Anda di halaman 1dari 21

PEMBUATAN SABUN CREAM (DETERGEN)

Untuk Memenuhi Tugas Mata Pelajaran Kimia

KELOMPOK X
Nama Anggota :

- Fakhri Sukma A
- Syifa Choerun Nisa
- Tiara Yunita Ekawati
- Titia Ningsih

Kelas : XII IPA 2

SMAN 1 SUMEDANG
Jalan Prabu Geusan Ulun No. 39 Sumedang 45312, Jawa Barat
Telp. (0261) 201850

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Cream Detergent atau yang dikenal sebagai sabun colek merupakan bahan yang tidak asing
lagi dalam kehidupan sehari-hari. Penggunaan sabun colek tetap banyak diminati konsumen,
meskipun banyak beredar jenis sabun yang lain, misalnya detergen bubuk. Kenyataan ini
disebabkan karena sabun colek harganya relatif murah, mudah pemakaiannya, cocok untuk
berbagai keperluan mulai dari mencuci pakaian, peralatan dapur, maupun untuk mencuci sepeda
motor dan mobil. Dengan berkembangnya jumlah penduduk dan peningkatan penggunaan
berbagai macam produk yang menyangkut kebutuhan manusia sehari-hari, maka kebutuhan
sabun colek sebagai bahan pembersih dari hari ke hari akan terus meningkat sesuai dengan
peningkatan jumlah penduduk.
Berbeda dengan sabun biasa, detergen mempunyai sifat tidak membentuk endapan (scum)
bila digunakan pada air sadah, sehingga efektif digunakan sebagai agen pembersih (Cleansing
Agent). Karakteristik detergen ini disebabkan oleh adanya gugus sulfonat yang ada pada struktur
detergen. Gugus sulfonat ini membentuk garam kalsium dan magnesium yang larut dalam air.
Oleh karena itu detergen tidak membentuk scum dan keefektifannya sebagai agen pembersih
hanya sedikit berkurang bila digunakan pada air dengan kadar Ca dan Mg yang tinggi.
Selain itu, detergen mempunyai bentuk lembek/ pasta basah dan tidak kering, sehingga
mudah untuk digunakan, yaitu mudah ditakar dan mudah untuk digunakan membersihkan
bagian-bagian yang sulit pada pakain maupun bahan-bahan lainnya. Kelebihan-kelebihan praktis
detergen ini memberikan peluang untuk dikembangkan dalam kegiatan bisnis yang cukup
menarik. Pengembangan dapat dimulai dari usaha kecil, skala rumah tangga, skala menengah
maupun skala industri.
Selain itu juga dapat dibuat untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Selain itu pembuatan
detergen juga dapat dimasukkan sebagai salah satu materi kecakapan hidup (Life Skill) pada
pembelajaran pokok bahasan Kimia Terapan, Kimia Unsur, atau Kimia Organik di SMA/MA.

1.2. Rumusan Praktikum


Pada dasarnya, pokok permasalahannya adalah:
1. Bagaimana proses pembuatan sabun cream (detergen) atau sabun colek?
2. Apa saja bahan bahan kimia yang digunakan dalam proses dan berapakah takarannya?
3. Bagaimana hasil dari percobaan tersebut?

1.3. Tujuan Praktikum


Adapun tujuan dari praktikum ini, yaitu diantaranya:
1. Untuk mengetahui bagaimana proses pembuatan sabun cream (detergen) atau sabun colek.
2. Untuk mengetahui bahan bahan kimia yang dipakai dalam proses pembuatan serta
takaran yang digunakan.
3. Untuk mengetahui hasil percobaan.

BAB II
LANDASAN TEORI

2.1. Bahan Bahan


1. ABS
Alkil benzene sulfonat (ABS) berfungsinya sebagai bahan aktif maka ABS mutlak ada pada
pembuatansabun colek (detergen). Tanpa bahan ini maka produk akhir tidak dapat
disebutsebagai detergen. Bahan ini merupakan cairan kental yg berwarna coklatkehitaman ,
berfungsi sebagai agen pembersih dan penghasil busa. Karenabahan ini berbau, maka sebaiknya
jangan dibuka terlebih dahulu sebelumdigunakan. Di toko-toko bahan kimia, ABS mudah
didapatkan, biasanya dikemas per kg dalam plastik / kaleng. Bila bahan ini tidak ada bisa
diganti dengan LABS (linear alkil benzene sulfonat), tetapi harganya lebih mahal.

