Anda di halaman 1dari 31

LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI TUMBUHAN (SB-141325)

FOTOTROPISME
RESY ADINOVITASARI
ERMA ESTIASIH
NUR HUMAIDAH
ANINDYA CITRA A.
RIZAL KHARISMA M.
FARIDAH TSURAYA
ELFIRA AMALIA F.
KHOIRUN NISAK

(1511100089)
(1512100006)
(1512100019)
(1512100026)
(1512100041)
(1512100051)
(1512100054)
(1512100702)

Dosen Pengampu:
Tutik Nurhidayati, S.Si., M.Si

Jurusan Biologi
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Institut Teknologi Sepuluh Nopember
Surabaya
1
2014

ABSTRAK

Fototropisme atau heliotropisme adalah gerak


tumbuhan yang terjadi akibat pengaruh arah datangnya
rangsang berupa cahaya. Fototropisme dibagi menjadi dua,
yaitu : Fototropisme positif Fototropisme positif adalah
gerak tanaman menuju ke arah datangnya cahaya.
Contohnya ujung batang bunga matahari yang membelok
menuju ke arah datangnya cahaya. Praktikum ini bertujuan
untuk menguji pengaruh cahaya terhadap perkecambahan
dan membuktikan adanya gerak fototropisme pada
tumbuhan. Metode yang digunakan pada praktikum ini
adalah mengecambahkan biji jagung (Zea mays) pada
medium kapas dengan perbedaan perlakuan yaitu control,
penutupan sebagian dan penutupan sempurna kemudian
diamati selama 1 minggu. Hasil yang didapatkan pada
praktikum ini adalah pada botol kontrol panjang rata-rata
tanaman yaitu 4,78 cm, memiliki daun berwarna hijau segar
dan tidak berjamur serta arah pertumbuhannya keatas, pada
botol II panjang rata-rata tanaman yaitu 7,72 cm, memiliki
daun berwarna hijau kekuningan dan tidak berjamur serta
arah pertumbuhannya membelok kearah cahaya dan pada
botol III panjang rata-rata tanaman yaitu 6,86 cm, memiliki
daun berwarna kuning pucat dan tidak berjamur serta arah
pertumbuhannya tidak beraturan.
Keywords

: Auksin, Cahaya,
tumbuhan, Zea mays,

Fototropisme,

Gerak

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, atas


limpahan rahmat dan nikmat-Nya sehingga kami dapat
menyelesaikan penyusunan laporan yang berjudul
Fototropisme dengan tepat waktu.
Ucapan terima kasih kami sampaikan kepada semua
pihak yang telah membantu dan memberikan dorongan
moral di dalam penyelesaian penyusunan laporan ini.
Tujuan penulisan laporan ini adalah untuk menyelesaikan
laporan unyuk mata kuliah Fisiologi Tumbuhan. Kami
berharap laporan ini dapat bermanfaat tidak hanya bagi
penulis tetapi juga pembaca.
Walaupun
penulis
menyadari
masih
banyak
kekurangan, namun besar harapan lapoaran ini dapat
bermanfaat.
Akhirnya, kami berharap semoga apa yang kami
sampaikan disini mampu menjadi tambahan dan sumber
referensi belajar yang efektif bagi para pembaca dalam
bidang fisiologi tumbuhan. Kami mengucapkan terima
kasih.
Surabaya, 25 November 2014
Penulis

ii

DAFTAR ISI
ABSTRAK ..................................................................................... i
DAFTAR ISI ................................................................................iii
DAFTAR TABEL ........................................................................ iv
DAFTAR GAMBAR .................................................................... v
BAB I PENDAHULUAN ............................................................. 1
1.1 Latar belakang....1
1.2 Rumusan masalah...2
1.3 Batasan masalah/2
1.4 Tujuan.2
1.5 Manfaat...2
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ................................................... 3
BAB III METODOLOGI .............................................................. 9
3.1 Waktu dan Tempat Penelitian ............................................. 9
3.2 Alat dan Bahan .................................................................... 9

3.3 Cara Kerja...9


BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ..................................... 11
BAB V KESIMPULAN .............................................................. 21
DAFTAR PUSTAKA................................................................ 222

iii

DAFTAR TABEL

Tabel 1. Hasil Pengamatan ................................................... 8

iv

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. Hasil pengamatan botol I . Error! Bookmark not


defined.4
Gambar 2. Hasil pengamatan botol II Error! Bookmark not
defined.5
Gambar 3. Hasil pengamatan botol III ..... Error! Bookmark
not defined.6

1
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Tanaman merupakan makhluk hidup yang sesil (melekat)
pada tanah secara alami dengan demikian untuk memaksimalkan
produksi energi mereka harus bergantung pada kemampuan
mereka untuk bergerak terarah, atau menunjukkan respon tropis
dalam menanggapi isyarat lingkungan secara langsung. (Whippo
dan Hangarter, 2006).Setiap organisme mampu menerima
rangsang yang disebut iritabilitas, dan mampu pula menanggapi
rangsang tersebut.Salah satu bentuk tanggapan yang umum
adalah berupa gerak.Gerak berupa perubahan posisi tubuh atau
perpindahan yang meliputi seluruh atau sebagian dari tubuh.Jika
pada hewan rangsang disalurkan melalui saraf, maka pada
tumbuhan rangsang disalurkan melalui benang plasma
(plasmodema) yang masuk ke dalam sel melalui dinding yang
disebut noktah (Salisbury dan Ross, 1995).
Respon tanaman terhadap rangsangan lingkungan sering
melibatkan beberapa jenis gerakan. Tanaman umumnya dapat
menunjukkan dua kategori gerakan: gerak tropisme dan gerak
Nasti (Srivastava, 2002). Tropisme adalah respon pertumbuhan
yang mengarah terhadap rangsangan (misalnya, fototropisme
direspon terhadap cahaya, gravitropisme dalam menanggapi
gravitasi) sementara Nasti terjadi dalam menanggapi stimulus
yag lebih (misalnya, circumnutation, gerakan osilasi).Tropisme
adalah gerakan tumbuh yang diakibatkan seluruhnya oleh
pasangan eksternal.Rangsangan yang menghasilkan respon tropik
jelas dapat diketahui dan peran spesifik dari faktor tumbuh dapat
diketahui (Heddy, S. 1986). Ketika geraknya mendekati sumber
rangsang disebut tropi positif, dan kalau menjauhi disebut tropi
negatif (Prawirohartono,1991). Tropisme dapat dibedakan
berdasarkan pada rangsangannya yaitu fototropisme disebabkan
oleh cahaya; geotropisme dengan rangsangan gaya tarik bumi;
thigmo tropisme dengan rangsangan berupa sentuhan;

