Anda di halaman 1dari 15

MAKALAH

PERKEMBANGAN KEBUDAYAAN ISLAM


PADA MASA BANI UMAYYAH
Disusun sebagai salah satu tugas mata kuliah Sejarah Peradaban Islam
Dosen Pengampu : Sholahuddin, M.Pd.I

Disusun Oleh :
HJ. FACHIROH

FAKULTAS TARBIYAH JURUSAN PAI EKSTENSI


INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI
SULTAN THAHA SAIFUDDIN
JAMBI, 2014

KATA PENGANTAR

Assalamu alaikum Wr. Wb.


Segala puji bagi Allah SWT, atas rahmat, berkah, dan hidayahNya penulis
dapat menyelesaikan tugas makalah Sejarah Peradaban Islam yang membahas
tentangPerkembangan Kebudayaan Islam Pada Masa Bani Umayyah ini.
Sholawat dan salam tak lupa juga penulis haturkan kepada baginda nabi
Muhammad SAW.
Dalam penulisan makalah kali ini penulis jadi mengetahui tentang
perkembangan kebudayaan islam pada masa Bani Umayyah. Meski hambatan dan
cobaan dalam pembuatan makalah ini penulis rasakan juga, tapi berkat semangat
dari teman-teman dan orang-orang terdekat, Alhamdulillah penulis dapat
menyelesaikan.
Penulis menyadari jika makalah yang penulis sajikan ini belumlah
sempurna. Untuk itu penulis menerima kritik dan saran demi sempurnanya
makalah ini. Semoga makalah ini berguna bagi siapa saja yang ingin belajar
tentang sejarah kebudayaan islam.
Wassalamu alaikum Wr. Wb.
Jambi,

Desember 2014
Penulis

DAFTAR ISI
Kata Pengantar .......................................................................................

Daftar Isi .................................................................................................

ii

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang .........................................................................

B. Rumusan Masalah ....................................................................

C. Tujuan .......................................................................................

BAB II PEMBAHASAN
A. Proses Pembentukan .................................................................

B. Kemajuan Peradaban ................................................................

C. Kemunduran .............................................................................

BAB III PENUTUP


Kesimpulan .............................................................................................
DAFTAR PUSTAKA

ii

11

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Islam adalah agama yang membawa sebuah peradaban yang berkaitan
dengan nilai-nilai religius sesuai ajaran Allah SWT. Kepemimpinan Islam
dimulai dari masa Rasulullah yang dilanjutkan sampai pada masa
kepemimpinan kulafaur Rasyidin. Selama kurung waktu tersebut Islam telah
berkembang pesat seiring perluasan wilayah di luar Arab oleh Islam. Setelah
masa Kulafaur Rasyidin muncullah daulah Bani Umayyah dan Abbasiyah.
Islam mengalami kemajuan yang sangat pesat saat kepemimpinan Bani
Umayyah dan Abbasiyah sehingga peradaban Islam memberi pengaruh yang
besar kepada dunia saat itu. Islam mengalami kemajuan yang sangat pesat di
berbagai bidang peradaban, ilmu pengetahuan, politik dan pemerintahan,
sains dan teknologi. Di makalah ini akan kami paparkan mengenai politik,
perkembangan peradaban, sains dan teknologi pada masa Bani Umayyah dan
Abbasiyah serta kemundurannya.
B. Rumusan Masalah
a. Bagaiman sistem pemerintahan dan politik pada masa Bani Umayyah
b. Bagaimana perkembangan peradaban pada masa Bani Umayyah
c. Bagaimana kemunduran daulah Bani Umayyah
C. Tujuan
a. Mengetahui sistem pemerintahan dan politik masa Bani Umayyah.
b. Mengetahui perkembangan peradaban masa Bani Umayyah.
c. Mengetahui bagaimana kemunduran daulah Bani Umayyah.

