Anda di halaman 1dari 17

Ketika Allah Berkata Tidak

Ya Allah ambillah kesombonganku dariku

Allah berkata, “Tidak. Bukan aku yang mengambil, tapi kau yang harus menyerahkannya.”

Ya Allah sempurnakanlah kekurangan anakku yang cacat.

Allah berkata, “Tidak. Jiwanya telah sempurna, tubuhnya hanyalah sementara.”

Ya Allah beri aku kesabaran.

Allah berkata, “Tidak. Kesabaran didapat dari ketabahan dalam menghadapi cobaan; tidak diberikan,
kau harus meraihnya sendiri.”

Ya Allah beri aku kebahagiaan

Allah berkata, “Tidak. Kuberi keberkahan kebahagiaan tergantung kepadamu sendiri untuk menghargai
keberkahan itu.”

Ya Allah jauhkan aku dari kesusahan

Allah berkata, “Tidak. Penderitaan menjauhkanmu dari jerat duniawi dan mendekatkanmu kepada-Ku.”

Ya Allah beri asegala hal yang menjadikan hidup ini nikmat

Allah berkata, “Tidak. Aku beri kau kehidupan supaya kau menikmati segala hal.”

Ya Allah Bantu aku mencintai orang lain sebesar cinta-Mu padaku.

Allah berkata……“Akhirnya kau mengerti.” (Sumber: Kisah-Kisah Pembawa Berkah (134-135) Haidar
Bagir Penerbit IIMaN Press bekerja sama dengan Penerbit Yasmin Cetakan I April 2004)

Hidup Itu Di Hati


Emha Ainun Nadjib

Manusia hidup dari hatinya. Manusia bertempat tinggal dihatinya. Hati adalah sebuah perjalanan
panjang. Manusia menyusurinya, menuju kepuasannya, kesejahteraannya, kebahagiannya, & Tuhannya.
Berbagai makhluk menghalanginya, terkadang, atau sering kali, dirinya sendirilah yang merintanginya.

Hati adalah pusat kehendak yang membuat manusia tertawa dan menangis, sedih dan gembira, suka ria
atau berputus asa. Manusia mengembara dihatinya: pikiran membantunya, maka pikiran harus bekerja
sekeras-kerasnya, pikiran bisa perlu ber-revolusi, pikiran tak boleh tidur, pikiran harus dipacu lebih
cepat dari waktu cahaya.

Hati tidak selalu mengerti persis apa yang dikehendakinya. Ia hanya bisa berkiblat ke Tuhannya untuk
memperoleh kejernihan dan ketepatan kemauannya.

Pikiran ikut menolongnya mendapatkan kejernihan dan ketetapan itu, tapi pikiran tidak bisa
menerangkan apa-apa tentang Tuhannya. Pikiran mengabdi kepada hatinya, hati selalu bertanya kepada
Tuhannya. Di hadapan Tuhan, pikiran adalah kegelapan dan kebodohan. Jika pikiran ingin mencapai
Tuhannya, ia menyesuaikan diri dengan hukum dimensi hatinya. Jika tidak, pikiran akan menawarkan
kerusakan, keterjebakan dan bumerang.

Jika pikiran hanya mampu mempersembahkan benda-benda kepada hatinya, maka hati akan tercampak
ke ruang hampa, dan pikiran sendiri memperlebar jarak dari Tuhannya.

Badan akan lebur ke tanah. Pikiran akan lebur diruang dan waktu. Hati akan lebur di Tuhan. Jika
derajat hati diturunkan ke tanah, jika tingkat pikiran bersibuk dengan bongkahan logam, maka dalam
keniscayaan lebur ke Tuhan, mereka akan hanya siap menjadi onggokan kayu, yang terbakar tidak oleh
cinta kasih Tuhan, melainkan oleh api.

Jika hati hanya berpedoman kepada badan, maka ia hanya akan ketakutan oleh batas usia, oleh mati,
oleh kemelaratan, oleh ketidakpunyaan. Jika pikiran hanya mengurusi badan, jika pikiran tak kenal
ujung maka ia akan rakus kepada alam, akan membusung dengan keangkuhan, kemudian kaget dan
kecewa oleh segala yang dihasilkan.(Dari Pojok Sejarah)

1 Tamparan 3 Pertanyaan

Ada seorang pemuda yang lama sekolah di luar negeri.

Kembali ke tanah air, sesampainya di rumah ia meminta kepada orang tuanya untuk di carikan seorang
guru agama, kyai atau siapa saja yang bisa menjawab 3 pertanyaannya. Akhirnya orang tua pemuda itu
mendatangkan pemuda tersebut seorang kyai.

Pemuda : Anda siapa? Dan apakah bisa menjawab pertanyaan pertanya an saya?

Kyai : Saya hamba Allah dan dengan izin-Nya saya akan menjawab pertanyaan anda.

Pemuda : Anda yakin?,,, Sedangkan Profesor dan ramai orang yang pintar tidak mampu menjawab
pertanyaan saya.

Kyai : Saya akan mencoba sejauh kemampuan saya.

Pemuda : Saya ada 3 pertanyaan:

1. Kalau memang ALLAH itu ada,tunjukan wujud ALLAH kepada saya

2. Apakah yang dinamakan takdir


3. Kalau syaitan diciptakan dari api kenapa dimasukan ke neraka yang dibuat dari api, tentu tidak
menyakitkan buat setan. Sebab mereka memiliki unsur yang sama. Apakah ALLAH tidak pernah
berfikir sejauh itu?

Tiba-tiba kyai tersebut menampar pipi pemuda tadi dengan keras.

Pemuda : (sambil menahan sakit): Kenapa anda marah kepada saya?

Kyai : Saya tidak marah...Tamparan itu adalah jawaban saya atas 3 pertanyaan yang anda ajukan
kepada saya.

Pemuda : Saya sungguh-sungguh tidak mengerti.

Kyai : Bagaimana rasanya tamparan saya?

Pemuda : Tentu saja saya merasakan sakit.

Kyai : Jadi anda percaya bahawa sakit itu ada?

Pemuda : Ya!

Kyai : Tunjukan pada saya wujud sakit itu!

Pemuda : Saya tidak bisa.

Kyai : Itulah jawaban pertanyaan pertama...kita semua merasakan kewujudan ALLAH tanpa mampu
melihat wujudnya.

Kyai : Apakah tadi malam anda bermimpi akan ditampar oleh saya?

Pemuda : Tidak.

Kyai : Apakah pernah terfikir oleh anda akan menerima tamparan dari saya hari ini?

Pemuda : Tidak.

Kyai : Itulah yang dinamakan " TAKDIR ".

Kyai : Terbuat dari apa tangan yang saya gunakan untuk menampar anda?

Pemuda : Kulit.

Kyai : Terbuat dari apa pipi anda?

Pemuda : Kulit.

Kyai : Bagaimana rasanya tamparan saya?


Pemuda : Sakit.

Kyai : Walaupun setan dijadikan dari api dan neraka juga terbuat dari api, jika ALLAH menghendaki
maka neraka akan menjadi tempat yang menyakitkan untuk setan.

