Anda di halaman 1dari 19

LABORATORIUM RANGKAIAN LISTRIK

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM


UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Jln. Bioteknologi No.1 Kampus USU, Medan 20155

RANGKAIAN RLC
I. TUJUAN
1. Untuk mengetahui sifat rangkaian RLC.
2. Untuk mengetahui aplikasi dari rangkaian RLC
3. Untuk mengetahui pengertian dari induktansi, kapasitansi dan resistansi
4. Untuk mengetahui tegangan pada RC seri dan RC paralel
II. LANDASAN TEORI
Sistem persamaan dari derajat yang lebih tinggi ini mempersyaratkan diketahuinya dua buah
konstanta untuk menentukan solusinya. Lebih jauh lagi, kondisi-kondisi awal bagi suku-suku
derivatif di dalam persamaan juga harus ditentukan. Rangkaian-rangkaian semacam ini di kenal
sebagai rangkaian RLC, baik dengan sumber bebas maupun tanpa sumber bebas.Terdapatnya
resistor, inductor dan kapasitor dalam rangkaian yang sama akan menghasilkan sebuah sistem orde
kedua, yaitu sistem yang secara matematis mempunyai sebiah persamaan diferensial linear berisi
turunan kedua atau dua persamaan diferensial linear orde pertama simultan. Pada rangkaian RLC
akan diketahui bahwa perbedaan harga elemen pada konfigurasi rangkaian yang sama bisa
menghasilkan bentuk fungsi tanggapan yang berbeda
2.1 Rangkaian RLC Paralel tanpa sumber
Rangkaian R-L-C paralel, sifat dari rangkaian paralel adalah terjadi percabangan arus dari
sumber menjadi tiga, yaitu arus yang menuju arus yang menuju resistor , induktor dan kapasitor.
Sedangkan tegangan jatuh pada resistor , pada induktor dan pada kapasitor sama besar dengan
sumber tegangan. Suatu rangkaian arus bolak-balik yang terdiri dari resistor (R), reaktansi induktif
(XL) dan reaktansi kapasitif (XC), dimana ketiganya dihubungkan secara paralel. Fasor tegangan
sebagai sumber tegangan total diletakan pada t = 0. Arus efektif berada sefasa dengan tegangan.
Arus yang melalui reaktansi induktif tertinggal sejauh 900 terhadap tegangan dan arus yang melalui
reaktansi kapasitif mendahului sejauh 900 terhadap tegangan. Arus reaktif induktif dan arus reaktif
kapasitif

bekerja dengan arah berlawanan, dimana selisih dari kedua arus reaktif tersebut

menentukan sifat induktif atau kapasitif suatu rangkaian. Arus gabungan adalah jumlah geometris
antara arus efektif dan selisih arus reaktif yang membentuk garis diagonal empat persegi panjang
yang dibentuk antara arus efektif dan selisih arus reaktif .
Posisi arus terhadap tegangan ditentukan oleh selisih kedua arus reaktif. Bila arus yang melalui
reaktansi induktif lebih besar daripada arus yang melalui reaktansi kapasitif , maka arus total
tertinggal sejauh 900 terhadap tegangan, maka rangkaian paralel ini cenderung bersifat induktif.
Sebaliknya bilamana arus yang melalui reaktansi induktif lebih kecil daripada arus yang melalui

LABORATORIUM RANGKAIAN LISTRIK


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Jln. Bioteknologi No.1 Kampus USU, Medan 20155

reaktansi kapasitif , maka arus total mendahului sejauh 900 terhadap tegangan, maka rangkaian
paralel ini cenderung bersifat kapasitif. Untuk menghitung hubungan seri antara

