Anda di halaman 1dari 16

BAB 1

Pendahuluan
1.1

Latar Belakang
Air merupakan kebutuhan utama bagi seluruh makhuk hidup di bumi.
Manusia membutuhkan air untuk digunakan dalam berbagai kebutuhan
seperti halnya, minum, mandi, memasak, mencuci, industry, pertanian, dan
masih banyak lainnya. Bagi hewan air digunakan untuk meminum, dan bagi
tumbuhan air dugunakan untuk mengangkut zat-zat makanan keseluruh
tubuh tumbuhan. Air kemudian digunakan untuk mendukung proses
fotosintesis yang mana hasil fotosintesis itu sendiri sangat dibutuhkan
seluruh makhluk hidup di bumi.
Pentingnya peranan air bagi seluruh makhluk di bumi. Namun,
berbagai macam aktivitas manusia yang mempengaruhi ketersediaan air
bersih itu sendiri. Antara lain, pabrik, pertanian, rumah sakit, dan limbah
rumah tangga yang dibuang langsung ke sungai. Hal tersebut tentunya
menyebabkan keberadaan air bersih semakin terancam. Kriteria air bersih
yaitu tidak berwarna, tidak berbau, dan tidak mempunyai rasa.
Menurunnya kualitas air yang disebabkan oleh aktivitas manusia,
tentunya menuntut kita semua untuk lebih arif lagi dalam menjaga air dan
kelestarian bumi.

Alam telah menyediakan air yang dibutuhkan oleh

makhluk hidup dan mampu mendaur ulang. Akan tetapi, penurunan kualitas
semakin hari semakin luas. Tidak hanya di perkotaan, namun juga mulai
merambat ke pedesaan. Penurunan kualitas air dikarenakan aktivitas dan
jumlah manusia yang semakin bertambah sehingga jumlah air bersih yang
dibutuhkan pun semakin meningkat. Secara global, kuantitas sumber daya
tanah dan air relative tetap, sedangkan kualitasnya semakin hari semakin
menurun. Oleh karena itu manusia harus mengupayakan untuk melakukan
proses penjernihan dan pengolahan air yang dapat menghasilkan air yang
dapat digunakan kembali oleh semua makhluk hidup.
Air Sungai adalah aliran air yang besar dan memanjang yang mengalir
secara terus-menerus dari hulu (sumber) menuju hilir (muara). Pada

beberapa kasus, sebuah sungai secara sederhana mengalir meresap ke dalam


tanah sebelum menemukan badan air lainnya.
Maka dari itu, kami melakukan proses penjernihan air dalam hal ini
merupakan air sungai. Kelompok kami melakukan percobaan penjernihan
air dengan metode filtrasi dan arang aktif .

1.2

Rumusan Masalah
a. Bagaimana standar kualitas air murni?
b. Teknik-teknik apa saja yang digunakan dalam proses penjernihan air
sungai?
c. Bagaimana proses penjernihan air dengan metode filtrasi dan arang
aktif?

1.3

Tujuan
a. Mengetahui standar kualitas air murni
b. Mengetahui teknik penjernihan air sungai
c. Mengetahui proses penjernihan air sungai dengan metode filtrasi

1.4

Manfaat Praktikum
a.

Dapat mengetahui cara penjernihan air menggunakan metode filtrasi


dan karbon aktif

b.

Mendapatkan alternative pengolahan air yang dapat dilakukan oleh


skala rumah tangga dan tanpa menggunakan bahan kimia.

BAB 2
Pembahasan
2.1

Standar Kualitas Air Murni


Dalam pengolahan air limbah industri dikenal 3 parameter utama
yaitu: (1) Oksigen terlarut (OT) atau Dissolved Oxygen (DO), (2)
Kebutuhan Oksigen Biologis (KOB) atau Biologycal Oxygen Demand
(BOD) dan (3) Kebutuhan Oksigen Kimia (KOK) atau Chemical Oxygen
Demand (COD).
a. Oksigen terlarut (OT) atau Dissolved Oxygen (DO)
Oksigen merupakan parameter yang sangat penting dalam air.Sebagian
besar

