Anda di halaman 1dari 25

BAB I

STATUS PASIEN

I.

IDENTITAS PASIEN
Nama

: Tn.G

Umur

: 16 tahun

Alamat

: Kp.Lebakwangi Ds. Sekarwangi 4/9 Kec. Soreang Kab.


Bandung

Status Perkawinan

: Belum menikah

Agama

: Islam

Pekerjaan

: Pelajar

Tanggal pemeriksaan

: 10 Desember 2014

II.

ANAMNESIS

Keluhan Utama : Testis tidak teraba di scrotum kiri


Riwayat penyakit sekarang
Pasien datang ke RSUD Soreang dengan keluhan testis yang tidak teraba di
scrotum kirinya. Pasien sudah

lama mengetahui bahwa testisnya hanya 1 yang

teraba, yaitu testis kanannya. Namun sejak 2 minggu smrs, pasien juga merasakan
terasa berat sebelah kanan saat melangkah, terutama saat pasien sedang olahraga di
sekolahnya. Keluhan disertai benjolan di bagian pubisnya kirinya sejak 5 tahun smrs.
Benjolan terus menerus ada, tidak dipengaruhi posisi,aktifitas, cuaca dan tidak terasa
nyeri.

Riwayat kelahiran :
Tidak diketahui pasien
Riwayat pengobatan :
Pasien baru pertama kali memeriksakan diri ke dokter dan belum pernah mendapat
pengobatan.
III.

PEMERIKSAAN FISIK

Keadaan umum

: Tampak sakit ringan

Kesadaran

: Kompos mentis

Tanda vital

: TD = 120/80 mmHg
RR = 20 x/menit
N = 78 x/menit
S = 36,6 0C

Status Generalis
Kepala

: Normocephal

Mata :
Konjungtiva
Sklera

: Tidak anemis
: Tidak ikterik

Mulut :
Tonsil
Pharing

: T1-T1
: Hiperemis (-)

Leher :
JVP tidak meningkat 5+2 cmH2O
KGB tidak teraba

Thorak
Cor
Inspeksi
Palpasi
Perkusi
Auskultasi

:
:Iktus kordis tidak terlihat
:Iktus kordis teraba
:Redup, batas jantung normal
:BJ I-II reguler, murmur (-), Gallop (-)

Pulmo
Inspeksi
Palpasi
Perkusi
Auskultasi
Abdomen
:
Inspeksi
Palpasi
Perkusi
Auskultasi

: Simetris, dalam keadaan statis dan dinamis


: Fremitus vokal pada hemitoraks kanan- kiri
teraba simetris
: Sonor pada kedua hemitoraks
: Vesikuler +/+ N, Rhonki -/-, Wheezing -/-

: Datar
:Supel, NT -, hepar dan lien tidak teraba
: Timpani di seluruh lapang abdomen
: BU (+) normal

Ekstremitas :
Eks.atas : akral hangat +/+, CRT <2 , turgor baik
Eks Bawah : akral hangat +/+, CRT<2, turgor baik

Status Lokalis
a/r Pubis Sinistra:
Inspeksi

: tampak masa, tidak hiperemis

Palpasi

: teraba massa bulat kenyal, ukuran 3x2x3 cm, batas tegas, permukaan

halus, mobile, nyeri tekan (-)

a/r scrotum

Scrotum dextra
Inspeksi

: Terlihat adanya testis, tidak hiperemis

Palpasi

: Teraba adanya testis, ukuran 4x3x3 cm, nyeri tekan (-)

Scrotum sinistra
Inspeksi

: Terlihat kosong

Palpasi

: Tidak teraba testis

IV.

RESUME
Pasien datang ke RSUD Soreang dengan keluhan testis yang tidak teraba di

scrotum kirinya. Pasien juga merasakan terasa berat sebelah kanan saat melangkah,
terutama saat pasien sedang olahraga.Keluhan disertai benjolan di bagian pubisnya
kirinya sejak 5 tahun smrs. Benjolan terus menerus ada, tidak dipengaruhi
posisi,aktifitas, cuaca dan tidak terasa nyeri. Riwayat kelahiran tidak diketahui
pasien. Pasien baru pertama kali memeriksakan diri dan berobat ke dokter.
Status generalis: dalam batas normal
Status lokalis :
a/r Pubis Sinistra:
Inspeksi

: tampak masa, tidak hiperemis

Palpasi

: teraba massa bulat kenyal, ukuran 3x2x3 cm, batas tegas, permukaan

halus, mobile, nyeri tekan (-)

a/r scrotum

Scrotum dextra
Inspeksi

: Terlihat adanya testis, tidak hiperemis

Palpasi

: Teraba adanya testis, ukuran 4x3x3 cm, nyeri tekan (-)

Scrotum sinistra
Inspeksi

: Terlihat kosong

Palpasi

:Tidak teraba testis

V.

