Anda di halaman 1dari 31

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Komunikasi adalah suatu proses yang kompleks karena didalamnya terjadi
konfigurasi berbagai macam aspek yakni aspek personal (kognitif, afektif dan psikomotor),
sosial (budaya, lingkungan, norma, etika), pemenuhan kebutuhan dan agama. Konfigurasi
dari berbagai aspek akan terwujud dalam perilaku. Perilaku merupakan perwujudan nyata
dari interaksi dengan sesamanya, perilaku merupakan aktualisasi diri yang merupakan
pengomunikasian diri kepada orang lain.
Komunikasi seorang perawat dengan pasien pada umumnya menggunakan komuniksai yang yang berjenjang yakni komunikasi intrapersonal, interpersonal dan komunal/
kelompok. (Potter dan Ferry, 1993), komunikasi dalam prosesnya terjadi tiga tahapan yakni
komunikasi intrapersonal, interpersonal dan publik.
Pada tindakan atau intervensi keperawatan umumnya berbentuk komunikasi secara
interpersonal langsung dengan jenis verbal maupun nonverbal. Kemampuan interaktif,
perawat kesehatan dengan pasien mempunyai karakter spesial . Dalam tindakan atau perilaku
kedua belah pihak menunjukkan aspek sosial dan profesional. (Hupcey dan More, 1997).
Setiap komunikasi mempunyai tujuan, untuk mencapai tujuan diperlukan suatu
metode, sehingga pencapaian tujuan dapat optimal. Komunikasi interaktif perawat kesehatan
dengan pasien tujuannya adalah kesembuhan pasien dari sakit yang dideritanya. Bila harapan
pasien untuk sembuh lambat dan bahkan tidak terjadi, seorang perawat secara moral sering
1

kali merasa ikut bersalah. Perasaan yang sering kali muncul dalam diri seorang perawat yang
baik dan profesional, menunjukkan bahwa komunikasi dalam keperawatan mempunyai
kekhususan yakni menyangkut kelangsungan kehidupan seorang manusia.
Addalati (1983), Bucaille (1979) dan Amsyari, (1995) menegaskan bahwa seorang
perawat yang beragama, tidak dapat bersikap masa bodoh, tidak peduli terhadap pasien,
seseorang (perawat) yang tidak care dengan orang lain (pasien) adalah berdosa. Seorang
perawat yang tidak menjalankan profesinya secara profesional akan merugikan orang lain /
pasien, unit kerjanya dan juga dirinya sendiri.
Komunikasi dalam keperawatan disebut dengan komunikasi therapeutik, artinya
komunikasi yang dilakukan oleh seorang perawat pada saat melakukan intervensi
keperawatan harus mampu memberikan kasiat therapi dalam proses penyembuhan pasien.
Oleh karenanya seorang perawat kesehatan harus meningkatkan pengetahuan dan
kemampuan aplikatif komunikasi therapeutik agar kebutuhan dan kepuasan pasien dapat
dipenuhi.

1.2 Rumusan Masalah


1.2.1

Bagaimana konsep dasar komunikasi dalam keperawatan?

1.2.2

Bagaimana komunikasi interpersonal dalam perawatan?

1.2.3

Bagaimana gaya komunikasi antar perawat dengan pasien?

1.2.4

Apa yang dimaksud dengan komunikasi therapeutik?

1.2.5

Apa saja prinsip-prinsip komunikasi therapeutik?


2

1.3 Tujuan Penulisan


1.3.1

Agar mahasiswa dapat mengetahui konsep dasar komunikasi dalam


keperawatan.

1.3.2

Agar mahasiswa dapat mengetahui tingkatan komunikasi.

1.3.3

Agar mahasiswa dapat mengetahui gaya komunikasi antar perawat dengan


pasien.

1.3.4

Agar mahasiswa dapat mengetahui komunikasi therapeutik.

1.3.5

Agar mahasiswa dapat mengetahui prinsip-prinsip komunikasi therapeutik.

1.4 Manfaat Penulisan


1.4.1

Mahasiswa mengetahui konsep dasar komunikasi dalam keperawatan.

1.4.2

Mahasiswa mengetahui tingkatan komunikasi.

1.4.3

Mahasiswa mengetahui gaya komunikasi antar perawat dengan pasien.

1.4.4

Mahasiswa mengetahui komunikasi therapeutik.

1.4.5

Mahasiswa mengetahui prinsip-prinsip komunikasi therapeutik.