2
chemotropisme dengan rangsangan yang berupa zat kimia dan
lain-lain (Heddy, S. 1986).
Fototropisme yaitu terjadi ketika cahaya langsung mengenai
bagian apikal dari perkecambahan muda dan mentranduksi lokasi
tumbuh dengan sinyal berbeda yang menunjukkan bagian yang
dekat dengan cahaya dan yang jauh dari cahaya yang nantinya
tanaman akan terlihat membelok atau terlihat lentur
(Holland,2009).
Cahaya berpengaruh dalam pertumbuhan tanaman atau
perkecambahan yang dibuktikan dengan suatu gerak
fototropisme, oleh karena itu penelitian ini dilakukan dengan
menguji pengaruh cahaya terhadap perkecambahan dan
membuktikan adanya gerak fototropisme pada tumbuhan.
1.2 Rumusan Masalah
Masalah yang dibahas pada praktikum ini adalah bagaimana
menguji pengaruh cahaya terhadap perkecambahan dan
bagaimana membuktikan adanya gerak fototropisme pada
tumbuhan.
1.3 Batasan Masalah
Pada praktikum ini batasan masalah meliputi gerak
fototropisme dan pengaruhnya terhadap perkecambahan dari biji
jagung.
1.4 Tujuan
Tujuan pada praktikum ini adalah untuk menguji pengaruh
cahaya terhadap perkecambahan dan membuktikan adanya gerak
fototropisme pada tumbuhan.
1.5 Manfaat
Manfaat dari praktikum ini adalah data yang didapat
digunakan sebagai dasar dalam perkembangan ilmu fisiologi

tumbuhan dan dapat menambah pengetahuan tentang


pengaruh cahaya terhadap perkecambahan.

3
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Tumbuhan dewasa tidak dapat berpindah dari tempat satu


ke tempat lainnya. Permasalahan ini dipecahkan dengan
memutus system perakarannya, translokasi pada lingkungan
baru, dan memperbaruhi dirinya agar dapat dengan baik
mengatasinya.Untuk mendapatkan lokasi lainnya, tumbuhan
mengunakan bijinya atau aseksual propagul, seperti tabung,
rhizoma atau cloning tumbuhan, tetapi induknya tidak
mengalami perpindahan fisik. Tumbuhan bergerak karena
adanya respon dengan stimulus berbeda, misalnya cahaya,
gravitasi, sentuhan dan kimia (Scott, 2008).
Gerak merupakan salah satu ciri yang dimiliki makhluk
hidup. Gerak dapat berupa perpindahan tempat atau
perubahan bentuk tubuh. Walaupun tumbuhan tidak
memiliki sistem syaraf, namun mempunyai tubuh yang
tersusun atas sel-sel yang saling berdekatan dan
berhubungan. Dinding sel tumbuhan umumnya mengalami
penebalan, tetapi adabagian tertentu dari sel itu tidak
menebal, sehingga seolah-olah ada celah disebut noktah.
Melalui celah inilah plasma sel yangsatu dengan sel
tetangganya yangdihubungkan oleh benang-benang plasma
disebut plasmodesmata. Gerak pada tumbuhan disebabkan
karena rangsangan yang diterima oleh plasmodemata. Gerak
pada tumbuhan dibedakan menjadi 2, yaitu gerak endonom
dan gerak etionom (Champbell, 2004).
Gerak endonom adalah gerak bagian tubuh tumbuhan
yang disebabkan oleh ransangan dari dalam. Jenis
rangsangan juga belum jelas sehingga ada pakar yang
menyebutkan gerakan tersebut terjadi karena kemauan
tumbuhan itu sendiri, maka sering disebut gerak otonom.

