Anda di halaman 1dari 57

KLASIFIKASI PENGGUNAAN LAHAN CITRA SATELIT LANDSAT 8 DENGAN

MEMBANDINGKAN KENAMPAKAN ASLI DI SEKITAR MALANG DAN KOTA


BATU

LAPORAN PENELITIAN LAPANGAN


UNTUK MEMENUHI TUGAS MATA KULIAH
Penginderaan Jauh
Yang dibina oleh Bapak Purwanto

Oleh
Fransiska Devi
120721435392
Off L

UNIVERSITAS NEGERI MALANG


FAKULTAS ILMU SOSIAL
JURUSAN GEOGRAFI
Desember 2014

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Geografi adalah ilmu yang mempelajari tentang lokasi serta persamaan dan
perbedaan (variasi) keruangan atas fenomena fisik dan manusia di atas permukaan
bumi . Kata geografi berasal dari bahasa yunani yaitu go (Bumi) dan graphein
(menulis, atau menjelaskan). Untuk itu di dalam mempelajari geografi ilmu yang
perlu kita pahami dengan baik yaitu ilmu yang berhubungan dalam mengkaji peta,
agar mempermudah kita melakukan pengamatan di lapangan dan dapat
membandingkan keadaan pada peta dengan keadaan yang sebenarnya. Salah satu ilmu
yang mengkaji tentang peta adalah penginderaan jauh, yang nantinya kita akan
membandingkan keadaan pada peta citra landsat dengan keadaan sebenarnya di
lapangan.
Permasalahan yang sedang terjadi saat ini yaitu perubahan penggunaan lahan
yang setiap tahunnya terjadi secara meningkat. Banyak hutan-hutan yang ditebang
untuk dijadikan lahan perkebunan ataupun untuk pemukiman warga, disini jelas sekali
dampak yang akan terjadi menyebabkan global warming (pemanasan global). Dari
permasalahan pemanasan global ini maka akibat yang ditimbulkan akan merusak alam
dan merugikan manusia.
Kita bisa mengetahui perubahan tata guna lahan tanpa harus langsung ke
lapangan, karena bisa diidentifikasi dengan menggunakan teknologi penginderaan
jauh melalui citra satelit. Dalam interpretasi citra pengenalan objek merupakan bagian
yang sangat penting. Prinsip pengenalan objek pada citra didasarkan pada

penyelidikan karakteristik pada citra. Karakteristik yang tergambar pada citra dan
digunakan untuk mengenali objek disebut unsure interpretasi citra.
Teknologi penginderaan jauh merupakan teknologi yang dapat mengikuti
perkembangan kebutuhan masyarakat. Kemampuan penyediaan data dan informasi
kebumian yang bersifat dinamik bermanfaat dalam pembangunan di era Otonomi
Daerah. Data dan informasi mutakhir sangat diperlukan. Ketersediaan data dan
informasi yang diimbangi dengan pengolahan data menjadi informasi wilayah dapat
dilakukan dengan data penginderaan jauh dan sistem informasi geografis (SIG).
Data penginderaan jauh dan SIG (sistem informasi geografis) digunakan untuk
pengkajian wilayah secara menyeluruh yang erat hubungannya dengan sumberdaya
air. Keterbatasan-keterbatasan data permukaan yang memerlukan suatu pengkaitan
obyek dengan mudah, cepat dan akurat dapat dianalisis dengan menggunakan data
penginderaan jauh. SIG memiliki kemampuan yang sangat baik dalam
memvisualisasikan data spasial berikut atribut-atributnya.

B. Tujuan
Tujuan dari penelitian ini adalah

Mahasiswa mampu mengklasifikasikan penggunaan lahan Wilayah Malang


dan Kota Batu dengan aplikasi envi 4.5

Mahasiswa mampu melakukan koreksi radiometrik dengan aplikasi envi 4.5

Mahasiswa mampu melakukan ploting area sebagai sampel penelitian

Mahasiswa mampu mengintepretasi penggunaan lahan hasil klasifikasi dengan


membandingkan kenampakan asli di wilayah Malang dan Kota Batu

Mahasiswa mampu melakukan re-inteprestasi penggunaan lahan dengan


kenampakan asli di wilayah Malang dan Kota Batu

C. Ruang Lingkup
Ruang lingkup dalam penelitian ini yaitu dilakukan di daerah wilayah Malang dan
Kota Batu yaitu membandingan peta hasil klasifikasi penggunaan lahan dengan
kondisi di lapangan.

BAB II
KAJIAN TEORI

A. Penginderaan Jauh
Penginderaan Jauh adalah ilmu atau seni cara merekam suatu objek tanpa
kontak fisik dengan menggunakan alat pada pesawat terbang, balon udara, satelit, dan
lain-lain. Dalam hal ini yang direkam adalah permukaan bumi untuk berbagai
kepentingan manusia. Sedangkan arti dari citra adalah hasil gambar dari proses
perekaman Penginderaan Jauh (inderaja) yang umumnya berupa foto.
Menurut Lillesand and kiefer (dalam Purwanto, 2012) Penginderaan Jauh adalah
ilmu dans eni untuk memperoleh informasi tentang objek, daerah atau gejala dengan
jalan menganalisis data yang didapat dengan menggunakan alat tanpa kontak
langsung terhadap objek, daerah atau gejala yang dikaji. Sedangkan menurut Lindgren
(dalam Purwanto, 2012) mengemukakan bahwa Penginderaan Jauh merupakan variasi
teknik yang dikembangkan untuk memperoleh dan analisis informasi tentang bumi,
infrormasi tersebut berbentuk radiasi elektromagnetik yang dipantulkan dan
dipancarkan dari permukaan bumi. Jadi, Penginderaan Jauh merupakan ilmu dan seni
untuk mengindera/menganalisis permukaan bumi dari jarak jauh, dimana perekaman
di udara atau diangkasa dengan menggunakan alat (sensor) dan wahana.
Di dalam sistem Penginderaan Jauh terdapat empat komponen dasar yaitu
sumber energi, alur trasmisi, dan sensor. Komponen tersebut bekerja bersama untuk
mengukur dan mencatat informasi mengenai target tanpa menyentuh objek tersebut.
Sumber energi yang menyinari atau memancarkan energi elektromagnetik pada target
mutlak diperlukan. Energi berinteraksi dengan target dan sekaligus berfungsi sebagai
media untuk meneruskan informasi dari target kepada sensor. Sensor adalah sebuah

alat yang mengumpulkan dan mencatat radiasi elektromagnetik. Setelah dicatat, data
akan dikirimkan ke stasiun penerima dan diproses menjadi format yang siap pakai,
diantaranya berupa citra. Citra ini kemudian diinterpretasi untuk menyarikan
informasi mengenai target. Proses interpretasi biasanya berupa gabungan antara visual
dan automatic dengan bantuan computer dan perangkat lunak pengolah citra.

Gambar 1 Komponen Dasar

B. Teknologi Penginderaan Jauh


Teknologi Penginderaan Jauh mulai berkembang seiring dengan perkembangan
teknologi sensor serta teknologi dirgantara dan antariksa. Diawali dari kamera hingga
pemanfaatan energi gelombang elektromagnetik pada detektor sensor yang dapat
menghasilkan informasi nilai pantulan dan pancaran objek yang menghasilkan suatu
gambaran secara spasial (citra), serta dimulai dari layangan, balon udara, hingga
satelit buatan. Kemampuan merekam informasi objek ini kemudian dikembangkan
menjadi suatu informasi yang spesifik melalui kegiatan interprestasi dan pengolahan
citra dengan berbagai teknik dan metode yang menghasilkan informasi turunan dari
citra Penginderaan Jauh dalam berbagai klasifikasi data.
Salah satu pemanfaatan data Penginderaan Jauh adalah untuk kegiatan pemetaan
baik untuk pemetaan dasar maupun kegiatan pemetaan tematik. Salah satu yang

paling banyak dimanfaatkan adalah pemetaan penggunaan lahan karena merupakan


informasi interaksi manusia dan lingkungannya. Pada umumnya citra langsung
memberikan gambaran penutupan lahan dari objek yang direkamnya yang kemudian
diinterprestasikan menjadi peta penggunaan lahan. Ada banyak contoh-contoh lain
pemanfaatan data Penginderaan Jauh untuk berbagai informasi tematik lainnya seperti
geomorfologi, geologi, dan sebagainya.
Selain itu, perkembangan teknologi Penginderaan Jauh juga diperkaya dengan
berbagai jenis citra yang dihasilkan dari berbagai macam teknologi sensor dan metode
perekaman agar diperoleh tingkat akurasi dalam identifikasi dan kemampuan
pengukuran (metrik) dengan memanfaatkan kelebihan kelebihan pada unsur sistem
Penginderaan Jauh itu sendiri, seperti kemampuan pengemabnagan resolusi sensor,
spasial, spktral, dan temporal serta berbagai sistem dan metode perekaman.
Hasil yang diperoleh dengan pengembangan tersebut diperolehnya citra-citra
dengans pesifikasi yang beragam dalam berbagai tingkat ketelitian skala dan
kemampuan identifikasi objek. Adapun data perkembangan teknologi Penginderaan
Jauh beberapa tahun terakhir sebagai berikut:
Tabel 1. Data perkembangan citra satelit Penginderaan Jauh beberapa tahun terakhir
Multispektral
Satelit

