Anda di halaman 1dari 14

LAPORAN KASUS BEDAH

FIBROADENOMA MAMAE
TUTOR : dr. Leonardo W Permana, MARS

oleh :
Tuti Seli Sugiarti
10101023

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER


FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS ABDURRAB
PEKANBARU
2014

STATUS PASIEN

Identitas pasien

No rekam medis : -

Nama : Nn. A

Umur : 21 tahun

Jenis kelamin :perempuan

Pekerjaan :-

Alamat : jl.wonosari

Status perkawinan : belum kawin

Anamnesis : autoanamnesis
Keluhan utama : terdapat benjolan di payudara kanan
Keluhan tambahan :
RPS : pasien baru masuk via poly dengan keluhan terdapat benjolan di payudara kanan 3
buah, masing-masing ukuran 4x3 cm, terdapat riwayat alergi udang dan telur
RPD : tidak ada
RPK : RSE : Pemeriksaan fisik :

Keadaan umum : sakit sedang

Kesadaran : CM

Vital sign :

suhu : 36,5C

TD : 120/80 mmHg

Nadi : 78x/menit

RR : 18x/menit

Status generalisata

Kepala :dbn

Mata :dbn

Hidung :dbn

Telinga :dbn

Mulut :dbn

Leher : dbn

Thorax :
o Paru-paru :I :Pa :Per :Aus :o Jantung :I :Pa :Per :Aus :o Abdomen :
I :Pa :Per :Aus :o Ekstremitas atas :o Ekstremitas bawah :-

Status lokalisata :
o Regio : payudara kanan
o Inspeksi : terdapat benjolan sebanyak 3 buah
o Palpasi : terdapat benjolan
o Movement : Pemeriksaan penunjang : Lab, rontgen thorax PA
o Hasil lab
o Hb : 13,1
o Leukosit : 11.800
o LED : 16
o Trombosit : 337.000
o Ht : 39,1
o Eritrosit : 4,36
3

Eus

Bas

Stb

Seg

Lim

Mon

56

32

CT : 5 menit
BT : 2 menit
Daftar pemeriksaan pra dan pasca op
Pra op
Surat izin pasien : ya

Pasca op
TD : 112/71mmHg , N: 68x/menit, RR;
22x/menit, suhu :-

Dokumen medic pasien : ya

Keasadaran : CM

Administrasi : ya

Jalan nafas : spontan

Vital sign : dbn

Kulit: warna dan turgor : baik

Puasa : ya

Luka op : baik

Persiapan kulit/cukur : tidak

Lokasi op : mamae dextra

Perhiasan dilepaskan : ya

Infus :
-lokasi: tangan kiri
-cairan : RL
-jumlah/tetes/menit: 30 tpm
-sisa cairan : 150 cc

Lab darah : ya

Keterangan : awasi vital sign

Rontgen : ya

Bius umum (+)

EKG : tidak

Terapi di OK : kaltropen supp 2

Infuse cairan : RL 20 tpm

Terapi post op :
-ceftriaxon : 2x1
-ketorolak : 3x1
Kalnex : 3x1

Kateter urin : tidak


Diagnosa kerja : FAM multiple
Diagnosa banding :

Penatalaksanaan :
o Medikamentosa :
Inj ceftriaxon 2x1 (skin test)
Ketorolac 3x1
Kalnex 3x1
Terapi tanggal 16/11/2013
IV RL 30 tpm
o Edukatif
Prognosis :
o Ad vitam