4
Contoh gerak endonom, antara lain gerak sitoplasma pada
sel umbi lapis bawang merah, gerak melingkar batang
gadung (Dioscoreasp), palmae, maupun batang kacang
panjang. Ujung batang gadung akan selalu melilit batang
rambatnya ke arah kiri, sedangkan ujung batang kacang
panjang akan melilit ke arah kanan (Champbell, 2004).
Gerak endonom dibagi menjadi 2, nutasi yaitu gerak
spontan dari tumbuhan yang tidak disebabkan adanya
rangsangan dari luar. Misalnya gerakan aliran sitoplasma
pada tanaman air Hydrilla verticillata dan Higroskopis yaitu
gerak bagian tumbuhan yang terjadi karena adanya
perubahan kadar air pada tumbuhan secara terus menerus,
akibatnya kondisi menjadi sangat kering pada kulit buah
atau kotak spora sehingga kulit biji atau kotak spora pecah.
Misalnya, pecahnya kulit buah polong-polongan (lamtoro,
kembang merak, kacang buncis, kacang merah),
membukanya kotak spora (sporangium) tumbuhan paku
(Pteridophyta) dan lumut (Bryophyta) (Champbell, 2004).
Gerak etionom yaitu gerak yang dipengaruhi rangsang
dari luar. Berdasarkan hubungan antara arah respon gerakan
dengan asal rangsangan, gerak etionom dapat dibedakan
menjadi gerak taksis, tropisme, dan nasti.Tropisme adalah
gerak bagian tumbuhan yang arah geraknya dipengaruhi
arah datangnya rangsangan. Bagian yang bergerak itu
misalnya cabang, daun, kuncup bunga atau sulur. Gerak
tropisme dapat dibedakan menjadi tropisme positif apabila
gerak itu menuju sumber rangsang dan tropisme negatif
apabila gerak itu menjauhi sumber rangsang. Ditinjau dari
macam sumber rangsangannya, tropisme dapat dibedakan
lagi menjadi fototropisme, geotropisme, hidrotropisme,
kemotropisme, dan tigmotropisme. Gerak Nasti adalah
gerak bagian tubuh tumbuhan yang artinya tidak

5
dipengaruhi oleh rangsangan. Taksis merupakan gerak
perpindahan tempat sebagian atau seluruh bagian tumbuhan
akibat dari adanya rangsangan (Sam Arianto,2008).
Gerak tropisme dibagi menjadi:
1.
Fototropisme adalah gerak bagian tumbuhan karena
rangsangan cahaya. Gerak bagian tumbuhan yang menuju kearah
cahayadisebut fototropisme positif. Misalnya gerak ujung batang
tumbuhan yang membelok kearah datangnya cahaya. Sedangkan
pertumbuhan bagian tumbuhan menjauhi arah datangnya cahaya
disebut dengan fototropisme negatif. Misalnya gerak
pertumbuhan ujung akar. Fototropisme atau heliotropisme adalah
gerak tumbuhan yang terjadi akibat pengaruh arah datangnya
rangsang berupa cahaya. Fototropisme dibagi menjadi dua, yaitu :
Fototropisme positif Fototropisme positif adalah gerak tanaman
menuju ke arah datangnya cahaya. Contohnya ujung batang
bunga matahari yang membelok menuju ke arah datangnya
cahaya. Fototropisme negatif fototropisme negatif adalah gerak
tanaman atau bagian tanaman menjauhi arah datangnya cahaya.
Contohnya gerak ujung akar yang menjauhi arah datangnya
cahaya. Respon pertumbuhan dapat mengakibatkan suatu bagian
tumbuhan lebih cepat tumbuh dari bagian yang lain. Respon
tersebut menghasilkan gerakan yang pasti namun relatif lambat.
Salah satu gerakan pertumbuhan sebagai respon terhadap
rangsangan dari luar dari tropisme. Tropisme merupakan gerakan
pertumbuhan sebagian anggota tubuh tanaman yang ditentukan
oleh arah datangnya rangsang yang mengenainya. Bila bagian
tubuh tersebut mengarah kearah asal rangsang maka dinilai
sebagai respon yangpositif dan bila berlawanan arah maka
dinilaisebagai respon yang negatif (Kimball, 1992).
2.
Geotropisme adalah gerak bagiantumbuhan karena
pengaruh gravitasi bumi (geo=bumi). Jika arah geraknya menuju
rangsangdisebut geotropisme positif, misalnya gerakan akar
menuju tanah. Jika arah geraknya menjauhi rangsang disebut
geotropisme negatif, misalnya gerak tumbuh batang menjauhi
tanah.

6
3.
Hidrotropisme adalah gerak bagian tumbuhan karena
rangsangan air (hidro=air). Jika gerakan itu mendekati air maka
disebut hidrotropisme positif. Misalnya, akar tanaman tumbuh
bergerk menuju tempat yang banyak airnya ditanah. Jika tanaman
tumbuh menjauhi air disebut hidrotropisme negatif. Misal, gerak
pucuk batang tumbuhan yang tumbuh keatas air.
4.
Kemotropisme adalah gerak bagian tumbuhan karena
rangsangan zat kimia. Jika gerakannya mendekati zat kimia
tertentu disebut kemotropisme positif. Misalnya, gerak akar
menuju zat didalam tanah. Jika gerakannya menjauhi zat kimia
tertentu disebut kemotropisme negatif, contohnya gerak akar
menjauhi racun.
5.
Gerak bagian tumbuhan karena adanya rangsangan
sentuhan satu sisi atau persinggungan disebut trigmotropisme.
Gerakan ini tampak jelas pada gerak membelit ujung batang
ataupun ujung sulur dari Cucurbitaceae dan Passiflora. Contoh
tanamanyang bersulur adalah ercis, anggur, markisa, semangka,
dan mentimun.

