Anda di halaman 1dari 30

REFERAT ILMU FORENSIK

Aborsi dan Kejahatan Seksual

Pembimbing :
dr. Andi Nur Rochman

Disusun oleh :
Heaven (11-2008-)
Audi (11-2009-00)
Elisabeth Ryan (11-2009-057)
Defranky Theodorus (11-2009-)

Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana


Kepaniteraan Klinik Ilmu Forensik
RS. Hasan Sadikin, Bandung
Periode 20 Desember 2010 15 Januari 2011

KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, atas rahmat dan
karunia-Nya, sehingga kami dapat menyelesaikan penyusunan referat ini tepat pada
waktunya.
Dalam penyusunan referat ini yang berjudul Aborsi dan Kejahatan Seksual, penulis
menyadari masih banyak kekurangan-kekurangan, baik dari segi ilmiah maupun cara
penyampaiannya karena pengetahuan dan kemampuan yang terbatas. Maka kami sangat
mengharapkan saran dan kritik dari para pembaca untuk perbaikan dan penyempurnaan
referat ini.
Kami berharap referat yang kami buat ini dapat memberikan informasi bagi para
pembaca agar dapat mengetahui baik definisi, tinjauan pustakan, pemeriksaan klinis, serta
kesimpulan mengenai Aborsi dan Kejahatan Seksual.
Akhir kata, terima kasih atas perhatian para pembaca, dan semoga penulisan referat
ini dapat bermanfaat bagi kita semua.

Jakarta, 3 Januari 2011

Penulis

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR......................................................................................................... i
DAFTAR ISI....................................................................................................................... ii
BAB I

PENDAHULUAN................................................................................................ 1

BAB II

PEMBAHASAN................................................................................................. 3

BAB III

RINGKASAN.......................................................................................................18

DAFTAR PUSTAKA............................................................................................................ 20

BAB I
PENDAHULUAN
Pemeriksaan kasus-kasus persetubuhan yang merupakan tindakan pidana, hendaknya
dilakukan dengan teliti dan waspada. Pemeriksa harus yakin akan semua bukti-bukti yang
ditemukannya karena berbeda dengan di klinik, tidak lagi memiliki kesempatan untuk
melakukan pemeriksaan ulang, guna memperoleh lebih banyak bukti tetapi dalam
melaksanankan kewajiban itu dokter jangan sampai meletakkan kepentingan korban dibawah
kepentingan pemeriksaan. Terutama bila korban masih anak-anak, hendaknya pemeriksaan
itu tidak menambah trauma psikis yang sudah dideritanya.
Visum et repertum yang dihasilkan mungkin menjadi dasar membebaskan terdakwa
dari penuntutan atau sebaliknya menjatuhkan hukuman. Di indonesia, pemeriksaan korban
persetubuhan yang diduga merupakan tindakan kejahatan seksual umumnya dilakukan oleh
ahli kebidanan dan penyakit kandungan, kecuali di tempat yang tidak ada dokter ahli, dokter
umum yang harus melakukan pemeriksaan tersebut.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1

Definisi
Kejahatan seksual dalam arti luas sama dengan perbuatan cabul, di dalam KUHP,

pasal-pasal yang mengatur ancaman hukuman bagi pelaku kejahatan seksual.


2.2

Jenis Kejahatan Seksual


a. Pemerkosaan
Perkosaan adalah penyerangan seksual yang paling serius. Kejadian ini hanya
dapat dilakukan oleh laki-laki, namun korbannya dapat terdiri dari laki-laki dan
perempuan. Perkosaan didefinisikan pada Criminal Justice and Public Order Act
(Inggris, 1994) sebagai penetrasi non-konsensual dari vagina dan anus oleh penis.
Hukum di Inggris dan Wales tidak membedakan antara tindakan pemerkosaan yang
dilakukan oleh orang yang tidak dikenal dan orang yang dikenal oleh korban, legal
atau tidak, dan saat ini memungkinkan bagi seorang pria untuk dituduh memperkosa
istrinya. Di Inggris, hukum tersebut tidak berlaku pada anak berusia di bawah 14
tahun, karena hukum Inggris menganggap bahwa anak berusia di bawah usia tersebut
tidak mempu memperkosa.
b. Persetubuhan yang merupakan kejahatan
Persetubuhan yang dilakukan anak perempuan yang berusia dibawah 16 tahun
(Inggris) / 18 tahun (USA) tanpa izin adalah persetubuhan yang merupakan kejahatan,
sedangkan jika dilakukan pada anak perempuan yang berusia 13 tahun dengan atau
tanpa izin, kejahatan tersebut sama dengan pemerkosaan. Seorang laki-laki yang
melakukan persetubuhan dengan anak perempuan yang berusia diatas 13 tahun dan di
bawah 16 tahun dapat menghindari tuntutan, jika laki-laki tersebut :
A. (I) Ia berusia kurang dari 24 tahun dan
(II) Ia belum pernah dituntut dengan pelanggaran yang sama sebelumnya dan
(III) Ia mempercayai bahwa usia gadis tersebut di atas 16 tahun dan
(IV) Ia memiliki alasan yang beralasan terhadap kepercayaan tersebut karena
penampilan, pakaian, make-up, dan perilaku wanita tersebut.
Atau

B. Laki-laki tersebut menganggap wanita tersebut adalah istrinya yang sah secara
hukum.
c. Perilaku tidak senonoh (indecent assault)
Pelecehan seksual mencakup suatu spektrum tindakan atau perilaku yang
dilakukan oleh kedua jenis kelamin pada korban yang bisa berasal dari kedua jenis
kelamin. Tindakan ini dapat beragam, mulai dari usaha penetrasi vagina atau anus
yang tidak berhasil, sampai penetrasi vagina atau anus dengan jari atau objek, sampai
penetrasi mulut dengan penis (fellatio paksa), sampai menyentuh atau meremas
pantat, payudara, paha, perineum, penis, atau meletakkan tangan di dalam rok
perempuan atau di dalam celana laki-laki. Hanya pelecehan seksual yang bersifat
penetrasi yang memiliki aspek fisik medis selain cedera yang ditimbulkan pada saat
kejadian seperti memar, bekas gigitan dan abrasi. Semua tindakan yang disebutkan
sangat mungkin menyebabkan korban mengalami trauma psikologis.
d. Penampakan tidak senonoh (indicent exposure)
Dikenal juga dengan istilah flashing, terjadi ketika seseorang, biasanya lakilaki, memperlihatkan alat genitalnya di depan umum untuk mengganggu dan
mempermalukan khalayak umum. Pengobatan psikiatrik lebih penting dibandingkan
hukum pidana pada kasus ini, karena perilaku tersebut tidak membahayakan korban
tetapi menyebabkan psychological distress pada korban.
e. Perilaku tidak senonoh terhadap anak
Perilaku ilegal terhadap anak yang berusia 14 tahun (Indecency with children
act) yang dilakukan oleh laki-laki atau wanita pada anak kecil, tidak memegang alat
genital anak, tapi mendorong anak untuk memegang (masturbasi) organ seksual
pelaku.
f. Incest
Incest tidak dianggap secara universal sebagai kejahatan seksual, dahulu (dan
bahkan sampai sekarang) merupakan perilaku yang dapat diterima secara seksual pada
sebagian kebudayaan. Situasi yang paling sering terjadi terjadi saat seorang ayah
melakukan senggama seksual dengan anak perempuannya saat istrinya hamil tua atau
pada masa nifas.
Batasan dari kewajaran ini beragam dari negara yang satu ke negara yang lain,
dan bahkan pada norma-norma sekuler dan agama yang berlaku di suatu negara. Di
Inggris, hukum melarang pernikahan atau senggama seksual penis/vagina antara

seorang pria dan wanita yang diketahuinya sebagai ibunya, ayahnya, cucunya, saudara
atau saudara tirinya, baik pihak lelaki dan perempuan rawan terhadap tuntutan oleh
tindakan tersebut.
g. Bestiality
Bestialitas adalah senggama seksual dengan binatang, baik vaginal maupun
anal, korban biasanya binatang peliharaan atau binatang ternak, yang mana dalam
prosesnya korban kadang berakhir dengan kematian.
h. Kejahatan homoseksual
Pada banyak negara semua tindakan seksual pria dengan pria bersifat ilegal
dan hukumannya dapat berat. Di Inggris dan Wales, the Sexual Offence Act (1967)
memperbolehkan homoseksual dilakukan secara pribadi antara pria yang saling setuju
(consenting) pada usia 21 tahun, namun merupakan perkecualian pada tentara atau
pelaut. Usia persetujuan tersebut saat ini telah dikurangi menjadi 18 tahun dan
terdapat tekanan yang patut diperhitungkan untuk menurunkannya menjadi 16 untuk
menyamai usia persetujuan heteroseksual pada hubungan dengan wanita. Di
Skotlandia dan Irlandia, hukum seperti itu tidak dikenal namun tuntutan saat ini
jarang dilakukan. Tindakan homoseksual antar wanita (lesbianisme) jarang
merupakan tindak kriminal kecuali hal tersebut melanggar hak-hak publik.
Menurut the 1967 act, senggama anal antara pria tidak melanggar hukum,
namun senggama anal dengan wanita atau pria di atas umur 16 namun di bawah usia
minimum yang disebutkan dalam undang-undang tersebut selalu merupakan
pelanggaran, tidak peduli ada persetujuan atau tidak. Stimulasi oral atau dengan
tangan tidak pernah menjadi pelanggaran dalam hukum Inggris kecuali dilakukan di
depan umum. Saat ini istilah pemerkosaan juga berlaku bagi korban pria dan seperti
pemerkosaan vaginal, Bukti-bukti penetrasi anus oleh penis harus dibuktikan,
walaupun bukti terdapatnya ejakulasi semen dianggap tidak relevan dengan
pelanggaran ini.
2.3