Taufik Dan Hidayah

Taufik dan hidayah adalah dua perkataan yang sangat popular pada saat ini. Masyarakat merasa sejuk
jiwanya bila dalam suatu pertemuan menutup ucapannya dengan kata "wabillahit taufik wal hidayah"
Demikian juga dalam surat menyurat sehari-hari, karena merasa akan adanya berkah Allah dalam
sesuatu yang dihadapinya

Namun tak jarang kita masih belum memahami makna dan hakikat kedua perkataan itu. Ada beberapa
definisi yang yang dilontarkan oleh beberapa ulama terkenal.

1. Ibnu Qoyyim Al Jauziyah (abad 7 H).

Taufik adalah iradat Allah yang dating dari diri-Nya untuk melakukan sesuatu yang baik, diberi-NYa
kesanggupan untuk melakukan perbuatan yang diridhai-Nya didorong oleh kecintaan-Nya.

2. Al Jurjanji ( Ahli bahasa Arab)

Taufik ialah Allah menjadikan perbuatan hamba-NYa sesuai dengan yang Ia ridloi dan sukai

3. Raghib Asfahani

Taufik merupakan dorongan batin seseorang melakukan perbuatan yang baik. Dapat disimpulkan
taufik hanya ditujukan kepada perbuatan insani yang baik bukan kepada yang buruk

Menurut ta'rif yang menyeluruh dari para ahli, hidayah adalah petunjuk dan bimbingan Allah untuk
sampai kepada yang dicita-citakan manusia.

Imam Ghazali pada abad ke-5 H memberikan yangmenyeluruh dengan mengemukakan 5 idiom kata
yang terkait taufik, hidayah, inayah, tasdid dan ta'yid. Masyarakat pada umumnya hanya mengenal 3
kata taufik, hidayah, dan inayah.

Taufik (menurut Imam Ghazali) adalah adanya kesesuaian antara kehendak manusia dengan qadha dan
qadar Allah dan taufik ini untuk sesuatu yang baik bukan yang jahat. Bila seseorang bersikap munafik,
penipu, curang, vested interest dsb , tidak dapat disebut mendapat taufik.

Imam Ghazali juga membagi hidayah pada beberapa tingkatan sejak dari mengenal mana yang baik dan
buruk, adanya bantuan (bimbingan) sampai adanya Nuur yang menyinari hidup ini.

Kemudian Imam Ghazali mengemukakan inayah yang disebutnya rusyd merupakan hidayah pendorong
atau penegak untuk mencapai kebahagiaan dan dapat mengatasi hal-hal yang menghambat dan
menghancurkan cita-citanya.

Bila sudah demikian, maka diperlukan tasdid, pengarahan aktifitas untuk sampai pada yang
dikehendaki. Tidak ada satupun perbuatan dan aktifitas manusia yang sia-sia dalam mencapai sasaran
yang dituju

Hidayah hanya sekedar mengenal, maka tasdid adalah adanya bantuan dalam penggerakan aktifitas
agar benar dan tepat menemui sasaran.

Sedangkan ta'yid merupakan semua bantuan Allah dalam kehidupan seorang hamba yang diridhai-
Nya..

Jika orang mampu mendapatkan kelimanya maka disebut nikmat taufiqiyah.

Dalam keseluruhan hidup dan perjuangan hendaknya didorong oleh adanya taufik sampai kepada
ta'yid. Simpang siurnya pikiran dan pendapat, banyaknya handicap dan rintangan di depan dalam
pencapaian cita –cita harus ditebus dengan mengharap inayah-Nya agar tidak mundur, tetapi juga tidak
terkesan asal "maju" saja.

Pemahaman terhadap tasdid yang meliputi berbuat dan bertindak dengan tepat. Dalam kehidupan
modern ini orang lebih suka mencari mana yang mudah dalam sesuatu bukan mencari yang tepat.
Banyak peristiwa menunjukkan bahwa sesuatu yang dianggap mudah ternyata tidak tepat sehingga
menimbulkan permasalahan baru.

Paling celakanya jika sesuatu dilakukan tidak mudah dengan cara yang tidak tepat, seperti orang yang
ingin mewah lalu membuat dirinya melakukan tindakan kriminalitas.(Disarikan dari tulisan Taufik dan
Hidyah oleh Drs. Muh. Syibli, MA di Lembaran Dakwah edisi 521 Tahun VIII 1429H / 2002 M).

Penyelam Mutiara

Perjalananan hidup manusia tidak ubahnya bagaikan seorang penyelam mutiara. Seseorang penyelam
mutiara, dalam melaksanakan tugasnya selalu dibekali dengan tabung oksigen yang diletakkan di
punggungnya. Ketika ia hendak terjun menyelam niatnya sudah bulat yaitu ingin mencari tiram mutiara
sebanyak-banyaknya.

Tetapi begitu ia terjun, dan berada di dalam laut, ia mulai lupa pada tiram yang harus dicarinya.
Kenapa? Ternyata pemandangan di dalam laut sangat mempesona, bunga karang yang melambai-
lambain seolah-olah memanggilnya; ikan-ikan hias berwarna-warni yang saling berkejaran,
membuatnya terpana. Ia pun terlena ikut bercanda ria, bermain-main dengan ikan yang berwarna-warni
; melupakan tugasnya semula, yaitu mencari tiram mutiara yang berada jauh di dasar laut sana.

Hingga pada suatu saat, akhirnya dia pun merasa bahwa oksigen di punggungnya tinggal sedikit lagi.
Maka timbullah rasa takutnya. Tak terbayangkan olehnya bagaimana kemarahan majikannya kelak bila
ia muncul ke permukaan tanpa membawa tiram mutiara sebagaimana yang diharapkan. Maka dengan
tergopoh-gopoh ia pun berusaha untuk mencari tiram mutiara yang ada di sekitarnya. Namun sayang,
fisiknya sudah tidak mampu lagi karena kelelahan, energinya sudah habis terkuras untuk bercanda ria
dengan keindahan alam bawah laut.

Akhirnya isi tabung oksigennya benar-benar kosong, sehingga meskipun tiram mutiara yang dibawanya
sangat sedikit, ia mau tidak mau harus muncul ke permukaan. Malangnya lagi, karena terburu-buru dia
tidak sempat mengikat kantongnya dengan baik, sehingga begitu tersenggol ikan berseliweran di
sampingnya, tiram mutiara yang sudah didapatnya dengan susah payah itu sebagian tertumpah ke luar.

Di permukaan, majikannya telah menunggu. Ketika dilihatnya isi kantong si penyelam tidak berisi
tiram mutiara sebagaimana yang ia harapkan, maka ia pun mencaci maki penyelam itu; dan saat itu
juga langsung dipecatnya tanpa diberi pesangon sedikitpun ! Tentu saja bisa kita bayangkan bagaimana
gundahnya perasaan si penyelam!

Dengan penuh rasa penyesalan, si penyelam berusaha meminta kesempatan ulang untuk menyelam
kembali, “Tuan, ijinkan lah aku untuk menyelam kembali, pasti aku akan mencari tiram mutiara
sebanyak-banyaknya!”. Namun majikannya dengan tegas menolak , “Percuma engkau aku beri
oksigen, ternyat engkau hanya pandai membuang-buangnya saja!”

Kisah ini amat mirip dengan perjalanan hidup manusia di dunia. Tabung oksigen, itu melambangkan
umur manusia: tiram mutiara mengibaratkan pahala yang harus kita kumpulkan; dan tiram mutiara
yang tumpah, itu mengumpamakan pahala yang hilang karena riya; sedangkan keindahan yang ada di
dalam lautan melambangkan godaan-godaan akan kenikmatan duniawi dengan harta, tahta, dan
wanitanya!