DIAGNOSIS BANDING
1. Undesensus testis :kriptokismus
2. Undesensus testis :Testis Ektopik
3. Testis Retraktil
4. Anorkismus

VI.

USULAN PEMERIKSAAN
1. USG Pubis & Inguinal sinistra
2. Flebografi selektif
3. Laparoskopi

VII.

DIAGNOSIS KERJA

Undesensus testis suspt.kriptokismus

VIII. TATALAKSANA
Umum:

Bedrest

Diet biasa

Khusus:

IX.

IUVD RL 25 gtt/menit/makro

Terapi operatif : Orkidopeksi

HCG 1000 IU Intranasal

PROGNOSIS
Quo ad vitam

: ad bonam ((jika sudah dilakukan orkidopeksi)

Quo ad functionam

: ad bonam (jika sudah dilakukan orkidopeksi)

Quo ad sanationam

: ad bonam (jika sudah dilakukan orkidopeksi)

BAB II
PEMBAHASAN

Berdasarkan Anamnesis :
Testis yang tidak teraba di scrotum kiri menandakan adanya
kemungkinan testis yg tidak turun ke skrotum atau tidak terbentuknya testis kiri,
sehingga skrotum kiri terasa kosong.Terdapat benjolan yang terus menerus ada
menandakan adanya kemungkinan testis yang masih berada di atas, tidak dipengaruhi
posisi & aktifitas untuk menyingkirkan diagnosa banding dengan hernia inguinalis,
tidak dipengaruhi cuaca untuk menyingkirkan diagnosa banding dengan testis
retraktil dan tidak terasa nyeri untuk menyingkirkan adanya gangguan oksigenasi
jaringan.

Berdasarkan Pemeriksaan Fisik:


Dari pemeriksaan fisik ditemukan tampak sakit ringan, vital sign dalam batas
normal,status generalis lain dalam batas normal. Pada status lokalis:
a/r Pubis Sinistra:
Inspeksi

: tampak masa, tidak hiperemis ( menandakan terdapat masa yang

kemungkinan adalah testis yang tidak turun)


Palpasi

: teraba massa bulat kenyal, ukuran 3x2x3 cm, batas tegas, permukaan

halus, mobile, nyeri tekan (-) ( menandakan terdapat masa yang kemungkinan adalah
testis yang tidak turun, jika benar testis, ukurannya lebih kecil dibandingkan yang
terdapat di skrotum kanan disebabkan karena testis kehilangan banyak sel
germinalnya)

a/r scrotum

Scrotum dextra
Inspeksi

: Terlihat adanya testis, tidak hiperemis (manandakan testis kanan turun

dan berada pada skrotum)


Palpasi

: Teraba adanya testis, ukuran 4x3x3 cm, nyeri tekan (-) ( menandakan

testis tedapat dalam skrotum dengan ukuran yang lebih besar dari massa pada pubis
sinistra yang kemungkinan adalah testis)
Scrotum sinistra
Inspeksi

: Terlihat kosong (menandakan tidak terdapat testis)

Palpasi

: Tidak teraba testis (menandakan tidak terdapat testis)

Diagnosa banding:
1. kriptokismus : merupakan maldesensus testis yang masih berada pada
jalurnya)
2. Testis Ektopik: merupakan maldesensus testis juga, namun tidak berada di
jalurnya)
3. Testis Retraktil ( testis berada didaerah inguinal diseababkan reflex otot
kremaster yang terlalu kuat akibat cuaca dingin atau aktifitas fisik)
4. Anorkismus ( testis tidak terbentuk karena atrofi testis akibat torsio in utero
atau torsio saat neonates)

Pemeriksaan Penunjang:
1. USG Pubis & Inguinal sinistra ( untuk melihat bentuk detail dari masa yang
terdapat pada daerah tersebut )

2. Flebografi selektif ( untuk mencari keberadaan testis secara tidak langsung


dengan mencari keberadaan plexus pampiniformis)
3. Laparoskopi ( untuk mencari keberadaan testis dari fosa renalis hingga
annulus inguinalis internus)

TERAPI
Umum:

Bedrest

Diet biasa

Khusus:

IUVD RL 25 gtt/menit/makro

Terapi operatif : Orkidopeksi (meletakan testis ke dalam skrotum dengan


melakukan fiksasi di daerah kantong sub dartos)

