Anda di halaman 1dari 37

MAKALAH KIMIA ANALITIK

PEMICU-2
SPEKTROFOTOMETRI

OLEH :
KELOMPOK 4

1. Fairuz Nawfal Hamid

(1306413435)

2. Giovanni Anggasta P. T.

(1306412155)

3. Muh. A. H. Vinci Kurnia

(1306403390)

4. Nadira P. Pinasthika

(1306370814)

5. Nugrahirani Hijrianti

(1306402766)

TEKNOLOGI BIOPROSES
DEPARTEMEN TEKNIK KIMIA
FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS INDONESIA
DEPOK
OKTOBER 2014

KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas rahmat
dan karunia-Nya yang telah dilimpahkan sehingga kami dapat menyelesaikan
makalah kimia analitik yang berjudul SPEKTROFOTOMETRI ini dengan baik.
Makalah kimia analitik ini disusun sebagai salah satu tugas mata kuliah
kimia analitik dari pemicu 1. Selain itu, penulisan makalah ini bertujuan agar
kami dapat memahami definisi spektrofotmetri, jenis-jenis spektrofotometri dan
prinsip dasarnya sehingga kami dapat menyelesaikan masalah yang berkaitan
dengan materi-materi tersebut dalam kehidupan sehari-hari.
Penulis banyak menerima masukan dan bantuan terkait penyusunan
makalah ini. Untuk itu, kami mengucapkan terima kasih kepada :
1. Ibu Dr. Ir. Dianursanti, M.T., selaku dosen mata kuliah Kimia Analitik
yang telah berkenan memberikan pengarahan dan bimbingan kepada
kami selama mempelajari mata kuliah ini.
2. Kak Khansa Zahrani, selaku asisten dosen mata kuliah Kimia Analitik
yang telah membantu kami dalam pemeriksaan tugas dan memberi
informasi terkait cara menyelesaikan tugas dan makalah.
3. Semua pihak yang telah membantu, baik secara langsung maupun
tidak langsung yang tidak dapat kami sebutkan satu per satu.
Kami berharap makalah ini dapat bermanfaat bagi seluruh rekan
mahasiswa serta seluruh kalangan masyarakat. Namun, kami menyadari bahwa
makalah ini masih memiliki banyak kekurangan dari segi ilmiah maupun
penyajiannya. Oleh karena itu, kami sangat mengharapkan kritik dan saran yang
membangun bagi perbaikan makalah di masa yang akan datang.

Depok, 17 November 2014

Penulis

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR

........................................................................... 2

DAFTAR ISI ................................................................................................... 3


BAB I

: PENDAHULUAN ................................................................ 4
1.1 LATAR BELAKANG

BAB II

................................................................ 4

: ISI

....................................................................................... 5

2.1 Topik 1

....................................................................................... 5

SOAL 1

....................................................................................... 5

SOAL 2

....................................................................................... 6

SOAL 3

....................................................................................... 7

SOAL 4

....................................................................................... 10

SOAL 5

....................................................................................... 11

2.2 Topik 2

....................................................................................... 14

SOAL 1

....................................................................................... 14

SOAL 2

....................................................................................... 15

SOAL 3

....................................................................................... 17

SOAL 4

....................................................................................... 19

SOAL 5

....................................................................................... 22

2.3 Topik 3

....................................................................................... 24

BAB III

: PENUTUP ........................................................................... 36

3.1 KESIMPULAN

........................................................................... 36

DAFTAR PUSTAKA ...................................................................................... 36

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG


Merkuri digunakan oleh penambang-penambang emas tradisional untuk
mengikat butiran-butiran emas agar dapat diperoleh dengan mudah dan murah.
Namun, penambang-penambang ini tidak mengetahui dampak buruk dari
penggunaan merkuir baik terhadap dirinya sendiri maupun lingkungan.
Zat aditif pada makanan seperti pewarna, pemanis, penyedap dan lain-lain
telah lazim digunakan masyarakat untuk meningkatkan kualitas makanan. Namun,
banyak oknum nakal yang menyalahgunakan zat-zat berbahaya seperti formalin
dan boraks sebagai bahan tambahan untuk makanan.
Dunia dapat dikatakan sedang mengalami krisi bahan bakar fosil seperti
petrodiesel. Tetapi, baru-baru ini telah dikembangkan bahan bakar diesel berbahan
dasar minyak nabati yang disebut biodiesel. Namun, biodiesel masih baru di
telinga warga Indonesia. Mereka khawatir akan kualitas biodiesel tersebut yang
tidak sebanding dengan kualitas bahan bakar fosil lainnya.
Oleh karena itu, ketiga masalah di atas akan penulis hubungkan dengan
analisis kuantitatif dan kualitatif spektrofotometri.

BAB II
ISI

2.1 Topik 1
SOAL 1
Bagaimana para penambang tersebut menggunakan merkuri dalam melakukan
kegiatan penambangan emas?
Kegiatan

penambangan

emas

secara

tradisional

masih

menggunakan merkuri yang disebut metode amalgamasi. Metode amalgamasi


ialah pengikatan emas menggunakan merkuri (Hg). Metode ini biasanya
digunakan pada usaha pertambangan emas skala kecil. Proses sederhana dari
penambangan emas adalah sebagai berikut :
a) Penambang emas menggali perbukitan yang mengandung emas.
b) Bongkahan hasil galian dibawa ke tempat pendulangan emas.
c) Bongkahan digiling dengan mesin penggiling tradisional untuk menghancurkan
dan memisahkan batuan dengan emas.
d) Setelah proses penggilingan, campuran bahan tersebut dicampur dengan
merkuri untuk mengikat emas. Berdasarkan reaksinya, merkuri (Hg) tidak
bereaksi dengan emas tetapi bereaksi dengan komponen lain selain emas.
Sehingga hasil yang diperoleh berupa emas murni.
e) Tahap pencucian dan penyaringan.
Pada tahap pencucian dan penyaringan inilah, limbah Hg yang
berikatan dengan komponen pengotor seringkali dibuang begitu saja ke
lingkungan atau perairan (sungai). Butiran-butiran halus dari merkuri akan
mudah bercampur dengan komponen-komponen organik di dalam air. Merkuri
dapat mengalami biotransformasi menjadi senyawa organik metil merkuri
(CH3HgCOOH) atau fenil merkuri akibat proses dekomposisi oleh bakteri.
Merkuri organik tidak mudah berdegradasi menjadi merkuri anorganik.
Para penambang emas pada usaha penambangan emas tradisional
umumnya tidak menggunakan alat pelindung diri yang sesuai, oleh karena itu,
paparan merkuri sangat mungkin terjadi pada para pekerja tambang tersebut.

Mereka umumnya terpapar lewat kontak langsung dengan kulit, mengirup uap
merkuri, dan terbiasa mengkonsumsi ikan yang telah terkontaminasi merkuri.

SOAL 2
Mengapa hal ini mengkhawatirkan para pengamat aktivis lingkungan dan
masyarakat lain di sekitarnya?
Dampak Merkuri bagi Kesehatan
a) Merkuri elemental
Apabila terhisap melalui hidung bisa menyebabkan keracunan. Apabila
tertelan, normalnya tidak ada efek toksik karena absorpsinya yang rendah
kecuali apabila tersimpan dalam waktu lama di saluran pencernaan.
Apabila kasus ini terjadi, maka efek yang akan terjadi antara lain mual,
muntah, diare, dan keram perut. Efek lanjutnya dapat merusak saraf pusat
dan akan menyebabkan tremor dan hilang ingatan.
b) Merkuri anorganik
Merkuri jenis ini dapat diabsorpsi lewat saluran pencernaan, paru-paru,
dan kulit sehingga apabila tertelan dapat langsung menimbulkan efek
seperti sakit perut, rasa logam dan rasa panas dalam perut, hipersalivasi,
mual, muntah, bahkan efek lanjutnya dapat menyebabkan gagal ginjal akut
dalam waktu 24 jam.
c) Merkuri organik
Dampak merkuri jenis ini pada saluran pencernaan dalam tubuh lebih
ringan dari merkuri anorganik, tetapi dampaknya terhadap sistem saraf
jauh lebih besar. Dampak yang akan terjadi seperti sulit bicara, halusinasi,
hilang ingatan, gangguan tidur, gangguan pendengaran dan gangguan
penglihatan. Efek lanjutnya adalah dapat menyebabkan koma bahkan
kematian.

