Anda di halaman 1dari 20

Case Report Session

Ureterolithiasis
Perseptor:

dr. Yeppy A.N, SpB, FINACS, MM

Disusun oleh :

Rashmika Nambiar

BAGIAN BEDAH RSUD SOREANG


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS PADJADJARAN
BANDUNG
2014

1. Kasus
1.1 Identitas
No. Medrek
Nama
Umur:
Jenis Kelamin
Alamat
Agama
Pekerjaan
Tanggal pemeriksaan

: 491683
: Tn. Adang
: 50 tahun
: Lelaki
: Kp Sukarakame 3/11 Soreang RT04 RW05 Kec. Soreang
Kab. Bandung
: Islam
: Buruh
: 29 Oktober 2014

1.2 Anamnesis
Keluhan utama: nyeri perut kanan bawah saat buang air kecil
Anamnesis tambahan:
Pasien mengeluh nyeri perut kanan bawah sejak 2 bulan sebelum masuk rumah sakit, nyeri
seperti ditusuk-tusuk, hilang timbul terutama saat beraktivitas dan tidak menjalar. Tetapi
sejak 7 hari yang lalu, nyeri dirasakan bertambah hebat saat pasien buang air kecil. Kencing
disertai darah 2 minggu yang lalu. Keluhan disertai rasa terbakar saat buang air kecil. BAK
sedikit-sedikit berwarna keruh dan tidak berpasir. Pasien tidak mengeluh adanya demam,
mual, dan pusing.
Riwayat penyakit dahulu
Riwayat nyeri pinggang sebelumnya disangkal
Riwayat DM disangkal
Riwayat Hipertensi disangkal
Riwayat Stroke disangkal
Riwayat pengobatan sebelumnya disangkal
Riwayat penyakit keluarga (-)
Riwayat kebiasaan : Pasien mengaku jarang minum air putih. Dalam sehari pasien hanya
mengkonsumsi air putih sebanyak 3 gelas. Pasien juga sering menahan untuk buang air
kecil.
1.3 Pemeriksaan fisik
Status Generalis
Keadaan umum
Kesadaran
Tanda vital
Kepala

: Baik
: Komposmentis
: TD = 110/70 mmHg
R = 24x/m
N = 100x/m
S = Afebris
: Konjungtiva sedikit anemis, sklera tidak ikterik

Leher
Thoraks

Abdomen

Ekstremitas

: JVP tidak meningkat, KGB tidak teraba


: Bentuk dan gerak simetris
Pulmo: Sonor, VBS kiri = kanan
Cor : BJ murni reguler
: Datar, tegang
Hepar dan lien tidak teraba
Ruang Traube kosong. BU (+)Normal
: t.a.k

Status urologis
a/r flank dekstra dan sinistra : perabaan ginjal -/-, nyeri tekan -/+, nyeri ketok CVA -/+
Supra pubis : blast kosong, nyeri tekan (-)

1.4 Differential diagnosis


- Kolik abdomen ec nefrolithiasis dekstra
- Kolik abdomen ec ureterolithiasis dekstra
- Kolik abdomen ec Pielonefritis akut dekstra
1.5 Pemeriksaan Penunjang
- Pemeriksaan Darah : Hb, Ht, Leuko, trombo, Ureum, kreatinin, GDS, asam urat
- Urin : urin rutin
- BNO
- USG Ginjal, Vesica Urinaria, Ureter
Hasil BNO

Tampak bayangan opak di rongga pelvis kanan

Kesan: suspek ureterolithiasis kanan

1.6 Usulan Pemeriksaan


Rencana USG
1.7 Diagnosis Kerja
Kolik abdomen ec Ureterolithiasis kanan
1.8 Penatalaksanaan
a) Umum
Informed Consent tentang penyakit yang diderita dan konseling mengenai pencegahan
terhadap penyakit
Menghindari dehidrasi dengan minum cukup dan diusahakan produksi urin sebanyak 2-3
liter per hari
- Diet untuk mengurangi kadar zat-zat pembentuk batu (asam urat, protein, garam)
b) Farmakologi
Oral analgesic ( asam mefenamat) untuk mengurangi sakit yang sedang yang disebabkan
oleh batu
Ciprofloxacin 2 500mg
c) Tunggu hasil USG
1.9 Prognosis
Quo ad vitam
Quo ad functionam

: ad bonam
: dubia ad bonam

1.10 Pembahasan
a) Kenapa pasien didiagnosa ureterolithiasis?
i. Anamnesis
- Nyeri hebat bersifat kolik
- Nyeri saat kencing
- Hematuria
- Kebiasaan pasien
ii. Pemeriksaan fisik nyeri tekan dan nyeri ketok CVA (-/+)
iii. BNO tampak bayangan opak di rongga pelvis kanan
b) Bagaimana penanganan pasien ini?
Umum - Terapi bertujuan untuk mengurangi nyeri, memperlancar aliran urin dengan
pemberian diuretikum, berupa:
Minum sehingga diuresis 2 liter/ hari
NSAID
c) Tunggu hasil USG untuk menentukan tindakan pada pasien

