Anda di halaman 1dari 15

REVISI

KONSEP PENDIDIKAN ISLAM


K.H. A. WAHID HASYIM

Makalah Ini Diajukan Untuk Memenuhi Tugas


Mata Kuliah Filsafat Pendidikan Islam

Dosen Pembimbing :
Prof. Dr. H.M. NOOR SYAM, M.Si
Dr. H. ABDUL HALIM SOEBAHAR, M.A

OLEH

AHMAD HANAFI S. Ag
084089004/ B 3

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN ISLAM


KONSENTRASI MANAJEMEN PENDIDIKAN ISLAM
PASCA SARJANA STAIN JEMBER
2009

1
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang.

Pendidikan Islam senantiasa menjadi sebuah kajian yang menarik bukan

hanya karena memiliki kekhasan tersendiri, namun juga karena kaya akan konsep-

konsep yang tidak kalah bermutu dibandingkan dengan pendidikan modern. Dalam

khasanah pemikiran pendidikan Islam , kita temukan tokoh-tokoh besar dengan ide-

idenya yang cerdas dan kreatif yang menjadi inspirasi dan kontribusi yang besar bagi

dinamika pendidikan Islam di Indonesia.

Salah satu peran ulama sebagai tokoh Islam yang patut di catat adalah posisi

mereka sebagai kelompok terpelajar yang membawa pencerahan kepada masyarakat

sekitarnya. Berbagai lembaga pendidikan telah di lahirkan oleh mereka baik dalam

bentuk sekolah maupun pondok pesantren. Semua itu adalah lembaga yang ikut

mengantarkan bangsa Indonesia menjadi bangsa yang maju dan berpendidikan.

Mereka telah berperan dalam memajukan ilmu pengetahuan, khususnya Islam lewat

karya-karya yang telah ditulis atau melalui jalur dakwah mereka.

Adapun tantangan yang di hadapi pendidikan Islam di masa awal masuknya

Islam ke Indonesia barangkali adalah kurangnya pemahaman pemeluk Islam baru

akan pengetahuan agama Islam. Tersebarnya agama Islam ke Nusantara menimbulkan

kebutuhan akan guru-guru, juru dakwah untuk menganjurkan prinsip-prinsip agama

baru tersebut. Untuk memenuhi kebutuhan masyarakat Islam itu muncullah pusat-

pusat pembelajaran agama Islam, dalam bentuk pengajaran individual maupun secara

kelompok ( padepokan atau pesantren ).

Pendidikan Islam dalam bentuk padepokan ( pesantren ) ini berlangsung

cukup lama sampai akhirnya timbul tantangan baru yaitu berdirinya sekolah Belanda.

2
Sekolah Belanda ini dikembangkan oleh pemerintah kolonial untuk menghasilkan

tenaga kantor tingkat rendah, dengan gaji jauh lebih murah. Akhirnya muncul

pendidikan model tradisional yaitu pesantren, sekolah Belanda dan juga madrasah

sebagai respon pembaharuan pendidikan dengan model sekuler Belanda. Modernisasi

pendidikan ini terus berlanjut hingga akhirnya ada sekelompok muslim yang

mendirikan sekolah Islam, suatu bentuk pendidikan Islam yang sepenuhnya

mengadopsi bentuk dan kurikulum sekolah colonial Belanda. Munculnya model ini

bukan berarti bentuk pendidikan Islam yang lama menjadi hilang. Yang lama masih

tetap ada dan berdampingan dengan bentuk pendidikan Islam yang baru. Sehingga di

kalangan masyarakat muslim ada tiga bentuk lembaga pendidikan Islam yaitu

pesantren, madrasah ( kurikulum lebih berat ke pendidikan agama dengan bangku dan

papan tulis ) dan sekolah Islam yang ketiganya bertahan sampai sekarang.

