Anda di halaman 1dari 57

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Trauma medulla spinalis adalah suatu kerusakan fungsi neurologis yang disebabkan seringkali oleh
kecelakaan lalu lintas. Apabila Trauma itu mengenai daerah L1-L2 dan/atau di bawahnya maka dapat
mengakibatkan hilangnya fungsi motorik dan sensorik serta kehilangan fungsi defekasi dan berkemih.
Cedera medula spinalis adalah cedera yang mengenai servikalis vertebralis dan lumbalis akibat dari suatu
trauma yang mengenai tulang belakang. Cedera medula spinalis adalah masalah kesehatan mayor yang
mempengaruhi 150.000 sampai 500.000 orang hampir di setiap negara, dengan perkiraan 10.000 cedera baru
yang terjadi setiap tahunnya. Kejadian ini lebih dominan pada pria usia muda sekitar 75% dari seluruh cedera.
Setengah dari kasus ini akibat dari kecelakaan kendaraan bermotor, selain itu banyak akibat jatuh, olahraga dan
kejadian industri dan luka tembak.
Vertebra yang paling sering mengalami cedera adalah medula spinalis pada daerah servikal ke-5, 6, dan 7,
torakal ke-12 dan lumbal pertama. Vertebra ini adalah paling rentan karena ada rentang mobilitas yang lebih besar
dalam kolumna vertebral pada area ini. Pada usia 45-an fraktur banyak terjadi pada pria di bandingkan pada wanita
karena olahraga, pekerjaan, dan kecelakaan bermotor. Tetapi belakangan ini wanita lebih banyak dibandingkan
pria karena faktor osteoporosis yang di asosiasikan dengan perubahan hormonal (menopause). Klien yang
mengalami trauma medulla spinalis khususnya bone loss pada L2-L3 membutuhkan perhatian lebih diantaranya
dalam pemenuhan kebutuhan hidup dan dalam pemenuhan kebutuhan untuk mobilisasi. Selain itu klien juga
beresiko mengalami komplikasi trauma spinal seperti syok spinal, trombosis vena profunda, gagal napas,
pneumonia dan hiperfleksia autonomic. Maka dari itu sebagai perawat merasa perlu untuk dapat membantu dalam
memberikan asuhan keperawatan pada klien dengan trauma medulla spinalis dengan cara promotif, preventif,
kuratif, dan rehabilitatif sehingga masalahnya dapat teratasi dan klien dapat terhindar dari masalah yang paling
buruk.
Kecelakaan medula spinalis terbesar disebabkan oleh kecelakaan lalu lintas, tempat yang paling sering
terkena cidera adalah regio servikalis dan persambungan thorak dan regio lumbal. Lesi trauma yang berat dari
medula spinalis dapat menimbulkan transaksi dari medula spinalis atau merobek medula spinalis dari satu tepi ke
tepi yang lain pada tingkat tertentu disertai hilangnya fungsi. Pada tingkat awal semua cidera akibat medula spinalis
/ tulang belakang terjadi periode fleksi paralise dan hilang semua reflek. Fungsi sensori dan autonom juga hilang,
medula spinalis juga bisa menyebabkan gangguan sistem perkemihan, disrefleksi otonom atau hiperefleksi serta
fungsi seksual juga dapat terganggu.
Perawatan awal setelah terjadi cidera kepala medula spinalis ditujukan pada pengembalian kedudukan
tulang dari tempat yang patah atau dislokasi. Langkah-langkahnya terdiri dari immobilisasi sederhana, traksi
skeletal, tindakan bedah untuk membebaskan kompresi spina. Sangat penting untuk mempertahankan tubuh
dengan tubuh dipertahankan lurus dan kepala rata. Kantong pasir mungkin diperlukan untuk mempertahankan
kedudukan tubuh.
Dalam kasus pra rumah sakit, penanganan pasien dilakukan setelah pengkajian lokasi kejadian dilakukan.
Apabila pengkajian awal lokasi kejadian tidak dilakukan maka akan membahayakan jiwa paramedik dan orang lain
di sekitarnya sehingga jumlah korban akan meningkat. Dalam kasus ini, kematian muncul akibat tiga hal: mati
sesaat setelah kejadian, kematian akibat perdarahan atau kerusakan organ vital, dan kematian akibat komplikasi
dan kegagalan fungsi organ-organ vital

Trauma Medula Spinalis| 1

Kematian mungkin terjadi dalam hitungan detik pada saat kejadian, biasanya akibat cedera kepala hebat,
cedera jantung atau cedera aortik. Kematian akibat hal ini tidak dapat dicegah. Kematian berikutnya mungkin
muncul sekitar sejam atau dua jam sesudah trauma. Kematian pada fase ini biasanya diakibatkan oleh hematoma
subdural atau epidural, hemo atau pneumothorak, robeknya organ-organ tubuh atau kehilangan darah. Kematian
akibat cedera-cedera tersebut dapat dicegah. Periode ini disebut sebagai golden hour dimana tindakan yang
segera dan tepat dapat menyelamatkan nyawa korban.

Yang ketiga dapat terjadi beberapa hari setelah kejadian dan biasanya diaklibatkan oleh sepsis atau
kegagalan multi-organ. Tindakan tepat dan segera untuk mengatasi syok dan hipoksemia selama golden hour
dapat mengurangi resiko kematian ini.
Dalam menangani kasus ini, meskipun dituntut untuk bekerja secara cepat dan tepat, paramedik harus
tetap mengutamakan keselamatan dirinya sebagai prioritas utama sebelum menyentuh pasien. Pasien ditangani
setelah lokasi kejadian sudah benar-benar aman untuk tindakan pertolongan.
Berdasarkan uraian diatas di harapkan dengan adanya makalah yang berjudul Trauma medulla spinalis
dapat bermanfaat bagi para pembaca untuk dapat meningkatkan mutu asuhan keperawatan.

1.2 Rumusan Masalah


Dari latar belakang di atas dapat dirumuskan masalah sebagai berikut :
1.2.1

Apa Pengertian Cedera Medula Spinalis ?

1.2.2

Bagaimana Anatomi Fisiologi Struktur Medula Spinalis ?

1.2.3

Apa Penyebab atau Etiologi terjadinya Cedera Medula Spinalis ?

1.2.4

Bagaimana Patofisiologi dan Manifestasi Klinis Cedera Medula Spinalis ?

1.2.5

Bagaiman mekanisme cedera Medula Spinalis ?

1.2.6

Bagaimana Komplikasi yang akan terjadi pada Cedera Medula Spinalis?

1.2.7

Bagaimana Pemeriksaan Diagnostik dan Pemeriksaan Penunjang yang dapat dilakukan pada kasus
Cedera Medula Spinalis ?

1.2.8

Bagaimana Penatalaksanaan dan Pengobatan yang dapat dilakukan pada kasus Cedera Medula
Spinalis ?

1.2.9

Bagaimana Pelaksanaan Asuhan Keperawatan yang dilakukan pada kasus Cedera Medula Spinalis
?

1.2.10 Bagaimana Sistem Layanan Kesehatan pada Pasien dengan Gangguan Sistem Persarafan ?

1.3 Tujuan Penulisan


Adapun tujuan penulisan makalah ini adalah :

1.3.1

Tujuan Umum
Membantu mahasiswa memahami tentang konsep dasar manajemen keperawatan berkaitan dengan

adanya gangguan pada tubuh manusia yang diakibatkan oleh cedera medula spinalis serta mengetahui
bagaimana konsep penyakit atau cedera medula spinalis dan bagaimana Asuhan Keperawatannya..

Trauma Medula Spinalis| 2

1.3.2

Tujuan Khusus

1.3.2.1

Mengetahui Pengertian Cedera Medula Spinalis.

1.3.2.2

Mengetahui Anatomi Fisiologi Struktur Medula Spinalis

1.3.2.3

Mengetahui Penyebab atau Etiologi adanya Cedera Medula Spinalis.

1.3.2.4

Mengetahui Patofisiologi dan Manifestasi Klinis Cedera Medula Spinalis.

1.3.2.5

Memahami mekanisme terjadinya Cedera Medula Spinalis.

1.3.2.6

Memahami Komplikasi yang akan terjadi pada kasus Cedera Medula Spinalis..

1.3.2.7

Mengetahui Pemeriksaan Diagnostik yang dapat dilakukan pada kasus Cedera Medula
Spinalis.

1.3.2.8

Memahami Penatalaksanaan dan Pengobatan yang dapat dilakukan pada kasus Cedera
Medula Spinalis.

1.3.2.9

Mengetahui Pelaksanaan Asuhan Keperawatan yang dilakukan pada kasus Cedera Medula
Spinalis.

1.3.2.10 Mengetahui Sistem Layanan Kesehatan pada Pasien dengan Gangguan Sistem Persarafan.

1.4 Manfaat Penulisan


Adapun manfaat dari penulisan makalah ini adalah diharapkan mahasiswa dapat mengetahui dan memahami
mekanisme dasar terjadinya kasus Cedera Medula Spinalis yang diakibatkan karena adanya gangguan pada
sistem susunan saraf terutama pada struktur medula spinalis yang dapat terjadi akibat berbagai sebab, sehingga
dengan begitu mahasiswa dapat dengan mudah untuk melakukan asuhan dan tindakan serta penanganan
keperawatan yang tepat terkait cedera medula spinalis tersebut

1.5 Metode Penulisan


Dalam pembuatan makalah ini penulis menggunakan metode perpustakaan (liberary research) yakni
pengutipan dan pengumpulan data-data pada buku dan internet yang berkaitan dengan pembahasan pada cedera
medula spinalis. yang dapat ditimbulkan akibat gangguan pada susunan saraf pusat.

Trauma Medula Spinalis| 3

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Trauma/Cedera Medula Spinalis

Medula spinalis terdiri atas 31 segmen jaringan saraf dan masing-masing memiliki sepasang saraf spinal
yang keluar dari kanalis vertebralis melalui foramen inverterbra. Terdapat 8 pasang saraf servikalis, 12 pasang
torakalis, 5 pasang lumbalis, 5 pasang sakralis, dan 1 pasang saraf kogsigis.
Trauma spinal atau cedera pada tulang belakang adalah cedera yang mengenai servikalis, vertebralis dan
lumbalis akibat dari suatu trauma yang mengenai tulang belakang, seperti jatuh dari ketinggian, kecelakaan lalu
lintas, kecelakaan olahraga, dan sebagainya. Trauma pada tulang belakang dapat mengenai jaringan lunak pada
tulang belakang yaitu ligamen dan diskus, tulang belakang sendiri dan susmsum tulang belakang atau spinal kord.
.Apabila Trauma itu mengenai daerah servikal pada lengan, badan dan tungkai mata penderita itu tidak tertolong.
Dan apabila saraf frenitus itu terserang maka dibutuhkan pernafasan buatan, sebelum alat pernafasan mekanik
dapat digunakan. (Muttaqin, 2008).
Merupakan keadaan patologi akut pada medula spinalis yang diakibatkan terputusnya komunikasi sensori
dan motorik dengan susunan saraf pusat dan saraf perifer. Tingkat kerusakan pada medula spinalis tergantung dari
keadaan komplet atau inkomplet.

Trauma Medula Spinalis dapat bervariasi dari trauma ekstensi fiksasi ringan yang terjadi akibat benturan
secara mendadak sampai yang menyebebkan transeksi lengkap dari medula spinalis dengan quadriplegia
(Fransisca B.Batticaca,2008 : 30).
Trauma medula spinalis adalah suatu kerusakan fungsi neurologis yang disebabkan oleh benturan pada
daerah medulla spinalis (Brunner & Suddarth, 2001). Trauma medulla spinalis adalah kerusakan tulang dan
sumsum yang mengakibatkan gangguan sistem persyarafan didalam tubuh manusia yang diklasifikasikan sebagai :

a.

Komplet (kehilangan sensasi dan fungsi motorik total)

b.

Tidak komplet (campuran kehilagan sensori dan fungsi motorik)

Trauma Medulla Spinalis adalah Trauma yang terjadi pada jaringan medulla spinalis yang dapat
menyebabkan fraktur atau pergeseran satu atau lebih tulang vertebrata atau kerusakan jaringan medulla spinalis

Trauma Medula Spinalis| 4

lainnya termasuk akar-akar saraf yang berada sepanjang medulla spinalis sehingga mengakibatkan defisit
neurologi.
Trauma medulla spinalis dapat terjadi bersamaan dengan trauma pada tulang belakang yaitu terjadinya
fraktur pada tulang belakang, ligamentum longitudainalis posterior dan duramater bisa robek, bahkan dapat
menusuk ke kanalis vertebralis serta arteri dan vena-vena yang mengalirkan darah kemedula spinalis dapat ikut
terputus .
Cedera medula spinalis (CMS) merupakan salah satu penyebab gangguan fungsi saraf yang sering
menimbulkan kecacatan permanen pada usia muda. Kelainan yang lebih banyak dijumpai pada usia produktif ini
seringkali mengakibatkan penderita harus terus berbaring di tempat tidur atau duduk di kursi roda karena
tetraplegia atau paraplegia.
Trauma tulang belakang adalah cedera pada tulang belakang (biasanya mengenai servikal dan lumbal)
yang ditandai dengan memar, robeknya bagaian pada tulang belakang akibat luka tusuk atau fraktur/ dislokasi di
kolumna spinalis. (ENA, 2000 ; 426)

Trauma spinal cord adalah cedera yang mengakibatkan fungsi konduksi saraf terganggu, reflex dan fungsi
motorik berkurang, terjadi perubahan sensasi, dan syok neurogenik. (Campbell, 2004 ; 130)
Trauma Medulla Spinalis adalah Trauma yang terjadi pada jaringan medulla spinalis yang dapat
menyebabkan fraktur atau pergeseran satu atau lebih tulang vertebrata atau kerusakan jaringan medulla spinalis
lainnya termasuk akar-akar saraf yang berada sepanjang medulla spinalis sehingga mengakibatkan defisit
neurologi. ( Lynda Juall,carpenito,edisi 10 ).
Chairuddin Rasjad (1998) menegaskan bahwa semua trauma tulang belakang harus dianggap suatu
trauma hebat sehingga sejak awal pertolongan pertama dan transportasi ke rumah sakit, penderita harus
diperlakukan secara hati-hati. Trauma tulang belakang dapat mengenai jaringan lunak pada tulang belakang yaitu
ligamen dan diskus, tulang belakang dan sumsum tulang belakang (medula Spinalis)
Cedera Medula spinalis adalah cedera yang biasanya berupa fraktur atau cedera lain pada tulang vertebra,
korda spinalis itu sendiri, yang terletak didalam kolumna vertebralis, dapat terpotong, tertarik, terpilin atau tertekan.
Kerusakan pada kolumna vertaebralis atau korda dapat terjadi disetiap tingkatan,kerusakan korda spinalis dapat
mengenai seluruh korda atau hanya separuhnya.
Beberapa yang berhubungan dengan trauma medula spinalis seperti :
a.

Quadriplegia adalah keadaan paralisis/kelumpuhan pada ekstermitas dan terjadi akibat trauma pada
segmen thorakal 1 (T1) keatas. Kerusakan pada level akan merusak sistem syaraf otonom khsusnya
syaraf simpatis misalnya adanya gangguan pernapasan.

b.

Komplit Quadriplegia adalah gambaran dari hilangnya fungsi modula karena kerusakan diatas segmen
serfikal 6 (C6).

c.

Inkomplit Quadriplegia adalah hilangnya fungsi neurologi karena kerusakan dibawah segmen serfikan
6 (C6).

d.

Refpiratorik Quadriplegia (pentaplagia) adalah kerusakan yang terjadi pada serfikal pada bagian atas
(C1-C4) sehingga terjadi gangguan pernapasan.

e.

Paraplegia adalah paralisis ekstermitas bagian bawah, terjadi akibat kerusakan pada segmen parakal
2 (T2) kebawah.

2.2 Anatomi Fisiologi Sistem Persarafan (Medulla Spinalis)


TABEL. 1 Secara garis besar susunan sistem saraf manusia dijelaskan pada diagram berikut.

Trauma Medula Spinalis| 5

Otak besar
Otak tengah
Otak
Sistem saraf pusat

Otak depan
Jembatan Varol

Sistem saraf

Otak kecil

Sadar

Sumsum lanjutan
Sumsum

Sistem saraf

Sumsum tulang belakang


31 pasang saraf sumsum tulang
Sistem saraf tepi

belakang (saraf spinal)

(kraniospinal)
12 pasang saraf otak (saraf kranial)
Sistem saraf

Sistem saraf simpatetik

tidak sadar
(otonom)

Sistem saraf parasimpatetik

1. Medula Spinalis

Medulla spinalis (spinal cord) merupakan bagian susunan saraf pusat yang terletak di dalam kanalis
vertebralis dan menjulur dari foramen magnum ke bagian atas region lumbalis. Trauma pada medulla spinalis dapat
bervariasi dari trauma ekstensi fiksasi ringan yang terjadi akibat benturan secara mendadak sampai yang
menyebabkan transeksi lengkap dari medula spinalis dengan quadriplegia.
Medulla Spinalis terdiri dari 31 segmen jaringan saraf dan masing-masing memiliki sepasang saraf
spinal yang keluar dari kanalis vertebralis melalui voramina intervertebralis (lubang pada tulang vertebra). Sarafsaraf spinal diberi nama sesuai dengan foramina intervertebralis tempat keluarnya saraf- saraf tersebut, kecuali
saraf servikal pertama yang keluar diantara tulang oksipital dan vertebra servikal pertama. Dengan demikian,
terdapat 8 pasang saraf servikal, 12 pasang torakalis, 5 pasang saraf lumbalis, 5 pasang saraf skralis, dan 1
pasang saraf koksigeal.

Trauma Medula Spinalis| 6

Saraf spinal melekat pada permukaan lateral medulla spinalis dengan perantaran dua radiks, radik
posteriol atau dorsal

(sensorik) dan radik anterior atau ventral (motorik). Radiks dorsal memperlihatkan

pembesaran, yaitu ganglion radiks dorsal yang terdiri dari badan-badan sel neuron aferen atau neuron sensorik.
Badan sel seluruh neuron aferen medulla spinalis terdapat dapat ganglia tersebut. Serabut-serabut radiks dorsal
merupakan tonjolan tonjolan neuron sensorik yang membawa impuls dari bagian perifer ke medulla spinalis.
Badan sel neuron motorik terdapat di dalam medulla spinalis dalam kolumna anterior dan lateral substansia grisea.
Aksonnya membentuk serabut-serabut radiks ventral yang berjalan menuju ke otot dan kelenjar. Kedua radiks
keluar dari foramen intervertebralis dan bersatu membentuk saraf spinal. Semua saraf spinal merupakan saraf
campuran, yaitu mengandung serabut sensorik maupun serabut motorik.

Bagian dorsal saraf spinal mempersarafi otot intrinsic punggung dan segmen-segmen tertentu dari kulit
yang melapisinya yang disebut dermatoma. Bagian ventral merupakan bagian yang besar dan dan membentuk
bagian utama yang membentuk spinal. Otot-otot dan kulit leher, dada, abdomen, dan ekstremitas dipersarafi oleh
bagian ventral. Pada semua saraf spinal kecuali bagian torakal, saraf-saraf spinal bagian ini saling terjalin sehingga
membentuk jalinan saraf yang disebut Fleksus. Fleksus yang terbentuk adalah fleksus servikalis, brakialis,
lumbalis, sakralis dan koksigealis. Keempat saraf servikal yang pertama (C1-C4) membentuk fleksus
servikalis yang mempersarafi leher dan bagian belakang kepala. Salah satu cabang yang penting sekali adalah
saraf frenikus yang mempersarafi diagfragma.
Fleksus brakialis yang dibentuk dari C5-T1, fleksus ini mempersarafi ekstremitras atas. Saraf
torakal (T3-T11) mempersarafi otot-otot abdomen bagian atas dan kulit dada serta abdomen. Pleksus
lumbalis berasal dari segmen spinal T12-L4 mempersarafi otot-otot dan kulit tubuh bagian bawah dan
ekstremitas bawah. Pleksus sakralis dari L4-S4, dan pleksus koksigealis dari S4 sampai saraf koksigealis.
Saraf utama dari pleksus ini adalah saraf femoralis dan obturatorius. Saraf utama dari pleksus sakralis adalah saraf
iskiadikus, saraf terbesar dalam tubuh. Saraf ini menembus bokong dan turun kebawah melalui bagian belakang
paha. Kulit dipersarafi oleh radiks dorsal dari tiap saraf spinal, jadi dari satu segmen medulla spinalis disebut
dermatom. Otot-otot rangka juga mendapat persarafan segmental dari radiks spinal ventral.
Sumsum tulang belakang terdapat di dalam ruas-ruas tulang belakang (vertebrae) yang memanjang
dari daerah leher sampai pinggang. Vertebrae itu berfungsi melindungi sumsum tulang belakang dari kerusakan.
Pada sumsum tulang belakang, materi kelabu terletak di bagian dalam dan tersusun atas badan-badan
sel, sinapsis, serta sel-sel saraf konektor yang tidak bermielin. Sel-sel saraf konektor tersebut mengirimkan
informasi dari sumsum tulang belakang ke serabut saraf spinal, atau sebaliknya. Penampang melintang materi
kelabu pada sumsum tulang belakang berbentuk sepeti huruf H atau sayap kupu-kupu. Sementara itu, materi putih
yang terletak di bagian luar tersusun atas serabut-serabut saraf (akson bermielin). Akson bermielin itu mengirimkan
informasi dari sumsum tulang belakang menuju otak, atau sebaliknya.

