Anda di halaman 1dari 18

MAKALAH IMUNOLOGI

AUTOIMUN

DISUSUN OLEH
NAMA

: SUTILA

NIM

: AK.12.076

KELAS

: ANALIS B

AKADEMI ANALIS KESEHATAN


BINA HUSADA KENDARI
2014

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah S.W.T karena atas rahmat
dan hidayah serta izin-Nya sehingga penulis dapat menyelessaikan penulisan makalah
IMUNOLOGI mengenai AUTOIMUN.
Penulis menyadari bahwa penulisan makalah ini masih jauh dari kesempurnaan.
Untuk itu penulis menyadari bahwa penulisan makalh ini masih jauh dari
kesempurnaan.Untuk itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari
semua pihak dalam perbaikan makalah ini. Walaupun demikian,saya berharap penulisan
makalh ini bermanfaat bagi penulis khususnya dan para pembaca umumnya, sehingga
dapat melengkapi khasanah ilmu pengetahuan yang senantiasa berkembang dengan
cepat.

Kendari, Juni 2014

Penyusun

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.....................................................................................................i
DAFTAR ISI....................................................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang................................................................................................1
1.2 Rumusan Masalah..........................................................................................2
1.3 Tujuan..............................................................................................................2
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Ruang Lingkup Dan Etimologi Autoimun...................................................3
2.2 Pengertian Autoimun ...................................................................................4
2.2.1 Penyebab Utama Penyakit Autoimun ..............................................5
2.2. 2 Faktor Yang Berperan Pada Autoimun...........................................5
2.2.3 Mekanisme Kejadian Penyakit Autoimun.......................................7
2.3 Penyakit Autoimun (Psoriasis).....................................................................7
2.4 Mendiagnosa Penyakit Autoimun..............................................................10
2.4.1 Penyebab Autoimun..........................................................................10
2.4.2 Gejala Autoimun................................................................................11
2.4.3 Diagnosa ............................................................................................11
2.4.4 Pengobatan..........................................................................................12
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan ..................................................................................................13
3.2 Saran...............................................................................................................13
DAFTAR PUSTAKA

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang

Autoimun merupakan respon imun terhadap antigen jaringan sendiri yang


disebabkan kegagalan mekanisme normal yang berperan untk memepertahankan selftolerance sel B, sel T atau keduanya. Potensi autoimun ditemukan pada semua individu
oleh karena limfosit dapat mengeskresikan reseptor spesifik untuk banyak self antigen.
Autoimun terjadi karena self-antigen dapat menimbulkan aktivasi, proliverasi
serta diferensiasi sel T autoreaktif menjadi sel efektor yang menimbulkan kerusakan
jaringan dan berbagai organ. Baik antibodi maupun sel T atau keduanya dapat berperan
dalam pathogenesis penyakit autoimun.
Penyakit autoimun adalah penyakit dimana sistem kekebalan yang terbentuk
salah mengidentifikasi benda asing, dimana sel, jaringan atau sel tubuh manusia justru
dianggap sebagai benda asing sehingga dirusak oleh antibodi. Jadi adanya penyakait
autoimun tidak memberikan dampak peningkatan ketahanan tubuh dalam melawan
suatu penyakit, tetapi justru terjadi kerusakan tubuh akibat kekebalan yang terbentuk.
Jika tubuh dihadapkan sesuatu yang asing maka tubuh memerlukan ketahanan
berupa respon imun untuk melawan subtansi tersebut dalam upaya melindungi dirinya
sendiridari kondisi yg potensialmenyebabkan penyakit. Untuk melakukan hal tersebut
secara efektif maka diperlukan kemampuan untuk mengenali dirinya sendiri sehingga
dapat memberikan respon pada kondisi asing atau bukan dirinya sendiri. Pada penyakit
autoimun terjadi karena kegagalan untuk mengenali beberapa bagian dari dirinya.
Dalam pupulasi, sekitar 3,5% orang menderita penyakit autoimun, 94% dari
jumlah tersebut berupa penyakit grave, anemia, pernisiosa, artritis, tiroiditis. Penyakit
ini ditemukan lebih banyak pada wanita dibandingkan dengan pria, diduga karena
hormon.

