Anda di halaman 1dari 5

PENGERTIAN

REHABILITASI,

RENOVASI

DAN

RESTORASI

DALAM

KAPITALISASI ASET TETAP

Pengertian
Terhadap aset tetap setelah perolehan, sering kita temukan adanya pengeluaran yang dilakukan
dalam rangka pemeliharaan aset tetap dimaksud. Pengeluaran tersebut dapat dikategorikan
kedalam tiga kelompok besar yaitu:
1. Rehabilitasi
Rehabilitasi adalah perbaikan Aset Tetap yang rusak sebagian dengan tanpa meningkatkan
kualitas dan atau kapasitas dengan maksud dapat digunakan sesuai dengan kondisi semula.
2. Renovasi
Renovasi adalah perbaikan Aset Tetap yang rusak atau mengganti yang baik dengan
maksud meningkatkan kualitas atau kapasitas.
3. Restorasi
Restorasi adalah perbaikan Aset Tetap yang rusak dengan tetap mempertahankan
arsitekturnya.
Pengeluaran yang dilakukan tersebut dapat dikapitalisasi sebagai penambah nilai aset dan juga
dianggap sebagai pengeluaran biasa yang tidak dikapitalisasi.
Kapitalisasi adalah penentuan nilai pembukuan terhadap semua pengeluaran untuk memperoleh
aset tetap hingga siap pakai, untuk meningkatkan kapasitas/efisiensi, dan atau memperpanjang
umur teknisnya dalam rangka menambah nilai-nilai aset tersebut.
Dari uraian singkat tersebut diatas, maka belanja pemeliharaan yang dikeluarkan setelah
perolehan aset tetap yang menambah dan memperpanjang masa manfaat dan atau kemungkinan
besar memberi manfaat ekonomik di masa yang akan datang dalam bentuk kapasitas, mutu
produksi, atau peningkatan standar kinerja harus dikelompokkan kedalam belanja modal dan
dikapitalisasi sebagai penambah nilai aset tetap dalam laporan keuangan.

Perlakuan Akuntansi dan Pelaporan


Pengeluaran setelah perolehan aset tetap dalam akuntansi dapat dikategorikan dalam dua
kelompok yaitu:
1. Pengeluaran yang dapat dikapitaliasasi.
Di samping belanja modal untuk perolehan aset tetap dan aset lainnya, pengeluaranpengeluaran sesudah perolehan aset tetap atau aset lainnya dapat juga dikapitalisasi
sebagai penambah nilai aset. Pengeluaran tersebut dapat dikategorikan sebagai Belanja
Modal yang menambam nilai aset jika memenuhi persyaratan sebagai berikut:
a. Pengeluaran tersebut mengakibatkan bertambahnya masa manfaat, kapasitas,
kualitas dan volume aset yang telah dimiliki.
Terkait dengan kriteria tersebut, maka dapat dijelaskan lebih lanjut bahwa:
Hal 1 dari 5

