pil dihentikan. Estrogen dapat merangsang pertumbuhan
rambut, sebaliknya androgen menghambat.[4]
Alopesia Karena Obat
Bentuk ini sering terjadi pada pasien dengan kemoterapi pada kanker, misalnya
antimetabolite (azatioprin, metotreksat), zat-zat alkil (siklofosfamid, klorambusil), dan
obat penghambat mitosis, juga bahan kimia yang lain seperti talium dan asam borat.[4]
-

Obat sitotoksik (siklofosfamid, metotreksi, aktinomisin) menyebabkan anagen


defluvium pada pemberian dosis tinggi dan tolagen defluvium pada dosis rendah,
rambut akan tumbuh kembali.

Antikoagulan (coumarin, heparin) umumnya menimbulkan alopesia difus pada


permulaan setelah beberapa minggu pengobatan dan berlangsung selama 6 bulan
dan dijumpai pada 5% di antara penderita.

Obat antitiroid (tiorasil,karbimasol) menyebabkan alopesia difusa, kemungkinan


karena menurunnya hormon tiroid.

Acid boric yang terdapat dalam beberapa obat kumur, menimbulkan alopesia difus
yang berlangsung bertahap, karena tertelan terlalu banyak

Tripanol, obat hiperkolestrolemia menyebabkan rambut jarang.

Vitamin A dan sejenisnya, untuk kelainan keratinasi dan akne, menimbulkan


alopesia difus, bersifat reversible, disertai gejala sistemik pada pemberian dosis
tinggi.

Kloroprene, menimbulkan alopesia difus pada pekerja produksi karet sintetik


karena bahan tersebut.

Levodopa, obat penyakit Parkinson menimbulkan alopesia difus yang berat


setelah beberapa bulan dengna dosis 2,5-3 g sehari.

Propranolol, sebagai beta-bloker dapat menimbulkan alopesia difus, setelah


kurang lebih 3 bulan.

Butirofenon, sebagai anti psikotik, dapat menimbulkan alopesia difus, rambut


menjadi pirang, disertai kulit kering dan iktiotik.
Makalah Integumentum; Alopecia

39

Trimetodion, sebagai anti epilepsy dapat menimbulkan alopesia difusa

Potassium tiosianat, anti hipertensi menimbulkan alopesia difusa setelah 3 bulan


pengobatan, sehingga jarang digunakan.

Merkuridalam krim pemutih, antiseptic, diuretic, menimbulkan alopesia difusa,


disertai gejala sistemik.

Bromokriptin,

untuk

pengobatan

hiperprolaktinemia

dan

akromegali,

menyebabkan kerontokan rambut bertahap pada wanita.


-

Senyawa bismuth, dahulu untuk pengobatan sifilis, sekarang terdapat dalam


beberapa antasida, dapat menyebabkan alopesia difusa.[9]

Alopesia Karena Stress


Setelah stress emosional yang berat atau penyakit akut dapat timbul alopesia.[4]
Alopesia Kongenital
Dapat total atapun sebagian. Biasanya disertai defek ektoderem lainnya, misalnya pada
gigi, tulang, dan kuku. Rambut tumbuh lambat, jarang, dan berwarna muda.[4]

Makalah Integumentum; Alopecia

40

DAFTAR PUSTAKA

1. Seeley, Stephens, Tate, 2004, Anatomy and Physiology, Sixth Edition, McGraw Hill,
New York.
2. Saladin, 2003, Anatomy and Physiology: The Unity of Form and Function, Third
Edition, McGraw Hill, New York.
3. Gatner and Hiatt, Color Texbook Of Histology, Third Edition, Elsevier Saunders,
Philadelphia.
4. Adhi, Djuanda. et al. 2007, Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin, Edisi Kelima, Balai
Penerbit FKUI, Jakarta.
5. Weller, Richard, John Hunter, John Savin, Mark Dahl. 2008, Clinical Dermatology,
Fourth Edition, Blackwell Publishing, Hong Kong.
6. Fitz
7. Siregar, RS. 1996, Atlas Berwarna Saripati Penyakit Kulit, EGC, Jakarta.
8. Dombrowski, NC., Bergfeld, WF. Alopecia Areata; What to Expect from Current
Treatments. Clev Clin J Med 2005; 72 (9): 758-68.
9. Harahap, Marwalli. 2000, Ilmu Penyakit Kulit, Hipokrates, Jakarta.
10. Sinclair, RD., Male Androgenic Alopecia, Journal of Mens Health and Gender 2004;
1 (4): 319-27.
11. Sterry, Wolfram, R. Paus, W. Burgdorf. 2006, Thieme Clinical Companion
Dermatology, Georg Thieme Verlag KG, New York.

Makalah Integumentum; Alopecia

41