Anda di halaman 1dari 19

Diuretik 2014

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Sebagai makhluk hidup
berupa urin

ginjal kita akan mengeluarkan zat sisa

yang terdiri dari air, garam, dan urea. Obat-obat yang

menyebabkan suatu keadaan meningkatnya aliran urine disebut diuretik


Obat-obat yang tergolong dalam diuretika ini merupakan penghambat
reseptor ion yang menurunkan reabsorbsi Na + pada bagian-bagian nefron
yang berbeda. Sehingga Na+ dan ion lain seperti Cl- memasuki urine
dalam jumlah yang lebih banyak dibanding bila keadaan normal bersamasama air, dan dieksresikan ke luar tubuh.
Keadaan yang dapat mengganggu volume dan urin tersebut, antara
lain ingesti (pemasukan) air atau defripasi (hilangnya) air, ingesti atau
defrivasi elektrolit, kelebihan asam atau alkali, produk metabolisme atau
pemberian bahan-bahan toksik.
Dalam praktikum ini kita akan membuktikan bahwa furosemide
adalah salah satu obat golongan diuretik yang akan meningkatkan aliran
urin dengan perlakuan pada hewan coba kelici.
Sebagai seorang farmasis patutlah kita untuk mengetahui apa saja
golongan -golongan obat diuretik, bagaimana efek farmakologinya, dan
bagaimana mekanisme kerja dari masing- masing obat.

NUR ATIKA AHMAD


15020130271

IVA MUKRIMA, S.Farm

Diuretik 2014

B. Maksud Percobaan
Mengetahui dan memahami efek farmakologi dari obat golongan
diuretik yakni furosemide.
C. Tujuan Percobaan
Menentukan efek farmakologi dari obat golongan diuretik yaitu
furosemide berupa pengamatan terhadap volume urinasi dan frekuensi
urinasi pada hewan coba kelinci (Oryctolagus cuniculus).
D. Prinsip Percobaan
Penentuan efek farmakologi dari obat golongan diuretik yaitu
furosemide berupa pengamatan terhadap frekwensi urinasi dan volume
urinasi setiap interval waktu 0, 15, 30,45, dan 60 menit.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Teori Umum

NUR ATIKA AHMAD


15020130271

IVA MUKRIMA, S.Farm

Diuretik 2014

Pembentukan urin dimulai dengan filtrasi sejumlah besar cairan


yang bebas protein dari kapiler glomerulus ke kapsula Bowman.
Kebanyakan zat dalam plasma, kecuali untuk protein, difiltrasi secara
bebas sehingga konsentrasinya pada filtraf glomerulus dalam kapsula
Bowman hampir sama dengan dalam plasma. Ketika cairan yang telah
difiltrasi ini meninggalkan kapsula Bowman dan mengalir melewati
tubulus, cairan diubah oleh reabsorpsi air dan zat terlarut spesifik yang
kembali ke dalam darah atau oleh sekresi zat-zat lain dari kapiler
peritubulus ke dalam tubulus. (Guyton, 2007).
Obat-obat yang menyebabkan suatu keadaan meniingkatnya
aliran urine disebut diuretik. Obat-obat ini merupakan penghambat
transpor ion yang menurunkan reabsorpsi Na + pada bagian-bagian netron
yang berbeda. Akibatnya, Na+ dan ion lain seperti Cl- memaski urine dalam
jumlah banyak dibandingkan bila keadaan normal bersama-sama air, yang
mengangkut secara pasif untuk memprtahankan keseimbangan osmotik
(Harvey, 2013).
Secara umum diuretik dapat dibagi menjadi dua golongan besar
yaitu : (1) diuretik osmotik; (2) penghambat mekanisme transport elektrolit
di dalam tubul ginjal (Gunawan, 2007).
Ketika filtrat mengalir melalui tubulus tersebut, kebanyakan air dan
berbagai zat yang terlarut di dalamnya diabsorbsi ke dalam kapiler
peritubulus dan sejumlah kecil solute lain disekresikan ke dalam tubulus.
Air solute tubulus yang tersisa menjadi urine.(Anonim, 2006).

NUR ATIKA AHMAD


15020130271

IVA MUKRIMA, S.Farm

Diuretik 2014

Ginjal merupakan organ utama yang melakukan proses ekskresi


dan osmonegulasi. Secara lengkap peranan atau fungsi ginjal adalah
sebagai berikut (Dwiyana, 2004) :
1.