makhluk

hidup

dalam

air

membutuhkan

oksigen

untuk

mempertahankan hidupnya, baik tanaman maupun hewan air, bergantung


kepada oksigen yang terlarut. Ikan merupakan makhluk air dengan
kebutuhan oksigen tertinggi, kemudian invertebrata, dan yang terkecil
kebutuhan oksigennya adalah bakteri.
Keseimbangan oksigen terlarut (OT) dalam air secara alamiah terjadi
secara bekesinambungan. Mikoorganisme sebagai makhluk terkecil dalam
air , untuk pertumbuhannya membutuhkan sumber energi yaitu unsur
karbon (C) yang dapat diperoleh dari bahan organik yang berasal dari
tanaman, ganggang yang mati, maupun oksigen dari udara.
Bahan organik tersebut oleh mikroorganisme akan duraikan menadi
karbon dioksida (CO2) dan air (H2O). CO2 selanjutnya dimanfaatkan oleh
tanaman dalam air untuk proses fotosintesis membentuk oksigen, dan
seterusnya. Oksigen yang dimanfaatkan untuk proses penguraian bahan
organik tersebut akan diganti oleh oksigen yang masuk dari udara maupun
dari sumber lainnya secepat habisnya oksigen terlarut yang digunakan oleh
bakteri atau dengan kata lain oksigen yang diambil oleh biota air selalu
setimbang dengan oksigen yang masuk dari udara maupun dari hasil
fotosintesa tanaman air.
Apabila pada suatu saat bahan organik dalam air menjadi berlebih
sebagai akibat masuknya limbah aktivitas manusia (seperti limbah organik
dari industri), yang berarti suplai karbon (C) melimpah, menyebabkan
3

kecepatan pertumbuhan mikroorganisme akan berlipat ganda, yang berati


juga meningkatnya kebutuhan oksigen, sementara suplai oksigen dari
udara jumlahnya tetap. Pada kondisi seperti ini, kesetimbangan antara
oksigen yang masuk ke air dengan yang dimanfaatkan oleh biota air tidak
setimbang, akibatnya terjadi defisit oksigen terlarut dalam air .
Bila penurunan oksigen terlarut tetap berlanjut hingga nol, biota air
yang membutuhkan oksigen (aerobik) akan mati, dan digantikan dengan
tumbuhnya mikroba yang tidak membutuhkan oksigen atau mikroba
anerobik. Sama halnya dengan mikroba aerobik, mikroba anaerobik juga
akan memanfatkan karbon dari bahan organik. Dari respirasi anaerobik ini
terbentuk gas metana (CH4) disamping terbentuk gas asam sulfida (H2S)
yang berbau busuk.
b. BOD dan COD
Untuk menentukan tingkat penurunan kualitas air dapat dilihat dari
penurunan kadar oksigen terlatut (OT) sebagai akibat masuknya bahan
organik dari luar, umumnya digunakan uji BOD dan atau COD.
Biological Oxygen Demand (BOD) atau kebutuhan oksigen biologis
(KOB) menunjukkan jumlah oksigen terlarut yang dibutuhkan oleh
mikroorganisme hidup untuk memecah atau mengoksidasi bahan organik
dalam air. Oleh karena itu, nilai BOD bukanlah merupakan nilai yang
menujukkan jumlah atau kadar bahan organik dalam air, tetapi mengukur
secara relative jumlah oksigen yang dibutuhkan oleh mikroorganisme
untuk mengoksidasi atau menguraikan bahan-bahan organik tersebut.
BOD tinggi menunjukkan bahwa jumlah oksigen yang dibutuhkan oleh
mikroorganisme untuk mengoksidasi bahan organik dalam air tersebut
tinggi, berarti dalam air sudah terjadi defisit oksigen. Banyaknya
mikroorganisme yang tumbuh dalam air disebabkan banyaknya makanan
yang tersedia (bahan organik), oleh karena itu secara tidak langsung BOD
selalu

dikaitkan

dengan

kadar

bahan

organik

dalam

air.

