Anda di halaman 1dari 20

MAKALAH PSIKOLOGI

PERUBAHAN PSIKOLOGIS AKIBAT SAKIT DAN DIRAWAT


DI RUMAH SAKIT

Pembimbing :
Moh. Saifudin S.Kep., Ns., S.Psi., M.Kes

Nama Kelompok I :
III C-Keperawatan
1. Anisah Mualifah

(13.02.01.1280)

2. Ayu Widyawati

(13.02.01.1284)

3. Emilda Khulyatin

(13.02.01.1291)

4. Ika Fitriyah Ningsih

(13.02.01.1297)

5. Miftakhul Khoiriyah

(13.02.01.1307)

6. M. Febri Irawan

(13.02.01.1309)

7. Nurul Fitriyah

(13.02.01.1313)

8. Sunday Fina Izzatti

(13.02.01.1319)

9. Suprapto

(13.02.01.1320)

S1-KEPERAWATAN
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN (STIKES)
MUHAMMADIYAH LAMONGAN
TAHUN 2014-2015

KATA PENGANTAR
Assalamualaikum Wr. Wb.
Puji syukur kehadirat Allah SWT, yang telah memberikan rahmatNya kepada kita
semua, terutama kepada penulis, sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah yang
berjudul Perubahan psikologis akibat sakit dan dirawat di rumah sakit dengan tepat waktu.
Shalawat serta salam semoga tetap tercurahkan kepada Nabi Muhammad SAW, yang
telah membimbing semua umatnya dari zaman kebodohan menuju zaman yang dipenuhi ilmu
yang bermanfaat seperti sekarang ini.
Dengan selesainya makalah ini, penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada :
1. Bpk. Drs. H. Budi Utomo, Amd.Kep., M.Kes, selaku ketua STIKES Muhammadiyah
Lamongan.
2. Bpk. Arifal Aris, S. Kep. Ns, M.Kes selaku ketua prodi S1 Keperawatan STIKES
Muhammadiyah Lamongan
3. Bpk. Moh. Saifudin S.Kep., Ns., S.Psi., M.Kes, selaku pembimbing dan dosen mata
kuliah Psikologi.
4. Serta pihak yang telah memberikan masukan kepada kelompok I.
Penulis sangat bersyukur akan terselesaianya makalah ini. Semoga makalah ini
bermanfaat bagi semua, terutama bagi penulis sendiri. Amin

Wassalamu,alaikum Wr. Wb

Penyusun

Kelompok I

ii

DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ................................................................................................ i
KATA PENGANTAR ............................................................................................... ii
DAFTAR ISI.............................................................................................................. iii
BAB 1 PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ......................................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah .................................................................................... 1
1.3 Tujuan ..................................................................................................... 2
1.4 Manfaat ..................................................................................................... 2
BAB 2 KONSEP TEORI
2.1 Definisi ...................................................................................................... 3
2.2 Faktor-faktor penunjang ............................................................................ 3
2.2.1

Kepribadian manusia ................................................................... 3

2.2.2

Kehilangan kontak dengan dunia luar rumah perawatan ............ 3

2.2.3

Sikap pemberi pertolongan .......................................................... 4

2.2.4

Suasana bagian perawatan ........................................................... 4

2.2.5

Obat-obatan .................................................................................. 4

2.3 Pendekatan yang digunakan dalam hospitalisasi....................................... 5


2.3.1. Pendekatan Empirik .................................................................... 5
2.3.2. Pendekatan melalui metode permainan ....................................... 5
2.4 Dampak dari sakit dan dirawat dirumah sakit ........................................... 5
2.5 Perubahan perubahan akibat sakit dan dirawat dirumah sakit ............... 6
2.5.1. Perubahan Akibat Sakit................................................................ 6
2.5.2. Perubahan akibat dirawat dirumah sakit ...................................... 7
2.6 Reaksi orang tua saat anak dirawat di Rumah Sakit ................................. 9
BAB 3 CONTOH KASUS
3.1 ContohKasus ............................................................................................. 11
BAB 4 ANALISIS KASUS
4.1. AnalisisKasus ............................................................................................ 13
4.1.1

Perubahan akibat sakit ................................................................. 13