Dampak Merkuri bagi Lingkungan


Dampak merkuri terhadap lingkungan yaitu mengurangi jumlah klorofil
tanaman hijaau, mengurangi pertumbuhan tanaman, merusak pertumbuhan akar
dan fungsinya, merusak daun dan menurunkan produksi, mematikan tanaman,
mengurangi perkembangbiakan pada hewan bahkan berujung kematian.
Pencemaran merkuri juga dapat menyebabkan kepunahan lokal dari jenis hewan
tertentu dan dapat menurunkan biodiversitas. Kepunahan suatu spesies tertentu
seperti insektivora atau polinator bisa mempengaruhi diversitas tanaman pula.

SOAL 3
Bila anda termasuk dalam tim independen yang meneliti kasus ini, dan anda
menggunakan AAS (Atomic Absorption Spectrofotometry) untuk menganalisis
kandungan merkuri, rancangan penelitian apa yang akan anda lakukan?
A. Latar Belakang
Sejak atom untuk dasar absorbs atomic tidak tersedia secara bebas, keadaan dasar dalam
suhu ruangan, panas harus diterapkan dalam sampel untuk memecah ikatan atom dalam
molekul besar menjadi beberapa molekul kecil. Pengecualian hal ini terjadi pada merkuri.
Atom merkuri bebas tersedia pada suhu ruangan dan demikian merkuri dapat diukur
dengan abrosbsi atomic tanpa pemanasan sampel sel.
B. Bagian dan Instrumen
Komponen penyusun Cold Vapor Atom Absorption Spectroscopy

Gambar 1. Instrumen alat CVAAS (Cold Vapor Atomic Absorption Spectroscopy)


1. Wadah sampel (S), wadah pereduksi (R), dan wadah larutan pembaur (C)
2. Valves Selenoid. Adalah katub yang menekan sampel, larutan pembawa, dan
bahan pereduksi untuk langsung masuk ke dalam rangkaian instrument
3. P (Peristaltic Pump) adalah pompa yang mengontrol penginjeksian secara
otomatis dalam volume tertentu dari sampel (V3), larutan pembawa (V2), dan
bahan pereduksi (V1) masuk ke dalam Rection coil. V3 dan V1 bersamaan
terbuak, dan setelah 20 detik V2 akan terbuka yang mendorong campuran larutan
sampel dan bahan pereduksi masuk ke Reaction Coil.
4. RC (Reaction Coil) adalah tmpat terjadinya reaksi oksidasi reduksi dari sampel
dan bahan pereduksi yang panjangnya 30 cm
5. Ar (Wadah Argon) adalah gas inert yang mendorong masuknya hasil reaksi dari
sampel dan bahan pereduksi masuk ke Gas Liquid Separator
6. GLS (Gas Liquid Separator) adalah tempat terjadi pemisahan dari gas dan
larutan hasil reaksi di mana gas Argon akan mendorong gas hasil raksi masuk ke
AAS.
7. Tangki pengering. Dalam tangki ini uap air dari GLS kana diseparasi
menggunakan (umumnya) Drierite sehingga hanya uap merkuri serta dan udara
yang lolos.
8. AAS (Atomic Absorption Spectroscopy) adalah instrument yang digunakan untuk
menganalisis kadar logam, yang terdiri dari komponen : Quartz Cell (tempat uap
merkuri mengalir) atau optical cell, heater (pemanans), sumber radiasi (lampu
EDL), monokromator, beam splitter, detector, ampifair. Semua CVAAS
menggunakan electrodeless Hg low pressure discharge lamp (EDL) sebagai
sumber UV. Lampu ini menciptakan sinar emisi dari bandwith sempit yang
kongruen dengan sinar absorpsi dari atom Hg. Lampu ini menciptakan cahaya
dengan panjang gelombang 253,7 nm yang merupakan adsorpsi maksimum
merkuri. EDL mempunyai daya pakai yang lama (20000 jam)

C. Prosedur Analisis
1. Preparasi Sampel
Adal dua metode sistem oksidasi basah yang dalapt dilakukan dalam
preparasi sampel yaitu High Pressure Ashing dan Microwave Digestion
namun Microwave Digestion yang sering dipakai kerena penyiapan sampel

yang praktis. Dalam Microwaye Digestion, peneliti menggunakan bejana


kuarsa/Teflon sebagai tempat sampel merkuri yang ditambahkan reagen
pengoksidan 3 mL HNO3 65% dan 0,5 mL H2O2 30% dnegan daya 600 W,
selama 30 menit. Keunggulan lainnya dari sampel ini yaitu asam yang sedikit
serta penguapan elemen yang dapat ditahan. Di tahap ini terjadi reaksi
oksidasi dimana senyawa merkuri diubah menjadi ionic merkuri
2. Persiapan uap merkuri
Setelah preparasi, sampel didinginkan dalam suhu kamar kemudian
dimasukan ke labu ukur 25 mL dan dicampur dengan HCl 0,2 M. Setelah itu
dibuat larutan pereduksi SnCl2 10% dalam asam klorida karena SnCl2 dapat
mengurangi gangguan dari logam berat lain dalam melakukan analisis.
Selanjutnya disiapkan larutan pembawa HCl 3% v/v, dimana larutan sampel
dimasukkan dalam wadah V3, bahan pereduksi SnCl2 dalam V1, dan katub
selang V1 dan V3 dibuka secara bersamaan, sehingga sampel dan pereduksi
dalam jumLah dan waktu yang sama diinjeksikan ke dalam RC dengan
bantuan pompa (P). dalam RC terjadi reaksi redoks sebagai berikut
Sn2+(aq) + Hg2+(aq) Sn4+(aq) + Hg0(g)
Hasil reaksi tersebut akan didorong oleh gas Argon masuk GLS untuk
memishakan larutan dan gas yang terbentuk dari hasil reaksi, gas Hg yang
terbentuk didorong oleh gas Argon masuk ke sel optic. Sebelumnya gas
disaring oleh Drietine dalam tabung pengering hingga menghasilkan gas
Hg0 murni.
3. Pengukuran
Monokromator dari AAS diatur ke panjang gelombang 254 nm. Radiasi dari
sinar 253,7 nm EDL melewati sel optic (sel quartz), yang ditempatkan dalam
jalur sinar. Adsorbennya secara langsung proporsional dengan konsentrasi
merkuri dalam sel yang merepresentasikan konsentrasi dari merkuri dalam
sampel. Larutan yang telah diketahui konsentrasi merkuri dikalibrasi larutan.

D. Keunggulan
Instrumen CVAAS modern memiliki keunggulan yang berupa sensitive, otomatis
peralatan yang kecil, observasi yang cepat, dan murah dibanding dengan spectrometer
api. Sekarang CVAAS mendeteksi hingga bagian bagian terkecil per triliun,
menganalisa sampel hingga 1 menit, langkah pengoperasian yang sederhana, dan
peralatan yang hanya butuh ruang seluas 2 kaki persegi.

