Anda di halaman 1dari 17

REFERAT

GAMBARAN RADIOLOGI OSTEOPOROSIS

DISUSUN OLEH:
Vicky Chrystine N.
1061050052

PEMBIMBING:
Dr. Pherena Amalia, SpRad

KEPANITERAAN RADIOLOGI
Periode 10 November 2014-13 Desember 2014
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS KRISTEN INDONESIA
JAKARTA

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena atas
pertolonganNya penulis dapat menyelesaiakan tulisan ilmiah yang berjudul
Osteoporosis dengan tujuan sebagai bahan pembelajaran pada kepaniteraan
radiologi.
Penulis mengucapkan terimakasih kepada :
1. dr. Pherena Amalia SpRad, selaku dosen pembimbing yang telah membantu
penulis dalam dalam mengerjakan proyek ilmiah ini.
2. Orang tua yang telah memberikan support kepada penulis dalam penyelesaian
tulisan ilmiah ini.
3. Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah
memberikan kontribusi kepada penulis baik secara langsung maupun tidak
langsung dalam proses pembuatan tulisan ini.
Penulis berharap semoga karya ilmiah ini dapat menjadi sesuatu yang berguna bagi
kita bersama. Semoga karya ilmiah yang penulis sampaikan ini dapat membuat kita
mencapai kehidupan yang lebih baik lagi.

Jakarta, 10 Desember 2014

Penulis

BAB I
PENDAHULUAN
Usia harapan hidup rata-rata di Indonesia saat ini meningkat, hal ini mengakibatkan
prevalensi penyakit degeneratif seperti osteoporosis juga meningkat. Osteoporosis
menjadi salah satu permasalahan kesehatan masyarakat yang cukup berarti. Hal
tersebut terbukti dari hasil analisis data yang dilakukan oleh Puslitbang Gizi Depkes
di 14 provinsi menunjukkan bahwa masalah osteoporosis di Indonesia telah mencapai
tingkat yang perlu diwaspadai, yaitu 19,7%. Jumlah tersebut menunjukkan
kecenderungan osteoporosis di Indonesia enam kali lebih tinggi dibandingkan dengan
negeri Belanda. Penelitian lain di Jakarta, Bandung, Semarang, Surabaya, dan Medan
(2002) menunjukkan bahwa 29% dari 101.161 responden menderita osteoporosis.1
Penyebab osteoporosis bersifat multifaktorial seperti gaya hidup tidak sehat,
tidak berolah raga; selain itu, terdapat pula faktor risiko yang tidak dapat dimodifikasi
seperti usia, jenis kelamin, riwayat keluarga, dsb.1
Osteoporosis adalah penyakit tulang sistemik yang ditandai oleh penurunan
densitas massa tulang / bone mass density dan perburukan mikro-arsitektur tulang;
sehingga tulang menjadi mudah patah. National Institute of Health / NIH mengajukan
definisi baru, yaitu osteoporosis merupakan penyakit tulang sistemik yang ditandai oleh
compromised bone strength sehingga tulang mudah patah. Sehari-hari osteoporosis
dikenal dengan istilah keropos tulang, dan merupakan penyebab morbiditas yang penting
pada golongan lanjut usia/lansia.2
Pada hakekatnya, osteoporosis berkaitan erat dengan peak bone mass/PBM
(puncak massa tulang). Massa tulang pada semua usia ditentukan oleh tiga komponen,
yaitu PBM dewasa yang dapat dicapai, usia saat penurunan massa tulang mulai
terjadi, dan kecepatan kehilangan massa tulang. Sedangkan PBM dewasa ditentukan
oleh berbagai kombinasi faktor yaitu genetik, mekanis, nutrisi/gizi dan hormonal.
Makanan sehari-hari rendah kalsium, vitamin D dan status gizi kurang diketahui
merupakan faktor risiko osteoporosis.2,3,4
Pengobatan osteoporosis yang sudah lanjut dengan komplikasi patah tulang
merupakan hal yang sangat sulit, dan memerlukan waktu lama dan biaya yang cukup
besar. Jadi osteoporosis lebih-lebih yang sudah terjadi komplikasi menimbulkan morbiditas dan
mortalitas yang cukup serius. Pada proses remodeling, tulang secara kontinyu