2. Referat
2.1 Anatomi dan Fisiologi Sisfem Perkemihan
Sistem perkemihan merupakan suatu sistem dimana terjadinya proses penyaringan darah
sehingga darah bebas dari zat-zat yang tidak dipergunakan oleh tubuh dan menyerap zat -zat
yang masih dipergunakan oleh tubuh. Zat-zat yang tidak dipergunakan oleh tubuh larut dalam air
dan dikeluarkan berupa urin . Susunan sistem perkemihan terdiri dari: a) dua ginjal yang
menghasilkan urin, b) dua ureter yang membawa urin dari ginjal ke vesika urinaria (kandung
kemih), c) satu vesika urinaria tempat urin dikumpulkan, dan d) satu uretra urin dikeluarkan dari
vesika urinaria.

2.1.1 Saluran Kemih Atas


2.1.1.1 Ginjal
a. Anatomi
Dalam keadaan normal, manusia memiliki 2 ginjal. Ginjal merupakan organ yang
berbentuk seperti kacang berwarna merah tua, panjangnya sekitar 12,5 cm dan tebalnya sekitar
2,5 cm. Ginjal adalah organ yang berfungsi sebagai penyaring darah yang terletak di bagian
belakang kavum abdominalis di belakang peritoneum melekat langsung pada dinding belakang
abdomen.Setiap ginjal memiliki ureter, yang mengalirkan air kemih dari pelvis renalis (bagian
ginjal yang merupakan pusat pengumpulan air kemih) ke dalam kandung kemih. Setiap ginjal
terdiri atas 1-4 juta nefron. Selama 24 jam dapat menyaring darah 170 liter. Fungsi yang lainnya
adalah ginjal dapat menyaring limbah metabolik, menyaring kelebihan natrium dan air dari
darah, membantu mengatur tekanan darah, pengaturan vitamin D dan Kalsium.

Ginjal mengatur komposisi kimia dari lingkungan dalam melalui suatu proses majmuk
yang melibatkan filtrasi, absorpsi aktif, absorpsi pasif, dan sekresi. Filtrasi terjadi dalam
glomerulus, tempat ultra filtrate dari plasma darah terbentuk. Tubulus nefron, terutama tubulus
kontortus proksimal berfungsi mengabsorpsi dari substansi-substansi yang berguna bagi
metabolisme tubuh, sehingga dengan demikian memelihara homeostatis lingkungan dalam.
Dengan cara ini makhluk hidup terutama manusia mengatur air, cairan intraseluler, dan
keseimbangan osmostiknya.
Gangguan fungsi ginjal akibat BSK pada dasarnya akibat obstruksi dan infeksi sekunder.
Obstruksi menyebabkan perubahan struktur dan fungsi pada traktus urinearius dan dapat
berakibat disfungsi atau insufisiensi ginjal akibat kerusakan dari paremkim ginjal.

b. Proses pembentukan urin


i. Proses filtrasi, di glomerulus.
Terjadi penyerapan darah yang tersaring adalah bagian cairan darah kecuali protein.
Cairan yang tersaring ditampung oleh simpai bowmen yang terdiri dari glukosa, air, sodium,
klorida, sulfat, bikarbonat diteruskan ke tubulus ginjal. Cairan yang disaring disebut filtrat
glomerulus.
ii. Proses reabsorbsi
Pada proses ini terjadi penyerapan kembali sebagian besar dari glukosa, sodium, klorida
fosfat dan beberapa ion bikarbonat. Prosesnya terjadi secara pasif (obligator reabsorbsi) di
tubulus proximal. Sedangkan pada tubulus distal terjadi kembali penyerapan sodium dan ion
bikarbonat bila diperlukan tubuh. Penyerapan terjadi secara aktif (reabsorbsi fakultatif) dan
sisanya dialirkan pada papilla renalis.
iii. Proses sekresi