Trauma Medula Spinalis| 7

Sumsum tulang belakang juga dilindungi oleh tiga lapis membran (meninges). Di bagian tengah
sumsum tulang belakang, yaitu di antara membran dalam dan membran tengah terdapat saluran tengah yang berisi
cairan serebrospinal. Cairan tersebut berfungsi memasok makanan bagi sumsum tulang belakang dan berperan
sebagai peredam kejut atau pelindung dari goncangan. Sumsum tulang belakang berhubungan dengan
1) Gerak refleks struktur tubuh di bawah leher
2) Menghantarkan rangsang sensori dari reseptor ke otak
3) Membawa rangsang motor dari otak ke efektor.

Columna Vertebralis adalah pilar utama tubuh yang berfungsi melindungi medula spinalis dan menunjang
berat kepala serta batang tubuh, yang diteruskannya ke lubang-lubang paha dan tungkai bawah. Masing-masing
tulang dipisahkan oleh disitus intervertebralis.

A. Vertebralis dikelompokkan sebagai berikut :


a.

Vetebrata Thoracalis (atlas).


Vetebrata Thoracalis mempunyai ciri yaitu tidak memiliki corpus tetapi hanya berupa cincin tulang.
Vertebrata cervikalis kedua (axis) ini memiliki dens, yang mirip dengan pasak. Veterbrata cervitalis
ketujuh disebut prominan karena mempunyai prosesus spinasus paling panjang.

b. Vertebrata Thoracalis.
Ukurannya semakin besar mulai dari atas kebawah. Corpus berbentuk jantung, berjumlah 12 buah
yang membentuk bagian belakang thorax.

c.

Vertebrata Lumbalis.
Corpus setiap vertebra lumbalis bersifat masif dan berbentuk ginjal, berjumlah 5 buah yang
membentuk daerah pinggang, memiliki corpus vertebra yang besar ukurnanya sehingga
pergerakannya lebih luas kearah fleksi.

d. Vertebrata Sacrum.
Terdiri dari 5 sacrum yang membentuk sakrum atau tulang kengkang dimana ke 5 vertebral ini
rudimenter yang bergabung yang membentuk tulang bayi.

e.

Vertebrata Coccygis.
Terdiri dari 4 tulang yang juga disebut ekor pada manusia, mengalami rudimenter.

Lengkung koluma vertebralis.kalau dilihat dari samping maka kolumna vertebralis memperlihatkan empat
kurva atau lengkung antero-pesterior : lengkung vertikal pada daerah leher melengkung kedepan daerah torakal
melengkung kebelakang, daerah lumbal kedepan dan daerah pelvis melengkung kebelakang. Kedua lengkung
yang menghadap pasterior, yaitu torakal dan pelvis, disebut promer karena mereka mempertahankan lengkung
aslinya kebelakang dari hidung tulang belakang, yaitu bentuk (sewaktu janin dengna kepala membengkak ke
bawah sampai batas dada dan gelang panggul dimiringkan keatas kearah depan badan. Kedua lengkung yang
menghadap ke anterior adalah sekunder lengkung servikal berkembang ketika kanak-kanak mengangkat
kepalanya untuk melihat sekelilingnya sambil menyelidiki, dan lengkung lumbal di bentuk ketika ia merangkak,
berdiri dan berjalan serta mempertahankan tegak.
Fungsi dari kolumna vertebralis. Sebagai pendukung badan yang kokoh dan sekaligus bekerja sebagai
penyangga kedengan prantaraan tulang rawan cakram intervertebralis yang lengkungnya memberikan fleksibilitas
dan memungkinkan membonkok tanpa patah. Cakramnya juga berguna untuk menyerap goncangan yang terjadi

Trauma Medula Spinalis| 8

bila menggerakkan berat badan seperti waktu berlari dan meloncat, dan dengan demikian otak dan sumsum
belkang terlindung terhadap goncangan. Disamping itu juga untuk memikul berat badan, menyediakan permukaan
untuk kartan otot dan membentuk tapal batas pasterior yang kukuh untuk rongga-rongga badan dan memberi
kaitan pada iga.

1. Sistem saraf spinal (tulang belakang) berasal dari arah dorsal, sehingga sifatnya sensorik.
Berdasarkan asalnya, saraf sumsum tulang belakang yang berjumlah 31 dibedakan menjadi:
a)

8 pasang saraf leher (saraf cervical) ( C1 sampai C8 )


Meliputi : Cerviks menunjukkan sekmen T,L,S,Co
(1)

Pleksus servikal berasal dari ramus anterior saraf spinal C1 C4

(2)

Pleksus brakial C5 T1 / T2 mempersarafi anggota bagian atas, saraf yang


mempersarafi anggota bawah L2 S3.

b)

12 pasang saraf punggung (saraf thorax) (T1 - T2 )

c)

5 pasang saraf pinggang (saraf lumbar) ( L1 - L5 )

d)

5 pasang saraf pinggul (saraf sacral) ( S1 - S5 )

e)

1 pasang saraf ekor (saraf coccyigeal).

Trauma Medula Spinalis| 9

Otot otot representative dan segmen segmen spinal yang bersangkutan serta persarafannya:
1.

Otot bisep lengan C5 C6

2.

Otot trisep C6 C8

3.

Ototbrakial C6 C7

4.

Otot intrinsic tangan C8 T1

5.

Susunan otot dada T1 T8

6.

Otot abdomen T6 T12

7.

Otot quadrisep paha L2 L4

8.

Otot gastrok nemius reflek untuk ektensi kaki L5 S2

Kemudian diantara beberapa saraf, ada yang menjadi satu ikatan atau gabungan (pleksus) membentuk
jaringan urat saraf. Pleksus terbagi menjadi 3 macam, yaitu:
1)

Plexus cervicalis (gabungan urat saraf leher)

2)

Plexus branchialis (gabungan urat saraf lengan)

3)

Plexus lumbo sakralis (gabungan urat saraf punggung dan pinggang)

Korda jaringan saraf yang terbungkus dalam kolumna vertebra yang memanjang dari medula batang otak
sampai ke area vertebra lumbal pertama disebut medula spinalis

A. Struktur umum medula spinalis


1. Medula spinalis berbentuk silinder berongga dan agak pipih. Walaupun diameter medula spinalis
bervariasi, diameter struktur ini biasanya sekitar ukuran jari kelingking. Panjang rata-rata 42 cm.
2. Dua pembesaran. Pembesaran lumbal dan serviks, menandai sisi keluar saraf spinal besar yang
mensuplai lengan dan tungkai
3. 31 satu pasang saraf spinal keluar dari area urutan korda melalui foramina intervertebral
4. Korda berakhir dibagian bawah vertebra lumbal pertama atau kedua. Saraf spinal bagian bawah yang
keluar sebelum ujung korda mengarah ke bawah, disebut korda ekuina, muncul dari kolumna spinlia
pada foramina intervertebral lumbal dan sakral yang tepat.
a. Konus medularis (terminalis) adalah ujung kaudal korda
b. Filum terminal adalah perpanjangan fibrosa piameter yang melekat pada konus medularis ke
kolumna vertebra
5. Meningen (durameter, piameter, arakhnoid) yang melapisi otak juga melapisi korda
6. Fisura Median Anterior (ventral) dalam fisura posterior

(dorsal) yang lebih dangkal menjalar di

sepanjang korda dan membaginya menjadi bagian kanan dan kiri

Trauma Medula Spinalis| 10

B. Struktur Internal Medula Spinalis terdiri dari sebuah inti substansi abu-abu yang diselubungi substansi putih
1. Kanal sentral berukuran kecil dikelilingi substansi abu-abu bentuknya seperti huruf H
2. Batang atas dan bawah huruf H disebut tanduk, atau kolumna dan mengandung badan sel, dendrit
asosiasi, dan neuron eferen serta akson tidak termielinisasi
a. Tanduk abu-abu posterior (dorsal) adalah batang ventrikel atas substansi abu-abu. Bagian ini
mengandung badan sel yang menerima sinyal melaluisaraf spinal dari neuron sensorik
b. Tanduk abu-abu anterior (ventral) adalah batang ventrikel bawah. Bagian ini mengandung neuron
motorik yang aksonnya mengirim impuls melalui saraf spinal ke otot atau kelenjar
c.

Tanduk lateral adalah protrusi diantara tanduk posterior dan anterior pada area toraks dan lumbal
sistem saraf perifer. Bagian ini mengandung badan sel neuron sistem SSO

d. Komisura abu-abu menghubungkan substansi abu-abu disisi kiri dan kanan melalui medula spinalis

C. Setiap saraf spinal memiliki satu radiks dorsal atau satu radiks ventral. Radiks dorsal terdiri dari kelompokkelompok serabut sensorik yang memasuki korda. Radiks ventral adalah penghubung ventral dan membawa
serabut motorik ke korda
1. Setiap radiks yang memasuki atau meninggalkan korda membentuk tujuh sampai sepuluh cabang radiks
2. Radiks dorsal dan ventral pada setiap sisi segmen medula spinalis menyatu untuk membentuk saraf
spinal
3. Radiks dorsal ganglia adalah pembesaran radiks dorsal yang mengandung sel neuron sensorik

Trauma Medula Spinalis| 11

D. Traktus spinal. Substansi putih korda yang terdiri dari akson termielinisasi dibagi menjadi funikulus anterior,
posterior, lateral. Dalam funikulus terdapat fasikulus atau traktus. Traktus diberi nama sesuai dengan lokasi,
asal dan tujuannya.
1. Traktus sensorik atau asenden membawa informasi dari tubuh ke otak. Bagian penting traktus asenden
meliputi:
A. Fasikulus grasilis dan fasikulus kuneatus
a. Origo dan tujuan. Impuls dari sentuhan reseptor peraba masuk ke medula spinalis melalui
radiks dorsal (neuron I). Akson memasuki korda, berasenden untuk bersinaps dengan nuklei
grasilis dan kuneatus di medula bagian bawah (neuron II). Akson menyilang ke sisi yang
berlawanan dan bersinaps dalam talamus lateral (neuron III). Terminasinya berada pada area
somestetik korteks serebral
b. Fungsi. Traktus ini menyampaikan informasi mengenai sentuhan, tekanan, vibrasi, dan tendon
otot

B. Traktus spinoserebelar ventral (anterior) (berpasangan)


a.

Origo dan tujuan. Impuls dari reseptor kinestetik (kesadaran akan posisi tubuh) pada otot dan
tendon memauki medula spinalis melalui radiks dorsal (neuron I) dan bersinaps dalam tanduk
posterior (neuron II). Akson berasenden disisi yang sama atau berlawanan dan berterminasi
pada korteks serebral

Trauma Medula Spinalis| 12

b.

Fungsi, Traktus spinoserebelar ventral

membawa informasi mengenai gerakan dan posisi

keseluruhan anggota gerak

C. Traktus spinoserebelar dorsal (posterior)


a. Origo dan tujuan. Impuls dari traktus spinoserebelar dorsal memiliki awal dan akhir yang sama
dengan impuls dari traktus spinoserebelar ventral, walaupun demikian, akson pada neuron II
dalam tanduk posterior bersenden disisi yang sama menuju korteks serebral
b. Fungsi. Traktus spinoserebelar dorsal membawa informasi mengenai propriosepsi bawah sadar
(kesadaran akan posisi tubuh, keseimbangan, dan arah gerakan)

D. Traktus spinotalamik ventral (anterior)


a. Origo dan tujuan. Impuls dari reseptor taktil pada kulit masuk ke medulla spinalis melalui radiks
dorsal (neuron I) dan bersinaps dalam tanduk posterior disisi yang sama (neuron II). Akson
menyilang kesisi yang berlawanan dan berasenden untuk bersinapsis dalam talamus (neuron
III). Akson berujung dalam area somestetik korteks serebral
b. Fungsi. Traktus spinotalamik ventral membawa informasi mengenai sentuhan, suhu dan nyeri

2. Traktus Motorik (Desenden) Mmebawa impuls motorik dari otak ke medulla spinalis dan saraf spinal
menuju tubuh. Fungsi traktus motorik yang penting meliputi:
A.

Traktus kortikospinal lateral (piramidal)


a. Origo dan tujuan. Neuron I berasal dari area motorik korteks serebral. Akosn berdesenden ke
medulla tempat sebagian besar serabut berdekusasi dan terus memanjang sampai ke tanduk
posterior untuk bersinapsis langsung atau melalui interneuron dengan neuron motorik bagian
bawah (neuron II) dalam tanduk anterior. Akson berterminasi pada lempeng ujung motorik otot
rangka.
b. Fungsi. Traktus kortikospinal lateral menghantar impuls untuk koordiasi dan ketepatan gerakan
volunter

B. Traktus kortikospinal (piramidal) ventral (anterior)


a. Origo dan tujuan.

Neuron I berasal dari sel piramidal pada area motorik korteks serebral dan

berdesenden sampai ke medulla spinalis. Disini akson menyilang ke sisi yang berlawanan tepat
sebelum bersinapsis, secara langsung maupun melalui interneuron dengan neuron II dalam
tanduk anterior
b. Fungsi. Traktus kortikospinal ventral memiliki fungsi yang sama dengan traktus kortokospinal
lateral. Traktus tersebut menghantarkan impuls untuk koordinasi dan ketepatan gerakan
volunter.

C. Traktus ekstrapiramidal. Serabut dalam sistem ini berasal dari pusat lain, misalnya nuklei motorik
dalam korteks serebral dan area subkortikal di otak

Trauma Medula Spinalis| 13

a. Traktus retikulospinal berasal dari formasi retikular (neuron I) dan berujung (neuron II) pada sisi
yang sama dineuron motorik bagian bawah dalam tanduk anterior medula spinalis. Impuls
memberikan semacam pengaruh fasilitas pada ekstensor tungkai dan fleksor lengan serta
memberikan suatu pengaruh inhibisi yang berkaitan dengan postur dan tonus otot
b. Traktus vestilospinal lateral berasal dari nukleus vestribular lateral dalam medulla (neuron I) dan
berdesenden pada sisi yang sama untuk untuk berujung (neuron II) pada tanduk anterior
medulla spinalis. Impuls mempertahankan tonus otot dalam aktivitas refleks
c. Traktus vestibulospinal medial baerasal dari nukleus vestibular medial dalam medula dan
menyilang ke sisi yang berlawanan untuk berakhir pada tanduk anterior. Traktus ini tidak
berdesenden ke bawah area serviks. Traktus ini berkaitan dengan pengendalian otot-otot
kepala dan leher
d. Traktus rubrospinal, yang berasal dari nukleus merah otak tengah, traktus olivospinal yang
berasal dari olive inferior medula dan traktus tektospinal yang berasal dari bagian tektum otak
tengah, juga termasuk jenis traktus ekstrapiramidal

yang berhubungan dengan postur dan

tonus otot.

Saraf Spinal. 31 pasang saraf spinal berawal dari korda melalui radiks dorsal (posterior) dan ventral
(anterior). Pada bagian distal radiks dorsal ganglion, dua radiks bergabung membentuk satu saraf spinal. Semua
saraf tersebut adalah saraf gabungan (motorik dan sensorik), membawa informasi ke korda melalui neuron
aferen dan meninggalkan korda melalui neuron eferen.
1. Divisi. Setelah saraf spinal meninggalkan korda melalui foramen intervertebral, saraf kemudian bercabang
menjadi 4 divisi
a. Cabang meningeal kecil masuk kembali ke medulla spinalis melalui foramen sama yang digunakan saraf
untuk keluar dan mempersarafi meninges, pembuluh darah medula spinalis dan ligamen vertebralis
b. Ramus dorsal (posterior) terdiri dari serabut yang menyebar kearah posterior untuk mempersarafi otot
dan kulit pada bagian belakang kepala, leher, dan pada trunkus di regia saraf spinal
c.

Cabang ventral (anterior) terdiri dari serabut yang mensuplai bagian anterior dan lateral pada trunkus
dan anggota gerak

d. Cabang viseral adalah bagian dari SSO. Cabang ini memiliki ramus komunikans putih dan ramus
komunikans abu-abu yang membentuk hubungan abtara medula spinalis dan ganglia pada trunkus
simpatis SSO

2. Pleksus adalah jaring-jaring serabut saraf yang terbentuk dari ramus ventral seluruh saraf spinal, kecuali T1
dan T11 , yang merupakan awal saraf intercostae
a. Pleksus serviks terbentuk dari ramus ventral keempat saraf serviks pertama- C1, C2, C3, C4- dan
sebagian C5. Saraf ini menginversi otot leher, dan kulit kepala, leher serta dada. Saraf terpenting yang
berawal dari pleksus ini adalah saraf frenik yang menginversi diagfragma
b. Pleksus brakhial terbentuk dari ramus ventral saraf serviks C5, C6, C7, C8, dan saraf toraks pertama T1
dengan melibatkan C4 dan T2. Saraf dari pleksus brakhial mensuplai lengan atas dan beberapa otot
pada leher dan bahu
c.

Pleksus lumbal terbentuk dari ramus saraf lumbal L1, L2, L3, L4 dengan bantuan T12. Saraf dari pleksus
ini menginversi kulit dan otot dinding abdomen, paha dan genetalia eksternal. Saraf terbesar adalah

Trauma Medula Spinalis| 14

saraf femoral, yang mensuplai otot fleksor paha dan kulit pada paha anterior, regia panggul, dan tungkai
bawah
d. Pleksus sakral terbentuk dari ramus ventral saraf sakral S1, S2, dan S3, serta konstribusi dari L4, L5,
dan S4. Saraf dari pleksus ini menginversi anggota gerak bawah, bokong, dan regia perineal, saraf
terbesar adalah saraf sklatik
e. Pleksus koksiks terbentuk dari ramus ventral S5 dan saraf spinal koksiks, dengan konstribusi dari
ramus S4. Pleksus ini merupakan awal saraf koksiks yang mensupali regia koksiks.

Setiap saraf spinal keluar dari sumsum tulang belakang dengan dua buah akar, yaitu akar depan (anterior)
dan akar belakang (posterior). Setiap akar anterior dibentuk oleh beberapa benang akar yang meninggalkan
sumsum tulang belakang pada satu alur membujur dan teratur dalam satu baris. Tempat alaur tersebut sesuai
dengan tempat tanduk depan terletak paling dekat di bawah permukaan sumsum tulang belakang. Benang-benang
akar dari satu segmen berhimpun untuk membentuk satu akar depan. Akar posterior pun terdiri atas benangbenang akar serupa, yang mencapai sumsum tulang belakang pada satu alur di permukaan belakang sumsum
tulang belakang. Setiap akar belakang mempunyai sebuah kumpulan sel saraf yang dinamakan simpulsaraf spinal.
Akar anterior dan posterior bertaut satu sama lain membentuk saraf spinal yang meninggalkan terusan tulang
belakang melalui sebuah lubang antar ruas tulang belakang dan kemudian segera bercabang menjadi sebuah
cabang belakang, cabang depan, dan cabang penghubung.
Cabang-cabang belakang saraf spinal mempersarafi otot-otot punggung sejati dan sebagian kecil kulit
punggung. Cabang-cabang depan mempersarafi semua otot kerangka batang badan dan anggota-anggota gerak
serta kulit tubuh kecuali kulit punggung. Cabang-cabang depan untuk persarafan lengan membentuk suatu
anyaman (plexus), yaitu anyaman lengan (plexus brachialis). Dari anyaman inilah dilepaskan beberapa cabang
pendek ke arah bahu dan ketiak, dan beberapa cabang panjang untuk lengan dan tangan. Demikian pula dibentuk
oleh cabang-cabang depan untuk anggota-anggota gerak bawah dan untuk panggul sebuah anyaman yang disebut
plexus lumbosakralis, yang juga mengirimkan beberapa cabang pendek ke arah pangkal paha dan bokong, serta
beberapa cabang panjang untuk tungkai atas dan tungkai bawah. Yang terbesar adalah saraf tulang duduk. Saraf
ini terletak di bidang posterior tulang paha.

Medulla spinalis atau sumsum tulang belakang bermula ada medula ablongata, menjulur kearah kaudal
melalu foramen magnum dan berakhir diantara vertebra-lumbalis pertama dan kedua. Disini medula spinalis
meruncing sebagai konus medularis, dna kemudian sebuah sambungan tipis dasri pia meter yang disebut filum
terminale, yang menembus kantong durameter, bergerak menuju koksigis. Sumsum tulang belakang yang
berukuran panjang sekitar 45 cm ini, pada bagian depannya dibelah oleh figura anterior yang dalam, sementara
bagian belakang dibelah oleh sebuah figura sempit.

Trauma Medula Spinalis| 15

Pada sumsum tulang belakang terdapat dua penebalan, servikal dan lumbal. Dari penebalan ini, plexusplexus saraf bergerak guna melayani anggota badan atas dan bawah dan plexus dari daerah thorax membentuk
saraf-saraf interkostalis.
Fungsi sumsum tulang belakang :
1) Organ sensorik : menerima impuls, misalnya kulit.
2) Serabut saraf sensorik ; mengantarkan impuls-impuls tersebut menuju sel-sel dalam ganglion radix
pasterior dan selanjutnya menuju substansi kelabu pada karnu pasterior mendula spinalis.
3) Sumsum tulang belakang, dimana serabut-serabut saraf penghubung menghantarkan impulsimpuls menuju karnu anterior medula spinalis.
4) Sel saraf motorik ; dalam karnu anterior medula spinalis yang menerima dan mengalihkan impuls
tersebut melalui serabut sarag motorik.
5) Organ motorik yang melaksanakan gerakan karena dirangsang oleh impuls saraf motorik.
6) Kerusakan pada sumsum tulang belakang khususnya apabila terputus pada daerah torakal dan
lumbal mengakibatkan (pada daerah torakal) paralisis beberapa otot interkostal, paralisis pada otot
abdomen dan otot-otot pada kedua anggota gerak bawah, serta paralisis sfinker pada uretra dan
rektum.

