Anda di halaman 1dari 6

MODUL 1 ULTRASONOGRAPHY

Amila Sofiah (081117022)


Dosen: Franky Chandra Satria Arisgraha, ST, MT.
Tanggal Percobaan: 24/03/2014
TME304 - Praktikum Instrumentasi Biomedis

Laboratorium Instrumentasi Medik Universitas Airlangga


Abstrak
Percobaan yang dilakukan kali ini adalah mengenai
Ultrasonogrfi (USG), suatu perangkat pencitraan diagnostik
yang memanfaat gelombang ultrasound. USG yang
digunakan adalah USG portabel SONEO FS-906.
Pecobaan ini diawali dengan melakukan pengenalan fungsi
bagian - bagian penting dari USG portabel dan selanjutnya
melakukan percobaan pengukuran dasar berupa pengukuran
jarak (distance), heart rate, perimeter dan area, serta volume.
Dari percobaan ini didapati bahwa USG dapat digunakan
untuk melakukan monitoring secara real-time serta
digunakan untuk melakukan pengukuran seperti jarak,
heart rate, luas, dan juga volume.
.
Kata kunci: gelombang
ultrasonography.
1.

ultasound,

USG,

PENDAHULUAN

Ultrasonografi (USG) merupakan salah satu


imaging diagnostik ( pencitraan diagnostik) untuk
pemeriksaan alat alat dalam tubuh manusia,
diman kita dapat mempelajari bentuk, ukuran
anatomis, gerakan serta hubungan dengan
jaringan sekitarnya. Pada praktikum kali ini ialah
mengenai USG. Tujuan dari percobaan ini ialah
agar
mahasiswa
mampu
mengoperasikan,
menganalisa
rangkaian
instrumentasi
dan
menganalisa troubleshooting USG.

2.

STUDI PUSTAKA

2.1 ULTRASONOGRAFI (USG)

Gambar 2-1 USG portabel

USG atau ultrasonografi adalah suatu teknik


diagnostik
pencitraan
yang
menggunakan
ultrasonik yaitu gelombang suara dengan
frekuensi yang lebih tinggi dari kemampuan
pendengaran manusia. Teknik ini digunakan
untuk mencitrakan organ internal dan otot,
ukuran serta strukturnya. Secara umum kegunaan
USG adalah membantu menegakkan diagnosis
dalam berbagai kelainan organ tubuh.[1]

2.2 TRANSDUSER USG


Transduser adalah komponen USG yang
ditempelkan pada bagian tubuh yang akan
diperiksa seperti dinding dada untuk pemeriksaan
paru atau dinding perut untuk pemeriksaan
kehamilan. Di dalam tranduser terdapat kristal
yang digunakan untuk menangkap gelombang
yang disalurkan oleh transduser. Gelombang
diterima dalam bentuk akuistik (gelombang
pantul) sehingga fungsi kristal disini adalah untuk
mengubah
gelombang
tersebut
menjadi
gelombang elektronik yang dapat dibaca oleh
komputer sehingga dapat diterjemahkan dalam
bentuk gambar.
Ada tiga jenis transduser berdasarkan
bentuknya yang digunakan dalam pemeriksaan
USG.
1. Linear array transducer, bentuk gelombang lurus
dengan frekuensi tinggi 7,5-10 MHz untuk
pemeriksaan organ yang lebih dangkal terutama
struktur dari leher, empiema, efusi peura, massa
pleura atau subpleura.
2. Curved array transducer, bentuk gelombang
melebar dengan frekuensi rendah sehingga
menghasilkan lapangan pandang yang luas dan
lebih dalam. Transducer ini sangat baik digunakan
untuk pemeriksaan paru, efusi pleura, struktur
perut dan gambaran paru dari arah perut.
3. Phased array transducer, bentuk gelombang
paling sempit dan dalam dengan frekuensi 2-5
MHz. Transducer ini paling baik digunakan untuk
pemeriksaan atelektasis paru, komplikasi efusi
Bentuk-bentuk
transduser
dan
arah
gelombang ultrasonik dapat dilihat pada gambar
2- 1.[3]

Laporan Praktikum - Laboratorium Instrumentasi Medik Univ. Airlangga

2. Mode yang dapat digunakan antara lain [M]


dan [BM].

Gambar 2-2 Bentuk bentuk transduser [3]

2.3 CARA KERJA USG


Pemeriksaan USG menggunakan gelombang
suara dengan frekuensi 1-10 MHz. Pilihan
frekuensi menentukan resolusi gambar dan
penembusan ke dalam tubuh pasien. Gelombang
suara frekuensi tinggi tersebut dihasilkan dari
kristal-kristal yang terdapat dalam suatu alat yang
disebut transduser/probe. Perubahan bentuk
akibat gaya mekanis pada kristal akan
menimbulkan tegangan listrik dimana fenomena
ini disebut efek piezoelectric. Bentuk kristal juga
akan berubah bila dipengaruhi oleh medan listrik.
Kristal akan mengembang dan mengkerut sesuai
dengan pola medan listrik yang melaluinya
sehingga dihasilkan gelombang suara frekuensi
tinggi.[1]

3.

