Anda di halaman 1dari 11

LAPORAN PRAKTIKUM

FARMAKOLOGI II
ANTIKOAGULAN

Oleh:
Srinova Uli Damayanty (1201106)
Kelas: S1-IV B

Dosen :Adriani Susanty, M.Farm, Apt.

Program Studi S1 Farmasi


Sekolah Tinggi Ilmu Farmasi Riau
2014

PERCOBAAN III
ANTIKOAGULAN
1. Tujuan
a. Mengetahui dan memahami mekanisme kerja yang mendasari manifestasi efek
toksisitas antikoagulan dan koagulansia
b. Memahami bahaya penggunaan obat-obatan tersebut diatas dan obat lain yang
berefek pada pembekuan darah

2. Tijauan Pustaka
Antikoagulan adalah zat yang mencegah penggumpalan darah dengan cara
mengikat kalsium atau dengan menghambat pembentukan trombin yang diperlukan
untuk mengkonversi fibrinogen menjadi fibrin dalam proses pembekuan . Jika tes
membutuhkan darah atau plasma, spesimen harus dikumpulkan dalam sebuah tabung
yang berisi antikoagulan. Spesimen-antikoagulan harus dicampur segera setelah
pengambilan spesimen untuk mencegah pembentukan microclot. Pencampuran yang
lembut sangat penting untuk mencegah hemolisis.
Ada berbagai jenis antikoagulan, masing-masing digunakan dalam jenis
pemeriksaan tertentu.

a. EDTA ( ethylenediaminetetraacetic acid, [CH2N(CH2CO2H)2]2 )


Umumnya tersedia dalam bentuk garam sodium (natrium) atau potassium
(kalium), mencegah koagulasi dengan cara mengikat atau mengkhelasi kalsium.
EDTA memiliki keunggulan disbanding dengan antikoagulan yang lain, yaitu
tidak mempengaruhi sel-sel darah, sehingga ideal untuk pengujian hematologi,
seperti pemeriksaan hemoglobin, hematokrit, KED, hitung lekosit, hitung
trombosit, retikulosit, apusan darah, dsb.
K2EDTA biasanya digunakan dengan konsentrasi 1 - 1,5 mg/ml darah.
Penggunaannya harus tepat. Bila jumlah EDTA kurang, darah dapat mengalami
koagulasi. Sebaliknya, bila EDTA kelebihan, eritrosit mengalami krenasi,
trombosit membesar dan mengalami disintegrasi. Setelah darah dimasukkan ke
dalam tabung, segera lakukan pencampuran/homogenisasi dengan cara membolak-

balikkan tabung dengan lembut sebanyak 6 kali untuk menghindari penggumpalan


trombosit dan pembentukan bekuan darah.
Ada tiga macam EDTA, yaitu dinatrium EDTA (Na2EDTA), dipotassium
EDTA (K2EDTA) dan tripotassium EDTA (K3EDTA). Na2EDTA dan K2EDTA
biasanya digunakan dalam bentuk kering, sedangkan K3EDTA biasanya
digunakan dalam bentuk cair. Dari ketiga jenis EDTA tersebut, K2EDTA adalah
yang paling baik dan dianjurkan oleh ICSH (International Council for
Standardization in Hematology) dan CLSI (Clinical and Laboratory Standards
Institute).
Tabung EDTA tersedia dalam bentuk tabung hampa udara (vacutainer
tube) dengan tutup lavender (purple) atau pink seperti yang diproduksi oleh Becton
Dickinson.
b. Trisodium citrate dihidrat (Na3C6H5O7 2 H2O )
Citrat bekerja dengan mengikat atau mengkhelasi kalsium. Trisodium sitrat
dihidrat 3.2% buffered natrium sitrat (109 mmol/L) direkomendasikan untuk
pengujian koagulasi dan agregasi trombosit. Penggunaannya adalah 1 bagian
citrate + 9 bagian darah. Secara komersial, tabung sitrat dapat dijumpai dalam
bentuk tabung hampa udara dengan tutup berwarna biru terang.
Spesimen harus segera dicampur segera setelah pengambilan untuk
mencegah aktivasi proses koagulasi dan pembentukan bekuan darah yang
menyebabkan hasil tidak valid. Pencampuran dilakukan dengan membolakbalikkan tabung sebanyak 4-5 kali secara lembut, karena pencampuran yang terlalu
kuat dan berkali-kali (lebih dari 5 kali) dapat mengaktifkan penggumpalan platelet
dan mempersingkat waktu pembekuan.
Darah sitrat harus segera dicentrifuge selama 15 menit dengan kecepatan
1500 rpm dan dianalisa maksimal 2 jam setelah sampling.
Natrium sitrat konsentrasi 3,8% digunakan untuk pemeriksaan erythrocyte
sedimentation rate (ESR) atau KED/LED cara Westergreen. Penggunaannya
adalah 1 bagian sitrat + 4 bagian darah.