4.1.2

Perubahan akibat dirawat di Rumah sakit .................................... 13

4.1.3

Dinamika psikologis .................................................................... 14

iii

DAFTAR ISI
BAB 5 PENUTUP
5.1 Kesimpulan .............................................................................................. 15
5.2 Saran ......................................................................................................... 15
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................ 16

iv

BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Rumah sakit adalah salah satu organisasi kesehatan yang dengan segala fasilitas
kesehatannya diharapkan dapat membantu pasien dalam meningkatkan kesehatan dan
mencapai kesembuhan baik fisik, psikis, maupun sosial. Berkaitan dengan tujuan untuk
memperoleh kesehatan tidak hanya memulihkan kesehatan pasien secara fisik saja tetapi
sedapat mungkin diupayakan menjaga kondisi emosi dan jasmani pasien menjadi
nyaman. Upaya tersebut dapat terlaksana tidak hanya dari kemajuan yang pesat dalam
teknologi medis saja namun perlu diiringi dengan kemajuan yang sama pada aspek-aspek
kemanusiaan dari perawatan pasien (Gunarsa & Gunarsa, 1999).
Proses perawatan di rumah sakit seringkali mengabaikan aspek-aspek psikologis
sehingga menimbulkan berbagai permasalahan pisikologis bagi pasien yang salah satunya
adalah kecemasan. Kecemasan merupakan perasaan yang paling umum dialami oleh
pasien yang dirawat di rumah sakit, kecemasan yang sering terjadi adalah apabila pasien
yang dirawat di rumah sakit harus mengalami proses pembedahan. Pembahasan tentang
reaksi-reaksi pasien terhadap pembedahan sebagian besar berfokus pada persiapan
pembedahan dan proses penyembuhan. Hal ini menunjukkan bahwa peran perawat sangat
penting, karena perawat adalah tim medis yang paling lama dengan pasien (Kusnanto,
2004).
Ada salah satu penelitian yang mengatakan 80 % orang sakit itu akibat tekanan
psikologis. Bermula dari hal tersebut mahasiswa keperawatan harus mempelajari ilmu
psikologi walaupun materi yang didapat tidak sedalam mahasiswa psikologi, bahkan
hanya sebagian kecil saja. Dalam praktiknya mahasiswa keperawatan selalu berinteraksi
dengan pasien baik secara langsung maupun tidak langsung. Banyaknya pasien yang
harus dihadapi dengan kondisi psikologis yang berbeda-beda membuat materi psikologi
wajib dikuasai agar dapat memberikan rasa nyaman terhadap pasien dalam membantu
penyembuhan pasien.

1.2 Rumusan Masalah


1.2.1 Apa definisi dari hospitalisasi?
1.2.2 Bagaimana faktor penunjang hospitalisasi?

1.2.3 Pendekatan apa yang digunakan dalam mengurangi perubahan perubahan akibat
sakit dan dirawat dirumah sakit ?
1.2.4 Apa dampak dari sakit dan dirawat dirumah sakit ?
1.2.5 Bagaimana perubahan perubahan akibat sakit dan dirawat diirumah sakit ?

1.3 Tujuan Penulisan


1.3.1 Untuk mengetahui definisi hospitalisasi
1.3.2 Untuk mengetahui faktor penunjang hospitalisasi
1.3.3 Untuk mengetahui pendekatan yang digunakan dalam mengurangi perubahan
akibat sakit dan dirawat dirumah sakit
1.3.4 Untuk mengetahui dampak dari sakit dan di rawat dirumah sakit
1.3.5 Untuk mengetahui perubahan akibat sakit dan di rawat dirumah sakit

1.4 ManfaatPenulisan
1.4.1 BagiPenulis
Setelah menyelesaikan makalah ini diharapkan kami bagi mahasiswa dapat
meningkatkan pengetahuan dan wawasan dalam perubahan psikologi saat
seseorang mengalami sakit dan dirawat di rumah sakit.
1.4.2 Bagi Pembaca
Diharapkan bagi pembaca dapat mengetahui perubahan psikologi saat
seseorang mengalami sakit dan dirawat di rumah sakit.

