Anda di halaman 1dari 27

RESUME

JASA ASSURANCE, ATESTASI,


DAN AUDITING INTERNAL

Diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah Auditing II


Dosen Pengampu : Drs. Wasito, M.Si, Ak

Oleh :
Desi Nilasari

120810301082

Azzilizza Febri Ratsidyaningtyas

120810301112

Jean Suha Theresia Br. A

120810301162

Kelas E

PROGRAM STUDI S1 AKUNTANSI


FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS JEMBER
2014

1.1. JASA ASSURANCE


Jasa assurance merupakan jasa profesional independen yang meningkatkan
mutu atau kualitas informasi bagi pengambil keputusan.Dari definisi tersebut,terdapat
beberapa konsep penting.Pertama,berfokus pada pengambilan keputusan.Membuat
keputusan yang baik memerlukan informasi berkualitas,yang dapat berupa informasi
keuangan

ataupun

nonkeuangan.Kedua,terkait

dengan

meningkatkan

kualitas

informasi.Perikatan jasa assurance dapat meningkatkan kualitas keputusan dengan


meningkatkan keyakinan mengenai keandalan dan relevansi informasi.Konteks dapat
ditingkatkan

melalui

format

penyajian

informasi.Ketiga,berfokus

pada

indenpendensi.Sebagaimana halnya pembahasan terdahulu mengenai audit laporan


keuangan,indenpendensi adalah tanda pengenal bagi profesi.Keempat adalah jasa
profesional,yang mencerminkan penerapan pertimbangan profesional.Praktisi yang
menerapkan pertimbangan profesional pada informasi yang merupakan subjek dari jasa
assurance.Singkatnya,jasa assurance dapat memperoleh informasi, meningkatkan
kualitasnya, dan menambah manfaatnya bagi pembuat keputusan.
AICPA melalui Komite Eksekutif Jasa Assurance, menyebutkan dan mengembangkan
enam kategori umum dari jasa assurance , yaitu :
1. Penentuan resiko , bahwa profil resiko bisnis entitas sudah komprehensif serta
evaluasi atas keberadaan sistem yang memadai agar dapat mengelola resiko tersebut
dengan efektif.
2. Pengukuran kinerja bisnis , bahwa sistem pengukuran kinerja entitas berisi ukuranukuran yang relevan dan menilai sampai sejauh mana tujuan dan sasaran entitas telah
dicapai dan bagaimana kinerjanya dibandingkan dengan pesaing.

3. Perdagangan elektronik , bahwa sistem dan alat-alat yang digunakan dalam ecommerce memberikan integritas data yang memadai , keamanan , privasi , dan
keandalan.
4. Keandalan sistem informasi , bahwa sistem informasi internal memberi informasi
yang andal bagi keputusan operasi dan keuangan.
5. Pengukuran kinerja perawatan kesehatan , bahwa mengenai efektifitas dari jasa
perawatan kesehatan yang diberikan oleh perusahaan asuransi kesehatan , rumah
sakit , dokter ,dan pemberi jasa lain.
6. PrimePlus , bahwa berbagai tujuan tertentu yang terkait dengan orang lanjut usia telah
dipenuhi oleh para penyedia jasa perawatan.

Jasa Assurance Dalam Teknologi Informasi


Satu faktor kuat yang berpengaruh terhadap permintaan untuk jasa assurance lain adalah
perkembangan internet dan E-Commerce (jasa keuangan elektronik).
Beberapa jasa assurance dalam Teknologi Informasi (TI)
1. Web Trust Services. Untuk menghadapi peningkatan kebutuhan akan jaminan/keyakinan
yang berkaitan dengan transaksi usaha/bisnis melalui internet, AICPA (American Institute
of Certified Public Accountants) dan CICA (Canadian Institute of Chartered Accountants)
bergabung membentuk Jasa Assurance Web Trust. CPAs Firm yang telah memperoleh
ijin untuk menjalankan jasa ini menyediakan jaminan/keyakinan yang memadai bagi
pengguna/pemakai Web Sites, dimana CPAs electronics Web Trust melampirkan tanda
(segel) pada web sites.Segel ini memberikan keyakinan bagi para pengguna bahwa
pemilik web site dalam praktik usahanya, integritas transaksi, dan pemrosesan
informasinya sesuai dengan kriteria yang ditetapkan. Web Trust adalah jasa atestasi dan
Web Trust Seal adalah tanda/segel yang mewakili laporan profesi akuntan public (CPA)
atas asersi manajemen mengenai pengungkapan praktik E-Commerce.
2. Sys Trust Services. AICPA dan CICA bergabung membentuk Sys Trust Services untuk
menyediakan jasa assurance mengenai keandalan sistem informasi.Sys Trust adalah salah

satu jenis atestasi untuk menilai dan menguji keandalan system dalam suatu area, seperti
keamanan dan integritas data.Sys Trust dijalankan CPA untuk memberikan keyakinan
memadai kepada manajemen, Dewan Direksi, atau pihak ketiga mengenai keandalan
sistem informasi yang digunakan dalam menghasilkan informasi aktual (real-time).
Jasa assurance dalam Jenis Informasi Lainnya
1. CPA Performance View. Perusahaan membutuhkan faktor-faktor sukses selain
informasi keuangan dalam mengelola usahanya. Contoh: Kepuasan pelanggan dan
kualitas produk. CPA membantu manajemen mengidentifikasi dan mengukur faktorfaktor kesuksesan yang kritis.
2. CPA Elder Care Servies. CPA menyediakan jasa assurance kepada para
manula/lansia yang membutuhkan jaminan bahwa mereka mendapatkan perawatan
yang baik.
3. CPA Risk AdvisoryServices. Keberhasilan dalam dunia usaha dapat ditunjukkan
dengan

keberhasilan

perusahaan

dalam

mengambil

risiko

manage/mengendalikan

dan

merisiko.

Contoh : ketika perusahaan memperluas usahanya, mungkin menghadapi risiko atas


perubahan nilai tukar uang, kericuhan politik negara lain. CPA menyediakan jasa
untuk membantu mereka mengidentifikasi dan mengendalikan risiko.
Jasa jasa Non-assurance yang diberikan Akuntan Publik
KAP melakukan berbagai jasa lain yang umumnya berada di luar lingkup jasa assurance.
Tiga contoh yang spesifik adalah :
1. Jasa akuntansi dan pembukuan
2. Jasa pajak
3. Jasa konsultasi dan manajemen

1.1.