c. Heparin
Antikoagulan ini merupakan asam mukopolisacharida yang bekerja dengan
cara

menghentikan

pembentukan

trombin

dari

prothrombin

sehingga

menghentikan pembentukan fibrin dari fibrinogen. Ada tiga macam heparin:


ammonium heparin, lithium heparin dan sodium heparin. Dari ketiga macam
heparin tersebut, lithium heparin paling banyak digunakan sebagai antikoagulan
karena tidak mengganggu analisa beberapa macam ion dalam darah.
Heparin banyak digunakan pada analisa kimia darah, enzim, kultur sel,
OFT (osmotic fragility test). Konsentrasi dalam penggunaan adalah : 15IU/mL +/2.5IU/mL atau 0.1 0.2 mg/ml darah. Heparin tidak dianjurkan untuk pemeriksaan
apusan darah karena menyebabkan latar belakang biru.
Setelah dimasukkan dalam tabung, spesimen harus segera dihomogenisasi
6 kali dan dicentrifuge 1300-2000 rpm selama 10 menit kemudian plasma siap
dianalisa. Darah heparin harus dianalisa dalam waktu maksimal 2 jam setelah
sampling.

d. Oksalat
Natrium Oksalat (Na2C2O4). Natrium oksalat bekerja dengan cara
mengikat kalsium. Penggunaannya 1 bagian oksalat + 9 bagian darah. Biasanya
digunakan untuk pembuatan adsorb plasma dalam pemeriksaan hemostasis.
Kalium Oksalat NaF. Kombinasi ini digunakan pada pemeriksaan glukosa.
Kalium oksalat berfungsi sebagai antikoagulan dan NaF berfungsi sebagai
antiglikolisis dengan cara menghambat kerja enzim Phosphoenol pyruvate dan
urease sehingga kadar glukosa darah stabil.
Antikoagulan, sering disebut pengencer darah, merupakan pengobatan
yang

memperlambat

pembekuan

darah.

Sebenarnya

obat

ini

bukanlah

mengencerkan darah tapi memperlama waktu yang dibutuhkan agar terbentuk


bekuan darah. Antikoagulan bisa mencegah makin menumpuk dan membesarnya
bekuan darah yang ada. Selain itu obat ini juga bisa mencegah deep vein blood clot
atau mengobati berbagai kondisi tertentu pada pembuluh darah, jantung, atau paru.

Hal-hal yang Bisa di Lakukan Selama Menggunakan Antikoagulan:


Gunakan obat pada waktu yang sama setiap hari.
Konsultasi dengan dokter sebelum menggunakan obat bebas, terutama yang
mengandung aspirin.
Waspada dengan tanda-tanda terjadinya pendarahan, dan segera beritahukan dokter
Anda bila terjadi gejala berikut:

Ditemukan darah dalam urin atau feses

Pendarahan dari hidung dan gusi atau meludah mengeluarkan darah

Pendarahan baru, berlebihan, dan lama dari vagina

Bercak-bercak merah yang sering dan memar parah pada kulit

Bicarakan dengan dokter anda tentang obat yang Anda gunakan untuk
mencari tahu seberapa sering harus melakukan tes darah.

Jika Anda menggunaka ticlopidine, lakukan tes darah untuk mengecek


jumlah sel darah putih selama 3 bulan pertama pengobatan.

