Anda di halaman 1dari 37

Feasibility Study PLTMH Batu Bedil PT.

TirtaDaya Rinjani

BAB V
ANALISA HIDROLOGI
5.1.

PENGUMPULAN DATA DAN ANALISA KONDISI HIDROLOGI

5.5.1 Umum
Langkah-langkah yang harus dilakukan dalam tahap awal studi hidrologi
antara lain meliputi pengumpulan data yang berupa data studi
terdahulu apabila ada, data peta topografi, pengumpulan data hidrologi
dan data-data terkait, analisis kondisi umum hidrologi, pengukuran debit
sesaat dan sebagainya.
5.5.2 Pengumpulan Data Dan Kondisi Hidrologi
A. Umum
Pengumpulan data yang terkait dalam review analisis hidrologi
diantaranya studi terdahulu, peta topografi, catatan hujan, catatan
debit, catatan klimatologi dan pengukuran langsung di lapangan.
Dari data-data tersebut dapat diketahui kondisi hidrologi secara
umum dan selanjutnya data-data tersebut akan dipergunakan dalam
analisa

hidrologi

lebih

lanjut

yaitu

untuk

mencari

besaran

ketersediaan air (debit aliran rendah). Semua data diperoleh dari


berbagai instansi serta dari hasil pengukuran di lapangan.
B. Peta Topografi DAS
Peta topografi diperlukan untuk menentukan batas Daerah Aliran
Sungai (DAS) yang berkontribusi terhadap aliran di sungai di lokasi
letak PLTMH berada. Semua anak sungai yang mengalir kedalam
sungai di hulu PLTMH merupakan bagian dari DAS.
Peta topografi juga digunakan untuk menentukan lokasi stasiun hujan,
automatic water level recorder (AWLR) dan stasiun meteorologi yang
ada yang akan dipakai dalam analisa apakah letaknya di dalam atau
di sekitar DAS. Selain itu peta topografi juga digunakan untuk
menentukan

karakteristik

DAS

seperti

panjang

sungai

utama,

kemiringan rata-rata, dan ketinggian titik-titik dalam DAS.

PT. Nusantara Rekayasa Cipta

V-1

Feasibility Study PLTMH Batu Bedil PT. TirtaDaya Rinjani


Peta topografi yang berhasil dikumpulkan adalah peta Bakosurtanal
tahun 1995 dengan skala 1 : 25.000, dengan interval kontur 12.5 m.
Peta tersebut diatas mencakup seluruh DAS mulai dari hulu sungai
sampai ke daerah hilir lokasi rencana power house. Dari peta

topografi yang diperoleh dengan melakukan penentuan batas DAS


pada lokasi maka dapat diketahui luas DAS sebesar 36.06 km2
dengan panjang sungai utama 22.87 km. Peta Daerah Aliran Sungai
(DAS) dapat dilihat pada gambar berikut ini.
Gambar 5.1 Peta Daerah Aliran Sungai (DAS) PLTMH Batu Bedil
C.

Data Hujan
Data hujan diperlukan untuk analisa hujan, analisa banjir dan analisa
ketersediaan air apabila tidak tersedia data pencatatan muka air yang
relative panjang (long term) atau Automatic Water Level Recorder (AWLR)
pada sungai tersebut baik di hulu rencana PLTMH, di hilir rencana PLTMH
atau di sungai sekitar lokasi pekerjaan.

PT. Nusantara Rekayasa Cipta

V-2

Feasibility Study PLTMH Batu Bedil PT. TirtaDaya Rinjani


Pada lokasi PLTMH Batu Bedil atau sungai Keling ini terdapat

AWLR,

sehingga analisis hidrologi untuk mendapatkan debit aliran rendah (debit


ketersediaan air) dilakukan dengan menggunakan data AWLR yang ada.
Data hujan akan dipergunakan untuk mengetahui kondisi hidrologi secara
umum yaitu untuk mengetahui bulan basah dan bulan/musim kering serta
hubungan antara data curah hujan yang ada dengan debit AWLR.
Data iklim dan curah hujan untuk DAS Keling yang berhasil dikumpulkan
adalah data hujan stasiun Sesaot. Sedangkan data iklim yang berhasil
dikumpulkan adalah data iklim stasiun Kopang.
Data hujan stasiun Sesaot yang berhasil dikumpulkan adalah data hujan
harian tahun 1993 sampai dengan tahun 2011.

Jumlah hujan bulanan,

curah hujan rata-rata bulanan maupun grafik hujan tahunan dapat dilihat
pada tabel 5.2 dan gambar 5.2 dan gambar 5.3.

PT. Nusantara Rekayasa Cipta

V-3

Feasibility Study PLTMH Batu Bedil PT. TirtaDaya Rinjani

Tabel 5.1 Data Curah Hujan Setengah Bulanan Stasiun Sesaot


DATA CURAH HUJAN SETENGAH BULAN
:
:
:
:

Nama Pos
Desa / Kec./ Kab.
Elevasi
Koordinat
TAHUN

Sesaot
Buwun Sejati/Narmada / Lombok barat
+ 302.36
08 32' 06" LS dan 116 14" 12" BT
(mm)

