Anda di halaman 1dari 32

pengolahan bahan galian

Filed under: umum Tinggalkan komentar


24 Desember 2010
PENDAHULUAN
Yang dimaksud dengan bahan galian adalah bijih (ore), mineral industri (industrial minerals)
atau bahan galian Golongan C dan batu bara (coal).
Pengolahan bahan galian (mineral beneficiation/mineral processing/mineral dressing) adalah
suatu proses pengolahan dengan memanfaatkan perbedaan-perbedaan sifat fisik bahan galian
untuk memperoleh produkta bahan galian yang bersangkutan. Khusus untuk batu bara, proses
pengolahan itu disebut pencucian batu bara (coal washing) atau preparasi batu bara (coal
preparation).
Pada saat ini umumnya endapan bahan galian yang ditemukan di alam sudah jarang yang
mempunyai mutu atau kadar mineral berharga yang tinggi dan siap untuk dilebur atau
dimanfaatkan. Oleh sebab itu bahan galian tersebut perlu menjalani pengolahan bahan galian

1.
1.
2.
3.

1.

(PBG) agar mutu atau kadarnya dapat ditingkatkan sampai memenuhi kriteria pemasaran atau
peleburan. Keuntungan yang bisa diperoleh dari proses PBG tersebut antara lain adalah :
Mengurangi ongkos angkut.
Mengurangi ongkos peleburan.
Mengurangi kehilangan (losses) logam berharga pada saat peleburan.
Proses pemisahan (pengolahan) secara fisik jauh lebih sederhana dan menguntungkan daripada
proses pemisahan secara kimia.
Sedangkan metalurgi (metallurgy) adalah ilmu yang mempelajari cara-cara untuk memperoleh
logam (metal) melalui proses fisika dan kimia serta mempelajari cara-cara memperbaiki sifatsifat fisik dan kimia logam murni maupun paduannya (alloy). Metalurgi ada dua macam atau
kelompok utama, yaitu :
Metalurgi ekstraktif (extractive metallurgy).

1. Metalurgi fisik dan ilmu bahan (physical metallurgy and material science).
Menurut Kirk-Othmer metalurgi ekstraktif adalah ilmu yang mempelajari cara-cara pengambilan
(ekstraksi) logam dari bijih (ore = naturally occuring compounds) dan proses pemurniannya,
sehingga sesuai dengan syarat-syarat komersial.
Metalurgi ekstraktif dibagi menjadi 3 (tiga) jalur, yaitu :
1. Piro metalurgi (pyro metallurgy) yang dalam proses ekstraksinya menggunakan energi panas
yang tinggi (bisa sampai 2.000oC).
2. Hidro metalurgi (hydro metallurgy) yang menggunakan larutan kimia atau reagen organik untuk
menangkap logamnya.
3. Elektro metalurgi (electro metallurgy) yang memanfaatkan teknik elektro-kimia (antar lain
elektrolisis) untuk memperoleh logamnya.
Perbedaan utama antara PBG dengan ekstraktif metalurgi adalah :

Pada PBG : bijih / mineral


tetap mineral
- kadar logam rendah
kadar logam tinggi
- sifat-sifat fisik dan kimia tak berubah
Pada ekstraktif metalurgi : bijih / mineral
jadi logam (metal)
- sifat-sifat fisik dan kimia berubah
2. PENGOLAHAN BAHAN GALIAN (PBG)
Tahap-tahap utama dalam proses PBG terdiri dari (lihat Lampiran A) :
2.1. KOMINUSI ATAU REDUKSI UKURAN (COMMINUTION)
Kominusi atau pengecilan ukuran merupakan tahap awal dalam proses PBG yang bertujuan
untuk :

1. Membebaskan / meliberasi (to liberate) mineral berharga dari material pengotornya.


2. Menghasilkan ukuran dan bentuk partikel yang sesuai dengan kebutuhan pada proses berikutnya.
3. Memperluas permukaan partikel agar dapat mempercepat kontak dengan zat lain, misalnya
reagen flotasi.
Kominusi ada 2 (dua) macam, yaitu :
1. Peremukan / pemecahan (crushing)
2. Penggerusan / penghalusan (grinding)
Disamping itu kominusi, baik peremukan maupun penggerusan, bisa terdiri dari beberapa tahap,
yaitu :
- Tahap pertama / primer (primary stage)
- Tahap kedua / sekunder (secondary stage)
- Tahap ketiga / tersier (tertiary stage)
- Kadang-kadang ada tahap keempat / kwarter (quaternary stage)

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

1.
1.
2.
3.

1.

2.1.1. Peremukan / Pemecahan (Crushing)


Peremukan adalah proses reduksi ukuran dari bahan galian / bijih yang langsung dari tambang
(ROM = run of mine) dan berukuran besar-besar (diameter sekitar 100 cm) menjadi ukuran 2025 cm bahkan bisa sampai ukuran 2,5 cm.
Peralatan yang dipakai antara lain adalah :
Jaw crusher
Gyratory crusher
Cone crusher
Roll crusher
Impact crusher
Rotary breaker
Hammer mill
2.1.2. Penggerusan / Penghalusan (Grinding)
Penggerusan adalah proses lanjutan pengecilan ukuran dari yang sudah berukuran 2,5 cm
menjadi ukuran yang lebih halus. Pada proses penggerusan dibutuhkan media penggerusan yang
antara lain terdiri dari :
Bola-bola baja atau keramik (steel or ceramic balls).
Batang-batang baja (steel rods).
Campuran bola-bola baja dan bahan galian atau bijihnya sendiri yang disebut semi autagenous
mill (SAG).
Tanpa media penggerus, hanya bahan galian atau bijihnya yang saling menggerus dan
disebut autogenous mill.
Peralatan penggerusan yang dipergunakan adalah :
Ball mill dengan media penggerus berupa bola-bola baja atau keramik.

1. Rod mill dengan media penggerus berupa batang-batang baja.


2. Semi autogenous mill (SAG) bila media penggerusnya sebagian adalah bahan galian atau
bijihnya sendiri.
3. Autogenous mill bila media penggerusnya adalah bahan galian atau bijihnya sendiri.
2.2. PEMISAHAN BERDASARKAN UKURAN (SIZING)
Setelah bahan galian atau bijih diremuk dan digerus, maka akan diperoleh bermacam-macam
ukuran partikel. Oleh sebab itu harus dilakukan pemisahan berdasarkan ukuran partikel agar
sesuai dengan ukuran yang dibutuhkan pada proses pengolahan yang berikutnya.
2.2.1. Pengayakan / Penyaringan (Screening / Sieving)

Pengayakan atau penyaringan adalah proses pemisahan secara mekanik berdasarkan perbedaan
ukuran partikel. Pengayakan (screening) dipakai dalam skala industri, sedangkan penyaringan

1.
2.

(sieving) dipakai untuk skala laboratorium.


Produk dari proses pengayakan/penyaringan ada 2 (dua), yaitu :
- Ukuran lebih besar daripada ukuran lubang-lubang ayakan (oversize).
- Ukuran yang lebih kecil daripada ukuran lubang-lubang ayakan (undersize).
Saringan (sieve) yang sering dipakai di laboratorium adalah :
Hand sieve
Vibrating sieve series / Tyler vibrating sive
Sieve shaker / rotap
Wet and dry sieving
Sedangkan ayakan (screen) yang berskala industri antara lain :
Stationary grizzly
Roll grizzly

3.
4.
5.
6.
7.

Sieve bend
Revolving screen
Vibrating screen (single deck, double deck, triple deck, etc.)
Shaking screen
Rotary shifter

1.
2.
3.
4.

2.2.2. Klasifikasi (Classification)


Klasifikasi adalah proses pemisahan partikel berdasarkan kecepatan pengendapannya dalam
suatu media (udara atau air). Klasifikasi dilakukan dalam suatu alat yang disebut classifier.
Produk dari proses klasifikasi ada 2 (dua), yaitu :
- Produk yang berukuran kecil/halus (slimes) mengalir di bagian atas disebut overflow.
- Produk yang berukuran lebih besar/kasar (sand) mengendap di bagian bawah (dasar)
disebutunderflow.
Proses pemisahan dalam classifier dapat terjadi dalam tiga cara (concept), yaitu :
1. Partition concept
2. Tapping concept
3. Rein concept
Hal ini dapat berlangsung apabila sejumlah partikel dengan bermacam-macam ukuran jatuh
bebas di dalam suatu media atau fluida (udara atau air), maka setiap partikel akan menerima gaya
berat dan gaya gesek dari media. Pada saat kecepatan gerak partikel menjadi rendah
(tenang/laminer), ukuran partikel yang besar-besar mengendap lebih dahulu, kemudian diikuti
oleh ukuran-ukuran yang lebih kecil, sedang yang terhalus (antara lain slimes) akan tidak sempat
mengendap.
Peralatan yang umum dipakai dalam proses klasifikasi adalah :
1. Scrubber
2. Log washer
3. Sloping tank classifier (rake, spiral & drag)
4. Hydraulic bowl classifier
5. Hydraulic clindrical tank classifier
6. Hydraulic cone classifier
7. Counter current classifier
8. Pocket classifier
9. Hydrocyclone
10. Air separator
11. Solid bowl centrifuge

12. Elutriator
2.3. PENINGKATAN KADAR ATAU KONSENTRASI (CONCENTRATION)
Agar bahan galian yang mutu atau kadarnya rendah (marginal) dapat diolah lebih lanjut, yaitu
diambil (di-ekstrak) logamnya, maka kadar bahan galian itu harus ditingkatkan dengan proses
konsentrasi. Sifat-sifat fisik mineral yang dapat dimanfaatkan dalam proses konsentrasi adalah :
- Perbedaan berat jenis atau kerapatan untuk proses konsentrasi gravitasi dan media berat.
- Perbedaan sifat kelistrikan untuk proses konsentrasi elektrostatik.
- Perbedaan sifat kemagnetan untuk proses konsentrasi magnetik.
- Perbedaan sifat permukaan partikel untuk proses flotasi.
Proses peningkatan kadar itu ada bermacam-macam, antara lain :
2.3.1. Pemilahan (Sorting)
Bila ukuran bongkahnya cukup besar, maka pemisahan dilakukan dengan tangan (manual),
artinya yang terlihat bukan mineral berharga dipisahkan untuk dibuang.
2.3.2. Konsentrasi Gravitasi (Gravity Concentration)
Yaitu pemisahan mineral berdasarkan perbedaan berat jenis dalam suatu media fluida, jadi
sebenarnya juga memanfaatkan perbedaan kecepatan pengendapan mineral-mineral yang ada.
Ada 3 (tiga) cara pemisahan secara gravitasi bila dilihat dari segi gerakan fluidanya, yaitu :
Fluida tenang, contoh dense medium separation (DMS) atau heavy medium
separation (HMS).
- Aliran fluida horisontal, contoh sluice box, shaking table dan spiral concentration.
- Aliran fluida vertikal, contoh jengkek (jig).
Bila jumlah partikel (mineral) di dalam fluida relatif sedikit, maka akan terjadi pengendapan
bebas (free settling). Tetapi bila jumlah partikel banyak gerakannya akan terhambat sehingga
terbentuk stratifikasi yang terdiri dari 3 (tiga) tahap sebagai berikut :
1. Hindered settling classification ; klasifikasi pengendapannya terhalang.
2. Differential acceleration pada awal pengendapan ; artinya partikel yang berat mengendap lebih
1.

1.
2.
3.

dahulu.
Consolidation trickling pada akhir pengendapan ; partikel-partikel kecil berusaha mengatur diri
di antara partikel-partikel besar sesuai dengan berat jenisnya.
Produk dari proses konsentrasi gravitasi ada 3 (tiga), yaitu :
- Konsentrat (concentrate) yang terdiri dari kumpulan mineral berharga dengan kadar tinggi.
- Amang (middling) yaitu konsentrat yang masih kotor.
- Ampas (tailing) yang terdiri dari mineral-mineral pengotor yang harus dibuang.
Peralatan konsentrasi gravitasi yang banyak dipakai adalah :
Jengkek (jig) dengan bermacam-macam rekacipta (design).
Meja goyang (shaking table).
Konsentrator spiral (Humprey spiral concentrator).

4. Palong / sakan (sluice box).


2.3.3. Konsentrasi dengan Media Berat (Dense/Heavy Medium Separation)
Merupakan proses konsentrasi yang bertujuan untuk memisahkan mineral-mineral berharga yang
lebih berat dari pengotornya yang terdiri dari mineral-mineral ringan dengan menggunakan
medium pemisah yang berat jenisnya lebih besar dari air (berat jenisnya > 1).
Produk dari proses konsentrasi ini adalah :
- Endapan (sink) yang terdiri dari mineral-mineral berharga yang berat.
- Apungan (float) yang terdiri dari mineral-mineral pengotor yang ringan.
Media pemisah yang pernah dipakai antara lain :
- Air + magnetit halus dengan kerapatan 1,25 2,20 ton/m3.
- Air + ferrosilikon dengan kerapatan 2,90 3,40 ton/m3.

- Air + magnetit + ferrosilikon dengan kerapatan 2,20 2,90.


