Anda di halaman 1dari 74

2013

gimPENDIDIKAN , KL

MEKANIKA TEKNIK STATIS


TERTENTU
BAHAN AJAR

Aspire
8/8/2013

KATA PENGANTAR

Dengan mengucap syukur kepada Allah SWT , karena


dengan rachmat NYA kami bisa menyelesaikan BAHAN AJAR
MEKANIKA TEKNIK STATIS TERTENTU .
Bahan ajar ini diharapkan dapat membantu proses belajar
mengajar di Program Diploma 4 Teknik Sipil , disamping
buku referensi yang telah ada .
Mata kuliah Mekanika Teknik Statis Tertentu ini merupakan
ilmu dasar keahlian yang harus dipahami mahasiswa Teknik
Sipil .
Oleh karena itu mahasiswa harus memahami secara benar ,
sehingga diperlukan membuat sajian materi dalam bentuk
bahan ajar mata kuliah ini .
Bahan ajar ini dibuat dalam bentuk yang lebih rinci lengkap
dengan contoh soal dan penjelasannya .

MATERI
. GAYA

. MACAM BEBAN , PERLETAKAN

. MENCARI REAKSI PERLETAKAN

. GAYA DALAM ( BIDANG NORMAL , LINTANG ,


MOMEN )

. KONSTRUKSI RANGKA BATANG

. GARIS PENGARUH

PROGRAM DIPLOMA TEKNIK SIPIL


FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN
INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER

KONTRAK KULIAH &


MATERI PEMBELAJARAN
MINGGU KE

KOMPETENSI 1

1 -4

Mampu meng identifikasi


gaya , menghitung
resultante gaya , momen ,
mengidentifikasi macam
beban , perletakan , mampu
menghitung reaksi
perletakan dan menghitung
,menggambar bidang
normal ( N ) , bidang lintang
( D ) dan bidang momen
(M)

5
6-8

Mampu menghitung gaya


dalam , menggambar bidang
normal ( N ) , bidang lintang
( D ) dan bidang momen
(M)

9
10 -12

13

MATA KULIAH
DAN KELAS :
DOSEN

MEKANIKA TEKNIK STATIS


TERTENTU

KODE
MK:

RC 090405

1.

SKS

2.

3
PENGAMPU

MATERI PEMBELAJARAN

1
Pengertian gaya , menghitung resutante gaya dan V
momen.
Pengertian macam beban dan perletakan
V
Menghitung reaksi perletakan pada balok maupun portal
akibat beban terpusat , merata maupun kombinasi .
Menghitung dan menggambar bidang normal ( N ) , V
bidang lintang ( D ) dan bidang momen ( M ) akibat beban
terpusat.
Menghitung dan menggambar bidang normal ( N ) , V
bidang lintang ( D ) dan bidang momen ( M ) akibat beban
merata .
V
EVALUASI 1
Menghitung dan menggambar bidang momen , normal V
dan lintang pada balok dua tumpuan dengan beban
merata , maupun beban kombinasi.
Menghitung dan menggambar bidang momen , normal
V
dan lintang pada balok gerber dengan beban merata ,
maupun beban kombinasi .
Menghitung dan menggambar bidang momen , normal
dan lintang untuk muatan tidak langsung.
Menghitung besar momen , normal dan lintang pada
V
pelengkung tiga sendi .

EVALUASI 2
Mampu menghitung gaya
batang pada konstruksi
rangka batang dan
menghitung maupun
menggambar garis pengaruh
pada balok diatas dua
tumpuan .

Menghitung gaya batang dengan cara KESETIMBANGAN V


TITIK SIMPUL.
Menghitung gaya batang dengan cara RITTER.

Menghitung dan menggambar garis pengaruh pada balok V


diatas dua tumpuan.

EVALUASI 3

14-16

Mampu menghitung dan


menggambar garis pengaruh
, balok dua tumpuan ,balok
gerber maupun pada rangka
batang .

Menghitung dan menggambar garis pengaruh pada balok V


dua tumpuan dan balok gerber .
Menghitung dan menggambar garis pengaruh batang V
pada konstruksi rangka batang.
Menghitung dan menggambar garis pengaruh batang V
pada konstruksi rangka batang , pada balok maupun
balok gerber.

17-18

EVALUASI 4
Tanda Tangan Dosen Pengampu
Dosen 1
(Koordinator)

Dosen 2

PERNYATAAN:
Dengan ini saya menyatakan bersedia
memberikan materi sesuai kesepakatan yang
telah ditetapkan di borang ini.

PENGERTIAN GAYA
GAYA ADALAH SUATU BESARAN VEKTOR YANG MEMPUNYAI BESARAN,TITIK TANGKAP DAN
GARIS KERJA GAYA.

Garis kerja
gaya

GAYA DAPAT DIPINDAHKAN SEPANJANG GARIS


KERJANYA.
Titik tangkap gaya
Garis kerja gaya

PENJUMLAHAN GAYA ( RESULTANTE GAYA )

CARA ANALITIS
RY= P1 SIN + P 2 SIN
RX= P1 COS + P 2 COS

R=

5T
3T

DIKETAHUI DUA GAYA P 1 = 5 T DENGAN SUDUT 45 0 DAN P 2 = 3 T DENGAN SUDUT 30 0


HITUNG BESAR RESULTANTE GAYA TERSEBUT DIATAS.

RY = 5 SIN 45 + 3 SIN 30 = 5 . 0,7071 + 3 . 0,5 = 3,5355 + 1,5 = 5,0355 T


0

RX = 5 COS 45 + 3 COS 30 = 5. 07071 + 3 . 0,866 = 3,5355 + 2,5981 = 6,1335 T


R=

= 7,936 T

= 39,38 0

0,8209

CARA GRAFIS
UNTUK CARA GRAFIS HARUS MEMAKAI
3T
5T

SKALA MISAL 1 TON = 1 CM DAN


MENGGUNAKAN BUSUR DERAJAT
UNTUK MENGUKUR SUDUT .

RESULTANTE DIDAPAT DARI MENGHUBUNGKAN TITIK AWAL MULAI, SAMPAI DENGAN TITIK
MENGAKHIRI GAMBAR TERSEBUT.
JADI UNTUK BEBERAPA GAYA YANG DIJUMLAH , TINGGAL MENGGAMBAR SAJA
BERURUTAN.
SUDUT

DIDAPAT DENGAN MENGUKUR MEMAKAI BUSUR DERAJAT .

MOMEN ADALAH GAYA DIKALIKAN JARAK , DIMANA JARAK ATAU LENGAN NYA
HARUS TEGAK LURUS PADA GAYA NYA.
C
A
MC=P.0=0

MA = - P .a

Ingat gaya bisa dipindahkan


sepanjang garis kerjanya.

P
b
B

MB = + P .b

KITA SEPAKATI ARAH PERPUTARAN MOMEN

P=5T
P = 5 T SIN

Tg

B
P = 5 T COS

MB = - 5 . b = - 5 .24 / 5 = - 24 TM

COS = 3 / 5

6M

SIN = b / 6

SIN = 4 / 5

4/5 = b / 6

b = 24 / 5 M

ATAU P = 5 T DIURAIKAN DULU

MENJADI P SIN DIARAH VERTIKAL DAN P COS DIARAH HORISONTAL .


SEHINGGA MB = - 5 SIN . 6 = - 5 . 4/5 .6 = - 24 TM.
DARI PENYELESAIAN DIATAS DISARANKAN MENGURAIKAN DAHULU GAYA
MIRING AGAR PENYELESAIAN MENJADI LEBIH MUDAH .

CONTOH SOAL

6T

2T

5T

D
5T

B
3T

4M

3M

2M

5T
A

B
C
A

3T
2T

6T

5T
2T

A
B

3T

4M

3M

2M

= - 6 . 4 3 . 3 + 2 . 5 = - 13 TM
6T
B

C
B

5T
2T

= - 6.7 5. 3 +2 . 2 = - 53 TM
6T

5T
C

2T
C

10

4T

B
A

2T

3T

2M
4M
5T

D
3M

E
5M

4M

= + 4 . 7 + 5 .4 = + 48 TM

4T

C
5T
5T

= + 3.9 + 2. 7 4 . 2 5 . 3 = 18 TM
4T

2T

2T

3T
5T

5T

D
4T
3T

INGAT GAYA DAPAT DIPINDAHKAN SEPANJANG GARIS KERJANYA .

11

MENCARI LETAK RESULTANTE GAYA

6T

2T

3T

4T
2M

4M
XM

6M

MISAL LETAK RESULTANTE GAYA ( R ) TERLETAK SEJARAK X M DARI TITIK A


R = 6 -4 + 2 + 3 = 7 T
SEMUA GAYA DIKALIKAN JARAK TEGAK LURUS NYA TERHADAP A.