BAB II
PEMBAHASAN
A. Proses Pembentukan
Memasuki masa kekuasaan Muawiyah yang menjadi awal kekuasaan
Bani Umayyah, pemerintahan yang bersifat demokratis berubah menjadi
monarchiheridetis (kerajaan turun temurun). Kekhalifahan Muawiyah
diperoleh melalui kekerasan, diplomasi, dan tipu daya, tidak dengan pemilihan
atau suara terbanyak. Suksesi kepemimpinan secara turun temurun dimulai
ketika Muawiyah mewajibkan seluruh rakyatnya untuk menyatakan setia
terhadap anaknya, Yazid. Muawiyah bermaksud mencontoh monarchi di
Persia dan Bizantium. Dia memang tetap menggunakan istilah Khalifah
namun dia memberikan interpretasi baru dari kata-kata itu untuk
mengagungkan jabatan tersebut. Dia menyebutnya khalifah Allah dalam
pengertian penguasa yang diangkat oleh Allah.1
Sebelum umat Islam menguasai Andalusia wilayah yang terletak di
sekitar semenanjung Iberia dan membelah Benua Eropa dengan Afrika ini
dikenal dengan berbagai nama. Sebelum abad ke 5 M, wilayah ini disebut
dengan Iberia (atau Les Iberes), yang diambil dari nama Bangsa Iberia
(penduduk tertua di wilayah tersebut). Ketika berada di bawah kekuasan
Romawi, wilayah ini dikenal dengan nama Asbania. Pada abad ke 5 M,
Andalusia dikuasai olah Bangsa Vandal yang berasal dari wilayah ini. Sejak
itu wilayah ini disebut Vandalusia yang oleh umat Islam akhirnya disebut
Andalusia .
Khalifah-khalifah besar dinasti Bani Umayyah ini adalah Muawiyah ibn
Abi Sufyan (661-680 M), Abd Al-Malik ibn Marwan (685-705 M), Al-Walid
ibn Abdul Malik (705-715 M), Umar ibn Abd al-Aziz (717-720 M), Yazid ibn
Abd Al-Malik (720-724 M), dan Hasyim ibn Abd Al-Malik (724-743 M).2
Sejak pertama kali berkembang di Andalusia sampai dengan berakhirnya
kekuasaan Islam di sana, Islam telah memainkan peranan yang sangat besar.
1

Tentang perbedaan antara sistem pemerintahan masa khilafah Rasyidah dan masa dinasti
Umayyah ini, baca: Abu Ala Al-Maududi, Khilafah dan Kerajaan, (Bandung: Mizan, 1984).
2
Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1993), hlm. 43.