- Larutan berat seperti tetra bromo ethana (b.j. = 2,96), bromoform (b.j. = 2,85) dan methylene
jodida (b.j. = 3,32). Tetapi larutan berat ini harganya mahal, oleh sebab itu hanya dipakai untuk
percobaan-percobaan di laboratorium.
Peralatan yang biasa dipakai adalah gravity dense/heavy medium separators yang berdasarkan
bentuknya ada 2 (dua) macam, yaitu :
1. Drum separator karena bentuknya silindris.
2. Cone separator karena bentuknya seperti corongan.
2.3.4. Konsentrasi Elektrostatik (Electrostatic Concentration)
Merupakan proses konsentrasi dengan memanfaatkan perbedaan sifat konduktor (mudah
menghantarkan arus listrik) dan non-konduktor (nir konduktor) dari mineral.
Kendala proses konsentrasi ini adalah :
- Hanya sesuai untuk proses konsentrasi dengan jumlah umpan yang tidak terlalu besar.
- Karena prosesnya harus kering, maka timbul masalah dengan debu yang berterbangan.
Mineral-mineral yang bersifat konduktor antara lain adalah :
- Magnetit (Fe3 O4)
- Kasiterit (Sn O2)
- Ilmenit (Fe Ti O3)
- Molibdenit (Mo S2)
- Wolframit [(Fe, M) WO4]
- Galena (Pb S)
- Pirit (Fe S2)
Produk dari proses konsentrasi ini adalah :
- Mineral-mineral konduktor sebagai konsentrat.
- Mineral-mineral non-konduktor sebagai ampas (tailing).
Peralatan yang biasa dipakai adalah :
1. Electrodynamic separator (high tension separator).
2. Electrostatic separator yang terdiri dari :
- plate electrostatic separator
- screen electrostatic separator
2.3.5. Konsentrasi Magnetik (Magnetic Concentration)
Adalah proses konsentrasi yang memanfaatkan perbedaan sifat kemagnetan (magnetic
susceptibility) yang dimiliki mineral. Sifat kemagnetan bahan galian ada 3 (tiga) macam, yaitu :
- Ferromagnetic, yaitu bahan galian (mineral) yang sangat kuat untuk ditarik oleh medan
magnet. Misalnya magnetit (Fe3 O4).
- Paramagnetic, yaitu bahan galian yang dapat tertarik oleh medan magnet. Contohnya hematit
(Fe2O3), ilmenit (Se Ti O3) dan pyrhotit (Fe S).
- Diamagnetic, yaitu bahan galian yang tak tertarik oleh medan magnet. Misalnya : kwarsa (Si
O2) dan feldspar [(Na, K, Al) Si3 O8].
Jadi produk dari proses konsentrasi yang berlangsung basah ini adalah :
- Mineral-mineral magnetik sebagai konsentrat.
- Mineral-mineral non-magnetik sebagai ampas (tailing).
Peralatan yang dipakai disebut magnetic separator yang terdiri dari :
1. Induced roll dry magnetic separator.
2. Wet drum low intensity magnetic separator yang arah aliran dapat :
- concurrent
- countercurrent
- counter rotation

Sedang letak magnetnya bisa :


- Suspended magnets
- Suspended magnets with continuous removal
- Cobbing drum
2.3.6. Konsentrasi Secara Flotasi (Flotation Concentration)
Merupakan proses konsentrasi berdasarkan sifat senang terhadap udara atau takut terhadap
air (hydrophobic). Pada umumnya mineral-mineral oksida dan sulfida akan tenggelam bila
dicelupkan ke dalam air, karena permukaan mineral-mineral itu bersifat suka akan air
(hydrophilic). Tetapi beberapa mineral sulfida, antara lain kalkopirit (Cu Fe S 2), galena (Pb S),
dan sfalerit (Zn S) mudah diubah sifat permukaannya dari suka air menjadi suka udara dengan
menambahkan reagen yang terdiri dari senyawa hidrokarbon. Sejumlah reagen kimia yang sering
digunakan dalam proses flotasi adalah :
1. Pembuih (frother) yang berfungsi sebagai pen-stabil gelembung-gelembung udara. Misalnya :
methyl isobuthyl carbinol (MIBC), minyak pinus, dan terpentin.
2. Kolektor / pengumpul (collector) yang bisa mengubah sifat permukaan mineral yang semula
suka air menjadi suka udara. Contohnya : xanthate, thiocarbonilid, asam oleik, dll.
3. Penekan / pencegah (depresant) yang berguna untuk mencegah agar mineral pengotor tidak ikut
menempel pada udara dan ikut terapung. Misalnya : Zn SO4 untuk menekan Zn S.
4. Pengatur keasaman (pH regulator) yang berfungsi untuk mengatur tingkat keasaman proses
flotasi. Misalnya : HCl, HNO3, Ca (OH)3, NH4 OH, dll.
Produk flotasi ada 3 (tiga) macam, yaitu :
- Konsentrat (concentrate) yang berupa mineral-mineral yang ikut terapung (mineral-mineral
apungan) dengan gelembung-gelembung udara.
- Amang (middling) yang merupakan mineral-mineral apungan yang masih mengandung
banyak mineral-mineral pengotor.
- Ampas (tailing) yang tenggelam terdiri dari mineral-mineral pengotor.
Peralatan yang biasa dipakai adalah :
1. Mechanical flotation yang terdiri dari berbagai variasi antara lain :
- Agitair cell
- Denver cell
- Krupp cell
- Outokumpu cell
- Wemco-Fagregren cell
1. Pneumatic flotation yang terdiri dari variasi :
- Column cell
- Cyclo cell
- Davcra cell
- Flotaire cell
2.4. PENGURANGAN KADAR AIR / PENGAWA-AIRAN (DEWATERING)
Kegiatan ini bertujuan untuk mengurangi kandungan air yang ada pada konsentrat yang
diperoleh dengan proses basah, misalnya proses konsentrasi gravitasi dan flotasi.
Cara-cara pengawa-airan ini ada 3 (tiga), yaitu :
2.4.1. Cara Pengentalan / Pemekatan (Thickening)
Konsentrat yang berupa lumpur dimasukkan ke dalam bejana bulat. Bagian yang pekat
mengendap ke bawah disebut underflow, sedangkan bagian yang encer atau airnya mengalir di
bagian atas disebutoverflow. Kedua produk itu dikeluarkan secara terus menerus (continuous).
Peralatan yang biasa dipakai adalah :
1. Rake thickener.

2. Deep cone thickener.


3. Free flow thickener.
2.4.2. Cara Penapisan / Pengawa-airan (Filtration)
Dengan cara pengentalan kadar airnya masih cukup tinggi, maka bagian yang pekat dari
pengentalan dimasukkan ke penapis yang disertai dengan pengisapan, sehingga jumlah air yang
terisap akan banyak. Dengan demikian akan dapat dipisahkan padatan dari airnya.
Peralatan yang dipakai adalah :
1. Vacuum (suction) filters yang terdiri dari :
- intermitten, misalnya Moore leaf filter.
- Continuous ada beberapa tipe, yaitu :
* bentuk silindris / tromol (drum type), misalnya : Oliver filter, Dorrco filter.
* bentuk cakram (disk type) berputar, contohnya : American filter.
* bentuk lembaran berputar (revolving leaf type), contohnya : Oliver filter.
* bentuk meja (desk type), misalnya : Caldecott sand table filter.
1. Pressure filter, misalnya :
- Merrill plate and frame filter
- Kelly pressure filter
- Burt revolving filter
2.4.3. Pengeringan (Drying)
Yaitu proses untuk membuang seluruh kandung air dari padatan yang berasal dari konsentrat
dengan cara penguapan (evaporization/evaporation).
Peralatan atau cara yang dipakai ada bermacam-macam, yaitu :
1. Hearth type drying/air dried/air baked, yaitu pengeringan yang dilakukan di atas lantai oleh
sinar matahari dan harus sering diaduk (dibolak-balik).
2. Shaft drier, ada dua macam, yaitu :
- tower drier, material (mineral) yang basah dijatuhkan di dalam saluran silindris vertikal yang
dialiri udara panas (80o 100o).
- rotary drier, material yang basah dialirkan ke dalam silinder panjang yang diputar pada posisi
agak miring dan dialiri udara panas yang berlawanan arah.
1. Film type drier (atmospheric drum drier) ; silinder baja yang di dalamnya dialiri uap air (steam).
Jarang dipakai.
2. Spray drier, material halus yang basah dan disemburkan ke dalam ruangan panas ; material yang
kering akan terkumpul di bagian bawah ruangan. Cara ini juga jarang dipakai.
2.5. PENANGANAN MATERIAL (MATERIAL HANDLING)
Bahan galian (mineral/bijih) yang mengalami PBG harus ditangani dengan cepat dan seksama,
baik yang berupa konsentrat basah dan kering maupun yang berbentuk ampas (tailing).
2.5.1. Penanganan Material Padat Kering (Dry Solid Handling)
Bila masih berupa bahan galian hasil penambangan (ROM), maka harus ditumpuk di tempat
yang sudah ditentukan yang di sekelilingnya telah dilengkapi dengan saluran penyaliran
(drainage system). Tetapi jika sudah berupa konsentrat, maka harus disimpan di dalam gudang
yang tertutup sebelum sempat diproses lebih lanjut.
2.5.2. Penanganan Lumpur (Slurry Handling)
Bila lumpur itu sudah mengandung mineral berharga yang kadarnya tinggi, maka dapat segera
dimasukkan ke pemekat (thickener) atau penapis (filter). Jika masih agak kotor (middling), maka
harus diproses dengan alat khusus yang sesuai.
2.5.3. Penanganan / Pembuangan Ampas (Tailing Disposal)
Kegiatan ini yang paling sulit penanganannya karena :
1. Jumlahnya (volumenya) sangat banyak, antara 70% 90% dari material yang ditambang.

2. Kadang-kadang mengandung bahan berbahaya dan beracun (B-3).


3. Sulit mencarikan lahan yang cocok untuk menimbun ampas bila metode penambangan timbunbalik (back fill mining method) tak dapat segera dilakukan, sehingga kadang-kadang harus
dibuatkan kolam pengendap. Oleh sebab itu pembuangan ampas ini seringkali menjadi
komponen kegiatan penambangan yang meminta pemikiran khusus sepanjang umur tambang.
3. METALURGI EKSTRAKTIF (EXTRACTIVE METALLURGY) DAN PEMURNIAN
(REFINING)
Tahapan proses (process aims) pada metalurgi ekstraktif (lihat Lampiran B, C dan D) adalah :
1. Pemisahan (separation), yaitu pembuangan unsur, campuran (compounds) atau material yang
tidak diinginkan dari bijih (sumber metal = source of metal).
2. Pembentukan campuran (compound foramtion), yaitu cara memproduksi material yang secara
struktur dan sifat-sifat kimianya berbeda dari bijihnya (sumbernya).
3. Pengambilan/produksi metal (metal production), yaitu cara-cara memperoleh metal yang belum
murni.
1. Pemurnian metal (metal purification), yaitu pembersihan, metal yang belum murni (membuang
unsur-unsur pengotor dari metal yang belum murni), sehingga diperoleh metal murni.
Metalurgi ekstraktif terdiri dari :
1. Pirometalurgi (pyrometallurgy), menggunakan energi panas sampai 2.000o C.
2. Hidrometalurgi (hydrometallurgy), menggunakan larutan dan reagen organik.
3. Elektrometalurgi (electrometallurgy), memanfaatkan teknik elektro-kimia.
3.1. PIROMETALURGI (PYROMETALLURGY)
Suatu proses ekstraksi metal dengan memakai energi panas. Suhu yang dicapai ada yang hanya
50o 250o C (proses Mond untuk pemurnian nikel), tetapi ada yang mencapai 2.000o C (proses
pembuatan paduan baja).
Yang umum dipakai hanya berkisar 500o 1.600o C ; pada suhu
tersebut kebanyakan metal atau paduan metal sudah dalam fase cair bahkan kadang-kadang
dalam fase gas.

1.
2.
3.
4.

1.

Umpan yang baik adalah konsentrat dengan kadar metal yang tinggi agar dapat mengurangi
pemakaian energi panas. Penghematan energi panas dapat juga dilakukan dengan memilih dan
memanfaatkan reaksi kimia eksotermik (exothermic).
Sumber energi panas dapat berasal dari :
Energi kimia (chemical energy = reaksi kimia eksotermik).
Bahan bakar (hydrocarbon fuels) : kokas, gas dan minyak bumi.
Energi listrik.
Energi terselubung/tersembunyi (conserved energy = sensible heat), panas buangan dipakai
untuk pemanasan awal (preheating process).
Peralatan yang umumnya dipakai adalah :
Tanur tiup (blast furnace).

2. Reverberatory furnace.
Sedangkan untuk pemurniannya dipakai :
1. Pierce-Smith converter.
2. Bessemer converter.
3. Kaldo cenverter.
4. Linz-Donawitz (L-D) converter.
5. Open hearth furnace.
3.2. HIDROMETALURGI (HYDROMETALLURGY)
Yaitu proses ekstraksi metal dengan larutan reagen encer (< 1 gramol) dan pada suhu < 100 o C.
Reaksi kimia yang dipilih biasanya yang sangat selektif;

artinya hanya metal yang diinginkan saja yang akan bereaksi (larut) dan kemudian dipisahkan
dari material yang tak diinginkan.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

Kondisi yang baik untuk hidrometalurgi adalah :


Metal yang diinginkan harus mudah larut dalam reagen yang murah.
Metal yang larut tersebut harus dapat diambil dari larutannya dengan mudah dan murah.
Unsur atau metal lain yang ikut larut harus mudah dipisahkan pada proses berikutnya.
Mineral-mineral pengganggu (gangue minerals) jangan terlalu banyak menyerap (bereaksi)
dengan zat pelarut yang dipakai.
Zat pelarutnya harus dapat diperoleh kembali untuk didaur ulang.
Zat yang diumpankan (yang dilarutkan) jangan banyak mengandung lempung (clay minerals),
karena akan sulit memisahkannya.
Zat yang diumpankan harus porous atau punya permukaan kontak yang luas agar mudah (cepat)
bereaksi pada suhu rendah.
Zat pelarutnya sebaiknya tidak korosif dan tidak beracun (non-corrosive and non-toxic), jadi

tidak membahayakan alat dan operator.


Peralatan yang dipergunakan adalah :
1. Electrolysis / electrolytic cell.
2. Bejana pelindian (leaching box).
3.3. ELEKTROMETALURGI (ELECTROMETALLURGY)
Suatu proses ekstraksi logam yang memakai teknik elektro-kimia, misalnya : baterai dan
elektrolisa (electrolysis = electrorefining). Pada proses ini kecuali diperlukan arus listrik sebagai
sumber energi juga diperlukan elektroda (electrodes) dan cairan elektrolit (electrolyte).
Elektroda harus memiliki sifat-sifat :
1. Konduktor listrik yang baik.
2. Potensial yang terbentuk di sekitar elektroda harus rendah.
3. Tidak mudah bereaksi dengan metal yang lain dan tidak membentuk campuran yang dapat

1.
2.
3.
4.
1.
2.
3.

mengganggu proses elektrolisa.