HCG 1000 IU Intranasal (Terapi hormonal meningkatkan produksi


testosterone dengan menstimulasi berbagai tingkat jalur hipotalamuspituitary-gonadal)
Progosis :
Quo ad vitam

: ad bonam ((jika sudah dilakukan orkidopeksi)

Quo ad functionam

: ad bonam (jika sudah dilakukan orkidopeksi)

Quo ad sanationam

: ad bonam (jika sudah dilakukan orkidopeksi)

BAB III
TINJAUAN PUSTAKA

Anatomi Testis
Testis adalah organ genitalia pria yang terletak di skrotum. Ukuran testis pada orang
dewasa adalah 432,5 cm dengan volume 15-25 ml berbentuk ovoid kedua buah
testis terbungkus oleh jaringan tunika albuginea yang melekat pada testis. Diluar
tunika albuginea terdapat tunika vaginalis yang terdiri atas lapisan viseralis dan
parietalis, serta tunika dartos. Otot kremaster yang berada disekitar testis
memungkinkan

testis

dapat

digerakan

mendekati

rongga

abdomen

untuk

mempertahankan temperatur testis agar tetap stabil.


Secara histopatologis, testis terdiri atas kurang lebih 250 lobuli dan tiap lobulus
terdiri atas tubuli seminiferi. Didalam tubulus seminiferus terdapat sel-sel
spermatogenia dan sel Sertoli, sedang diantara tubulus seminiferi terdapat sel-sel
Leyding. Sel-sel spermatogenia pada proses spermatogenesis menjadi sel
spermatozoa. Sel-sel Sertoli berfungsi memberi makanan pada bakal sperma,
sedangkan sel-sel Leyding atau disebut sel interstisial testis berfungsi dalam
menghasilkan hormon testosteron. Sel-sel spermatozoa yang diproduksi di tubuli
seminiferi testis disimpan dan mengalami pematangan atau maturasi diepididimis
setelah mature (dewasa) sel-sel spermatozoa bersama-sama dengan getah dari
epididimis dan vas deferens disalurkan menuju ke ampula vas deferens. Sel-sel itu
setelah dicampur dengan cairan-caidari epididimis, vas deferens, vesikula seminalis,
serta cairan prostat menbentuk cairan semen.

10

Vaskularisasi
Testis mendapatkan darah dari beberapa cabang arteri, yaitu :
1. Arteri spermatika interna yang merupakan cabang dari aorta
2. Arteri deferensialis cabang dari arteri vesikalis inferior
3. Arteri

kremasterika

yang

merupakan

cabang

arteri

epigastrika.

Pembuluh vena yang meninggalkan testis berkumpul membentuk pleksus


Pampiniformis. Plesksus ini pada beberapa orang mengalami dilatasi dan
dikenal sebagai varikokel.

Gambar 1. anatomi testis

11

Definisi
Undesensus testis adalah suatu keadaan dimana setelah usia 1 tahun, satu atau
kedua testis tidak berada di dalam kantung skrotum. Jika testis masih berada di
salah satu tempat sepanjang jalur desensus normal dinamakan kriptokismus.(1,2,3)
Kriptorkismus berasal dari kata cryptos (Yunani) yang berarti tersembunyi
dan orchis yang dalam bahasa latin disebut testis. (4) Jika tidak berada pada jalurnya
disebut testis ektopik.
Epidemologi
Undesensus testis adalah salah satu kelainan yang terjadi pada anak laki laki.
Angka kejadian pada bayi prematur kurang lebih 30% yaitu 10 kali lebih banyak
daripada bayi cukup bulan (3%). Dengan bertambahnya usia, testis mengalami
desensus secara spontan. Dengan bertambahnya umur menjadi 1 tahun, insidennya
menurun menjadi 0,7-0,8%, angka ini hampir sama dengan populasi dewasa. (2,3,4,5,6)
Embriologi dan anatomi
Pada mulanya testis hanya berupa penebalan pada bagian ventral dari genital
ridge yang belum dapat diterminasi. Karena pengaruh gen Y maka penebalan ini
akan memperlihatkan karakteristik histologi dan fungsional sebagai testis.
Kemudian sebagian mesonefron akan berdegenerasi, dan sebagian lagi yang
berdekatan dengan testis akan membentuk epididimis yang akan menjadi saluran
yang membawa spermatozoa dari testis ke vas deferens. Jika mesonefron gagal
tumbuh menyatu dengan testis, maka testis tidak akan turun ke skrotum, tetapi vas
deferens dan pembuluh darah yang turun sepanjang prosesus vaginalis.(4)
Pada kehamilan 4 bulan testis berkembang menjadi bulat seperti bentuk yang
normal dan mulai berpindah ke kaudal dan mencapai annulus inguinalis internus
pada kehamilan 5 bulan. Selama bulan ke 7, testis melewati kanalis inguinalis dan
akan menonjol di samping tonjolan peritoneum yang disebut prosesus vaginalis
peritonei. Selama bulan ke 8 dan bulan ke 9, testis sudah berada dalam skrotum.