1.2 Rumusan Masalah

1. Apa yang di maksud dengan autoimun?


2. Apa penyebab dan bagaimana mekanisme autoimun bisa terjadi?
3. Apa saja jenis penyakit autoimun?
4. Bagaimana cara mendiagnosa dan mengobati autoimun?

1.3 tujuan

1. Untuk Mengetahui pengertian dari autoimun itu sendiri.


2. Untuk Menjelaskan penyebab dan mekanisme autoimun bisa terjadi.
3. Untuk Mengetahui jenis penyakit autoimun.
4. Untuk Menjelaskan cara mendiagnosa dan mengobati autoimun.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1. Ruang Lingkup Dan Etimologi Autoimun
dalam kaitannya dengan fenomena autoimun harus dibedakan antara pengertian
respon autoimun dan penyakit autoimun. Respon autoimun selalu dikaitkan dengan
didapatkannya autoantibodi atau reaktivitas limfosit terhadap antigennya sendiri.
Respon autoimun tidak selalu harus mempunyai kaitan dengan penyakit autoimun yang
dideritannya, bahkan responautoimun tidak selalu menampakkan gejala penyakit
autoimun.
Idealnya adalah adalah apabila kita dapat menerapkan istilah penyakit autoimun pada
kasus-kasus di mana dapat diperlihatkan bahwa proses autoimun berperan pada
patogenesis penyakit dan bukan keadaan dimana antibodi yang tidak berbahaya
terbentuk setelah kerusakan jaringan, misalnya antibodi terhadap jantung yang muncul
setelah infark miokard. Namun, peran autoimunitas pada banyak kelainan masih belum
jelas, sehingga untuk memudahkan kita anggap bahwa semua penyakit yangberkaitan
erat dengan pembentukan autoantibody adalah pemyakit autoimun; kecuali kalau dapat
di perlihatkan bahwa fenomena imunologis yang ada adalah murni merupakan
fenomena sekunder.
Penyakit autoimun dapat di klasifikasikan menjadi dua golongan, menurut
mekanisme terjadinya, yaitu melalui antibodi/humoral, kompleks imun, seluler, seluler
dan humoral atau menurut organ yang menjadi sasaran yaitu organ spesifik dan non
organ spesifik atau sistemik

2.2. Pengertian Autoimun


Autoimun adalah respon imun terhadap antigen tubuh sendiri yang disebabkan
oleh mekanisme normal yang gagal berperan untuk mempertahankan self-tolerance sel
B, sel T atau keduanya. Respon imun terlalu aktif menyebabkan disfungsi munimun,
menyerang bagian dari tubuh tersebut dan merupakan kegagalan fungsi sitem kekebalan
tubuh yang membuat badan menyerang jaringan sendiri. Sistem imunitas menjaga tubuh
melawan pada apa yang terlihatnya sebagai bahan asing atau berbahaya. Bahan seperti
itu termasuk mikro jasad, parasit (seperti cacing), sel kanker, dan malah percangkokkan
organ dan jaringan.
Setiap penyakit yang dihasilkan dari respon imun yang menyimpang kerusakan
jaringan atau gangguan fungsi fisiologis yang ditimbulkan oleh respon autoimun disebut
penyakit autoimun. Penyakit autoimun adalah penyakit dimana sistem kekebalan yang
terbentuk salah mengidentifikasi benda asing, dimana sel, jaringan atau organ tubuh
manusia justru dianggap sebagai sebagai benda asing sehingga di rusak oleh antibodi.
Jadi adanya penyakit autoimun tidak memberikan dampak peningkatan ketahanan tubuh
dalam melawan suatu penyakit, tetapi justru terjadi kerusakan tubuh akibat kekebalan
yang terbentuk.
Bahan yang bisa merangsang respon imunitas disebut antigen. Antigen adalah
molekul yang mungkin terdapat dalam sel atau di atas permukaan sel ( seperti bakteri,
virus atau sel kanker). Beberapa antigen, seperti molekul serbuk sari atau makanan, ada
di mereka sendiri. Sel sekalipun pada orang yang memiliki jaringan sendiri bisa
mempunyai antigen. Tetapi, biasanya sistem imunitas bereaksi hanya terhadap antigen
dari bahan asing atau berbahaya, tidak terhadap antigen dari orang yang memiliki
jaringan sendiri. Tetapi, sistem imunitas kadang-kadang rusak, menterjemahkan
jaringan tubuh sendiri sebagai antibodi asing dan menghasilkan (disebut autantibodi)
atau sel imunitas menargetkan dan menyerang jaringan tubuh sendiri.

