Anda di halaman 1dari 3

BAB II

Analisis Kasus
-

Pasien datang ke UGD RSUAM dengan keluhan perut membesar sejak 4


bulan yang lalu, keluhan ini juga disertai perut terasa kembung, perut terasa
penuh, cepat kenyang saat setelah makan, badan lemah, bengkak pada kedua
kaki. awalnya bengkak terjadi pada bagian perut kemudian menjalar ke kedua
tungkai, bengkak tidak ditemukan pada bagian tubuh yang lain. Os juga
mengatakan sesak nafas setelah makan namun tidak disertai jantung berdebar.
Keluhan disertai dengan rasa mual tetapi tidak sampai muntah, perasaan
menyesak dan tidak disertai nyeri dibagian perut. Nafsu makan dan minum
mengalami penurunan, BAK berwarna seperti teh tua dan BAB kuning. Os
juga pernah menderita penyakit kuning 6 bulan yang lalu dan batu empedu.
Os pernah dirawat di Rumah sakit selama 11 hari karena keluhan penyakit
kuning dan dinyatakan sembuh. Riwayat maag kronis (+).

Dari pemeriksaan fisik ditemukan TD: 110/70 mmHg, Nadi: 80 x permenit T :


36,8 c RR: 24 x permenit, pada pemeriksaan abdomen ditemukan perut
tampak membesar, bising usus melemah, undulasi (+), dan shifting dullness
(+).

Pada pemeriksaan Lab didapatkan Hb (12,2 gr/dl), Total protein : 7,2 g/dl,
Albumin : 2,2 g/dl, Globulin: 5,0 g/dl

Dari anamnesis , pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang penulis


berkesimpulan diagnosis pasien adalah sirosis hepatis, hal ini didasarkan pada
kriteria Soebandiri untuk sirosis hepatis yaitu :
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Splenomegali
Palmar eritema
Vena kolateral
Asites
Spider Nevi
Ikterik
Hipoalbunemia (rasio albumin globulin terbalik)

Pada pasien memenuhi 5 dari 7 kriteria diagnosis tersebut yaitu palmar eritema,
vena kolateral, asites, ikterik, hipoalbunemia, untuk spider nevi tidak ditemukan,
18

untuk splenomegali sulit dinilai dengan pemeriksaan fisik karena perut sudah
terlalu besar sehingga perlu pemeriksaan USG untuk melihat ada tidaknya
splenomegali.
Sirosis hepatis adalah suatu keadaan disorganisasi yang difuse dari struktur hati
yang normal akibat nodul regeneratif yang dikelilingi jaringan mengalami fibrosis
atau, kemunduran fungsi liver yang permanen yang ditandai perubahan
histopatologi
Karena terjadi kerusakan di hati , maka terjadi gangguan ada aliran vena sistemik ,
dimana terjadinya bendungan pada vena porta . Bendungan pada vena porta
nantinya akan menyebabkan tekanan pada vena porta meningkat dan terjadilah
hipertensi porta. Hal inilah yang menyebabkan berbagai manifestasi klinis yang
muncul pada pasien.
Pada pasien ditemukan asites , hal ini karena terjadinya bendungan di vena porta
maka akan meningkatkan tekanan hidrostatik dan viskositas pada pembuluh vena ,
sehingga terjadi perpindahan cairan dari pembuluh darah ke rongga peritoneal dan
menyebabkan asites. Bendungan pada vena porta juga mengakibatkan gangguan
pada aliran vena sistemik , sehingga terjadilah kompensasi terbentuknya vena
kolateral pada pasien.
Ikterik bisa terjadi karena dua hal yang pertama karena pemecahan sel darah
merah yang berlebihan (hemolitik) dan terjadinya obstruksi duktus biliaris atau
gangguan konjugasi bilirubin oleh sel hati. Pada pasien ini ikterik disebabkan oleh
gangguan konjugasi oleh hati dan obstruksi duktus biliaris karena kerusakan hati
yang sudah kronis.
Hati merupakan organ yang penting dalam metabolisme protein termasuk
pembentukan albumin. Jika terjadi kerusakan hati maka kadar albumin dalam
darah akan menurun sehingga terjadilah hipoalbuminemia.
Hipoalbumenia juga bisa menyebabkan tertariknya cairan ke jaringan interstitial
sehingga menyebabkan oedema, ditambah lagi mungkin adanya hepatorenal
sindrom yang menyebabkan retensi Natrium , sehinga menyebabkan oedema.

19

Splenomegali bisa saja terjadi karena vena-vena gastrointestinal termasuk vena


splenica akan bermuara ke vena porta , kalau terjadi bendungan maka akan
menimbulkan aliran balik, yang bisa menyebabkan splenomegali dan varises
oeshopagus.Sesak yang terjadi pada pasien sirosis hepatis bisa terjadi karena efusi
pleura cairan transudat, hepato-respiratori sindrom, atau karena infeksi sekunder.
Penatalaksaan pada pasien sudah cukup tepat , karena penatalaksanaan pada
sirosis adalah penatalaksanaan suportif. Antibiotik diberikan untuk profilaksis.
Furosemid dan spironolacton diberikan sebagai diuretik untuk mengurangi
oedema dan asites , albumin diberikan karena kadar albumin yang rendah dari
pasien yaitu 2,2 gr/dl. Pada pasien kadar Hb nya cukup yaitu 12,2 g/dl sehingga
tidak perlu dilakukan transfusi darah.

20