12

Kurang lebih 5% dari bayi aterm lahir dengan desensus testis inkomplit. Dan sampai
30% bayi prematur lahir dengan undesensus testis. Testis berkembang bersama
mesonefron yang terpisah dari vas deferens yang berkembang baik sedangkan
sedangkan testis tidak ada. Perkembangan testis yang baik disertai dengan
perkembangan vas deferens yang terganggu dijumpai pada penyakit fibrosis
sistika.(4)
Kedua testis dalam scrotum digantung oleh tangkai fibrovaskuler, funiculus
spermaticus, yang meninggalkan canalis inguinalis melalui annulus inguinalis
profunda. Testis kiri sering tergantung lebih rendah daripada yang kanan. Scrotum
berfungsi mengatur temperature testis. Scrotum berasal dari 2 genital ridge yang
ditunjukkan oleh adanya lapisan tengah, raphe scrota.(4)
Testis matur bentuknya kira kira seperti buah plum, panjangnya 4 5 cm.
konsistensi kenyal dan biasanya dalam scrotum posisi permukaan luas menghadap ke
belakang dan yang sempit menghadap depan. Testis dibagi menjadi kutub atas dan
kutub bawah, permukaan medial dan lateral. Pada tepi posterior, mediastinum testis,
pembuluh pembuluh darah, saraf dan ductus deferens masuk dan meninggalkan
epididymis bersama funiculus spermaticus. Testis dan epididymis sebagian besar
ditutupi oleh lapisan visceral peritoneal sheath, tunica vaginalis testis. Lapisan ini
pada mediatinum testis dan epididymis melipat menjadi lapisan parietal, lapisan
visceral membentuk alur di bagian lateral, bursa testicular terletak antara testis dan
epididymis.(4)
Testis dibungkus dengan rapat oleh kapsul jaringan ikat tebal, keputih-putihan,
tunica albuginea. Septa septa jaringan ikat (septula testis) menyebar dari kapsul
menuju mediastinum testis membagi jaringan testis menjadi 200 300 lobulus (lobuli
testis). Tiap lobulus mengandung beberapa tubulus seminiferous yang berkelok
kelok (tubuli seminiferi contorti). Tiap tubulus pada testis matur (secara seksual)
tebalnya 140 300 m, dan jika dibentang panjangnya 30 -60 mm. tubulus masuk
rete testis di mediastinum. Rete testis terdiri atas saluran saluran seperti celah saling

13

berhubungan dari mana ductuli efferentes menyalurkan sperma (spermatozoa)


menuju ductus epididymis. Selanjutnya ductus epididymis melanjutkan diri sebagai
ductus deferens. (2,3,5)

Etiologi

Gambar 2. Diagram undesensus testis


Penyebab pasti belum jelas. Beberapa hal yang berhubungan adalah:
a.

Abnormalitas gubernakulum testis

Penurunan testis dipandu oleh gubernakulum. Massa gubernakulum yang besar akan
mendilatasi jalan testis, kontraksi, involusi, dan traksi serta fiksasi pada skrotum akan
menempatkan testis dalam kantong skrotum. Ketika tesis telah berada di kantong
skrotum gubernakulum akan diresorbsi (Backhouse, 1966) Bila struktur ini tidak
terbentuk atau terbentuk abnormal akan menyebabkan maldesensus testis.
b.

Defek intrinsik testis

Maldesensus dapat disebabkan disgenesis gonadal dimana kelainan ini membuat


testis tidak sensitif terhadap hormon gonadotropin. Teori ini merupakan penjelasan
terbaik pada kasus kriptorkismus unilateral. Juga untuk menerangkan mengapa pada
pasien dengan kriptorkismus bilateral menjadi steril ketika diberikan terapi definitif
pada umur yang optimum. Banyak kasus kriptorkismus yang secara histologis normal
14

saat lahir, tetapi testisnya menjadi atrofi / disgenesis pada akhir usia 1 tahun dan
jumlah sel germinalnya sangat berkurang pada akhir usia 2 tahun.
c.

Defisiensi stimulasi hormonal / endokrin

Hormon gonadotropin maternal yang inadequat menyebabkan desensus inkomplet.