Tinjauan Hukum mengenai Kejahatan Seksual di Indonesia menurut UndangUndang


Agar kesaksian seorang dokter pada perkara pidana mencapai sasarannya,
yaitu membantu pengadilan dengan sebaik-baiknya, seorang dokter harus mengenal
undang-undang yang bersangkutan dengan tindak pidana itu, seharusnya ia
mengetahui unsur-unsur mana yang dibuktikan secara medik atau yang memerlukan

pendapat medik. Berikut ini dipaparkan undang-undang mengenai kejahatan seksual


yang berlaku di Indonesia.
KUHP membagi kejahatan kesusilaan dalam tiga kategori:
1. Kejahatan kesusilaan yang dilakukan dalam perkawinan.
2. Kejahatan kesusilaan yang dilakukan di luar perkawinan
3. Kejahatan kesusilaan berupa perbuatan cabul
2.3.1

Kejahatan Kesusilaan dalam Perkawinan


Satu-satunya pasal adalah KUHP pasal 288.
KUHP pasal 288
1) Barang siapa bersetubuh dengan seorang perempuan di dalam perkawinan, yang
diketahui atau sepatutnya harus diduga bahwa belum mampu dikawin, diancam,
apabila perbuatan mengakibatkan luka dengan pidana penjara paling lama empat
tahun.
2) Jika perbuatan mengakibatkan luka berat dijatuhkan pidana penjara paling lama
delapan tahun.
3) Jika mengakibatkan mati, dijatuhkan pidana penjara paling lama dua belas tahun.
Pasal ini memberi perlindungan pada perkawinan anak-anak (kinderhuwelijk),
yang kini masih terjadi di daerah.
Apa yang diartikan dengan belum mampu dikawin? Menurut Undang-undang
Perkawinan No. 1/1974 seorang perempuan boleh melakukan perkawinan bila ia
sudah mencapai umur 16 tahun. Secara biologik seorang perempuan sudah mampu
dikawin bila ia sudah mengalami haid (menstruasi) umur 11-13 tahun. Bahwa jarang
sekali istri yang masih kanak-kanak mengalami luka, disebabkan karena istri setelah
perkawinan tetap tinggal serumah dengan orang tua sendiri sampai ia mendapat haid
beberapa kali.
Seorang laki-laki boleh melakukan perkawinan bila ia sudah berumur 19
tahun, tetapi ia sudah mampu dikawin bila maninya sudah mengandung sel mani yang
hidup, umur antara 13-15 tahun.
Tidak termasuk luka adalah luka dalam arti ringan seperti yang dimaksud
dalam KUHP pasal 352.

2.3.2

Kejahatan Kesusilaan Di Luar Perkawinan


Kejahatan jenis ini dibedakan lagi dalam dua bagian, yaitu: persetubuhan yang
dilakukan dengan persetujuan dan persetubuhan yang dilakukan tanpa persetujuan.

2.3.2.1 Persetubuhan yang dilakukan dengan persetujuan


Yang termasuk dalam kategori ini adalah KUHP pasal 284 tentang perzinaan
dan KUHP pasal 287.
Perzinaan
Menurut orang awam, zina (overspell) adalah persetubuhan yang dilakukan di
luar perkawinan. Kriteria tersebut di atas tidak semuanya dapat dituntut di muka
pengadilan dengan KUHP pasal 284.
KUHP pasal 284
1) Dihukum

dengan

pidana

penjara

paling

lama

sembilan

bulan:

1a. Seorang pria yang telah kawin, yang melakukan gendak (overspel/zina),
padahal diketahui bahwa pasal 27 BW (Burgerlyk Wetboek) berlaku baginya.
1b. Seorang wanita yang telah kawin yang melakukan gendak/zina, padahal
diketahui bahawa pasal 27 BW (Burgerlyk Wetboek) berlaku baginya.
2a. Seorang pria yang turut serta melakukan perbuatan itu, padahal diketahuinya
bahwa

yang

turut

bersalah

telah

kawin;

2b. Seorang wanita yang belum kawin yang turut serta melakukan perbuatan itu,
padahal diketahui olehnya bahwa yang turut bersalah telah kawin dan pasal
27 BW berlaku baginya.
2) Tidak dilakukan penuntutan melainkan atas pengaduan suami/istri yang tercemar,
dan bilamana bagi mereka berlaku pasal 27 BW, dalam tenggang waktu tiga
bulan diikuti dengan permintaan untuk bercerai atau pisah-meja dan ranjang
dengan alasan itu juga.
3) Terhadap pengaduan ini tidak berlaku pasal 72, 73, dan 75.
4) Pengaduan dapat ditarik kembali selama pemeriksaan dalam sidang pengadilan
belum dimulai.
5) Jika bagi suami istri itu berlaku pasal 27 BW, pengaduan tidak diindahkan selama
perkawinan belum diputuskan karena perceraian atau sebelum putusan yang
menyatakan pisah meja dan tempat tidur menjadi tetap.
BW pasal 27 = KUHPerdata pasal 27 = U.U. Perkawinan No.1/1974
Dalam waktu yang sama seorang laki hanya diperbolehkan mempunyai satu
orang perempuan sebagai istrinya, seorang perempuan hanya satu orang laki sebagai
suaminya.

Kejahatan perzinaan merupakan delik aduan absolut, tidak dilakukan


melainkan atas pengaduan suami/istri yang tercemar. Konsekuensi dari ketentuan di
atas adalah, tidak dapat dituntut karena melakukan zina:
1. Seorang laki-laki yang tidak beristri yang melakukan persetubuhan dengan
seorang perempuan yang tidak kawin atau tidak bersuami berumur di atas lima
belas tahun.
2. Seorang perempuan yang bersuami sebagai pelaku peserta. Konsekuensinya
adalah seorang istri yang melacurkan diri dengan persetujuan suami, dikaryakan,
tidak dapat dituntut sebagai pelaku atau pelaku peserta.
3. Seorang istri yang suaminya sakit jiwa dan berada di bawah pengampuan
(curatele) yang melakukan kumpul kebo (samen leven).
KUHP pasal 287
Bagaimana kalau persetubuhan dilakukan dengan persetujuan, tapi perempuan
yang dimaksud belum berumur lima belas tahun dan juga belum cukup umur?
Kejahatan ini tidak termasuk perzinaan, tetapi ada pasalnya sendiri, yaitu KUHP pasal
287:
1) Barang siapa bersetubuh dengan seorang wanita di luar perkawinan, padahal
diketahuinya atau sepetutnya harus diduganya bahwa umurnya belum lima belas
tahun, atau kalau umurnya tidak jelas, bahwa belum waktunya untuk dikawin,
diancam dengan pidana penjara paling lama sembilan tahun.
2) Penuntutan hanya dilakukan atas pengaduan, kecuali jika umur wanita itu belum
sampai dua belas tahun atau jika ada salah satu hal berdasarkan pasal 291 dan
pasal 294.