BAB II
PEMBAHASAN
a. Konsep Komunikasi dalam Keperawatan
1) Definisi Komunikasi
Kata komunikasi berasal dari bahasa latin coomunicare yang berarti
berpartisipasi atau memberitahukan. Definisi komunikasi masih terus
didiskusikan oleh pakar ilmu komunikasi, namun secara umum dapat
disimpulkan bahwa komunikasi adalah sesuatu yang dapat dipahami, sebagai
hubungan atau saling hubungan, saling pengertian, dan sebagai pesan. (Alo
Liliweri 1997)
Selain pengertian komunikasi diatas, banyak definisi-definisi

dari

komunikasi yang dikemukakan oleh beberapa ahli komunikasi, antara lain:


a) Komunikasi adalah proses penyampaian gagasan, harapan, dan pesan yang
disampaikan melalui lembaga tertentu, mengandung arti, dilakukan oleh
penyampai pesan, ditunjukan kepada penerima pesan. (Edward Depari AW
Widjaja, 2000)
b) Komunikasi adalah suatu rangkaian peristiwa yang terkait dalam
penyampaian pesan dari pengirim ke penerima. Komunikasi adalah proses

dimana seseorang berusaha memberikan pengertian dengan cara pemindahan


pesan. (James.A.F.Stoner)
c) Komunikasi adalah proses yang mana simbol verbal dan non verbal
dikirimkan, diterima dan diberi arti. (William J. Seiiler, 1988 )
d) Hovlan ,Janis,dan Kelley adalah ahli sosiologi Amerika mengatakan bahwa
komunikasi adalah proses individual dalam mengirim stimulus (umumnya
dalam bentuk verbal) untuk mengubah tingkah laku orang lain. (Forsdale,
1981)
e) Louis Forsdale, (1981),seorang ahli komunikasi dan pendidikan
mengatakan bahwa komunikasi adalah suatu proses memberikan signal
menurut aturan tertentu, sehingga dengan cara ini suatu sistem dapat
didirikan, dipelihara dan diubah.
Dari beberapa definisi diatas secara umum dapat disimpulkan bahwa
komunikasi merupakan proses pengiriman atau pertukaran (stimulus, signal,
simbol, informasi) baik dalam bentuk verbal maupun non verbal dari pengirim
ke penerima pesan

dengan tujuan adanya perubahan (baik dalam aspek

kongnitif, afektif, maupun psikomotor).

2) Prinsip-prinsip Komunikasi
Untuk dapat memahami hakikat suatu komunikasi perlu adanya dasar
pengetahuan tentang komunikasi sebagaimana disampaikan oleh Seiler (1988)
bahwa prinsip dasar dari komunikasi ada empat yakni, komunikasi adalah
suatu proses, sistem, interaksi dan transaksi, serta suatu yang disengaja
maupun tidak disengaja.
a) Komunikasi adalah suatu proses

Komunikasi adalah suatu proses berarti suatu proses yang merupakan


suatu kegiatan yang terus-menerus, yang tidak memiliki permulaan atau akhir
dan selalu berubah-ubah serta berdampak kepada terjadinya perubahan.
b) Komunikasi adalah suatu sistem

Komunikasi adalah suatu sistem berarti masing-masing elemen dalam


komunikasi sangat terkait dan memengaruhi dalam proses komunikasi yang
efektif, suatu elemen atau unsur tidaklah lebih penting dibanding elemen yang
lain.
c) Komunikasi merupakan suatu interaksi dan transaksi

Komunikasi merupakan suatu interaksi dan transaksi berarti saling


bertukar pesan atau pikiran.
d) Komunikasi adalah suatu yang disengaja maupun tidak disengaja
6

Berarti komunikasi yang disengaja terjadi apabila pesan yang akan


disampaikan disiapkan terlebih dahulu dan dikirimkan kepada penerima yang
dimaksud. Sedangkan komunikasi yang tidak sengaja adalah dimana
informasi yang seharusnya disampaikan kepada penerima saja, namun
informasi yang kita sampaikan diketahui oleh penerima lainya secara tidak
disengaja.
3) Jenis-jenis Komunikasi
Jenis komunikasi yang disampaikan oleh Widjaja (2000), Komunikasi dibagi
menjadi 5 bagian, yakni:
a) Komunikasi tertulis
Adalah komunikasi yang disampaikan secara tertulis, baik dengan
tulisan manual atau dengan bantuan alat lain/ditulis dari media. Jenis
komunikasi ini dapat berupa surat, surat kabar/media masa atau media
elektronik yang disampaikan dalam bentuk tulisan.
Dalam konteks komunikasi keperawatan, komunikasi jenis ini dapat
berupa catatan perkembangan pasien, catatan medis, catatan/laporan perawat,
dan catatan penting lainnya.

b)

Komunikasi verbal
Adalah komunikasi yang disampaikan secara lisan. Komunikasi ini

dapat dilaksanakan secara langsung dengan percakapan tatap muka, ataupun


secara tidak langsung melalui telepon dan sebagainya.
Komunikasi secara lisan (verbal) tidak hanya tergantung pada katakata saja, namun juga sangat dipengaruhi oleh bentuk-bentuk paralinguistik
misalnya irama, kecepatan, penekanan, intonasi, serta nada suara yang
digunakan.
Menurut Perry dan Potter (1985), dalam penggunaan komunikasi
verbal yang perlu diperhatikan adalah:
(1) Makna denotatif dan konotatif
Makna denotatif adalah makna yang bersifat umum, dengan asosiasi
primer. Sedangkan makna konotatif adalah makna yang bersifat khusus
dengan asosiasi sekunder.
(2) Vocabulary
Komunikasi tidak akan berhasil apabila penerima pesan tidak
mempunyai kemampuan untuk menerjemahkan kata atau ucapan yang
disampaikan pengirim.
(3) Pacing (kecepatan)
8

