Anda di halaman 1dari 7

GENERAL BUSINESS ENVIRONMENT

MM UGM YOGYAKARTA

RESEARCH PAPER
Dosen pengajar :

Wahyudi Kumorotomo, Prof., Dr., MPP.


Govermental Environment
Analisa Dampak Birokrasi terhadap Industri Pertambangan
DISUSUN OLEH:
T. HERMANSAH
12/343639/PEK/18055

I.

Latar Belakang

Sampai saat ini banyak pihak berbicara tentang good public governance/
bureaucracy khususnya bagi negara-negara berkembang yang sedang berupaya keras
melaksanakan pembangunan di berbagai sektor kehidupan masyarakatnya. Berbagai
pandangan dan pendapat banyak dilontarkan guna menciptakan good public
governance/bureaucracy itu.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, birokrasi didefinisikan sebagai : 1) Sistem
pemerintahan yang dijalankan oleh pegawai pemerintah karena telah berpegang pada
hirarki dan jenjang jabatan, 2. Cara bekerja atau susunan pekerjaan yang serba lamban,
serta menurut tata aturan (adat dan sebagainya) yang banyak liku-likunya dan sebagainya.
Di negara berkembang seperti Indonesia, buruknya birokrasi tetap menjadi
problem terbesar. Birokrasi selalu dikaitkan dengan prosedur kerja yang berbelit-belit dan
lamban. Birokrasi yang memiliki sifat patron-klien yang kental, hierarkhis dan
impersonal telah memberikan dampak antara lain mematikan inisiatif masyarakat dan
kualitas pelayanan masyarakat yang tidak efisien. Sudah menjadi rahasia umum bahwa
pelayanan umum di instansi pemerintah selama ini lamban, ruwet, tidak efisien bahkan
menjengkelkan karena banyak calo yang berkeliaran.
Pertumbuhan sektor industri termasuk pertambangan masih mengalami hambatan
terutama dalam hal birokrasi perizinan dan kepastian hukum. Jika masalah utama itu bisa
dibenahi maka industri akan tumbuh lebih pesat.
Bahkan Apa yang menjadi kekhawatiran industri dalam menghadapi masyarakat
ekonomi ASEAN atau ASEAN Economic Community (AEC) akhirnya semakin jelas.
Ketidaksiapan Indonesia menghadapi dan memasuki AEC pada 2015 mendatang bukan
hanya karena infrastruktur yang buruk dan kondisi industri yang tidak siap bersaing,
tetapi juga karena biaya birokrasi di Indonesia masih tinggi seperti pajak dan juga urusan
perizinan.
Pada tahun 2009, bila merujuk pada laporan dari Political and Economic Risk
Consultancy (PERC) yang berbasis di Hongkong, Indonesia masih menunjukan angka
yang buruk terutama dalam hal hambatan birokrasi atau red tape barriers.

II.

Objek Kajian

Para pelaku usaha jasa pertambangan di Indonesia sedang dihadapkan dengan


permasalahan mengenai mekanisme izin usaha dan sertifikasi jasa pertambangan yang
dinilai makin berbelit birokrasinya. Penyebab ketidakpastian para pelaku usaha jasa
pertambangan terkait izin tersebut adalah sejak diterbitkannya Permen (Peraturan
Menteri) No. 28 tahun 2009. Dari peraturan tersebut, pengurusannya telah memakan
waktu hampir 12-14 bulan.
Di Indonesia, proses perizinan bisnis memakan waktu yang lama dan biaya
yang mahal. Survei terbaru Bank Dunia menyebutkan, jumlah hari yang diperlukan
untuk mengurus izin usaha di Indonesia memakan waktu 97 hari. Jumlah ini jelas jauh
lebih lama dibandingkan Malaysia yang hanya 30 hari, Thailand 33 hari, Philipina 48
hari, dan Vietnam 50 hari.
Surna Tjahjadjajadiningrat, pakar lingkungan pertambangan dari Institut
Teknologi Bandung (ITB), menyampaikan, Saya 15 tahun di birokrasi, masalah
utama pertambangan kita adalah tata pemerintah yang buruk dan korup, kata Surna
yang pernah menjabat sebagai Direktur Jenderal Pertambangan Umum Departemen
Pertambangan dan Energi (waktu itu). Surna mencontohkan, banyak perizinan
tambang tumpang tindih. Contoh lain, banyak izin kuasa tambang dikeluarkan karena
perusahaan membayar bupati.
Pemerintah bercita-cita menjadikan Indonesia sebagai salah satu negara maju di
dunia. Untuk mencapai level itu maka sektor industri harus mampu menjadi tulang
punggung perekonomian namun Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menilai
kinerja industri termasuk pertambangan kerap terbentur dengan permasalahan di
sektor lain, seperti perizinan IUP (Izin Usaha Pertambangan), Korupsi dan pajak
selain itu proses permohonan pengusaha atas kelonggaran fiskal kerap kali berbelitbelit.
Data yang dirilis Transparency International (TI) pada 2013, posisi Indonesia
sebagai negara terkorup masih belum membaik. Kondisinya bisa dibilang datar-datar
saja. Indeks Persepsi Korupsi (IPK) berdasar 13 indeks data korupsi, menempatkan
Indonesia pada posisi ke-63 negara terkorup di dunia.