Pada tahap awal semenjak menjadi kekuasaan Islam, Andalusia diperintah


oleh wali-wali yang diangkat oleh pemerintah Bani Ummayah di Damaskus.
Ibu kota negara dipindahkan Muawiyah (661-680 M) dari Madinah ke
Damaskus. Pada periode ini kondisi sosial politik Andalusia masih diwarnai
perselisihan disebabkan karena kompleksitas etnis dan golongan. Di samping
itu juga timbul gangguan dari sisa- sisa musuh Islam di Andalusia yang
bertempat tinggal di wilayah-wilayah pedalaman. Periode ini berakhir dengan
datangnya Abdur Rahman AlDakhil ke Andalusia.
Pada masa pemerintahan Khalifah Abdul Malik (685705 M), umat
Islam telah menguasai Afrika Utara dan menjadikannya salah satu provinsi
dari dinasti Ummayah, dan yang menjadi Gubernurnya adalah Hasan Bin
Numan Al Ghassani. Menurut sejarah sebelum Islam dapat menguasai daerah
Afrika Utara, di daerah ini terdapat kekuatan-kekuatan dari kerajaan Romawi.
Kerajaan inilah yang selalu mengajak masyarakat agar mau menentang
kekuasaan Islam. Namum pemikiran mereka itu dapat dihabiskan atau
kekuasaan Islam kerajaan Romawi ini dapat dikalahkan oleh kekuatan Islam,
sehingga wilayah Afrika Utara dapat dikuasai sepenuhnya dan dari daerah
sinilah Islam menguasai Andalusia.
Namun pada masa pemerintahan dinasti Ummayah pada khalifah Al
Walid (705-715 M), Gubernur di Afrika Utara tersebut digantikan kepada
Musa Ibn Nushair. Pada Musa Ibn Nushair, mereka berhasil memduduki AlJazair, Maroko dan daerah bekas Barbar. Khalifah AlWalid salah seorang
Khalifah dari Bani Ummayah yang berpusat di Damaskus. Sebelum
penaklukan Andalusia, umat Islam telah menguasai Afrika Utara dan
menjadikannya sebagai salah satu provinsi dari dinasti Bani Umayyah.
Di zaman Umar ibn Abd Al-Aziz (717-720 M), serangan dilakukan ke
Prancis melalui pegunungan Piranee. Serangan ini dipimpin oleh Abd AlRahman ibn Abdullah Al-Ghafiqi. Ia mulai dengan menyerang Bordeau,
Poitiers. Dari sanalah ia mencoba menyerang Tours, Al-Ghafiqi terbunuh dan
tentaranya mundur kembali ke Spanyol. Di samping daerah-daerah tersebut di
atas, pulau-pulau yang terdapat di Laut Tengah juga jatuh ke tangan Islam

pada zaman Bani Umayyah ini.3


Dengan keberhasilan ekspansi ke beberapa daerah, baik di Timur
maupun Barat, wilayah kekuasaan Islam masa Bani Umayyah ini betul-betul
sangat luas. Daerah-daerah itu meliputi Spanyol, Afrika Utara, Syria,
Palestina, jazirah Arabia, Irak, sebagian Asia Kecil, Persia, Afganistan, daerah
yang disebut Pakistan, Purkmenia, Uzbek, dan Kirgis di Asia Tengah.4
Sepeninggal Umar ibn Abd Al-Aziz, kekuasaan Bani Umayyah berada di
bawah khalifah Yazid ibn Abd Al-Malik (720-724 M). Penguasa yang satu ini
terlalu gandrung kepada kemewahan dan kurang memperhatikan kehidupan
rakyat. Masyarakat yang sebelumnya hidup dalam ketentraman dan
kedamaian, pada zamannya berubah menjadi kacau. Dengan latar belakang
dan kepentingan etnis politis, masyarakat menyatakan konfrontasi terhadap
pemerintahannya.

Kerusuhan

terus

menerus

berlanjut

hingga

masa

kekhalifahan berikutnya.5
Pada masa pemerintahan khalifah Hisyam ibn Abd Al-Malik (724-743
M) muncul satu kekuatan baru yang menjadi tantangan berat bagi
pemerintahan Bani Umayyah. Kekuatan itu berasal dari kalangan Bani
Hasyim dan merupakan ancaman yang sangat serius. Sebenarnya Hisyam ibn
Abd Al-malik adalah seorang khalifah yang kuat dan terampil. Akan tetapi,
karena gerakan oposisi terlalu kuat, khalifah tidak berdaya mematahkannya.
Akhirnya pada tahun 750M, daulat Umayyah digulingkan Bani Abbas yang
bersekutu dengan Abu Muslim Al-Khurasani.6
B. Kemajuan Peradaban
Pada pemerintahan Bani Umayyah peradaban islam sudah bersifat
internasional, meliputi tiga benua: sebagian Eropa, sebagian Afrika, sebagian
besar Asia. Penduduknya meliputi puluhan bangsa, menganut bermacammacam bahasa. Semua itu disatukan dengan bahasa Arab sebagai bahasa
pemersatu dan agama islam menjadi agama resmi Negara.
Perkembangan Kebudayaan yang terjadi adalah bidang Politik, bidang
3

Ibid., hlm. 44
Harun Nasution, Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya, jilid 1, (Jakarta: UI Press, 1985,
cetakan kelima), hlm. 62.
5
Badri Yatim, op. cit., hlm. 47.
6
ibid., hlm. 47-48.
4