Hal ini memperjelas kasus kriptorkismus bilateral pada bayi prematur ketika
perkembangan gonadotropin maternal tetap dalam kadar rendah sampai 2 minggu
terakhir kehamilan. Tetapi teori ini sulit diterapkan pada kriptorkismus unilateral.
Tingginya kriptorkismus pada prematur diduga terjadi karena tidak adequatnya HCG
menstimulasi pelepasan testosteron masa fetus akibat dari imaturnya sel Leydig dan
imaturnya

aksis

hipothalamus-hipofisis-testis.

Dilaporkan

suatu

percobaan

menunjukkan desensus testis tidak terjadi pada mamalia yang hipofisenya telah
diangkat .
Rasfer et al (1986) memperlihatkan penurunan testis dimediasi oleh androgen yang
diatur lebih tinggi oleh gonadotropin pituitary. Proses ini memicu kadar
dihidrotestotsteron yang cukup tinggi, dengan hasil testis mempunyai akses yang
bebas ke skrotum . Toppari & Kaleva menyebut defek dari aksis hipotalamuspituitary-gonadal akan mempengaruhi turunnya testis. Hormon utama yang mengatur
testis adalah LH dan FSH yang doproduksi oleh sel basofilik di pituitary anterior
yang diatur oleh LHRH. FSH akan mempengaruhi mempengaruhi sel sertoli, epitel
tubulus seminiferus. Kadar FSH naik pada kelainan testis
Kriptorkismus yang disertai defisiensi gonadotropin dan adrenal hipoplasia
kongenital mungkin berhubungan dengan sifat herediter. Corbus dan OConnor,
Perreh dan ORourke melaporkan beberapa generasi kriptorkismus dalam satu
keluarga2. Juga ada penelitian yang menunjukkan tak aktifnya hormon Insulin Like
Factor 3 ( Insl3) sangat mempengaruhi desensus testis . Insl3 diperlukan untuk
diferensiasi dan proliferasi gubernakulum. Faktor lain yang diduga berperan ialah
berkurangnya stimulating substances yang diproduksi oleh nervus genitofemoralis

15

Penderita undesensus testis atau bekas undesensus testis mempunyai resiko lebih
tinggi terjadinya tumor testis ganas. Walaupun pembedahan kriptorkismus pada usia
muda mengurangi insidens tumor sedikit, resiko terjadinya tumor tetap tinggi.
Kriptorkismus merupakan suatu ekspresi disgenesia gonad yang berhubungan dengan
transformasi ganas. Penggunaan hormon dietilstilbestrol yang terkenal sebagai DES
oleh ibu pada kehamilan dini meningkatkan resiko tumor maligna pada alat kelamin
bayi pada usia dewasa muda.

Klasifikasi
Undesesus testis dikelompokkan menjadi 3 tipe: (2.,3)
1. Undesensus testis sesungguhnya ( true undescended)/kriptokismus : testis
mengalami penurunan parsial melalui jalur yang normal, tetapi terhenti. Dibedakan
menjadi teraba (palpable) dan tidak teraba ( impalpable)
2. Testis ektopik : testis mengalami penurunan di luar jalur penurunan yang tidak
normal.
3.Testis retractile/ kriptokismus fisiologis: testis dapat diraba/dibawa ke dasar
skrotum tetapi akibat refleks kremaster yang berlebihan dapat kembali segera ke
kanalis inguinalis, bukan termasuk UDT yang sebenarnya.

16

Gambar 3. Letak Undesensus Testis. Gambar di sebelah kanan adalah beberapa


letak testis kriptorkismus yaitu 1. Testis retraktil, 2. Inguinal, dan 3. Abdominal,
sedangkan gambar di sebelah kiri menunjukkan testis ektopik, antara lain: 4.
Inguinal superfisial, 5. Penil, 6. Femoral

Undesensus testis dapat diklasifikasi berdasarkan lokasinya menjadi:


1. Skrotal tinggi (supraskrotal) : 40 %
2. Intrakanalikuler ( inguinal ) : 20 %
3. Intraabdominal (abdominal) : 10%

Patofisiologi
Suhu di dalam rongga abdomen 1C lebih tinggi daripada suhu di dalam
skrotum, sehingga testis abdominal selalu mendapatkan suhu yang lebih tinggi
daripada testis normal; hal ini mengakibatkan kerusakan sel sel epitel germinal
testis. Pada usia 2 tahun, sebanyak 1/5 bagian dari sel sel germinal testis telah
mengalami kerusakan sedangkan pada usia 3 tahun hanya 1/3 sel sel germinal yang
masih normal. Kerusakan ini makin lama makin progresif dan akhirnya testis menjadi
mengecil.(2,3)
Karena sel sel leydig sebagai penghasil hormon androgen tidak ikut rusak,
maka potensi seksual tidak mengalami gangguan.(2,3)