B. Sendi Kolumna Vertebra


Sendi ini dibentuk oleh bantalan tulang rawan yang diletakkan diantara setiap dua vertebra, dikuatkan
oleh ligamentum yang berjalan didepan dan dibelakang badan-badan vertebra sepanjang kolumna vertebralis.
Massa otot disetiap sisi membantu kestabilan tulang belakang sepenuhnya.
Diskus Intervetebralis atau cakram antar ruas adalah bantalan tebal dari tulang rawan fibrosa yang
terdapat diantara badan vertebra yang dapat bergerak

C. Meningen Spinal
Meningen adalah selaput otak yang merupakan bagian dari susunan saraf yang bersiaft non neural.
Meningen terdiri dari jarningan ikat berupa membran yang menyelubungi seluruh permukaan otak, batang otak dan
medula spinalis. Meningen terdiri dari 3 lapisan, yaitu Piamater, arakhnoid dan duramater.
Duramater yang merupakan lapisan yang kuat, Membran fibrosa, Bersatu dengan filum terminale.
Piamater berupa lapisan tipis, kaya pembuluh darah, nyambung dengan medula spinalis. Rongga antara
periosteum dengan duramater disebut dengan epidural yang merupakan area yang mengandung banyak pembuluh
darah dan lemak. Rongga antara duramater dengan arachnoid disebut dengan subdural. Sub dural tidak
mengandung CSF. Rongga antara Arachnoid dan Piamater disebut dengan Subarachnoid. Pada rongga ini
terdapat Cerebro Spinal Fluid, Pembuluh Darah dan akar-akar syaraf
Piameter merupakan selaput tipis yang melekat pada permukaan otak yang mengikuti setiap lekukanlekukan pada sulkus-sulkus dan fisura-fisura, juga melekat pada permukaan batang otak dan medula spinalis, terus
ke kaudal sampai ke ujung medula spinalis setinggi korpus vertebra. Arakhnoid mempunyai banyak trabekula halus
yang berhubungan dengan piameter, tetapi tidak mengikuti setiap lekukan otak.

Trauma Medula Spinalis| 16

Diantara arakhnoid dan piameter disebut ruang subrakhnoid, yang berisi cairan serebrospinal dan
pembuluh-pembuluh darah. Karena arakhnoid tidak mengikuti lekukanlekukan otak, maka di beberapa tempat
ruang subarakhnoid melebar yang disebut sisterna. Yang paling besar adalah siterna magna, terletak diantara
bagian inferior serebelum danme oblongata. Lainnya adalah sisterna pontis di permukaan ventral pons, sisterna
interpedunkularis di permukaan venttralmesensefalon, sisterna siasmatis di depan lamina terminalis. Pada sudut
antara serebelum dan lamina quadrigemina terdapat sisterna vena magna serebri. Sisterna ini berhubungan
dengan sisterna interpedunkularis melalui sisterna ambiens. Ruang subarakhnoid spinal yang merupakan lanjutan
dari sisterna magna dan sisterna pontis merupakan selubung dari medula spinalis sampai setinggi S2. Ruang
subarakhnoid dibawah L2 dinamakan sakus atau teka lumbalis, tempat dimana cairan serebrospinal diambil pada
waktu pungsi lumbal.
1. Ruang Epidural
Diantara lapisan luar dura dan tulang tengkorak terdapat jaringan ikat yang mengandung kapilerkapiler halus yang mengisi suatu ruangan disebut ruang epidural
2. Ruang Subdural
Diantara lapisan dalam durameter dan arakhnoid yang mengandung sedikit cairan, mengisi suatu
ruang disebut ruang subdural .

D. Cairan SerebroSpinal
Cairan serebrospinal yang berada di ruang subarakhnoid merupakan salah satu proteksi untuk
melindungi jaringan otak dan medula spinalis terhadap trauma atau gangguan dari luar.
Pada orang dewasa volume intrakranial kurang lebih 1700 ml, volume otak sekitar 1400 ml, volume
cairan serebrospinal 52-162 ml (rata-rata 104 ml) dan darah sekitar 150 ml. 80% dari jaringan otak terdiri dari
cairan, baik ekstra sel maupun intra sel.

Rata-rata cairan serebrospinal dibentuk sebanyak 0,35 ml/menit atau 500 ml/hari, sedangkan total
volume cairan serebrospinal berkisar 75-150 ml dalam sewaktu. Ini merupakan suatu kegiatan dinamis, berupa
pembentukan, sirkulasi dan absorpsi. Untuk mempertahankan jumlah cairan serebrospinal tetap dalam sewaktu,
maka cairan serebrospinal diganti 4-5 kali dalam sehari. Perubahan dalam cairan serebrospinal dapat merupakan
proses dasar patologi suatu kelainan klinik. Pemeriksaan cairan serebrospinal sangat membantu dalam
mendiagnosa penyakit-penyakit neurologi. Selain itu juga untuk evaluasi pengobatan dan perjalanan penyakit,
serta menentukan prognosa penyakit. Pemeriksaan cairan serebrospinal adalah suatu tindakan yang aman, tidak
mahal dan cepat untuk menetapkan diagnosa, mengidentifikasi organism penyebab serta dapat untuk melakukan
test sensitivitas antibiotika.

E. Suplai Darah Medula Spinalis


Medula spinalis menerima darah melalui cabang-cabang arteri vertebralis (arteri spinatis anterior dan
posterior serta cabang-cabangnya) dan dari pembuluh-pembuluh segmental regional yang berasal dari aorta

Trauma Medula Spinalis| 17

torakalis dan abdominalis (arteri radikularis dan cabang-cabangnya). Dari tempat percabangannya pada arteri
vertebralis disepanjang medula, arteri spinalis anterior dan posterior akan berjalan menuju medula spinalis.
Medula spinalis mendapat dua suplai darah dari dua sumber yaitu: 1) arteri Spinalis anterior yang
merupakan percabangan arteri vertebralis, 2) arteri Spinalis posterior, yang juga merupakan percabangan arteri
vertebralis.
Antara arteri spinalis tersebut diatas terdapat banyak anastomosis sehingga merupakan anyaman
plexus yang mengelilingi medulla spinalis dan disebut vasocorona. Vena di dalam otak tidak berjalan bersamasama arteri. Vena jaringan otak bermuara di jalan vena yang terdapat pada permukaan otak dan dasar otak. Dari
anyaman plexus venosus yang terdapat di dalam spatum subarachnoid darah vena dialirkan kedalam sistem sinus
venosus yang terdapat di dalam durameter diantara lapisan periostum dan selaput otak.

Arteri vertebralis dipercabangkan oleh arteri sub clavia. Arteri ini berjalan ke kranial melalui foramen
transversus vertebrae ke enam sampai pertama kemudian membelok ke lateral masuk ke dalam foramen
transversus magnum menuju cavum cranii. Arteri ini kemudian berjalan ventral dari medula oblongata dorsal dari
olivus, caudal dari tepi caudal pons varolii. Arteri vertabralis kanan dan kiri akan bersatu menjadi arteri basilaris
yang kemudian berjalan frontal untuk akhirnya bercabang menjadi dua yaitu arteri cerebri posterior kanan dan kiri.
Daerah yang diperdarahi oleh arteri cerbri posterior ini adalah facies convexa lobus temporalis cortex
cerebri mulai dari tepi bawah sampai setinggi sulcus temporalis media, facies convexa parietooccipitalis, facies
medialis lobus occipitalis cotex cerebri dan lobus temporalis cortex cerebri. Anastomosis antara arteri-arteri cerebri
berfungsi utnuk menjaga agar aliran darah ke jaringan otak tetap terjaga secara continue. Sistem carotis yang
berasal dari arteri carotis interna dengan sistem vertebrobasilaris yang berasal dari arteri vertebralis, dihubungkan
oleh circulus arteriosus willisi membentuk Circle of willis yang terdapat pada bagian dasar otak.
Selain itu terdapat anastomosis lain yaitu antara arteri cerebri media dengan arteri cerebri anterior,
arteri cerebri media dengan arteri cerebri posterior.

F. Refleks Spinal

Trauma Medula Spinalis| 18

Refleks merupakan respon bawah sadar terhadap adanya suatu stimulus internal ataupun eksternal untuk
mempertahankan keadaan seimbang dari tubuh. Refleks yang melibatkan otot rangka disebut dengan refleks
somatis dan Refleks yang melibatkan otot polos, otot jantung atau kelenjar disebut refleks otonom atau visceral.

G. Konsep Refleks
Refleks merupakan kejadian involunter dan tidak dapat dikendalikan oleh kemauan. Tindakan refleks
merupakan gerakan motorik involunter atau respons sekretorik yang diperlihatkan jaringan terhadap stimulus
sensorik, seperti refleks menarik diri, bersin, batuk, dan mengedip (Sue Hinchlift).
Secara fisiologis dengan ringkas dapat dijelaskan bahwa suatu respons refleks terjadi bila suatu otot
rangka dengan persarafan untuk diregangkan, otot ini akan kontraksi. Respons seperti ini disebut refleks regang.
Rangsangan yang membangkitkan refleks regang adalah regangan pada otot, dan responsnya adalah kontraksi
otot yang diregangkan itu. Reseptor refleks ini adalah kumparan otot (muscle spindle). Impuls yang tercetus oleh
kumparan otot dihantarkan ke SSP melalui serat saraf sensorik penghantar cepat. Impuls kemudian diteruskan ke
neuron-neuron motorik yang mempersarafi otot yang teregang itu. Neurotransmitter di sinaps pusat adalah
glutamat.
Refleks-refleks regang merupakan refleks monosinaptik yang paling banyak digunakan dalam
pemeriksaan neurologis, seperti pada ketukan di tendon patella yang akan membangkitkan refleks patella, yaitu
refleks regang otot quadriseps femoris, akibat ketukan pada tendon akan meregangkan otot. Kontraksi serupa akan
timbul bila otot quadriseps diregang secara manual (Ganong, 1999).
Tahanan otot terhadap regangan kerap disebut tonus. Bila neuron motorik ke suatu otot dipotong, otot itu
memberikan tahanan yang lemah dan disebut flaksid. Otot yang hipertonik (spastik) adalah otot yang mempunyai
tahanan yang tinggi terhadap regangan karena adanya refleks regang yang hiperaktif. Diantara keadaan flaksid
dan spastis terdapat area yang sering kali di salah artikan sebagai area tonus normal. Otot umumnya hipotonik bila
pelepasan impuls eferennya rendah dan hipertonik bila tinggi.
Temuan lain yang khas untuk keadaan peningkatan impuls eferen adalah klonus. Tanda neurologis ini
merupakan peristiwa kontraksi otot yang teratur dan berirama akibat regangan yang tiba-tiba dan bertahan. Klonus
pergelangan kaki merupakan contoh yang khas. Klonus ini dimulai dengan dorsofleksi kaki yang cepat dan mantap,
dan reponsnya adalah plantarfleksi pergelangan kaki berirama.
Suatu respons fleksor dapat ditimbulkan dengan rangsangan di kulit atau dengan peregangan otot, tetapi
respons fleksor kuat yang disertai gerakan menarik diri hanya dibangkitkan oleh suatu rangsang yang berbahaya.
Karena itu, rangsang ini disebut rangsang nosiseptif. Respons menarik diri dari fleksi ekstremitas yang dirangsang
menjauhkan tungkai dari sumber iritasi dan ekstensi ekstremtas yang menyangga tubuh. Refleks menarik diri
sangat kuat, refleks ini menguasai jaras-jaras spinal sehingga membatalkan semua kegiatan refleks lain yang
terjadi pada saat yang bersamaan (Price, 1995).

H. Saraf spinal
Saraf spinal pada manusia dewasa memiliki panjang sekitar 45 cm dan lebar 14 mm. Pada bagian
permukaan dorsal dari saraf spinal, terdapat alur yang dangkal secara longitudinal di bagian medial posterior
berupa sulkus dan bagian yang dalam dari anterior berupa fisura.
Medula spinalis terdiri atas 31 segmen jaringan saraf dan masing-masing memiliki sepasang saraf spinal
yang keluar dari kanalis vertebralis melalui foramen intervertebra (lubang pada tulang vertebra). Saraf-saraf spinal

Trauma Medula Spinalis| 19

diberi nama sesuai dengan foramen intervertebra tempat keluarnya saraf-saraf tersebut, kecuali saraf servikal
pertama yang keluar di antara tulang oksipital dan vertebra servikal pertama
Tiga puluh satu pasang saraf spinal keluar dari medula apinalis dan kemudian dari kolumna vertabalis
melalui celah sempit antara ruas-ruas tulang vertebra. Celah tersebut dinamakan foramina intervertebrelia. Seluruh
saraf spinal merupakan saraf campuran karena mengandung serat-serat eferen yang membawa impuls baik
sensorik maupun motorik. Mendekati medula spinalis, serat-serat eferen memisahkan diri dari seratserat eferen.
Serat eferen masuk ke medula spinalis membentuk akar belakang (radix dorsalis), sedangkan serat eferen keluar
dari medula spinalis membentuk akar depan (radix ventralis). Setiap segmen medula spinalis memiliki sepasang
saraf spinal, kanan dan kiri. Sehingga dengan demikian terdapat 8 pasang saraf spinal servikal, 12 pasang saraf
spinal torakal, 5 pasang saraf spinal lumbal, 5 pasang saraf spinal sakral dan satu pasang saraf spinal koksigeal.
Untuk kelangsungan fungsi integrasi, terdapat neuron-neuron penghubung disebut interneuron yang tersusun
sangat bervariasi mulai dari yang sederhana satu interneuron sampai yang sangat kompleks banyak interneuron.
Dalam menyelenggarakan fungsinya, tiap saraf spinal melayani suatu segmen tertentu pada kulit, yang disebut
dermatom. Hal ini hanya untuk fungsi sensorik. Dengan demikian gangguan sensorik pada dermatom tertentu
dapat memberikan gambaran letak kerusakan.

Adapun ke 31 nervus spinalis, yaitu:


1.

Nervus hipoglossus : Nervus yang mempersarafi lidah dan sekitarnya.

2.

Nervus occipitalis minor : Nervus yang mempersarafi bagian otak belakang dalam trungkusnya.

3.

Nervus thoracicus : Nervus yang mempersarafi otot serratus anterior.

4.

Nervus radialis: Nervus yang mempersyarafi otot lengan bawah bagian posterior, mempersarafi otot
triceps brachii, otot anconeus, otot brachioradialis dan otot ekstensor lengan bawah dan
mempersarafi kulit bagian posterior lengan atas dan lengan bawah. Merupakan saraf terbesar dari
plexus.

5.

Nervus thoracicus longus: Nervus yang mempersarafi otot subclavius, Nervus thoracicus longus.
berasal dari ramus C5, C6, dan C7, mempersarafi otot serratus anterior.

6.

Nervus thoracodorsalis: Nervus yang mempersarafi otot deltoideus dan otot trapezius, otot latissimus
dorsi.

7.

Nervus axillaris: Nervus ini bersandar pada collum chirurgicum humeri.

8.

Nervus subciavius: Nervus subclavius berasal dari ramus C5 dan C6, mempersarafi otot subclavius..

9.

Nervus supcapulari: Nervus ini bersal dari ramus C5, mempersarafi otot rhomboideus major dan
minor serta otot levator scapulae,

10.

Nervus supracaplaris: Berasal dari trunkus superior, mempersarafi otot supraspinatus dan
infraspinatus.

11.

Nervusphrenicus: Nervus phrenicus mempersyarafi diafragma.

12.

Nervus intercostalis

13.

Nervus intercostobrachialis: Mempersyarafi kelenjar getah bening.

14.

Nervus cutaneus brachii medialis: Nervus ini mempersarafi kulit sisi medial lengan atas.

15.

Nervus cutaneus antebrachii medialis: Mempersarafi kulit sisi medial lengan bawah.

16.

Nervus ulnaris: Mempersarafi satu setengah otot fleksor lengan bawah dan otot-otot kecil tangan,
dan kulit tangan di sebelah medial.

17.

Nervus medianus: Memberikan cabang C5, C6, C7 untuk nervus medianus.

Trauma Medula Spinalis| 20

18.

Nervus musculocutaneus: Berasal dari C5 dan C6, mempersarafi otot coracobrachialis, otot
brachialis, dan otot biceps brachii. Selanjutnya cabang ini akan menjadi nervus cutaneus lateralis
dari lengan atas.

19.

Nervusdorsalis scapulae: Nervus dorsalis scapulae bersal dari ramus C5, mempersarafi otot
rhomboideus.

20.

Nervus transverses colli

21.

Nervus

nuricularis:

Nervus

auricularis

posterior

berjalan

berdekatan

menuju

foramen,

Letakanatomisnya: sebelah atas dengan lamina terminalis,


22.

NervusSubcostalis: Mempersarafi sistem kerja ginjal dan letaknya.

23.

Nervus Iliochypogastricus: Nervus iliohypogastricusberpusat pada medulla spinalis.

24.

Nervus Iliongnalis: Nervus yang mempersyarafi system genetal, atau kelamin manusia.

25.

NervusGenitofemularis: Nervus genitofemoralis berpusat pada medulla spinalis L1-2, berjalan ke


caudal, menembus m. Psoas major setinggi vertebra lumbalis .

26.

Nervus Cutaneus Femoris Lateralis: Mempersyarafi tungkai atas, bagian lateral tungkai bawah, serta
bagian lateral kaki.

27.

NervusFemoralis: Nervus yang mempersyarafi daerah paha dan otot paha.

28.

NervusGluteus Superior: Nervus gluteus superior (L4, 5, dan paha, walaupun sering dijumpai
percabangan dengan letak yang lebih tinggi.

29.

Nervus Ischiadicus: Nervus yang mempersyarafi pangkal paha

30.

NervusCutaneus Femoris Inferior: Nervus yang mempersyarafi bagian (s2 dan s3) pada bagian
lengan bawah.

31.

Nervus Pudendus: Letak nervus pudendus berdekatan dengan ujung spina ischiadica. Nervus
pudendus, Nervus pudendus menyarafi otot levator ani, dan otot perineum(ke kiri / kanan ),
sedangkan letak kepalanya dibuat sedikit lebih rendah.

Tabel no. 2. Tabel Sistem saraf medulla spinalis


Jumlah

Medula

spinalis

Menuju

daerah
7 pasang

Servix

Kulit kepala, leher dan otot tangan,


membentuk daerah tengkuk.

12 pasang

Punggung/toraks

Organ-organ dalam, membentuk


bagian belakang torax atau dada.

5 pasang

Lumbal/pinggang

Paha, membentuk daerah lumbal atau


pinggang.

5 pasang

Sakral/kelangkang

Otot betis, kaki dan jari kaki,


membentuk os sakrum (tulang
kelangkang).

1 pasang

Koksigeal

Sekitar tulang ekor, membentuk


tulang koksigeus (tulang tungging)

(Sumber: Sistem Saraf I Andienchandras Blog.htm)

Trauma Medula Spinalis| 21

Bila sumsum tulang belakang ini mengalami cidera ditempat tertentu, maka akan mempengaruhi sistem
saraf disekitarnya, bahkan bisa menyebabkan kelumpuhan di area bagian bawah tubuh, seperti anggota gerak
bawah (kaki).

Secara fungsi, sumsum tulang belakang bekerja secara sadar dan tak sadar (saraf otonom). Sumsum
tulang belakang yang bekerja secara sadar di atur oleh otak sedangkan sistem saraf tidak sadar (saraf otonom)
mengontrol aktivitas yang tidak diatur oleh kerja otak seperti denyut jantung, sistem pencernaan, sekresi keringat,
gerak peristaltic usus, dan lain-lain.

Fungsi sumsum tulang belakang yang utama adalah sebagai berikut.

Trauma Medula Spinalis| 22

1. Menghubungkan sistem saraf tepi ke otak. Informasi melalui neuron sensori ditransmisikan dengan bantuan
interneuron (impuls saraf dari dan ke otak).
2. Memungkinan jalan terpendek dari gerak refleks. Sehingga sumsum tulang belakang juga biasa disebut saraf
refleks.
3. Mengurusi persarafan tubuh, anggota badan dan kepala
2.3 Penyebab atau Etiologi dan Faktor Resiko trauma Medula Spinalis

Cedera Medula Spinalis disebapkan oleh trauma langsung yang mengenai tulang belakang dimana trauma
tersebut melampaui batas kemampuan tulang belakang dalam melindungi saraf-saraf di dalamnya
Cedera sumsum tulang belakang terjadi akibat patah tulang belakang dan terbanyak mengenai daerah
servikal dan lumbal.cedera terjadi akibat hiperfleksi, hiperekstensi, kompressi, atau rotasi tulang belakang.didaerah
torakal tidak banyak terjadi karena terlindung dengan struktur toraks.
Fraktur dapat berupa patah tulang sederhana, kompressi, kominutif, dan dislokasi, sedangkan kerusakan
pada sumsum tulanmg belakang dapat beruyp a memar, contusio, kerusakan melintang, laserasi dengan
atau tanpa gangguan peredaran darah, atau perdarahan.Kelainan sekunder pada sumsum belakang dapat
doisebabkan hipoksemia dana iskemia.iskamia disebabkan hipotensi, oedema, atau kompressi.
Perlu disadar bahwa kerusakan pada sumsum belakang merupakan kerusakan yang permanen
karena tidak akan terjadi regenerasi dari jaringan saraf. Pada fase awal setelah trauma tidak dapat dipastikan
apakah gangguan fungsi disebabkan oleh kerusakan sebenarnya dari jaringan saraf atau disebabkan oleh
tekanan, memar, atau oedema.
A. Etiologi cedera spinal adalah:
1. Trauma misalnya kecelakaan lalu lintas, terjatuh, kegiatan olah raga, luka tusuk atau luka tembak.
2. Non trauma seperti spondilitis servikal dengan myelopati, myelitis, osteoporosis, tumor.