KUHP pasal 291


1) Kalau salah satu kejahatan yang diterangkan dalam pasal 286, 287, 288, dan 290
itu berakibat luka berat, dijatuhkan hukuman penjara selama-lamanya 12 tahun.
2) Kalau salah satu kejahatan yang diterangkan dalam pasal 285, 286, 287, 289, dan
290 itu berakibat matinya orang, dijatuhkan hukuman penjara selama-lamanya 15
tahun
KUHP pasal 294
Barang siapa melakukan perbuatan cabul dengan anaknya, anak tirinya, atau
anak piaraannya, anak yang di bawah pengawasannya, orang di bawah umur yang
diserahkan kepadanya untuk dipelihara, dididiknya atau dijaganya, atau bujangnya,

atau orang yang dibawah umur, dihukum dengan hukuman penjara selama-lamanya 7
tahun.
Dengan itu dihukum juga
1. Pegawai negeri yang melakukan perbuatan cabul dengan orang yang
dibawahnya/orang yang dipercayakan/diserahkan kepadanya untuk dijaga.
2. Pengurus, dokter, guru, pejabat, pengurus atau bujang di penjaram di tempat
bekerja kepunyaan negeri, tempat pendidikanm rumah piatu, RS Gila atau
lembaga, semua yang melakukan perbuatan cabul dengan orang yang dimasukkan
di situ.
Tindak pidana ini merupakan persetubuhan dengan wanita yang menurut
undang-undang belum cukup umur. Jika umur korban belum cukup 15 tahun tetapi
sudah di atas 12 tahun, penuntutan baru dilakukan bila ada pengaduan dari yang
bersangkutan. Jadi dengan keadaan itu persetubuhan tersebut merupakan delik aduan.
Bila tidak ada pengaduan, tidak ada penuntutan.
Tetapi keadaan akan berbeda jika:
a) Umur korban belum cukup 12 tahun; atau
b) Korban yang belum cukup 15 tahun itu menderita luka berat atau mati akibat
perbuatan itu (KUHP ps 291); atau
c) Korban yang belum cukup 15 tahun adalah anaknya, anak tirinya, muridnya,
atau anak berada di bawah pengawasannya, bujangnya, atau bawahannya (ps
294)
Dalam keadaan di atas penuntutan dapat dilakukan walaupun tidak ada
pengaduan karena bukan lagi merupakan delik aduan.
Pada pemeriksaan akan diketahui umur korban. Jika tidak ada akte kelahiran
maka umur korban yang pasti tak diketahui. Dokter perlu menyimpulkan apakah
wajah dan bentuk badan korban sesuai dengan umur yang dikatakannya.
Keadaan perkembangan payudara dan pertumbuhan rambut kemaluan perlu
dikemukakan. Ditentukan apakah gigi geraham belakang ke-2 (molar ke-2) sudah
tumbuh (terjadi pada umur kira-kira 12 tahun, sedangkan molar ke-3 akan muncul
pada usia 17-21 tahun atau lebih). Juga harus ditanyakan apakah korban sudah pernah
mendapat haid bila umur korban tidak diketahui.
Kalau korban menyatakan belum pernah haid, maka penentuan ada/tidaknya
ovulasi masih diperlukan. Muller menganjurkan agar dilakukan observasi selama 8
minggu di rumah sakit untuk menentukan adakah selama itu pasien mendapat haid.

Kini untuk menentukan apakah seorang wanita sudah pernah mengalami ovulasi atau
belum, dapat dilakukan pemeriksaan vaginal smear.
Hal di atas perlu diperhatikan mengingat bunyi kalimat: padahal diketahuinya
atau sepatutnya harus diduganya bahwa wanita itu umurnya belum lima belas tahun
dan kalau umurnya tidak jelas bahwa belum waktunya untuk dikawin. Perempuan
yang belum pernah haid dianggap sebagai belum patut dikawin.
2.3.2.2 Persetubuhan yang Dilakukan Tanpa Persetujuan
Yang termasuk dalam pembahasan ini adalah:
a) KUHP pasal 285: Perkosaan
b) KUHP pasal 286: Persetubuhan dengan seorang perempuan dalam keadaan
pingsan atau tidak berdaya
Perkosaan
KUHP 285
Barang siapa dengan kekerasan atau ancaman kekerasan memaksa seorang
wanita bersetubuh dengan dia di luar perkawinan, diancam karena melakukan
perkosaan dengan pidana penjara paling lama dua belas tahun.
Pada tindak pidana di atas perlu dibuktikan telah terjadi persetubuhan dan
telah terjadi paksaan dengan kekerasan atau dengan ancaman kekerasan. Dokter dapat
menentukan apakah persetubuhan telah terjadi atau tidak, dan apakah terdapat tandatanda kekerasan. Tetapi ia tidak dapat menentukan apakah terdapat unsur paksaan
pada tindak pidana ini
Ditemukannya tanda kekerasan pada kekerasan pada tubuh korban tidak selalu
merupakan akibat paksaan, mungkin juga disebabkan oleh hal-hal lain yang tak ada
hubungannya dengan paksaan. Demikian pula jika dokter tidak menemukan tanda
kekerasan, maka hal itu belum merupakan bukti bahwa paksaan tidak terjadi. Pada
hakekatnya, dokter tak dapat menentukan unsur paksaan yang terdapat pada tindak
pidana perkosaan; sehingga ia juga tidak mungkin menentukan apakah perkosaan
telah terjadi.
Yang berwenang untuk menentukan hal tersebut adalah hakim, karena
perkosaan adalah pengertian hukum bukan istilah medis sehingga dokter jangan
menggunakan istilah perkosaan dalam Visum et Repertum.

Dalam bagian kesimpulan Visum et Repertum hanya dituliskan:


(1)

ada tidaknya tanda persetubuhan dan

(2) ada tidaknya tanda kekerasan, serta jenis kekerasan yang menyebabkannya
Persetubuhan dengan seorang perempuan dalam keadaan pingsan/tidak berdaya
KUHP pasal 286
Barangsiapa bersetubuh dengan seorang wanita di luar perkawinan, padahal
diketahui bahwa wanita itu dalam keadaan pingsan atau tidak berdaya, diancam
dengan pidana penjara paling lama sembilan tahun.
Pada tindak pidana di atas harus terbukti bahwa perempuan dalam keadaan
pingsan atau tidak berdaya ketika terjadi persetubuhan. Dokter harus mencatat dalam
anamnesis apakah korban sadar ketika terjadi persetubuhan, adakah penyakit yang
diderita korban yang sewaktu-waktu dapat mengakibatkan korban pingsan atau tidak
berdaya, misalnya epilepsi, katalepsi, syncope, dan sebagainya. Jika korban
mengatakan ia menjadi pingsan, maka perlu diketahui bagaimana terjadinya keadaan
pingsan itu, apakah terjadi setelah korban diberi minuman atau makanan.
Pada pemeriksaan perlu apakah korban menunjukkan tanda-tanda bekas hilang
kesadaran atau tanda-tanda telah berada di bawah pengaruh alkohol, hipnotik atau
narkotik. Apabila ada petunjuk bahwa alkohol, hipnotik, atau narkotik telah
dipergunakan, maka dokter perlu mengambil urin dan darah untuk pemeriksaan
toksikologik.
Jika terbukti bahwa si terdakwa telah sengaja membuat wanita itu pingsan atau
tidak berdaya, ia dapat dituntut telah melakukan tindak pidana perkosaan, karena
dengan membuat wanita itu pingsan atau tidak berdaya ia telah melakukan kekerasan.
KUHP pasal 89
Membuat orang pingsan atau tidak berdaya disamakan dengan menggunakan
kekerasan.
2.4

Aspek Teknis Forensik dalam Pemeriksaan Kejahatan Seksual


Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan sebelum pemeriksaan dilakukan:

Setiap pemeriksaan untuk pengadilan harus berdasarkan permintaan tertulis dari

penyidik yang berwenang.


Korban harus diantar oleh polisi karena tubuh korban merupakan benda bukti. Kalau
korban datang sendiri dengan membawa surat permintaan dari polisi, jangan

diperiksa, suruh korban kembali kepada polisi.


Setiap Visum et Repertum harus dibuat berdasarkan pada keadaan yang didapatkan
pada tubuh korban pada waktu permintaan Visum et repertum diterima oleh dokter.
Bila dokter telah memeriksa seorang korban yang datang di rumah sakit, atau di
tempat praktek atas inisiatif sendiri, bukan atas permintaan polisi, dan beberapa waktu
kemudian mengajukan permintaan dibuatkan Visum et Repertum, maka ia harus
menolak, karena segala sesuatu yang diketahui dokter tentang diri korban sebelum ada
permintaan untuk dibuatkan Visum et repertum merupakan rahasia kedokteran yang
wajib disimpannya (KUHP pasal 322). Dalam keadaan seperti itu dokter dapat
meminta kepada polisi supaya korban dibawa kembali kepadanya dan Visum et
Repertum dibuat berdasarkan keadaan yang ditemukan pada waktu permintaan
diajukan. Hasil pemeriksaan yang lalu tidak diberikan dalam bentuk Visum et
Repertum tapi dalam bentuk surat keterangan. Hasil pemeriksaan sebelum
diterimanya surat permintaan dilakukan terhadap pasien dan bukan sebagai corpus

dilicti (benda bukti).