Pengertian Jasa Atestasi


Salah satu kategori jasa assurance yang diberikan oleh akuntan publik adalah jasa atestasi.
Jasa atestasi (attestation service) adalah jenis jasa assurance di mana KAP mengeluarkan
laporan tentang reliabilitas suatu asersi yang disiapkan pihak lain.

Dalam Standar Profesional Akuntan Publik, Ikatan Akuntan Indonesia (2001:1000.1)


menjelaskan pengertian perikatan atestasi sebagai berikut :
Suatu perikatan atestasi adalah perikatan yang didalamnya praktisi mengadakan
perikatan untuk menerbitkan komunikasi tertulis yang menyatakan suatu simpulan
tentang keandalan asersi tertulis yang menjadi tanggung jawab pihak lain.
Atestasi yang dimaksud dalam pengertian perikatan atestasi tersebut adalah suatu pernyataan
pendapat atau pertimbangan orang yang independen dan kompeten apakah asersi suatu entitas
sesuai, dalam semua hal yang material, dengan kriteria yang telah ditetapkan ( SPAP
2001:1000.1). Sedangkan asersi adalah suatu deklarasi, atau suatu rangkaian deklarasi secara
keseluruhan, ole pihak yang bertanggung jawab atas deklarasi tersebut. Jadi, asersi adalah
pernyataan yang dibuat oleh satu pihak yang secara implisit dimaksudkan untuk digunakan
oleh pihak lain (pihak ketiga). Untuk laporan keuangan historis, asersi merupakan pernyataan
dalam laporan keuangan oleh manajemen sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku
umum (SPAP 2001:1000.1).
Contoh asersi yang dibuat oleh manajemen adalah ketika manajemen

membuat

asersi bahwa sediaan produk jadi yang tercantum dalam neraca adalah tersedia untuk dijual
pada tanggal neraca, atau asersi bahwa penjualan dalam laporan laba rugi menunjukkan
pertukaran barang atau jasa dengan kas atau aktiva bentuk lain (misalnya piutang usaha)
dengan customer selama periode tertentu. Pernyataan tersebut dapat bersifat implisit atau
eksplisit.
Standar Umum (SPAP 2001:1000.3-7)
Standar umum untuk seorang praktisi yang melaksanakan perikatan jasa atestasi, antara lain
adalah :
1.

Perikatan harus dilaksanakan oleh seorang praktisi atau lebih, yang memiliki
keahlian dan pelatihan teknis cukup dalam fungsi atestasi.
Pelaksanaan jasa atestasi tidak sama dengan penyusunan dan penyajian suatu
asersi. Pelaksanaan kegiatan terakhir ini mencakup pengumpulan, penggolongan,
peringkasan, dan pengkomunikasian informasi yang biasanya mencakup
pengurangan data rinci dalam jumlah besar ke dalam bentuk yang dapat difahami
dan dapat ditangani (manageable).

Di lain pihak, pelaksanaan jasa atestasi

mencakup pengumpulan bukti untuk mendukung asersi dan secara obyektif


menentukan pengukuran dan pengkomunikasian yang dilakukan oleh pembuat
asersi. Jadi, jasa atestasi bersifat analitik, kritis, dan bersifat penyelidikan, serta
berkaitan dengan dasar dan dukungan asersi.
Pencapaian keahlian sebagai seorang ahli dalam atestasi dimulai dari
pendidikan formal dan berlanjut sampai dengan pengalaman selanjutnya.
Pelatihan harus memadai baik teknis maupun pendidikan umum .
2. Perikatan harus dilaksanakan oleh seorang praktisi atau lebih yang memiliki
pengetahuan cukup dalam bidang yang bersangkutan dengan asersi.
Praktisi dapat memperoleh pengetahuan cukup tentang hal yang dilaporkan
melalui pendidikan formal atau pendidikan profesional berkelanjutan, termasuk
belajar secara mandiri, atau melalui pengalaman praktik.
3. Standar umum ketiga adalah praktisi harus melaksanakan perikatan hanya jika ia
memiliki alasan untuk meyakinkan dirinya bahwa dua kondisi berikut ini ada :
a. Asersi dapat dinilai dengan kriteria rasional, baik yang telah ditetapkan oleh
badan yang diakui atau yang dinyatakan dalam penyajian asersi tersebut
dengan cara cukup jelas dan komprehensif bagi pembaca yang diketahui
mampu memahaminya.
b. Asersi tersebut dapat diestimasi atau diukur secara konsisten dan rasional
dengan menggunakan kriteria tersebut.
4. Standar umum keempat adalah dalam semua hal yang bersangkutan dengan
perikatan, sikap mental independen harus dipertahankan oleh praktisi.
5. Standar umum kelima adalah kemahiran profesional harus selalu digunakan oleh
praktisi dalam melaksanakan perikatan, mulai dari tahap perencanaan sampai
dengan pelaksanaan perikatan tersebut.

Standar Pekerjaan Lapangan ( SPAP 2001:1000.7-10)


Standar pekerjaan lapangan adalah :
1.

Pekerjaan harus direncanakan sebaik-baiknya dan jika digunakan asisten harus


disupervisi dengan semestinya.

Perencanaan dan supervisi memadai membantu efektivitas prosedur atestasi.


Perencanaan memadai secara langsung memperngaruhi pemilihan prosedur yang
semestinya dan ketetapan penerapannya, serta supervisi memadai membantu
menjamin bahwa prosedur yang direncanakan tersebut diterapkan semestinya.
2. Bukti yang cukup harus diperoleh untuk memberikan dasar rasional bagi simpulan
yang dinyatakan dalam laporan.
Dalam menentukan kombinasi prosedur memadai untuk membatasi risiko
atestasi, praktisi harus mempertimbangkan asumsi berikut ini, dengan catatan
bahwa masing-masing tidak saling meniadakan dan masing-masing dapat
mengandung pengecualian penting :
a. Bukti yang diperoleh dari sumber independen dari luar entitas memberikan
keyakinan yang lebih besar mengenai keandalan asersi daripada bukti yang
diperoleh hanya dari dalam entitas.
b. Informasi yang diperoleh dari pengetahuan pribadi langsung oleh
pengatestasi lebih meyakinkan daripada yang diperoleh secara tidak
langsung ( sebagai contoh melalui prosedur pemeriksaan fisik, pengamatan,
penghitungan, pengujian operasi, atau inspeksi).
c. Semakin efektif struktur pengendalian intern semakin besar keyakinan
tentang keandalan asersi.
Standar Pelaporan (SPAP 2001:1000.10-15)
1.