Tidaklah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main, sesungguhnya akhirat itulah yang
sebenar-benarnya kehidupan (QS Al Ankabuut : 64)

Ketahuilah bahwa kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan
bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti
hujan yang tanam-tanaman mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu
lihat warnanya kuning kemudian hancur……Dan kemudian dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan
yang menipu (QS Al Hadiid 20). Sumber: Sentuhan Kalbu, Penyaji : Ir. Permadi Alibasyah, Penerbit :
Yayasan Mutiara Tauhid Jakarta Cetakan Kedua, Januari 2001)

Binatang Idaman Nabi


Pernahkah kita memperhatikan tiga binatang kecil, yaitu : semut, laba-laba, dan lebah? Mungkin kita
sependapat, bahwa di antara ketiganya, semutlah yang paling rajin menghimpun makanan. Ia
menghabiskan waktu-waktunya hanya untuk mengumpulkan makanan. Ia menghabiskan waktu-
waktunya hanya untuk mengumpulkan makanan, sedikit demi sedikit tanpa henti-hentinya.

Semut ini cenderung menghimpun makanan untuk persediaan bertahun-tahun, walaupun disadarinya
usianya sendiri tidak akan lebih dari satu tahun. Ketamakannya sedemikian besarnya, sehingga tak
jarang kita melihat semut yang berusaha memikul sesuatu yang jauh lebih besar dari badannya,
walaupun sesuatu itu sebenarnya tidak berguna baginya.

Lain lagi halnya dengan laba-laba, mungkin tidak ada binatang yang lebih mengerikan daripada laba-
laba. Sarangnya walaupun lemah, jelas bukan tempat yang aman bagi makhluk lain. Apapun yang
berlindung atau terjaring disana pasti akan disergapnya dengan tak kenal ampun. Bukan itu saja.
Jantannya sendiri selepas berhubungan, selalu dibunuh oleh betinanya. Bahkan telurnya yang menetas
selalu saling berdesakan, hingga dapat saling memusnahkan antar sesamanya.

Bagaimana dengan lebah? Lebah sangat disiplin dan mengenal pembagian kerja yang sangat baik.
Sarangnya dibangun berbentuk segi enam, yang telah terbukti sangat ekonomis dan kuat dibandingkan
bila segi empat atau lima. Dan lagi, sarangnya selalu terjaga dari benda-benda yang tidak berguna.
Yang dimakannya pun adalah sari kembang-kembang yang kemudian diolahnya menjadi madu dan lilin
yang sangat bermanfaat untuk manusia. Lebah tidak mengganggu bila tidak diganggu. Sengatnya hanya
dikeluarkan bila ia merasa terancam saja. Dan sengatannya itu pun ternyat dapat menjadi obat bagi
penyakit-penyakit tertentu.

Manusia yang berbudaya semut, senang menghimpun dan menumpuk sesuatu yang tidak dinikmatinya.
Ia menggali ilmu tetapi tidak mengolahnya lebih lanjut, sehingga jiwanya jiwanya tetap saja kering. Ia
menumpuk-numpuk harta itu sendiri, sehingga ia tetap saja seolah-olah fakir. Aji mumpung adalah
andalan ilmunya.

Sedangkan manusia yang berbudaya laba-laba tidak lagi butuh berpikir apa, dimana, dan kapan ia
makan; tetapi yang mereka pikirkan adalah : siapa hari ini yang akan mereka makan!

Sebaliknya, manusia yang berbudaya lebah tidak mengganggu, apalagi merusak. Tidak makan kecuali
yang baik. Tidak menghasilkan kecuali yang bermanfaat. Dan jika dirinya menimpa sesuatu, tidak akan
menyebabkan kerusakan pada yang ditimpanya.

Dalam masyarakat kita, banyak sekali terlihat semut yang berkeliaran dan laba-laba yang selalu siap
mencaplok. Sedangkan lebah sudah sangat sulit ditemui. Rasulullah pernah beramanat bahwa seorang
mukmin hendaknya seperti lebah. Namun manusia nampaknya kita lebih suka menambah jumlah
semut atau bahkan laba-laba, ketimbang berpatisipasi memperbanyak populasi lebah. Sumber:
Sentuhan Kalbu, Penyaji : Ir. Permadi Alibasyah, Penerbit : Yayasan Mutiara Tauhid Jakarta Cetakan
Kedua, Januari 2001)

Tidak Cukup Sekedar Istighfar

Pada suatu ketika, Rasulullah SAW bertanya pada para sahabatnya, “Tahukah kalian, siapakah orang
yang dianggap bertobat itu?” Para sahabat serentak menjawab, “Allah dan Rasul Nya yang lebih
mengetahui.” Maka Rasulullah SAW pun lalu bersabda:
“Barangsiapa bertobat tetapi tidak menambah ibadahnya, ia bukannya telah bertobat”

“Barangsiapa bertobat tetapi tidak mengganti temannya, ia bukannya telah bertobat”

"Barangsiapa bertobat tetapi tidak menuntut ilmu, tidak membuang sikap riya’, tidak menyedekahkan
kelebihan yang dimilikinya, ataupun tidak meminta maaf kepada orang yang pernah disakitinya, ia
bukannya telah bertobat”. Sumber: Sentuhan Kalbu, Penyaji : Ir. Permadi Alibasyah, Penerbit : Yayasan
Mutiara Tauhid Jakarta Cetakan Kedua, Januari 2001)

Alasan Apalagi?

Seorang yang kaya raya, biasanya beralasan bahwa ia tidak punya waktu untuk beribadah karena
seluruh waktunya habis digunakan untuk mengurusi kekayaannya. Mungkin ia lupa, bahwa dirinya
sebenarnya tidaklah lebih kaya dari Nabi Sulaiman AS yang justru menjadi semakin bertakwa dengan
bertambahnya kekayaan beliau.

Seorang karyawan beralasan bahwa ia tidak punya waktu untuk beribadah karena sibuk dengan
pekerjaannya. Mungkin karyawan inipun lupa, bahwa dirinya tidaklah lebih sibuk dibandingkan
dengan Nabi Muhammad SAW, yang disamping sebagai kepala negara, panglima perang, beliau juga
seorang pendidik umat.

Seorang hamba sahaya beralasan bahwa ia tidak punya waktu untuk beribadah karena sibuk melayani
majikannya. Tidaklah ia lupa, bahwa dirinya tidaklah lebih sibuk dan sengsara dibandingkan dengan
Nabi Yusuf AS.

Seorang yang sakit beralasan bahwa ia tidak punya waktu dan tenaga untuk beribadah karena derita
sakitnya. Cobalah ia ingat, derita penyakitnya itu belumlah seberapanya dibandingkan dengan
penderitaan yang dirasakan oleh Nabi Ayub AS.

Seorang fakir miskin beralasan bahwa ia tidak punya waktu untuk beribadah karena kemiskinannya.
Apakah ia lupa, bahwa ia tidaklah lebih miskin dari Nabi Isa AS, yang terpaksa harus memakan
dedaunan dan minum air hujan.