2.2.1 Penyebab Utama Penyakit Autoimun


Genetik : telah ditunjukkan pada manusia bahwa gen Major Histocompatibility
complex (MHC) dikaitkan dengan kejadian spesifik dari penyakit autoimun. Gen MHC
ada pada semua hewan vertebrata, gen ini menandai dua kategori pokok molekul yang
membentuk bagian sel dari membran dan seluruh bagian membran. Secara khusus
gentersebut memiliki peranan dalam menseleksi anigen yang dapat dikenali oleh sel-T.
Sebuah analisa keturunan dari anjing rabies menunjukkan bahwa hypoadrenocorticism
mempengaruhi sifat keturunan yang dihasilkan. Kejadian ini disebabkan adanya
autosomal recessive gen yang melakukan penetrasi secara tidak lengkap.
2.2.2 Faktor Yang Berperan Pada Autoimunitas
1. infeksi dan kemiripan molekuler
Banyak infeksi yang menunjukkan hubungan dengan penyakit autoimun tertentu.
Beberapa penyakit tipe yang sama antigen sendiri. Respon imun yang timbul terhadap
bakteri tersebut bermula pada rangsangan terhadap sel T yang selanjutnya merangsang
sel B untuk membentukautoantibodi.
Infeksi bakteri dan virus dapat berkontribusi dalam terjadinya eksaserbasi
autoimunitas. Pada kebanyakan hal, mikroorganisme tidak dapat ditemukan. Kerusakan
tidak disebabkan oleh penyebab mikroba, tetapi merupakan akibat respon imun terhadap
jaringan pejamu yang rusak. Contoh penyakit yang ditimbulkan oleh kemiripan dengan
antigen sendiri adalah semam reuma pasca infeksi streptococcus, disebabkan antibodi
terhadap streptokok yang diikat jantung dan menimbulkan miokarditis.
2. sequestered Antigen
Sequestered antigen adalah antigen sendiri yang karena letak anatominya, tidak
terpapar dengan sistem imun. Pada keadaan normal, sequestered antigen tidak
ditemukan untuk di kenal sistem imun. Perubahan anatomik dalam jaringan seperti
inflamasi ( sekunder oleh infeksi, trauma), dapat memajankan sequestered antigen

dengan sistem imun yang tidak terjadi pada keadaan normal. Contohnya protein
intraoktakular pada sperma.
3. kegagalan autoregulasi
Regulasi imun berfungsi untuk mempertahankan hemostatis. Gangguan dapat
terjadi pada presentasi antigen, infeksi yang meningkatkan respon MHC, kadar sitokin
yang rendah (misalnya TGF-) dan gangguan respon.pengawasan beberapa sel
autoreaktif diduga bergantung pada sel Ts atau Tr. Bila terjadi kegagalan sel Ts atau Tr,
maka sel Th dapat dirangsang sehingga menimbulkan autoimunitas.
4. aktivasi sel B poliklonal
Autoimunitas dapat terjadi karena aktivasi sel B poliklonal oleh virus (EBV), LPS
dan parasit malaria yang dapat merangsang sel B secara langsung yang dapat
menimbulkan autoimunitas. Antibodi yang dibentuk terdiri atas berbagai autoantibodi.
5. obat-obatan
Antigen asing dapat diikat oleh permukaan sel dan menimbulkan reaksi kimia
dengan antigen permukaan sel tersebut yang dapat mengubah imunogenitasnya.
Trombositopenia dan anemia merupakan contoh-cntoh umum dari penyakit autoimun
yang dicetuskan obat. Mekanisme terjadi reaksi autoimun pada umumnya belum
diketahui dengan jelas. Pada seseorang yang mendapat prokainamid dapat ditemukan
antibodi antinuklear dan timbul sindroma berupa LES. Antibodi menghilang bila obat
dihentikan.
6. faktor keturunan
Penyakit autoimun mempunyai persamaan predisposisi genetic. Meskipun sudah
diketahui adanya kecenderungan terjadinya penyakit pada keluarga, tetapi bagaimana
hal tersebut dapat di turunkan, pada umumnya adalah kompleks dan diduga terjadi atas
pengaruh beberapa gen.