Ijin tertulis untuk pemeriksaan ini dapat diminta pada korban sendiri atau jika korban
adalah seorang anak, dari orangtua atau walinya. Jelaskan terlebih dahulu tindakantindakan apa yang akan dilakukan pada korban dan dan hasil pemeriksaan akan
disampaikan ke pengadilan. Hal ini perlu diketahui walaupun pemeriksaan dilakukan
atas permintaan polisi, belum tentu korban akan menyetujui pemeriksaan itu dan tidak
menolaknya. Selain itu bagian yang akan diperiksa merupakan bagian yang paling

pribadi dari seorang wanita.


Seorang perawat atau bidan harus mendampingi dokter pada saat memeriksa korban.
Pemeriksaan dilakukan secepat mungkin jangan ditunda terlampau lama.
Hindarkan korban dari menunggu dengan perasaan was-was dan cemas di kamar
periksa. Apalagi bila korban adalah seorang anak. Semua yang ditemukan harus

dicatat, jangan tergantung pada ingatan semata.


Visum et Repertum diselesaikan secepat mungkin. Dengan adanya Visum et
Repertum, perkara dapat cepat diselesaikan. Seorang terdakwa dapat cepat dibebaskan
dari tahanan bila ternyata ia tidak bersalah.

Kadang-kadang dokter yang sedang berpraktek pribadi diminta oleh seorang ibu/ayah
untuk memeriksa anak perempuannya, karena ia merasa sangsi apakah anak
perempuannya masih perawan, atau kerena ia merasa curiga kalau-kalau atas diri
anaknya baru terjadi persetubuhan. Dalam hal ini sebaikanya ditanyakan dahulu
maksud pemeriksaan, apakah sekedar ingin mengetahui saja, atau ada maksud untuk
melakukan penuntutan. Bila dimaksudkan akan melakukan penuntutan maka
sebaiknya dokter jangan memeriksa anak itu. Katakan bahwa pemeriksaan harus
dilakukan berdasarkan permintaan polisi dan biasanya dilakukan di rumah sakit.
Mungkin ada baiknya dokter memberikan penerangan pada ibu/ayah itu, bahwa jika
umur anaknya sudah 15 tahun, dan jika persetubuhan terjadi tidak dengan paksaan
maka menurut undang-undang, laki-laki yang bersangkutan tidak dapat dituntut.
Pengaduan mungkin hanya akan merugikan anaknya saja. Lebih baik lagi jika orang
tua itu dianjurkan untuk minta nasehat dari seorang pengacara. Jika orangtua hanya
sekedar ingin mengetahui saja maka dokter dapat melakukan pemeriksaan. Tetapi
jelaskan terlebih dahulu bahwa hasil pemeriksaan tidak akan dibuat dalam bentuk
surat keterangan, karena kita tidak mengetahui untuk apa surat keterangan itu.
Mungkin untuk melakukan penuntutan atau menuduh orang yang tidak bersalah.
Dalam keadaan demikian umumnya anak tidak mau diperiksa, sebaliknya orang tua
malah mendesaknya. Sebaiknya dokter meminta izin tertulis untuk memeriksa dan
memberitahukan hasil pemeriksaan kepada orang tuanya.

Data yang perlu dicantumkan dalam bagian pendahuluan Visum et Repertum


delik kesusilaan adalah:
- Instansi polisi yang meminta pemeriksaan, nama dan pangkat polisi yang mengantar
korban, nama, umur dan pekerjaan korban seperti tertulis dalam surat permintaan,
nama dokter yang memeriksa, tempat, tanggal, dan jam pemeriksaan dilakukan serta
nama perawat yang menyaksikan pemeriksaan.
- Anamnesia merupakan sesuatu yang tidak dapat dilihat atau ditemukan oleh dokter
sehingga bukan merupakan pemeriksaan yang objektif, sehingga seharusnya tidak
dimasukkan dalam Visum et Repertum. Anamnesis dibuat terpisah dan dilampirkan
pada Visum et Repertum dengan judul keterangan yang diperoleh dari korban.
Dalam mengambil anamnesis, dokter meminta korban untuk menceritakan segala

sesuatu tentang kejadian yang dialaminya dan sebaiknya terarah. Anamnesis terdiri
dari bagian yang bersifat umum dan khusus.
Anamnesis umum meliputi pengumpulan data tentang umur, tanggal dan tempat lahir,
status perkawinan, siklus haid untuk anak yang tidak diketahui umurnya, penyakit
kelamin dan penyakit kandungan serta adakah penyakit lain seperti epilepsi, katalepsi,
dan syncope. Cari tahu apakah pernah bersetubuh? Persetubuhan yang terakhir?
Apakah menggunakan kondom?
- Hal khusus yang perlu diketahui adalah waktu kejadian; tanggal dan jam. Bila waktu
antara kejadian dan pelaporan kepada yang berwajib berselang beberapa hari/minggu,
dapat diperkirakan bahwa peristiwa itu bukan peristiwa perkosaan, tetapi
persetubuhan yang pada dasarnya tidak disetujui oleh wanita yang bersangkutan.
2.5 Pemeriksaan Forensik dari Korban Kejahatan Seksual
Hal ini merupakan bidang yang sangat terspesialisasi pada kedokteran forensik klinik
dan hal-hal yang disebutkan di bawah ini hanya ditujukan untuk panduan garis besar saja.
Diperlukan pemeriksaan dari korban dan pelaku.
Idealnya, pemeriksaan harus dilakukan sesegera mungkin setelah kejadian, namun hal
ini tidak selalu mungkin dilakukan setelah kecelakaan karena pelaporan oleh korban yang
tertunda atau karena korban tidak merasa siap untuk diperiksa; perasaan korban harus
menjadi perhatian pasien. Pemeriksaan pasien (atau tertuduh) harus dilakukan di ruangan
yang cocok dan memiliki peralatan yang cukup lengkap, yang dapat berupa ruangan khusus
di kantor polisi atau rumah sakit, atau di ruangan kesehatan di kantor polisi, atau di rumah
sakit. Apabila pemeriksaan akan dilakukan, harus ada jaminan terhadap privacy individu
yang diperiksa, pencahayaan yang mencukupi dan fasilitas lain yang diperlukan oleh dokter
dalam melakukan pemeriksaan. Korban mungkin meminta teman atau saudara hadir pada saat
pemeriksaan, dan wali dari anak yang diperiksa harus hadir.
Sangat penting untuk mendapatkan persetujuan pasien dan dokter menjelaskan
batasan kerahasiaan pada pemeriksaan tersebut. Yang terutama, dokter harus menjelaskan
bahwa kerahasiaan absolut tidak dapat diberikan, karena dokter tersebut mungkin
diperintahkan oleh pengadilan untuk mengungkapkan semua yang disebutkan dan dilakukan
pada saat pemeriksaan; hal ini berlaku baik pada korban dan tertuduh. Individu harus sadar
bahwa ia dapat menghentikan pemeriksaan kapan saja.

Korban biasanya telah diwawancara oleh polisi atau petugas legal lain untuk
meyakinkan urutan kejadian dan tindakan yang dilakukan. Pada keadaan ini jarang
diperlukan oleh dokter untuk menanyakan riwayat kejadian tersebut kembali, karena fakta
utama dapat diberikan oleh petugas yang mewawancara pasien. Apabila diperlukan, dokter
dapat menanyakan pada pasien beberapa pertanyaan untuk memperjelas/mengklarifikasi
aspek-aspek tertentu.
Riwayat medis dan seksual harus ditanyakan, yang harus meliputi detail atau kondisi
yang telah terjadi atau pola perilaku yang dapat memberikan dampak terhadap pemeriksaan.
Pemeriksaan fisik harus dilakukan berupa pemeriksaan fisik umum yang
berkonsentrasi pada bukti-bukti cedera dan penyakit, dan seluruh kelainan harus dicatat dan
cedera dijelaskan dan diukur. Sampel rambut kepala dan kuku, darah dan urine harus diambil.
Pemeriksaan anogenital spesifik harus dilakukan terakhir, dan sampai batas mana
pemeriksaan dilakukan akan bergantung pada tiap kasus ada tiap individu; apabila hanya
fellatio (seks oral terhadap alat kelamin laki-laki yang) yang dituduhkan, mungkin tidak
diperlukan pemeriksaan anogenital menyeluruh.
Pemeriksaan daerah anogenital dari korban secara spesifik akan mencakup
pemeriksaan kelainan dan penyakit anogenital selain juga bukti-bukti terjadinya luka. Pada
semua kasus, menyisir rambut kemaluan dan mengambil semua benda asing dari regio
tersebut sangat penting.
Kecuali apabila benda tajam dipergunakan pada saat kejahatan seksual, luka yang
biasanya ditemukan, apabila ada, biasanya berupa trauma tumpul yang disebabkan oleh penis
atau jari (digital). Kadang kala, cedera yang disebabkan oleh fisting (memasukkan kepalan
tangan) atau penggunaan objek lain dapat ditemukan.
Pemeriksaan regio anogenital dari wanita harus meliputi pemeriksaan labia terhadap
cedera; dua apusan kering dilakukan pada saat tersebut. Vagina kemudian diperiksa
mempergunakan spekulum yang bersih dan sebuah benda asing seperti pelicin, kondom, atau
objek lain diperoleh dan diambil dan disimpan untuk pemeriksaan ilmiah spesifik. Dinding
vagina diperiksa dengan hati-hati terhadap terjadinya luka, yang dapat, walaupun jarang
termasuk pula penetrasi oleh benda tumpul atau tajam lain. Hymen kemudian diperiksa dan
penampilan umumnya dan bukti-bukti terhadap cedera baru termasuk robekan direkam.
Relevansi dari cedera himen paling besar pada wanita muda dan tidak berpengalaman (secara
seksual), namun semua cedera harus diintepretasikan secara hati-hati. Apusan vaginal tinggi
dan endocervix diambil saat spekulum diangkat. Pemeriksaan kolposkopik dari traktus