R,

XL dan XC pada setiap diagram fasor kita ambil segitiga yang dibangun oleh arus total,
arus.selisih dan arus efektif. Dari sini dapat dibangun segitiga daya hantar, yang terdiri dari daya
hantar resistor, daya hantar reaktif dan daya hantar impedansi.
(http://elektronika-dasar.web.id/teori-elektronika/rangkaian-r-l-c-paralel/)
Aplikasi-aplikasi lainnya untuk rangkaian RLC paralel adalah penggunaannya didalam
proses multiplexing dan pada filter-filter (atau piranti tipis) yang menyaring sinyal-sinyal harminik.
Jika sebuah inductor tidak ideal (selain unsur induktif juga mengandung unsur resistif) dihubungkan
secara paralel dengan sebuah kapasitor, maka rangkaian ekivalennya adalah sebuah rangkaian RLC
paralel tanpa sumber seperti diperlihatkan gambar 2.1, unutk menganalisis rangkaian ini, anggapan
bahwa sudah ada energy yang tersimpan didalam rangkaian sebagai kondisi awal tetap diberlakukan
baik yang berupa arus yang melalui inductor atau I (t0) maupun tegangan yang melintasi kedua
ujung kapasitor.
V

Gambar 2.1 Rangkaian RLC paralel tanpa sumber


Ketika sebuah kapasitor fisik dihubungkan secara paralel dengan sebuah induktor dan kapasitor
ini tentunya mengandung suatu nilai tahanan yang berhingga, maka rangkaian yang dihasilkan
dapat direpresentasikan dengan sebuah model rangkaian ekivalen pada rambar 2.1. Keberadaan
tahanan tersebut dapat memodelkan rugi-rugi energi dikapasitor fisik seiring dengan waktu, semua
kapasitor fisik akan kehilangan seluruh energinya, bahkan jika dilepaskan dari rangkaian. Rugi-rugi
energi di induktor fisik dapat pula diperhitungkan dengan memodelkannya sebagai kombinasi seri
sebuah induktor ideal dan sebuha tahanan ideal. Waktu energi dapat disimpan di induktor maupun
di kapasitor, dengan kata lain inductor dan kapasitor bisa saja memiliki nilai awal yang bukan nol.
Dengan merujuk ke gambar 2.1 dapat dituliskan persamaan nodal tunggal

( )

(2.1)

LABORATORIUM RANGKAIAN LISTRIK


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Jln. Bioteknologi No.1 Kampus USU, Medan 20155

Perhatikan bahwa tanda minus untuk i adalah konsekuensi dari arah yang digambarkan untuk
arus ini. Dari persamaan 2.1 dapat dihasilkan
I (0+) = I0

(2.2)

v (0+) = V0

(2.3)

dan

Pada frekuensi resonansi terdapat persamaan


(2.4)

Pada frekuensi neper atau koefisiensi redaman eksponensial dan melambangkan dengan
(2.5)
(Kemmerly.E Jack & Durbin.M Steven,2005)
2.2 Rangkaian RLC Seri tanpa sumber
Rangkaian RLC seri adalah rangkaian dual dari rangkaian RLC paralel, sehingga hal ini akan
mempersingkat analisis rangkaian RLC seri karena semuanya bisa dianalogikan dengan rangkaian
RLC paralel. Penerapan Hukum tegangan Kirchhoff pada rangkaian RLC seri dalam gambar 2.2a
akan menghasilkan persamaan tegangan
( )

(2.6)

Yang menunjukkan bahwa persamaan ini bersifat dual terhadap persamaan arus
( )

(2.7)

VC

VL

Gambar 2.2 Rangkaian RLC seri tanpa sumber


Semua pembahasan mengenai rangkaian RLC paralel bisa langsung diterapkan pada rangkaian
RLC seri, sehingga syarat awal pada tegangan kapasitor dan arus induktor pada rangkaian RLC
paralel adalah ekivalen dengan syarat awal pada arus induktor dan tegangan kapasitor pada
rangkaian RLC seri, serta tanggapan tegangan pada rangkaian RLC paralel adalah ekivalen dengan