Sisa dari penyerapan kembali yang terjadi di tubulus distal dialirkan ke papilla renalis
selanjutnya diteruskan ke luar

c. Vaskularisasi ginjal
Ginjal mendapatkan darah dari aorta abdominalis yang mempunyai percabangan arteri
renalis, arteri ini berpasangan kiri dan kanan. Arteri renalis bercabang menjadi arteri
interlobularis kemudian menjadi arteri akuarta. Arteri interlobularis yang berada di tepi ginjal
bercabang manjadi arteriole aferen glomerulus yang masuk ke gromerulus. Kapiler darah yang
meninggalkan gromerulus disebut arteriole eferen gromerulus yang kemudian menjadi vena
renalis masuk ke vena cava inferior.
d. Persarafan ginjal
Ginjal mendapatkan persarafan dari fleksus renalis (vasomotor). Saraf ini berfungsi untuk
mengatur jumlah darah yang masuk ke dalam ginjal, saraf ini berjalan bersamaan dengan
pembuluh darah yang masuk ke ginjal.
2.1.1.2 Ureter
Ureter merupakan saluran kecil yang menghubungkan antara ginjal dengan kandung
kemih (vesica urinearia), dengan panjang 25-30 cm, dengan penampang 0,5 cm. Saluran ini
menyempit di tiga tempat yaitu di titik asal ureter pada pelvis ginjal, di titik saat melewati
pinggiran pelvis, dan di titik pertemuannya dengan kendung kemih. BSK dapat tersangkut dalam
ureter di ketiga tempat tersebut, yang mengakibatkan nyeri (kolik ureter). Lapisan dinding ureter
terdiri dari dinding luar berupa jaringan ikat (jaringan fibrosa), lapisan tengah terdiri dari lapisan
otot polos, lapisan sebelah dalam merupakan lapisan mukosa. Lapisan dinding ureter
menimbulkan gerakan-gerakan peristaltik tiap 5 menit sekali yang akan mendorong air kemih
masuk ke dalam kandung kemih (vesica urinearia).Setiap ureter akan masuk ke dalam kandung
kemih melalui suatu sfingter. Sfingter adalah suatu struktur muskuler (berotot) yang dapat
membuka dan menutup sehingga dapat mengatur kapan air kemih bisa lewat menuju ke dalam
kandung kemih. Air kemih yang secara teratur tersebut mengalir dari ureter akan di tampung dan
terkumpul di dalam kandung kemih.
2.1.2 Saluran Kemih Bawah
2.1.2.1. Kandung Kemih
Kandung kemih merupakan kantong muscular yang bagian dalamnya dilapisi oleh
membran mukosa dan terletak di depan organ pelvis lainnya sebagai tempat menampung air
kemih yang dibuang dari ginjal melalui ureter yang merupakan hasil buangan penyaringan
darah.Dalam menampung air kemih kandung kemih mempunyai kapasitas maksimal yaitu untuk
volume orang dewasa lebih kurang adalah 30-450 ml.Kandung kemih bersifat elastis, sehingga
dapat mengembang dan mengkerut. Ketika kosong atau setengah terdistensi, kandung kemih
terletak pada pelvis dan ketika lebih dari setengah terdistensi maka kandung kemih akan berada

pada abdomen di atas pubis. Dimana ukurannya secara bertahap membesar ketika sedang
menampung jumlah air kemih yang secara teratur bertambah. Apabila kandung kemih telah
penuh, maka akan dikirim sinyal ke otak dan menyampaikan pesan untuk berkemih. Selama
berkemih, sfingter lainnya yang terletak diantara kandung kemih dan uretra akan membuka dan
akan diteruskan keluar melalui uretra. Pada saat itu, secara bersamaan dinding kandung kemih
berkontrasksi yang menyebabkan terjadinya tekanan sehingga dapat membantu mendorong air
kemih keluar menuju uretra.
2.1.2.2 Urethra
Saluran kemih (uretra) merupakan saluran sempit yang berpangkal pada kandung kemih
yang berfungsi menyalurkan air kemih keluar. Pada laki-laki uretra berjalan berkelok-kelok
melalui tengah-tengah prostat kemudian menembus lapisan fibrosa yang menembus tulang pubis
ke bagian penis panjangnya 20 cm. Uretra pada laki-laki terdiri dari uretra prostatika, uretra
membranosa, dan uretra kavernosa. Uretra prostatika merupakan saluran terlebar dengan
panjang 3 cm, dengan bentuk seperti kumparan yang bagian tengahnya lebih luas dan makin ke
bawah makin dangkal kemudian bergabung dengan uretra membranosa. Uretra membranosa
merupakan saluran yang paling pendek dan paling dangkal. Uretra kavernosa merupakan saluran
terpanjang dari uretra dengan panjang kira-kira 15 cm. Pada wanita, uretra terletak di belakang
simfisis pubis berjalan miring sedikit kearah atas, panjangnya 3-4 cm. Muara uretra pada
wanita terletak di sebelah atas vagina (antara clitoris dan vagina) dan uretra disini hanya sebagai
saluran ekskresi. Uretra wanita jauh lebih pendek daripada uretra laki-laki.
2.2 Urin
Sifat fisis air kemih, terdiri dari:
a. Jumlah ekskresi dalam 24 jam 1.500 cc tergantung dari pemasukan (intake) cairan dan faktor
lainnya.
b. Warna bening kuning muda dan bila dibiarkan akan menjadi keruh.
c. Warna kuning tergantung dari kepekatan, diet, obat-obatan dan sebagainya.
d. Bau, bau khas air kemih bila dibiarkan lama akan berbau amoniak.
e. Berat jenis 1,015-1,020.
f. Reaksi asam, bila lama-lama menjadi alkalis, juga tergantung daripada diet
(sayur menyebabkan reaksi alkalis dan protein member reaksi asam).
Komposisi air kemih, terdiri dari:
a. Air kemih terdiri dari kira-kira 95% air.
b. Zat-zat sisa nitrogen dari hasil metabolisme protein, asam urea, amoniak dan kreatinin.
c. Elektrolit natrium, kalsium, NH3, bikarbonat, fosfat dan sulfat.
d. Pigmen (bilirubin dan urobilin).
e. Toksin.
f. Hormon

