Anda di halaman 1dari 17

RUPTUR LIEN

ANATOMI LIEN
Lien merupakan organ retikuloendotelial terbesar di dalam tubuh. Merupakan
hasil perkembangan dari primitif mesoderm berdiferensiasi dari sisi kiri jaringan
mesogastrium dorsal. Pada minggu kelima kehamilan limpa sudah tampak jelas.
limpa melanjutkan diferensiasi dan migrasi ke kuadran atas kiri, di mana ia secara
perlahan menuju ke permukaan diafragma menghadap posterosuperiorly. Berat limpa
rata-rata berkisar 75-100 gram, biasanya sedikit mengecil dengan meningkatnya umur
sepanjang tidak disertai adanya patologi lainnya.
Letak organ ini di kuadran kiri atas di abdomen, pada permukaan bawah
diafragma, terlindungi oleh kubah iga. Limpa terpancang ditempatnya oleh lipatan
peritoneum yang diperkuat oleh beberapa ligamentum suspensorium yaitu:
1.

Ligamentum splenophrenika diposterior (mudah dipisahKan secara tumpul ).

2.

Ligamnetum gastrosplenika , berisi vasa gastrika brevis

3.

Ligamentum splenokolika terdiri dari bagian lateral omentum majus

4.

Ligamentum splenorenal.

Limpa merupakan organ paling vaskuler. Vaskularisasinya meliputi arteri


lienalis, variasi cabang pankreas dan beberapa cabang dari gaster (vasa Brevis).
Arteri lienalis merupakan cabang terbesar dari trunkus celiakus. Biasanya menjadi

5-6 cabang pada hilus sebelum memasuki lien. Pada 85 % kasus, arteri lienalis
bercabang menjadi 2 yaitu ke pole superior dan inferior sebelum memasuki hilus.
Limpa tambahan mungkin ditemukan pada 30 % kasus. Letak limpa tambahan
ini paling sering di hilus limpa, selebihnya disekitar a.lienalis dan omentum. Limpa
diseliputi oleh simpai yang bercabang ke parenkim limpa dalam bentuk trabekula
yang membungkus pulpa limpa. Pulpa ini terbagi menjadi 3 zona: pulpa putih,
marginal dan merah.

FISIOLOGI LIEN
Pada usia 5-8 bulan limpa berfungsi sebagai tempat pembentukan sel darah
merah dan sel darah putih. Fungsi ini tidak berlanjut dan hilang sama sekali pada usia
dewasa. Selain itu, limpa juga berfungsi menyaring darah artinya sel yang tidak
normal, diantaranya eritrosit, leukosit dan trombosit tua, ditahan dan dirusak oleh

system retikuloendotelianya. Untuk menjalankan faal ini, limpa diedari darah sampai
350 liter sehari sehinggi merupakan alat yang paling kaya pendarahannya.
Limpa adalah organ pertahanan utama ketika tubuh terinvasi oleh bakteri
melalui darah dan tubuh belum atau sedikit memiliki anti bodi. Kemampuan ini
akibat adanya mikrosirkulasi yang unik pada limpa. Sirkulasi ini memungkinkan
aliran yang lambat sehingga limpa punya waktu untuk memfagosit bakteri, sekalipun
opsonisasinya buruk. Antigen partikulat dibersihkan dengan cara yang mirip oleh efek
filter ini Dan antigen ini merangsang respon anti bodi lg M di centrum germinale. Sel
darah merah juga dieliminasi dengan cara yang sama saat melewati limpa.
Secara garis besar fungsi limpa adalah :
-

Pematangan dan perbaikan eritrosit

Pembuangan sel darah yang sudah tua dan yang rusak

Pembuangan

materi

tertentu

dari

darah,

termasuk

bakteri

dan

mikroorganisma lain
-

Produksi limfosit,monosit,dan sel plasma

Pembentukan antibodi dan faktor lain yang digunakan dalam imunologi

Hematopoesis

Penyimpanan darah dan unsur - unsur darah

RUPTUR LIEN
Pecahnya limpa dapat terjadi akibat rudapaksa tajam atau tumpul, sewaktu operasi
dan yang jarang terjadi ruptur spontan.