1) Pertambahan masa manfaat adalah bertambahnya umur ekonomis yang


diharapkan dari aset tetap yang sudah ada. Misalnya sebuah gedung semula
diperkirakan mempunyai umur ekonomis 10 tahun. Pada tahun ke-7 pemerintah
melakukan renovasi dengan harapan gedung tersebut masih dapat digunakan 8
tahun lagi. Dengan adanya renovasi tersebut maka umur gedung berubah dari 10
tahun menjadi 15 tahun.
2) Peningkatan kapasitas adalah bertambahnya kapasitas atau kemampuan aset
tetap yang sudah ada. Misalnya, sebuah generator listrik yang mempunyai output
200 KW dilakukan renovasi sehingga kapasitasnya meningkat menjadi 300 KW.
3) Peningkatan kualitas aset adalah bertambahnya kualitas dari aset tetap yang
sudah ada. Misalnya, jalan yang masih berupa tanah ditingkatkan oleh
pemerintah menjadi jalan aspal.
4) Pertambahan volume aset adalah bertambahnya jumlah atau satuan ukuran aset
yang sudah ada, misalnya penambahan luas bangunan suatu gedung dari 400 m2
menjadi 500 m2
b. Pengeluaran tersebut memenuhi batasan minimal nilai kapitalisasi aset
tetap/aset lainnya.
Nilai Satuan Minimum Kapitalisasi Aset Tetap adalah pengeluaran untuk pengadaan
baru dan penambahan nilai aset tetap dari hasil pengembangan, reklasifikasi,
renovasi, dan restorasi. Nilai Satuan Minimum Kapitalisasi Aset Tetap meliputi :
pengeluaran untuk per satuan peralatan dan mesin, dan alat olah raga yang sama
dengan atau lebih dari Rp 300.000 (tiga ratus ribu rupiah); dan;
pengeluaran untuk gedung dan bangunan yang sama dengan atau lebih dari Rp
10.000.000 (sepuluh juta rupiah).
Nilai Satuan Minimum Kapitalisasi Aset Tetap dikecualikan terhadap pengeluaran
untuk tanah, jalan/irigasi/jaringan, dan aset tetap lainnya berupa koleksi perpustakaan
dan barang bercorak kesenian.
2. Pengeluaran yang tidak dapat dikapitalisasi
Pengeluaran yang dimaksudkan untuk mempertahankan aset tetap atau aset lainnya
yang sudah ada ke dalam kondisi normal tanpa memperhatikan besar kecilnya
jumlah belanja. Belanja Pemeliharaan meliputi antara lain pemeliharaan tanah,
pemeliharaan gedung dan bangunan kantor, rumah dinas, kendaraan bermotor dinas,
perbaikan peralatan dan sarana gedung, jalan, jaringan irigasi, peralatan mesin, dan lainlain sarana yang berhubungan dengan penyelenggaraan pemerintahan.

Hal 2 dari 5

Selanjutnya berdasarkan urain diatas,dapat kita tarik suatu kesimpulan bahwa:


1. Pengeluaran setelah perolehan aset tetap yang dapat dikapitalisasi dan memenuhi batasan nilai
minimum dicatat dan dilaporkan sebagai penambaha nilai aset tetap, serta dianggarkan dalam
Belanja Modal. Selanjutnya terhadap penambahan tersebut dilaporkan dalam Laporan
Keuangan dan Laporan Barang Milik Negara.
2. Pengeluaran dengan tujuan Rehabilitasi aset tetap tidak dikapitalisasi sebagai penambah nilai
aset tetap, serta tidak dianggarkan dalam Belanja Modal dan dalam Laporan Barang Milik
Negara.
3. Dalam pelaksanaan, jika terdapat pengeluaran dengan tujuan Rehabilitasi yang menyimpang
dari ketentuan diatas, maka pengeluaran yang dilakukan harus dikapitalisasi sebagai
penambah nilai aset tetap, serta dianggarkan dalam Belanja Modal. Selanjutnya terhadap
penambahan tersebut dilaporkan dalam Laporan Keuangan dan Laporan Barang Milik
Negara.
4. Pengeluaran dalam rangka renovasi dan restorasi sepanjang meliputi biaya yang dikeluarkan
untuk meningkatkan kualitas dan atau kapasitas, dan memenuhi batasan nilai minimum dicatat
dan dilaporkan sebagai penambaha nilai aset tetap, serta dianggarkan dalam Belanja Modal.
Selanjutnya terhadap penambahan tersebut dilaporkan dalam Laporan Keuangan dan Laporan
Barang Milik Negara.

Hal 3 dari 5

Perlakuan Aset Tetap Renovasi pada SIMAK BMN


Bagaimana perlakuan pada SIMAK BMN atas realisasi belanja modal yang digunakan untuk
merehabilitasi merenovasi aset milik satker lain ?
dan bagaimana jika perolehan aset tersebut dilakukan secara bertahap ?

Mencoba menjawab pertanyaan diatas, maka sebelumnya perlu dibedakan terlebih dulu antara
pengertian rehabilitasi dan renovasi.
Singkat kata, rehabilitasi bersifat tidak menambah manfaat/umur aset (mengembalikan aset
ke nilai semula), sedangkan renovasi berarti menambah manfaat/umur aset (meningkatkan
nilai aset).