BAB 2
PEMBAHASAN
2.1 Definisi
Hospitalisasi merupakan suatu proses yang karena suatu alasan yang berencana
atau darurat, mengharuskan anak untuk tinggal di rumah sakit, menjalani terapi dan
perawatan sampai pemulangannya kembali ke rumah. Selama proses tersebut, anak dan
orang tua dapat mengalami berbagai kejadian yang menurut beberapa penelitian di
tunjukkan dengan pengalaman yang sangat traumatik dan penuh dengan stress (Supartini,
2004).
Berbagai perasaan yang sering muncul pada anak , yaitu cemas, marah, sedih,
takut, dan rasa bersalah (Wong, 2000).
Menurut Potter & Perry (2005) hospitalisasi adalah pengalaman yang penuh
tekanan, utamanya karena perpisahan dengan lingkungan normal dimana orang lain
berarti, seleksi perilaku koping terbatas, dan perubahan status kesehatan.Hospitalisasi
adalah kebutuhan klien untuk dirawat karena adanya perubahan atau gangguan fisik,
psikis, sosial dan adaptasi terhadap lingkungan (Parini, 1999).
Perasaan tersebut dapat timbul karena menghadapi sesuatu yang baru dan belum
pernah di alami sebelumnya , rasa tidak aman dan tidak nyaman, perasaan kehilangan
sesuatu yang bisa di alaminya, dan sesuatu yang di rasakan menyakitkan. Tidak hanya
anak, orang tua juga mengalami hal yang sama.

2.2 Faktor-Faktor Penunjang


Faktor-faktor yang menunjang hospitalisasi (Stevens, 1992):
2.2.1 Kepribadian manusia
Tidak setiap orang peka terhadap hospitalisasi. Kita melihat ada sebagian
orang yang sangat menderita dan sangat tergantung pada pada apa yang diberikan
lingkungannya. Namun ada juga yang menangani sendiri dan tidak bisa menerima
keadaan itu begitu saja. Semua tergantung dari segi kepribadian manusia itu
sendiri.
2.2.2 Kehilangan kontak dengan dunia luar rumah perawatan
Pasien/ orang yang tinggal di rumah perawatan akan kehilangan kontak
yang sudah lama berjalan dengan terpaksa. Dia sudah tidak berada lagi dalam
lingkungan yang aman yang dijalaninya dalam sebagian besar hidupnya.

Orang-orang yang sering berkomunikasi dengannya kini hanya sekedar


bertamu dalam suasana yang berbeda, hanya sebagian kecil keluarga dekat yang
menemaninya. Sebagian besar kontak-kontak dengan orang senasib yang terbatas
dalam ruang perawatan yang sama dan dengan orang-orang yang membantunya.
Dunia mereka boleh dikatakan terbatas pada lingkungan kecil. Apalagi ia bergaul
dengan orang-orang yang sebenarnya bukan pilihannya.
2.2.3 Sikap pemberi pertolongan
Ada perbedaan tugas antara pasien dan yang memberi pertolongan. Ini
terlihat jelas dalam kegiatan mereka sehari-hari. Pasien biasanya menunggu dan
yang menolong yang menentukan apa yang dilakukan dan kapan. Pasien menunggu
apa yang terjadi dan perawat yang tahu. Pasien tergantung pada yang menolong
dan ia terpaksa mengikuti. Ia sering merasa tidak berdaya sehingga merasa harga
dirinya berkurang. Hal ini membuat dirinya lebih merasa tergantung. Perawat
melakukan pekerjaan yang rutin dan berkembang sedikit saja, hal ini akan
membuat mereka menanamkan jiwa hospitalisasi pada pasien.
2.2.4 Suasana bagian perawatan
Suasana bagian sebagian besar ditentukan oleh sikap personel/ perawat,
baik oleh hubungan antar sesama perawat, maupun oleh sikap mereka terhadap
pasien dan tamu-tamu mereka. Cara berpakaian orang-orang di bagian juga sangat
penting.

Cara

manuasia

bergaul,

dapat

mempengaruhi

sikap

pasien.

Ketergantungan antara personal biasanya mudah dapat dipengaruhi. Pasien yang


dirawat inap mendapat kesan bahwa mereka bukan yang terpenting dalam
perawatan ini. Juga ternyata bahwa orang-orang yang hanya mendapatkan tugas
melaksanakan pekerjaan dan tanpa bisa memberi tanggapan atau saran maka
pasien-pasien atau tamu-tamu mereka akan diperlakukan sama seperti itu. Ini
memperbesar kemungkinan adanya hospitalisasi.
2.2.5 Obat-obatan
Obat-obatan dapat memberi pengaruh besar pada sikap. Beberapa obatobatan dapat mengakibatkan adanya tanda-tanda yang sama seperti hospitalisasi.
Dengan sendirinya, kemungkinan hospitalisasi besar. Jika dipakai obat-obatan
yang dapat merangsang adanya sikap tadi.