+ 7 . X = 6 . 0 4 . 2 + 2 . 6 + 3 . 12
X=

M = 5, 71 M

JADI LETAK RESUTANTE GAYA SEJARAK 5, 71 M DARI TITIK A

12

PENGERTIAN BEBAN DAN PERLETAKAN

BEBAN MATI / BEBAN TETAP

MACAM BEBAN
BEBAN HIDUP/ BEBAN BERJALAN

BEBAN MATI ADALAH BEBAN YANG ADA SELAMA HIDUP KONSTRUKSI .


MISAL : BEBAN TEMBOK,BEBAN ATAP, BEBAN TROTOIR DAN LAIN LAIN .
BEBAN HIDUP / BEBAN BERJALAN ADALAH BEBAN YANG TIDAK TETAP.
MISAL : BEBAN KENDARAAN DAN LAIN LAIN .
MENURUT CARA BEKERJANYA BEBAN DIBAGI LAGI MENJADI :
BEBAN TERPUSAT

SATUAN BERAT KG , TON DAN LAIN LAIN.


q
BEBAN MERATA

SATUAN T/M , KG /M, KG/CM DAN LAIN LAIN


q = TINGGI ATAU LEBAR DARI BENTUK BEBAN ( LIHAT GAMBAR )

BEBAN TIDAK MERATA


MISAL BEBAN SEGITIGA

q
q

SATUAN MAUPUN ARTI q SAMA DENGAN BEBAN MERATA DIATAS .


13

PERLETAKAN

SENDI

H
V

MEMPUNYAI REAKSI TEGAK LURUS LANDASAN DAN SEJAJAR LANDASAN , ARTINYA


PERLETAKAN SENDI TIDAK DAPAT BERGERAK TEGAK LURUS MAUPUN SEJAJAR
LANDASAN .

ROL

V
MEMPUNYAI REAKSI TEGAK LURUS LANDASAN, ARTINYA PERLETAKAN ROL TIDAK
DAPAT BERGERAK ARAH TEGAK LURUS LANDASAN.

JEPIT
H

REAKSI V , H DAN M ADALAH

M
V

REAKSI YANG DIPUNYAI OLEH


PERLETAKAN JEPIT .

SEHINGGA DAPAT DIARTIKAN KALAU PERLETAKAN JEPIT TIDAK DAPAT BERGERAK PADA
ARAH TEGAK LURUS MAUPUN SEJAJAR LANDASAN DAN JUGA TIDAK DAPAT BERPUTAR
ATAU BER ROTASI .

14

CONTOH

q t/m

Rotasi =

( sendi , rol tidak mempunyai reaksi

momen )

PT

( jepit mempunyai reaksi momen )

DARI KEDUA GAMBAR DIATAS TERLIHAT BAHWA PERLETAKAN ROL, SENDI MAUPUN
JEPIT TIDAK DAPAT BERGERAK KE ARAH VERTIKAL.
HAL ITU DAPAT DILIHAT DARI GAMBAR GARIS LENDUTANNYA.
SEDANGKAN PADA PERLETAKAN JEPIT TERLIHAT TIDAK DAPAT BERPUTAR ( BER ROTASI )
ROTASI ATAU

15

MENCARI REAKSI PERLETAKAN.


UNTUK MENDAPATKAN KONSTRUKSI YANG STABIL , MAKA DIBUTUHKAN PERSAMAAN
KESETIMBANGAN .
H = 0 , AGAR KONSTRUKSI TIDAK DAPAT BERGERAK KEARAH HORISONTAL
M = 0 , AGAR KONSTRUKSI TIDAK DAPAT BERPUTAR ATAU MENGGULING
V = 0 , AGAR KONSTRUKSI TIDAK DAPAT BERGERAK KEARAH VERTIKAL
DENGAN MEMAKAI TIGA PERSAMAAN DIATAS MAKA REAKSI PERLETAKAN PADA
KONSTRUKSI STATIS TERTENTU DAPAT DICARI .

CONTOH
Tg = 3/4

3T

5T

4T

6T
B

4T

2M

=0

8M

3M

ingat +

MISAL HA

+ HA 4 + 6 = 0
HA = -6 + 4 = - 2 T tanda negatif mengartikan kesalahan pemisalan
arah, jadi HA seharusnya mengarah kekiri .
HA = 2 T
JADI PERLU DIINGAT BAHWA TANDA NEGATIF BERARTI SALAH DALAM PEMISALAN ARAH,
SEBALIKNYA APABILA HASIL POSITIF ARTINYA ARAH PEMISALAN SUDAH BENAR.

=0

VA MISAL

ingat

+ VA . 10 3.8 + 4. 3 = 0
VA = 1,2 T

=0

- VC . 10 + 4. 13 + 3 . 2 = 0
KONTROL

=0

VC = 5, 8 T

+1,2 -3 + 5,8 4 = 0

7-7 = 0 ( OK )
16

4T

5T

2M

3M

3T

4M
E

2M

=0
=0

7M

HE MISAL

3M

+ HE 3-5 = 0

HE = 8 T

VD MISAL

+ VD . 10 3. 1 4. 12 5. 3 5. 3 = 0

5T

4T

5T

5T

VD = 8, 1 T
3T

3T
5T

4T

=0

VE MISAL

- VE.10 - 3.2+ 8. 1 -5.4 + 5.7 4.2 = 0


VE = 0,9 T

5T

5T

4T

5T

3T
8T
4T

=0

+ 8, 1 4 5 + 0, 9 = 0

8T
5T

99=0

( OK )

17

UNTUK BEBAN MERATA ATAU TIDAK MERATA DIJADIKAN DULU BEBAN TERPUSAT DALAM
PERHITUNGAN REAKSI PERLETAKANNYA .
q
q
q

Q= q

Q=q . L
1/2 L

1/2 L

1/3 L

2/3 L

Q = LUAS DARI BENTUK BEBAN DAN LETAKNYA PADA TITIK BERAT DARI BENTUK BEBAN .

q = 3 t/m
q = 1 t/m

A
4T

2M

6M

D
4M

E
2M

Q=1/2.3.6 = 9 T

Q=1.2 = 2 T
Q=1.4 = 4 T

2m

4+4=8m
2+6=8m

2m

10 m

=O

HB = 0

VB . 10 + 4 . 12 9. 8 4. 2 + 2. 1 = 0

=0

1m

VB = 3 T

=0

- VD. 10 + 2. 11 + 4. 8 + 9. 2 + 4. 2 = 0
VD = 8 T

=O

+4+394+82=0

15 15 = 0 ( OK )

18

5T

q= 1 t/m

2T

tg = 3/4

A
3

2M

1M

2M

UNTUK MENGHITUNG REAKSI PADA PERLETAKAN JEPIT BEBAS AGAK BERBEDA DARI
TUMPUAN SENDI ROL .

UNTUK MENGHITUNG REAKSI HORISONTAL

+ HC - 4 + 2 = 0

HC MISAL

HC = 2 T

UNTUK MENGHITUNG REAKSI VERTIKAL

=0

+ VC 3 2.1 = 0

VC MISAL

VC = 5 T

UNTUK MENGHITUNG REAKSI MOMEN

MC MISAL

= 0 + MC - 3.5 2. 4 + 2 . 3 4. 3 = 5 TM
MC = 5 TM
3T

q = 1t/m

B
4T

Q = 2.1 T

2T

4T
2T
3M

3T

2T
4M

5M

19

GAYA DALAM

HA
A

VA

XM

X M VB

HA

VA

VB

M = VA . X

M = VB . X

M
+

M
+

GAMBAR DIATAS ADALAH SUATU BALOK YANG DIBEBANI BEBAN MIRING TERPUSAT
AKIBAT GAYA TERSEBUT AKAN TIMBUL REAKSI REAKSI PERLETAKAN NYA.
APABILA BALOK DIPOTONG MAKA DIDALAM BALOK AKAN TIMBUL GAYA DALAM YANG
MENGIMBANGI GAYA LUAR YANG TERJADI.
GAYA DALAM

N = GAYA YANG SEJAJAR SUMBU BATANG


D = GAYA YANG TEGAK LURUS SUMBU BATANG
M = MOMEN LENTUR
20

DARI PERNYATAAN DIATAS MAKA DAPAT DI SIMPULKAN SEPERTI INI

D
D
N

NORMAL ( N ) POSITIF ADALAH TARIK, SEDANG NORMAL NEGATIF APABILA TEKAN.


GAYA LINTANG ( D ) POSITIF APABILA GAYA SEBELAH KIRI ARAH KEATAS, SEDANG
SEBELAH KANAN ARAH KEBAWAH .
GAYA LINTANG ( D ) NEGATIF APABILA GAYA SEBELAH KIRI ARAH KEBAWAH,SEDANG
SEBELAH KANAN ARAH KEATAS .
MOMEN LENTUR POSITIF APABILA DISEBELAH KIRI ARAH M BERPUTAR SEARAH JARUM
JAM,SEDANG DISEBELAH KANAN BERPUTAR BERLAWANAN ARAH JARUM JAM .
MOMEN LENTUR NEGATIF APABILA DI SEBELAH KIRI ARAH M BERPUTAR BERLAWANAN
ARAH JARUM JAM, SEDANG DI SEBELAH KANAN BERPUTAR SEARAH JARUM JAM.