2. Soda Api
Bahan ini berguna sebagai penetralisir sifat keasaman yang di akibatkan dalam pemakaian
DDBS. Bahan ini berbentuk batangan atau flake. Sebelum dilakukan pencampuran, bahan ini
harus dilarutkan dengan air dengan perbandingan 4:6 (misalnya : 40gr Kaustik Soda dengan
60cc air campuran) atau bisa juga dengan skala perbandingan lain sesuai dengan formula
masing masing, tetapi umumnya 4:6. Cara melarutkan kaustik soda harus dilakukan dengan
hati hati karena bahan ini bersifat keras terhadap kulit manusia.

3. Soda Abu
Soda abu atau SODA ASH berbentuk bubuk, dan warnanya putih. Fungsinya untuk
meningkatkan daya bersih, penambahan soda abu tidak boleh terlalu banyak, karena dapat
menimbulkan rasa panas di tangan saat sabun colek digunakan. Penggunaan soda abu yang
dianjurkan dalam formula pembuatan sabun colek adalah sekitar 7 % dari komposisi total
bahan sabun colek.

4. Air
Air merupakan bahan utama dalam pembuatan sabun colek, berfungsi untuk
menyempurnakan reaksi dari formula sabun colek, air juga berfungsi untuk mengatur
kekentalan sabun colek yang akan dihasilkan dari proses formula sabun colek.

5. Pewarna dan Pewangi


Berfungsi sebagai bahan tambahan (addictive) dan tidak akan mengurangi kualitas dari
sabun colek, warna sabun colek yang asli adalah coklat, dan berbau kurang menarik. jadi
penambahan parfum dan pewarna dapat mempengaruhi perhatian konsumen terhadap sabun
colek, jadi akan cepat terjual bila akan dijual. biasanya di gunakan warna kuning dan aroma
jeruk agar lebih dapat menghilangkan bau kotoran yang akan di bersihkan

6. CMC = Carboxy methyl cellulose


Na-CMC adalah turunan dari selulosa dan sering dipakai dalam industri farmasi dan
industri pangan, atau digunakan dalam bahan makanan untuk mencegah terjadinya retrogradasi.
Khusus di bidang farmasi, ada empat sifat fungsional yang penting dari Na-CMC yaitu untuk
stabilisator, pembentuk gel dan pengental, pengisi, dan sebagai pengemulsi. Didalam sistem
emulsi hidrokoloid, Na-CMC tidak berfungsi sebagai pengemulsi tetapi lebih sebagai senyawa
yang memberikan kestabilan. oleh karena itu, analisis Na-CMC yang telah disintesis dari
selulosa harus dilakukan.
Penelitian dilakukan dengan tahapan isolasi - selulosa, sintesis Na CMC, dan analisis
Na CMC yang telah dihasilkan. Hasil karakterisasi Na-CMC menunjukkan bahwa produk
memenuhi persyaratan sebagai eksipien sediaan farmasi, yang meliputi parameter organoleptis,
kelarutan, foam test, pembentukan endapan, dan reaksi warna yang sama dengan Na-CMC
baku.Biasanya tersedia dalam bentuk garam, yaitu CMC (Na). Fungsinya dalam sabun colek
adalah sebagai pengental / meningkatkan viskositas.
Menurut Tranggono dkk. (1991), CMC ini mudah larut dalam air panas maupun air
dingin. Pada pemanasan dapat terjadi pengurangan viskositas yang bersifat dapat balik
(reversible). Viskositas larutan CMC dipengaruhi oleh pH larutan, kisaran pH Na-CMC
adalah 5-11 sedangkan pH optimum adalah 5, dan jika pH terlalu rendah (<3), Na-CMC
akan mengendap (Anonymous. 2004).

7. STPP
Untuk mencegah redeposisi atau mencegah kotoran kembali ke baju (kain). Jadi tidak
tepat kalau ditambahkan pada sabun cair cuci piring. Jika ingin sabun cairnya punya kelebihan
dibanding sabun cair lain beri bahan kimia semacam anti jamur/bakteri. Jadi tidak sekedar
bersih tapi membunuh jamur/bakteri yg merugikan dari barang-barang yang di cuci sehingga
tampak higienis.