BOD5 merupakan penentuan kadar BOD baku yaitu pengukuran jumlah


oksigen yang dihabiskan dalam waktu lima hari oleh mikroorganisme

pengurai secara aerobic dalam suatu volume air pada suhu 20 derajat
Celcius.
BOD5 500mg/liter (atau ppm) berarti 500 mgram oksigen akan
dihabiskan oleh mikroorganisme dalam satu liter contoh air selama waktu
lima hari pada suhu 20 derajat Celcius.Beberapa dasar yang sering
digunakan untuk menentukan kualitas air dilihat dari kadar BOD adalah:
Erat kaitannya dengan BOD adalah COD. Dalam bahan buangan, tidak
semua bahan kimia organik dapat diuraikan oleh mikroorganisme secara
cepat.
Bahan organik dalam air bersifat:
a)

Dapat diuraikan oleh bakteri (biodegradasi) dalam waktu lima hari

b)

Bahan organik yang tidak teruraikan oleh bakteri dalam waktu lima

hari
c)

Bahan organik yang tidak mengalami biodegradasi

Uji COD ini meliputi semua bahan organik di atas, baik yang dapat
diuraikan oleh mikroorganisme maupun yang tidak dapat diuraikan. Oleh
karena itu hasil uji COD akan lebih tinggi dari hasil uji BOD. Dari segi
kualitas air minum harus memenuhi :
a)

b)

Syarat fisik seperti :


1)

Tidak boleh berwarna, berasa dan berbau

2)

Suhu air hendaknya pada suhu sejuk kurang dari 25oC

3)

Harus jernih

Syarat kimia : air minum tidak boleh mengandung racun, zat-zat

mineral atau zat- zat kimia tertentu dalam jumlah yang melampaui batas
yang telah ditentukan.
2.2 Teknik-Teknik Penjernihan Air Sungai

Proses Penjernihan air bertujuan untuk menghilangkan zat


pengotor atau untuk memperoleh air yang kualitasnya memenuhi standar
persyaratan

kualitas

air

seperti

menghilangkan

gas-gas

terlarut,

menghilangkan rasa yang tidak enak, membasmi bakteri patogen yang


sangat berbahaya, mengelolah agar air dapat digunakan untuk rumah
5

tangga dan industry, memperkecil sifat air yang menyebabkan terjadinya


endapan dan korosif pada pipa atau saluran air lainnya.
Ada berbagai macam cara sederhana yang dapat kita gunakan
untukmenjernihkan air sungai , dan cara yang paling mudah dan paling
umum digunakan adalah dengan membuat saringan air sederhana.
Metode penjernihan dengan penyaringan:
a.

Saringan Kain Katun.


Pembuatan saringan air dengan menggunakan kain katun
merupakan teknik penyaringan yang paling sederhana / mudah.
Air keruh disaring dengan menggunakan kain katun yang bersih.
Saringan ini dapat membersihkan air dari kotoran dan organisme
kecil yang ada dalam air keruh. Air hasil saringan tergantung
pada ketebalan dan kerapatan kain yang digunakan.

b.

Saringan Kapas
Teknik saringan air ini dapat memberikan hasil yang lebih
baik dari teknik sebelumnya. Seperti halnya penyaringan dengan
kain katun, penyaringan dengan kapas juga dapat membersihkan
air dari kotoran dan organisme kecil yang ada dalam air keruh.
Hasil saringan juga tergantung pada ketebalan dan kerapatan
kapas yang digunakan.

c.

Aerasi
Aerasi merupakan proses penjernihan dengan cara
mengisikan oksigen ke dalam air. Dengan diisikannya oksigen
ke dalam air maka zat-zat seperti karbon dioksida serta hidrogen
sulfida dan metana yang mempengaruhi rasa dan bau dari air
dapat dikurangi atau dihilangkan. Selain itu partikel mineral
yang terlarut dalam air seperti besi dan mangan akan teroksidasi
dan secara cepat akan membentuk lapisan endapan yang
nantinya dapat dihilangkan melalui proses sedimentasi atau
filtrasi.

d.

Saringan Pasir Lambat (SPL)

Saringan pasir lambat merupakan saringan air yang dibuat


dengan menggunakan lapisan pasir pada bagian atas dan kerikil
pada bagian bawah. Air bersih didapatkan dengan jalan
menyaring air baku melewati lapisan pasir terlebih dahulu baru
kemudian melewati lapisan kerikil.
e.