Bila elektroda itu padat, ada syarat tambahan agar proses elektrolisa berlangsung memuaskan,
yaitu harus :
Mudah diperoleh atau disiapkan dengan murah.
Tahan korosi dalam zat larut.
Stabil, kuat dan tidak mudah terkikis (resistance to abrasion).
Harus murah harganya.
Elektrolit harus memiliki sifat-sifat :
Memiliki daya hantar ion yang tinggi.
Tidak mudah terurai atau bereaksi (high chemical stability).
Memiliki daya larut yang tinggi bagi metal yang diinginkan.
reverensi : TAMBANG UNHAS
Komentar
Sistem penyaliran tambang
Filed under: umum Tinggalkan komentar
Sasaran penyaliran adalah membuat lokasi kerja di areal penambangan selalu kering karena bila
tidak terkontrol akan menimbulkan masalah, antara lain :
(1) lokasi kerja
(2) jalan tambang becek dan licin,
(3) stabilitas lereng tambang rawan longsor
(4) peralatan tambang cepat rusak

(5) kesulitan mengambil contoh (sampling)


(6) efisiensi kerja menurun dan
(7) mengancam keselamatan dan kesehatan kerja.
2. KONSEP PEMBENTUKAN AIR TANAH
2.1 Lapisan air tanah terkekang
2.2. Debit air tanah
3. PENYALIRAN
3.1 Efek air tambang
a. Efek langsung dari air terhadap penambangan.
b. Efek air tak langsung terhadap penambangan.
c. Efek air tak langsung ke sekitar aktifitas penambangan.
2. KONSEP PEMBENTUKAN AIR TANAH
2.1 Lapisan air tanah terkekang
2.2. Debit air tanah
3. PENYALIRAN
3.1 Efek air tambang
a. Efek langsung dari air terhadap penambangan.
b. Efek air tak langsung terhadap penambangan.
c. Efek air tak langsung ke sekitar aktifitas penambangan.
3.2 Pengendalian air tambang.
1. 3.2.1 Membuat sump di dalam front
tambang (pit).
2. 3.2.2 Membuat sumur dalam (sumur
bor) di dalam front tambang.
3. 3.2.3 Membuat sumur dalam (sumur
bor) di luar front tambang
3.2.4 Membuat paritan
3.2.5 Sistem adit
3.3 Pencegahan air tambang
3.3.1 Metoda Siemens
3.3.2 Cara elektro-osmosis
3.3.3 Cara penggalian 1 pemotongan aliran air tanah
Catchment area/water divide
Catchment area adalah merupakan suatu areal atau daerah tangkapan hujan dimana batas wilayah
tangkapannya ditentukan dari titik-titik elevasi tertinggi sehingga akhirnya merupakan suatu
poligon tertutup yang mana polanya disesuaikan dengan kondisi topografi, dengan mengikuti
kecenderungan arah gerak air.
Waktu konsentrasi
Waktu konsentrasi adalah waktu yang diperlukan hujan untuk mengalir dari titik terjauh ke
tempat penyaliran.
PERENCANAAN KOLAM PENAMPUNG (SUMP)
Sump (Kolam Penampung) merupakan kolam penampungan air yang dibuat untuk penampung
air limpasan, yang dibuat sementara sebelum air itu dipompakan, serta dapat berfungsi sebagai
pengendap lumpur.
reverensi : tambang UNHAS
Komentar
mine plan
Filed under: umum Tinggalkan komentar
1. Arti Perencanaan
Perencanaan dapat diartikan sebagai kegiatan berikut :

Penentuan tujuan dan sasaran kegiatan yang ingin dicapai.


Proses persiapan secara sistematik mengenai kegiatan yang akan dilakukan.
Cara mencapai tujuan dan sasaran dengan menggunakan sumber dan kemampuan yang tersedia
secara berdaya guna dan berdaya hasil.
Pembahasan dari persoalan, kemungkinan dan kesempatan yang dapat terjadi yang dapat
mempengaruhi pencapaian tujuan.
Penentuan dari tindakan yang akan diambil untuk mencapai tujuan berdasarkan analisa tujuan
dan kesempatan.
2. Fungsi Perencanaan
Fungsi perencanaan tergantung dari jenis perencanaan yang digunakan dan sasaran yang dituju,
tetapi secara umum fungsi perencanaan dapat dikatakan antara lain sebagai berikut :
Pengarahan kegiatan, adanya pedoman bagi pelaksanaan kegiatan dalam pencapaian tujuan.
Perkiraan terhadap masalah pelaksanaan, kemampuan, harapan, hambatan dan kegagalannya
mungkin terjadi.
Usaha untuk mengurangi ketidakpastian.
Kesempatan untuk memilih kemungkinan terbaik.
Penyusunan urutan kepentingan tujuan.
Alat pengukur atau dasar ukuran dalam pengawasan dan penilaian.
Cara penggunaan dan penempatan sumber secara berdaya guna dan berdaya hasil.
3. Tujuan Perencanaan Tambang
Tujuan dari pekerjaan perencanaan tambang adalah membuat suatu rencana produksi tambang
untuk sebuah cebakan bijih yang akan :
Menghasilkan tonase bijih pada tingkat produksi yang telah ditentukan dengan biaya yang
semurah mungkin.
Menghasilkan aliran kas (cash flow) yang akan memaksimalkan beberapa kriteria ekonomik
seperti rate of return atau net present value.
4. Masalah Perencanaan Tambang
Masalah perencanaan tambang merupakan masalah yang kompleks karena merupakan problem
geometrik tiga dimensi yang selalu berubah dengan waktu. Geometri tambang bukan satusatunya parameter yang berubah dengan waktu. Parameter-parameter ekonomi penting
yang lain pun sering merupakan fungsi waktu pula.
5. Ruang Lingkup Perencanaan Tambang
Agar perencanaan tambang dapat dilakukan dengan lebih mudah, masalah ini biasanya dibagi
menjadi tugas-tugas sebagai berikut :
1. Penentuan batas dari pit
Menentukan batas akhir dari kegiatan penambangan (ultimate pit limit) untuk suatu cebakan
bijih. Ini berarti menentukan berapa besar cadangan bijih yang akan ditambang (tonase
dan kadarnya) yang akan memaksimalkan nilai bersih total dari cebakan bijih tersebut.
Dalam penentuan batas akhir dari pit, nilai waktu dari uang belum diperhitungkan.
2. Perancangan pushback
Merancang bentuk-bentuk penambangan (minable geometries) untuk menambang habis
cadangan bijih tersebut mulai dari titik masuk awal hingga ke batas akhir dari pit. Perancangan
pushback atau tahap-tahap penambangan ini membagi ultimate pit menjadi unit-unit perencanaan
yang lebih kecil dan lebih mudah dikelola. Hal ini akan membuat masalah perancangan tambang
tiga dimensi yang kompleks menjadi lebih sederhana. Pada tahap ini elemen waktu sudah mulai
dimasukkan ke dalam rancangan penambangan karena urut-urutan penambangan pushback telah
mulai dipertimbangkan.
3. Penjadwalan produksi

Menambang bijih dan lapisan penutupnya (waste) di atas kertas, jenjang demi jenjang mengikuti
urutan pushback, dengan menggunakan tabulasi tonase dan kadar untuk tiap pushback yang
diperoleh dari tahap 2). Pengaruh dari berbagai kadar batas (cut off grade) dan berbagai tingkat
produksi bijih dan waste dievaluasi dengan menggunakan kriteria nilai waktu dari uang,
misalnya net present value. Hasilnya akan dipakai untuk menentukan sasaran jadwal produksi
yang akan memberikan tingkat produksi dan strategi kadar batas yang terbaik.
4. Perencanaan tambang berdasarkan urutan waktu
Dengan menggunakan sasaran jadwal produksi yang dihasilkan pada tahap 3), gambar atau petapeta rencana penambangan dibuat untuk setiap periode waktu (biasanya per tahun). Peta-peta ini
menunjukkan dari bagian mana di dalam tambang datangnya bijih dan waste untuk tahun
tersebut. Rencana penambangan tahunan ini sudah cukup rinci, di dalamnya sudah termasuk
pula jalan angkut dan ruang kerja alat, sedemikian rupa sehingga merupakan bentuk yang dapat
ditambang. Peta rencana pembuangan lapisan penutup (waste dump) dibuat pula untuk periode
waktu yang sama sehingga gambaran keseluruhan dari kegiatan penambangan dapat terlihat.
5. Pemilihan alat
Berdasarkan peta-peta rencana penambangan dan penimbunan lapisan penutup dari tahap 4)
dapat dibuat profil jalan angkut untuk setiap periode waktu. Dengan mengukur profil jalan
angkut ini, kebutuhan armada alat angkut dan alat muatnya dapat dihitung untuk setiap periode
(setiap tahun). Jumlah alat bor untuk peledakan serta alat-alat bantu lainnya (dozer, grader, dll.)
dihitung pula.
6. Perhitungan ongkos-ongkos operasi dan kapital
Dengan menggunakan tingkat produksi untuk peralatan yang dipilih, dapat dihitung jumlah gilir
kerja (operating shift) yang diperlukan untuk mencapai sasaran produksi. Jumlah dan jadwal
kerja dari personil yang dibutuhkan untuk operasi, perawatan dan pengawasan dapat ditentukan.
Akhirnya, ongkos-ongkos operasi, kapital dan penggantian alat dapat dihitung.
Catatan:
peta-peta yang dihasilkan dalam tahap 1), tahap 2) dan tahap 4) merupakan peta tampak atas
(plan/level maps).
3. TAHAPAN DALAM PERENCANAAN
3.1 Pendahuluan
Tahapan dalam perencanaan menurut LEE (1984) dan Taylor (1977) dapat terbagi tiga tahap,
yaitu :
1. Studi Konseptual.
Studi pada tahap pekerjaan awal ini merepresentasikan suatu transformasi dari suatu ide proyek
kedalam usulan investasi yang luas dengan menggunakan metoda-metoda perbandingan dari
definisi ruang lingkup dan teknik-teknik estimasi biaya untuk mengidentifikasikan suatu
kesempatan investasi yang potensial. Biaya modal dan biaya operasi biasanya didekati dengan
perkiraan nisbah yang menggunakan data historik.
Studi ini akan menekankan pada aspek investasi yang utama dari usulan penambangan yang
memungkinkan. Persiapan studi ini pada umumnya adalah pekerjaan dari satu atau dua insinyur.
Hasil dari studi ini dilaporkan sebagai evaluasi awal.
Studi ini sering juga disebut order of magnitudes studies atau scoping studies.
Pada umumnya berdasarkan data sementara/tak lengkap dan yang keabsahannya masih
diragukan.
Hasilnya biasanya merupakan suatu dokumen intern dan tidak disebarluaskan di luar perusahaan
yang bersangkutan.

Di samping meninjau kemungkinan diteruskannya proyek ini, tujuan lainnya adalah menentukan
topik yang harus dievaluasi secara mendalam pada studi yang lebih rinci di masa yang akan
datang.
2.
Pra Studi Kelayakan
Srudi ini adalah suatu pekerjaan pada tingkat menengah (intermedia) dan secara normal tidak
untuk mengambil keputusan. Studi ini mempunyai obyektif didalam penentuan apakah konsep
proyek tersebut menjustifikasi suatu analisis detail oleh suatu studi kelayakan (apakah studi
kelayakan diperlukan) dan apakah setiap aspek dari proyek adalah kritis dan memerlukan suatu
investigasi yang mendalam melalui suatu studi pendukung.
Studi ini harus dipandang sebagai suatu tahap menengah antara studi konseptual yang tidak
mahal dan suatu studi kelayakan yang relatif mahal. beberapa dari studi ini dibuat oleh suatu tim
(terdiri 2 & 3 orang). Kedua atau ketiga orang ini mempunyai akses ke konsultan dalam berbagai
bidang, selain dapat berupa usaha dari multi group.
Data yang digunakan lebih lengkap dan kualitasnya lebih baik.
Beberapa pekerjaan paling tidak telah dilakukan untuk semua aspek penting dari proyek seperti
pengujian metalurgi bijih, geoteknik, lingkungan, dsb.
Bagi perusahaan tambang besar, studi pra-kelayakan ini cenderung masih dianggap sebagai
dokumen intern. Perusahaan yang lebih kecil sering menggunakan dokumen ini untuk mencari
dana di pasar modal untuk membiayai studi-studi selanjutnya. (Ingat kasus Bre-X/Busang!).
3. Studi Kelayakan
Sering pula disebut sebagai bankable feasibility study. Hasilnya merupakan suatu bankble
documentyang hampir selalu ditujukan untuk mencari modal untuk membiayai proyek tersebut.
Karena itu, dokumen yang dihasilkan ini biasanya disebarluaskan pula di luar perusahaan.
Semua aspek utama harus dibahas dalam tahap ini. Hampir semua aspek tambahan harus dibahas
pula.
3.2 Biaya Perencanaan
Biaya perencanaan (Lee, 1984) bervariasi bergantung kepada ukuran dan faktor alamiah proyek,
tipe dari studi yang dilakukan, jumlah alternatif yang harus diteliti dan sejumlah faktor lain.
Atau bisa dinyatakan dalam persamaan berikut :
Biaya = f (ukuran & sifat dari proyek, jenis studi, jumlah
alternatif yang diinvestigasi, dll).
Dalam rangka menghitung biaya atau bagian teknik dari studi tidak termasuk seperti ongkos
pemilikan seperti ongkos pengeboran eksplorasi, uji metalurgi, lingkungan dan studi hukum, atau
studi pendukung lainnya, biasanya dinyatakan sebagai persentase dari biaya modal dari proyek :
Studi konseptual = 0,1 0,3 % dari biaya total
Studi pra kelayakan = 0,2 0,8 % dari biaya total
Studi kelayakan = 0,5 1,5 % dari biaya total
3.3 Akurasi dari Estimasi
3.3.1 Tonase dan kadar
Pada tahap studi kelayakan, karena pengambilan sampel yang banyak dan pemeriksaan yang
berulang, kadar rata-rata dari penambangan dari beberapa tonase yang diumumkan, disukai
karena diketahui memiliki limit yang dapat diterima, katakanlah 5%, dan diturunkan dari metoda
statistik yang standar. Walaupun tonase yang pasti dari bijih mungkin untuk tambang terbuka
diketahui jika pemboran eksplorasi dari permukaan, dalam kenyataannya tonase ultimat dari
banyak endapan bervariasi karena ia tergantung pada biaya harga dihubungkan dengan panjang
waktu proyek.
Dua standar yang penting yang dapat didefinisikan untuk sebagian besar tambang terbuka adalah
:

1. Cadangan minimum bijih harus sebanding untuk keperluan yang dibutuhkan untuk seluruh
tahun Cash Flow yang diproyeksikan dalam laporan studi kelayakan haruslah diketahui dengan
akurat dan dapat dipertanggungjawabkan.
2. Sebuah tonase ultimat yang potensial, diproyeksikan berlanjut dan optimistik, seharusnya
dikalkulasikan dengan baik untuk mendefinisikan area tambahan yang berpengaruh untuk
penambangan, dan dimana dumping area serta abngunan pabrik musti diletakkan.
3.3.2 Unjuk kerja
Unit-unit dari penambangan open pit sudah memiliki rate unjuk kerja yang stabil dan biasanya
dicapai jika bekerja dalam organisasi yang baik dan pengorganisasian alat (misal Shovel dan
Truck) secara tepat. Unjuk kerja akan terganggu jika pekerjaan tambahan (pengupasan tanah
penutup dalam sebuah pit) tidak mencukupi. Pemeliharaan harus dilakukan dan pekerjaan ini
harus dijadwalkan secara baik dan disediakan dalam laporan studi kelayakan.
3.3.3
Biaya
Beberapa mata biaya, terutama ongkos oeprasi di lapangan, hanya berbeda sedikit dari tiap
tambang dan dapat diketahui secara detail. Beberapa mungkin unik atau sukar untuk
diperkirakan. Umumnya akurasi dalam modal atau estimasi biaya operasi kembali kepada
akurasi dalam kuantitas, kuota yang ada atau unit harga, kecukupan ketentuan untuk ongkos
tidak langsung dan overhead. Tendensi terakhir menunjukkan adanya batas yang meningkat.
Akurasi dari modal dan estimasi dari biaya operasi meningkat ketika proyek meningkat dari studi
konseptual ke pra kelayakan dan tahap studi kelayakan. Normalnya range yang bisa diterima
untuk akurasi diberikan sebagai berikut :
Faktor kesalahan dari studi konseptual + 30% dari biaya total
Faktor kesalahan dari pra studi kelayakan + 20% dari biaya total
Faktor kesalahan dari studi kelayakan + 10% dari biaya total.
3.3.4
Harga dan perolehan
Pendapatan selama umur tambang adalah kategori utama dari uang. Itu harus membayar
seluruhnya, termasuk pembayaran kembali dari investasi awal dari uang. Krena pendapatan
adalah dasar yang terbesar dalam mengukur faktor ekonomi tambang sehingga lebih sensitif
mengubah penerimaan daripada mengubah faktor-faktor lain dari jenis-jenis pengeluaran.
Penerimaan ditentukan oleh kadar, recovery, dan harga dari produk metal. Oleh karenanya, harga
adalah: (a) sejaun ini sangat sulit untuk estimasi dan (b) suatu jumlah yang besar diluar dari
kontrol estimator. Walaupun mengabaikan inflasi, harga pembelian secara lebar bervariasi
terhadap waktu. kecuali komoditi yang bisa dikontrol dengan tepat, mereka mengarah untuk
mengikuti bentuk siklus.
Departemen pemasaran harus menginformasikan hubungan suplai dan permintaan dan
pergerakan harga metal. Mereka dapat juga menyediakan harga rata-rata metal di luar negeri
dalam harga dolar sekarang, baik kemungkinan maupun konservatif. Harga terakhir berkisar
80% dari kemungkinan atau lebih. Idealnya, walaupun pada harga konservatif, harus tetap
menguntungkan.
4. CHECKLIST DATA AWAL YANG HARUS DIKUMPULKAN
Pada awal tahap perencanaan untuk setiap proyek (tambang) yang baru, terdapat banyak faktor
dari berbagai jenis yang harus dipertimbangkan. Beberapa faktor tersebut dapat dengan mudah
diperoleh, sedangkan beberapa faktor lain diperoleh dengan suatu keharusan melakukan studi
yang mendalam (misalnya geometri pit).
Untuk menghindari ketidaklengkapan data, maka sebaiknya dibuat suatu checklist (rebel, 1975,
Field Work Program Checklist for New Properties).
Checklist Item
1.
Topografi

1. USGS maps 1 : 500


1 : 1000
b. Special Aerial or lamd survey establish control stations

2. Kondisi iklim (Climate condition)


a. Ketinggian
b. Temperatur rata-rata bulanan sudah cukup.
c. Prespitasi (untuk penirisan)
rata-rata presipitasi tahunan
rata-rata curah hujan bulanan
rata-rata Run-off (keadaan normal dan flood/banjir)
d. Angin, maks, tercatat dalam arah.
e. Kelembaban.
f. Delay.
g. Awan, fog.
3. Air
a. Sumber : mata air, sungai, danau, bor.
b. Ketersediaan : hukum, kepemilikan, biaya.
c. Kuantitas : ketersediaan perbulan, kesempatan aliran, kemungkinan lokasi bendungan.
d. Kualitas : sampel, perubahan-perubahan kualitas, efek kontaminasi.
e. Sewage Disposal Methode.
4.
a.
b.
c.
d.
e.

Struktur Geologi
Dalam daerah tambang.
Disekeliling daerah tambang.
Kemungkinan gempa bumi.
Akibat pada slope (maks. slope).
Estimasi dan kondisi fondasi.

5.
a.
b.
c.

Air Tambang
Kedalaman.
Konduktivitas.
Metode Penirisan.

6.
Permukaan
a. Vegetasi : tipe, metode pembabatan, biaya.
b. Kondisi yang tidak biasa : danau, endapan deposit, pohon-pohon besar.
7. Tipe/Jenis Batuan (Bijih, overburden)
a. Sample untuk uji kemampuan dibor.
b. Fragmentasi : Hardness, derajat pelapukan, bidang-bidang diskontinu, kecocokan untuk jalan.
8. Lokasi untuk Konsentrator.
a. Lokasi tambang, Haul up hill, down hill.
b.
c.
d.
e.

Preparasi lokasi (cut, fill).


Proses air : gravitasi, pompa.
Tailing Disposal.
Fasilitas pemeliharaan.

9.
a.
b.
c.

Tailing Pond (daerah)


Lokasi pipa.
Alamiah, bendungan, danau.
Pond overflow.

10. Jalan
a. Peta jalan
b. Informasi jalan-jalan yang ada :

lebar, permukaan, batas maksimum beban


batas maksimum load sesuai musim
pemeliharaan.
c. Jalan yang dibuat (harus) oleh perusahaan
panjang
profile
cut and file
jembatan
pengkondisian tanah
dll.
11. Power
a. Ketersediaan (PLN) : kilovolt, jarak (terdekat), biaya.
b. Kabel ke SIB.
c. Lokasi sub station.
d. Kemungkinan untuk power station sendiri.
12. Smelting
a. Ketersediaan pabrik.
b. Metode pengapalan : jarak, alat angkut, awak, reet, dll.
c. Biaya.
d. Aspek terhadap lingkungan.
e. Rel KA, dok.
13. Kepemilikan lahan
a. Kepemilikan : begara, pribadi.
b. Tata guna lahan.
c. Harga tanah.
d. Jenis oplians : sewa, beli, dll.
14. Pemerintah
a. Suasana politik.
b. Hukum, UU pertambangan.
c. Keadaan lokal.
15. Kondisi ekonomi
a. Industri utama yang ada, berpengaruh ke infrastruktur.
b. Kesediaan tenaga kerja.
c. Skala penggalian.
d. Struktur pajak.
e. Ketersediaan sarana, toko, rumah sakit, sekolah, rumah.
1. Ketersediaan material, termasuk bensin, semen, gravel.
g. Pembelian.
16. Lokasi Pembuangan (waste) : tambang, rumah sakit, perumahan
a. Jarak.
b. Profil jalan.
c. Kekungkinan proses lebih lanjut.
17. Aksessibilitas dari kota utama ke luar
a. Metode transportasi.
b. Realibilitas dan transportasi yang tersedia.
c. Komunikasi.
18. Metode mendapatkan informasi
a. Past records (pemerintah).

b. Memelihara alat-alat komunikasi


c. Mengunpulkan conto.

1.

1.
2.
1.

d. Pengukuran dan pengamatan lokasi lapangan.


e. Survey lapangan
Layout pabrik.
g. Check untuk load informasi
h. Check hukum lokal.
Personal inquiry dan observasi suasana politik dan ekonomi.
Peta-peta.
k. Cost inquiries.
Material.
m. Membuat utility, avaliability, inquiries.
reverensi : tambang UNHAS
Komentar
SEJARAH PRTAMBANGAN
Filed under: umum Tinggalkan komentar
Kontribusi pertambangan telah memainkan peran besar dalam perkembangan peradaban, lebih
dari biasanya diakui oleh warga rata-rata. Bahkan, produk industri mineral meliputi kehidupan
semua anggota masyarakat industri kita.
Perkembangan teknologi pertambangan kronologis dikenakan hubungan penting dengan sejarah
peradaban. Bahkan, sebagai salah satu perusahaan paling awal manusia, pertambangan dan
pembangunan yang berhubungan erat dengan kemajuan budaya. Hal ini kebetulan bahwa usia
budaya orang yang berhubungan dengan mineral atau turunannya (misalnya, Bronze Age). Saat
ini, produk industri mineral meliputi kehidupan semua orang.
Pertambangan dimulai dengan orang-orang Paleolitik, mungkin 300.000 tahun yang lalu, pada
Zaman Batu, ketika batu mengimplementasikan dicari untuk keperluan pertanian dan konstruksi.
penambang primitif pertama diekstrak dan kuno bahan batu mentah yang mereka butuhkan dari
deposito di permukaan, tetapi oleh awal New Stone Age (c. 40.000 SM), mereka mulai tambang
bawah tanah juga.
Meskipun tidak ada catatan, fosil manusia dan artefak memperkuat catatan awal pertambangan di
seluruh dunia. Seperti aspek-aspek lain dari peradaban manusia, pertambangan berasal dari
Afrika. Pada awalnya, hal itu dilakukan kasar, dan kemudian dengan beberapa kecanggihan
teknologi. Sebagai contoh, awal penambang menemukan cara untuk fragmen chip dan bebas dari
padat, untuk mengangkat bijih oleh lift sederhana, untuk menerangi kerja mereka dengan obor
dan lampu, dan bahkan untuk ventilasi bukaan bawah tanah.
Awal orang diandalkan kayu, tulang, batu, dan keramik untuk alat-alat fashion, senjata, dan
peralatan. Peradaban diajukan oleh rakyat Awal diandalkan kayu, tulang, batu, dan keramik
untuk alat-alat fashion, senjata, dan peralatan. Peradaban diajukan oleh penemuan pasokan
melimpah dari batu berkualitas tinggi di utara Perancis dan di tempat tidur kapur Inggris selatan.
Budaya setelah kultur menduduki lokasi sekitar masyarakat Acheuleum selama rentang waktu
200.000 tahun. deposito Clay disediakan bahan untuk kapal penyimpanan pertanian
diperkenalkan, dan residu logam dari pigmen di kiln tembikar mungkin telah memberikan
petunjuk pertama untuk orang-orang ini kuno rahasia ekstraksi logam melalui peleburan.
Demikian juga, garam diakui sebagai penting dalam diet manusia dan, bersama dengan batu api
menjadi media utama tukar yang didiktekan rute perdagangan awal. Selama tahap awal,