: Dubia ad malam

o Ad fungsionam

: Dubia ad malam

o Ad sanationam

: Dubia ad malam

TINJAUAN PUSTAKA

1. DEFINISI
Fibroadenoma mammae adalah suatu neoplasma jinak yang berbatas tegas, padat,
berkapsul. Merupakan lesi payudara paling umum pada wanita berusia dibawah 25 tahun,
sebagian besar (80%) bersifat tunggal. Biasanya bentuk neoplasma ini tampil sebagai
massa payudara yang bersifat mobile, tidak nyeri, kenyal seperti karet berukuran 1-4cm.
Benjolan biasanya kecil, solid, kenyal, bulat elastis dengan batas tepi yang jelas.
Diduga penyebabnya adalah kelebihan hormon estrogen. Tumor ini dapat membesar
menjelang menstruasi atau pada saat kehamilan. Fibroadenoma mammae adalah tumor
jinak yang paling sering terjadi pada wanita.
Tumor ini terdiri dari gabungan antara kelenjar glandula dan fibrosa. Secara
histologi: intracanalicular fibroadenoma; fibroadenoma pada payudara yang secara tidak
teratur dibentuk dari pemecahan antara stroma fibrosa yang mengandung serat jaringan
epitel. pericanalicular fibroadenoma; fibroadenoma pada payudara yang menyerupai
kelenjar atau kista yang dilingkari oleh jaringan epitel pada satu atau banyak lapisan.
Tumor ini dibatasi letaknya dengan jaringan mammae oleh suatu jaringan penghubung.
2. EPIDEMIOLOGI
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan, pada tahun 2005 terdapat lebih
dari 1,2 juta orang terdiagnosis menderita kanker payudara. Kanker payudara
merupakan penyebab utama dalam kejadian (incidence) dan kematian (mortality) oleh
kanker pada wanita (Hawari, 2004). Kanker payudara kini menjadi pembunuh wanita
nomor satu di Indonesia. Tahun 2007 penderita kanker payudara mencapai 21,69 %,
lebih tinggi dari kanker leher rahim yang angkanya 17 % (Dyayadi, 2009).
Di propinsi Jawa Tengah, berdasarkan laporan dari Dinas Kesehatan
kabupaten/kota yang berasal dari puskesmas tahun 2010, kasus penyakit kanker
ditemukan sebanyak 488 kasus, terdiri dari Kanker Hati 13 jiwa, Kanker Bronkus 25
jiwa, Kanker Mamae 267 jiwa, Kanker Servik 183 jiwa.
Berdasarkan laporan dari New South Wales Breats Cancer Institute,
fibroadenoma umumnya terjadi pada wanita dengan usia 21-25 tahun, kurang dari
5% terjadi pada usia di atas 50, sedangkan prevalensinya lebih dari 9% populasi
wanita terkena fibroadenoma. Sedangkan laporan dari Western Breast Services
Alliance, fibroadenoma terjadi pada wanita dengan umur antara 15 dan 25 tahun,
dan lebih dari satu dari enam (15%) wanita mengalami fibroadenoma dalam hidupnya.
Menurut penelitian Siti Fitria Dewi (2008), dari hasil penelitian tersebut diperoleh
144 kasus fibroadenoma payudara pada wanita.
Paling banyak ditemukan pada usia di bawah 30 tahun (79,90%), yaitu pada
kelompok usia 21 25 tahun (41,70 %), kelompok usia 16 20 tahun (25,70 %),
6