Saringan Pasir Cepat (SPC)


Saringan pasir cepat seperti halnya saringan pasir lambat,
terdiri atas lapisan pasir pada bagian atas dan kerikil pada
bagian bawah. Tetapi arah penyaringan air terbalik bila
dibandingkan dengan Saringan Pasir Lambat, yakni dari bawah
ke atas (up flow). Air bersih didapatkan dengan jalan menyaring
air baku melewati lapisan kerikil terlebih dahulu baru kemudian
melewati lapisan pasir.

f.

Gravity-Fed Filtering System


Gravity-Fed Filtering System merupakan gabungan dari
Saringan Pasir Cepat(SPC) dan Saringan Pasir Lambat(SPL).
Air bersih dihasilkan melalui dua tahap. Pertama-tama air
disaring menggunakan Saringan Pasir Cepat(SPC). Air hasil
penyaringan tersebut dan kemudian hasilnya disaring kembali
menggunakan Saringan Pasir Lambat. Dengan dua kali
penyaringan tersebut diharapkan kualitas air bersih yang
dihasilkan tersebut dapat lebih baik. Untuk mengantisipasi debit
air hasil penyaringan yang keluar dari Saringan Pasir Cepat,
dapat digunakan beberapa / multi Saringan Pasir Lambat.

g.

Saringan Arang
Saringan arang dapat dikatakan sebagai saringan pasir
arang dengan tambahan satu buah lapisan arang. Lapisan arang
ini sangat efektif dalam menghilangkan bau dan rasa yang ada
pada air baku. Arang yang digunakan dapat berupa arang kayu
atau arang batok kelapa. Untuk hasil yang lebih baik dapat
digunakan arang aktif.

h.

Saringan air sederhana / tradisional


7

Saringan air sederhana/tradisional merupakan modifikasi


dari saringan pasir arang dan saringan pasir lambat. Pada
saringan tradisional ini selain menggunakan pasir, kerikil, batu
dan arang juga ditambah satu buah lapisan injuk / ijuk yang
berasal dari sabut kelapa.
i.

Saringan Keramik
Saringan keramik dapat disimpan dalam jangka waktu
yang lama sehingga dapat dipersiapkan dan digunakan untuk
keadaan

darurat.

Air

bersih

didapatkan

dengan

jalan

penyaringan melalui elemen filter keramik. Beberapa filter


kramik menggunakan campuran perak yang berfungsi sebagai
disinfektan dan membunuh bakteri. Ketika proses penyaringan,
kotoran yang ada dalam air baku akan tertahan dan lama
kelamaan akan menumpuk dan menyumbat permukaan filter.
Sehingga untuk mencegah penyumbatan yang terlalu sering
maka air baku yang dimasukkan jangan terlalu keruh atau kotor.
Untuk perawatan saringn keramik ini dapat dilakukan dengan
cara menyikat filter keramik tersebut pada air yang mengalir.
j.

Saringan Cadas / Jempeng / Lumpang Batu


Saringan cadas atau jempeng ini mirip dengan saringan
keramik. Air disaring dengan menggunakan pori-pori dari batu
cadas. Saringan ini umum digunakan oleh masyarakat desa
Kerobokan, Bali. Saringan tersebut digunakan untuk menyaring
air yang berasal dari sumur gali ataupun dari saluran irigasi
sawah. Seperti halnya saringan keramik, kecepatan air hasil
saringan dari jempeng relatif rendah bila dibandingkan dengan
SPL terlebih lagi SPC.

k.

Saringan Tanah Liat.


Kendi atau belanga dari tanah liat yang dibakar terlebih
dahulu dibentuk khusus pada bagian bawahnya agar air bersih
dapat keluar dari pori-pori pada bagian dasarnya .

Metode pengendapan :
8

a.