Standar pelaporan pertama adalah laporan harus menyebutkan asersi yang


dilaporkan dan menyatakan sifat perikatan atestasi yang bersangkutan.
Praktisi yang menerima perikatan atestasi harus menerbitkan laporan atas
asersi tertentu atau menarik diri dari perikatan atestasi. Jika laporan diterbitkan,
laporan harus menyatakan bahwa asersi yang bersangkutan merupakan tanggung
jawab pembuat asersi dan bukan tanggung jawab praktisi.

2.

Standar pelaporan kedua adalah laporan harus menyatakan simpulan praktisi


mengenai apakah asersi disajikan sesuai dengan standar yang telah ditetapkan
atau kriteria yang dinyatakan dipakai sebagai alat pengukur.
Laporan atestasi yang didistribusikan kepada umum harus dibatasi ke dua
tingkat keyakinan :
1. Didasarkan atas suatu pengurangan risiko atestasi ke tingkat yang cukup
rendah (suatu pemeriksaan).

2. Didasarkan atas suatu pengurangan risiko atestasi ke tingkat yang menengah


( suatu review).
Dalam suatu perikatan untuk mencapai tingkat keyakinan tertinggi (suatu
pemeriksaan) simpulan praktisi harus dinyatakan dalam bentuk pendapat
positif. Jika risiko atestasi telah dikurangi hanya ke tingkat menengah (suatu
review), simpulan harus dinyatakan dalam bentuk keyakinan negatif .
Pemeriksaan (Examination)
Pada waktu menyatakan suatu pendapat positif, praktisi harus secara jelas
menyatakan apakah, menurut pendapatnya, asersi disajikan sesuai dengan
kriteria yang telah ditetapkan atau telah dinyatakan.
Berikut contoh laporan pemeriksaan yang berisi pernyataan pendapat wajar
tanpa pengecualian atas suatu penyajian asersi, dengan anggapan tidak
terdapat bentuk laporan khusus yang telah diterapkan dalam standar Ikatan
Akuntan Indonesia atau badan lain yang berwenang.
Kami

telah

memeriksa.........[sebutkan

penyajian

asersi-seperti,

Laporan Statistik Hasil Investasi Dana Perusahaan XYZ untuk tahun yang
berakhir tanggal 31 Desember 20X1]. Pemeriksaan kami laksanakan sesuai
dengan standar yang ditetapkan Ikatan Akuntan Indonesia, oleh karena itu,
meliputi prosedur yang kami pandang perlu sesuai dengan keadaan.
[Tambahkan paragraf

dapat dicantumkan untuk menekankan masalah

tertentu yang bersangkutan dengan perikatan atestasi atau penyajian asersi].


Menurut pendapat kami,....[sebutkan penyajian seperti Laporan Statistik Hasil
Investasi] seperti yang telah kami sebutkan dalam paragraf di atas,
menyajikan.....[sebutkan asersi seperti, hasil investasi dana perusahaan XYZ
untuk tahun yang berakhir tanggal 31 Desember 20X1] sesuai dengan
[ sebutkan kriteria yang ditetapkan atau telah dinyatakan misalnya kriteria
pengukuran dan pengungkapan sebagaimana dicantumkan dalam Catatan 1.]
Review

Dalam memberikan keyakinan negatif, simpulan praktisi harus menyatakan


apakah informasi yang diperoleh praktisi dari pekerjaan yang dilakukan
menunjukkan bahwa asersi tersebut tidak disajikan, dalam segala hal yang
material, sesuai dengan kriteria yang telah ditetapkan atau yang telah
dinyatakan.
Berikut disajikan contoh laporan review yang menyatakan keyakinan negatif
tanpa pengecualian yang ditetapkan Ikatan Akuntan Indonesia atau badan
berwenang lainnya.
Kami telah me-review.....[sebutkan penyajian asersi-sebagai contoh, Laporan
Statistik Hasil Kinerja Investasi Dana KXT untuk tahun yang berakhir tanggal
31 Desember 20X1]. Review kami laksanakan berdasarkan standar yang
ditetapkan Ikatan Akuntan Indonesia.
Review memiliki lingkup yang sangat terbatas dibandingkan dengan
pemeriksaan, yang bertujuan untuk menyatakan suatu pendapat atas [sebutkan
penyajian asersi sebagai contoh, Laporan Statistik Kinerja Investasi Dana
KXT]. Oleh karena itu, kami tidak menyatakan pendapat seperti itu.
Berdasarkan review kami, tidak terdapat penyebab hal yang menjadikan kami
yakin bahwa [sebutkan penyajian asersi sebagai contoh, Laporan Statistik
Kinerja Investasi] tidak disajikan sesuai dengan [sebutkan kriteria yang
ditetapkan

sebagai

contoh,

kriteria

pengukuran

dan

pengungkapan

sebagaimana dicantumkan dalam Catatan No.1] .


3.

Standar pelaporan ketiga adalah laporan harus menyatakan semua keberatan


praktisi yang signifikan tentang perikatan dan penyajian asersi.

4.

Standar pelaporan keempat adalah laporan suatu perikatan untuk mengevaluasi


suatu asersi yang disusun berdasarkan kriteria yang disepakati atau berdasarkan
suatu perikatan untuk melaksanakan prosedur yang disepakati harus berisi suatu
pernyataan tentang keterbatasan pemakaian laporan hanya oleh pihak-pihak yang
menyepakati kriteria atau prosedur tersebut.