2.3 Mikturisi
Mikturisi ialah proses pengosongan kandung kemih setelah terisi dengan urin. Mikturisi
melibatkan 2 tahap utama, yaitu:
a. Kandung kemih terisi secara progesif hingga tegangan pada dindingnya meningkat
melampaui nilai ambang batas, keadaan ini akan mencetuskan tahap ke-2.
b. Adanya refleks saraf (disebut refleks mikturisi) yang akan mengosongkan kandung
kemih. Pusat saraf miksi berada pada otak dan spinal cord (tulang belakang). Sebagian
besar pengosongan diluar kendali tetapi pengontrolan dapat dipelajari latih. Sistem
saraf simpatis : impuls menghambat vesika urinaria dan gerak spinchter interna, sehingga
otot detrusor relax dan spinchter interna konstriksi. Sistem saraf parasimpatis : impuls
menyebabkan otot detrusor berkontriksi, sebaliknya spinchter relaksasi terjadi mikturisi
2.4 Lower Urinary Tract Symptoms (LUTS)
Gejala saluran kemih bawah dapat dibagi menjadi dua yaitu : gejala berkemih dan gejala
penyimpanan, dan laki-laki mungkin hadir dengan kombinasi dua kelompok gejala tersebut.
Gejala berkemih mencakup aliran urin yang lemah, keraguan, dan tidak lengkap mengosongkan
atau mengejan dan biasanya karena pembesaran kelenjar prostat. Gejala penyimpanan meliputi
frekuensi, urgensi dan nokturia dan mungkin karena aktivitas yang berlebihan otot detrusor. Pada
pria lansia yang hadir dengan gejala saluran kemih bawah, indikasi untuk rujukan awal untuk
ahli urologi termasuk hematuria infeksi berulang, batu kandung kemih, retensi urin dan
gangguan ginjal. Dalam kasus tanpa komplikasi, medis terapi dapat dilembagakan dalam
pengaturan perawatan pertama.
Penurunan keadaan umum termasuk menurunnya fungsi persarafan pada usia tua proses
ini akan merangsang timbulnya LUTS. Timbulnya LUTS didasari oleh 2 keadaan :
1. Perubahan fungsi buli-buli yang menyebabkan instabilitas otot detrusor atau penurunan
pemenuhan buli-buli sehingga terjadi gangguan pada proses pengisian. Secara klinis
menunjukkan gejala : frekuensi, urgensi dan nokturia.
2. Pada tahap lanjut menyebabkan gangguan kontraktilitas otot detrusor sehingga terjadi
gangguan pada proses pengosongan. Secara klinis menunjukkan gejala: penurunan kekuatan
pancaran miksi, hesitensi, intermitensi dan bertambahnya residu urin.
2.5 Batu saluran kemih
2.5.1 Definisi
Batu ginjal terbentuk pada tubuli ginjal kemudian berada di kaliks, infundibulum, pelvis
ginjal, dan bahkan bisa mengisi seluruh kaliks ginjal. Batu yang mengisi pielum dan lebih dari
dua kaliks ginjal memberikan gambaran menyerupai tanduk rusa sehingga disebut batu staghorn.
Kelainan atau obstruksi pada sistem pelvikalises ginjal mempermudah timbulnya batu saluran
kemih.