21

tg = 3/4
5T

4T

4T
A

4M

6M

X1

3T

2M
X2

4T

X3

4T

4T
A

1T

6T

4T

4T

4T
1T

1T
+
+

2T

2T

8 TM

4 TM

22

=0

HA MISAL

+ HA + 4 4 = 0

HA = 0 T

=0

VA MISAL

+ VA. 10 3 . 6 + 4 . 2 = 0

VA = 1 T

=0

VC MISAL

- VC . 10 + 3. 4 + 4 . 12 = 0

VB = 6 T

BIDANG N , D DAN M

X1

LIHAT KIRI POTONGAN


NX1 = 0

VA = 1T

X1 = 0

NA = 0

X1 = 4

NB = 0

DX1 = + 1 T

MX1 = + 1. X1

X1 = 0

DA = + 1 T

X1 = 0

MA = 0

X1 = 4

DB = + 1 T

X1 = 4

MB = 1. 4 = 4 TM

LIHAT KANAN POTONGAN4 T


X2

NX2= + 4 T
X2 = 0

NC = + 4 T

X2 = 6

NB = + 4 T

4T
C D

VC = 6 T
2M

DX2 = + 4 6 = - 2 T

MX2 = - 4. ( 2 + X2 ) + 6 . X2

X2 = 0

DC = - 2 T

X2 = 0

MC = - 4 .( 2 + 0 ) + 6. 0 = - 8 TM

X2 = 6

DB = - 2 T

X2 = 6

MC = -4 .( 2 + 6 ) + 6 . 6 = + 4 TM

LIHAT KANAN POTONGAN


X3

NX3 = + 4 T
X3 = 0

4
T

ND = + 4 T
D

X3 = 2

4
T

NC = + 4 T

DX3 = + 4T

MX3 = - 4 . X3

X3 = 0

DD = + 4 T

X3 = 0

MD = 0

X3 = 2

MC = + 4 T

X3 = 2

MD= -4.2 = - 8 TM
23

X1

q = 1 t/m

X2

X3

4T
2T

2M

8M

=0

2M

HC MISAL

+ HC 2 = 0 HC=2 T

VA MISAL

+ VA . 10 8 . 4 + 2.1
2T

2T

+ 4. 2 = 0

6T

4T

2,2 T

VA = 2,2 T

= 0 VC MISAL

-VC.10 + 8. 6 + 2.11
+ 4.12 = 0 VC=11,8 T

2,2 T

=0

2,2 8 + 11,8 2 -4= 0


D=0

14 14 = 0 ( OK )
5,8 T

10 TM

4, 4 TM

M MAX = 6, 82 TM

GAMBAR BERBENTUK PARABOLA KARENA PERSAMAAN NYA ADALAH PANGKAT DUA,


SEDANG UNTUK PERSAMAAN LINIER, GAMBAR BERBENTUK GARIS LURUS.

24

NX1 = 0 LIHAT KIRI POTONGAN

X1

X1 = 0

NA = 0

X2 = 2

NB = 0

VA

DX1 = 2, 2 T LIHAT KIRI POTONGAN

2,2

MX1 = 2, 2 . X1 LIHAT KIRI POTONGAN

X1 = 0

DA = 2, 2 T

X1 = 0

MA = 2, 2 . 0 = 0

X1= 2

DB = 4, 4 TM

X1 = 2

MB = 2, 2 . 2 = 4, 4 TM

NX2 = - 2 + 2 = 0

LIHAT KANAN POTONGAN

X2 = 0

NC = 0

X2 = 8

NB = 0

DC = - 5, 8 T

X2 = 8

DB = - 5, 8 + 8 = 2, 2 T

2M

4T
2T

2T

DX2 = + 4 + 2 11, 8 + 1 X2
X2 = 0

X2

11, 8

Q = 1X2

D
Q = 2.1 = 2T

X2
( 1 + X2 )

PADA D = O TERJADI MOMEN MAXIMUM


DX2 = 0

+4 + 2 11, 8 + 1X2 = 0

- 5, 8 + 1 X2 = 0

X2= 5,8 M DARI C TERJADI M MAX

MX2 = - 4 .( 2 + X2 ) 2 ( 1 + X2 ) + 11,8.X2 1X2 . 1/2 X2 LIHAT KANAN POTONGAN


X2 = 0 MC = - 4 . 2 2 . 1 + 11, 8 .0 1.0 . 1/2 . 0 = - 10 TM
X2 = 8 MB = - 4 . 10 2 . 9 + 11,8 . 8 1 . 8. 1/2. 8 = + 4, 4 TM
X2 = 5, 8 M MAX = - 4 . 7,8 2 . 6, 8 + 11, 8 .5, 8 1. 5, 8 . 1/2. 5,8 = - 31,2 - 13,6
= - 31 , 2 13, 6 + 68, 44 16, 82 = 6, 82 TM
NX3 = + 2 T LIHAT KANAN POTONGAN
X3 = 0

ND = + 2 T

X3 = 2

NC = + 2 T

X3

4T
2T

Q= 1X3

DX3 = + 4 + 1. X3

MX3 = - 4 .X3 1. X3 .1/2 . X3

X3 = 0

DD = + 4

X3 = 0

MD = 0

X3 = 2

DC = + 4 + 1. 2 = 6 T

X3 = 2

MC = - 4. 2 1 . 2. 1/2. 2
= - 10 TM
25

q = 1 t/m
X1

X2

=0

HA =0

4M

6M

Q = 1/2 .6 . 1 = 3 T

=0

VA . 10 3. ( 2/3 . 6 )=0
1,2

VA = 1,2 T

1,2

=0

- VC . 10 + 3( 4 + 1/3.6)

=0

VC = 1,8 T

1,8

LIHAT KIRI POTONGAN


DX1 = + 1, 2 T
X1 = 0

DA = + 1, 2 T

X1 = 4

DB = + 1, 2 T

MX1 = + 1, 2 . X1
X1 = 0
4,8

MA = 0

X1 = 4 MB = 1, 2 . 4 = 4,8 TM
M MAX = 5. 58

26

LIHAT KANAN POTONGAN


Q = 1/2 .X2 .a
1 T/M

X2

a=X2/6
1, 8

Q = 1/2.X2.X2/6=

6M

DX2 = - 1, 8 +

DX2 = 0

X2 = 0

DC = - 1, 8 T

X2 = 6

DB = - 1, 8 +

= + 1, 2 T

X22 = 21,6

- 1, 8 +

X2 = 4,65 M DARI TITIK C TERJADI M MAX


MX2 = + 1,8 X2 Q.1/3 X2 = 1,8 X2
X2 = 0

MC = 0

X2 = 6

MB = 1,8 . 6 -

X2 = 4,65 M MAX = 1, 8 . 4, 65

. X2

= 4, 8 TM
= 5, 58 TM

27

BALOK GERBER

S = SENDI GERBER
TIDAK DAPAT MENERIMA GAYA HORISONTAL
SENDI GERBER LETAKNYA DIATAS
MERUPAKAN SAMBUNGAN, REAKSI DARI SENDI GERBER
MENJADI BEBAN PADA BALOK DIBAWAHNYA

S
VS
VS
B

UNTUK MULAI MENGHITUNG BALOK GERBER, SEBAIKNYA DIPISAHKAN LEBIH DAHULU,


DICARI REAKSI2 UNTUK BALOK YANG TERLETAK DIATAS, DAN REAKSI SENDI GERBER
AKAN MENJADI BEBAN PADA BALOK DIBAWAHNYA .
BALOK AS

DIHITUNG REAKSI VA DAN VS

BALOK SBC REAKSI VS MENJADI BEBAN, SEHINGGA VB DAN VC DAPAT DIHITUNG


DARI PERHITUNGAN DIATAS, SELANJUTNYA DAPAT DIHITUNG DAN JUGA DIGAMBAR
BIDANG NORMAL, LINTANG DAN MOMEN .

28

CONTOH CONTOH BALOK GERBER


B

S1

S2

S1

S1

S2

S2

S1

S2

JADI YANG PERLU DIINGAT,KALAU PERLETAKAN SENDI ATAU ROL HARUS ADA
PERLETAKAN LAIN SENDI ATAUPUN ROL, SEDANG KALAU PERLETAKAN JEPIT DAPAT
BERDIRI SENDIRI .DENGAN BEGITU AKAN DIDAPATKAN PEMBAGIAN YANG BENAR, MANA
YANG HARUS DIATAS DAN SETERUSNYA .