Sosial, bidang Sastra, bidang Ekonomi, bidang Ilmu pengetahuan, bidang Kota
dan Arsitektur.
a. Ekspedisi Umayyah ke Andalusia
Ekspedisi Umayyah ke Andalusis berlangsung beberapa kali:
1) Dipimpin oleh Tarif ibn Malik dengan 500 tentara muslim pada
91/710,
2) Dengan 7000 tentara dipimpin Thariq ibn Ziyad pada 92/711, atas
perintah Musa ibn Nushair dengan tambahan pasukan sebanyak 5000
orang.
3) Pada 712 dipimpin Musa bin Nushair sendiri dengan membawa 10.000
tentara. Ekspedisi tersebut memperoleh hasil gemilang dengan
ditaklukkan ibukota Toledo dan sejumlah daerah di sekitar pegunungan
Pyrenia dan tanah Galia di bawah kekuasaan Prancis hingga seluruh
wilayah Andalusia dapat ditaklukkan, kecuali Galcia di bagian barat
laut semenanjung itu.
Pasca ekspedisi itu, Andalusia menjadi propinsi dari Daulah
Umayyah sampai tahun 132/750, dan sejak kekuasaan Daulah Umayyah di
Damaskus jatuh ke tangan Bani Abbasiyah, maka sekitar enam tahun
lamanya Andalusia menjadi propinsi di bawah kekuasaan daulah baru
tersebut.
Kemudian pada tahun 138/756 Abdurrahman ibn Muawiyah, cucu
Hisyam ibn Abd Malik memproklamirkan Andalusia sebagai dinasti
tersendiri sebagai Daulah Umayyah II (Barat) yang beribukota di Cordova
hingga tahun 422/1031.
b. Perkembangan Politik Daulah Umayyah di Andalusia
1) Abdurrahman ibn Muawiyah (ad-Dakhilatau Rajawali Quraisy)
adalah

pendiri

Daulah

Umayyah

di Andalusia.

Ia

berhasil

menyingkirkan Yusuf ibn Abdurrahman al-Fikhri, gubernur Andalusia


di bawah kekuasaan Abbasiyah. Meskipun demikian, untuk selama 32
tahun kekuasaannya, ia tetap menyebut dirinya sebagai amir bukan
khalifah. Gelar amir tetap dipertahankan hingga pemerintahan amir
kedelapan, Abdurrahman III (300-330/912/961). Terdorong oleh

berdirinya Khalifah Fathimiyah di Mesir dan merosotnya wibawa


kekhalifahan Abbasiyah sepeninggal al-Mutawakkil, Abdurrahman III
memproklamirkan dirinya sebagai khalifah dan amirul muminin,
bahkan ditambahkan di belakang namanya gelar al-Nashir.
2) Daulah Umayyah di Andalusia mengembangkan pemerintahannya
selama 275 tahun dengan 7 orang amir dan 6 orang khalifah, yaitu: a)
Abdurrahman ad-Dakhil, b) Abdurrahman II, c) Abdurrahman III alNashir, d) Hakam II al- Mustanshir, e) Al-Muayyad, f) Abd Al-Malik
ibn Muhammad, g) Hisyam III al-Mutadi.
3) Sejak masa khalifah an-Nashir, Bani Umayyah di Andalusia mencapai
puncak kejayaan, dan mengalami keruntuhan sejak kekhalifahan
Hisyam III al-Mutadi ibn Muhammad III (418/1027-422/1031).
Semenjak itu dianggap tidak ada lagi keturunan Umayyah yang layak
diangkat khalifah, dan membuka babak baru kekuasan Islam di negeri
Vandal itu dalam periode Muluk al-Thawaif.
c. Perkembangan Sosial
1) Penduduk Andalusia terdiri dari unsur-unsur Arab (Arab Utara/
Mudlari dan Arab Selatan/Yamani), Barbar, Spanyol, Yahudi, dan
Slavia.
2) Masyarakat Barbar banyak menempati pemukiman di daerah-daerah
tandus, dan mereka berhadapan dengan masyarakat Nasrani. Adapun
masyarakat Yahudi menikmati kebebasan beragama pada masa ini dan
mereka menyebar di daerah-daerah Andalusia.
3) Sementara itu, masyarakat Spanyol terdiri dari: 1) kelompok yang
memeluk Islam, 2) kelompok yang meniru adat istiadat Arab yang
disebut Mustaribah, dan 3) kelompok asli yang masih memeluk
agama Nasrani. Lain halnya dengan golongan Slavia, penduduk ini
adalah berasal dari kalangan budak yang semula dijadikan pengawal
istana pada masa an-Nashir.