2.2.3 Mekanisme Kejadian Penyakit Autoimun


Jika tubuh dihadapkan sesuatu yang asing maka tubuh memerlukan ketahanan
berupa respon imun untuk melawan subtansi tersebut dalam upaya melindungi dirinya
sendiri dari kondisi yang potensial menyebabkan penyakit. Untuk melakukan hal
tersebut secara efektif maka diperlukan kemampuan untuk mengenali dirinya sendiri
sehingga dapat memberikan respon pada kondisi asing atau bukan dirinya sendiri. Pada
penyakit autoimun terjadi kegagalan untuk mengenali beberapa bagian dari dirinya
Ada 80 grup penyakit autoimun serius pada manusia yang memberikan tanda
kesakitan kronis yang menyerang pada hampir seluruh bagian tubuh manusia. Gejalagejala yang ditimbulkan mencakup gangguan nervous, endokrin sistem, kulit dan
jaringan ikat lainya, mata, darah, dan pembuluh darah. Pada gangguan penyakit tersebut
diatas, problema pokoknya adalah terjadinya gangguan sistem imun yang menyebabkan
terjadinya salah arah sehingga merusak berbagai organ yang seharusnya di lindunginya.
2.3 Penyakit Autoimun (PSORIASIS)
Contoh penyakit autoimun meliputi penyakit selieka, diabetes mellitus tipe 1
(IDDM), lupus eritematosus sistemik (SLE), sindrom sj gren, Churg-strauss syndrome,
tiroiditis Hashimoto, penyakit Graves, purpura idiopatik throm bocyttopenic, dan
rheumatoid arthritis (RA).
Beberapa

gangguan

autoimun

yang sering terjadi

seperti

radang sendi

rheumatoid,lupus erythematosus sistemik (lupus), dan vasculitis, diantaranya penyakit


tambahan yang diyakini berhubungan dengan autoimun seperti glomerulonephritis,
penyakit addison, penyakit jaringan ikat, sindroma sjogren, sclerosis sistemik progresif,
dan beberapa kasus infertilitas.
Ada beberapa penyakit autoimun dan masing-masing dapat berdampak pada tubuh
dengan berbagai model, sebagai contoh: reaksi autoimun berlangsung menyerang otak
pada kasus multiple sclerosis dan menyerang saluran pencernaan pada kasus penyakit
churg-strauss. Pada kasus penyakit penyakit autoimun lainya, seperti lupus