penggunaan mineral logam adalah dalam bentuk pigmen, manik-manik dekoratif, dan logam asli
yang dapat dibentuk menjadi objek sederhana dengan memalu.
Akhirnya, terobosan teknologi pertama yang secara signifikan maju pertambangan terjadi pada
kerusakan batuan di tempat. pengaturan Api, menerapkan panas untuk memperluas, dan air
untuk memuaskan, kontrak, dan batuan retak, ditemukan oleh seorang penambang tidak
diketahui. Ini adalah kemajuan revolusioner di geomekanika, satu tidak melampaui dalam
sejarah pertambangan sampai penyebaran bahan peledak untuk memecah batu di Abad
Pertengahan.
Kebanyakan penemuan mineral ini berguna dibuat oleh kecelakaan di sepanjang jalur
perdagangan. Namun, Mesir, yang tidak baik kaya dengan sumber daya mineral, dikirim
ekspedisi eksplorasi pirus dan emas pada awal 4500 SM, sehingga di era perang untuk akuisisi
logam. The Mycenaeans
diikuti oleh siklus ini Fenisia pecah perang dan menjadi kaya, mineral bertukar barang. Ini
pedagang / prospectors dicari simpanan perak, timah, timah, tembaga, dan emas, mengambilnya
oleh penilai barter daripada penaklukan. oleh 1200 SM Mereka rute perdagangan laut
Mediterania seluruh pekerjaan, memperoleh timah dan perak dari Spanyol, tembaga dari Siprus,
dan timah dari Cornwall.
Dengan 100 SM rute perdagangan antara Cina dan Barat, terutama untuk sutra dan rempahrempah, yang mapan. Jalan-jalan melewati banyak negara dan disebarluaskan pengetahuan dari
besi seric (baja) dan teknologi metalurgi untuk dunia yang dikenal. Dengan 620, selama
Dinasti Tang, Cina telah menjadi masyarakat paling maju di dunia budaya dan teknologi.
Kenyataan bahwa teknologi pertambangan, tidak pernah sepenuhnya dikembangkan di cina
mungkin dapat dikaitkan dengan Guatarma (563-483 SM), yang mengajarkan bahwa
penderitaan disebabkan oleh keinginan untuk yang mana yang tidak, sehingga kebijakankebijakan pemerintah yang menghambat dan mendorong bergantian pertambangan.
Penemuan tembaga di Siprus c. 2700 SM mengakibatkan pembuatan alat-alat, senjata, dan
peralatan rumah tangga terbuat dari logam dan berbalik pulau itu menjadi pusat perdagangan
penting. Kekayaan dituangkan ke pulau memungkinkan untuk kemewahan perkembangan
artistik dan agama.
Bekerja di tambang oleh orang Yunani dan Roma, pertama kali dilakukan oleh budak, baik
tawanan perang, penjahat, atau tahanan politik. Mudah deposito dieksploitasi akhirnya kelelahan
dan ekonomi tambang menuntut keterampilan pertambangan. Akibatnya, dimulai dengan
pemerintahan Hadrian (AD 138), Kekaisaran Romawi mulai untuk mengakui tingkat
kepemilikan individu dan pertambangan diizinkan oleh freedmen dalam meningkatkan angka.
Ada peningkatan secara bertahap teknologi pertambangan melalui penggantian Kekaisaran
Romawi disertai tat budak oleh pengrajin yang terampil, meskipun villeinage masih
dipraktekkan.
Salah satu warisan sebagian besar hasil perdagangan Fenisia adalah untuk menciptakan sebuah
sistem dimana kekuasaan dan kemakmuran selanjutnya dapat diukur dalam hal yang sebenarnya,
kekayaan tukar. Dalam hal ini emas, kapasitas dan perak sepanjang sejarah telah diterima secara
universal koin. Jadi kehinaan dari dinar Romawi mengakibatkan kerugian yang kredibilitas
sebagai standar pertukaran, berkontribusi terhadap jatuhnya Kekaisaran Romawi, dan pada akhir
abad ke-6, Barat Latin kembali ke ekonomi agraris dan ditinggalkan mata uang dan perdagangan.
Pusat kebudayaan dan teknologi bergeser ke kekaisaran Byzantium dan Islam.
Charlemagne (768-814) mengakui perlunya untuk logam dan mulai pertambangan timah, perak,
dan emas di Rothansberg, Kremnitz, dan Schemnitz oleh tawanan diperbudak. Ia juga
mereformasi mata uang nya Kekaisaran Romawi Suci yang mengarah ke pembentukan permen
baru selama abad ke-10. Sebagai kerajaan Charlemagne memberi jalan untuk kerajaan lokal

lebih, permintaan untuk logam mulia telah diciptakan yang membangkitkan semangat
perusahaan dan terbangun kepentingan dalam pengembangan dan penggunaan logam. Eropa
melihat kelahiran (atau kelahiran kembali) dari tradisi awalnya dibawa oleh bangsa Celtic
keahlian pertambangan nomaden. kelahiran ini ditandai sebagai bergbaufreihet, atau hak-hak
penambang bebas, dimana budak miskin bisa menjadi tuannya sendiri hanya dengan menandai
klaim pertambangan sendiri dan batas mendaftar setelah membuat penemuan-dikenakan upeti
atau royalti dibayarkan kepada pemilik tanah kerajaan. Jadi penambang yang berhenti menjadi
budak dan menjadi orang bebas. Pada 1185, Uskup Trent memulai sebuah perjanjian di mana
penambang diundang untuk mengeksplorasi dan tambang yang wilayah Italia utara sebagai orang
bebas dengan hak penemuan. Pada 1209 berbagai pangeran di kekaisaran Jerman yang diberikan
hak yang sama dengan para penambang. Edward II dari Inggris pada tahun 1288, memerintahkan
untuk mengenang kebiasaan kuno dan praktek penambang di dalam negerinya. Jadi hak
kepemilikan berdasarkan penemuan oleh seorang penambang bebas menjadi dasar bagi undangundang pertambangan yang dilakukan oleh para penambang individu di seluruh Eropa, kemudian
ke Amerika, Australia, dan Afrika Selatan.
Seperti penambangan bawah tanah diperpanjang, para penambang bebas ditemukan mereka tidak
bisa berbuat banyak dengan sendirinya, dan dengan demikian membentuk kemitraan. Sebagai
usaha tumbuh, laki-laki lebih banyak dibutuhkan dan pemerintahan sendiri lahir asosiasi yang
kepemilikan dan saham keuangan didukung oleh sumbangan dicatat dalam sebuah buku-biaya.
Organisasi biaya-buku membentuk model untuk organisasi perusahaan sebelum praktek
menerbitkan saham . Awalnya,
produksi dibagi antara para pemegang saham, tetapi sebagai pengobatan dan pemasaran menjadi
lebih kompleks, penjualan tersebut menjadi terpusat. Ketika keuntungan dibuat, itu dibagi antara
petualang, tapi ketika kerugian yang dialami para petualang diminta untuk berkontribusi secara
proporsional dengan kepemilikan mereka atau risiko kerugian kepemilikan mereka. Jarang ada
uang yang disisihkan sebagai cadangan, dan akibatnya, penurunan harga logam atau kelas umum
mengakibatkan penutupan tambang.
Growing tuntutan untuk modal dipaksa mencari modal luar dan secara bertahap operator
kehilangan kontrol ke investor. Para penambang menjadi pekerja kontrak. Serikat, awalnya
diselenggarakan oleh penambang untuk amal dan asuransi, diasumsikan tujuan agresi industri.
Selama abad ke 18, metalurgi besi melakukan langkah besar dan dimungkinkan Revolusi
Industri di Inggris. Desa pengrajin berkembang ke dalam sistem pabrik dan Friendly Societies
hukum mengambil fungsi serikat perdagangan setelah 1825. Ketika pembiayaan publik di Inggris
ini dimungkinkan meskipun berlakunya Undang-Undang Perseroan Terbatas 1855-1862,
kapitalis Inggris datang ke garis terdepan dalam pembiayaan pembangunan mineral di seluruh
dunia. Goldsmiths diasumsikan fungsi perbankan dan menerbitkan penerimaan dicetak (atau
catatan) kepada setiap pembawa pendahulu dari mata uang kertas ini. Didorong oleh
ketersediaan sumber daya energi dan tersedia, revolusi industri serupa lainnya negara (Perancis,
Amerika Serikat, Jerman, Jepang, Rusia, Swedia, Kanada, Taiwan, dan Korea) berubah menjadi
perekonomian industri.
Usia mesin, diperkenalkan oleh Revolusi Industri abad ke-18 akhir, juga diperlukan mineral
sebagai bahan baku dan sebagai sumber energi. Industri daya sehingga menjadi ukuran
kekuasaan politik dan militer, dan eksplorasi sumber daya mineral dicapai diperluas ke hampir
semua bagian dunia. ekonomi Bangsa menjadi saling tergantung. Dalam upaya untuk
mengontrol arus internasional besar-besaran sumber daya mineral, tindakan komersial dan
politik yang sudah dicoba: monopoli, kartel, tarif, subsidi, dan kuota, untuk beberapa nama.
Hasil akhir adalah bahwa kontrol politik dan komersial atas sumber daya mineral dan distribusi

mereka memainkan peran utama baik dalam pemeliharaan dan penghancuran perdamaian dunia
(Leith et al, 1943.).
Karena bagian akhir abad ke-19, Inggris, Amerika Serikat, Uni Soviet, Jepang, Jerman Barat,
dan Perancis terutama telah mengembangkan sumber daya mineral di dunia. Negara-negara ini
telah dilengkapi ilmu pengetahuan yang diperlukan, teknologi dan modal dan telah disediakan
pasar. Dengan penyelesaian perdamaian akhir setelah Perang Dunia I, Jerman kehilangan 68%
dari wilayahnya, semua emas, perak, dan deposito merkuri, 80% dari tambang batubara dan
kapasitas produksi besi, dan menandatangani periode depresi dan kelaparan . Perekonomian
Jerman berhasil memulihkan dengan bijih impor dan tingkat tinggi keterampilan teknis dan
tenaga kerja efisien. Depresi tahun dari tahun 1930-an mengakibatkan nasionalisme ekonomi dan
tarif protektif, dan pasar banyak yang efektif ditutup. Karena Jerman dan Jepang sama-sama
tergantung pada perdagangan internasional, standar kehidupan mereka merosot, dan kelaparan,
kepahitan, dan kebencian menyala. Nazi berkuasa di Jerman dengan janji-janji pekerjaan,
makanan, dan prestise, persenjataan kembali dimulai pada tahun 1933, dan Jepang mengikuti
segera setelahnya, terkemuka dunia ke dalam Perang Dunia II (Lovering, 1943).
mineral kekayaan lokal sepanjang sejarah pembangunan dan sosial telah membuat pertama satu
bangsa kaya dan berkuasa, kemudian lain. The Fenisia mendirikan perdagangan di seluruh dunia
dan memperoleh kekayaan besar dengan mengembangkan dan bertukar mineral untuk segala
macam barang. Athena dibiayai perang kuno dan Golden Age dengan perak dari Laurium,
Alexander didanai penaklukan awal dengan emas dari Makedonia, Roma diperluas Kekaisaran
mereka untuk mendapatkan perak dari Carthage dan tembaga Spanyol, dan mahkota Katolik
Spanyol menjadi dunia kekuasaan oleh eksploitasi tua dan perak dari Dunia Baru. Selama Abad
Pertengahan, Jerman menjadi pusat timbal, seng, dan produksi perak dan pemimpin dalam
teknologi pertambangan. Britain pindah ke garis depan selama Revolusi Industri abad ke-19 dan
berturut-turut produsen terkemuka di dunia timah, tembaga, timah, dan kemudian batubara.
Didukung oleh sumber daya dari sebuah kerajaan besar, Inggris menjadi kaya
bangsa di dunia. Sumber daya yang lebih besar dari Amerika Serikat kemudian didukung terlebih
dahulu untuk menjadi bangsa terkaya, namun, masa depan sudah membayangi. Sebagian besar
ranjau bermutu tinggi Yunani, Jerman, dan Inggris sudah habis, dan Amerika Serikat dengan
cepat menjadi tergantung pada impor dan pelestarian perdagangan dunia yang damai. Negaranegara Timur Dekat telah mengalami kenaikan yang cepat untuk kekayaan besar berbasis pada
sumber daya minyak bumi. Ini telah penting dalam perkembangan teknologi, tetapi secara
historis berdurasi pendek. penemuan baru deposit logam bermutu tinggi sangat mungkin di Uni
Soviet dan Cina, tetapi kurang mungkin di Amerika Serikat.
Komentar
tugas mekbat
Filed under: umum Tinggalkan komentar
23 Desember 2010
nama : jumahir Badrun
fakultas teknik pertambangam
universitas muhammadiyah maluku utara
DEFINISI BATUAN
Berbagai definisi dari batuan sebagai objek dari mekanika batuan telah diberikan oleh para ahli
dari berbagai disiplin ilmu yang saling berhubungan
1.1.1. MENURUT PARA GEOLOGIWAN
1. Batuan adalah susunan mineral dan bahan organis yang bersatu membentuk kulit bumi.

2. Batuan adalah semua material yang membentuk kulit bumi yang dibagi atas :
- batuan yang terkonsolidasi (consolidated rock),
- batuan yang tidak terkonsolidasi (unconsolidated rock).
1.1.2. MENURUT PARA AHLI TEKNIK SIPIL KHUSUSNYA AHLI GEOTEKNIK
1. Istilah batuan hanya untuk formasi yang keras dan padat dari kulit bumi.
2. Batuan adalah suatu bahan yang keras dan koheren atau yang telah terkonsolidasi dan tidak
dapat digali dengan cara biasa, misalnya dengan cangkul dan belincong.
1.1.3. MENURUT TALOBRE
Menurut Talobre, orang yang pertama kali memperkenalkan Mekanika Batuan di Perancis pada
tahun 1948, batuan adalah material yang membentuk kulit bumi termasuk fluida yang berada
didalamnya (seperti air, minyak dan lain-lain).
1.1.4. MENURUT ASTM
Batuan adalah suatu bahan yang terdiri dari mineral padat (solid) berupa massa yang berukuran
besar ataupun berupa fragmen-fragmen.
1.1.5. SECARA UMUM
Batuan adalah campuran dari satu atau lebih mineral yang berbeda, tidak mempunyai komposisi
kimia tetap.
Dari definisi diatas dapat disimpulkan bahwa batuan tidak sama dengan tanah. Tanah dikenal
sebagai material yang mobile, rapuh dan letaknya dekat dengan permukaan bumi.
1.2. KOMPOSISI BATUAN
Kulit bumi, 99 % dari beratnya terdiri dari 8 unsur : O, Si, Al, Fe, Ca, Na, Mg, dan H.
Komposisi dominan dari kulit bumi tersebut adalah :
SiO2 = 59,8 %
FeO
= 3,39 %
A12O = 14,9 %
Na2O = 3,25 %
CaO = 4,9 %
K2O
= 2,98 %
MgO = 3,7 %
Fe2O3 = 2,69 %
H2O
= 2,02 %
Batuan terdiri dari bagian yang padat baik berupa kristal maupun yang tidak mempunyai
bentuk tertentu dan bagian kosong seperti pori-pori, fissure, crack, joint, dll.
1.3. DEFINISI MEKANIKA BATUAN
Definisi Mekanika Batuan telah diberikan oleh beberapa ahli atau komisi-komisi yang
bergerak di bidang ilmu-ilmu tersebut.
1.3.1. MENURUT TALOBRE
Mekanika batuan adalah sebuah teknik dan juga sains yang tujuannya adalah
mempelajari perilaku (behaviour) batuan di tempat asalnya untuk dapat mengendalikan
pekerjaan-pekerjaan yang dibuat pada batuan tersebut (seperti penggalian dibawah tanah dan
lain-lainnya).
Untuk mencapai tujuan tersebut, Mekanika Batuan merupakan gabungan dari :
Teori + pengalaman + pekerjaan/pengujian di laboratorium + pengujian in-situ.
sehingga mekanika batuan tidak sama dengan ilmu geologi yang didefinisikan oleh Talobre
sebagai sains deskriptif yang mengidentifikasi batuan dan mempelajari sejarah dari batuan.
Demikian juga mekanika batuan tidak sama dengan ilmu geologi terapan. Ilmu geologi terapan
banyak mengemukakan problem-problem yang paling sering dihadapi oleh para geologiwan
di proyek-proyek seperti proyek bendungan, terowongan. Dengan mencari analogi-analogi,
terutama dari proyek-proyek yang sudah dikerjakan dapat menyelesaikan kesulitan-kesulitan
yang dihadapi pada proyek yang sedang dikerjakan. Meskipun penyelesaian ini masih secara
empiris dan kualitatif.
1.3.2. MENURUT COATES