LABORATORIUM RANGKAIAN LISTRIK


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Jln. Bioteknologi No.1 Kampus USU, Medan 20155

tanggapan arus pada rangkaian RLC seri. Tanggapan tegangan menjadi tegangan arus, dan
demikian pula sebaliknya.
Prinsip dasar rangkaian R,L dan C yang dihubungkan seri mempunyai sifat yang sama dengan R
dan L dihubungkan seri maupun R dan C dihubungkan seri yaitu arus yang mengalir pada setiap
elemen adalah sama dan besarnya tegangan total juga merupakan jumlah pasor tegangan pada tiaptiap elemen.
(2.8)
(2.9)

Rangkaian-rangkaian RLC seri dan paralel dapat digolongkan ke dalam tiga kategori, sesuai
dengan nilai- nilai relatif dari elemen-elemen R,L dan C nya :
a. Teredam Berlebihan (overdamped)

Tanggapan alami rangkaian RLC paralel dikatakan terlalu redam jika frekuensi peredam
eksponensial

lebih besar daripada frekuensi resonansi

. Dengan memperhatikan persamaan 2.8

dan persamaan 2.9, rangkaian terlalu redam tersebut akan terjadi jika LC > 4R2C2. Dalam kasus ini
akar untuk menghitung S1 dan S2 akan berharga riil pula. Harga

yang lebih besar dari pada

ini

juga akan mengakibatkan ketidaksamaan.


b. Teredam kritis (critically damped)

Tanggapan rangakain RLC paralel dikatakan dalam redaman kritis jika frekuensi peredam
eksponensial

sama dengan frekuensi resonansi


atau LC = 4R2C2 atau L = 4R2C

Dengan mengubah salah satu harga elemen dalam contoh kasus terlalu redam akan didapat redaman
kritis. Apabila mencoba membuat sebuah perangkat RLC paralel yang bersifat redaman krisis maka
sama saja melakukan pekerjaan yang sebenarnya mustahil. Karena tidak akan pernah dapat
menjadikan

bernilai sama dengan

c. Kurang Teredam (underdamped)

Tanggapan rangkaian RLC Paralel dikatakan kurang redam kritis jika frekuensi peredam
eksponensial

kurang dari frekuensi resonansi

. Rangkaian yang sudah dibahas. Rangkaian yang

sudah dibahas pada kasus terlalu redam dan redaman kritis bisa dibuat mempunyai tanggapan
kurang redam ini, yaitu sekali lagi dengan cara menaikkan harga resistor sedemikian sehingga
semakin berkurang sampai nilainya kurang dari

LABORATORIUM RANGKAIAN LISTRIK


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Jln. Bioteknologi No.1 Kampus USU, Medan 20155

Osilasi tanggapan menjadi lebih jelas jika

berkurang. Jika

berharga nol yang menyatakan

resistor sangat besar. Maka v(t) adalah sinusoida tak teredam yang berosilasi dengan amplitudo
konstan. Dalam hal ini settling time tidak perah terjadi, karena setelah turun mendekati nol,
tanggapan v(t) kembali bertambah, demikian seterusnya. Osilasi terus menerus ini terjadi karena
energy dipindahkan dari tempatnya semula dalam induktor ke kapasitor, kemudian kembali ke
inductor, kembali lagi ke kapasitor, demikian seterusnya.
(Zukhri.Zainudin,2007)
2.3 Resonansi
Suatu rangkaian yang mengandung unsur induktif dan kapasitif terdapat suatu harga frekuensi
yang menyebabkan reaktansi induktif dan reaktansi kapasitif saling menghilangkan. Dengan
demikian didapatkan karakteristik rangkaian hanya unsur resistor murni. Secara khusus resonansi
didefinisikan untuk sebuah rangkaian yang mengandung komponen-komponen tahanan (R),
induktor (L), (C). Rangkaian tersebut dikatakan dalam keadaan resonansi, apabila arus dan
tegangan sepasa sehingga rangkaian hanya mengandung harga tahanan (R) saja.
Suatu rangkaian dikatakan beresonansi ketika tegangan terpasang V dan arus yang dihasilkan I
dalam kondisi satu phasa. Misalkan :