erythematosus (lupus) berdampak pada jaringan dan organ-organ yang bervariasi antar
individu dengan penyebab penyakit yang sama.
Seseorang yang menderita lupus mungkin berdampak pada kulit dan persendian
sementara kasus lupus pada individu lainnya memberikan dampak kulit, ginjal dan
paru-paru. Pada akhirnya kerusakan pada jaringan-jaringan yg desebabkan oleh sistem
kekebalan akanpermanen sebagaimana kerusakan sel pankreas yg memproduksi insulin
pada diabetes melituss tipe 1.
2.3.1 Penyakit Autoimun ( R Hematoid-Arthritis)
Beberapa penyakit autoimun diketahui terjadi dan makin terjadi karena adanya
faktor pemicu seperti inveksi virus. Sinar matahari tidak saja berperan sebagai pemicu
kejadian lupus akan tetapi sinar matahari dapat memperburuk kondisi penderita lupus.
Hal ini perlu disadari sehingga faktor-faktor tersebut dapat dihindari oleh individu yang
rentan dalam rangka dalam mencegah jumlah kerusakan yang ditimbulkan oleh karena
penyakit autoimun padapenderita. Faktor-faktor lainnya seperti: stres kronis, hormonal
dan kehamilan, belum banyak diketahui dampaknya terhadap sistem kekebalan dan
penyakit autoimun
2.3.2 Penyakit Autuimune Lupus
Penyakit lupus atau erythematosus merupakan penyakit kronis yang terjadi karena
produksi antibodi atau zat kekebalan tubuh yang terlalu berlebihan. Penyakit lupus
termasuk penyakit autoimun karena pada saat terkena penyakit lupus, tubuh akan
menghasilkan antibodi yang sebenarnya untuk melenyapkan kuman atau sel kanker yag
ada di tubuh, namun dalam keadaan autoimun, antibodi tersebut ternyata merusak organ
tubuh sendiri. Bagian dari organ tubuh yang sering dirusak yaitu: ginjal, sendi, kulit,
jantung, otak dan sistem pembuluh darah. Semakin lama perusakan terjadi, semakin
berat kerusakan organ tubuh.

a. Gejala penyakit lupus


Demam merupakan gejala yang paling sering muncul. Sealin itu juga terdapat
rasa nyeri sendi, kelainan pada kulit, anemia, gangguan pada fungsi ginjal, rasa
nyeri kepala, sampai kadang terjadi kejang. Pada kasus tertentu, kadang pada
jantung dan ginjal juga bisa terdapat cairan yang bisa menimbulkan sesak nafas.
Banyak dari gejala penyakit lupus yang menyerupai penyakit lain. Oleh karena
itu, penyakit lupus juga sering disebut penyakit peniru ulung.
b. Jenis penyakit lupus
Pada dasarnya, penyakit kupus dibedakan menjadi 3 jenis, yaitu:
1. Penyakit lupus diskoid
Penyakit lupus diskoid merupakan penyakit lupus yang hanya terbatas pada
kulit. Penyakit ini biasanya lebih ringan dan hanya sekitar 10%-55 yang
berkembang menjadi penyakit lupus sistemi
2. Penyakit lupus sistemik
Penyakit lupus sistemik merupakan penyakit lupus yg bisa menyebabkan
kerusakan organ tubuh
3. Penyakit lupus jenis ini bisa menimbulkan gejala seperti pada penyakit lupus
sistemik pada penyakit lupus sistemik namun gejalannya akan semakin
membaik jika pemakaian obat dihentikan. Jenis obat yang sering
menimbulkan penyakit lupus diantaranya adalah: prokainamid, hidralazin,
serta INH (obat tuberkulosis) penyakit lupus akan muncul ketika seperangkat
gen yang memiliki kecenderungan tertentu terkena kombinasi unsur-unsur
lingkungan, perantara infeksi, obat-obatan, sinar ultraviolet, trauma fisik,
tekanan emosional, atau faktor-faktor lain, pada anak-anak dan orang dewasa
diatas 50 tahun, timbulnya penyakit lupus menunjukkan hanya sedikit
kecenderungan pada perempuan, tetapi antara umur 15-45 tahun, hampir
90% pengidapnya adalah perempuan.