Mengeksresikan zat buangan seperti urea, asam urat, kreatinin,


keratin dan zat lain yang bersifat racun.

2. Mengatur volume plasma dan jumlah air di dalam tubuh. Bila banyak
air yang masuk ke dalam tubuh, ginjal membuang kelebihan air
sehingga lebih banyak lagi urin yang diekskresikan. Bila tubuh
kehilangan banyak air, ginjal akan mengeluarkan sedikit air (urin
pekat).
3. Menjaga tekanan osmose pada keadaan seharusnya dengan cara
mengatur ekskresi garam-garam, membuang jumlah garam yang
berlebihan dan menahan garam bila jumlahnya dalam tubuh
berkurang.
4. Mengatur pH plasma dan cairan tubuh, ginjal dapat mengekskresikan
urin yang bersifat basa tetapi dapat pula mengekspresikan urin yang
bersifat asam.
5. Menjalankan fungsi sebagai hormon, ginjal menghasilkan dua macam
zat yang diduga mempunyai fungsi endokrin. Kedua zat tersebut
adalah renin dan eritropoetin.
Proses pembentukan urine. Ginjal memproduksi urine yang
mengandung zat sisa metabolik dan mengatur komposisi cairan tubuh

NUR ATIKA AHMAD


15020130271

IVA MUKRIMA, S.Farm

Diuretik 2014

memelalui tiga proses utama (Sloane, 2004). Proses pembentukan urine,


yaitu sebagai berikut (Sjafaraenan, 2005) :
1.

Penyaringan atau filtrasi zat-zat sisa metabolisme. Proses ini


dilakukan oleh Kapsula Bowman.

2.

Penyerapan kembali atau absorbsi zat-zat yang masih berguna


bagi tubuh. Proses ini berlangsung di sepanjang tubulus kontraktil
proksimal hingga Henle.

3.

Pengeluaran zat yang tidak diperlukan dan tidak dapat disimpan


dalam tubuh yang disebut augmentasi. Proses ini berlangsung
disepanjang tubulus kontrotus distal hingga kaliktifus.

Penggolongan Obat dari diuretic adalah :


Penghambat Karbonik Anhidrase obatnya yaitu Asetazolamid ,
menurunkan reabsorbsi bikarbonat pada tubulus proksimal malalui inhibisi
katalisis hidrasi CO2 dan reaksi dehidrasi . Oleh Karen aitu , ekskresi
HCO3-, Na+ dan H2O meningkat. Kehilangan HCO3- menyababkan asidois
metabolic dan efek obat menjadi self-limitingpada saat bikarbonat darah
turun Na+

yang dialirkan ke nefron distal meningkat sekresi K + (Neal,

2006).
Loop Diuretik oabatnya yaitu Bumatanid,furosemid,torsemid dan
ethacrynic acid merupakan empat diuretik yang efek utamanya pada
asendens ansa henle. Loop diuretik menghambat kontraspor Na +/K+/Cldari membrane lumen pada pars asendens ansa henle. Karena itu,
resorbsi Na+/K+/Cl- menurun. Loopdiuretik merupakan obat diuretic yang

NUR ATIKA AHMAD


15020130271

IVA MUKRIMA, S.Farm

Diuretik 2014

paling efktif , karena pars asenden benranggung jawab untuk absorbs 2530% NaCl yang disaring dan bagian distalnya tidak mampu untuk
mengkompensasi keniakan muatan Na+ (Harvey, 2013).
Diruretik Tiazid contoh obatnya yaitu Klorotiazid. Tiazid merupakan
obat diuretic yang paling luas digunakan. Derivat Tiazid bekerja terutama
pada

tubulus

distal

untuk

menurunkan

reabsorbsi

Na +

dengan

menghambat kontraspoter Na+/Cl- pada membrane lumen . Obat-obat ini


memiliki sedikit efek pada tubulus proksimal. Akibatnya oabt-obat ini
meningkatkn konsentrasi Na+dan Cl- pada ciran tubulus. Keseimbangan
asam basa biasanya tidak dipengaruhi katena tempat kerja derivate tiazid
ialah membran lumen (Harvey, 2013).
Diuretik Hemat Kalium contoh obatnya yaitu Spironolakton,
eplerenone, amiloride dan Triamteren. Diuretik ini bekerja pada segmen
yang