JAN

PEB

MAR

APR

MEI

JUL

AGT

SEP

JUMLAH
SETAHUN

II

II

II

II

II

II

II

II

II

II

232.9

231.3

89.0

157.4

251.2

127.6

12.3

47.1

71.1

111.9

78.0

8.7

0.3

5.4

0.4

30.7

96.0

40.2

52.7

156.7

272.8

228.3

332.7

2,739.9

1994

150.5

344.6

291.5

274.7

261.2

214.7

118.3

176.2

27.9

0.0

0.0

0.0

2.3

2.2

0.0

0.0

2.2

0.0

1.1

23.1

102.6

235.8

205.9

63.2

2,498.0

1995

290.6

111.6

235.3

145.9

120.8

303.0

215.4

104.1

59.7

69.8

100.2

87.9

33.2

1.5

0.0

0.0

5.9

4.2

43.0

100.4

246.0

242.0

270.3

35.9

2,826.7

1996

116.9

209.2

220.5

199.1

175.5

302.8

156.9

98.2

49.3

91.0

53.3

1.4

38.3

5.0

72.6

0.0

0.0

12.2

177.7

399.4

283.6

186.1

176.8

48.5

3,074.3

1997

96.9

77.7

91.1

296.9

52.4

32.2

126.3

64.4

93.0

47.5

12.2

12.6

0.0

0.0

0.0

0.0

0.0

0.0

0.0

3.6

53.6

56.1

87.4

82.7

1,286.6

1998

85.0

46.7

129.2

72.4

96.9

73.2

125.8

93.3

13.2

0.0

0.0

96.2

0.0

0.0

1.1

12.1

9.3

124.5

254.3

104.7

122.9

8.7

112.3

128.6

1,710.4

1999

168.6

271.7

230.8

156.4

124.6

156.8

127.0

110.3

76.9

0.0

5.6

35.4

45.7

0.0

20.0

0.0

21.6

57.3

77.6

89.6

110.4

87.7

162.1

70.7

2,206.8

2000

151.2

144.4

111.0

88.9

131.0

202.9

151.2

104.4

8.0

36.0

1.1

17.5

0.6

4.1

0.0

15.6

1.8

6.5

78.5

99.0

338.6

277.4

49.5

13.3

2,032.5

2001

331.0

209.4

166.3

29.3

107.1

82.9

101.8

16.1

101.4

65.2

85.5

3.9

0.0

39.6

0.0

0.0

0.0

10.0

20.5

181.5

60.2

145.7

71.3

17.6

1,846.3

2002

166.6

157.2

93.1

69.8

224.5

80.4

47.0

30.2

45.5

15.6

0.0

0.0

0.0

5.0

0.0

0.0

2.3

13.1

36.8

32.6

0.0

0.0

386.1

152.0

1,557.8

2003

306.8

129.2

171.9

171.3

366.0

258.0

172.0

109.0

125.0

87.8

7.4

109.6

0.0

33.6

0.0

0.7

86.3

27.8

45.2

70.5

96.7

295.7

251.2

75.4

2,997.1

2004

82.1

329.6

64.7

192.2

115.1

337.0

121.4

137.5

64.5

114.4

1.3

0.0

27.5

0.0

0.6

0.2

8.9

26.3

0.0

118.0

90.0

308.5

138.5

319.0

2,597.3

2005

49.7

105.8

154.4

282.8

173.5

362.7

212.8

24.4

20.0

4.3

0.1

127.4

86.4

0.3

13.7

3.1

0.6

43.1

182.9

298.2

24.3

338.3

136.1

182.4

2,827.3

2006

167.1

141.9

61.4

139.4

146.8

153.9

114.7

64.2

59.9

105.1

0.5

24.7

1.6

8.2

0.0

0.2

0.8

0.0

23.4

1.8

96.5

98.5

192.0

244.6

1,847.2

2007

81.7

29.4

77.4

186.9

188.3

118.3

169.8

59.1

45.4

129.4

25.4

83.2

10.5

5.1

4.4

2.5

53.4

0.4

28.7

61.3

96.7

63.5

251.5

302.7

2,075.0

2008

103.7

112.7

169.3

172.8

140.1

74.9

132.7

87.3

69.5

36.7

25.2

4.1

0.0

0.0

13.8

24.6

13.4

137.5

68.1

193.4

212.0

167.0

80.2

57.4

2,096.4

2009

409.2

215.0

270.4

117.5

112.2

134.8

32.4

24.8

0.0

0.0

0.0

0.0

0.0

0.0

0.0

0.0

40.1

74.1

52.8

97.9

165.2

85.9

91.7

25.5

1,949.5

2010
2011

150.8
91.5

64.0 157.0
98.6 141.9

353.0 268.1
236.1 311.5

3,418.1
2,659.9

RERATA
163
158
158
145
Sumber : Balai Informasi Sumber Daya Air

PT. Nusantara Rekayasa Cipta

77.5
65.5

46.0
334.9

150

173

139

78

63

59.8
91.7
54

240.2
1.2
35

23.4
7.3
38

112.1 104.2
6.6
27.8
20

12

39.8 152.0 147.1


1.5
0.4
45.7
9

11

V-3

25

243.2
1.1
46

DES

86.8
63.4

II

NOP

105.2

30.7
45.4

OKT

1993

30.0 102.4
106.6 123.7

II

JUN

200.0 250.0 390.0


42.7 201.8 441.4
72

125

162

90.0
171.6
165

183

144

2,329

Feasibility Study PLTMH Batu Bedil PT. TirtaDaya Rinjani


Tabel 5.2 Data Jumlah Curah Hujan Bulanan Stasiun Sesaot

Gambar 5.2 Grafik Curah Hujan Bulanan Rata-Rata Stasiun Sesaot


Daerah studi sebagaimana halnya daerah lain di Indonesia, beriklim tropika
basah, yang dipengaruhi dua angin musim. Dari grafik hujan bulanan di atas
menunjukkan bahwa bulan basah terjadi pada bulan Desember sampai dengan
April sedangkan bulan kering atau kemarau terjadi pada bulan Mei sampai
dengan November.
PT. Nusantara Rekayasa Cipta

