Anda di halaman 1dari 8

MASTOIDITIS KRONIS 2014

BAB I
PENDAHULUAN
Mastoiditis adalah proses peradangan sel udara tulang mastoid pada tulang temporal.
Hamper setiap anak atau orang dewasa dengan Otitis Media Akut (OMA) dan Otitis Media
Kronis disertai dengan mastoiditis. Mastoiditis kronis paling sering dikaitkan dengan Otitis
Media Supuratif Kronis dengan Kolesteatoma.1,2,3,4
Seperti prose infeksi pada umumnya, faktor host dan mikroba perlu diperhatikan
dalam mengevaluasi mastoiditis. Mastoiditis kronis merupakan komplikasi dari Otitis Media
Supuratif Kronis. Berbagai jenis bakteri yang menyebabkan infeksi tersebut adalah
Pseudomonas aeruginosa, Enterobacteriaceae, Staphylococcus Aureus, dan bakteri
anaerobik. Bakteri anaerobic yang paling sering dijumpai adalah Peptostreptococcus species,
anaerobic gram-negatif (mis: Prevotella berpigmen, Porphyomonas, dan Bacteroides) dan
Fusobacterium spesies.1,2,4
Mastoiditis akut atau kronis saat ini sudah jarang ditemukan. Sebelum ditemukan
antibiotic, mastoiditis relative sering ditemukan. Mastoiditis sering ditemukan pada 5-10%
anak-anak dengan otitis media akut (OMA), dengan angka kematian 2 per 100.000 anak.
Tidak ada predileksi dari jenis kelamin yang diketahui. Komplikasi mastoiditis dapat terjadi
akibat proses didalam mastoid itu sendiri maupun disekitar mastoid.1,2,5
Terapi awal yang digunakan adalah antibiotic spectrum luas, diberikan secara intra
vena dengan dosis tinggi. Tindakan pembedahan berupa mastoidektomi timpanoplasti,
disarankan jika ditemukan mastoid osteitis, komplikasi intracranial, pembentukan abses,
kolesteatoma, tidak terdapat perbaikan setelah pemberian antibiotik.5

BAB II
1

MASTOIDITIS KRONIS 2014


ANATOMI DAN FISIOLOGI
2.1 Anatomi Telinga
Telinga adalah suatu organ kompleks dengan komponen-komponen fungsional
penting apparatus pendengaran mekanisme keseimbangan yang terdapat di dalam tengkorak
manusia. Secara umum telinga dibagi menjadi 3 bagian yaitu : telinga luar, telinga tengah dan
telinga dalam.6,7,8

Gambar 1. Anatomi Telinga 8

Rongga telinga tengah berasal dari bcelah brankial pertama endoderm. Rongga berisi
udara ini meluas resesus tubotimpanikus yang selanjutnya meluasnya di sekitar tulang-tulang
dan saraf dari telinga dan meluas kurang lebih ke daerah mastoid. Osikula berasal dari rawan
arkus brankialis. Untuk mempermudah pemikiran ini maleus dapat dianggap berasal dari
rawan arkus brankialis pertama (kartilago Meckel), sedangkan inkus dan stapes dari rawan
arkus brankialis kedua (kartilago Reichert). Saraf korda timpani berasal dari arkus kedua
(fasialis) menuju saraf pada arkus pertama (mandibularis-lingualis).6,7,8

MASTOIDITIS KRONIS 2014


Saraf timpanikus (dari Jacobson) berasal dari saraf arkus brankialis ketiga
(glosofaringeus) menuju saraf fasialis. Kedua saraf ini terletak dalam rongga telinga tengah.
Otot-otot telinga tengah berasal dari otot-otot arkus brankialis. Otot tensor timpani yang
melekat pada maleus, berasal dari arkus pertama dan dipersarafi oleh saraf mandibularis
(saraf kranialis kelima). Otot stapedius-berasal dari arkus kedua, dipersarafi oleh suatu
cabang saraf ketujuh.6,7,8

Gambar 2. Anatomi Telinga Tengah 8

Telinga tengah yang berisi udara dapat dibayangkan sebagai suatu kotak dengan enam
sisi. Dinding posteriornya lebih luas daripada dinding anterior sehingga kotak tersebut
berbentuk baji. Promontorium pada dinding medial meluas ke lateral kea rah umbo dari
membrana timpani sehingga kotak tersebut lebih sempit pada bagian tengah.6,7,8,9
Dinding superior telinga tengah berbatasan dengan lantai fosa kranii media. Pada
bagian atas dinding posterior terdapat aditus ad antrum tulang mastoid dan di bawahnya
adalah saraf fasialis. Otot stapedius timbul pada daerah saraf fasialis dab tendonya menembus
melalui suatu pyramid tulang menuju ke leher stapes. Saraf korda timpani timbul dari saraf
fasialis di bawah stapedius dan berjalan ke lateral depan menuju inkus tetapi di medial
maleus, untuk keluar dari telinga tengah lewat

sutura petrotimpanika. Korda timpani

kemudian

dan

bergabung

dengan

saraf

lingualis

menghantarkan

serabut-serabut

sekretomotorik ke ganglion submandibularis dan serabut-serabut pengecap dari dua pertiga