berperan

terhadap

aldosteron

pada

nefron

distal,

dimana

homeostatis K+ dikendalikan. Aldosteon menstimulasi reabsorbsi Na +,


membangkitkan poten sial negative kedalam lumen , yang mengarahkan
ion K+ dan H+ ke dalam lumen (dan kemudian ekskresinya). Diuretik hemat
kalium

menurunkan

reabsorbsi

Natrium

dengan

mengantagonis

(Spironolakton) atau memblok kanal Na + (Amilorid dan triamteren). Hal ini


meyebabkan potensial aksi listrik epitel tubulus menurun, sehingga gaya
untuk sekresi K+ berurang (Neal ,2006).
Diuretik osmotik , sejumlah zat kimia yang sederhana dan hidrofilik
disaring glomerulus , seperti matinol dan urea menyebabkan berbagai

NUR ATIKA AHMAD


15020130271

IVA MUKRIMA, S.Farm

Diuretik 2014

derajat dieresis. Hal ini terjai karena kemampuan zat-zat ini untuk
mengangkut air

bersama kedalam cairan tubulus . Bila zat-zat yang

tersaring berikutnya mengalami sedikit atau tidak direabsorbsi sama sekali


kemudian zat yang disaring akan menyebabkan peningkatan keluaran
urine. Hanya dalam jumlah kecil dari garam-garam yang ditambahkan
dapat juga diekskresikan karena diuretik osmotic digunakan untuk
meningkatkan ekskresi air dari pada ekskresi Na +maka obat-obat ini tidak
berguna untuk mengobati terjadinya retensi Na + . Obat-obat ini digunakan
untuk memelihara aliran urine dalam keadaan toksisk akut setelah
manelan zat-zat beracun yang berpotensi menimbulkan kegagalan ginjal
akut (Harvey, 2013).
Unit fungsional ginjal disebut nefron terdiri dari kelompok kapiler
yang disebut glomerulus dan suatu pipa sempit yang panjang yang
disebut tubulus renalis, yang muncul dari suatu bentuk balon lampu, yakni
kapsula Bowman. Tubulus renalis terdiri dari (Sjafaraenan,2005) :
1. tubulus proksimal
2. tubulus distal yang mengikal
Diuretik

ialah

obat

yang

dapat

menambah

kecepatan

pembentukan urin. Istilah diuresis mempunyai dua pengertian, pertama


menunjukkan adanya penambahan volume urin yang diproduksi dan yang
kedua menunjukkan jumlah pengeluaran (kehilangan) zat-zat terlarut dan
air. Fungsi utama diuretik adalah untuk memobilisasi cairan udem, yang
berarti mengubah keseimbangan cairan udem, yang berarti mengubah

NUR ATIKA AHMAD


15020130271

IVA MUKRIMA, S.Farm

Diuretik 2014

keseimbangan cairan sedemikian rupa sehingga volume cairan ekstrasel


kembali menjadi normal (Gunawan, 2007).
Pengaruh diuretik terhadap ekskresi zat terlarut penting artinya
untuk menentukan tempat kerja diuretik dan sekaligus untuk meramalkan
akibat penggunaan suatu diuretik (Gunawan, 2007).
B. Uraian Obat
1. FurosemidTablet (Winotopradjoko, 2006)
Nama paten

FurosemidaTablet

Indikasi

Edema, liver asites, hipertensi ringan dan


sedang.

Kontraindikasi

Gagal

jantung

akut,

hepatik koma,

hipokalemia
Efek samping

Gangguan

gastrointestinal,

nepra-

kalsinosis pada bayi dan prematur


Dosis

Dosis awal: 2xsehari 40 mg,

pemeli-

haraan: 1xsehari, anak: 2 mg/KgBB

Cara Kerja

: Diuretik kuat bekerja dengan cara menghambat


reabsorpsi elektrolit diansa henle asendens
bagian

epitel

tebal,

tempat

kerjanya

dipermukaan sel epitel bagian luminal (yang

NUR ATIKA AHMAD


15020130271

menghadap

ke

mempunyai

daya

lumen

tubuli).

hambat

enzim

Furosemid
karbonik

IVA MUKRIMA, S.Farm

Diuretik 2014

anhidrase
Farmakokinetik

karena

mempunyai

derivate

sulfonamide (Gunawan, 2007).


