Anda di halaman 1dari 15

LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM

BIOFARMASI-FARMAKOKINETIK
MODUL 4
EKSRESI URIN

KELOMPOK A4
HENDI ARI PERDIAN (10060309020)
ANDRI RISWANTO (10060309041)
AKBAR SUHANDI (10060309047)
TSAMROTUL FUADAH A. (10060309048)
DADANG BAYU S. (10060309053)
SITI NUR AMALIA S. (10060309059)

HARI/TANGGAL PRAKTIKUM

: Rabu/ 27 Nopember 2013

HARI/TANGGAL LAPORAN

: Rabu/ 4 Desember 2013

ASISTEN

: Marina Chaerianisa,. S.Farm.

LABORATORIUM TERPADU FARMASI


PROGRAM STUDI FARMASI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
2012

EKSRESI URIN
I. Tujuan Percobaan
Setelah percobaan ini mahasiswa diharapkan mampu:
1. Mengukur konsentrasi obat dalam eksresi urin dan mengetahui parameterparameter lain yang dapat dihitung
2. Memahami cara mengukur konsentrasi obat dari sampel urin

II. Teori dasar


Sistem ekresi adalah proses pengeluaran zat-zat sisa hasil metabolisme yang
sudah tidak digunakan lagi oleh tubuh ataupun zat-zat yang membahayakan bagi
tubuh. Hasil sistem ekskresi dapat dibedakan menjadi : Zat cair yaitu berupa keringat,
urine dan cairan empedu, Zat padat yaitu berupa feces, Gas berupa CO2 dan Uap air
berupa H2O (Poedjadi, 2005).
Ekresi terutama berkaitan dengan pengeluaran-pengeluaran senyawa-senyawa
nitrogen. Selama proses pencernaan makanan, protein dicernakan menjadi asam
amino dan diabsorpsi oleh darah, kemudian diperlukan oleh sel-sel tubuh untuk
membentuk protein-protein baru. Mamalia memiliki sepasang ginjal yang terletak
dibagian pinggang (lumbar) dibawah peritonium. Urine yang dihasilkan oleh ginjal
akan mengalir melewati saluran ureter menuju kantung kemih yang terletak
midventral dibawah rektum. Dinding kantung kemih akan berkontraksi secara
volunter mendorong urine keluar melalui uretra (Kurniati, 2009).
Makhluk hidup menghasilkan zat-zat sisa yang harus dikeluarkan. Zat ini
dapat menjadi racun jika tidak dikeluarkan oleh tubuh. Proses pengeluaran zat sisa
dari tubuh antara lain sekresi, ekresi, dan defekasi. Sekresi merupakan suatu proses
pengeluaran zat yang berbentuk cairan oleh sel-sel atau jaringan. Ekskresi
merupakan proses pengeluaran zat siasa metabolisme dari tubuh yang sudah tidak
dapat digunakan lagi seperti pengeluaran urine, keringat, dan CO2 dari tubuh.
Defekasi merupakan prses pengeluaran feses dari tubuh. Alat ekskresi manusia
adalah paru-paru, ginjal, kulit, dan hati (Karmana, 2007).
Setiap hari tubuh kita menghasilkan kotoran dan zat-zat sisa dari berbagai
proses tubuh. Agar tubuh kita tetap sehat dan terbebas dari penyakit, maka kotoran
dan zat-zat sisa dalam tubuh kita harus dibuang melalui alat-alat ekskresi.

Urin atau air seni atau air kencing adalah cairan sisa yang diekskresikan oleh
ginjal yang kemudian akan dikeluarkan dari dalam tubuh melalui proses urinasi.
Pengeluaran urin diperlukan untuk mem-buang molekul-molekul sisa dalam
darah yang disaring oleh ginjal dan untuk menjaga homeostasis cairan tubuh.
Secara umum urin berwarna kuning. Urin encer warna kuning pucat (kuning
jernih), urin kental ber-warna kuning pekat, dan urin baru/segar berwarna kuning
jernih. Urin yang didiamkan agak lama akan berwarna kuning keruh. Urin berbau
khas jika dibiarkan agak lama berbau ammonia. pH urin berkisar antara 4,8 7,5, urin
akan menjadi lebih asam jika mengkonsumsi banyak protein,dan urin akan menjadi
lebih basa jika mengkonsumsi banyak sayuran. Berat jenis urin 1,002 1,035.
Secara kimiawi kandungan zat dalan urin diantaranya adalah sampah nitrogen
(ureum, kreatinin dan asam urat), asam hipurat zat sisa pencernaan sayuran dan buah,
badan keton zat sisa metabolism le-mak, ion-ion elektrolit (Na, Cl, K, Amonium,
sulfat, Ca dan Mg), hormone, zat toksin (obat, vitamin dan zat kimia asing), zat
abnormal (protein, glukosa, sel darah Kristal kapur dsb)