Jenis- jenis Atestasi


Jasa atestasi menurut Mulyadi (2002:5) dapat dibagi menjadi empat jenis, yaitu :

a. Audit
Jasa audit ini meliputi upaya memperoleh dan mengevaluasi bukti yang
mendasari laporan keuangan historis yang memuat asersi yang dibuat oleh
manajemen entitas tersebut. Dalam menghasilkan jasa audit ini, auditor
memberikan pernyataan pendapat positif tentang laporan keuangan tersebut
sudah disajikan secara wajar dan sesuai dengan kriteria yang telah ditetapkan.
Kriteria yang digunakan adalah prinsip-prinsip akuntansi yang berlaku umum
(GAAP). Hasil pengumpulan bukti menentukan tingkat keyakinan yang dapat
dicapai oleh auditor. Banyaknya jumlah bukti kompeten dan relevan yang
dapat dikumpulkan, maka semakin tinggi pula tingkat keyakinan yang dicapai
oleh auditor. Seringkali jasa ini disebut sebagai jasa tradisional profesi akuntan
publik karena jasa ini merupakan jasa profesi akuntan publik yang paling
dikenal dalam masyarakat.
b. Pemeriksaan
Istilah pemeriksaan digunakan untuk menguraikan jasa lain yang muncul
dalam pernyataan positif suatu pendapat tentang kesesuaian asersi yang dibuat
oleh pihak lain dengan kriteria yang telah ditetapkan. Contoh jasa pemeriksaan
yang dilakukan meliputi pemeriksaan (1) laporan keuangan prospektif (bukan
historis), (2) asersi manajemen tentang efektivitas struktur pengendalian intern
entitas, dan (3) kepatuhan entitas terhadap peraturan tertentu.
c. Review
Jasa review terutama terdiri dari permintaan keterangan dari manajemen
entitas serta analitis komparatif atas informasi keuangan. Dengan demikian
tingkat keyakinan yang diberikan oleh akuntan dalam laporan hasil review
lebih rendah dibandingkan dengan tingkat yang diberikan dalam jasa audit dan
pemeriksaan. Tujuan review adalah untuk memberikan keyakinan negatif
sebagai lawan dari pernyataan positif yang diberikan pada suatu audit.
Terkadang jasa ini dilakukan atas laporan interim perusahaan publik dan
laporan tahunan perusahaan nonpublik.
d. Prosedur yang Disepakati

Lingkup kerja pelaksanaan prosedur yang disepakati juga lebih sempit


dibandingkan dengan jasa audit dan jasa pemeriksaan. Contohnya, klien dan
akuntan publik membuat kesepakatan bahwa ada prosedur tertentu yang
dilaksanakan hanya pada elemen dan akun tertentu dalam laporan keuangan
sebagai lawan dari laporan keuangan secara keseluruhan. Dalam jasa jenis ini,
Kantor Akuntan Publik dapat menerbitkan suatu ringkasan temuan atau
suatu keyakinan negatif seperti yang dihasilkan dalam jasa review.
Standar Atestasi
Dalam SPAP (2003:1000.1) menjelaskan bahwa standar atestasi memberikan
kerangka untuk fungsi atestasi bagi jasa akuntan publik yang mencakup tingkat
keyakinan tertinggi yang diberikan dalam jasa audit atas laporan keuangan historis,
pemeriksaan atas laporan keuangan prospektif, serta tipe perikatan atestasi lain yang
memberikan keyakinan yang lebih rendah (review, pemeriksaan dan prosedur yang
disepakati). Standar atestasi dinyatakan secara umum guna memudahkan para praktisi
untuk menerapkannya pada penugasan atestasi, mencakup jenis-jenis penugasan baru
yang mungkin timbul.
Perbandingan Standar Atestasi dengan Standar Auditing (SPAP 2001:1000.18-21)
Berdasarkan SPAP, Ikatan Akuntan Indonesia (2003:1000.20), perbedaan standar
atestasi dengan standar auditing dapat dilihat pada tabel sebagai berikut :

1.2.

Proyeksi dan Prakiraan Keuangan (SPAP 2001:2000.3)


Pengertian prakiraan keuangan dan proyeksi keuangan dalam SPAP 2001 oleh Ikatan
Akuntan Indonesia adalah :
Prakiraan keuangan adalah laporan keuangan prospektif yang menyajikan,
sepanjang pengetahuan dan keyakinan pihak yang bertanggung jawab, posisi
keuangan, hasil usaha dan arus kas yang diharapkan dari suatu entitas. Prakiraan
keuangan didasarkan atas asumsi pihak yang bertanggung jawab, yang mencerminkan
kondisi yang diharapkan aka n terjadi, dan arah tindakan yang diharapkan akan
diambil.
Proyeksi keuangam adalah laporan keuangan prospektif yang menyajikan,
sepanjang pengetahuan dan keyakinan pihak yang bertanggung jawab, atas dasar satu
atau lebih asumsi hipotesis, posisi keuangan, hasil usaha, dan perubahan posisi
keuangan yang diharapkan dari suatu entitas. Proyeksi keuangan kadangkala disusun
untuk menyajikan satu atau lebih arah tindakan yang bersifat hipotesis untuk dinilai,
sebagai jawaban atas pertanyaan seperti Apa yang akan terjadi jika...? . Proyeksi
didasarkan atas asumsi pihak yang bertanggung jawab, yang mencerninkan kondisi
yang diharapkan akan terjadi dan tindakan yang akan diambil, dengan adanya satu
atau lebih asumsi hipotesis.
Penggunaan Laporan Keuangan Prospektif (SPAP 2001:2000.4-5)
Penggunaan laporan keuangan prospektif dapat ditujukan untuk :
1.

Penggunaan umum laporan keuangan prospektif adalah penggunaan laporan oleh


pihak-pihak yang tidak melakukan negosiasi secara langsung dengan pihak yang

bertanggung jawab, misalnya dalam suatu pernyataan penawaran obligasi atau


saham.
2. Penggunaan terbatas laporan keuangan prospektif adalah penggunaan laporan oleh
pihak yang bertanggung jawab itu sendiri atau oleh pihak yang bertanggung jawab
dan pihak ketiga yang melakukan negosiasi secara langsung dengan pihak yang
bertanggung jawab. Contohnya mencakup penggunaan untuk negosiasi pinjaman
bank, pelaporan untuk suatu instansi yang berwenang dan penggunaan sematamata dalam entitas yang bersangkutan.
1.3.

