Anda di halaman 1dari 12

laporan praktikum farmasetika 2 "AMPUL"

LABORATORIUM FARMASETIKA II
DIPLOMA III
AKADEMI FARMASI BINA HUSADA
KENDARI
JURNAL PRAKTIKUM FARMASETIKA II
PERCOBAAN III
INJEKSI AMPUL

DISUSUN OLEH :
NAMA

: SULASNI ATMA DESI

NIM

: F.10.086

KELOMPOK
KELAS

: IV (EMPAT)
:B

ASISTEN

: NOVY AYU PRASTHICA

AKADEMI FARMASI BINA HUSADA


KENDARI
2011
BAB I
PENDAHULUAN
I.1. Latar Belakang

Produk steril adalah sediaan teraseptis dalam bentuk terbagi bagi yang bebas dari
mikroorganisme hidup. Sediaan parenteral

ini merupakan sediaan unik diantara bentuk

sediaan obat terbagi bagi, karena sediaan ini disuntikkan melalui kulit atau membran
mukosa ke bagian dalam tubuh. Karena sediaan mengelakkan garis pertahanan pertama dari
tubuh, yang paling efisien yakni membran kulit dan mukosa.
Sediaan tersebut harus bebas dari kontaminasi mikroba dan dari komponen toksis,dan
harus mempunyai tingkat kemurnian tinggi atau luar biasa. Semua komponen dan proses
yang terlibat dalam penyediaan dalam produk ini harus dipilih dan dirancang untuk
menghilangkan semua jenis kontaminasi apakah fisik, kimia, mikrobiologis.
Pada umumnya, pemberian secara parenteral dilakukan bila diinginkan kerja obat
yang lebih cepat, seperti pada keadaan gawat/darurat. Bila penderita tidak dapat diajak
bekerjasama dengan baik, tidak sadar, tidak dapat atau tidak tahan menerima pengobatan
secara oral atau bahkan bila obat tersebut tidak efektif dengan cara pemberian yang lain.
Hal yang melatarbelakangi dalam pembuatan sediaan injeksi ampul tersebut yaitu
untuk memberi bantuan kepada para pasien yang dalam keadaan tidak sadar yang tidak dapat
diberikan obat secara peroral. Sehingga diberikan pemberian obat secara injeksi ampul. Disisi
lain, penggunaan injeksi ampul bertujuan untuk memberikan kerja obat yang lebih cepat,
maka efek yang diinginkan dari penggunaan injeksi tersebut lebih cepat pula.
I.2. Tujuan Percobaan
Adapun tujuan dari percobaan ini adalah sebagai berikut :
Untuk mengetahui bagaimana cara pembuatan injeksi ampul yang isotonis dan isohidris
dengan cairan tubuh.
Untuk mengetahui khasiat dan penggunaan injeksi ampul tersebut.

BAB II
FORMULA

II.1. Master Formula


R/
Thiamin HCl
100 mg
NaCl
0,9 %
A.P.I
ad 5 mL
Pro
: Ani
Umur
: 17 tahun
Alamat
: Jln. Sahabat No.7 Kendari

dr. Arman Armin,Sp.Pd

SIP. 0304 / IDI / 2009


Alamat : Jl. Bunga Seroja NO.17

NO. 3

Kendari 14-11-2011

R/
Thiamin HCl

100 mg

NaCl

0,9 %

A.P.I

ad 5 mL
m.f.ampul.dtd.no.V

Pro

: Ani

Umur : 17 tahun
Alamat : Jln. Sahabat No.7 Kendari
II.2. Kelengkapan Resep
Keterangan:

NO:
Nomero:
Sebanyak
Pro:
pro:
untuk

ad:ad:hingga

II.3. Alasan Penggunaan Bahan


II.3.1. Penggunaan Bahan Aktif
1. Thiamin HCl
Sebagai zat aktif yang diindikasikan pada pasien yang mengalami defisiensi Thiamin.
Thiamin HCl berguna untuk pengobatan berbagai neuritis yang disebabkan oleh defisiensi
Thiamin HCl.
2. Natrium Chlorida
Sebagai cairan pengisotonis.
II.3.2. Penggunaan Bahan Tambahan
1. Aqua Pro Injeksi
Sebagai pelarut dalam sediaan steril.