Seorang yang tidak berpendidikan beralasan bahwa ia tidak mampu untuk beribadah karena ilmunya
yang rendah. Tidaklah ia lupa, bahwa Nabi Muhammad SAW itu tidak bisa membaca dan menulis?
(Sumber: Sentuhan Kalbu, Penyaji : Ir. Permadi Alibasyah, Penerbit : Yayasan Mutiara Tauhid Jakarta
Cetakan Kedua, Januari 2001)

Salahkah Iblis?

Kita semua telah tahu, bahwa iblis dilaknat oleh Tuhan. Dan manusia yang sadar, tentunya tidak akan
mau mengikuti jejak iblis. Tapi pernahkah kita berpikir mengenai kesalahan yang telah dilakukan iblis
sehingga ia dilaknat oleh Tuhan? Pada kesempatan yang singkat ini, izinkanlah saya menyampaikan
kembali kisah klasik yang sarat dengan hikmah ini. Mudah-mudahan pada akhir kisah nanti, kita dapat
mengukur diri kita masing-masing, apakah kita termasuk penentang iblis, atau jangan-jangan tanpa kita
sadari, kita malahan termasuk dalam kelompok orang yang mendukung iblis.
Suatu ketika, iblis yang pada waktu itu tinggal di surga, dipanggil menghadap Tuhan. Tuhan berfirman,
“Hai iblis! Aku telah menciptakan seorang manusia dari tanah yang kuberi nama Adam. Sujudlah
engkau sekarang padanya!”.

Namun iblis spontan menolak. Ia lalu mengemukakan 3 alasan atas penolakannya itu.

Yang pertama, kata iblis, “Ya Tuhan, bagaimana mungkin aku sujud kepada Adam. Bukankah asal
usulku jauh lebih baik daripada Adam? Bukankah Engkau ciptakan aku dari api yang jelas-jelas lebih
mulia dibandingkan dengan tanah? Mestinya, Adam lah yang harus sujud kepadaku, bukan
sebaliknya!”.

Salahkan alasan iblis ini?

Kalau kita lihat disekitar kita, banyak orang yang membangga-banggakan asal usul keturunannya,
merasa sombong dengan darah birunya, ataupun memandang rendah seseorang hanya lantaran orang
itu orang biasa. Salahkah bila orang seperti ini kita sebut sebagai pendukung iblis? Bukankah yang
dilakukannya itu sebenarnya merupakan perwujudan dari alasan iblis?

Alasan yang kedua, kata iblis, “Ya Tuhanm aku berada disini telah ribuan tahun. Jelas aku jauh lebih
senior daripada Adam yang baru saja Engkau ciptakan. Bukankan seharusnya yang lebuh junior runduk
pada yang lebih senior?” Mestinya, Adam lah yag harus sujud kepadaku, bukan sebaliknya!”.

Salahkah alasan iblis ini?

Sekarang ini, banyak orang yang gengsi tidak mau menerima pendapat yang disampaikan kepadanya,
hanya semata-mata karena pendapat itu disampaikan oleh yang lebih muda. Salahkah bila orang seperti
ini kita sebut sebagai pendukung iblis? Bukankah hal ini sebenarnya merupakan perwujudan dari
alasan iblis?

Adapun alasan yang ketida, kata iblis, “Ya Tuhan, kesetiaanku pada-Mu, telah berabad-abad terbukti
tidak pernah luntur; sedangkan Adam belum tentu ia dapat selalu setia kepada-Mu seperti aku. Lalu
kenapa aku yang harus sujud kepada Adam, mestinya Adam lah yang pantasnya sujud kepadaku!”.

Salahkah alasan iblis ini?

Kita banyak melihat orang yang suka mengungkit-ngungkit kembali jasa-jasa yang pernah
dilakukannya, ataupun merasa dirinyalah yang paling loyal. Salahkah bila orang seperti ini kita sebut
sebagai pendukung iblis? Bukankah hal ini sebenarnya merupakan perwujudan dari alasan iblis?
(Sentuhan Kalbu, Penyaji : Ir. Permadi Alibasyah, Penerbit : Yayasan Mutiara Tauhid Jakarta Cetakan
Kedua, Januari 2001)

6 Keinginan 6 Pula Syaratnya

Berkata Imam Ali a.s : Seorang lelaki datang kepada Rasulullah SAW dan berkata , “Ajarilah aku suatu
amalan yang membuat aku dicintai oleh Allah, dicintai oleh para makhluk, Allah memperbanyak
hartaku, menyehatkan badanku, memanjangkan umurku, dan membangkitkan aku di mahsyar
bersamamu!”

Rasulullah SAW kemudian bersabda,” Permintaanmu yang 6 perkara memerlukan 6 perkara yang
lainnya, yaitu :

1. Bila engkau ingin dicintai Allah, takutlah kepada-Nya dan bertakwalah.

2. Bila engkau ingin dicintai para makhluk, berbuatlah baiklah kepada mereka, dan jangan berharap
sesuatu dari yang mereka miliki.

3. Bila engkau ingin diperkaya dalam harta, maka zakatilah harta bendamu.

4. Bila engkau ingin disehatkan badanmu, maka perbanyaklah sedekah.

5. Bila engkau ingin diperpanjang umurmu, maka bersilaturahmilah kepada kaum kerabatmu

6. Bila engkau ingin dikumpulkan bersamaku di padang masyhar, maka perpanjanglah sujudmu kepada
Allah yang Maha Esa dan Maha Perkasa. (Sumber:Safinah al Bihar 1/599)

10 Kiat Nabi SAW

Sepuluh pesan Rasulullah SAW yang mengajarkan kita tentang bagaimana mengusir iblis dan bala
tentaranya ketika menyerang kita dengan rayuan-rayuan yang menyebabkan kita terjerumus ke dalam
jurang kehinaan tanpa kita sadari dengan memanfaatkan titik kelemahan kita

1. Jika Ia datang kepadamu dan berkata:”Anakmu mati!” Katakan kepadanya :”Sesungguhnya makhluk
hidup diciptakan untuk mati, dan penggalan dariku (putraku) akan masuk surga. Dan hal itu membuat
gembira.”

2. Jika Ia datang kepadamu dan berkata:”Hartamu musnah!” Katakan kepadanya :”Segala puji bagi
Allah Zat Yang Maha Memberi dan Mengambil, dan menggugurkan atasku kewajiban zakat..”

3. Jika Ia datang kepadamu dan berkata:”Orang-orang menzalimimu sedangkan kamu tidak menzalimi
seorang pun!” Maka katakan kepadanya . ”Siksaan akan menimpa orang-orang yang berbuat zalim dan
tidak menimpa orang-orang yang berbuat kebaikan (muhsin)..”

4. Dan jika Ia datang kepadamu dan berkata:”Betapa banyak kebaikanmu!” dengan maksud
menjerumuskan untuk bangga diri (ujub). Maka katakan kepadanya :”Kejelekan-kejelekanku jauh lebih
banyak dari pada kebaikanku.”

5. Dan jika Ia datang kepadamu dan berkata:”Alangkah banyaknya shalatmu!” Maka


katakan :”Kelalaianku lebih banyak diibanding shalatku.”

6. Dan jika Ia datang kepadamu dan berkata:”Betapa banyak kamu bersedekah kepada orang-orang!”.
Maka katakan kepadanya:”Apa yang saya terima dari Allah jauh lebih banyak dari yang saya
sedekahkan.”