anterior lidah.6,7,8,9

MASTOIDITIS KRONIS 2014

Gambar 3. Anatomi Tulang Temporal 7

Dasar telinga tengah adalah atap bulbus jugularis yang di sebelah superolateral
menjadi sinus sigmoideus dan lebih ke tengah menjadi sinus tranversus. Keduanya adalah
aliran vena utama rongga tengkorak. Cabang aurikularis saraf vagus masuk ke telinga
dasarnya. Bagian bawah dinding anterior adalah kanalis karotikus. Diatas kanalis ini, muara
tuba eustakius dan otot tensor timpani yang berinsersi pada leher maleus.6,7,8,9
Dinding lateral dari telinga tengah adalah dinding tulang epitimpanum dibagian atas,
membrane timpani dan dinding tulang hipotimpanum dibagian bawah. Bagian yang paling
penting menonjol pada dinding medial adalah promontorium yang menutup lingkaran koklea
yang pertama. Saraf timpanikus berjalan melintasi promontorium ini. Fenestra rotundum
terletak posteroanterior dari promontorium, sedangkan kaki stapes terletak pada fenestra
ovalis pada batas posterosuperior promontorium. Kanalis falopii bertulang yang dilalui saraf
fasialis terletaak diatas fenestra ovalis mulai dari prosesus kokleariformis dianterior hingga
piramid stapedius di posterior.6,7,8,9

MASTOIDITIS KRONIS 2014

Gambar 4. Anatomi Telinga Tengah 16

Rongga mastoid terbentuk seperti pyramid bersisi tiga dengan puncak mengarah ke
kaudal. Atap mastoid adalah fossa kranii media. Dinding medial adalah dinding lateral fossa
kranii posterior. Pada dinding anterior mastoid terdapat aditus ad antrum. Dibawah kedua
patokan ini berjalan saraf fasialis dalam kanalis tulangnya untuk keluar dari tulang temporal
melalui foramen stilomastoideus di ujung anterior krista yang terbentuk oleh insersio otot
digastrikus. Dinding lateral mastoid adalah tulang subkutan yang dengan mudah dapat
dipalpasi di posterior aurikula.6,7,8,9
Selulae mastoideus seluruhnya berhubungan kavum timpani. Dekat antrum sel-selnya
kecil, makin ke perifer sel-selnya bertambah besar oleh karena itu bila terjadi radang pada
sel-sel mastoid, drainse tidak begitu baik hingga mudah terjadi radang pada mastoid
(mastoiditis).9
2.2 Fisioligi Pendengaran
Proses mendengar diawali dengan ditangkapnya energy bunyi oleh daun telinga dalam
bentuk gelombang yang dialirkan melalui udara atau tulang ke koklea. Getaran tersebut
menggetarkan membrane timpani diteruskan ke telinga tengah melalui rangkain tulangb
pendengaran yang akan mengamplikasi getaran melalui daya ungkit tulang pendengaran dan
perkalian perbandingan luas membrane timpani dan tingkap lonjong. Energi getar yang telah
diamplikasi ini akan diteruskan ke stapes yang menggerakkan tingkap lonjong perilimpa pada
skala vestibule bergerak.8,9
5

MASTOIDITIS KRONIS 2014


Getaran diteruskan melalui membrane Reissner yang mendorong endolimfa, sehingga
akan menimbulkan gerak relative antara membrane basilaris dan membrane tektoria. Proses
ini merupakan rangsang mekanik yang menyebabkan terjadinya defleksi sterosilia sel-sel
rambut, sehingga kanal ion terbuka dan terjadi pelepasan ion bermuatan listrik dari badan
sel. Keadan ini menimbulkan proses depolarisasi sel rambut, sehingga melepaskan
neurotransmitter ke dalam sinapsis yang akan menimbulkan potensial aksi pada saraf
auditorius, lalu dilanjutkan ke nucleus auditorius sampai ke korteks pendengaran (area 39-40)
di lobus temporalis.8,9

Gambar 6. Fisiologi Pendengaran 16

BAB III
6

MASTOIDITIS KRONIS 2014


TINJAUAN KEPUSTAKAAN
3.1 Definisi
Mastoiditis terjadi ketika infeksi supuratif di telinga tengah akibat otitis media meluas
ke sel udara mastoid. Proses infektif menyebabkan peradangan pada mastoid dan jaringan
sekitarnya dan bisa mengakibatkan kerusakan tulang.4
Mastoiditis kronis paling sering dikaitkan dengan otitis media supuratif kronis dan
terutama dengan pembentukan kolesteatoma. Kolesteatoma adalah agregat jinak epitel
skuamosa yang dapat tumbuh dan mengubah struktur normal dan fungsi sekitarnya jaringan
lunak dan tulang. Proses yang merusak ini dipercepat dengan adanya infeksi aktif oleh sekresi
enzim osteolitik oleh jaringan epitel.1,2

Gambar 6. Kolesteatoma di dalam tulang mastoid 5

3.2 Etiologi
Seperti kebanyakan proses infeksi, faktor host dan mikroba perlu diperhatikan dalam
mengevaluasi mastoiditis. Faktor host termasuk imunologi, anatomi tulang temporal, dan
kekebalan sistemik. Faktor microbial termasuk lapisan pelindung, resistensi antimikroban dan
kemampuan untuk menembus jaringan lokal atau pembuluh darah.1

MASTOIDITIS KRONIS 2014