METODOLOGI

Pada praktikum kali ini instrumentasi yang


digunakan berupa satu set perangkat USG
(Ultrasonography) SONEO jenis FS906 Portable
Convex/Linear Ultrasound Scanner. Probe yang
digunakan berbentuk convex probe 3,5 MHz. Selain
itu digunakan juga gel elektrolit untuk pembacaan
menggunakan sensor.
Secara garis besar dilakukan 4 macam
percobaan pada praktikum ini, antara lain:

3. Menekan HR, lalu menggerakkan cursor ke titik


awal kemudian tekan STOP/START dan
menggerakkan cursor ke titik akhir yang ingin
diukur hingga muncul tanda + pada lintasan
yang diukur (sebanyak 1 periode). Heart rate yang
diukur akan tampak pada layar monitor sebelah
kanan bawah. Setelah cursor berada di titik akhir
ukur, kembali menekan tombol STOP/START.
4. Mengulangi langkah 3 untuk melakukan
pengukuran heart rate yang baru.
5. Menekan
pengukuran.

CLEAR

saat

menghapus

hasil

c. Pengukuran Perimeter dan Area


1. Mengubah mode dalam kondisi FREEZE.
2. Mode yang dapat digunakan antara lain [B],
[BL], [BR], dan [B/M].
3. Menekan AREA CIRCUM untuk melakukan
pengukuran luas. Meletakkan cursor pada daerah
yang akan diukur dan selanjutnya memilih
diameter elips yang ingin diukur.
4. Menggerakkan cursorI ke titik awal diameter
kemudian menekan STOP/START selanjutnya
menggerrakkan cursor ke titik akhir diameter yang
ingin diukur hingga tampak garis pututs -- pada luasan yang diukur. Untuk mengubah
ukuran elips dapat menggunakan tracking ball.
Luasan yang diukur akan muncul di layar monitor
sebelah kanan bawah. Bila selesai mengukur tekan
kembali tombol STOP/START.

a. Pengukuran Jarak

5. Mengulangi langkah 1-4 untuk melakukan


pengukuran area yang baru.

1. Mode yang dapat digunakan antara lain [B],


[BL], [BR], dan [B/M].

6. Menekan
pengukuran.

2. Menekan DIST saat akan memulai pengukuran,


selanjutnya menggerakkan cursor ke titik awal
kemudian menekan STOP/START, selanjutnya
menggerakkan cursor ke titik akhir yang ingin
diukur hingga muncul tanda + pada lintasan
yang diukur. Jarak yang diukur akan muncul
pada layar monitor (kanan bawah). Setelah cursor
berada di titik akhir ukur, kembali menekan
tombol STOP/START.

d. Pengukuran Volume

3. Mengulangi langkah 2 untuk melakukan


pengukuran yang baru.
4. Menekan
pengukuran.

CLEAR

saat

menghapus

b. Pengukuran Heart Rate

hasil

CLEAR

saat

menghapus

hasil

1. Mengubah mode dalam kondisi FREEZE.


2. Mode yang dapat digunakan antara lain [B],
[BL], [BR], dan [B/M].
3. Menekan VOL untuk memulai pengukuran.
Selanjutnya memilih letak titik sudut yang ingin
diukur. Menghubungkan titik satu dengan lainnya
dengan menggerakkan cursor ke titik awal lalu
menekan STOP/START, lalu menggerakkan
cursor lagi ke titik akhir pengukuran hingga
tampak garis putus-putus ---, setelah itu tekan
STOP/START. Lakukan pengukuran hingga
diperoleh D1, D2, dan D3. Hasil pengukuran akan
tampak pada layar monitor sebelah kanan bawah.

1. Mengubah mode dalam kondisi FREEZE.


Laporan Praktikum - Laboratorium Instrumentasi Medik Univ. Airlangga

4. Mengulangi langkah 1-3 untuk melakukan


pengukuran volume yang baru.
5. Menekan
pengukuran.

4.