Volume urin normal per hari adalah 900 1200 ml, volume tersebut
dipengaruhi banyak faktor di antaranya suhu, zat-zat diuretika (teh, alcohol, dan
kopi), jumlah air minum, hormon ADH, dan emosi. Interpretasi warna urin dapat
menggambarkan kondisi kesehatan organ dalam seseorang.
Bersama-sama dengan urine dieksresikan juga air dan senyawa-senyawa yang
larut dalam air. Jumlah dan komposisi urine sangat berubah-ubah dan tergantung
pemasukan bahan makanan, berat badan, usia, jenis kelamin, dan lingkungan hidp

seperti temperature, kelembaban, aktivitas tubuh dan keadaan kesehatan. Karena


eksresi urin dan komposisinya kebanyakan dihubungkan dengan waktu 24 jam.
Seorang dewasa memproduksi 0,5-2,0 liter urine setiap hari, yang terdiri dari
90% air. Urine mempunyai suatu nilai pH yang asam (kira-kira 5,8). Tentu saja nilai
pH urine dipengaruhi oleh keadaan metabolisme. Setelah makan sejumlah besar
bahan makanan dari tumbuh-tumbuhan, nilai pH urine meningkat hingga di atas 7.
Urine memiliki komponen organic dan anorganik. Urea, asam urat dan
kreatinin merupakan beberapa komponen organic dari urine. Ion-ion seperti Na, K, Ca
serta anion Cl merupakan komponen anorganik dari urine. Warna kuning pada urine,
disebabkan oleh urokrom, yaitu family zat empedu, yang terbentuk dari pemecahan
hemoglobin. Bila dibiarkan dalam udara terbuka, urokrom dapat teroksidasi, sehingga
urine menjadi berwarna kuning tua. Pergeseran konsentrasi komponen-komponen
fisiologik urine dan munculnya komponen-komponen urine yang patologik dapat
membantu diagnose penyakit.
Dalam farmakokinetik, urin dapat digunakan sebagai salah satu objek
pemeriksaan

selain

plasma

darah,

untuk

penentuan

beberapa

parameter

farmakokinetik.
Penyiapan sampel dalam matriks urin pada umumnya dilakukan dengan cara
pengenceran dengan air atau dapar pada Ph tertentu, adapun pada beberapa kondisi
khusus biasanya dilakukan hidrolisis asam atau basa untuk membuat senyawa yang
akan dianalisis terlarut sempurna dalam urin.
Urine dan Parameter Farmakokinetik
Data eksresi obat lewat urine dapat dipakai untuk memperkirakan
bioavailabilitas. Agar dapat diperkirakan yang sahih, obat harus dieksresi dengan
jumlah yang bermakna di dalam urine dan cuplikan urine harus dikumpulkan secara
lengkap.
Jumlah kumulatif obat yang dieksresi dalam urine secara langsung
berhubungan dengan jumlah total obat yang terabsorbsi. Di dalam percobaan,
cuplikan urinedikumpulkan secara berkala setelah pemberian produk obat. Tiap
cuplikan ditetapkan kadar obat bebas dengan cara yang spesifik. Kemudian dibuat
grafik yang menghubungkan kumulatif obat yang dieksresi terhadap jarak waktu
pengumpulan.
Hubungan antara jumlah kumulatif obat yang diekseresi dalam urin dan kurva
kadar obat dalam plasma-waktu diperlihatkan dalam Gambar (1). Bila obat

dieliminasi secara sempurna (titik C) konsentrasi obat dalam plasma mendekati nol
dan diperoleh jumlah maksimum obat yang diekskresi dalam urin.