Gerak nasti dibagi menjadi :


1.
Tigmonasti atau seismonasti adalah gerakan nasti yang
disebabkan oleh rangsang sentuhan atau getaran. Contoh gerak
menutupnya daun sikejut atau putri malu (Mimosa pudica), jika
disentuh. Jika hanya satu anak daun dirangsang dengan sentuhan,
rangsangan itu diteruskan ke seluruh tumbuhan sehingga anak
daun lain ikut mengatup. Mekanisme gerak ini juga disebabkan
oleh pengaruh perubahan tekanan turgor di dalam sel-sel pada
persendian daun. Sentuhan merupakan salah satu rangsang dari
luar terhadap gerakan daun tanaman putri malu. Arah
menutupnya daun akibat sentuhan adalah tetap walaupun
rangsang sentuhannya berbeda.
2.
Termonasti, Gerak nasti karena pengaruh rangsang
cahaya. Contoh: gerak membukanya buka tulip atau Termonasti
merupakan gerak nasti yang disebabkan oleh rangsang suhu,
seperti mekarnya bunga tulip dan crocus. Bunga-bunga tersebut
mekar jika mendadak mengalami kenaikan temperatur, dan akan

7
menutup kembali bila temperatur menurun. Contoh termonasti
yang terjadi di daerah dingin, misalnya bunga tulip dan bunga
crokus yang membuka karena pengaruh suhu. Bunga-bunga
tersebut mengembang jika mengalami kenaikan suhu. Jika suhu
menurun maka bunga-bunga tersebut akan menutup lagi.
3.
Fotonasti, Gerak nasti karena pengaruh rangsang cahaya.
Contoh : gerak mekarnya bunga pukul empat, bunga waru, dan
bunga kupu -kupu
4.
Niktinasti, gerak menutup atau rebahnya tumbuhan
karena pengaruh gelap atau menjelang malam. Contoh : gerak
tidur daun lamtoro pada malam hari.
5.
Nasti kompleks, gerak nasti yang disebabkan oleh
beberapa faktor sekaligus yang saling terikat. Contoh : Membuka
dan menutupnya sel pada stomata.

(Scott,2008).
Gerak Taksis dibagi menjadi :
1.
Kemotaksis, gerak taksis yang disebabkan oleh zat kimia.
Contohnya pergerakan sel gamet jantan pada tumbuhan lumurt
bergerak menuju sel gamet betina.
2.
Fototaksis, gerak taksis yang disebabkan oleh cahaya
matahari. Contohnya pergerakan ganggang hijau chlamy
domonos yang langsung bergerak menuju cahaya yang
intensitasnya sedang.
(Mausett,2009).

Fototropisme atau heliotropisme adalah gerak tumbuhan


yang terjadi akibat pengaruh arah datangnya rangsang berupa
cahaya. Fototropisme dibagi menjadi dua, yaitu:
Fototropisme positif
Fototropisme positif adalah gerak tanaman menuju ke arah
datangnya cahaya. Contohnya ujung batang bunga matahari yang
membelok menuju ke arah datangnya cahaya.
Fototropisme negatif
Fototropisme negatif adalah gerak tanaman atau bagian tanaman
menjauhi arah datangnya cahaya. Contohnya gerak ujung akar
yang menjauhi arah datangnya cahaya.

8
Respon pertumbuhan dapat mengakibatkan suatu bagian
tumbuhan lebih cepat tumbuh dari bagian yang lain. Respon
tersebut menghasilkan gerakan yang pasti namun relatif lambat.
Salah satu gerakan pertumbuhan sebagai respon terhadap
rangsangan dari luar dari tropisme. Tropisme merupakan gerakan
pertumbuhan sebagian anggota tubuh tanaman yang ditentukan
oleh arah datangnya rangsang yang mengenainya. Bila bagian
tubuh tersebut mengarah kearah asal rangsang maka dinilai
sebagai respon yang positif dan bila berlawanan arah maka dinilai
sebagai respon yang negatif (Kimball, 1992).
Fototropisme kuncup utama pada kebanyakan tanaman yang
tumbuh di tempat terbuka dilakukan untuk berkembang kearah
vertikal, meskipun batangnya sering tumbuh secara horizontal.
Jika sebuah kotak diisi tanaman yang tumbuh secara vertikal dan
lubang dibuat agar cahaya dapat masuk dari salah satu sisi, maka
ujung taaman mulai membengkok kearah cahaya. Pada beberapa
saat bila kotak tersebut dipindahkan dengan kompensasi
pertumbuhan pembengkokan dikarenakan ujung tanaman tumbuh
secara vertikal. Pergerakan pertumbuhan kearah cahaya disebut
fototropisme positif, sedangkan pergerakan tumbuhan menjauhi
cahaya disebut fototropisme negatif. Pucuk dan kuncup ujung
beberapa tanaman merupakan fototropisme positif, namun akan
sangat sensitif dengan cahaya (Salisbury, 1995).

9
BAB III
METODOLOGI
3.1 Waktu dan Tempat Penelitian

Penelitian ini dilakukan pada hari Jumat, 07 November


2014 pada pukul 07.30-10.00 WIB yang bertempat di
Laboratorium Botani Jurusan Biologi Fakultas Matematika
dan Ilmu Pengetahuan Alam Institut Teknologi Sepuluh
Nopember Surabaya.
3.2 Alat dan Bahan

Peralatan yang digunakan adalah botol Nescafe/botol


kaca bermulut lebar sebanyak 3 botol dan baskom plastic
kecil dan pinset. Sedangkan bahan yang digunakan adalah
biji jagung (Zea mays), kertas karbon, selotip, dan kapas
lemak.
3.3 Cara Kerja

Langkah pertama yang harus dilakukan adalah alat dan


bahan yang dibutuhkan disiapkan terlebih dahulu.
Selanjutnya, biji jagung (Zea mays) dipilih sebanyak 15 biji
yang baik dengan cara menenggelamkan biji kedalam air,
jika biji tenggelam maka biji tersebut merupakan biji yang
baik kemudian biji tersebut direndam didalam air selama
1-2 jam. Selanjutnya, sebanyak 3 botol Nescafe bersih
disiapkan kemudian dilapisi kapas lemak pada dasar botol
tersebut dan dibasahi dengan air aquades secukupnya.
Selanjutnya dimasukkan biji jagung (Zea mays) tersebut
kedalam botol, masing-masing botol diisi 5 biji (Zea mays).
Selanjutnya pada botol I semua permukaan botol tersebut
ditutup dengan kertas karbon sehingga tidak ada cahaya
yang masuk ke dalam botol tersebut. Pada botol II semua
permukaan botol tersebut ditutup dengan kertas karbon
tetapi diberi lubang pada salah satu pinggiran botol dan pada

10
botol III dibiarkan terbuka sebagai kontrol. Selanjutnya
pengamatan dilakukan selama 1 minggu.

