Anda di halaman 1dari 11

PAPER KULTUR PAKAN ALAMI

Penetasan Cyste Artemia sp. Dengan Metode Non Dekapsulasi

KELOMPOK IV

FACHRUDDIN
NURUL FADHILLAH AZIS
JANE TRIANA TANGKE
YUNI MAHARANI
IKA RAHMA DEWI

(L221 12 002)
(l221 12 103)
(L221 12 258)
(L221 12 269)
(L221 12 276)

PROGRAM STUDI BUDIDAYA PERAIRAN


JURUSAN PERIKANAN
FAKULTAS ILMU KELAUTAN DAN PERIKANAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2014

I. PENDAHULUAN

Latar Belakang
Artemia merupakan plankton yang biasa hidup di air artemia ini merupakan
zooplankton. Artemia dijadikan sebagai pakan hewan air terutama bagi pembudidaya
udang. Artemia ini sangat baik dijadikan sebagai pakan hewan air ( udang, bandeng,
Gurame, Tawes) karena artemia ini mempunyai kandungan protein yang tinggi yang
berguna untuk pertumbuhan terutama untuk pertumbuhan benih / anak ikan maupun
udang.Artemia merupakan jenis crustaceae tingkat rendah dari phylum arthropoda
yang memiliki kandungan nutrisi cukup tinggi seperti karbohidrat, lemak, protein dan
asam-asam amino. Benih ikan dan udang pada stadium awal mempunyai saluran
pencernaan yang masih sangat sederhana sehingga memerlukan nutrisi pakan jasad
renik yang mengandung nilai gizi tinggi. Nauplius artemia mempunyai kandungan
protein hingga 63 % dari berat keringnya. Selain itu artemia sangat baik untuk pakan
ikan hias karena banyak mengandung pigmen warna yang diperlukan untuk variasi
dan kecerahan warna pada ikan hias agar lebih menarik.
Artemia dapat hidup di perairan yang bersalinitas tinggi antara 60 - 300 ppt
dan mempunyai toleransi tinggi terhadap oksigen dalam air. Oleh karena itu artemia
ini sangat potensial untuk dibudidayakan di tambak- tambak tambak yang bersalinitas
tinggi di Indonesia. Budidaya artemia mempunyai prospek yang sangat cerah untuk
dikembangkan. Baik kista maupun biomasanya dapat diolah menjadi produk kering
yang memiliki ekonomis tinggi guna mendukung usaha budidaya udang dan ikan.
Budidaya artemia relatif sederhana serta murah, sehingga tidak menuntut ketrampilan
khusus dan modal besar bagi pembudidayanya.Potensi lahan untuk usaha budidaya
udang renik air asin (brine shrimp) ini di Indonesia mencapai kurang lebih 32.000 ha.
Saat ini beberapa daerah telah mengembangkan budidaya artemia seperti di daerah
pantai Madura, Jawa Timur, terutama di Kabupaten Sumenep, Sampang dan
Pemekasan. Daerah lain yang tak mau ketinggalan adalah Jepara, Jawa Tengah dan
Gondol, Bali. Sejatinya pembudidayaan artemia di areal tambak tidaklah terlalu sulit.

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Klasifikasi dan Strain Artemia


Artemia merupakan zooplankton yang diklasifikasikan ke dalam filum
Arthropoda dan kelas Crustacea. Secara lengkap sistematika artemia dapat dijelaskan
sebagai berikut.
Filum

: Arthropoda

Kelas

: Crustacea

Subkelas

: Branchiophoda

Ordo

: Anostraca

Famili

: Artemiidae

Genus

: Artemia

Spesies

: Artemia salina linn.


Nama Artemia sp. diberikan untuk pertama kali oleh Schlosser yang

menemukannya

di

suatu

danau

asin

pada

tahun

1755.

Kemudian

oleh Linnaeus (1758) melengkapkan nama remik ini menjadi Artemia salirw. karena
daya toleransinya terhadap salinitas yang amat tinggi. Selain spesies Artemia salimi,
ada beberapa spesies yang diberikan nama bagi strain zigogenerik, yaitu bila di dalam
populasi bercampur antara spesies betina dan jantan. Nama-nama tersebut di
antaranya Artemia tunisiana, Artemia franciscana, Artemia fersimilis, Artemia
urmiana, dan Artemia monica. Namun demikian, nama Artemia salina atau disingkat
artemia saja tetap umum digunakan. Nama ini pula yang digunakan dalam buku ini.