2.3 Pendekatan yang digunakan dalam hospitalisasi


Pendekaatan yang di gunakan dalam hospitalisasi menurut Novianto dkk, 2009,
meliputi:
2.3.1. Pendekatan Empirik
Dalam menanamkan kesadaran diri terhadap para personil yang terlibat
dalam hospitalisasi, metode pendekatan empirik menggunakan strategi, yaitu ;
a. Melalui dunia pendidikan yang ditanamkan secara dini kepada peserta didik.
b. Melalui penyuluhan atau sosialisasi yang diharapkan kesadaran diri mereka
sendiridan peka terhadap lingkungan sekitarnya.
2.3.2. Pendekatan melalui metode permainan
Metode

permainan

merupakan

cara

alamiah

bagi

anak

untuk

mengungkapkankonflik dalam dirinya yang tidak disadari. Kegiatan yang


dilakukan sesuai keinginansendiri untuk memperoleh kesenangan.

2.4 Dampak dari sakit dan dirawat dirumah sakit


Dampak sakit bisa terjadi pada individu yang telah mengalami sakit baik yang
dirawat dirumah maupun dirawat di rumah sakit. Dampak tersebut dapat terjadi pada
individu, keluarga atau masyarakat. Dampak-dampak tersebut antara lain:
2.4.1 Terjadi perubahan peran pada keluarga.
Selama sakit peran dalam keluarga akan mengalami gangguan mengingat
terjadi pergantian peran dari salah satu anggota keluarga yang mengalami sakit.
2.4.2 Terjadinya gangguan psikologis.
Keadaan ini dapat mengakibatkan terjadinya stres (ketegangan) samapai
mengalami kecemasan yang berat, apabila psikologisnya tidak disiapkan dengan
baik. Proses terganggunya psikologis ini di awali dengan adanya konflik terhadap
dirinya seperti kecemasan, ketakutan, dll)
2.4.3 Masalah keuangan.
Dampak ini jelas akan terjadi karena adanya beberapa pengeluaran keuangan
yang sebelumnya tidak di duga selama sakit mengingat biaya perawatan dan obatobatan cukup mahal.

2.4.4 Kesepian akibat perpisahan.


Dampak ini dapat terjadi pada seseorang yang sebelumnya selalu berkumpul
dengan keluarga, namun ketika sakit orang tersebut harus dirawat dan berpisah dari
keluarganya.
2.4.5 Terjadiya perubahan kebiasaan sosial.
Ini jelas terjadi mengingat selama di rumah interaksi dengan lingkungan
masyarakat selalu terjadi akan tetapi ketika seseorang sakit seluruh aktivitas
soaialnya akan mengalami perubahan.
2.5 Perubahan perubahan akibat sakit dan dirawat dirumah sakit
2.5.1 Perubahan akibat sakit
a. Adanya perasaan ketakutan
Perubahan perilaku ini dapat terjadi pada semua orang dengan di tandai
adanya perasaan takut sebagai dampak dari sakit.
b. Menarik diri
Pada orang yang sakit akan selalu mengalami proses kecemasan. Tingkat
kecemasan yang di alami seseorangpun akan berbeda. Untuk mengurangi
kecemasan, maka seseorang akan berperilaku menarik diri seperti diam jika
tidak di beri pertanyaan
c. Egosentris
Perilaku ini dapat terjadi pada orang sakit yang di tunjukkan dengan
selalu banyak mempersoalkan dirinya sendiri dan tidak mau mendengarkan
perasaan orang lain
d. Sensitif terhadap persoalan kecil
Pada orang sakit perubahan perilaku ini biasanya selalu di timbulkan
dengan selalu mempersoalkan hal-hal yang kecil sebagai dampakterganggunya
psikologi seperti selalu mengomel jika keadaan tersebut tidak sesuai dengan
dirinya.
e. Reaksi emosional tinggi
Perilaku ini dapat di tunjukkan dari seseorang yang mengalami sakit
dengan mudah menangis, tersinggung, marah serta tuntutan perhatian yang lebih
dari orang sekitar.