Pakromatik

Supernode

Jumlah

Resolusi

Resolusi spasial

Resolusi Spasial

saluran

spasial (m)

(m)

(m)

IKONOS

0.83

Quickbird

2.44

0.61

OrbView 3

SPIN-2
SPOT-5
EROS

5
4

10

2.5

IRS-P5*

2.5

IKONOS-2*

0.5

ADEOS*

Sumber: Nugroho, 2014

C. Citra Satelit Landsat


Satelit Landsat merupakan salah satu satelit sumber daya bumi yang
dikembangkan oleh NASA dan Departemen Dalam Negeri Amerika Serikat.
Teknologi Penginderaan Jauh satelit dipelopori oleh NASA Amerika Serikat dengan
diluncurkannya satelit sumberdaya alam yang pertama, yang disebut ERTS-1 (Earth
Resources Technology Satellite) pada tanggal 23 Juli 1972, menyusul ERTS-2 pada
tahun 1975, satelit ini membawa sensor RBV (Retore Beam Vidcin) dan MSS (Multi
Spectral Scanner) yang mempunyai resolusi spasial 80 x 80 m. Satelit ERTS-1,
ERTS-2 yang kemudian diluncurkan setelah berganti nama menjadi Landsat 1,
Landsat 2, diteruskan dengan seri-seri berikutnya, yaitu Landsat 3, 4, 5, 6 dan terakhir
adalah Landsat 7 yang diorbitkan bulan Maret 1998, merupakan bentuk baru dari
Landsat 6 yang gagal mengorbit. Landsat 5, diluncurkan pada 1 Maret 1984, sekarang
ini masih beroperasi pada orbit polar, membawa sensor TM (Thematic Mapper), yang
mempunyai resolusi spasial 30 x 30 m pada band 1, 2, 3, 4, 5 dan 7.
Sensor TM (Thematic Mapper) mengamati obyek-obyek di permukaan bumi
dalam 7 band spektral, yaitu band 1, 2 dan 3 adalah sinar tampak (visible), band 4, 5
dan 7 adalah infra merah dekat, infra merah menengah, dan band 6 adalah infra merah
termal yang mempunyai resolusi spasial 120 x 120 m. Luas liputan satuan citra adalah
175 x 185 km pada permukaan bumi. Landsat 5 mempunyai kemampuan untuk
meliput daerah yang sama pada permukaan bumi pada setiap 16 hari, pada ketinggian
orbit 705 km.

Landsat dimulai tahun 1972 dengan satelit Landsat-1 yang membawa sensor
MSS multispektral. Setelah tahun 1982, Thematic Mapper ditempatkan pada sensor
MSS. MSS dan TM merupakan whiskbroom scanners. Pada April 1999 Landsat-7
diluncurkan dengan membawa ETM+scanner. Saat ini, hanya Landsat-5 dan 7 sedang
beroperasi.
Satelit generasi pertama memiliki dua jenis sensor, yaitu penyiam multi spektral
(MSS) dengan empat saluran dan tiga kamera RBV (Return Beam Vidicon). Satelit
generasi kedua adalah satelit yang membawa dua jenis sensor yaitu sensor MSS dan
sensor TM (Thematic Mapper). Perubahan tinggi orbit menjadi 705 km dari
permukaan bumi berakibat pada peningkatan resolusi spasial menjadi 30 x30 meter
untuk TM1 - TM5 dan TM7 , TM 6 menjadi 120 x 120 meter. Resolusi temporal
menjadi 16 hari dan perubahan data dari 6 bits (64 tingkatan warna) menjadi 8 bits
(256 tingkatan warna). Kelebihan sensor TM adalah menggunakan tujuh saluran,
enam saluran terutama dititikberatkan untuk studi vegetasi dan satu saluran untuk
studi geologi. Terakhir kalinya akhir era 2000- an NASA menambahkan penajaman
sensor band pankromatik yang ditingkatkan resolusi spasialnya menjadi 15m x 15m
sehingga dengan kombinasi didapatkan citra komposit dengan resolusi 15m x 15 m.
Landsat 8 atau Landsat Data Continuity Mission (LDCM) merupakan satelit
generasi terbaru dari program landsat. Satelit ini merupakan project gabungan antara
USGS dan NASA beserta NASA Goddard Space Flight Center dan diluncurkan pada
hari Senin, 11 Februari 2013 di Pangkalan Angkatan Udara Vandeberg, California
Amerika Serikat.
Satelit Landsat 8 yang direncanakan mempunyai durasi misi selama 5 10
tahun ini, dilengkapi dua sensor yang merupakan hasil pengembangan dari sensor
yang terdapat pada satelit-satelit pada Program Landsat sebelumnya. Kedua sensor

tersebut yaitu Sensor Operational Land Manager (OLI) yang terdiri dari 9 band serta
Sensor Thermal InfraRed Sensors (TIRS) yang terdiri dari 2 band.
Untuk Sensor OLI yang dibuat oleh Ball Aerospace, terdapat 2 band yang baru
terdapat pada satelit Program Landsat yaitu Deep Blue Coastal/Aerosol Band (0.433
0.453 mikrometer) untuk deteksi wilayah pesisir serta Shortwave-InfraRed Cirrus
Band (1.360 1.390 mikrometer) untuk deteksi awan cirrus. Sedangkan sisa 7 band
lainnya merupakan band yang sebelumnya juga telah terdapat pada sensor satelit
Landsat generasi sebelumnya. Dan untuk lebih detailnya, berikut ini daftar 9 band
yang terdapat pada Sensor OLI :
Tabel 2. Daftar 9 Band Sensor OLI
Band Spektral

Panjang Gelombang

Resolusi Spasial

Band 1 Aerosol

0.433 0.453 mikrometer 30 meter

Band 2 Blue

0.450 0.515 mikrometer 30 meter

Band 3 Green

0.525 0.600 mikrometer 30 meter

Band 4 Red

0.630 0.680 mikrometer 30 meter

Band 5 Near IR

0.845 0.885 mikrometer 30 meter

Band 6 Short Wavelength IR 1.560 1.660 mikrometer 30 meter


Band 7 - Short Wavelength IR 2.100 2.300 mikrometer 30 meter
Band 8 - Pachromatic

0.500 0.680 mikrometer 15 meter

Band 9 Cirrus

1.360 1.390 mikrometer 30 meter

Sedangkan untuk Sensor TIRS yang dibuat oleh NASA Goddard Space Flight
Center, akan terdapat dua band pada region thermal yang mempunyai resolusi spasial
100 meter.
Tabel 3. 2 band sensor TIRS
Band Spektral

Panjang Gelombang

Resolusi Spasial

Band 10 Long Wavelength IR

10.30 11.30 mikrometer

100 meter

Band 11 Long Wavelength IR

11.50 12.50 mikrometer

100 meter

Tabel 4. Saluran citra landsat TM


Band

Panjang

Resolusi Spasial

Gelombang

(meter)

0,45 0,52

30 x 30

Keterangan
Penetrasi tubuh air, analisis penggunaan lahan, tanah, dan
vegetasi. Pembedaan vegetasi dan lahan.
Pengamatan puncak pantulan vegetasi pada saluran hijau
yang terletak diantara dua saluran penyerapan. Pengamatan

0,52 0,60

30 x 30

ini dimaksudkan untuk membedakan jenis vegetasi dan


untuk membedakan tanaman sehat terhadap tanaman yang
tidak sehat
Saluran terpenting untuk membedakan jenis vegetasi.