: Obat ini mudah diserap melalui saluran cerna,
dengan derajat yang agak berbeda-beda.
Bioavailabilitas furosemid 65 %. Diuretik kuat
terikat pada protein plasma secara ekstensif,
sehingga tidak difiltrasi di glomerulus tetapi
secap sekali disekresi melalui system transport
asam organic ditubuli proksimal (Gunawan,

Interaksi Obat

2007).
: Meningkatkan kerja hipotensi (ISFI, 2007)

2. Na.CMC (Ditjen POM 1979)


Nama resmi

: NATRII CARBOXYMETHYL CELLULOSUM

Nama lain

: Natrium karboksimetil sellulosa

BM

: 90.000 -700.000

Pemerian

: serbuk atau butiran, putih atau kuning gading,


tidak

berbau

atau

hamper

tidak

berbau

Kelarutan

hidrofilik.
: mudah mendispersi dalam air, tidak larut dalam

Penyimpanan

etanol 95% P dan pelarut organic lain.


: dalam wadah tertutup rapat

Kegunaan

: sebagai obat control dan pensuspensi obat


Na.CMC
C. Uraian Hewan Coba

1. Kelinci (Oryctolagus) (http://www.itis.gov/)


a. Klasifikasi Hewan Coba
Kingdom
: Animalia
Filum
: Chordata
Subfilum
: Vertebrata
NUR ATIKA AHMAD
15020130271

IVA MUKRIMA, S.Farm

Diuretik 2014

Kelas
Ordo
Famili
Genus
Spesies

:
:
:
:
:

Mammalia
Lagomorpha
Laporidae
Oryctolagus
Oryctolagus

BAB III
METODE KERJA
A. Alat
Alat yang Digunakan adalah Gelas kimia, Gelas piala, Labu ukur,
Kateter, Kandang metabolisme, dan Mouth Block.
B. Bahan
Adapun bahan yang digunakan adalah Air, furosemid, dan NaCMC.
C. Hewan coba
Adapun hewan coba yang digunakan dalam praktikum ini adalah
kelinci (Oryctologus cuniculus).
D. Cara Kerja
1. Persiapan Hewan coba
a. Dipilih kelinci yang sehat
b. Dipusakan hewan coba hendaknya 8 jam sebelum percobaan
c. Ditimbang masing- masing hewan coba yang akan digunakan
d. Diberikan tanda pada bagian tertentu dari hewan coba untuk
menyatakan berat hewan coba.
NUR ATIKA AHMAD
15020130271

IVA MUKRIMA, S.Farm

Diuretik 2014

2. Pembuatan bahan obat


a. Pembuatan Na-CMC 1 %
1) Ditimbang 1 gram Na-CMC
2) Dilarutkan dalam air suling sebanyak 100 ml dipanaskan hingga
suhu kurang lebih 70C.
3) Dimasukkan Na-CMC sedikit demi sedikit kedalam air suling
yang telah dipanaskan sambil diaduk
4) Dimasukkan Larutan Na-CMC ke dalam wadah dan disimpan
dalam lemari es.
b. Pembuatan furosemid
1) Disiapkan alat dan bahan yang akan digunakan.
2) Ditimbang 17,34 mg furosemid
3) Dilarutkan dengan Na-CMC 1 % sampai 20 ml diaduk sampai
homogen dengan batang pengaduk
4) Dimasukkan dalam labu ukur, diberi etiket dan disimpan dalam
lemari pendingin
3. Perlakuan hewan
1) Dihitung volume pemberian Furosemid
2) Dimasukkan mouth block dalam mulut kelinci
3) Dimasukkan kateter dalam mouth block kemudian ujung kateter
dicelupkan ke gelas piala yang berisi air.
4) Diberikan furosemid setelah tidak ada gelembung dalam gelas
piala
5) Diamati banyaknya volume urine pada kelinci dan frekwensi
berkemih setelah diberikan furosemid pada menit ke 15, 30, 45,
dan 60.
BAB IV