Keberhasilan komunikasi verbal juga sangat dipengaruhi oleh


kecepatan ungkapan yang disampaikan. Contoh sederhana seorang perawat
yang bicara sangat cepat/ lambat, akan memengaruhi klien dalam menerima
pesan.
(4) Intonation
Nada suara yang digunakan pada saat berkomunikasi.
(5) Clarity and Brevity
Ungkapan yang sederhana, ringkas, dan singkat tanpa mengurangi
kejelasan dalam menerima pesan komunikator.
(6) Timing and Relevance (waktu dan keadaan)

Dalam berkomunikasi hendaknya memerhatikan waktu dan suasana.


c)

Komunikasi non verbal


Adalah komunikasi secara tidak langsung namun terjadi dengan

mengunakan mimik atau bahasa tubuh, pantonim, atau bahasa isyarat.


Menurut Dimbley dan Burton (1992) sebagaimana dikutip Roger B.Ellis dkk,
mengatakan bahwa bahasa tubuh memiliki beberapa unsur, yaitu gerak tubuh,
ekspresi wajah, pandangan, postur, jarak tubuh dan kedekatan, sentuhan, dan
pakatan.

d)

Komunikasi satu arah


Komunikasi ini biasanya bersifat koersif, yang dapat berupa perintah,

instruksi dan bersifat memaksa dengan menggunakan sanksi-sanksi.


Komunikasi ini jarang bahkan tidak ada kesempatan untuk memberikan
umpan balik karena sifat pesanya mau tidak mau harus diterima oleh
komunikator.
e)

Komunikasi dua arah


Komunikasi yang memungkinkan, bahkan harus ada proses timbal

balik, biasanya bersifat informatif atau persuasif.


4) Karakteristik Dasar Komunikasi
Untuk

memperoleh keefektifan dalam berkomunikasi, seseorang harus

mengenal dan memerhatikan beberapa karasteristik dasar komunikasi, antara


lain:
a)

Komunikasi membutuhkan lebih dari dua orang yang akan menentukan

tingkat hubungan dengan orang lain.


b)

Komunikasi terjadi secara berkesinambungan dan terjadi hubungan

timbal balik.
c)

Proses komunikasi dapat melalui komunikasi verbal dan non verbal yang

bisa terjadi secara simultan.


10

d)

Dalam komunikasi seseorang akan merespon terhadap pesan yang

diterima baik secara langsung maupun tidak langsung, verbal, dan non verbal.
e)

Pesan yang diterima tidak selalu diasumsikan sama antara penerima dan

pengirim.
f)

Pertukaran informasi dibutuhkan ilmu pengetahuan.

g)

Pesan yang dikirim dan diterima dipengaruhi oleh pengalaman masa lalu,

pendidikan, keyakinan, dan budaya.


h)

Komunikasi dipengaruhi oleh perasaan diri sendiri, subyek yang

dikomunikasikan dan orang lain.


i)

Posisi seseoarng di dalam sistem sosiokultural dapat memengaruhi proses

komunikasi.
5) Metode Komunikasi
Komunikasi yang dilaksanakan pada umumnya mempunyai maksud
dan tujuan yang diharapkan, hal ini terkait dengan metode yang digunakan.
Ada tiga metode komunikasi yang sering digunakan untuk berkomunikasi,
antara lain:
a)

Komunikasi informatif

11

Komunikasi informatif adalah metode komunikasi yang digunakan


untuk menyampaikan informasi secara umum. Sifat metode ini adalah
memberikan keterangan atau pemberitahuan yang bersifat informatif dan
edukatif.
b)

Komunikasi persuasif
Komunikasi persuasif adalah metode komunikasi yang bersifat

membujuk secara halus agar komunikan atau sasaran menjadi yakin dan mau
mengikuti apa yang diinginkan komunikator.
c)

Komunikasi instruktif atau koersif


Metode komunikasi yang berupa perintah untuk melakukan suatu

tugas atau pekerjaan. Biasanya hal ini terjadi antara bos dengan anak buah,
dokter dengan perawat, dll.
6) Fungsi Komunikasi
Dalam aktifitas keseharian, fungsi komunikasi sangat luas dan
menyentuh pada banyak aspek kehidupan. Beberapa fungsi komunikasi yaitu
sebagai sumber

