Anda di halaman 1dari 12

KLASIFIKASI DIARE

Diare Persisten dan Diare Akut


Definisi diare adalah peningkatan pengeluaran tinja dengan konsistensi lebih lunak atau
lebih cair dari biasanya, dan terjadi paling sedikit 3 kali dalam 24 jam. Dalam referensi lain
disebutkan bahwa definisi diare untuk bayi dan anak-anak adalah pengeluaran tinja >10 g/kg/24
jam, sedangkan rata-rata pengeluaran tinja normal pada bayi sebesar 5-10 g/kg/24 jam. Diare
umumnya dibagi menjadi diare akut dan diare yang berkepanjangan (kronis dan/atau persisten).
Diare kronis dan diare persisten seringkali dianggap suatu kondisi yang sama. Ghishan menyebutkan
diare kronis sebagai suatu episode diare lebih dari 2 minggu, sedangkan kondisi serupa yang disertai
berat badan menurun atau sukar naik oleh Walker-Smith et al. didefinisikan sebagai diare persisten.
Di lain pihak, dasar etiologi diare kronis yang berbeda diungkapkan oleh Bhutta dan oleh The
American Gastroenterological Association. Definisi diare kronis menurut Bhutta adalah episode diare
lebih dari dua minggu, sebagian besar disebabkan diare akut berkepanjangan akibat infeksi,
sedangkan definisi menurut The American Gastroenterological Association adalah episode diare
yang berlangsung lebih dari 4 minggu, oleh etiologi non-infeksi serta memerlukan pemeriksaan lebih
lanjut. Bervariasinya definisi ini pada dasarnya disebabkan perbedaan kejadian diare kronis dan
persisten di negara berkembang dan negara maju, dimana infeksi merupakan latar belakang
tertinggi di negara berkembang, sedangkan penyebab non-infeksi lebih banyak didapatkan di negara
maju. Demikian juga porsi serta prioritas penelitian maupun pembahasan lebih didominasi
permasalahan diare non infeksi, antara lain karena dalam tatalaksananya, diare bentuk ini lebih
banyak membutuhkan biaya. Akan sangat membantu apabila terdapat suatu definisi standar
sehingga dapat dilakukan pembandingan antar studi serta pembuatan rekomendasi pengobatan. Di
lingkungan masyarakat gastrohepatologi anak di Indonesia digunakan pengertian bahwa ada 2 jenis
diare yang berlangsung 14 hari, yaitu diare persisten yang mempunyai dasar etiologi infeksi, serta
diare kronis yang mempunyai dasar etiologi non-infeksi. Untuk selanjutnya batasan tersebut yang
akan dipakai dalam bab Diare Kronis dan Diare Persisten ini.
epidemiologi
Diare persisten/kronis mencakup 3-20% dari seluruh episode diare pada balita. Insidensi
diare persisten di beberapa negara berkembang berkisar antara 7-15% setiap tahun dan
menyebabkan kematian sebesar 36-54% dari keseluruhan kematian akibat diare. Hal ini
menunjukkan bahwa diare persisten dan kronis menjadi suatu masalah kesehatan yang
mempengaruhi tingkat kematian anak di dunia. Meskipun penelitian epidemiologis mengenai diare
persisten masih terbatas, sebuah studi komunitas di Bangladesh menunjukkan bahwa secara
keseluruhan angka kejadian diare persisten masih belum menurun secara bermakna dalam rentang
tahun 1980-1992. Di Indonesia, prevalensi diare persisten/kronis sebesar 0,1%, dengan angka
kejadian tertinggi pada anak-anak berusia 6-11 bulan.