Menurut Arif muttaqin (2005, hal. 98) penyebab dari cedera medula spinalis adalah
1.

Kecelakaan dijalan raya (penyebab paling sering).

2.

Olahraga

3.

Menyelan pada air yang dangkal

4.

Kecelakaan lain, seperti jatuh dari pohon atau bangunan

5.

Trauma karena tali pengaman (Fraktur Chance)

6.

Kejatuhan benda keras

7.

Gangguan spinal bawaan atau cacat sejak kecil atau kondisi patologis yang menimbulkan penyakit
tulang atau melemahnya tulang. (Harsono, 2000).

Trauma Medula Spinalis| 23

8.

Luka tembak atau luka tikam

9.

Gangguan lain yang dapat menyebabkan cedera medulla spinalis slompai, yang seperti spondiliosis
servikal dengan mielopati, yang menghasilkan saluran sempit dan mengakibatkan cedera progresif
terhadap medulla spinalis dan akar mielitis akibat proses inflamasi infeksi maupun non infeksi
osteoporosis yang disebabkan oleh fraktur kompresi pada vertebra, singmelia, tumor infiltrasi
maupun kompresi, dan penyakit vascular.

10. Keganasan yang menyebabkan fraktur patologik


11. Infeksi
12. Osteoporosis
13. Mengkonsumsi alkohol dan obat-obatan saat mengendarai mobil atau sepeda motor.

B. Faktor-faktor yang mempengaruhi trauma medulla spinalis


1.

Usia
Pada usia 45-an fraktur banyak terjadi pada pria di bandingkan pada wanita karena olahraga,
pekerjaan, dan kecelakaan bermotor.

2.

Jenis Kelamin
Belakangan ini wanita lebih banyak dibandingkan pria karena faktor osteoporosis yang di
asosiasikan dengan perubahan hormonal (menopause).

3.

Status Nutrisi

2.4 Patofisiologi
Tulang belakang yang mengalami gangguan trauma dapat menyebabkan kerusakan pada medulla spinalis,
tetapi lesi traumatic pada medulla spinalis tidak selalu terjadi karena fraktur dan dislokasi. Efek trauma yang tidak
langsung bersangkutan tetapi dapat menimbulkan lesi pada medulla spinalis disebut whiplash/trauma indirek.
Whiplash adalah gerakan dorsapleksi dan anterofleksi berlebihan dari tulang belakang secara cepat dan
mendadak.Trauma whiplash terjadi pada tulang belakang bagian servikalis bawah maupun torakalis bawah misal;
pada waktu duduk dikendaraan yang sedang cepat berjalan kemudian berhenti secara mendadak. Atau pada waktu
terjun dari jarak tinggi, menyelam dan masuk air yang dapat mengakibatkan paraplegia.
Trauma tidak langsung dari tulang belakang berupa hiperekstensi, hiperfleksi, tekanan vertical (terutama pada
T.12 sampai L.2), rotasi. Kerusakan yang dialami medulla spinalis dapat bersifat sementara atau menetap. Akibat
trauma terhadap tulang belakang, medula spinalis dapat tidak berfungsi untuk sementara (komosio medulla
spinalis), tetapi dapat sembuh kembali dalam beberapa hari. Gejala yang ditimbulkan adalah berupa oedema,
perdarahan peri vaskuler dan infark disekitar pembuluh darah. Pada kerusakan medulla spinalis yang menetap,
secara makroskopis kelainannya dapat terlihat dan terjadi lesi, contusio, laserasio dan pembengkakan daerah
tertentu di medulla spinalis.
Laserasi medulla spinalis merupakan lesi berat akibat trauma tulang belakang secara langsung karena
tertutup atau peluru yang dapat mematahkan / menggeserkan ruas tulang belakang (fraktur dan dislokasi). Lesi
transversa medulla spinalis tergantung pada segmen yang terkena (segmentransversa, hemitransversa, kuadran
transversa). hematomielia adalah perdarahan dalam medulla spinalis yang berbentuk lonjong dan bertempat di
substansia grisea. Trauma ini bersifat whiplash yaitu jatuh dari jarak tinggi dengan sifat badan berdiri, jatuh
terduduk, terdampar eksplosi atau fraktur dislokasio. Kompresi medulla spinalis terjadi karena dislokasi, medulla
spinalis dapat terjepit oleh penyempitan kanalis vertebralis.

Trauma Medula Spinalis| 24

Suatu segmen medulla spinalis dapat tertekan oleh hematoma ekstra meduler traumatic dan dapat juga
tertekan oleh kepingan tulang yang patah yang terselip diantara duramater dan kolumna vertebralis. Gejala yang
didapat sama dengan sindroma kompresi medulla spinalis akibat tumor, kista dan abses didalam kanalis vertebralis
Akibat hiperekstensi dislokasio, fraktur dan whislap radiks saraf spinalis dapat tertarik dan mengalami
jejas/reksis.pada trauma whislap, radiks columna 5-7 dapat mengalami hal demikian, dan gejala yang terjadi adalah
nyeri radikuler spontan yang bersifat hiperpatia, gambaran tersebut disebut hematorasis atau neuralgia radikularis
traumatik yang reversible. Jika radiks terputus akibat trauma tulang belakang, maka gejala defisit sensorik dan
motorik yang terlihat adalah radikuler dengan terputusnya arteri radikuler terutama radiks T.8 atau T.9 yang akan
menimbulkan defisit sensorik motorik pada dermatoma dan miotoma yang bersangkutan dan sindroma sistema
anastomosis anterial anterior spinal.
Kerusakan medula spinalis berkisar dari komosio sementara (dimana pasien sembuh sempurna) sampai
kontusio, laserasi dan kompresi substansi medula (baik salah satu maupun kombinasi). Sampai transeksi lengkap
medula (yang membuat pasien paralisis dibawah tingkat cidera).
Bila hemoragi terjadi pada daerah spinalis, darah dapat merembes ke extradural subdural atau daerah
subarahnoid pada kanal spinal. Segera Setelah terjadi kontusio atau robekan akibat cidera, serabut-serabut saraf
mulai membengkak dan hancur. Sirkulasi darah ke substansia griseria medula spinalis menjadi terganggu tidak
hanya hal ini saja yang terjadi pada cidera pembuluh darah medula spinalis, tetapi proses patogenik dianggap
menyebabkan kerusakan yang terjadi pada cedera medula spinalis akut. Suatu rantai sekunder kejadian-kejadian
yang menimbulkan iskemia, hipoksia, edema dan lesi-lesi hemoragi, yang pada gilirannya mengakibatkan keruskan
mielin dan akson.
Reaksi sekunder ini, diyakini penyebab prinsip desenerasi medula spinalis pada tingkat cidera, sekarang
dianggap reversibel 4 sampai 6 jam setelah cidera. Untuk itu jika kerusakan medula tidak dapat diperbaiki, maka
beberapa metode mengawali pengobatan dengan menggunakan kortikosteroid dan obat-obat anti inflamasi lainnya
yang dibutuhkan untuk mencegah kerusakan sebagian dari perkembangannya, masuk ke dalam kerusakan total
dan menetap
Akibat suatu trauma mengenai vertebrata mengakibatkan patah tulang belakang. Paling banyak servikalis,
lumbalis. Fraktur dapat berupa patah tulang sederhana kompresi dislokasia, sedangkan pada sumsum tulang
belakang dapat berupa memar / kontusio laserasi dengan / tanpa perdarahan. Blok syaraf simpatis pelepasan
mediator kimia iskemia, dan hipoksemia, syok spinal, gangguan fungsi kandung kemih. Lokasi cedera medula
spinalis umumnya mengenai C1 dan C2,C4,C6, dan T11 atau L2. Trauma medulla spinalis dapat terjadi pada
lumbal 1-5
1. Lesi L1: Kehilangan sensorik yaitu sama menyebar sampai lipat paha dan bagian dari bokong.
2. Lesi L2: Ekstremitas bagian bawah kecuali 1/3 atas dari anterior paha.
3. Lesi L3: Ekstremitas bagian bawah.
4. Lesi L4: Ekstremitas bagian bawah kecuali anterior paha.
5. Lesi L5: Bagian luar kaki dan pergelangan kaki.

Mekanisme utama terjadinya cedera vertebra adalah karena hiperekstensi, hiperfleksi, trauma kompresi
vertikal dan rotasi, bisa sendiri atau kombinasi. Cedera karena hiperekstensi paling umum terjadi pada area
cervikal dan kerusakan terjadi akibat kekuatan akselerasi deselerasi. Cedera akibat hiperfleksi terjadi akibat
regangan atau tarikan yang berlebihan, kompresi dan perubahan bentuk dari medula spinalis secara tiba tiba.
Kerusakan medula spinalis terjadi akibat kompresi tulang, herniasi disk, hematoma, edema, regangan jaringa
saraf dan gangguan sirkulasi pada spinal. Adanya perdarahan akibat trauma dari gray sampai white matter

Trauma Medula Spinalis| 25

menurunkan perfusi vaskuler dan menurunkan kadar oksigen dan menyebabkan iskemia pada daerah cedera.
Keadaan tersebut lebih lanjut mengakibatkan edema sel dan jaringan menjadi nekrosis. Sirkulasi dalam white
matter akan kembali menjadi normal kurang lenih 24 jam. Perubahan kimia dan metabolisme yang terjadi adalah
meningkatnya asam laktat dalam jaringan dan menurunnya kadar oksigen secara cepat 30 enit setelah trauma,
meningkatnya konsentrasi norephineprine. Meningkatnya norephineprine disebabkan karena efek sikemia, ruptur
vaskuler atau nekrosis jaringan saraf.
Trauma medula spinalis dapat menimbulkan renjatan spinal (spinal shock) yaitu terjadi jika kerusakan secara
tranversal sehingga mengakibatkan pemotongan komplit rangsangan. Pemotongan komplit rangsangan
menimbulkan semua fungsi reflektorik pada semua segmen di bawah garis kerusakan akan hilang. Fase renjatan
ini berlangsung beberpa minggu sampai beberapa bulan (3 6 minggu).
Trauma pada daerah leher dapat bermanifestasi pada kerusakan struktur kolumna vertebra, kompresi diskus,
sobeknya ligamentum servikalis, dan kompresi medula spinalis pada setiap sisinya dapat menekan spinal dan
bermanifestasi pada kompresi radiks, dan distribusi saraf sesuai segmen dari tulang belakang servikal.
TABEL Kondisi Patologis Saraf Spinal Akibat Cedera
Batas Cedera

Fungsi yang Hilang

C1 C 4

Hilangnya fungsi motorik dan sensorik leher ke bawah.


Paralisis pernafasan, tidak terkontrolnya bowel dan
blader.

C5

Hilangnya fungsi motorik dari atas bahu ke bawah.


Hilangnya

sensasi

di

bawah

klavikula.

Tidak

terkontrolnya bowel dan blader.


C6

Hilangnya fungsi motorik di bawah batas bahu dan


lengan. Sensasi lebih banyak pada lengan dan jempol.

C7

Fungsi motorik yang kurang sempurna pada bahu, siku,


pergelangan dan bagian dari lengan. Sensasi lebih
banyak pada lengan dan tangan dibandingkan pada
C6. Yang lain mengalami fungsi yang sama dengan
C5.

C8

Mampu mengontrol lengan tetapi beberapa hari lengan


mengalami kelemahan. Hilangnya sensai di bawah
dada.

T1-T6

Hilangnya kemampuan motorik dan sensorik di bawah


dada tengah. Kemungkinan beberapa otot interkosta
mengalami kerusakan. Hilangnya kontrol bowel dan
blader.

T6 T12

Hilangnya kemampuan motorik dan sensasi di bawah


pinggang.

Fungsi

pernafasan

sempurna

tetapi

hilangnya fngsi bowel dan blader.


L1 L3

Hilannya fungsi motorik dari plevis dan tungkai.


Hilangnya sensasi dari abdomen bagian bawah dan
tungkai. Tidak terkontrolnya bowel dan blader.

Trauma Medula Spinalis| 26

L4 S1

Hilangnya bebrapa fungsi motorik pada pangkal paha,


lutut dan kaki. Tidak terkontrolnya bowel dan blader.

S2 S4

Hilangnya

fungsi

motorik

ankle

plantar

fleksor.

Hilangnya sensai pada tungkai dan perineum. Pada


keadaan awal terjadi gangguan bowel dan blader.

Trauma pada servikal bisa menyebabkan cedera spinal stabil dan tidak stabil. Cedera stabil adalah cedera
yang komponen vertebralnya tidak akan tergeser oleh gerakan normal sehingga sumsum tulang yang tidak rusak
dan biasanya resikonya lebih rendah. Cedera tidak stabil adalah cedera yang dapat mengalami pergeseran lebih
jauh dimana terjadi perubahan struktur dari oseoligamentosa posterior (pedikulus, sendi-sendi permukaan, arkus
tulang posterior, ligamen interspinosa dan supraspinosa), komponen pertengahan (sepertiga bagian posterior
badan vertebral, bagian posterior dari diskus intervertebralis dan ligamen longitudinal posterior), dan kolumna
anterior (dua-pertiga bagian anterior korpus vertebra, bagian anterior diskus intervertebralis, dan ligamen
longitudinal anterior).
Pada cedera hiperekstensi servikal, pukulan pada muka atau dahi akan memaksa kepala kebelakang dan tak
ada yang menyangga oksiput hingga kepala itu membentur bagian atas punggung. Ligamen anterior dan diskus
dapat rusak atau arkus saraf mungkin mengalami kerusakan.
Pada cedera fleksi akan meremukan badan vertebra

menjadi baji; ini adalah cedera yang stabil dan

merupakan tipe fraktur vertebral yang paling sering ditemukan. Jika ligamen posterior tersobek, cedera bersifat tak
stabil dan badan vertebra bagian atas dapat miring ke depan diatas badan vertebra dibawahnya.
Cedera vertebra torako-lumbal bisa disebabkan oleh trauma langsung pada torakal atau bersifat patologis
seperti pada kondisi osteoporosis yang akan mengalami fraktur kompresi akibat keruntuhan tulang belakang.
Fraktur kompresi dan fraktur dislokasi biasanya stabil. Tetapi, kanalis spinalis pada segmen torakalis relatif sempit,
sehingga kerusakan korda sering ditemukan dengan adanya manifestasi defisit neurologis.
Kompresi vertikal (aksial); suatu trauma vertikal yang secara langsung mengenai vertebra yang akan
menyebabkan kompresi aksial. Nukleus pulposus akan memecahkan permukaan serta badan vertebra secara
vertikal. Material diskus akan masuk dalam badan vertebra dan menyebabkan vertebra menjadi pecah (burst).
Pada kondisi ini terjadi Burst Fracture, kerusakan pada badan tulang belakang dan medula spinalis secara klinis
akan lebih parah di mana apabila ligamen posterior sobek maka akan terjadi fraktur spinal tidak stabil.
Akibat kecelakaan, terpeleset, terjatuh dari motor, jatuh dari ketinggian dalam posisi berdiri menyebabkan
cedera pada kolumna vertebra dan medulla spinalis yang dapat menyebabkan gangguan pada beberapa system,
diantaranya :

1)

Kerusakan jalur simpatetik desending yang mengakibatkan terputusnya jaringan saraf medulla
spinalis, karena jaringan saraf ini terputus maka akan menimbulkan paralisis dan paraplegi pada
ekstremitas.

2)

Dari cedera tersebut akan menimbulkan perdarahan makroskopis yang akan menimbulkan reaksi
peradangan, dari reaksi peradangan tersebut akan melepaskan mediator kimiawi yang menyebabkan
timbulnya nyeri hebat dan akut, nyeri yang timbul berkepanjangan mengakibatkan syok spinal yang
apabila berkepanjangan dapat menurunkan tingkat kesadaran. Reaksi peradangan tersebut juga
menimbulkan juga menyebabkan edema yang dapat menekan jaringan sekitar sehingga aliran darah
dan oksigen ke jaringan tersebut menjadi terhambat dan mengalami hipoksia jaringan. Reaksi

Trauma Medula Spinalis| 27

anastetik yang ditimbulkan dari reaksi peradangan tersebut juga menimbulkan kerusakan pada
system eliminasi urine.
3)

Blok pada saraf simpatis juga dapat diakibatkan dari cedera tulang belakang yang menyebabkan
kelumpuhan otot pernapasan sehinggan pemasukan oksigen ke dalam tubuh akan menurun, dengan
menurunnya kadar oksigen ke dalam tubuh akan mengakibatkan tubuh berkompensasi dengan
meningkatkan frekuensi pernapasan sehingga timbul sesak.

Hiperekstensi. Jenis cedera ini umumnya mengenai klien dengan usia dewasa yang memiliki perubahan
degenerative vertebra,usia muda yang mendapat kecelakaan lalu lintas saat mengendarai kendaraan, dan usia
muda yang mengalami cedera leher saat menyelam.Jenis cedera ini menyebabkan medulla spinalis bertentangan
dengan ligamentum flava dan mengakibatkan kontusio kolom dan dislokasi vertebra.Transeksi lengkap dan
medulla spinalis dapat mengikuti cedera hiperekstensi.Lesi lengkap dari medulla spinalis mengakibatkan
kehilangan pergerakan volunter menurun pada daerah lesi dan kehilangan fungsi reflex pada isolasi bagian
medulla spinalis.
Kompresi. Cedera kompresi sering disebabkan karena jatuh atau melompat dari ketinggian dengan posisi kaki
atau bokong (duduk). Tekanan mengakibatkan fraktur vertebra dan menekan medulla spinalis .Diskus dan fragmen
tulang dapat masuk ke medulla spinalis .Lumbal dan toraks vertebra umumnya akan mengalami cedera serta
menyebabkan edema dan perdarahan. Edema pada medulla spinalis mengakibatkan kehilangan fungsi sensasi.
Trauma pada medula spinalis dapat bermanifestasi pada kerusakan struktur kolumna vertebra, kompresi
diskus, sobeknya ligamentum servikalis, torakalis, lumbal dan sakral, serta kompresi medula spinalis pada setiap
sisinya yang dapat bermanifestasi pada kompresi radiks dan distribusi saraf sesuai segmen dari tulang belakang.
Trauma pada medula spinalis bisa menyebabkan cedera spinal stabil maupun tidak stabil. Cedera stabil
adalah cedera yang komponen vertebralnya tidak akan tergeser oleh gerakan normal sehingga sumsum tulang
tidak rusak dan risikonya lebih rendah.
Cedera tidak stabil adalah cedera yang dapat mengalami pergeseran lebih jauh dimana terjadi perubahan
struktur dari oseoligamentosa posterior (pedikulus, sendi-sendi permukaan, komponen pertengahan dan kolumna
anterior.
Fleksi-rotasi, dislokasi, dislokasi fraktur, umumnya mengenai servikal pada C5 dan C6. Jika mengenai spina
torakalumbar, terjadi pada T12-L1. Fraktur lumbar adalah fraktur yang terjadi pada daerah tulang belakng bagian
bawah. Bentuk cedera ini mengenai ligamen, fraktur vertebra, kerusakan pembuluh darah, dan mengakibatkan
iskemia pada medulla spinalis.

1.5 Mekanisme Terjadinya Cedera Medulla Spinalis


1. Fleksi
Trauma terjadi akibat fleksi dan disertai dengan sedikit kompresi pada vertebra. Vertebra mengalami
tekanan berbentuk remuk yang dapat menyebabkan kerusakan atau tanpa kerusakan ligamen posterior. Apabila
terdapat kerusakan ligamen posterior, maka fraktur bersifat tidak stabil dan dapat terjadi subluksasi

2. Fleksi dan rotasi


Trauma jenis ini merupakan suatu trauma fleksi yang bersama-sama dengan rotasi. Terdapat strain dari
ligamen dan kapsul, juga ditemukan fraktur faset. Pada keadaan ini terjadi pergerakan kedepan/dislokasi vertebra
di atasnya. Semua fraktur dislokasi bersifat tidak stabil.

Trauma Medula Spinalis| 28

3. Kompresi Vertikal (aksial)


Suatu trauma vertikal yang secara langsung mengenai vertebra yang akan menyebabkan kompresi aksial.
Nukleus pulposus akan memecahkan permukaan serta badan vertebra secara vertikal. Material diskus akan masuk
dalam badan vertebra dan menyebabkan vertebra menjadi rekah (pecah). Pada trauma ini elemen posterior masih
intak sehingga fraktur yang terjadi bersifat stabil

4. Hiperekstensi atau retrofleksi


Biasanya terjadi hiperekstensi sehingga terjadi kombinasi distraksi dan ekstensi. Keadaan ini sering
ditemukan pada vertebra servikal dan jarang pada vertebra torako-lumbalis. Ligamen anterior dan diskus dapat
mengalami kerusakan atau terjadi fraktur pada arkus neuralis. Fraktur ini biasanya bersifat stabil.

5. Fleksi lateral
Kompresi atau trauma distraksi yang menimbulkan fleksi lateral akan menyebabkan fraktur pada komponen
lateral, yaitu pedikel, foramen vertebra, dan sendi faset.

6. Fraktur dislokasi
Suatu trauma yang menyebabkan terjadinya fraktur tulang belakang dan terjadi dislokasi pada ruas tulang
belakang

Berikut ini adalah mekanisme cedera tumpul spinal menurut Campbell (2004 ; 131) :
1. Hiperektensi
Kepala dan leher bergerak ke belakang / hiperektensi secara berlebihan.
2. Hiperfleksi
Ke pala di atas dada bergerak ke depan / heperfleksi dengan berlebihan.
3. Kompresi
Bobot tubuh dari kepala hingga pelvis mengakibatkan penekanan pada leher atau batang tubuh.
4. Rotasi
Rotasi yang berlebih dari batang tubuh atau kepala dan leher sehingga terjadi pergerakan berlawanan arah
dari kolumna spinalis.
5. Penekanan ke samping
Pergerakan ke samping yang berlebih menyebabkan pergeseran dari kolumna spinalis.
6. Distraksi
Peregangan yang berlebihan dan kolumna spinalis dan spinal cord.