2.2. Morfologi
Kista Artemia sp. yang ditetaskan pada salinitas 15-35 ppt akan menetas
dalam waktu 24-36 jam. Larva artemia yang baru menetas dikenal dengan nauplius.
Nauplius dalam pertumbuhannya mengalami 15 kali perubahan bentuk, masingmasing perubahan merupakan satu tingkatan yang disebut instar (Pitoyo, 2004).
Pertama kali menetas larva artemia disebut Instar I. Nauplius stadia I (Instar I)
ukuran 400 mikron, lebar 170 mikron dan berat 15 mikrongram, berwarna orange

kecoklatan. Setelah 24 jam menetas, naupli akan berubah menjadi Instar II,
Gnatobasen sudah berbulu, bermulut, terdapat saluran pencernakan dan dubur.
Tingkatan selanjutnya, pada kanan dan kiri mata nauplius terbentuk sepasang mata
majemuk. Bagian samping badannya mulai tumbuh tunas-tunas kaki, setelah instar
XV kakinya sudah lengkap sebanyak 11 pasang. Nauplius menjadi artemia dewasa
(Proses instar I-XV) antara 1-3 minggu (Mukti, 2004). Telur artemia yang kering atau
kista berbentuk bulat cekung, berwarna coklat, berdiameter 200 300 mikron dan di
dalamnya terdapat embrio yang tidak aktif. Nauplius artemia mempunyai tiga pasang
anggota badan yakni antenna I yang berfungsi sebagai alat sensor, antena II berfungsi
sebagai alat gerak atau penyaring pakan dan rahang bawah belum sempurna. Di
bagian kepala antara ke dua antenna terdapat bintik merah (ocellus) yang berfungsi
sebagai mata nauplius. Artemia dewasa berukuran 1 2 cm dengan sepasang mata
majemuk dan 11 pasang thoracopoda. Setiap thoracopoda mempunyai eksopodit,
endopodit dan epipodit yang masing-masing berfungsi sebagai alat pengumpul pakan,
alat berenang dan alat pernapasan. Pada yang jantan, antenna II berkembang menjadi
alat penjepit dan pada bagian belakang perut terdapat sepasang penis. Pada yang
betina, antenna menjadi alat sensor dan pada kedua sisi saluran pencernaan terdapat
sepasang ovari. Telur-telur yang telah masak dipindahkan dari ovari ke dalam sebuah
kantong telur atau uterus (Sumeru, 1984).
Pada tiap tahapan perubahan instar nauplius mengalami moulting. Artemia
dewasa memiliki panjang 8-10 mm ditandai dengan terlihat jelas tangkai mata pada
kedua sisi bagian kepala, antena berfungsi untuk sensori. Pada jenis jantan antena
berubah menjadi alat penjepit (muscular grasper), sepasang penis terdapat pada
bagian belakang tubuh. Pada jenis betina antena mengalami penyusutan.

2.3. Ekologi
Artemia sp. secara umum tumbuh dengan baik pada kisaran suhu 25-30
derajat celcius. Kista artemia kering tahan terhadap suhu -273 hingga 100 derajat
celcius. Artemia dapat ditemui di danau dengan kadar garam tinggi, disebut dengan
brain shrimp. Kultur biomasa artemia yang baik pada kadar garam 30-50 ppt. Untuk

artemiayang mampu menghasilkan kista membutuhkan kadar garam diatas 100 ppt
(Kurniastuty dan Isnansetyo, 1995).
2.4. Reproduksi
Chumaidi et al., (1990) menyatakan bahwa perkembangbiakan artemia ada
dua cara, yakni partenhogenesis dan biseksual. Pada artemia yang termasuk jenis
parthenogenesis populasinya terdiri dari betina semua yang dapat membentuk telur
dan embrio berkembang dari telur yang tidak dibuahi. Sedangkan pada artemia jenis
biseksual, populasinya terdiri dari jantan dan betina yang berkembang melalui
perkawinan dan embrio berkembang dari telur yang dibuahi.
2.5. Pengayaan Artemia
Pengayaan (enrichment) artemia dengan menggunakan beberapa jenis
pengkaya misalnya scout emultion, selco atau vitamin C dan B kompleks powder
dilakukan selama 2 jam (Suriawan,2004). Selanjutnya diperjelas oleh Subyakto dan
Cahyaningsih (2003) bahwa pengayaan pakan alami menggunakan minyak ikan,
minyak cumi-cumi, vitamin ataupun produk komersial lainnya membutuhkan waktu
2-4 jam untuk mendapatkan hasil yang baik. Artemia yang akan dilakukan pengayaan
adalah yang baru menetas (nauplius) (Mukti, 2004). BBAP Situbondo (2004)
mencatat bahwa pemberian tambahan vitamin C dengan cara pengayaan dengan dosis
0,1 0,5 ppm pada media pengayaan artemia dapat meningkatkan kelangsungan
hidup dan pertumbuhan larva kerapu. Syaprizal (2006) juga memperoleh hasil dengan
pengayaan vitamin C sebanyak 2 mg/l ke artemia dapat meningkatkan kelulusan
hidup benur udang windu dan diperoleh kemungkinan adanya kelulusan hidup lebih
tinggi dengan penambahan dosis vitamin C.
Beberapa

