Anda di halaman 1dari 9

Laporan Praktikum

Penanganan Limbah

Hari/Tanggal : , 2014
PJ Dosen
: Moh. Yani
Asisten
:

UJI BOD, COD dan TSS

SUPERVISOR JAMINAN MUTU PANGAN


PROGRAM DIPLOMA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2014
BAB I

PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang
Limbah adalah sisa dari suatu usaha atau kegiatan. Limbah berbahaya dan
beracun adalah sisa suatu usaha atau kegiatan yang mengandung bahan berbahaya
dan beracun yang karena sifat, konsentrasi, dan atau jumlahnya, baik secara
langsung maupun tidak langsung, dapat mencemarkan, merusak lingkungan
hidup, atau membahayakan lingkungan hidup manusia serta makhluk hidup
(Suharto 2010).
Berdasarkan sumber atau asal limbah, maka limbah dapat dibagi kedalam
beberapa golongan, yaitu limbah domestic dan limbah non domestik. Limbah
domestik, yaitu semua limbah yang berasal dari kamar mandi, dapur, tempat cuci
pakaian, dan lain sebagainya, yang secara kuantitatif limbah tadi terdiri atas zat
organik baik padat maupun cair, bahan berbahaya dan beracun (B3), garam
terlarut, lemak. Limbah non domestik, yaitu limbah yang berasal dari pabrik,
industri, pertanian, peternakan, perikanan, dan transportasi serta sumber-sumber
lainnya. Limbah pertanian biasanya terdiri atas pestisida, bahan pupuk dan lainnya
(Kristianto 2002). Limbah laundry merupakan limbah domestik yang berasal dari
tempat cuci pakaian yang mengandung senyawa yang berbahaya. Limbah cair
industri tahu dihasilkan dari proses pencucian, perebusan, pengepresan dan
pencetakan tahu.
Air limbah dapat diolah secara fisika, kimia, maupun biologi. Proses
pengolahan limbah cair secara fisika yaitu, filtrasi, sedimentasi, ekualisasi, dan
flotasi. Proses pengolahan limbah kimia yaitu, netralisasi, koagulasi dan flokulasi,
adsorpsi, dialisis, perpindahan oksigen dan pencampuran, adsorbsi, desinfeksi,
dan dechlorinasi. Sedangkan proses pengolahan limbah secara biologi yaitu,
perlakuan lumpur aktif, tricking filter, proses aerobik dan anaerobik, nitrifikasi
dan denitrifikasi.
Netralisasi dilakukan untuk menghilangkan aciditas atau alkalinitas. Pada
umumnya, semua treatment air limbah dengan pH yang terlalu rendah atau tinggi
membutuhkan proses netralisasi sebelum limbah tersebut dibuang ke lingkungan.

I.2 Tujuan

Untuk mengetahui karakteristik dan baku mutu air.

BAB II
METODOLOGI
2.1 Metodelogi COD (Chemical Oxygen Dissolved)
Alat :
Tabung Ulir
Buret
Pipet Tetes
Pipet Mohr
Bahan :
Air bersih (air sumur)
Air limbah (air cucian
pakaian)
FAS
Prosedur Kerja

Air Sumur

Rak Tabung
Bulp
Ruang Asam

Indikator feroin
AgSO4.H2SO4
K2 Cr2 O7

Air Cucian

Lakukan Pengenceran
(100 x, 500 x, atau 1000 x)

Pipet masing-masing 2,5 mL

Tambahkan
K2 Cr2 O7 Sebanyak 3,5 mL
Ag2SO4 H2 SO4 Sebanyak 1,5 mL
Dalam ruangan asam

Refluks selama 2 jam atau lebih

Titrasi dengan FAS (Fero Amonium Sulfat)


0,025 N menggunaka indikator Feroin

2.2 Metodelogi BOD (Biochemical Oxygen Dissolved)

2.3 Metodelogi Total Solid


3.1 metodologi total solid (TS)
Cuci cawan kosong

Keringkan dalam oven suhu 105 C selama 1 jam

Dinginkan cawan dalam eksikator selama 15 menit

Timbang cawan dengan teliti menggunakan neraca digital

Masukkan 30 ml air contoh kedalam cawan

Uapkan contoh uji dalam cawan sampai kering

Keringkan dalam oven suhu 105 C selama 1 jam

Dinginkan cawan dalam eksikator selama 15 menit

Timbang cawan dengan teliti menggunakan neraca digital

3.2 metodologi Total Suspended Solid ( TSS)


0

Panaskan kertas saring dalam oven suhu 105 C selama 1 jam

Dinginkan kertas dalam eksikator selama 15 menit

Timbang kertas dengan teliti menggunakan neraca digital

Ambil 50 ml air contoh kedalam labu ukur

Saring dengan kertas saring dengan bantuan corong

Keringkan kertas saring dalam oven suhu 105 C selama 1 jam

Dinginkan kertas saring dalam eksikator selama 15 menit

Timbang kertas saring dengan teliti menggunakan neraca digital

BAB III
HASIL dan PEMBAHASAN
3.1 Hasil
kelompok
1
2
3
4
5

Jenis air
AMDK
Air cucian beras
Air isi ulang
Air sungai
Air keran
Air kolam
Air sumur
Air cucian Pakaian
Air mata air
Air cucian jus