ETIOLOGI

Pecahnya limpa dapat terjadi akibat :


Rudapaksa
Tajam

Spontan
Penyakit infeksi

Transabdominal

mononukleosus infektiosa

Transtorakal

malaria

Tumpul

Penyakit hemoragik

Langsung

jinak

Tidak langsung

ganas

kecelakaan lalu lintas

jatuh dari ketinggian

Bendungan
hipertensi portal

Iatrogenic
pada tindakan bedah
pungsi

Trauma Tajam
Ruptur limpa jenis ini dapat terjadi akibat luka tembak, tusukan pisau, atau
benda tajam lainnya. Pada luka jenis ini biasanya organ lain ikut terluka, bergantung
pada arah trauma, yang sering dicederai adalah paru, lambung, lebih jarang
pankreas,ginjal kiri, dan pembuluh darah mesenterium.
Trauma Tumpul
Limpa merupakan organ yang paling sering terluka pada trauma tumpul
abdomen atau trauma toraks kiri bagian bawah. Keadaan ini mungkin disertai
kerusakan usus halus, hati, dan pankreas.

Penyebab utamanya adalah cedera langsung atau tidak langsung karena


kecelakaan lalu lintas, terjatuh dari tempat tinggi, pada olahraga luncur dan olahraga
kontak, seperti yudo, karate, dan silat.
Ruptur limpa yang lambat dapat terjadi dalam jangka waktu beberapa hari
sampai beberapa minggu setelah trauma. Pada separuh kasus, masa laten kurang dari
7 hari. Hal ini terjadi karena ada tamponade sementara pada laserasi yang kecil, atau
ada hematom sub-kapsular yang membesar secara lambat dan kemudian pecah.
Trauma Iatrogenik
Ruptur limpa sewaktu operasi dapat terjadi pada operasi abdomen bagian atas,
umpamanya karena alat penarik (retraktor) yang dapat menyebabkan limpa terdorong
atau ditarik terlalu jauh sehingga hilus atau pembuluh darah sekitar hilus terobek.
Cedera iatrogen juga dapat terjadi akibat pungsi limpa (splenoportografi).
Ruptur spontan
Limpa pecah spontan sering dilaporkan pada penyakit yang disertai dengan
pembesaran

limpa,

seperti

gangguan

hematologik

jinak

maupun

ganas,

mononukleosis, malaria kronik, sarkoidosis, dan splenomegali kongestif pada


hipertensi portal.

PATOLOGI
Kelainan patologi dikelompokkan menjadi :
I.

Cedera kapsul

II.

Kerusakan parenkim , fragmentasi, pole bawah hampir lepas

III. Kerusakan hillus dilakukan splenektomi parsial


IV. Avulsi Limpa dilakukan splenektomi total

V. Hematoma subkapsuler
devascularizes spleen

Gambar : Trauma limpa

DIAGNOSIS
Tanda fisik yang ditemukan pada ruptur limpa bergantung pada adanya organ
lain yang ikut cedera, banyak sedikitnya perdarahan, dan adanya kontaminasi rongga
peritoneum. Perdarahan dapat sedemikian hebatnya sehingga mengakibatkan renjatan
(syok) hipovolemik hebat yang fetal. Dapat pula terjadi perdarahan yang berlangsung
sedemikian lambat sehingga sulit diketahui pada pemeriksaan.
Pada setiap kasus trauma limpa harus dilakukan pemeriksaan abdomen secara
berulang-ulang oleh pemeriksa yang sama karena yang lebih penting adalah

mengamati perubahan gejala umum (syok, anemia) dan lokal di perut (cairan bebas,
rangsangan peritoneum).
Pada ruptur yang lambat, biasanya penderita datang dalam keadaan syok,
tanda perdarahan intraabdomen, atau dengan gambaran seperti ada tumor
intraabdomen pada bagian kiri atas yang nyeri tekan disertai tanda anemia sekunder.
Oleh karena itu, menanyakan riwayat trauma yang terjadi sebelumnya sangat penting
dalam menghadapi kasus seperti ini.
Tanda lokal
Penderita umumnya berada dalam berbagai tingkat renjat hipovolemia dengan
atau tanpa (belum) takikardia dan penurunan tekanan darah. Penderita mengeluh
nyeri perut bagian atas, tetapi sepertiga kasus mengeluh nyeri perut kuadran kiri atas
atau punggung kiri. Nyeri di daerah puncak bahu disebut tanda Kehr, terdapat pada
kurang dari separuh kasus. Mungkin nyeri di daerah bahu kiri baru timbul pada posisi
Trendelenberg. Pada pemeriksaan fisik ditemukan massa di kiri atas dan pada perkusi
terdapat bunyi pekak akibat adanya hematom subkapsuler atau omentum yang
membungkus suatu hematoma ekstrakapsuler disebut tanda Ballance. Kadang darah
bebas di perut dapat dibuktikan dengan perkusi pekak geser.
Gambar : Tanda Kehr

