Anda di halaman 1dari 9

Kasus 2

Topik : Hernia inguinalis lateralis sinistra inkarserata


Tanggal (Kasus) : 13 Agustus 2014

Presenter : dr.Okki Masitah Syahfitri Nasution

Tanggal Presentasi :

Pendamping : dr. Agus Setiawan

Tempat Presentasi : RS Islam Samarinda


Obyektif Presentasi :

Keilmuan

Keterampilan

Penyegaran

Tinjauan Pustaka

Diagnostik

Manajemen

Masalah

Istimewa

Bayi

Anak

Remaja

Dewasa

Lansia

Bumil

Neonatus

Deskripsi : laki-laki,26 tahun, keluhan benjolan di skrotum kiri sejak 1 hari SMRS, benjolan sebesar telur angsa dan benjolan tidak

dapat dimasukkan kembali. Disertai nyeri perut serta adanya mual dan muntah.
Tujuan : Menegakkan diagnosis dan penatalaksanaan Hernia inguinalis lateralis sinistra inkarserata
Bahan bahasan:
Cara membahas:

Tinjauan Pustaka

Diskusi

Riset
Presentasi dan
diskusi

Kasus

Audit

Email

Pos

Data pasien :

Nama: Tn.A

Nama Wahana : RS Islam Samarinda

Nomor Registrasi : 14080208


Telp : -

Terdaftar sejak :

Data utama untuk bahan diskusi:


1. Diagnosis/Gambaran :
Hernia inguinalis lateralis sinistra inkarserata. Keadaan Umum Sakit sedang, dibawa keluarganya ke instalasi gawat darurat dengan
keluhan timbul benjolan di skrotum kiri sejak 1 hari SMRS, benjolan sebesar telur angsa dan benjolan tidak dapat dimasukkan
kembali. Pasien mengalmi mual dan muntah sebanyak 2 kali. Selain itu pasien disertai nyeri perut serta tidak ada BAB sejak 1 hari
SMRS.
2. Riwayat Pengobatan:
Pernah berobat dengan dokter spesialis bedah dan didiagnosis hernia tetapi pasien menolak dilakukan tindakan bedah.
3. Riwayat kesehatan/Penyakit:
Pasien sering mengalami keluhan serupa sejak 7 tahun yang lalu hanya saja benjolan masih dapat dimasukkan kembali.
4. Riwayat keluarga:
Tidak ada keluarga yang pernah menderita serupa dengan pasien
5. Riwayat pekerjaan:
Pasien bekerja sebagai supir truk sekaligus sebagai tukang yang mengangkat besi bangunan,
6. Lain-lain: Daftar Pustaka:
2

1. R. Sjamsuhidajat & Wim de Jong. Buku Ajar Ilmu Bedah. Edisi I. Penerbit buku kedokteran EGC. Jakarta. 1997. Hal 700-718
2. H G, Burhitt & O.R.G. Quick. Essential Surgery . Edisi III. 2003. Hal 348-356
3. R. Bendavid, J. Abrahamson, Mauruce E. A, dkk. Abominal Wall Hernias (Principles and Management). Edisi I. Penerbit SringerVarlag. New York. 2001. (Ebook, di akses 10 Juli 2010)
Hasil Pembelajaran:
1. Etiologi Hernia inguinalis lateralis sinistra inkarserata
2. Patofisiologi Hernia inguinalis lateralis sinistra inkarserata
3. Pemeriksaan pada Hernia inguinalis lateralis sinistra inkarserata
4. Diagnosis Hernia inguinalis lateralis sinistra inkarserata
5. Terapi pada Hernia inguinalis lateralis sinistra inkarserata
Subjective
Hernia inguinalis lateralis sinistra inkarserata Keadaan Umum sedang, : Laki-laki,usia 26 tahun, timbul benjolan di skrotum kiri sejak 1 hari
SMRS. Benjolan tidak dapat dimasukkan kembali dan terkadang disertai rasa nyeri. Benjolan sebesar telur angsa. Selain timbul
benjolan pasien mengeluhkan adanya nyeri perut disetai mual dan muntah sebanyak 2 kali. Serta pasien tidak dapat BAB sejak 1 hari
SMRS. Pasien sudah mengalami keluhan timbulnya benjolan pada skrotum kiri sejak 7 tahun yang lalu hanya saja benjolan masih dapat
dimasukkan kembali. Selain itu pasien sudah 7 tahun bekerja sebagai supir truk dan tukang mengangkat besi bangunan.
Objective
Keadaan Umum : Sakit Sedang
Kesadaran : E4V5M6
Tanda Vital:
Nadi: 80 kali/menit, reguler, kuat angkat
Tekanan Darah: 130/80 mmHg
Frekuensi Nafas:20 kali/menit
Suhu: 36,40C
Kepala/leher: konjungtiva anemis (-), sklera ikteik (-)
Thoraks: dalam batas normal
Abdomen: Inspeksi: Flat, sikatrik (-); Palpasi: soepl, nyeri tekan (-), organomegali (-), Perkusi: timpani, Auskultasi: Bising usus sedikit
meningkat.
3