Etiologi
Sesuai dengan definisi yang digunakan dalam bab ini, terdapat perbedaan etiologi antara
diare persisten dan diare kronis. Diare berkepanjangan dapat disebabkan berbagai macam kondisi.
Di negara maju sebagian besar membahas penyebab non infeksi, umumnya meliputi intoleransi
protein susu sapi/kedelai (pada anak usia <6 bulan, tinja sering disertai dengan darah); celiac
disease (gluten-sensitive enteropathy), dan cystic fibrosis. Namun, perhatian global seringkali
tertuju pada diare berkepanjangan yang bermula dari diare akut akibat infeksi saluran cerna. Diare
jenis ini banyak terjadi di negara-negara berkembang. Tabel 7.1 menunjukkan enteropatogen
penyebab diare di Surabaya dari tahun 1984 hingga 1993, berdasarkan durasi diare. Sayangnya
publikasi lain dari studi semacam ini di Indonesia tidak dapat diperoleh.

PATOGENESIS
Patogenesis diare kronis melibatkan berbagai faktor yang sangat kompleks. Pertemuan
Commonwealth Association of Pediatric Gastrointestinal and Nutrition (CAPGAN) menghasilkan
suatu konsep patogenesis diare kronis yang menjelaskan bahwa paparan berbagai faktor
predisposisi, baik infeksi maupun non-infeksi akan menyebabkan rangkaian proses yang pada
akhirnya memicu kerusakan mukosa usus dan mengakibatkan diare kronis. Seringkali diare kronis
dan diare persisten tidak dapat dipisahkan, sehingga beberapa referensi hanya menggunakan salah
satu istilah untuk menerangkan kedua jenis diare tersebut. Meskipun sebenarnya definisi diare
persisten dan diare kronis berbeda, namun, kedua jenis diare tersebut lebih sering dianggap sebagai
diare oleh karena infeksi.

Gambar 7.2. menunjukkan perjalanan diare akut menjadi diare persisten. Dijelaskan bahwa
faktor seperti malnutrisi, defisiensi imun, defisiensi mikronutrient, dan ketidaktepatan terapi diare

menjadi faktor risiko terjadinya diare berkepanjangan (prolonged diarrhea). Pada akhirnya
prolonged diarrhea akan menjadi diare persisten yang memiliki konsekuensi enteropati dan
malabsorpsi nutrisi lebih lanjut.
Dua faktor utama mekanisme diare kronis adalah (1) faktor intralumen dan (2) faktor
mukosal. Faktor intralumen berkaitan dengan proses pencernaan dalam lumen, termasuk gangguan
pankreas, hepar dan brush border membrane. Faktor mukosal adalah faktor yang mempengaruhi
pencernaan dan penyerapan, sehingga berhubungan dengan segala proses yang mengakibatkan
perubahan integritas membran mukosa usus, ataupun gangguan pada fungsi transport protein.
Perubahan integritas membran mukosa usus dapat disebabkan oleh proses akibat infeksi maupun
non-infeksi, seperti alergi susu sapi dan intoleransi laktosa. Gangguan fungsi transport protein
misalnya disebabkan gangguan penukar ion Natrium-Hidrogen dan Klorida-Bikarbonat.
Secara umum patofisiologi diare kronis/persisten digambarkan secara jelas oleh Ghishan,
dengan membagi menjadi lima mekanisme: (1) sekretoris, (2) osmotik, (3) mutasi protein transport
membran apikal, (4) pengurangan luas permukaan anatomi, dan (5) perubahan motilitas usus.
1. Sekretoris
Pada diare sekretoris, terjadi peningkatan sekresi Cl- secara aktif dari sel kripta akibat
mediator intraseluler seperti cAMP, cGMP, dan Ca2+. Mediator tersebut juga mencegah terjadinya
perangkaian antara Na+ dan Cl- pada sel vili usus. Hal ini berakibat cairan tidak dapat terserap dan
terjadi pengeluaran cairan secara masif ke lumen usus. Diare dengan mekanisme ini memiliki tanda
khas yaitu volume tinja yang banyak (>200ml/24jam), konsistensi tinja yang sangat cair,
konsenstrasi Na+ dan Cl- >70mEq, dan tidak berespon terhadap penghentian makanan. Contoh
penyebab diare sekretoris adalah Vibrio cholerae di mana bakteri mengeluarkan toksin yang
mengaktivasi cAMP dengan mekanisme yang telah disebutkan sebelumnya.
2. Osmotik
Diare dengan mekanisme osmotik bermanifestasi ketika terjadi kegagalan proses
pencernaan dan/atau penyerapan nutrien dalam usus halus sehingga zat tersebut akan langsung
memasuki colon. Hal ini mengakibatkan peningkatan tekanan osmotik di lumen usus sehingga
menarik cairan ke dalam lumen usus. Absorpsi usus tidak hanya tergantung pada faktor keutuhan
epitel saja, tetapi juga pada kecukupan waktu yang diperlukan dalam proses pencernaan dan kontak
dengan epitel. Perubahan waktu transit usus, terutama bila disertai dengan penurunan waktu transit
usus yang menyeluruh, akan menimbulkan gangguan absorbsi nutrien. Contoh klasik dari jenis diare
ini adalah diare akibat intoleransi laktosa. Absennya enzim laktase karena berbagai sebab baik
infeksi maupun non infeksi, yang didapat (sekunder) maupun bawaan (primer), menyebabkan
laktosa terbawa ke usus besar dalam keadaan tidak terserap. Karbohidrat yang tidak terserap ini
kemungkinan akan difermentasi oleh mikroflora sehingga terbentuk laktat dan asam laktat. Kondisi
ini menimbulkan tanda dan gejala khas yaitu pH<5, bereaksi positif terhadap substansi reduksi, dan
berhenti dengan penghentian konsumsi makanan yang memicu diare.
3. Mutasi protein transport
Mutasi protein CLD (Congenital Chloride Diarrhea) yang mengatur pertukaran ion Cl-/HCO3pada sel brush border apical usus ileo-colon, berdampak pada gangguan absorpsi Cl- dan