Pelaporan Pengendalian Intern Suatu Entitas Atas Pelaporan Keuangan


Jasa Atestasi Lain (SPAP 2001:4000.3)
Praktisi dapat mengadakan perikatan untuk memberikan tipe jasa lain
berkaitan dengan pengendalian intern suatu entitas. Sebagai contoh, praktisi dapat
mengadakan perikatan untuk melaksanakan prosedur yang disepakati asersi
manajemen tentang efektivitas pengendalian intern suatu entitas. Untuk perikatan
semacam ini, praktisi harus mengacu ke panduan dalam SAT Seksi 100 [PSAT 02]
Standar Atestasi. Laporan praktisi tentang efektivitas pengendalian intern suatu
entitas harus dalam bentuk prosedur dan temuan. Praktisi tidak diijinkan untuk
memberikan keyakinan negatif tentang apakah asersi manajemen disajikan secara
wajar.
Meskipun praktisi dapat memeriksa prosedur yang disepakati terhadap manajemen
tentang efektivitas pengendalian intern suatu entitas, praktisi tidak diijinkan untuk
menerima perikatan review dan melaporkan asersi manajemen tersebut.
Jasa Non-Atestasi
Jasa non-atestasi adalah jasa yang diberikan oleh akuntan publik yang
didalamnya tidak memberikan suatu pendapat, tingkat keyakinan, ringkasan
temuan, atau bentuk keyakinan (assurance) yang lain
Contoh:

Jasa kompilasi (pencatatan & pelaporan akuntansi)


Akuntan publik melaksanakan berbagai jasa akuntansi kliennya, seperti pencatatan
(baik dengan manual maupun, dengan komputer ) transaksi akuntansi bagi klienya
sampai dengan penyusunan laporan kuangan.

Jasa perpajakan (pengisian SPT, keberatan/banding pajak)

Meliputi bantuan yang diberikan oleh akuntan pihak kepada kliennya dalam
pengisian Surat Pemberitahuan Pajak Tahunan ( SPPT ), pajak penghasilan,
perencanaan pajak, dan bertindak mewakili kliennya dalam menghadapi masalah
perpajakan.

Jasa konsultan manajemen (keuangan, SDM, dsb)


Merupakan jasa pemberian konsultasi dengan memberikan saran dan bantuan
teknis kepada klien untuk meningkatan penggunaan kemampuan dan sumber daya
untuk mencapai tujuan perusahaan klien.

Kondisi untuk Pelaksanaan Perikatan (SPAP 2001:4000.4)


Praktisi dapat memeriksa dan melaporkan asersi manajemen tentang
efektivitas pengendalian intern jika kondisi berikut terpenuhi:
1. Manajemen menerima tanggung jawab tentang efektivitas pengendalian intern
entitas.
2. Manajemen mengevaluasi efektivitas pengendalian intern entitas dengan
menggunakan kriteria yang masuk akal untuk pengendalian intern yang efektif
yang dibentuk oleh badan yang diakui.
3. Terdapat bukti audit yang cukup atau dapat dikembangkan untuk mendukung
evaluasi manajemen.
4. Manajemen menyediakan asersi tertulisnya, sebagaimana dijelaskan tentang
efektivitas pengendalian intern entitas berdasarkan kriteria pengendalian yang
diacu dalam laporannyaa.
Standar Jasa Akuntansi Dan Review
Terdiri dari kompilasi dan review atas laporan keuangan, pelaporan atas
laporan keuangan komparatif, Laporan kompilasi atas laporan keuangan yang
dimasukkan dalam formulir tertentu, komunikasi antara akuntan pendahulu dengan
akuntan pengganti, pelaporan atas laporan keuangan pribadi yang dimasukkan dalam
rencana keuangan pribadi tertulis.

Kompilasi dan Review Atas Laporan Keuangan


Kompilasi Laporan Keuangan
Kompilasi laporan keuangan (SPAP 2001:10000.3) adalah penyajian dalam bentuk
laporan keuangan, informasi yang merupakan pernyataan manajemen tanpa usaha
untuk memberikan pernyataan suatu keyakinan apa pun terhadap laporan tersebut.
Bentuk Laporan PSAR menyebutkan tiga jenis laporan kompilasi. Penggunaan
masing-masing laporan bergantung pada keputusan manajemen untuk memasukkan
semua pengungkapan yang diperlukan dalam laporan keuangan.
1.

Kompilasi dengan pengungkapan penuh


Ketika entitas menyajikan seperangkat laporan keuangan yang berisi semua
pengungkapan keuangan yang disyaratkan oleh akuntansi berlaku umum atau
kerangka kerja laporan keuangan lainnya. Singkatnya kompilasi jenis ini
membutuhkan pengungkapan sesuai dengan GAAP.

2.

Kompilasi yang mengabaikan semua pengungkapan substansial


Suatu entitas dapat meminta akuntan untuk melakukan kompilasi laporan keuangan
yang tidak memasukkan hampir semua pengungkapanmaterial sebagaimana
diharuskan oleh prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia, termasuk
pengungkapan yang mungkin disajikan dalam laporan keuangan pokok. Jika laporan
keuangan yang telah dikompilasi akuntan tidak memasukkan semua pengungkapan
material, maka laporan akuntan bentuk baku yang tepat adalah sebagai berikut:
Kami telah melakukan kompilasi neraca PT KXT tanggal 31 Desember 20X1
serta laporan laba rugi, laporan perubahan ekuitas dan laporan arus kas yang
berkaitan untuk tahun yang berakhir pada tanggal tersebut sesuai dengan Standar
Jasa Akuntansi dan Review yang ditetapkan Ikatan Akuntan Indonesia,

3.

Kompilasi ketika akuntan tidak independen


Akuntan tidak dihalangi untuk menerbitkan laporan yang berkaitan dengan kompilasi
laporan keuangan untuk suatu entitasm yang ia tidak independen. Dalam
mempertimbangkan tentang apakah akuntan independen, akuntan harus dipandu oleh
Aturan Etika Kompartemen Akuntan Publik. Jika akuntan tidak independen, maka ia
harus secaraa spesifik mengungkapkan ketidakindependenan tersebut. Namun alasan
tidak adanya independensi tidak boleh dijelaskan. Jika akuntan tidak independen, ia
harus memasukkan pernyataan berikut dalam paragraf terakhir laporannya.

Kami tidak independen terhadap PT KXT.