2.2. Pengertian Sabun


Sabun adalah surfaktan yang digunakan dengan air untuk mencuci dan membersihkan.
Sabun biasanya berbentuk padatan tercetak yang disebut batang karena sejarah dan bentuk
umumnya. Penggunaan sabun cair juga telah meluas, terutama pada sarana-sarana publik. Jika
diterapkan pada suatu permukaan, air bersabun secara efektif mengikat partikel dalam suspensi
mudah dibawa oleh air bersih. Di negara berkembang, deterjen sintetik telah menggantikan sabun
sebagai alat bantu mencuci atau membersihkan.
Sabun merupakan campuran garam natrium atau kalium dari asam lemak yang dapat
diturunkan dari minyak atau lemak dengan direaksikan dengan alkali (seperti natrium atau
kalium hidroksida) pada suhu 80100 C melalui suatu proses yang dikenal dengan saponifikasi.
Lemak akan terhidrolisis oleh basa, menghasilkan gliserol dan sabun mentah. Secara tradisional,
alkali yang digunakan adalah kalium yang dihasilkan dari pembakaran tumbuhan, atau dari arang
kayu. Sabun dapat dibuat pula dari minyak tumbuhan, seperti minyak zaitun.
Sabun adalah salah satu senyawa kimia tertua yang pernah dikenal. Sabun sendiri tidak
pernah secara aktual ditemukan, namun berasal dari pengembangan campuran antara senyawa
alkali dan lemak/minyak.Bahan pembuatan sabun terdiri dari dua jenis, yaitu bahan baku dan
bahan pendukung. Bahan baku dalam pembuatan sabun adalah minyak atau lemak dan senyawa
alkali (basa). Bahan pendukung dalam pembuatan sabun digunakan untuk menambah kualitas
produk sabun, baik dari nilai guna maupun dari daya tarik. Bahan pendukung yang umum
dipakai dalam proses pembuatan sabun di antaranya natrium klorida, natrium karbonat, natrium
fosfat, parfum, dan pewarna.

2.3. Reaksi Pada Sabun

Reaksi penyabunan (saponifikasi) dengan menggunakan alkali adalah adalah reaksi


trigliserida dengan alkali (NaOH atau KOH) yang menghasilkan sabun dan gliserin. Reaksi
penyabunan dapat ditulis sebagai berikut :

C3H5(OOCR)3 + 3 NaOH -------> C3H5(OH)3 + 3 NaOOCR


Reaksi pembuatan sabun atau saponifikasi menghasilkan sabun sebagai produk utama dan
gliserin sebagai produk samping. Gliserin sebagai produk samping juga memiliki nilai jual. Sabun
merupakan garam yang terbentuk dari asam lemak dan alkali. Sabun dengan berat molekul
rendah akan lebih mudah larut dan memiliki struktur sabun yang lebih keras. Sabun memiliki
kelarutan yang tinggi dalam air, tetapi sabun tidak larut menjadi partikel yang lebih kecil,
melainkan larut dalam bentuk ion.
Sabun pada umumnya dikenal dalam dua wujud, sabun cair dan sabun padat. Perbedaan
utama dari kedua wujud sabun ini adalah alkali yang digunakan dalam reaksi pembuatan sabun.
Sabun padat menggunakan natrium hidroksida/soda kaustik (NaOH), sedangkan sabun cair
menggunakan kalium hidroksida (KOH) sebagai alkali. Selain itu, jenis minyak yang digunakan
juga mempengaruhi wujud sabun yang dihasilkan. Minyak kelapa akan menghasilkan sabun yang
lebih keras daripada minyak kedelai, minyak kacang, dan minyak biji katun.

2.4. Pengertian Detergen


Detergen adalah pembersih sintetis campuran berbagai bahan, yang digunakan untuk
membantu pembersihan dan terbuat dari bahan-bahan turunan minyak bumi. Dibanding dengan
sabun, detergen mempunyai keunggulan antara lain mempunyai daya cuci yang lebih baik serta
tidak terpengaruh oleh kesadahan air.
Kebersihan merupakan salah satu faktor penting bagi kesehatan masyarakat. Untuk
menjaga kebersihan badan, pakaian, tempat tinggal serta tempat umum dibutuhkan produk
pembersih atau sabun cuci yang dapat diandalkan. Ibu rumah tangga, rumah sakit, sarana umum
lain hingga hotel berbintang lima pasti menjadikan produk yang satu ini sebagai bagian
kehidupan sehari-hari untuk mencuci pakaian maupun peralatan rumah tangga.