menyebabkan HCO3- tidak dapat tersekresi. Hal ini berlanjut pada alkalosis metabolik dan
pengasaman isi usus yang kemudian mengganggu proses absorpsi Na+. Kadar Cl- dan Na+ yang tinggi
di dalam usus memicu terjadinya diare dengan mekanisme osmotik. Pada kelainan ini, anak
mengalami diare cair sejak prenatal dengan konsekuensi polihidramnion, kelahiran prematur dan
gangguan tumbuh kembang. Kadar klorida serum rendah, sedangkan kadar klorida di tinja tinggi.
Kelainan ini telah dilaporkan di berbagaidaerah di dunia seperti Amerika Serikat, Kanada, hampir
seluruh negara di Eropa, Timur Tengah, Jepang dan Vietnam. Selain mutasi pada penukar Cl-/HCO3-,
didapat juga mutasi pada penukar Na+/H+ dan Na+protein pengangkut asam empedu.
4. Pengurangan luas permukaan anatomi usus
Oleh karena berbagai gangguan pada usus, pada kondisi-kondisi tertentu seperti necrotizing
enterocolitis, volvulus, atresia intestinal, penyakit Crohn dan lain-lain, diperlukan pembedahan,
bahkan pemotongan bagian usus yang kemudian menyebabkan short bowel syndrome. Diare
dengan patogenesis ini ditandai dengan kehilangan cairan dan elektrolit yang masif, serta
malabsorbsi makro dan mikronutrien.
5. Perubahan pada gerakan usus
Hipomotilitas usus akibat berbagai kondisi seperti malnutrisi, skleroderma, obstruksi usus
dan diabetes mellitus, mengakibatkan pertumbuhan bakteri berlebih di usus. Pertumbuhan bakteri
yang berlebihan menyebabkan dekonjugasi garam empedu yang berdampak meningkatnya jumlah
cAMP intraseluler, seperti pada mekanisme diare sekretorik. Perubahan gerakan usus pada diabetes
mellitus terjadi akibat neuropati saraf otonom, misalnya saraf adrenergik, yang pada kondisi normal
berperan sebagai antisekretori dan/atau proabsorbtif cairan usus, sehingga gangguan pada fungsi
saraf ini memicu terjadinya diare.