2.4. Mendiagnosa Penyakit Autoimun


Diagnosa penyakit autoimun didasarkan pada gejala individu yang didapatkan
melalui pengamatan kondisi fisik dan hasil pemeriksaan laboratorium. Diagnosa dini
penyakit autoimun sangat sulit dilakukan. Beberapa gejala dari penyakit autoimun,
seperti kecapean adalah tidak spesifik. Test laboratorium mungkin sangat membantu,
tetapi seringkali tidak mencukupi didalam mengkonfirmasi suatu diagnostik. Jika
individu menderita gejala semacam sakit persendian dan hasil laboratorium positif
tetapi nonspesifik, maka penderita tersebut akan di diagnosa dengan nama yang
membingungkan (undifferenttiated) sebagai awal atau tidak terbedakan sebagai penyakit
jaringan ikat (connectivetissue disease)
2.4.1 Penyebab Autoimun
Reaksi autoimun dapat dicetuskan oleh beberapa hal:
1. Senyawa yang ada di badan yang normalnya dibatasi di area tertentu ( dann
demikian disembunyikan dari sistem kekebalan tubuh) dilepaskan ke dalam
aliran darah. Misalnya, pukulan ke mata bisa membuat cairan di bola mata
dilepaskan ke dalam aliran darah. Cairan merangsang sistem kekebalan tubuh
untuk mengenali mata sebagai benda asing dan menyerangnya
2. Senyawa normal di tubuh berubah, misalny : oleh virus, sinar matahari atau
radiasi. Bahan senyawa yang berubah mungkin kelihatannya asing bagi sistem
kekebalan tubuh , misalnya virus bisa menulari dan demikian mengubah sel di
badan. Sel yang ditulari oleh virus merangsang sistenkekebalan tubuh untuk
menyerangnya.
3. Senyawa asing yg menyerupai senyawa badan alami mungkin mamusuki badan.
Sistem kekebalan tunbuh dengan kurang hati-hati dapat menjdadikan senyawa
badan mirip seperti bahanasing sebagai sasaran. Misalnya, bakteripenyebab sakit
kerongkongan mempunyai beberapa antigen yg mirip dengan sel jantung
manusia. Jarang terjadi, sistem kekebalan tubuh dapat menyerang jantungorang
sesudah sakit kerongkongan ( reaksi ini bagian dari deman rumatik).

4. Sel yang mengontrolproduksi antibodi misalnya, limfosit B (salah satu sel darah
putih) mungkin rusak dan menghasilkan antibodi abnormal yang menyerang
beberapa sel badan.
5. Keturunan mungkin terlibat pada beberapa kekacauan autoimun, kerentanan
keracunan, dari pada keracunan itu sendiri, mungkin diwarisi. Pada orang yang
rentan, satu pemicu, seperti inveksi virus atau kerusakan jaringan. Faktor
hormonal mungkin juga dilibatkan, karena banyak kekacauan autoimun lebih
sering terjadi pada wanita.
2.4.2 Gejala Autoimun
Gangguan autoimun dapat menyebabkan demam tetapi, gejala bervariasi
bergantung pada gangguan dan bagian badan yang terkena. Beberapa gangguan
autoimun mempengaruhi jenis tertentu jaringan diseluruh badan misalnya: pembuluh
darah, tulang rawan, dan kulit
Gangguan autoimun lainya mempengaruhi organ khusus. Sebenarnya yang
organ manapun, termasuk ginjal, ginjal, paru-paru, dan otak, bisa dipengaruhi. Hasil
dari peradangan dan kerusakan jaringan bisa menyebabkan rasa sakit, merusak bentuk
sendi, kelemahan, penyakit kulit, gatal, penumpukan cairan (edema), demam bahkan
kematian
2.4.3 Diagnosa
pemeriksaan darah yang menunjukkan adanya radang dapat diduga sebagai
gangguan autoimun. Misalnya pengendapan laju eritrosit (ESR) seringkali meningkat,
karena protein yang di hasilkan dalam merespon radang mengganggu kemampuan sel
darah merah untuk tetap ada didarah. Sering, sel darah merah berkurang ( anemia)
karena radang mengurangi produksi mereka. Tetapi, radang mempunyai banyak sebab,
banyak diantaranya yang bukan autoimun. Dengan begitu, dokter sering mendapatkan
pemeriksaan darah untuk mengetahui antibodi yang berbeda yg bisa terjadi pada orang
yang mempunyai gangguan autoimun khusus. Contoh antibodi ini adalah antibodi