B. Rumusan Masalah.

Dengan bergulirnya waktu yang di iringi dengan perkembangan kultur

kehidupan yang dinamis, berpengaruh pula terhadap pola berpikirnya manusia dan

pola sistem pendidikan yang ada. Salah satunya yaitu dengan munculnya seorang

pemikir sekaligus seorang ulama yang bergerak dalam bidang pendidikan yang

banyak sekali sumbangsihnya terhadap perkembangan pendidikan di Indonesia yaitu

K.H. A. Wahid Hasyim. Adapun rumusan masalah yang akan penulis paparkan

sebagai berikut :

1. Sekilas biografi K.H. A. Wahid Hasyim.

2. Konsep pemikiran pendidikan Islam menurut K.H. A. Wahid Hasyim.

3
BAB II

PEMBAHASAN

A. Biografi K.H. A. Wahid Hasyim

1. Keluarga dan pendidikan

Wahid Hasyim yang akrab di sapa dengan Gus Wahid lahir pada hari jumat

legi, tanggal 5 Rabiul Awal 1333 H bertepatan dengan 1 juni 1914 di Desa Tebuireng,

Jombang Jawa Timur. Oleh ayahnya Hadratus Syeh K.H. Hasyim Asy’ari beliau

diberi nama Muhammad Asy’ari, terambil dari nama neneknya. Karena di anggap

nama tersebut tidak cocok dan berat maka namanya di ganti Abdul Wahid,

pengambilan dari nama seorang datuknya. Namun ibunya kerap kali memanggil

dengan nama Mudin. Sedangkan para santri dan masyarakat sekitar sering memanggil

dengan sebutan Gus Wahid, sebuah panggilan yang kerap ditujukan untuk menyebut

putra seorang Kyai di Jawa.

Wahid Hasyim berasal dari keluarga yang taat beragama, keluarga pesantrern

yang berpegang erat pada tradisi. Ia lahir, tumbuh dan dewasa dalam lingkungan

pesantren. Ibunya bernama Nafiqah putri K.H. Ilyas pemimpin pesantren Sewulan di

madiun. Garis keturunan ayah dan ibunya bertemu pada Lembu Peteng ( Brawijaya

VI ), yaitu dari pihak ayah melalui Joko Tingkir ( Sultan Pajang 1569-1587 ) dan dari

pihak ibu melalui Kiai Ageng Tarub I. Sejak usia 5 tahun ia belajar membaca Al

Quran pada ayahnya setiap selesai sholat magrib dan dhuhur, sedang pada pagi hari ia

belajar di Madrasah Slafiyah di dekat rumahnya. Dalam usia 7 tahun ia mulai

mempelajari kitab Fath Al-Qarib ( kemenangan bagi yang dekat ) dan al-Minhaj al-

Qawim ( jalan yang lurus ). Sejak kecil minat membacanya sangat tinggi, berbagai

4
macam kitab di telaahnya. Ia sangat menggemari buku-buku kesusastraan Arab,

khususnya buku Diwan asy-Syu’ara’ ( Kumpulan penyair dengan syair-syairnya ).1

Sejak kecil ia terkenal sebagai seorang anak yang pendiam, peramah dan

pandai mengambil hati orang. Dikenal banyak orang sebagai orang yang gemar

menolonh kawan, suka bergaul dengan tidak memandang bangsa, atau memilih

agama, pangkat dan uang. Terlalu percaya pada kawan, suka berkorban, akan tetapi

mudah tersinggung perasaannya dan mudah marah, akan tetapi dapat mengatasi

kemarahannya. Ketika berusia 12 tahun Wahid Hasyim telah menamatkan studinya di

Madrasah Salafiyah Tebuireng, lalu beliau belajar ke pondok Siwalan Panji, Sidoarjo,

di pondok Kyai Hasyim bekas mertua ayahnya. Di sana ia belajar kitab-kitab

Bidayah, Sullamut Taufik, Taqrib dan Tafsir Jalalain. Gurunya Kyai Hasyim sendiri

dan Kyai Chozin Panji, namun ia hanya belajar dalam hitungan hari yaitu selama 25

hari tidak sebagaimana umumnya santri. Pengembaraan intelektual pesantrennya

dilanjutkan di Pesantren Lirboyo, kediri, namun juga untuk beberapa . Setelah itu ia

tidak meneruskan pengembaraannya ke pesantren lain, tetapi memilih tinggal di

rumah dan belajar secara otodidak dari berbagai disiplin ilmu pengetahuan. Di

dukung oleh tingkat kecerdasannya yang tinggi serta tingkat hafalannya yang kuat ,

dalam belajar ia tidak mengalami kesulitan. Mengenai hal ini Saifuddin Zuhri

menuturkan :

“ Aku mendengar bahwa K.H. A. Wahid Hasyim dan Muhammad Ilyas


ketika masih sama-sama jadi santri di Tebuireng dahulu, bukan hanya
hafal seluruh bait-bait Alfiyah yang 1000 dengan arti maknanya, tetapi
juga mahir menghafalnya dari belakang ke muka. Padahal dari muka ke
belakang saja bukan main sulitnya.”2

1
Dewan Redaksi Ensiklopedi Islam, Ensiklopedi Islam ( Jakarta : PT Ihtiar Baru Van Hoeve, 1994 ),
163.
2
Ruchman Basori, Pesantren Modern Indonesia ( Jakarta : PT Inceis cetakan ke dua, 2008), 64.

