Anda di halaman 1dari 13

REFERAT

HERPES ZOSTER

NAMA PEMBIMBING :
dr. ANDI FAUZIAH, Sp.KK

DISUSUN OLEH
INDAH TRI HANDAYANI
(1102009139)

BAGIAN ILMU KULIT DAN KELAMIN


RSUD SUBANG
PERIODE 22 SEPTEMBER 24 OKTOBER
2014

KATA PENGANTAR

Puji syukur penyusun panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah


melimpahkan rahmat dan karunianya sehingga penyusun dapat menyelesaikan refrat
yang berjudul Herpes Zoster. Tinjauan pustaka ini disusun dalam rangka memenuhi
persyaratan dalam kepaniteraan Fakultas Kedokteran Universitas YARSI pada bagian
Ilmu Kulit dan Kelamin RSUD Subang.
Penyusun menyadari bahwa tinjauan pustaka ini jauh dari sempurna, oleh karena
itu penyusun menerima segala kritik dan saran yang membangun dari semua pihak
demi kesempurnaan tinjauan pustaka ini.
Penyusun mengucapkan banyak terima kasih kepada pembimbing atas segala
bimbingan, motivasi, serta ilmu yang diberikan sehingga penyususn dapat
menyelesaiakan tugas pustaka ini. Besar harapan penyusun semoga tinjauan pustaka
ini dapat memberikan manfaat kepada semua pihak.
Subang, September 2014

Penyusun

BAB I
PENDAHULUAN
Herpes Zoster adalah suatu penyakit yang membuat rasa sangat nyeri dan disebabkan
oleh virus herpes yang juga mengakibatkan cacar air (virus varisela zoster). Seperti virus herpes
yang lain, virus varisela zoster mempunyai tahapan penularan awal (cacar air) yang diikuti oleh
suatu tahapan tidak aktif. Kemudian suatu saat virus ini menjadi aktif kembali.(1)
Herpes zoster (atau hanya zoster), umum dikenal sebagai penyakit ruam saraf yang
ditandai dengan ruam kulit yang menyakitkan dengan lepuh di wilayah yang terbatas pada satu
sisi tubuh, sering kali dalam satu garis.(1-3)
Kurang-lebih 20 persen orang yang pernah cacar air lambat laun akan berkembang
menjadi herpes zoster. Keaktifan kembali virus ini kemungkinan akan terjadi pada orang dengan
sistem kekebalan yang lemah, termasuk orang dengan penyakit HIV, dan orang di atas usia 50
tahun.(3)
Herpes zoster hidup dalam jaringan saraf, termasuk dalam penyakit infeksi virus yang
manifestasinya terbatas pada area kulit yang diinervasi oleh satu ganglion sensoris. Kekambuhan
herpes zoster dimulai dengan gatal, mati rasa, kesemutan atau rasa nyeri yang parah pada daerah
predileksi seperti di dada, punggung, atau hidung dan mata.(4)
Walaupun jarang, herpes zoster dapat menular pada saraf wajah dan mata.Ini dapat
menyebabkan nyeri di sekitar mulut, pada wajah, leher dan juga kepala, dalam dan sekitar
telinga, atau pada ujung hidung. Penyakit ini hampir selalu terjadi hanya pada satu sisi tubuh.
Setelah beberapa hari, ruam muncul pada daerah kulit yang berhubungan dengan saraf yang
meradang. Lepuh kecil terbentuk, dan berisi cairan. Kemudian lepuh pecah dan berlubang. Jika
lepuh digaruk, infeksi kulit dapat terjadi. Ini membutuhkan pengobatan dengan antibiotik dan
mungkin menimbulkan bekas.(3)
Biasanya, ruam hilang dalam beberapa minggu, tetapi kadang-kadang rasa nyeri yang
parah dapat bertahan berbulan- bulan bahkan bertahun-tahun. Kondisi ini disebut neuralgia
pasca herpes / neuralgia post herpetika atau disingkat NPH.(2-6)