Biji kelor
Biji buah kelor (Moringan oleifera) mengandung zat aktif
rhamnosyloxy-benzil-isothiocyanate, yang mampu mengadopsi
dan menetralisir partikel-partikel lumpur serta logam yang
terkandung dalam air limbah suspensi, dengan partikel kotoran
melayang di dalam air. Penemuan yang telah dikembangkan
sejak tahun 1986 di negeri Sudan untuk menjernihkan air dari
anak Sungai Nil dan tampungan air hujan ini di masa datang
dapat dikembangkan sebagai penjernih air Sungai Mahakam dan
hasilnya dapat dimanfaatkan PDAM setempat.Serbuk biji buah
kelor ternyata cukup ampuh menurunkan dan mengendapkan
kandungan unsur logam berat yang cukup tinggi dalam air,
sehingga air tersebut memenuhi standar baku air minum dan air
bersih.

b. Saringan Tanah Liat.


Berfungsi untuk memisahkan dan mengendapkan kotoran
dalam air. Lama pengendapan berkisar selama 12 jam. Fungsi
tawas hanya untuk pengendapan, tidak berfungsi untuk
membunuh kuman dan menaikkan pH dalam air.
c. Kaporit
Berfungsi untuk membunuh bakteri, kuman dan virus
dalam air. Dan juga menaikkan pH dalam air. Membutuhkan
proses yang lama untuk mengendap.
d. Kapur Gamping
Berfungsi untuk pengendapan namun membutuhkan waktu
hingga 24 jam. Juga berfungsi untuk menaikkan pH air tetepi
tidak berfungsi untuk membunuh kuman, virus dan bakteri.
e. Arang batok kelapa
Berfungsi untuk menghilangkan bau, rasa tidak enak dalam air
dan juga menjernihkan.
2.3 Proses Penjernihan Air Dengan Metode Filtrasi dan Arang Aktif
a. Proses Penyaringan (Filtrasi)
9

Proses penyaringan dilakukan untuk menghilangkan zat padat


tersuspensi dalam air melalui media berpori. Zat padat tersuspensi
dihilangkan pada waktu air melalui lapisan media filter. Proses filtrasi
tergantung pada gabungan mekanisme kimia dan fisika yang kompleks
dan yang terpenting adalah adsorbsi. pada waktu air melalui lapisan
filter, zat padat terlarut bersentuhan dan melekat pada butiran Gumpalan
partikel atau flok yang terjadi tidak semuanya dapat mengendap. Flokflok yang relative kecil atau halus masih melayang-layang dalam air.
Oleh karena itu, untuk mendapatkan air yang betul-betul jernih harus
dilakukan penyaringan atau filtrasi.
b. Karbon/Arang Aktif
Karbon Aktif atau Arang Aktif merupakan suatu padatan berpori
yang mengandung 85-95% karbon, dihasilkan dari bahan-bahan yang
mengandung karbon dengan pemanasan pada suhu tinggi. Daya serap
karbon aktif ditentukan oleh luas permukaan partikel dan kemampuan ini
dapat menjadi lebih tinggi jika terhadap arang tersebut dilakukan aktifasi
dengan bahan-bahan kimia ataupun dengan pemanasan pada temperatur
tinggi.
Karbon Aktif (arang aktif) adalah jenis karbon yang memiliki luas
permukaan yang sangat besar.Satu gram karbon aktif setara dengan suatu
material yang memiliki luas permukaan 500-1500 m2. Aktivasi karbon
menjadi karbon aktif juga dimaksudkan untuk meningkatkan kemampuan
adsorpsi. Karbon aktif banyak digunakan untuk menghilangkan kontaminan
astetik, sedikit efektif menghilangkan beberapa kontaminan dari senyawa
volatile (seperti benzene, trichloroethylene) juga kontaminan berbasis
petroleum. Karbon aktif yang bersifat molekular, juga mampu menyerap
molekul organik dengan baik.
Karbon aktif dipakai dalam proses pemurnian udara, gas dan larutan
atau cairan, dalam proses recovery suatu logam dari biji logamnya, dan juga
dipakai sebagai support katalis. Dipakai juga dalam pemurnian gas dan
udara, safety mask dan respirator, seragam militer, adsorbent foams, industri
nuklir, electroplating solutions; deklorinasi, penyerap rasa dan bau dari air,
10