Menurut Coates, seorang ahli mekanika batuan dari Kanada :


1. Mekanika adalah ilmu yang mempelajari efek dari gaya atau tekanan pada sebuah benda.
Efek ini bermacam-macam, misalnya percepatan, kecepatan, perpindahan.
1. Mekanika batuan adalah ilmu yang mempelajari efek dari pada gaya terhadap batuan.
Efek utama yang menarik bagi para geologiwan adalah perubahan bentuk.
Para ahli geofisika tertarik pada aspek dinamis dari pada perubahan volume dan bentuk yaitu
gelombang seismik.
Bagi para insinyur, mekanika batuan adalah :
- analisis dari pada beban atau gaya yang dikenakan pada batuan,
- analisis dari dampak dalam yang dinyatakan dalam tegangan (stress), regangan (strain) atau
enersi yang disimpan,
- analisis akibat dari dampak dalam tersebut, yaitu rekahan (fracture), aliran atau deformasi
dari batuan.
1.3.3. MENURUT US NATIONAL COMMITTEE ON ROCK MECHANICS (1984)
Mekanika
batuan
adalah
ilmu
pengetahuan
yang
mempelajari
tentang
perilaku ( behavior )batuan baik secara teoritis maupun terapan, merupakan cabang dari ilmu
mekanika yang berkenaan dengan sikap batuan terhadap medan medan gaya pada
lingkungannya.
1.3.4. MENURUT BUDAVARI
Mekanika batuan adalah ilmu yang mempelajari mekanika perpindahan padatan untuk
menentukan distribusi gaya-gaya dalam dan deformasi akibat gaya luar pada suatu benda padat.
Hampir semua mekanika perpindahan benda padat didasarkan atas teori kontinum. Konsep
kontinum adalaf fiksi matematik yang tergantung pada struktur molekul material yang digantikan
oleh suatu bidang kontinum yang perilaku matematiknya identik dengan media aslinya.
Material ekivalennya dianggap homogen, mempunyai sifat-sifat mekanik yang sama pada semua
titik. Penyederhanaannya adalah bahwa semua sifat mekaniknya sama ke semua arah pada suatu
titik di dalam suatu batuan
1.3.5. MENURUT HUDSON DAN HARRISON
Mekanika batuan adalah ilmu yang mempelajari reaksi batuan yang apabila padanya dikenai
suatu gangguan. Dalam hal material alam, ilmu ini berlaku untuk masalah deformasi suatu
struktur geologi, seperti bagaimana lipatan, patahan, dan rekahan berkembang begitu tegangan
terjadi pada batuan selama proses geologi.
Beberapa tipe rekayasa yang melibatkan mekanika batuan adalah pekerjaan sipil, tambang, dan
perminyakan.
Topik utama mekanika batuan adalah batuan utuh, struktur batuan, tegangan, aliran air, dan
rekayasa, yang ditulis secara diagonal dari kiri atas ke kanan bawah pada Gambar 1. Garis ini
sering disebut sebagai diagonal utama. Semua kotak lainnya menunjukkan interaksi antara satu
dengan lainnya.
1.3.6. SECARA UMUM
Mekanika batuan adalah ilmu yang mempelajari sifat dan perilaku batuan bila terhadapnya
dikenakan gaya atau tekanan.
1.4. SIFAT BATUAN
Sifat batuan yang sebenarnya di alam adalah :
1.4.1. HETEROGEN
1. Jenis mineral pembentuk batuan yang berbeda.
2. Ukuran dan bentuk partikel/butir berbeda di dalam batuan.
3. Ukuran, bentuk, dan penyebaran void berbeda di dalam batuan.
1.4.2. DISKONTINU

Massa batuan di alam tidak kontinu (diskontinu) karena adanya bidang-bidang lemah (crack,
joint, fault, fissure) di mana kekerapan, perluasan dan orientasi dari bidang-bidang lemah
tersebut tidak kontinu.
1.4.3. ANISOTROP
Karena sifat batuan yang heterogen, diskontinu, anisotrope maka untuk dapat menghitung secara
matematis misalnya sebuah lubang bukaan yang disekitarnya terdiri dari batuan B1, B2, B3,
diasumsikan batuan ekivalen B sebagai pengganti batuan B1, B2, B3 yang mempunyai
sifat homogen, kontinu dan isotrop
BEBERAPA CIRI DARI MEKANIKA BATUAN
1. Dalam ukuran besar, solid dan massa batuan yang kuat/keras, maka batuan dapat dianggap
kontinu.
2. Bagaimanapun juga karena keadaan alamiah dan lingkungan geologi, maka batuan tidak kontinu
(diskontinu) karena adanya kekar, fissure, schistosity, crack, cavities dan diskontinuitas lainnya.
Untuk kondisi tertentu, dapat dikatakan bahwa mekanika batuan adalah mekanika diskontinu
3.
4.
5.
6.

1.

atau mekanika dari struktur batuan.


Secara mekanika, batuan adalah sistem multiple body (Gambar 3).
Analisis mekanika tanah dilakukan pada bidang, sedang analisis mekanika batuan dilakukan
pada bidang dan ruang.
Mekanika batuan dikembangkan secara terpisah dari mekanika tanah, tetapi ada beberapa yang
tumpang tindih.
Mekanika batuan banyak menggunakan :
teori elastisitas,
teori plastisitas,
dan mempelajari batuan, sistem struktur batuan secara eksperimen.
Adapun persoalan di dalam mekanika batuan antara lain :
Bagaimana reaksi dari batuan ketika diambil untuk dipergunakan ?

2. Berapa dan bagaimana besarnya daya dukung (bearing capacity) dari batuan dipermukaan dan
pada berbagai kedalaman untuk menerima berbagai beban ?
3. Bagaimana kekuatan geser batuan ?
4. Bagaimana sikap batuan di bawah beban dinamis ?
5. Bagaimana pengaruh gempa pada sistem fondasi di dalam batuan ?
6. Bagaimana nilai modulus elastisitas dan Poissons ratio dari batuan ?
1. Bagaimana pengaruh dari bidang-bidang lemah (kekar, bidang perlapisan, schistosity,
retakan, rongga dan diskontinuitas lainnya) pada batuan terhadap kekuatannya ?
2. Metoda pengujian laboratorium apa saja yang paling mendekati kenyataan untuk mengetahui
kekuatan fondasi atau sifat batuan dalam mendukung massa batuan ?
3. Bagaimana memperhitungkan kekar dan sesar dalam perencanaan pekerjaan di dalam batuan
4.
5.
6.

1.
2.

?
Bagaimana menanggulangi deformasi yang diakibatkan oleh perbedaan yang bersifat perlahanlahan (creep) pada batuan ?
Hukum apa saja yang menyangkut aliran plastik (plastic flow) dari batuan ?
Bagaimana pengaruh anisotrope terhadap distribusi tegangan dalam batuan ?
m. Bagaimana korelasi dari hasil-hasil pengujian kekuatan batuan yang telah dilakukan di
lapangan dan di laboratorium dalam menyiapkan percontoh batuan ?
Bagaimana metoda pengujian yang akan dilaksanakan yang sesuai dengan kondisi lapangan
terhadap sifat-sifat batuannya ?
Bagaimana mekanisme keruntuhan / kehancuran dari batuan (failure of rock) ?

3. Dapatkah keadaan tegangan di dalam massa batuan dihitung secara tepat, atau bahkan dapat
diukur ?
4. Faktor-faktor apa saja yang menyangkut perencanaan kemiringan lareng dari suatu
massa batuan ?
5. Apakah roof bolting pada atap sebuah lubang bukaan di bawah tanah sudah aman sehingga
lubang tersebut dapat digunakan sebagai instalasi yang permanen ?
reverensi : tambang UNHAS
Komentar
METODA-METODA GEOFISIKA
Filed under: umum Tinggalkan komentar
1. METODA SEISMIK
Gelombang seismik adalah rambatan energi yang disebabkan karena adanya gangguan di
dalamkerak bumi, misalnya adanya patahan atau adanya ledakan. Energi ini akan merambat ke
seluruh bagian bumi dan dapat terekam oleh seismometer.
Efek yang ditimbulkan oleh adanya gelombang seismik dari gangguan alami (seperti: pergerakan
lempeng (tektonik), bergeraknya patahan, aktifitas gunung api (vulkanik), dsb) adalah apa yang
kita kenal sebagai fenomena gempa bumi.
Gelombang seismik digolongkan menjadi 2 jenis, yaitu
1. Gelombang Badan (body wave)
2. Gelombang Permukaan (surface wave)
Merupakan salah satu metoda geofisika yang digunakan untuk eskplorasi sumber daya alam dan
mineral yang ada di bawah permukaan bumi dengan bantuan gelombang seismik. Eksplorasi
seismik atau eksplorasi dengan menggunakan metode seismik banyak dipakai oleh perusahaanperusahaan minyak untuk melakukan pemetaan struktur di bawah permukaan bumi untuk bisa
melihat kemungkinan adanya jebakan-jebakan minyak berdasarkan interpretasi dari
penampangseismiknya.Dalam metoda seismic pengukuran dilakukan dengan menggunakan
sumber seismik (ledakan, vibroseis dll). Setelah sumber diberikan maka akan terjadi gerakan
gelombang di dalam medium (tanah/batuan) yang memenuhi hukum-hukum elastisitas ke segala
arah dan mengalami pemantulan ataupun pembiasan akibat munculnya perbedaan kecepatan.
Kemudian, pada suatu jarak tertentu, gerakan partikel tersebut di rekam sebagai fungsi waktu.
Berdasar data rekaman inilah dapat diperkirakan bentuk lapisan/struktur di dalam tanah
(batuan).
Menurut SANNY (1998), kualitas data seismik sangat ditentukan oleh kesesuaian antara
parameter pengukuran lapangan yang digunakan dengan kondisi lapangan yang ada. Kondisi
lapangan yang dimaksud adalah kondisi geologi dan kondisi ( Bidang Dinamika Laut, Pusat
Penelitian Oseanografi-LIPI, Jakarta)
Secara umum, metode seismik refleksi terbagi atas tiga bagian penting yaitu pertama adalah
akuisisi data seismik yaitu merupakan kegiatan untuk memperoleh data dari lapangan yang
disurvei, kedua adalah pemrosesan data seismik sehingga dihasilkan penampang seismik yang
mewakili daerah bawah permukaan yang siap untuk diinterpretasikan, dan yang ketiga adalah
interpretasi data seismik untuk memperkirakan keadaan geologi di bawah permukaan dan bahkan
juga untuk memperkirakan material batuan di bawah permukaan.
2. METODE GEOMAGNET (Magnetic)
Berbicara tentang metoda magnetik, kita tidak dapat melupakan jasa Bangsa China. Mereka
adalah penemu pertama magnet, dengan menggunakan batu lapis (batuan yang kaya kandungan
magnetik) sebagai penunjuk arah, Penemuan ini terjadi sekitar abad kedua Sebelum Masehi.