Review Atas Laporan Keuangan
Review laporan keuangan (SPAP 2001:10000.3) adalah pelaksanaan prosedur
permintaan keterangan dan analisis yang menghasilkan dasar memadai bagi akuntan
untuk memberikan keyakinan terbatas, bahwa tidak terdapat modifikasi material yang
harus dilakukan atas laporann keuangan agar laporan tersebut sesuai dengan prinsip
akuntansi berlaku umum di Indonesia, atau sesuai dengan basis akuntansi
komprehensif yang lain.
Pelaporan Akuntan mengenai hasil revuiew atas laporan keuangan, harus
disertai dengan laporan akuntan yang menyatakan bahwa :
1. Review dilaksanakan sesuai dengan Standar Jasa Akuntansi dan Review yang
ditetapkan Ikatan Akuntan Indonesia.
2. Semua informasi yang dimasukkan dalam laporan keuangan adalah penyajian
manajemen atau pemilik entitas tersebut.
3. Review terutama mencakup permintaan keterangan kepada para pejabat penting
perusahaan dan prosedur analitik yang diterapkan terhadap data keuangan.
4. Lingkup review jauh lebih sermpit dibandingkan dengan lingkup audit yang tujuannya
untuk menyatakan pendapat atas laporan keuangan secara keseluruhan, dan dengan
demikian tidak dinyatakan pendapat semacam itu dlalam suatu review.
5. Akuntan tidak mengetahui adanya suatu modifikasi material yang harus dilakukan
atas laporan keuangan agar laporan tersebut sesuai dengan prinsip akuntansi yang
berlaku umum di Indonesia, selain dari perubahan, jika ada, yang telah diungkapkan
dalam laporan akuntan.

Pelaporan Atas Laporan Keuangan Komparatif (SPAP 2001:11000.1)


Laporan keuangan yang disusun oleh klien untuk beberapa periode yang tidak diaudit,
direview atau dikompilasi dapat disajikan di halaman terpisah dalam suatu dokumen
yang juga berisi laporan keuangan periode lain yang dilaporkan oleh akuntan.Laporan
keuangan komparatif adalah laporan keuangan dua periode atau lebih yang disajikan
dalam bentuk kolom.

Standar Jasa Konsultasi (SPAP 2001:15000.2-3)


Jasa Konsultansi adalah jasa profesional yang disediakan dengan memadukan
kemahiran teknis, pendidikan, pengamatan, pengalaman, dan pengetahuan praktisi
mengenai proses konsultansiI. Jasa konsultansi dapat meliputi jasa-jasa berikut ini:
a. Konsultasi (Consultations). Untuk jenis jasa ini, fungsi praktisiadalah memberikan
konsultasi atau saran profesional (professionaladvice) yang memerlukan respon
segera, berdasarkan padapengetahuan mengenai klien, keadaan, masalah teknis
terkait, representasi klien, dan tujuan bersama berbagai pihak. Contoh jenis jasa ini
adalah re-view dan komentar terhadap rencana bisnis buatan klien dan pemberian
saran tentang perangkat lunak komputer yang cocok digunakan oleh klien
(berdasarkan investigasi lebih lanjut oleh klien).
b. Jasa Pemberian Saran Profesional (Advisory Services). Untuk jenisjasa ini, fungsi
praktisi adalah mengembangkan temuan, kesimpulan, dan rekomendasi untuk
dipertimbangkan dan diputuskan oleh klien. Contoh jenis jasa ini adalah review
operasional dan improve-ment study, analisis terhadap suatu sistem akuntansi,
pemberian bantuan dalam proses perencanaan strategik, dan definisi persyaratan yang
harus dipenuhi oleh suatu sistem informasi.
c. Jasa Implementasi. Untuk jenis jasa ini, fungsi praktisi adalahmewujudkan rencana
kegiatan menjadi kenyataan. Sumber daya dan personel klien digabung dengan
sumber daya dan personel praktisi untuk mencapai tujuan implementasi. Praktisi
bertanggung jawab kepada klien dalam hal pelaksanaan dan manajemen kegiatan
perikatan. Contoh jenis jasa ini adalah penyediaan jasa instalasi sistem komputer dan
jasa pendukung yang berkaitan, pelaksanaan tahap-tahap peningkatan produktivitas,
dan pemberian bantuan dalam proses penggabungan (merger) organisasi.
d. Jasa Transaksi. Untuk jenis jasa ini, fungsi praktisi adalah untukmenyediakan jasa
yang berhubungan dengan beberapa transaksi khususklien yang umumnya dengan
pihak ketiga. Contoh jenis jasa adalah jasa pengurusan kepailitan.
e. Jasa penyediaan staf dan jasa pendukung lainnya. Untuk jenis jasa ini, fungsi praktisi
menyediakan staf yang memadai (dalam hal kompetensi dan jumlah) dan
kemungkinan jasa pendukung lain untuk melaksanakan tugas yang ditentukan oleh
klien. Staf tersebut akan bekerja di bawah pengarahan klien sepanjang keadaan
mengharuskan demikian.Contoh jenis jasa ini adalah menajemen fasilitas pemrosesan
data
f. Jasa produk.Untuk jenis jasa ini, fungsi praktisi adalah untuk menyediakan bagi klien

suatu produk dan jasa profesional sebagai pendukung atas instalasi, penggunaan, atau
pemeliharaan produk tertentu. Contoh jenis jasa ini adalah penjualan dan penyerahan
paket program pelatihan, penjualan dan implementasi perangkat lunak computer

Jasa Audit Internal


Internal Audit merupakan suatu departemen yang berada di dalam struktur
organisasi perusahaan, peran internal audit ialah membantu tercapainya tujuan
perusahaan, menambah nilai perusahaan dan mencari, mencegah, atau mengatasi atas
fraud.Internal Audit sendiri walaupun berada di dalam struktur organisasi perusahaan
harus bersikap independen dalam menjalankan tugasnya.
Selain itu, internal audit juga bisa menguji dan menilai aktivitas dalam
perusahaan dengan mengacu pada kebijakan perusahaan, sehingga dapat mendeteksi
terjadinya kecurangan.Diharapkan dengan adanya internal audit ini dapat menciptakan
budaya dan kinerja perusahaan yang baik.Jasa ini bertujuan untuk menguji dan menilai
aktivitas dalam perusahaan anda berdasar pada kebijakan perusahaan, sehingga dapat
mendeteksi serta mencegah terjadinya kecurangan.Diharapkan dengan adanya internal
audit ini dapat menciptakan budaya dan kinerja perusahaan yang baik.

Jasa internal audit ini mencakup:


a.

Keuangan ( Risk based dan portfolio monthly report ), Audit atas transaksi dan/atau
catatan akuntansi dan/atau laporan keuangan untuk memastikan transaksi tersebut
telah diotorisasi, disajikan dalam catatan akuntansi, dan diungkapkan dalam laporan
keuangan secara tepat dan akurat. memberikan pendapat atas kewajaran transaksi,
catatan keuangan, dan/atau laporan keuangan.

b.