Batu yang tidak terlalu besar didorong oleh peristaltik otot-otot sistem pelvikalises dan
turun ke ureter menjadi batu ureter. Tenaga peristaltik ureter mencoba untuk mengeluarkan batu
hingga turun ke buli-buli. Batu yang ukurannya kecil (<5 mm) pada umumnya dapat keluar
spontan sedangkan yang lebih besar seringkali tetap berada di ureter dan menyebabkan reaksi
radang (periureteritis) serta menimbulkan obstruksi kronis berupa hidroureter atau hidronefrosis.
2.5.2 Epidemiologi
Di Indonesia penyakit batu saluran kemih masih menempati porsi terbesar dari jumlah
pasien di klinik urologi. Insidensi dan prevalensi yang pasti dari penyakit ini di Indonesia belum
dapat ditetapkan secara pasti. Sekitar 1 di antara 1000 pria dan 1 dari 3000 wanita datang dengan
keluhan utama batu ginjal yang pertama dalam satu tahun. Lima belas persen mengalami batu
rekuren dalam waktu setahun setelah keluhan pertama, 30% dalam 5 tahun.
2.5.3 Etiologi
Etiologi pembentukan batu meliputi idiopatik, gangguan aliran kemih, gangguan
metabolisme, infeksi saluran kemih oleh mikroorganisme berdaya membuat urease (Proteus
mirabilis), dehidrasi, benda asing, jaringan mati (nekrosis papil) dan multifaktor.
1. Gangguan aliran urin
a. Fimosis
b. Hipertrofi prostate
c. Refluks vesiko-uretral
d. Striktur meatus
e. Ureterokele
f. Konstriksi hubungan ureteropelvik
2. Gangguan metabolisme menyebabkan ekskresi kelebihan bahan dasar batu
a. Hiperkalsiuria
b. Hiperuresemia
c. Hiperparatiroidisme
3. Infeksi saluran kemih oleh mikroorganisme berdaya membuat urease
4. Dehidrasi
a. Kurang minum, suhu lingkungan tinggi

5. Benda asing
a. Fragmen kateter, telur sistosoma
6. Jaringan mati (nekrosis papil)
7. Multifaktor
a. Anak di negara berkembang
b. Penderita multitrauma
8. Batu idiopatik
Terdapat beberapa faktor yang mempermudahkan terjadinya batu saluran kemih pada
seseorang, yaitu :
Beberapa faktor ekstrinsik adalah :
1. Geografi pada beberapa daerah menunjukkan angka kejadian batu saluran kemih yang
lebih tinggi daripada daerah lain sehingga dikenal sebagai daerah stone belt, sedangkan
daerah Bantu di Afrika selatan hampir tidak dijumpai penyakit batu saluran kemih.
2. Iklim dan temperatur
3. Asupan air kurangnya asupan air dan tinggi kadar mineral kalsium pada air yang
dikosumsi, dapat meningkatkan insiden batu saluran kemih
4. Diet diet banyak purin, oksalat, dan kalsium mempermudah terjadinya batu saluran
kemih
5. Pekerjaan penyakit ini sering dijumpai pada orang yang pekerjaannya banyak duduk
atau kurang aktivitas atau sedentary life. Immobilisasi lama pada penderita cedera dengan
fraktur multipel atau paraplegia yang menyebabkan dekalsfikasi tulang dengan
peningkatan ekskresi kalsium dan stasis sehingga presipitasi batu mudah terjadi.

Faktor intrinsik antara lain adalah :


1. Umur penyakit ini paling sering didapatkan pada usia 30-50 tahun
2. Jenis kelamin jumlah pasien laki-laki tiga kali lebih banyak dibandingkan pasien
perempuan
3. Herediter penyakit ini diduga diturunkan dari orang tuanya.

2.5.4 Patogenesis
Secara teoritis batu dapat terbentuk di seluruh saluran kemih terutama pada tempattempat yang sering mengalami hambatan aliran urin (stasis urin), yaitu pada sistem kalises ginjal
atau buli-buli. Adanya kelainan bawaan pada pelvikalises (stenosis uretero-pelvis), divertikel,
obstruksi infravesika kronis seperti pada hiperplasia prostat benigna, striktura dan buli-buli
neurogenik merupakan keadaan-keadaan yang mempermudahkan terjadinya pembentukan batu.
2.5.4.1 Komposisi batu
a.

Batu kalsium
Kalsium merupakan ion utama dalam kristal urin. Hanya 50% kalsium plasma yang
terionisasi dan tersedia untuk filtrasi di glomerulus. Lebih dari 95% kalsium terfiltrasi di
glomerulus diserap baik pada tubulus proksimal maupun distal, dan dalam jumlah yang
terbatas dalam tubulus pengumpul. Kurang dari 2% diekskresikan dalam urin. Banyak
faktor yang mempengaruhi availibilitas kalsium dalam larutan, termasuk kompleksasi
dengan sitrat, fosfat, dan sulfat. Peningkatan monosodium urat dan penurunan pH urin
mengganggu kompleksasi ini, dan oleh karena itu menginduksi agregasi kristal. Batu ini
paling banyak dijumpai, yaitu kurang lebih 70 80 % dari seluruh batu saluran kemih.
Kandungan batu jenis ini terdiri atas kalsium oksalat, kalsium fosfat, atau campuran dari
kedua unsur itu.

b.