29

q = 1 t/m

P=4 T

10 M

2M

8M

2M D

4T
S

X1

X3

X2

X4
C

VS= 1 T
VC= 5 T
A
B
VB= 3, 8 T
T

VA= 5, 2 T

5, 2 T

=0

HB = 0 TIDAK ADA BIDANG N

4T

1T

1T

4, 8 T

8 TM

2 TM

M MAX = 13,52 TM

BALOK SCD

=0

VS . 8 + 4 . 2 = 0

VS = - 1 T

=0

- VC .8 + 4 . 10 = 0

VC = 5 T

VS = 1 T

30

BALOK ABS

=0

= 0 - VB . 10 + 1. 10 . 5 - 1. 12 = 0

VA . 10 1. 10. 5 1. 2 = 0

VA = 5, 2 T
VB = 3, 8 T

DX1 = 5, 2 1 X1 LIHAT KIRI POT


X1 = 0

X1

DA = 5, 2 T

Q=1.X1

X1 = 10 DB = 5, 2 10 = - 4, 8 T
DX1 = 0

5,2- 1 X1 = 0

X1 = 5,2 M DARI A TERJADI M MAX

MX1 = 5,2 X1 1. X1 . 1/2 . X1


X1 = 0

MA = 0

X1 = 10 MB = 5,2 . 10 1 .10 . 1/2 . 10 = + 2 TM


X1 = 5, 2 M MAX = 5, 2 . 5, 2 1 . 5, 2 . 1/2 . 5, 2 = 13, 52 TM
DX2 = - 1 T LIHAT KANAN POTONGAN
X2 = 0

DS = - 1 T

X2 = 2

DB = - 1 T

X2

VS = 1 T
S

MX2 = + 1. X2
X2 = 0

MS = 0

X2 = 2

MB = + 2 TM

DX3 = - 1 T

LIHAT KIRI POTONGAN


X3

X3 = 0

DS = - 1 T

X3 = 8

DC = - 1 T

S
VS = 1 T

MX3 = - 1 . X3
X3 = 0

MS = 0

X3 = 8

MC = - 8 T

LIHAT KANAN POTONGAN


X4

DX4 = + 4 T

MX4 = - 4 . X4

X4 = 0

DD = + 4 T

X4 = 0

MD = 0

X4 = 2

DC = + 4 T

X4 = 2

MC = - 8 TM

4T

31

3T

q = 1 t/m
B

C
2T

2M
D

= 0 + HE +2-3 = 0 HE = 1 T
=0 + VE.6-1.5 +3.2-3.8 -6.3=0

3T

VE = 6,833 T
3M

=0 - VC.6+6.3-3.2+2.5-3.3=0

VC = 2,167 T

2M

6M

UNTUK MEMUDAHKAN MENGGAMBAR BIDANG M, N DAN D, SEBAIKNYA DIBUAT FREE


BODY DIAGRAM .
3T
2T

B
2T

5 TM

A
6,833
3T T

6TM

BATANG BC

2,167
T

3,833
T

2T

MBC = - 5 TM
BATANG AB

3T

1 TM

=0 MBC 2,167.6+6.3=0

=0 +MBA-3.2 =0

MBA = 6 TM

Jumlah momen,gaya V maupun H pada satu titiksimpul = 0

1T

6,833
T

=0, MAKA DAPAT DIHITUNG BAHWA MBE PADA

BE SAMA DENGAN 1 TM SEARAH JARUM JAM , SETELAH


DIDAPAT M BC = 5 TM

DAN M BA = 6 TM

DARI HASIL FREE BODY DIATAS, MAKA BIDANG NORMAL, LINTANG MAUPUN MOMEN
DAPAT DIGAMBAR DENGAN MUDAH DAN HARUS TETAP MENGGUNAKAN ATURAN ARAH
BIDANG M , N MAUPUN D .

32

GAMBAR SEBELAH KIRI MENJELASKAN PROSES PENGGAMBARAN BIDANG N, M, D


B
2T

6,833
T

2T

2T

6,833
T

3T

3,833
T

6,833
T

2T

2T
3T
3,833
T
3T

3T
D

2,167
T

2,167
T

DX = 0 - 2,167 + 1X =0
X = 2, 167 M

1T

1T
6TM
5 TM
1TM

5 TM

6TM

2,167
T 3 TM
1 TM

2,35 TM

M
MX = 2,167 X 1. X .1/2 . X

1T

X= 2, 167 M MAX = 2,167. 2,167 1 .2,167 . 1/2 . 2, 167


= 2, 35 TM

MD = -1 . 3 = - 3 TM
33

q = 1 t/m

2T

3T

=0 + HE + 2 = 0 HE = 2 T

= 0 + VE 3 1,5 = 0

4M

+ VE = 4, 5 T

=0

+ ME + 3.1 + 2.4 + 1,5 .4,75 = 0

2M

ME = 18, 125 TM

3M

1M

2T

3TA

1, 5 M

q = 1 t/m
D

2T
6 TM

2,625 TM

3T

2T

4, 5 T

BATANG BD

1, 5 T

3,375 TM

+MBD + 1,5. 1,75=0


MBD = 2, 625 TM
BATANG BA

18,125 TM

=0 + MBA 3.2 = 0
M BA = 6 TM

HE = 2 T
VE = 4, 5 T

DENGAN MENGGUNAKAN

= 0, DIDAPAT

M BE = 3, 375 TM

D EB = 4,5 COS + 2 SIN = 4,5. 3/5 + 2. 4/5


= 2,7 + 1,6 = 4, 3 T
N EB = - 4,5 SIN + 2 COS = - 4,5 4/5 + 2. 3/5
= - 3,6 + 1,2 = - 2,4 T

2 COS

4,5 SIN

HE = 2 T

2 SIN
VE = 4, 5 T

4,5 COS
34

2, 4 T
2T

2T

2, 4 T

1,5 T

3T

1,5 T

4,3 T

4,3 T
6 TM
2,625 TM
1,125 TM

3,375 TM
18,125 TM

35

BEBAN ATAU MUATAN TIDAK LANGSUNG .


q = 1 t/m

q = 1 t/m
4T

2m

Gel.melintang

1m
5 = 20 M
Gel.memanjang

4T
A

2 1,5

3, 5

CONTOH

C D
0,5

3
3, 5

D E

2
1

F
2

VB.4 2.3 = 0
A

VB = 1,5 T
VC = 0, 5 T

DARI GAMBAR DIATAS TERLIHAT BAHWA BEBAN TIDAK LANGSUNG MENJADI BEBAN PADA
GELAGAR UTAMA / MEMANJANG TETAPI DITERIMA DAHULU OLEH GELAGAR MELINTANG.
SEHINGGA UNTUK MEMUDAHKAN PEMBAGIAN BEBAN, GELAGAR MELINTANG DIMISALKAN
SEBAGAI PERLETAKAN KECIL,SEHINGGA DAPAT DICARI REAKSI PERLETAKAN AKIBAT BEBAN
TERSEBUT DAN REAKSI REAKSI TERSEBUT KEMUDIAN DIBEBANKAN KE GELAGAR UTAMA.
SETELAH BEBAN TERDISTRIBUSI KE GELAGAR UTAMA, BARU DAPAT DIHITUNG REAKSI
PERLETAKANNYA , KEMUDIAN PERHITUNGAN DAN PENGGAMBARAN BIDANG MOMEN DAN
LINTANG DAPAT DILAKUKAN .

=0

= 0 - VF . 20 + 2. 20 + 2. 16 + 1. 12 + 3,5 .8 + 3,5 .4 = 0

VA . 20 2.20 3,5.16 3,5 . 12 1. 8 2. 4 = 0 VA = 7,7 T


VF = 6, 3 T

PERHITUNGAN SELANJUTNYA SAMA DENGAN PERHITUNGAN PERHITUNGAN TERDAHULU,


HANYA BEDANYA BEBAN BEBAN YANG SEMULA ADALAH BEBAN MERATA PADA GELAGAR
MELINTANG MENJADI BEBAN TERPUSAT PADA GELAGAR UTAMA .

36

PELENGKUNG TIGA SENDI

PELENGKUNG TIGA SENDI BIASANYA DIGUNAKAN PADA KONSTRUKSI JEMBATAN DENGAN


KONDISI SUNGAI DENGAN LEBAR YANG CUKUP BERARTI DAN DASAR SUNGAI YANG DALAM,
SEHINGGA SULIT UNTUK MEMBUAT PILAR DITENGAH JEMBATAN .
PADA PELENGKUNG TIGA SENDI ADA 4 REAKSI ( VA , VB , HA , HB ) , SEHINGGA
DIBUTUHKAN 4 PERSAMAAN UNTUK MENYELESAIKAN .

MA = 0 , MB =0 , H=0 DAN MS =0
q = 1t/m
S
C

Yc

fS= 6 m

HB

HA

A
6m
VB

VA
12 m

12 m

HITUNG BESAR REAKSI PERLETAKAN DARI PELENGKUNG TIGA SENDI DENGAN BEBAN
SEPERTI TERGAMBAR DIATAS .
HITUNG PULA BESAR MOMEN ,GAYA LINTANG DAN NORMAL DI TITIK C .