2.5. Bahan Bahan Detergen

1. Surfaktan
Surfaktan (surface active agent) merupakan zat aktif permukaan yang mempunyai ujung
berbeda yaitu hidrofil (suka air) dan hidrofob (suka lemak). Bahan aktif ini berfungsi
menurunkan tegangan permukaan air sehingga dapat melepaskan kotoran yang menempel
pada permukaan bahan. Secara garis besar, terdapat empat kategori surfaktan yaitu:
a. Anionik :
-Alkyl Benzene Sulfonate (ABS)
-Linier Alkyl Benzene Sulfonate (LAS)
-Alpha Olein Sulfonate (AOS)
b. Kationik : Garam Ammonium
c. Non ionik : Nonyl phenol polyethoxyle
d. Amphoterik : Acyl Ethylenediamines
2. Builder
Builder (pembentuk) berfungsi meningkatkan efisiensi pencuci dari surfaktan dengan
cara menon-aktifkan mineral penyebab kesadahan air.
a. Fosfat : Sodium Tri Poly Phosphate (STPP)
b. Asetat :
- Nitril Tri Acetate (NTA)
- Ethylene Diamine Tetra Acetate (EDTA)
c. Silikat : Zeolit
d. Sitrat : Asam Sitrat
3. Filler
Filler (pengisi) adalah bahan tambahan deterjen yang tidak mempunyai kemampuan
meningkatkan daya cuci, tetapi menambah kuantitas. Contoh Sodium sulfat.
4. Aditif
Aditif adalah bahan suplemen / tambahan untuk membuat produk lebih menarik,
misalnya pewangi, pelarut, pemutih, pewarna dst, tidak berhubungan langsung dengan daya

cuci deterjen. Additives ditambahkan lebih untuk maksud komersialisasi produk. Contoh :
Enzim, Boraks, Sodium klorida, Carboxy Methyl Cellulose (CMC).

2.6. Jenis Jenis Detergen


Kita tentu sudah akrab dengan detergen, selama ini kita mengenal detergent sebagai bubuk
pembersih pakaian. Sebenarnya deterjen adalah senyawa organik, yang memiliki dua kutub dan
bersifat non-polar karakteristik. Ada tiga jenis deterjen yaitu anionic, kationik, dan non-ionik.
Anionic dan permanen kationik memiliki muatan negatif dan positif yang melekat pada nonpolar (hidrofobik) CC rantai. Detergen non-ionik tidak mempunyai muatan ion tetap, hal ini
terjadi karena mereka memiliki jumlah atom yang lemah elektropositif dan elektronegatif yang
disebabkan oleh kekuatan menarik elektron atom oksigen.
Ada dua jenis karakteristik detergent yang berbeda yaitu fosfat deterjen dan surfaktan
deterjen. Pada umumnya deterjen yang mengandung fosfat akan terasa panas ditangan, sedangkan
surfaktan adalah jenis deterjen yang sangat beracun. Perbedaan kedua jenis detergen itu adalah
deterjen surfaktan lebih berbusa dan bersifat emulsifying deterjen. Disisi lain fosfat detergent
adalah deterjent yang membantu menghentikan kotoran dalam air.Zat yang terkandng didalam
detergent juga digunakan dalam formulasi dalam pestisida. Degradasi alkylphenol
polyethoxylates

(non-ion)

dapat

menyebabkan

pembentukan

alkylphenols

(terutama

nonylphenols) yang bertindak sebagai endokrin pengganggu jika limbah detergent bercampur
dengan air limbah lain di saluran air.
Awalnya deterjen mesin cuci dikenal sebagai produk cuci pembersih pakaian, namun kini
meluas dalam bentuk produk-produk sabun cuci seperti:
1)

Personal cleaning product, sebagai produk pembersih diri seperti sampo, sabun cuci
tangan, dll.

2)

Laundry, sebagai sabun deterjen pencuci pakaian, merupakan produk deterjen yang paling
populer di masyarakat.

3)

Dishwashing product, sebagai sabun cuci piring alat-alat rumah tangga baik untuk
penggunaan cuci piring manual maupun produk sabun mesin pencuci piring.