informasi, media sosialisasi, motivasi, perdebatan dan

diskusi, pendidikan, memajukan kehidupan, hiburan, serta integrasi

.
12

7) Faktor-faktor yang Memengaruhi Komunikasi dalam Pelayanan Keperawatan


Setiap orang mempunyai sifat yang unik dan masing-masing dapat
membuat penafsiran dari pesan komunikasi yang dilakukan. Dalam
melakukan pelayanan keperawatan kepada pasien kedalam dan kita akan
menemukan hambatan dalam komunikasi.
Menurut Perry dan Potter (1987), ada beberapa yang bisa
mempengaruhi jalannya pengiriman dan penerimaan pesan (komunikasi)
dalam pelayanan keperawatan antara lain:
a. Perkembangan
Sebagian besar anak-anak lahir dengan mekanisme fisik dan kapasitas
untuk mengembangkan kemampuan berbicara dan berbahasa. Anak
dengan kegagalan perkembangan seperti paralisis serebral, autism dan
sindrom down akan memiliki tingkat kapasitas yang berbeda untuk
mengembangkan kemampuan bicara dan bahasa. Lingkungan seorang
anak harus juga menawarkan stimulasi untuk perkembangan normal.
Lingkungan yang disediakan oleh orangtua memberikan pengaruh
terhadap kemampuan untuk berkomunikasi. Untuk itu, perawat harus
memahami pengaruh perkembangan bahasa dan proses berpikir.
b. Persepsi

13

Persepsi adalah pandangan pribadi atas apa yang terjadi. Seorang perawat
mungkin berkata, Saya perhatikan Anda menjadi diam sejak keluarga
Anda pergi. Apakah Anda mau membicarakannya?. Persepsi klien
terhadap maksud perawat akan memengaruhi keinginannya untuk
berbicara.
c. Nilai
Nilai adalah standar yang memengaruhi tingkah laku. Nilai tersebut adalah
apa yang dianggap penting dalam hidup oleh seseorang dan pengaruh dari
ekspresi pemikiran dan ide. Nilai juga memengaruhi interprestasi pesan.
Karena nilai adalah panduan umum tingkah laku, sangat penting bagi
seorang perawat untuk mengembangkan kepekaan dalam nilai tersebut.
d. Emosi
Emosi adalah perasaan subjektif seseorang mengenai peristiwa tertentu.
Klien yang marah mungkin melakukan reaksi yang berbeda atas perintah
perawat dibandingkan mereka yang ketakutan. Emosi memengaruhi
kemampuan untuk menerima pesan dengan sukses. Emosi juga
menyebabkan

seseorang

salah

menginterprestasikan

sesuatu

atau

mendengar pesan. Perawat dapat mengkaji emosi klien dengan mengamati


interaksi mereka dengan keluarga, dokter, atau perawat lainnya.
e. Latar Belakang Sosiokultural (Budaya)
14

Budaya adalah jumlah total dari mempelajari cara berbuat, berpikir, dan
merasakan. Budaya merupakan bentuk kondisi yang menunjukkan dirinya
melalui tingkah laku. Bahasa, pembawaan, nilai, dan gerakan tubuh
merefleksikan asal budaya. Budaya memengaruhi cara klien dan perawat
melakukan hubungan satu sama lain dalam berbagai situasi. Perawat
belajar untuk mengetahui makna budaya dalam proses komunikasi.
Pengaruh kebudayaan menetapkan batas bagaimana seseorang bertindak
dan berkomunikasi.
f. Jender
Perbedaan jenis kelamin memengaruhi proses komunikasi. Pria dan
wanita memiliki gaya komunikasi yang berbeda dan satu sama lain saling
memengaruhi proses komunikasi secara unik. Tentu saja perawat perlu
mewaspadai perbedaan ini ketika bekerja dengan klien atau dengan
anggota tim kesehatan lainnya yang berlawanan jenis. Aktif menyimak
dan mencari kejelasan akan membantu mencegah salah persepsi dan salah
paham.
g. Pengetahuan.
Komunikasi dapat menjadi sulit ketika orang yang berkomunikasi
memiliki tingkat pengetahuan yang berbeda. Pesan akan menjadi tidak

15

jelas jika kata-kata dan ungkapan yang digunakan tidak dikenal oleh
pendengar.
h. Peran dan Hubungan
Individu berkomunikasi dalam tatanan yang tepat menurut hubungan dan
peran mereka. Sesorang akan merasa lebih nyaman ketika menunjukkan
ide untuk individu yang dapat mengembangkan hubungan yang positif dan
memuaskan. Ketika hubungan antara perawat dengan klien berkembang,
perawat dan klien akan memiliki rasa percaya diri dalam menghubungkan
ide dengan perasaan. Komunikasi akan menjadi lebih efektif ketika
masing-masing

pihak

tetap

waspada

tentang

peran

mereka

dalamsuatmuaskan. Ketika hubungan antara perawat dengan klien


berkembang, perawat dan klien akan memiliki rasa percaya diri dalam
menghubungkan ide dengan perasaan. Komunikasi akan menjadi lebih
efektif ketika masing-masing pihak tetap waspada tentang peran mereka
dalam suatu hubungan.
i. Lingkungan
Orang cenderung dapat berkomunikasi dengan lebih baik dalam
lingkungan yang nyaman. Kebisingan dan kurangnya kebebasan seseorang
dapat mengakibatkan kebingungan, ketegangan, atau ketidaknyamanan.
Misalnya, klien yang takut pada diagnose kanker akan keberatan untuk
16

mendiskusikan penyakitnya dalam ruang tunggu yang sibuk dan penuh


sesak. Gangguan lingkungan dapat mengganggu pesan yangOrang
cenderung dapat berkomunikasi dengan lebih baik dalam lingkungan yang
nyaman.