11
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

Praktikum fotrotropisme bertujuan untuk mengetahui


arah perkecambahan karena pengaruh cahaya. Pada
praktikum ini digunakan botol Nescafe agar pertumbuhan
tanaman dapat dilihat dengan jelas, medium yang digunakan
untuk pertumbuhan biji tersebut adalah kapas lemak dimana
kapas tersebut dapat menyerap air yang kemudian akan
diserap oleh biji. Biji yang digunakan adalah biji jagung
(Zea mays) dimana biji tersebut memiliki tipe
perkecambahan hypogeal. Perendaman biji selama 1-2 jam
dilakukan untuk mendapatkan biji yang baik yang dicirikan
dengan adanya biji yang tenggelam serta untuk mematahkan
masa dormansi biji tersebut. Kehadiran air di dalam sel akan
mengaktifkan sejumlah enzim perkecambahan awal.
Selanjutnya biji diletakkan pada gelas yang diberi kapas
basah yang pada bagian dasarnya, masing-masing botol
diberikan 5 biji. Pemberian air dalam kapas bertujuan untuk
memberi tempat lembab pada biji sehingga biji dapat
menyerap air tersebut untuk digunakan dalam proses
metabolismenya. Kadar air dalam lingkungan dapat
mempengaruhi pertumbuhan serta perkembangan tumbuhan.
Tempat yang lembab menguntungkan bagi tumbuhan di
mana tumbuhan dapat mendapatkan air lebih mudah serta
berkurangnya penguapan yang akan berdampak pada
pembentukan sel yang lebih cepat (Najwa, 2011). Namun,
kadar air yang berlebihan pada kapas juga tidak baik pada
pertumbuhan biji. Hal ini dikarenakan jika biji terlalu
banyak terendam air maka jumlah oksigen yang dapat
dijangkau biji akan semakin sedikit. Oksigen yang cukup
diperlukan biji untuk berkecambah. Selain itu banyaknya air
akan
meningkatkan
kemungkinan
tumbuhnya

12
mikroorganisme lain yang tidak diinginkan seperti jamur,
bakteri dan lainnya. Perbedaan perlakuan yaitu pada botol 1
tidak dilakukan apapun (tidak ditutp dengan kertas karbon)
karena termasuk control, yaitu masuknya cahaya yang
optimal untuk proses pertumbuhan, pada botol 2 ditutup
dan sebagian dilubangi 3x3 yang memungkinkan cahaya
masuk pada lubang tersebut dan pada botol 3 semua
permukaan ditutup dengan kertas karbon sehingga cahaya
tidak dapat masuk ke botol tersebut. Hal ini dilakuakan agar
dapat mengetahui pengaruh dari sinar matahari terhadap
arah dan pertumbuhan pada tanaman jagung (Zea mays).
Tabel 1. Hasil Pengamatan
No.

Botol

Biji

1
2
1

I
(Kontrol)

3
4
5

Panjang
Batang
(cm)

Warna
Daun

Jumlah
Daun

Arah
Pertumbuhan

2.2

ke atas

ke atas

ke atas

3.4
8.3

Hijau
muda
Hijau
muda

9.5

ke atas

0.5

ke atas

9.6

Hijau
kekuningan

menuju
lubang

9.2

Hijau
kekuningan

menuju
lubang

9.5

Hijau
kekuningan

ke atas

4.3

menuju
lubang

II (lubang
3x3)

Morfologi
Segar, tidak
berjamur
Segar, tidak
berjamur
Segar, tidak
berjamur
Segar, tidak
berjamur
Segar, tidak
berjamur
Segar tapi
hampir layu,
tidak
berjamur
Segar tapi
hampir layu,
tidak
berjamur
Segar tapi
hampir layu,
tidak
berjamur
Segar tapi
hampir layu,
tidak
berjamur

13

Hijau
kekuningan

menuju
lubang

tidak berarah

tidak berarah

tidak berarah

tidak berarah

5
1

III
(tertutup
sempurna)

2
3
4
5

10
5.6
8.3
10.4
0

kuning
pucat
kuning
pucat
kuning
pucat
kuning
pucat
-

Segar tapi
hampir layu,
tidak
berjamur
Layu, tidak
berjamur
Layu, tidak
berjamur
Layu, tidak
berjamur
Layu, tidak
berjamur
-

Hasil yang didapat pada praktikum ini setelah


perkecambahan setelah 7 hari didapatkan bahwa botol
kontrol (botol I) yang tidak ditutup dan tidak diberi lubang
menunjukkan panjang batang biji ke-1=2,2 cm. Biji ke3=3,4 cm. Biji ke-4=8,3 cm. Biji ke-4=9,5 cm dan biji ke5=0,5 cm. Panjang rata-rata pertumbuhan dari biji jagung
tersebut adalah 4,78 cm Warna daun pada tumbuhan jagung
pada botol kontrol adalah hijau muda. Morfologi yang
terlihat dari tumbuhan kontrol ini adalah segar dan tidak
berjamur. Jumlah daun yang tumbuh pada biji 1,4, dan 5
adalah 0. Biji 2 terdapat 2 daun dan biji ke-3 terdapat 1
daun. Arah pertumbuhan dari semua tumbuhan adalah ke
atas. Faktor yang menyebabkan biji tumbuh dengan baik
karena adanya peningkatan intensitas cahaya (matahari)
merupakan sumber energi utama untuk melakukan proses
fotosintesis (Lakitan, 1996). Hasil fotosintesis akan
ditranslokasikan keseluruh jaringan tanaman melalui floem,
yang selanjutnya energi hasil fotosintesis tersebut akan
dipergunakan tanaman untuk mengaktifkan pertumbuhan
tunas, daun, dan batang sehingga tanaman tumbuh optimal
(Puspitasari, 2012).