Gambar 1. Gambar yang menunjukan hubungan kurva plasma waktu dan


jumlah kumulatif obat yang diekresi dalam urin
dDu/dt oleh karena sebagian besar obat dieliminasi dengan proses laju orde kesatu,
maka laju eksresi obat bergantung pada tetapan laju eliminasi orde kesatu (K) dan
kadar obat dalam plasma (Cp). Dalam gambar (1) laju eksresi obat maksimum berada
pada titik B, sedangkan laju eksresi obat minimum berada pada titik A dan C. Jadi,
suatu grafik yang membandingkan laju eksresi obat dengan waktu akan identik
dengan kurva kadar dalam plasma-waktu untuk obat tersebut (Gambar 2).

Gambar 2. Gambar yang menunjukan hubungan kurva kadar obat dalam plasma
waktu dan laju eksresi obat dalam urin

Dalam gambar (1 dan 2) slop dari bagian kurva A-B dikaitkan dengan laju absorpsi
obat, sedangkan C dikaitkan dengan waktu total yang diperlukan untuk absorpsi dan
ekskresi obat secara sempurna (t = ) setelah pemberian obat. Dengan demikian t

merupakan suatu parameter yang berguna dalam studi bioekivalensi yang


membandingkan beberapa produk obat.
Tetapan laju eliminasi (K), dapat dihitung dari data eksresi urine. Dalam
penghitungan ini, laju eksresi obat dianggap sebagai orde kesatu. Ke adalah tetapan
laju eksresi ginjal. Oleh karena eliminasi suatu obat biasanya dipengaruhi oleh eksresi
ginjal atau metabolisme (biotransformasi), maka dapat digunakan persamaan :
dDu/dt = KeDB
setelah diturukan maka diperoleh:
K = Km + Ke
Km adalah laju proses metabolisme orde kesatu dan Ke adalah laju proses eksresi orde
kesatu.

Laju eksresi obat lewat urine (dDu/dt) tidak dapat ditentukan melalui
percobaan segera setelah pemberian obat. Dalam praktek, urine dikumpulkan pada
jarak waktu tertentu dan konsentrasi obat di analisis. Kemudian laju eksresi urin ratarata dihitung untuk tiap waktu pengumpulan. Harga dDu/dt rata-rata digambar pada
suatu skala semilogaritmik terhadap waktu yang merupakan harga tengah (titik
tengah) waktu pengumpulan.
Faktor-faktor tertentu dapat mempersulit untuk mendapatkan data eksresi urin yang
sahih. Beberapa factor tersebut adalah :
1. Suatu fraksi yang bermakna dari obat titak berubah harus dieksresi dalam urin;
2. Teknik penetapan kadar harus spesifik untuk obat tidak berubah, dan harus tidak
dipengaruhi oleh metabolit-metabolit obat obat yang mempunyai struktur kimia
serupa;
3. Diperlukan pengambilan cuplikan yang sering untuk mendapatkan gambaran kurva
yang baik;
4. Cuplikan data urin hendaknya dikumpulkan secara berkala sampai hampir semua obat
dieksresi. Suatu grafik dari kumulatif obat yang dieksresi vs waktu akan
menghasilkan kurva yang mendekati asimtot pada waktu tak terhingga. Dalam
praktek, diperlukan kurang lebih 7 X t eliminasi untuk mengeliminasi 99% obat.
5. Perbedaan pH urine dan volume dapat menyebabkan perbedaan laju eksresi urin yang
bermakna.
Kromatografi Cair Tekanan Tinggi, HPLC merupakan bentuk kromatografi
kolom yang sering digunakan dalam biokimia dan analisis kimia untuk memisahkan,
mengidentifikasi, mengukur dan memanjang. HPLC memanfaatkan kolom yang
memegang chromatographic bahan kemasan (tahap tak berubah), sebuah pompa yang
bergerak selular fase (s) melalui kolom, dan detektor yang menunjukkan ingatan
waktu Molecules. Retensi waktu bervariasi tergantung pada interaksi antara keadilan
tahap, yang Molecules yang dianalisis, dan larutan (s) yang digunakan.
Kromatografi jenis ini menggunakan fase gerak berupa cairan yang dialirkan
dengan tekanan sangat tinggi sedangkan fase diamnya dapat berbagai macam,
tergantung mode kromatografi yang dipilih dalam proses pemisahan. Prinsip
pengukurannya berdasarkan kepolaran antara fase gerak dan sampel.