Kemudian pada abad ke 20, Bangsa Eropa mengembangkan alat navigasi: kompas magnetik.
Pengamatan medan magnet bumi dimulai secara sistematik sejak hampir 500 tahun lalu.
Pengamatan ini pertama kali dikemukakan fisikawan Inggris Sir Wiliam Gilbert (1514-1603)
dalam bukunya De Magnete. Ia melakukan pengamatan jarum kompas yang selalu mengarah
pada bagian utara bumi, yang diakibatkan oleh pengaruh medan magnet utara bumi.
Selanjutnya, bumi diyakini sebagai batang magnet raksasa di mana medan magnet utama bumi
dihasilkan. Kerak bumi menghasilkan medan magnet jauh lebih kecil daripada medan utama
magnet yang dihasilkan bumi secara keseluruhan. Teramatinya medan magnet pada bagian bumi
tertentu, biasanya disebut anomali magnetik yang dipengaruhi suseptibilitas batuan tersebut dan
remanen magnetiknya. Berdasarkan pada anomali magnetik pada batuan ini, pendugaan sebaran
batuan yang dipetakan baik secara lateral maupun vertikal.
Eksplorasi menggunakan metoda magnetik, pada dasarnya terdiri atas tiga tahap: akuisisi data
lapangan, prosessing, interpretasi. Setiap tahap terdiri dari beberapa perlakuan/kegiatan. Pada
tahap akuisisi, dilakukan penentuan titik pengamatan dan pengukuran dengan satu atau dua alat.
Untuk koreksi data pengukuran dilakukan pada tahap prosessing, Koreksi pada metoda magnetik
terdiri atas koreksi harian (diurnal), koreksi topografi (terrain) dan koreksi lainnya. Sedangkan
untuk interpretasi dari hasil pengolahan data dengan menggunakan software diperoleh peta
anomali magnetik.
Metode ini didasarkan pada perbedaan tingkat magnetisasi suatu batuan yang diinduksi oleh
medan magnet bumi. Hal ini terjadi serbagai akibat adanya perbedaan sifat kemagnetan suatu
material. Kemampuan untuk termagnetisasi tergantung dari susceptibilitas magnetic masingmasing batuan. Harga susceptibilitas ini sangat penting didalam pencarian benda anomaly karena
sifatnya yang sangat khas untuk setiap jenis mineral atau mineral logam. Harganya akan semakin
besar bila jumlah kandungan mineral magnetic pada batuan semakin banyak
Pengukuran magnetic dilkukan pada lintasan ukur yang tersedia dengan interval antar titik ukur
10 m dan jarak lintasan 40 m. batuan dengan kandungan mineral- mineral tertentu dapat dikenali
dengan baik dalam eksplorasi geomagnet yang dimunculkan sebagai anomaly yang diperoleh
merupakan hasil distorsi pada medan magnetic yang diakibatkan oleh material magnetic dari
kerak bumi atau mungkin juga dari bagian atas mantel
1. Di bawah permukaan tanah terdapat perlapisan batuan yang terbedakan antara yang satu dengan
yang lain karena mempunyai karakteristik fisika tertentu. Dengan metoda geofisika kita bisa
menduga jenis litologi, kedalaman dan struktur lapisan batuan di bawah permukaan tanah.
Metoda geofisika secara garis besar terbagi dua yaitu yang bersifat statis dan dinamis. Disebut
metoda geofisika statis karena kita mengukur besaran fisika yang sudah ada dalam batuan tanpa
pengaruh dari luar, misalnya metoda gravity, magnetik dan paleomagnetik. Sedangkan untuk
metoda geofisika dinamis digunakan perlakuan khusus terhadap perlapisan batuan, sehingga kita
bisa menduga jenis litologinya dari respon yang terjadi.Di bawah permukaan tanah terdapat
perlapisan batuan yang terbedakan antara yang satu dengan yang lain karena mempunyai
karakteristik fisika tertentu. Dengan metoda geofisika kita bisa menduga jenis litologi,
kedalaman dan struktur lapisan batuan di bawah permukaan tanah. Metoda geofisika secara garis
besar terbagi dua yaitu yang bersifat statis dan dinamis. Disebut metoda geofisika statis karena
kita mengukur besaran fisika yang sudah ada dalam batuan tanpa pengaruh dari luar, misalnya
metoda gravity, magnetik dan paleomagnetik. Sedangkan untuk metoda geofisika dinamis
digunakan perlakuan khusus terhadap perlapisan batuan, sehingga kita bisa menduga jenis
litologinya dari respon yang terjaMETODA GEOLISTRIK
Adalah metoda eksplorasi geofisika yang kompleks karena terdiri dari bermacam-macam
metoda. Diantaranya metode tahanan jenis (resisitivity), metode potensial diri (self potential),

metoda potensial terimbas (induced potential), metoda misse a la masse, metode potensial dan
lain-lain.
Metode tahanan jenis (resistivity) ini dilakukan berdasarkan perbadaan harga tahanan jenis
batuan yang terdapat pada daerah yang ingin diselidiki. Metoda ini mempunyai dua pendekatan
yaitu:
Pendekatan Horizontal (sounding)
Pendekatan Vertikal (profiling)
Umumnya metoda tahanan jenis ini dilakukan dengan memasukkan arus listrik ke dalam tanah,
lalu mengukur potensial yang timbul akibat adanya perbedaan tekanan jenis batuan. Aturan
yangdigunakan umumnya aturan elektroda Wenner atau Schlumberger. Makin jauh rentang
elektroda arus, makn dalam penetrasi pendugaan yang dihasilkan.
Metode geolistrik ini memiliki banyak macamnya antara lain:
1. metode potensial diri
2. arus telluric
3.
4.
5.
6.
7.

magnetotelluric
elektromagnetik
induced polarization
metode resistivitas
dan lain-lain
disini akan lebih dijabarkan terkait metode resistivitas ( tahanan jenia ).
Metode resistivitas
Metode resistivitas merupakan metode geolistrik yang mempelajari sifat tahanan jenis listrik dari
lapisan batuan di dalam bumi. Berdasarkan tujuan penyelidikan metode resistivitas ini dibagi
menjadi dua kelompok besar:
1. metode resistivitas mapping
2. metode resistivitas sounding
Metode ini dikenal berbagai macam konfigurasi. Diantaranya yang sring digunakan adalah :
konfigurasi wenner
konfigurasi schlumberger
konfigurasi Bipol-dipol
konfigurasi diatas memiliki kelebihan dan kekurangan. Oleh karena itu harus dilakukan
pemilihan terlebih dahulu jenis konfigurasi yang sesuai dengan kasus yang dihadapi
1.GPR (Ground Penetrating Radar)
Ground Penetrating Radar (GPR) biasa disebut georadar. Berasal dari dua kata yaitu geo berarti
bumi dan radar singkatan dari radio detection and ranging. Jadi, arti harfiahnya adalah alat
pelacak bumi menggunakan gelombang radio. GPR baik digunakan untuk eksplorasi dangkal
(nearsurface) dengan ketelitian (resolusi) yang amat tinggi, sehingga mampu mendeteksi benda
sasaran bawah permukaan hingga benda yang berdimensi beberapa sentimeter sekali pun.
GPR merupakan salah satu metode geofisika yang menggunakan sumber gelombang
elektromagnetik. Karena itu, GPR tergolong metode geofisika tidak merusak (nondestructive).
Kelebihan lain GPR adalah biaya operasionalnya yang rendah, prosedur pengerjaan mudah, dan
ketelitian sangat tinggi (resolusi tinggi). Kelemahannya, penetrasinya tidak terlalu dalam atau
daya tembus metode ini hanya sampai puluhan meter ( 100 meter).
Itu sebabnya, metode ini bisa dikatakan cocok untuk pencarian situs (atau harta karun). Dengan
catatan: tempat itu benar-benar diyakini atau barang tambang yang tempatnya tidak terlalu
dalam. Karena panjang gelombang itu mencerminkan ukuran minimum benda yang dapat
terdeteksi. Makin tinggi frekuensi makin kecil panjang gelombang, sehingga makin kecil ukuran
benda yang dapat terdeteksi (makin tinggi pula ketelitiannya). Hasil pencitraan GPR bisa

memunculkan informasi semacam ketebalan permukaan aspal jalan, jalur pipa bawah tanah
untuk mencari bedrock yang pas guna pondasi bangunan hingga mencari mayat hilang dan fosil
arkeologis.
Seperti dijelaskan di awal, radar memancarkan semacam gelombang elektromagnet yang
kemudian ditangkap balik oleh sensor alat. Spektrum frekuensi yang digunakan disesuaikan
kebutuhan pengukurannya. Gelombang yang dipancarkan adalah gelombang pendek (mikro)
agar bisa terpenetrasi ke bawah permukaan bumi. Respons data yang diterima, diolah
berdasarkan hukum pantulan (refleksi) dan pembiasaan (gelombang). Tentu saja banyak hal yang
mempengaruhi penjalaran (propagasi) gelombang.
Secara keseluruhan, alat GPR berbobot tidak lebih dari lima kilogram, sehingga sangat leluasa
bergerak. Alat ini bekerja dengan dua antena. Satu berfungsi sebagai transmiter, yaitu bertugas
memancarkan gelombang radar. Lainnya sebagai receiver, bertugas menerima gelombang radar
yang dipantulkan bahan di sekelilingnya kemudian diolah grafiknya ke dalam komputer.
Pada prinsipnya, metode georadar dengan metode seismik sama yaitu membangkitkan
gelombang buatan ke dalam bumi. Perbedaannya hanya pada jenis gelombang yang digunakan.
reverensi : tambang UNHAS
Komentar
tugas geologi (nickel)
Filed under: umum Tinggalkan komentar
Nikel laterite merupakan sumber bahan tambang yang sangat penting, menyumbang terhadap
40% dari produksi nikel dunia. Endapan nikel laterite terbentuk dari hasil pelapukan yang dalam
dari batuan induk dari jenis ultrabasa. Umumnya terbentuk pada iklim tropis sampai sub-tropis.
Saat ini kebanyakan nikel laterite memang terbentuk di daerah ekuator. Negara penghasil nikel
laterite di dunia diantaranya New Caledonia, Kuba, Philippines, Indonesia, Columbia dan
Australia.
yang kaya akan Nikel; Garnierite ( max. Ni 40%). Ni terlarut (leached) dari fase limonite (Fe
Oxyhydroxide) dan terendapkan bersama mineral silicate hydrous atau mensubtitusi unsure Mg
pada serpentinite yang teralterasi (Pelletier,1996). Jadi, meskipun nikel laterite adalah produk
pelapukan, tapi dapat dikatakan juga bahwa proses enrichment supergene sangat penting dalam
pembentukan formasi dan nilai ekonomis dari endapan hydrous silicate ini. Type ini dapat
ditemui dibeberapa tempat seperti di New Caledonia, Indonesia, Philippines.Dominika dan
Columbia.
Istilah laterite bisa diartikan sebagai endapan yang kaya akan iron-oxide, miskin unsure silica
dan secara intensif ditemukan pada endapan lapukan di iklim tropis (eggleton, 2001). Ada juga
yang mengartikan nikel laterite sebagai endapan lapukan yang mengandung nikel dan secara
ekonomis dapat di tambang.
Batuan induk dari endapan Nikel Laterite adalah batuan ultrabasa; umumnya harzburgite
(peridotite yang kaya akan unsur ortopiroksen), dunite dan jenis peridotite yang lain.
Proses Kimia Pembentukan Nikel
Nikel terbentuk bersama mineral silikat kaya akan unsur Mg (ex;olivin). Olivin adalah jenis
mineral yang tidak stabil selama pelapukan berlangsung. Saprolite adalah produk pelapukan
pertama, meninggalkan sedikitnya 20% fabric dari batuan aslinya (parent rock). Batas antara
batuan dasar, saprolite dan wathering front tidak jelas dan bahkan perubahannya gradasional.
Endapan nikel laterite dicirikan dengan adanya speroidal weathering sepanjang joints dan
fractures ( boulder saprolite). Selama pelapukan berlangsung, Mg larut dan Silika larut bersama
groundwater. Ini menyebabkan fabric dari batuan induknya is totally change. Sebagai hasilnya,

Fe-Oxide mendominasi dengan membentuk lapisan horizontal diatas saprolite yang sekarang kita
kenal sebagai Limonite. Benar bahwa Nikel berasosiasi dengan Fe-Oxide terutama dari jenis
Goethite. Rata-rata nikel berjumlah 1.2 %.
Kondisi Mineralogy
Endapan nikel laterite terbentuk baik pada mineral jenis silicate atau oxide. Kemiripan radius ion
Ni2+ dan Mg2+ memungkinkan substitusi ion diantara keduanya. Umumnya, mineral bijih dari
jenis hidrous silicate seperti talc, smectite, sepiolite, dan chlorite terbentuk selama proses
metamorphisme temperature rendah dan selama proses pelapukan dari batuan induk. Umumnya,
mineral mineral tersebut mempunyai variasi ratio Mg dan Ni. Mineral garnierite dari jenis
silicate mempunyai ciri poor kristalin, texture afanitik, dan berstuktur seperti serpentinite
(Brindley,1978).
Genesis of Nikel Laterite
Umunya Nikel deposit terbentuk pada batuan ultrabasa dengan kandungan Fe di olivine yang
tinggi dan Nikel berkadar antara 0.2% 0.4% wt. Secara mineralogi nikel laterite dapat dibagi
kedalam tiga kategori (Brand et all.,1998)
1. Hydrous Silicate Deposits
Profil dari type ini dari vertical dari bawah ke atas : Ore horizon pada lapisan saprolite (Mg-Ni
silicate), grade Nikel antara 1.8% 2.5%. Pada zona ini berkembang box-works (apa tuh..),
veining, relic structure, fracture dan grain boundaries dan dapat terbentuk mineral
1. Clay Silicate Deposits
Pada jenis endapan ini, Si hanya sebagian terlarut oleh melalui groundwater. Si yang tersisa akan
bergabung dengan Fe,Ni,dan Al untuk membentuk mineral lempung (clay minerals) seperti Nirich Notronite pada bagian tengah profil saprolite (see profile). Ni-rich serpentine juga dapat di
replace oleh smectite atau kuarsa jika profile deposit ini tetap kontak dalam waktu lama dengan
groundwater. Ni grade pada endapan ini lebih rendah dari Hydrosilicate deposit (1.2%;Brand et
all,1998).
1. Oxide Deposits
Type terakhir adalah Oxide. Profile bawah menunjukkan Protolith dari jenis harzburgitic
peridotites (mostly mineral olivine,serpentine, piroksen), sangat rentan terhadap pelapukan
terutama di daerah tropis. Diatasnya terbentuk saprolite dan mendekati permukaan terbentuk
limonite dan ferricrete (dipermukaan) ( see profile). Pada tipe deposit oxide ini, Nikel berasosiasi
dengan Goethite (FeOOH) dan Mn Oxide.
Sebagai tambahan, Nikel laterite sangat jarang atau tidak sama sekali terbentuk pada batuan
carbonate mengandung mineral talc.
Tektonik Setting
Nikel laterite berkembang di kompleks Ophiolite pada rentang waktu Phanerozoic, terutama
Cretaseous-Miosen. Ophiolite ini telah mengalami fault dan joint sebagai efek dari tectonic uplift
yang dapat memicu intensitas pelapukan dan perubahan pada water table level. Deposit Nikel
lainnya ditemukan pada Archean Craton yang tergolong stabil berasosiasi dengan layer mafic
complexes and komatiite (Butt,1975). Semakin banyak zona shear dan steep fault ( normal??),
semakin tinggi pula tingkat enrichment proses untuk menghasilkan grade Nikel yang tinggi.
Sebaliknya, zona thrust fault berasosiasi dengan emplacement kompleks ophiolite dan bersama
dengan greenstone membentuk zona serpentine milonite atau talc-carbonates-altered ultramafic
rocks. Komposisi seperti itu tidak memungkinkan terbentuknya Nikel pada endapan residu
(regolith/lapukan).
Kondisi Topografi dan Morfologi
Dua faktor tersebut sangat penting dalam endapan nikel laterit karena kaitannya dengan posisi
water table, stuktur dan drainage. Zona enrichment nikel laterite berada di topografi bagian atas