NUR ATIKA AHMAD


15020130271

IVA MUKRIMA, S.Farm

Diuretik 2014

HASIL PENGAMATAN
WAKTU
OBAT

BERAT
BADAN

Furosemid

Vp

1,5 kg

15

30

45

60

Keterangan :
(+) : Berkemih
(-) : Tidak berkemih

BAB V
PEMBAHASAN
Diuretik ialah obat - obat yang menyebabkan suatu keadaan
meningkatnya

aliran urin. Istilah diuresis mempunyai dua pengertian,

pertama menunjukkan adanya suatu penambahan volume urin yang


NUR ATIKA AHMAD
15020130271

IVA MUKRIMA, S.Farm

Diuretik 2014

diproduksi dan yang kedua menunjukkan jumlah pengeluaran (kehilangan)


zat-zat terlarut dan air.
Tujuan percobaan kali ini adalah untuk menentukan efek farmakologi
pemberian obat diuretik, yaitu furosemid pada hewan coba

kelinci

(Oryctolagus cuniculus) melalui pengamatan volume serta frekuensi


keluarnya urin.
Obat diuretik yang digunakan yaitu furosemid yakni golongan loop
diuretik. Mekanisme kerja furosemide yaitu menghambat kotranspor Na+ /
K+/2Cl dalam membran lumen ansa henle pars asendens. Oleh sebab itu
reabsorbsi ion-ion ini menurun.
Percobaan ini menggunakan hewan coba yaitu kelinci (Oryctolagus
cuniculus), alasan digunakannya kelinci sebagai

hewan coba karena

yang akan diamati adalah volume urin, yang mana akan mempermudah
dalam pengamatan nantinya, karena kelinci mengeluarkan volume urin
yang lebih banyak daripada mencit (Mus musculus) yang mana sangat
susah diamati volume urinnya karena jauh lebih sedikit. Volume urin yang
banyak dikeluarkan oleh kelinci akan mudah untuk diukur dan dilihat jelas
berapa banyaknya urin yang keluar.
Sebelum dilakukan percobaan kelinci dipuasakan terlebih dahulu, hal
ini dilakukan agar efek yang ditimbulkan akibat pemberian obat secara per
oral lebih cepat nampak, dimana obat yang diberikan akan langsung
masuk ke peredaran yang akan dipengaruhi oleh isi lambung, selain itu
untuk mengurangi variasi yang timbul nantinya.

NUR ATIKA AHMAD


15020130271

IVA MUKRIMA, S.Farm

Diuretik 2014

Pada percobaan kali ini diperoleh hasil pengamatan bahwa pada


hewan coba kelinci yang telah diberi obat furosemid di menit ke 0, 15, 30,
45, ataupun 60 hewan coba kelinci

tidak mengalami urinasi. Ini

disebabkan karena urin keluar berlebih sebelum diberikannya furosemid


sehingga urinasi tidak terjadi lagi setelah pemberian obat furosemid
meskipun hewan coba telah diberi minum.
Adapun faktor faktor kesalahan yang terdapat pada percobaan
sehingga mengurangi efektifitas dari kerja obat dalam pengamatan antara
lain :
a.

Kurang teliti dalam pemberian obat kepada kelinci, sehingga bisa saja
obat yang diberikan berlebih ataupun sebaliknya berkurang.

b.

Obat obat yang diberikan kurang steril.

BAB VI
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dari hasil praktikum dapat disimpulkan bahwa obat furosemid
memberikan efek farmakologi berupa peningkatan urinasi pada hewan

NUR ATIKA AHMAD


15020130271

IVA MUKRIMA, S.Farm

Diuretik 2014

coba Kelinci, tetapi pada percobaan kali ini kelinci tidak berkemih
sedikitpun. Hal ini disebabkan karena adanya faktor kesalahan.
B. Saran
Sebaiknya

dalam melakukan percobaan lebih teliti lagi baik itu

dalam pembuatan bahan, proses kerja, dan lainnya.

DAFTAR PUSTAKA
Anonim, 2006. Penuntun Praktikum Anatomi Fisiologi Manusia.
Penerbit UMI. Makassar.
Gunawan, S, 2007. Farmakologi
farmakologi. FK UI. Jakarta.

dan

terapi

Edisi

V.

Bagian

Guyton, H., 2007. Fisiologi Kedokteran. EGC. Jakarta


Dwiyana, Z, 2004. Diktat Kuliah Biologi Dasar . Universitas Hasanuddin.
Makassar
NUR ATIKA AHMAD
15020130271

IVA MUKRIMA, S.Farm

Diuretik 2014

Harvey, R. A., dkk, 2013. Farmakologi Ulasan Bergambar edisi 2. Widya


Medika. Jakarta.
Sjafaraenan dan Eddyman,W.F., 2005. Anatomi Fisiologi Manusia.
Fakultas MIPA. Makassar.
Sloane, Ethel. 2004. Anatomi dan Fisiologi untuk pemula.Jakarta: Penerbit
Buku Kedokteran EGC.
Tjay, Tan Hoan & Kirana Rahardja. 2007. Obat-Obat Penting, Edisi V. PT.
Elex Media Komputindo. Jakarta
Winotopradjoko, Martono. 2006. Informasi Spesialite Obat Indonesia,
volume 41. PT. Anem Kosong Anem (AKA). Jakarta
http://www.itis.gov/