V-4

Feasibility Study PLTMH Batu Bedil PT. TirtaDaya Rinjani

Gambar 5.3 Grafik Hujan Tahunan Stasiun Sesaot


Dari tabel data hujan tersebut dapat diketahui bahwa pada lokasi termasuk
daerah di Indonesia yang memiliki curah hujan tahunan rerata yang sedang
yaitu pada kisaran 1830 mm. Sedangkan curah hujan ekstrim tertinggi terjadi
pada tahun 1992 yang mencapai 3318 mm dan pada tahun 1996 sebesar
3074 mm. Pada tahun 1997 tercatat merupakan tahun ekstrim terkering
dimana jumlah hujan tahunan hanya sekitar 1287 mm.
D.

Data Debit
Data debit merupakan data dasar untuk analisa hidrologi. Data debit
diperlukan dalam analisa ketersediaan air sebagai kalibrasi model hujanlimpasan apabila data pencatatan debit yang ada tidak panjang (longterm
discharge). Stasiun AWLR memiliki mesin otomatik yang merekam
ketinggian muka air di sungai diatas selembar kertas grafik yang digulung
pada suatu silinder yang dijalankan oleh jam. Kertas grafik diganti tiap 2
minggu.
Apababila data pengamatan debit tersedia cukup panjang minimal 20
tahun maka tidak diperlukan lagi analisis ketersediaan air dengan cara
teoristis atau model hujan-limpasan. Namun demikian apabila data debit
yang tersedia tidak sesuai dengan standart yang ditentukan maka perlu
dibuat kalibrasi model hujan-limpasan dari data debit yang tersedia
tersebut.

PT. Nusantara Rekayasa Cipta

V-5

Feasibility Study PLTMH Batu Bedil PT. TirtaDaya Rinjani

1. Data Debit AWLR


Pada sungai Keling (Sesaot) terdapat AWLR yang dipasang pada hulu
bendung PLTM Sesaot atau pada hilir bendung PLTMH Batu Bedil. Jarak
antara lokasi bendung dengan AWLR adalah sepanjang 0.58 km. Peta lokasi
tata letak AWLR dan Bendung dapat dilihat pada peta DAS pada Gambar
5.1.
Data AWLR yang berhasil dikumpulkan adalah data pengamatan AWLR
Keling dari tahun 1992 sampai dengan tahun 2011. Selain itu juga
diperoleh informasi

bahwa telah dilakukan kalibrasi untuk rumus rating

curve pada tahun 2010/2011. Dan rumus baru tersebut diterapkan pada
data pembacaaan tinggi muka air mulai tahun 2012.
Berikut ini dapat dilihat grafik debit harian maksimum sungai Keling
dari tahun 1992 sampai dengan 2011.

Gambar 5.4 : Grafik Debit Maksimum Harian AWLR Keling


Dari grafik di atas diketahui bahwa debit harian maksimum dari musim kering
sampai dengan musim basah adalah antara 1.29 m3/dt sampai dengan 31.21
m3/dt. Grafik debit rata-rata harian sungai Keling dari tahun 1992 sampai
dengan 2011 dapat dilihat pada gambar 5.5 berikut ini.

PT. Nusantara Rekayasa Cipta

V-6

Feasibility Study PLTMH Batu Bedil PT. TirtaDaya Rinjani

Gambar 5.5 Grafik Debit Rata-Rata Harian AWLR Keling


Dari grafik di atas diketahui bahwa debit harian rerata dari musim kering
sampai dengan musim basah adalah antara 0.43 m3/dt sampai dengan 4.44
m3/dt.
Sedangkan grafik debit minimum harian sungai Keling dari tahun 1992 sampai
dengan 2011 dapat dilihat pada gambar 5.6 berikut ini.

Gambar 5.6 Grafik Debit Minimum Harian AWLR Keling


Dari grafik di atas diketahui bahwa debit harian minimum dari musim kering
sampai dengan musim basah adalah antara 0.02 m3/dt sampai dengan 0.38
m3/dt.

PT. Nusantara Rekayasa Cipta

V-7

Feasibility Study PLTMH Batu Bedil PT. TirtaDaya Rinjani

2. Debit Pengukuran Debit Sesaat


Meskipun sudah ada data debit dari ALWR keling yang cukup panjang tetapi
dalam studi ini tetap dilakukan pengukuran debit sesaat. Pengukuran debit
ini diperlukan untuk mengetahui perbandingan debit di lokasi hulu Bendung
PLTM Sesaot dan di lokasi AWLR untuk keperluan koreksi perbandingan DAS
nantinya agar hasilnya lebih akurat.
Pengukuran debit sesaat telah dilaksakan pada tanggal 6 Desember tahun
2011 dengan dengan anggota tim sebagai berikut:
1. Jupri Tim Survey dari Balai ISDA Dinas PU Prov. NTB
2. Nursin Tim Survey dari Balai ISDA Dinas PU Prov. NTB
3. Tim Konsultan
Pada saat Pengukuran debit yang terukur secara langsung dilapangan
adalah sebesar 7.905 m3/detik. Berikut disajikan tabulasi hasil pengukuran