37

PERSAMAAN PARABOLA

Y = JARAK PELENGKUNG DARI DASAR HORIZONTAL


X = AKSIS YANG BERGERAK SECARA HORIZONTAL DARI A KE B
l = BENTANG PELENGKUNG
f = TINGGI PELENGKUNG

HA cos

VA sin

HA
HA sin
VA

VA cos

38

RUMUS YANG HARUS DIINGAT UNTUK KULIAH KULIAH DI


SEMESTER BERIKUTNYA .

L
P

qL

D
PL

1/2 qL

1/2 L

1/2 L

1/2 P

1/2 qL

D
1/2 P

1/2 qL

M
1/8 qL

1/4 PL

39

APLIKASI DI LAPANGAN
q t/m

BALOK ABC MENDAPAT


BEBAN LUAR q t/m
GAMBAR BIDANG D
DAN BIDANG M
SEPERTI TERGAMBAR

APABILA BALOK ABC DIATAS ADALAH BALOK BETON

Warna biru adalah sengkang


Tul tarik

dimana makin besar gaya D ,


jarak sengkang semakin rapat

sengkangg

Tul tarik

sengkangg

Warna merah adalah tulangan tarik


Ditempatkan diatas karena momen negative , dimana serat tertarik ada di serat atas .
Ditempatkan dibawah karena momen positive ,dimana serat tertarik ada di serat bawah
40

KONSTRUKSI RANGKA BATANG

B
F

GAMBAR DIATAS DINAMAKAN RANGKA BATANG


TITIK A,B,C,D,E,F,G DISEBUT TITIK BUHUL ATAU TITIK SIMPUL .
AC , CD, DE, EB, CF , FD , DG , EG , AF , FG , GB DISEBUT BATANG .
KONSTRUKSI RANGKA BATANG STATIS TERTENTU APABILA MEMENUHI SYARAT :

2 X JUMLAH TITIK BUHUL = JUMLAH BATANG + 3

SEBAGAI CONTOH KONSTRUKSI DIATAS

2 . 7 = 11 + 3

14 = 14

MAKA KONSTRUKSI DIATAS DISEBUT KONSTRUKSI RANGKA BATANG STATIS TERTENTU .


UNTUK MENCARI GAYA BATANG DARI KONSTRUKSI DIATAS ADA BANYAK CARA,TETAPI
DISINI HANYA AKAN DIJELASKAN DUA CARA YAITU :

1.CARA KESETIMBANGAN TITIK BUHUL / TITIK SIMPUL

2.CARA RITTER

41

CARA KESETIMBANGAN TITIK SIMPUL / TITIK BUHUL

UNTUK PERHITUNGAN GAYA BATANG BEBAN TIDAK BEKERJA PADA TITIK SIMPUL HARUS
DIKERJAKAN PADA TITIK SIMPUL.
TITIK BUHUL ATAU TITIK SIMPUL DIANGGAP SEBAGAI PERLETAKAN SENDI, SEHINGGA
PERHITUNGAN GAYA BATANGNYA MENGGUNAKAN :

=0 ATAU

=0

DAN

ATAU =0

BATANG YANG AKAN DICARI GAYA BATANGNYA DIANGGAP DAHULU SEBAGAI BATANG
TARIK, SEHINGGA ARAH GAYA NYA MENARIK ATAU MENINGGALKAN TITIK YANG
DITINJAU.

BEBAN PADA BATANG FG ADALAH q = 1 t/m


BEBAN HARUS DITEMPATKAN PADA

4M

TITIK SIMPUL
A

B
F
3M

G
3M

3M

KARENA BEBAN DAN KONSTRUKSI


SIMETRIS MAKA VA = VB = 1,5 T

B
F

G
1,5
T

1,5
T

PERHITUNGAN DIMULAI DARI TITIK SIMPUL YANG MEMPUNYAI MAXIMUM DUA BATANG
YANG BELUM DIKETAHUI , DEMIKIAN JUGA SELANJUTNYA .

42

TITIK A
S AC

S AF

= 0 1,5 + S AC = 0

S AC = - 1,5 T

HASIL S AC NEGATIF, ARTINYA ARAH PEMISALAN


SALAH , ARTINYA S AC BUKAN BATANG TARIK
TETAPI BATANG TEKAN.

1,5
T

=0

S AC = 1,5 T ( TEKAN )

S AF = 0

TITIK C
S CD

HASIL S AC ADALAH 1,5 T TEKAN , MAKA

C
S CF COS
1,5
T

PADA TITIK SIMPUL C ARAH S AC MENEKAN


TITIK C

S CF

S CF SIN

= 0 1,5 - S CF SIN = 0

S CF = 1,5 / SIN = 1,875 T

S CF = 1, 875 T ( TARIK )
=0

+ S CD + S CF COS =0
S CD + ( 1, 875 . 3/5 ) = 0
S CD = -1, 125 T

S CD = 1, 125 T ( TEKAN )

TITIK D
1,125 T

S DE

=0
=0

S DF = 0
S DE + 1, 125 = 0

S DE =- 1, 125 T

S DE = 1, 125 T ( TEKAN )

S DF

43

TITIK F
S FE SIN
1,875 SIN
=0
S CF = 1,875

V= 0
S FE
- 1,5+ 1, 875 . 4/5 + S FE SIN = 0
S FE COS

1,875 COS

- 1,5+ 1, 5 + S FE . 4/5 = 0
S FG
S FE = 0

1, 5 T

=0

S FG + S FE COS - 1,875 COS = 0

S FG = - 0. 3/5 +1, 875 . 3/5 = 1, 125 T ( TARIK )

TITIK G
S GE

= 0 - 1,5 + S GE = 0

S FG = 1, 125

S GE = 1, 5 T ( TARIK )

S GB

=0

- 1, 125 + S GB = 0

S GB = 1, 125 T ( TARIK )
1, 5 T

TITIK E
E
S EB COS

= 0 - 1,5 S EB SIN = 0
S EB = - 1, 875 T

S DE = 1, 125
S EG = 1, 5

S EB = 1, 875 T ( TEKAN )

S EB
S EB SIN
KONTROL

= 0 1,125 + S EB COS = 0
1, 125 + ( - 1,875 . 3/5 ) = 0
1, 125 -1, 125 = 0

( OK )

44

METHODE RITTER
MEMOTONG TIGA BATANG TAPI BATANG YANG DI POTONG TIDAK
BOLEH BERTEMU PADA SATU TITIK BUHUL / TITIK SIMPUL .
BATANG YANG MEMPUNYAI CENTRUM KEKUATAN BATANG ,
MENCARI GAYA BATANG NYA DENGAN MEMAKAI :

PADA CENTRUM KEKUATAN BATANG = 0

CENTRUM KEKUATAN BATANG 1 ADALAH PERPOTONGAN


BATANG 2 DAN BATANG 3 .
BATANG YANG TIDAK MEMPUNYAI CENTRUM KEKUATAN BATANG ,
MENCARI GAYA BATANG NYA DENGAN MEMAKAI :

=0

=0

D
C

B
F

BATANG YANG DIPOTONG ADALAH S CD, S CG , S FG


CENTRUM KEKUATAN BATANG CD ADALAH PERPOTONGAN S CG DAN S FG
DARI HASIL PERPOTONGAN TERSEBUT ADALAH TITIK G .
CENTRUM KEKUATAN BATANG CG ADALAH PERPOTONGAN S CD DAN S FG
DARI HASIL PERPOTONGAN TERSEBUT ADALAH TITIK A
( Ingat gaya dapat dipindahkan sepanjang garis kerjanya )
CENTRUM KEKUATAN BATANG FG ADALAH PERPOTONGAN S CD DAN S CG
DARI HASIL PERPOTONGAN TERSEBUT ADALAH TITIK C .
45

4M
A

B
F

1,5
T

3M

G
1,5
T

3M

1,5
T

3M

1,5
T

KEUNTUNGAN DARI CARA RITTER ADALAH DAPAT MENCARI BESAR GAYA BATANG
DIMANAPUN JUGA , TANPA HARUS MULAI DARI PERLETAKAN .
UNTUK MELIHAT KEARAH KIRI POTONGAN ATAU KANAN DISARANKAN MELIHAT KEARAH
YANG TIDAK BANYAK GAYA BEKERJA .
MENCARI S DE DAN S EF ,DIPOTONG BATANG S DE, S EF , S FG
CENTRUM KEKUATAN BATANG DE ADALAH TITIK F

= 0 ( LIHAT KANAN POT )

- S DE . 4 1,5 .6 + 1, 5 . 3 = 0

S DE
4M

S DE = - 1, 125 T

S EF

S EF SIN

S DE = 1, 125 T ( TEKAN )

1,5
6 MT

1,5
T

BATANG S EF ADALAH BATANG YANG TIDAK MEMPUNYAI CENTRUM KEKUATAN BATANG ,


KARENA BATANG S DE DAN BATANG S FG TIDAK AKAN MUNGKIN BERPOTONGAN .
=0

+ 1, 5 1, 5 S EF SIN = 0
S EF = 0

46

UNTUK MENCARI BATANG S GF , S GE DAN S EB, DIPOTONG KETIGA BATANG


TERSEBUT . LIHAT KANAN POTONGAN .
S EB

SIN = a / 3
S GE

4M

S EB

S GF

a = 3 SIN

a = 3 . 4 / 5 = 12 / 5 M

a
G
1,5
T

MENGHITUNG S GF

=0

1,5
T

3M

+ S GF . 4 1, 5 . 3 = 0
S GF = 1, 125 T ( TARIK )

MENGHITUNG SEB

=0

- S EB . 12/5 1,5 . 3 = 0
S EB = - 1, 875 T

MENGHITUNG S GE

=0

S EB = 1, 875 ( TEKAN )

+ S GE . 3 1, 5 . 3 = 0
S GE = 1,5 T ( TARIK )

UNTUK MENGHITUNG S GE DAPAT DIPAKAI CARA LAIN DENGAN MEMOTONG SEPERTI


GAMBAR DIBAWAH INI MESKIPUN BATANG BATANG YANG DIPOTONG BERTEMU PADA
SATU TITIK, TAPI CARA INI HANYA BOLEH DIPAKAI UNTUK BATANG YANG SEPERTI S GE.