Kepatuhan / Audit Operasional. Untuk menentukan bagaimana suatu unit mampu


mengelola penggunaan sumber daya (kekayaan) unitnya secara ekonomis, efektif dan
efisien dalam memenuhi misi dan tujuan Perusahaan. Pengelolaan sumber daya yang
dimaksud meliputi prosedur, proses, dan kinerja personil yang melaksanakan fungsi
pengelolaan tersebut.

c.

Pencatatan Akuntansi termasuk saran untuk software yang digunakan (secara bekala).
Memutkahirkan pos General Ledger agar semakin optimal untuk pencatatan dan out
put laporan keuangan.

Manfaat Audit Internal


1. Kegiatan assurance dan konsultasi yang independen dan obyektif, yang dirancang
untuk memberikan nilai tambah dan meningkatkan kegiatan operasi organisasi.
Auditor Internal membantu organisasi untuk mencapai tujuannya, melalui suatu
pendekatan yang sistematis dan teratur untuk mengevaluasi dan meningkatkan
efektivitas pengelolaan resiko, pengendalian, dan proses governance.
2. Tugas dan Tanggung Jawab Unit Audit Internal
a.

Menyusun serta melaksanakan rencana Audit Internal.

b.

Menguji dan mengevaluasi pelaksanaan pengendalian interen sesuai dengan


kebijakan perusahaan.

c.

Melakukan pemeriksaan dan penilaian atas efisiensi dan efektivitas di bidang


keuangan, akuntansi, operasional, teknologi informasi dan kegiatan lainnya.

d.

Melakukan pemeriksaan kepatuhan terhadap ketentuan peraturan dan


perundangan-undangan yang terkait.

e.

Mengidentifikasi alternatif perbaikan dan peningkatan efisiensi dan efektivitas


penggunaan sumber daya dan dana.

f.

Memberikan saran perbaikan dan informasi yang obyektif tentang kegiatan


yang diperiksa pada semua tingkat manajemen.

g.

Membuat laporan hasil audit dan menyampaikan laporan tersebut kepada


Direksi dan Komisaris.

h.

Memantau, menganalisis dan melaporkan pelaksanaan tindak lanjut perbaikan


yang telah direkomendasikan.

i.

Mendukung pelaksanaan tugas Komite Audit.

j.

Menyusun program untuk mengevaluasi mutu kegiatan audit internal yang


dilakukannya.

Kode Etik / Komitmen Profesi Akuntan Publik


Sehubungan dengan perkembangan yang terjadi dalam tatanan global dan tuntutan
transparansi dan akuntabilitas yang lebih besar atas penyajian Laporan Keuangan, IAPI
merasa adanya suatu kebutuhan untuk melakukan percepatan atas proses pengembangan
dan pemutakhiran standar profesi yang ada melalui penyerapan Standar Profesi
International. Sebagai langkah awal IAPI telah menetapkan dan menerbitkan Kode Etik
Profesi Akuntan Publik, yang berlaku efektif tanggal 1 Januari 2010. Untuk Standar

Profesional

Akuntan

Publik,

Dewan

Standar

Profesi sedang

dalam

proses

adoption terhadap International Standar on Auditing yang direncanakan akan selesai di


tahun 2010, berlaku efektif 2011.
Kode Etik Profesi Akuntan Publik yang baru saja diterbitkan oleh IAPI menyebutkan 5
prinsip-prinsip dasar etika profesi, yaitu:
1. Prinsip Integritas
Prinsip integritas mewajibkan setiap praktisi untuk tegas, jujur, dan adil dalam
hubungan profesional dan hubungan bisnisnya.Praktisi tidak boleh terkait dengan
laporan, komunikais atau informasi lainnya yang diyakininya terdapat :
a. Kesalahan material atau pernyataan yang menyesatkan;
b. Pernyataan atau informasi yang diberikan secara tidak hati-hati; atau
c. Penghilangan atau penyembunyian yang dapat menyesatkan atas informasi
yang seharusnya diungkapkan.
2. Prinsip Objektivitas
Prinsip objektivitas mengharuskan praktisi untuk tidak membiarkan subjektivitas,
benturan kepentingan atau pengaruh yang tidak layak dari pihak-pihak lain
memengaruhi pertimbangan profesional atau pertimbangan bisnisnya.Praktisi
mungkin dihadapkan pada situasi yang dapat mengurangi objektivitasnya.Karena
beragam situasi tersebut, tidak mungkin untuk mendefinisikan setiap situasi
tersebut.setiap praktisi harus menghindari setiap hubungan yang bersifat subjektif
atau yang dapat mengakibatkan pengaruh yang tidak layak terhadap pertimbangan
profesionalnya.
3. Prinsip Kompetensi serta Sikap Kecermatan dan Kehati-hatian Profesional
Prinsip kompetensi serta sikap kecermatan dan kehati-hatian profesional mewajibkan
setiap praktisi untuk :
a. Memelihara pengetahuan dan keahlian profesional yang dibutuhkan untuk
menjamin pemberian jasa profesional yang kompeten kepada klien atau
pemberi kerja; dan
b. Menggunakan kemahiran profesionalnya dengan saksama sesuai dengan
standar profesi dan kode etik profesi yang berlaku dalam memberikan jasa
profesionalnya.