0,63 0,69

30 x 30

Saluran ini terletak pada salah satu daerah penyerapan


klorofil
Saluran yang peka terhadap biomasa vegetasi. Juga untuk

0,76 0,90

30 x 30

identifikasi jenis tanaman. Memudahkan pembedaan tanah


dan tanaman serta lahan dan air.

1,55 1,75

30 x 30

2,08 2,35

30 x 30

10,40
12,50
Pankromatik

Saluran penting untuk pembedaan jenis tanaman, kandungan


air pada tanaman, kondisi kelembapan tanah.
Untuk membedakan formasi batuan dan untuk pemetaan
hidrotermal.
Klasifikasi vegetasi, analisis gangguan vegetasi. Pembedaan

30 x 30

kelembapan tanah, dan keperluan lain yang berhubungan


dengan gejala termal.

30 x 30

Studi kota, penajaman batas linier, analisis tata ruang

Sistem sensor dalam citra satelit landsat membawa instrumen instrumen dalam
tugasnya mencitrakan bumi. Instrmen instrumen tersebut yaitu:
1. Return Beam Vidicon (RBV).
Instrumen ini pada dasarnya merupakan sistem sensor mirip kamera televisi
yang merekam gambar permukaan bumi di sepanjang lintasan satelit. Sistem Return

Beam Vidicon (RBV) adalah instrumen semacam televisi yang mengambil citra
snapshot dari permukaan bumi di sepanjang track lapangan satelit yang berukuran
185 km x 185 km pada setiap interval waktu tertentu. Pada Landsat-1 dan 2,
multispektral RBV mempunyai resolusi 80 m, sementara pada Landsat-3, RBV
menggunakan band Pankromatik dan resolusi 40 m.
Sistem RBV ini menggunakan tiga kamera televisi, dengan kepekaan spektral
masing-masing kamera sama dengan satu lapis film inframerah berwarna dengan
komposisi sebagai berikut :
Saluran 1 peka terhadap gelombang hijau (0,475 0,575 m)
Saluran 2 peka terhadap gelombang merah (0,580 0,680 m)
Saluran 3 peka terhadap gelombang inframerah (0,690 0,890 m)
Kamera pada RBV tidak memiliki film, dan sebagai gantinya dipasang alat
penutup (shutter) dan disimpan pada permukaan yang peka terhadap sinar didalam
setiap kamera. Permukaan tersebut kemudian disiami (scanning) dalam bentuk data
raster oleh suatu sinar elektron internal guna menghasilkan suatu sinyal video (sama
dengan televisi biasa). RBV pada Landsat-1 hanya menghasilkan 1.690 citra yang
direkam antara 23 Juli 5 Agustus 1972 (Lillesand dan Kiefer, 1979). Sistem ini
kemudian tidak dapat digunakan setelah terjadi kerusakan pada tombol pita
perekamannya.
2. Multi Spectral Scanner (MSS).
Sistem sensor ini berupa sistem scanner yang secara bersamaan dapat merekam
bagian permukaan bumi yang sama (scene) dengan menggunakan beberapa domain
panjang gelombang yang berbeda. MSS merupakan sensor utama yang dipergunakan
pada Landsat-1 ~ 5. Pada Landsat-3 ada penambahan saluran termal (seluruhnya
menjadi 5 saluran, sebelumnya berjumlah 4 saluran). MSS merupakan suatu alat

scanning mekanik yang merekam data dengan cara menyiami (scanning) permukaan
bumi dalam jalur-jalur (baris). Sensor MSS ini menyiami 6 baris secara simultan
(six-line scan). Oleh karena lebar setiap baris adalah 79 m, maka 6 baris setara
dengan 474 m.
Untuk satu scene ada sekitar 360 six-line scans yang meliputi areal seluas 185
km x 185 km. Dalam satu baris, terdapat overlap sekitar 23 meter (10%) antar
pixelnya, sehingga pixel yang berukuran 79 m x 79 m (pixel aktual) disampel kembali
dengan jarak titik pusat pixel 56 m
Saluran MSS memiliki tujuh saluran, namun yang digunakan hanya saluran 4
(0,5 0,6 m) sampai dengan saluran 7 (0,8 1,1 m). Saluran 1 ~ 3 digunakan oleh
sensor RBV. Panjang gelombang yang digunakan pada setiap saluran Landsat MSS
adalah :
Saluran 4 gelombang hijau (0, 5 0,6 m)
Saluran 5 gelombang merah (0,6 0,7 m)
Saluran 6 gelombang inframerah dekat (0,7 0,8 m)
Saluran 7 gelombang inframerah dekat (0,8 1,1 m)
Perekaman MSS dirancang untuk penginderaan energi dalam medan pandang
total 100o dan bidang pandang sesaat atau IFOV (Instantaneous Field of View) 2,5
miliradian, sedangkan medan pandang total dari objek yang disiam sekitar 11,560,
sudut ini sangat kecil bila dibandingkan dengan wahana udara yang besarnya 90 01200. Sistem scanning biasanya berbentuk bujur sangkar dan menghasilkan resolusi
spasial atau resolusi medan sekitar 79 meter. IFOV atau bidang pandang yang
semakin kecil bertujuan untuk mengotimalkan resolusi spasialnya, sedangkan saluran
panjang gelombang sempit untuk mengoptimalkan resolusi spektralnya. Detektor
yang digunakan sangat peka untuk mengeluarkan sinyal yang jauh lebih kuat dari

tingkat gangguan (noise) pada sistemnya. Proses penyiaman menggunakan cermin


ulang alik (bukan cermin berputar) berjumlah 6 detektor sehingga total untuk empat
saluran menjadi 24 detektor. Cermin ulang alik tersebut menyiami sekali dalam 33
milidetik, dan satu gerakan cermin dapat menyiam enam garis yang berdekatan secara
serentak karena pada setiap saluran menggunakan 6 detektor.
Sinyal yang bersifat analog (nilai pantulan) dari setiap detektor diubah kedalam
bentuk digital dengan bantuan sistem pengubah sinyal di satelit. Skala digital yang
digunakan pada pengubahan ini sebesar 6 bit (0-63). Data tersebut pada pemrosesan
di stasiun bumi diskalakan dengan nilai digital 0-127 untuk saluran 4, 5 dan 6,
sedangkan untuk saluran 7 dengan nilai digital 0-63.

Sistem pengubah sinyal

berfungsi untuk mengambil sinyal keluaran dari detektor dengan kecepatan 100.000
kali per detik. Kecepatan perubahan ini tidak sama dengan kecepatan perekamannya,
sehingga menghasilkan jarak nominal di lapangan 56 meter. Perbedaan waktu ini
menyebabkan nilai pantulan citra tidak berbentuk bujur sangkar tetapi berbentuk
empat persegi panjang dengan ukuran 56 x 76 meter. Dengan demikian maka jumlah
pixel sepanjang garis penyiaman MSS berjumlah 3.240 pixels, sedangkan yang
searah dengan orbit sebanyak 2.340 pixels. Jadi, kurang lebih sekitar 7.581.600 pixel
pada setiap saluran. Dengan demikian maka untuk empat saluran menghasilkan
30.326.400 nilai pantulan.

Selanjutnya nilai kecerahan dari setiap pixel yang

diperoleh berasal dari sel resolusi berukuran penuh 79 x 79 meter dan bukan dari
ukuran resolusi 56 x 79 meter. Bentuk pixek berukuran 56 x 79 meter disebut sebagai
pixel nominal sedangkan 79 x 79 meter disebutkan sebagai pixel aktual.
3. Thematic Mapper (TM).
Instrumen ini adalah sistem sensor berupa crosstrack scanner. Sensor TM
(Thematic Mapper) merupakan sensor yang dipasang pada satelit Landsat-4 dan

Landsat-5. Sistem sensor TM pertama dioperasikan pada tanggal 16 Juli 1982 dan
yang kedua pada tanggal 1 Maret 1984. Lebar sapuan (scanning) dari sistem Landsat
TM sebesar 185 km, yang direkam pada tujuh saluran panjang gelombang dengan
rincian;

3 saluran panjang gelombang tampak, 3 saluran panjang gelombang

inframerah dekat, dan 1 saluran panjang gelombang termal (panas).