BAB III
TINJAUAN PUSTAKA
III.1 Landasan Teori

Menurut Farmakope Indonesia Edisi III, injeksi adalah sediaan steril berupa larutan,
emulsi, suspensi atau serbuk yang harus dilarutkan atau disuspensikan terlebih dahulu
sebelum digunakan, yang disuntikkan dengan cara merobek jaringan ke dalam kulit atau
melalui kulit atau melalui selaput lender (FI.III.1979).
Sedangkan menurut Farmakope Indonesia Edisi IV, injeksi adalah injeksi yang
dikemas dalam wadah 100 mL atau kurang. Umumnya hanya laruitan obat dalam air yang
bisa diberikan secara intravena. Suspensi tidak bisa diberikan karena berbahaya yang dapat
menyebabkan penyumbatan pada pembuluh darah kapiler (FI.IV.1995).
Sterilisasi adalah proses yang dirancang untuk menciptakan keadaan steril. Secara
tradisional keaadan sterill adalah kondisi mutlak yang tercipta sebagai akibat penghancuran
dan penghilangan semua mikroorganisme hidup.
Konsep ini menyatakan bahwa steril adalah istilah yang mempunyai konotasi
relative, dan kemungkinan menciptakan kondisi mutlak bebas dari mikroorganisme hanya
dapat diduga atas dapat proyeksi kinetis angka kematian mikroba ( Lachman.1994).
Ampul adalah wadah berbentuk silindris yang terbuat dari gelas yang memiliki
ujung runcing (leher) dan bidang dasar datar. Ukuran nominalnya adalah 1, 2, 5, 10, 20
kadang-kadang juga 25 atau 30 ml. Ampul adalah wadah takaran tunggal, oleh karena total
jumlah cairannya ditentukan pemakaian dalam satu kali pemakaiannya untuk satu kali injeksi.
Menurut peraturan ampul dibuat dari gelas tidak berwarna, akan tetapi untuk bahan obat peka
cahaya dapat dibuat dari bahan gelas berwarna coklat tua (Anonim.2009).
Injeksi intravena memberikan beberapa keuntungan (Anonim.2011) :
1. Efek terapi lebih cepat .
2. Dapat memastikan obat sampai pada tempat yang diinginkan.
3. Cocok untuk keadaan darurat.
4. Untuk obat-obat yang rusak oleh cairan lambung.

an

III.2. Uraian Bahan


1. Thiamin Hydrochloridum (FI. Edisi III hal 598)
Nama Resmi : THIAMINI HYDROCHLORIDUM
Sinonim

: Thiamin Hidrokloridum, Vit.B1

: Hablur kecil, bau khas lemah, mirip ragi, rasa pahit.


Kelarutan

: Mudah larut dalam air, sukar larut dalam etanol

(95%)P, praktis tidak larut dalam eter P, dan dalam


benzena P, dan larut dalam gliserol P.
Penyimpanan

: Dalam wadah tertutup baik, terlindung dari cahaya.

K/P

: Antineuritikum yaitu sebagai penekan fungsi kerja

saraf pusat dan sebagai komponen Vit. B kompleks.


2. Aqua Pro Injection (FI. Edisi III hal 97)
Nama Resmi : AQUA PRO INJECTION
Sinonim

: Aqua untuk injeksi

Pemerian

: Keasaman, kebasaan, ammonium, besi,

timbal, kalsium klorida, nitrat, sulfat, zat teroksidasi


menurut syarat yang tertera pada aqua destillata.
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik.
K/P

: Sebagai pelarut untuk injeksi (zat tambahan)

3. NATRII CLORIDUM ( FI III, Hal 403 )

a Resmi

: NATRII CLORIDUM

nim

: NaCl, Natrium Klorida

us Molekul

: NaCl

us Bangun

:-

rian

tembaga,

: Hablur heksahedral, tidak berwarna atau serbuk hablur putih, tidak berbau, rasa asin.

utan

impanan

: Larut dalam 2,8 bagian air, dalam 2,7 bagian air mendidih dan
dalam lebih kurang 10 bagian gliserol p, sukar larut dalam etanol (97%) p.
: Dalam wadah tertutup baik.
: Sumber ion klorida dan ion natrium.

BAB IV
METODE KERJA
IV.1. Alat dan Bahan
IV.1.1. Alat Yang Digunakan
1. Autoclave
2. Batang pengaduk
3. Cawan porselen
4. Disposiblle 1 cc, 3 cc, dan 5 cc
5. Gelas kimia 100 mL
6. Gelas ukur 100 mL
7. Labu ukur 500 mL
8. Sendok tanduk
9. Timbangan analitik
IV.1.2. Bahan Yang digunakan
1. Aqua pro injeksi
2. Aluminium foil
3. Natrium Chlorida 0,9%
4. Thiamin HCl

IV.2. Perhitungan Bahan


Dibuat 5 ampul @ 5 mL
1. A.P.I

= 5 x 5 = 25 mL

Dilebihkan 5%

= x 25
=1,25 mL

Total

= 25 + 1,25
= 26,25 mL

2. NaCl yang ditambahkan


Keterangan

: Volume ampul yang dibuat

: Berat(g) zat aktif ( Thiamin HCl )

: Ekuivalen zat aktif ( Thiamin HCl )

Sehingga NaCl yang ditambahkan


=
= 0,045 0,025
= 0,02 gram
Jadi Berat NaCl yang ditimbahkan untuk 5 ampul, yaitu :

3. Vitamin B1

= 0,525 gram
4. A.P.I

= 26,25 ( 0,525 g + 0,105 g )

= 26,25 gram 0,63 gram


= 25,62 gram
IV.3. Cara Kerja
1. Disiapkan alat dan bahan
2.

Dilakukan sterilisasi pada semua alat yang digunakan. Khusus gelas arloji di sterilisasikan
dalam oven selama180oC selama 2 jam.