17

Akibat lain yang ditimbulkan dari letak testis yang tidak berada di skrotum
adalah mudah terpelintir (torsio), mudah terkena trauma, dan lebih mudah mengalami
degenerasi maligna.(2,3)
Diagnosis
a. Anamnesis
Pasien biasanya dibawa berobat ke dokter karena orang tuanya tidak menjumpai
testis di kantong skrotum, sedangkan pasien dewasa mengeluh karena infertilitasnya
yaitu belum mempunyai anak setelah menikah beberapa tahun. (2,3)
b. Pemeriksaan fisis
Inspeksi pada regio skrotum terlihat hipoplasia kulit skrotum karena tidak
pernah ditempati oleh testis. Pada palpasi, testis tidak teraba di kantung skrotum
melainkan berada di inguinal atau di tempat lain. Pada saat melakukan palpasi untuk
mencari keberadaan testis, jari tangan pemeriksa harus berada dalam keadaan hangat
hangat untuk menghindari tertariknya testis ke atas. .(2,3,5,6)

c. Pemeriksaan laboratorium
Jika kedua buah testis tidak diketahui tempatnya, harus dibedakan dengan
anorkismus bilateral (tidak mempunyai testis). Untuk itu perlu dilakukan pemeriksaan
hormonal antara lain hormon testoteron, kemudian dilakukan uji dengan pemberian
hormon hCG (human chorionic gonadotropin hormone). Tidak terjadi peningkatan
kadar testosterone disertai peningkatan LH/FSH setelah dilakukan stimulasi
mengindikasikan anorkismua.(1,2,3,4,5,)
Prinsip stimulasi test dengan hCG atau hCG test adalah mengukur kadar pada
keadaan basal dan 24 - 48 jam setelah stimulasi. Respon testosteron normal pada hCG
test sangat tergantung umur penderita. Pada bayi, respon normal setelah hCG test
bervariasi antara 2 - 10x bahkan 20x. Pada masa kanak-kanak, peningkatannya sekitar

18

5 -10x. Sedangkan pada masa pubertas, dengan meningkatnya kadar testosteron basal,
maka peningkatan setelah stimulasi hCG hanya sekitar 2 - 3x.(1,2,3,4,5,)
Pemeriksaan hormonal antara lain hormon testosteron, kemudian dilakukan uji
dengan pemberian hormon hCG (human chorionic gonadotropin).
Uji hCG untuk mengetahui keberadaan testis :

Periksa kadar testosteron awal Injeksi hCG 2000U/hari selama 4 hari


Apabila pada hari ke V: Kadar meningkat 10 kali lebih tinggi daripada kadar
semula Testis memang ada

d. Flebografi selektif

Flebografi selektif adalah usaha untuk mencari keberadaan testis secara tidak
langsung, yaitu dengan mencari keberadaan pleksus Pampiniformis. Jika tidak
didapatkan pleksus pampiniformis kemungkinan testis memang tidak pernah ada
e. Laparoskopi
Metode ini merupakan metode infasif yang cukup aman dilakukan oleh ahli
yang berpengalaman. Sebaiknya dilakukan pada anak yang lebih besar dan setelah
pemeriksaan lain tidak dapat mendeteksi adanya testis diinguinal.(1) Beberapa hal
yang dapat dievaluasi selama laparoskopi adalah: kondisi annulua inguinalis interna,
processus vaginalis (patent atau non-patent), testis dan vaskularisasinya serta struktur
wolfiannya. (2,3,4)
Diagnosis Banding
Diagnosis banding meliputi testis letak ektopik dan seringkali dijumpai testis
yang biasanya berada di kantung skrotum tiba tiba berada di daerah di inguinal dan
pada keadaan lain kembali ke tempat semula. Keadaan ini terjadi karena refleks otot
kremaster yang terlalu kuat akibat cuaca dingin, atau setelah melakukan aktifitas