SOAL 4
Teknik pengambilan data analisis apa yang akan anda lakukan dengan metode
AAS ini?
Teknik pengambilan data analisis yang akan digunakan dalam analisis
kandungan merkuri dengan metode AAS kalo ini adalah metode standar tunggal.
Metode ini sangat mudah dan praktis karena hanya menggunakan sebuah larutan
standar yang telah diketahui nilai konsentrasinya (Cstd). Kemudian, nilai
absorbansi larutan standar dan larutan sampel diukur menggunakan alat
spektrometer. Data nilai absorbansi kemudian diolah berdasarkan persamaan
Hukum Beer sebagai berikut,

sementara,

sehingga,

dengan A adalah nilai absorbansi larutan dan C adalah nilai konsentrasi larutan.
Maka, dengan mengukur nilai absorbansi kedua larutan (standar dan
sampel), konsentrasi larutan sampel dapat dicari.

10

SOAL 5
Bila pihak lain meragukan kecanggihan AAS yang anda gunakan, bagaimana
meyakinkan pihak tersebut? Jelaskan lebih rinci karena orang yang anda hadapi
tidak tahu sama sekali mengenai metode AAS
Definisi, Bagian dan Prinsip Kerja AAS (Atomic Absorption
Spectrofotometry)
Spektrofotometri Serapan Atom atau yang dalam bahasa inggris disebut
AAS adalah suatu alat yang digunakan pada metode analisis untuk penentuan
unsur-unsur logam dan metalloid yang pengukurannya berdasarkan penyerapan
cahaya dengan panjang gelombang tertentu oleh atom logam dalam keadaan bebas
(Skoogen al., 2000). Metode ini sangat tepat untuk analisis zat pada konsentrasi
rendah. Teknik ini mempunyai beberapa kelebihan dibandingkan dengan metode
spektrofotoskopi emisi konvensional. Memang selain dengan metode serapan
atom, unsur-unsur dengan energy eksitasi rendapat dapat juga dianalisis dengan
fotometri nyala, akan tetapi fotometri nyala tidak cocok untuk unsur-unsur dengan
energy eksitasi tinggi.
Prinsip kerja AAS adalah absorpsi cahaya oleh atom. Atom-atom tersebut
menyerap cahaya tersebut pada panjang gelombang tertentu, tergantung pada sifat
unsurnya. Sinar yang diserap biasanya ialah sinar ultraviolet dan sinar tampak.
Hukum absorpsi sinar ultraviolet, sinar tampak maupun inframerah, juga berlaku
pada SSA. Perbedaan analisi Spektrofotometri Serapan Atom (SSA) dengan
spektrofotometri molekul adalah peralat dan bentuk spectrum absorpsinya. Setiap
alat AAS (dalam bahasa inggris) atau SSA terdiri atas tiga komponen utama,
yaitu:
1. Unit atomisasi (atomisasi dengan nyala dan tanpa nyala)
2. Sumber radiasi
3. Sistem pengukur fotometri
Sistem atomisasi dengan nyala biasanya menggunakan udara asetilen dan nitous
oksida-asetilen.

Biasanya

sampel

akan

11

diubah

menjadi

aerosol

dngan

menggunakan Nebulizer uang selanjutnya akan dicampurkan dengan nyala di


ruang penyemprot (chamber spray).
Sistem atomisasi nyala api lebih dikenal dengan nama GFAAS. GFAAS
dapat mengatasi kelemahan dari sistem nyala seperti sensitivitas, jumlah sampel
dan penyiapan sampel. Ada tiga tahap atomisasi dengan metode ini:
1. tahap pengeringan atau penguapan larutan
2. tahap pengabutan atau penghilangan senyawa-senyawa organic
3. tahap atomisasi
sebaiknya metode GFAAS digunakan untuk unsur yang dapat bereaksi dengan
grafit, sedangkan metode nyala dengan nitrou oksida-asetilen digunakan untuk
menganalisis unsur yang mudah membentuk oksida dan sulit terurai. Begitupun
sebaiklnya untuk udara asetilen.
Bagian-bagian pada AAS adalah:
a. Lampu katoda
Lampu katoda memiliki masa pakai 1000 jam. Lampu katoda pada setiap
unsur yang akan diuji berbeda-beda tergantung unsur yang akan diuji.
Lampu katoda dibagi menjadi dua macam:
-

Lampu katoda monologam untuk mengukur satu logam

Lampu katoda multilogam untuk mengukur lebih dari satu logam

b. Tabung gas
Tabung gas ini berisi gas asetilen. Gas asetilen pada AAS memiliki kisaran
suhu kurang lebih 2000 K da nada juga tabung gas yang berisi gas N2O
yang lebih panas dari gas asetilen,

c. Ducting
Ducting merupakan bagian cerobong asap untuk menyedot asap atau sisa
pembakaran pada AASm yang langsung dihubungkan pada atap bangunan,
agar asap yang dihasilkan tidak mencemari lingkungan.

12

d. Kompresor
Kompresor merupakan alat yang terpisah dengan unit utama, karena alat
ini berfungsi untuk mensuplai kebutuhan udara yang akan digunakan oleh
AAS pada waktu pembakaran atom.
e. Burner
Burner merupakan bagian paling penting dalam unit utama karena burner
berfungsi sebagai tempat pencampuran gas asetilen dan aquabides agar
tercampur merata.

f. Monokromator
Monokromator berfungsi untuk mengisolasi salah satu garis resonansi atau
radiasi dari sekian banyak spectrum uang dihasilkan oleh lampu pijar
hollow cathode atau untuk mengubah sinar polikromatis menjadi sinar
monokromatis sesuai yang dibutuhkan oleh pengukuran.

g. Detektor
Detector ada dua macam yaitu detector foton dan detector panas. Detector
panas biasa dipakai untuk mengukur radiasi inframerah termasuk
termokopel dan bolometer. Detector foto biasanya bekerja berdasarkan
efek fotolidtrik, dalam hal ini setiap foto akan membebaskan elektro (satu
foto satu elektro) dari bahan yang sensitive terhadap cahaya.

Kelebihan dan Kelemahan AAS (Atomis Absorption Spectrofotometry)


Keuntungan metode AAS dibandingkan dengan spektrofotometer biasa
yaitu spesifik, batas deteksi yang rendah dari larutan yang sama bisa mengukur
unsur-unsur yang lain, pengukurannya langsung terhadap contoh, output dapat
langsung dibaca, cukup ekonomis, dapat diaplikasikan pada banyak jenis unsur,
batas kadar penentuan luas (dari ppm sampai %).

13

2.2 Topik 2
SOAL 1
Mengapa banyak pedagang bakso yang menggunakan bahan-bahan aditif tersebut
untuk produk makanan mereka?