Faktor yang membedakan cedera medulla spinalis dengan cedera kranio serebral adalah:

1. Konsentrasi yang tinggi dari traktus dan pusat saraf yang


penting dalam suatu struktur yang diameternya relative kecil.
2. Posisi medulla spinalis dalam kolumna vertebralis
3. Adanya osteofit
4. Fariasi suplai pembuluh darah

Trauma Medula Spinalis| 29

Efek pada jaringan saraf paling penting pada medula spinalis, ada 4 mekanisme yang mendasari:
1.

Kompresi oleh tulang, ligamen, benda asing, dan hematoma. Kerusakan paling berat disebabkan
oleh kompresi tulang, kompresi dari fragmen korpus vertebra yang tergeser ke belakang, dan cedera
hiperekstensi.

2.

Tarikan/regangan

jaringan:

regangan

yang

berlebihan

yang

menyebabkan

gangguan jaringan biasanya setelah hiperfleksi.


Toleransi regangan pada mendula spinalis menurun sesuai dengan usia yang bertambah.
3.

Edema medula

spinalis timbul segera

dan

menimbulkan

gangguan

sirkulasi

kapiler

lebih

lanjut serta aliran balik vena, yang menyertai cedera primer.


4.

Gangguan sirkulasi merupakan hasil kompresi oleh tulang atau struktur lain pada sistem arteri
spinalis posterior atau anterior.

Menurut Arif Mutaqim, (2005, hal. 99) jenis-jenis trauma pada sumsum tulang belakang dan saraf
tulang belakang adalah:
a.

Transeksi tidak total.


Transeksi tidak total disebabkan oleh trauma fleksi atau ekstensi karena terjadi pergeseran lamina di
atap dan pinggir vertebra yang mengatami fraktur di sebelah bawah. Selain itu, dapat terjadi
perdarahan pada sumsum tulang yang disebut hematomielia.

b.

Transeksi total.
Transeksi total terjadi akibat suatu trauma yang menyebabkan fraktur dislokasi. Fraktur tersebut
disebabkan oleh fleksi atau rotasi yang dapat menyebabkan hilangnya fungsi segmen di bawah
trauma

1.6 Klasifikasi Cedera Medulla Spinalis


Berdasarkan sifat kondisi fraktur yang terjadi, Kelly dan Whitesides mengkategorikan cedera spinal menjadi
cedera stabil dan cedera non-stabil. Cedera stabil mencakup cedera kompresi korpus vertebra baik anterior atau
lateral dan burst fracture derajat ringan. Sedangkan cedera yang tidak stabil mencakup cedera fleksi-dislokasi,
fleksi-rotasi, dislokasi-fraktur (slice injury), dan burst fracture hebat.
1. Cedera stabil
Bila kemampuan fragmen tulang tidak memengaruhi kemampuan untuk bergeser lebih jauh selain yang
terjadi saat cedera. Komponen arkus neural intak serta ligament yang menghubungkan ruas tulang belakang,
terutama ligament longitudinal posterior tidak robek. Cedera stabil disebabkan oleh tenga fleksi, ekstensi, dan
kompresi yang sederhana terhadap kolumna tulang belakang dan paling sering tampakd pada daerah toraks
bawah serta lumbal (fruktur baji badan ruas tulang belakang sering disebabkan oleh fleksi akut pada tulang
belakang).
a. Fleksi
Cedera fleksi akibat fraktura kompresi baji dari vertebra torakolumbal umum ditemukan dan stabil.
Kerusakan

neurologik

tidak

lazim

ditemukan.

Cedera

ini

menimbulkan

rasa

sakit,

dan

penatalaksanaannya terdiri atas perawatan di rumah sakit selama beberapa hari istorahat total di
tempat tidur dan observasi terhadap paralitik ileus sekunder terhadap keterlibatan ganglia simpatik.
Jika baji lebih besar daripada 50 persen, brace atau gips dalam ekstensi dianjurkan. Jika tidak,
analgetik, korset, dan ambulasi dini diperlukan. Ketidaknyamanan yang berkepanjangan tidak lazim
ditemukan.

Trauma Medula Spinalis| 30

b. Fleksi ke Lateral dan Ekstensi


Cedera ini jarang ditemukan pada daerah torakolumbal. Cedera ini stabil, dan defisit neurologik
jarang. Terapi untuk kenyamanan pasien (analgetik dan korset) adalah semua yang dibutuhkan.

c. Kompresi Vertikal
Tenaga aksial mengakibatkan kompresi aksial dari 2 jenis : (1) protrusi diskus ke dalam lempeng akhir
vertebral, (2) fraktura ledakan. Yang pertama terjadi pada pasien muda dengan protrusi nukleus
melalui lempeng akhir vertebra ke dalam tulang berpori yang lunak. Ini merupakan fraktura yang
stabil, dan defisit neurologik tidak terjadi. Terapi termasuk analgetik, istirahat di tempat tidur selama
beberapa hari, dan korset untuk beberapa minggu. Meskipun fraktura ledakan agak stabil,
keterlibatan neurologik dapat terjadi karena masuknya fragmen ke dalam kanalis spinalis. CT-Scan
memberikan informasi radiologik yang lebih berharga pada cedera. Jika tidak ada keterlibatan
neurologik, pasien ditangani dengan istirahat di tempat tidur sampai gejala-gejala akut menghilang.
Brace atau jaket gips untuk menyokong vertebra yang digunakan selama 3 atau 4 bulan
direkomendasikan. Jika ada keterlibatan neurologik, fragmen harus dipindahkan dari kanalis neuralis.
Pendekatan bisa dari anterior, lateral atau posterior. Stabilisasi dengan batang kawat, plat atau graft
tulang penting untuk mencegah ketidakstabilan setelah dekompresi.

2. Cedera Tidak Stabil


Fraktur memengaruhi kemampuan untuk bergeser lebih jauh. Hal ini disebabkan oleh adanyan elemen
rotasi terhadap cedera fleksi atau ekstensi yang cukup untuk merobek ligament longitudinal posterior serta
merusak keutuhan arkus neural, baik akibat fraktur pada fedekel dan lamina, maupun oleh dislokasi sendi
apofiseal.
a. Cedera Rotasi Fleksi
Kombinasi dari fleksi dan rotasi dapat mengakibatkan fraktura dislokasi dengan vertebra yang sangat
tidak stabil. Karena cedera ini sangat tidak stabil, pasien harus ditangani dengan hati-hati untuk
melindungi medula spinalis dan radiks. Fraktura dislokasi ini paling sering terjadi pada daerah
transisional T10 sampai L1 dan berhubungan dengan insiden yang tinggi dari gangguan
neurologik. Setelah radiografik yang akurat didapatkan (terutama CT-Scan), dekompresi dengan
memindahkan unsur yang tergeser dan stabilisasi spinal menggunakan berbagai alat metalik
diindikasikan.
b. Fraktura Potong
Vertebra dapat tergeser ke arah anteroposterior atau lateral akibat trauma parah. Pedikel atau
prosesus artikularis biasanya patah. Jika cedera terjadi pada daerah toraks, mengakibatkan
paraplegia lengkap. Meskipun fraktura ini sangat tidak stabil pada daerah lumbal, jarang terjadi
gangguan neurologi karena ruang bebas yang luas pada kanalis neuralis lumbalis. Fraktura ini
ditangani seperti pada cedera fleksi-rotasi.
c. Cedera Fleksi-Rotasi
Change fracture terjadi akibat tenaga distraksi seperti pada cedera sabuk pengaman. Terjadi
pemisahan horizontal, dan fraktura biasanya tidak stabil. Stabilisasi bedah direkomendasikan.

Trauma Medula Spinalis| 31

Klasifikasi trauma Medula Spinalis


Trauma medula spinalis dapat diklasifikasikan :
1. Komosio modula spinalis adalah suatu keadaan dimana fungsi mendula spinalis hilang sementara tanpa
disertai gejala sisa atau sembuh secara sempurna. Kerusakan pada komosio medula spinalis dapat berupa
edema, perdarahan verivaskuler kecil-kecil dan infark pada sekitar pembuluh darah.
2. Komprensi medula spinalis berhubngan dengan cedera vertebral, akibat dari tekanan pada edula spinalis.
3. Kontusio adalah kondisi dimana terjadi kerusakan pada vertebrata, ligament dengan terjadinya
perdarahan, edema perubahan neuron dan reaksi peradangan.
4. Laserasio medula spinalis merupakan kondisi yang berat karena terjadi kerusakan medula spinalis.
Biasanya disebabkan karena dislokasi, luka tembak. Hilangnya fungsi medula spinalis umumnya bersifat
permanen.

2.5

Manifestasi Klinis
Gambaran klinik tergantung pada lokasi dan besarnya kerusakan yang terjadi. Kerusakan meningitis;lintang

memberikan gambaran berupa hilangnya fungsi motorik maupun sensorik kaudal dari tempat kerusakan disertai
shock spinal. Shock spinal terjadi pada kerusakan mendadak sumsum tulang belakang karena hilangnya rangsang
yang berasal dari pusat. Peristiwa ini umumnya berlangsung selama 1-6 minggu, kadang lebih lama. Tandanya
adalah kelumpuhan flasid, anastesia, refleksi, hilangnya fersfirasi, gangguan fungsi rectum dan kandung kemih,
triafismus, bradikardia dan hipotensi. Setelah shock spinal pulih kembali, akan terdapat hiperrefleksi terlihat pula
pada tanda gangguan fungsi otonom, berupa kulit kering karena tidak berkeringat dan hipotensi ortostatik serta
gangguan fungsi kandung kemih dan gangguan defekasi (Price &Wilson (1995).
Sindrom sumsum belakang bagian depan menunjukkan kelumpuhan otot lurik dibawah tempat kerusakan
disertai hilangnya rasa nyeri dan suhu pada kedua sisinya, sedangkan rasa raba dan posisi tidak terganggu (Price
&Wilson (1995).
Cedera sumsum belakang sentral jarang ditemukan. Keadaan ini pada umumnnya terjadi akibat cedera
didaerah servikal dan disebabkan oleh hiperekstensi mendadak sehinnga sumsum belakang terdesak dari dorsal
oleh ligamentum flavum yang terlipat.cedera tersebut dapat terjadi pada orang yang memikul barang berat diatas
kepala, kemudian terjadi gangguan keseimbangan yang mendadak sehingga beban jatuh dan tulang belakang
sekonyong-konyong di hiperekstensi. Gambaran klinik berupa tetraparese parsial. Gangguan pada ekstremitas atas
lebih ringan daripada ekstremitas atas sedangkan daerah perianal tidak terganggu (Aston. J.N, 1998).
Kerusakan tulang belakang setinggi vertebra lumbal 1 dan 2 mengakibatkan anaestesia perianal, gangguan
fungsi defekasi, miksi, impotensi serta hilangnya refleks anal dan refleks bulbokafernosa (Aston. J.N, 1998).

Manifestasi Klinis Trauma Medula Spinalis (Brunner dan Suddarth, 2001)


a.

Nyeri akut pada belakang leher, yang menyebar sepanjang saraf yang terkena

b.

Paraplegia

c.

Tingkat neurologik

d.

Paralisis sensorik motorik total

e.

Kehilangan kontrol kandung kemih (refensi urine, distensi kandung kemih)

f.

Penurunan keringat dan tonus vasomoto

g.

Penurunan fungsi pernafasan

h.

Gagal nafas

Trauma Medula Spinalis| 32

i.

Pasien biasanya mengatakan takut leher atau tulang punggungnya patah

j.

Kehilangan kontrol kandung kemih dan usus besar

k.

Biasanay terjadi retensi urine, dan distensi kandung kemih, penurunan keringat dan tonus vasomotor,
penurunan tekana darah diawalai dengan vaskuler perifer.

l.

Penurunan fungsi pernafasan sampai pada kegagalan pernafasan

m. Kehilangan kesadaran
n.

Kelemahan motorik ekstermitas atas lebih besar dari ekstermitas bawah

o.

Penurunan keringat dan tonus vasomotor

2.8 Tanda dan Gejala


Tanda spinal shock (pemotongan komplit ransangan), meliputi: Flaccid paralisis dibawah batas luka, hilangnya
sensasi dibawah batas luka, hilangnya reflek-reflek spinal dibawah batas luka, hilangnya tonus vaso motor
(Hipotensi),Tidak ada keringat dibawah batas luka, inkontinensia urine dan retensi feses berlangsung lama
hiperreflek/paralisis spastic
Pemotongan sebagian rangsangan: tidak simetrisnya flaccid paralisis, tidak simetrisnya hilangnya reflek
dibawah batas luka, beberapa sensasi tetap utuh dibawah batas luka, vasomotor menurun, menurunnya blader
atau bowel, berkurangnya keluarnya keringat satu sisi tubuh.

Tanda dan Gejala Cedera Medula Spinalis


Tanda dan gejala cedera medula spinalis tergantung dari tingkat kerusakan dan lokasi kerusakan.
Dibawah garis kerusakan terjadi misalnya hilangnya gerakan volunter, hilangnya sensasi nyeri, temperature,
tekanan dan proprioseption, hilangnya fungsi bowel dan bladder dan hilangnya fungsi spinal dan refleks autonom.
1. Perubahan refleks
Setelah terjadi cedera medula spinalis terjadi edema medula spinalis sehingga stimulus refleks juga
terganggu misalnya rfeleks p[ada blader, refleks ejakulasi dan aktivitas viseral.
2. Spasme otot
Gangguan spame otot terutama terjadi pada trauma komplit transversal, dimana pasien trejadi
ketidakmampuan melakukan pergerakan.
2. Spinal shock
Tanda dan gejala spinal shock meliputi flacid paralisis di bawah garis kerusakan, hilangnya sensasi,
hilangnya refleks refleks spinal, hilangnya tonus vasomotor yang mengakibatkan tidak stabilnya
tekanan darah, tidak adanya keringat di bawah garis kerusakan dan inkontinensia urine dan retensi
feses.
3. Autonomik dysrefleksia
Terjadi pada cedera T6 keatas, dimana pasien mengalami gangguan refleks autonom seperti terjadinya
bradikardia, hipertensi paroksismal, distensi bladder.
4. Gangguan fungsi seksual.
Banyak kasus memperlihatkan pada laki laki adanya impotensi, menurunnya sensai dan kesulitan
ejakulasi. Pasien dapat ereksi tetapi tidak dapat ejakulasi.

Menurut menurut ENA (2000 : 426), tanda dan gejala adalah sebagai berikut:
1) Pernapasan dangkal
2) Penggunaan otot-otot pernapasan

Trauma Medula Spinalis| 33

3) Pergerakan dinding dada


4) Hipotensi (biasanya sistole kurang dari 90 mmHg)
5) Bradikardi
6) Kulit teraba hangat dan kering
7) Poikilotermi (Ketidakmampuan mengatur suhu tubuh, yang mana suhu tubuh bergantung pada suhu
lingkungan)
8) Kehilangan sebagian atau keseluruhan kemampuan bergerak
9) Kehilangan sensasi
10) Terjadi paralisis, paraparesis, paraplegia atau quadriparesis/quadriplegia
11) Adanya spasme otot, kekakuan

Menurut menurut Campbell (2004 ; 133)


1) Kelemahan otot
2) Adanya deformitas tulang belakang
3) Adanya nyeri ketika tulang belakang bergerak
4) Terjadinya perubahan bentuk tulang servikal akibat cedera
5) Kehilangan control dalam eliminasi urin dan feses,
6) Terjadinya gangguan pada ereksi penis (priapism)
2.9 Prognosis
Pasien dengan cedera medula spinalis komplet hanya mempunyai harapan untuk sembuh kurang dari 5%.
Jika kelumpuhan total telah terjadi selama 72 jam, maka peluang untuk sembuh menjadi tidak ada. Jika sebagian
fungsi sensorik masih ada, maka pasien mempunyai kesempatan untuk dapat berjalan kembali sebesar 50%.
Secara umum, 90% penderita cedera medula spinalis dapat sembuh dan mandiri
1. Sumsum tulang belakang memiliki kekuatan regenerasi.yang sangat terbatas
2. Pasien dengan complete cord injury memiliki kesempatan recovery yang sangat rendah, terutama jika
paralysis berlangsung selama lebih dari 72 jam.
3. Prognosis jauh lebih baik untuk incomplete cord syndromes
4. Prognosis untuk cervical spine fractures and dislocations sangat bervariasi, tergantung pada tingkat
kecacatan neurologis
5. Prognosis untuk defisit neurologis tergantung pada besarnya kerusakansaraf tulang belakang pada saat
onset.
6. Selain disfungsi neurologis, prognosis juga ditentukan oleh pencegahandan keefektifan pengobatan infeksi misalnya, pneumonia, dan infeksisaluran kemih.
7. Secara umum, sebagian besar individu mendapatkan kembali beberapafungsi motorik, terutama dalam enam
bulan pertama, meskipun mungkinada perbaikan lebih lanjut yang perlu diamati diamati di tahun akan
dating.(Tidy, 2014)

2.10 Komplikasi
Efek dari cedera kord spinal akut mungkin mengaburkan penilaian atas cedera lain dan mungkin juga
merubah respon terhadap terapi. 60% lebih pasien dengan cedera kord spinal bersamaan dengan cedera major:
kepala atau otak, toraks, abdominal, atau vaskuler. Berat serta jangkauan cedera penyerta yang berpotensi
didapat dari penilaian primer yang sangat teliti dan penilaian ulang yang sistematik terhadap pasien setelah

Trauma Medula Spinalis| 34

cedera

kord spinal. Dua penyebab kematian utama setelah cedera kord spinal adalah aspirasi dan

syok. (Wikipedia, Maret, 2009).


Kerusakan medula spinalis dari komorsio sementara (dimana pasien sembuh sempurna) sampai kontusio,
laserasi, dan komperensi substansi medula (baik salah satu atau dalam kombinasi), sampai transaksi lengkap
medula (yang membuat pasien paralisis dibawah tingkat cidera).
Bila hemoragi terjadi pada daerah spinalis, darah dapat merembes keekstra dural, subdural, atau daerah
subarakhloid pada kanal spinal. Setelah terjadi kontisio atau robekan akibat cidera, serabut-serabut saraf mulai
membengkak dan hancur. Sirkulsi darah kesubtansia grisea medula spinalis menjadi terganggu.
Daerah lumbal adalah daerah yang paling sering mengalami herniasi nukleus pulposus. Kandungan air
diskus berkurang bersamaa dengan bertambahnya usia. Selain itu, serabut-serabut itu menjadi kasar dan
mengalami hialinisasi yang ikut membantu terjadinya perubahan kearah hernia nukleus pulposus melalui anulus,
dan menekan radiks saraf spinal.

1. Pendarahan mikroskopik
Pada semua cedera madula spinalis atau vertebra, terjadi perdarahan-perdarahan kecil. Yang disertai
reaksi peradangan, sehingga menyebabkan pembengkakan dan edema dan mengakibatkan terjadinya peningkatan
tekanan didalam dan disekitar korda. Peningkatan tekanan menekan saraf dan menghambat aliran darah sehingga
terjadi hipoksia dan secara drastis meningkatkan luas cidera korda. Dapat timbul jaringan ikat sehingga saraf
didarah tersebut terhambat atau terjerat.
2. Hilangnya sensasi, kontrol motorik, dan refleks.
Pada cedera spinal yang parah, sensasi, kontrol motorik, dan refleks setinggi dan dibawah cidera korda
lenyap. Hilangnya semua refleks disebut syok spinal. Pembengkakan dan edema yang mengelilingi korda dapat
meluas kedua segmen diatas kedua cidera. Dengan demkian lenyapnya fungsi sensorik dan motorik serta syok
spinal dapat terjadi mulai dari dua segmen diatas cidera. Syok spnal biasanya menghilang sendiri, tetap hilangnya
kontrol sensorik dan motorik akan tetap permanen apabila korda terputus akan terjadi pembengkakan dan hipoksia
yang parah.

3. Syok spinal.
Syok spinal adalah hilangnya secara akut semua refleks-refleks dari dua segmen diatas dan dibawah
tempat cidera. Refleks-refleks yang hilang adalah refleks yang mengontrol postur, fungsi kandung kemih dan
rektum, tekanan darah, dan pemeliharaan suhu tubuh. Syok spinal terjadi akibat hilangnya secara akut semua
muatan tonik yang secara normal dibawah neuron asendens dari otak, yang bekerja untuk mempertahankan fungsi
refleks. Syok spinl biasanya berlangsung antara 7 dan 12 hari, tetapi dapat lebih lama. Suatu syok spinal berkurang
dapat tmbul hiperreflekssia, yang ditadai oleh spastisitas otot serta refleks, pengosongan kandung kemih dan
rektum.

