Anda di halaman 1dari 11

TUGAS

MATA KULIAH OLEOKIMIA

PEMBUATAN SABUN COLEK DARI RBDPs


(Refined Bleached Deodorized Palm Stearin)

Oleh :
KELOMPOK II

MUHAMMAD QUROZI

110405023

SAPRIN

120405004

WALID AL ARFI

120405051

DEPARTEMEN TEKNIK KIMIA


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2013

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Indonesia merupakan salah satu Negara yang memiliki areal perkebunan kelapa
sawit yang cukup luas. Luas perkebunan kelapa sawit di Indonesia pada tahun 2004
adalah 5 juta hektar dengan produksi 11,08 juta ton per tahun. Indonesia pun
menempati produsen minyak mentah (CPO dan PKO) kedua terbesar di dunia.
Sabun colek adalah salah satu produk yang dapat kita hasilkan dari minyak hasil
turunan dari CPO. Sabun mengandung busa yang dihasilkan dari minyak CPO.
Disini kami membuat sabun colek dari Refined Bleached Deodorized Palm Stearin
(RBDPs). Kebutuhan sabun colek di Indonesia memang tidak diragukan lagi, selain
murah harganya sabun colek juga serba bisa digunakan dalam membersihkan
ssesuatu, seperti membersihkan piring, kaca, alat rumah tangga lainnya bahkan
pakaian dan kendaraanpun bisa dibersihkan sabun colek.
Siapa sangka sabun colek produksi Indonesia menjadi primadona di pasar
Afrika. Bahkan kedua jenis produk tersebut sangat laku keras diperdagangkan di
benua hitam tersebut. Wakil Menteri Perdagangan Bayu Krisnamurthi mengatakan,
Afrika meminati sabun colek dikarenakan lebih murah dan kualitasnya yang lebih
bagus daripada yang lain. "Untuk itu kita akan terus menggarap secara lebih serius di
Afrika," katanya di Jakarta, Jumat (7/9/13). Asal tahu saja, sabun colek di Afrika
tidak hanya dijadikan sabun untuk membersihkan piring dan perabotan pecah belah
lainnya melainkan juga dijadikan sabun untuk mandi. Secara umum, berdasarkan
data dari Kementerian Perdagangan, ekspor non-migas per kuartal pertama 2012 di
kawasan Afrika mencapai US$ 6,1 miliar atau 3,76% dari total ekspor disusul Timur
Tengah 3,1% atau sekitar US$ 4,88 miliar. Pada kuartal pertama 2012, nilai ekspor
total migas dan non-migas Indonesia mencapai Rp 1.081 triliun sekitar 55% dari
produk domestik bruto (Artikel Bisnis, 2013).
1.2 Tujuan
Makalah ini bertujuan untuk memberikan informasi mengenai pembuatan sabun
colek, Informasi tersebut meliputi bahan baku pembuatan , proses produksi, dan
peluang pemasaran.

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Sabun
Sabun adalah garam alkali dari asam lemak dan dihasilkan menurut reaksi asam
basa biasa. Basa alkali yang umum digunakan untuk membuat sabun adalah Kalium
Hidroksida (KOH), Natrium Hidroksida (NaOH), dan Amonium Hidroksida
(NH4OH) sehingga rumus molekul sabun selalu dinyatakan sebagai RCOOK atau
RCOONa atau RCOONH4. Sabun kalium ROOCK disebut juga sabun lunak dan
umumnya digunakan untuk sabun mandi cair, sabun cuci pakaian dan perlengkapan
rumah tangga.

Sedangkan sabun natrium, RCOONa, disebut sabun keras dan

umumnya digunakan sebagai sabun cuci, dalam industri logam dan untuk mengatur
kekerasan sabun kalium. Didalam air, sabun bersifat sedikit basa. Hal ini disebabkan
bagian rantai alkil sabun (RCOO-) mengalami hidrolisis parsial dalam air :
RCOO - + H2O

RCOOH + OH-

Karenanya kulit akan terasa kering jika terlalu lama kontak dengan air yang
mengandung sabun. Untuk mengatasi hal ini biasanya produsen produsen sabun
menambahkan sedikit pelembab (moisturizer) kedalam sabun. Jika didalam air
terdapat ion ion Ca2+ dan Mg2+ baik dalam bentuk bikarbonat atau hidroksida,
bagian alkil dari sabun ini akan di endapkan bersama dengan ion ion logam
tersebut :
2RCOO + Mg2+
2RCOO- + Ca2+

Mg(RCOO)2
Ca(RCOO)2

Akibatnya dibutuhkan relatif lebih banyak sabun sebelum bisa membuat air
menjadi berbuih (petrucci, 1966). Dari segi pengolahan air maka sabun cukup efektif
untuk mengendapkan ion ion penyebab hardness (ion Ca