Bila Anda menggunakan warfarin (seperti coumadin):

Lakukan tes darah teratur untuk meyakinkan bahwa Anda menggunakan


obat dengan jumlah yang benar.

Makan yang seimbang. Jangan secara mendadak merubah asupan makanan kaya
vitamin K seperti brokoli, asparagus, kol, selada, bayam. Sangat penting menjaga
kadar vitamin K dalam makanan agar tetap konsisten, karena vitamin K bisa
mempengaruhi kerja warfare hingga membuat darah lebih cenderung membeku.
Hindari konsumsi alkohol berlebihan. Alkohol bisa meningkatkan efek warfarin.
Jangan mengonsumsi tembakau jenis apapun. Hindari aktivitas yang berisiko tinggi
mengalami luka seperti ski, sepak bola, atau olah raga lain. Jika menggunakan
warfarin, luka bisa menyebabkan pendarahan berlebihan.

ANTIKOAGULAN
Tromboemboli merupakan salah satu penyebab sakit dan kematian yang banyak
terjadi. Kelainan sering menyertai penyakit lain misalnya gagal jantung, diabetes mellitus,
varises vena dan kerusakan arteri.
Faktor-faktor yang menimbulkan tromboemboli : trauma, kebiasaan merokok,
kehamilan, atau obat-obat yang mengandung estrogen.
Obat yang digunakan untuk mengatasi tromboemboli adalah obat yang
mempengaruhi mekanisme pembekuan darah, yaitu : antikoagulan, antitrombotik, dan
trombolitik.

Pembekuan darah
Proses pembekuan darah berlangsung melalui beberapa tahap:
a. Aktivasi tromboplastin

b. Pembentukan trombin dari protrombin dan


c. Pembentukan fibrin dari fibrinogen.
Dalam proses ini diperlukan factor-faktor pembekuan darah dan dikenal ada 12
faktor pembekuan darah.
Aktivasi tromboplastin, yang akan mengubah protrombin (factor II) menjadi
trombin (factor IIa), melalui 2 mekanisme yaitu mekanisme ekstrinsik dan intrinsic
(gambar).
Pada mekanisme ekstrinsik, tromboplastin jaringan (factor III, berasal dari
jaringan rusak) akan bereaksi dengan factor VII yang dengan adanya kalsium (factor
IV) akan mengaktifkan factor Xa.
Faktor Xa bersama-sama factor V, ion kalsium dan fosfolipid trombosit akan
mengubah protrombin menjadi trombin. Oleh pengaruh trombin, fibrinogen (factor I)
akan diubah menjadi fibrin monomer (factor Ia) yang tidak stabil. Fibrin monomer,
atas pengaruh factor XIIIa akan menjadi stabil dan resisten terhadap enzim proteolitik
seperti plasmin.
Pada mekanisme intrinsik, semua factor yang diperlukan untuk pembekuan
darah berada di dalam darah. Pembekuan dumulai bila factor Hageman (factor XII)
kontak pada suatu permukaan yang bermuatan negatif, seperti kolagen subendotel
pembuluh darah yang rusak. Kontak tersebut menyebabkan factor Hageman lebih peka
terhadap aktivasi oleh kadar kecil kalikrein. Selanjutnya factor XIIa yang terbentuk
akan mengaktivasi prekalikrein dan factor XI. Aktivasi prekalikrein oleh factor XIIa
akan menghasilkan kalikrein yang selanjutnya akan mengaktifkan factor XII
berikutnya. Aktivasi factor XI akan menghasilkan factor XI aktif, yang dengan adanya
ion kalsium akan mengaktifkan factor IX. Kompleks tromboplastin jaringan (factor
III), Ca ++ dan factor VII juga akan mengaktivasi factor IX pada mekanisme instriksik
ini.
Faktor IX aktif bersama-sama factor VIII, ion kalsium dan fosfolipid akan
mengaktifkan factor X. Urutan mekanisme pembekuan darah selanjutnya sama seperti
yang terjadi pada mekanisme ekstrinsik.
Antitrombin III (AT-III), suatu alfa-2 globulin plasma, pada kadar normal dan
ikatannya dengan bentuk aktif factor-faktor pembeku darah dapat mempertahankan
kecairan darah dan mencegah trombosis. Defisiensi AT-III dapat terjadi terjadi secara
heriditer, setelah operasi, sirosis hepatis, sindrom nefrotik, trombosis akut, preparat
kontrasepsi yang mengandung estrogen.