Ekstremitas: dalam batas normal


Status lokalis region inguinoscrotalis sinistra
Inspeksi : Tampak massa lonjong memanjang dari inguinal sampai ke scrotum diameter 8cm x 4 cm, warna serupa warna kulit tidak
kemerahan, permukaan rata.
Palpasi : tidak teraba hangat, kenyal, batas atas tidak jelas, tidak dapat dimasukkan, transiluminasi (-), tidak nyeri.
Auskultasi : bising usus (+)
Hasil pemeriksaan fisik menunjang penegakan diagnosis. Pada kasus ini, diagnosis ditegakkan berdasarkan:
1. Gejala klinis: Benjolan di skrotum kiri sejak 1 hari SMRS. Benjolan tidak dapat dimasukkan kembali dan terkadang disertai rasa
nyeri. Benjolan sebesar telur angsa. Selain timbul benjolan pasien mengeluhkan adanya nyeri perut disetai mual dan muntah
sebanyak 2 kali. Serta pasien tidak dapat BAB sejak 1 hari SMRS. Pasien sudah mengalami keluhan timbulnya benjolan pada
skrotum kiri sejak 7 tahun yang lalu hanya saja benjolan masih dapat dimasukkan kembali
2. Pemeriksaan fisik: Inspeksi: Flat, sikatrik (-); Palpasi: soepl, nyeri tekan (-), organomegali (-), Perkusi: timpani, Auskultasi: Bising
usus sedikit meningkat.
Status lokalis region inguinoskrotalis sinistra
Inspeksi : Tampak massa lonjong memanjang dari inguinal sampai ke scrotum diameter 8cm x 4 cm, warna serupa warna kulit tidak
kemerahan, permukaan rata.
diameter 8cm x 4 cm, warna serupa warna kulit tidak kemerahan, permukaan rata.
Palpasi : tidak teraba hangat, kenyal, batas atas tidak jelas, tidak dapat dimasukkan, transiluminasi (-), tidak nyeri.
Auskultasi : bising usus (+)
3. Pemeriksaan Laboratorium: dalam batas normal.
Assessment
Hernia merupakan protrusi atau penonjolan isi suatu rongga melalui defek atau bagian lemah dari dinding rongga bersangkutan pada
hernia abdomen, isi perut menonjol melalui defek atau bagian lemah dari bagian muskulo-aponeurotik dinding perut. Hernia ingunalis
dibagi menjadi dua yaitu Hernia Ingunalis Lateralis (HIL) dan Hernia Ingunalis Medialis. Hernia inguinalis lateralis mempunyai nama lain
yaitu hernia indirecta yang artinya keluarnya tidak langsung menembus dinding abdomen. Selain hernia indirek nama yang lain adalah
Hernia oblique yang artinya Kanal yang berjalan miring dari lateral atas ke medial bawah. Hernia ingunalis lateralis sendiri mempunyai arti
4

pintu keluarnya terletak disebelah lateral Vasa epigastrica inferior. Hernia inguinalis lateralis (HIL) dikarenakan kelainan kongenital
meskipun ada yang didapat. 3
Hampir 75 % dari hernia abdomen merupakan hernia ingunalis. Untuk memahami lebih jauh tentang hernia diperlukan pengetahuan
tentang kanalis inguinalis. Hernia inguinalis dibagi menjadi hernia ingunalis lateralis dan hernia ingunalis medialis dimana hernia ingunalis
lateralis ditemukan lebih banyak dua pertiga dari hernia ingunalis. Sepertiga sisanya adalah hernia inguinalis medialis.Hernia lebih
dikarenakan kelemahan dinding belakang kanalis inguinalis. Hernia ingunalis lebih banyak ditemukan pada pria daripada wanita, untuk
hernia femoralis sendiri lebih sering ditemukan pada wanita.Sedangkan jika ditemukan hernia ingunalis pada pria kemungkinan adanya
hernia ingunalis atau berkembangnya menjadi hernia ingunalis sebanyak 50 % Perbandingan antara pria dan wanita untuk hernia ingunalis 7
:1. Prevalensi hernia ingunalis pada pria dipengaruhi oleh umur.
Hernia ini disebut lateralis karena menonjol dari perut di lateral pembuluh epigastrika inferior. Dikenal sebagai indirek karena keluar
melalui dua pintu dan saluran, yaitu annulus dan kanalis inguinalis. Pada pemeriksaan hernia lateralis akan tampak tonjolan berbentuk
lonjong.

Dapat

terjadi secara kongenital atau akuisita.