5
Bukti lagi kecerdasan dan kecemerlangan pikiran K.H. A. Wahid Hasyim dikisahkan

oleh Ahmad Syahri sebagai berikut :

“ Kyai Wahid mudah menghafal nama tamu-tamunya, apalagi para


pemimpin NU di daerah-lazim disebut konsul-sebelum ada sebutan
pengurus wilayah dan cabang. Kecerdasannya juga terlihat dari cara
beliau belajar bahasa Asing. Serta menangkap alur bicara lawan diskusinya,
sehingga bisa menanggapi dengan tajam .”3

2. Kepribadian Wahid Hasyim

Wahid Hasyim hidup dalam lingkungan pesantren yang tentu sangat relegius

yang membentuk kepribadiannya dalam cara bergaul, beorganisasi, mendidik menjadi

seorang pemimpin dan bahkan menjadi seorang negarawan. Kepribadian Wahid

Hasyim adalah kepribadian lintas batas, artinya tidak sekedar di bentuk dari

pergesekan,, dialektikanya dengan komunitas pesantren dan NU, tapi dengan berbagai

komunitas seperti dengan organisasi pergerakan Islam, partai politik dan juga

birokrasi pemerintahan ketika beliau menjabat sebagai Mentri Agama.

B. Pemikiran Pendidikan K.H. A. Wahid Hasyim

1. Prinsip-prinsip pendidikan.

Pemikiran pendidikan Islam Wahid Hasyim dapat di cermati pada beberapa

karya beliau yang di muat di media yang setidaknya terdapat 7 judul, seperti Abdullah

Oebayd sebagai pendidik. Dalam buku ini K.H.A. Wahid Hasyim membeberkan

beberapa prinsip dalam pendidikan yaitu :

a. Percaya kepada diri sendiri atau prinsip kemandirian.

b. Kesabaran.

c. Pendidikan adalah proses bukan serta merta.

3
Ibid., 65.

6
d. Keberanian.

e. Prinsip tanggung jawab dalam menjalankan tugas.

2. Orientasi Pendidikan Islam.

Sebagai seorang santri pendidik agama, fokus utama pemikiran Wahid Hasyim

adalah peningkatan kualitas sumberdaya umat Islam. Upaya peningkatan kualitas

tersebut menurut Wahid Hasyim, dilakukan melalui pendidikan khususnya pesantren.

Dari sini dapat dipahami, bahwa kualitas manusia muslim sangat ditentukan oleh

tinggi rendahnya kualitas jasmani, rohani dan akal. Kesehatan jasmani dibuktikan

dengan tiadanya gangguan fisik ketika berkreatifitas. Sedangkan kesehatan rohani

dibuktikan dengan keimanan dan ketakwaan kepada Allah yang kemudian

diimplementasikan dalam kehidupan nyata. Disamping sehat jasmani dan rohani,

manusia muslim harus memiliki kualitas nalar (akal) yang senantiasa diasah

sedemikian rupa sehingga mampu memberikan solusi yang tepat, adil dan sesuai

dengan ajaran Islam.

Mendudukkan para santri dalam posisi yang sejajar, atau bahkan bila mungkin

lebih tinggi, dengan kelompok lain agaknya menjadi obsesi yang tumbuh sejak usia

muda. Ia tidak ingin melihat santri berkedudukan rendah dalam pergaulan masyarakat.

Karena itu, sepulangnya dari menimba ilmu pengetahuan, dia berkiprah secara

langsung membina pondok pesantren asuhannya ayahnya.

Pertama-tama ia mencoba menerapkan model pendidikan klasikal dengan memadukan

unsur ilmu agama dan ilmu-ilmu umum di pesantrennya. Ternyata uji coba tersebut

dinilai berhasil. Karena itu ia kenal sebagai perintis pendidikan klasikal dan

pendidikan modern di dunia pesantren. Untuk pendidikan pondok pesantren Wahid

Hasyim memberikan sumbangsih pemikirannya untuk melakukan perubahan. Banyak

7
perubahan di dunia pesantren yang harus dilakukan. Mulai dari tujuan hingga metode

pengajarannya.