Pemeriksaan hematokrit perlu dilakukan berulang-ulang. Selain itu, biasanya


didapat leukositosis. Pada foto abdomen mungkin tampak gambaran patah tulang iga

sebelah kiri, peninggian diafragma kiri, bayangan limpa yang membesar, dan adanya
desakan terhadap lambung ke arah garis tengah.
Pemeriksaan CT-scan, paparan radionukleotida, atau angiografi jarang
berguna pada keadaan darurat. Parasentesis abdomen berguna sekali dan dapat
dilakukan jika gejala klinis ruptur limpa diragukan.

10

PENATALAKSANAAN

11

Splenorafi
Splenorafi adalah operasi yang bertujuan mempertahankan limpa yang
fungsional dengan teknik bedah. Tindakan ini dapat dilakukan pada trauma tumpul
maupun tajam. Tindaka bedah ini, terdiri atas membuang jaringan non vital, mengikat
pembuluh darah yang terbuka, dan menjahit kapsul limpa yang terluka. Jika
penjahitan laserasi saja kurang memadai, dapat ditambahkan dengan pemasangan
kantong khusus dengan atau tanpa penjahitan omentum.
Splenektomi
Macam-macam Splenektomi:
1. Splenektomi total biasa pada kasus trauma limpa atau hipersplenisme
Merupakan pengangkatan seluruh limpa
2. Splenektomi Partial
Merupakan penggangkatan sebagian limpa, bisa terdiri dari eksisi satu segmen
, dilakukan jika ruptur limpa tidak mengenai hilus.
3. Laparoscopic Splenectomy

12

Merupakan penggangkatan limpa dengan insisi kecil, biasanya menggunakan


alat-alat seperti kamera kecil dan video monitor. Hanya meninggalkan
jaringan parut yang kecil
4. Splenic embolization
Merupakan splenektomi alternative yang digunakan pada pasien yang
memiliki resiko operasi yang rendah. Embolization meliputi memblokkan
a.lienalis, dengan menyuntikan polyvinyl alcohol foam, polystyrene, dan
silicon ke dalam a. lienalis.. Embolization merupakan teknik yang
membutuhkan pembelajaran yang lama. Setiap splenektomi diikuti dengan
transplantasi jaringan limpa
Mengingat fungsi filtrasi limpa, indikasi splenektomi harus dipertimbangkan
benar. Selain itu, splenektomi merupakan suatu operasi yang tidak boleh dianggap
ringan. Eksposisi limpa sering tidak mudah karena splenomegali biasanya dlsertai
dengan perlekatan pada dlafragma. Pengikatan a.lienalis sebagai tindakan pertama
sewaktu operasi sangat berguna. Pembuluh ini ditemukan dengan menelusuri bursa
omentalis pada pinggir kranial pankreas. Bila limpa besar, sering dianjurkan
pendekatan laparo-torakotomi yang sekaligus menyayat diafragma sehingga daerah
eksposisi menjadi luas.
Splenektomi dilakukan jika terdapat kerusakan limpa yang tidak dapat diatasi
dengan splenorafi, splenektomi parsial, atau pembungkusan. Splenektomi parsial
yang bisa terdiri atas eksisi satu segmen dilakukan jika ruptur limpa tidak mengenai
hllus dan bagian yang tidak cedera masih vital.
Splenektomi total juga dilakukan secara elektif pada penyakit yang menuntut
pengangkatan limpa, misalnya pada hipersplenisme atau kelainan hematologik
tertentu. Splenektomi total harus selalu diikuti dengan re-implantasi limpa yang
merupakan suatu autotransplantasi. Caranya ialah dengan membungkus pecahan
parenkim limpa dengan omentum dan meletakkannya di bekas tempat limpa atau