mengalami penyerapan dan pembentukan. Hal ini berarti bahwa pembentukan tulang
tidak terbatas pada fase pertumbuhan saja, akan tetapi pada kenyataanya berlangsung
seumur hidup. Sel yang bertanggung jawab untuk pembentukan tulang disebut
osteoblas (osteoblast), sedangkan osteoklas (osteoclast) bertanggung jawab untuk
penyerapan tulang.
Penyerapan zat gizi untuk tulang dan proses penyembuhan tulang mulai
terganggu pada usia 60 tahun terutama pada wanita yang memasuki menopause.
Frekuensi terjadinya fraktur pada wanita lebih banyak dibandingkan frekuensi ca.
mamae dan stroke pada wanita.5

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Definisi Osteoporosis
Menurut WHO (World Health Organization) dan consensus para ahli,
osteoporosis adalah penyakit yang ditandai dengan rendahnya massa tulang dan
memburuknya mikrostruktural jaringan tulang yang menyebabkan kerapuhan
pada tulang sehingga meningkatan resiko terjadinya fraktur tulang. Keadaan
tersebut tidak memberikan kelihan klinis kecuali apabila telah terjadi fraktur.
Osteoporosis merupakan penyakit sistemik, fraktur yang terjadi akibat
osteoporosis dapat terjadi di semua tempat. Meskipun fraktur yang berhubungan
dengan kelainan ini meliputi thorak dan tulang belakang (lumbal), radius distal
dan femur proksimal. Definisi tersebut tidak berarti bahwa semua fraktur pada
tempat yang berhubungan dengan osteoporosis disebabkan oleh kelainan ini.
Hubungan geometri tulang dengan riwayat kecelakaan (trauma), rendahnya
densitas tulang dan keadaan lingkungan sekitar merupakan faktor penting yang
dapat menyebabkan fraktur. 6

Densitas Mineral Tulang

Pengukuran massa tulang dapat memberi informasi massa tulangnya


saat itu, dan terjadinya risiko patah tulang di masa yang akan datang. Salah
satu prediktor terbaik akan terjadinya patah tulang osteoporosis adalah
besarnya massa tulang. Pengukuran massa tulang dilakukan oleh karena
massa tulang berkaitan dengan kekuatan tulang. Ini berarti semakin banyak
massa tulang yang dimiliki, semakin kuat tulang tersebut dan semakin
besar beban yang dibutuhkan untuk menimbulkan patah tulang. Untuk itu
maka pengukuran massa tulang merupakan salah satu alat diagnose yang
sangat penting. Selama 10 tahun terakhir, telah ditemukan beberapa tehnik
yang non-invasif untuk mengukur massa tulang.12

B. Klasifikasi Osteoporosis
1.

Osteoporosis primer: dapat terjadi pada tiap kelompok umur. Hal ini
disebabkan dengan faktor risikonya, antara lain: merokok, aktifitas, pubertas
tertunda, berat badan rendah, kebiasaan minum alcohol, ras kulit putih / asia,
riwayat keluarga, postur tubuh, dan defisiensi kalsium.8
a. Tipe I (post menoposal) :
Terjadi 15-20 tahun setelah menopause (usia 53-75 tahun). Hal ini
ditandai oleh adanya fraktur tulang belakang tipe crush, fraktur colles,
dan berkurangnya gigi geligi. Hal ini disebabkan oleh luasnya
jaringan trabecular pada tempat tersebut, dimana jaringan trabecular
lebih responsive terhadapa defisiensi estrogen.9
b. Tipe II (senile) :
Terjadi pada wanita dan pria pada usia > 70 tahun. Hal ini ditandai
oleh fraktur panggul dan tulang belakang tipe wedge. Hilangnya
massa tulang kortikal terbesar yang terjadi pada usia tersebut.9

2. Osteoporosis sekunder: dapat terjadi pada tiap kelompok umur. Hal ini
disebabkan oleh pengaruh kortikosteroid, hipertiroidisme, multiple myeloma,
malnutrisi, defisiensi estrogen, hiperparatiroidisme, faktor genetik dan obatobatan.8