19

fisik. Hal ini disebut sebagai testis retraktil atau kriptorkismus fisiologis dan kelainan
ini tidak perlu diobati. Selain itu undesensus testis perlu dibedakan dengan
anorkismus, yaitu testis memang tidak ada. Hal ini biasa terjadi secara kongenital
memang tidak terbentuk testis, atau testis yang mengalami atrofi akibat torsio in utero
atau torsio pada saat neonatus. (2,3.4)
Penatalaksanaan
Tujuan terapi undesensus testis yang utama dan dianut hingga saat ini adalah
memperkecil risiko terjadinya infertilitas dan keganasan dengan melakukan reposisi
testis kedalam skrotum baik dengan menggunakan terapi hormone ataupun dengan
cara pembedahan (orkidopeksi). Penatalaksanaan yang terlambat pada undesensus
testis akan menimbulkan efek pada testis di kemudian hari. Dengan asumsi bahwa
jika dibiarkan testis tidak dapat turun sendiri setelah usia 1 tahun, sedangkan setelah
usia 2 tahun terjadi kerusakan testis yang cukup bermakna, maka saat yang tepat
untuk melakukan terapi adalah pada usia 1 tahun. Pada prinsipnya testis yang tidak
berada di skrotum harus diturunkan ke tempatnya, baik dengan cara medikamentosa
maupun pembedahan.(2,3,4,6)
Undesensus testis meningkatkan risiko infertilitas dan berhubungan dengan risiko
tumor sel germinal yang meningkat 3 - 10 kali. Atrofi testis terjadi pada usia 5 7
tahun, akan tetapi perubahan morfologi dimulai pada usia 1 - 2 tahun. Pada awal
pubertas, lebih dari 90% testis kehilangan sel germinalnya pada kasus intraabdomen,
sedangkan pada kasus testis inguinal dan preskrotal, penurunan sel geminal mencapai
41% dan 20%.5,6
a. Medikamentosa
Hormon yang diberikan adalah hCG,gonadotropin releasing hormone (GnRH)
atau LH-releasing hormone (LHRH). Terapi hormonal meningkatkan produksi
testosterone dengan menstimulasi berbagai tingkat jalur hipotalamus-pituitarygonadal. Terapi ini berdasarkan observasi bahwa proses turunnya testis berhubungan

20

dengan androgen. Tingkat testosteron lebih tinggi bila diberikan hCG dibandingkan
GnRH. Semakin rendah letak testis, semakin besar kemungkinan keberhasilan terapi
hormonal.(4, 5,6,)
International Health Foundation menyarankan dosis hCG sebanyak 250IU/ kali pada
bayi, 500 IU pada anak sampai usia 6 tahun dan 1000 IU pada anak lebih dari 6
tahun. Terapi diberikan 2 kali seminggu selama 5 minggu. Angka keberhasilannya 6
55%. Secara keseluruhan, terapi hormon efektif pada beberapa kelompok kasus,
yaitu testis yang terletak di leher skrotum atau undesensus bilateral. Efek samping
adalah peningkatan rugae skrotum, pigmentasi, rambut pubis dan pertumbuhan
penis. Pemberian dosis lebih dari 15000 IU dapat menginduksi fusie piphyseal plate
dan mengurangi pertumbuhan somatik..(1) Pemberian hormonal pada kriptorkismus
banyak memberikan hasil terutama pada kelainan bilateral, sedangkan pada kelainan
unilateral hasilnya masih belum memuaskan. Obat yang sering digunakan adalah
hormon hCG yang disemprotkan intranasal.(1-6)

b. Pembedahan
Apabila terapi hormonal telah gagal, terapi standar pembedahan untuk kasus
undesensus testis

adalah orkidopeksi. Keputusan untuk melakukan orkidopeksi

harus mempertimbangkan berbagai faktor, antara lain teknis, risiko anastesi,


psikologis anak, dan risiko bila operasi tersebut ditunda.(4-6).

21

Gambar 4. Orkidopeksi : Orkidopeksi digunakan untuk memperbaiki


UDT pada anak-anak. Satu insisi dibuat pada abdomen yang
merupakan lokasi UDT, dan insisi lain dibuat pada skrotum (A).
Testis dipisahkan dari jaringan sekitarnya (B) dan dikeluarkan dari
insisi abdomen menempel pada spermatic cord (C). Testis kemudian
dimasukkan turun ke dalam skrotum (D) dan dijahit (E).
Tujuan operasi pada undesensus testis adalah: (1) mempertahankan fertilitas, (2)
mencegah timbulnya degenerasi maligna, (3) mencegah kemungkinan terjadinya
torsio testis, (4) melakukan koreksi hernia, dan (5) secara psikologis mencegah
terjadinya rasa rendah diri karena tidak mempunyai testis. Operasi yang dikerjakan
adalah orkidopeksi yaitu meletakkan testis ke dalam skrotum dengan melakukan
fiksasi pada kantung sub dartos.(2,-6)
Prinsip dasar orkidopeksi adalah(1,4)
1. Mobilisasi yang cukup dari testis dan pembuluh darah
2. Ligasi kantong hernia