genitalis wanita disarankan oleh banyak, namun tidak semua praktisi forensik. Pemeriksaan
terspesialisasi ini mahal dan mungkin hanya tersedia pada ruangan spesialis korban
pemerkosaan atau pada depertemen ginekologi di rumahsakit.
Pemeriksaan penis mencakup semua abnormalitas kongenital atau didapat dan buktibukti infeksi atau benda asing, dalam, pada, atau sekitar area genital. Pencarian yang seksama
terhadap cedera harus dilakukan, termasuk retraksi kulit khatan (kulup/foreskin) untuk
memeriksa glans penis pada pria yang belum disirkumsisi. Apusan dari batang dan dari glans
penis harus diambil, dan pada korban yang sudah mati, apusan urethra juga harus diperiksa.
Pemeriksaan terhadap anus serupa pada semua jenis kelamin. Setelah pemeriksaan
abnormalitas kongenital dan didapat dan penyakit, apusan harus diambil dari regio perianal,
canalis analis dan rectum bawah, dan benda asing, termasuk pelicin, kondom, atau benda lain,
harus diapus atau diambil. Anus, canalis anus, dan rektum harus diperiksa terhadap terjadinya
cedera, mempergunakan proctoskopi apabila dapat ditoleransi oleh individu yang diperiksa.
Kerusakan terhadap mukosa anus dapat berupa berupa sejulah kelainan, termasuk fissura,
robekanm atau laserasi. Sangat penting untuk mengingat bahwa kerusakan terhadap anus
dapat ditimbulkan oleh faktor lain selain trauma langsung.
2.6 Pemeriksaan Forensik Bagi Tertuduh
Apabila seseorang ditangkap karena kejahatan seksual, pemeriksaan medis sangat
penting. Namun informed consent dari individu tersebut masih diperlukan pada sebagian
besar negara. Tertuduh mungkin menginginkan seorang kuasa hukum (legal representative)
untuk hadir dan hal tersebut harus dipenuhi. Dokter juga harus melakukan anamnesis dan
mencatat riwayat umum dari kejadian menurut tertuduh dan juga riwayat medis dan
sosialnya, dan batasan kerahasiaan dari anamnesis tersebut harus dijelaskan secara jelas,
seperti pada korban kejahatan seksual.
Pemeriksaan tubuh menyeluruh terhadap terjadinya luka sangat penting. Apabila
terjadi pergumulan, pelaku mungkin mengalami cedera, dan sekelompok bekas cakaran
paralel pada wajah, leher, dan dada dari kuku jari korban sering ditemukan. Pemeriksaan
regio anogenital jarang menampakkan tanda-tanda yang signifikan, walaupun mungkin
terdapat kemerahan dan nyeri tekan non spesifik. Glans penis atau preputium mungkin dapat
mengalami memar dan mungkin terdapat kerusakan frenulum, dan material feces dapat
ditemukan apabila dilakukan penetrasi anal. Penggunaan tes Lugol iodine saat ini dianggap
tidak perlu: dulu idenya adalah dengan larutan iodine diapuskan pada glans penis, akan

mengungkapkan terdapatnya sel squamous (pipih) vagina dengan mengubah warnanya


menjadi coklat karena glikogen yang terkandung pada sel vagina.
Ditemukannya bukti-bukti yang samar sering lebih penting dari pemeriksaan genital.
Sampel dari rambut pubis harus diambil, berserta rambut kepala dan bahkan kumis atau
jenggot apabila diperlukan. Rambut pubis harus disisir untuk mendapatkan rambut atau
serabut asing. Darah diambil untuk penentuan golongan darah, alkohol, DNA, dan buktibukti infeksi kelamin.
Pada anak kecil, kerusakan pada annulus (cincin) anus lebih sering dibandingkan pada
korban yang berusia lebih tua, Oleh karena itu, kehati-hatian diperlukan dalam menentukan
ukuran anus, terutama pada korban yang mati, yang pada saat post-mortem dapat terdapat
kelainan. Pada kasus-kasus yang ekstrem, robekan mukosa dapat terlihat. Pada homoseksual
habitualis, anus dapat mengalami dilatasi permanen, dengan penurunan tonus sphincter dan
paparan mukosa anus. Deskripsi terdahulu berupa funnel shaped anus/anus berbentuk
kerucut dengan keratinisasi dan penebalan dari kulit eksternal merupakan fenomena yang
langka, namun kulit bersisik berwarna perak dapat terjadi pada tempat dekat anus karena
penetrasi berulang.
2.7 Temuan Eksternal Yang dapat Ditemukan pada Korban Kejahatan Seksual yang
Telah Meninggal
Seperti pada hampir semua autopsi forensik, pemeriksaan eksternal yang seksama
sangat penting dan biasanya lebih penting daripada pemeriksaan dalam. Pemeriksaan
permukaan tubuh pada korban penyerangan seksual pada korban hidup dan mati serupa dan
dapat dibedakan menjadi dua: pemeriksaan umum menyeluruh dan pemeriksaan perine.
2.7.1 Bibir dan Mulut
Memar dapat ditemukan pada bibir dan terutama pada permukaan dalam pipi (buccal),
yang disebabkan oleh usaha penciuman yang kasar. Bibir dapat ditekan pada bagian ujung
gigi, menimbulkan laserasi, memar, dan bahkan laserasi permukaan buccal. Apusan harus
dimasukkan diambil dari mulut, untuk mencari bukti-bukti terdapatnya cairan semen dari
penetrasi oral. Walaupun apusan tersebut jarang memberikan hasil yang positif terhadap
terbentuknya spermatozoa, metode analisis modern dapat mendeteksi komponen lain dari
cairan semen atau terdapatnya sel epitel pria.
2.7.2 Gigitan

Memar lain dapat ditemukan pada leher, bahu, payudara, dan pantat karena hisapan
oral atau gigitan. Temuan ini secara eufemistik disebut love bites dan dapat beragam mulai
dari lesi minor yang timbul karena hasrat yang antusias sampai pada luka gigitan berat yang
sifatnya sadis.
Lesi tersebut dapat terdiri dari area memar berbentuk sirkuler atau oval, dimana zona
yang terluka terdiri dari perdarahan-perdarahan petehial intradermal kecil yang disebabkan
oleh hisapan kulit ke mulut, yang menimbulkan penurunan tekanan udara yang akan merobek
pembuluh-pembuluh darah kecil. Mungkin terdapat tanda semilunar pada pinggir bibir, dan
dapat terjadi indentasi gigi atau abrasi yang berhubungan dengan tindakan tersebut. Tanda
tersebut sering terlihat pada tepi leher, belakang telinga, bahu atas, bagian atas dada, dan
sekitar puting.
Luka gigitan dapat mengikuti bekas hisapan atau dapat memiliki letak yang terpisah,
ciri utamanya adalah abrasi atau memar yang cocok dengan lengkung gigi, sering dengan
tanda tanda yang jelas untuk tiap giginya. Tanda tersebut dapat linear apabila gigi mengalami
penggeseran saat rahang menutup. Luka tersebut dapat superfisial atau cukup dalam untuk
membuat penetrasi kulit hingga menimbulkan laserasi. Yang terakhir terutama sering terdapat
di puting pada penyerangan seksual, bahkan puting dan sebagian areola dapat mengalami
amputasi parsial atau total.
Pada pembunuhan seksual, sangat penting untuk mendapatkan pendapat dari ahli gigi
forensik, apabila memungkinkan. Pada tiap kejadian, sangat penting untuk mengambil foto
dan melakukan pengukuran dari luka tersebut. Apabila memungkinkan, dapat dilaukan
cetakan indentasi gigi untuk perbandingan selanjutnya. Sebelum penanganan apapun terhadap
luka tersebut, apusan harus diambil dari permukaannya untuk menemukan air ludah (saliva),
apabila penyerangnya merupakan sekretor dapat diuji terhadap substansi spesifik untuk
golongan darah.
2.7.3 Luka-luka Memar dan Abrasi yang Umum
Selain dengan memar yang dapat berhubungan dengan serangan fatal, seperti cedera
tenggorokan atau kepala, sebagian memar merupakan indikasi motivasi seksual. Payudara
sering diremas dan dimanipulasi, menimbulkan memar discoid sebesar 1-2 cm pada bagian
manapun dari payudara, terutama pada sekitar payudara. Abrasi linear, biasanya dari jari
kuku, dapat pula ditemukan. Memar dapat pula terlihat pada paha dan pantat, yang timbul
karena pergumulan untuk mencapai senggama, baik sisi luar maupun dalam dari paha dapat
mengalami memar dan cakaran: area yang tipikal adalah aspek medial dari paha bagian atas,