PT. Nusantara Rekayasa Cipta

V-8

Feasibility Study PLTMH Batu Bedil PT. TirtaDaya Rinjani

Tabel 5.3 Hasil Pengukuran Debit Sesaat

Gambar 5.7 Penampang Basah Terukur


PT. Nusantara Rekayasa Cipta

V-9

Feasibility Study PLTMH Batu Bedil PT. TirtaDaya Rinjani

Dokumentasi Pengukuran Debit Sesaat (6 Desember 2011)

PT. Nusantara Rekayasa Cipta

V-10

Feasibility Study PLTMH Batu Bedil PT. TirtaDaya Rinjani

Gambar 5.8 Skema Sungai Sesaot dan jalur PLTMH Batu Bedil (Sesaot
Extension)
5.2. ANALISA DEBIT BANJIR RANCANGAN
5.2.1

Analisa Data Hujan

Data hujan diperlukan untuk analisa hujan, analisa banjir dan analisa
ketersediaan air apabila tidak tersedia data pencatatan muka air yang
relative panjang (long term) atau Automatic Water Level Recorder (AWLR)
pada sungai tersebut baik di hulu rencana PLTMH, di hilir rencana PLTMH
atau di sungai sekitar lokasi pekerjaan.
Data hujan akan dipergunakan untuk mengetahui kondisi hidrologi secara
umum yaitu untuk mengetahui bulan basah dan bulan/musim kering serta
hubungan antara data curah hujan yang ada dengan debit AWLR. Stasiun
hujan yang berpengaruh padas DAS adalah Stasiun Sesaot. Data hujan
stasiun Sesaot yang berhasil dikumpulkan adalah data hujan harian tahun
1993 sampai dengan tahun 2011. Data curah hujan maksimum harian
Stasiun Sesaot dapat dilihat pada tabel 5.4.
Tabel 5.4 Curah Hujan Maksimum Harian Stasiun Sesaot
No.
Tahun
Hujan Maksimum (mm/hr)
1
1993
98.10
PT. Nusantara Rekayasa Cipta

V-11

Feasibility Study PLTMH Batu Bedil PT. TirtaDaya Rinjani


2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
Sumber
5.2.2

1994
1995
1996
1997
1998
1999
2000
2001
2002
2003
2004
2005
2006
2007
2008
2009
2010
2011
: Hasil Perhitungan

100.30
80.60
110.00
54.60
96.20
109.80
78.60
77.50
95.90
87.40
88.00
124.50
60.60
93.40
89.30
83.40
120.00
116.50

Uji Konsistensi Data Hujan

Salah satu cara yang dilakukan untuk mendeteksi penyimpangan data


hujan adalah dengan metode RAPS. Persamaan umum yang digunakan
adalah (Sri Harto, 1993):
n

Dy =

( X
i 1

- X )2

n
k

Sk* = X i X
i 1

Sk *

Sk** =

Dy

Nilai Statistik (Q)


**
Sk
= 0maks
k n

Nilai Statistik (R)


**
**
R
= maks S k min S k
0k n

0k n

dengan:
n
Xi

Sk*, Sk**, Dy
Q, R

=
=
=
=
=

banyak tahun
data curah hujan ke- i
rata-rata curah hujan
nilai statistik
nilai parameter statistik

Tabel 5.5 Uji Konsistensi Data hujan Sta. Sesaot Menggunakan Metode
RAPS

PT. Nusantara Rekayasa Cipta

V-12

Feasibility Study PLTMH Batu Bedil PT. TirtaDaya Rinjani

5.2.3

Analisis Distribusi Frekuensi

Dalam statistik dikenal beberapa jenis distribusi dan masing-masing


distribusi memiliki sifat khas sehingga setiap data hidrologi harus diuji
kesesuaiannya dengan sifat statistik masing-masing distribusi tersebut.
Metode yang digunakan dalam studi ini adalah distribusi Log Pearson
Tipe

III.

Langkah-langkah

perhitungan

dijelaskan

sebagai

berikut

(Triatmodjo, 2008):
a.

Hitung harga rata-rata :


n

log X

log X
i 1

b.

Hitung harga standar deviasi :

log X
n

i 1

log X

n 1

c.
PT. Nusantara Rekayasa Cipta

Hitung koefisien kepencengan (Cs)

V-13

Feasibility Study PLTMH Batu Bedil PT. TirtaDaya Rinjani


n

Cs
d.

n log X i log X
i 1

n 1 n 2 S log X

Hitung logaritma hujan atau banjir

dengan periode ulang T :

log X T log X K .S
e.