kelompok usia 26 30 tahun (9,70%) dan kelompok usia 10 15 tahun (2,80 %).
Lokasi yang tersering terdapat pada payudara kanan (44,50%), dan ditemukan kasus
yang jarang sekali terjadi yaitu Giant Fibroadenoma (tidak diketahui lokasinya 0,70%).
3. ETIOLOGI
Segala sesuatu yang menyebabkan terjadinya kanker disebut karsinogen. Dan berbagai
penelitian dapat diketahui bahwa karsinogen dapat dibagi ke dalam 4 golongan :
a. Bahan kimia
b. Virus
c. Radiasi (ion dan non-ionisasi)
d. Agen biologic
Fibroadenoma ini terjadi akibat adanya kelebihan hormon estrogen. Biasanya
ukurannya akan meningkat pada saat menstruasi atau pada saat hamil karena produksi
hormon estrogen meningkat. Penelitian saat ini belum dapat mengungkap secara pasti apa
penyebabsesungguhnya dari fibroadenoma mammae, namun diketahui bahwa
pengaruhhormonal sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan dari fibroadenoma
mammae, hal ini diketahui karena ukuran fibroadenoma dapat berubah pada siklus
menstruasi atau pada saat kehamilan.
4. ANATOMI DAN FISIOLOGI
Payudara merupakan kelenjar aksesoris kulit yang terletak pada iga dua
sampai iga enam, dari pinggir lateral sternum sampai linea aksilaris media.
Kelenjar ini dimiliki oleh pria dan wanita. Namun, pada masa pubertas, payudara wanita
lambat laun akan membesar hingga membentuk setengah lingkaran, sedangkan pada
pria tidak. Pembesaran ini terutama terjadi akibat penimbunan lemak dan dipengaruhi
oleh hormon-hormon ovarium.
Secara umum, payudara terdiri atas dua jenis jaringan, yaitu jaringan
glandular (kelenjar) dan jaringan stromal (penopang). Jaringan kelenjar meliputi
kelenjar susu (lobus) dan salurannya (ductus). Sedangkan jaringan penopang
meliputi jaringan lemak dan jaringan ikat. Selain itu, payudara juga memiliki aliran
limfe. Aliran limfe payudara sering dikaitkan dengan timbulnya kanker maupun
penyebaran (metastase) kanker payudara.
Setiap payudara terdiri atas 15-20 lobus yang tersusun radier dan berpusat
pada papilla mamma. Saluran utama tiap lobus memiliki ampulla yang membesar
tepat sebelum ujungnya yang bermuara ke papilla. Tiap papilla dikelilingi oleh daerah
kulit yang berwarna lebih gelap yang disebut areola mamma. Pada areola mamma,
terdapat tonjolan-tonjolan halus yang merupakan tonjolan dari kelenjar areola di
bawahnya. Jika dilakukan perabaan pada payudara, akan terasa perbedaan di tempat
yang berlainan. Pada bagian lateral atas (dekat aksila), cenderung terasa bergumpalgumpal besar. Pada bagian bawah, akan terasa seperti pasir atau kerikil. Sedangkan
7

bagian di bawah puting susu, akan terasa seperti kumpulan biji yang besar. Namun,
perabaan ini dapat berbeda pada orang yang berbeda.
Menurut Hoskins et, al Untuk mempermudah menyatakan letak suatu
kelainan, payudara dibagi menjadi lima regio, yaitu :
1. Kuadran atas bagian medial (inner upper quadrant)
2. Kuadran atas bagian lateral (outer upper quadrant)
3. Kuadran bawah bagian medial (inner lower quadrant)
4. Kuadran bawah bagian lateral (outer lower quadrant)
5. Regio puting susu (nipple)

5. FAKTOR RISIKO
Sampai saat ini belum ada penyebab spesifik timbulnya fibroadenoma mammae
yang diketahui, diperkirakan multifaktorial. Namun timbulnya fibroadenoma
mammae dipengaruhi oleh beberapa faktor risiko. Faktor risiko ini penting untuk
mengembangkan program-program pencegahan, ada beberapa faktor resiko yang
telah teridentifikasi, yaitu :
Jenis kelamin
Wanita lebih beresiko menderita tumor payudara dibandingkan dengan pria.
Prevalensi tumor payudara pada pria hanya 1% dari seluruh tumor payudara.
Riwayat keluarga
Wanita yang memiliki keluarga tingkat satu penderita tumor payudara
beresiko tiga kali lebih besar untuk menderita tumor payudara.
Faktor genetik
Mutasi gen BRCA1 pada kromosom 17 dan BRCA2 pada kromosom 13 dapat
meningkatkan resiko tumor payudara sampai 85%. Selain itu, gen p53,
BARD1, BRCA3, dan noey2 juga diduga meningkatkan resiko terjadinya
kanker payudara.
Faktor usia
Resiko tumor payudara meningkat seiring dengan pertambahan usia. Biasanya
pada usia 15 sampai 35 tahun.
8