Manifestasi Klinis (Komplikasi)


Roy et al (2006) mengungkapkan bahwa anak dengan diare persisten lebih banyak
menunjukkan manifestasi diare cair dibandingkan diare disentriform. Selain itu, malnutrisi
merupakan gambaran umum anak-anak dengan diare persisten. Studi kohort di Amerika
menunjukkan bahwa gejala penurunan nafsu makan, muntah, demam, adanya lendir dalam tinja,
dan gejala-gejala flu, lebih banyak ditemukan pada diare persisten dibandingkan diare akut. Gejala
lain yang mungkin timbul tidak khas, karena sangat terkait dengan penyakit yang mendasarinya.
Diagnosis
Evaluasi pada pasien dengan diare kronis/persisten meliputi:
1. Anamnesis
Anamnesis harus dapat menggali secara jelas perjalanan penyakit diare, antara lain berapa
lama diare sudah berlangsung dan frekuensi berak. Selain itu anamnesis juga bertujuan untuk
mengetahui faktor-faktor risiko penyebab diare, antara lain riwayat pemberian makanan atau susu,
ada tidaknya darah dalam tinja anak, riwayat pemberian obat dan adanya penyakit sistemik.

2. Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan fisik pada diare kronis/persisten harus mencakup perhatian khusus pada
penilaian status dehidrasi, status gizi, dan status perkembangan anak.
3. Pemeriksaan laboratorium
a. Pemeriksaan darah
Pemeriksaan darah standar meliputi pemeriksaan hitung darah lengkap, elektrolit, ureum
darah, tes fungsi hati, vitamin B12, folat, kalsium, feritin, laju enap darah, dan protein C-reaktif.
b. Pemeriksaan tinja
Pemeriksaan tinja spesifik antara lain meliputi tes enzim pankreas, seperti tes fecal elastase,
untuk kasus yang diduga sebagai insufisiensi pankreas. pH tinja <5 atau adanya subtansi yang
mereduksi pada pemeriksaan tinja, membantu mengarahkan kemungkinan intoleransi laktosa
dengan mekanisme yang telah dijelaskan sebelumnya.
Kultur tinja diperlukan untuk menyingkirkan kemungkinan infeksi protozoa, seperti
giardiasis, dan amebiasis yang banyak dikaitkan dengan kejadian diare persisten.

Terapi
Manajemen diare persisten harus dilakukan secara bertahap dengan meliputi:
1. Penilaian awal, resusitasi dan stabilisasi
Pada tahap ini, perlu dilakukan penilaian status dehidrasi dan rehidrasi secepatnya. Diare
persisten seringkali disertai gangguan elektrolit sehingga perlu dilakukan koreksi elektrolit,
khususnya pada kondisi hipokalemia dan asidosis. Pemberian antibiotik spektrum luas harus
dipertimbangkan pada anak-anak yang menunjukkan gambaran kondisi kegawatan atau infeksi
sistemik sebelum hasil kultur diperoleh.
2. Pemberian nutrisi
a. Kebutuhan dan jenis diet pada diare persisten/kronis
Kebutuhan energi dan protein pada diare persisten/kronis berturut-turut sebesar 100
kcal/kg/hari dan 2-3 g/kg/hari, sehingga diperlukan asupan yang mengandung energi 1 kcal/g.
Pilihan terapi nutrisi dapat meliputi: diet elemental, diet berbahan dasar susu, dan diet berbahan
dasar ayam.
i. Diet elemental
Komponen-komponen yang terkandung dalam diet elemental terdiri atas asam amino
kristalin atau protein hidrolisat, mono- atau disakarida, dan kombinasi trigliserida rantai panjang
atau sedang. Kelemahan diet elemental ini adalah harganya mahal. Selain itu, rasanya yang tidak
enak membuat diet ini sulit diterima oleh anak-anak sehingga membutuhkan pemasangan pipa