III. Alat dan Bahan

Alat
-

Gelas kimia

Gelas ukur

Pipet tetes

Pipet volume

Mikro pipet

Labu takar

pH meter

Vial

HPLC

Bahan
-

Urin

Siprofloksasin

Dapar ammonium asetat

Asetonitril

Aquabidest

Trietanolamin

IV. Prosedur Percobaan


A. Pengambilan sampel
Urin sukarelawan di ambil sebelum obat di minum (blanko). Kemudian obat
siprofloksasin diminum sehari sebelum percobaan pada jam 08.00. Volume urin
yang terkumpul diukur. Diambil 10 ml lalu ditaruh dalam vial dan disimpan
dalam lemari pendingin. Urin dikumpulkan pada rentang waktu yang telah
ditentukan:
08.00 11.00

17.00 20.00

11.00 14.00

20.00 24.00

14.00 17.00

05.00

B. Perlakuan sampel
Sampel urin diambil sebanyak 1 ml kemudian dimasukan ke dalam labu takar 10
ml. Setelah itu diencerkan dengan dapar ammonium asetat hingga 10 ml (1:10).
Sampel dimasukan ke dalam kolom HPLC dengan Fase balik oktadesil silne, fase
gerak asetonitril-air (25:75) dengan 0,1% trietanolamin dan pH disesuaikan
hingga 2,5 dengan asam sulfat 1 M, detector spektrofotometri UV 294 nm, laju
elusi 1,5 ml/menit. Luas area siprofloksasin dicatat.

C. Pengolahan data
Kurva kalibrasi dibuat, dan dibuat larutan siprofloksasin dalam urin blanko,
dengan konsentrasi siprofloksasin 1, 5, 10, 20, 50 g/ml. Kurva dibuat
berdasarkan rasio luas area antara siprofloksasin. Luas area dari tiap larutan
siprofloksasin dihitung dengan system HPLC yang sama. Dari kurva kalibrasi
yang didapat kemudian dihitung konsentrasi siprofloksasin dari sampel.
Dibuat kurva log dXu vs tmid, lalu ditentukan konstanta laju eliminasi dan waktu
paruh eliminasi.

V. Data Pengamatan dan Perhitungan


Data Blanko
Perhitungan Pengenceran Blanko
Siprofloksasin yang dibuat 1000 ppm sebanyak 10 ml. Lalu diambil 1 ml
dan diencerkan sebanyak 10 ml dengan konsentrasi 100 ppm.
Dari 100 ppm yang diencerkan sampai 10 ml, akan dibuat sampel dengan
konsentrasi 1, 5, 10, 20, 50 g/ml.
100 ppm = 100 g/ml
Konsentrasi 1 g/ml V1 x M1 = V2 x M2
V1 x 100 g/ml = 10 ml x 1
V1=

= 0,1 ml

Konsentrasi 5 g/ml V1 x M1 = V2 x M2
V1 x 100 g/ml = 10 ml x 5
V1=

= 0,5 ml

Konsentrasi 10 g/ml V1 x M1 = V2 x M2
V1 x 100 g/ml = 10 ml x 10
V1=

= 1 ml

Konsentrasi 20 g/ml V1 x M1 = V2 x M2
V1 x 100 g/ml = 10 ml x 20
V1=

= 2 ml

Konsentrasi 50 g/ml V1 x M1 = V2 x M2
V1 x 100 g/ml = 10 ml x 50
V1=

= 5 ml

Data AUC Blanko


C (Konsentrasi)

AUC

g/ml
1

464471

719912

10

3440018

20

6368651

50

13128867

RT (Waktu Retensi) = 2,42


Nilai Regresi : b = 263371,85

y = bx + a

a = 294388,02

y = 263371,85x + 294388,02

r = 0,9915

AUC
16000000
y = 263372x + 294388
R = 0.9832

14000000
Axis Title

12000000
10000000
8000000

AUC

6000000

Linear (AUC)