Sensor TM

memiliki kemampuan untuk menghasilkan citra multispektral dengan resolusi


spasial, spektral dan radiometrik yang lebih tinggi daripada sensor MSS.
Tabel 4. Nama dan Panjang Gelombang pada Landsat TM
Saluran

Nama Gelombang

Panjang Gelombang (m)

Biru

0,45 0,52

Hijau

0,52 0,60

Merah

0,63 0,69

Inframerah Dekat

0,76 0,90

Inframerah Tengah

1,55 1,75

Inframerah Termal

10,40 12,50

Inframerah Tengah

2,08 2,35

Tabel 2. Karakteristik Saluran pada Landsat TM


Saluran

Panjang

Resolusi Spasial

Gelombang(m)

(meter)

Aplikasi
Penetrasi tubuh air, analisis penggunaan lahan,

0,45 0,52

30 x 30

tanah, dan vegetasi. Pembedaan vegetasi dan


lahan.
Pengamatan puncak pantulan vegetasi pada
saluran hijau yang terletak di antara dua saluran

0,52 0,60

30 x 30

penyerapan. Pengamatan ini dimaksudkan


untuk membedakan tanaman sehat terhadap
tanaman yang tidak sehat.
Saluran terpenting untuk membedakan jenis

0,63 0,69

30 x 30

vegetasi. Saluran ini terletak pada salah satu


daerah penyerapan klorofil dan memudahkan

pembedaan antara lahan terbuka terhadap lahan


bervegetasi.
Saluran yang peka terhadap biomasa
4

0,76 0,90

30 x 30

vegetasi. Juga untuk identifikasi jenis tanaman,


memudahkan pembedaan tanah dan tanaman
serta lahan dan air.
Saluran penting untuk pembedaan jenis

1,55 1,75

30 x 30

tanaman, kandungan air pada tanaman, kondisi


kelembaban tanah.

2,08 2,35

120 x 120

Untuk membedakan formasi batuan dan untuk


pemetaan hidrotermal.
Klasifikasi vegetasi, analisis gangguan vegetasi,

10,40 12,50

30 x 30

pembedaan kelembaban tanah, dan keperluan


lain yang berhubungan deengan gejala termal.

Sumber : Lillesand dan Kiefer (1979) dalam Sutanto (1994).


Perekaman sensor TM dirancang untuk menyiam energi dengan medan pandang
total 100o dan bidang pandang total atau IFOV dari objek yang disiam sekitar 15,4 o
(7,7o dari nadir). Sistem penyiangan berupa bujur sangkar dan menghasilkan sel
resolusi medan berukuran 30 meter.
Detektor yang digunakan pada TM sangat peka untuk menghasilkan sinyal yang
jauh lebih kuat dari tingkat gangguan (noise) pada sistemnya. Kalau pada penyiaman
pada MSS menggunakan enam detektor pada setiap salurannya sehingga total empat
saluran terdiri dari 24 detektor dan menggunakan cermin ulang alik (bukan cermin
berputar), maka sensor TM menggunakan cermin berputar (oscillating mirror) setiap
saluran non-termal menggunakan 16 detektor, jadi empat saluran (saluran 1 hingga 4
total 100 detektor).

Detektor saluran 5 dan 7 (gelombang inframerah tengah)

menggunakan detektor indium antiminide (InSb), sedangkan saluran 6 (gelombang


inframerah

termal)

menggunakan

detektor

mercury

cadmium

telluride

(HgCdTe). Disamping itu Landsat TM dapat diterima melalui satelit komunikasi


TDRS (Tracking and Data Relay Satellites).

4. Enhanced Thematic Mapper (ETM).


ETM atau ETM+ pada Landsat 7 adalah sistem sensor yang merupakan
perbaikan dari sistem TM dengan tambahan band pankromatik yang beresolusi 15 m
x 15 m untuk mendapatkan resolusi spasial yang lebih tinggi.
Citra landsat memliki beberapa kelebihan diantaranya sebagai berikut:

Dapat merekam wilayah dipermukaan bumi dengan lebih luas/cakupannya


lebih besar

Pada setiap topografi yang ada dipermukaan bumi dibedakan dengan warna

Setiap kejadian yang ada dipermukaan bumi dibedakan dengan panjang


gelombang yang ada di citra landsat

Namun, citra landsat juga memeliki beberapa kelemahan sebagai berikut:


Apabila citra landsat/daerah yang akan dianalisis tertutup maka citra tersebut
sulit untuk dianalisis
Peliputan landsat pada musim kering sulit untuk membedakan

D. Klasifikasi Citra
Klasifikasi citra dilakukan dengan tujuan untuk mengelompokan nilai spektral
citra yang homogen sesuai dengan variasi fenomena kenampakan sumberdaya alam
yang kita perlukan. Pengelompokan tersebut sesuai dengan kebutuhan analisa.

Gambar 2 Penggelompokan kelas atau tema berdasarkan kenampakan yang ada.

Berdasarkan metode yang digunakan, secara umum klasifikasi citra terbagi


menjadi 2, yaitu:

Klasifikasi supervised (terawasi)


Penggunaan istilah terawasi mempunyai arti berdasarkan suatu referensi
penunjang dimana koategori objek objek yang terkandung pada citra telah dpat
diindetifikasi. Klasifikasi ini memasukkan setiap pixel citra tersebut kedalam
suatu kategori objek yang sudah diketahui. Sebelum klasifikasi dilakukan, kita
harus memasukkan inputan sebagai dasar pengklasifikasian yang akan
dilakukan.
Dengan klasifikasi ini, kita lebih bebas untuk memilah data citra sesuai
dengan kebutuhan. Misalnya dalam suatu kawasan kita hanya akan melakukan
klasifikasi terbatas pada jenis-jenis kenampakan secara umum semisal jalan,
permukiman, sawah, hutan, dan perairan, hal tersebut dapat kita lakukan
dengan klasifikasi ini. Proses input sampel juga cukup mudah, hanya saja
perlu ketelitian dan pengalaman agar sampel yang kita ambil dapat mewakili
jenis klasifikasi. Baik buruknya sampel, diwujudkan dalam nilai indeks
keterpisahan.
Menurut Projo Danoedoro (dalam Sabrianora, 2012) menjelaskan bahwa
klasifikasi supervised melibatkan interaksi analis secara intensif, dimana
analis menuntun proses klasifikasi dengan identifikasi objek pada citra
(training area). Sehingga pengambilan sampel perlu dilakukan dengan
mempertimbangkan pola spektral pada setiap panjang gelombang tertentu,
agar diperoleh daerah acuan yang baik untuk mewakili suatu objek tertentu.

Klasifikasi Unsupervised (tidak terawasi)

Proses klasifikasi disebut tidak terawasi, bila dalam prosesnya tidak


menggunakan suatu referensi penunjang apapun. Hal ini berarti bahwa proses
tersebut hanya dilakukan berdasarkan perbedaan tingkat keabuan setiap pixel
pada citra. Klasifikasi citra terawasi mencari kelompok-kelompok (cluster)
pixel-pexel, kemudian menandai setiap pixel ke dalam sebuah kelas
berdasarkan parameter parameter pengelompokan awal yang didefinisikan
oleh penggunanya.
Kelebihan dari klasifikasi tidak terawasi diantaranya yaitu tidak
membutuhkan pengetahuan awal yang detail mengenai daerah pengamatan,
kemungkinan terjadi human eror dapat dikurangi, dan kelas yang unik
diidentifikasi secara tersendiri.

Proses Klasifikasi citra secara digital (gambar menggunakan informasi


spektral yang diwakili dalam nilai digital dari 1 atau beberapa channel/band dan
mencoba untuk membuat klasifikasi tiap pixel secara individu berdasarkan pada
informasi spektral. Klasifikasi tipe ini dikenal sebagai pengenalan pola spektral.
Dalam kasus lain, sasarannya adalah menetapkan seluruh pixel dalam citra menjadi
beberapa kelas atau tema ( sebagai contoh : sungai, hutan, perkebunan, persawahan,
dsb). Hasil dari klasifikasi ini terdiri dari mosaik pixel, yang mana masuk dalam
bagian tema dan merupakan peta tematik dari citra asli.
Ketika kita berbicara tentang kelas maupun tema, kita perlu membedakan
antara kelas berdasarkan informasi dengan kelas berdasarkan spektral. Kelas
berdasarkan informasi adalah mengkategorikan informasi dengan tujuan untuk
membedakan obyek, sebagai contoh membedakan tipe hutan atau tanaman,
membedakan batuan berdasarkan unit geologi, membedakan berbagai macam kebun.