d. Perkembangan Kebudayaan

1) Ilmu Pengetahuan dan Kesusastraan


Dalam

perkembangan

ilmu

agama,

madzhab

Maliki

memperoleh pengaruh luas di Andalusia, karena itu perhatian muslimin


Andalusia terhadap Hadits Rasulullah amat besar, sehingga melahirkan
ulama penghafal hadits seperti Abu Abdurrahman al-Mukallad. Bidang
ilmu agama yang lain memperoleh perhatian pesat adalah ilmu qiraat,
yang membahas lafal-lafal al-Quran yang baik dan benar. Selain ilmu
agama, filsafat mendapat perhatian muslim Andalusia. Begitu pula
ilmu-ilmu lain seperti ilmu pasti, astronomi, kedokteran, dan sejarah.
Bahasa Arab pada masa ini menjadi bahasa utama masyarakat
Andalusia. Ini terjadi karena kemenangan bangsa Arab di bidang
militer, politik dan keagamaan, dan sebelumnya bahasa Arab pernah
sebagai bahasa ilmu pengetahuan. Demikian perkembangan bahasa ini
menyertai perkembangan sastra Arab dan melahirkan banyak penyair
serta sastrawan terkenal.
Berikut beberapa cabang ilmu pengatahuan yang berkembang di
Andalusia.
a) Kedokteran
Ahli kedokteran yang terkenal pada saat itu antara lain adalah Abu
Al-Qasim Al-Zahrawi. Di Eropa ia dikenal dengan nama
Abulcassis. Beliau adalah seorang ahli bedah terkenal dan menjadi
dokter istana. Ia wafat pada tahun 1013 M. di Jilid. Selain AlQasim, terdapat seorang filosuf besar bernama Ibn Rusyd yang
juga ahli dalam bidang kedokteran. Di antara karya besarnya
adalah Kulliyat al-Thib.
b) Ilmu Tafsir
Kemajuan dalam bidang ilmu tafsir ditandai dengan munculnya
ulama ahli tafsir. Mereka antara lain adalah Al-baqi, ibnu
makhlad, Al-zamakhsyari dengan karyanya Al-Kasysyaf, dan Althabari. Selain mereka, terdapat juga ahli tafsir terkenal saat itu,
yaitu ibn Athiyah. Kebanyakan tafsir yang dibuat mengandung
cerita israiliyat. Kumpulan tulisannya itu kemudian dibukukan