dimana kaki direnggangkan secara paksa oleh tangan. Mungkin terdapat memar pada sekitar
anus karena jari yang membuka celah pantat untuk mencapai baik penetrasi anus maupun
penetrasi vulva posterior.
Apabila serangan berlangsung pada permukaan yang keras atau tidak rata, memar dan
abrasi dapat terlihat di punggung, terutama di bahu dan pantat. Apabila terjadi di luar,
mungkin terdapat tanda dari batu atau dahan dan sisa-sisa tanaman, seperti daun, dan rumput,
dan warna hijau yang dapat menempel pada kulit, bersamaan dengan tanah atau lumpur.
Pemeriksaan pakaian biasanya merupakan tugas ilmuwan fosensik (kriminalis), namun
apabila patolog forensik memeriksa jenasah in situ, pada umumnya akan mengenali
kerusakan, susunan yang berantakan dan material asing pada pakaian.
2.7.4 Cedera Umum yang lain
Tangan harus diperiksa secara seksama pada semua korban penyerangan, Jari tangan,
terutama jari tangan wanita muda yang panjang dan dimanikur, dapat mengalami patah
karena pergumulan. Kadang kala terdapat rambut atau serabut yang terperangkap pada
potongan kuku, yang berasal dari penyerang atau pakaiannya. Pada autopsi, kuku harus
dipotong sangat dekat dengan jari dan semua potongan kuku harus dikumpulkan dengan hatihati

untuk

menjalani

pemeriksaan

laboratorium

forensik.

Sangat

penting

untuk

mengumpulkan kuku dari tiap jari dalam kantung individual namun tiap tangan harus
diidentifikasi secara terpisah. Sebagian patolog memilih untuk mengorek ruang yang ada di
bawah kuku dengan tusuk gigi atau dengan benda berujung tajam, dan dengan hati-hati
mengambil tiap debris. Alasan untuk dilakukan tindakan ini, terutama pada korban
penyerangan seksual, adalah karena mereka mungkin telah mencakar penyerang dan terdapat
darah, bahkan sebagian kulit, di bawah kuku yang dapat diidentifikasi golongan darah atau
karakteristik DNA spesifik individual.
Tanda-tanda cedera kepala dan pencekikan juga dilakukan seperti biasa, namun
sebagian trauma fatal dapat memiliki orientasi seksual, terutama cedera yang diakibatkan
oleh pisau. Penyayatan atau penikaman yang sadis dapat dilakukan pada area yang signifikan
secara seksual, terutama payudara, pantat, perineum, dan abdomen bagian bawah. Vulva
dapat dimutilasi. Mungkin terdapat bacokan atau tikaman yang dalam, sering multipel dan
berjumlah banyak. Dapat terjadi dalam pola tertentu, atau dapat bersifat mutilasi, misalnya
pemotongan payudara. Pemotongan kepala kadangkala dilakukan, dapat disertai tindakan
ritual tertentu, dengan objek yang ditempatkan pada tempat tertentu dekat tubuh. Pembunuh
Jack the Ripper yang terkenal di London pada tahun 1888 melakukan pengeluaran organ

dalam dengan pola tertentu, dan jenis mutilasi ini merupakan salah satu ciri dari pembunuhan
seksual yang sadis. Usus atau uterus dapat diambil, baik melalui luka abdomen atau manual
melalui vagina. Cedera umum pada tubuh dapat berkesinambungan dengan trauma genital,
misalnya oleh pisau atau botol pecah pada abdomen dan perineum.
2.7.5 Cedera Genital
Apabila patolog forensik telah memeriksa seluruh cedera eksternal genital, perhatian
harus diarahkan pada perineum. Seperti pada pemeriksaan seksual dari penyerangan seksual
pada pasien hidup, serangkaian tindakan rutin harus dilakukan., karena urutan yang tidak
tepat dapat menimbulkan hilangnya bukti forensik yang berharga.
Vulva dan anus harus diinspeksi secara eksternal, dan laserasi, bengkak, memar,
perdarahan, dan pengeluaran cairan harus dicatat. Setiap darah atau dugaan noda semen
dimanapun pada tubuh atau pakaian harus diambil sampelnya. Rambut pubis harus diperiksa
terhadap benda asing, rambut, tanaman dan noda semen yang telah mengering, sampel
rambut diambil dan penyisiran rambut harus dilakukan. Rambut dapat disisir dengan sisir
halus dengan dasar gigi dilengkapi dengan kapas untuk memerangkap serabut-serabut yang
terlepas. Noda yang yang telah mengering pada rambut dapat dipotong dan ditempatkan pada
kertas bersih pada amplop, atau kantung plastik untuk dikirim ke laboratorium. Bibir vulva
dapat menunjukkan tanda-tanda trauma yang jelas, terutama pada anak-anak. Pada paksaan
perkosaan, terutama pada individu muda, mungkin terdapat tanda luar berupa robekan
perineum, dengan laserasi tepi introitus vagina atau anus, kadangkala disertai robekan
sempurna antara kedua lubang tersebut.
Perhatian harus dipergunakan dalam menginterpretasikan derajat dilatasi anus pada
jenazah, karena sphincter dapat menjadi relaks dan terbuka lebar pada perubahan postmortem yang normal. Karena dilatasi sangat hebat, temuan anus yang terbuka tanpa adanya
abrasi, memar, ataupun semen sulit dipertahankan sebagai bukti penetrasi anal. Hal ini
berlaku baik pada anak kecil ataupun pada dewasa; faktanya, dilatasi anus post-mortem pada
anus terutama terlihat pada anak-anak.
Apabila pemeriksaan eksternal dan penilaian telah dibuat, sampel harus diambil untuk
uji forensik biologis, terhadap keberadaan semen dan infeksi kelamin, dan juga sampel untuk
profil DNA, yang dpaat membedakan apakah terdapat cairan semen dan sekresi vagina. Jika
terdapat cairan yang keluar dari vulva atau anus, harus diambil dengan mempergunakan pipet
bersih dan dijaga pada tabung terkecil yang tersedia, untuk mencegah kekeringan karena
penguapan. Kemudian, apusan dengan kapas pada suatu tangkai (yakinkan bahwa yang

dipergunakan pada deteksi semen adalah apus polos, bukan yang mengandung albumin atau
media lain), harus dilakukan untuk mengambil sampel berikut dengan sentuhan lembut pada
permukaan mukosa:

Bagian Inferior dari labia vulva dan sekitar orificium vagina


Tepi dan bagian inferior dari anus
Pada pertengahan vagina, mempergunakan spekulum atau forceps bedah dengan lidah
yang lebar untuk memisahkan dinding bawah vagina dengan lembut agar apusan

dapat mencapai area tanpa kontaminasi dari vagina bagian bawah.


Pada vagina atas, cervix, dan fornix posterior, juga dengan mempergunakan instrumen
spatula untuk membuka canalis untuk memberikan akses bagi apusan. Apabila isi
cairan yang terdapat di bagian atas, baik pada pemeriksaan ini ataupun pada
pemeriksaan bedah mayat yang dilakukan kemudian, maka cairan harus diambil
dengan pipet.
Setelah pengambilan sampel, bagian inferior dari anus, vulva dan vagina, sejauh yang

dapat terlihat dari luar, harus diperiksa. Laserasi, abrasi, memar, dan perdarahan harus
dievaluasi. Keberadaan dan kondisi hymen harus dicatat, berserta bukti-bukti robekan baru.
Apabila lukanya besar, terutama pada anak kecil, fistula antara vagina dengan rectum bahkan
rongga peritoneum dapat terlihat. Mungkin terdapat penonjolan usus.