4. Hiperrefleksia otonom.
Kelainan ini dapat ditandai oleh pengaktipan saraf-saraf simpatis secar refleks, yang meneyebabkan
peningkatan tekanan darah. Hiper refleksia otonom dapat timbul setiap saat setelah hilangnya syok spinal. Suatu
rangsangan sensorik nyeri disalurkan kekorda spnalis dan mencetukan suatu refleks yang melibatkan pengaktifan
sistem saraf simpatis. Dengan diaktifkannya sistem simpatis, maka terjadi konstriksi pembuluh-pembuluh darah
dan penngkatan tekanan darah sistem

Trauma Medula Spinalis| 35

Pada orang yang korda spinalisnya utuh, tekanan darahnya akan segera diketahui oleh baroreseptor.
Sebagai respon terhadap pengaktifan baroreseptor, pusat kardiovaskuler diotak akan meningkatkan stimulasi
parasimpatis kejantung sehingga kecepatan denyut jantunhg melambat,demikian respon saraf simpatis akan
terhenti dan terjadi dilatasi pembuluh darah. Respon parasimpatis dan simpatis bekerja untuk secara cepat
memulihkan tekanan darah kenormal. Pada individu yang mengalami lesi korda, pengaktifan parasimpatis akan
memperlambat kecepatan denyut jantung dan vasodilatasi diatas tempat cedera, namun saraf desendens tidak
dapat melewati lesi korda sehngga vasokontriksi akibat refleks simpatis dibawah tingkat tersebut terus
berlangsung.
Pada hiperrefleksia otonom, tekanan darah dapat meningkat melebihi 200 mmHg sistolik, sehingga terjadi
stroke atau infark miokardium. Rangsangan biasanya menyebabkan hiperrefleksia otonom adalah distensi
kandung kemih atau rektum,atau stimulasi reseptor-reseptor permukaan untuk nyeri.
1. Paralisis
Paralisis adalah hilangnya fungsi sensorik dan motorik volunter. Pada transeksi korda spinal, paralisis
bersifat permanen. Paralisis ekstremitas atas dan bawah terjadi pada transeksi korda setinggi C6 atau lebih tinggi
dan disebut kuadriplegia. Paralisis separuh bawah tubuh terjadi pada transeksi korda dibawah C6 dan disebut
paraplegia. Apabila hanya separuh korda yang mengalami transeksi maka dapat terjadi hemiparalisis.
2. Autonomic Dysreflexia
Terjadi adanya lesi diatas T6 dan Cervical. Bradikardia, hipertensi paroksimal, berkeringat banyak, sakit
kepala berat, goose flesh, nasal stuffness
3. Fungsi Seksual
Impotensi, menurunnya sensasi dan kesulitan ejakulasi, pada wanita kenikmatan seksual berubah
4. Syok hipovolemik
Akibat perdarahan dan kehilangan cairan ekstrasel ke Jaringan yang rusak sehingga terjadi kehilangan
darah dalam jumlah besar akibat trauma.

5. Tromboemboli, infeksi, kaogulopati intravaskuler diseminata (KID).


Infeksi terjadi karena adanya kontaminasi kuman pada fraktur terbuka atau pada saat pembedahan dan
mungkin pula disebabkan oleh pemasangan alat seperti plate, paku pada fraktur.
6. Emboli lemak
Saat fraktur, globula lemak masuk ke dalam darah karena tekanan sumsum tulang lebih tinggi dari tekanan
kapiler. Globula lemak akan bergabung dengan trombosit dan membentuk emboli yang kemudian menyumbat
pembuluh darah kecil, yang memasok ke otak, paru, ginjal, dan organ lain.

Adapun komplikasinya adalah sebagai berikut :


1. Neurogenik shock
2. Hipoksia
3. Gangguan paru-paru
4. Instabilitas spinal
5. Orthostatic hypotensi
6. Ileus paralitik
7. Infeksi saluran kemih
8. Kontraktur

Trauma Medula Spinalis| 36

9. Dekubitus
10. Inkontinensia bladder
11. Konstipasi
12. Trombosis vena profunda
13. Gagal napas
14. Hiperefleksia autonomik
15. Infeksi
2.11 Pemeriksaan Diagnostik dan Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan Diagnostik Meliputi:
a.

Pemeriksaan neurologis lengkap secara teliti segera setelah pasien tiba di rumah sakit

b.

Pemeriksaan tulang belakang: deformasi, pembengkakan, nyeri tekan, gangguan gerakan(terutama


leher)

c.

Pemerikaan Radiologis: foto polos vertebra AP dan lateral. Pada servikal diperlukan proyeksi khusus
mulut terbuka (odontoid).

d.

Bila hasil meragukan lakukan ST-Scan,bila terdapat defisit neurologi harus dilakukan MRI atau CT
mielografi.

Pemeriksan diagnostik dengan cara :


a.

Sinar X spinal
Menentukan lokasi dan jenis Trauma tulan (fraktur, dislokasi), unutk kesejajaran, reduksi setelah
dilakukan traksi atau operasi

b.

CT-Scan
Menentukan tempat luka / jejas, mengevaluasi ganggaun struktural

c.

MRI
Mengidentifikasi adanya kerusakan saraf spinal, edema dan kompresi

d.

Mielografi.
Untuk memperlihatkan kolumna spinalis (kanal vertebral) jika faktor putologisnya tidak jelas atau
dicurigai adannya dilusi pada ruang sub anakhnoid medulla spinalis (biasanya tidak akan dilakukan
setelah mengalami luka penetrasi).

e.

Foto rontgen thorak, memperlihatkan keadan paru (contoh : perubahan pada diafragma, atelektasis)

f.

Pemeriksaan fungsi paru (kapasitas vita, volume tidal) : mengukur volume inspirasi maksimal
khususnya pada pasien dengan trauma servikat bagian bawah atau pada trauma torakal dengan
gangguan pada saraf frenikus /otot interkostal).

g.

GDA : Menunjukan kefektifan penukaran gas atau upaya ventilasi

h.

Serum kimia, adanya hiperglikemia atau hipoglikemia, ketidakseimbangan elektrolit, kemungkinan


menurunnya Hb dan Hmt.

i.

Urodinamik, proses pengosongan bladder.

Gambaran anatomi dari servikal memberikan parameter pada perawat setiap adanya kelainan atau
perubahan yang didapat pada pemeriksaan diahnostik. Pada pemeriksaan radiologis servikal didapatkan:
1. Fraktur odontoid didapatkan gambaran pergeseran tengkorak ke depan
2. Fraktur C2 didapatkan gambaran fraktur
3. Fraktur pada badan vertebra

Trauma Medula Spinalis| 37

4. Fraktur kompresi
5. Subluksasi pada tulang belakang servikal
6. Dislokasi pada tulang belakang servikal

Pemeriksaan Diagnostik
Rontgen foto
Pemeriksaan positif AP, lateral dan obliq dilakukan untuk menilai:
1.

Diameter anteroposterior kanal spinal

2.

Kontur, bentuk, dan kesejajaran vertebra

3.

Pergerakan fragmen tulang dalam kanal spinal

4.

Keadaan simetris dari pedikel dan prosesus spinosus

5.

Ketinggian ruangan diskus intervertebralis

Fraktur dapat menyebabkan fragmen tulang terpisah dari vertebra atau menglami penekanan disertai
hilangnya ketinggian dari badan vertebra, yang sering kali disertai desakan dibagian anterior. Mungkin terdapat
kehilangan kurvatura aspek posterior yang normal dari badan vertebra. Fragmen-fragmen tulang dapat bergeser ke
posterior ke dalam kanalis spinalis sehingga terjadi defisit neurologis.

CT Scan dan MRI


CT Scan dan MRI bermanfaat untuk menunjukkan tingkat penyumbatan kanalis spinalis. Pada fraktur
dislokasi cedera paling sering terjadi pada sambungan torako-lumbal dan biasanya disertai dengan kerusakan pada
bagian terbawah korda atau kauda ekuina. Klien harus diperiksa dengan sangat hati-hati agar tidak
membahayakan korda atau akar saraf lebih jauh

2.12 Penatalaksanaan

a. Penatalaksanaan Kedaruratan
Pasien segera ditempat kejadian adalah sangat penting, karena penatalaksanaan yang tidak tepat dapat
menyebabkan kerusakan kehilangan fungsi neurologik. Korban kecelakaan kendaraan bermotor atau kecelakaan
berkendara, Trauma olahraga kontak, jatuh, atau trauma langsung pada kepala dan leher dan leher harus
dipertimbangkan mengalami Trauma medula spinalis sampai bukti Trauma ini disingkirkan.
1)

Ditempat kecelakaan, korban harus dimobilisasi pada papan spinal (punggung), dengan kepala dan
leher dalam posisi netral, untuk mencegah Trauma komplit.

2)

Salah satu anggota tim harus menggontrol kepala pasien untuk mencegah fleksi, rotasi atau ekstensi
kepala.

3)

Tangan ditempatkan pada kedua sisi dekat telinga untuk mempertahankan traksi dan kesejajaran
sementara papan spinalatau alat imobilisasi servikal dipasang.

4)

Paling sedikit empat orangharus mengangkat korban dengan hati- hati keatas papan untuk
memindahkan memindahkan kerumah sakit. Adanya gerakan memuntir dapat merusak medula
spinais ireversibel yang menyebabkan fragmen tulang vertebra terputus, patah, atau memotong
medula komplit

Sebaiknya pasien dirujuk ke Trauma spinal regional atau pusat trauma karena personel multidisiplin dan
pelayanan pendukung dituntut untuk menghadapi perubahan dekstruktif yang tejadi beberapa jam pertama setelah
Trauma. Memindahkan pasien, selama pengobatan didepartemen kedaruratan dan radiologi, pasien dipertahankan

Trauma Medula Spinalis| 38

diatas papan pemindahan. Pemindahan pasien ketempat tidur menunjukkan masalah perawat yang pasti. Pasien
harus dipertahankan dalam posisi eksternal. Tidak ada bagian tubuh yang terpuntir atau tertekuk, juga tidak boleh
pasien dibiarkan mengambil posisi duduk.
Pasien harus ditempatkan diatas sebuah stryker atau kerangka pembalik lain ketika merencanakan
pemindahan ketempat tidur. Selanjutnya jika sudah terbukti bahwa ini bukan Trauma medula, pasien dapat
dipindahkan ketempat tidur biasa tanpa bahaya.Sebaliknya kadang-kadang tindakan ini tidak benar. Jika stryker
atau kerangka pembalik lain tidak tersedia pasien harus ditempatkan diatas matras padat dengan papan tempat
tidur dibawahnya.

b. Penatalaksanaan Trauma Medula Spinalis (Fase Akut)


Tujuan penatalaksanaan adalah untuk mencegah Trauma medula spinalis lebih lanjut dan untuk
mengobservasi gejala perkembangan defisit neurologis. Lakukan resusitasi sesuai kebutuhan dan pertahankan
oksigenasi dan kestabilan kardiovaskuler.

Penatalaksanaan medis
1.

Terjadi dilakukan untuk mempertahankan fungsi neurologis yang masih ada, memaksimalkan
pemulihan neurologis, tindakan atau cedera lain yang menyertai, mencegah, serta metu rnengobati
komplikasi dan kerusakan neurallebih lanjut. Reabduksi atau sublukasi (dislokasi sebagian pada sendi
di salah satu tulang-ed). Untuk mendekopresi koral spiral dan tindakan imobilisasi tulang belakang
untuk melindungi koral spiral.

2.

Operasi lebih awal sebagai indikasi dekompresi neural, fiksasi internal,atau debridement luka terbuka.

3.

Fiksasi internal elektif dilakukan pada klien dengan ketidak stabilan tulang belakang, cedera ligamen
tanpa fraktur, deformitas tulang belakang, progresif, cedara yang tak dapat di reabduksi, dan fraktur
non-union.

4.

Terapi steroid, nomidipin, atau dopamin untuk perbaikan aliran darah koral spiral. Dosis tertinggi metil
prednisolin/bolus adalah 30 mg/kg BB diikuti 5,4 mg/kgBB/jamberikutnya. Bila diberikan dalam 8 jam
sejak cedera akan memperbaiki pemulihan neurologis. Gangliosida mungkin juga akan memperbaiki
pemulihan setelah cedera koral spiral.

5.

Penilaian keadaan neurologis setiap jam, termasuk pengamatan fungsi sensorik, motorik, dan penting
untuk melacak defisit yang progresif atau asenden.

6.

Mempertahankan perfusi jaringan yang adekuat, fungsi ventilasi, dan mecak keadaan dekompensasi.

7.

Pengelolaan cedera stabil tanpa defisit neurologis seperti angulasi atau baji dari badan ruas tulang
belakang, fraktur proses transverses, spinous,dan lainnya. Tindakannya simptomatis (istirahat baring
hingga nyeri berkurang), imobilisasi dengan fisioterapi untuk pemulihan kekuatan otot secara
bertahap.

8.

Cedera tak stabil disertai defisit neurologis. Bila terjadi pergeseran, fraktur memerlukan reabduksi dan
posisi yang sudah baik harus dipertahankan.

a.

Metode reabduksi antara lain:

Trauma Medula Spinalis| 39

a)

Traksi memakai sepit (tang) mental yang dipasang pada tengkorak. Beban 20 kg tergantung
dari tingkat ruas tulang belakang mulai sekitar 2,5 kg pada fraktur C1

b.

b)

Menipulasi dengan anestensi umum

c)

Reabduksi terbuka melalui operasi

Metode imobilisasi antara lain:


a)

Ranjang khusu,rangka, atau selubung plester

b)

Traksi tengkorak perlu beban sedeng untuk mempertahankan cedera yang sudah
direabduksi

9.

c)

Plester paris dan splin eksternal lain

d)

Operasi

Cedera stabil diseratai defisit neurologis. Bilafraktur stabil, kerusakan neurologis disebabkan oleh:
a. Pergeseran yang cukup besar yang terjadi saat cedera menyebabkan trauma langsung terhadap
koral spiral atau kerusakan vascular.
b. Tulang belakang yang sebetulnya sudah rusak akibat penyakit sebelumnya seperti spondiliosis
servikal.
c. Fragmen tulang atau diskus terdorong kekanal spiral.

Pengelolaan kelompok ini tergantung derajat kerusakan neurologis yang tampak pada saat pertama kali
diperiksa:
a)

Transeksi neurologis lengkap terbaik dirawat konservatif.

b)

Cedera di daerah servikal, leher dimobilisasi dengan kolar atau sepit (caliper) dan diberi metil
prednisolon.

c)

Pemeriksaan penunjang MRI

d)

Cedera neurologis tak lengkap konservatif.

e)

Bila terdapat atau didasari kerusakan adanya spondiliosis servikal. Traksi tengkorak, dan metil
prednisolon.

f)

Bedah bila spondiliosis sudah ada sebelumnya.

g)

Bila tak ada perbaikan atau ada perbaikan tetapi keadaan memburk maka lakukan mielografi.

h)

Cedera tulang tak stabil.

i)

Bila lesinya total, dilakukan reabduksi yang diikuti imbolisasi, melindungi dengan imobilisasi seperti
penambahan perawatan paraplegia.

j)

Bila defisitneurologis tak lengkap, dilakukan reabduksi, diikuti imobilisasi untuk sesui jenis
cederanya.

k)

Bila diperlukan operasi dekompresi kenal spiral dilakukan pada saat yang sama.

l)

Cedera yang menyertai dan komplikasi:


a)

Cedera mayor berupa cedera kepala atau otak, toraks, berhubungan dengan ominal, dari
vascular.

b)

Cedera berat yang dapat menyebabkan kematian, aspirasi dan syok.

Menurut Muttaqim, (2008 hlm.111) penatalaksanaan pada trauma tulang belakang yaitu :
A.

Pemeriksaan klinik secara teliti:


a)

Pemeriksaan neurologis secara teliti tentang fungsi motorik, sensorik, dan refleks.

Trauma Medula Spinalis| 40

b)

Pemeriksaan nyeri lokal dan nyeri tekan serta kifosis yang menandakan adanya fraktur
dislokasi.

c)
B.

Keadaan umum penderita.

Penatalaksanaan fraktur tulang belakang:


a)

Resusitasi klien.

b)

Pertahankan pemberian cairan dan nutrisi.

c)

Perawatan kandung kemih dan usus.

d)

Mencegah dekubitus.

e)

Mencegah kontraktur pada anggota gerak serta rangkaian rehabiIitasi lainnya

Farmakoterapy.
a)

Analgesik.
Obat-obatan anti-inflammatory drugs (NSAID) dapat membantu mengurangi rasa sakit dan mengurangi
peradangan di sekitar saraf. Dokter mungkin merekomendasikan NSAID dngan dosis tinggi jika sakit
tergolong parah. "Obat anti inflamasi (anti radang) non steroid, atau yang lebih dikenal dengan sebutan
NSAID (Non Steroidal Anti-inflammatory Drugs) adalah suatu golongan obat yang memiliki khasiat
analgesik (pereda nyeri), antipiretik (penurun panas), dan antiinflamasi (anti radang). Istilah "non steroid"
digunakan untuk membedakan jenis obat-obatan ini dengan steroid, yang juga memiliki khasiat serupa.
NSAID bukan tergolong obat-obatan jenis narkotika"

b)

Suntikan.
Suntikan kortikosteroid. Disuntikkan ke daerah yang terkena, ini dapat membantu mengurangi rasa sakit
dan peradangan. "Kortikosteroid adalah kelas obat yang terkait dengan kortison, steroid. Obat-obat dari
kelasini

dapat

mengurangi

peradangan.

Mereka

digunakan

untuk

mengurangi

peradangan

yang disebabkan oleh berbagai penyakit".

c)

Fisioterapi
Fisioterapi merupakan suatu bentuk pelayanan kesehatan guna memelihara dan memulihkan gerak dan
fungsi tubuh dengan penanganan secara manual maupun dengan menggunakan peralatan.
Seorang terapi fisik dapat mengajarkan latihan stretching / exercises yang memperkuat dan
meregangkan otot-otot di daerah yang terkena untuk mengurangi tekanan pada saraf.

d)

Stimulasi Listrik
Bentuk yang paling umum dari stimulasi listrik yang digunakan dalam manajemen nyeri saraf stimulasi
listrik (TENS / Transcutaneus Electrical Nerve Stimulation) perangkat di gunakan untuk merangsang

Trauma Medula Spinalis| 41

saraf melalui permukaan kulit. Tens adalah salah satu dari sekian banyak modalitas/alat fisioterapi yang
di gunakan untuk mengurangi nyeri dengan mengalirkan arus listrik. Cara kerjanya dengan merangsang
saraf tertentu sehingga nyeri berkurang, tanpa efek samping yang berarti.
e)

Ultrasound
Suatu terapi dengan menggunakan getaran mekanik gelombang suara dengan frekuensi lebih dari
20.000 Hz. Yang digunakan dalam Fisioterapi adalah 0,5-5 MHz dengan tujuan untuk menimbulkan efek
terapeutik melalui proses tertentu.

f)

Traksi tulang
Alat terapi yang menggunakan kekuatan tarikan yang di gunakan pada satu bagian tubuh, sementara
bagian tubuh lainnya di tarik berlawanan.

Terapifisik

a)

Terapi fisik
Untuk saraf terjepit harus tetap konservatif di awal untuk menghindari lebih parah kondisi. Penekanan
akan di istirahat, mengurangi peradangan, beban dan stres pada daerah yang terkena. Setelah
peradangan awal telah berkurang, program exercise dan penguatan akan dimulai untuk mengembalikan
fleksibilitas pada sendi dan otot yang terlibat, sambil meningkatkan kekuatan dan stabilitas pada tulang
belakang.

b)

Akupunktur
Praktek Cina kuno melibatkan memasukkan jarum yang sangat tipis pada titik tertentu pada kulit untuk
menghilangkan rasa sakit.

c)

Stimulator KWD
Alat terapi yang berfungsi sebagai stimulator pada pangkal jarum akupunktur sehingga menghasilkan
berbagai jenis getaran rangsangan yang bertujuan untuk menstimulasi titik akupunktur/ acupoint.

d)

Chiropractic
Perawatan terapi alternatif yang sangat umum untuk nyeri kronis dan dapat membantu untuk mengobati
sakit punggung, terapis chiropractic menggunakan penyesuaian tulang belakang dengan tujuan
meningkatkan mobilitas antara tulang belakang. Penyesuaian tersebut untuk membantu mengembalikan
tulang ke posisi yang lebih normal, membantu gerak juga menghilangkan atau mengurangi rasa sakit.

Penatalaksanaan Medik trauma Medula Spinalis


Prinsip penatalaksanaan medik trauma medula spinalis adalah sebagai berikut:
1.

Segera dilakukan imobilisasi.

Trauma Medula Spinalis| 42

2.

Stabilisasi daerah tulang yang mengalami cedera seperti dilakukan pemasangan collar servical, atau
dengan menggunakan bantalan pasir.

3.

Mencegah progresivitas gangguan medula spinalis misalnya dengan pemberian oksigen, cairan
intravena, pemasangan NGT.

4.

Terapi Pengobatan :
a.

Kortikosteroid seperti dexametason untuk mengontrol edema.

b.

Antihipertensi

seperti

diazolxide

untuk

mengontrol

tekanan

darah

akibat

autonomic

hiperrefleksia akut.

5.

c.

Kolinergik seperti bethanechol chloride untuk menurunkan aktifitas bladder.

d.

Anti depresan seperti imipramine hyidro chklorida untuk meningkatkan tonus leher bradder.

e.

Antihistamin untuk menstimulus beta reseptor dari bladder dan uretra.

f.

Agen antiulcer seperti ranitidine

g.

Pelunak fases seperti docusate sodium.

Tindakan operasi, di lakukan dengan indikasi tertentu seperti adanya fraktur dengan fragmen yang
menekan lengkung saraf.

6.

Rehabilisasi di lakukan untuk mencegah komplikasi, mengurangi cacat dan mempersiapkan pasien
untuk hidup di masyarakat

Pencegahan.
Faktor faktor resiko dominan untuk Trauma medula spinalis meliputi usia dan jenis kelamin. Frekuensi
dengan mana faktor- faktor resiko ini dikaitkan dengan Trauma medula spinalisbertindak untuk menekankan
pentingnya pencegahan primer. Untuk mencegah kerusakan dan bencana ini , langkah- langkah berikut perlu
dilakukan :
1)

Menurunkan kecepatan berkendara.