4000000
2000000
0
0

10

20

30
Axis Title

40

50

60

Data Sampel
Pengenceran

Sampel

AUC

C (g/ml)

1533853

4,7

47

0,0047

6404928

23,2

232

0,0232

2286644

7,5

75

0,0075

2258840

7,4

74

0,0074

500805

0,78

7,8

0,00078

348995

0,21

2,1

0,00021

(dikali 10)

Cp (mg/ml)

Perhitungan konsentrasi (C) = x :


y = 263371,85x + 294388,02 Ket : y = Nilai AUC sampel
x = Nilai kosnsentrasi yang dicari
Sampel 1 1533853 = 263371,85x1 + 294388,02
x1 =
x1 = 4,7 g/ml
Sampel 2 6404928 = 263371,85x2 + 294388,02
x2 =
x2 = 23,2 g/ml
Sampel 3 2286644 = 263371,85x3 + 294388,02
x3 =
x3 = 7,5 g/m
Sampel 4 2258840 = 263371,85x4 + 294388,02
x4 =
x4 = 7,4 g/ml
Sampel 5 500805 = 263371,85x5 + 294388,02
x5 =
x5 = 0,78 g/ml
Sampel 6 348995 = 263371,85x6 + 294388,02
x6 =
x6 = 0,21 g/ml

Waktu Pengambilan

Cp

Jumlah

Sampel (Jam)

(mg/ml)

Urin (ml)

08.00-11.00 (0-3)

0,0047

550

2,585

= 0,86

1,5

11.00-14.00 (3-6)

0,0232

400

9,28

= 3,09

14.00-17.00 (6-9)

0,0075

430

3,225

= 1,07

17.00-20.00 (9-12)

0,0074

510

3,774

= 1,25

11

20.00-24.00 (12-16)

0,00078

450

0,351

= 0,08

14,5

24.00-05.00 (16-21)

0,00021

500

0,105

= 0,02

19

05.00-08.00 (21-24)

=0

23

DU

DU/t

t*

Ket : t = rentang waktu pengambilan sampel


DU = Cp x Jumlah urin
t* = waktu tengah-tengah dari rentang waktu pengambilan sampel
Log DU/t

t*

Log 0,86 = - 0,06

1,5

Log 3,09 = 0,48

Log 1,07 = 0,03

Log 1,25 = 0,09

11

Log 0,08 = - 1,09

14,5

Log 0,02 = - 1,69


Log 0 = 0

19
23

t*
25
y = 3.5357x - 2.4286
R = 0.9946

Log DU/t

20
15
10

t*

Linear (t*)

0
0

4
t*

y = bx+a
y = 3,5357x + 2,4286
b=
k = 3,5357 x 2,303 = 8,14
t =

VI.

= 0,08

Pembahasan
Pada praktikum ini akan melakukan pengukur kadar obat siprofloksasin
dalam urin. Dimana dilakukan pengukuran konsentrasi obat siprofloksasin dalam
ekskresi urin. Langkah awal yang dikerjakan adalah mengambil sample urin
sesaat sebelum pemberian obat siprofloksasin (blanko) dan urin dikumpulkan
pada rentang waktu 08.00 11.00, 11.00 14.00, 14.00 17.00, 17.00 20.00,
20.00 24.00 (tidur) setelah pemberian obat tersebut. Lalu pagi hari urin diambil
sesaat setelah bangun tidur (05.00). dimana data volume dari setiap urinasi
dicatat, karena volume dari urin tersebut akan mempengaruhi distribusi obat
dalam urin. Sampel urin yang telah diambil disimpan didalam lemari pendingin
untuk mencegah pengendapan matriks pada urin.
Perlakuan pertama adalah membuat kurva kalibrasi, yaitu dengan
membuat larutan siprofloksasin dalam urin blanko, dimana tahap pengerjaannya
yaitu, membuat larutan stok siprofloksasin dengan konsentrasi 1000 ppm
sebanyak 10 ml lalu diambil 1 ml dan diencerkan sebanyak 10 ml dengan
konsentrasi 100 ppm. Larutan ini akan dibuat menjadi larutan sampel uji dengan
konsentrasi 1, 5, 10, 20, 50 ppm. Setelah itu dilakukan pengukuran luas area
(AUC) pada sampel di HPLC dengan fase gerak (asetonitril:air) dengan
penambahan trietanolamin 0,1 % untuk menjaga pH (derajat keasaman) larutan
agar tetap stabil pada pH 2,5. Dari data AUC didapat persamaan regresi linier
yang nantinya akan digunakan untuk mengukur konsentrasi obat siprofloksasin
dalam sampel urin.
Tahap selanjutnya adalah pengukuran kadar siprofloksasin pada urin
sampel yang telah diambil pada rentang waktu yang telah ditentukan. Setiap
sampel urin diencerkan dengan dapar ammonium asetat agar senyawa yang
terdapat dalam urin dapat terlarut sempurna. Setelah itu sampel diukur dengan