antinuclear, yg biasanya ada dilupus erythematosus sistemik, dan faktor rheumatoid ,


yang biasanya diradang sendi rheumatoid. Tetapi antibodi inipun kadang-kadang
mungkin terjadi pada orang yang tidak mempunyai gangguan autoimun, oleh sebab itu
dokter biasanya menggunakan kombinasi hasil tes dan tanda dan gejala orang untuk
mengambil keputusan apakah ada gangguan autoimun.
2.4.4 Pengobatan
Pengobatan memerlukan kontrol reaksi autoimun dengan menekan sistem
kekebalan tubuh. Tetapi, beberapa obat digunakan reaksi autoimun juga mengganggu
kemampuan badan untuk berjuang melawan penyakit, terutama infeksi.
Obat yang menekan sistem kekebalan tubuh , seperti azathioprine, chlorambucil,
cyclophosphamide, cyclosporine, mycophenolate, dan methotrexate, sering duigunakan,
biasanya secara oral dan sering kali dengan jangka panjang. Tetapi, obat ini menekan
bukan hanya reaksi autoimun tetapi juga kemampuan badan untuk membela diri
terhadap senyawa asing, termasuk mikrojasad penyebab infeksi dan kanker.
Sering, kortikosteroid, seperti prednison, diberikan biasanya secara oral. Obat ini
mengurangi radang seabaik menekan sistem kekebalan tubuh. Kortikosteroid yang
digunakan dalam jangka panjang memiliki banyak efek samping. Kalu mungkin,
Kortikosteroid dipakai untuk waktu yang pendek sewaktu gangguan mulai atau sewaktu
gejala memburuk. Tetapi, kortikosteroid kadang-kadang harus dipakai untuk jangka
waktu tidak terbatas.
Gangguan autoimun tertentu (misalnya, multipel sklerosis dan gagngguan tiroid)
juga diobati dengan obat lain dari pada imunosupresan dan kortikosteroid. Pengobatan
untuk mengurangi grjala juga mungkin diperlukan.

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Autoimun merupakan respon imun terhadap antigen tubuh sendiri yang disebabkan
oleh mekanisme normal yang gagal berperan untuk memepertahankan self-toleransce
sel B, sel T atau keduanya. Respon imun terlalu aktif menyebabkan disfungsi imun,
menyerang bagian dari tubuh tersebut dan merupakan kegagalan fungsi sistem
kekebalan tubuh yang membuat badan menyerang jaringan sendiri. Sistem imunitas
menjaga tubuh melawan pada apa yang terlihatnya sebagai bahan asing atau berbahaya.
Bahan seperti itu termasuk mikro jasad, parasit, (seperti cacing) sel kanker, dan malah
pencangkokkan organ dan jaringan.
Obat yang menekan sistem kekebalan tubuh seperti azathioprine, chlorambucil,
cyclophamide, clylosporine, mychopenolate, dan methotrexate, seringdigunakan,
biasanya secara oral dan sering kali dengan jangka panjang. Tetapi, obat menekan
bukan hanya reaksi autoimun tetapi juga kemampuan badan untuk membela diri
terhadap senyawa asing, termasuk mikro jasad penyebab infeksi dan kanker.
Kosekwensinya, resiko infeksi tertentu dan kanker meningkat.

3.2 Saran
Saran saya yaitu agar bapak selalu memberikan tugas seperti ini lebih
lagi agar menambah wawasan kami sebagai mahasiswa.

banyak

DAFTAR PUSTAKA

Baratawidjaya, karnen garna. 2006. Imunologi dasar. Universitas indonesia


James, Joyce, dkk. 2006. Prinsip-prinsip Sains Untuk Keperawatan. Jakarta:
Erlangga
Tomer Y, Davies TF. Searching for the autoimmune disease susceptibility genes
Mapping to gene function. Endocrine
http://medicastore.com/Penyakit/538/gangguan_autoimun.html