2+

dan Mg2+) dengan

hanya meningkatkan ion Na+dan K+ Pemakaian sabun terutama berhubungan dengan


sifat surface active agent dari sabun. Sabun bersifat dapat mengurangi tegangan
permukaan yang dibasahi dibandingkan jika tanpa sabun. Selain itu sifat lain yang
cukup penting adalah kemampuan molekul sabun dalam air membentuk emulsi.
Kemampuan ini berhubungan dengan kemampuan molekul sabun dalam mengikat

kotoran yang melekat pada suatu permukaan (membersihkan). Sehingga pemakaian


sabun untuk mengurangi hardness dalam pengolahan air perlu juga mendapat
perhatian.Sebuah molekul sabun dalam air akan terionisasi menjadi ion positif
(disebut bagian kepala berupa ion logam atau NH4) dan ion negatif (disebut bagian
ekor berupa rantai alkil). Bagian ekor bersifat hidrofobik (menjauhi molekul air) dan
bagian kepala bersifat hidrofilik (mendekati molekul air). Bagian ekor ini akan
mencari permukaan tertentu (misalnya kotoran lemak) dan akan bergerombol
mengelilingi permukaan tersebut membentuk misel. Sedangkan bagian kepala akan
tetap kontak dengan molekul air sehinggga dengan demikian mencegah bagian ekor
(yang membentuk misel) dari mengendap dan mencegah terbentuknya misel yang
terlalu besar yang dapat mengendap secara gravitasi. Hasilnya kotoran dan molekul
sabun akan tetap terdispersi dalam air (fessenden, 1963).
Sebelum perang dunia II, sabun diperoleh dengan jalan mereaksikan lemak
dengan kaustik soda didalam ketel ketel besar atau kecil yang dilengkapi dengan
pengaduk dan jaket uap. Proses ini dikenal dengan nama soap boilling operation dan
berlangsung secara batc. Setelah perang dunia II, sabun mulai dikembangkan
pembuatan sabun melalui proses kontinu. Proses ini memiliki beberapa keuntungan
dibandingkan dengan sistem batch. Antara lain pemakaian energi lebih efisien dan
waktu yang diperlukan untuk menghasilkan sabun lebih efisien (Riegel, 1985). Saat
ini, proses pembuatan sabun secara kontinu dilakukan dengan cara safonifikasi
langsung trigliserida, safonifikasi metil ester asam lemak yang dikembangkan oleh
fuji cooperation (jepang) dan netralisasi asam lemak yang dikembangkan oleh
mazzoni LB.

2.2 Saponifikasi
Proses Saponifikasi Trigliserida Proses ini merupakan yang paling tua diantara
proses proses yang ada, karena bahan baku untuk proses ini sangat mudah
diperoleh. Dahulu digunakan lemak hewan dan sekarang telah digunakan pula
minyak nabati. Pada saat ini, telah digunakan proses saponifikasi trigliserida sistem
kontinu sebagai ganti proses saponifikasi trigliserida sistem batch. Reaksi yang
terjadi pada proses ini adalah:

RCO OCH2
RCO OCH+

CH2 OH
+

3 KOH

3RCOOK+ CH OH

RCO OCH2
Trigliserida

CH2 OH
Alkali

Sabun

Gliserol

Tahap pertama dari proses saponifikasi trigliserida ini adalah dipanaskan RBDPs
(trigliserida) dengan suhu 60 0C dengan tekanan 1 atm. Kemudian mereaksikan
RBDPs (trigliserida) dengan basa alkali (NaOH) didalam reaktor berpengaduk untuk
membentuk sabun cair dan gliserol, dengan suhu 70 OC dengan tekanan 1 atm. Lebih
dari 99,5% lemak / minyak berhasil disaponifikasi pada proses ini. Hasil reaksi
kemudian dimasukkan kedalam sebuah separator/decanter gravitasi yang bekerja
dengan prinsip perbedaan densitas untuk memisahkan sabun cair dengan gliserol.
Pada unit ini akan terbentuk dua lapisan, yaitu lapisan sabun pada bagian atas dan
lapisan iye pada bagian bawah. Lye terdiri dari gliserin, sisa alkali, dan air yang
secara keseluruhan membentuk lapisan yang lebih berat dari sabun sehingga berada
pada lapisan bagian bawah di dalam pemisah statis. Dari unit ini kemudian sabun
cair dipompakan ke unit tangki pencampuran untuk pemanambahan Alkyl Benzene
Sulfonate ( ABS), gliserin, pewarna, ekstrak jeruk dan pewangi. Kemudian sabun
cair dipompa ke tangki produk akhir.