Dalam mengadakan perubahan terhadap sistem pendidikan pesantren, ia membuat

perencanaan yang matang. Ia tidak ingin gerakan ini gagal di tengah jalan. Untuk itu,

ia mengadakan langkah-langkah sebagai berikut:

a. Menggambarkan tujuan dengan sejelas-jelasnya

b. Menggambarkan cara mencapai tujuan itu

c. Memberikan keyakinan dan cara, bahwa dengan sungguh-sungguh tujuan

dapat dicapai.

Menurut beliau, tujuan pendidikan adalah untuk menggiatkan santri yang

berahlakul karimah, takwa kepada Allah dan memiliki ketrampilan untuk hidup.

Artinya dengan ilmu yang dimiliki ia mampu hidup layak di tengah masyarakat,

mandiri, tidak jadi beban bagi orang lain. Santri yang tidak mempunyai ketrampilan

hidup ia akan menghadapi berbagai problematika yang akan mempersempit

perjalanan hidupnya. Dengan demikian dapat dipahami bahwa tujuan pendidikan

Wahid Hasyim bersifat Teosentris ( Ketuhanan ) sekaligus Antroposentris

( kemanusiaan ). Artinya bahwa pendidikan itu harus memenuhi antara kebutuhan

duniawi dan ukhrowi, moralitas dan ahlak, dengan titik tekan pada kemampuan

kognisi ( iman ), afeksi ( ilmu ) dan psikomotor ( amal, ahlak yang mulia ).4

3. Materi Pendidikan Islam.

4
Mujamil Qomar, Manajemen Pendidikan Islam ( Malang : Erlangga. 2007 ) , 73.

8
Materi yang di rancang oleh Wahid Hasyim dalam pendidikan terbagi menjadi

tiga : Pertama, ilmu-ilmu agama Islam seperti fiqih, tafsir, hadist dan ilmu agama

lainnya. Kedua, ilmu non agama seperti ilmu jiwa, matematika, dan Ketiga,

kemampuan bahasa, yaitu Bahasa Inggris, Belanda dan Bahasa Indonesia.

4. Metode Pendidikan.

Adapun metode pendidikan yang dianut oleh K.H.A. Wahid Hasyim yaitu

banyak mencontoh model pengajaran ayahnya Hasyim Asy’ari berupa penanaman

kepercayaan diri yang tinggi terhadap muridnya. Ini sebagai bukti bahwa pola

pemikiran Wahid Hasyim dengan ayahnya yaitu Hasyim Asy’ari banyak sekali

persamaannya, atau dengan kata lain bahwa sistem dan tehnik yang diterapkan Wahid

Hasyim merupakan kelanjutan dari sistem dan tehnik Hasyim Asy’ari. Adapun

contohnya seperti :

a. Tanggung jawab murid

- Tidak menunda-nunda kesempatan dalam belajar atau tidak malas.

- Berhati-hati, menghindari hal-hal yang kurang bermanfaat.

- Memuliakan dan memperhatikan hak guru , mengikuti jejak guru.

- Duduk dengan rapi bila berhadapan dengan guru.

- Berbicara dengan sopan dan santun dengan guru.

- Bila terdapat sesuatu yang kurang bisa dipahami hendaknya bertanya.

- Pelajari pelajaran yang telah diberikan oleh guru secara istiqomah.

- Pancangkan cita-cita yang tinggi.

- Tanamkan rasa antusias dalam belajar.5

b. Tanggung jawab guru

- Bersikap tenang dan selalu berhati-hati dalam bertindak.


5
Samsul Nizar, filsafat pendidikan Islam ( Jakarta : Ciputat Pres. 2002 ), 159.

9
- Mengamalkan sunnah Nabi.

- Tidak menggunakan ilmunya untuk meraih gemerlap dunia.

- Berahlakul karimah dan selalu menabur salam.

- Menghindarkan diri dari tempat-tempat yang kotor dan maksiat.

- Memberi nasehat dan menegur dengan baik jika ada anak yang bandel.

- Mendahulukan materimateri yang penting dan sesuai dengan profesi yang

dimiliki.6

5. Paradigma Pembaharuan Pendidikan Pesantren dan Madrasah.

a. Paradigma dari teosentris ke anthroposentris.