Kelas berdasarkan spektral adalah mengelompokan pixel berdasarkan nilai


spektral yang seragam yang berkenaan dengan nilai kecerahannya pada spektral
channel yang berbeda. Tujuannya adalah mencocokkan kelas berdasarkan data
spektral ke dalam kelas berdasarkan informasi dalam kepentingan tertentu. Hal
tersebut agak sulit dilakukan, karena adanya variasi nilai spectral. Pada umumnya,
untuk mengatasinya, kita membuat sub kelas. Dan selanjutnya kita dapat
menentukan kelas sesuai dengan tujuan analisis.

E. Kajian Penggunaan Lahan


Lahan merupakan persatuan sejumlah komponen yang berpotensi sumberdaya.
Potensi lahan ditentukan oleh potensi sumberdaya masing-masing yang menjadi
komponennya, baik potensi bawaan maupun potensi yang berkembang dari nasabah
saling tindak (interactive relationship) dan nasabah kompensatif (compensatory
relationship) antar sumberdaya.
Lahan bermatra (dimension) ruang karena merupakan bentangan muka bumi
dan ciri-cirinya mengubah (vary) dari tapak (site) ke tapak. Lahan juga bermatra
waktu karena ciri-cirinya mengubah menuruti proses interaktif dan kompensatif antar
komponen-komponennya dank arena sifat mendaur pengenal beberapa komponennya.
Maka lahan dapat disebut suatu system ruang.
Lahan sebagai suatu sistem mempunyai komponen- komponen yang
terorganisir secara spesifik dan perilakunya menuju kepada sasaran-sasaran tertentu.
Komponen-komponen lahan ini dapat dipandang sebagai sumberdaya dalam hubungannya dengan aktivitas manusia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya.
Penggunaan lahan (land use) adalah modifikasi yang dilakukan oleh manusia
terhadap lingkungan hidup menjadi lingkungan terbangun seperti lapangan, pertanian,

dan permukiman. Penggunaan lahan didefinisikan sebagai jumlah dari pengaturan,


aktivitas, dan input yang dilakukan manusia pada tanah tertentu (FAO, 1997a;
FAO/UNEP, 1999). Penggunaan lahan memiliki efek samping yang buruk seperti
pembabatan hutan, erosi, degradasi tanah, pembentukan gurun, dan meningkatnya
kadar garam pada tanah.
F. Klasifikasi Penggunaan Lahan
Penutupan lahan berkaitan dengan jesis kenampakan yang ada di permukaan
bumi, sedangkan penggunaan lahan berkaitan dengan kegiatan manusia pada obyek
tersebut. Townshend dan Justice pada tahun 1981 juga punya pendapat mengenai
penutupan lahan, yaitu penutupan lahan adalah perwujudan secara fisik (visual) dari
vegetasi, benda alam, dan unsur-unsur budaya yang ada di permukaan bumi tanpa
memperhatikan kegiatan manusia terhadap obyek tersebut. Sedangkan Barret dan
Curtis, tahun 1982, mengatakan bahwa permukaan bumi sebagian terdiri dari
kenampakan alamiah (penutupan lahan) seperti vegetasi, salju, dan lain sebagainya.
Dan sebagian lagi berupa kenampakan hasil aktivitas manusia (penggunaan lahan)
Dari kutipan tersebut di atas tersirat bahwa Penggunaan Lahan adalah
bagaimana suatu lahan tersebut dikelaskan berdasarkan aktifitas manusia, sedangkan
Penutupan Lahan adalah properti alamiah dari lahan tersebut. Berikut beberapa poin
mengenai penggunaan lahan dan penutupan lahan:
a. Penutupan Lahan bisa berbeda dengan Penggunaan Lahan. Suatu lahan tanpa
vegetasi dengan kondisi tanah terkupas tanpa vegetasi ataupun tumbuhan
bawah akan diklasifikan sebagai tanah terbuka (baresoil) dalam penutupan
lahan, tetapi dalam Penggunaan Lahan bisa jadi lahan tersebut masuk ke dalam
kelas perkebunan karena memang adalah lahan yang sedang disiapkan untuk
penanaman.

b. Penutupan Lahan bisa sama dengan Penggunaan Lahan. Banyak kelas-kelas


dalam Penutupan Lahan sama dengan penggunaan lahan sepanjang penutupan
dan penggunaannya sejalan. Misalkan suatu lahan perkebunan karet (yg
sedang ditumbuhi pohon2 karet) bisa dikelaskan ke dalam Penutupan Lahan
Perkebunan dan Penggunaan Lahan (juga) (Per)kebun(an)
c. Klasifikasi Penutupan Lahan bisa saja menggunakan informasi jarak jauh
dengan nilai spektral dan kunci-kunci interpretasi lainnya, tetapi klasifikasi
penggunaan lahan harus menyertakan informasi/pengalaman dari si interpreter
terhadap areal yang sedang ditelaah. Kembali ke Kasus nomor 1 di atas, jika si
interpreter hanya mengandalkan kunci-kunci interpretasi dalam klasifikasi
penggunan lahan, maka akan dihasilkan kelas tanah terbuka yang padahal jika
yang bersangkutan memiliki informasi/pengalaman terhadap areal tersebut
akan memasukannya sebagai kelas perkebunan.
d. Penutupan dan Penggunaan Lahan sama-sama penting dalam bentang lahan.
Penutupan Lahan bisa dianggap sebagai kondisi saat ini, sedangkan
penggunaan lahan berkaitan kondisi yang lebih panjang. Penekanan di sini
adalah bahwa benar analisa lahan (hidrologi, lanskap, dll) harus menggunakan
penutupan lahan daripada penggunaan lahan. Tetapi penutupan lahan itu
sendiri akan dipengaruhi oleh penggunaan lahan. Contohnya, suatu lahan
berhutan jika berada dalam penggunaan lahan pertambangan akan tidak tepat
dianalisa menggunakan penutupan lahan jika rentang studi cukup lebar karena
penggunaan lahannya yakni pertambangan akan mengubah penutupan lahan
berhutan tersebut dalam kisaran waktu analisa.
e. Penutupan dan penggunaan lahan terkadang sering disatukan menjadi
Peenggunaan dan Penutupan Lahan (Landuse-Landcover). Dengan

memperhatikan banyaknya kesamaan kelas (Point 2) maka banyak referensi


yang menyatukan keduanya dalam satu kata majemuk.
G. Peta Penggunaan Lahan
Peta land use atau peta penggunaan lahan merupakan peta yang memberikan
informasi mengenai objek-objek yang tampak di permukaan bumi (Campbel, 1987).
Ketepatan informasi tutupan lahan akan memberikan kemudahan dalam melakukan
analisa perencanaan dan pengembangan suatu wilayah. Pembuatan peta penggunaan
lahan dapat memanfaatkan teknologi penginderaan jauh, misalnya dengan
menganalisis citra satelit. Dalam melakukan analisa tersebut, diperlukan perangkat
lunak pengolah citra.
Proses pengolahan citra satelit menggunakan software dapat dilakukan dengan
import data, penggabungan band (red, green dan blue), konversi data, rektifikasi
(koreksi geometrik), digitasi, klasifikasi dan pembuatan layout sederhana.
Klasifikasi penggunaan lahan merupakan upaya pengelompokkan berbagai jenis
penggunaan lahan ke dalam satu kesamaan sesuai dengan sistem tertentu. Hasil dari
klasifikasi dapat digunakan untuk pedoman atau acuan dalam proses interpretasi
citra penginderaan jauh untuk pembuatan peta penggunaan lahan.

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

A. Lokasi dan waktu penelitian


Penelitian ini dilaksanakan pada hari minggu tanggal 23 november 2014 pukul
07.00 di sekitar wilayah Malang dan Kota Batu. Tahap pra pengolaahn citra
dilaksanakan pada hari jumat dan sabut tanggal 21 dan 22 november 2014 yang
bertempat di belakang A3 (RR). Tahap cek lapangan dilaksanakan pada hari minggu
tanggal 23 november 2014 yang berlokasi di sekitar wilayah Malang dan Kota Batu.
Tahap pengolahan citra, analisis dan penyusunan laporan dilaksanakan pada tanggal
27 november 7 desember 2014.