2.3 Skema Proses Pembuatan Sabun

BAB III
DESKRIPSI PROSES

Proses saponifikasi ini dapat dibagi menjadi tiga tahap proses, yaitu:
1. Tahap persiapan umpan
2. Tahap reaksi Saponifikasi Trigliserida
3. Tahap Finishing sabun

3.1 Tahap persiapan umpan


Umpan terdiri dari RBDPS (Refined Bleached Deodorized Palm Stearin) dan
NaOH. RBDPS di masukkan ke dalam tangki yang dilengkapi dengan pemanas,
dipanaskan terlebih dahulu menggunakan Steam sampai suhu 90oC sebelum dipompa
ke dalam reaktor untuk. Sedangkan NaOH dilarutkan dalam air proses yang besuhu
30oC sampai konsentrasi masing-masing 50% massa. RBDPS dan campuran larutan
NaOH kemudian dipompakan ke dalam reaktor.

3.2 Tahap reaksi Saponifikasi Trigliserida


RBDPS, dan campuran larutan NaOH dipompakan masuk ke dalam reaktor
(tangki pencampur) yang diberi jaket pemanas untuk dipanaskan sampai suhu 90oC
untuk dihomogenkan dan sekaligus bereaksi membentuk sabun dan air. Lebih dari
99,5% lemak / minyak berhasil disaponifikasi pada proses ini dengan waktu tinggal
1,8 jam dan kondisi operasi 90oC tekanan 1 atm. Hasil reaksi kemudian dipompakan
ke unit pemisah separator yang bekerja denagan prinsip perbedaan densitas. Pada
unit ini akan terbentuk dua lapisan sabun pada bagian atas dan lapisan Impurities
pada bagian bawah.
Impurities terdiri dari gliserol, sisi alkali dan air yang secara keseluruhan
membentuk lapisan yang lebih berat dari sabun sehingga berada pada lapisan bagian
bawah di dalam pemisah.
Proses selanjutnya adalah penambahan aditif , zat aditif yang ditambahkan adlah
gliserin yang berfungsi sebagai pelembut dan pelembab pada kulit, Alkyl Benzene
Sulfonate ( ABS) yang berfungsi sebagai surfaktan pada sabun (pembersih dan
pemutih) yang dapat mengangkat kotoran pada kulit. Pewangi (Essential) serta

pewarna dan ekstrak jeruk nipis yang berfungsi untuk memberikan kesegaran,
keharuman, warna dan kekuatan pada jeruk nipis yang dapat mengangkat minyak
dengan cepat. Zat tambahan ini dicampurkan dalam tangki pencampur yang
dilengkapi oleh jaket pemanas untuk menjaga sabun tetap cair (suhu tetap) dan
campuran homogeny. Jumlah aditif yang ditambahkan sesuai dengan spesifikasi
mutu yang diinginkan.

3.3 Tahap pengeringan dan Finishing Sabun


Pengeringan sabun dilakukan dalam unit vakum spray chamber. Campuran
sabun cair dari tangki pencampur dipompa ke unit flash drum, dimana sabun
mengalami proses Flash pada 1 atm sehingga dihasilkan uap air jenuh bersuhu 100oC
yang terpisah dari sabun dan keluar melalui bagian atas Flash Drum. Kemudian
sabun diangkut dengan bantuan Conveyor dikirim ke unit Finising yang terdiri dari
satuan pembentukan sabun colek. Dari unit ini sabun ditransfer ke unit penyimpanan
dengan bantuan konveyor untuk segera dibungkus dalam kemasan dan ditimbun
dalam gudang penyimpanan sebelum dijual.

SPESIFIKASI PERALATAN
1.

Tangki bahan baku RBDPS

2.

Gudang bahan baku NaOH

3.

Tangki pelarut NaOH

4.

Tangki reaktor

5.

Separator

6.

Tangki bahan baku gliserin

7.

Tangki bahan baku Alkyl Benzene Sulfonate ( ABS)

8.

Tangki pencampur

9.