Zat aditif makanan adalah semua baha yang ditambahkan ke dalam makanan selama
proses pengolahan, penyimpanan, atau pengepakan makanan. Pada awalnya, orang hany
menggunakan bahan aditif makanan yang alami, seperti gula, cabai, kunyit, garam dan
merica. Akan tetapi, dengan perkembangan industri makanan yang membutuhkan
makanan dalam jumlah yang besar dan waktu penyimpanan yang lebih lama, orang mulai
memproduksi dan menggunakan bahan sitetis. Berdasarkan fungsinya, zat aditif makanan
dapat digolongkan ke dalam pewarna, pemanis, pengawet, penyedap, antioksidan,
penambah gizi, pengemulsi, pengatur keasaman, pembentu serat, anti kempal, pemutih
atau

pemucat,

perenyah,

pengisi,

pemantap,

zat

pengering,

pencegah

buih,

pengkilap/pekembab, dan pencegah lengket. Zat aditif makanan dapat dikategorikan


menjadi dua macam yaitu
a. zat aditif alami: bahan tambahan yang terdapat dalam tumbuhan atau hewan yang
dikonsumsi manusia
b. zat aditif buatan: bahan tambahan hasil olahan manusia

Keuntungan dari penggunaan zat aditif untuk makanan adalah dapat meningkatkan
mutu makanan. Zat aditif berguna untuk membuat makanan memiliki bentuk yang lebih
menarik dengan rasa yang enak, rupa dan konsentrasinya baik serta awet. Namun
penggunaan bahan aditif diatur dalam UU No. 7 Tahun 1996 tentang Pangan Pasal 10
ayat 1 dan 2 yang intinya untuk melindungi konsumen agar penggunaan bahan tambahan
(zat aditif) makanan tersebut benar-benar aman dikonsumsi.
Undang-undang tersebut diluncurkan untuk mengurangi pengaruh negative zat aditif
terhadap kesehatan. Beberapa zat aditif akan bersifat karsionogenik (dapat menyebabkan
kanker) jika digunakan berlebihan, mengakibatkan gangguan pada sistem saraf, ginjal,
hati dan kulit, gejala pendarahan di lambung, gangguan stimulasi saraf pusat dan lainlain.

14

SOAL 2
Dapatkah Anda menjelaskan efek berbahaya dari penggunaan formalin dan fosfat
dalam makanan bakso bagi kesehatan?

Efek Berbahaya Formalin


Formalin adalah larutan yang tidak berwarna dan berbau sangat
menusuk. Umumnya, formalin digunakan dalam bidang kesehatan, industri
kayu, industri plastik, industri tekstil, resin, karet, dan fotografi. Namun, kini
marak penggunaan formalin sebagai zat aditif pada bahan makanan, termasuk
dalam bakso.
Dampak formalin bagi manusia ada 2 macam, yaitu:

1. Akut (terlihat langsung)

Bila terhirup
Iritasi pada hidung dan tenggorokan, gangguan pernafasan, rasa terbakar pada
hidung dan tenggorokan serta batuk-batuk. Kerusakan jaringan dan luka pada
saluran pernafasan seperti radang paru dan pembengkakan paru. Tanda-tanda
lainnya meliputi bersin, radang tekak, radang tenggorokan, sakit dada, yang
berlebihan, lelah, jantung berdebar, sakit kepala, mual dan muntah. Pada
konsentrasi yang sangat tinggi dapat menyebabkan kematian.

Bila terkena kulit


Perubahan warna kulit, yakni kulit menjadi merah, mengeras, mati rasa dan ada
rasa terbakar.

Bila terkena mata


Iritasi mata sehingga mata memerah, rasanya sakit, gata-gatal, penglihatan
kabur dan mengeluarkan air mata. Bila merupakan bahan berkonsentrasi tinggi
maka formalin dapat menyebabkan pengeluaran air mata yang hebat dan terjadi
kerusakan pada lensa mata.

Bila tertelan
Mulut, tenggorokan dan perut terasa terbakar, sakit menelan, mual, muntah dan
diare, kemungkinan terjadi pendarahan, sakit perut yang hebat, sakit kepala,
hipotensi (tekanan darah rendah), kejang, tidak sadar hingga koma. Selain itu
juga dapat terjadi kerusakan hati, jantung, otak, limpa, pankreas, sistem
susunan syaraf pusat dan ginjal.

15

2. Kronik (jangka panjang)

Bila terhirup
Sakit kepala, gangguan sakit kepala, gangguan pernafasan, batuk-batuk, radang
selaput lendir hidung, mual, mengantuk, luka pada ginjal dan sensitasi pada
paru.

Efek

neuropsikologis

keseimbangan

terganggu,

meliputi
kehilangan

gangguan

tidur,

konsentrasi

dan

cepat

marah,

daya

ingat

berkurang. Gangguan haid dan kemandulan pada perempuan. Kanker pada


hidung, rongga hidung, mulut, tenggorokan, paru dan otak.

Bila terkena kulit


Kulit terasa panas, mati rasa, gatal-gatal serta memerah, kerusakan pada jari
tangan, pengerasan kulit dan kepekaan pada kulit, dan terjadi radang kulit yang
menimbulkan gelembung.

Bila terkena mata


Radang selaput mata.

Bila tertelan
iritasi pada saluran pernafasan, muntah-muntah dan kepala pusing, rasa
terbakar pada tenggorokan, penurunan suhu badan dan rasa gatal di dada.

Efek berbahaya Fosfat


Fosfat yang sering digunakan sebagai zat aditif pada bakso adalah
STPP atau Sodium tripolifosfat adalah bahan kimia berbentuk serbuk atau
butir-butir halus berwarna putih. Penambahan fosfat yang sesuai dengan
ambang batas tidak membawa pengaruh buruk bagi kesehatan dan akan
membawa dampak positif bagi tubuh manusia. Bila penggunaan fosfat dalam
makanan melebihi ambang batas, dapat membawa efek berbahaya bagi tubuh
manusia seperti obesitas, batu ginjal, kerusakan gigi, osteoporosis, dan dapat
menimbulkan penyakit jantung.

16

SOAL 3
Bila Anda termasuk dalam anggota tim yang meneliti tentang kadar formalin
dalam daging bakso dan Anda menggunakan spektrofotometri UV-Vis, rancangan
penelitian apa yang akan Anda lakukan?
Penelitian dirancang dengan tujuan mengetahui kadar formalin dalam
daging bakso. Oleh karena itu, analisis yang digunakan ialah analisis kuantitatif
menggunakan metode spektrofotometri UV-Vis. Langkah-langkah yang
dilakukan dalam penelitian ini meliputi :
a) Pengambilan sampel (sampling)
b) Pembuatan sampel analisis
c) Pembuatan pereaksi Nash
d) Analisis Spektrofotometri UV-Vis
e) Analisis kurva kalibrasi

A) Pengambilan Sampel (Sampling)


Sampel dapat dengan mudah diperoleh dari daging bakso yang dijual di
pasaran. Ambil sampel dari bakso yang berbeda-beda misalnya berdasarkan
karakteristik warna, kekenyalan, bentuk, dan lain sebagainya.
B) Pembuatan Sampel Analisis
Sampel daging bakso perlu diolah kembali agar sesuai dengan kebutuhan
sampel

untuk

analisis

spektrofotometri

UV-Vis

atau

disebut

juga

spektrofotometri sinar tampak. Prosedurnya yaitu :


1) Menimbang 5 gram bakso yang telah diparut.
2) Menyiapkan 100 mL aquades bebas ion dalam 100 mL labu ukur.
3) Lima gram sampel bakso dalam gelas kimia, ditambah aquades bebas ion yang
telah disiapkan dan aduk hingga tercampur merata.
4) Memasukkan larutan campuran tersebut ke dalam labu destilasi.

17

5) Gelas kimia dibilas dengan aquades bebas ion dan dimasukkan ke dalam labu
destilasi sehingga nanti dalam labu destilasi mengandung aquades bebas ion
100 mL.
6) Campuran tersebut didestilasi sampai keluar destilat sebanyak 5 mL. Destilat
inilah yang menjadi sampel dalam analisis spektrofotometri UV-Vis.
7) Prosedur di atas diulang sebanyak 3 kali. Tujuannya ialah untuk memperoleh
variasi data dari sampel yang digunakan.