B. Diagram Alir

Citra Landsat 8

Pemotongan Citra (Wilayah Malang


dan Kota Batu)

Koreksi Radiometrik

Interprestasi

Peta Penggunaan Lahan (Tentatif)

Penentuan Titik Sampel

Cek Lapangan

Re Interprestasi

Peta Penggunaan Lahan

Berikut penjelasan dari diagram alir sebagai berikut:


a) Citra landsat 8
Data yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan citra satelit landsat 8.
b) Pemotongan citra
Untuk menspesifikkan cakupan area dilakukan pemotongan (croping) citra.
Pemotongan citra dilakukan pada cakupan area wilayah Malang dan Kota Batu
dengan skala 1:100.000. setelah pemotongan citra selesai kemudian dilakukan
komposit citra 432 untuk mempermudah klasifikasi.
c) Koreksi radiometrik

Koreksi radiometrik digunakan untuk memperbaiki kualitas visual citra sekaligus


memperbiki nilai-nilai pixel yang tidak sesuai dengan nilai pantulan atau pancaran
spektral objek yang sebenarnya. Koreksi radiometrik dilakukan dengan bantuan
aplikasi envi 4.5 dengan metode penyesuaian histogram.
d) Interprestasi
Setelah tahap pemotongan citra, komposit dan koreksi radiometrik sudah dilakukan.
Tahap selanjutnya yaitu interprestasi penggunaan lahan yang kemudian
diklasifikasikan berdasarkan penggunaan lahan yang nampak pada citra landsat 8
wilayah Malang dan Kota Batu dengan metode supervised clascification dengan
bantuan aplikasi envi 4.5
e) Peta penggunaan lahan (tentatif)
setelah tahap inteprestasi dan klasifikasi selesai, kemudian dilakukan lay out peta
dengan bantuan aplikasi arcGIS. Sehingga memudahkan dalam membandingkan
dengan kenampakan asli ketika cek lapangan.
f) Penentuan titik sampel
Penentuan titik sampel dilakukan dengan menggunakan bantuan aplikasi arcGIS.
Penentuan titik sampel dalam penelitian ini dengan mengambil 10 titik sampel yang
mewakili objek penggunaan lahan.
g) Cek lapangan
Setelah tahap penentuan titik sampel selesai. Kemudian dilakukan cek lapangan
berdasarkan 10 titik sampel yang sudah ditentukan sebelumnya. Cek lapangan
dilakukan untuk membandingkan hasil klasifikasi penggunaan lahan dengan
kenampakan asli di lapangan apakah sudah sesuai atau tidak.
h) Re interprestasi

Tidak semua objek hasil klasifikasi penggunaan lahan sesuai dengan kenampakan asli
dilpangan. Oleh karenanya diperlukan re interprestasi ulang agar hasil klasifikasi
penggunaan lahan sesuai dengan kenampakan asli dilapangan.
i) Peta penggunaan lahan
Tahap terakhir yaitu hasil produk dari re interprestasi yang berupa peta penggunaan
lahan. Yang nantinya dapat bermanfaat bagi para peneliti selanjutnya terkait dengan
penggunaan lahan pada wilayah Malang dan Kota Batu meskipun masih banyak
kekurangan dalam mengklasifikasi.

C. Alat dan Bahan


Adapun alat dan bahan yang dibutuhkan adalah:
1. Alat

Laptop

Software aplikasi Envi 4.5

Software aplikasi Arc GIS

GPS

Kamera digital

Alat tulis

2. Bahan

Citra satelit landsat 8

Pedoman klasifikasi penggunaan lahan menurut peta RBI (Bakortunal)

D. Metode

Metode yang digunakan dalam mengklasifikasi penggunaan lahan di sekitar


Malang dan Kota Batu menggunakan metode klasifikasi supervised atau klasifikasi
terawasi.

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian
1. Hasil sebelum cek lapangan
Hasil ploting area sebelum cek lapangan dengan 10 titik sampel di wilayah
Malang dan Kota Batu didapatkan hasil sebagai berikut:
No

Koordinat

Penggunaan

Lahan

678561

9124741

Sawah kering

678257

9126005

Sawah basah

674827

9127274

Perkebunan

674009

9127605

Sawah basah

665992

9131248

Vegetasi

667047

9131729

perkebunan

669956

9132944

perkebunan

667239

9133168

vegetasi

667239

9134029

vegetasi

10

665062

9134587

vegetasi

2. Hasil sesudah cek lapangan dengan 7 titik sampel dan hasil Re interprestasi
Hasil sesudah cek lapangan dengan 7 titik sampel, dimana dari hasil 10 titik
sampel sebelumnya tidak ada satupun koordinat yang sesuai. Berikut tabel hasil
cek lapangan sebagai berikut:

No

Titik
Sampel

Koordinat

01

S= 0679569
E= 9122613

Elevansi

Lokasi

Hasil
interprestasi
sebelum cek
lapangan

Asosiasi

501 mdpl

Daerah
Sudimoro

Sawah lahan
Basah

Permukiman

Permukiman

permukiman

Kenampakan
di lapangan

Hasil re
interprestasi

Sawah irigasi

Sawah irigasi

- sungai
- permukiman
- jalan

Sawah irigasi

- persawahan
- jalan

02

S= 0678653
E= 9123281

523 mdpl

Perum
Permata
Jingga

03

S= 669058
E= 9122530

980 mdpl

Kebun jeruk,
selorejo

Lahan kering

Perkebunan

Perkebunan

04

S= 668834
E= 9122277

1011 mdpl

bedengan

Hutan lahan
kering (hutan
pinus)

Hutan lahan
kering (hutan
pinus)

05

S= 668596
E= 9133457

1022 mdpl

permukiman

permukiman

06

S= 669033
E= 9144089

1607 mdpl

Hutan lahan
basah (hutan
heterogen)

Hutan lahan
basah

07

S= 668239
E= 9139478

1510 mdpl

perkebunan

perkebunan

Mushola
kecil, bumiaji
Hutan
heterogen,
cangar
Kebun apel,
bumiaji

Hasil zoom
titik ploting

permukiman

- jalan
- pemukiman
- perkebunan
- vegetasi
- pemukiman
- jalan
- jalan
- vegetasi

perkebunan
Hutan lahan
kering (hutan
pinus)
permukiman

- jalan

Hutan lahan
basah
Perkebunan

3. Hasil zoom out per titik sampel sesudah Re interprestasi


No
1

Zoom Out

Titik Ploting Area


Daerah Sudimoro
Penggunaan lahan berupa sawah irigasi
Berada pada koordinat S = 0679569 dan E = 9122613
Elevansi 501 Mdpl

Perumahan Permata Jingga


Penggunaan lahan berupa pemukiman
Berada pada koordinat S = 0678653 dan E = 9123281
Elevansi 523 Mdpl

Perkebunan Jeruk, Selorejo


Penggunaan lahan berupa Perkebunan
Berada pada koordinat S = 669058 dan E = 9122530
Elevansi 980 Mdpl

Bedengan, Kec. Dau


Penggunaan lahan berupa hutan pinus
Berada pada koordinat S = 668834 dan E = 9122277
Elevansi 1011 Mdpl

Mushola kecil, Bumiaji


Penggunaan lahan berupa pemukiman
Berada pada koordinat S = 668596 dan E = 9144089
Elevansi 1022 Mdpl

Hutan Lindung, Cangar


Penggunaan lahan berupa hutan Heterogen
Berada pada koordinat S = 669033 dan E = 9144089
Elevansi 1607 Mdpl

Pekebunan apel, Bumiaji


Penggunaan lahan berupa Perkebunan
Berada pada koordinat S = 668239 dan E = 9139478
Elevansi 1510 Mdpl

B. Pembahasan
Pada penelitian ini, sebelum melakukan klasifikasi penggunaan lahan di wilayah
Malang dan Kota Batu dengan menggunakan citra satelit landsat 8 terlebih dulu
dilakukan pemotongan citra satelit untuk mendapatkan cakupan area sesuai yang kita
butuhkan. Pemotongan citra satelit yaitu pada cakupan area Malang dan Kota Batu
dengan skala 1:100.000 yang kemudian dilakukan proses composit 432. Tahap
berikutnya melakukan klasifikasi penggunaan lahan dengan sampel objek penggunaan
lahan antara lain permukiman, sawah basah, sawah kering, vegetasi dan perkebunan
dengan mengunakan bantuan aplikasi envi 4.5.
Setelah proses klasifikasi selesai, kemudian melakukan ploting area untuk
pengambilan sampel tiap objek pengunaan lahan. Untuk memploting area dilakukan
dengan bantuan aplikasi arcGIS dengan koordinat yang mewakili tiap objek
penggunaan lahan. Sehingga didapat 10 titik sampel yang mewakili objek vegetasi,
permukiman, sawah basah, sawah kering dan perkebunan. Setelah proses klasifikasi

dan plotingan area selesai, maka dilakukan cek laangan untuk membandingkan hasil
klasifikasi enggunaan lahan dengan kondisi dilapangan (kenampakan asli).
Pada saat menuju titik pertama untuk cek lapangan, Yang mana seharusnya tittik
pertama merupakan sawah kering dengan koordinat x = 678561 dan y = 9124741.
Namun, saat di lapangan titik tersebut tidak sesuai dengan GPS sehingga kita
menambahkan titik plotingan baru yaitu titik koordinat S = 679569 dan E = 9122613
yang penggunaan lahannya berupa sawah basah. Begitupula dengan titik titik
plotingan area selanjutnya yang sudah tidak sesuai bahkan navigator sempat error.
Sehingga dalam cek lapangan ini, menambahkan 7 titik sampel lagi yang mewakili
tiap objek penggunaan lahan antara lain:

Daerah Sudimoro dengan penggunaan lahan berupa sawah basah

Perum Permata Jingga dengan penggunaan lahan berupa pemukiman

Kebun Jeruk, Selorejo, Kec. Dau dengan penggunaan lahan berupa


perkebunan

Hutan Pinus, Bedengan, dengan penggunaan lahan berupa hutan pinus


yang merupakan daerah transisi perkebunan dan hutan.