Hitung anti log XT untuk mendapatkan


curah hujan rencana dengan kala ulang T.

dengan:
x
X

XT
(mm)
S
Log X
Cs

= curah hujan harian (mm)


= rata-rata curah hujan (mm)
= curah hujan harian maksimum pada periode ulang T tahun
= standar deviasi,
= harga rata-rata log dari curah hujan harian maksimum,
= koefisien kepencengan,

Dalam penentuan distribusi yang sesuai dengan data dilakukan dengan


mencocokkan parameter statistik dengan syarat masing-masing jenis
distribusi seperti pada tabel 5.6.
Tabel 5.6 Parameter statistik untuk menentukan jenis distribusi
No
Distribusi
1
Normal
2
Log Normal
3
Gumbel
4
Log Pearson Tipe III
Sumber: Triatmodjo, 2008

Syarat
Cs 0, Ck 3
Cs = 3 Cv
Cs = 1,14, Ck = 5,4
Selain dari niai di atas

Tabel 5.7 Parameter pemilihan distribusi curah hujan

PT. Nusantara Rekayasa Cipta

V-14

Feasibility Study PLTMH Batu Bedil PT. TirtaDaya Rinjani

Dari tabel di atas diperoleh parameter-parameter statistik. Melihat syarat


penentuan agihan yang terdapat pada Tabel 5.6, maka data hujan
termasuk distribusi Log Pearson Type III.
5.2.4

Uji Kecocokan Distribusi

Uji kecocokan dimaksudkan untuk menentukan apakah persamaan


distribusi peluang yang terpilih dapat mewakili dari distribusi statistik
sampel data yang dianalisis. Ada dua cara yang dapat dilakukan untuk
menguji apakah jenis distribusi yang dipilih sesuai dengan data yang ada.
Untuk melakukan uji ini, maka data dan hasil yang diperoleh secara
teoritik harus diplot pada kertas distribusi frekuensi sesuai dengan
metode yang digunakan (Triatmodjo, 2008).
1.

Uji Chi Kuadrat

Metode ini digunakan untuk menguji simpangan secara vertikal, yang


ditentukan menggunakan persamaan berikut ini (Triatmojo, 2008):

PT. Nusantara Rekayasa Cipta

V-15

Feasibility Study PLTMH Batu Bedil PT. TirtaDaya Rinjani


N

Xh=

( Of - Ef )

i 1

dengan:
X2h
=
N
=
Of
=
Ef
=

Ef
parameter chi kuadrat hitungan
jumlah sub kelompok dalam satu grup
jumlah nilai pengamatan pada sub
jumlah nilai teoritis pada sub kelompok ke i

Jumlah kelas distribusi dihitung dengan rumus:


K 1 3.332 log n
(2-22)
Sedangkan harga derajat kebebasan dapat dicari dengan persamaan:
DK K ( 1)
(2-23)
dengan :
DK
: derajat kebebasan,
K
: jumlah kelas distribusi,

: parameter, untuk chi-kuadrat = 2


Interpretasinya yaitu :
a. X2h < X2cr , maka distribusi teoritis yang digunakan dapat
diterima,
b. X2h < X2cr, maka distribusi teoritis yang digunakan tidak dapat
diterima.
Tabel 5.8 Nilai Kritis (X2cr) Uji Chi-Kuadrat
DK

0.95
0.9
0.00
1 0.000
4
0.016
0.10
2 0.020
3
0.211
0.35
3 0.115
2
0.584
0.71
4 0.297
1
1.064
1.14
5 0.554
5
1.610
1.63
6 0.872
5
2.204
2.16
7 1.224
7
2.833
2.73
8 1.646
3
3.890
3.32
9 2.088
5
4.168
3.94
10 2.558
0
6.179
Sumber: Triatmodjo, 2008
2.

0.99

Distribusi X2
0.8
0.5
0.45
0.064
5
1.38
0.446
6
2.36
1.005
6
3.35
1.649
7
4.35
2.343
1
5.34
1.070
8
6.34
3.822
6
7.34
4.594
4
8.38
5.380
3
9.34
6.179
2

0.1
2.706
4.605
6.251
7.779
9.23
6
10.6
45
12.0
17
13.3
62
14.6
84
15.9
87

0.05
3.84
1
5.99
1
7.81
5
9.48
8
11.07
0
12.59
2
14.06
7
15.50
7
16.91
9
18.30
7

0.01
6.635
9.210
11.34
5
13.27
7
15.0
86
16.8
12
18.4
75
20.0
90
21.6
66
23.2
09

Uji Smirnov-Kolmogorov

PT. Nusantara Rekayasa Cipta

V-16

Feasibility Study PLTMH Batu Bedil PT. TirtaDaya Rinjani


Pengujian kecocokan Smirnov-Kolmogorov sering juga disebut uji
kecocokan

(non

menggunakan

parametik

fungsi

test),

distribusi

karena

tertentu.

pengujiannya
Dan

pengujian

tidak
ini

dimaksudkan untuk mencocokkan apakah sebaran yang telah dibuat


pada perhitungan sebelumnya benar yaitu berupa garis yang telah
dibuat pada kertas distribusi peluang. Dalam bentuk persamaan dapat
ditulis (Triatmodjo, 2008):

max maksimum P P '

dengan:

max

P
P'

: penyimpangan absolut peluang teoritis dan pengamatan,


: peluang teoritis,

: peluang empiris.
Langkah berikutnya adalah membandingkan antar max dengan cr.
Interpretasinya adalah :
a. max < cr , maka distribusi teoritis yang digunakan dapat
diterima,
b. max > cr , maka distribusi teoritis yang digunakan tidak dapat
diterima.
Tabel 5.9 Nilai Kritis untuk Uji Smirnov-Kolmogorov
Ukuran
Sample
n
5
10
15
20
25
30
35
40
45
50
n > 50

Level of signifikan (%)