Keluhan biasanya berupa benjolan di lipat paha yang hilang timbul, muncul terutama pada waktu melakukan kegiatan yang dapat
meningkatkan tekanan intra-abdomen seperti mengangkat barang atau batuk, benjolan ini hilang pada waktu berbaring atau dimasukkan
dengan tangan (manual). Terdapat faktor-faktor yang berperan untuk terjadinya hernia. Dapat terjadi gangguan passage usus (obstruksi)
terutama pada hernia inkarserata. Ditemukan benjolan lunak di lipat paha di bawah ligamentum inguinale di medial vena femoralis dan
lateral tuberkulum pubikum. Benjolan tersebut berbatas atas tidak jelas, bising usus (+), transluminasi (-).
Gejala/tanda

Obstruksi usus pada


hernia inkarserata

Nekrosis/gangren pada
hernia strangulata

Nyeri

Kolik

Menetap

Suhu badan

Normal

Normal/meninggi

Denyut nadi

Normal/meninggi

Meninggi/tinggi sekali

Leukosit

Normal

Leukositosis

Rangsang peritoneum

Tidak ada

Jelas

Sakit

Sedang/berat

Berat sekali/toksik

Tabel 1. Hernia inkarserata dengan obstruksi usus dan hernia strangulata yang menyebabkan nekrosis atau ganggren

Hernia yang melalui annulus inguinalis abdominalis (lateralis/internus) dan mengikuti jalannya spermatid cord di canalis inguinalis
serta dapat melalui annulus inguinalis subcutan (externus) sampai scrotum. Mempunyai LMR ( Locus Minoris Resistentie Secara klinis
HIL dan HIM dapat dibedakan dengan tiga teknik pemeriksaan sederhana yaitu finger test, Ziemen test dan Tumb test. Pemeriksaan
6

laboratorium. Hasil pemeriksaan laboratorium didapatkan leukosit

>10.000 18.000 / mm3 dan peningkatan serum elektrolit.

Pemeriksaan radiologis. Pemeriksaan ultrasound pada daerah inguinal dengan pasien dalam posisi supine dan posisi berdiri dengan
manuver valsafa dilaporkan memiliki sensitifitas dan spesifisitas diagnosis mendekati 90%. Pemeriksaan ultrasonografi juga berguna untuk
membedakan hernia incarserata dari suatu nodus limfatikus patologis atau penyebab lain dari suatu massa yang teraba di inguinal. Pada
pasien yang sangat jarang dengan nyeri inguinal tetapi tak ada bukti fisik atau sonografi yang menunjukkan hernia inguinalis. CT scan
dapat digunakan untuk mengevaluasi pelvis untuk mencari adanya hernia obturator.
Hampir semua hernia harus diterapi dengan operasi. Karena potensinya menimbulkan komplikasi inkarserasii atau strangulasi lebih
berat dibandingkan resiko yang minimal dari operasi hernia (khususnya bila menggunakan anastesi local). Pengobatan operatif merupakan
satu-satunya pengobatan hernia inguinalis yang rasional. Indikasi operasi sudah ada begitu diagnosis ditegakkan. Prinsip dasar operasi
hernia adalah hernioraphy, yang terdiri dari herniotomi dan hernioplasti.
Herniotomi
Pada herniotomi dilakukan pembebasan kantong hernia sampai ke lehernya. Kantong dibuka dan isi hernia dibebaskan kalau ada
perlekatan, kemudian direposisi, kantong hernia dijahit-ikat setinggi mungkin lalu dipotong.
Indikasi :
1.

Hernia Inkarserata / Strangulasi (cito)

2.

Hernia Irreponabilis ( urgen, 2 x 24 jam)

3.

Hernia Reponabilis dilakukan atas indikasi sosial : pekerjaan (elektif)

4.

Hernia Reponabilis yang mengalami incarserasi (HIL,Femoralis)

Prinsip semua hernia harus dioperasi, karena dapat menyebabkan inkarserasi / strangulasi. Herniotomy pada dewasa lebih dulu
faktor-faktor penyebab harus dihilangkan dulu, misal BPH harus dioperasi sebelumnya.
Hernioraphy
7

Berdasarkan pendekatan operasi, teknik herniorraphy dapat diklompokkan dalam 4 kategori utama yaitu Open Anterior Repair yang
meliputi teknik bassini, Open Posterior Repair, Tension-Free Repair With Mesh, dan Laparoscopic.
Plan
Diagnosis

: Hernia Inguinalis lateralis sinistra. Upaya diagnosis sudah cukup optimal.

Pengobatan : Pengobatan pada Hernia Inguinalis lateralis sinistra adalah tindakan operatif merupakan satu-satunya pengobatan hernia
inguinalis yang rasional. Prinsip dasar operasi hernia adalah hernioraphy, yang terdiri dari herniotomi dan hernioplasti. Berdasarkan
pendekatan operasi, teknik herniorraphy dapat diklompokkan dalam 4 kategori utama yaitu Open Anterior Repair yang meliputi teknik
bassini, Open Posterior Repair, Tension-Free Repair With Mesh, dan Laparoscopic.
Pada pasien dilakukan Hernioraphy dengan teknik bassini.
Pendidikan :Pendidikan dilakukan kepada pasien dan keluarganya serta diberikan penjelasan hernia inguinalis lateralis inkarserata dan
Konsultasi

perawatan post operasi


: Pasien diminta agar kontrol rutin untuk melihat kemajuan terapi.
Samarinda , 29 September 2014

Dokter Internsip

Dokter Pembimbing

Dr.Okki Masitah Syahfitri Nasution

Dr. Agus Setiawan