Faktor hormonal
Kadar hormon yang tinggi selama masa reproduktif, terutama jika tidak
diselingi oleh perubahan hormon akibat kehamilan, dapat meningkatkan
resiko terjadinya tumor payudara.
Usia saat kehamilan pertama
Hamil pertama pada usia 30 tahun beresiko dua kali lipat dibandingkan
dengan hamil pada usia kurang dari 20 tahun.
Terpapar radiasi
Intake alkohol
Pemakaian kontrasepsi oral
Pemakaian kontrasepsi oral dapat meningkatkan resiko tumor payudara.
Penggunaan pada usia kurang dari 20 tahun beresiko lebih tinggi
dibandingkan dengan penggunaan pada usia lebih tua.

6. PATOGENESIS
Fibroadenoma merupakan tumor jinak payudara yang sering ditemukan pada
masa reproduksi yang disebabkan oleh beberapa kemungkinan yaitu akibat sensitivitas
jaringan setempat yang berlebihan terhadap estrogen sehingga kelainan ini sering
digolongkan dalam mamary displasia. Fibroadenoma biasanya ditemukan pada kuadran
luar atas, merupakan lobus yang berbatas jelas, mudah digerakkan dari jaringan di
sekitarnya. Pada gambaran histologis menunjukkan stroma dengan proliferasi fibroblast
yang mengelilingi kelenjar dan rongga kistik yang dilapisi epitel dengan bentuk dan
ukuran yang berbeda. Pembagian fibroadenoma berdasarkan histologik yaitu :
Fibroadenoma Pericanaliculare
Yakni kelenjar berbentuk bulat dan lonjong dilapisi epitel selapis atau beberapa
lapis.
Fibroadenoma intracanaliculare
Yakni jaringan ikat mengalami proliferasi lebih banyak sehingga kelenjar
berbentuk panjang-panjang (tidak teratur) dengan lumen yang sempit atau
menghilang. Pada saat menjelang haid dan kehamilan tampak pembesaran sedikit
dan pada saat menopause terjadi regresi.
7. MANIFESTASI KLINIS
Secara makroskopik : tumor bersimpai, berwarna putih keabu-abuan, pada
penampang tampak jaringan ikat berwarna putih, kenyal

Ada bagian yang menonjol ke permukaan


Ada penekanan pada jaringan sekitar
Ada batas yang tegas
Bila diameter mencapai 10 15 cm muncul Fibroadenoma raksasa (Giant
Fibroadenoma)
9

Memiliki kapsul dan soliter


Benjolan dapat digerakkan
Pertumbuhannya lambat
Mudah diangkat dengan lokal surgery
Bila segera ditangani tidak menyebabkan kematian

Melalui pemeriksaan mikroskopi fibroadenoma mammae akan terlihat :

Tampak jaringan tumor yang berasal dari masenkim (jaringan ikat fibrosa) dan
berasal dari epitel (kelenjar epitel) yang berbentuk lobus-lobus.
Lobuli terdiri dari jaringan ikat kolagen dan saluran kelenjar yang berbentuk
bular (perikanalikuler) atau bercabang (intrakanalikuler)
Saluran tersebut dibatasi sel-sel yang berbentuk kuboid atau kolumnar pendek
uniform.