Flash Drum

10. Tangki bahan pewangi


11. Tangki ekstrak jeruk nipis
12. Bar soap Finishing Machine (BSFM)
13. Gudang produk
14. Pompa RBDPS

15. Pompa NaOH


16. Pompa Gliserin
17. Pompa tangki pencampur
18. Conveyor
Diperkirakan harga alat Rp 8 M dan untuk bangunan, instalasi listrik, kesehatan
keselamatan kerja, lapangan parkir, tempat olah raga, poliklinik, pos keamanan,
kantor, unit pemadam kebakaran, tempat ibadah, perumahan karyawan diperkirakan
Rp 9 M. diperkirakan biaya gaji pegawai (80 orang), petugas kebersihan, sekretaris,
bendahara, karyawan teknik dan semuanya sebesar 5 M per bulan berarti setahun Rp
60 M. perawatan alat-alat dalam setahun sebesar 40 M Karena produksi pabrik
600.000 ton per tahun diperkirakan biaya bahan baku per tahun sebesar Rp 1,4082 T.
total pengeluran dalam setahun adalah Rp 1,5082 T. Sedangakan investasi sebesar
Rp1 T dan kekuranagan sisa untuk kebutuhan bahan dipinjam ke Bank dari produksi
sabun per tahun diperkirakan uang masuk sebesar 600.000 ton dikali Rp4000 per kg
setara Rp2,4 T dan cicilan ke Bank per tahun sebesar 0,2 T dan investor mendapat
uang tetap Rp 0,6918 T per tahun. Karena pabrik sabun colek menghasilkan produk
sebesar 600.000 ton per tahun. Jadi menurut kami pabrik ini layak untuk didirikan.
Bahan

Jumlah

Watu

kebutuhan

pemakaian/hari

harga

Waktu

total

pemakaian/tahun

24 jam
RBDPs

230,982 kg/jam

NaOH

29,600kg/jam

Rp5,000

260 hari

Rp 7.2066 T

Rp10,000

260 hari

Rp 1.847 T

260 hari

Rp 380.6 M

260 hari

Rp 155.4 M

90 hari

Rp 4.4928 T

24 jam
6,083 kg/jam

24 jam

Gliserin

Rp
32,000

166 kg/jam

24 jam

ABS

Rp
150,000

4,166 kg/jam

8 jam

Parfum, Ekstrak
jeruk, pewarna

Rp
150,000

Jumlah
Rp 14.0824 T

KESIMPULAN

Minyak sawit merupakan minyak nabati yang diproduksi terbanyak nomor dua
di dunia. Minyak sawit terdiri dari gliserida campuran yang merupakan ester dari
gliserol dan asam lemak rantai panjang. Sabun colek adalah salah satu produk yang
dapat kita hasilkan dari minyak hasil turunan dari CPO. Sabun mengandung busa
yang dihasilkan dari minyak CPO. Disini kami membuat sabun colek dari Refined
Bleached Deodorized Palm Stearin (RBDPs).
Kebutuhan sabun colek di Indonesia memang tidak diragukan lagi, selain murah
harganya sabun colek juga serba bisa digunakan dalam membersihkan ssesuatu,
seperti membersihkan piring, kaca, alat rumah tangga lainnya bahkan pakaian dan
kendaraanpun bisa dibersihkan sabun colek.
Selain itu di Afrika sabun colek dari Indonesia sangat laris ini terbukti dari
sebuah artikel bisnis yang menyatakan di Afrika sabun colek dari Indonesia sangat
banyak digunakan karena harga murah dan serba bisa digunakan.
Dengan memperkirakan produksi pabrik sekitar 600.000 ton per tahun maka
kami mengasumsikan investor atau pemilik dana dapat meraih keuntungan sebesar
Rp 0,6918 T tiap tahunnya, dan ini dapat disimpulkan pabrik layak untuk didirikan.

DAFTAR PUSTAKA

Allen T.O. dan A.P. Roberts. 1993. Production Operation 2: Well Completions,
Worker, and Simulation. Oil & Gas Consultants International (OGCI), Inc.,
Tulsa, Oklahoma, USA.
Ghazali R. 2002. The Effect of Disalt on The Biodegradability of Methyl Ester
Sulphonates (MES). Journal of Oil Palm Research 14(1):45-50.
Hambali, et.al. 2004. Pemanfaatan Surfaktan Ramah Lingkungan dari Minyak Sawit
sebagai Oil Well Stimulant Agent untuk Meningkatkan Produksi Sumur Minyak
Bumi. Proposal Hibah Kompetisi Pengembangan Masyarakat. Departemen
Teknologi Industri Pertanian IPB. Bogor.
Hapsari M. 2003. Kajian Pengaruh Suhu dan Kecepatan Pengadukan pada Proses
Produksi Surfaktan dari Metil Ester Minyak Inti KElapa Sawit dengan Metode
Sulfonasi. [Skripsi]. Bogor : FATETA IPB.
Hidayat, Sri. 2005. Proses pembuatan MES dari Palm kernel oil Menggunakan
Natrium Bisulfit. Jurnal Teknologi Industri Pertanian, FATETA, IPB.
Hui. 1996. Mechanistic Approach to The Thermal Degradation of -Olefin
Sulfonates. Ethyl Coorporation. Baton Rouge, L.A. USA.