Batu oksalat
Oksalat merupakan produk limbah metabolisme normal dan relatif tidak terlarut.
Normalnya, sekitar 10-15% dari oksalat yang ditemukan dalam urin berasal dari diet.
Adanya kalsium dalam lumen usus merupakan faktor penting yang mempengaruhi jumlah
oksalat
asam

yang
askorbat,

diabsorbsi.
namun

Prekursor

dampak

utama

masuknya

oksalat

vitamin

adalah
(<2

glisin

g/hari)

dan

diabaikan.

Hiperoksaluria (ekskresi oksalat urin yang melebihi 45 g/hari) dapat terjadi pada pasien
dengan gangguan usus, terutama inflammatory bowel disease, reseksi usus halus, bypass
usus dan pasien yang banyak mengonsumsi makanan yang kaya dengan oksalat,
diantaranya adalah : teh, kopi instan, minuman soft drink, kokoa, arbei, jeruk sitrun, dan

sayuran berwarna hijau terutama bayam.. Batu ginjal terjadi pada 5-10% pasien dengan
kondisi ini.
c.

Fosfat
Ekskresi fosfat urin pada orang dewasa normal berkaitan dengan jumlah diet fosfat
(terutama pada daging, produk susu, dan sayuran).

d.

Asam urat
Asam urat merupakan produk sampingan dari metabolisme purin. Sekitar 5 10 %
dari seluruh batu saluran kemih. Penyakit batu asam urat banyak diderita oleh pasien
pasien penyakit gout, penyakit mieloproliferatif, pasien yang mendapatkan terapi
antikanker, dan yang banyak mempergunakan obat urikosurik diantaranya adalah
sulfinpirazone, thiazide dan salisilat. Kegemukan, peminum alkohol dan diet tinggi protein
mempunyai peluang yang lebih besar untuk mendapatkan penyakit ini.
Asam urat relatif tidak larut di dalam urin sehingga pada keadaan tertentu mudah
sekali membentuk kristal asam urat, dan selanjutnya membentuk batu asam urat. Faktor
yang menyebabkan terbentuknya batu asam urat adalah (1) urin yang terlalu asam(pH urin
<6), (2) volume urin yang jumlahnya terlalu sedikit (< 2 liter / hari), (3) hiperurikosuri atau
kadar asam urat tinggi (> 850 mg / 24 jam).

e.

Batu struvit
Batu struvit disebut juga sebagai batu infeksi, karena terbentuknya batu ini
disebabkan oleh adanya infeksi saluran kemih. Kuman penyebab infeksi ini adalah kuman
golongan pemecah urea atau urea splitter yang dapat menghasilkan enzim urease dan
merubah urin menjadi bersuasana basa melalui hidrolisis urea menjadi amoniak, seperti
pada reaksi:
CO(NH2)2 + H20 2NH3 + CO2
Suasana basa ini yang memudahkan garam garam magnesium, amonium, fosfat
dan karbonat membentuk batu magnesium amonium fosfat (MAP). Kuman pemecah fosfat

anatranya adalah: Proteus spp, Klebsiella, Serratia, Enterobakter, Pseudomonas dan


Stafilokokus.
2.5.5 Gambaran Klinis
Manisfestasi klinik adanya batu dalam saluran kemih bergantung pada adanya obstruksi,
infeksi, dan edema. Ketika batu menghambat aliran urine, terjadi obstruksi yang dapat
mengakibatkan terjadinya peningkatan tekanan hidrostatik dan distensi piala ginjal serta ureter
proksimal. Infeksi biasanya disertai gejala demam, menggigil, dan dysuria. Namun, beberapa
batu jika ada gejala tetapi hanya sedikit dan secara perlahan akan merusak unit fungsional
(nefron) ginjal, dan gejala lainnya adalah nyeri yang luar biasa ( kolik).
Gejala klinis yang dapat dirasakan yaitu :
a. Rasa Nyeri
Lokasi nyeri tergantung dari letak batu. Rasa nyeri yang berulang (kolik) tergantung dari lokasi
batu. Batu yang berada di ureter dapat menyebabkan nyeri yang luar biasa, akut, dan kolik yang
menyebar ke paha dan genitalia.
b. Demam
Demam terjadi karena adanya kuman yang beredar di dalam darah sehingga menyebabkan suhu
badan meningkat melebihi batas normal. Gejala ini disertai jantung berdebar, tekanan darah
rendah, dan pelebaran pembuluh darah di kulit.
c. Infeksi
Berkaitan dengan obstruksi dan statis di proksimal dari sumbatan. Infeksi yang terjadi di saluran
kemih karena kuman Proteus spp, Klebsiella, Serratia, Enterobakter, Pseudomonas, dan
Staphiloccocus.
d. Hematuria dan kristaluria
Terdapatnya sel darah merah bersama dengan air kemih (hematuria) dan air kemih yang berpasir
(kristaluria) dapat membantu diagnosis adanya penyakit batu.

e. Mual dan muntah


Obstruksi saluran kemih bagian atas (ginjal dan ureter) seringkali menyebabkan mual dan
muntah.
Pada pemeriksaan fisik mungkin didapatkan nyeri ketok pada daerah kosto-vertebra,
teraba ginjal pada sisi sakit akibat hidronefrosis, terlihat tanda-tanda gagal ginjal, retensi urin.