7. Dan jika Ia berkata kepadamu :”Betapa banyak orang yang menzalimimu!”

Maka katakan kepadanya:”Orang-orang yang kuzalimi lebih banyak”

8. Dan jika Ia berkata kepadamu :”Betapa banyak amalmu!” Maka katakana :”Betapa seringnya aku
bermaksiat”

9. Dan jika Ia datang kepadamu dan berkata:”Minumlah minum-minuman keras!”. Maka


katakan :”Saya tidak akan mengerjakan maksiat”

10. Dan jika Ia datang kepadamu dan berkata:”Mengapa kamu tidak mencintai dunia?”. Maka
katakan:”Aku tidak mencintainya dan telah banyak orang lain yang terpedaya olehnya” (Kisah-Kisah
Pembawa Berkah (227-229) Haidar Bagir Penerbit IIMaN Press bekerja sama dengan Penerbit Yasmin
Cetakan I April 2004)

Pengakuan Ali

Inilah pengakuan akan sikap dan pandangannya :

1. Ketika kemiskinan menyebar ke suatu kota, maka fitnah pun ikut menyebar.

2. Setiap ada kelaparan, mesti ada hak orang yang terampas.

3. Kemiskinan adalah kematian yang terbesar

4. Bila kemiskinan menghampiriku dalam bentuk manusia, maka aku akan membunuhnya

5. Hanya orang yang bekerja demi kesejahteraan orang lainlah yang akan mendapatkan kesejateraan di
akhirat

6. Seandainya saya memukul hdung seorang mukmin agar ia menjadi musuhku, maka ia akan tetap
bersahabat denganku,….dan Seandainya saya mencurahkan seluruh belas kasihku dan karunia bumi
kepada seorang munafik agar dia bersahabat denganku, maka ia akan tetap memusuhi ku.” (Sumber:
Kisah-Kisah Pembawa Berkah (182-183)Haidar Bagir Penerbit IIMaN Press bekerja sama dengan
Penerbit Yasmin Cetakan I April 2004)

Setan Lebih Pintar

Seorang murid Abul Said Abul Khair pernah berkata, “Guru, di tempat lain ada orang yang bisa
terbang.”

Abul Khair menjawab, “Tidak aneh. Lalat juga bisa terbang.”

“Guru, disana ada orang yang bisa berjalan di atas air,” muridnya berkata lagi.

Abul Khair berkata, “Itu juga tak aneh. Katak pun bisa berjalan di atas air.”

Muridnya berujar lagi ,“Guru, di negeri itu ada orang yang bisa berada di beberapa tempat sekaligus.”

Abul Khair menjawab, “Yang paling pintar seperti itu adalah setan. Ia bisa berada di hati jutaan
manusia dalam waktu bersamaan.”

Murid-muridnya bingung dan bertanya, “Kalau begitu Guru, bagaimana cara yang paling cepat untuk
mendekatkan diri kepada Allah SWT?” Ternyata, murid-muridnya beranggapan bahwa orang yang
dekat kepada Allah SWT itu adalah orang yang memiliki berbagai keajaibam dan kekuatan supra
natural.

Abul Khair menjawab, “Banyak jalan untuk mendekati Tuhan; sebanyak bilangan nafas para pencari
Tuhan. Tetapi jalan yang paling dekat kepada Allah adalah membahagiakan orang lain di sekitarmu.
Engkau berkhidmat kepada mereka.” (Sumber: Kisah-Kisah Pembawa Berkah (83 - 84) Haidar Bagir
Penerbit IIMaN Press bekerja sama dengan Penerbit Yasmin Cetakan I April 2004)

Anggur Dan Cangkir

Ketika Majnun mencintai Layla, kala itu ada banyak gadis yang lebih cantik daripada Layla. Tetapi
Majnun tak mencintai mereka.

Ketika ia ditanya , “ Ada banyak yang lebih cantik dari Layla. Dan biarkanlah kami
memperlihatkannya kepada kamu.”

Majnun akan selalu menjawab , “Aku tidak Layla karena bentuk luarnya. Layla bukan bentuk luar; dia
bagaikan cangkir yang aku genggam dan dari sana aku meminum anggur. Aku mencintai anggur yang
aku minum. Engkau hanya melihat cangkir dan tidak menyadari keberadaan anggur. Apa gunanya
cangkir emas untukku bila cangkir itu hanya berisi cuka atau yang lain selain anggur? Bagiku labu tua
yang pecah berisi anggur akan lebih baik dari ribuan cangkir seperti itu.”

“Orang membutuhkan cinta dan kerinduan untuk membedakan anggur dan cangkir"

Kentut Yang Dirahasiakan

Pernah ada suatu peristiwa dimana Rasul beserta sahabat-sahabatnya lagi diundang makan unta oleh
satu sahabat yang lain di waktu menjelang maghrib di suatu tempat dekat Masjid Quba. Ketika beliau
tengah makan salah satu dari sahabat mengeluarkan angin sehingga baunya tercium oleh beliau dan
sahabat-sahabat yang lain.

Karena waktu asar sudah habis dan sesaat lagi akan dilakukan shalat maghrib, sehingga para sahabat
akan tahu siapa yang buang angin tadi karena dia harus berwudlu lagi. Untuk menjaga perasaan orang
ini supaya tidak dipermalukan oleh sahabat-sahabat yang lain (kentut di muka umum adalah suatu aib
besar menurut adat istiadat bangsa Arab), maka Rasul bersabda: “Barang siapa yang makan daging unta
ini ia harus mengambil wudlu lagi".

Karena semua sahabat makan daging unta tersebut, maka semuanyalah mengambil wudlu lagi dan
terhindarlah orang tersebut dari aib. (Sumber: Kisah-Kisah Pembawa Berkah (199-200), Haidar Bagir.
Penerbit IIMaN Press bekerja sama dengan Penerbit Yasmin, Cetakan I April 2004)

Skenario Akhlak

“Apakah tak sepantasnya engkau memandang kedudukan ahlul-qiblah (seluruh kaum Muslim)
bagaikan keluargamu sendiri? Dengan memperlakukan orang yang lebih tua darimu sebagai ayahmu,
yang lbih muda sebagai anakmu, dan yang sebaya denganmu sebagai saudaramu.”

Bagaimana mungkin mereka hendak engkau zalimi? Apabila iblis membisikkan kepadamu bahwa
engkau mempunyai kedudukan yang lebih tinggi daripada mereka (karena akidahmu), maka untuk
yang lebih tua daripadamu, katakanlah, bahwa mereka telah lebih dahulu beriman dan beramal saleh;
dengan deimikian mereka lebih baik daripadaku.

Untuk yang lebih muda daripadamu, katakanlah bahwa aku telah duluan melakukan dosa-dosa dan
bermaksiat daripada dia; dengan demikian dia lebih baik daripadaku.

Dan untuk yang sebaya denganmu, katakanlah bahwa aku lebih mengetahui dan lebih yakin terhadap
dosa-dosa yang telah aku lakukan, sementara aku masih ragu karena tidak tahu secara pasti dosa-dosa
yang telah dia lakukan; maka aku tak akan mempertaruhkan keyakinanku (atas dosa-doasa yang telah
aku lakukan)terhadap keraguanku (atas dosa-dosa yang ia lakukan); dengan demikian dia lebih baik
dariku.