Terlihat bahwa ketika V dan I satu phasa, impedansi yang dihasilkan seluruhnya komponen riil
atau impedansi kompleks hanya terdiri dari komponen resistor murni (R). Dengan kata lain konsep
resonansi adalah menghilangkan komponen imaginer / reaktansi saling meniadakan.
a. Resonansi Seri
Rangkaian seri yang terdiri dari tahanan (R), induktor (L) dan kapasitor (C) mempunyai
impedansi sebesar : Z = R + j(XL XC)
Rangkaian tersebut dalam keadaan resonansi, apabila impedansi Z adalah nyata (Z adalah
minimum), yaitu reaktansi induktifnya sama dengan reaktansi kapasitifnya. Jika ditulis XL =XC

Gambar 2.3 Resonasi Seri


b. Resonansi Paralel Dalam rangkaian R,L,C dihubungkan paralel mempunyai impedansi
sebesar : Z = R + j(XL XC)
(Santoso.Djoko,2006)

LABORATORIUM RANGKAIAN LISTRIK


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Jln. Bioteknologi No.1 Kampus USU, Medan 20155

III. PERALATAN DAN KOMPONEN


3. 1 PERALATAN
1. Power Supply Adaptor (1 buah)
Fungsi : Sebagai Sumber tegangan
2. Multimeter
Fungsi : Sebagai pengukur tegangan, kuat arus dan hambatan
3. Protoboard
Fungsi : sebagai tempat untuk merangkai rangkaian komponen sementara
4. Wayar Jepit Buaya
Fungsi : sebagai penghubung yang menghubungkan peralatan dengan rangkaian
5. Jumper
Fungsi : sebagai penghubung komponen yang satu dengan komponen yang lainnya
3.2 KOMPONEN
1. Induktor 2,5 mHenry (1 buah)
Fungsi : sebagai penyerap energi dalam bentuk medan magnet
2. Resistor 2 K (2 buah)
Fungsi : sebagai penghambat arus listrik
3. Kapasitor 470 F (1 buah)
Fungsi : sebagai penyimpan muatan listrik

LABORATORIUM RANGKAIAN LISTRIK


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Jln. Bioteknologi No.1 Kampus USU, Medan 20155

IV. PROSEDUR KERJA


4.1 Rangkaian RLC
1. Dipersiapkan peralatan dan komponen
2. Rangkailah peralatan dan komponen dengan gambar rangkaian berikut ini :

V1

2 KW
2 KW

+
6,5 V
-

V2
V3
470F

2,5
mH

3. Dihidupkan PSA
4. Diatur tegangan 6,5 V
5. Dihubungkan positif dari PSA ke kaki kapasitor
6. Dihubungkan negative dari PSA ke kaki R1
7. Untuk menghitung V1
Dihubungkan multimeter positif dan negative ke kaki R1
8. Untuk menghitung V2
Dihubungkan multimeter positif ke kaki L dan negative ke kaki R2
9. Untuk menghitung V3
Dihubungkan multimeter positif ke kaki kapasitor dank ke kaki R1
10. Dicatat hasil pengukuran di kertas
4.2 Rangkaian RC Sepri
1. Dipersiapkan peralatan dan komponen
2. Dirangkai peralatan dan komponen sesuai dengan gambar rangkaian di bawah ini :

LABORATORIUM RANGKAIAN LISTRIK


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Jln. Bioteknologi No.1 Kampus USU, Medan 20155

V2

V1

470F

2 KW

- +

6,5 V
3. Dinyalakan PSA
4. Diatur tegangan 6,5 V
5. Dihubungkan positif dari PSA ke kaki R1
6. Dihubungkan negatif dari PSA ke kaki kapasitor
7. Untuk menghitung V1
Dihubungkan multimeter positif dan negatif ke kaki R1
8. Untuk menghitung V2
Dihubungkan multimeter positif ke kaki L dan negatif ke kaki R1
9. Dicatat hasil pengukuran di kertas

4.3 Rangkaian RC Paralel


1. Dipersiapkan peralatan dan komponen
2. Dirangkai peralatan dan komponen sesuai dengan gambar rangkaian di bawah ini :

V1

2 KW

V2

470F
V3

6,5 V

LABORATORIUM RANGKAIAN LISTRIK


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Jln. Bioteknologi No.1 Kampus USU, Medan 20155

3. Dinyalakan PSA
4. Diatur tegangan 6,5 V
5. Dihubungkan positif dari PSA ke kaki R1
1.

6. Dihubungkan negative dari PSA ke kaki R1


7. Untuk menghitung V1
Dihubungkan multimeter positif ke resistor positif dan negative ke kapasitor negative

2.