oleh Al-Qurtubi.
c) Ilmu Fiqh
Perkembangan dan

kemajuan ilmu fiqh ditandai

dengan

munculnya banyak ulamafiqh (fuqaha) di antara madzhab yang


paling berperan dalam pengembangan madzhab ini adalah abdul
malik dan Ibn Rusyd dengan karyanya Bidayah Al-Mujahid, Ibn
Rusyd menggunakan metode perbandingan terhadap pemikiranpemikiran fiqh yang berkembang saat itu.
d) Ilmu hadits
Meskipun tidak sepesat perkembangan ilmu lain ilmu hadist juga
menjadi perhatian para ulama di Andalusia. Di antara ahli ilmu
hadits adalah Abdul walid Al-Baji yang menulis buku AlMuntaqal.
e) Sejarah dan geografi
Dalam bidang literatur terdapat dua orang penulis terkenal, yaitu,
Ibn rabbi dan Ali Ibn Hazm.
f) Astronomi
Pengkajian ilmu astronomi berkembang dengan pesatnya pada
masa ini. Para ahli ilmu pada saat ini percaya bahwa radiasi
bintang-bintang besar pengaruhnya terhadap kehidupan dan
kerusakan di muka bumi.
g) Ilmu fisika
Kemajuan di bidang fisika ditandai dengan munculnya sejumlah
fisikawan muslim terkenal.
h) Filsafat
Dalam catatan sejarah, islam di Andalusia telah memainkan peran
sangat penting dalam perkembangan intelektual muslim.
2) Kota dan Seni Bangun
Adalah kota Cordova pada masa ini menempati kedudukan yang
sejajar dengan Konstantinopel dan Bagdad sebagai pusat peradaban
dunia. Pada masa ad-Dakhil, Cordova dijadikan ibukota negara
menggantikan Sevilla. Di kota ini dibangun benteng dan istana, danau

sumber air bersih, sejumlah masjid, pasar, dan pemandian umum.


Seluruh jalan di kota ini telah diperkeras, dan diterangi lampu pada
waktu malam.
Selain Cordova yang indah dan megah itu, pada masa an-Nashir
dibangun kota saletit al-Zahra.Kota ini dilengkapi masjid agung,
taman indah, pabrik senjata, pabrik perhiasan, dan kolam-kolam
marmer.
Kota lainnya, yang dibangun an-Nashir adalah al-Zahirahyang
di dalamnya dibangun istana besar dan indah, gedung-gedung
pemerintahan, gudang makanan dan senjata, tempat tinggal para
menteri, perwira militer, dan pagawai tinggi lainnya
C. Kemunduran
Sebenarnya Islam di Andalusia bertahan cukup lama, agama islam
berada di Eropa kurang lebih selama 781 tahun. Waktu yang begitu lama telah
banyak dimanfaatkan oleh para penguasa dan masyarakat muslim untuk
mengembangkan peradaban dunia. Sejarah telah memberikan catatan penting
mengenai peran yang telah dimainkan kaum intelektual muslim ketika itu.
Mereka telah memberikan sumbangan yang sangat berharaga bagi kemajuan
peradaban dunia kini.
Akan tetapi, sejarah panjang yang telah diukir masyarakat muslim dan
para penguasa Dinasti Bani Umayah ll di Andalusia akhirnya mengalami
kemunduran dan kehancuran. Kemunduran dan kehancuran itu disebabkan
oleh beberapa faktor.
Berikut uraian singkat mengenai hal tersebut.
a. Sistem pergantian khalifah melalui garis keturunan adalah sesuatu yang
baru bagi tradisi Arab yang lebih menekankan aspek senioritas.
Pengaturannya tidak jelas. Ketidakjelasan sistem pergantian khalifah ini
menyebabkan terjadinya persaingan yang tidak sehat di kalangan anggota
keluarga istana.7
b. Konflik Islam dengan Kristen
7

Philip K.Hitti, History of the Arabs, (London: Macmillan, 1970), hlm. 281.