14

(a)
(b)
Gambar 1. (a) Hasil pada botol I ; (b) daun pada tanaman botol I

Pada botol II yang diberi lubang 3x3, biji ke-1


mempunyai panjang 9,6 cm. Biji ke2= 9,2 cm. Biji ke-3 =
9,5 cm. Biji ke-4 = 4,3 cm. Biji ke-5 = 6cm. Pada botol ini,
semua tumbuhan mempunyai warna hijau kekuningan.
Morfologi dari semua tumbuhan yang ada dalam botol
berlubang adalah hampir layu namun tidak berjamur.
Jumlah daun pada tumbuhan ke-1 =2, tumbuhan ke-2 = 2.
Biji ke-3 = 2, Biji ke-4= 0, Biji ke-1 = 1. Arah pertumbuhan
semua mengarah ke lubang keculai biji ke-3. Lubang berada
di antara biji ke-3 dan ke-4.Sehingga biji ke-3 tertutupi oleh
semua tumbuhan. Intensitas cahaya yang diterima rendah,
sehingga menyebabkan pertumbuhan daunnya lebih sedikit.
Hal ini berarti luas daun dari suatu tanaman juga akan
semakin rendah. Kondisi ini berakibat yaitu semakin rendah
pula proses fotosintesis yang dilakukan daun. Dan juga akan
menjadikan pertumbuhan daun melebar, tapi tipis lapisan
epidermisnya, jumlah jaringan palisade sedikit, ruang antar
sel lebih lebar, dan jumlah stomata menjadi lebih banyak
(Puspitasari, 2012). Hormon auksin pada tanaman tersebut akan
bekerja, adanya cahaya akan membelokkan batang tanaman
tersebut. Bagian tanaman yang terkena cahaya, hormone
auksinnya akan terhambat sedangkan sisi lawannya
hormone auksin tersebut dapat bekerja terus menerus

15
sehingga mengakibatkan pembelokan pada tanaman,
seakan-akan tanaman akan membelok ke arah datangnya
cahaya. Daun tanaman akan cenderung menguning karena
tidak adanya cahaya.

(a)
(b)
Gambar 1. (a) Hasil pada botol II ; (b) daun pada tanaman botol II

Pada botol yang tertutup sempurna, panjang biji ke-1=10


cm. Biji ke-2=5,6 cm. Biji ke-3 = 8,3 cm. Biji ke-4 = 10,4
cm. Biji ke-5 tidak tumbuh. Morfologi dari tumbuhan
jagung pada botol ini layu dan tidak berjamur. Jumlah daun
pada tumbuhan 1,2,3,4 adalah 2 sedangkan tumbuhan 1
karena tidak tumbuh maka tidak mempunyai daun. Hal ini
menandakan seperti pada perlakuan sebelumnya bahwa
kemungkinan kondisi benih atau biji, dipanen sebelum
mencapai masak fisiologis dan karena adanya hambatan
perkembangan embrio. Selain itu karena kulit benih yang
impermeabel terhadap air dan gas, sehingga tidak terjadi
imbibisi dan oksigen tidak dapat masuk ke dalam benih
sehingga proses perkecambahan tidak dapat berlangsung
(Suena, 2005). Arah pertumbuhan tumbuhan di botol ini
tidak berarah atau serong atau ke samping. Warna daun
tumbuhan pada botol ini kuning pucat. Hal ini
dimungkinkan karena penurunan intensitas cahaya akibat
naungan atau penutupan aluminium foil juga akan
menurunkan rasio klorofil a/b, tetapi akan meningkatkan

16
jumlah relatif klorofil. Pemberian naungan pada tanaman
akan berdampak terhadap proses metabolisme dalam tubuh
tanaman dan akhirnya akan berdampak terhadap
pertumbuhan dan produksi tanaman, terutama karena
kurangnya intensitas cahaya yang diterima tanaman tersebut
(Baharsyah, 1985).

(a)
(b)
Gambar 1. (a) Hasil pada botol III ; (b) daun pada tanaman botol III

Dari hasil yang didapat dapat diketahui bahwa pada


panjang batang, tumbuhan jagung pada botol control yang
tidak diberi perlakuan, mempunyai rata-rata panjang batang
yang lebih pendek dibanding dengan batang jagung yang
ditutup dengan kertas karbon dan botol yang diberi lubang.
Botol yang diberi perlakuan ditutup seluruhnya dengan
kertas karbon mengalami pertumbuhan yang lebih cepat
dibanding perlakuan yang lain, hal ini dikarenakan adanya
konsentrasi hormon auksin yang terus bertambah atau lebih
banyak dibandingkan dengan semua perlakuan. Hormon
auksin merupakan hormone yang berperan dalam
pembelahan sel meningkatkan plastisitas, dan dinding sel.
Auksin dapat menaikkan tekanan osmotik, meningkatkan
permeabilitas sel terhadap air,menyebabkan pengurangan
tekanan pada dinding-dinding sel, meningkatkan sintesis
protein. Tumbuhan pada botol yang ditutup maupun diberi