8. Untuk menghitung V2
Dihubungkan multimeter positif dan negative ke kaki resistor
9. Dicatat hasil pengukuran di kertas

LABORATORIUM RANGKAIAN LISTRIK


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Jln. Bioteknologi No.1 Kampus USU, Medan 20155

V. GAMBAR PERCOBAAN RANGKAIAN RLC


5.1 RANGKAIAN RLC SERI

6,5
Vd

50
20

c2

OF

50

Va
20

20

0
20

20 0
M

20
00
0

200

M
0
20
M
0

20

K
00 20
0

5A
K
2

K
O
0

hF
20

20

00

DIGITAL
MULTIMETR

2 KW

V1

6,5
5 V

POWER

2 KW
V2

O
F O
F N

20 0
M
20
00
M
0

K
0 2
K
0 20
00

V3

6,5
OF 50
20
F
0

Vd 50
c 2 2000
20 0
M
20
00
M
0
20
K
0020
K
0 2
K
0 20
00

Va
c

0 20
0
20

00
2
M
0
20
M
0
5A

20
0

DIGITAL
MULTIMETR

hF
E

5A
20
0

DIGITAL
MULTIMETR

-+

470 F

2,5 mH

Va
c

50
20
0
0 20
0
20

00
2
M
0
20
M
0

20
K
0020

SUPPLY
A

OF
F

Vd 50
c 2 200 0

hF
E

LABORATORIUM RANGKAIAN LISTRIK


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Jln. Bioteknologi No.1 Kampus USU, Medan 20155

5.2 RANGKAIAN RC SERI

5 V

POWER

O
F O
F N

SUPPLY
A

6,5
Vd
c2

OF
F

50
20 0
0

Va
c

50
20
0
0

20
0
20

00
2
M
0
20
M
0

20 0
M
20
00
M
0
20
K
0020
K
0 2
K 20
0
00

5A
20
0

hF
E

2 KW

V2

V1

470 F

DIGITAL
MULTIMETR

6,5
Vd
c2

OF
F

50
20 0
0

20 0
M
20
00
M
0
20
K
0020

K
0 2
K
0 20
00

Va
c

50
20
0
0 20
0
20

00
2
M
0
20
M
0
5A

20
0

DIGITAL
MULTIMETR

hF
E

LABORATORIUM RANGKAIAN LISTRIK


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Jln. Bioteknologi No.1 Kampus USU, Medan 20155

5.3 RANGKAIAN RC PARALEL

6,5
OF

Vd

50
20

c2

50
0

5 V

POWER

O
F O
F N

Va
20

20

0
20

20 0
M
20
00
M
0

200

SUPPLY

M
0
20
M
0

20

K
0020

5A

K
0 2

K
O
0

hF
20

20

00

DIGITAL

6,5

MULTIMETR

V1

470 F
V2

2 KW

LABORATORIUM RANGKAIAN LISTRIK


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Jln. Bioteknologi No.1 Kampus USU, Medan 20155

VI. DATA PERCOBAAN


6.1 DATA RANGKAIAN RLC SERI
R (Ohm)
C
E
(Volt)
( )
R1
R2
6,5

470

2K

2K

6.2 DATA RANGKAIAN RC SERI


C
E
R (Ohm)
(Volt)
( )
6,5

470

2K

6.3 DATA RANGKAIAN RC PARALEL


C
E
R (Ohm)
(Volt)
( )
6,5

470

Asisten

(ANCELA SIMBOLON)

2K

L
(mH)

V1

V(Volt)
V2

V3

2,5

0,06

0,07

6,60

V1 (Volt)