f. Perubahan persepsi
Terjadinya perubahan persepsi selama sakit ini dapat di tunjukkan
dengan persepsi bahwa dokter dan perawat adalah orang yang dapat membantu
untuk menyembuhkannya sehingga menaruh harapan sangat besar pada dokter
dan perawat.
g. Berkurangnya minat
Perubahan perilaku yang di tunjukkan pada seseorang yang mngalami
sakit ini adalah berkurangnnya minat karena terjadi stres (ketegangan) yang
diakibatkan penyakit yang dirasakan serta menurunnya kemampuan dalam
melakukan aktivitas sehari-hari.
2.5.2 Perubahan akibat dirawat dirumah sakit
Menurut Asmadi, 2008 hospitalisasi merupakan pengalaman yang
mengancam bagi setiap orang. Penyakit yang diderita akan menyebabkan perubahan
perilaku normal sehingga klien perlu menjalani perawatan (hospitalisasi). Secara
umum, hospitalisasi menimbulkan dampak pada beberapa aspek, yaitu:
a. Privasi
Privasi dapat diartikan sebagai refleksi perasaan nyaman pada diri
seseorang dan bersifat pribadi. Bisa dikatakan, privasi adalah suatu hal yang
sifatnya pribadi. Sewaktu dirawat di rumah sakit, klien kehilangan sebagai
privasinya. Kondisi ini disebabkan oleh beberpa hal :
1. Selama dirawat di rumah sakit, klien berulang kali diperiksa oleh petugas
kesehatan (dalam hal ini perawat dan dokter). Bagian tubuh yang biasanya
dijaga agar tidak dilihat, tiba-tiba dilihat dan disentuh oleh orang lain. Hal
ini tentu akan membuat klien merasa tidak nyaman.
2. Klien adalah orang yang berada dalam keadaan lemah dan bergantung pada
orang lain. Kondisi ini cenderung membuat klien pasrah dan menerima
apapun tindakan petugas kesehatan kepada dirinya asal ia cepat sembuh.
Menyikapi hal tersebut, perawat harus selalu memperhatikan dan menjaga
privasi klien ketika berinteraksi dengan mereka. Beberapa hal yang dapat
perawat lakukan guna menjaga privasi klien adalah sebagai berikut :
a) Setiap akan melakukan tindakan keperawatan, perawat harus selalu
memberitahu dan menjelaskan perihal tindakan tersebut kepada klien.

b) Memperhatikan

lingkungan

sebelum

melaksanakan

tindakan

keperawatan. Yakinkan bahwa lingkungan tersebut menunjang privasi


klien.
c) Menjaga kerahasiaan tentang segala sesuatu yang berkaitan dengan
klien. Sebagai contoh, setelah memasang kateter, perawat tidak boleh
menceritakan alat kelamin pasien kepada orang lain, termasuk pada
teman sejajwat.
d) Menunjukkan sikap profesional selama berinteraksi dengan klien.
Perawat tidak boleh mengeluarkan kata-kata yang dapat membuat klien
malu atau marah. Sikap tubuh pun tidak boleh layaknya majikan kepada
pembantu.
e) Libatkan klien dalam aktivitas keperawatan sesuai dengan batas
kemampuannya jika tidak ada kontraindikasi.
b. Gaya hidup
Klien yang dirawat di rumah sakit sering kali mengalami perubahan pola
gaya hidup. Hal ini disebabkan oleh perubahan kondisi antara rumah sakit
dengan rumah tempat tinggal klien, juga oleh perubahan kondisi kesehatan
klien. Aktivitas hidup yang klien jalani sewaktu sehat tentu berbeda dengan
aktivitas yang dialaminya selama di rumah sakit. Perubahan gaya hidup akibat
hospitalisasi inilah yang harus menjadi perhatian setiap perawat. Asuhan
keperawatan yang diberikan harus diupayakan sedemikian rupa agar dapat
menghilangkan atau setidaknya meminimalkan perubahan yang terjadi.
c. Otonomi
Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa individu yang sakit dan
dirawat di rumah sakit berada dalam posisi ketergantungan. Artinya, ia akan
pasrah terhadap tindakan apapun yang dilakukan oleh petugas kesehatan demi
mencapai keadaan sehat. Ini menunjukkan bahwa klien yang dirawat di rumah
sakit akan mengalami perubahan otonomi. Untuk mengatasi perubahan ini,
perawat harus selalu memberitahu klien sebelum melakukan intervensi apapun
dan melibatkan klien dalam intervensi, baik secara aktif maupun pasif.
d. Peran
Peran dapat diartikan sebagai seperangkat perilaku yang diharapkan
individu sesuai dengan status sosialnya Jika ia seorang perawat, peran yang
diharapkan adalah peran sebagi perawat bukan sebagai dokter.Selain itu, peran
8