C) Pembuatan Pereaksi Nash


Pereaksi Nash adalah jenis pereaksi yang umum digunakan untuk
menganalisis kadar formalin dalam suatu sampel. Pereaksi Nash dibuat dengan
2 mL asetil aseton, 3 mL asam asetat dan 150 g amonium asetat dilarutkan
dengan air suling dan dicukupkan volumenya hingga 1 L.
D) Analisis Spektrofotometri UV-Vis
Analisis kimia dengan metode spektrofotometri membutuhkan alat diantaranya
penangas air (waterbath), spektrofotometer ultraviolet-visible, kuvet, serta
bahan-bahan yang telah disiapkan sebelumnya ( larutan sampel dan pereaksi
Nash). Prosedurnya yaitu :
1) Mengambil masing-masing 1 mL larutan sampel ditambah dengan 1 mL
aquades bebas ion, 2 mL reagen Nash dan dipanaskan pada suhu 37 oC selama
30 menit pada waterbath.
2) Membuat larutan blangko yang terdiri dari 2 mL aquades bebas ion dan 2 mL
reagen Nash yang telah di panaskan pada suhu 37 oC selama 30 menit pada
waterbath.
3) Kedua larutan tersebut kemudian didinginkan (didiamkan) selama 30 menit.
4) Letakkan sampel dan blangko pada kuvet kemudian mengukur absorbansi
masing-masing larutan pada panjang gelombang maksimum 415 nm.
E) Analisis Kurva Kalibrasi

18

Kurva kalibrasi diperoleh dari tingkat absorbansi sampel dan blangko pada
panjang gelombang maksimum dengan berbagai variasi sampel. Kemudian dari
kurva kalibrasi tersebut, kita dapat memperoleh konsentrasi formalin dalam
bakso dari persamaan garis pada kurva. (lebih detailnya akan dijelaskan pada
pembahasan soal berikutnya)
.
SOAL 4
Bagaimana anda melakukan analisis kuantitatif suatu senyawa dengan
menggunakan

metode

spektrofotometri

UV-Vis?

Berikan

suatu

contoh

pengolahan data spektroskopi UV-Vis untuk menentukan konsentrasi suatu


senyawa dalam suatu cuplikan!
A. Standar Eksternal dan Kurva Kalibrasi
Misalkan kita diberikan data konsentrasi standar pada table 1

Tabel 1. Data konsentrasi standar beserta adsorbansinya


Concentration in M

Measured absorbance

5.00

0.150

10.00

0.310

15.00

0.440

20.00

0.600

25.00

0.760

Dari table ini ditentukan bahwa nilai konsentrasi standar adalah nilai x dan nilai
adsorbansi bernilai y pada persamaan y = mx a. Dari table 1 didapatkan nilai persamaan
linear :
y = 0,0302x 0,001 (1)
Persamaan (1) merupakan nilai persamaan garis dari kurva kalibrasi standar. Apabila
digambarkan dalam grafik, maka didapatkan grafik seperti berikut.

19

Gambar 2. Kurva kalibrasi data pada Tabel 1


Misalkan diketahui larutannya memiliki nilai adsorbansi 0,421. Maka nilai adsorbansi
disubstitusikan ke nilai y pada persamaan (1) . Sehingga didapatkan nilai x yang
merupkan nilai konsentrasi larutan, yaitu 13,97 M.
B. Metode Standar Adisi
Misalkan kita akan menentukan kadar Fe3+ dalam 10 mL sampel air. Maka kita dapat
menentukan konsentrasinya dengan menambahkan 5 volumetri berisi sampel dengan
0,00, 5,00, 10,00, 15,00, dan 20,00 mL larutan standar yang mengandung 11,1 ppm Fe3+.
Hasil penambahan larutan standar pada 5 volumetri ini diukur adsorbansinya dengan
panjang gelombang 480 nm. Hasil pengukurannya dapat dilihat di table 2.
Tabel 2. Hasil pengukuran adsorbansi setelah penambahan mL larutan adisi Fe3+ 11,1
ppm
Volume of standard added

Measured adsorbance

0.00

0.240

5.00

0.437

10.00

0.621

15.00

0.809

20.00

1.009

20

Menggunakan regresi linear kita dapat menentukan kadar Fe3+ dalam 10 mL sampel.
Untuk menggunakan metode ini ditentukan nilai x pada persamaan y = mx a sebagai
nilai volume standar yang ditambahkan dan y sebagai nilai absorbansi yang didapatkan.
Persamaan dari garis dapat didaptakan dengan persamaan

As = mVs + b (3)
dimana m = kCs dan b = kVxCx
Sehingga didapatkan nilai

Dari table 2 dihasilkan persamaan garis : y = 0,0382x + 0,2412. Disubstitusikan pada


persamaan (3) dan (4) maka didapatkan nilai konsentrasi sebesar 7,01 ppm.
C. Analisis Campuran
Misalkan diketahui molar absortivitas Titanium pada 400 dan 460 nm sebesar 644 L mol1 cm-1 dan 321 L mol-1 cm-1 dan molar absortivitas Vanadium pada gelombang yang
sama 145 L mol-1 cm-1 dan 232 L mol-1 cm-1. Suatu sampel campuran Vanadium dan
Titanium dicampur kemudian diukur pada 400 dan 460 nm panjang gelombang dan
didapatkan nilai adsorbansi masing masing 0,172 dan 0,116. Maka untuk menentukan
konsentrasi dari Titanium dan Vanadium dapat ditentukan dengan persamaan
A400 = Ti (400)bCTi + V (400)bCV (5)
A460 = Ti (460)bCTi + V (460)bCV (6)
Substitusikan nilai nilai yang telah diketahui ke persamaan (5) dan (6) dengan ninlai
molar absortivitas dikali dengan b = 1,00 cm didapatkan persamaan :
0,172 = 644cTi + 145 cV (7)
0,116 = 321cTi + 232 cV (8)

21

Dengan menyelesaikan kedua persamaan maka didapat konsentrasi Titanium sebesar


0,000224 dan konsentrasi Vanadium sebesar 0,000189

SOAL 5
Bagaimana anda meyakinkan teman-teman dalam tim bahwa penggunaan
spektroskopi UV-Vis dalam menentukan kadar formalin ini sudah tepat? Jelaskan
lebih rinci mengenai metode ini!

Definisi Metode Spektofotometri UV-Vis


Spektofotometri UV-Vis (Ultra Violet Visible) adalah anggota teknik analisis
spektroskopik yang menggunakan sumber radiasi elektromagnetik ultraviolet
dekat (190-380 nm) dan sinar tampak (380-780 nm). Spektofotometri melibatkan
energi elektronik yang cukup besar pada molekul yang dianalisis sehingga teknik
ini lebih banyak digunakan untuk analisis kuantitatif dibandingkan kualitatif.
Spektofotometri juga merupakan pengukuran serapan cahaya oleh suatu senyawa.
Serapan cahaya ultraviolet atau cahaya tampak mengakibatkan transisi elektronik,
yaitu promosi elektron dari orbital dasar yang berenergi rendah ke orbital
berenergi lebih tinggi.
Alat dan Komponen yang Digunakan pada Spektofotometri UV-Vis
Alat utama yang digunakan dalam metode ini adalah spektofotometer UVVis. Alat ini digunakan untuk mengukur transmitansi, reflektansi, dan absorbansi
dari cuplikan sebagai fungsi dari panjang gelombang. Suatu spektofotometer
tersusun dari sumber spektrum sinar tampak yang kontinyu dan monokromatis.
Terdapat beberapa komponen yang terdapat pada spektofotometer UV-Vis yaitu
sumber cahaya, monokromator, tempat sampel, dan detektor.
a) Sumber Cahaya
Sumber cahaya pada spektofotometer harus memiliki pancaran radiasi
yang stabil dan intensitasnya tinggi.
b) Monokromator