4)

Household cleaner, sebagai produk cuci rumah seperti produk sabun cuci pembersih
lantai, pembersih bahan-bahan porselen, plastik, metal, gelas, dll.

BAB III
PEMBAHASAN

3.1. Alat dan bahan


1.

Soda Api ................................ 200 gram

2.

STTP ....................................... 250 gram

3.

CMC ........................................... 200 gram

4.

Soda ash ..................................... 200 gram

5.

ABS .......................................... 1000 gram

6.

Bahan warna ............................ secukupnya

7.

Air ............................................ 600 cc

8.

Bibit minyak wangi ................. 5 cc

(2,5gelas)

9. Ember

10. Alat Pengaduk Kayu

11. Blender (Pengukur Takaran Air)

3.2. Cara Pembuatan


A. 1. Siapkan ember dan alat pengaduk.
2. Masukkan ABS dan CMC, lalu aduk secara rata.

ABS

CMC

B. Soda api, STTP, Soda ash dilarutkan dalam air, kemudian diaduk secepatnya sehingga
merata, dan dalam pengadukannya memerlukan waktu kira-kira 5 menit. Pertama
masukkan dahulu air dan soda api dimasukkan secara perlahan. Hati hati jika
terlalu cepat, dapat meledak. Kemudian masukkan STTP dan Soda ASH.

A
B

C. Kemudian diaduk sehingga busanya naik, kalau sudah halus, diaduk-aduk supaya tidak
ada tepung yang kristal.
D. Yang terakhir, Bibit minyak wangi dilarutkan pada percampuran B dan diaduk sekali
lagi supaya betul-betul merata.

BAB IV
PENUTUP
4.1. Simpulan
Simpulan yang didapat dari makalah tentang proses pembuatan deterjen
ini adalah sebagai berikut :

Detergen adalah Surfaktan anionik atau garam dari sulfonat atau


s u l f a t berantai panjang dari Natrium (RSO 3-Na+dan ROSO3-Na+).

Berdasarkan Bentuk Fisiknya, detergen digolongkan menjadi detergen


cair,d e t e r g e n

krim

berdasarkan

ion

dan

detergen

y a n g dikandungnya,

bubuk.

digolongkan

Sedangkan

menjadi

Cationic

detergent, Anionic detergents dan Neutral atau Non-Ionic Detergents

Sifat Fisis Detergen adalah Ujung non polar : R O (hidrofob) dan


Ujung polar: SO3 Na (hidrofil). Secara kimia, yaitu dapat melarutkan
lemak dantak dipengaruhi kesadahan air.

Surfaktannya,

memiliki

kemampuan

yang

unik

untuk

mengangkat

kotoran, baik yang larut dalam air maupun yang tak larut dalam air.

4.2. Saran
Selaku konsumen dan pemakai produk-produk yang terbuat dari bahan kimia. Kita harus
lebih jeli dalam memilih produk yang akan kita pakai supaya dampak yang ditimbulkan dari
bahan kimia tersebut dapat diminimalisir. Upayakan pemakaian bahan kimia tersebut sehemat
mungkin untuk menghindari dampak pencemaran lingkungan yang dapat mempengaruhi
kehidupan mahluk hidup.
Hal yang perlu diperhatikan adalah sebagai berikut:

Kadar air sebaiknya tidak lebih dari 33.% , bila lebih mungkin akan terjadi keenceran.

ABS sebaiknya jangan kurang dari 9%. bila lebih akan menyebabkan sabun colek jadi
kasar dan busanya sedikit.

Garam sebaiknya jangan lebih dari 7%. kelebihan garam juga bisa meyebabkan sabun
colek jadi kasar.

Soda ASH sebaiknya tidak lebih dari 7% karena akan menimbulkan rasa panas di tangan
saat sabun colek digunakan untuk mencuci.
Gunakanlah bahan kimia sebijaksana mungkin, jangan buang air cucian ke perairan yang

banyak organisme yang hidup di dalamnya. Gunakanlah ilmu pengetahuan kita untuk
menciptakan solusi masalah ini, misalnya bahan yang ramah lingkungan. Dan yang paling
penting, mari kita memohon ampun pada Allah Swt., karena selama ini kita telah meracuni
alam-Nya, alam sekitar kita.

LAMPIRAN