2.5.6 Pemeriksaan Penunjang


a. Laboratorium
Pemeriksaan urinalisis makroskopik didapatkan gross hematuria. Pemeriksaan
sedimen urin menunjukkan adanya leukosituria, hematuria, dan dijumpai kristal-kristal
pembentuk batu. Pemeriksaan kultur urin mungkin menunjukkan adanya pertumbuhan
kuman pemecah urea.
Pemeriksaan kimiawi ditemukan pH urin lebih dari 7,6 menunjukkan adanya
pertumbuhan kuman pemecah urea dan kemungkinan terbentuk batu fosfat. Bisa juga
pH urin lebih asam dan kemungkinan terbentuk batu asam urat.
Pemeriksaan faal ginjal bertujuan untuk mencari kemungkinan terjadinya penurunan
fungsi ginjal. Proteinuria juga disebut albuminuria adalah kondisi abnormal dimana urin
berisi sejumlah protein. Proteinuria merupakan tanda penyakit ginjal kronis (CKD), yang
dapat disebabkan oleh diabetes, tekanan darah tinggi, dan penyakit yang menyebabkan
peradangan pada ginjal. Perlu juga diperiksa kadar elektrolit yang diduga sebagai faktor
penyebab timbulnya batu saluran kemih, antara lain kalsium, oksalat, fosfat, maupun urat.

b. Radiologis
Foto polos abdomen bertujuan untuk melihat kemungkinan adanya batu radioopak di
saluran kemih.
Foto BNO-IVP untuk melihat lokasi batu, besarnya batu, apakah terjadi bendungan
atau tidak. Pada gangguan fungsi ginjal maka IVP tidak dapat dilakukan, pada keadaan ini
dapat dilakukan retrograde pielografi atau dilanjutkan. Dengan anterograd pielografi, bila
hasil retrograd pielografi tidak memberikan informasi yang memadai.
c. Ultrasonografi
USG dikerjakan bila tidak mungkin menjalani pemeriksaan IVP yaitu pada keadaan
seperti allergi terhadap bahan kontras, faal ginjal yang menurun dan pada wanita yang
sedang hamil. Terlihat pada gambar echoic shadow jika terdapat batu.
e. CT-scan
Teknik CT-scan adalah tehnik pemeriksaan yang paling baik untuk melihat gambaran
semua jenis batu dan juga dapat terlihat lokasi dimana terjadinya obstruksi.
2.5.7 Diagnosis banding
Beberapa diagnosa banding dari batu kandung kemih antara lain ialah:
1.

Kolik Ginjal dan Ureter

2.

Hematuria
Bila terjadi hematuria perlu dipertimbangkan kemungkinan keganasan apalagi bila
hematuria terjadi tanpa nyeri.

3. Tumor ginjal
4. Tumor ureter
5. Tumor kandung kemih

2.5.8 Penatalaksanaan
a) Medikamentosa
Tujuan dasar penatalaksanaan medis BSK adalah untuk menghilangkan batu, menentukan
jenis batu, mencegah kerusakan nefron, mengendalikan infeksi, dan mengurangi obstruksi yang
terjadi.30 Batu dapat dikeluarkan dengan cara medikamentosa, pengobatan medik selektif
dengan pemberian obat-obatan, tanpa operasi, dan pembedahan terbuka.Ditujukan untuk batu
yang ukurannya < 5 mm, karena batu diharapkan dapat keluar spontan.
b) Medis suportif
Analgesia dapat diberikan untuk meredakan nyeri dan mengusahakan agar batu dapat
keluar sendiri secara spontan. Opioid seperti injeksi morfin sulfat atau obat anti inflamasi
nonsteroid seperti ketorolac dapat diberikan tergantung pada intensitas nyeri. Pemberian
antibiotik apabila terdapat infeksi saluran kemih atau pada pengangkatan batu untuk mencegah
infeksi sekunder.
c) ESWL (Extracorporeal Shock Wave Lithotripsi)
. Alat ini dapat memecah batu ginjal, batu ureter proksimal, atau batu buli-buli tanpa
melalui tindakan invasif atau pembiusan. Prinsip dari ESWL adalah memecah batu menjadi
fragmen-fragmen kecil dengan menggunakan gelombang kejut yang dihasilkan oleh mesin dari
luar tubuh, sehingga mudah dikeluarkan melalui saluran kemih.