20
0.45
0.32
0.27
0.23
0.21
0.19
0.18
0.17
0.16
0.15
1.07
n

10
0.51
0.37
0.30
0.26
0.24
0.22
0.20
0.19
0.18
0.17
1.22
n

5
0.56
0.41
0.34
0.29
0.27
0.24
0.23
0.21
0.20
0.19
1.36
n

1
0.67
0.49
0.40
0.35
0.32
0.29
0.27
0.25
0.24
0.23
1.63
n

Sumber: Triatmodjo, 2008


Tabel 5.10 Pengujian Smirnov-Kolmogorov

PT. Nusantara Rekayasa Cipta

V-17

Feasibility Study PLTMH Batu Bedil PT. TirtaDaya Rinjani

Tabel 5.11 Pengujian Chi-Square

PT. Nusantara Rekayasa Cipta

V-18

Feasibility Study PLTMH Batu Bedil PT. TirtaDaya Rinjani

Tabel 5.12 Perhitungan curah hujan rancangan metode Log Pearson Tipe III

PT. Nusantara Rekayasa Cipta

V-19

Feasibility Study PLTMH Batu Bedil PT. TirtaDaya Rinjani

Tabel 5.13 Hujan rancangan metode Log Pearson Tipe III

PT. Nusantara Rekayasa Cipta

V-20

Feasibility Study PLTMH Batu Bedil PT. TirtaDaya Rinjani


5.2.5

Karakteristik DAS

Koefisien pengaliran adalah suatu variabel yang nilainya didasarkan pada


kondisi daerah pengaliran dan karakteristik hujan yang jatuh di daerah
tersebut. Nilai koefisien pengaliran menurut kondisi daerah pengaliran
sungai dapat ditentukan menurut Tabel 5.14.
Kondisi pengaliran diambil 0,50.
Tabel 5.14 Nilai Koefisien Pengaliran
Kondisi Daerah Pengaliran Sungai
Pegunungan curam
Pegunungan tersier
Tanah bergelombang dan hutan
Dataran pertanian
Dataran sawah irigasi
Sungai di pegunungan
Sungai di dataran rendah
Sungai besar yang sebagian besar alirannya berada di
dataran rendah
Sumber : Sosrodarsono, 1999
5.2.6

0.75
0.70
0.50
0.45
0.70
0.75
0.45
0.50

C
0.90
0.80
0.75
0.60
0.80
0.85
0.75
0.75

Distribusi Hujan Jam-Jaman

Untuk mentransformasikan curah hujan rancangan menjadi debit banjir


rancangan diperlukan curah hujan jam-jaman. Pembagian curah hujan
tiap jam dihitung berdasarkan Rumus Mononobe. Adapun langkah
perhitungannya sebagai berikut (Soemarto, 1987).
a. Persamaan rata-rata curah hujan sampai jam ke-t

R T
Rt 24
T t

dengan :
Rt

= curah hujan rata-rata sampai jam ke-t (mm),

R24

= curah hujan harian maksimal dalam 24 jam (mm),

= periode hujan (jam),

= jumlah jam-jaman (jam).

b. Curah hujan pada jam ke-t

Rt ' Rt . t t 1 R t 1
dengan :
t = waktu hujan (jam)

PT. Nusantara Rekayasa Cipta

V-21

Feasibility Study PLTMH Batu Bedil PT. TirtaDaya Rinjani


c. Curah hujan efektif

Rc R n . C
Rct Rn . Ratio
Ratio Rt '. 100 0 0
dengan :
Rct

= hujan efektif pada jam ke-t (mm),

= koefisien pengaliran,

Rn

= kemungkinan hujan pada T tahun (mm)


Tabel 5.15 Distribusi Hujan Netto Jam-Jaman

PT. Nusantara Rekayasa Cipta

V-22

Feasibility Study PLTMH Batu Bedil PT. TirtaDaya Rinjani


5.2.7

Hidrograf Satuan Sintetik Nakayasu

Perhitungan debit banjir rancangan menggunakan metode Hidrograf


Satuan Sintetik Nakayasu sebagai berikut (Soemarto, 1987):
Qp =

A Ro
3,6 ( 0,3 Tp T0,3 )

dengan:
Qp

= debit puncak banjir (m3/dtk)

= luas DAS ( Km2)

Ro

= hujan satuan (1 mm)

Tp

= selang waktu terakhir sampai puncak banjir (jam)

T0.3

= waktu yang diperlukan oleh penurunan debit dari debit

puncak sampai
menjadi 30 % dari debit puncak (jam)
= 0.4751 A0.644 D0.943

Aliran dasar sungai

(Triatmodjo, 2008)

dengan:
D

= kerapatan jaringan kuras (L/A)

= luas DAS (Km2)

= panjang sungai (Km)

Bagian lengkung naik ( rising limb ) mengikuti persamaan berikut:

t
Qa

Tp

2.4

dengan:
Qa

= limpasan sebelum mencapai puncak (m3/dtk)

Tp= selang waktu terakhir sampai puncak banjir (jam)


Bagian lengkung turun ( decreasing limb ) mengikuti persamaan berikut:

Qd

t Tp

T 0 .3

= Qpx 0.3

Qd
-

> 0,3 Qp

0,3 Qp > Qd > 0,32 Qp


Qd

= Qpx0.3
0,32 Qp > Qd
Qd

= Qpx0.3

( t - Tp ) ( 0,5 .T0,3 )
1,5 T0,3

( t - Tp ) ( 0,5 .T0,3 )

PT. Nusantara Rekayasa Cipta

2 T0,3

V-23

Feasibility Study PLTMH Batu Bedil PT. TirtaDaya Rinjani


Tenggang waktu dari permulaan hujan sampai puncak (Tp)
Tp= Tg + 0,8 Tr
Untuk : L < 15 km
L > 15 km

tg = 0,21 L0,7
tg = 0,4 + 0,058 L

tr = 0,5 tg sampai tg (jam)