BROSUR OBAT
Furosemide

NUR ATIKA AHMAD


15020130271

IVA MUKRIMA, S.Farm

Diuretik 2014

Komposisi:
Tiap tablet mengandung 40 mg furosemida
Cara Kerja Obat:
Furosemida adalah diuretik derivat asam antranilat. Aktivitas diuretik
furosemida terutama dengan jalan menghambat absorpsi natrium dan
klorida, tidak hanya pada tubulus proksimal dan tubulus distal, tapi juga
pada loop of Henle.
Tempat kerja yang spesifik ini menghasilkan efektivitas kerja yang tinggi.
Efektivitas kerja furosemida ditingkatkan dengan efek vasodilatasi dan
penurunan hambatan vaskuler sehingga akan meningkatkan aliran darah
ke ginjal. Furosemida juga menunjukkan aktivitas menurunkan tekanan
darah sebagai akibat penurunan volume plasma.
Indikasi:
- Pengobatan edema yang menyertai payah jantung kongestif, sirosis hati
dan gangguan ginjal termasuk sindrom nefrotik.
- Pengobatan hipertensi, baik diberikan tunggal atau kombinasi dengan obat
antihipertensi.
- Furosemida sangat berguna untuk keadaan-keadaan yang membutuhkan
diuretik kuat.
- Pendukung diuresis yang dipaksakan pada keracunan.
Kontraindikasi :
- Anuria
- Hipersensitif terhadap furosemid
- Terapi bersamaan dengan sefaloridin
- Sirosis hati
Dosis:
- Dewasa : Sehari 1 - 2 kali, 1 - 2 tablet
Dosis pemeliharaan, sehari 1 tablet
Dosis maksimum, sehari 5 tablet
Bila hasilnya belum memuaskan, dosis dapat ditingkatkan 20 mg (1
ampul) tiap interval waktu 2 jam sampai diperoleh hasil yang memuaskan.
- Anak-anak : Sehari 1 - 3 mg/kg BB
Peringatan dan Perhatian :
- Deplesi elektrolit: dapat terjadi, terutama dalam dosis tinggi dan diet
rendah garam; penderita perlu dipantau akan kemungkinan terjadinya
hiponatremia, asidosis hipokloremik, dan hipokalemia.
- Hipokalemia: dapat terjadi, terutama pada diuresis yang cepat.
- Hiperurikemia atau gout: dapat terjadi.

NUR ATIKA AHMAD


15020130271

IVA MUKRIMA, S.Farm

Diuretik 2014

- Dehidrasi: dapat terjadi bersamaan dengan berkurangnya volume darah,


kolaps sirkulasi, dan kemungkinan trombosis vaskular, terutama pada
penderita lanjut usia.
-

Efek Samping :
Susunan saraf pusat: pusing, vertigo, parastesis, sakit kepala, gangguan
penglihatan, tinnitus, tuli, spasme otot, kelemahan, gelisah
Kardiovaskular: hipotensi ortostatik
Hematologi:
anemia,
leukopenia,
agranulositosis
(jarang),
trombositopenia, anemia aplastik (jarang)
Saluran pencernaan: anoreksia, mual, muntah, kejang, diare, konstipasi,
pankreatitis
Hipersensitivitas: purpura, ruam kulit, urtikaria, pruritus

LAMPIRAN
Perhitungan

OBAT YANG DIGUNAKAN


1. Furosemide
PERHITUNGAN
Furosemid 40 mg
NUR ATIKA AHMAD
15020130271

IVA MUKRIMA, S.Farm

Diuretik 2014

BE 40 mg
BR 148,6 mg
Larutan stok 20 ml
Untuk kelinci 1,5 gram

= 40 mg x 0,07
= 2,8 mg

Untuk kelinci 2,5 gram

= 4,666 mg
Larutan stok 20 ml

4,666 mg

= 4,666 mg/ 20ml


BYD

NUR ATIKA AHMAD


15020130271

148,6 mg = 17,334 mg/ 20 ml

IVA MUKRIMA, S.Farm