hal

cyste Artemia adalah:


1. Suhu
2. Kadar garam

yang

harus

diperhatikan

dalam

menetaskan

3. Kepadatan cyste
4. Cahaya
5. Aerasi
Agar diperoleh hasil penetasan yang baik maka oksigen terlarut di dalam air
harus lebih dari 5 ppm. Untuk mencapai nilai tersebut dapat dilakukan dengan
pengaerasian yang kuat. Disamping untuk meningkatkan oksigen, pengaerasian juga
berguna agar cyste yang sedang ditetaskan tidak mengendap. Suhu sangat
mempengaruhi

lamanya

waktu

penetasan

dan

suhu

optimal

untuk

penetasan Artemiaadalah 26-29 C. Pada suhu dibawah 25 C Artemia akan


membutuhkan waktu yang lebih lama untuk menetas dan pada suhu diatas 33 C
dapat menyebabkan kematian cyste. Kadar 12 garam optimal untuk penetasan adalah
antara 5 35 ppt, namun untuk keperluan praktis biasanya digunakan air laut (kadar
garam antara 2535 ppt).

Nilai pH air harus dipertahankan pada nilai 8 agar

diperoleh penetasan yang optimal. Adapun iluminasi pada saat penetasan sebaiknya
2000 lux.
Hal lain yang menentukan derajat penetasan cyste adalah kepadatan cyste
yang akan ditetaskan. Pada penetasan skala kecil (volume < 20l) kepadatan cyste
dapat mencapai 5 g per liter air. Akan tetapi pada skala yang lebih besar agar
diperoleh daya tetas yang baik maka kepadatan harus diturunkan menjadi 2 g per liter
air. Artemia akan menetas setelah 18-24 jam. Artemia yang sudah menetas dapat
diketahui secara sederhana yakni dengan melihat perubahan warna di media
penetasan. Artemia yang belum menetas pada umumnya berwarna cokelat muda,
akan tetapi setelah menetas warna media berubah menjadi oranye. Warna oranye
belum menjamin Artemia sudah menetas sempurna, oleh karena itu untuk
meyakinkan bahwa Artemia sudah menetas secara sempurna disamping melihat
perubahan warna juga dengan mengambil contohArtemia dengan menggunakan
beaker glass. Jika seluruh nauplius Artemia sudah berenang bebas maka itu
menunjukkan penetasan selesai. Akan tetapi jika masih banyak yang terbungkus
membran, maka harus ditunggu 1-2 jam agar semua Artemiamenetas secara
sempurna.

Kista menetas menjadi Artemia stadia nauplius. Setelah menetas sempurna,


secara visual dapat terlihat terjadinya perubahan warna dari coklat muda menjadi
oranye.

Hal

yang

penting

yang

perlu

diperhatikan

dalam

pemanenan

nauplius Artemiaadalah jangan sampai tercampur antara Artemia dan cangkang. Hal
ini perlu dihindari mengingat cangkang Artemia tersebut mengandung bahan organik
yang dapat

menjadi

substrat perkembangbiakan bakteri. Setelah 18 jam

dimasukandalam bak penetasan maka pengecekan apakah Artemia dalam wadah


penetasan sudah menetas atau belum. Pengecekan dilakukan dengan cara mematikan
aerasi. Sesaat setelah aerasi dimatikan, jika secara kasat mata keseluruhan nauplius
sudah berenang bebas maka pemanenan dapat dilakukan dan aerasi tetap dimatikan.
Jika sebagian besar nauplius masih terbungkus membran dan belum berenang bebas
maka aerasi dihidupkan kembali. Selanjutnya 1 atau 2 jam kemudian dilakukan
pengecekan ulang. Langkah awal pemanenan Artemia yaitu dengan mematikan aerasi
serta menutup bagian atas wadah dengan bahan yang tidak tembus cahaya. Hal ini
dilakukan dengan tujuan memisahkan antara nauplius dan cangkang Artemia.
Cangkang Artemia akan

mengambangdan

berkumpul

di

permukaan

air.