Pemberian jasa profesional yang kompeten membutuhkan pertimbangan yang


cermat dalam menerapkan pengetahuan dan keahlian profesional. Kompetensi
profesional dapat dibagi menjadi dua tahap yang terpisah sebagai berikut :
a. Pencapaian kompetensi profesional; dan
b. Pemeliharaan kompetensi profesional
Pemeliharaan kompetensi profesional membutuhkan kesadaran pemahaman
yang berkelanjutan terhdap perkembangan teknis profesi dan perkembangan
bisnis yang relevan.Pengembangan dan pendidikan profesional yang
berkelanjutan sangat diperlukan untuk meningkatkan dan memelihara
kemampuan Praktisi agar dapat melaksanakan pekerjaannya secara kompeten
dalam lingkungan profesional.
Sikap kecermatan dan kehati-hatian profesional mengharuskan setiap praktisi
untuk bersikap dan bertindak secara hati-hati, menyeluruh dan tepat waktu
sesuai dengan persyaratan penugasan.
Setiap praktisi harus memastikan tersedianya pelatihan dan penyeliaan yang
tepat bagi mereka yang bekerja di bawah wewenangnya dalam kapasitas
profesional.Praktisi harus menjelaskan keterbatasan jasa profesional yang
diberikan kepada klien, pemberi kerja, atau pengguna jasa profesional lainnya
untuk menghindari terjadinya kesalahtafsiran atas pernyataan pendapat yang
terkait dengan jasa profesional yang diberikan.
4. Prinsip Kerahasiaanan
Prinsip kerahasiaan mewajibkan setiap praktisi untuk tidak melakukan tindakantindakan sebagai berikut :
a. Mengungkapkan informasi yang bersifat rahasia yang diperoleh dari hubungan
profesional dan hubungan bisnis kepada pihak di luar KAP atau jaringan KAP
tempatnya bekerja tanpat adanya wewenang khusus, kecuali jika terdapat
kewajiban untuk mengungkapkannya sesuai dengan ketentuan hukum atau
peraturan lainnya yang berlaku; dan
b. Menggunakan informasi yang bersifat rahasian yang diperoleh dari hubungan
profesional dan hubungan bisnis untuk keuntungan pribadi atau pihak ketiga.

Setiap praktisi harus tetap menjaga prinsip kerahasiaan, termasuk dalam


lingkungan

sosialnya.Setiap

praktisi

harus

waspada

terhadap

kemungkinan

pengungkapan yang tidak disengaja, terutama dalam situasi yang melibatkan

hubungan jangka panjang dengan rekan bisnis maupun anggota keluarga langsung
atau anggota keluarga dekatnya.
Setiap praktisi harus menjaga kerahasiaan informasi yang diungkapkan oleh
calon klien atau pemberi kerja harus mempertimbangkan pentingnya kerahasiaan
informasi terjaga dalam KAP atau jaringan KAP tempatnya bekerja.
Setiap praktisi harus menerapkan semua prosedur yang dianggap perlu untuk
memastikan terlaksananya prinsip kerahasiaan oleh mereka yang bekerja di bawah
wewenangnya, serta pihak lain yang memberkan saran dan bantuan profesionalnya.
Kebutuhan untuk mematuhi prinsip kerahasiaan terus berlanjut, bahkan setelah
berakhirnya hubungan antara praktisi dengan klien atau pemberi kerja.Ketika
berpindah kerja atau memperoleh klien baru, praktisi berhak untuk menggunakan
pengalaman yang diperolehnya sebelumnya. Namun demikian, praktisi tetap tidak
boleh menggunakan atau mengungkapkan setiap informasi yang bersifat rahasia yang
diperoleh sebelumnya dari hubungan profesional atau hubungan bisnis.
Situasi-situasi yang mungkin mengharuskan praktisi untuk mengungkapkan
informasi yang bersifat rahasia atau ketika pengungkapan tersebut dianggap tepat :
a. Pengungkapan yang diperbolehkan oleh hukum dan disetujui oleh klien atau
pemberi kerja;
b. Pengungkapan yang diharuskan oleh hukum, sebagai contoh :
i.

Pengungkapan dokumen atau bukti lainnya dalam sidang pengadilan;


atau

ii.

kepada otoritas publik yang tepat mengenai suatu pelanggaran hukum;


dan

c. Pengungkapan

yang

terkait

dengan

kewajiban

profesional

untuk

mengungkapan, selama tidak dilarang oleh ketentuan hukum :


i.

Dalam mematuhi pelaksanaan penelaahan mutu yang dilakukan oleh


organisasi profesi atau regulator;

ii.

Dalam menjawab pertanyaan atau investigasi yang dilakukan oleh


organisasi profesi atau regulator;

iii.

Dalam melindungi kepentingan profesional praktisi dalam sidang


pengadilan; atau

iv.

Dalam mematuhi standar profesi dan kode etik profesi yang berlaku.

Dalam memutuskan untuk mengungkapkan informasi yang bersifat rahasia,


setiap praktisi harus mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut :
a.

Dirugikan tidaknya kepentingan semua pihak, termasuk pihak ketiga,


jika klien atau pemberi kerja mengizinkan pengungkapan informasi
oleh praktisi;

b.

Diketahui tidaknya dan didukung tidaknya semua informasi yang


relevan. Ketika fakta atau kesimpulan tidak didukung bukti, atau ketika
informasi tidak lengkap, pertimbangan profesional harus digunakan
untuk menentukan jenis pengungkapan yang harus dilakukan; dan

c.

Jenis komunikasi yang diharapkan dan pihak yang dituju. Setiap


praktisi harus memastikan tepat tidaknya pihak yang dituju dalam
komunikasi tersebut.

5. Prinsip Perilaku Profesional


Prinsip perilaku profesional mewajibkan setiap praktisi untuk mematuhi setiap
ketentuan hukum dan peraturan yang berlaku, serta menghindari setiap tindakan yang
dapat mendiskreditkan profesi.Hal ini mencakup setiap tindakan yang dapat
mengakibatkan terciptanya kesimpulan yang negatif oleh pihak ketiga yang rasional
dan memiliki pengetahuan mengenai semua informasi yang relevan, yang dapat
menurunkan reputasi profesi.
Dalam memasarkan dan mempromosikan diri dan pekerjaannya, setiap praktisi
tidak boleh merendahkan martabat profesi. Setiap praktisi harus bersikap jujur dan
tidak boleh bersikap atau melakukan tindakan :
a.

Membuat pernyataan yang berlebihan mengenai jasa profesional yang


dapat diberikan, kualifikasi yang dimiliki atau pengalaman yang telah
diperoleh

b.

Membuat pernyataan yang merendahkan atau melakukan perbandingan


yang tidak didukung bukti terhadap hasil perkerjaan praktisi lain.

DAFTAR PUSTAKA
Ikatan

Akuntan

Indonesia,

Kompartemen

Akuntan

Publik.

STANDAR

PROFESIONAL AKUNTAN PUBLIK.2001 . Salemba Empat


Alvin A. Arens, Randal J. Elder, and Mark S. Beasley. Auditing and Assurance
Services: An Integrated Approach. Pearson Prentice Hall.
William F.Messier, Steven M. Glover, Douglas Prawitt. Jasa Audit dan Assurance :
Pendekatan Sistematis. 2014. Salemba Empat