Kebisingan

mengakibatkan

dan

kurangnya

kebingungan,

kebebasan

ketegangan,

atau

seseorang

dapat

ketidaknyamanan.

Misalnya, klien yang takut pada diagnose kanker akan keberatan untuk
mendiskusikan penyakitnya dalam ruang tunggu yang sibuk dan penuh
sesak. Gangguan lingkungan dapat mengganggu pesan yang dikirimkan
antar dua orang.
j. Ruang dan Teritorial
Territorial menetapkan makna dari hak seseorang pada suatu area dan
sekitarnya. Territorial sangat penting karena membuat orang merasa
memiliki identitas, keamanan dan kontrol. Dengan kata lain, seseorang
merasa terancam ketika orang lain memasuki teritorialnya, karena hal
tersebut mengganggu homeostatis psikologis, menimbulkan kecemasan,
dan menyebabkan munculnya perasaan kehilangan kontrol.
8) Hambatan dalam proses komunikasi
Secara umum hambatan yang terjadi selama komunikasi adalah
sebagai berikut:
a. Kurangnya penggunaan sumber komunikasi yang tepat.
17

b. Kurang pencernaan dalam berkomunikasi.


c. Penampilan,

sikap,

dan

kecakapan

yang

kurang

tepat

selama

berkomunikasi.
d. Kurang pengetahuan.
e. Perbedaan harapan.
f. Kondisi fisik dan mental yang kurang baik.
g. Pesan yang kurang jelas.
h. Prasangka yang buruk.
i. Transmisi/media yang kurang baik.
j. Penilaian yang premature.
k. Tidak ada kepercayaan.
l. Ada ancaman.
m. Perbedaan status, pengetahuan dan bahasa.
n. Distorsi (kesalahan informasi).
Adapun upaya-upaya untuk mengatasi hambatan tersebut dapat ditanggulangi
dengan cara sebagai berikut:

18

a. Mengecek arti atau maksud yang disampaikan.


b. Meminta penjelasan lebih lanjut.
c. Mengecek umpan balik atau hasil.
d. Mengulangi pesan yang disampaikan memperkuat dengan bahasa isyarat.
e. Mengakrabkan antara pengirim dan penerima.
f. Membuat pesan secara singkat, jelas dan tepat.
g. Menggunakan orientasi penerima.
Namun secara umum kekurangan yang terjadi dalam proses komunikasi dapat
diperbaiki dengan cara:
1. Meningkatkan kesadaran diri.
2. Melatih kemampuan interpersonal.
3. Meningkatkan pengetahuan tentang konsep.

4. Memperjelas tujuan interaksi.


b. Tingkatan Komunikasi
1. Komunikasi Intrapersonal
Komunikasi Intrapersonal terjadi di dalam diri individu, merupakan model bicara
seorang diri atau dialog internal yang terjadi secara konstan dan tanpa disadari.
19

Tujuan dari komunikasi intrapersonal adalah kesadaran diri yang memengaruhi


konsep diri dan perasaan dihargai. Konsep diri yang positif dan kesadaran diri
yang dating melalui dialog internal dapat membantu perawat mengeksperikan
diri secara tepat kepada orang lain. Misalnya, ketika seorang perawat berjalan
kearah kamar pasien dan berpikir, Dia kelihatan tidak nyaman. Saya sebaiknya
membalikkan dia.
2. Komunikasi Interpersonal
Komunikasi Interpersonal adalah interaksi antara dua orang atau di dalam
kelompok kecil, seringkali bersifat saling berhadapan dan merupakan tipe yang
paling sering digunakan dalam situasi keperawatan. Komunikasi interpersonal
yang sehat menimbulkan terjadinya pemecahan masalah, berbagi ide,
pengambilan keputusan dan perkembangan pribadi. Komunikasi interpersonal
adalah inti dari praktik keperawatan.
3. Komunikasi Publik
Komunikasi Publik adalah interaksi dengan sekumpulan orang dalam jumlah
yang besar. Memberikan kuliah pada sebuah ruangan yang dipenuhi pelajar dan
berbicara pada kelompok pelanggan pada promosi kegiatan adalah contoh dari
komunikasi publik.

c. Gaya Komunikasi Antara Perawat dengan Pasien


Bila kita memikirkan berkomunikasi, kita sering memimpikan dirinya sendiri sedang
berbicara dengan orang lain. Kenyataannya bahwa komunikasi adalah berbicara, mendengar,
20

berpikir, interaksi, merencana, merespon secara simultan. Berarti komunikasi adalah alat
untuk mengerti perspektif personal orang lain dan menginterpretasi dan merespon yang
didasarkan pengalaman personal.
Interaksi perawat dengan pasien menyaratkan semua perawat mempunyai pengertian,
perhatian, minat, dan kompetensi menganalisa perilaku dan emosional terhadap konteks
terhadap interaksi yang terjadi antara perawat dengan pasien. Gaya komunikasi perawat
dengan pasien dipengaruhi oleh kemahiran/ketrampilan perawat menegakan hubungan,
kepercayaan dan empati dengan menggunakan gaya mendengarkan aktif sebagai sarana yang
memfasilitasi hubungan perawat dengan pasien dalam asuhan keperawatan.
Adapun teknik-teknik gaya berkomunikasi perawat dengan pasien sebagai berikut:
1.