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1.DEFINISI
Herpes zoster merupakan sebuah manifestasi oleh reaktivasi virus Varisela-zoster
laten dari saraf pusat dorsal atau kranial. Virus varicella zoster bertanggung jawab untuk
dua infeksi klinis utama pada manusia yaitu varisela atau chickenpox (cacar air) dan
Herpes zoster. Varisela merupakan infeksi primer yang terjadi pertama kali pada individu
yang berkontak dengan virus varicella zoster. Virus varisela zoster dapat mengalami
reaktivasi, menyebabkan infeksi rekuren yang dikenal dengan nama Herpes zoster atau
Shingles. Pada usia di bawah 45 tahun, insidens herpes zoster adalah 1 dari 1000,
semakin meningkat pada usia lebih tua.(2-4, 6, 7)
2.2. ETIOLOGI DAN EPIDEMIOLOGI(2, 3)
Penyebab :
Virus varisela zoster, kelompok virus herpes termasuk virus sedang berukuran 140 200
m dan berinti DNA.
Umur :
Lebih sering pada dewasa, pada usia > 50 thn, dan kadang kadang pada anak anak
namun jarang terjadi .
Imunitas :
Faktor resiko utama adalah disfungsi imun selular. Pasien imunosupresif memiliki resiko
20 sampai 100 kali lebih besar untuk terinfeksi herpes zoster daripada individu
imunokompeten pada usia yang sama. Terutama pada kelainan limfoproliferatif dan
kemoterapi, trauma local pada ganglia sensorik, dan HIV.
Jenis kelamin :
Pria dan wanita sama banyaknya
Musim / iklim :
Tidak tergantung iklim dan musim

2.3. PATOGENESIS(1)
Herpes Zoster

Ganglion Anterior , bagian motoric kranialis

Ganglion posterior, susunan


saraf tepi, dan ganglion kranialis

Gangguan motorik

Gejala prodromal sistemik (demam,


pusing, malaise)
Gejala prodromal local (nyeri otot,
tulang, gatal gatal dan sebagainya)

Eritema

Vesikel yang berkelompok dengan dasar kulit eritematosa dan edema

Pustul dan kresta

infeksi sekunder

2.4. GEJALA KLINIS(3, 5, 7)


Lesi herpes zoster dapat mengenai seluruh kulit tubuh maupun membran mukosa.
Herpes zoster biasanya diawali dengan gejala-gejala prodromal selama 2-4 hari, yaitu
sistemik (demam, pusing, malaise), dan lokal (nyeri otot-tulang, gatal, pegal). Setelah itu
akan timbul eritema yang berubah menjadi vesikel berkelompok dengan dasar kulit yang
edema dan eritematosa. Vesikel tersebut berisi cairan jernih, kemudian menjadi keruh,
dapat menjadi pustul dan krusta. Jika mengandung darah disebut sebagai herpes zoster
hemoragik. Jika disertai dengan ulkus dengan sikatriks, menandakan infeksi sekunder.
Masa tunas dari virus ini sekitar 7-12 hari, masa aktif berupa lesi baru yang tetap
timbul, berlangsung seminggu, dan masa resolusi berlangsung 1-2 minggu. Selain gejala
kulit, kelenjar getah bening regional juga dapat membesar. Penyakit ini lokalisasinya
unilateral dan dermatomal sesuai persarafan. Saraf yang paling sering terkena adalah
4

nervus trigeminal, fasialis, otikus, C3, T3, T5, L1, dan L2. Jika terkena saraf tepi jarang
timbul kelainan motorik, sedangkan pada saraf pusat sering dapat timbul gangguan
motorik akibat struktur anatomisnya. Gejala khas lainnya adalah hipestesi pada daerah
yang terkena
Bila menyerang cabang oftalmikus N. V disebul herpes zoster oftalmik. Sindrom
Ramsay Hunt diakibatkan oleh gangguan nervus fasialis dan optikus, sehingga
memberikan gejala paralisis otot muka (paralisis Bell), kelainan kulit yang sesuai dengan
tingkat persarafan, tinitus, vertigo, gangguan pendengaran, nistagmus dan nausea, juga
terdapat gangguan pengecapan.