Nauplius Artemia akan berenang menuju ke arah cahaya. Karena bagian bawah
wadah tranparan dan ditembus cahaya maka nauplius Artemia akan berkumpul di
dasar wadah penetasan. Oleh karena itu pada saat pemanenan nauplius, sebaiknya
bagian dasar wadah disinari lampu dari arah samping. Selain nauplius, didasar wadah
juga akan terkumpul kista yang tidak menetas. Aerasi tetapdimatikan selama 10
menit. Setelah semua cangkang berkumpul di atas permukaan air dan terpisah dengan
nauplius yang berada di dasar wadah maka pemanenan dapat dilakukan dengan cara
membuka kran pada dasar wadah (jika ada) atau dengan cara menyipon dasar.
Sebelum kran dibuka atau disipon, ujung kran atau selang kecil dibungkus saringan
yang berukuran 125 mikron dan dibawah saringan disimpan wadah agar
nauplius Artemia tetap berada dalam media air. Pada saat pemanenan hindarilah
terbawanya cangkang. Artemia yang tersaring kemudian dibilas dengan air laut bersih
dan siap diberikan ke larva ikan atau udang. Selanjutnya air dan cangkang yang
tersisa di wadah penetasan dibuang dan dibersihkan.

III. METODOLOGI

III.1. Waktu dan Tempat


Praktikum Kultur Pakan Alami mengenai Penetasan Artemia akan
dilakasanakan pada tanggal 13 Oktober 2014 di Hatchery, Jurusan Perikanan,
Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan, Universitas Hasanuddin, Makassar.

III.2. Alat dan Bahan


Alat dan bahan yang akan digunakan pada praktikum ini adalah:
Timbangan digital
Seser halus
Wadah penetasan
Plastic hitam
Beaker glass
Petridisk
Mikroskop Media penetasan
Cyste Artemia
Air

III.3. Prosedur Kerja


Praktikum ini akan dilakukan dengan menggunakan skala kecil atau skala
laboratorium dengan menggunakan metode pentesan artemia non dekapsulasi, yaitu
suatu cara penetasan artemia tanpa melakukan proses penghilangan lapisan luar kista
tetapi secara langsung ditetaskan dalam wadah penetasan. langkah-langkahnya
sebagai berikut:
Timbang cyste artemia yang akan ditetaskan sebanyak 3 gram/liter
Hitung kepadatan cyste artemia yang akan ditetaskan
Hidrasi/rendam cyste artemia dengan air tawar dalam beaker glass selama 1-2 jam

Saring artemia dengan plankton net/seser halus lalu masukkan kedalam wadah dan
media penetasan yang telah disiapkan dengan aerasi kuat.
Tutup wadah penetasan dengan menggunakan plastic hitam
Amati dan catat perkembangan cyste artemia selama 6 jam
Hitung derajat penetasan artemia

III. PENUTUP
Artemia merupakan pakan yang penting bagi organisme budidaya seperti
ikan, udang dan kepiting. Hal ini disebabkan karena nilai nutrisi yang dikandungnya
tinggi dan penggunaannya pun luas. Tetapi kendala utama khususnya di Indonesia
adalah kurangnya stok produksi dalam negeri, sehingga mempengaruhi pada harga
jual yang tinggi. Untuk itu, perlu dilakukan peningkatan produktivitas lahan tambak
melalui

budidaya

Artemia,

disamping lahan

tambak

terproduktifkan

juga

meningkatkan produksi Artemia lokal.


Selain itu proses pengkayaan nutrisi Artemia lokal perlu semakin digalakkan,
terutama untuk menyaingi produk-produk Artemia dari luar negeri yang umumnya
sudah melewati proses pengkayaan sebelum dipasarkan.

DAFTAR PUSTAKA
Muhdi.

2011.
Metode
Dekapsulasi
dan
Non-Dekapsulasi.
Http://Muhditernate.wordpress.com. Diakses pada tanggal 25 September 2014
Pukul 10.15 WITA

Viqfarm. 2013. Penetasan Cyste Artemia Metode Dekapsulasi dan Non-Dekapsulasi.


Http://Virqfam.wordpress.com. Diakses pada tanggal 25 September 2014
pukul 09.00 WITA