nasogastrik untuk mendapatkan hasil maksimal. Oleh karena itu, diet elemental mayoritas hanya
digunakan di negara maju.
ii. Diet berbahan dasar susu
Diet berbahan dasar susu yang utama adalah ASI. ASI memiliki keunggulan dalam mengatasi
dan mencegah diare persisten, antara lain mengandung nutrisi dalam jumlah yang mencukupi, kadar
laktosa yang tinggi (7 gram laktosa/100gram ASI, pada susu non-ASI sebanyak 4,8 gram laktosa/100
gram) namun mudah diserap oleh sistem pencernaan bayi, serta membantu pertahanan tubuh
dalam mencegah infeksi. Proses pencernaan ASI di lambung berlangsung lebih cepat dibandingkan
susu non-ASI, sehingga lambung cepat kembali ke kondisi pH rendah, dengan demikian dapat
mencegah invasi bakteri ke dalam saluran pencernaan. ASI juga membantu mempercepat pemulihan
jaringan usus pasca infeksi karena mengandung epidermial growth factors.
iii. Diet berbahan dasar daging ayam
Keunggulan makanan berbahan dasar ayam antara lain bebas laktosa, hipoosmolar, dan
lebih murah. Sejumlah studi telah menunjukkan bahwa pemberian diet berbahan dasar unggas pada
diare persisten memberikan hasil perbaikan yang signifikan. Tesis S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat
Minat Gizi Masyarakat FK UGM dengan single blind, randomized-controlled trial menunjukkan
durasi diare yang lebih pendek secara bermakna pada anak dengan diare yang mendapat bubur
ayam dibandingkan yang mendapat bubur tempe (1,920,66 vs 2,640,89, p 0,034). Namun
demikian, mengingat harga bubur refeeding ayam empat kali lebih tinggi daripada bubur refeeding
tempe, penggunaan bubur tempe dapat menjadi pilihan tatalaksana diare pada situasi keterbatasan
kondisi ekonomi.
b. Pemberian mikronutrien
Defisiensi zinc, vitamin A dan besi pada diare persisten/kronis diakibatkan asupan nutrisi
yang tidak adekuat dan pembuangan mikronutrien melalui defekasi. Suplementasi multivitamin dan
mineral harus diberikan minimal dua RDA (Recommended Daily Allowances) selama dua minggu.
Satu RDA untuk anak umur 1 tahun meliputi asam folat 50 mikrogram, zinc 10 mg, vitamin A 400
mikrogram, zat besi 10 mg, tembaga 1 mg dan magnesium 80 mg. WHO (2006) merekomendasikan
suplementasi zinc untuk anak berusia 6 bulan sebesar 10 mg (1/2 tablet) dan untuk anak berusia
>6 bulan sebesar 20 mg (1 tablet), dengan masa pemberian 10-14 hari.
Meta-analisis yang dilakukan The Zinc Investigator Collaborative Group menunjukkan bahwa
pemberian zinc menurunkan probabilitas pemanjangan diare akut sebesar 24% dan mencegah
kegagalan terapi diare persisten sebesar 42%.
c. Probiotik
Gaon et al. (2003) mengungkapkan bahwa pemberian susu yang mengandung Lactobacillus
casei, Lactobacillus acidophillus dan Saccharomyces boulardii pada penderita diare persisten
selama 5 hari menurunkan jumlah tinja, durasi diare, dan durasi muntah yang menyertai. Metaanalisis yang dilakukan Johnston et al. (2006) menunjukkan bahwa pemberian probiotik dapat
mencegah terjadinya antibiotic-associated diarrhea.