Para penguasa muslim di Spanyol setelah Al-Hakam ll tidak ada


yang secakap para khalifah sebelumnya. Hal ini berakibat pada
melemahnya pertahanan yang ada. Kelemahan itu semakin menjadi ketika
umat Kristen menemukan identitas dan perasaan kebangsaan mereka.
Sehingga tidak banyak yang dapat dilakukan oleh para penguasa muslim
untuk mengembangkan bidang-bidang keilmuan yang dapat dijadikan
sebagai bahan untuk memperkuat dan mempertahankan kekuasaan,
akhirnya umat islam Andalusia mengalami kemunduran.
c. Tidak adanya ideologi pemersatu
Pada masa kekuasaan Bani Umayyah, pertentangan etnis antara
suku Arabia Utara (Bani Qays) dan Arabia Selatan (Bani Kalb) yang sudah
ada sejak zaman sebelum Islam, makin meruncing. Perselisihan ini
mengakibatkan para penguasa Bani Umayyah mendapat kesulitan untuk
menggalang persatuan dan kesatuan.8
d. Kesulitan ekonomi
Dalam catatan sejarah, pada paruh kedua masa Islam di Andalusia,
para penguasa begitu aktif mengembangkan ilmu pengetahuan dan
peradaban islam, sehingga mengabaikan pengembangan sektor ekonomi.
Akibatnya timbul kesulitan ekonomi yang memberatkan negara dan tentu
saja berpengaruh tarhadap perkembangan politik dan militer. Kenyataan ini
diperparah dengan datangnya musim paceklik yang dialami para petani.
Dengan tersendatnya pembayaran pajak para petani ini mengganggu
perekonomian Negara serta penggunaan keuangan negara yang tidak
terkendali oleh para penguasa muslim. Krisis ekonomi ini berdampak
sangat serius terhadap kondisi sosial politik, ekonomi, dan militer.
e. Penyebab langsung tergulingnya kekuasaan dinasti Bani Umayyah adalah
munculnya kekuatan baru yang dipelopori oleh keturunan Al-Abbas ibn
Abd Al-Muthalib. Gerakan ini mendapat dukungan penuh dari Bani
Hasyim dan golongan Syiah dan kaum Mawali (non-Arab) yang merasa
dikelasduakan oleh pemerintahan Bani Umayyah.
BAB III
8

Syed Amer Ali, A Short History of the Saracens, (New Delhi: Kitab Bhavan, 1981), hlm.169-170.

10

PENUTUP
Kesimpulan
1.

Sistem pemerintahan pada masa Daulah Ummayah berbeda dengan apa yang
diterapkan pada saat masa Khulafaur Rasyidin. Bisa dilihat pada masa
Khulafaur Rasyidin pemilihan pemimpin dilakukan dengan majelis syuro,
sedang pada masa Umayyah dilakukan secara monarki (turun-temurun).

2.

Pada zaman pertengahan Islam ini peradaban Islam sudah bersifat


internasional. Karena pada saat itu Islam telah menguasai wilayah-wilayah di
tiga benua besar; Eropa, Asia, Afrika. Peradaban Islam mengalami kemajuan
yang sangat pesat. Dalam berbagai bidang pengetahuan agama, arsitektur,
sains dan teknologi dan lain-lain.

3.

Kemunduran dinasti-dinasti ini dikarenakan dari banyak sebab yang dapat


dibagi menjadi faktor eksternal dan internal.

11

DAFTAR PUSTAKA
Ali, Syed Amer. 1981. A Short History of the Saracens. New Delhi: Kitab Bhavan
Al-Maududi, Abu Ala. 1984. Khilafah dan Kerajaan. Bandung: Mizan
Hitti, Philip K. 1970. History of the Arabs. London: Macmillan
http://sejarahagamaislamdidunia.blogspot.com/
http://buyatthelegend.blogspot.com/
Maryam, Siti. 2004. Sejarah Peradaban Islam. Yogyakarta: LESFI
Nasution, Harun. 1985. Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya, Jilid 1, Cetakan
Kelima. Jakarta: UI Press
Stryzewska, Bojena Gajane. Tarikh al-Daulat al-Islamiyah. Beirut: Al-Maktab AlTijari
Thohir, Ajid. 2004. Perkembangan Peradaban di Kawasan Islam. Jakarta: Raja
Grafindo Persada
Watt, W. Montgomery. 1990. Kejayaan Islam: Kajian Kritis dari Tokoh
Orientalis. Yogyakarta: Tiara Wanaca Yogya
Yatim, Badri. 1993. Sejarah Peradaban Islam. Jakarta: Raja Grafindo Persada

12