2)

Menggunakan sabuk keselamatan dan pelindung bahu.

3)

Menggunakan helm untuk pengendara motor dan sepeda.

4)

Program pendidikaan langsung untuk mencegah berkendara sambil mabuk.

5)

Mengajarkan penggunaan air yang aman.

6)

Mencegah jatuh.

7)

Menggunakan alat- alat pelindung dan tekhnik latihan.

Personel paramedis diajarkan pentingnya memindahkan korban kecelakaan mobil dari mobilnya dengan tepat
dan mengikuti metode pemindahan korban yang tepat kebagian kedaruratan rumah sakit untuk menghindari
kemungkinan kerusakan lanjut dan menetap pada medula spina
BAB III
Asuhan Keperawatan

3.1 Pengkajian
Penting bagi perawat untuk mengetahui bahwa setiap adanya riwayat trauma pada servikal merupakan hal
yang penting diwaspadai. Tingkat kehati-hatian dari perawat yang tinggi dapat mencegah cedera spinal servikal
yang stabil dapat tidak menjadi cedera spinal yang tidak stabil karena pada setiap fase awal kondisi trauma
servikal, perawat adalah orang pertama dan paling sering melakukan intervensi.

Trauma Medula Spinalis| 43

Manipulasi pada tulang belakang yang tidak rasional dapat merusak kestabilan dari
struktur servikal (tulang, diskus, ligamen, dan medula spinalis)
Implikasi dari hal-hal diatas adalah kewaspadaan perawat untuk menjaga kesejajaran dari tulang belakang
untuk menghindari resiko tinggi injuri pada korda, maka pada saat pengkajian harus dilakukan secara sistematis
dan rasional agar pada fase pengkajian dan pada setiap intervensi yang diberikan tidak merusak kestabilan dari
tulang belakang.
Adanya riwayat trauma servikal harus dikaji sepenuhnya untuk mencari ada tidaknya cedera spinal. Untuk
melakukan hal tersebut, pakaiannya mungkin terpaksa harus dipotong dari badannya sehingga sesedikit mungkin
mengganggu posisi kenetralan leher. Adanya keluhan nyeri atau kekakuan pada leher atau punggung harus
ditanggapi secara serius, sekalipun klien dapat berjalan atau bergerak tanpa banyak menglamai gangguan.
Tanyakan mengenai rasa baal, paraestesia, atau kelemahan pada ekstremitas atas dan bawah.
Mekanisme trauma dari riwayat kecelakaan dapat memberi petunjuk yang penting seperti jatuh dari tempat
tinggi, cedera akibat terjun, benturan pada kepala, tertimpa reruntuhan atau ambruknya langit-langit, atau sentakan
mendadak pada leher akibat tubrukan dari belakang (whiplash injury) ini semua merupakan penyebab kerusakan
spinal yang sering ditemukan. Tanyakan apakah klien yang mengalami cedera sebelumnya, menggunakan obatobatan, atau jatuh setelah menggunkan alkohol.
Pada status emergency klien dengan riwayat trauma servikal yang jelas dan diindikasikan cedera spinal
tidak stabil, apabila pengkajian anamnesis dapat dilakukan maka status jalan napas klien optimal dan anamnesis
diusahakan terfokus pada pengkajian primer, karena pada fase ini klien beresiko tinggi untuk mengalami kompresi
korda yang berdampak pada henti jantung-paru. Implikasi dari situasi ini adalah pengkajian primer dilakukan
disertai intervensi dengan suatu hal yang prinsip untuk selalu menjaga posisi leher/servikal dalam posisi netral dan
kalau perlu klien dipasang ban servikal. Apabila pada kondisi di tempat kejadian dimana klien mengalami cedera
spinal servikal tetapi masih memaki helm, maka diperlukan teknis melepas helm dengan tetap menjaga posisi leher
dalam posisi netral. Selanjutnya, peran perawat dalam melakukan transportasi dari tempat kejadian ke tempat
intervensi lanjutan trauma servikal dirumah sakit harus dilakukan secara hat-hati, peran memonitoring dan
kolaborasi untuk dilakukan stabilisasi.
Pengkajian lanjutan dirumah sakit tetap memperhatikan kondisi stabilisasi pada servikal dan memonitoring
pada jalan napas. Pada setiap melakukan transportasi klien, perawat tetap memprioritaskan kesejajaran kurvatura
tulang belakang dengan tujuan untuk menghindari resiko injury pada spinal dengan teknik pengangkatan cara log
rolling dan/atau menggunakan long backboard.
Kaji keadaan umum (KU), tanda-tanda vital, adanya defisit neurologis, dan status kesadaran pada fase
awak kejadian trauma, terutama pada klien yang diindikasikan cedera spinal tidak stabil. Setiap didapatkan adanya
perubahan pada KU, TTV, defisit neurologis, dan tingkat kesadaran secara bermakna harus secepatnya dilakukan
kolaborasi dengan dokter.
Defek neurologis ditentukan oleh lokasi dan kekuatan trauma. Syok spinal terjadi bila trauma terjadi pada
servikal atau setinggi toraksik. Teknik pemeriksaan colok dubur dengan menilai refleks bulbokavernosus untuk
merasakan adanya refleks jepitan pada sfingter ani pada jari akibat stimulus nyeri yang kita berikan pada glands
penis atau klitoris atau dengan menarik kateter untuk menilai apakah klien mengalami syok spinal.
Gejala awal syok, klien mengalami paralisis, kehilangan refleks tendon dan abdominal, refleks babinsky
positif dan terjadinya retensi urine dan retensi alvi, dapat pula diikuti syok. Apabila adanya kompresi korda penilaian
fungsi respirasi dimana kapasitas vital menurun. Dalam keadaan ini diperlukan intubasi dan ventilasi mekanik.
Kelumpuhan saraf perifer memerlukan evaluasi sampai diputuskan untuk dilakukan operasi.

Trauma Medula Spinalis| 44

Klien dengan cedera spinal stabil, keadaan umum, TTV, defisit neurologis, dan status kesadaran biasanya
tidak mengalami perubahan.
Pada pengkajian fokus lihat adanya deformitas pada leher. Kaji adanya memar (pada fase awal cedera)
baik leher, muka, dan bagian belakang telinga. Tanda memar pada wajah, mata atau dagu merupakan salah satu
tanda adanya cedera hiperekstensi pada leher. Memar pada muka atau abrasi dangkal pada dahi menunjukkan
adanya kekuatan yang menyebabkan hiperekstensi. Leher mungkin berposisi miring atau klien dapat menyangga
kepala dengan tangannya. Bila klien terlentang, dada dan perut dapat diperiksa untuk mencari ada tidaknya cedera
yang menyertai. Kemudian tungkai dengan cepat diperiksa untuk mencari ada tidaknya tanda-tanda defisit
neurologis.
Untuk memeriksa punggung, klien diputar pada satu sisi dengan sangat berhati-hati dengan menggunakan
teknik log rolling (menggulingkan kayu).
Pada pemeriksaan primer pakaian klien tidak dilepas dan hanya diperiksa dengan cara palpasi punggung.
Pada pemeriksaan sekunder di rumah sakit, pakaian perlu dibuka untuk menilai adanya kelainan pada punggung.
Adanya memar menunjukkan kemungkinan adanya tingkat cedera. Prosesus spinosus dipalpasi dengan hati-hati.
Kadang-kadang suatu celah dapat terbuka bila ligamen tersobel; keadaan ini atau hematoma pada spinal
merupakan tanda yang menakutkan (berbahaya). Tulang dan jaringan lunak diperiksa dengan pelan-pelan untuk
mencari ada tidaknya nyeri tekan. Gerakan pada spinal dapat berbahaya karena dapat membahayakan korda, jadi
manipulasi gerakan berlebihan harus dihindari sebelum diagnosis ditegakkan.

Pemeriksaan neurologis penuh dilakukan pada semua hal, pemeriksaan ini mungkin harus diulangi
beberapa kali selama beberapa hari pertama. Pada awalnya, selama fase syok spinal mungkin terdapat paralisis
lengkap dan hilangnya perasaan dibawah tingkat cedera. Keadaan ini dapat berlangsung selama 48 jam atau lebih
dan selama periode ini sulit diketahui apakah lesi neurologis lengkap atau tidak lengkap. Penting untuk menguji ada
tidaknya refleks primitif kulit anal dan sensasi perianal. Sekali refleks primitif muncul kembali, syok spinal telah
berakhir, kalau semua fungsi sensorik dan motorik masih tidak ada, lesi neurologis bersifat lengkap. Sensasi
perianal yang utuh menunjukkan lesi yang tidak lengkap dan dapat terjadi penyembuhan lebih jauh.

TABEL 8. Pengkajian pada Trauma Servikal


Segmen

Fungsi fisiologis

Kondisi patologis

C1

Segmen keluar pleksus kardiak

Beban berat yang mendadak diatas kepala

dalam kontrol jantung dan

dapat menyebabkan kekuatan kompresi yang

pernapasan

dapat menyebabkan fraktur pada cincin atlas.


Gangguan pada segmen ini dapat merusak
fungsi jantung paru.

C2

Segmen keluar pleksus kardiak

Fraktur C2 terutama pada kecelakaan mobil

dalam kontrol jantung dan

dimana kepala membentur kaca depan,

pernapasan

memaksa leher berhiperekstensi. Kalau kedua


pedikulus mengalami fraktur dan bergeser
secara hebat, kerusakannya akan
menyebabkan kematian

C3

Segmen keluar pleksus kardiak

Cedera hiperekstensi C3 tulang tidak rusak,

dalam kontrol jantung dan

tetapi ligamen longitudinal anterior sobek.

Trauma Medula Spinalis| 45

pernapasan

Kerusakan neurologis bervariasi dan mungkin


akibat terjadi akibat kompresi antara diskus
dan ligamentum flavum; edema spinalis
sentral akut

C4

Kontrol kepala, mulut,

Subluksasi dan dislokasi pada segmen ini,

menaikkan bahu dan skapula.

merupakan cedera fleksi murni; tulang tetap

Kontrol gerakan diafragma

untuh tetapi ligamen posterior sobek. Satu


vertebra miring ke depan di alas vertebra yang
ada dibawahnya, sehingga ruang interspinosa
di bagian posterior terbuka.

C5

Fleksi bahu, fleksi siku

Segmen C5-C6 merupakan kurvatura yang


paling menonjol dari servikal sehingga
mempunyai resiko tinggi cedera

C6

Fleksi siku, rotasi dan abduksi

Fraktur kompresi pada segmen ini sering

bahu, ekstensi ibu jari

disebabkan cedera fleksi, korpus terkompresi


tetapi ligamen posterior tetap utuh dan fraktur
stabil

C7

Ekstensi siku, gerakan bahu,

Fraktur avulsi pada prosesus spinosus C7

ekstensi ruas jari-jari tangan

dapat terjadi oleh kontraksi otot yang hebat

Pengumpulan data subjektif maupun objektif pada gangguan sistem muskuloskeletal dan sistem
persarafan sehubungan dengan cedera tulang belakang tergantung dari bentuk, lokasi, jenis injuri, dan adanya
komplikasi pada organ vital lainnya. Pengkajian keperawatan cedera tulang belakang meliputi anamnesis riwayat
penyakit, pemeriksaan fisik, pemeriksaan diagnostik, dan pengkajian psikososial.
Keluhan utama yang sering menjadi alasan klien intuk meminta pertolongan kesehatan adalah nyeri,
kelemahan dan kelumpuhan ekstremitas, inkontinensia defekasi dan urine, nyeri tekan otot, hiperestesi tepat diatas
daerah trauma, dan mengalami deformitas pada daerah trauma. Untuk memperoleh pengkajian klien dilakukan
PQRST.

1. Provoking incident, yang menjadi faktor presipitasi nyeri adalah adanya trauma pada tulang
belakang
2. Quality of pain, seperti apa rasa nyeri yang dirasakan menusuk
3. Region, radiation, relief, apakah rasa sakit bisa reda, apakah rasa sakit menjalar atau menyebar,
dan dimana rasa sakit terjadi
4. Severity (scale) of pain, skala nyeri biasanya 3-4 (0-4) pada penilaian skala nyeri
5. Time, berapa lama nyeri berlangsung, kapan, apakah bertambah buruk pada malam hari atau
siang hari.

A. Identitas
Trauma medula spinalis dapat terjadi pada semua usia dan jenis kelamin meliputi nama, usia (kebanyakan
terjadi pada. usia muda), jenis kelamin (kebanyakan laki-laki karena sering mengebut saat mengendarai motor tanpa
pengaman helm), pendidikan, alamat,pekerjaan, agama, suku bangsa, tanggal dan jam masuk rumah sakit (MRS), nomor
register, dan diagnosis medis.

Trauma Medula Spinalis| 46

B. Keluhan utama
Keluhan utama yang sering menjadi alasan klien meminta pertolongan kesehatan adalah nyeri, kelemahan dan
kelumpuhan ekstremitas, inkontinensia urine dan inkontinensia alvi, nyeri tekan otot,hiperestesia tepat di atas daerah
trauma, dan deformitas pada daerah trauma.

C. Riwayat penyakit sekarang


Adanya riwayat trauma yang mengenai tulang belakang akibat dari kecelakaan lalu lintas, kecelakaan olah
raga, kecelakaan industri, kecelakaan lain seperti jatuh dari pohon atau bangunan, luka tusuk, luka tembak, trauma
karena tali pengaman dan kejatuhan benda keras. Pengkajian yang didapat meliputi hilangnya sensibilitas, paralisis
(dimulai dari paralisis layu disertai hilangnya sensibilitas yang total dan melemah/menghilangnya refleks alat diam).
Ini merupakan gejala awal dari tahap syok spinal yang akan berlangsung beberapa hari sampai beberapa minggu,
ileus paralitik, retensi urine, dan hilangnya refleks-refleks.
Kaji adanya riwayat trauma tulang belakang akibat kecelakaan lalu lintas, kecelakaan olahraga, kecelakaan
industri, jatuh dari pohon atau bangunan, luka tusuk, luka tembak, trauma karena tali pengaman (fraktur chance), dan
kejatuhan benda keras. Pengkajian yang didapat meliputi hilangnya sensibilitas, paralisis (dimulai dari paralisis layu
disertai hilangnya sensibilitassecara total dan melemah/menghilangnya refleks alat dalam) ileus paralitik, retensi urine,
dan hilangnya refleks-refleks.
Perlu ditanyakan pada klien atau keluarga yang mengantar klien atau bila klien tidak sadar tentang
penggunaan obat-obatan adiktif dan penggunaan alkohol yang sering terjadi pada beberapa klien yang suka kebutkebutan.

D. Riwayat penyakit dahulu


Pengkajian yang perlu ditanyakan meliputi adanya riwayat penyakit degeneratif pada tulang belakang seperti
osteoporosis, osteoartritis, spondilitis, spondilolistesis, spinal stenosis yang memungkinkan terjadinya kelainan
pada tulang belakang. Penyakit lainnya seperti hipertensi, diabetes melitus, penyakit jantung, anemia, penggunaan
obat-obatan

antikoagulan,

aspirin,

vasodilator,

obat-obatan

adiktif

perlu

ditanyakan

untuk

menambah

komprehensifnya pengkajian.
Merupakan data yang diperlukan untuk mengetahui kondisi kesehatan klien sebelum menderita penyakit
sekarang , berupa riwayat trauma medula spinalis. Biasanya ada trauma/ kecelakaan.
Pengkajian yang perlu ditanyakan meliputi adanya riwayat penyakit degeneratif pada tulang belakang,
seperti osteoporosis, osteoartritis, spondilitis, spondilolistesis, spinal stenosis yang memungkinkan terjadinya
kelainan pada tulang belakang (Masalah penggunaan obat-obatan adiktif dan alkohol).
E. Riwayat penyakit keluarga
Kaji apakah dalam keluarga pasien ada yang menderita hipertensi, DM, penyakit jantung untuk menambah
komprehensifnya pengkajian (Untuk mengetahui ada penyebab herediter atau tidak)

F. Riwayat psiko-sosio
Pengkajian mekanisme koping yang digunakan klien untuk menilai respons emosi klien terhadap penyakit
yang dideritanya dan perubahan peran klien dalam keluarga. Apakah ada dampak yang timbul pada klien, yaitu
timbul seperti ketakutan akan kecacatan, rasa cemas, rasa ketidakmampuan untuk melakukan aktivitas secara
optimal, dan pandangan terhadap dirinya yang salah (gangguan citra tubuh). Adanya perubahan berupa paralisis

Trauma Medula Spinalis| 47

anggota gerak bawah memberikan manifestasi yang berbeda pada setiap klien yang mengalami cedera tulang
belakang.
Pengkajian mekanisme koping yang digunakan klien untuk menilai respon emosi klien terhadap penyakit
yang dideritanya dan perubahan peran klien dalam keluarga.
Apakah ada dampak yang timbul pada klien,yaitu timbul seperti ketakutan akan kecacatan, rasa cemas, rasa
ketidak mampuan untuk melakukan aktifitas secara optimal dan pandangan terhadap dirinya yang salah.

I. Pengkajian Primer
1) Airway.
Jika penderita dapat berbicara maka jalan napas kemungkinan besar dalam keadaan adekuat.
Obstruksi jalan napas sering terjadi pada penderita yang tidak sadar, yang dapat disebabkan oleh
benda asing, muntahan, jatuhnya pangkal lidah, atau akibat fraktur tulang wajah. Usaha untuk
membebaskan jalan napas harus melindungi vertebra servikalis (cervical spine control), yaitu tidak
boleh melakukan ekstensi, fleksi, atau rotasi yang berlebihan dari leher. Dalam hal ini, kita dapat
melakukan chin lift atau jaw thrust sambil merasakan hembusan napas yang keluar melalui hidung.
Bila ada sumbatan maka dapat dihilangkan dengan cara membersihkan dengan jari atau suction jika
tersedia. Untuk menjaga patensi jalan napas selanjutnya dilakukan pemasangan pipa orofaring. Bila
hembusan napas tidak adekuat, perlu bantuan napas.
2) Breathing.
Bantuan napas dari mulut ke mulut akan sangat bermanfaat. Apabila tersedia, O2 dapat diberikan
dalam jumlah yang memadai. Jika penguasaan jalan napas belum dapat memberikan oksigenasi
yang adekuat, bila memungkinkan sebaiknya dilakukan intubasi endotrakheal.1,3,5,6,7,8.
3) Circulation.
Status sirkulasi dapat dinilai secara cepat dengan memeriksa tingkat kesadaran dan denyut nadi
Tindakan lain yang dapat dilakukan adalah mencari ada tidaknya perdarahan eksternal, menilai
warna serta temperatur kulit, dan mengukur tekanan darah. Denyut nadi perifer yang teratur, penuh,
dan lambat biasanya menunjukkan status sirkulasi yang relatif normovolemik.
4) Disability.
Melihat secara keseluruhan kemampuan pasien diantaranya kesadaran pasien.
5) Exprosure,
Melihat secara keseluruhan keadaan pasien. Pasien dalam keadaan sadar (GCS 15) dengan
:Simple head injury bila tanpa deficit neurology
a.

Dilakukan rawat luka

b.

Pemeriksaan radiology

c.

Pasien dipulangkan dan keluarga diminta untuk observasi bila terjadi penurunan kesadaran
segera bawa ke rumah sakit

II. Pengkajian Skunder.


1) Aktifitas /Istirahat.
Tanda:
Kelumpuhan otot (terjadi kelemahan selama syok spinal pada bawah lesi. Kelemahan umum /
kelemahan otot (trauma dan adanya kompresi saraf).
2) Sirkulasi.

Trauma Medula Spinalis| 48

Gejala: berdebar-debar, pusing saat melakukan perubahan posisi.


Tanda:hipotensi, Hipotensi posturak, bradikardi, ekstremitas dingin dan pucat. Hilangnya keringat
pada daerah yang terkena.
3) Eliminasi.
Tanda: retensi urine, distensi abdomen, peristaltik usus hilang, melena, emisis berwarna seperti
kopi tanah /hematemesis, Inkontinensia defekasi berkemih.
4) Integritas Ego.
Gejala: menyangkal, tidak percaya, sedih, marah.
Tanda: takut, cemas, gelisah, menarik diri.
5) Makanan /cairan.
Tanda: mengalami distensi abdomen yang berhubungan dengan omentum., peristaltik usus hilang
(ileus paralitik)
6) Higiene.
Tanda: sangat ketergantungan dalam melakukan aktifitas sehari-hari (bervariasi)
7) Neurosensori.
Tanda: kelumpuhan, kelemahan (kejang dapat berkembang saat terjadi perubahan pada syok
spinal). Kehilangan sensasi (derajat bervariasi dapat kembaki normak setelah syok spinal
sembuh). Kehilangan tonus otot /vasomotor, kehilangan refleks /refleks asimetris
termasuk tendon dalam. Perubahan reaksi pupil, ptosis, hilangnya keringat bagian tubuh
yang terkena karena pengaruh trauma spinal.
Gejala: kebas, kesemutan, rasa terbakar pada lengan atau kaki, paralisis flaksid atau spastisitas
dapat terjadi saat syok spinal teratasi, bergantung pada area spinal yang sakit.
8) Nyeri /kenyamanan.
Gejala: Nyeri atau nyeri tekan otot dan hiperestesia tepat di atas daerah trauma,
Tanda: mengalami deformitas, postur, nyeri tekan vertebral.
9) Pernapasan.
Gejala: napas pendek, kekurangan oksigen, sulit bernapas.
Tanda: pernapasan dangkal /labored, periode apnea, penurunan bunyi napas, ronki, pucat,
sianosis.
10) Keamanan.
Suhu yang berfluktasi (suhu tubuh ini diambil dalam suhu kamar).
11) Seksualitas.
Gejala: keinginan untuk kembali berfungsi normal.
Tanda: ereksi tidak terkendali (priapisme), menstruasi tidak teratur.