Mendengar (listening), dengan mendengar perawat mengetahui perasaan klien,

memberi kesempatan lebih banyak kepada klien untuk berbicara.


2.

Pertanyaan terbuka, teknik ini memberi kesempatan klien untuk mengungkapkan

perasaannya sesuai kehendak klien tanpa membatasi.


3.

Mengulang, mengulang pokok pikiran yang diungkapkan klien, fungsinya untuk

menguatkan ungkapan klien dan memberi indikasi perawat mengikuti pembicaraan


klien.
4.

Klarifikasi, dilakukan jika perawat ragu, tidak jelas dengan informasi yang

diberikan klien.
5.

Refleksi, merupakan reaksi perawat dengan klien selama berlangsungnya

komunikasi.
21

6.

Memfokuskan, membantu klien bicara pada topik yang dipilih dan yang penting

serta menjaga pembicaraan tetap menuju tujuan yaitu lebih sepesifik, lebih jelas dan
berfokus pada realitas.
7.

Membagi persepsi, meminta pendapat klien tentang hal yang perawat rasakan

dan pikirkan.
8.

Identifikasi tema, mengidentifikasi latar belakang masalah yang dialami klien

yang muncul selama percakapan.


9.

Diam, cara yang sukar, biasanya dilakukan setelah mengajukan pertanyaan .

10. Informing, teknik ini bertujuan untuk memberi informasi dan fakta untuk
pendidikan kesehatan bagi klien.
11. Saran, memberi alternatif ide untuk pemecahan masalah.

d. Komunikasi Therapeutik
Karakteristik hubungan antara perawat dengan pasien adalah berupa perilaku, pikiran
dan perasaan. Hal ini penting untuk membedakan antara dukungan sosial dan dukungan
profesional (Hupcey & Morse, 1997). Dukungan sosial terdiri dari 2 bagian yaitu bagian dari
jaringan umum sosial dan hubungan yang merupakan dasar dari dimulainya hubungan saling
percaya dan kesempatan melakukan kegiatan.
Ada 4 fase dalam melakukan hubungan antara perawat-klien yaitu :

22

1. Fase Prainteraksi
Kesiapan untuk perawat baru. Fase interaksi merupakan awal dimulainya kontak pertama
dengan klien. Juga sebagai tugas awal perawat dalam mengeksplorasi diri. Berikut ini
kesiapan umum yang diperlukan perawat (mahasiswa) yaitu:
a) Kesadaran diri
b) Hilangkan rasa ketakutan dalam merawat klien
c) Cemas menyebabkan sifat yang kurang dalam penampilan
d)

Fokus tentang identifikasi kelebihan diri dalam merawat klien psikiatri

e) Ragu-ragu akan keefektifan kemampuan atau kemampuan koping


f) Takut akan bahaya fisik atau kekerasan
g) Gelisah menggunakan diri secara terapeutik
h) Curiga karena adanya stigma tentang klien psikiatrik berbeda dari klien lain
i)

Ancaman terhadap identitas peran perawat

j)

Ketidaknyamanan krn hilangnya kemampuan melakukan tugs fisik & penanganan

k) Mudah mendapat ancaman krn penampilan emosional yg sangat menyakitkan


l)

Takut melukai klien secara psikologi

Tugas dari fase ini diharapkan klien mendapatkan informasi yang baik dan perawat
mempunyai perencanaan untuk melakukan interaksi pertama kali dengan klien. Pengkajian
23

perawat segera dimulai, tetapi pekerjaan yang dilakukan harus berhubungan dengan apa yang
dilakukan pada klien kemudian fase kedua adalah hubungan.
2. Fase Introduksi atau Orientasi
Fase introduksi merupakan pertemuan pertama antara perawat dan klien. Fase ini
berbentuk kontrak. Pada fase ini hubungan dibangun dengan saling percaya, saling mengerti,
kedekatan dan komunikasi terbuka dan bentuk kontrak dengan klien. Berikut ini elemen
kontrak perawat-klien:
a) nama individu
b) peran perawat dan klien
c) tanggung jawab perawat dan klien
d) harapan perawat dan klien
e) tujuan hubungan
f) tentukan tempat dan waktu
g) kondisi untuk terminasi
h) kedekatan/tujuan (antara perawat dan klien)
Kontrak dimulai dengan introduksi perawat dan klien, nama yang disenangi, dan harapan
dari peran. Yang termasuk dalam peran adalah tanggung jawab dan harapan klien dan
perawat, bisa dijabarkan oleh perawat ataupun tidak. Pada tahap ini juga didiskusikan tujuan