yang dijalani seseorang adalah sesuai dengan status kesehatannya. Peran yang
dijalani sewaktu sehat tentu berbeda dengan peran yang dijalani saat sakit.Tidak
mengherankan jika klien yang dirawat di rumah sakit mengalami perubahan
peran. Perubahan yang terjadi tidak hanya pada diri pasien, tetapi juga pada
keluarga. Perubahan tersebut antara lain:
1. Perubahan peran.
Jika salah seorang anggota keluarga sakit, akan terjadi perubahan
pera dalam keluarga. Sebagai contoh, jika ayah sakit maka peran kepala
keluarga akan digantikan oleh ibu. Tentunya perubahan peran ini
mengharuskan dilaksanakannya tugas tertentu sesuai dengan peran tersebut.
2. Masalah keuangan.
Keuangan keluarga akan terpengaruh oleh hospitalisasi. Keuangan
yang sedianya ditujukan untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga
akhirnya digunakan untukj keperluan klien yang dirawat. Akibatnya,
keuangan ini sangat riskan, terutama pada keluarga yang miskin. Dengan
semakin mahalnya biaya kesehatan, beban keuangan keluarga semakin
bertambah.
3. Kesepian.
Suasana rumah akan berubah jika ada seorang anggota keluarga yang
dirawat. Keseharian keluarga yang biasanya dihiasi kegembiraan, keceriaan,
dan senda-gurau anggotaanya tiba-iba diliputi oleh kesedihan. Suasana
keluarga pun menjadi sepi karena perhatian keluarga terpusat pada
penanganan anggota keluarganya yang sedang dirawat.
4. Perubahan kebiasan sosial.
Keluarga merupakan unit terkecil dari masyarakat. Karenanya,
keluarga pun mempunyai kebiasaan dalam lingkungan sosialnya. Sewaktu
seha, keluarga mampu berperan serta dalam kegiata sosial. Akan tetapi, saat
salah seorang anggota keluarga sakit, keterlibatan keluarga dalam aktivitas
sosial di masyarakatpun mengalami perubahan.

2.6 reaksi orang tua saat anak dirawat di Rumah Sakit


Berikut ini beberapa reaksi orang tua saat anak mereka di rawat di rumah sakit (Supartini,
2004) :
9

2.6.1 Perasaan cemas dan takut


Perasaan cemas ini mungkin dapat terjadi ketika orang tua melihat anaknya
mendapat prosedur menyakitkan seperti pengambilan darah, injeksi dan prosedur
invasif lainnya. Hal lain yang mungkin menyebabkan rasa cemas adalah rasa
trauma terhadap lingkungan rumah sakit ataupun rasa cemas karena pertama kali
membawa anaknya untuk di rawat di rumah sakit sehingga merasa asing dengan
lingkungan baru.
Penelitian membuktikan bahwa rasa cemas paling tinggi di rasakan orang
tuasaat menunggu informasi tentang diagnosa oenyakit anaknya (supartini, 2000).
Perilaku yang sering di tunjukkan orang tua berkaitan dengan adanya perasaan
cemas dan takut ini adalah sering bertanya atau bertanya tentang hal yang sama
secara berulang pada orang yang berbeda. Gelisah, ekspresi wajah tegangm dan
bahkan marah (Supartini, 2001)
2.6.2 Perasaan sedih
Perasaan sedih sering muncul ketika anak pada saat anak berasa pada
kondisi termal dan orang tua mengetahui bahwa anaknya hanya memiliki sedikit
kemungkinan untuk dapat sembuh. Bahkan ketika menghadapi anaknya yang
emnejlang ajal, orang tua merasa sedih dan berduka. Namun di satu sisi, orang tua
harus berada di sampung anaknya sembari memberikan bimbingan spiriual pada
anaknya .
Pada kondisi ini, orang tua menunjukkan perilaku isolasi atau tidak mau di
dekati orang lain. Bahkan bisa tidak kooperatif etrhadap petugas kesehatan (
Supartini, 2000)
2.6.3 Perasaan frustasi
Pada kondisi ini, orang tua merasa frustais dan putus aasa ketika meliat
anaknya yang telah di rawat cukup lama namun belum mengalami perubahan
kesehatan menjadi lebih aik. Oleh karenai itu, perlu adanya dukungan psikologi
dari pihak-pihak luar (seperti keluarga ataupun perawat atau petugas kesehatan)
2.6.4 Rasa bersalah
Perasaan bersalah muncul karena orang tua mengaggap diringa telah gagal
dalam memberikan perawatan kesehatan pada anaknya sehingga ankanya harus
mengalami suatu perbahan kesehatan yang harus ditangani oleh petugas kesehatan
di rumah sakit.