17
lubang mempunyai petumbuhan yang lebih cepat
dibandingkan dengan yang tidak diberi perlakuan. Hal ini
dikarenakan tidak terhambatnya hormone auksin karena
cahaya sehingga pemanjangan sel terus berlanjut.
Akan tetapi pertumbuhan tumbuhan jagung yang ditutup
kertas karbon mempunyai batang berwarna kuning pucat
karena tidak dapat memproduksi klorofil sebagai pigmen
warna daun. Pada tumbuhan yang ditutup namun terdapat
lubang, batangnya berwarna hijau kekuningan. Hal ini
dikarenakan hanya sedikit cahaya yang dapat masuk ke
dalam botol, jadi hanya sedikit auksin yang dapat dihambat
oleh cahaya dan hanya memproduksi sedikit klorofil. Pada
tumbuhan yang tidka diberi perlakuan (control) mempunyai
batang berwarna hijau. Hal ini disebabkan adanya pigmen
klorofil yang dihasilkan oleh tumbuhan, pigmen ini
dihasilkan karena tersedianya cahaya yang akan ditangkap
pleh pigmen.
Morfologi dari tumbuhan yang ditutup dengan kertas
karbon mengalami kelayuan, karena cahaya yang
merupakan factor pertumbuhan dan perkembangan tanaman
tidak didapatkan sehingga berpengaruh dalam proses
metabolisme tumbuhan tersebut. Tumbuhan yang ditutup
namun diberi lubang morfologinya hampir layu, hal ini
karena terdapatnya sedikit cahaya yang dapat diserap
tumbuhan namun tumbuhan tetap hamper layu karena belum
terpenuhi semua.
Dilihat dari jumlah daunnya, tumbuhan yang ditutup
dengan kertas karbon dan ditutup namun dilubnagi
mempunyai jumlah daun yang lebih banyak dibandingkan
dengan yang tidak diberi perlakuan.Hal ini juga dipengaruhi
oleh aktivitas hormone auksin yang mempengaruhi

18
pertumbuhan dan perkembangan sel sehingga menyebabkan
daun bertambah.
Namun, arah pertumbuhan pada tumbuhan yang ditutup
kertas karbon mempunyai arah pertumbuhan yang tidak
terarah, hal ini dikarenakan tidak adanya cahaya yang
mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan tumbuhan
itu. Bila ditinjau dari arah bengkok batang tanaman, seluruh
hasil perkecambahan dari perlakuan ini tidak menunjukan
proses fototropisme karena seluruh pertumbuhan tanaman
tegak lurus ke arah atas. Hal ini disebabkan karena
tumbuhan tersebut tidak mendapatkan cahaya dari sudut
manapun sehingga tidak ada pembelokan kearah cahaya
(fototropisme) dan pengembangan sel dan bersifat menjauhi
cahaya. Di dalam tumbuhan yang sedang tumbuh, auksin
dihasilkan pada ujung pertumbuhan, meningkatkan elongasi
sel-sel tumbuhan. Konsentrasi auksin lebih besar pada sisi
batangyang lebih gelap, sehingga sel-sel di bagian tersebut
tumbuh lebih panjang dibandingkan el-sel yang terkena
cahaya. Makanya, biji yang berkecambah membengkok ke
arah cahaya. Di dalam tumbuhan yang sedang tumbuh,
auksin dihasilkan pada ujung pertumbuhan, meningkatkan
elongasi sel-sel tumbuhan. Konsentrasi auksin lebih besar
pada sisi batangyang lebih gelap, sehingga sel-sel di
bagiantersebut tumbuh lebih panjang dibandingkan sel-sel
yang terkena cahaya. Makanya, biji yang berkecambah
membengkok ke arah cahaya.
Arah tumbuh berhubungan dengan mekanisme fototropisme,
yaitu gerak bagian tumbuhan yang dipengaruhi oleh arah
datangnya cahaya. Pembelokan ini disebabkan juga oleh
kesensitifan hormon auksin. Hormon auksin adalah hormon pada
tumbuhan yang berperan merangsang pembelahan sel dan
pengembangan sel yang bersifat menjauhi cahaya (Suhentaka,
2010). Auksin terdapat paling banyak pada bagian koleoktil yang

19
di produksi pada ujung tunas akar dan ujung tunas batang.
Apabila tumbuhan mendapatkan cahaya matahari dari salah satu
sisi maka akan terjadi perbedaan konsentrasi antara hormon
auksin pada bagian tumbuhan yang terpapar cahaya matahari dan
yang tidak. Pada bagian yang terpapar sinar matahari, memiliki
konsentrasi hormon auksin yang lebih kecil dibandingkan bagian
tumbuhan yang tidak terpapar sinar matahari. Pengaruh hormon
auksin dalam konsentrasi yang berbeda pada bagian tubuh
tanaman mengakibatkan terjadinya pertumbuhan yang tidak
seimbang. Bagian yang mengandung auksin lebih banyak
memiliki kecepatan tumbuh yang lebih besar. Adapun bagian
yang kekurangan akan mengalami pertumbuhan lebih lambat.
Jika ini terjadi pada pucuk batang, terjadi pembengkokan arah
pertumbuhan. Pengaruh auksin terhadap perkembangan sel
memperlihatkan bahwa auksin dapat menaikkan tekanan osmotik,
meningkatkan permeabilitas sel terhadap air, menyebabkan
pengurangan tekanan pada dinding-dinding sel, meningkatkan
sintesis protein, meningkatkan plas-tisitas, mengembangnya
dinding sel [5]. Dalam hal ini, auksin bertanggung jawab untuk
rilis proton (dengan mengaktifkan pompa proton), yang
menurunkan pH dalam sel-sel pada sisi gelap dari tanaman. Ini
pengasaman daerah dinding sel mengaktifkan enzim yang dikenal
sebagai expansins yang memutuskan ikatan dalam struktur
dinding sel, membuat dinding sel kurang kaku. Selain itu,
lingkungan asam menyebabkan gangguan ikatan hidrogen dalam
selulosa yang membentuk dinding sel. Penurunan kekuatan
dinding sel menyebabkan sel membengkak, mengerahkan tekanan
mekanik yang mendorong gerakan fototropik.