(upper hill slope,crest, plateau, atau terrace). Kondisi water table pada zona ini dangkal,apalagi
ditambah dengan adanya zona patahan n shear or joint. In consequence, akan mempercepat
proses palarutan kimia (leaching processes) yang pada akhirnya akan terbentuk endapan saprolite
mengandung nikel yang cukup tebal. Kondisi seperti ini dapat dijumpai di beberapa tempat
sepeti Indonesia,New Caledonia, Ural (Russia) dan Columbia. Sebaliknya, pada topografi yang
rendah, water table yang dalam akan menghambat proses pelarutan unsur unsur dari batuan
induk (baca:enrichment proses).
Iklim
Tempat tempat yang beriklim tropis seperti Indonesia, Columbia memungkinkan untuk
terjadinya endapan Nikel laterite. Kondisi curah hujan yang tinggi,temperatur yang hangat
ditambah dengan aktivitas biogenic akan mempercepat proses pelapukan kimia, dimana Nikel
laterite bisa mudah terbentuk.
4. NIKELSifat-sifat nikel : Putih mengkilat Sangat keras Tidak berkara Tahan terhadap asam
encerBijih nikel yang utam adalahnikelsulfida . Nikel-nikel yang diekspor dalam bentuk 3
macam yaitu bijih, nikel kasar, dan ferronikel. Daerah penambangan nikel ada di Koala,
Soroako, Maluku Utara. Cara penambangan nikel melalui berbagai cara , antara lain ;
Penebangan pohon dan semak Pengupasan tanah permukaan Penggalian dengan sistem tangga
(benching system) yaitu dimulai dari bawah ke atasmengikuti garis kontur dengan alat gali
power shovel atau dozer shovelPengolahan nikel melalui beberapa tahap , yaitu :
Pemanggangan Peleburan ElektrolisisPenggunaan Nikel Untuk melapisi barang yang terbuat
dari besi, tembaga, baja karena nikel mempunyai sifatkeras, tahan korosi dan mudah mengkilap
jika digosok. Untuk membuat baja tahan karat (stailess stell) Untuk membuat aliase dengan
tembaga dan beberapa logam lain seperti :
a. Monel (Ni, Cu, Fe)Digunakan untuk membuat instrumen tranmisi listrik
b. Nikrom(Ni,Fe,Cr)Digunakan sebagai kawat pemanas
c. Alniko (Al, Ni, fe, Co) Untuk membuat magnet.
d. Palinit dan Invar yaitu paduan nikel yang mempunyai koefisien muai yang sama dengan gelas
yang digunakan sebagai kawat listrik yang ditanam dalam kaca, misalnya pada bolam lampu
pijar.
e. Serbuk nikel digunakan sebagai katalisator, misalnya pada hidrogenansi (pemadatan) minyak
kelapa, juga pada cracking minyak bumi.
reverensi : tambang UNHAS
Komentar
tugas explorasi (penbentukan endapan nickel laterite)
Filed under: Tak Berkategori Tinggalkan komentar
22 Desember 2010
Batuan induk bijih nikel adalah batuan peridotit. Menurut Vinogradov batuan ultra basa rata-rata
mempunyai kandungan nikel sebesar 0,2 %. Unsur nikel tersebut terdapat dalam kisi-kisi kristal
mineral olivin dan piroksin, sebagai hasil substitusi terhadap atom Fe dan Mg. Proses terjadinya
substitusi antara Ni, Fe dan Mg dapat diterangkan karena radius ion dan muatan ion yang hampir
bersamaan di antara unsur-unsur tersebut. Proses serpentinisasi yang terjadi pada batuan peridotit
akibat pengaruh larutan hydrothermal, akan merubah batuan peridotit menjadi
batuan serpentinitatau batuan serpentinit peroditit. Sedangkan proses kimia dan fisika dari udara,
air serta pergantian panas dingin yang bekerja kontinu, menyebabkan disintegrasi dan
dekomposisi pada batuan induk.

Pada pelapukan kimia khususnya, air tanah yang kaya akan CO2 berasal dari udara dan
pembusukan tumbuh-tumbuhan menguraikan mineral-mineral yang tidak stabil (olivin dan
piroksin) pada batuan ultra basa, menghasilkan Mg, Fe, Ni yang larut; Si cenderung membentuk
koloid dari partikel-partikel silika yang sangat halus. Didalam larutan, Fe teroksidasi dan
mengendap sebagai ferri-hydroksida, akhirnya membentuk mineral-mineral seperti geothit,
limonit, dan haematit dekat permukaan. Bersama mineral-mineral ini selalu ikut serta unsur
cobalt dalam jumlah kecil.
Larutan yang mengandung Mg, Ni, dan Si terus menerus kebawah selama larutannya bersifat
asam, hingga pada suatu kondisi dimana suasana cukup netral akibat adanya kontak dengan
tanah dan batuan, maka ada kecenderungan untuk membentuk endapan hydrosilikat. Nikel yang
terkandung dalam rantai silikat atau hydrosilikat dengan komposisi yang mungkin bervariasi
tersebut akan mengendap pada celah-celah atau rekahan-rekahan yang dikenal dengan urat-urat
garnierit dan krisopras. Sedangkan larutan residunya akan membentuk suatu senyawa yang
disebut saprolit yang berwarna coklat kuning kemerahan. Unsur-unsur lainnya seperti Ca dan Mg
yang terlarut sebagai bikarbonat akan terbawa kebawah sampai batas pelapukan dan akan
diendapkan sebagai dolomit, magnesit yang biasa mengisi celah-celah atau rekahan-rekahan
pada batuan induk. Dilapangan urat-urat ini dikenal sebagai batas petunjuk antara zona
pelapukan dengan zona batuan segar yang disebut dengan akar pelapukan (root of weathering).
Faktor-faktor yang mempengaruhi pembentukan bijih nikel laterit ini adalah:
a. Batuan asal. Adanya batuan asal merupakan syarat utama untuk terbentuknya endapan nikel
laterit, macam batuan asalnya adalah batuan ultra basa. Dalam hal ini pada batuan ultra basa
tersebut: terdapat elemen Ni yang paling banyak diantara batuan lainnya mempunyai
mineral-mineral yang paling mudah lapuk atau tidak stabil, seperti olivin dan piroksin
mempunyai komponen-komponen yang mudah larut dan memberikan lingkungan pengendapan
yang baik untuk nikel.
b. Iklim. Adanya pergantian musim kemarau dan musim penghujan dimana terjadi kenaikan dan
penurunan permukaan air tanah juga dapat menyebabkan terjadinya proses pemisahan dan
akumulasi unsur-unsur. Perbedaan temperatur yang cukup besar akan membantu terjadinya
pelapukan mekanis, dimana akan terjadi rekahan-rekahan dalam batuan yang akan
mempermudah proses atau reaksi kimia pada batuan.
c. Reagen-reagen kimia dan vegetasi. Yang dimaksud dengan reagen-reagen kimia adalah unsurunsur dan senyawa-senyawa yang membantu mempercepat proses pelapukan. Air tanah yang
mengandung CO2 memegang peranan penting didalam proses pelapukan kimia. Asam-asam
humus menyebabkan dekomposisi batuan dan dapat merubah pH larutan. Asam-asam humus ini
erat kaitannya dengan vegetasi daerah. Dalam hal ini, vegetasi akan mengakibatkan: penetrasi
air dapat lebih dalam dan lebih mudah dengan mengikuti jalur akar pohon-pohonan akumulasi
air hujan akan lebih banyak humus akan lebih tebal Keadaan ini merupakan suatu petunjuk,
dimana hutannya lebat pada lingkungan yang baik akan terdapat endapan nikel yang lebih tebal
dengan kadar yang lebih tinggi. Selain itu, vegetasi dapat berfungsi untuk menjaga hasil
pelapukan terhadap erosi mekanis.
d. Struktur. Struktur yang sangat dominan yang terdapat didaerah Polamaa ini adalah struktur
kekar (joint) dibandingkan terhadap struktur patahannya. Seperti diketahui, batuan beku
mempunyai porositas dan permeabilitas yang kecil sekali sehingga penetrasi air sangat sulit,
maka dengan adanya rekahan-rekahan tersebut akan lebih memudahkan masuknya air dan berarti
proses pelapukan akan lebih intensif.
e. Topografi. Keadaan topografi setempat akan sangat mempengaruhi sirkulasi air beserta
reagen-reagen lain. Untuk daerah yang landai, maka air akan bergerak perlahan-lahan sehingga
akan mempunyai kesempatan untuk mengadakan penetrasi lebih dalam melalui rekahan-rekahan

atau pori-pori batuan. Akumulasi andapan umumnya terdapat pada daerah-daerah yang landai
sampai kemiringan sedang, hal ini menerangkan bahwa ketebalan pelapukan mengikuti bentuk
topografi. Pada daerah yang curam, secara teoritis, jumlah air yang meluncur (run off) lebih
banyak daripada air yang meresap ini dapat menyebabkan pelapukan kurang intensif.
f. Waktu. Waktu yang cukup lama akan mengakibatkan pelapukan yang cukup intensif karena
akumulasi unsur nikel cukup tinggi.
Profil nikel laterit keseluruhan terdiri dari 4 zona gradasi sebagai berikut :
1. Iron Capping : Merupakan bagian yang paling atas dari suatu penampang laterit.
Komposisinya adalah akar tumbuhan, humus, oksida besi dan sisa-sisa organik lainnya. Warna
khas adalah coklat tua kehitaman dan bersifat gembur. Kadar nikelnya sangat rendah sehingga
tidak diambil dalam penambangan.
Ketebalan lapisan tanah penutup rata-rata 0,3 s/d 6 m. berwarna merah tua, merupakan kumpulan
massa goethite dan limonite. Iron capping mempunyai kadar besi yang tinggi tapi kadar nikel
yang rendah. Terkadang terdapat mineral-mineral hematite, chromiferous.
2. Limonite Layer : Merupakan hasil pelapukan lanjut dari batuan beku ultrabasa. Komposisinya
meliputi oksida besi yang dominan, goethit, dan magnetit. Ketebalan lapisan ini rata-rata 8-15 m.
Dalam limonit dapat dijumpai adanya akar tumbuhan, meskipun dalam persentase yang sangat
kecil. Kemunculan bongkah-bongkah batuan beku ultrabasa pada zona ini tidak dominan atau
hampir tidak ada, umumnya mineral-mineral di batuan beku basa-ultrabasa telah terubah menjadi
serpentin akibat hasil dari pelapukan yang belum tuntas. fine grained, merah coklat atau kuning,
lapisan kaya besi dari limonit soil menyelimuti seluruh area. Lapisan ini tipis pada daerah yang
terjal, dan sempat hilang karena erosi. Sebagian dari nikel pada zona ini hadir di dalam mineral
manganese oxide, lithiophorite. Terkadang terdapat mineral talc, tremolite, chromiferous, quartz,
gibsite, maghemite.
3. Silika Boxwork : putih orange chert, quartz, mengisi sepanjang fractured dan sebagian
menggantikan zona terluar dari unserpentine fragmen peridotite, sebagian mengawetkan struktur
dan tekstur dari batuan asal. Terkadang terdapat mineral opal, magnesite. Akumulasi dari
garnierite-pimelite di dalam boxwork mungkin berasal dari nikel ore yang kaya silika. Zona
boxwork jarang terdapat pada bedrock yang serpentinized.
4. Saprolite : Zona ini merupakan zona pengayaan unsur Ni. Komposisinya berupa oksida besi,
serpentin sekitar <0,4% kuarsa magnetit dan tekstur batuan asal yang masih terlihat. Ketebalan
lapisan ini berkisar 5-18 m. Kemunculan bongkah-bongkah sangat sering dan pada rekahanrekahan batuan asal dijumpai magnesit, serpentin, krisopras dan garnierit. Bongkah batuan asal
yang muncul pada umumnya memiliki kadar SiO2 dan MgO yang tinggi serta Ni dan Fe yang
rendah. campuran dari sisa-sisa batuan, butiran halus limonite, saprolitic rims, vein dari endapan
garnierite, nickeliferous quartz, mangan dan pada beberapa kasus terdapat silika boxwork,
bentukan dari suatu zona transisi dari limonite ke bedrock. Terkadang terdapat mineral quartz
yang mengisi rekahan, mineral-mineral primer yang terlapukkan, chlorite. Garnierite di lapangan
biasanya diidentifikasi sebagai kolloidal talc dengan lebih atau kurang nickeliferous serpentin.
Struktur dan tekstur batuan asal masih terlihat.
5. Bedrock : bagian terbawah dari profil laterit. Tersusun atas bongkah yang lebih besar dari 75
cm dan blok peridotit (batuan dasar) dan secara umum sudah tidak mengandung mineral
ekonomis (kadar logam sudah mendekati atau sama dengan batuan dasar). Batuan dasar
merupakan batuan asal dari nikel laterit yang umumnya merupakan batuan beku ultrabasa yaitu
harzburgit dan dunit yang pada rekahannya telah terisi oleh oksida besi 5-10%, garnierit minor
dan silika > 35%.
Permeabilitas batuan dasar meningkat sebanding dengan intensitas serpentinisasi.Zona ini
terfrakturisasi kuat, kadang membuka, terisi oleh mineral garnierite dan silika. Frakturisasi ini

diperkirakan menjadi penyebab adanya root zone yaitu zona high grade Ni, akan tetapi posisinya
tersembunyi.