Antikoagulan oral meningkatkan aktivitas AT-III, maka obat ini merupakan obat
terpilih untuk penderita dengan gangguan heriditer tersebut.

Faktor-faktor untuk pembekuan darah :

a. Fibrinogen
b. Protrombin
c. Tromboplastin jaringan
d. Ca ++
e. Faktor labil, Proakselerin, Ac-globulin
f. Faktor stabil, Prokonvertin, Akselerator konversi protrombin serum (SPCA)
g. Globulin antihemofilik (AHG), factor A antihemofilik
h. Faktor Christmas, Komponen tromboplastin plasma (PTC), factor B antihemofilik
i. Faktor Stuart-Prower
j. Anteseden tromboplastin plasma (PTA), Faktor C antihemofilik
k. Faktor Hageman
l. Faktor penstabil fibrin

3. Alat dan Bahan


a. Alat
-

Timbangan hewan

Stopwatch

Alat suntik

Pisan atau gunting operasi

b. Bahan
-

Mencit

NaCl fisiologis

Vit K 1mg/Kg BB

Asetosal 100mg/KgBB

Heparin 1000ui/KgBB

4. Cara Kerja
a. Timbang berat badan mencit
b. Hitung VAO obat yang akan disuntikan kepada mencit

c. Injeksi hewan dengan obat yang ditentukan


d. Setelah 15 m3nit,potonglah ekor mencit dengan alat pemotong yang tajam kirakira 1mm
e. Setelah ekor dipotong, segera ekor dimasukkan dalam air hangat (370C)
f. Catat waktu pendarahan mulai pada saat memotong ekor sampai darah berhenti
mengalir

5. Hasil dan Pembahasan


BB mencit = 37 gram
Obat yang disuntikan Heparim 1000 ui/Kg dengan konsentrasi 100 ui/ml
VAO = BB(kg) x dosis (mg/Kg)
C (mg/ml)
= ,037kg x 1000(ui/Kg)
100 ui/ml
= 0,37 ml

No

Dosis

BB (kg)

VAO (ml)

Bleeding Time

Kontrol NaCl fis

0,043

0,43

3 53

Vit K (1m/Kg)

0,033

0,33

8 57

Vit K (1m/Kg)

0,037

0,37

147

Asetosal (100mg/Kg)

0,035

0,35

4 02

Asetosal (100mg/Kg)

0,038

0,38

6 25

Heparin (1000ui/Kg)

0,037

0,37

10 30

Heparin (1000ui/Kg)

0,028

0,28

1 32

Pembahasan
Antikoagulan adalah zat yang mencegah penggumpalan darah dengan cara
mengikat kalsium atau dengan menghambat pembentukan trombin yang diperlukan
untuk mengkonversi fibrinogen menjadi fibrin dalam proses pembekuan . Jika tes
membutuhkan darah atau plasma, spesimen harus dikumpulkan dalam sebuah tabung
yang berisi antikoagulan.