d) Endourologi
1. Ureteroskopi atau uretero-renoskopi: memasukkan alat ureteroskopi per uretram guna melihat
keadaan ureter atau sistem pielokaliks ginjal. Dengan memakai energi tertentu, batu yang

berada di dalam ureter maupun sistem pelvikalises dapat dipecah melalui tuntutan
ureteroskopi atau uretero-renoskopi ini.
2. PNL (Percutaneous Nephro Litholapaxy) : mengeluarkan batu yang berada di saluran ginjal
dengan cara memasukkan alat endoskopi ke sistem kaliks melalui insisi pada kulit. Batu
kemudian dikeluarkan atau dipecah terlebih dahulu.
3. Litotripsi : yaitu memecah batu bull-buli atau batu uretra dengan memasukkan alat pemecah
batu (litotriptor) ke dalam buli-buli. Pecahan batu dikeluarkan dengan evakuator Ellik.
e) Operasi
Penanganan BSK, biasanya terlebih dahulu diusahakan untuk mengeluarkan batu secara
spontan tanpa pembedahan/operasi. Tindakan bedah dilakukan jika batu tidak merespon terhadap
bentuk penanganan lainnya. Ada beberapa jenis tindakan pembedahan, nama dari tindakan
pembedahan tersebut tergantung dari lokasi dimana batu berada, yaitu:
a. Nefrolitotomi merupakan operasi terbuka untuk mengambil batu yang berada di dalam ginjal
b. Ureterolitotomi merupakan operasi terbuka untuk mengambil batu yang berada di ureter
c. Vesikolitomi merupakan operasi tebuka untuk mengambil batu yang berada di vesica urinearia
d. Uretrolitotomi merupakan operasi terbuka untuk mengambil batu yang berada di uretra

2.5.9 Pencegahan Batu Saluran Kemih


Pencegahan BSK terdiri dari pencegahan primer atau pencegahan tingkat pertama,
pencegahan sekunder, dan pencegahan tersier atau pencegahan tingkat ketiga.
a. Pencegahan Primer
Tujuan dari pencegahan primer adalah untuk mencegah agar tidak terjadinya penyakit
BSK dengan cara mengendalikan faktor penyebab dari penyakit BSK. Sasarannya ditujukan
kepada orang-orang yang masih sehat, belum pernah menderita penyakit BSK.. Contohnya
adalah untuk menghindari terjadinya penyakit BSK, dianjurkan untuk minum air putih minimal 2
liter per hari. Konsumsi air putih dapat meningkatkan aliran kemih dan menurunkan konsentrasi
pembentuk batu dalam air kemih. Serta olahraga yang cukup terutama bagi individu yang
pekerjaannya lebih banyak duduk atau statis.

2.6.2 Pencegahan Sekunder


Tujuan dari pencegahan sekunder adalah untuk menghentikan perkembangan penyakit
agar tidak menyebar dan mencegah terjadinya komplikasi. Sasarannya ditujukan kepada orang
yang telah menderita penyakit. Kegiatan yang dilakukan dengan diagnosis dan pengobatan dini.
2.6.3 Pencegahan Tersier
Tujuan dari pencegahan tersier adalah untuk mencegah agar tidak terjadi komplikasi
sehingga tidak berkembang ke tahap lanjut yang membutuhkan perawatan intensif. Sasarannya
ditujukan kepada orang yang sudah menderita penyakit. Kegiatan yang dilakukan meliputi
kegiatan rehabilitasi seperti konseling kesehatan agar orang tersebut lebih memahami tentang
cara menjaga fungsi saluran kemih terutama ginjal yang telah rusak sehingga fungsi organ
tersebut dapat maksimal kembali dan tidak terjadi kekambuhan penyakit, dan dapat memberikan
kualitas hidup sebaik mungkin sesuai dengan kemampuannya.

DAFTAR PUSTAKA

1.

A.Tanagho E, W.McAninch J. Smith'sgy General Urolo. San Fransisco: Lange; 2003.

2.

Purnomo BB. Dasar-Dasar Urologi. Malang: CV. Infomedika; 2007.

3.
Mos C, Holt G, Iuhasz S. The Sensitivity of Transabdominal Ultrasound in the Diagnosis of
Uretherolithiasis. Journal of Medical Ultrasonography. 2010;Vol.12:188-97.
4.
Henry K.Pancoast M, Sidney Lange M. Diagnosis and Management of Acute Ureterolithiasis.
American Roentgen Ray Society Journal. 2000.