T0,3

= tg (jam)

Nilai (koefisien limpasan) (Soemarto,1987) :


- Untuk daerah pengaliran biasa
=2

- Untuk bagian naik hidrograf lambat dan bagian menurun yang cepat
= 1.5
- Untuk bagian naik hidrograf cepat dan bagian menurun yang lambat
=3

i
tr
0,8 tr
Q

tg

Lengkung naik

lengkung turun

Qp
0,3 Qp
0,32 Qp
Tp

T0,3

1,5 T 0,3

Gambar 5.9 Hidrograf Banjir Rancangan Metode Nakayasu


Rekapitulasi hasil perhitungan debit banjir Rencana dengan Metode
Nakayasu dapat dilihat dalam Tabel 5.16. Pehitungan debit banjir
rencana selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran.

PT. Nusantara Rekayasa Cipta

V-24

Feasibility Study PLTMH Batu Bedil PT. TirtaDaya Rinjani

Tabel 5.16 Rekapitulasi Debit Banjir Rencana Metode Nakayasu

PT. Nusantara Rekayasa Cipta

V-25

Feasibility Study PLTMH Batu Bedil PT. TirtaDaya Rinjani

Gambar 5.10 Rekap Hidrograf Banjir Rancangan Metode Nakayasu


5.3

KETERSEDIAAN AIR

5.3.1

Umum

Tujuan analisa debit ketersediaan air adalah untuk memperkirakan


ketersediaan air di sungai, yang diketahui sebagai dependable flow.
Ketersediaan air biasanya diperlukan dalam studi pendahuluan proyekproyek yang akan memanfaatkan air dari sungai. Perhitungan tersebut
dilakukan dengan analisa debit sungai ataupun analisa simulasi data
hujan, kemudian dituangkan dalam bentuk kurva durasi aliran atau flow
duration curve.

5.3.2

Prosedur Analisis Ketersediaan Air (Low Flow Analysis)

Sebagaimana

disebutkan

di

atas

bahwa

hasil

akhir

dari

analisis

ketersediaan air atau analisa debit aliran rendah adalah flow duration
curve.

Untuk memproleh hasil akhir yang memuaskan ada beberapa

tahapan yang harus ditempuh.


Pertama perlu dilihat data-data penunjang yang tersedia sebagai bahan
dasar analisis. Adapun data penunjang yang dimaksud adalah :
a.

Data debit sungai


Untuk ketepatan yang lebih baik diperlukan data yang lebih panjang.

PT. Nusantara Rekayasa Cipta

V-26

Feasibility Study PLTMH Batu Bedil PT. TirtaDaya Rinjani


Data harus berupa data pengamatan kontinyu dalam kurun waktu
yang cukup panjang pada stasiun Automatic Water Level Recorder
(AWLR) di atau dekat lokasi pengukuran.
Namun data debit sangat jarang tersedia, dan juga lokasi AWLR
terletak jauh dari lokasi pengukuran, atau mungkin tidak ada pada
sepanjang sungai tersebut. Bila data penunjang (a) tersedia, maka
proses pembuatan flow duration curve bisa langsung dibuat dengan
terlebih

dahulu

melakukan

penyusunan

peringkat

data

dan

probabilitas kejadian debit.


b.

Data hujan dan karaketeristik DAS.


Selanjutnya bila data penunjang (a) tersebut tidak tersedia, maka
harus ditempuh dengan cara lain dengan membuat simulasi rainfall
runof. Ada berbgai metode yang dapat digunakan dalam perhitungan
transformasi data hujan menjadi debit antara lain Metode Mock, Model
Tank, Nreca dan Thornwaite.

5.3.3

Ketersediaan Data

Seperti telah diuraikan sebelumnya, bahwa di pada lokasi studi terdapat


data AWLR yang cukup lengkap dan panjang. Oleh karena itu maka
perhitungan debit ketersediaan air dilakukan dengan cara sistem
perbandingan DAS. Data AWLR yang ada adalah data tahun 1992 sampai
dengan data tahun 2011.
Data pengamatan hanya berupa pengukuran sesaat yang akan digunakan
sebagai konfirmasi nilai perbandingan DAS untuk menjamin tingkat
ketelitian perhitungan.

5.3.4

Analisa Data AWLR Keling

A. Analisis Data Debit Harian AWLR Keling


Sebelum kita mempergunakan suatu data baik data hujan maupun
debit maka perlu dilakukan analisis keakuratan sumber data debit.
Pada sungai Keling diperoleh data debit sungai yang cukup panjang.
Data debit yang ada adalah data pembacaan AWLR yang berupa data

PT. Nusantara Rekayasa Cipta

V-27

Feasibility Study PLTMH Batu Bedil PT. TirtaDaya Rinjani


pencatatan tinggi muka air yang selanjutnya dimasukkan ke dalam
persamaan debit.
Data debit pada sungai Keling diperoleh dari data harian ALWR Keling
dari tahun 1992 sampai dengan tahun 2011. Kondisi ketersediaan air
pada setiap bulannya pada masing-masing tahun dapat dilihat pada
tampilan grafik pada gambar 5.11 sampai dengan gambar 5.14 di
bawah ini.