22

Monokromator atau pembaur cahaya akan memberikan sinar berwarna


seperti pelangi.
c) Tempat sampel (kuvet)
Tempat sampel ini digunakan untuk menaruh cairan ke dalam berkas
cahaya spektofotometer.
d) Detektor
Detektor berfungsi untuk menangkap dan membaca sinar yang diteruskan
oleh larutan.
Prinsip Kerja Spektofotometer UV-Vis
Cahaya yang berasal dari lampu wolfram bersifat polikromatis, kemudian
akan diteruskan melalui lensa menuju monokromator dan filter cahaya. Berkasberkas ccahaya dengan panjang gelombang tertentu akan dilewatkan pada sampel
yang mengandung suatu zat dalam konsentrasi tertentu. Oleh karena itu, akan ada
cahaya yang diabsorbsi dan ada cahaya yang dilewatkan. Cahaya yang dilewatkan
ini akan diterima oleh detektor. Detektor kemudian akan menghitung cahaya yang
diterima dan akan dapat menghitung cahaya yang terabsorbsi. Cahaya yang
terabsorpsi sebanding dengan konsentrasi zat yang terkandung dalam sampel
sehingga akan diketahui konsentrasi zat tersebut.
Kelebihan Metode Spektofotometri UV-Vis
Kelebihan dari metode ini adalah pertama, penggunaanya luas. Metode ini
dapat digunakan untuk senyawa organik, anorganik, dan biokimia yang diserap di
daerah ultraviolet atau daerah tampak. Kelebihan yang kedua yaitu sensitivitasnya
tinggi. Batas deteksi untuk mengabsorbsi berada pada jarak 10-4 sampai 10-5 m
bahkan dapat diperpanjang menjadi 10-6 sampai 10-7 m dengan prosedur yang
pasti. Kelebihan ketiga adalah selektivitasnya berada pada range sedang sampai
tinggi. Jika panjang gelombang dapat ditemukan dimana analit mengabsorbsi
sendiri, persiapan menjadi tidak perlu. Kelebihan yang keempat, ketelitiannya
baik. Kesalahan relatif pada konsentrasi yang ditemui dengan metode ini berkisar
pada nilai 1-5%. Dan yang terakhir, metode ini mudah dilakukan. Selain itu
kinerjanya cepat dengan instrumen modern. Pembacaan alatnya pun otomatis.

23

2.3 Topik 3
Berikan penjelasan mengenai masing-masing mengenai spektra diatas. Berikan
kesimpulan struktur senyawa yang dianalisa beserta argumentasinya!

PETRODIESEL
Minyak diesel adalah hasil produksi dari minyak bumi dan kadang-kadang
disebut sebagai petrodiesel, namun saat ini telah dikenal bahan bakar diesel yang
bersumber pada minyak nabati yang disebut biodiesel. Petrodiesel adalah suatu
campuran hidrokarbon yang diperoleh dari hasil destilasi bertingkat dari crude oil
pada suhu antara 200 derajat Celsius dan 350 derajat Celsius pada tekanan
atmosfir.

Kelebihan petrodiesel adalah:


-

lebih ekonomis

emisi CO2 lebih rendah dari bensin

tidak terlalu mudah terbakar jika dibandingkan dengan bensin

efisiensinya lebih tinggi

lebih aman

jarak yang dapat ditempuh lebih jauh

Kelemahan petrodiesel adalah:


-

petrodiesel tidak dapat diperbaharui dan membutuhkan jutaan tahun


untuk membentuknya kembali

kandungan sulfurnya lebih tinggi yang dapat menyebabkan hujan asam

petrodiesel tidak sebersih dan seefisien gas alam

negara-negara penghasil petrodiesel secara politik tidak stabil

membutuhkan biaya yang besar dalam memperolehnya

sangat beracun

24

BIODIESEL
Biodiesel adalah suatu bahan bakar diesel alternatif yang berasal dari
sumber terbaharui (bio = makhluk hidup) seperti minyak nabati, lemak hewani,
minyak jelantah (minyak yang telah digunakan untuk memasak), hingga sumber
terkini yaitu alga. Biodiesel tidak mengandung bahan-bahan minyak bumi
layaknya petrodiesel, namun dapat dikombinasikan dengan petrodiesel. Biodiesel
bukan merupakan minyak sayur mentah, melainkan diolah sedemikian rupa
sehingga dapat digunakan pada mesin diesel pada kendaraan bermotor. Biodiesel
juga berbeda dengan etanol/bioetanol karena memiliki komposisi dan fungsi yang
berbeda dengan etanol. Tetapi, biodiesel dan bioetanol termasuk ke dalam biofuel,
yaitu bahan bakar alami.

1. Keunggulan Biodiesel
Berikut beberapa keuntungan yang dapat diperoleh dari penggunaan
biodiesel :
a) Angka setana (cetane number) tinggi, yaitu >50. Semakin tinggi angka setana,
semakin cepat dan efektif pembakaran yang terjadi pada mesin diesel, sehingga
semakin baik efisiensi termodinamisnya.
b) Titik kilat tinggi, yaitu suhu terendah yang dapat menyebabkan uap biodiesel
menyala, sehingga biodiesel lebih aman dari bahaya kebakaran (faktor resiko
lebih rendah).
c) Tidak mengandung emisi sulfur dan benzena yang bersifat karsinogen.
d) Dapat diurai secara alami karena terbuat dari bahan alami (biodegradable)
e) Viskositas lebih tinggi sehingga kualitas pelumasan pada mesin lebih baik.
f) Mudah dicampur dengan petrodiesel biasa (solar).
g) Penambahan biodiesel 5%-10% sudah mampu mengurangi angka jumlah kadar
asap hitam dan gas buang mesin diesel secara signifikan.
h) Tidak memerlukan modifikasi mesin yang ada.
i) Emisi lebih rendah dibandingkan petrodiesel.

25

Tabel 3. Perbandingan Emisi dari Biodiesel dan Petrodiesel


Perbedaan

Emisi

Satuan

Biodiesel

Petrodiesel

SO2

ppm

78

-100

CO

ppm

10

40

-75

NO

ppm

37

64

-42

NO2

ppm

O2

%-b

6,6

-9

Total partikulat

Mg/Nm3

0,25

5,6

-96

Benzena

mg/Nm3

0,3

5,01

-99,9

Toluena

mg/Nm

0,57

2,31

-99,9

Xylene

mg/Nm3

0,73

1,57

-99,9

Etilbenzena

mg/Nm3

0,3

0,73

-59

(%)

2. Kekurangan Biodiesel
Berikut beberapa kekurangan dari penggunaan biodiesel :
a) Biodiesel saat ini dikhawatirkan dapat mempengaruhi tingkat kebutuhan pangan
dan harga pangan. Hal ini karena sumber biodiesel dianggap masih potensial
digunakan untuk bahan pangan dan kebutuhan sehari-hari.
b) Ketergantungan biodiesel pada bahan pangan seperti kedelai dan jagung juga
mempengaruhi penggunaan lahan untuk menanam tanaman tersebut. Hal ini dapat
meningkatkan jumlah lahan terbuka baru (overfarming).
c) Biodiesel 20 kali lebih rentan terhadap kontaminasi air dibanding petrodiesel. Hal
ini dapat menyebabkan korosi, kerusakan filter, pitting pada piston, dan
sebagainya.
d) Biodiesel lebih mahal dari petrodiesel.
e) Kandungan energi yang dihasilkan biodiesel lebih sedikit dibanding petrodiesel.
f) Biodiesel dapat melepas oksida nitrogen di udara yang dapat menyebabkan
pembentukan kabut asap.

26

g) Viskositas biodiesel yang tinggi juga dapat menimbulkan kerugian karena


penyimpanan yang terlalu lama akan membuatnya sedikit lebih gel (kental). Hal
ini dapat terjadi di dalam mesin.