Dan bila mereka (kaum muslimin memujimu, menghormatimu dan mencintaimu, katakanlah, bahwa
kemuliaan ini semata-mata hanya merupakan pandangan mereka saja; dan berdoalah : ‘Ya Allah
….,jadikanlah aku sebagimana yang mereka sangkakan dan ampunilah aku tentang hal-hal yang
mereka tidak ketahui (tentang diriku).’

Sedangkan apabila mereka bersikap meremehkan dirimu, katakanlah kepada dirimu sendiri:’Hal ini
terjadi akibat kesalahan-kesalahan sendiri”

Apabila engkau menyadari dan berperilaku seperti yang aku katakan ini, maka Allah akan
mempermudah kehidupanmu, memperbanyak kawan-kawanmu dan mempersedikit musuhmu.
(Sumber: Kisah-Kisah Pembawa Berkah (199-200), Haidar Bagir. Penerbit IIMaN Press bekerja sama
dengan Penerbit Yasmin, Cetakan I April 2004)

Ashabul KahfiI (Penghuni Gua); 309 Tahun Hidup Dalam Gua

Sudah menjadi adat yang lajim bagi penduduk Upsus merayakan suatu hari raya, dimana mereka sama-
sama menghiasa berhala-hala dan patung-patung, lalu mereka berdiri di sekitar patung-patung itu
dengan riang gembira, sambil memuja-muja dan menyembahnya bahkan memberikan korban-korban
yang berharga kepada patung-patung dan berhala-berhala itu. Suatu adat kebiasaan yang tidak dapat
dirubah dan dilanggar oleh siapapun juga. Tetapi di tengah-tengah golongan penduduk yang banyak itu
ada seorang pemuda termasuk golongan bangsawan dan mulia, tampaknya tidak begitu gembira
ditengah-tengah semua orang yang sedang bergembira itu. dia termenung seorang diri, jiwanya tampak
gelisah. Ketika semua orang sudah sama-sama menyembah kepada berhala-hala yang dirayakan
sebesar-besarnya itu, pemuda itu tampaknya enggan untuk menundukkan kepalanya. Tampak pula
keraguan dan kebingungan hatinya untuk turut menyembah dan bersujud kepada batu-batu berhias itu.

Keraguan dan kebingungannya segera berubah menjadi ketetapan hati unutk mnyanggah apa yang
dilihatnya itu. Akal dan pikirannya berontak rupanya, sehingga dia terpaksa keluar dengan sembunyi-
sembunyi, berjalan meninggalkan tempat perayaan besar itu menjauhkan diri. Akhirnya dia berhenti
dibawah sebatang pokok kayu lalu duduk melepaskan kelelahan pikirannya. Mukanya tampak merah
padam menunjukkan jiwanya yang sedang berontak keras. Perasaan yang demikian itu rupanya tidak
timbul dalam jiwa pemuda itu saja. Tidak lama sesudah dia terduduk di bawah pohon kayu itu, ia
disusul oleh seorang pemuda lain yang sebaya dengannya, sama-sama bangsawan kaumnya. Diapun
karena jiwanya berontak, tidak lagi sudi memuja dan memuji-muji batu itu. dua orang pemuda ini
segera disusul oleh beberapa orang pemuda lainnya berturut-turut sehingga mereka sekarang berjumlah
tujuh orang.

Ketujuh pemuda ini segera berkenalan, mereka bercakap-cakap mengemukakan pendirian dan pikiran
masing-masing. Ternyata kesemuanya memiliki pendapat yang sama, pikiran yang bulat, sekalipun
pada awal mulanya tidak saling kenal mengenal. Mereka sepaklat dan berjanji tidak akan menyembah
dan memuja patung-patung itu lagi sebagai umumnya bangsa mereka sendiri. Lalu mereka
menerawang ke alam yang luas, kelangit yang biru, kematahari yang sedang bersinar, ke gurun yang
tak berpinggir itu. mereka berkeyakinan bahwa kesemuanya itu tentu ada yang menjadikan dan
menguasai, yaitu Allah S.W.T. ”Ya Allah inilah yang harus kita sembah”, kata mereka. Mereka
bersumpah akan menyembah Allah dan akan memegang teguh agama mereka ini. Jiwa mereka mulai
tenang kembali dan mereka sepakat pula akan menyembunyikan apa yang terkandung dalam jiwanya
masing-masing itu terhadap bangsa yang masih sesat dan fanatik, takut kalau-kalau hal itu diketahui
rajanya, yang pasti akan memaksa mereka kembali kepada agama yang sesat itu. Hal ini tak dapat
mereka pertahankan karena mereka tidak banyak dan tidak mungkin kuat untuk melawannya.

Demikianlah beberapa waktu lamanya, mereka hidup diantara bangsanya, kehulu sama ke hulu, ke udik
sama ke udik, namun dalam jiwanya bertentangan seratus persen. Tetapi bila pemuda-pemuda itu
seorang diri, masing-masing bersembahyang menyembah Allah S.W.T., berdoa dan bermunajat
kepadaNya. Pada suatu malam, ketujuh pemuda berkumpul di sutu tempat. Dalam pertemuan itu, salah
seorang diantara mereka lalu berkata dengan berbisik : ”Saudara-saudara, kemarin saya mendengar
kabar yang amat mengecewakan kita, bila benar orang yang membawa kabar ini, ada persiapan untuk
merusakkan agama kita, serta membahayakan jiwa kita. Saya dengar, bahwa raja sudah mendengar
akan hal kita ini. Bukan main marahnya setelah dia mengetahui. Raja telah memutuskan akan
menghukum kita dengan hukuman yang seberat-beratnya, bila kita tidak kembali ke agama mereka.
Saya khawatir sekali karena menurut kabar itu juga bahwa tindakan kejam terhadap kita itu akan
dijalankan besok pagi dengan memanggil kita semua. Kalau kita benar-benar hadir dihadapan raja,
sudah pasti kita akan mengalami hal-hal yang tidak diinginkan. Marilah kita pikirkan bersama-sama
apa yang harus kita jalankan”.

