Anda di halaman 1dari 5

BAB 1

PENDAHULUAN
Di Indonesia penyakit diare merupakan penyakit endemis dan tahunan yang biasa
menyerang ketika musim hujan tiba. Hal ini disebabkan masih kurangnya kesadaran masyarakat
akan kebersihan lingkungan disekitarnya sehingga ketika ada salah satu warga terkena diare akan
menyebar ke warga yang lain. Di tiap-tiap kabupaten maupun provinsi dalam setahun masih
ditemukan adanya Kejadian Luar Biasa (KLB) penyakit diare, hal ini menggambarkan
bagaimana masyarakat hidup dengan resiko terkena diare yang besar bila tidak menjaga
kebersihan. Penderita diare harus segera diberikan terapi pengobatan bila dibiarkan berlanjut
tanpa terapi yang benar akan berakibat fatal.
Adapun strategi terapi diare akut akibat infeksi yaitu : rehidrasi sebagai prioritas utama
pengobatan, pasien diberikan oralit atau ringer laktat, kemudian dilakukan identifikasi penyebab
diare

apakah

termasuk

jenis

diare koleriform atau disentriform,

selanjutnya

dilakukan

pemeriksaan penunjang yang terarah. Terapi simtomatik (gejala) salah satunya obat anti diare
golongan

antimotilitas

dan

sekresi

usus

dari

golongan

opiat

salah

satunya

adalah Loperamide (Imodium) dan yang terakhir adalah melakukan terapi definitif
dengan pemberian edukasi yang jelas sangat penting sebagai langkah pencegahan antara lain
higiene perorangan, sanitasi lingkungan dan imunisasi melalui vakinasi.
Mengingat bahwa penyakit diare adalah penyebab utama morbiditas dan kematian anak
dinegara berkembang, dan penyebab penting anak kekurangan gizi, pada tahun 2003
diperkirakan 1,87 juta anak anak dibawah 5 tahun meninggal dunia karena diare. Oleh karena
itu dalam makalah ini akan membahas tentang anti diare Loperamide secara detail.

BAB 2
FARMASI FARMAKOLOGI
A. SIFAT FISIKA KIMIA DAN RUMUS KIMIA OBAT

Rumus : 4-(4-Chlorophenyl)-4-hydroxy-N,N-dimethyl-alpha,alpha-diphenylpiperidine-1butyramide monohydrochloride

Loperamide HCL

B. FARMASI UMUM : dosis dan cara penggunaan.


Dosis : - Diare akut (non spesifik)
Dewasa : 4 mg diikuti 2 mg setiap selesa ibuang air besar.Dosis tidak boleh melebihi 16 mg
sehari.
anak-anak : diare akut maksimal 16 mg per hari
2-5 tahun (13-20 kg) : 1 mg 3 kali per hari
6-8 tahun (20-30 kg) : 2 mg 2 kali per hari
8-12 tahun (> 30 kg) : 2 mg 3 kali per hari
pemeliharaan : 0,1 mg/kg BB sesudah BAB

- Diare kronik
Dewasa : 4 mg diikuti 2 mg setiap selesai buang air besar. Dosis tidak boleh melebihi 16mg
sehari. Pemberian harus dihentikan bila tidak ada perbaikan setelah 48 jam.
< 5 tahun : 1 mg 4 kali per hari

> 5 tahun : 2 mg 4 kali per hari


pemeliharaan : 2 mg per hari sesudah BAB

C. FARMAKOLOGI UMUM : KHASIAT, KEGUNAAN TERAPI / INDIKASI DAN


KONTRA INDIKASI
: mampu menormalkan keseimbangan resorpsi sekresi dari sel sel

Khasiat

mukosa yaitu memulihkan sel- sel yang berada dalam keadaan


hipersekresi ke keadaan resorpsi sehingga normal kembali.
Indikasi

: tambahan terapi rehidrasi pada diare akut pada dewasa dan anak- anak
lebih 4 tahun, diare kronik hanya pada dewasa.

Kontra indikasi

: anak- anak dibawah usia 2 tahun, wanita hamil dan menyusui,

colitis akut dapat menyebabkan megacolon toksik, pada keadaan


konstipasi, jangan diberikan pada awal- awal diare (karena kotoran dan
racun harus dikeluarkan), jangan melebihi dosis yang ditetapkan, penderita
yang hipersensitif terhadap obat ini, pada penderita hati dan ginjal, diare
berdarah (disentri), diare dengan suhu tubuh diatas 38c , kram abdomen,
reaksi kulit termasuk urtikaria, ileus paralitik dan perut kembung.

D. FARMAKODINAMIK
MEKANISME KERJA OBAT
Loperamide merupakan antispasmodik, dimana mekanisme kerjanya yang pasti belum
dapat di jelaskan.Secara in vitro dan

pada binatang,loperamide menghambat

motilitas/peristaltik usus dengan mempengaruhi secara langsung otot sirkular dan


longitudinal dinding usus.Secara invitro dan pada hewan coba,loperamide memperlambat
motilitas saluran cerna dan mempengaruhi pergerakan air dan elektrolit di usus besar.
Pada manusia,loperamide memperpanjang waktu transit isi saluran cerna.Loperamide
menurunkan volume feses, meningkatkan viskositas dan kepadatan feses dan
menghentikan kehilangan cairan dan elektrolit.
E. FARMAKOKINETIK

F. TOKSISITAS

EFEK SAMPING DAN TOKSISITAS


- Flatulen,konstipasi,mual,muntah,nyeri abdomen.
- Reaksi hipersensitif termasuk kemerahan pada kulit.
- Letih,mengantuk,pusing,megacolon toksik.

GEJALA TOKSISITAS DAN PENANGGULANNYA.


Gejala : konslipasi,mual,depresi susunan saraf pusat.

BAB 3
PENYELIDIKAN / PENELITIAN YANG TELAH / PERNAH DILAKUKAN
ORANG LAIN.