Pada awalnya tujuan pendidikan di pesantren lebih berkonsentrasi pada urusan

ukhrawi, dan nyaris terlepas dari urusan duniawi. Dengan tujuan yang demikian,

maka system pendidikan di pesantren lebih banyak didominasi dengan warna-warna

fiqh, tasawuf, ahlak dan sejenisnya. Ini bisa dimaklumi karena sumber teologi yang di

anut bersifat fatalis dan tidak rasional sehingga sebagian besar pesantren menolak

masuknya ide pembaharuan. Melihat kondisi yang demikian, Wahid Hasyim

menawarkan ide pembaharuan dengan merekonstruksi tujuan pembelajaran di

pesantren, yang semula santri diarahkan untuk mencetak ahli agama ( ulama ),

dengan menyarankan agar tidak semua santri menjadi ulama, namun tetap memahami

ajaran agama sebagaimana dipelajari di pesantren.

Maksud dari ide beliau, santri belajar di pesantren tidak semata-mata

mengharap ridho dari Allah tetapi juga setelah tamat mampu beradaptasi, berdialog

dengan masyarakat dengan ketrampilan yang dimiliki. Santri mampu menggunakan

akal pikirannya guna menyelesaikan berbagai problem di masyarakat seperti masalah

ekonomi. Inilah salah satu ide cemerlang Wahid Hasyim yang dalam dunia
6
Ibid 163-165.

10
pendidikan kontemporer dikenal dengan istilah life skill education ( pendidikan

kecakapan hidup ).7

b. Paradigma dikotomi kepada non dikotomi.

Wahid Hasyim hidup di masa penjajahan Belanda dan Jepang. Berbagai

bentuk perlawanan terhadap penjajah terus menerus dilakukan oleh segenap lapisan

masyarakat, baik secara fisik ataupun non fisik. Secara fisik bangsa Indonesia

melakukan penyerangan kepada pos-pos benteng pertahanan penjajah sedangkan

secara non fisik terutama madrasah menolak mata pelajaran umum seperti bahasa

Asing yang di ajarkan di sekolah-sekolah Belanda. Bahkan sebagian ulama

mengharamkan pelajaran umum tersebut diajarkan di pesantrennya. Sikap ini

mengakibatkan munculnya dikotomi antara ilmu agama dan non agama. Realitas

inilah yang ingin dibongkar oleh Wahid Hasyim, dan dia berpendapat bahwa materi

yang diajarkan di pesantren haruslah merupakan ilmu-ilmu yang komprehensif.

c. Paradigma teoritik ke praktis.

Pengejawantahan ilmu dalam kehidupan nyata ( praktis ) menjadi sebuah

tuntutan di era krisis multi dimensi seperti yang sedang melanda bangsa Indonesia

sekarang. Banyak pihak berasumsi bahwa krisis moral yang melanda disebabkan

kegagalan dunia pendidikan baik pendidikan umum dan pendidikan yang berbasis

keagamaan untuk memproduk siswa atau santri yang mampu menyelaraskan antara

ilmu dengan amal. Wahid Hasyim telah menerapkan konsep pendidikan yang dinilai

mampu menciptakan peserta didik yang ideal, yaitu santri yang tidak hanya mampu

7
Muzayyin Arifin, Kapita Selekta Pendidikan Islam ( Jakarta : PT Bumi Aksara, 2007), 45.

11
menguasai konsep secara sempurna tapi mampu mengimplementasikan dalam

kehidupan nyata.8

6. Model Pembaharuan Pesantren dan Madrasah.

a. Pembaharuan kelembagaan ( institusi ).

Model pembaharuan kelembagaan maksudnya yaitu pembaharuan atau

perubahan lembaga pendidikan Islam, baik melalui transformasi diri lembaga yang

sudah ada maupun mendirikan lembaga pendidikan Islam yang baru. Dalam kontek

ini, Wahid Hasyim mentransformasi lembaga yang sudah ada yaitu pesantren

Tebuireng kemudian di modifikasi dengan mendirikan madrasah Nizamiyah yang

dilengkapi dengan perpustakaan sebagai tempat belajar santri diluar pesantren dan

madrasah. Artinya selain pesantren mengajarkan ilmu agama juga di ajarkan ilmu

umum kepada santrinya dengan maksud seorang santri atau dunia pesantren tidak

boleh berada di Menara Gading dan mengambil jarak dengan masyarakat. Pesantren

seharusnya turut ambil bagian dalam menyelesaikan berbagai problematika

masyarakat baik social, agama, politik, budaya maupun keamanan.9

b. Isi kurikulum.