CLEAR

saat

menghapus

hasil

HASIL DAN ANALISIS

4.1 ANALISIS RANGKAIAN INSTRUMENTASI


USG

Prinsip pengukuran jarak dilakukan dengan


cara menghitung piksel yang dilalui oleh haris
dari titik awal dan akhir. Setiap piksel
dikonversikan menjadi satuan milimeter sehingga
dapat diketahui jarak dari kedua objek. Berikut
diagram alir permrogramannya.
Input (titik awal dan akhir)

Perhitungan jarak dengan persamaan:


= .
x: konstanta konversi

Output hasil jarak (D)


dalam mm

Gambar 4-2 Diagram pemrograman pengukuran jarak

b. Pengukuran Heart Rate

Gambar 4-1 Diagram instrumentasi USG [2]

Berdasarkan bagan rangkaian instrumentasi


diatas proses dimulai dari perintah yang diberikan
oleh Operation Panel. Perintah diteruskan pada
CPU
untuk
mengontrol
transmisi/receive
gelombang ultrasound. Apabila perintah yang
diberikan adalah untuk melakukan monitoring,
maka Pulse T/R mengirimkan sinyal transmisi
pada probe ultrasound (dalam bentuk sinyal
listrik). Sinyal listrik selanjutnya dikonversikan
menjadi sinyal ultrasound oleh transduser pada
probe ultrasound sehingga dapat dipropagasikan
pada objek. Gelombang ultrasound dipantulkan
kembali oleh objek dan selanjutnya dikonversikan
kembali dalam bentuk sinyal listrik. Sinyal hasil
pantulan ini dikirim kembali ke Pulse T/R dan
dilakukan amplifikasi, kompresi, dan deteksi.
Sinyal hasil deteksi merupakan sinyal analog
sehingga selanjutnya dikonversikan menjadi
sinyal digital oleh DSC (Digital Scan Converter)
sehingga dapat ditulis pada frame memory. Untuk
dapat menampilkan gambar ultrasound pada
layar monitor, sinyal dikonversikan kembali
menjadi sinyal analog oleh DSC. Selain itu DSC
juga bertanggung jawab dalam pemrosesan
gambar seperti freezing, frame averaging, dan
grayscale.

4.2 DIAGRAM
ALIR
PEMROGRAMAN
PENGUKURAN JARAK, HEART RATE,
PERIMETER DAN AREA, VOLUME DENGAN
USG

Pengukuran heart rate pada USG dilakukan


dengan mode freeze (diam) dan dilihat pada posisi
[M] ataupun [BM]. Saat akan mengukur akan
terlihat gambar gantung yang berdetak, ketika di
freeze akan menghasilkan pola gambar gelap
terang yang periodik. Heart rate diukur dengan
memberi tanda garis pada gambar sebesar 1
periode gambar gelap terang. Dengan cara ini kita
dapat mengetahui heart rate karena detak
sebanding dengan piksel gambar. Berikut ini
diagram pemrogramannya.
Input (titik A dan B)
gambar pola gelap-terang dalam
1 periode

Perhitungan jarak dengan persamaan:


HR= .
y: konstanta konversi

Output hasil heart rate (HR)


dalam detak/menit

Gambar 4-3 Diagram pemrograman pengukuran heart rate

c. Pengukuran Perimeter dan Area


USG dapat digunakan untuk mengukur
suatu objek tertentu yang tampak dalam USG.
Pada alat ini luas area yang ingin diukur didekati
dengan bentuk elips. Sehingga meskipun bentuk
luasan objek yang ingin diukur bermacam
macam semua dianggap seragam dengan bentuk
elips. Begitu juga untuk keliling dari objek.
Berikut diagram alir pemrograman perimeter dan
area.

a. Pengukuran Jarak
Laporan Praktikum - Laboratorium Instrumentasi Medik Univ. Airlangga

4.3 ANALISIS GANGGUAN PADA USG


Input (DL dan DS)

Beberapa gangguan dapat terjadi pada saat


pengoperasian USG antara lain bebagai berikut.

Perhitungan luas dengan persamaan:

= .
4

a. Menyalakan tombol power tetapi lampu indikator


off.

Output hasil luas (A)


dalam cms

Hal ini mungkin dapat terjadi karena kabel VCC


atau grounding pada LED indikator tidak
terhubung dengan baik sehingga LED indikator
tidak dapat menyala. Langkah yang dapat
dilakukan ialah dengan mengecek sambungan
kabel pada LED indikator.

Gambar 4-4 Diagram pemrograman pengukuran area

Dimana DL adalah diameter aksis mayor dan DS


adalah diameter aksis minor dalam mm.
Sedangkan untuk pengukuran keliling (C)
menggunakan persamaan berikut.
=

(mm)

b. Menyalakan tombol power, lampu indikator


menyala, tidak muncul citra di layar, probe bekerja
(dengan noise kecil).
Hal ini dapat dimungkinkan terjadi karena ada
permasalahan pada:
- Transmisi dan receive gelombang ultrasound
pada probe

d. Pengukuran Volume
Seperti yang kita ketahui dasar pengukuran
volume adalah kita harus mengetahui minimal 3
buah jarak pada objek. Pada metode pengukuran
yang digunakan pada USG kita harus mengetahui
D1, D2, dan D3 dimana harus diukur dari 2 titik
kiri (L) dan kanan (R). D1 dapat diperoleh dari
titik L dan D2 dari titik R, sedangkan D3 (tinggi)
dapat diperoleh dari L ataupun R. Berikut
ilustrasinya.