24

hubungan dengan memperhatikan atau fokus dengan klien dan klien menampilkan
kehidupannya dan area konflik.
Kondisi terminasi harus dilakukan pengulangan dan termasuk spesifik lama waktu,
tujuan yang akan dicapai atau perubahan klien terhadap penanganan.
Eksplorasi perasaan. Yang ditampilkan dari perawat dan klien adalah perbedaan tingkat
ketidaknyamanan dan kecemasan pada fase introduksi. Perawat harus sadar akan ketakutan
dan kecemasan dirinya, tetapi biasanya pasien sulit untuk menceritakan apa yang
dirasakannya kepada orang yang menolongnya.
Tugas perawat pada hubungan fase orientasi adalah;
a)

mengeksplorasi persepsi, pikiran, perasaan dan tindakan klien

b) mengidentifikasi masalah klien yang paling berhubungan


c) mendefenisikan mutual, spesifik tujuan dengan klien
Perawat harus fleksibel dalam mengantisipasi lamanya waktu yang dibutuhkan untuk fase
orientasi, biasanya klien harus tahu serius dan tidak penyakit mentalnya. Perubahan staf akan
memberikan perubahan perkembangan kemampuan klien dalam hubungan terapeutik dan
menampilkan juga jumlah perencanaan tindakan keperawatan yang akan diberikan.
3. Fase Kerja
Perawat harus bekerja secara terapeutik agar dapat dilakukan fase kerja. Perawat dan
klien mengeksplorasi stressor dan meningkatkan wawasan perkembangan dari pasien dengan
menyamakan persepsi, pikiran, perasaan dan tindakan. Wawasan diharuskan untuk
25

mengartikan tindakan yang terjadi dan perubahan perilaku. Ini dapat diintegrasikan dengan
penampilan kehidupan individu. Perawat membantu pasien untuk dapat menurunkan
kecemasan, meningkatkan ketergantungan dan tanggung jawab diri dan mengembangkan
mekanisme yang konstruktif. Fokus pada fase ini adalah perubahan perilaku secara aktual.
Pasien menampilkan perilaku yang resisten selama fase ini sebab bagian ini
merupakan proses penyelesaian masalah. Perkembangan hubungan, dimulai dengan
menanyakan perasaan klien, mengembangkan kemampuan dan mencarikan jalan keluar demi
klien.
4. Fase Terminasi
Terminasi merupakan hal yang sangat sulit tetapi penting pada fase ini karena
merupakan hubungan terapeutik antara pasien dan perawat. Selama fase terminasi, belajar
untuk meningkatkan kemampuan pasien dan perawat. Setiap waktu perubahan perasaan dan
memori dan evaluasi secara menyeluruh sesuai dengan kemajuan dan tujuan yang dicapai
pasien. Kriteria kerelaan pasien untuk terminasi adalah:
a) pasien dapat mengekspresikan keyataan dari masalah yang dihadapi
b) pasien dapat meningkatkan fungsinya
c) pasien dapat meningkatkan harga diri dan mengidentifikasi kekuatan yang dirasakan
d) pasien menggunakan respons koping yang adaptif
e) pasien mengikuti hasil akhir tujuan penanganan yg akan dicapai
f) memperbaiki hubungan perawat dan pasien dengan tidak terjadi masalah
26

Reaksi yang terjadi pada pasien saat terminasi, pasien mengekspresikan marah dan
ketidaksukaan, lainnya berlebihan perilaku dan ucapan atau penampilan yang lambat, pesan
yang disampaikan atau perkataan yang seadanya serta saat terminasi pasien menampilkan
penolakan, penghargaan negatif terhadap konsep diri.
Perawat harus sadar akan kemungkinan reaksi yang terjadi dan mendiskusikan dengan
pasien tentang kondisi yang akan terjadi. Beberapa pasien, terminasi merupakan penampilan
therapeutik yang sangat kritis karena hubungan sebelumnya baik dan terminasi menjadi
negatif dan akan timbul perasaan tidak ingin ditinggal, penolakan, takut dan marah.

e. Prinsip-prinsip Komunikasi Therapeutik


Prinsip prinsip komunikasi terapeutik menurut Carl Rogers adalah :
1. Perawat harus mengenal dirinya sendiri.
2. Komunikasi harus ditandai dengan sikap saling menerima, saling percaya dan
saling menghargai.
3. Perawat harus memahami, menghayati nilai yang dianut oleh pasien.
4. Perawat harus menyadari pentingnya kebutuhan pasien baik fisik maupun mental.
5. Perawat harus menciptakan suasana yang memungkinkan pasien bebas
berkembang tanpa rasa takut.
6. Perawat harus dapat menciptakan suasana yang memungkinkan pasien memiliki
motivasi untuk mengubah dirinya.
7. Perawat harus mampu menguasai perasaan sendiri secara bertahap untuk
mengetahui dan mengatasi perasaan gembira, sedih, marah.
8. Mampu menentukan batas waktu yang sesuai bdan dapat mempertahankan
konsistensinya.
27