V2 (Volt)

0,06

6,68

V1 (Volt)

V2 (Volt)

6,67

6,67

Medan, 03 Mei 2014


Praktikan,

(AFRISYAH HANDAYANI LUBIS)

LABORATORIUM RANGKAIAN LISTRIK


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Jln. Bioteknologi No.1 Kampus USU, Medan 20155

VII. ANALISA DATA


1. Menghitung frekuensi resonansi secara teori:
=

f0 =

(L = 2,5 mH ; C = 470 F)

= 53,851 Hz
2. Grafik kuat arus (I) dengan beda potensial (V) rangkaian RLC:
a. I-vs-t

(terlampir di kertas grafik)

b. Vr-vs-t

(terlampir di kertas grafik)

c. Vc-vs-t

(terlampir di kertas grafik)

d. Vl-vs-t

(terlampir di kertas grafik)

LABORATORIUM RANGKAIAN LISTRIK


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Jln. Bioteknologi No.1 Kampus USU, Medan 20155

VIII. KESIMPULAN DAN SARAN


8.1 KESIMPULAN
1. Dapat dipelajari sifat-sifat dari rangkaian RLC , pada frekuensi (fo), rangkaian bersifat
resistif dan akan terjadi arus maksimum tegangan maksimum pada R bila dilihat dari
impedansi rangkaian Ztot maka pada f < fo rangkaian bersifat kapasitif f < fo rangkaian
akan bersifat induktif. Pada waktu resonansi seri sangat mungkin terjadi bahwa tegangan
pada L atau pada C lebih besar dari tegangan sumbernya pembesaran tegangan pada L atau
pada C pada saat resonansi ini didefinisikan sebagai faktor kualitas Q.
2. Aplikasi-aplikasi lainnya untuk rangkaian RLC paralel adalah penggunaannya didalam
proses multiplexing dan pada filter-filter (atau piranti tipis) yang menyaring sinyal-sinyal
harminik. Jika sebuah inductor tidak ideal (selain unsur induktif juga mengandung unsur
resistif) dihubungkan secara paralel dengan sebuah kapasitor, maka rangkaian ekivalennya
adalah sebuah rangkaian RLC paralel tanpa sumber
3. Dalam percobaan kita dapat mengetahui definisi reaktansi induktif, reaktansi kapasitif, dan
apa hubungannya dengan frekuensi, dimana definis reaktansi induktif adalah hambatan
semu pada induktor jika dihubungkan dengan arus bolak-balik (XL = wL), reaktansi kapa
sitif adalah hambatan semu pada kapasitor jika dihubungkan dengan arus bolak-balik (XC =
1/wC), dan hubungannya dengan frekuensi adalah bahwa frekuensi resonansi terjadi jika
pada rangkaian terjadi XL = XC maka f = ( ) 1/LC).
4. Tegangan yang didapat dari pengukuran yang telah dilakukan sesuai dengan rumus yang
telah ditentukan, yaitu pada rangkaian RC seri I1 = I2 dan V1
rangkaian RC paralel. I1

V2, begitu juga sebaliknya

I2 dan V1= V2.

8.2 SARAN
1. Sebaiknya praktikan selanjutnya menjaga ketertiban saat berada didalam laboraturium.
2. Sebaiknya praktikan selanjutnya mempelajari judul percobaan sebelum percobaan
dilaksanakan.
3. Sebaiknya praktikan selanjutnya berhati-hati dalam melakukan percobaan agar tidak ada alat
percobaan yang rusak.
4. Sebaiknya praktikan selanjutnya memperhatikan ke akuratan data percobaan.