SPEKTROFOTOMETRI MASSA
A. Definisi Spektrofotometri MS
Spektrofotometri massa tidak seperti metoda spektroskopi yang lain, tidak
melibatkan interaksi antara radiasi elektromagnetik dan materi. Teknik ini
merupakan teknik analisis instrumental untuk membantu identifikasi dan elusidasi
struktur molekul senyawa murni berdasarkan massa milik relative ionnya/ion
fragmennya. Spektrofotometer massa adalah alat untuk menentukan struktur
kimia dari molekul organic berdasarkan perhitungan massa dari molekul tersebut
serta pola fragmentasinya.
B. Prinsip Dasar Spektrofotometri MS
Dalam spektrofotometri massa, molekul sampel dalam fase uap dibombardir
dengan electron berenergi tinggi (70 eV) yang menyebabkan lepasnya satu
molekul electron dari kulit valensi molekul tersebut. Molekul yang kehilangan
satu electron akan menjadi suatu kation radikal
M + e- M+ + 2eTahap ini dinamakan ionisasi. Kation radikal hasil ionisasi mengandung semua
atom atom dari molekul dan disebut ion molekul, dan dinyatakan dengan M+.
Sebagian hasil dari tabrakan dengan electron berenergi tingg, ion molekul akan
mempunyai energy yang tinggi dan dapat pecah menjadi fragmen yang lebih kecil
(kation, radikal, atau molekul netral).
M+ m1+ + m2 atau m1+ + m2
Contoh fragmentasi :

27

ABC+ AB+ + C A + B+ + C
Ion molekul, ion fragmen, dan ion radikal fragmen dipisahkan menggunakan
medan magnet sesuai dengan perbandingan massa/muatannya (m/z), dan
menghasilkan arus listrik (arus ion) pada kolektor/detektro yang sebanding
dengan kelimpahan relatifnya. Fragmen dengan m/z yang besar akan turun
terlebih dahulu diikuti fragmen dengan m/z yang lebih kecil. Partikel netrial (yang
tak bermuatan) yang dihasilkan dalam fragmentasi tidak terdeteksi secara
langsung dalam spectrometer massa. Kebanyakan kation yang dihasilkan dalam
spectrometer massa mempunyai muatan = 1 (z = 1), sehingga m/z secara langsung
menunjukkan massa dari kation tersebut
C. Instrumen dan Cara Kerja Spektrofotometri MS
Secara sederhana, instrument spektrofotometri massa dapat digambarkan dalam
skema pada gambar 2

Gambar 1. Instrumen dari alat spektrofotometri massa

28

Gambar 1. Diagram alat spektrofotometer massa


Dari diagram pada gambar 2, bisa dilihat beberapa bagian bagian yang
menyusun alat spektrofotometri massa. Beberapa bagian yang penting yaitu :
a. Ruang Ionisasi
Bagian ini berperan untuk mengubah molekul molekul cuplikan menjadi
partikel bermuatan (bias positif atau negative) yang massanya beragam.

b. Analyzer
Merupakan alat pendispersi yang berfungsi sama seperti prisma. Disperse
ini didasarkan pada massa partikel partikel bermuatan. I
Secara ringkas cara kerja dari alat spektrofotometri massa dapat dijelaskan
sebagai berikut. Sampel diuapkan di bawah vakum dan diionkan menggunakan
berkas electron. Ion sampel dipercepat menggunakan medan listrik memasuki
analyzer dan dilalukan dalam medan magnet. Dalam kekuatan medan magnet
yang diberikan, hanya ion ion positif dan radikal positif akan difokuskan ke
detector, sedang ion ion yang lain (radikal netral) akan dibelokkan ke dinding
tabutn. Ion dengan m/z lebih besar kana mencapai detector lebih dulu diikuti m/ z
yang lebih kecil. Arus listrik yang diterima detector akan diperkuat dan spectrum
massa dari sampel akan direkam.

SPEKTROFOTOMETRI INFRAMERAH

29

1.

Definisi dan Prinsip


Spektofotometri infra merah adalah sebuah metode analisis instrumental pada

senyawa kimia dengan memanfaatkan radiasi sinar infra merah. Spektofotometri


IR berguna untuk mengetahui gugus fungsi yang terdapat dalam suatu senyawa
organik. Bila suatu senyawa diradiasi menggunakan sinar infra merah, sebagian
sinar akan diserap oleh senyawa, sedangkan sisanya akan diteruskan. Serapan ini
dikarenakan molekul senyawa organik mempunyai ikatan yang dapat bervibrasi.
Vibrasi molekul dapat dialami oleh semua senyawa organik, masing-masing
ikatan mempunyai sifat vibrasi yang khas. Banyaknya sinar yang melewati
senyawa tersebut diukur sebagai persen transmitansi. Informasi absorbsi
inframerah umumnya diberikan dalam bentuk spektrum dengan panjang
gelombang atau bilangan gelombang sebagai absis x dan intensitas absorbsi atau
persen transmitansi sebagai ordinat y.

2.

Instrumen

Alat yang digunakan untuk mengukur absorbsi inframerah pada berbagai


gelombang disebut spektrometer IR, dengan komponen sebagai berikut:

Sumber Radiasi

Monokromator

Sampel Kompartemen

Detektor

Amplifier

Recorder

30

Gambar 1. Skema Spektrofotometer IR


(sumber: wabesak.wordpress.com)

Komponen spektrofotometer IR sama dengan spektrofotometer UV-Vis, namun,


sumber radiasi, detektor, dan komponen optiknya sedikit berbeda.

3.

Spektra Infra Merah

Hampir semua senyawa yang memiliki ikatan kovalen, baik senyawa organik
maupun

anorganik,

akan

menyerap

berbagai

frekuensi

radiasi

elektromagnetik dengan 0.5-1000 m.


Dalam spektrum inframerah, akan terdapat suatu grafik yang menghubungkan
bilangan gelombang dengan persen transmitansi. Berikut adalah contoh
spektrum IR senyawa 2-heksanol

Gambar 2. Spektrum IR senyawa 2-heksanol

31

(sumber: ilmukimia.org)

4.

Analisis Kualitatif dan Analisis Kuantitatif

Analisis Kualitatif
Identifikasi gugus fungsi yang baik dapat menggunakan tabel korelasi. Hal ini
berguna untuk mengklasifikasikan daerah ke dalam tiga hingga 4 daerah yang
lebar. Berikut adalah kategorinya:
1.

Daerah IR dekat (0.7-2.5 )

2.

Daerah fundamental (2.5-5.0 )

Daerah ulur Hidrogen (3700 2700 cm-1)

Daerah ikatan rangkap tiga (2700 1850 cm-1)

Daerah ikatan rangkap dua (1850 1550 cm-1)

Daerah sidik jari (1500 1700 cm-1)

3.

Daerah IR jauh (50-500 )

Analisis Kuantitatif
Penentuan analisis kuantitatif IR menggunakan Hukum Beer. Absorbansi zat yang
tidak diketahui jumlahnya ditentukan dengan cara spektrofotometri simultan.
Hukum Beer tidak dapat digunakan pada nilai absorbansi yang tinggi,
sehingga digunakan metode empiris.
Kebanyakan penggunaan spektroskopi IR dalam analisis kuantitatif adalah untuk
menganalisis kandungan udara, misalnya kandungan polutan dalam udara.

5.

Kelebihan dan Kekurangan

Kelebihan:
1.

Teknik yang cepat

2.

Dapat digunakan untuk identifikasi gugus fungsi tertentu dari suatu molekul.

3.

Spektrum infra merah yang diberikan untuk suatu senyawa bersifat unik
sehingga dapat digunakan sebagai sidik jari dari senyawa tersebut.

Kekurangan:

32

1.