8. DIAGNOSIS
Diagnosis tumor di payudara dapat ditegakkan dengan berdasarkan anamnesis
yang baik, pemeriksaan fisik dasar dan pemeriksaan penunjang. Sedangkan
diagnosis pasti adalah pemeriksaan histopatologi anatomi.
Anamnesa meliputi: riwayat timbulnya tumor, adanya faktor resiko untuk
terjadinya tumor payudara dan adanya tanda-tanda penyebaran tumor.
Pemeriksaan fisik dari tumor payudara yaitu dengan pemeriksaan Payudara
Sendiri (SADARI) : deteksi dini tumor payudara adalah suatu usaha untuk
menemukan adanya tumor yang belum lama tumbuh, masih kecil, masih
lokal, dan belum menimbulkan kerusakan yang berarti sehingga masih dapat
disembuhkan. Deteksi dini biasanya dilakukan pada orang-orang yang
kelihatannya sehat, asimptomatik, atau pada orang yang beresiko tinggi
menderita tumor. Wanita usia 20 tahun ke atas sebaiknya melakukan
SADARI sebulan sekali, yaitu 7-10 hari setelah menstruasi. Pada saat itu,
pengaruh hormon ovarium telah hilang sehingga konsistensi payudara tidak lagi
keras seperti menjelang menstruasi. Untuk wanita yang telah menopause,
SADARI sebaiknya dilakukan setiap tanggal 1 setiap bulan agar lebih mudah
diingat.
Pemeriksaan payudara sendiri (SADARI) dilakukan dalam tiga tahap, yaitu:
Melihat payudara
Memijat payudara
Meraba payudara
Jika ditemukan benjolan maka yang akan dilakukan:
1) Lokasi tumor
2) Diskripsi tumor
10

Menurut Soeprianto klinis jinak dan ganas memberikan gambaran


sebagai berikut:
klinis jinak memberikan gambaran
a. Bentuk bulat, teratur atau lonjong.
b. Permukaan rata
c. Konsistensi kenyal, lunak
d. Mudah digerakkan terhadap sekitar
e. Tidak nyeri tekan.
Klinis ganas memberikan gambaran
a. Permukaan tidak rata dan berbenjol-benjol
b. Tepi tidak rata
c. Bentuk tidak teratur
d. Konsistensi keras, padat
e. Batas tidak tegas
f. Sulit digerakkan terhadap jaringan sekitar
g. Kadang nyerti tekan
Pemeriksaan penunjang
a. Mammography
b. Ultrasound (USG)
c. Magnetic Resonance Imaging (MRI)
d. Biopsi
Terbuka : dilakukan dengan operasi seperti biasa dapat berupa pengangkatan
seluruh benjolannya (eksisi) atau sebagian saja (insisi).
Tertutup : biopsi aspirasi jarum halus
9. PEMERIKSAAN PENUNJANG
MAMOGRAFI
Sedapat mungkin dilakukan sebagai alat bantu diag nostik utama, terutama pada
usia di atas 30 tahun. Walaupun mamograi sebelumnya normal, jika terdapat
keluhan baru, maka harus dimamograi ulang. Pada pemeriksaan mamograi, lesi
yang mencurigakan ganas menunjukkan salah satu atau beberapa gam-baran
sebagai berikut: lesi asimetr is, kalsii kasi pleomori k, tepi ireguler atau berspikula, terdapat peningkatan densitas dibanding-kan sekitarnya. Pada salah satu
penelitian terhadap 41.427 penderita, sensitivitasnya mencapai 82,3% dengan
spesii sitas 91,2%. Walaupun demikian, bila hasilnya negatif, harus tetap
dilakukan pemeriksaan lanju-tan.
ULTRASONOGRAFI
Ultrasonograi sangat berguna untuk mem-bedakan lesi solid dan kistik setelah
ditemu-kan kelainan pada mamograi . Pemeriksaan ini juga dapat digunakan pada
kondisi klinis tertentu, misalnya pada wanita hamil yang mengeluh ada benjolan
11