C. Diagnosis Osteoporosis
Osteoporosis tidak memiliki keluhan yang spesifik, keluhan ini akan dirasakan
apabila tulang telah mengalami fraktur sehingga menimbulkan rasa nyeri,
deformitas, serta gangguan fungsi. Oleh sebab itu osteoporosis sering disebut
dengan sebutan thief in the night pencuri di malam hari. Untuk mendiagnosis
penyakit ini diperlukan pemeriksaan anamnesis secara terperinci terutama
mengenai faktor risiko yang mungkin di miliki oleh pasien sehingga dapat
membantu menegakkan diagnosis osteoporosis. Analisis faktor risiko penting
untuk dilakukan untuk menentukan perlu atau tidaknya dilakukan pemerikasaan
terhadap densitas mineral tulang (BMD) yang merupakan modalitas diagnosis
utama untuk mendiagnosis osteoporosis.9
Beberapa faktor yang meningkatkan risiko penurunan densitas tulang dan
fraktur-fraktur osteoporosis pada wanita post menopause meliputi pertambahan
usia, ras kulit putih, berat badan rendah atau penurunan berat badan, tanpa terapi
pengganti estrogen, riwayat fraktur sebelumnya, riwayat keluarga dengan fraktur,
riwayat terjatuh, dan skor rendah pada satu atau lebih pemeriksaan akitifitas
fisik.10 Faktor lain yang kurang berpengaruh berdasarkan studi tapi juga memiliki
hubungan yang signifikan dengan densitas tulang dan fraktur meliputi merokok
penggunaan alcohol, kebiasaan mengkonsumsi kopi, asupan yang rendah kalsium
dan vitamin D serta penggunaan kortikosteroid. Prediksi untuk densitas tulang
rendah dan fraktur adalah sama kecuali yang spesifik berkaitan dengan jatuh.
Faktor risiko sesuai untuk tiap tempat fraktur yang berbeda kecuali fraktur karena
jatuh memiliki faktor risiko fungsional tambahan.9, 10

Penilaian langsung densitas tulang untuk mengetahui ada atau tidaknya


osteoporosis dapat dilakukan dengan cara:
Radiologi
Radioisotope
QCT (Quaantitative Computerised Tomography)
MRI (Magnetic Resonance Imaging)
Densitometer (X-ray absorpmetry)

Penilaian osteoporosis dengan cara laboratorik dilakukan dengan melihat petanda


biokimia untuk osteoblast, yaitu: osteokalsin, prokolagen I pepptida, dan alkali
fosfatase total serum. Petanda kimia untuk osteoklast: dioksipiridinolin (D-pyr),
piridinolin (Pyr), Tartate resistant acid phosfotase (TRAP), kalsium urin,
hidroksisiprolin, dan hidroksi glikosida. Secara bioseluler, penilaian biopsy
tulang dilakukan secara histopometri dengan menilai aktifitas osteoblast dan
osteoklas secara langsung. Namun pemeriksaan diatas masih mahal biayanya
sehingga jarang sekali dilakukan terutama di Indonesia.11

BAB III
GAMBARAN RADIOLOGI OSTEOPOROSIS

Pemeriksaan X-ray absorptiometry menggunakan radiasi sinar X yang sangat


rendah. Selain itu keuntungan lain densitometer X-ray absorptiometry dibandingkan
DPA (Dual Photon Absorptiometry) dapat mengukur dari banyak lokasi, misalnya
pengukuran vertebral dari anterior dan lateral, sehingga pengaruh bagian belakang
corpus dapat dihindarkan, sehingga presisi pengukuran lebih tajam. Ada dua jenis Xray absorptiometry yaitu: SXA (Single X-ray Absorptiometry) dan DEXA (Dual
Energy X-ray Absorptiometry).13
Saat ini gold standard pemeriksaan osteoporosis pada laki-laki maupun
osteoporosis pascamenopause pada wanita adalah DEXA, yang digunakan untuk
pemeriksaan vertebra, collum femur, radius distal, atau seluruh tubuh. Tujuan dari
pengukuran massa tulang, yaitu: menentukan diagnosis, memprediksi terjadinya patah
tulang, menilai perubahan densitas tulang setelah pengobatan atau senam badan.12
Bagian tulang seperti tulang punggung(vertebralis) dan pinggul (Hip) dikelilingi oleh
jaringan lunak yang tebal seperti jaringan lemak, otot, pembuluh darah, dan organorgan dalam perut.12
Dalam pemeriksaan massa tulang dengan densitometer DEXA kita akan
mendapatkan informasi beberapa hal tentang densitas mineral tulang antara lain:
Densitas mineral tulang pada area tertentu dalam gram/cm2.7