Gambar 5.11 Grafik Debit Harian AWLR Keling tahun 2007 2011

Gambar 5.12 Grafik Debit Harian AWLR Keling tahun 2002 2006

PT. Nusantara Rekayasa Cipta

V-28

Feasibility Study PLTMH Batu Bedil PT. TirtaDaya Rinjani

Gambar 5.13 Grafik Debit Harian AWLR Keling tahun 1997 - 2001

Gambar 5.14 Grafik Debit Harian AWLR Keling tahun 1992 - 1996
Dari grafik data debit harian AWLR Keling tersebut di atas dapat dianalisa
bahwa debit terbesar atau ekstrim terjadi pada tahun 2010 yaitu sebesar
22.47 m3/dt, sedangkan debit terkecil terjadi pada tahun 2006 yaitu sebesar
0.60 m3/dt.

PT. Nusantara Rekayasa Cipta

V-29

Feasibility Study PLTMH Batu Bedil PT. TirtaDaya Rinjani

PT. Nusantara Rekayasa Cipta

V-30

Feasibility Study PLTMH Batu Bedil PT. TirtaDaya Rinjani


5.3.5

Debit Andalan PLTMH Batu Bedil

Penentuan debit andalan dimaksudkan untuk mengetahui gambaran besarnya debit andalan pada lokasi Sungai Sesaot.
Data debit yang diperhitungkan yakni data debit sungai Sesaot (AWLR Keling) karena posisi AWLR Keling dan Power
House Sesaot tidak ada pengambilan air atau pemanfaatan. Skema letak Bendung PLTM Sesaot, AWLR Keling, rencana
Bendung PLTMH Batu Bedil dan Power House Batu Bedil pada gambar 5.8. Sumber data diperoleh dari Balai Informasi
Sumber Daya Alam Dinas Pekerjaan Umum Provinsi Nusa Tenggara Barat
Tabel 5.17 Debit Sungai Sesaot (AWLR Keling)

Sumber data : Balai Informasi Sumber Daya Alam Dinas Pekerjaan Umum Provinsi Nusa Tenggara Barat

PT. Nusantara Rekayasa Cipta

V-28

Feasibility Study PLTMH Batu Bedil PT. TirtaDaya Rinjani

PT. Nusantara Rekayasa Cipta

V-29

Feasibility Study PLTMH Batu Bedil PT. TirtaDaya Rinjani


Dari table 5.17 dibuat grafik Flow Duration Curve yaitu probabilitas debit
sebagai dasar perhitungan debit andalan dari sebuah pembangkit.
Tabel 5.19 Probabilitas Debit Ketersediaan Air PLTMH Batu Bedil
No

Debit rata-rata
(m3/dt)

Probabilitas
%

13,5

0.21

12.5

0.42

11.5

1.04

10.5

1.25

9.5

3.96

8.5

7.08

7.5

9.58

6.5

15.42

5.5

19.79

10

4.5

29.17

11

3.5

38.96

12

2.5

51.04

13

1.5

70.00

14

0.5

97.89

15

0.11

100.00

PT. Nusantara Rekayasa Cipta

V-29

Feasibility Study PLTMH Batu Bedil PT. TirtaDaya Rinjani

Unit 1

Unit 2

Gambar 5.15 : Kurva Durasi Aliran PLTMH Batu Bedil

PT. Nusantara Rekayasa Cipta

V-30

Feasibility Study PLTMH Batu Bedil PT. TirtaDaya Rinjani


Berdasarkan Kurva Durasi Aliran PLTMH Batu Bedil di pilih dengan Debit 5 m 3/det pada probabiltas 24 % dengan
pertimbangan sebagai berikut :

PLTMH Batu Bedil merupakan cascading dari PLTM Sesaot

PLTMH Batu Bedil seluruhnya menggunakan air dari buangan (tail race) eksisting PLTM Sesaot

Tidak ada pemakain atau pemanfaatan air untuk pertanian maupun perikanan sesudah buangan PLTM Sesaot dan
PLTMH Batu Bedil

PLTM Sesaot sudah mendapatkan Surat Izin Pemanfaatan Sumber Daya Air (SIPPA) dari Kementerian PU dengan
Debit 5 m3/det.

PLTMH Batu Bedil dalam perencanaan akan menggunakan Bendung

Dari hasil penawaran dari Jinlun (supplier Mesin) harga dengan menggunakan Debit 4 dan 5 m 3/det adalah sama
besaran biaya nya.

5.4 PERHITUNGAN PRODUKSI ENERGI


Perhitungan produksi energi yang dihasilkan PLTM didasarkan pada kurva durasi debit (flow duration curve). Debit
aliran yang melewati turbin adalah sama atau lebih kecil dari debit rancangan.
Debit minimum setiap turbin yang dapat menghasilkan energi listrik diperhitungkan sebesar 30 % dari debit
rancangan yaitu 0,75 m3/detik. Dari hasil perhitungan produksi energi PLTM Batu Bedil sebesar 2.691.049,69
kWh/tahun. Lama operasi dalam satu tahun adalah 328,5 hari/tahun atau 90 %.
Perhitungan produksi energi PLTM Batu Bedil secara detail dapat dilihat pada tabel 5.20 dibawah ini.

Tabel 5.20 Perhitungan Produksi Energi


PT. Nusantara Rekayasa Cipta

V-31

Feasibility Study PLTMH Batu Bedil PT. TirtaDaya Rinjani

PT. Nusantara Rekayasa Cipta

V-32