Kurikulum pesantren di sini dimaknai sebagai berbagai jenis mata pelajaran

yang di ajarkan dalam proses belajar mengajar di pesantren atau madrasah. Dimana

materi yang diajarkan di bidang tehnis berupa ilmu fiqh, ilmu tafsir, mawaris, ilmu

falaq. Bidang hafalan yaitu pelajaran Al-Quran, ilmu bahasa Arab. Sedang ilmu yang

bersifat membina emosi keagamaan seperti aqidah, tasawuf dan ahlaq. Menurut

8
John L. Esposito- John O. Voll , Tokoh-Kunci Gerakan Islam Kontemporer ( Jakarta : PT. Raja
Grafindo Persada , 2002), 260.
9
H. Rosihan Anwar, Ulama Dalam Penyebaran Pendidikan dan Khazanah Keagamaan ( Jakarta : PT.
Pringgondani berseri, 2003 ), 145.

12
Wahid Hasyim bahwa dalam beberapa hal, pesantren tidak sesuai lagi dengan

perkembangan dan tuntutan zaman sehingga sangat membutuhkan pembaharuan.

Maka untuk mewujudkan itu Wahid Hasyim memasukkan ilmu-ilmu sekuler kepada

madrasahnya seperti aritmatika, sejarah , geografi, ilmu pengetahuan alam, Bahasa

Inggris dan Belanda.

c. Metodologi pembelajaran.

Seperti yang kita ketahui , sistem atau metode pembelajaran di pesantren

( terutama pesantren salaf ) menggunakan sistem sorogan dan bandongan. Murid

posisinya hanya sebagai pendengar budiman, menghafal dan menulis sehingga murid

atau santri tidak bisa mengembangkan potensi yang ada dalam dirinya seperti

mengajukan pertanyaan atau bahkan lebih kritis lagi yaitu dengan mengadakan

diskusi. Kondisi inilah yang akan diperbaharui oleh Wahid Hasyim yaitu dalam

pelaksanaan proses kegiatan belajar mengajar dengan menerapkan sistem tutorial 10.

Dengan konsep ini di harapakan proses pembelajaran berjalan dan menghasilkan atau

memproduk siswa atau santri yang bisa memenuhi kebutuhan masyarakat karena

bermutu 11

10
H. Hobri, Model-Model Pembelajaran inovatif ( Jember : Word Wditor, 2009), 25.
11
Edward Sallis, Total Quality Management in Educatioan ( Yogyakarta : IRCiSoD, 2008 ), 86.

13
BAB III

KESIMPULAN

Terdapat hubungan yang saling terkait antara pendidikan di satu sisi dan

pembaharuan di sisi lain. Pendidikan adalah persyarat dan kondisi yang mutlak bagi

masyarakat dalam menjalankan program modernisasi atau pembaharuan. Sehingga

kualitas pendidikan di upayakan sedemikian rupa untuk mencapai pembaharuan agar

kemajuan bangsa dapat di capai. Karena itu banyak ahli pendidikan yang

berpandangan bahwa pendidikan merupakan kunci yang membuka pintu ke arah

modernisasi. Pada sisi lain pendidikan sering di anggap sebagai obyek modernisasi

( pembaharuan ).

14
DAFTAR PUSTAKA

Basori, Ruchman. Pesantren Modern Indonesia. Jakarta : Inceis, 2008.

Arifin, Muzayyin. Kapita Selekta Pendidikan Islam. Jakarta : PT. Bumi Aksara, 2007.

Esposito, John – Voll, John O. Tokoh- Kunci Gerakan Islam Kontemporer. Jakarta :

PT. Raja Grafindo Persada, 2002.

Sallis, Edward. Total Quality Management in Education. Yogyakarta : IRCiSoD,

2008.

Hobri. Model-Model Pembelajaran Inovatif. Jember : Word Editor, 2009.

Anwar, Rosehan. Ulama Dalam Penyebaran Pendidikan dan Khazanah Keagamaan.

Jakarta : Badan Litbang Departemen Agama RI, 2003.

Tim Edit. Ensiklopedi Islam. Jakarta: PT. Ihtiar Baru Van Hoeve,1994.

Nizar, Samsul. Filsafat Pendidikan Islam . Jakarta : Ciputat Press, 2002.

15