Pengkajian Secara Umum Meliputi:


1.

Riwayat keperawatan : trauma, tumor, masalah medis yang lain (misalnya, kelainan paru, kelainan koogulasi, ulkus),
merokok dan penggunaan alcohol.

2.

Pemeriksaan fisik: fungsi motorik (ergerakan, kekuatan, tonus), fungsi sensorik, reflex, status pernapasan, gejala
gejala spinal syok, tidak adanya keringat di batas luka, fungsi bowel dan bldder, gejala autonomic dysreflexia.

3.

Psikososial: usia, jenis kelamin, gaya hidup, pekerjaan, peran dan tanggung jawab, sistim dukungan, strategi koping,
reaksi emosi terhadap cidera.

Trauma Medula Spinalis| 49

4.

Pengetahuan klien dan keluarga: anatomi dan fisiolgimedula spinalis: pengobatan, progonosis/ tujuan yang di
harapkan tingkat pengetahuan, kemampuan belajar dan pengetahuan, kemampuan membaca dan kesiapan belajar.

Pemeriksaan fisik.
Pemeriksaan fisik sangat berguna untuk mendukung data pengkajian anamnesis. Pemeriksaan fisik
sebaiknya dilakukan per sistem (B1-B6) dengan fokus pemeriksaan B3 (Brain) dan B6 (Bone) yang terarah dan
dihubungkan dengan keluhan klien.
1. Pernapasan.
Perubahan sistem pernapasan bergantung pada gradasi blok saraf parasimpatis (klien mengalami
kelumpuhan otot-otot pernapasan) dan perubahan karena adanya kerusakan jalur simpatik desenden akibat
trauma pada tulang belakang sehingga jaringan saraf di medula spinalis terputus. Dalam beberapa keadaan
trauma sumsum tulang belakang pada daerah servikal dan toraks diperoleh hasil pemeriksaan fisik sebagai berikut.
a. Inspeksi. Didapatkan klien batuk, peningkatan produksi sputum, sesak napas, penggunaan otot
bantu napas, peningkatan frekuensi pemapasan, retraksi interkostal, dan pengembangan paru
tidak simetris. Respirasi paradoks (retraksi abdomen saat inspirasi). Pola napas ini dapat terjadi jika
otot-otot interkostal tidak mampu mcnggerakkan dinding dada akibat adanya blok saraf parasimpatis.
b. Palpasi. Fremitus yang menurun dibandingkan dengan sisi yang lain akan didapatkan apabila
trauma terjadi pada rongga toraks.
c.

Perkusi.

Didapatkan

adanya

suara

redup

sampai

pekak

apabila trauma

terjadi

pada

toraks/hematoraks.
d. Auskultasi. Suara napas tambahan, seperti napas berbunyi, stridor, ronchi pada klien dengan
peningkatan produksi sekret, dan kemampuan batuk menurun sering didapatkan pada klien
cedera tulang belakang yang mengalami penurunan tingkat kesadaran (koma).

2. Kardiovaskular
Pengkajian sistem

kardiovaskular

pada

klien

cedera tulang belakang didapatkan renjatan (syok

hipovolemik) dengan intensitas sedang dan berat. Hasil pemeriksaan kardiovaskular kliencedera tulang belakang
pada beberapa keadaan adalah tekanan darah menurun, bradikardia, berdebar-debar, pusing saat melakukan
perubahan posisi, dan ekstremitas dingin atau pucat.
3. Persyarafan
Tingkat kesadaran. Tingkat keterjagaan dan respons terhadap Iingkungan adalah indikator paling sensitif untuk
disfungsi sistem persarafan. Pemeriksaan fungsi serebral. Pemeriksaan dilakukan dengan mengobservasi
penampilan, tingkah laku, gaya bicara, ekspresi wajah, dan aktivitas motorik klien. Klien yang telah lama
mengalami cedera tulang belakang biasanya mengalami perubahan status mental. Pemeriksaan Saraf kranial:
a. Saraf I. Biasanya tidak ada kelainan pada klien cedera tulang belakang dan tidak ada kelainan
fungsi penciuman.
b. Saraf II. Setelah dilakukan tes, ketajaman penglihatan dalam kondisi normal.

Trauma Medula Spinalis| 50

c.

Saraf III, IV, dan VI. Biasanya tidak ada gangguan mengangkat kelopak mata dan pupil isokor.

d. Saraf V. Klien cedera tulang belakang umumnya tidak mengalami paralisis pada otot wajah dan refleks
kornea biasanya tidak ada kelainan
e. Saraf VII. Persepsi pengecapan dalam batas normal dan wajah simetris.
f.

Saraf VIII. Tidak ditemukan adanya tuli konduktif dan tuli persepsi.

g. Saraf XI. Tidak ada atrofi otot sternokleidomastoideus dan trapezius. Ada usaha klien untuk
melakukan fleksi leher dan kaku kuduk
h. Saraf XII. Lidah simetris, tidak ada deviasi pada satu sisi dan tidak ada fasikulasi, Indra
pengecapan normal.

Pemeriksaan refleks:
a.

Pemeriksaan refleks dalam. Refleks Achilles menghilang dan refleks patela biasanya melemah
karena kelemahan pada otot hamstring.

b.

Pemeriksaan refleks patologis. Pada fase akut refleks fisiologis akan menghilang. Setelah
beberapa hari refleks fisiologis akan muncul kembali yang didahului dengan refleks patologis.

c.

Refleks Bullbo Cavemosus positif menandakan adanya syok spinal

d.

Pemeriksaan sensorik. Apabila klien mengalami trauma pada kaudaekuina, mengalami hilangnya
sensibilitas secara me-netap pada kedua bokong, perineum, dan anus. Pemeriksaan sensorik
superfisial dapat memberikan petunjuk mengenai lokasi cedera akibat trauma di daerah tulang
belakang

4. Perkemihan
Kaji keadaan urine yang meliputi warna, jumlah, dan karakteristik urine, termasuk berat jenis urine.
Penurunan jumlah urine dan peningkatan retensi cairan dapat terjadi akibat menurunnya perfusi pada ginjal.
5. Pencernaan.
Pada keadaan syok spinal dan neuropraksia, sering dida-patkan adanya ileus paralitik. Data klinis
menunjukkan hilangnya bising usus serta kembung dan defekasi tidak ada. Hal ini merupakan gejala awal dari
syok spinal yang akan berlangsung beberapa hari sampai beberapa minggu. Pemenuhan nutrisi berkurang
karena adanya mual dan kurangnya asupan nutrisi.
6. Muskuloskletal.
Paralisis motor dan paralisis alat-alat dalam bergantung pada ketinggian terjadinya trauma. Gejala
gangguan motorik sesuai dengan distribusi segmental dari saraf yang terkena

Pemeriksaan Sistem Perkemihan dan Pencernaan


1.

Bila terjadi lesi pada kauda ekuina (kandung kemih dikontrol oleh pusat S1-S4) atau dibawah pusat
spinal kandung kemih akan menyebabkan interupsi hubungan antara kandung kemih dan pusat
spinal. Pengosongan kandung kemih secara periodik tergantung dari refleks lokal dinding kandung
kemih. Pada keadaan ini pengosongan dilakukan oleh aksi otot-otot destrusor dan harus diawali
dengan kompresi secara manual pada dinding perut atau dengan meregangkan perut. Pengosongan
kandung kemih yang bersifat otomatis seperti ini disebut kandung kemih otonom. Trauma pada kauda
ekuina klien mengalami hilangnya refleks kandung kemih yang bersifat sementara dan klien mungkin

Trauma Medula Spinalis| 51

mengalami

inkontinensia

urine,

ketidakmampuan

mengkomunikasikan

kebutuhan

dan

ketidakmampuan untuk menggunakan urinal karena kerusakan kontrol motorik dan postural. Selama
periode ini, dilakukan kateterisasi intermitten dengan teknik steril
2.

Pada keadaan syok spinal, neuropraksia sering didapatkan adanya ileus paralitik, dimana klinis
didapatkan hilangnya bowel sound, kembung, dan defekasi tidak ada. Ini merupakan gejala awal dari
tahap syok spinal yang akan berlangsung beberapa hari sampai beberapa minggu. Pemenuhan nutrisi
berkurang karena adanya mual dan intake nutrisi yang kurang

3.

Pemeriksaan rongga mulut dengan melakukan penilaian ada tidaknya lesi pada mulut atau perubahan
pada lidah dapat menunjukkan adanya dehidrasi.

Pemeriksaan Motorik
Paralisis motorik dan paralisis alat-alat dalam tergantung dari ketinggian terjadinya trauma. Gejala gangguan
motorik sesuai dengan distribusi segmental dari saraf yang terkena.

Pemeriksaan lokalis
Look. Adanya perubahan warna kulit, abrasi dan memar pada punggung. Pada klien yang telah lama dirawat
dirumah sering didapatkan adanya dekubitus pada bokong. Adanya hambatan untuk beraktivitas karena
kelemahan, kehilangan sensorik, mudah lelah menyebabkan masalah pada pola aktivitas dan istirahat.
Feel. Prosesus spinosus dipalpasi untuk mengkaji adanya suatu celah yang dapat diraba akibat sobeknya
ligamentum posterior menandakan cedera yang tidak stabil. Sering didapatkan adanya nyeri tekan pada area lesi
Move. Gerakan tulang punggung atau spinal tidak boleh dikaji. Disfungsi motorik paling umum adalah
kelemahan dan kelumpuhan pada seluruh ekstremitas bawah. Kekuatan otot, pada penilaian dengan
menggunakan derajat kekuatan otot didapatkan.
3.2 Analisa Data
No

Data

Etiologi

DS: klien/keluarga mengatakan adanya

Problem
Kecelakaan kerja

Ketidakefektifan pola napas

kesulitan bernapas, sesak napas.


DO :
a.

Dislokasi C4
penurunan tekanan alat inspirasi
dan respirasi

b.

penurunan menit ventilasi

c.

pemakaianotot pernapasan

d.

pernapasan cuping hidung

e.

dispnea/napas pendek dan cepat

f.

orthopnea

g.

pernapasan lewat mulut

h.

frekuensi dan kedalaman

Disfungsi C4

Disfungsi neuromuscular

Gangguan pada otot diagragma

Pola napas tidak efektif

pernapasan abnormal
i.

penurunan kapasitas vital paru

DS : klien/keluarga mengatakan adanya


kesulitan bergerak

Kecelakaan kerja

Gangguan

atau

kerusakan

mobilitas fisik

klien mengatakan tangan dan

Trauma Medula Spinalis| 52

tungkai tidak bisa digerakkan

Dislokasi C4

DO:
a. kelemahan, parestesia

Disfungsi C4

b. paralisis
c. kerusakan koordinasi
d. keterbatasan rentang gerak

Disfungsi neuromuscular

e. penurunan kekuatan otot


f. Tangan dan tungkai tidak bisa

Gangguan pada otot-otot tubuh

digerakkan
Kerusakan fungsi motorik

Hambatan mobilitas fisik


3

DS: Pasien mengeluh nyeri pada bagian

Kecelakaan kerja

Nyeri akut

belakang leher
DO: Pasien terlihat kesakitan, skala

Dislokasi C4

nyeri 8
Disfungsi C4

Kompresi akar saraf servikal

Penjepitan saraf pada diskus


intervertebralis

Tekanan di daerah distribusi ujung


saraf

Respons nyeri

Nyeri akut
4

DS: Pasien mengatakan urine keluar

Kecelakaan kerja

pemenuhan

eliminasi urine

menetes
DO: Nyeri tekan pada abdomen dan

Gangguan

Cedera medula spinalis

keinginan kencing saat palpasi


Kelumpuhan saraf perkemihan

Kandung kemih terisi penuh

Otot destrusor tidak bereaksi

Perubahan pola eliminasi urine


5

DS : klien/keluarga mengatakan klien

Kecelakaan kerja

tinggi

penurunan curah jantung

mengalami kebingungan
DO:

Aktual/resiko

Kompresi korda
Dislokasi C4

Trauma Medula Spinalis| 53

a. Penurunan tingkat kesadaran


(bingung, letargi, stupor, koma)

Disfungsi C4

b. Perubahan tanda vital


c. Mungkin terdapat pendarahan
pada otak

Disfungsi neurovascular

d. Papiledema
e. Nyeri kepala yang hebat

Gangguan pada otot-otot jantung


Penurunan kontraksi otot jantung
jantung

Penurunan denyut jantung

Hilangnya kontrol pengiriman dari


refleks baroreseptor

Penurunan curah jantung


6

DS: Pasien mengatakan ada rasa

Kecelakaan kerja

Aktual/resiko tinggi gangguan


intergritas kulit

ketidaknyamanan pada sistem


Kompresi korda

gerak bagian ekstremitas


DO: Pasien mengalami paralisis dan

Dislokasi C4

paraplegia yang mengakibatkan


kelumpuhan

Disfungsi C4

Penekanan setempat jaringan


sekunder
Kelumpuhan gerak ekstremitas
bawah

Paraplegia

3.3 Diagnosa Keperawatan

1. Ketidakefektifan pola napas yang berhubungan dengan kerusakan kerusakan tulang punggung, disfungsi
neurovascular, kerusakan sistem muskuloskletal.
2. Gangguan atau kerusakan mobilitas fisik yang berhubungan dengan gangguan neurovascular
3. Aktual/resiko tinggi penurunan curah jantung yang berhubungan dengan penurunan denyut jantung, dilatasi
pembuluh darah, penurunan kontraksi otot jantung jantung sekunder dari hilangnya kontrol pengiriman dari
refleks baroreseptor akibat kompresi korda
4. Gangguan pemenuhan eliminasi urine yang berhubungan dengan gangguan fungsi miksi sekunder dari
kompresi medula spinalis

Trauma Medula Spinalis| 54

5. Nyeri akut yang berhubungan dengan kompresi akar saraf servikal, spasme otot servikalis sekunder dari
cedera spinal stabil dan tidak stabil serta berhubungan dengan penjepitan saraf pada diskus intervertebralis,
tekanan di daerah distribusi ujung saraf
6. Aktual/resiko tinggi gangguan intergritas kulit yang berhubungan dengan penekanan setempat jaringan
sekunder dari kelumpuhan gerak ekstremitas bawah, paraplegia

3.5 Evaluasi
Hasil yang diharapkan
1. Memperlihatkan peningkatan pertukaran gas dan bersihan jalan napas dari sekresi yang
diperlihatkan oleh bunyi nafas normal pada pengkajian auskultasi.
a.

Bernapas dengan mudah tanpa napas pendek.

b.

Melatih napas dalam setiap jam, batuk efektif dan paru-paru bersih dari secret.

c.

Bebas dari infeksi paru-paru (misal, suhu normal, frekuensi nadi dan pernapasan normal, bunyi
napas normal, tidak ada sputum purulen.)

2. Bergerak dalam batas disfungsi dan memperlihatkan usaha melakukan latihan dalam fungsi napas
3. Mendemostrasikan integritas kulit dengan optimal.
a. Memperlihatkan turgor kulit normal dan kulit bebas dari kemerahan atau kerusakan
b. Berpartisipasi dalam perawatan kulit dan memantau prosedur dalam keterbatasan fungsi
4. Mencapai fungsi kandung kemih
a. Tidak memperlihatkan adanya tanda infeksi saluran urine. (mis. suhu normal, berkemih
jernih, urine encer)
b. Mengosumsi asupan cairan adekuat.
c. Berpartisipasi dalam program latihan dalam batasan fungsi.
5. Mencapai fungsi defekasi
a. Melaporkan pola defekasi teratur.
b. Mengkonsumsi makanan berserat yang adekuat dan cairan melalui oral.
c. Berpartisipasi dalam program latihan defekasi dalam batas fungsi
6. Melaporkan tidak ada nyeri dan ketidaknyamanan.
7. Bebas komplikasi
a. Memperlihatkan tidak ada tanda tromboflebitis, trombosis vena provunda, atau emboli paru.

Trauma Medula Spinalis| 55

b. Tidak menunjukkan adanya manifestasi emboli paru (misal. tidak nyeri dada atau panas
pendek : gas darah arteri normal)
c. Mempertahankan tekanan darah dalam batas normal.
d. Tidak mengalami sakit kepala dengan perubahan posisi
e. Tidak menunjukkan adanya hiperefleksia autonom (mis. tidak sakit kepala, diaforesis,
hidung tersumbat, atau bradikardia diaphoresis
BAB V
PENUTUP
1.1 Kesimpulan
Trauma medula spinalis adalah suatu kerusakan fungsi neurologis yang disebabkan oleh benturan pada
daerah medulla spinalis (Brunner & Suddarth, 2001). Penyebab dari Trauma medulla spinalis yaitu: kecelakaan
otomobil, industri terjatuh, olah-raga, menyelam, luka tusuk, tembak dan tumor.
Cedera medula spinalis adalah suatu trauma yang mengenai medula spinalis atau sumsum tulang akibat
dari suatu trauma langsung yang mengenai tulang belakang. Penyebab cedera medula spinalis adalh kejadiankejadian yang secara langsung dapat mengakibatkan terjadinya kompresi pada medula spinalis seperti terjatuh dari
tempat yang tinggi, kecelakaan lalu lintas, kecelakaan olaghara dan lain-lain.
Cedera medula spinalis dapat menyebabkan terjadinya kelumpuhan jika mengenai saraf-saraf yang
berperan terhadap suatu organ maupun otot. Cedera medula spinalis ini terbagi menjadi 2 yaitu cedera medula
spinalis stabil dan tidak stabil.
Bila hemoragi terjadi pada daerah medulla spinalis, darah dapat merembes ke ekstradul subdural atau
daerah suaranoid pada kanal spinal, segera sebelum terjadi kontusio atau robekan pada Trauma, serabut-serabut
saraf mulai membengkak dan hancur. Sirkulasi darah ke medulla spinalis menjadi terganggu, tidak hanya ini saja
tetapi proses patogenik menyebabkan kerusakan yang terjadi pada Trauma medulla spinalis akut. Suatu rantai
sekunder kejadian-kejadian yang menimbulakn iskemia, hipoksia, edema, lesi, hemorargi.
Penatalaksanaan pasien segera ditempat kejadian adalah sangat penting, karena penatalaksanaan yang
tidak tepat dapat menyebabkan kerusakan kehilangan fungsi neurologik.Pada kepala dan leher dan leher harus
dipertimbangkan mengalami Trauma medula spinalis sampai bukti Trauma ini disingkirkan. Memindahkan pasien,
selama pengobatan didepartemen kedaruratan dan radiologi,pasien dipertahankan diatas papan pemindahan.
Penatalaksanaan untuk cedera medula spinalis adalah dengan pemberian obat kortikosteroid dan melihat
kepada sistem pernapasan, jika terjadi gangguan maka perlu diberikan oksigen.
Asuhan keperawatan yang diberikan pada pasien cedera medula spinalis adalah melihat kepada diagnosa
apa saja yang muncul. Intinya pemberian asuhan keperawatan pada pasien dengan cedera medula spinalis adalah
memperhatikan posisi dalam mobilisasi pasien sehingga tidak memperparah cedera yang terjadi.
Asuhan Keperawatan

yang diberikan pada pasien dengan Trauma medula spinalis berbeda

penanganannya dengan perawatan terhadap penyakit lainnya,karena kesalah dalam memberikan asuhan
keperawatan dapat menyebabkan Trauma semakin komplit dan dapat menyebabkan kematian

1.2 Saran
Cedera medula spinalis adalah suatu kejadian yang sering terjadi dimasyarakat. Tingkat kejadiannya cukup
tinggi karena bisa terjadi pada siapa saja dan dimana saja. Sehingga perlu tingkat kehati-hatian yang tinggi dalam
melakukan setiap aktivitas agar tidak terjadi suatu kecelakaan yang dapat mengakibatkan cedera ini.

Trauma Medula Spinalis| 56

Dengan adanya makalah ini diharapkan kepada mahasiswa agar dapat menjaga kesehatannya terutama
pada bagian tulang belakang agar Trauma medula spinalis dapat terhindar. Adapun jika sudah terjadi, mahasiswa
dapat melakukan perawatan seperti yang telah tertulis dalam makalah ini

DAFTAR PUSTAKA

Brunner and Suddarth, 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Edisi 8, volume 2. Jakarta : EGC.
Guyton, Arthur. 1990. Fisiologi Manusia dan Mekanisme Penyakit. Edisi 3, Jakarta : EGC
Laurralee Sherwood. .2001. Fisiologi Manusia. Edisi 2, Jakarta : EGC
Sylvia and Lorraine. 2006. Patofisiologi Konsep Klinis Proses Penyakit. Edisi 6, volume 2. Jakarta : EGC.
W.F.Ganong. 2005. Buku ajar Fisiologi Kedokteran. Edisi 22. Jakarta: EGCs
Hudak and Gallo, (1994), Critical Care Nursing, A Holistic Approach, JB Lippincott company, Philadelpia.
Marilynn E Doengoes, et all, alih bahasa Kariasa IM, (2000), Rencana Asuhan Keperawatan, pedoman untuk
perencanaan dan pendokumentasian perawatan pasien, EGC, Jakarta.
Reksoprodjo Soelarto, (1995), Kumpulan Kuliah Ilmu Bedah, Binarupa Aksara, Jakarta.
Suddarth Doris Smith, (1991), The lippincott Manual of Nursing Practice, fifth edition, JB Lippincott Company,
Philadelphia.

Trauma Medula Spinalis| 57