Gambar 2 : Sindrom Ramsay Hunt (Sumber(6))


Bila menyerang wajah, daerah yang dipersarafi N. V cabang atas disebut herpes
zoster frontalis.
Herpes zoster abortif, artinya penyakit ini berlangsung dalam waktu yang singkat
dan kelainan kulitnya hanya berupa beberapa vesikel dan eritem. Bila menyerang saraf
interkostal disebut herpes zoster torakalis. Bila menyerang daerah lumbal disebut herpes
zoster abdominalis/ lumbalis

Lesi kulit
TIPE
Papul ( 24 jam ) bula vesikel (48 jam ) pustul ( 96 jam ) krusta ( 7 10 hari ).
Lesi baru berlanjut untuk muncul sampai dengan 1 minggu, Lesi nekrotik dan gangrene
terkadang muncul.
WARNA
Edema Eritematous didasari dengan lapisan vesikel yang jernih dan terkadang hemoragic.
Jika disertai ulkus dan sikatrik maka terdapat infeksi sekunder.

Gambar 1 : Herpes Zoster (sumber(3))


BENTUK
Bula vesikel dengan bentuk oval dan bulat terkadang umbilikasi.
DISTRIBUSI
Unilateral
PREDILEKSI
Thoraks > 50%
Trigeminal 10 20 %
Pada penderita HIV biasanya multidermatomal
6

LOKASI
Bisa di semua tempat, paling sering pada servikal IV dan lumbal II
Efloresensi/sifat-sifatnya : Lesi biasanya berupa kelompok- kelompok vesikel sampai
bula di atas daerah yang eritematosa. Lesi yang khas bersifat unilateral pada
dermatom yang sesuai dengan Ietak saraf yang terinfeksi virus.
2.6. DIAGNOSIS(8)
Penegakan diagnosis herpes zoster umumnya didasari gambaran klinis. Lima
Komponen utama dalam penegakan diagnosis adalah terdapatnya :
1. gejala prodromal berupa nyeri,
2. distribusi yang khas dermatomal,
3. vesikel berkelompok, atau dalam beberapa kasus ditemukan papul,
4. beberapa kelompok lesi mengisi dermatom, terutama dimana terdapat nervus
sensorik,
5. tidak ada riwayat ruam serupa pada distribusi yang sama (menyingkirkan herpes
simpleks zosteriformis),
6. nyeri dan allodinia (nyeri yang timbul dengan stimulus yang secara normal tidak
menimbulkan nyeri) pada daerah ruam.
2.8. PEMERIKSAAN PENUNJANG(3),(8)
Pemeriksaan laboratorium direkomendasikan bila lesi atipikal seperti lesi rekuren,
dermatom yang terlibat multipel, lesi tampak krusta kronis atau nodul verukosa dan bila
lesi pada area sakral sehingga diragukan patogennya virus varisela zoster atau herpes
simpleks. Pemeriksaan laboratorium yang dapat dilakukan adalah PCR yang berguna
pada lesi krusta, imunoflouresensi direk dari spesimen lesi vesikular, dan kultur virus
yang tidak efektif karena membutuhkan waktu 1-2 minggu.

Gambar 4 :Pemeriksaan Tzanck, dengan pewarnaan wright terlihat sel giant


multinuclear sedangkan pada imunofluoresensi direk pendaran warna hijau
mengindikasikan terdapatnya antigen virus varisela zoster.
7