d. Tempe
Anak yang mendapat bahan makanan campuran tempe-terigu berhenti diare setelah 2,39
0,09 hari (rerata), lebih cepat bila dibandingkan dengan anak yang mendapat bahan makanan
campuran beras-susu (rata-rata 2,94 0,33 hari). Sebuah studi uji klinis randomized controlled
double-blind yang dilakukan oleh Soenarto et al (1997) menunjukkan bahwa formula yang
berbahan dasar tempe dapat mempersingkat durasi diare akut serta mempercepat pertambahan
berat badan setelah menderita satu episode diare akut.
3. Terapi Farmakologis
Terapi antibiotik rutin tidak direkomendasikan karena terbukti tidak efektif. Antibiotik
diberikan hanya jika terdapat tanda-tanda infeksi, baik infeksi intestinal maupun ekstraintestinal.
Jika dalam tinja didapatkan darah, segera diberikan antibiotik yang sensitif untuk shigellosis.
Metronidazol oral (50 mg/kg dalam 3 dosis terbagi) diberikan pada kondisi adanya trofozoit
Entamoeba histolytica dalam sel darah, adanya trofozoit Giardia lamblia pada tinja, atau jika tidak
didapatkan perbaikan klinis pada pemberian dua antibotik berbeda yang biasanya efektif untuk
Shigella. Jika dicurigai penyebab adalah infeksi lainnya, antibiotik disesuaikan dengan hasil biakan
tinja dan sensitivitas.
4. Follow up
Follow up diperlukan untuk memantau tumbuh kembang anak sekaligus memantau
perkembangan hasil terapi. Anak-anak yang tidak menunjukkan perbaikan dengan terapi diare
persisten membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut untuk menyingkirkan kemungkinan intractable
diarrhea, yaitu diare yang berlangsung 2 minggu dimana 50% kebutuhan cairan anak harus
diberikan dalam bentuk intravena. Diare ini banyak ditemukan di negara maju, dan berhubungan
dengan kelainan genetik. Kegagalan manajemen nutrisi ditandai dengan adanya peningkatan
frekuensi berak dan diikuti kembalinya tanda-tanda dehidrasi, atau kegagalan pertambahan berat
badan dalam waktu 7 hari. Gambar 7.3 menjelaskan alur tata laksana diare persisten/kronis.

Faktor Risiko dan Pencegahan


Malnutrisi, defisiensi mikronutrien dan defisiensi status imun pasca infeksi atau trauma
menyebabkan terlambatnya perbaikan mukosa usus, sehingga menjadi kontribusi utama terjadinya
diare persisten.

Kelompok penderita diare persisten terbanyak adalah kelompok usia < 12 bulan. Hal ini
didukung dengan studi Fraser et al (1998) yang mengemukakan bahwa kejadian diare persisten
paling banyak pada anak usia 3 bulan.
Studi yang dilakukan di Bangladesh menunjukkan bahwa rata-rata usia anak penderita diare
persisten adalah 10,7 bulan. Baqui et al (1993) menyatakan bahwa kelompok usia terbanyak
penderita diare persisten adalah usia kurang dari 1 tahun. Kejadian diare persisten sangat terkait
dengan pemberian ASI dan makanan. Penderita diare persisten rata-rata mendapatkan ASI eksklusif
2,5 bulan lebih singkat dibandingkan kelompok kontrol. Penundaan pemberian ASI pertama pada
awal kelahiran juga merupakan salah satu faktor risiko diare peristen. Pemberian makanan
pendamping terlalu dini meningkatkan risiko kontaminasi sehingga insidensi diare persisten semakin
tinggi. Oleh karena itu, pencegahan terhadap kejadian diare persisten meliputi pemberian ASI
eksklusif selama 6 bulan, pemberian makanan tambahan yang higienis, dan manajemen yang tepat
pada diare akut sehingga kejadian diare tidak berkepanjangan. Manajemen diare akut yang tepat
meliputi pemberian ORS, manajemen nutrisi dan suplementasi zinc.
Diare Persisten pada Kondisi Khusus
1. Diare persisten pada Infeksi HIV
Diare persisten merupakan salah satu menifestasi klinis yang banyak dijumpai pada
penderita HIV. Studi di Zaire menunjukkan bahwa insidensi diare persisten lima kali lebih tinggi pada
anak-anak dengan status HIV seropositif. Faktor penting yang meningkatkan kerentanan anak-anak
dengan HIV terhadap kejadian diare persisten adalah jumlah episode diare akut sebelumnya. Setiap