3. Ditimbang vitamin B1 sebanyak 0,525 gram diatas gelas arloji. Lalu dimasukkan ke dalam
gelas kimia 100 mL .

4. Dilarutkan dengan aqua pro injeksi secukupnya.


5.

Ditambhakan Natrium Chlorida 0,9% sebanyak 0,105 gram. Dimana Natrium Chlorida
ditimbang dalam cawan porselen.

6. Kemudian diaduk dengan batang pengaduk hingga homogen.


7.

Dimasukkan ke dalam gelas ukur 25 mL, kemudian dicukupkan dengan aqua pro injeksi
hingga 26,25 mL dengan cara menggunakan spoit 1 cc.

8. Evaluasi terlebih dahulu pH dari Thiamin HCl, dimana pH range dari sediaan tersebut yaitu
2,8 hingga 3,4.
9. Dipipet sebanyak 5,25 mL sediaan tersebut tersebut. Lalu masukkan ke dalam wadah ampul.
10. Sterilkan sediaan tersebut. Lalu beri etiket, brosur serta kemasan untuk sediaan injeksi ampul
tersebut.

BAB V
PEMBAHASAN

Pada praktikum Farmasetika II, sediaan yang dibuat adalah sediaan steril. Pada
praktikum sebelumnya salah satu sediaan steril yang telah kami buat yaitu sediaan Infus.
Selanjutnya, pada praktikum kali ini kami melanjutkan membuat sediaan seril lainnya yaitu
sediaan injeksi. Sediaan injeksi terbagi lagi menjadi dua bagian, yaitu sediaan injeksi vial dan
sediaan injeksi ampul. Pada praktikum sebelumnya sediaan injeksi vial telah kami lakukan.
Sehingga praktikum selanjutnya yaitu membuat sediaan injeksi ampul.
Hal pertama yang dilakukan sebelum proses pembuatan sediaan adalah sterilisasi alat.
Dimana kami melakukan sterilisasi alat pada autoklaf pada suhu 121o C selama 15 menit.
Selanjutnya dilakukan persiapan bahan bahan yang akan digunakan.

Kemudian melakukan penimbangan bahan bahan, dimana seluruh bahan yang akan
digunakan harus dilebihkan sebanyak 5%. Hal tersebut bertujuan untuk mencegah terjadinya
hilangnya volume bahan pada saat pembuatan sediaan tersebut. Hal tersebut sama juga
dilakukan pada pembuata sediaan injeksi vial.
Selanjutnya lakukan penimbangan bahan. Pada pembuatan sediaan injeksi ini, kami
hanya membuat 2 ampul, dimana volumenya yaitu 5 mL. Setelah proses sterilisasi selesai
dilakukan, maka dilakukanlah penimbangan bahan. Bahan yang ditimbang yakni vitamin B1
pada kaca arloji dan NaCl pada cawan porselin. Setelah ditimbang dilarutkan Vitamin B1
dalam gelas kimia dengan A.P.I kemudian ditambahkan larutan NaCl yang telah ditimbang
tadi dan dihomogenkan.
Setelah semua bahan tercampur, masukkan ke dalam gelas ukur 25 mL dan cukupkan
volumenya dengan A.P.I hingga 4,2 mL dengan menggunakan spoit 1 CC. Langkah
selanjutnya adalah melakukan evaluasi pH larutan dengan menggunakan kertas pH universal.
Sehingga diperoleh pH 3 yang masih memenuhi syarat dimana syarat pH pada ampul adalah
pH 2,8-3,4. Setelah uji pH maka larutan dimasukkan dalam wadah ampul sebanyak masingmasing 2,1 mL. Kelebihan

0,1 mL ke dalam tiap wadah dimaksudkan agar pada saat

penggunaan ampul ini dapat sesuai dengan volume yang diinginkan. Setelah semua wadah
terisi maka ampul ditutup dengan cara pengelasan. Kemudiaan dilakukan sterilisasi kembali
dalam autoklaf pada suhu 1210C selama 15 menit.
Setelah sterilisasi selesai, dilakukan evaluasi kebocoran dan hasilnya adalah kedua
wadah ampul tetap berisi atau volumenya tetap. Adpula volume ampul lainnya yang
mengalami kebocoran. Hal ini disebabkan karena kesalahan pada pengelasan, yakni ampul
yang dilas tidak tertutup penuh atau dengan kata lain masih bocor sehingga pada saat uji
kebocoran semua isi ampul tertumpah.
Setelah semua proses evaluasi selesai barulah sediaan tersebut diberi etiket, brosur
dan kemasan.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim.2011.PENUNTUN PRAKTIKUM FARMASETIKA II.AKADEMI FARMASI BINA


HUSADA
Ditjen POM.1979.FARMAKOPE INDONESIA EDISI III.Jakarta : Departemen Kesehatan RI.
Ditjen POM.1995.FARMAKOPE INDONESIA EDISI IV.Jakarta : Departemen Kesehatan RI.
Anonim.2009.STERILISASI SEDIAAN INJEKSI.Available at
http://lihatdarisini.blogspot.com/2009/10/sterilisasi-sediaan-injeksi.html.Diakses pada bulan
Oktober 2009

Anda mungkin juga menyukai