S GE

LIHAT DIBAWAH POTONGAN


=0

+ S GE 1, 5 = 0

S GE = 1, 5 T ( TARIK )
1,5
T

47

GARIS PENGARUH

REAKSI PERLETAKAN
BIDANG D

AKIBAT BEBAN MATI

BIDANG M

GARIS PENGARUH REAKSI PERLETAKAN


GARIS PENGARUH D

AKIBAT BEBAN BERJALAN

GARIS PENGARUH M

CONTOH APLIKASI DI LAPANGAN


BALOK JEMBATAN

KITA AKAN MENCARI REAKSI DI A


UNTUK MERENCANAKAN KEPALA
JEMBATAN DI A .

KEPALA JEMBATAN

KEPALA JEMBATAN

Beban berjalan P= 20 t

Beban mati q = 2 t/m

PANJANG JEMBATAN 15 M
RA/ VA AKIBAT BEBAN MATI= 1/2 . 2 . 15 =15 T

P = 20 T
1

GP RA / GP VA

RA / VA AKIBAT BEBAN BERJALAN , P = 20 T


P = 20 T DITEMPATKAN PADA ORDINAT TERBESAR DARI GAMBAR GP RA / GP VA
RA / VA AKIBAT BEBAN BERJALAN= 20 X 1 =20 T ( P X ORDINAT MAXIMUM )
MAKA RA / VA UNTUK PERENCANAAN DEMENSI KEPALA JEMBATAN
ADALAH 15 T + 20 T = 35 T
48

X M

P=1

GP RA / GP VA
MISAL P = 1 BERJALAN,

10 M

2M

BERADA SEJARAK X M
DARI A.

GP RA/ GP VA

=0

VA . 10 1 .( 10 X ) = 0
2/10

VA =
12/10

GP RB / GP VB

P=1 DI A X= 0 VA = 1
P=1 DI B X=10 VA = 0
P=1 DI C X = 12 VA = - 2/10

GP RB / GP VB
MISAL P =1 BERJALAN BERADA SEJARAK X M DARI A

=0

- VB . 10 + 1 . X = 0

VB =

P= 1 DI A

X=0

VB = 0

P = 1 DI B

X = 10

VB = 1

P = 1 DI C

X = 12

VB = 12/10

ATAU DAPAT DENGAN CARA LAIN , DENGAN MELETAKKAN P = 1 DI A , DI B


DAN DI C DAN DICARI BESAR RA ATAU VA , DIDAPAT GP RA / GP VA .
P=1

P=1

P=1

P =1 DI A

10 M

2M

P = 1 DI B

=0

VA . 10 1 . 0 = 0

VA = 0

P= 1 DI C

=0

VA. 10 + 1. 2 = 0

VA = - 2/10

= 0 VA.10 1 .10 = 0
VA = 1

49

JADI DARI PENJELASAN DAN CONTOH SOAL DAPAT DISIMPULKAN BAHWA GARIS PENGARUH
REAKSI PELETAKAN ADALAH GAMBAR BESAR REAKSI PERLETAKAN PADA WAKTU P = 1
BERJALAN DIATAS BALOK TERSEBUT , DEMIKIAN JUGA ARTINYA UNTUK GARIS PENGARUH
GAYA LINTANG ( D ) MAUPUN GARIS PENGARUH MOMEN ( M ) .

HITUNG BESAR RA MAXIMUM APABILA BEBAN BERJALAN P = 25 T BERADA DIATAS BALOK


ABC , HITUNG JUGA APABILA YANG BERJALAN q = 2 t/m SEPANJANG 2 M .
CARA MENGHITUNGNYA DIPAKAI GARIS PENGARUH RA , DENGAN MELETAKKAN P = 25 T
PADA ORDINAT MAXIMUM DAN q = 2 t / m PADA LUASAN YANG MAXIMUM .

P = 25 T

RA MAX = 25 X 1 = 25 T

2/10
q = 2 t/m

a = 8/10
luas luasan dibawah beban
2/10

2m

= ( 1 + 8/10 ).1/2 . 2

Ingat luas trapesium = jumlh sisi sejajar kali setengah tinggi


q = 2 t/m

Luas = 1, 8 m

RA MAX = 2 X 1,8 = 3, 6 TM.

GAMBAR GARIS PENGARUH SELALU LURUS TIDAK PERNAH TERPUTUS .


1

12/10

GAMBAR GP RB YANG BENAR


BUKTI
10 M

ingat : perbandingan segitiga

2M
1

GAMBAR GP RB YANG SALAH


50

GARIS PENGARUH D DAN GARIS PENGARUH M

xm

P=1

3M

12 M

VA

VB

APABILA P = 1 BERJALAN BERADA SEJARAK X M DARI A , MAKA BESAR DC DAN MC


DAPAT DIHITUNG , DENGAN MELIHAT KEKIRI POTONGAN ATAU KEKANAN POTONGAN.
LIHAT KIRI POTONGANLIHAT KANAN POTONGAN
DC = VA 1

DC = - VB

MC = VA . 3 1 ( 3 X )

MC = VB . 12

DARI DUA HASIL DIATAS DISARANKAN MELIHAT KEKANAN POTONGAN ATAU MEMAKAI
REAKSI PERLETAKAN DI KANAN POTONGAN DALAM PERHITUNGAN DC MAUPUN MC .

MAKA DAPAT DISIMPULKAN, APABILA P =1 TERLETAK DIATAS DUA PERLETAKAN , MAKA


DALAM PERHITUNGAN DC DAN MC DISARANKAN SEBAGAI BERIKUT :
P = 1 ADA DI KIRI POTONGANSEBAIKNYA MELIHATKEKANAN POTONGAN ATAU MEMAKAI
REAKSI DISEBELAH KANAN POTONGAN .
P = 1 ADA DI KANAN POTONGAN SEBAIKNYA MELIHAT KEKIRI POTONGAN ATAU MEMAKAI
REAKSI DISEBELAH KIRI POTONGAN .
SEDANG UNTUK P =1 YANG TERLETAK DIANTARA PERLETAKAN DAN BEBAS , SEBAIKNYA
MELIHAT KEARAH BEBAS .
A

UNTUK MENGHITUNG DD DAN MD , SEBAIKNYA LIHAT KANAN POTONGAN D


SEHINGGA TIDAK PERLU MENGHITUNG REAKSI DI A MAUPUN DI B
51

GP DC DAN GP MC
A

3M

3M

P = 1 DI A

7M

=0 - VD.10 1.3 = 0
VD = - 3/10

GP DC

7/10

3/10

7m

3/10

3/10

DC = + 3/10
21/10

GP MC

MC = - 3/10 . 7 = - 21/10
P=1 DI B
VD = 0

DC = 0 MC = 0

21/10

P = 1 DI SEDIKIT SEBELAH KIRI C

=0

- VD . 10 + 1 . 3 = 0
DC = - 3/10

VD = 3/10

MC = + 3/10 . 7 = 21/10

7m
3/10

P = 1 DI SEDIKIT SEBELAH KANAN C

=0

VB .10 1 .7 = 0

DC = + 7/10

B
VB = 7/10 A

MC = + 7/10 .3 = 21/10

C
7/10

3m

P = 1 DI D

=0

VB = 0

DC = 0

MC = 0

52

2M

1M

KARENA POTONGAN TERLETAK DIANTARA PERLETAKAN SNDI DAN BEBAS , MAKA UNTUK
MUDAH NYA MELIHAT SAJA KEARAH BEBAS . P =1 DILETAKKAN DI TITIK A , E , B , C .
P=1
P=1

P=1

P=1

P=1

2m

P = 1 DI TITIK A

DE = - 1

ME = - 1 . 2 = - 2

P= 1 DI TITIK SEDIKIT SEBELAH KIRI E

DE = - 1

ME = - 1 . 0 = 0

P = 1 DI TITIK SEDIKIT SEBELAH KANAN E

DE = 0

ME = 0

P = 1 DI TITIK B DAN TITIK C

DE = 0

ME = 0

GP DE
1

1
2

GP ME

53

DARI CONTOH SOAL YANG TELAH DIBERIKAN , DAPAT DISIMPULKAN BAHWA BENTUK
GAMBAR GARIS PENGARUH REAKSI PERLETAKAN, GAYA LINTANG DAN MOMEN PADA
POTONGAN YANG TERLETAK DIATAS DUA PERLETAKKAN SELALU SAMA. SEHINGGA KALAU
BALOK TERSEBUT MEMPUNYAI KANTILEVER TINGGAL MENERUSKAN SAJA.