LABORATORIUM RANGKAIAN LISTRIK


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Jln. Bioteknologi No.1 Kampus USU, Medan 20155

IX. DAFTAR PUSTAKA


Hayt,William.2005.Rangkaian Listrik.Jakarta:Erlangga
Halaman : 265-299
Santoso,Djoko.2006.Teori Dasar Rangkaian Listrik.Yogyakarta:Pustaka Pena
Halaman : 50-89
Zukhri,Zainudin.2007.Analisa Rangkaian.Yogyakarta:Graha Ilmu
Halaman : 73-91
(http://elektronika-dasar.web.id/teori-elektronika/rangkaian-r-l-c-paralel/)
Diakses pada tanggal 30 April 2014
Jam : 09.16

Asisten

(ANCELA SIMBOLON)

Medan, 03 Mei 2014


Praktikan,

(AFRISYAH HANDAYANI LUBIS)

LABORATORIUM RANGKAIAN LISTRIK


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Jln. Bioteknologi No.1 Kampus USU, Medan 20155

NAMA : AFRISYAH HANDAYANI LUBIS


NIM

: 132411015

RESPONSI
1. Tuliskan atau buatlah tabel kode warna resistor !
2. Tuliskan kode warna dari
a. 2 K
b. 330
c. 570
d. 100
3. Apa yang dimaksud dengan rangkaian RLC dan gambarkan rangkaian RC paralel dan seri !
4. Sebutkan peralatan dan komponen besertaa fungsinya !
5. Apa yang anda ketahui tentang percobaan ini ?

JAWAB :
1. Tabel Kode Warna
Warna
Hitam
Coklat
Merah
Orange
Kuning
Hijau
Biru
Ungu
Abu-abu
Putih
Emas
Perak
Tanpa Warna

I
0
1
2
3
4
5
6
7
8
9
-

2. Menentukan kode warna


a. 2 K
b. 330

II
0
1
2
3
4
5
6
7
8
9
-

III
100
101
102
103
104
105
106
107
108
109
10-1
10-2
-

c. 570

IV
5%
10 %
20 %

d. 100

Merah :2

Orange : 3

Hijau : 5

Coklat : 1

Hitam :0

Orange : 3

Ungu : 7

Hitam : 0

Merah : 102

Coklat : 101

Coklat : 101

Coklat : 101

LABORATORIUM RANGKAIAN LISTRIK


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Jln. Bioteknologi No.1 Kampus USU, Medan 20155

3. Rangkaian RLC adalah sistem persamaan dari derajat yang lebih tinggi ini mempersyaratkan
diketahuinya dua buah konstanta untuk menentukan solusinya. Lebih jauh lagi, kondisikondisi awal bagi suku-suku derivatif di dalam persamaan juga harus ditentukan.
Rangkaian-rangkaian semacam ini di kenal sebagai rangkaian RLC, baik dengan sumber
bebas maupun tanpa sumber bebas.Terdapatnya resistor, inductor dan kapasitor dalam
rangkaian
+

Gambar rangkaian RC paralel


iR

21?

iC

28H
11,905F

Gambar Rangkaian RC seri

4. Peralatan dan komponen yang digunakan pada rangkaian RLC


a. Peralatan
- Power Supply Adaptor (1 buah)
Fungsi : Sebagai Sumber tegangan
-

Multimeter
Fungsi : Sebagai pengukur tegangan, kuat arus dan hambatan

Protoboard
Fungsi : sebagai tempat untuk merangkai rangkaian komponen sementara

Wayar Jepit Buaya


Fungsi : sebagai penghubung yang menghubungkan peralatan dengan rangkaian

Jumper
Fungsi : sebagai penghubung komponen yang satu dengan komponen yang lainnya
b. Komponen

LABORATORIUM RANGKAIAN LISTRIK


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Jln. Bioteknologi No.1 Kampus USU, Medan 20155

Induktor 2,5 mHenry (1 buah)


Fungsi : sebagai penyerap energi dalam bentuk medan magnet

Resistor 2 K (2 buah)
Fungsi : sebagai penghambat arus listrik

Kapasitor 470 F (1 buah)


Fungsi : sebagai penyimpan muatan listrik

5. Yang diketahui dari percobaan ini adalah mengetahui perbedaan antara rangkaian RC seri
dan

rangkaian

RC

paralel

dan

induktansi,kapasitansi dan resistansi

juga

mengetahui

fungsi

masing-masing

dari