13

menanamnya di pinggang di belakang peritoneum dengan harapan limpa dapat


tumbuh dan berfungsi kembali.
Indikasi mutlak splenektomi total:
-

Tumor primer
Kelainan hematologik dengan hipersplenisme jelas yang tak dapat diatasi

dengan pengobatan lain (anemia hemolitik kongenital)


Indikasi Relatif splenektomi total:
-

Kelainan hematologik tanpa hipersplenisme jelas, tetapi splenektomy dapat


memulihkan kelainan hematologik

Ruptur limpa

Hipersplenisme pada sirosis hati dengan varises esofagus

Splenomegali yang mengganggu karena besarnya limpa


Gambar splenoraphy dan splenektomi

14

KOMPLIKASI PASCA SPLENEKTOMI


Komplikasi pascasplenektomi terdiri atas atelektsis lobus bawah paru kiri
karena gerak diafragma sebelah kiri pada pernafasan kurang bebas. Trombositosis
pasca bedah yang mencapai puncak sekitar hari kesepuluh tidak menyebabkan
kecendrungan ke trombosis karena trombosit yang bersangkutan merupakan
trombosit tua. Sepsis pascasplenektomi ( OPSS,Overwhelming Post Splenectomy
Sepsis ) yang berat dan mungkin fatal mengancam penderita seumur hidup. Sepsis ini
pertama ditemukan pada anak, tetapi kemudian ditemukan pada keadaan
hiposlenisme atau asplenisme. Sepsis biasanya disebabkan oleh pneumokokus,
kadang H.Influenzae atau meningokokus. Penderita dianjurkan vaksinasi dengan
pneumovaks 23 ( campuran vaksin berbagai pneumokokus ) dan pemberian amoksilin
profilaksis setiap kali ada infeksi yang menyebabkan demam diatas 38,50C.

PERAWATAN PASCA SPLENEKTOMI


Banyak pasien yang tidak mengalami komplikasi post splenektomi. Pada
umumnya jumlah trombosit meningkat sangat tajam sampai 2 juta per mm3 dan tidak
diperlukan terapi khusus selain hidrasi yang cukup. Jika diperlukan dapat diberikan
obat pencegah agregasi platelet seperti asam salisilat, dipridamol, dekstran atau jika
pasien resiko tinggi dipakai heparin (trunkey, 1990; Schwartz, 1997). Penulis lain
mengatakan bahwa jika jumlah trombosit lebih dari 1 juta mm 3 sebaiknya diberikan
aspirin dosis rendah atau heparin (Danne, 1999; Irving, 1996). Pasien yang
mengalami efusi dan kolapsnya lobus bawah paru kiri biasanya memberikan respon
yang baik dengan fisioterapi.
Peningkatan insidensi sepsis umumnya disebabkan oleh H influenza,
pnemokokkus, meningikokkus, Stapilokokkus dan h.influenza pada anak perlu
diberikan antibiotika propilaksis melawan. H.influenza sampai dewasa (Schwartz,
1997). Amoksilin 250 mg perhari atau penoksimetilpenisilin 250 mg 2 kali sehari

15

dapat diberikan, walaupun belum ada kesepakatan apakah obat ini akan diberikan
selama hidup atau 5 tahun saja. Waktu pemberian vaksinasi masih kontroversi.
Beberapa penulis merekomendasikan anatara 3 sampai 4 minggu pasca operasi. Dan
setelah 5 tahun dilakukan vaksinasi ulang pnemovax (Boone and Peitzman, 1998).

16

DAFTAR PUSTAKA
1.

Komite ATLS. Advanced Trauma Life Support Student Manual. United States
of America: American College of Surgeons.1997. p.166-76.

2.

Brunicardi F Charles, etc. Schwartzs Manual Of Surgery ebook. Edisi 8. US


America 2006. P 879-895

2.

Sjamsuhidajat R, Wim De jong. Buku Ajar Ilmu Bedah edisi Revisi. Jakarta:
EGC. 1997. p.822-29.

3.

www.healthatoz/healthatoaz/atoz/splenectomy.com

4.

www.lymphoma/splenectomy.com

5.

www.emedicine/splenicruptur.com

6.

www.google/ image/splenic ruptur.com

17