Anda di halaman 1dari 3

Wahyu Wiswa Wardhana

115070101111013

PD-B / 62 Kelompok 9 Ca Prostat

Perawatan dan pencegahan terhadap komplikasi pada Ca Prostat Stadium IIIA

Komplikasi dari kanker prostat dapat terjadi dan biasanya disebabkan oleh kanker itu

sendiri atau karena pengobatan. Inkontinensia urin dan disfungsi ereksi adalah yang paling ditakuti orang yang memiliki kanker prostat. Komplikasi dari kanker prostat:

1. Metastasis

2. Rasa nyeri sekali

3. Inkontinensia uri

4. Disfungsi ereksi

5. Depresi

Tatalaksana untuk mencegah komplikasi yang mungkin bisa terjadi:

1. Kanker menyebar (metastasis), kanker prostat dapat bermetastasis ke organ di dekatnya, tulang, paru-paru atau kelenjar getah bening. Pengobatan untuk kanker prostat yang telah menyebar dapat dilakukan dengan terapi hormon, terapi radiasi dan kemoterapi.

2. Nyeri sekali. kanker telah mencapai tulang, Pengobatan ditujukan untuk terapi kanker sering dapat menghilangkan rasa nyeri yang signifikan. Saat ini prinsip penangan nyeri dengan multimodals analgesia menjadi pilihan untuk mengelola nyeri.

3. Kencing ngompol (inkontinensia), baik kanker prostat dan perawatannya dapat menyebabkan inkontinensia. Pengobatan tergantung pada jenis inkontinensia, Perawatan termasuk modifikasi perilaku, latihan untuk memperkuat otot panggul, obat-obatan dan kateter. Inkontinensia yang dapat terjadi yaitu inkontinensia urge, inkontinensi urine stress, dan inkontinensia paradoksa.

Inkontinensia urge terjadi karena penurunan kemampuan vesica urinariadalam mempertahankan tekanannya pada saat pengisian urine (komplians). Hal ini dapat disebabkan oleh adanya kandungan kolagen pada matriks detrusor bertambah atau adanya kelainan neurologis. Pada kanker prostat ini terjadi penambahan kandungan kolagen. Sehingga muncul sensasi susah menahan kencing.

Inkontinensia urine stress dapat terjadi karena kerusakan sfingter eksterna pasca protatektomi. Kerusakan sfingter uretra eksterna pasca prostatektomi radikal lebih

sering terjadi daripada pasca TURP. Tidak jarang pasien mengalami kerusakan

total sfingter eksterna sehingga mengalami inkontinensia totalis.

Inkontinensia paradoksa terjadi karena biasanya pasca bedah daerah pelvic yang

dapat menyebabkan overdistensi vesica urinaria dan detrusor mengalami

kelemahan. Sehingga urine keluar tanpa dapat dikontrol akibat vesica urinaria

penuh.

Pilihan terapi pada inkontinesia urine:

Jenis

     

Inkontinensia

Latihan

Medikamentosa

Tindakan Invasif

Urge

Behavioral

Obat inkontinensia Urge secara sistemik/ topikal

Aumentasi buli-buli Neuromodulasi Rhizolisis

Biofeedback

Bladder drill

Stress

Pelvic floor

Agonis adrenergic-α Antidepresan trisiklik Hormonal

Kolposuspensi

exercise

TVT

Injeksi kolagen

Paradoksa

   

Deobstruksi

Total

   

Sfingter artificial

Bantuan ahli rehabilitasi medic sangat diperlukan untuk keberhasilan program

latihan ini. Pelvic floor exercise atau disebut kagel exercise bertujuan untuk

meningkatkan resistensi uretra dengan cara memperkuat otot-otot dasar panggul dan

otot periuretra. Pasien dilatih belajar cara melakukan atau mengenal kontraksi otot

dasar panggul dengan cara mencoba menghentikan aliran urine (melakukan kontraksi

otot-otot pelvis) kemudian mengeluarkan kembali urine melalui relaksasi otot

sfingter. Setelah itu pasien diinstruksikan untuk melakukan kontraksi otot dasar

panggul (seolah-olah menahan urine) selama 10 detik sebanyak 10-20 kali kontraksi

dan dilakukan dalam 3 kali setiap hari. Untuk didapatkan efek yang diharapkan

mungkin diperlukan 6-8 minggu latihan. Tidak jarang latihan ini dikombinasikan

dengan stimulasi elektrik dan biofeedback.

Pada terapi behavioral pasien diberi pengetahuan tentang fisiologi sistem

urinaria sebelah bawah dan kemudian mengikuti jadwal miksi seperti yang telah

ditentukan. Dalam hal ini pasien dilatih untuk mengenal timbulnya sensasi urgensi,

kemudian mencoba menghambatnya, dan selanjutnya menunda saat miksi. Jika sudah

terbiasa dengan cara ini, interval di antara miksi menjadi lebih lama dan didapatkan

volume miksi yang lebih banyak.

Pemasangan kateter sebagai deobstruksi juga bisa dilakukan dengan teknik

aseptic yang benar sesuai prosedur standar pemasangan kateter serta dilakukan

penggantian secara berkala (penggantian setiap minggu) untuk menghindari infeksi

yang disebabkan oleh pemasangan kateter yang tidak memenuhi syarat aseptic

maupun pemasangan yang lama. Jika tujuan pemasangan kateter sudah tercapai maka

kateter harus segera dilepas.

4. Disfungsi ereksi atau impotensi, disfungsi ereksi dapat diakibatkan kanker prostat

atau terapinya , termasuk perawatan bedah, radiasi atau hormon. Beberapa obat

dengan alat vakum yang akan membantu mengatasi disfungsi ereksi ini.

Terapi disfungsi ereksi

Lini Pertama

Oral

Inhibitor PDE-5:

Sildenafil sitrat, Vardenafil, Tadalavil Obat lain:

Apomorphine sublingual, Pentolamin, Yohimbin, Pentoksifilin, Trazodone

Pompa vakum

-

Psikoseksual

-

Lini Kedua

Injeksi intrakavernosa

Papaverin Fentolamin Prostaglandin E1

Instilasi intrauretral

PGE1

Lini Ketiga

Prostesis penis

Inflatable

Non inflatable

5. Depresi, banyak orang mungkin merasa tertekan setelah didiagnosa menderita kanker

prostat atau setelah mencoba untuk mengatasi efek samping pengobatan. Perawatan

seperti konseling atau antidepresan dapat membuat perbedaan yang signifikan. Begitu

juga dari sisi pelayanan kesehatan, selayaknya seorang dokter menyampaikan berita

buruk terkait kondisi pasien seperti pada kasus ini yaitu ca prostat dengan teknik yang

benar sehingga menekan kejadian yang tidak diinginkan termasuk psikologis pasien

dan empati dokter, serta hubungan dokter-pasien.

Dalam melaksanakan proses klinis mulai dari anamnesis, pemeriksaan fisik,

pemeriksaan penunjang, menyampaikan diagnosis, persetujuan tindakan pemeriksaan,

persetujuan tahapan tatalaksana atau pengobatan, dan eksplorasi masalah yang dihadapi

pasien harus dilandasi dengan teknik yang baik dan benar sesuai kaidah-kaidah yang ada dan

terstandardisasi. Salah satu yang perlu dibangun yaitu hubungan komunikasi dokter-pasien

yang baik dan efektif sehingga tidak terjadi salah komunikasi dan menyebabkan kejadian

yang tidak diinginkan.