2.7. DIAGNOSA BANDING(1, 3)


1. Herpes simpleks:
Hanya dapat dibedakan dengan mencari virus herpes simpleks dalam embrio
ayam, kelinci, tikus.
2. Varisela: biasanya lesi menyebar sentrifugal, selalu disertai demam.
3. Impetigo vesikobulosa: lebih sering pada anak-anak, dengan gambaran vesikel
dan bula yang cepat pecah dan menjadi krusta.
4. Dermatitis kontak
5. Infeksi bacterial
2.8. KOMPLIKASI(1)
Postherpetic neuralgia
Postherpetic neuralgia merupakan komplikasi herpes zoster yang paling sering
terjadi. Postherpetic neuralgia terjadi sekitar 10-15 % pasien herpes zoster dan
merusak saraf trigeminal. Resiko komplikasi meningkat sejalan dengan usia.
Postherpetic neuralgia didefenisikan sebagai gejala sensoris, biasanya sakit dan mati
rasa. Rasa nyeri akan menetap setelah penyakit tersebut sembuh dan dapat terjadi
sebagai akibat penyembuhan yang tidak baik pada penderita usia lanjut. Nyeri ini
merupakan nyeri neuropatik yang dapat berlangsung lama bahkan menetap setelah
erupsi akut herpes zoster menghilang.
Postherpetic neuralgia merupakan suatu bentuk nyeri neuropatik yang muncul
oleh karena penyakit atau luka pada sistem saraf pusat atau tepi, nyeri menetap
dialami lebih dari 3 bulan setelah penyembuhan herpes zoster. Penyebab paling
umum timbulnya peningkatan virus ialah penurunan sel imunitas yang terkait dengan
pertambahan umur. Berkurangnya imunitas di kaitkan dengan beberapa penyakit
berbahaya seperti limfoma, kemoterapi atau radioterapi, infeksi HIV, dan penggunaan
obat immunesuppressan setelah operasi transplantasi organ atau untuk manajemen
penyakit (seperti kortikoteroid) juga menjadi faktor risiko.
Postherpetic neuralgia dapat diklasifikasikan menjadi neuralgia herpetik akut (30
hari setelah timbulnya ruam pada kulit), neuralgia herpetik subakut (30-120 hari
setelah timbulnya ruam pada kulit), dan postherpetic neuralgia (di defenisikan sebagai
rasa sakit yang terjadi setidaknya 120 hari setelah timbulnya ruam pada kulit).
Postherpetic neuralgia memiliki patofisiologi yang berbeda dengan nyeri herpes
zoster akut, dapat berhubungan dengan erupsi akut herpes zoster yang disebabkan
oleh replikasi jumlah virus varicella zoster yang besar dalam ganglia yang ditemukan
selama masa laten. Oleh karena itu, mengakibatkan inflamasi atau kerusakan pada
serabut syaraf sensoris yang berkelanjutan, hilang dan rusaknya serabut-serabut
8

syaraf atau impuls abnormal, serabut saraf berdiameter besar yang berfungsi sebagai
inhibitor hilang atau rusak dan mengalami kerusakan terparah. Akibatnya, impuls
nyeri ke medulla spinalis meningkat sehingga pasien merasa nyeri yang hebat.
Herpes Zoster Oftalmikus
Herpes zoster oftalmikus disebabkan oleh infeksi cabang pertama nervus trigeminus
sehingga manifestasinya pada mata, selain itu juga memengaruhi cabang kedua dan
ketiga. Jika cabang nasosiliar bagian luar terlibat, dengan vesikel pada ujung dan tepi
hidung (Hutchinsons sign), maka keterlibatan mata dapat jelas terlihat. Vesikel pada
margo palpebra juga harus diperhatikan.

Gambar 5 : Herpes zoster Oftalmikus (sumber (1))


Kelainan pada mata yang sering terjadi adalah uveitis dan keratitis, akan tetapi dapat
pula terjadi glaukoma, neuritis optik, ensefalitis, hemiplegia, dan nekrosis retina akut.
2.8. PENATALAKSANAANNYA(3)
Istirahat
Untuk mengurangi neuralgia dapat diberikan analgetik
Usahakan supaya vesikel tidak pecah untuk menghindari infeksi sekunder, yaitu
dengan bedak salisil 2%. Bila terjadi infeksi sekunder dapat diberikan antibiotic
lokal mis. salep kloramfenikol 2%.
Obat Antiviral :
Indikasi obat antiviral ialah herpes zoster oftalmikus dan pasien dengan
defisiensi imunitas mengingat komplikasinya. Obat yang biasa digunakan ialah
asiklovir dan modifikasinya, misal-nya valasiklovir. Sebaiknya diberikan dalam 3
hari pertama sejak lesi muncul.
Dosis asiklovir yang dianjurkan ialah
9