10

BAB 3
KASUS
3.1 ContohKasus
7 Kali operasi face off selama 7 Tahun, Lisa dilepas rumah sakit

Merdeka.com - Masih ingat kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) pada tahun
2006 silam di Malang, Jawa Timur? Atau mungkin masih ingat dengan pasien operasi
face off di RSUD dr Soetomo Surabaya?

Ya, pasien itu bernama Siti Nur Jazila alias Lisa (29), asal Turen, Malang. Lisa adalah
korban KDRT. Dia disiram dengan air keras oleh suaminya sendiri. Akibatnya, wajah
Lisa mengalami kerusakan cukup parah, dan harus menjalani operasi face off di RSUD dr
Soetomo.

Setelah menjalani perawatan selama tujuh tahun di rumah sakit milik Pemprov Jawa
Timur itu, hari ini, Rabu (5/2), Lisa dilepas oleh tim dokter yang menanganinya.

"Sejak dirawat hingga Lisa sudah bisa kami lepas untuk bersosialisasi kembali dengan
masyarakat, dia telah menjalani operasi selama 17 kali. Selama ini, Lisa tinggal di ruang
khusus di RSUD dr Soetomo selama tujuh sampai delapan tahun ini," terang Ketua Tim
Bedah Plastik Face Off, Prof dr Sjaifuddin Noer SpBP-K di rumah sakit.

Sebelum dilepas kembali ke masyarakat, Lisa juga diberi tali asih oleh pihak RSUD dr
Soetomo untuk bekal hidup selama satu tahun. "Operasi yang dilakukan selama ini,
merupakan bantuan dari DPRD, Pemprov Jawa Timur dan pihak rumah sakit. Selain itu,
setelah dilepas kami juga memberikan tali asih berupa santunan terhadap Lisa untuk bekal
hidup selama satu tahun," lanjut dia.
11

Sementara dalam upacara pelepasan, selain mendapat tali asih dan buku berjudul Hidup
Ini, yang ditulis oleh salah satu dokter RSUD dr Soetomo, Lisa juga berkesempatan untuk
berfoto bersama dengan tim dokter yang menangani operasinya.

"Melepas Lisa, bukan berarti kita melepas begitu saja. Tapi tim dokter juga cukup care
(peduli) dengan Lisa. Dalam setiap seminggu sekali, Lisa diperkenankan datang untuk
melakukan kontrol," kata dia lagi.

12

BAB 4
ANALISIS KASUS
4.1 Dampak dari sakit dan dirawat dirumah sakit
Dampak dari sakit yang diderita oleh Lisa menyebabkan terjadi perubahan peran
pada keluarga, terjadinya gangguan psikologis, masalah keuangan, kesepian akibat
perpisahan, terjadiya perubahan kebiasaan sosial.
Terjadinya perubahan peran pada keluarga yang selama ini dia sebagai istri dan
ibu kini digantikan oleh ibunya. Adanya gangguan psikologis pada dirinya
mengakibatkan terjadinya stress akan kecemasan terhadap kondisi wajahnya (dapat pulih
atau tidak) dan rasa takut akankah dirinya dapat diterima kembali dalam masyarakat atau
tidak. Dalam konteks masalah keuangan Lisa tidak mengalami kesulitan karena operasi
yang dijalani tidak mengeluarkan biaya. Perubahan kebiasaan sosial jelas terjadi
mengingat selama di rumah interaksi dengan lingkungan masyarakat luas selalu terjadi
akan tetapi ketika sakit seluruh aktivitas sosialnya mengalami perubahan karena hanya
sebatas dengan orang-orang yang bekerja di Rumah Sakit.
4.2 Perubahan perubahan akibat sakit dan dirawat dirumah sakit
Pada saat sakit, banyak sekali perubahan-perubahan pada diri seseorang baik itu
adanya perasaan ketakutan, menarik diri, egosentris, snsitif terhadap persoalan-persoalan
kecil, reaksi emosionalnya tinggi, perubahan persepsi, dan berkurangnya minat.
Bentuk dari adanya perasaan takut pada saat sakit terjadi pada semua orang,
namun dalam kasus ini perasaan takut sangat terlihat jelas akan dampak-dampak dari
penyakit yang dideritanya berupa kecemasan kelak akan kembali seperti sedia kala
ataukah tidak. Terlihat pula sikap menarik diri dari masyarakat disekitarnya untuk
mengurangi kecemasannya dengan cara mengurangi berinteraksi dengan orang lain.
Perilaku egosentris terlihat dengan tidak memperhatikan orang lain dan mempersepsikan
bahwa semua orang enggan melihatnya kembali karena perubahan fisiknya.
Setiap orang tentu mengalami perubahan akibat dirawat dirumah sakit baik itu
dari segi privasi, gaya hidup, otonomi, maupun peran. Masalah privasi tentu berkurang
akibat dirawat di Rumah Sakit dikarenakan klien mengalami pemeriksaan pada bagianbagian tubuh yang dalam kesehariannya dijaga agar tidak terlihat namun selama di
Rumah Sakit dikarenakan adanya pemeriksaan oleh tenaga kesehatan privasinya
berkurang. Dalam koneks gaya hidup tentu berubah, yang semula di Rumah sehat dapat
melakukan semuanya sendiri namun ketika di Rumah Sakit melakukan segala sesuatu
13