Mendengar keterangan ini, lalu berkata pula seorang lainnya: ”Kabar ini sudah lama pula saya ketahui.
Mula-mula saya kira hanya kabar bohong saja. Tetapi tanda-tandanya semua telah menunjukan bahwa
kabar itu benar-benar adanya. Nyata sudah bahwa kita tidak akan dapat meninggalkan agama kita,
bagaimanapun juga yang akan terjadi. Matahari timbul setiap pagi dan tenggelam setiap sore, menjadi
bukti adanya Tuhan yang kita sembah. Segala yang ada ini menjadi bukti adanya Tuhan yang kita
sembah”. Sebelum dapat memutuskan apa-apa yang harus mereka lakukan, tiba-tiba mereka sudah
didatangi polisi raja. Ketujuh pemuda itu digiring menghadap raja, diceraikan dari keluarganya masing-
masing. Raja lalu berkata kepada mereka: ”Kamu sudah mencoba menyembunyikan apa yanng
terkandung dalam hatimu masing-masing. Tetapi apa yang kamu sembunyikan itu sudah itu sudah
kuketahui semuanya, baik yang lahir maupun yang bathin. Kamu telah melemparkan agama raja dan
agama rakyat, lalu menganut agama baru yang ku tak ketahui bagaimana cara datangnya kepadamu.
Aku akan menghukum kalian dengan hukuman yang seberat-beratnya. Tetapi hukuman ini
kutangguhkan, memandang kehormatan keluarga dan kebangsawananmu sekalian. Aku memberi tempo
kepadamu sekalian untuk berpikir, kamu harus kembali ke agama yang lama yaitu agama raja dan
agama rakyat atau kamu akan dilihat orang banyak untuk digantung tinggi, dipenggal lehermu dan
dibunuh mati”.
Kepada masing-masing pemuda yang tujuh orang itu, diberikan Allah hati yang tetap, keimanan yang
teguh; mereka lalu menjawab: ”Ya, raja kami menyembah Tuhan kami ini bukan dengan tiru-tiruan
tetapi sebagi penyelidikan dan pemikiran kami yang sedalam-dalamnya. Adapun orang banyak yang
menyembah patung-patung itu adalah semata-semata dengan tiruan-tiruan saja, tidak dengan
menjalankan akal dan pikirannya sedikit juga. Kalau kami kembali menyembah agama mereka, berarti
kami menipu diri sendiri dan menipu raja pula sebab kami akan tetap memegang teguh agama kami ini,
terserahlah kepadamu untuk menjalankan tindakan apa saja yang engkau kehendaki”. Raja lalu
menjawab: ”Janganlah kamu menjawab sekarang. Pulanglah dahulu, besok pagi datang lagi menghadap
kemari. Pilihlahlah salah satu diantara dua hal yang sudah kukemukakan itu. Terserah kepadamulah
untuk menentukannya”.

Di saat itu juga mereka lalu berembug bersama-sama disalah satu tempat yang agak jauh dari kota.
Salah seorang lalu berkata: ” Raja memang sudah tetap dengan keputusannya, kitapun sudah tetap pula
dengan keputusan kita, yaitu dua putusan yang bertentangan. Kalau kita datang lagi esok hari, berarti
kita menyerahkan jiwa kita untuk dicabut. Sebab itu, guna mempertahankan agama kita, marilah kita
menyembbunyikan diri dalam gua yang terletak di gunung itu. Sekalipun gua itu sempit dan gelap
keadaannya tetapi iman dapat melapangkan dada dan menerangi pikiran kita. Sebaliknya kita berada di
alam yang lapang dan diterangi oleh matahari, kita tidak merdeka beragama dan menyembah Tuhan
kita. Marilah kita hijrah kesana dengan agama dan kepercayaan kita. Apa gunanya kita hidup di sini,
dimana kita dipaksa beragama yang tidak cocok dengan pikiran kita sendiri!”.

Ketika itu juga mereka bersiap menyediakan perbekalannya masing-masing lalu berangkat
meninggalkan kampung halaman dan keluarganya masing-masing menuju ke gunung yang jauh
letaknya, ke gua sempit di tengah hutan. Mereka pergi tanpa senjata dan pengawal. Untung ditengah
jalan mereka disusul oleh seekor anjing kepunyaan salah seorang diantara mereka. Anjing inilah yang
menjadi penunjuk jalan menuju ke gua yang terpencil itu. Setelah mereka memasuki gua itu, anjing itu
tetap berdiri di muka gua, berjaga dengan merentangkan kedua kakinya. Di tepi gua itu mereka temui
buah-buahan, lalu dimakannya dan ada pula sedikit air, lalu diminumnya. Setelah itu mereka duduk
melepaskan lelahnya, setelah lama berjalan, mendaki dan menurun. Baru saja mereka sama-sama
merebahkan dirinya untuk menenangkan perasaan capeknya, mereka pun tertidur senyenyak-
nyenyaknya.

Malam berganti siang, siangpun berganti malam, tahun berganti tahun dan abad berganti abad, sedang
pemuda-pemuda itu tetap tidur dengan sangat nyenyaknya. Mereka tidak mengetahui sama sekali akan
pergantian malam dengan siang, pergantian tahun, pergantian musim dan pergantian abad. Hujan dan
angin topanpun tidak mereka ketahui, begitu pula guruh dan petir tidak mereka dengar. Dengan takdir
Allah, jalannya matahari agak membelok sedikit, sehingga tepat ditentangan pintu gua tempat mereka
bersembunyi itu. Dengan panasnya cahaya yang sangat keras itu, mereka terbangun. 309 tahunnya
mereka tidur. Dikala terbangun itu keadaan mereka sudah jauh berubah. Mereka merasakan lapar yang
bukan kepalang hebatnya, tetapi masing-masing tidak mengetahui berapa lamanya mereka tertidur itu.
Salah seorang lalu berkata: ”Saya menduga lama benar tidur kita ini. Coba kamu katakan berapa
lamakah gerangan?”. Seorang lagi lalu menjawab : ”Berdasarkan capeknya badan dan laparnya perut,
maka saya kira kita sekalian tertidur sehari lamanya”. Berkata pula orang yang ketiga: ” Kita mulai
tidur di waktu pagi dan itu matahari masih belum terbenam. Kalau begitu kita tidur hanya setengah hari
saja”. Berkata pula yanng keempat: ” Apa gunanya kita bertengkar tentang lamanya tidur. Tuhanlah
yang lebih mengetahui berapa lama kita tidur. Tetapi karena saya terlalu lapar sebab tidak makan
dahulu sebelum berangkat, maka siapakah diantara kita yang mau pergi ke kota (pasar) untuk membeli
makanan? Ini uangnya, tetapi harus berhati-hati jangan sampai diketahui orang atau raja bahwa kita
berada dalam gua ini sebab sudah pasti raja dengan kaki tangannya sedang mencari kita kemana-
mana”.

Salah seorang dari mereka lalu keluar menuju ke pasar mencari makanan, dengan perasaan khawatir
dan takut, akhirnya sampailah dia ke dalam kota Upsus yaitu negerinya sendiri. Alangkah herannya
bahwa negeri itu benar-benar negeri Upsus tetapi segala pemandangan yang dilihatnya berubah
semuanya. Berubah tanda-tanda, berubah bentuk rumah dan gedung-gedungnya. Banyak pula dilihat
bekas gedung-gedung yang sudah tua yang sudah runtuh. Tiap-tiap orang yang lalu lintas
diperhatikannya, seorangpun tidak ada yang dikenalnya. Dia berkata dalam hatinya: ”Negeri ini
seakan-akan negeri kami sendiri, tetapi penduduknya bukanlah bangsa kami sendiri, jauh berbeda
keadaan mereka ini”.