aquarium, cigarette filter, dan juga penghilang senyawa-senyawa organik


dalam air. Sesuai dengan salah satu fungsi di atas, maka karbon aktif juga
dipakai di Unit CO2 Removal pada Pabrik Ammonia.
Di Jepang dikenal arang binchotan yang berasal dari kayu kishu
binchotan. Arang binchotan dibuat pada suhu yang sangat tinggi dan
mempunyai efek alkali. Cocok untuk menjernihkan air minum karena
melepaskan klorin dan zat-zat berbahaya lainnya. Arang ini tetap keras di
dalam air, saking kerasnya tidak melepaskan bubuk apapun. Kalau
memasukkan 50 sampai 60 gram arang ini ke dalam satu liter air ledeng,
berarti Anda menambah kandungan mineral dan membuatnya lebih basa,
menjadikan air minum yang baik. Arang yang digunakan untuk penjernih
air, dicuci dulu lalu disteril dalam air mendidih, kemudian dikeringkan
dibawah matahari.
Sedangkan konsentrasi arang aktif terbaik sebagai adsorben pada
pengolahan air limbah rumah tangga adalah 1 % karena dapat menurunkan
Kebutuhan Oksigen Biologis sebesar 98,03 %; zat padat total 97,66 %;
minyak dan lemak 76,92 %. Sedangkan nilai pH terjadi peningkatan sebesar
6,15 %. Untuk pengolahan air limbah rumah sakit dengan konsentrasi arang
aktif 2 % karena dapat menurunkan nilai pH 17,50 %; zat padat total 93,06
%; ammonia 76,09 %, phosphat 33,06 % dan bakteri koli 90 %. Sedangkan
Kebutuhan Oksigen Biologis dan Kebutuhan Oksigen Kimia mengalami
peningkatan masing-masing sebesar 330,79 % dan 135,91 %. Konsentrasi
arang aktif terbaik sebagai adsorben pada pengolahan air limbah industri
pelapisan nikel adalah 2 %, karena mampu menurunkan kadar zat padat total
84,72 %; Cr 39,50 %; Cu 66,67 %; Zn 91,50 %; Ni 73,75 % dan Cd 71,43
%. Nilai pH mengalami peningkatan 242,84 % dan kadar Pb tetap
(Rumidatul, 2006).
c. Standar Tingkat Kekeruhan Air
Standar air bersih dan air minum diatur oleh Permenkes No.
416/MEN.KES/PER/IX/1990 Tentang Syarat-syarat Dan Pengawasan
Kualitas Air. Di mana pada peraturan ini disebutkan bahwa pada syarat
kualitas air bersih tingkat kekeruhan yang diperbolehkan adalah maksimal
11

sebesar 25 NTU, sedangkan pada syarat kualitas air minum tingkat


kekeruhan yang diperbolehkan adalah maksimal sebesar 5 NTU.
Peraturan Pemerintah No. 20 Tahun 1990 Tentang Pengendalian
Pencemaran Air, pada daftar kriteria kualitas air Golongan A yaitu air yang
dapat digunakan sebagai air minum secara langsung tanpa pengolahan.
d. Metode Penjernihan air dengan filtrasi dan arang aktif
a). Titik Pengambilan Sampel
Pengambilan sampel air sungai di lakukan pada bagian sungai
dimana air dan semua partikel dalam sungai sudah tercampur sempurna,
biasanya pada bagian hulu sungai.
b). Rancang Bangun Alat

Adapun kegunaan dari bahan-bahan tersebut ialah:


1. Ijuk digunakan karena dapat menyerap endapan-endapan air yang
belum mengendap pada bak pengendap, yang membuat warna air
keruh dan kita bisa melihat endapan-endapan tersebut yang
menempel pada ijuk berupa warna endapan
2. Pasir halus untuk menyaring partikel koloid terlarut seperti lumpur
yang belum tersaring oleh ijuk

12

3. Batu-batu atau kerikil berfungsi untuk menyaring material-material


yang berukuran besar, contoh: daun-daun yang berada di sungai,
lumut, ganggang dll
4. Arang

aktif

ataupun

batu

bata

berfungsi

untuk

menyaring/menghilangkan bau, warna, zat pencemar dalam air,


sebagai pelindung dan penukaran resin dalam alat/penyulingan
air.
c). Alat dan Bahan
Alat :
1.