Perbandingan kadar rerata densitas mineral tulang dibandingkan dengan kadar


rerata densitas mineral tulang dengan orang dewasa etnis yang sama, yang disebut
dengan T-Score dalam %.

Perbandingan kadar rerata densitas mineral tulang dibandingkan dengan kadar


rerata densitas mineral tulang orang dengan umur yang sama dan etnis yang sama,
disebut Z-Score dalam %. Ada empat kategori diagnosis massa tulang (densitas
tulang) berdasarkan T-score adalah sebagai berikut:7
1. Normal: nilai densitas atau kandungan mineral tulang tidak lebih dari 1 selisih
pokok di bawah rata-rata orang dewasa, atau kira-kira 10% di bawah rata-rata
orang dewasa atau lebih tinggi (T-score lebih besar atau sama dengan -1 SD).

2. Osteopenia (massa tulang rendah): nilai densitas atau kandungan mineral tulang
lebih dari 1 selisih pokok di bawah rata-rata orang dewasa, tapi tidak lebih dari
2,5 selisih pokok di bawah rata-rata orang dewasa, atau 10 25% di bawah
rata-rata (T-score antara -1 SD sampai -2,5 SD).
3. Osteoporosis: nilai densitas atau kandungan mineral tulang lebih dari 2,5 selisih
pokok di bawah nilai rata- rata orang dewasa, atau 25% di bawah rata-rata atau
kurang (T-score di bawah -2,5 SD).
4. Osteoporosis lanjut: nilai densitas atau kandungan mineral tulang lebih dari 2,5
selisih pokok di bawah rata-rata orang dewasa, atau 25% di bawah rata-rata ini
atau lebih, dan disertai adanya satu atau lebih patah tulang osteoporosis (Tscore di bawah -2,5 SD dengan adanya satu atau lebih patah tulang
osteoporosis).
Pemeriksaan DEXA dianjurkan pada:13
1. Wanita lebih dari 65 tahun dengan faktor risiko.
2. Pascamenopause dan usia <65 tahun dengan minimal 1 faktor risiko
disamping menopause atau dengan fraktur.
3. Wanita pascamenopause yang kurus (Indek Massa Tubuh <19 kg/m2).
4. Ada riwayat keluarga dengan fraktur osteoporosis.
5. Mengkonsumsi obat-obatan yang mempercepat timbulnya osteoporosis.
6. Menopause yang cepat (premature menopause).
7. Amenorrhoea sekunder >1 tahun.
8. Kelainan yang menyebabkan osteoporosis seperti: Anorexia nervosa,
Malabsorpsi, Primary hyperparathyroid, Post-transplantasi, Penyakit ginjal
kronis, Hyperthyroid, Immobilisasi yang lama, Cushing syndrome
9. Berkurangnya tinggi badan, atau tampak kiphosis.

Gambar Perbandingan Matrix pada Tulang Normal dan Osteoporosis

Sumber: Harrisons Internal Medicine 16th edition


Gambaran X-Ray spine pada posisi lateral yang menunjukkan gambaran
osteopenia dengan gambaran kompresi corpus vertebrae bagian anterior
(bentuk wedge)

Sumber: Marcel Dekker, Inc. in Fraktur of Cervical, Thoracic, and


Lumbar Spine
Gambaran osteoporosis pada vertebrae dengan gambaran destruksi pada
satu bidang korpus vertebrae

Shows very thin and osteoporotic bones, fracture rate high

Sumber:Fracture of Cervical, Thoracic and Lumbar spine


Gambaran radiologi wanita 73th dengan osteoporosis berat pada vertebrae
disertai adanya scoliosis

X-rays show a dramatic loss of bone density with a near complete disappearance of
the femoral head. This temporary loss of bone density is why the disease is termed
"transient osteoporosis of the hip."