Mushola kecil, Bumiaji dengan penggunaan lahan berupa pemukiman

Hutan lindung, Cangar dengan penggunaan lahan berupa hutan heterogen


karena didominasi oleh aneka ragam jenis vegetasi dan perpohonan yang
memiliki kanopi sehingga jika dilihat dari citra satelit, maka nilai pantulan
spektralnya rendah sehingga berwarna lebih gelap.

Alasan mengapa ploting area tidak sesui dengan koordinat aslinya disebabkan
karena human error yang kurang teliti saat melakukan ploting area. Ditambah pada
saat ploting area, acuan yang digunakan hanya dari peta adminitratif wilayah Malang
dan Kota Batu. Dimana kita kurang mengetahui hasil potongan citra dengan peta

adminitratif sesuai apa tidak. Sehingga antara ploting area sebelum cek lapangan
dengan cek lapangan berbeda jauh bahkan sampai vnavigator error. Untuk itu,
dibutuhkan pengalaman-pengalaman seperti ini sebagai pelajaran agar kedepannya
lebih baik dan dapat meminimalisir human error.
Selain itu, dalam klasifikasi penggunaan lahan masih tergolong umum dan
kurang spesifik. Seperti untuk objek penggunaan lahan vegetasi bisa digolongkan
menjadi semak belukar, rumput, dsb. begitu juga dengan objek hutan yang dapat
digolongkan menjadi hutan lahan basah, hutan lahan kering, hutan rawa, dsb. Oleh
karenanya diperlukan adanya re interprestasi terkait dengan penggunaan lahan sesuai
dengan kondisi di lapangan pada waktu cek lapangan serta dalam klasifikasi
penggunaan lahan didasarkan pada klasifikasi penggunaan lahan menurut peta RBI
agar klasifikasi lebih spesifik dan tidak tergolong umum.
Berikut penjelasan dari tiap titik sampel yang sudah dilakukan cek lapangan dan
setelah dilakukan re interprestasi.

Titik sampel 1 yaitu di daerah Sudimoro yang berada pada koordinat S =


0679569 dan E = 9122613 dengan elevansi 501 Mdpl. Dalam klasifikasi
penggunaan lahan sebelumnya, penggunaan lahan di daerah tersebut adalah
sawah basah, meskipun tidak sesuai dengan koordinat awal pada ploting area.
Pada waktu cek lapangan, di daerah tersebut termasuk sawah basah karena
berasosiasi dengan sungai yang berada di pinggiran sawah. Namun, sebagian
besar lahan di sekitar daerah sudimoro sudah dialihfungsikan menjadi area
perumahan. Setelah dilakukan re-interprestasi dengan dasar pengklasifikasian
penggunaan lahan menurut peta RBI diketahui daerah sudimoro penggunaan
lahannya termasuk sawah irigasi karena berasosiasi dengan sungai. Begitupula
pada saat Zoom out pada titik sampel kordinat yang menunjukkan bahwa titik

tersebut berada pada warna hijau yang berarti penggunaan lahan di daerah
sudimoro temasuk sawah irigasi. Jadi dapat disimpulkan bahwa hasil re
interprestasi sesuia dengan kondisi di lapangan.

Titik kedua yaitu di Perumahan Permata Jingga yang berada pada koordinat S
= 0678653 dan E = 9123281 dengan elevansi 523 Mdpl. Menurut klasifikasi
penggunaan lahan sebelumnya, daerah tersebut termasuk lahan kering dengan
koordinat aslinya X = 678561 dan X = 9124741. Namun setelah dicek
lapangan ternyata koordinat tersebut berada di sebelah Perumahan Permata
Jingga yang dibatasi tembok. Sehingga kami memklasifikasi penggunaan
lahan yang berada di Perumahan Permata Jingga adalah permukiman sesuai
dengan kondisi di lapangan. Kemudian setelah dilakukan re-inteprestasi
diketahui bahwa penggunaan lahan di Perumahan Permata Jingga adalah
permukiman. Begitupula pada saat Zoom out pada titik sampel kordinat
dimana titik tersebut berada pada warna merah yang berarti penggunaan lahan
di Perumahan Permata Jingga temasuk pemukiman. Jadi dapat disimpulkan
bahwa hasil re interprestasi sesuai dengan kondisi di lapangan yaitu
pemukiman.

Titik ketiga yaitu permukiman yang berada di dekat perkebunan jeruk


selorejo, kecamatan dau, kabupaten Malang yang berada pada koordinat S =
669058 dan E = 9122530 dengan elevansi 980 Mdpl. Dari hasil klasifikasi
penggunaan lahan sebelumnya daerah tersebut termasuk lahan kering, namun
setelah di cek lapangan ternyata daerah tersebut berupa perkebunan. Alasan
mengapa pada saat klasifikasi penggunaan lahan sebelum cek lapangan
termasuk lahan kering karena berhubungan dengan nilai pantulan spektral
yang dipantulkan oleh atap rumah-rumah warga yang berwarna coklat atau

gelap serta teras rumah yang luas. Selain itu, suhu dan ketinggian tempat juga
memperngaruhi. Di samping itu, pada saat menuju lokasi ke tiga ini, terjadi
kesalahan pada navigator yang error sehingga kami mencari titik sampel lain
sebagai tambahan yang sesuai atau mewakili klasifikasi penggunaan lahan.
Setelah dilakukan re inteprestasi, klasifikasi penggunaan lahan pada titik
ketiga ini termasuk perkebunan. Pada saat zoom out titik sampel, ternyata titik
sampel berada pada warna biru tua yang menunjukkan bahwa penggunaan
lahan pada perkebunan selorejo termasuk perkebunan. Sehingga dapat
disimpulkan bahwa hasil re interprestasi penggunaan lahan sesuai dengan
kenampakan di lapangan yaitu perkebunan.

Titik keempat yaitu di Bedengan, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang yang


berada pada S = 668834 dan E = 9122277 dengan elevansi 1011 Mdpl. titik
keempat ini merupakan area perbatasan antara perkebunan dan semak belukar.
Selain itu juga berada pada area transisi antara hutan dan perkebunan. Namun,
dalam klasifikasi penggunaan lahan hanya diklasifikasi vegetasi saja tanpa
dispesifikkan pada hutan homogen, hutan campuran, semak belukar, atau
sebagainya. Sehingga harus dilakukan re interprestasi ulang.
Pada titik keempat ini, diklasifikasikan penggunaan lahan berupa vegetasi dan
setelah cek lapangan penggunaan lahan pada titik tersebut berupa hutan lahan
kering (hutan pinus). Begitupula pada saat Zoom out pada titik sampel
kordinat yang menunjukkan bahwa titik tersebut berada pada warna ungu yang
berarti penggunaan lahan di Bedengan Kecamatan Dau temasuk hutan pinus.
Jadi dapat disimpulkan bahwa hasil re interprestasi sesuia dengan kondisi di
lapangan yaitu hutan lahan kering berdasarkan klasifikasi penggunaan lahan

menurut peta RBI. karena di lihat dari citra pantulan spektral lebih tinggi
sehingga berwarna cerah. Selain itu, hutan pinus memiliki lapisan lilin.