22

3. Fiksasi yang kuat testis pada skrotum


Testis sebaiknya direlokasi pada subkutan atau subdartos pouch skrotum.
Tindakan operasi sebaiknya dilakukan sebelum

pasien

usia 2 tahun, bahkan

beberapa penelitian menyarankan pada usia 6 12 bulan. Penelitian melaporkan


spermatogonia akan menurun setelah usia 2 tahun.
Indikasi absolut dilakukan operasi pembedahan primer adalah. (1)
1. kegagalan terapi hormonal
2. testis ektopik
3. terdapat kelainan lain seperti hernia dengan atau tanpa prosesus vaginalis
yang terbuka

Komplikasi
Telah lama diketahui bahwa komplikasi utama yang dapat terjadi pada
undesensus testis adalah keganasan testis dan infertilitas akibat degenerasi testis.
Disamping itu disebut juga terjadinya torsio testis, dan hernia inguinalis.(1-3)
a.

Risiko Keganasan

Terdapat hubungan yang erat antara undesensus dan keganasan testis. Insiden
keganasan testis sebesar 1 - 6 pada setiap 500 laki-laki undesensus testis di
Amerika. Risiko terjadinya keganasan testis yang tidak turun pada anak dengan
undesensus testis dilaporkan berkisar 10-20 kali dibandingkan pada anak dengan
testis normal. Makin tinggi lokasi undesensus makin tinggi risiko keganasannya,
testis abdominal mempunyai risiko menjadi ganas 4x lebih besar dibanding testis
inguinal.5,10,11
Orkidopeksi sendiri tidak akan mengurangi risiko terjadinya keganasan, tetapi
akan lebih mudah melakukan deteksi dini keganasan pada penderita yang telah
dilakukan orkidopeksi. (1-3)

23

b.

Infertilitas

Penderita undesensus testis bilateral mengalami penurunan fertilitas yang lebih


berat dibandingkan penderita undesesus unilateral, dan apalagi dibandingkan
dengan populasi normal. Penderita undesesus bilateral mempunyai risiko infertilitas
6x lebih besar dibandingkan populasi normal (38% infertil pada undesesus bilateral
dibandingkan 6% infertil pada populasi normal), sedangkan pada undesesus
unilateral berisiko hanya 2x lebih besar.(1-3)
Komplikasi infertilitas ini berkaitan dengan terjadinya degenerasi pada
undesensus testis. Biopsi pada anak-anak dan binatang coba undesensus testis
menunjukkan adanya

penurunan volume testis, jumlah germ cells

dan

spermatogonia dibandingkan dengan testis yang normal. Biopsi testis pada anak
dengan undesesus testis unilateral yang dilakukan sebelum umur 1 tahun
menunjukkan gambaran yang tidak berbeda bermakna dengan testis yang normal.
Perubahan gambaran histologis yang bermakna mulai tampak setelah umur 1 tahun,
semakin memburuk dengan bertambahnya umur. Tidak seperti risiko keganasan,
penurunan testis lebih dini akan mencegah proses degenerasi lebih lanjut.(1-3)

24

DAFTAR PUSTAKA

1. Schneck FX, Bellinger MF. Abnormalities of the testes and scrotum and their
surgical management. Dalam: Walsh PC. Campbells Urology Vol 1. 8thedition.
Philadelphia: WB Saunders Company. 2000.
2. Tanagho EA, Nguyen HT. Embriology of the Genitourinary System.
Dalam:Tanagho EA, McAninch JW.Smiths General Urology . Edisi 17.
California:The McGraw Hill companies; 2000. h.23-45.
3. Basuki Purnomo. Testis Maldesensus. Dalam: Dasar Dasar Urologi. Edisi 2.
Jakarta: Sagung Seto. 2009 h. 137-140.
4. Michael JM, Herbert S, dkk. The Undecended Testis: Diagnosis, Treatment and
Long-Term Consequences. Dalam :
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC2737432/
( diakses : 15 November 2013)
5. Faizi M, Netty EP. Penatalaksanaan Undescendcus Testis Pada Anak. Dalam :
http://old.pediatrik.com/pkb/20060220-g2wryu-pkb.pdf
(diakses 15 November 2013)
6. Adi S, Any R. Tjahjodjati, dkk. Panduan Penatalaksanaan Pediatrik Urologi di
Indonesia. Dalam : http://www.iaui.or.id/ast/file/pediatric_urology.doc
(diakses 15 November 2013)

25