episode diare akut pada pasien HIV meningkatkan risiko 1,5 kali untuk terjadinya diare persisten.
Parthasarathy (2006) mengemukakan bahwa skrining yang dilakukan di India menunjukkan 4,1%
anak dengan diare persisten berstatus HIV seropositif.
Meskipun patogenesis virus HIV dalam menyebabkan diare pada anak-anak belum diketahui
secara jelas, diduga kejadian diare persisten pada kasus HIV terkait dengan perubahan status
imunitas. Pada infeksi HIV, terjadi penurunan kadar CD4, IgA sekretorik dan peningkatan CD8 lamina
propria. Perubahan keadaan ini memacu pertumbuhan bakteri.
Berbagai patogen dari kelompok virus, bakteri dan parasit dapat menyebabkan diare
persisten pada HIV. Attili et al (2006) menyebutkan bahwa parasit yang terbanyak dijumpai pada
penderita HIV dengan diare persisten adalah Entamoeba histolytica (17,1%). Insidensi infeksi
oportunistik ini meningkat pada keadaan kadar CD4 yang rendah. Schmidt (1997) mengemukakan
bahwa microsporodia adalah parasit terbanyak penyebab diare persisten pada HIV. Parasit ini
menyebabkan pemendekan dan pengurangan luas permukaan villi usus, meskipun kondisi ini juga
didapatkan pada pasien-pasien HIV tanpa gejala diare persisten. Selain itu, insidensi defisiensi
laktase lebih tinggi pada pasien HIV dengan infeksi microsporidiasis. Grohmann et al (1993)
menyatakan bahwa Astrovirus, Picobirnavirus, Calicivirus, dan Adenovirus adalah enterovirus
terbanyak pada HIV dengan diare.
2. Diare persisten pada keganasan
Beberapa tumor dapat menghasilkan hormon yang secara langsung menstimulus sekresi
usus dan menyebabkan diare. Ada pula tumor yang dapat menyebabkan gangguan pada absorpsi
nutrien dan berdampak pada diare. Pada pancreatic cholera, terbentuk neoplasma sel endokrin pada
pankreas yang menghasilkan suatu neurotransmitter dan memicu terjadinya sekresi berlebihan di
usus. Pada sindrom carcinoid, terbentuk tumor carcinoid yang mensekresi serotonin, bradikinin,
prostaglandin dan substansi P yang kesemuanya menstimulus proses sekresi di usus. Karsinoma
meduller tiroid menghasilkan kalsitonin yang menstimulus sekresi di usus, menyebabkan sekitar 30%
penderita karsinoma tersebut mengalami diare. Pada sindroma Zollinger-Ellison (gastrinoma),
peningkatan produksi asam lambung yang disebabkan tumor penghasil gastrin dapat mengganggu
enzim pencernaan dan menyebabkan presipitasi asam empedu sehingga menyebabkan malabsorpsi
zat nutrien. Pada diare jenis ini, tinja memiliki pH yang rendah.
Diare pada keganasan juga berhubungan dengan efek samping kemoterapi. Kemoterapi
menyebabkan peradangan membran mukosa traktus gastrointestinal (mukositis). Agen-agen
kemoterapi yang sering berkaitan dengan diare adalah 5-Fluorouracil dan Irinotecan. 5-Fluorouracil
menginduksi diare melalui peningkatan rasio jumlah kripta terhadap villi, sehingga meningkatkan
sekresi cairan ke lumen usus.
Diare persisten dan kronis menjadi suatu masalah kesehatan yang mempengaruhi tingkat
kematian anak di Indonesia dan dunia. Patogenesis diare kronis melibatkan berbagai faktor yang
sangat kompleks. Hubungan antara diare persisten dengan malnutrisi bagaikan lingkaran setan yang
memerlukan penanganan yang integratif dan bertahap sehingga terapi yang dibutuhkan tidak hanya
terapi medikamentosa akan tetapi dibutuhkan pula terapi nutrisi yang optimal.