5 x 800 mg sehari dan biasanya diberikan 7 hari


valasiklovir cukup 3 x 1000 mg sehari karena konsentrasi dalam plasma
lebih tinggi. Jika lesi baru masih tetap timbul obat tersebut masih dapat
diteruskan dan dihentikan sesudah 2 hari sejak lesi baru tidak timbul lagi.
Terapi pada pasien usia > 60 thn
Asiklovir IV 10 mg/kg/8 jam untuk 5 hari diberikan 4 hari saat onset dari nyeri
atau selama 48 jam setelah onset dari timbulnya ruam.
Pada pasien berusia > 60 tahun perlu diperiksa untuk faal ginjalnya ( kreatinin
clearense tidak < 25 Ml/ menit.
Masalah dari herpes zoster pada orangtua adalah bukan hanya lesi kulit atau nyeri
akut tapi postherpetik neuralgia kronik yang persisten selama 18 bulan, Apabila
tidak ada kontraindikasi dapat diberikan kortikosteroid sistemik ( prednisone
60mg/ hari tapering off sampai dengan nol selama > 4 minggu).
Untuk neuralgia pasca hepatica
Obat yang direkomendasikan di antaranya gabapentin dosisnya 1,800 mg - 2,400 mg
sehari. Hari pertama dosisnya 300 mg sehari diberikan sebelum tidur, setiap 3 hari dosis
dinaikkan 300 mg sehari sehingga mencapai 1,800 mg sehari.
Sindrom Ramsay Hunt
Prednison dengan dosis 3 x 20 mg sehari, setelah seminggu dosis diturunkan secara
bertahap. Dengan dosis prednison setinggi itu imunitas akan tertekan sehingga lebih baik
digabung dengan obat antiviral ( asiklovir IV atau Kombinasi alpha 2a). Dikatakan
kegunaannya untuk mencegah fibrosis ganglion.
2.9. PROGNOSIS
Umumnya baik, pada herpes zoster oftalmikus prognosis bergantung pada tindakan
perawatan secara dini.

10

KESIMPULAN
Herpes zoster merupakan sebuah manifestasi oleh reaktivasi virus Varisela-zoster
laten dari saraf pusat dorsal atau kranial.(1-3) Faktor resiko Herpes zoster lebih sering
terjadi pada dewasa, pada usia > 50 thn, kadang kadang pada anak anak namun
jarang terjadi, dan disfungsi imun selular.(3) Predileksi Herpes zoster terdapat pada
thoraks dan saraf trigeminal.(2) Diagnosis pada penyakit ini ditegakkan berdasarkan
anamnesis dan gambaran klinis. Pada gambaran klinis ditemukan adanya eritema yang
berubah menjadi vesikel berkelompok dengan dasar kulit yang edema dan eritematosa.
Penanganan perlu memperhatikan factor predisposisi dan komplikasi yang ada.(1-9)

11

DAFTAR PUSTAKA
1.
adhi djuanda hM, aisah S. ILMU PENYAKIT KULIT DAN KELAMIN. P hr, editor. jakarta: badan
penerbit FKUI; 2010.
2.
Siregar. Atlas berwarna saripati penyakit kulit. jakarta: EGC; 2005.
3.
fitzpatrick thomas jar, polano K M, wolf klaus. Color Atlas and Synopsis of Clinical Dermatology
common and serious disease. 2 ed. United State Of America: Mcgraw - Hill; 1994.
4.
Gnann JW WR. Herpes Zoster. N Engl J Med. 2002:347.
5.
Straus SE OM, Schmader KE. varicella and herpes zoster. 7 ed. Dermatol F, editor: Gen. Med.
6.
Sweeney C J GDH. Ramsay Hunt Syndrome. Journal of Neurology, Neurosurgery, adn Psychiatry.
2000.
7.
Brown Graham R BT. Lecture Notes Dermatologi: Erlangga; 2005.
8.
Dworkin RH jR, Breuer J, Gnann JW, Levin MJ, Backonja M, et al. Recomendations for the
management of herpes zoster 2007.
9.
Baehr M FM. Duus' topical diagnosis in neurology. New york: Thieme; 2005.

12