Pada percobaan ini kami menggunakn mencit dan beberapa dosis obat, yaitu
Vit K, Asetosal dan Heparin . sedangkan untuk control kami menggunakan NaCl
fisiologis yang hanya dilakukan oleh kelompok 1.
Pertama yang kami lakukan adalah menghitung berat badan mencit. Setelah itu
kami menghitung VAO dimana VAO ini bertujuaan untuk berapa ml obat akan kami
berikan. Setelah disuntikan obat selama 15 menit, maka ekor mencit tersebut dipotong
sepanjang 1mm. setelahdipotong, ekor mencit segera kami masukkan dalam air hangat
yang bersuhu 370C. tujuan dimana dimasukkan dalam air hangat adalah untuk
menyamakannya dengan suhu tubuh mencit. Setelah itu mengamati Bledding Time
yaitu dimana darah mulai mengalir sampai darah mulai berhenti, lalu catat waktunya.
Berat badan mencit kelompok kami adalah 37 gram atau ,037 Kg. VAO yang
kami suntikkan adalah 0,37 ml. mencit yang kami suntiikan memiliki efek bledding
time 10 menit 30 detik. Disini kelompok kami yang ,mempunyai waktu yang panjang,
sedangkan kelompok lain harus membutuhkan waktu yang lebih lama untuk melihat
reaksi obat.
Mekanisme heparin adalah meningkatkan aktivitas anti thrombin III yang
menghambat aktivitas pembekuan darh dimana meningkatkan pelepasan protein
spesifik ke dalam darah untuk menghambat pembekuan darah.
Mekanisme asetosal adalah menghambat sintesa tromboxan A-Z didalam
trombosit sedangkan mekanisme vit K sdalah meningkatkan biosintesis factor
pembeku darah yaitu protrombi, prokonvertin.
Faktor-faktor untuk pembekuan darah :
a. Fibrinogen
b. Protrombin
c. Tromboplastin jaringan
d. Ca ++
e. Faktor labil, Proakselerin, Ac-globulin
f. Faktor stabil, Prokonvertin, Akselerator konversi protrombin serum (SPCA)
g. Globulin antihemofilik (AHG), factor A antihemofilik
h. Faktor Christmas, Komponen tromboplastin plasma (PTC), factor B
antihemofilik

i. Faktor Stuart-Prower
j. Anteseden tromboplastin plasma (PTA), Faktor C antihemofilik
k. Faktor Hageman
l. Faktor penstabil fibrin

6. Kesimpulan
a. Antikoagulan adalah zat yang mencegah penggumpalan darah dengan cara
mengikat kalsium atau dengan menghambat pembentukan trombin yang
diperlukan untuk mengkonversi fibrinogen menjadi fibrin dalam proses
pembekuan . Jika tes membutuhkan darah atau plasma, spesimen harus
dikumpulkan dalam sebuah tabung yang berisi antikoagulan.
b. Proses pembekuan darah berlangsung melalui beberapa tahap:
a. Aktivasi tromboplastin
b. Pembentukan trombin dari protrombin dan
c. Pembentukan fibrin dari fibrinogen.
c.

Hal-hal yang Bisa di Lakukan Selama Menggunakan Antikoagulan:


Gunakan obat pada waktu yang sama setiap hari.
Konsultasi dengan dokter sebelum menggunakan obat bebas, terutama yang
mengandung aspirin.
Waspada dengan tanda-tanda terjadinya pendarahan, dan segera beritahukan
dokter Anda bila terjadi gejala berikut:

Ditemukan darah dalam urin atau feses

Pendarahan dari hidung dan gusi atau meludah mengeluarkan darah

Pendarahan baru, berlebihan, dan lama dari vagina

Bercak-bercak merah yang sering dan memar parah pada kulit

Bicarakan dengan dokter anda tentang obat yang Anda gunakan untuk
mencari tahu seberapa sering harus melakukan tes darah.

Jika Anda menggunaka ticlopidine, lakukan tes darah untuk mengecek


jumlah sel darah putih selama 3 bulan pertama pengobatan.

Bila Anda menggunakan warfarin (seperti coumadin):

Lakukan tes darah teratur untuk meyakinkan bahwa Anda menggunakan


obat dengan jumlah yang benar.

Makan yang seimbang. Jangan secara mendadak merubah asupan makanan


kaya vitamin K seperti brokoli, asparagus, kol, selada, bayam. Sangat penting
menjaga kadar vitamin K dalam makanan agar tetap konsisten, karena
vitamin K bisa mempengaruhi kerja warfare hingga membuat darah lebih
cenderung membeku. Hindari konsumsi alkohol berlebihan. Alkohol bisa
meningkatkan efek warfarin. Jangan mengonsumsi tembakau jenis apapun.
Hindari aktivitas yang berisiko tinggi mengalami luka seperti ski, sepak bola,
atau olah raga lain. Jika menggunakan warfarin, luka bisa menyebabkan
pendarahan berlebihan.
d. Obat-obat yang digunakan adalah : NaCl fisiologis
-

Vit K 1mg/Kg BB

Asetosal 100mg/KgBB

Heparin 1000ui/KgBB