dengan bantuan orang lain secara tidak langsung, otonomi pasien pun berubah begitu pula
dalam hal peran.

4.3 Dinamika psikologis


Dalam konteks rumah tangga adanya sebuah kekerasan bukanlah hal yang asing
lagi bagi kita, banyak kisah yang telah kita jumpai seperti kasus yang menimpa Lisa.
Dalam kasus ini lisa sebagai korban kekerasan oleh suaminya dengan di siram air keras
yang mengakibatkan rusaknya wajah lisa. Hal tersebut menjadikan Lisa kecewa dan
kurang percaya diri. Kekecewaan dan kurang percaya diri membuat Lisa enggan untuk
berumah tangga kembali serta dia menarik diri dari masyarakat karena ia malu dengan
wajahnya karena wajah merupakan bagian terpenting bagi semua orang terlebih untuk
wanita.
Kerusakan pada wajah

juga menyebabkan individu tidak dapat memenuhi

aktualisasi dirinya. Dalam teori kebutuhan dasar manusia menurut Maslow, tingkatan
paling dasar yang harus dipenuhi adalah kebutuhan fisiologis kemudian rasa aman dan
nyaman, kasih sayang mencintai dan di cintai, harga diri dan aktualisasi diri. Dalam kasus
Lisa rasa aman nyaman teraganggu karena rasa traumanya terhadap kekerasan yang dia
alami, mencintai dan di cintainya pun terganggu karena rasa cinta terhadap suaminya
menimbulkan sebuah tindakan kekerasan yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya,
kemudian harga dirinya pun terganggu karena dia merasa tidak di hargai dengan wajah
yang kurang sempurna, sehingga dalam aktualisasi dirinya pun terganggu.

14

BAB 5
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Ilmu psikologi merupakan Sebuah bidang ilmu pengetahuan yang mempelajari
mengenai perilaku dan kognisi manusia. Sedangkan perawat merupakan seseorang yang
telah lulus pendidikan perawat baik di dalam maupun di luar negeri sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku yang memiliki peran sebagai
pemberi asuhan keperawatan serta memiliki fungsi salah satunya fungsi independen.
Adapun peran perawat dalam pemberian asuhan keperawatan akibat sakit ditinjau dari
segi psikologi yaitu terlihat jelas pada kasus Lisa, dimana bila kondisi pasien terganggu,
keadaan psikologis pun akan terganggu. Peran perawat sebagai pemberi asuhan
keperawatanlah yang sangat berpengaruh besar terhadap keadaan klien.

5.2 Saran
Adapun peran perawat bukan hanya melakukan asuhan keperawatan akibat sakit
namun dari segi psikologisnya juga, dimana apabila kondisi pasien terganggu, keadaan
psikologis pun akan terganggu. Dalam hal ini peran perawatlah yang berpengaruh penting
terhadap keadaan pasien selama saat sakit dan di rawat di rumah sakit.

15

DAFTAR PUSTAKA

Asmadi, (2008).KonsepDasarKeperawatan. Jakarta : EGC


Stevens, P.J.M. dkk (1997). Ilmu Keperawatan.2(1).Jakarta; EGC.
Supartini, Yupi. (2004). Buku Ajar Konsep Dasar Keperawatan Anak.Jakarta: EGC.
Perry & Potter.(2009). Fundamental Keperawatan Ed 4.Jakarta : EGC
http://www.merdeka.com/peristiwa/17-kali-operasi-face-off-selama-7-tahunlisa-dilepasrumah-sakit.html

16