Sumber : Medscape
Gambaran penurunan densitas tulang vertebrae yang disertai dengan kyphosis
pada bagian dorsal vertebrae

BAB IV
RINGKASAN

Osteoporosis merupakan satu penyakit metabolik tulang yang ditandai oleh


menurunnya massa tulang, oleh karena berkurangnya matriks dan mineral tulang
disertai dengan kerusakan mikro arsitektur dari jaringan tulang, dengan akibat
menurunnya kekuatan tulang, sehingga terjadi kecendrungan tulang mudah patah. Sel
yang bertanggung jawab untuk pembentukan tulang disebut osteoblas (osteoblast),
sedangkan osteoklas (osteoclast) bertanggung jawab untuk penyerapan tulang. Pada
osteoporosis akan terjadi abnormalitas bone turnover, yaitu terjadinya proses
penyerapan tulang (bone resorption) lebih banyak dari pada proses pembentukan
tulang (bone formation). Jadi yang berperan dalam terjadinya osteoporosis secara
langsung adalah jumlah dan aktivitas dari sel osteoklas untuk menyerap tulang, yang
dipengaruhi oleh mediator- mediator, yang mana timbulnya mediator-mediator ini
dipengaruhi oleh kadar estrogen. Terjadinya osteopor- osis secara seluler disebabkan
oleh karena jumlah dan aktivitas sel osteoklas melebihi dari jumlah dan aktivi- tas sel
osteoblas (sel pembentuk tulang). Keadaan ini mengakibatkan penurunan massa
tulang.
Telah dibicarakan patogenesis terjadinya osteoporosis, dengan memunculkan
beberapa teori terkini yang menyebabkan peningkatan deferensiasi dan aktivitas sel
osteoklas yaitu atas pengaruh: defisiensi hormon estrogen, faktor sitokin, dan
pembebanan aksial. Begitu juga telah dibicarakan beberapa macam cara mendiagnosis
adanya risiko dan terjadinya osteoporosis, pengobatan dan penanganan terkini
terhadap osteoporosis sesuai dengan pathogenesisnya.

DAFTAR PUSTAKA
1. Kecenderungan osteoporosis di Indonesia 6 kali lebih tinggi dibandingkan negeri
Belanda. http://www.depkes.go.id/index.php.
2. Pengurus Besar Ikatan Reumatologi Indonesia. Panduan diagnosis dan
pengelolaan osteoporosis. Jakarta: Pengurus Besar Ikatan Rheumatologi
Indonesia; 2004.
3. Anderson J. Nutrition in bone health. In Mahan, Stump, ed. Krauses food
nutrition and diet therapy. 11th ed. Saunders; 2004. p: 642-63.
4. Wildman R, Medeiros D. Osteoporosis and nutrition. In Advanced human
nutrition. CRC Press; 2000.p.469-80.
5. T Denny, Pemeriksaan Osteoporosis dengan BMD DXA. Clinic Corner Rumah
Sakit Santosa, Bandung.
6. Scottish Intercolligiate Guideline Network.Management of osteoporosis, a
national clinical guideline. June 2003
7. Consensus development conference: diagnosis, prophylaxis, and treatment of
osteoporosis. Am J Med 1993;94:646-50.
8. Densitometry as a diagnostic tool for the identification and treatment of
osteoporosis in women:ICSI Report, Jan2000
9. HTA. Penggunaan Bone Densitometry pada Osteoporosis. Indonesia; 2005
10. Agency for Healthcare Research and Quality (AHRQ):
11. Rahman I. Pidato pengukuhan guru besar tetap Ilmu Obstetri dan ginekologi.
Jakarta 5 Juni 2004.
12. Lane, Nancy E. Lebih lengkap tentang osteoporo- sis. Jakarta: Divisi Buku Sport
PT Rajagrafindo Persada; 2001.p.23-35.
13. Kawiyana, I Ketut Siki. Osteoporosis Patogenesis Diagnosis dan Penanganan
Terkini. Bagian Bedah FKUNUD RSUD Sanglah Denpasar

Anda mungkin juga menyukai