Perkecambahan benih terjadi melalui 6 tahapan berikut,


yaitu : 1.imbibisi, 2.respirasi, 3.pengaktifan enzim-enzim,
4.katabolisme, 5.anabolisme (sintesis protein), dan
6.emergence (berkecambah) (Baharsyah, 1985).
Pada benih kering, aktivitas metabolismenya sangat rendah.
Jika terjadi hidrasi (penyerapan air) pada protein dari benih
kering ini, akan menyebabkan aktivitas biologi yang

20
mengakibatakan perubahan komposisi kimia pada semua
bagian biji. Hormon giberelin pda benih kering terdapat
dalam bentuk terikat dan tidak aktif, kemudian akan menjadi
aktif setelah benih mengimbibisi air. Hormon giberelin ini
akan mendorong pembentukan enzim-enzim hidrolisis
seperti: enzim amylase, enzim protease, enzim
ribonuklease, enzim glukonase, dan enzim fosfatase.
Enzim-enzim ini akan berdifusi ke endosperm dan
mengkatalisis cadangan makanan menjadi gula, asam
amino, dan nukleosida yang mendukung pertumbuhan
embryo dalam perkecambahan benih (Baharsyah, 1985).

21
BAB V
KESIMPULAN
Kesimpulan yang dapat diambil adalah cahaya berpengaruh
besar terhadap pertumbuhan biji serta arah pertumbuhannya. Hal
ini terlihat dari panjang jagung yang menjadi abnormal dan warna
daun menjadi kuning pucat. Arah pertumbuhannya ada yang
membengkok menuju arah cahaya ketika diberi perlakuan ditutup
sebagian juga ada yang tumbuh lurus keatas ketika ditutup penuh.
Hal ini disebabkan karena cahaya matahari mempunyai peranan
besar dalam proses fisiologi tanaman seperti fotosintesis,
respirasi, pertumbuhan dan perkembangan, menutup dan
membukanya stomata, dan perkecambahan tanaman, metabolisme
tanaman hijau, sehingga ketersediaan cahaya matahari
menentukan tingkat produksi tanaman, termasuk intensitasnya.
Semakin rendah intensitas cahaya, dapat menyebabkan pucatnya
warna daun, dan arah tumbuh berhubungan dengan mekanisme
fototropisme, yaitu gerak bagian tumbuhan yang dipengaruhi oleh
arah datangnya cahaya. Pembelokan ini disebabkan juga oleh
kesensitifan hormon auksin.

22

(Halaman ini sengaja dikosongkan)

23

DAFTAR PUSTAKA
Baharsyah, J. S. Suwardi, dan Irsal Las, 1985 Hubungan Iklim dengan
Pertumbuhan Kedelai. Bogor: Badan Penelitian dan
pengembangan Tanaman Pangan.
Campbell N. Reece JB. 2004. Biology. Erlangga: Jakarta.
Heddy, S. 1986. Hormon Tumbuhan. Jakarta: Penerbit Rajawali.
Holland, J. et al. 2009. Understanding Phototropism: From Darwin to
Today. Journal of Experimental Botany. Vol.60. No.7. University
of Missouri: Colombia.
Kimball, John. W. 1992. Biologi Umum. Erlangga: Jakarta.
Lakitan, B. 1996. Fisiologi Pertumbuhan dan Perkembangan
Tanaman. Jakarta: PT Grafindo Persada.
Mauseth, J. et al. 2009. Botany: An Introduction to Plant Biology.
Jones and Bartlett Publisher:USA.
Prawirohartono, S. dkk. 1991. Biologi. Erlangga. Jakarta.
Puspitasari, E. dkk., 2012.Program Kreativitas Mahasiswa: Pengaruh
Intensitas Cahaya Matahari Terhadap Pertumbuhan Tanaman
Kedelai (Glycin max) Bidang Kegiatan PKM-AI. Madiun: Institut
Keguruan dan Ilmu Pendidikan PGRI.
Salisbury, F. B. Dan C. W. Ross. 1995. Fisiologi Tumbuhan, Jilid 3.
Penerbit ITB. Bandung.
Scott, P. et al. 2008. Physiology and Behaviour of Plants. John Wiley
and Son: England.
Srivastava, L. M. 2002. Plant growth and development. Hormones and
the environment. Oxford: Academic Press :UK.
Suena, W. 2005 Teknologi Benih. Bali: Fakultas Pertanian Universitas
Udayana.
Suhentaka, 2010.Pengaruh Konsentrasi BA dan NAA pada Tahap
Multiplikasi Secara In Vitro terhadap keberhasilan Aklimatisasi
Nenas (Ananas comosus (L) Merr) Kultivar Smooth Cayenne.
Makalah Seminar Departemen Agronomi dan Holtikultura,
Fakultas Pertanian, Institut Pertanian.
Whippo, C and Hangarter, R. 2009. The Sensational Power Of
Movement In Plants: A Darwinian System For Studying The
Evolution Of Behavior. American Journal of Botany 96(12).
Indiana University. Department of Biology. Myers Hall 150. 915
East Third Street. Bloomington. Indiana 47405 USA.

Anda mungkin juga menyukai