GP RA / VA

GP RB/ VB
1
1

GP DC

1
ORDINAT UNTUK DC TEPAT DIKIRI POTONGAN DAN DIKANAN POTONGAN KALAU
DIJUMLAH BESAR NYA HARUS 1 , KARENA PEMISALAN BEBAN BERJALAN P = 1
GP MC

DENGAN DEMIKIAN MAKA ORDINAT ORDINAT PADA GARIS PENGARUH DAPAT DIHITUNG
DENGAN MENGGUNAKAN PERBANDINGAN SEGITIGA , ASAL SATU ORDINAT SUDAH
DIHITUNG .
54

HITUNG BESAR RD
2M
A

2M
B

8M
C

3M

q = 2 t/m

YANG DIPAKAI UTK


E

PERENCANAAN
KEPALA JEMB . DI D

APABILA DIKETAHUI :

BEBAN MATI q = 2 t/m


a

BEBAN HIDUP P = 20 T
GP RD

AKIBAT BEBAN MATI q = 2 t/ m

= 0 - RD . 10 + 20 . 5 + 6 . 11,5 4 . 1 = 0 RD = 16,5 T

AKIBAT BEBAN HIDUP P = 20 T , DIPAKAI GARIS PENGARUH RD ..CARI ORDINAT DI TITIK A


DAN DI TITIK D DENGAN MEMAKAI PERBANDINGAN SEGITIGA .
a / 1 = 2 / 10

a = 0,2

1 / e = 10 / 13

e = 1,3

RD = 20 X ORDINAT MAX PADA GP RD = 20 X 1,3 = 26 T RD = 26 T

RD YANG DIPAKAI UNTUK PERENCANAAN KEPALA JEMBATAN DI D =

16,5 T + 26 T = 42,5 T

55

HITUNG DAN GAMBAR GARIS PENGARUH DC


P=1 DI A

2/10
c2

-RD.10 1 . 2 = 0

RD = 2/10

DC = - 2/10
c1

c2 = 1 2/10 = 8/10

c1 = 2/10
P = 1 DI SEDIKIT KIRI C
P = 1 DI SEDIKIT SEBELAH KANAN C
P =1 DI E

DC= 2/ 10
DC = - 8 /10
DC = 3 /10

C
D
2/10

HITUNG DAN GAMBAR GARIS PENGARUH MC


16/10
e

P = 1 DI A

RD = 2/10

MC = - 2/10 . 8 = - 16/10

P = 1 DI C

c = 16 /10

MC = 16 /10

P = 1 DI E

e = 6 /10

MC = 6 /10

56

HITUNG BESAR MC max POSITIF APABILA BEBAN BERJALAN P = 30 T BERADA DIATAS


JEMBATAN

16/10

30 T
6/10

GP MC

16/10

MC max = P . (ORDINAT MAX POSITIF) = 30 . 16/10 = 48 TON

HITUNG BESAR MC max APABILA BEBAN BERJALAN q = 2 t/m SEPANJANG 2 M BERADA


DIATAS JEMBATAN .
2m

Y1

q = 2 t/m

Y2
1, 6

a
2m

Y1 = Y2

Diusahakan ordinat Y 1 = Y 2 untuk


2- a

mendapatkan M max
8m

12 + 2a = 16 8a

10a = 4

a = 0,4

Y 1 = 1, 6 ( 2 0,4 ) / 2 = 1, 28

LUAS TRAPESIUM = ( 1,28 + 1,6 ) 1/2. 0,4 + ( 1,28 + 1,6 ) 1/2 .( 2- 0,4 ) = 0,576 + 2,304 =
2,88 m 2
MC max = q . luasan dibawah beban berjalan = 2 . 2, 88 = 5,76 TM

57

GARIS PENGARUH PADA BALOK GERBER

BERDASAR PADA BENTUK BENTUK GARIS PENGARUH YANG SUDAH PASTI , MAKA AKAN
LEBIH MUDAH MENGGAMBAR GARIS PENGARUH PADA BALOK GERBER .

I
C

II

GP D I

GP M I

UNTUK MENGHITUNG GP D I DAN M I DIBUTUH KAN VB ATAU VC .


PADA WAKTU P = 1 DI DAERAH A B S

VB DAN VC DAPAT DIHITUNG

PADA WAKTU P =1 DI DAERAH S B C

VB DAN VC TIDAK DAPAT DIHITUNG

MAKA DARI PENJELASAN DIATAS ,GAMBAR GARIS PENGARUHNYA HANYA DI A B S

UNTUK MENGHITUNG GP D I DAN MII DIBUTUHKAN VC ATAU VD


PADA WAKTU P =1 DI DAERAH A B S

VB DAN VC DAPAT DIHITUNG

PADA WAKTU P =1 DI DAERAH S C D

VB DAN VC DAPAT DIHITUNG

MAKA DARI PENJELASAN DIATAS ,GAMBAR GARIS PENGARUH ADA DI DAERAH A B S C D


58

GP RB
A

2M

1M

P = 1 DI A
C

a = 8/6

2M
A

6M

3M
D

P = 1 DI A ..RB = 8/6

GP MD
C

P = 1 DI A

a
1

GP RB

MB = 0
- VS . 6 1 . 2 = 0
-

VS = - 2/6

8/6

S
GP MD

2/6

4M
MD = - 2/6 . 4 = - 8/6
b = 8/6

P = 1 DI D

c = 2/6
GP DE

b = 8/6
P = 1 DI DMD= +8/6

GP DE
P = 1 DI A
P = 1 DI A

c = 2/6

Lihat hal 53

DE = + 2/6

59

GARIS PENGARUH RANGKA BATANG


C

HITUNG DAN GAMBAR


GARIS PENGARUH S CD , S CG ,
4m DAN S FG .

B
F

3m

3m

UNTUK MENCARI GAYA BATANG

3m

3m

DIATAS , PAKAI CARA RITTER


DENGAN CARA MEMOTONG

Ingat bahwa apabila P =1 ada disebelah kiri


potongan ,maka reaksi yang dipakai disebelah
kanan potongan atau melihat kebagian kanan
potongan ,begitu juga sebaliknya

BATANG S CD , S CG DAN S FG.

P = 1 DI A

GP S CD
CDCDCCD

S CD , S CG DAN S FG =0

3/8

P = 1 DI F

3/4

GP S CG

VB = 0

- VB . 12 + 1. 3 = 0 VB= 3/12

5/8

15/48
C
S CD

SCG sin
4m

S FG
15/48

3/12

6m
GP S FG
3/4

3/8

3/16

=0

- 3/12. 6 S CD. 4 =0
S CD = - 18/48 =- 3/8
=0 + 3/12 + S CG SIN =0
S CG = MC =0 - 3/12 .12 + S FG . 4 = 0

- 15 /48

S FG = + 3/ 4
60

P=1 DI G

=0

VA = 1/2

=0

1/2 . 6 + S CD . 4 = 0

= 0 1/2 S CG SIN =0

S CD

S CG SIN

S CG =

S FG

G
6m

1/2

S CD = - 3/4

= 0 1/2 . 3 S FG . 4 =0
S FG = + 3/8

3m

P = 1 DI H

=0

VA . 12 1 . 3 = 0

VA = 3/12

S CD

S CG SIN

6m

3/12 .6 + S CD . 4 = 0 SCD= -6/4


= 0 3/12 S CG SIN =0
S CG =

S FG

1/2

= 0 1/4 . 3 S FG . 4 =0
S FG = + 3/16

3m

61

DARI CONTOH PERHITUNGAN DIATAS DAPAT DISIMPULKAN APABILA RANGKA


BATANG TERLETAK DIANTARA DUA PERLETAKKAN , MAKA UNTUK GARIS PENGARUH
BATANG YANG MEMPUNYAI CENTRUM KEKUATAN BATANG , MAKA GAMBAR GARIS
PENGARUHNYA BERBENTUK SEGITIGA DENGAN PUNCAK DIBAWAH CENTRUM , SEDANG
UNTUK BATANG DIAGONAL YANG TIDAK MEMPUNYAI CENTRUM KEKUATAN BATANG,
GAMBAR GARIS PENGARUHNYA BERBENTUK SEGITIGA DENGAN PUNCAK PADA TITIK
SIMPUL YANG MEMEGANGI BATANG TERSEBUT . JADI UNTUK ORDINAT DIHITUNG SAJA
PADA PUNCAK NYA , SEDANG ORDINAT LAIN , BISA DIHITUNG DENGAN PERBANDINGAN
SEGITIGA . UNTUK BATANG BAWAH SELALU POSITIF ATAU TARIK , SEDANG BATANG ATAS
SELALU NEGATIF ATAU TEKAN .