Berikut data rank korupsi Indonesia beserta Lembaga birokrasi yang dinilai
terkorup bersumber dari Transparency International (TI) :

Naik turunnya investasi di pertambangan amat ditentukan oleh besar kecilnya


kemudahan dan fasilitas yang diberikan. Modal asing dalam industri pertambangan
juga bergantung kepada kondusif tidaknya perkembangan usaha dan peraturan
pendukungnya. Investor asing tentu tidak mau mempertaruhkan modalnya dengan
percuma.
Setiap pertambangan membutuhkan waktu eksplorasi lama sebelum dapat
menikmati hasil. Prosesnya dimulai dari pengurusan perizinan hingga membangun
konstruksi. Apalagi tingkat keberhasilan usaha pertambangan di bawah 10%. bisa saja
investor mundur karena konsesi yang mereka peroleh ternyata tidak mengandung
mineral untuk dieksplorasi atau karena sudah habis masa eksplorasinya. Merosotnya
kegiatan eksplorasi jelas berpengaruh bagi prospek bisnis pertambangan di tanah air.
Anjloknya investasi di sektor pertambangan juga dipengaruhi oleh kebijakan yang
tidak mendukung operasional perusahaan yang diperumit dengan adanya intervensi
politik terhadap operasi pertambangan, perizinan, dan regulasi. Contohnya, UU
Kehutanan No. 1/1999 yang melarang beroperasinya penambangan umum di kawasan
hutan lindung. Akibatnya, banyak investor pertambangan yang meminta kontrak
karyanya ditangguhkan. Pasalnya, UU Kehutanan dikeluarkan setelah konsesi
penambangan dibagi-bagi. Repotnya lagi, banyak perusahaan pertambangan yang
terlambat mengetahui karena UU Kehutanan tidak disosialisasikan dengan baik ke
perusahaan pertambangan. Pergantian pucuk pimpinan nasional dan pejabat berarti
perubahan kebijakan dan peraturan yang harus diikuti oleh para pemodal asing,
kondisi ini juga diperburuk oleh pungli yang makin merajalela, lambannya birokrasi,
dan tuntutan masyarakat yang makin gemuruh.
III.

Dampak Birokrasi terhadap Industri Pertambangan

1. Dengan

berlarutnya

proses

perizinan,

mengakibatkan

timbulnya

ketidakpastian hukum dan menyurutkan keinginan berinvestasi. Akibat


lainnya adalah di mata pemilik tambang (perusahaan tambang), kredibilitas
pelaku usaha jasa pertambangan akan berkurang dan sampai ke tingkat
diragukan. Selain itu, pihak perbankan juga akan ragu mencairkan dana
mengingat izin usaha belum jelas dan terkendala prosesnya.
2. Tata pemerintah yang korup membuat para pengusaha asing menjadi
ketakutan menanamkan investasinya di Indonesia. Harus disadari, para
pengusaha asing telah terikat dengan kode etik (Code of Conduct) Kamar
4