Titik kelima yaitu berada di Bumiaji yang mana titik koordinat tepat berada di
mushola kecil sebuah permukiman. Koordinat titik kelima tersebut yaitu S =
668596 dan E = 9133457 dengan elevansi 1022 Mdpl. Pada titik ini,
klasifikasi penggunaan lahan sebelum cek lapangan termasuk permukiman.
Dan setelah cek lapangan ternyata hasil klasifikasi tersebut sesuai. Begitupula
pada waktu re interprestasi diklasifikasikan sebagai permukiman. Ketika
dilakukan zoom pada titik ploting area, ternyata titik ploting area pada titik
kelima berada pada warna merah yang berarti permukiman. Jadi dapat
disimpulkan bahwa untuk titik kelima klasifikasi penggunaan lahan baik
sebelum dan sesudah cek lapangan serta zoom pada titik ploting area sesuai
dengan kondisi dilapangan yaitu berupa permukiman.

Titik keenam yaitu di kawasan hutan lindung yang berada di Cangar, Kota
Batu. Titik keenam ini berada pada koordinat S = 669033 dan E = 9144089
dengan elevansi 1607 Mdpl. Titik ini merupakan titik tambahan yang
mewakili klasifikasi penggunaan lahan berupa hutan untuk membandingkan
dengan titik sebelumnya yang berupa hutan homogen (hutan pinus) yang
sekaligus merupakan area transisi dari perkebunan dan hutan. Klasifikasi
penggunaan lahan saat cek lapangan berupa hutan heterogen dengan berbagai
jenis perpohonan/vegetasi yang beraneka ragam dan memiliki kanopi. Titik
keenam ini, sebelumnya berada di luar jangkauan peta penggunaan lahan,
sehingga untuk memasukkan ploting area titik keenam tersebut harus
memotong citra ulang lagi dan melakukan re interprestasi. Setelah dilakukan
re interprestasi, ternyata titik keenam klasifikasi penggunaan lahan berupa

hutan lahan basah dan ketika di zoom pada titik ploting area dimana titik
ploting berada pada warna biru muda yang artinya hutan lahan basah. Ini
membuktikan bahwa titik keenam klasifikasi penggunaan lahan sesuai dengan
kondisi dilapangan yaitu hutan lahan basah yang didominasi oleh perpohonan
yang beraneka ragam, lebat, dan memiliki kanopi.
Titik ketujuh yaitu area perkebunan apel yang berada di daerah Bumiaji, Kota
Batu. Titik ini berada pada koordinat S = 668239 dan E = 9139478 dengan
elevansi 1510 Mdpl. Titik ketujuh ini merupakan titik tambahan untuk
membandingkan dengan area perkebunan pada titik sebelumnya yaitu titik 3.
Setelah dilakukan re interprestasi, titik tujuh termasuk perkebunan. Pada saat
zoom out titik sampel, ternyata titik sampel berada pada warna biru tua yang
menunjukkan bahwa penggunaan lahan pada perkebunan apel, Bumiaji
termasuk perkebunan. Sehingga dapat disimpulkan bahwa hasil re interprestasi
penggunaan lahan sesuai dengan kenampakan di lapangan yaitu perkebunan.

Dari hasil pembahasan di atas, dapat diketahui bahwa sebagian besar


penggunaan lahan di wilayah Malang setelah cek lapangan dan melakukan re
Interprestasi berupa pemukiman. Sedangkan untuk Kota Batu sendiri lebih pada
penggunaan lahan berupa perkebunan dan hutan baik basah maupun kering yang
berada di lereng gunung. Dari hasil penelitian lapangan ini, memberikan gambaran
serta pengalaman dalam menginterprestasi penggunaan lahan yang kemudian
dibandingkan dengan kenampakan aslinya. Meskipun dari awal cek lapangan sudah
terjadi kesalahan akibat human error. Namun, penelitian lapangan ini tetap berjalan
sampai akhir hingga proses pembuatan laporan sebagai tugas akhir.

BAB V
PENUTUP

A. Kesimpulan
Interprestasi penggunaan lahan di wilayah Malang dan Kota Batu dengan
membandingkan kondisi di lapangan kurang sesuai. Hal ini disebabkan karena Human
eror yang kurang teliti dan hati-hati pada saat melakukan klasifikasi, spesifik
penggunaan lahan, dan ploting area. Sehingga perlu dilakukan re interprestasi
penggunaan lahan yang sesuai dengan kondisi di lapangan (kenampakan asli) agar
nantinya peta penggunaan lahan hasil re interprestasi dapat bermanfaat sebagai acuan
untuk mengetahui penggunaan lahan di wilayah Mlang dan Kota Batu yang
sebenarnya sesuai kenampakan asli.
B. Saran
Berdasarkan hasil dan pembahasan sebelumnya, ada beberapa hal yang perlu
ditindak lanjuti, yaitu:

Dalam menklasifikasi penggunaan lahan lebih dispesifikkan menurut


klasifikasi RBI, USGS, atau yang lainnya.

saat melakukan pengambilan sampel objek penggunaan lahan, setidaknya


ambil beberapa sampel agar klasifikasinya lebih jelas.

DAFTAR PUSTAKA

Ririn. 2012. Laporan Penginderaan Jauh. (Online).


(https://chaderinsaputra.wordpress.com/2012/06/05/laporan-penginderaan-jauh/). Di
akses tanggal 7 Desember 2014
Rizky. 2012. Klasifikasi Penggunaan Lahan Dan Tutupan Lahan Pada Foto Udara
Pakromatik Hitam Putih. (Online).
(http://rizkyoktaviani.blogspot.com/2012/07/klasifikasi-penggunaan-lahandan_04.html). Di akses tanggal 7 Desember 2014
NN. (Online).
(http://ilearn.unand.ac.id/pluginfile.php/18029/mod_resource/content/1/Kuliah%20k
e%2012%20Citra%20Satelit.pdf). Di akses tanggal 7 Desember 2014
Permana, Radi. Pengertian Dan Definisi Penginderaan Jauh. (Online).
(http://blog.unand.ac.id/radipermana/pengertian-dan-defenisi-pengindraan-jauh/). Di
akses tanggal 7 Desember 2014
NN. 2011. Teknologi Penginderaan Jauh. (Online). (http://pengertiandefinisi.blogspot.com/2011/09/teknologi-penginderaan-jauh.html). Di akses tanggal
7 Desember 2014
Sabrianora.2012. Interprestasi Land Cover (Klasifikasi Citra). (Online).
(http://rarasabria.blogspot.com/2012/10/interpretasi-land-cover-klasifikasi.html). Di
akses tanggal 7 Desember 2014
Danoedoro, Projo. 2012. Pengantar Penginderaan Jauh Digital. Yogyakarta : Penerbit Andi
Purwanto. 2012. Penginderaan Jauh Teori dan Aplikasinya. Malang : Jurusan Geografi
Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Malang

Wayan. 2013. Pengertian Citra Landsat. (Online).


(https://www.scribd.com/doc/170545635/Pengertian-Citra-Landsat). Diakses tanggal
8 Desember 2014
Oktaviani, Rizky. 2012. Klasifikasi Penggunaan Lahan dan Tutupan Lahan Pada Foto
Prankromatik Hitam Putih, (Online).
(http://rizkyoktaviani.blogspot.com/2012/07/klasifikasi-penggunaan-lahandan_04.html). Di akses tanggal 8 Desember 2014
Fitri, Nur. 2012. Land Cover. (Online).
(http://nurfitriekhoirunnisa.blogspot.com/2012_10_01_archive.html). Di akses
tanggal 8 Desember 2014

LAMPIRAN

A. Peta Komposit 432 Sebelum Re Interprestasi

B. Peta Penggunaan Lahan (Tentatif)

C. Hasil Pemotongan Citra Satelit Landsat 8 Sesudah Re Interprestasi

D. Peta Penggunaan Lahan (Hasil Re Interprestasi)

E. Hasil Zoom Out Sesudah Re Interprestasi


Titik 1

Titik 2

Titik 3

Titik 4

Titik 5

titik 6

Titik 7

F. Klasifikasi penggunaan lahan menurut peta RBI

G. Foto Kenampakan asli di lapangan saat cek lapangan


Titik 1 daerah sudimoro

Titik 2 Perumahan Permata Jingga

Titik 3 perkebunan jeruk, selorejo

Titik keempat Hutan Pinus, Bedengan

Titik kelima. Mushola Kecil, Bumiaji

Titik keenam Hutan Lindung, Cangar

Titik ketujuh perkebunan apel, Bumiaji