Sebelum tahun anggaran 2011, perlakuan atas kasus diatas pada SAKPA adalah dengan mencatat
nilai perolehan aset tersebut dan menyajikan pada neraca melalui akun Aset Tetap Renovasi.
Sedangkan pada SIMAK-BMN, aset dimaksud tidak dicatat.
Selanjutnya, Aset Tetap Renovasi tersebut dihapus dari neraca, jika sudah diserahkan kepada
pihak lain/satker lain.

Pada tahun anggaran 2011, referensi Aset Tetap Renovasi sudah tersedia pada aplikasi SIMAK
BMN, sebagai bagian dari Aset Tetap Lainnya.
Jenis dari Aset Tetap Renovasi ini antara lain :
Tanah Dalam Renovasi
Peralatan dan Mesin Dalam Renovasi
Gedung dan Bangunan Dalam Renovasi
Jalan, Irigasi, dan jaringan Dalam Renovasi
Aset Tetap Lainnya Dalam Renovasi
Jika suatu satker merenovasi GEDUNG satker lain secara langsung (sekali jadi), maka
pencatatan pada SIMAK BMN adalah langsung melalui transaksi pembelian dengan uraian
barang GEDUNG dan BANGUNAN dalam Renovasi.

Lalu jika renovasi itu dilakukan secara bertahap, bagaimana pencatatannya pada SIMAK BMN ?
a. melalui transaksi pembelian Gedung dan Bangunan dalam Renovasi ??? atau
b. melalui transaksi perolehan KDP Gedung dan Bangunan dalam Pengerjaan ???

a. jika melalui transaksi pembelian, maka akan terdapat banyak aset Gedung dan Bangunan
dalam Renovasi padahal tentu saja, Gedung dan Bangunan dalam Renovasi itu hanya satu aset
saja.
b. jika melalui transaksi KDP Gedung dan Bangunan dalam Pengerjaan, juga tidak tepat.

Hal 4 dari 5

Aset yang masih dalam pengerjaan tersebut adalah Aset Tetap Renovasi, dan bukan Gedung
dan Bangunan.
[jika aset itu milik sendiri, maka tepat menggunakan Gedung dan Bangunan dalam Pengerjaan,
tapi jika gedung itu milik pihak lain ?]

Kesimpulannya, untuk mencatat transaksi tersebut pada SIMAK BMN, adalah melalui perolehan
KDP dengan kode KDP Aset Tetap Renovasi dalam Pengerjaan

Sekedar mengingatkan kembali, bahwa Aset Tetap Renovasi merupakan bagian dari Aset Tetap
Lainnya.
Sehingga, kode KDP yang harus digunakan untuk mencatat transaksi diatas adalah melalui
perolehan KDP Aset Tetap Lainnya dalam Pengerjaan.

Selanjutnya, ketika terdapat realisasi untuk pembayaran tahap kedua atas aset tetap renovasi
dimaksud, maka perlakuannya adalah melalui menu Pengembangan KDP atas KDP no urut 1
(Aset Tetap Lainnya dalam Pengerjaan)

Terakhir, jika pembayaran aset tetap renovasi telah mencapai 100%, maka transaksi pada
SIMAK BMN adalah melalui menu Penyelesaian Pembangunan dengan uraian barang
Gedung dan Bangunan dalam Pengerjaan
dan jika aset tersebut telah diserahterimakan kepada satker lain, maka berdasarkan BAST,
transaksi pada SIMAK BMN adalah melalui Transfer Keluar

Lalu pada satker yang direnovasi asetnya, transaksi penerimaan aset tersebut di input melalui
menu Perubahan BMNPenerimaan Aset dari Pengembangan Aset Tetap Renovasi

Bagaimana jika atas kegiatan renovasi tersebut menggunakan dana yang berasal dari SKPA ?!
konsepnya sama saja, hanya saja semua transaksi dilakukan pada aplikasi SIMAK Pembantu
Satker Penerbit SKPA [bukan pada SIMAK Satker Sendiri]

Hal 5 dari 5