Dagang Internasional (International Chamber of Commerce) yang sejak


Maret 1996 telah merekomendasikan kode etik kepada anggotanya untuk
tidak melakukan korupsi dalam bisnis internasionalnya.
3. Dampak intervensi politik baik oleh legislatif maupun eksekutif ini
menyebabkan merit sistem menjadi sangat sulit dilaksanakan. Keputusankeputusan yang seharusnya diambil melalui pertimbangan objektif tidak
jarang berbelok untuk mengakomodir kepentingan-kepentingan tertentu.
4. Sulitnya mengurus perizinan tambang bagi rakyat akan mengakibatkan
berjamurnya PETI merupakan kegiatan pertambangan tanpa izin yang dilakukan oleh
sebagian Masyarakat maupun oknum lainnya yang berdampak pada lingkungan disekitar
tambang.
5. Sulit dan lamanya pengurusan izin serta banyaknya pungli dan korupsi
birokratif mengakibatkan industry berinisiatif menambahkan biaya tak
terduga tersebut ke dalam budgetingnya yang berdampak pada naiknya harga
barang atau produk yang dijual.
IV.

Rekomendasi Strategis

1. Perlu adanya Reformasi Birokrasi untuk mewujudkan Good Governance


dengan perubahan signifikan elemen-elemen birokrasi seperti kelembagaan,
sumber daya manusia aparatur, ketatalaksanaan, akuntabilitas, aparatur,
pengawasan dan pelayanan publik, yang dilakukan secara sadar dengan
Program melingkupi cakupan yang sangat luas dari mulai pembenahan
aturan, administrasi, rightsizing, perbaikan pelayanan masyarakat, perubahan
mind set, pencegahan korupsi dan penyimpangan, dan berbagai persoalan
lainnya.
2. Untuk mewujudkan good governance, Reformasi Birokrasi di Pemerintah
Indonesia dapat dilakukan dengan mengadakan pembaharuan dalam hal-hal
antara lain :
a. Penyelenggaraan

Pemerintahan

dengan

semangat

desentralisasi,

kewenangan tidak tersentralisasi di Pemerintah Kabupaten/Kota tetapi


dapat didesentralisasikan dengan pola delegasi ke Pemerintah Kecamatan
dan Pemerintah Kelurahan.

b. Dikembangkannya kelembagaan yang semi otonom yang memberikan


pelayanan langsung kepada masyarakat dan industry dan merasionalisasi
(right seizing) kelembagaan unsur lini yang tidak memberikan layanan
langsung dengan mengembangkan organisasi matriks atau organisasi
fungsional.
c. Dikembangkannya lembaga pengawas independen yang bebas dari
pengaruh Eksekutif dan legislatif. Bawasda yang ada saat ini merupakan
pengawas internal Pemerintah Daerah dan tidak memiliki otoritas
melakukan pengawasan kepada legislative
d. Reformasi dilakukan secara sistematis dan terpadu, pembaharuan satu
aspek harus didukung oleh pembaharuan aspek yang lain. Misalnya
pembaharuan dengan meningkatkan kesejahteraan pegawai akan sia-sia
apabila tidak didukung oleh sistem penilaian kinerja dan sistem sanksi
(Punishment).

V. DAFTAR PUSTAKA

Birokrasi

Jadi

Penghambat

Pertumbuhan

Sektor

Industri,

http://bisnis.liputan6.com/, online diakses tanggal 08 November 2014.


-

Dwiyanto, Agus. Reformasi Birokrasi Publik di Indonesia. Yogyakarta: Penerbit


Gadjah Mada University Press, 2006

Ngadisah, dan Darmanto. Birokrasi Indonesia. Jakarta: Penerbit Universitas


Terbuka, 2008.

Organisasi dan Reformasi Birokrasi , Warta Minerba,

Penerbit : Direktorat

Jenderal Mineral dan Batubara. Jakarta, Edisi IX - April 2011


-

Birokrasi, http://id.wikipedia.org, online diakses tanggal 08 Oktober 2014

Corruption by Country/Territory Indonesia, http://www.transparency.org/cpi2013,


online diakses tanggal 08 Oktober 2014.