Drum/kuali plastic ukuran sedang 1 buah

2.

Kran air 1 buah

3.

Jaring Kasa

4.

Pipa

5.

Ember kecil 2 buah

Bahan:
1. Air Sungai
2. Kerikil
3. Pasir halus
4. Ijuk
5. Arang aktif ( tempurung kelapa)
6. Batu
d). Cara Kerja
1.

Ukur tingkat kekeruhan air sungai menggunakan alat turbidimeter


terlebih dahulu.

2.

Masukkan sumber air sungai kedalam bak pengendap

3.

Diamkan selama 24 jam,agar semua kotoran pada air sungai


mengendap

4.

Kemudian dialirkan ke alat penjernih utama yaitu alat


filtrasi.Disini air sungai mengalami beberapa kali tahap filtrasi.

5.

Air yang sudah di filtrasi di tampung

6.

Di ukur lagi kekeruhannya dengan turbidimeter

13

Bab 3
Kesimpulan dan Saran

5.1

Kesimpulan

14

Air merupakan kebutuhan utama bagi seluruh makhuk hidup di bumi.


Oleh karena itu manusia harus mengupayakan untuk melakukan proses
penjernihan dan pengolahan air yang dapat menghasilkan air yang dapat
digunakan kembali oleh semua makhluk hidup.
Metode penjernihan air merupakan suatu usaha yang dilakukan agar
air yang tadinya kurang bermanfaat karena konsistensi yang terkandung
didalamnya menjadi air yang bisa dimanfaatkan untuk segala kebutuhan.
Dalam praktikum ini, penjernihan dilakukan pada air sungai.
5.2

Saran
Air sungai awal yang belum diberi perlakuan dilihat dari tingkat
kekeruhannya sudah memenuhi syarat air bersih. Dan setelah diberi
perlakuan dapat menurunkan tinggat kekeruhan air tersebut. Maka dari itu,
perlu dilakukan penelitian lebih jauh mengenai suhu, warna dan berbagai
faktor pendukung air bersih lainnya. Sehingga air tersebut dapat digunakan
sebagai alternative air bersih yang dapat dimanfaatkan bagi lingkungan.

15

Daftar Pustaka

Suara Merdeka, 2009, Manfaat Menakjubkan dari Arang Kayu, idrap.or.id,


viewed 3 March 2013, http://www.idrap.or.id/news/detailArtikel.php?ID=35
Fauzi, Christian, & Herdiana, 2011, Program Kreativitas Mahasiswa:
Pengolahan Air Limbah Domestik dengan Metode Biology Irigation
Memanfaatkan Eceng Gondok Eicchornia Crassipes (Mart) Solms. di Bak
Penampungan Sebagai Penyerap Polutan untuk Mengurangi Limbah
Organik dan An-Organik, IPB, Bogor
Pararaja, Arif, 2008, Bahan Penjernih Air (Koagulan), wordpress.com, viewed 12
March
2013,
http://smk3ae.wordpress.com/2008/08/05/bahan-kimiapenjernih-air-koagulan/
PERATURAN MENTERI KESEHATAN Nomor : 416/MEN.KES/PER/IX/1990
Tentang Syarat-syarat Dan Pengawasan Kualitas Air
Peraturan Pemerintah No. 20 Tahun 1990 Tentang : Pengendalian Pencemaran Air
Rumidatul, Alfi, 2006, Efektivitas Arang Aktif Sebagai Adsoben Pada Pengolahan
Air Limbah, IPB, Bogor
Said, Nusa Idaman & Widayat, Wahyu, 2009, Teknologi Pengolahan Air Gambut
Sederhana
Sari, Ratih Nurmala, 2005, Peranan Eceng Gondok (Eichhornia crassipes (Mart.)
Solms) dan Kayu Apu (Pistia stratoites L.) pada Peningkatan Kualitas Air
Sungai yang Mengandung Bahan Pencemar Detergen dan Pupuk Nitrogen
Worotitjan, Jonathan, 2012, Danau Tondano dan Perjuangan, blogspot.com,
viewed 3 March 2013, http://nathanworotitjan.blogspot.com/2012/09/danautondano-dan-perjuangan.html

16