HITUNG DAN GAMBAR


GARIS PENGARUH
4m

S DG, S EF , S EH.
GP S DG

3m
3m

3m

3m

S DG

3m

GP S DG

LIHAT KEBAWAH POTONGAN


P = 1 DI A

S DG =0

P = 1 DI G =0 S DG -1 = 0

GP S EH

S DG = 1
P = 1 DI H ,I ,B

S DG = 0

GP S EH

S EH

LIHAT KEATAS POTONGAN


A

P = 1 DI A , G , H , I , B

S EH = 0
62

GP S EF

GP S EF
P = 1 DI H . VA = VB = 1/2
3/4
S EF

4m

=0

1/2 . 6 + S EF . 4 = 0

VA = 1/2

6m

S EF = - 3/4

HITUNG BESARS EF APABILA BEBAN BERJALAN q = 2 t/m BERADA TEPAT DI IB

a / 3/4 = 3/6
a = 9/24

a
3/4

3m

S FE = q . luasan yang diarsir dibawah beban merata


S FE = - 2 . ( 1/2 . 3 . 9/24 ) = - 27 / 24 TM

63

APLIKASI DI LAPANGAN UNTUK GARIS PENGARUH


q = 1 t/m

B
10 m

C
2m

DIKETAHUI BALOK JEMBATAN ABC DENGAN BEBAN MATI q = 1 t/m


TENTUKAN BESAR MOMEN YANG DIPAKAI UNTUK PERENCANAAN
DEMENSI BALOK TERSEBUT .

UNTUK MENDAPATKAN HASIL MOMEN MAXIMUM YANG DIMAKSUD


YANG HARUS DILAKUKAN ADALAH :

1 . MENCARI BESAR M MAX AKIBAT BEBAN MATI TERSEBUT

2 . MENCARI GARIS PENGARUH MOMEN PADA POTONGAN ATAU TITIK


DIMANA MOMEN MAXIMUM TERJADI .

3 . DENGAN BEBAN BERJALAN YANG SUDAH DITENTUKAN , DIDAPAT MOMEN


MAXIMUMNYA .

4 . MOMEN MAX TOTAL DIDAPAT DARI PENJUMLAHAN KEDUA MOMEN YANG


DIDAPAT .( HASIL NO 1 + HASIL NO 3 ) .

64

xm

q = 1 t/m

C
1O m

=0

DX=0

VA. 10 10. 1. 5 + 2. 1 . 1 = 0
4,8 1X = 0

2m

VA = 4,8 T

X = 4,8 m dari A terjadi M Max

MX = 4,8 X 1.X. 1/2 X


X = 4,8 m

M max = 4,8. 4,8 1 . 4,8 . 1/2 . 4,8 = 11,52 TM

M max AKIBAT BEBAN MATI = 11, 52 TM

D
4,8 m

B
5,2 m

30 TON

C
2m

GP MD

0,2496

P = 1 PADA POTONGAN SEDIKIT SEBELAH KANAN D

=0

VA . 10 1 . 5,2 = 0VA = 0,52

MD = 0,52 . 4,8 = 0,2496

APABILA BEBAN BERJALAN ADALAH P = 30 TON , MAKA


M max AKIBAT BEBAN BERJALAN = 30 . 0,2496 = 7,488 TM
JADI MOMEN YANG DIGUNAKAN UNTUK PERENCANAAN DEMENSI ADALAH
11,52 TM + 7,488 TM = 19,008 TM
CATATAN
Contoh diatas dilakukan juga untuk gayaLintang ataupun mencari gaya batang
Pada Konstruksi Rangka Batang .
65

TUGAS 1

4T
4T

5T
5T
B

C
C

D
D

amm
33a

bbm
m

c cmm
mm

6T
6T
6T

3T
3T

HITUNG BESAR MOMEN DI A , B , C , D , E , F DARI KEDUA SOAL


6T
B

55TT

4T

A
b

CC
DD

3T
c
= 45

tg = 3/4

b
F
F

EE
a

NRP
BERAKHIRAN
0 5
7 1
2 9
3 4
8 6

am

bm

cm

dm

3
2
3
3
2

5
4
3
2
2

8
5
6
5
6

4
6
8
6
6
66

TUGAS 2

HITUNG BESAR REAKSI REAKSI PERLETAKAN DARI KONSTRUKSI DAN BEBAN SEPERTI
TERGAMBAR DIBAWAH INI .

4T

6T

5T

6V2T
3M

= 45

4M

6M

TG = 3/ 4

3M

4T
5T
5 T3 T

C
26TT

3M
5M
T

3T4 T
T

2M

2M

3M

22T
T
T
4M

D
3M

6T
A

= 30 0

3T
1m

2m
67

TUGAS 3
HITUNG BESAR REAKSI2 PERLETAKAN DARI KONSTRUKSI DAN BEBAN
SEPERTI DIBAWAH INI .
PV2T

q t/m

= 45

P T

3m

8m

2 t/m

P T

D
2m

5T
4T

tg = 3/4

3T

C
4m

1 t/m
E

D
2T

am

Nomor
pokok

am

GASAL

GENAP

cm

bm

3m

bm

cm

P ton

q t/m

68

TUGAS 4
HITUNG DAN GAMBAR BIDANG NORMAL , MOMEN DAN LINTANG DARI
KONSTRUKSI DENGAN BEBAN SEPERTI TERGAMBAR DIBAWAH INI .

P1 TON
A

tg = 4/3
B

P2 TON

5 TON

2m

4m

8m

P1 TON

P1 V 2 TON
B

3m

NRP
BERAKHIRAN

L m

3m

P 1 TON

P 2 TON

L m

45 0

10

45 0

45 0

12

45 0

45 0
69

TUGAS 5
HITUNG DAN GAMBAR BIDANG NORMAL , MOMEN DAN LINTANG
DARI KONSTRUKSI DENGAN BEBAN SEPERTI TERGAMBAR DIBAWAH INI

q t/m

P ton

2m

P ton

8m

D
2m

q t/m
D

P ton

2m

4m

6m

NRP BERAKHIRAN

q t/m

P ton

0 4 7

30 0

1 8 9

60 0

5 3 6 2

30 0

70

TUGAS 6
HITUNG DAN GAMBAR BIDANG NORMAL , MOMEN DAN LINTANG
DARI KONSTRUKSI DENGAN BEBAN SEPERTI TERGAMBAR DIBAWAH INI

3T
5T

tg = 3/4

q = 1 t/m

am

bm

4T

cm

4T

D
dm

q = 2 t/m

2m

5T

tg = 4/3

S1

am

NRP
BERAKHIRAN

S2

2m

dm

C
2m

D
cm

am

bm

cm

dm

10

12

71

SOAL EVALUASI 1
SUATU KONSTRUKSI PORTAL DENGAN BEBAN SEPERTI TERGAMBAR DIBAWAH INI,
HITUNG REAKSI2 PERLETAKANNYA.
1.

q = 2 t/m

4T
A

am

cm

3m

P=2T

5m

cm

2.
P=5 T

q= 1 t/m

P=5 T

tg = 3/4

cm

bm

D
cm

DARI KONSTRUKSI DAN BEBAN SEPERTI TERGAMBAR DIATAS, HITUNG DAN GAMBAR BIDANG
MOMEN,NORMAL DAN LINTANG.
CATATAN :
NIM GASAL

a= 3 m

b= 12 m

c= 2 m

NIM GENAP

a= 2m

b= 10m

c= 3m

72

SOAL EVALUASI 2
P1
B

1.

P2
HITUNG DAN GAMBAR BIDANG N DAN M DARI
KONSTRUKSI DAN BEBAN SEPERTI TERGAMBAR.
hm

C
am

bm
q t/m

P2
2.

P1
am

bm

3m

10 m

DARI KONSTRUKSI DAN BEBAN SEPERTI DIATAS, HITUNG DAN GAMBAR


BIDANG N DAN D.

3.

S2

D
S1

S6

S4

E
S7

DARI KONSRUKSI RANGKA SEPERTI TERGAMBAR


S3

S5

3 m HITUNG BESAR GAYA BATANG S 4 , S2 DAN S 7


C

DENGAN CARA YANG TERMUDAH MENURUT SDR.

P1
am

am

CATATAN
TYPE SOAL
A
B
C
D
E
F

P 1 TON
4
2
4
3
5
3

P2 TON
2
6
4
4
5
5

q ton/meter a meter
1
4
1
3
2
4
2
3
1
4
1
3

b meter
2
6
5
7
4
2

h meter
3
4
3
4
3
4
73

DAFTAR PUSTAKA

1 . Soewarno , MEKANIKA TEKNIK STATIS TERTENTU


2 . Soemono , STATIKA 1

74