Dalam analisis kuantitatif, tidak adanya hubungan antara Hukum Beer dan
kompleksitas spektrum sehingga tumpang tindihnya puncak-puncak.

2.

Sempitnya puncak-puncak akibat dari sinar hamburan menyebabkan


pemakaian lebar slit menjadi lebih besar.

SPEKTROFOTOMETRI NUCLEAR MAGNETIC RESONANCE

Definisi Spektofotometri NMR


Resonansi Magnetik Inti atau Nuclear Magnetic Resonance (NMR) adalah
salah satu metode analisis untuk menentukan struktur dari komponen alami dan
sintetik yang baru, kemurnian dari komponen, dan arah reaksi kimia. NMR ini
adalah metode analisis yang tergolong mudah digunakan pada kimia modern.
Spektofotometri NMR khususnya digunakan pada studi molekul organik karena
biasanya membentuk atom hidrogen dengan jumlah besar. Spektofotometri NMR
adalah salah satu teknik utama yang digunakan untuk mendapatkan informasi
fisik, kimia, elektronik, dan struktur molekul. Spektofotometri NME pada
dasarnya menggunakan prinsip absorbsi, sama dengan spektofotometri infra
merah atau ultra violet. Pada kondisi yang sesuai, suatu sampel dapat
mengabsorbsi radiasi elektromagnetik daerah frekuensi radio, pada frekuensi yang
tergantung dari sifat-sifat sampel. Suatu plot dari frekuensi puncak vs intensitas
puncak memberikan suatu spektrum NMR.

Prinsip Dasar Spektofotometri NMR


Proton tunggal 1H adalah isotop yang paling penting dalam hidrogen. Bila
sampel yang mengandung 1H atau

13

C ditempatkan dalam medan magnet dan

diradiasi dengan radiasi elektromagnetik, maka akan timbul interaksi antara


medan magnet luar dengan magnet kecil, dan inti atom hidrogen dan karbon dari
senyawa tersebut akan menyerap energi melalui suatu proses yang dinamakan
resonansi magnetik. Karena ada interaksi ini, magnet kecil akan terbagi atas dua
tingkat energi, yaitu tingkat yang sedikit lebih stabil (+) dan keadaan yang kurang
stabil (-).

33

Perbedaan energi antara dua keadaan magnet ini diberikan oleh persamaan:
E = hH/2
Dimana H adalah kuat medan magnet luar, h adalah tetapan planck, adalah
tetapan khas bagi jenis inti tertentu atau namanya adalah rasio giromagnetik
(untuk proton nilainya adalah 2,6752 x 108 kg-1s A.
Secara prinsip, frekuensi gelombang elektromagnetik yang diserap ditentukan
oleh kekuatan magnet dan jenis inti yang diamati. Namun, perubahan kecil dalam
frekuensi diinduksi oleh perbedaan lingkungan kimia tempat inti tersebut berada.
Perubahan ini disebut pergeseran kimia.

Komponen Spektofotometri NMR


a) Magnet
b) Generator medan magnet penyapu
c) Sumber frekuensi radio
d) Detektor sinyal
e) Perekam / Rekorder
f) Tempat sampel & probe

Gambar Spektofotometer NMR tampak dalam

34

Dari spektra yang ada dapat disimpulkan bahwa:

Dengan:
a. Metilen R-CH2-R
b. Aldehid C=O
c. Karboksilil C-O

Sehingga diperkirakan gugus fungsi:


1. R - COOH
O
RCOH
2. R COOR
O
RCOR

35

BAB III
PENUTUP
3.1 KESIMPULAN
Kesimpulan yang dapat diperoleh dari pembahasan dalam makalah ini
antara lain :
-

Merkuri adalah logam berat berbahaya yang dapat merusak kesehatan


penambang dan lingkungan

Kandungan merkuri dapat dianalisis dengan menggunakan AAS


(Atomic Absorption Spectrofotometry)

Formalin dan borak adalah zat berbahaya yang dilarang keras


ditambahkan ke dalam makanan sesuai UU No. 7 Tahun 1996

Kadar formalin dan boraks dapat ditentukan dengan menggunakan


analisis spektrofotometri UV-Vis

Biodiesel merupakan bahan bakar yang lebih ramah lingkungan


daripada petrodiesel, dan juga dapat diperbaharui

Spektra yang diberikan menunjukkan adanya gugus asam alkanoat (RCOOH) dan ester (R-COO-R)

DAFTAR PUSTAKA
H. Bangun. 2014. Pengaruh Kadar Merkuri (Hg) dalam Urin Terhadap Fungsi
Ginjal pada Penambang Emas Tradisional di Desa Panton Luas
Kecamatan Sawang Kabupaten Aceh Selatan. Dari laman
http://repository.usu.ac.id/handle/123456789/39808. (Diakses pada Senin,
03 November 2014)
Lestarisa, Trilianty. 2011. Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Keracuna
Merkuri (Hg) pada Penambang Emas Tanpa Ijin (PETI) di Kecamatan
Kerun, Kabupaten Gunung Mas, Kalimantan Tengah. Dari laman
http://eprints.undip.ac.id/23859/1/TRILIANTY_LESTARISA.pdf.
(Diakses pada Senin, 03 November 2014)

36

Olson, Randy. 2012. Penambangan Emas Picu Pemcemaran Merkuri. Dari laman
http://nationalgeographic.co.id/berita/2012/05/penambangan-emas-picupencemaran-merkuri. (Diakses pada Senin, 03 November 2014)
Aswad, Muhammad dkk. 2011. Validasi Metode Spektrofotometri Sinar Tampak
untuk
Analisis
Formalin
dalam
Tahu.
Dari
laman
http://download.portalgaruda.org/article.php?article=29887&val=2174.
(Diakses pada Sabtu, 15 November 2014)
Padmaningrum, Regina Tutik dan Dyah Purwaningsih. 2007. Analisis Kadar Gizi
dan Zat Aditif dalam Bakso Sapi Dari Beberapa Produsen. Dari laman
http://staff.uny.ac.id/sites/default/files/penelitian/Regina%20Tutik%20Pad
maningrum,%20Dra.,%20M.Si./Analisis_gizi_Bakso_Regina_Tutik_%20
P.pdf. (Diakses pada Senin, 03 November 2014)
Americas Advanced Biofuel. 2014. Biodiesel. Dari laman http://biodiesel.org.
(Diakses pada Minggu, 09 November 2014)
Anonim.

Biodiesel.
Dari
laman
engineer.digitalzones.com/biodiesel.html. (Diakses
November 2014)

Beer,

Tom
dkk.
2008.
Biodiesel
from
Algae.
Dari
laman
http://www.unapcaem.org/publication/bioenergy.pdf. (Diakses pada
Minggu, 16 November 2014)

http://chemicalpada Senin 10

Kementrian Energi dan Sumber Daya Mineral. 2011. Biodiesel dari Algae. Dari
laman

http://www.litbang.esdm.go.id/index.php?option=com_content

&view=article&id=75:biodiesel-dari-algae&catid=80:ketenagalistrikandan-ebtke&Itemid=93. (Diakses pada Minggu, 16 November 2014)


"Formalin dan Boraks sebagai Zat Pengawet Produk
Pangan" http://www.ut.ac.id/html/suplemen/peki4422/bag%204.htm (diakses 3
November 2014 pukul 22.07)

Khopkar, S.H. 1990. Konsep Dasar Kimia Analitik. Jakarta: UI Press

"Spektrofotometri

Infra

Merah"

digilib.itb.ac.id/file/diks1/622/jbptitbpp-gdl-

febrinaldo-31070-3-2008-ta-2.pdf (diakses 10 November pukul 21.20)

37

Anda mungkin juga menyukai