di payudara sedang-kan hasil mamograi nya tidak jelas walaupun sudah diulang,
dan untuk panduan saat bi-opsi jarum atau core biopsy. Hasil pemeriksaan USG
maupun mamograi dapat diklasii kasikan menurut panduan The American
College of Radiology yang dikenal se-bagai ACR-BIRADS, sebagai berikut:
Kategori 0: Harus dilakukan mamograi untuk menentukan diagnosis
Kategori 1: Negatif atau tidak ditemukan lesi
Kategori 2: Jinak. Biasanya kista simpleks. Ulang USG 1 tahun lagi
Kategori 3: Kemungkinan jinak. Sering dite-mukan pada FAM. Ulang USG 3-6
bulan
Kategori 4: Curiga abnormal. Harus dibiopsi
Kategori 5: Sangat curiga ganas. Dikelola se-suai panduan kanker payudara dini
Kategori 6: Kanker. Hasil biopsi memang be-nar keganasan payudara, dikelola
sebagai kanker payudara dini.
BIOPSI
Tidak terhadap semua kasus benjolan payu-dara dilak ukan biopsi. Beberapa
panduan ter-kini lebih menganjurkan core biopsy sebagai pilihan pertama.
Apabila tidak ada fasilitas ini maka biopsi insisi/ekstirpasi sebagai gantinya.
Biopsi aspirasi dengan jarum halus tidak dian-jurkan, kecuali dilakukan oleh ahli
yang ber-pengalaman. Indikasinya: kista asimptomatik, massa solid kategori 4

10. PENATALAKSANAAN
Biopsi eksisi
Dilaksanakan dengan mengangkat seluruh jaringan tumor beserta sedikit jaringan
sehat di sekitarnya bila tumor < 5cm.
Eksterfasi FAM
Adalah suatu tindakan pembedahan yang dilakukan untuk pengangkatan tumor
yang terdapat pada payudara. Dimana tumor ini sifatnya masih jinak namun jika
dibiarkan maka akan terjadi penambahan pada masa tumor dan tumor ini terdapat
dibawah kulit dan mempunyai selaput atau seperti kapsul, mudah digoyangkan,
dan lunak. Terapi dari FAM dengan operasi pengangkatan tumor ini tidak akan
merubah bentuk payudara, tetapi hanya akan meninggalkan jaringan parut yang
nanti akan di ganti oleh jaringan normal secara perlahan.
Biopsi insisi
Dengan mengangkat sebagian jaringan tumor dan sedikit jaringan sehat,
dilakukan untuk tumor yang inoperabel atau lebih besar dari 5 cm.
Tujuan dilakukan tindakan pembedahan ini adalah :
1. Untuk menegakkan diagnosa.
2. Untuk memperkecil penyebaran tumor.
3. Untuk mengetahui apakah tumor ini ganas atau tidak dengan cara
pemeriksaan Patologi Anatomi terlebih dahulu.
12

11. KOMPLIKASI
Jenis tertentu dari fibroadenoma bisa meningkatkan risiko kanker payudara.
Meski demikian, kebanyakan kasus fibroadenoma tidak menyebabkan kanker payudara.
Kalaupun ditemukan penderita kanker payudara yang memiliki fibroadenoma, biasanya
ada komplikasi lainnya. Atau bisa jadi orang tersebut memiliki risiko kanker payudara
yang tinggi baik dari keluarga ataupun lingkungannya.
12. PROGNOSIS
Prognosis dari fibroadenoma mammae adalah baik, bila diangkat dengan
sempurna, tetapi bila masih tertapat jaringan sisa pada saat operasi dapat kambuh
kembali.

13

DAFTAR PUSTAKA

1. Snell SR.Anatomi Klinik untuk Mahasiswa Kedokteran. Edisi 6. Jakarta : EGC, 2006
2. Putz R, Pabst R, editor.2007.Sobotta, Atlas Anatomi Manusia.EGC,2007
3. Guyton AC, Hall JE, editor.Luqman YR alih bahasa. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Edisi
11. Jakarta : EGC,2007
4. Hendrawanto. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Edisi Ketiga Persatuan Ahli Penyakit
Dalam Indonesia.2010. EGC : Jakarta
5. Price Sylvia A, Wilson Lorraine Mc Cart. Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses
Penyakit. Jakarta : EGC. 2010.
6. Katzung, B,G. 2004. Farmakologi Dasar dan Klinik.Edisi 8. Penerbit buku kedokteran.
Jakarta.

14

Anda mungkin juga menyukai