- Gel ultrasound yang dipakai pada objek kurang


banyak
Untuk mengatasinya yang dapat kita lakukan
adalah dengan mengganti dengan probe yang
laian serta memperbanyak penggunaan gel
ultrasound pada kulit.
c. Menyalakan tombol power tetapi tampilan citra
tidak jernih.
Hal ini mungkin dapat terjadi karena beberapa hal
antara lain:
- Permasalahan pada probe
Untuk dapat mengatasi hal ini kita harus
mengecek mulai dari sambungan probe, jenis
probe yang digunakan, atau jika perlu mencoba
menggunakan probe yang lain.

Gambar 4-5 Metode pengukuran volume biplanar

Selanjutnya objek pengukuran didekati dengan


bentuk telur seperti gambar di atas. Sehingga
apapun bentuk objek yang ingin diukur
volumenya akan didekati menjadi bentuk telur.
Berikut diagram pemrogramannya.

- Permasalahan pada Pulse T/R dalam rangkaian


Bila hal ini terjadi yang dapat dilakukan adalah
dengan membuka rangkaian dan memperbaiki
bagian Pulse T/R atau melakukan penggantian
komponen.
- Permasalahan pada DSC dalam rangkaian
Bila terjadi permasalahan ini yang dapat
dilakukan adalah membuka rangkaian dan
memperbaiki bagian DSC atau melakukan
penggantian komponen DSC.

Input (D1, D2, dan D3)


dalam mm

Perhitungan volume dengan persamaan:

= 1. 2. 3 . 103
6

d. Menyalakan tombol power, tampilan citra normal


tetapi dengan beberapa interferensi atau tampilan tidak
jelas pada daerah yang dalam.
Hal ini dapat dimungkinkan karena penggunaan
probe dengan frekuensi yang tidak sesuai dengan
kedalaman monitoring. Seperti yang kita ketahui

Output hasil volume (V)


dalam cm3

Gambar 4-6 Diagram pemrograman pengukuran volume


Laporan Praktikum - Laboratorium Instrumentasi Medik Univ. Airlangga

probe dengan frekuensi rendah digunakan untuk


memonitoring objek yang letaknya dalam
(profundus) dan probe dengan frekuensi lebih
tinggi digunakan untuk memonitoring objek yang
lebih luar (superficial)
e. Menyalakan tombol power, citra normal, tapi kipas
tidak bekerja.
Hal ini mungkin dapat terjadi karena kabel supply
untuk kipas tidak terhubung dengan baik
sehingga kipas menjadi tidak bekerja meskipun
USG telah dinyalakan. Langkah yang dapat
dilakukan adalah dengan mengecek kabel
sambungan pada kipas.

5.

KESIMPULAN

Percobaan yang dilakukan kali ini adalah


mengenai Ultrasonografi (USG). Pada USG dapat
dilakukan pengukuran objek berupa jarak, heart
rate, perimeter dan area, serta volume meskipun
pada pengukuran area dan volume masih dinilai
kurang sensitif (karena dilakukan dengan
pendekatan bentuk). Troubleshooting yang dapat
terjadi pada USG dapat dianalisis berdasarkan
diagram rangkaian instrumentasi alat dan
petunjuk dari operator manual alat.

DAFTAR PUSTAKA
[1]

http://prodia.co.id/pemeriksaan - penunjang
/usg, Diakses pada 29 Maret 2014, 21.32.

[2]

Kontron Medical, Soneo Portable B&W


Ultrasound System Operator Manual, Kontron
Medical, France, 2005.

[3]

Lyanda, Apri., dkk, Ultrasonografi Toraks, J


Respir Indo Vol. 31, No. 1, Januari 2011.

[4]

World Heath Organitation, Manual of


Diagnostic Ultrasound, volume 1 2nd edition.
Gutenberg Press Ltd, Malta, 2011.

Laporan Praktikum - Laboratorium Instrumentasi Medik Univ. Airlangga

LAMPIRAN

Gambar : Perangkat USG portabel

Gambar : Perangkat USG portabel (tampak belakang)

Gambar : Perangkat USG portabel (patera probe)

Gambar : Perangkat USG portabel (tampak depan)

Laporan Praktikum - Laboratorium Instrumentasi Medik Univ. Airlangga

Anda mungkin juga menyukai