menggunakan HPLC dengan perlakuan yang sama pada pengukuran urin blanko.
Dari hasil pengukurn didapatkan nilai AUC sampel.
Nilai AUC sampel ini digunakan untuk mengukur konsentrasi obat
siprofloksasin dalam urin dengan menggunakan persamaan regresi linier yang
didapat pada pembuatan kurva kalibrasi. Setelah diketehui data konsentrasi
siprofloksasin dalam urin selanjutnya dihitung nilai distribusi obat siprofloksasin
dalam urin dengan cara mengalikan konsentrasi obat dalam urin dengan volume
urinasi yang didapat. Setelah itu dihitung nilai distribusi siprofloksasin dalam urin
per rentang waktu pengambilan sampel. Kemudian dibuat kurva DU/t yang
dibandingkan dengan t* (tmid).
Dari kurva tersebut didapatkan persamaan regresi linier yang akan
digunakan untuk menghitung konstanta laju eliminasi dan waktu paruh eliminasi.
Dan didapatkan nilai konstanta eliminasi sebesar 8,14, dimana konstanta
eliminasi merupakan nilai tetapan laju eksresi ginjal yang menunjukan bagaimana
obat dimetabolisme dalam ginjal. Selain konstanta eliminasi dihitung pula waktu
paruh yang didapat nilainya sebesar 0,08/jam, dimana waktu paruh itu adalah
jangka waktu sampai kadar obat dalam urin menurun menjadi separuh dari harga
asalnya. Dengan mengetahui data konstanta eliminasi dengan waktu paruh kita
mengtahui bagaimana onbat diekskresikan dalam urin dimana nilai konstanta
eliminasi seharusnya berbanding lurus dengan nilai waktu paruh, dan data yang
diperoleh dri sampel pengujian kelompok kami menunjukan nilai yang jauh
antara konstanta eliminasi dengan waktu paruh. Ini mungkin disebabkan karena
obat

siprofloksasin

banyak

dimetabolisme

oleh

ginjal

sehingga

obat

siprofloksasin tidak terekskresikan dengan sempurna.

VII.

Kesimpulan
Dari serangkaian pengujian ekskresi urin didapatkan kesimpulan ternyata
jumlah obat yang diekskresikan dalam urin pada sukarelawan tidak sama dengan
jumlah obat yang diabsorpsi karena nilai yang didapat yaitu nilai konstanta
eliminasi dan nilai waktu paruh tidak memenuhi persyaratan yang ditentukan yaitu
harus berbanding lurus, dimana konstanta eliminasi dan waktu paruh merupakan
parameter yang biasa digunakan untuk menghitung jumlah eliminasi obat dalam
urin.

DAFTAR PUSTAKA

Karmana, Oman. 2007. Cerdas Belajar Biologi. Grafindo Media Pratama, Jakarta.
Kurniati, Tuti dkk. 2009. Zoologi Vertebrata. Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati,
Bandung.
Leon Shargel, Andrew B. C. Yu, 1988, Biofarmasetika dan Farmakokinetika Terapan Edisi
Kedua, Alih bahasa; Fasich & Siti Sjamsiah, Airlangga University Press, Surabaya.
Poedjiadi, A., Suryati, FMT. 2005. Dasar-Dasar Biokimia. UI-Press. Jakarta.

Anda mungkin juga menyukai