2.8 Pemeriksaan Dalam


Urutan autopsi dapat ditentukan oleh sifat kematian. Luka fatal seperti strangulasi
atau cedera kepala, dapat ditangani pertama, namun regio pelvis dapat menjadi perhatian
pertama. Insisi autopsi harus sama dengan yang dijelaskan pada pemeriksaan kematian yang
berhubungan dengan kehamilan, dengan insisi yang melingkari perineum, pengangkatan
bagian anterior dari tulang pelvis dan pengeluaran seluruh organ pelcis secara
berkesinambungan mulai dari ovarium sampai vulva dan anus. Satu blok jaringan ini
kemudian dibedah secara terpisah. Sebelum hal tersebut dilakukan, kandung kemih harus
dikosongkan terlebih dahulu (baik dengan mempergunakan kateter ataupun melalui insisi
kecil di fundus) dan cairan yang diambil harus analisis toksikologi, terutama alkohol.
Vagina harus dibuka dengan gunting besar, jalur guntingan harus dibuat berdasarkan
penilaian luka pada pemeriksaan luar. Apabila terdapat robekan atau memar pada vulva atau
vagina, potongan harus diarahkan menghindari luka-luka tersebut apabila memungkinkan;

anus kemudian harus diperlakukan serupa apabila memungkinkan. Vagina kemudian


diletakkan terbuka sampai forniks posterior dan semua cedera diperiksa dengan seksama dan
difoto. Cervix dan uterus kemudian diperiksa dengan cara yang sama.
Cedera dapat terdiri dari semua tipe, mulai dari pemerahan atau pembengkakan
sampai robekan seluruh canalis vaginalis. Hal ini dapat terjadi pada anak kecil dari penetrasi
yang brutal, terutama apabila terdapat disproporsi yang berat antara penis dewasa dan kanal
yang infantil. Hal ini dapat juga terjadi karena cedera instrumen, walaupun sering juga dibuat
luka insisi yang disengaja. Luka vagina, terutama yang disebabkan oleh instrumen, dapat
tembus sampai rongga abdomen, baik melalui forniks posterior ataupun pada dinding lateral
vagina. Hal ini mungkin dapat diperiksa melalui insisi autopsi abdomen sebelum
pengangkatan organ.
2.9 Interpretasi dari Temuan Minimal
Pada

praktek

forensik

klinik,

hanya

terdapat

sedikit

kesulitan

dalam

menginterpretasikan interferensi seksual yang jelas terlihat, namun masalah akan muncul saat
bukti-bukti minimal yang terdapat pada kematian (traumatik atau bukan) dimana keadaan
menjelaskan terdapatnya kekerasan atau aktivitas seksual. Pada kasus-kasus tersebut, hal-hal
ini perlu dipertanyakan, dengan tambahan bukti-bukti lain seperti yang ditemukan pada akhir
autopsi dan pemeriksaan tambahan lain:

Apakah terdapat bukti-bukti senggama seksual pada waktu kapanpun? seperti


hilangnya keperawanan yang dibuktikan dengan adanya himen yang utuh? Hal ini
tidak menyingkirkan aktivitas seksual tanpa penetrasi dan secara teknis, pemerkosaan
dapat terjadi bahkan apabila terdapat masuknya glans penis di antara labia, yang tidak
mempengaruhi himen. Bekas senggama di masa lalu dapat diduga dari robekan
himen yang telah sembuh dengan carunculae myrtiformis pada tepian, walaupun
menggunaan tampon berkepanjangan dan manipulasi manual dapat pula merobek
himen. Bukti-bukti terjadinya kehamilan sebelumnya, seperti striae abdominalis,
cedera lama pada cervix dan perubahan payudara merupakan bukti-bukti pernah

terjadi hubungan seksual sebelumnya.


Apakah terdapat bukti adanya hubungan seksual yang pernah terjadi sebelumnya?
Himen yang baru saja robek, dengan pembengkakan, tepi yang masih baru yang
belum mengalami epitelisasi dan perdarahan dapat ditemukan, walaupun relatif
jarang kecuali pada anak-anak dan pada wanita muda yang masih perawan. Labia

dapat merah dan mengalami inflamasi dengan sedikit edem pada introitus vagina
apabila hal tersebut merupakan episode pertama, atau terdapat perbedaan proporsi
yang besar antara pria dewasa dengan korban yang muda, bahkan pada hubungan
seksual yang sukarela. Terdapatnya semen pada apus merupakan bukti yang terbaik.
Setelah vasektomi, walaupun tidak terdapat sperma, tes bahan kimia dan enzim pada
semen akan tetap positif. Terdapatnya penyakit kelamin, terutama gonorrhoea
merupakan bukti yang mengarahkan terjadinya senggama seksual, walaupun dapat
pula terjadi karena penetrasi penis yang mencukupi yang bukan pemerkosaan
Apabila telah terjadi senggama seksual, apakah hal tersebut terjadi secara paksa? Hal

tersebut mungkin dapat sangat jelas pada saat terdapat luka yang jelas, terutama pada
anak kecil. Apabila robekan vagina atau rektum terjadi, atau bila terdapat abrasi yang
jelas, memar atau laserasi dari vulva, tepi anus, atau perineum, maka hal tersebut
sangat mengarahkan kecurigaan bahwa tindakan tersebut dilakukan dengan paksa.
Kemungkinan cedera bermotif seksual tanpa penetrasi penis yang nyata harus
dipertimbangkan saat tidak ada semen yang dapat diambil, karena cedera yang sama
beratnya dapat ditimbulkan oleh trauma jari atau instrumen. Semua jenis benda asing
dapat dimasukkan secara paksa pada vagina dan rectum, yang sering dilakukan oleh
pembunuh yang sadis dan mesum (perverted). Penulis buku Knights forensic
Pathology pernah menjumpai lilin, botol, pisamg, pecahan kaca, dan pisau
dimasukkan pada vagina, dan gagang sapu serta kentang dimasukkan pada rectum.
Apabila cedera relatif ringan dan terbatas pada hiperemia dan edema introitus vagina
atau anal dan apabila terdapat sedikit abrasi dan memar pada vulva (bahkan apabila
terdapat cakaran kuku jari), walaupun dugaan utama terdapat senggama paksa, masih
terdapat kemungkinan bahwa terdapat senggama sukarela yang sangat antusias,
kecuali apabila korbannya adalah anak kecil.
2.9.1 Uji Semen
Pada negara-negara yang mempunyai ilmu sains forensik yang canggih atau
laboratorium polisi, patolog tidak akan dipanggil untuk melaksanaakan teknik deteksi cairan
semen. Perannya hanyalah untuk mengambil sampel asli pada saat autopsi dengan hati-hati
dan, sampai batas tertentu, dapat menginterpretasikan hasilnya demi kepentingan polisi dan
pengadilan. Dokter tersebut harus berpegang pada prinsip-prinsip utama dari tes tersebut dan
sadar terhadap keterbatasan tes tersebut. Pada tempat-tempat dimana tidak terdapat fasilitas
sains forensik, atau keberadaannya dapat tertunda, patolog mungkin perlu untuk melakukan

tes yang lebih sederhana sendiri. Deteksi semen dapat meliputi metode-metode pemeriksaan
berikut:

Pemeriksaan dengan mata telanjang dan dengan lensa pembesar merupakan metode
skrining yang dapat mengidentifikasi noda mencurigakan pada pakaian, kulit, dan
rambut pubis. Cairan semen yang keluar dari vagina atau anus dapat jelas, walaupun
sekret vagina yang bersifat leukorrhea dapat tertukar dengan cairan semen. Noda
semen yang mengering bersifat kaku dan agak keperakan, bergantung dari sifat dan
warna dari bahan dimana semen tersebut menempel. Pada kulit semen yang
mengering akan mudah terkelupas dan dapat hilang apabila tidak diangkat dengan
hati-hati mempergunakan pisau atau jarum pada wadah khusus. Noda yang mengering
pada rambut harus diambil dengan memotong gumpalan (clump) tempat melekatnya
semen tersebut. Suatu semburat (smears) yang mencurigakan dapat diambil dengan
mengoleskan apus kapas yang telah dilembabkan dengan air atau saline dengan

lembut. Semua bahan harus diperiksa sesegera mungkin setelah pengambilan bahan.
Pemeriksaan di bawah cahaya ultraviolet menimbulkan cairan semen akan
berfluoresensi biru keperakan, namun banyak cairan biologis lain dan sari sayuran
yang akan memberikan hasil false positif. Banyak deterjen, seperti bubuk pencuci,
yang juga menimbulkan fluoresensi latar belakang (background fluorescence) yang
membingungkan. Metode ini beruna pada skrining namun tidak dapat dipergunakan
sebagai bukti definitif terdapatnya semen. Area yang berfluoresensi, terutama pada