Dia berjalan terheran-heran makin bertambah banyak juga tolehnya kekiri dan kekanan. Nyata
kebimbangan dalam setiap langkahnya sehingga setiap orang yang melihat kepadanya dapat
mengetahui bahwa dia adalah orang asing yang baru sekali menempuh negeri ini. Salah seorang
penduduk yang melihat akan keadaannya lalu bertanya kepadanya: ” Apakah engkau orang asing di
negeri ini ? Dari manakah asalmu dan apa yang sedang menggoda pikiranmu? Siapakah yang sedang
kau cari?” Mendengar pertanyaan itu, dia lalu menjawab : ”Saya bukan orang asing. Saya sedang
mencari makanan untuk saya beli, dimanakah tempat oranng menjual makanan?” Orang itupun lalu
membawanya ke penjual makanan. Makanan diambilnya dan penghuni gua inipun mengeluarkan uang
yang ada di dalam kantongnya. Alangkah terkejut penjual makanan itu, setelah dilihatnya mata uang
yang dibayarkan pemuda itu adalah mata uang lama yang beredar tiga abad yang silam, yang sudah tak
berlaku lagi disaat itu. Penjual tersebut mengira bahwa pemuda itu telah mendapat harta karun, selain
mata uang yang dilihatnya itu, tentu ada banyak lagi harta kekayaan lainnya. Orang-orang yang berada
di sekitar situ pun berkerumun ingin melihat mata uang itu. Mereka ingin tahu dimana pemuda itu
menyimpan harta-benda tersebut.

Dengan rasa tercengang dan penuh heran, pemuda gua itu lalu berkata: ” Saya bukan mendapat barang
pendaman sebagai yang kamu sangkakan, uang ini adalah uang yang kudapat dari temanku kemarin.
Dengan uang ini saya berniat akan membeli makanan. Kenapa kamu merasa terkejut melihat uangku
ini ? Kenapa kamu menyangka yang bukan-bukan terhadap diriku ?” Pemuda gua itu segera berpaling
hendak melarikan diri karena takut akan terbuka rahasia teman-temannya yang sedang bersembunyi,
menyembunyikan diri dari tangkapan raja negeri itu. Tetapi orang banyak sama menghalanginya.
Dengan sopan, mereka ingin mendengarkan cerita selanjutnya. Dalam percakapan selanjutnya, maka
terbuktilah kepada orang banyak itu bahwa pemuda ini adalah pemuda yang lari dari kepungan raja
pada tiga abad yang silam. Mereka mengetahui akan peristiwa itu dari cerita yang telah masyhur dan
diketahui orang banyak itu. Larinya pemuda-pemuda itu karena tak sudi menjual agamaya kepada raja
yang ganas yang memaksa mereka untuk menyembah batu.

Salah seorang diantara orang banyak itu berkata kepada pemuda itu : ”Janganlah engkau khawatir
kepada raja yang ganas yang engkau katakan tadi. Raja itu sudah mati pada tiga abad yang silam. Raja
yang memerintah sekarang ini adalah seorang raja yang mukmin dan baik hati. Raja kami yang
sekarang ini orang beriman seperti yang kamu imani. Dimanakah teman-temanmu yang lainnya?
Bawalah mereka kemari semuanya!” Barulah pemuda itu insyaf, akan apa sebenarnya yang sudah
terjadi. Dengan keterangan yang amat jelas serta dengan alasan dan bukti-bukti yang cukup terang
maka terbuktilah bahwa mereka berada dalam gua bukan semalam atau setengah hari tetapi sudah tiga
abad lamanya. Segera pemuda itu minta ijin untuk memberitahukan kepada teman-temannya yang
masih bersembunyi dalam gua agar keluar dari persembunyiannya dan menerangkan kepada penduduk
negeri itu akan keadaan yang sebenarnya, apalagi mereka sedang menunggu dengan kelaparan dalam
gua, serta ingin mengetahui keadaan di luar gua. Berita ini segera sampai kepada raja yang shalih, yang
sedang berkuasa di negeri itu. Raja sendiri tampil akan turut menyambut pemuda-pemuda beriwayat itu
dari dalam gua tempat persembunyian mereka. Rajapun ingin mengetahui akan riwayat dan wajah
mereka, selama ini mereka senantiasa menjadi pembicaraan orang banyak saja.

Setelah mereka keluar dari gua itu, mereka disambut raja dan penduduk negeri. Raja membawa mereka
kedalam istana dan diberinya tempat di istana yang indah itu. Para pemuda tadi lalu berkata kepada raja
: ”Kami ini sudah tidak mengharap hidup yang lebih panjang lagi karena kami sudah melewati
beberapa turunan dan kesemuanya telah meninggal dunia bahkan negeri dan gedung-gedung besar yang
dahulupun sudah runtuh semuanya, yang kami lihat sekarang ini adalah serba baru. Kamipun sudah
puas melihat raja dan penduduk yang hidup dinegeri ini sudah sama-sama beriman kepada Allah”. Para
pemuda itu lalu bersujud dan berdoa kehadirat Tuhan, agar Tuhan menurunkan rahmatNya dan agar
Allah mengizinkan mereka pulang ke Rahmat Allah. Tak lama kemudian sesudah mengucapkan doa
itu, mereka lalu menghembuskan nafasnya yang penghabisan dengan tenang dan tenteram.

Keadaan dan kejadian itu menjadi dasar yang kuat sekali bagi mereka untuk tetap iman dan tunduk
kepada Allah, Tuhan Yang Maha Kuasa. Mereka makin percaya bahwa janji Allah itu benar semuanya,
serta hari perbangkitan dan akhirat itupun benar semuanya. Sepeninggal mereka, orang banyak lalu
bertengkar tentang bagaimana cara pemuda-pemuda suci itu dapat diperingati. Ada yang mengusulkan
agar diatas kubur mereka itu didirikan sebuah tugu besar, rumah dan gedung yang dapat menunjukan
kebesaran mereka itu. Tetapi ada juga satu golongan dari orang-orang yang cinta kepada pemuda-
pemuda itu berkata, agar diatas gua mereka itu jangan tugu yang didirikan tetapi mesjidlah supaya dari
dalam mesjid itu orang dapat bersama-sama menyembah dan membesarkan nama Allah dan selalu
insyaf akan ke Maha Besaran Allah. Sebab apa artinya sesuatu peringatan dan penghormatan bila
peringatan dan penghormatan itu tidak dapat membawa orang kepada menghormati dan membesarkan
Allah, Tuhan Yang Maha Terhormat dan Maha Kuasa.

Keterangan:
Orang banyak selalu bertengkar tentang jumlah mereka itu. Ada yang berkata bahwa mereka itu tiga
orang, empat dengan anjingnya. Ada yang mengatakan lima orang enam dengan anjingnya dan ada pula
yang mengatakan tujuh orang, delapan dengan anjingnya.(Sumber: Rangkaian Cerita Dalam Al-quran,
Bey Arifin, Cetakan ke 7 november 71 penerbit al- ma'arif; Ditranskrip Oleh: Andri, Salah satu jamaah
KC)

Membakar Surga

Orang besar tidak butuh surga, maka Rabi'ah al Adawiyah kalau malam dia membawa obor kemana-
mana. Dan ditanya, "Kenapa kamu membawa obor keliling kota?".
Rabi'ah menjawab, "Aku akan membakar surga, supaya Allah tahu bahwa kalau aku cinta kepadaNya,
tidak karena menginginkan surga, tapi karena memang tulus cinta kepadaMu."

Pada saat yang lain Rabi'ah al Adawiyah membawa air didalam ember dan dia berkeliling kota, dengan
mencincing kainnya. Kemudian ditanya, "Untuk apa air itu wahai Rabi'ah?".
Rabia'ah menjawab, "Aku akan siramkan air ini di bara api neraka, sehingga padamlah seluruh neraka.
Supaya Allah tahu bahwa kalau aku mengabdi kepadaNya itu karena aku cinta kepadaNya, tidak peduli
kepada neraka.