PH
7,5
6,9
7,7
7,3
7,7
7,5
7,4
6,7
5
4,6

TSS
0,2
0,18
0,583
0,856
0,06
0,18
0,33
0,65
0,04
3,3

TS
366,67
1466,67
26,697
26,527
133,33
400
66,67
200
66,7
133,3

BOD
0,32
0,64
2,28
4,23
0,32
0,33
0,33
0,65
0
4,23

COD
100x

1000x

10016

10032

9936

10016

9920

9856

10042

10050

10032

10048

9920
10000
9952
9940
9968

3.2 Pembahasan
COD atau Chemical Oxygen Demand menggambarkan jumlah total oksigen yang
dibutuhkan untuk mengoksidasi bahan organik secara kimiawi, baik yang dapat didegradasi
secara biologis (biodegradable) maupun yang sukar digredasi secara biologis (non
biodegradable) menjadi CO2 dan H2O. Pada prosedur penentuan COD, oksigen yang
dikonsumsi setara dengan jumlah dikromat yang diperlukan untuk mengoksidasi air sampel
(Boyd dalam Efendi, 2003).
Semakin tinggi bahan organik yang terkandung dalam air maka nilai COD akan
semakin tinggi. Menurut literatur, air limbah seharusnya memiliki kadar COD lebih tinggi
dari air bersih, dikarenakan lebih banyak mengandung bahan organik. Setelah dilakukan
praktikum dan pengolahan data didapatkan nilai COD tertinggi adalah 10048 mg O2/L yaitu
air cucian beras (air limbah) pada pengenceran ke 1000 kali, sama halnya dengan air cucian
jus (air limbah). Dua sampel air limbah tersebut tanpa dititrasi dengan FAS (Fero Amonium
Sulfat) pun sudah berubah warna.

Sedangkan nilai COD terendah adalah sebesar 9856 mg

O2/L yaitu air sungai pada pengenceran 1000 kali.


Sampel air bersih yang memiliki nilai COD terendah adalah air sumur 9872 mg O2/L,
sedangkan yang tertinggi adalah AMDK (Air Minum Dalam Kemasan) yaitu 10000 mg O2/L.
Air sumur merupakan air bersih yang berasal dari air tanah sehingga mengandung bahan
organik yang sedikit. AMDK telah mengalami banyak tahap dan proses sehingga seharusnya
mengandung bahan organik dalam jumlah sedikit. Hal tersebut dapat dikarenakan
penggunaan peralatan yang bergantian dengan air limbah sehingga AMDK menjadi
terkontaminasi.
Praktikan melakukan percobaan untuk menentukan kandungan COD dalam sampel air limbah yang
disediakan..Kandungan COD merupakan kandungan bahan pencemar berupa senyawa kimia yang
menyerap oksigen terlarut (DO) dalam air yang digunakan untuk keperluan oksidasi dan
mengubahnya menjadi bentuk senyawa lain. Dengan tingginya kadar bahan kimia yang menyerap
oksigen terlarut dalam air dapat menyebabkan biota-biota yang hidup dalam air seperti ikan dan
hewan lainnya mengalami kekurangan oksigen, yang akan berakibat menurunkan daya hidup biota
tersebut. Kadar pencemaran itu karena adanya banyak limbah organic dan limbah anorganik yang
dibuang keperairan. Satndar mutu air tersebut diukur dengan angka parameter dalm satuan mg/L.
dengan indeks baik (I),sedang (II),kurang (III), dan kurang sekali (1V). Untuk COD masing-masing
berturut-turut 20,100,300 dan 500. Sedangkan untuk BOD 40,200,500,dan 1000.

Sampel yang praktikan amati pertama diberi pelarut KMnO4 dan memanaskannya selama
setengah jam dalam penagas,larutan berwarna ungu. Selanjutnya didinginkan dan ditambah larutan KI
dan H2SO4 warna larutan menjadi coklat dan selanjutnya dititer dengan Natrium thiosulfat, titrasi
dihentikan setelah indicator kanji berwarna biru hilang. Volume pentiter didapat 9.2 sedangkan
blangko di dapat 16,5. Setelah dilakukan perhitungan terhadap kandungan COD dengan rumus di
dapat kandungan COD dalam sampel air yang diberikan adalah 204,8 mg/L.
Melihat data indeks dari hasil perhitungan tersebut di dapat bahwa mutu dari kandungan COD
yang diberikan dalam sampel adalah kurang. Berarti sampel air yang diberikan kurang berkualitas.
Ditandai banyaknya zat kimia yang menggunakan oksigen untuk meguraikan suatu senyawa kimia
yang terdapat dalam sampel air limbah tersebut.

KESIMPULAN TS DAN TSS

semakin tinggi nilai ts dan tss maka kualitas air tesebut


semakin jelek karena padatan yang terkandung pada air
semakin banyak sehingga menyebabkan kualitas air
menjadi turun.