9. Memahami betul arti empati sebagai tindakan yang terapeutik, dan sebaliknya
simpati bukan tindakan yang terapeutik.
10. Kejujuran dan komunikasi terbuka merupakan dasar dari hubungan terapeutik.
11. Mampu berperan sebagai role model agar dapat menunjukkan dan menyakinkan
orang lain tentang kesehatan, oleh karena itu perawat perlu mempertahankan suatu
keadaan sehat fisik mental, spiritual dan gaya hidup.
12. Disarankan untuk mengekspresikan perasaan bila dianggap mengganggu.
13. Altruisme mendapatkan kepuasaan dengan menolong orang lain secara
manusiawi.
14. Berpegang pada etika dengan cara berusaha sedapat mungkin mengambil
keputusan berdasarkan prinsip kesejahteraan manusia.
15. Bertanggung jawab dalam dua dimensi yaitu tanggung jawab terhadap diri sendiri
atas tindakan yang dilakukan dan tanggung jawab terhadap orang lain. (Musliha,
1993).

BAB III
PENUTUP

3.1 Simpulan
Dari penjelasan makalah kami di atas dapat disimpulkan bahwa komunikasi
merupakan proses pengiriman atau pertukaran (stimulus,signal,symbol,informasi)
baik dalam bentuk verbal mauun non verbal dari pengirim ke penerima pesan dengan
tujuan adanya perubahan (baik dalam aspek kognitif, efektif, maupun psikomotor)
dan, komunikasi bukan hanya sekedar berbicara secara efektif pada orang-orang.

28

Komunikasi merupakan suatu proses yang sangat rumit yang terdiri dari sejumlah
elemen yang berbeda- beda.
Pada kenyataannya perawat disamping kodratnya sebagai mahluk individu
dan mahluk sosial, diapun sebagai mahluk profesi memerlukan tenaga skill di
bidangnya, khususnya di bidang keperawatan. Perawat harus mampu menjalankan
segala tahapan dalam komunikasi terapeutik yang meliputi tahap awal, lanjutan dan
terminasi. Memingat teknologi kedokteran akhir- akhir ini semakin pesat, senantiasa
pula mempengaruhi perkembangan profesi keperawatan itu sendiri. Perawat di tuntut
untuk lebih mengutamakan pelayanan paripurna terhadap pasien, terutama dalam
memenuhi kebutuhan pasien. Hubungan yang baik ini akan lebih baik lagi bila
perawat dapat meningkatkan pengetahuannya dalam komunikasi khususnya
komunikasi terapeutik yang sesuai dengan tuntutan jaman.

3.2 Saran
Seorang perawat haruslah bisa mengekspresikan perasaan yang sebenarnya
secara spontan. Disamping itu perawat juga harus mampu menghargai pasien dengan
menerima pasien apa adanya. Menghargai dapat dikomunikasikan melalui duduk
bersama pasien yang menangis, minta maaf atas hal yang tidak disukai pasien, dan
menerima permintaan pasien untuk tidak menanyakan pengalaman tertentu. Memberi
alternatif ide untuk pemecahan masalah. Tepat dipakai pada fase kerja dan tidak tepat

29

pada fase awal hubungan dengan pasien, terutama pada pasien kronis itu sendiri
sudah tidak merasa hidupnya berguna lagi.
Perawat perlu menganalisa teknik komunikasi yang tepat setiap kali ia
berhubungan dengan pasien. Melalui

komunikasi verbal dapat diungkapkan

informasi yang akurat, tetapi aspek emosi dan perasaan tidak dapat diungkapkan
seluruhnya secara verbal. Dengan mengerti proses komunikasi dan menguasai
berbagai keterampilan berkomunikasi, diharapkan perawat dapat memakai dirinya
secara utuh (verbal dan non verbal) untuk memberi efek terapeutik kepada pasien.
Setelah mempelajari proses komunikasi keperawatan maka perawat dapat
melakukan komunikasi dengan pasien secara baik dan benar.

DAFTAR PUSTAKA
Asnanda,

Ayu.

2005.

Materi

Komunikasi

Terapeutik.

Dalam

(http://ayuteddyasnanda.blogspot.com/2013/01/materi-komunikasiterapeutik_27.html). Diakses tanggal 29 Februari 2014 pukul 11.00 wita.

30

Iswa,

Diann.

2013.

Komunikasi

Keperawatan.

Dalam

(http://diannuriswa.blogspot.com/2013/08/komunikasi-keperawatan-konsepdasar.html). Diakses tanggal 29 Februari 2014 pukul 13.30 wita.


Kariyoso. 1994. Pengantar Komunikasi Bagi Siswa Perawat. Jakarta: Buku
Kedokteran EGC.
Khotibi,

Zulkarnaen.

2013.

Komunikasi

dalam

Keperawatan.

Dalam

(http://perawatperawat.blogspot.com/2013/03/komunikasi-dalamkeperawatan.html?m=1). Diakses tanggal 29 Februari 2014 pukul 13.00 wita.


Mundakir. 2006. Komunikasi Keperawatan Aplikasi dalam Pelayanan. Yogyakarta:
Graha Ilmu.
Potter & Perry. 2005. Fundamental Keperawatan, Edisi 4. Jakarta: EGC.

31