kain, harus mendapatkan perhatian untuk diidentifikasi untuk pengujian lebih lanjut.
Reaksi enzim sangat berguna, dan walaupun bukan merupakan bukti absolut,
merupakan bukti yang kuat terdapatnya semen, Uji sangat bergantung pada deteksi
fosfatase asam dengan konsentrasi yang tinggi yang berasal dari sekresi prostat.
Aktivitas fosfatase asam pada semen 500-1000 kali lebih tinggi dibandingkan cairan
tubuh yang lain. Terdapat beberapa metode dalam mendeteksi fosfatase, termasuk tes

cepat komersial spot test, yang sebaiknya tidak dipergunakan sebagai benda bukti.
Metode imunologis, dimana serum anti semen manusia yang berasal dari binatang
dipergunakan terhadap ekstrak dari noda tersebut. Teknik ini hanya dapat
dipergunakan

oleh

staff

laboratorium

yang

terlatih

Prostate Spesific Antigen (PSA, p30) merupakan glikoprotein yang diproduksi oleh
kelenjar prostat dan ditemukan pada plasma seminalis, darah dan urin laki-laki,
namun tidak pada jringan atau cairan tubuh perempuatn. Temuan PSA yang positif
merupakan indikator semen yang dapat dipercaya walaupun tidak terdapat

spermatozoa atau peningkatan fosfatase asam. Metode yang sederhana dan sensitif
telah

dikembangkan

untuk

analisis

terdapatnya

PSA

Pemeriksaan serologis yang lain dapat menentukan golongan darah dari semen
apabila ejakulator merupakan 80% dari populasi yang disebut sebagai sekretor
yang melepaskan antigen golongan darah pada air ludah, keringat, dan semen.
Masalah bagi serologis forensik adalah campuran semen dengan cairan biologis dari
korban, dalam benduk sekresi vagina dan darah, namun hal ini bersifat teknis dan
biasanya berada di luar tanggung jawab patolog forensik, walaupun ia perlu untuk
mengetahui

kesulitan

potensial

tersebut.

Perkembangan terakhir telah menambahkan teknik DNA sebagai peralatan tambahan


dalam biologi forensik; ini merupakan perkembangan yang sangat baik terutama pada
kejahatan seksual, karena masalah sebelumnya pada golongan darah dan pemeriksaan
enzim terganggu oleh pencampuran semen dengan cairan vagina. Saat ini masalah
tersebut dapat diselesaikan dalam banyak alternatif: sensitifitas deteksi dan
identifikasi juga telah sangat ditingkatkan dengan teknik amplifikasi, seperti PCR
(polymerase chain reaction). Penanda ulangan Y-chromosome short tandem repeat
(STR) telah berhasil dipergunakan untuk menganalisa noda yang memiliki campuran

komponen laki-laki.
Sampai saat ini, satu-satunyu bukti absolut yang diterima oleh pengadilan adalah
demonstrasi spermatozoa pada ekstrak noda dan tetap merupakan bukti terbaik,
walaupun sebagian teknik laboratorium yang canggih seperti identifikasi serologis
dan identifikasi DNA saat ini sama-sama dapat dipercaya. Masalah yang dijumpai saat
inidalam pengambilan spermatozoa adalah penggunaan vasektomi yang tersebar luas
sebagai metode kontrasepsi pada pria, sehingga cairan semen tidak mengandung
sperma; hal ini juga terjadi secara alamiah pada pria azoospermik. Tes fosfatase dan
sebagian tes serologi tidak diperngaruhi vasektomi. Fluorescent in sito hybridization
(FISH) terah diajukan sebagai tes yang sensitif dan spesifik bagi deteksi sel epitel pria
pada vagina post koitus sampai satu minggu. Sel epitel yang positif terhadap
kromosomY telah dapat diidentifikasi pada apus vagina walaupun tidak terdapat
ejakulasi.

2.10 Pemeriksaan terhadap homoseksual


Seperti pada penyerangan terhadap heteroseksual, penyabab kematian pada kasus fatal
hampir selalu merupakan trauma umum, seperti strangulasi atau cedera kepala. Aktivitas

homoseksual dapat merupakan kejadian yang paralel. Menurut penulis buku Knight Forensic
pathology, pembunuhan paling kejam yang dilihat oleh patolog forensik adalah yang
dilakukan oleh homoseksual pria. Sebagai tambahan, sejumlah kekerasan yang bersifat fatal
terjadi karena pria heteroseksual menjadi ganas saat dihadapkan oleh homoseksual.
Perhatian patolog forensik hampir selalu diarahkan pada regio anal dari resipien pasif,
karena partnernya ataupun penyerang jarang meninggal, dan semua pemeriksaan akan
dilakukan oleh dokter bedah plisi atau dokter klinis. Pemeriksaan korban mirip dengan
korban pemerkosaan wanita, luka-luka umum diperiksa terlebih dahulu termasuk yang
menimbulkan kematian bersamaan dengan dengan tanda-tanda yang berorientasi seksual
seperti bekas cakaran di tempat manapun di tubuh, terutama pada punggung bawah, pada
pantat atau paha. Memar pada anus dan pada celah pantat bersifat signifikan, terutama memar
jari diskoid. Anus harus diinspeksi dan sebagian dilatasi pada mayat harus disadari
merupakan hal normal. Kecuali sangat berdilatasi, anus yang terbuka tidak dapat
dipergunakan secara terpisah sebagai indeks penetrasi homoseksual. Pada senggama anal
yang baru terjadi, terutama oleh penis yang besar pada perawan atau pada orang muda, tepi
anus dapat menjadi merah, kadang mengalami abrasi, dan kadang robek, terutama pada anak
kecil. Mungkin terdapat eversi dari mukosa rektum bawah melewati sphincter. Pada
pemerkosaan yang kasar, terutama pada anak muda, mungkin terdapt robekan perineum yang
berat. Pada autopsi, apusan harus diambil pada tepi anus dan lebih dalam pada anus dan
rectum. Apusan mulut juga harus diambil. Keberadaan lubrikan atau darah harus dicari.
Deskripsi klasik dari homoseksual pasif kronik telah dituliskan di buku-buku teks
selama bertahun-tahun. Yang disebut sebagai funnel anus/anus berbentuk kerucut biasanya
merupakan variasi anatomi normal. Gejala klasik yang lain adalah penebalan keperakan dari
kulit di luar dan pada tepi anus namun hal tersebut sering disebabkan oleh garukan kronis
karena pruritus, bukan karena friksi berkepanjangan karena aktivitas homoseksual.
Pada keadaan sehari-hari, anus yang melebar, prolaps tepi mukosa dan penebalan tepi
anus dapat merupakan tanda yang baik bagi mata pengamat yang berpengalaman, namun
diketeukannya semen atau pelicin merupakan bukti yang lebih berharga

BAB III
KESIMPULAN
Perlu diketahui, kejahatan seksual sulit dibuktikan. Pertama, karena sebagian
kejahatan seksual di Indonesia merupakan delik aduan. Yang kedua, karena pada kejahatan
seksual, seringkali korban juga merupakan satu-satunya saksi. Hal ini menyulitkan
pembuktian kejadian tersebut. Maka diperlukan suatu alat bukti tambahan, yaitu keterangan
ahli yang diperoleh dari pemeriksaan yang dilakukan oleh dokter. Pemeriksaan dilakukan
pada korban dan pada pelaku kejahatan seksual
Pemeriksaan terhadap korban perkosaan seringkali merupakan hal yang sulit, karena
selain pemeriksaan tersebut tidak nyaman bagi korban, bukti-bukti terdapatnya kejahatan
seksual kadangkala tidak jelas, kadangkala disebabkan tertundanya waktu pemeriksaan.
Pemeriksaan kejahatan seksual tidak hanya meliputi area anogenital saja, namun juga
meliputi cedera pada bagian tubuh yang lain yang menandakan terdapatnya kekerasan saat
usaha kejahatan seksual tersebut dilakukan, terutama lebam diskoid bekas cengkraman jari,
bekas cakaran, bekas gigitan atau hisapan pada daerah-daerah yang erotis.
Pemeriksaan penunjang dapat pula membantu dalam usaha pembuktian kejahatan
seksual. Materi pemeriksaan dapat berupa spermatozoa, cairan semen, apus vagina (untuk
mendeteksi epitel penis), pemeriksaan bakteriologis juga dapat dilakukan untuk mendeteksi
transfer penyakit kelamin.

DAFTAR PUSTAKA
1. R Shepherd, 2003, Simpsons forensic medicine, 12th ed London, Arnold p128-33
2. S Pekka, B Knight, 2004, Knight Forensic Pathology, 3th ed London, Hodder Arnold
p421-9
3. Bagian Forensik FKUI, Ilmu Kedokteran Forensik, hal 147-158
4. N Hamdani, 1992, Ilmu Kedokteran Kehakiman, edisi kedua, Gramedia pustaka hal
158-273